Literasi Informasi di Perguruan Tinggi (Akses E-Journal UPT Perpustakaan UNS)

Oleh: Riah Wiratningsih

Abstrak

Literasi informasi adalah seperangkat kemampuan yang memerlukan individu untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Melimpahnya informasi melalui berbagai media (internet), menuntut keterampilan  pencari informasi (information seeker) untuk memiliki keterampilan dalam mendapatkan informasi secara benar dan cepat. Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi dan sebagai “growing organism” harus dinamis dalam mengikuti perubahan dan kemajuan TIK dimana pustakawan dituntut untuk proaktif, adaptif, dan inovatif dalam membangun pembelajar yang mandiri di perguruan tinggi.  Salah satunya adalah melalui user education “how to acces e-journal” sebagai referensi ilmiah dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi.

 

A.      Pengantar

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi  telah membawa banyak perubahan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah kemudahan dalam mendapatkan atau akses informasi, baik informasi yang sifatnya ilmiah, berita maupun hiburan. Keberadaan internet memberikan kemudahan  setiap information seeker dalam mencari solusi atas permasalahannya. Dengan mudahnya googling diantara jutaan bahkan milyaran informasi yang tersedia di internet. Internet dianggap sebagai rujukan informasi yang utama dalam menjawab segala permasalahan. Namun internet juga bisa menjadikan kita terjebak dalam arus informasi yang berlimpah tersebut, informasi “sampah”pun tersedia. Pernahkah ketika browsing, anda  akan berputar-putar di internet dengan mengklik link-link yang membawa anda  ke halaman yang tak berujung dan tak bertepi. Banyaknya pilihan informasi yang muncul, kadang memunculkan kebingungan. Sebagai contoh Black Hat SEO, sebuah situs yang mengunakan teknik  untuk menarik pengunjung agar masuk ke situsnya, namun setelah masuk pengunjung dibuat bingung dengan informasi yang ada. Situs seperti ini hanya ingin menaikkan rating saja.

Untuk itu Perlu skill tersendiri bagi information seeker dalam menentukan atau mendapatkan informasi yang benar melalui media internet. Informasi yang tersedia di internet sangat beragam dan sangat banyak informasi sampah. Adakah lembaga pengelola informasi yang bisa memberikan jaminan informasi secara benar? Tentu saja ada, dan salah satunya adalah perpustakaan. Adakah seseorang yang dapat memberikan skill dalam menelusur informasi. Sehingga hanya informasi yang benar saja yang bisa diambil? Tentu saja ada, dan jawabannya adalah pustakawan.

Perpustakaan sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi memiliki peran dalam membangun generasi literet. Perlu sebuah upaya  untuk memprogramkan kegiatan yang dapat meningkatkan skill dalam bidang penelusuran informasi. Masih banyak perpustakaan yang belum melakukan langkah untuk menjadikan pengguna perpustakaan sebagai pengguna yang mandiri dalam menelusur informasi. Bahkan di perpustakaan perguruan tinggi  yang memiliki koleksi beragam dan layanan yang beragam pula. Bagaimana pengguna akan tahu cara yang benar dalam memanfaatkan koleksi yang disediakan di perpustakaan, apabila tidak ada yang memberitahu? Siapa lagi yang akan melakukan kalau bukan pustakawan?

Di UNS program literasi informasi belum menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran/belum adanya kebijakan dari universitas terhadap program literasi informasi. Sehingga pemanfaatan koleksi yang melimpah di perpustakaan belum termanfaatkan secara optimal. Sangat disayangkan pengadaan koleksi elektronik yang menghabiskan budget besar tidak termanfaatkan secara optimal karena sivitas akademika tidak tahu/mengenal koleksi perpustakaan. Atau bisa saja mereka tahu adanya koleksi di perpustakaan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mendapatkan informasi/koleksi tersebut. Berdasarkan gambaran di atas penulis tertarik untuk mengadakan kegiatan  library user education dalam hal ini pemanfaatan/akses e-journal sebagai salah satu program literacy informasi yang dilakukan oleh pustakawan dalam menciptakan  generasi pembelajar yang mandiri.

B.       Perpustakaan sebagai growing organism

Disebutkan dalam Merriam-Webster (Concise Encyclopedia) bahwa perpustakaan adalah[1]

Collection of information resources in print or in other forms that is organized and made accessible for reading or study ……. Today’s libraries frequently contain periodicals, microfilms, tapes, videos, compact discs, and other materials in addition to books. The growth of on-line communications networks has enabled library users to search electronically linked databases.

Dari pengertian tersebut bahwa perpustakaan memiliki kumpulan koleksi baik tercetak maupun non cetak dan dikelola dengan aturan tertentu sehingga memudahkan untuk diakses. Seiring perkembangan TIK sangat memungkinkan pengguna perpustakaan memanfaatkan koleksi dengan link ke banyak database. Ranganathan dalam hukum perpustakaan (1931) yang ke lima mengatakan bahwa library is a growing organism. Dalam artian bahwa perpustakaan bukanlah lembaga yang statis, namun dinamis mengikuti perubahan yang terjadi.

Hukum Gorman adalah yang paling terkenal. Dia menafsirkan hukum Ranganathan dalam konteks perpustakaan saat ini dan kemungkinan masa depan. Gorman percaya bahwa S.R. Ranganathan menciptakan hukum perpustakaan berlaku untuk masa depan dan tantangan yang akan dihadapi pustakawan. Michael Gorman memberikan lima undang-undang baru tentang kepustakawanan dilihat dari sudut pandang pustakawan dalam masyarakat teknologi, yaitu: [2]

1. Libraries serve humanity.

2. Respect all forms by which knowledge is communicated.

3. Use technology intelligently to enhance service.

4. Protect free access to knowledge; and

5. Honor the past and create the future (Crawford & Gorman, 1995)

Kemajuan TIK yang sangat cepat dan overload informasi yang ada di internet menuntut pustakawan sebagai pengelola informasi harus adaptif dengan perubahan yang terjadi. Kertajaya dalam  The 10 Credos of Compassionate Marketing di mana kredo kedua adalah “BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM” dengan keterangan yang menyebutkan:[3] “Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.  Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi.  Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar.  Kalau kita tidak sensitif dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis“.

Pengguna perpustakaan di era informasi  adalah generasi digital native, di mana mereka sudah sangat terbiasa dan bisa memanfaatkan media elektronik untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Namun kemampuan mereka dalam memanfaatkan media elektronik (laptop/gadget) belum diarahkan untuk pencarian sumber informasi ke perpustakaan. Padahal perpustakaan sudah menyediakan beragam informasi dalam format elektronik.pemakai adalah orientasi utama perpustakaan, dalam hal ini adalah sivitas akademika perguruan tinggi. Perguruan tinggi adalah institusi yang paling cepat menerima/menciptakan teknologi. Perubahan teknologi ini menjadikan sivitas akademika dinamis dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Konsep-konsep baru terhadap pembaharuan selalu terupdate dan disinilah perpustakaan/pustakawan “sensitif” dalam mensikapinya dengan beradaptasi terhadap kebutuhan informasi pengguna (sivitas akademika).  Inilah konsep bahwa perpustakaan harus berkembang sesuai dengan kultur masyarakatnya yang dinamis.

Artikel lengkap klik disini