Agama Sebagai Salah Satu Modalitas Terapi Dalam Psikiatri

Oleh
Prof. Dr. H. Mohammad Fanani, dr. Sp.KJ (K)

Yang saya hormati,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan Anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Guru Besar Tamu
Bapak Direktur dan Wakil Direktur RS Dr Moewardi Surakarta,
Ibu Direktur dan Wakil Direktur RSJD Surakarta,
Ketua Lembaga, Kepala Biro, dan Para Kepala UPT, serta seluruh Pejabat di Lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para Ketua Jurusan Ketua Laboratorium dan Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret,
Segenap Civitas Akademika Universitas Sebelas Maret,
Para Tamu Undangan, Teman Sejawat, Sanak Keluarga dan Handai Taulan, serta
Para Mahasiswa dan hadirin sekalian yang saya hormati pula.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua,
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang karena perkenan-Nya, kita sekalian dalam keadaan sehat, dapat menikmati sekian banyak karunia-Nya, hingga saat ini kita dapat berkumpul bersama dalam ruangan khusus ini. Atas perkenan-Nya pulalah saya dapat berdiri di mimbar yang berwibawa ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kedokteran Jiwa (Psikiatri) di hadapan para hadirin yang saya muliakan.

PENDAHULUAN

Hadirin yang saya hormati,
Pada hari yang berbahagia dan bersejarah ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar ini dengan judul ”Agama Sebagai Salah Satu Modalitas Terapi dalam Psikiatri” Judul ini dipilih antara lain karena potensi religiusitas masyarakat Indonesia yang cukup tinggi, sebagaimana tersurat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa negara kita berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun, dalam praktik pemanfaatan agama sebagai modalitas terapi secara formal belum dimanfaaatkan dengan optimal. Selama ini pemanfaatan agama sebagai modalitas terapi dalam dunia kedokteran atau di lingkungan Rumah Sakit hanya dilakukan oleh petugas nonmedis yang pada umumnya tidak dibekali pemahaman tentang kedokteran dan keterampilan sebagai terapi. Bahkan sebagian masyarakat masih memandang dengan sebelah mata atau bahkan memandang negatif peran agama ter¬hadap kesehatan jiwa. Hal inilah yang diperkirakan menimbulkan kontroversi tentang peran agama terhadap kesehatan jiwa. Oleh karena itulah saya merasa perlu mengungkapkan masalah ini di hadapan sidang yang terhormat, agar keberadaan agama pada masyarakat kita dapat dimanfaatkan sebagai salah satu modalitas terapi psikiatri secara optimal.

SEJARAH PERKEMBANGAN TERAPI PSIKIATRI

Hadirin yang terhormat,
Pemahaman manusia tentang sebab-sebab terjadinya gang¬guan jiwa dari waktu ke waktu terus berkembang. Oleh karena itu, upaya penyembuhannya pun akan mengikuti perkembangan etiolo¬gi¬nya. Pada abad ke-15 gangguan jiwa masuk dalam era demono¬logis yang menganggap gangguan jiwa adalah akibat guna-guna atau gangguan setan/roh jahat. Pada masa itu upaya penyembuhan dilakukan dengan mengusahakan agar setan-setan yang meng¬ganggu manusia meninggalkan tubuh pasien, antara lain dengan dibacakan mantera, mengeluarkan darah dari tubuh pasien bahkan melubangi batok kepala (Colp R, 2001; Maramis, 1994).
Sampai dengan pertengahan abad 20 persepsi para tokoh atau ahli kesehatan pada umumnya memandang agama sebagai sisi negatif terhadap kesehatan jiwa. Maklumlah para pakar kesehatan jiwa pada waktu itu sebagian besar beraliran atheis, seperti Sigmund Freud, Albert Ellis dll. Pandangan mereka terhadap agama tercermin dalam beberapa pernyataan mereka antara lain menurut Sigmund Freud: ”A religious man is: an infantile helplessness, a regression to primary narcissism, a borderline psychosis, a primitive infantile state dan a universal obsessional neurotic. Sementara itu, menurut Albert Ellis, pemikiran orang beragama dianggap sebagai: irrational thinking and emotional disturbance (Larson, 2000).
Pada pertengahan abad ke-20 perkembangan bergeser kepada era fisikalistik, yang menganggap bahwa semua sebab penyakit adalah akibat dari ketidakseimbangan fisik-biologik, dan para¬meter kesakitan sudah barang tentu disandarkan pada parameter somatik dari pasien (Notosoedirdjo, 1999). Dengan demikian, upaya penyem¬¬buhan gangguan jiwa difokuskan dengan cara fisik-biologik pula. Pada fase ini perkembangan psikofarmakologi maju pesat sampai saat ini, di samping terapi kejang listrik (ECT). Namun demikian, perkembangan pesat di bidang psikofarmakologik dan terapi fisik lainnya tidak dapat menyembuhkan semua diagnosis gangguan jiwa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan hasil terapi gangguan jiwa terus dilakukan penyempurnaannya.
Mengingat bahwa hanya dengan mengandalkan aspek fisik-biologik saja banyak fenomena psikiatrik yang tidak dapat dijelas¬kan, maka Karen Horney mengajukan konsep holistik, yaitu terapi yang menyeluruh dalam penyembuhan gangguan jiwa. Jadi, selain memberikan terapi fisik-biologik, juga diberikan terapi psikologik dan terapi sosial. Pada era ini berkembang berbagai jenis psikoterapi, seperti psikoanalisis oleh Sigmund Freud, Existensial humanistik oleh Abraham Maslow, Client Centered oleh Carl Rogers, Terapi Gestalt oleh Fritz Perls, Analisis Transaksional oleh Eric Berne, Terapi Tingkah laku oleh Wolpe dan BF Skinner, Terapi Rasional Emotif oleh Albert Ellis, serta Terapi Realitas oleh Williams Glaser.(Corey, 1999., Maramis, 1994). Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini ternyata masih belum mampu diselesaikan berbagai masalah kesehatan jiwa baik ditinjau dari faktor etiologi maupun faktor terapinya.
Oleh karena itu, upaya untuk menyempur¬nakan penyelesaian masalah gangguan jiwa terus dilakukan, sehingga pada awal tahun 1980-an peran budaya, spiritual dan keagamaan mulai mendapat perhatian. Sejak tahun 1994 secara resmi WHO memasukkan aspek spiritual sebagai salah satu kom¬ponen dalam upaya memperoleh sehat jiwa, dan sejak itu konsep holistik dilengkapi menjadi: bio-psiko-sosio-spiritual (Hawari, 2005).
Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) ketika membahas Cultural Psychiatry dalam Comprehensive Textbook of Psychiatry menyatakan bahwa faktor spiritualitas yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa meliputi pelbagai aspek, termasuk di dalam¬nya adalah aspek keagamaan. Juga dikatakan bahwa modalitas agama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keefektifan terapi personal nonspesifik terhadap pasien dengan gangguan jiwa.
Mengingat bahwa peran agama dalam peningkatan kesehatan jiwa merupakan hal yang relatif baru, maka dalam kesempatan ini penulis akan menyajikan beberapa pendapat serta hasil penelitian yang menunjukkan korelasi antara pemahaman keagamaan, ke¬patuh¬an terhadap prinsip keagamaan, serta rutinitas pelaksanakan aktivitas peribadatan dengan kesehatan jiwa.


MAKNA AGAMA BAGI MANUSIA

Hadirin yang saya hormati,
Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada di dalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupan sehari-hari atau Ikhsan (Hawari, 2002). Sementara itu, Lubis (2002) menjelaskan bahwa orang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakan didasari oleh kerelaan, mem¬punyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya, Lubis menyata¬kan bahwa agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saat menghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pem¬beri sarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan ber¬perilaku baik terhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-Nya

PERAN AGAMA TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIK

Hadirin yang saya hormati,
Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakan salah satu ciri sehat mental.
Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy (2000) mengusulkan ada beberapa mekanisme keagama¬an untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1. mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki per¬sepsi ke arah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford (2002), orang dengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ke¬tahanan mentalnya karena memiliki self control, self esteem & confidence yang tinggi. Juga mereka mampu memper¬cepat penyem¬buhan ketika sakit karena mereka mampu mening¬katkan potensi diri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.
Dervic (2003) mendapatkan bukti dalam penelitiannya, bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas tinggi ternyata menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, dan sebaliknya skor agresivitas dan impulsivitasnya rendah.

PERAN AGAMA TERHADAP PERILAKU SOSIAL

Hadirin yang saya muliakan,
Umumnya para penganut agama akan melakukan kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya secara bersama-sama. Dan kegiatan bersama seperti ini dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan solidaritas antarjamaah. Oleh karena itu, Abernethy (2000) me¬ngata¬kan bahwa orang yang memiliki komitmen agama yang tinggi akan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi pula, sedangkan Dervic (2004) menyatakan bahwa orang dengan komitmen agama yang tinggi dapat diharapkan memiliki moralitas yang terpuji pula. Penelitian Kendler (2003) mendapatkan pada orang-orang yang komitmen agamanya tinggi ketaatan terhadap norma sosial¬nya tinggi pula. Juga terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor religiusitas dan skor perilaku antisosial. Menurut Culliford (2002), orang yang tingkat religiusitasnya tinggi kualitas hidupnya diharapkan juga tinggi. Hal ini tercermin pada hubungan sosial dengan masyarakat yang baik, keberadaannya dapat diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya.
Dervic (2003) mendapatkan bukti dalam penelitiannya bahwa orang dengan skor religiusitas tinggi, pada umumnya dapat mem¬bina keharmonisan keluarga, dan pada umumnya dapat membina hubungan yang baik di antara keluarga.

PERAN AGAMA TERHADAP KONDISI BIOLOGIK

Hadirin yang saya hormati,
Terdapat pertanyaan yang cukup mendasar tentang peran keagamaan terhadap perubahan fisik–biologik, sebagaimana dituntut oleh para pakar yang berorientasi fisikalistik. Namun, akhir-akhir ini telah banyak penelitian yang dapat mengungkap masalah ini. Temuan Emoto (2006) yang mendapatkan bukti bahwa dengan perkataan yang baik dan halus sebagaimana perkataan orang yang sedang berdoa dapat mengubah partikel air menjadi kristal heksagonal yang indah, dan selanjutnya bermanfaat dalam upaya kesehatan secara umum. Sebaliknya, dengan perkataan yang kasar seperti hinaan atau cemoohan akan menyebabkan kristal-kristal air menjadi buruk.
Dari informasi ini dapat diperkirakan ada kaitan antara potensi internal manusia dengan kondisi eksternal yang berada di alam semesta. Potensi internal ini diduga berada pada lobus frontalis yang oleh Ramachandran disebut sebagai God spot (Hawari, 2002). Penelitian yang lebih cermat untuk mencari lokasi God spot telah dilakukan oleh Borg (2003) melalui pencitra¬an otak menggunakan PET (Positron Emision Tomography-Radio ligand) untuk mengukur kepadatan reseptor 5HT1A yang diduga berperan dalam pengendalian perilaku manusia. Hasil penelitian ini menun¬juk¬kan bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas/spiritualitas yang tinggi ternyata kepadatan reseptor 5HT1A mereka rendah di regio nukleus raphe dorsalis, hippokampus, dan neo¬korteks. Hal ini yang diduga bertanggungjawab atas perilaku tenang pada orang dengan komitmen agama tinggi.
Penelitian dari aspek psikoneuroimunologik yang terkait langsung dengan aktivitas peribadatan dengan kesehatan jiwa pada umumnya menunjukkan adanya korelasi positif. Beberapa hasil penelitian tersebut antara lain: Abernethy (2000) menyatakan bahwa orang-orang dengan skor religiusitas tinggi kadar CD-4 (limfosit T helper) nya tinggi pula. Hal ini menggambarkan tinggi¬nya daya tahan imunologiknya yang bagus.
Penelitian yang mencari kaitan antara sholat tahajud dengan kesehatan telah dilakukan oleh Sholeh (2000), dan mendapatkan: bahwa mereka yang melaksanakan sholat tahajud secara rutin, setelah 4 minggu akan menunjukkan peningkatan kadar limfosit dan kadar imunoglobulin, dan terus meningkat sampai minggu ke delapan. Meningkatnya kadar limfosit dan imunoglobulin meng¬gambarkan makin tingginya daya tahan tubuh secara imunologik.
Pengaruh puasa Ramadhan terhadap kesehatan telah diteliti pula oleh Zainullah (2005), dengan sampel para santri suatu pondok pesantren. Penelitian dilakukan 3 minggu sebelum Ramadhan sampai dengan puasa hari ke-26. Penilaian terhadap substansi imunologik diambil pada hari -21 sebagai kontrol (tidak puasa), hari +5, +16 dan +26 sebagai kelompok perlakuan. Walau¬pun pada awal puasa hari +5 sebagian menunjukkan adanya stres, yang tergambar dengan meningkatnya kadar kortisol, setelah hari +16 dan +26 seluruh kelompok sudah menunjukkan respons imunologik yang sama yaitu ditandai dengan meningkatnya kadar limfosit, yang dapat diartikan meningkatnya daya tahan imunologik.
Sementara itu, Qalaji telah berhasil memperkuat keyakinan atas kebenaran salah satu ayat al Quran yaitu QS Al Isra’ (17) ayat 82, yang artinya:
”Dan telah aku turunkan (Al Quran) yang di dalamnya terdapat obat dan rahmat bagi orang mukmin”.
Melalui penelitiannya dengan menggunakan peralatan elek¬tro¬medik secara komputerisasi. Bahwasanya orang-orang yang men¬dengarkan ayat-ayat suci Al Quran, baik mereka yang paham maupun yang tidak paham bahasa Arab akan mengalami penurunan intensitas tegangan otot mereka. Lebih nyata secara bermakna bila dibandingkan dengan bila mendengarkan bacaan nonquraniyah dengan cara yang sama, sedangkan tegangan otot dikendalikan oleh susunan syaraf pusat. Dari informasi tersebut di atas dapat disimpul¬kan bahwa: Hanya dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al Quran yang dibacakan sudah dapat menyebabkan timbulnya ketenangan hati (Albar, 1992).

PERAN AGAMA TERHADAP KONDISI KLINIS PASIEN

Hadirin yang saya muliakan,
Bukti yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat pada umumnya adalah manfaat langsung aktivitas keagamaan terhadap kesehatan. Telah dilaporkan beberapa hasil penelitian klinis, baik secara umum, maupun secara khusus untuk penyakit tertentu, antara lain seperti tersebut di bawah ini.
Tentang depresi, terdapat bukti bahwa terdapat korelasi negatif antara tingkat religiusitas dengan skor depresi (Dervic dkk., 2003, Kendler dkk., 2003, Kiresuk & Trachtenberg, 2001, Van Ness, 2002).
Terhadap kesehatan kardiovaskuler, ada beberapa pendapat dan hasil penelitian, antara lain Larson (2000), yang mendapatkan bukti bahwa pasien dengan komitmen agama tinggi yang menga¬lami trans¬plantasi jantung dalam pengamatan selama satu tahun menun¬juk¬kan survival rate nya lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tidak ada komitmen agama. Fathoni (2006) men¬dapat¬kan bukti bahwa orang dengan komitmen agama tinggi kadar CRP (C Reactive Protein) rendah sehingga berperan terhadap pence¬gahan terjadinya serangan penyakit jantung koroner. Juga rendah¬nya CRP dan IL-6 dapat dipakai sebagai prediktor baiknya prog¬nosis pasien infark miokard.
Peran doa terhadap penyembuhan pascaoperasi BPH (Benign Prostat Hyperttrophy) telah diteliti oleh (Akbar, 2006), yang mendapatkan bukti bahwa peningkatan pemahaman agama dan doa dapat membantu menekan intensitas depresi pada pasien. Demikian pula Jalaluddin (2006) mendapatkan pasien BPH yang mendapat¬kan ceramah agama dan bimbingan doa menunjukkan skor ansietas yang secara sigifikan lebih rendah dibanding dengan mereka yang tidak mendapatkan bimbingan keagamaan, sehingga mereka menyarankan perlunya peran bantuan rohaniwan dalam memper¬siapkan pasien dengan BPH yang menghadapi operasi.
Kaitan tindakan bunuh diri, telah diteliti oleh Van Ness (2002), ternyata terdapat korelasi negatif antara komitmen agama dengan tindakan bunuh diri. Temuan tersebut senada dengan Puchalski (2001) yang menyarankan menggunakan terapi spiritual termasuk religi untuk menekan perilaku bunuh diri.
Penelitian keefektifan terapi ruqyah telah diteliti oleh Ambar¬wati (2006), yang ternyata bagi pasien dengan diagnosis pelbagai jenis Skizofrenia, Retardasi Mental tidak memberikan respons bermakna. Demikian pula temuan penulis, mereka yang dikirim oleh para terapis ruqyah kepada penulis (resisten terhadap terapi ruqyah) ternyata menunjukkan diagnosis Gangguan Skizofrenia, Epilepsi dan Retardasi Mental (Fanani, 2006).

PENUTUP
Hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup akan saya sampaikan simpulan, saran dan ucapan terima kasih sebagai berikut.

1. Simpulan

  • Telah ada perubahan besar pandangan para pakar kesehatan tentang komitmen agama terhadap kesehatan, utamanya kesehatan jiwa.
  • Agama membuat manusia hidup bermakna, bertujuan dan memiliki panduan, sehingga hidup terasa mudah.
  • Dengan agama orang akan ber-posituve thinking, self control & self esteem yang baik, memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, sehingga daya tahan mentalnya menjadi lebih baik.
  • Komitmen agama yang tinggi membuat individu terlibat langsung dengan masyarakat luas, sehingga memung¬kinkan mendapat dukungan masyarakat dan dapat diterima baik oleh lingkungannya.
  • Diduga perilaku religiusitas dikendalikan dari God-Spot yang lokasinya diperkirakan ada nucleus raphe dorsalis, hippocampus, dan neocortex.
  • Komitmen terhadap agama yang tinggi dan peribadatan rutin yang dikerjakan dengan ikhlas meningkatkan ketahanan sistem imun.
  • Komitmen terhadap agama secara klinis dapat berperan baik sebagai sarana promotif, preventif, dan kuratif, maupun rehabili¬tatif terhadap gejala depresi, ansietas, penyalahgunaan obat serta perilaku antisocial; sedangkan terhadap perilaku bunuh diri komitmen terhadap agama hanya mampu men¬cegah dan berfungsi sebagai rehabilitasi mental.
  • Terapi religi yang biasa dilakukan antara lain adalah ruqyah pada dasarnya adalah pembacaan Al Quran, doa, dan dzikir ternyata kurang bermanfaat secara medis baik untuk pasien psikotik, mental retardasi, maupun epilepsi.

2. Saran

Untuk meningkatkan keefektifan terapi psikiatri dan memperluas jangkauan pelayanan, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.

  • Pelajaran agama di Fakultas Kedokteran tidak melulu mengajarkan akidah, syariat, muamalah secara umum, tetapi justru lebih diarahkan pada agama sebagai modalitas terapi.
  • Perlu dikembangkan konseling bernuansa agamis utamanya dalam pendidikan ahli psikiatri.
  • Dalam pelayanan medik tertentu seperti pada pasien geriatri, penderita penyakit kronis, pasien yang secara medis belum dapat diterapi dengan baik, serta pasien yang dalam kondisi terminal ada baiknya diterapi bersama rohaniwan.
  • Mengingat sebagian besar rohaniwan tidak memiliki pendi¬dikan keahlian konseling, maka dipandang perlu meningkat¬kan kemampuan konseling bagi rohaniwan (Ali, 2005; Mohr, 2006).
  • Keefektifan terapi religi dapat ditingkatkan dengan meninggi¬kan tingkat keimanan pasien, antara lain dengan meningkatkan pemahaman dan penghayatan doktrin keagamaan, melaksanakan peribadatan sesuai dengan syariat dan meningkatkan kebersamaan dengan berjamaah (Fanani, 2006).

3. Ucapan Terima Kasih

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini perkenan¬kan¬lah saya memanjatkan puji syukur ke hadurat Allah swt. yang atas perkenan-Nya saya dapat berdiri di sini untuk mendapatkan suatu kehormatan yang sangat besar, yaitu sebagai Guru Besar pada Fakultas Kedokteran UNS. Tanpa tuntunan, limpahan rahmat dan karunia serta kehendak-Nya, tidak mampu saya mencapai ini semua, sehingga sepatutnyalah saya bersyukur dan memohon semoga Allah swt. selalu memberi petunjuk dan mengingatkan diri saya bahwa jabatan Guru Besar ini adalah suatu amanah yang kelak di yaumil akhir harus saya pertang¬gung¬jawabkan di hadapan-Nya.
Pada kesempatan ini pula perkenankanlah saya meminta sedikit waktu untuk mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih yang tulus kepada:
Pemerintah RI dan Mendiknas atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di Fakultas Kedokteran UNS.
Kepada Sdr. Rektor, Prof. Dr. H. Moch. Syamsul¬hadi, dr., Sp.KJ(K). dan para anggota Senat UNS saya sampai¬kan terima kasih atas persetujuan dan kesediaan Saudara yang telah menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar dan mene¬rima saya di lingkungan Senat UNS.
Terima kasih saya sampaikan kepada yang terhormat Prof. Dr. R. Moeljono Notosoedirdjo, dr., Sp.S., Sp.KJ., MPH. atas kesediaannya menjadi promotor ketika saya mengikuti program pendidikan Pascasarjana S3 di Universitas Airlangga hingga mempermudah terlaksananya pencapaian gelar Guru Besar ini.

Demikian pula ucapan terima kasih saya sampaikan kepada yang terhormat Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr. MS. atas kesediaannya memberikan dorongan serta menumpahkan semua ilmunya dengan ikhlas dan dedikasinya yang tinggi. Semoga teladan yang beliau tampilkan ini dapat saya contoh, hingga warisan ilmu yang beliau berikan dapat terus ber¬kembang.
Seluruh staf Bagian/SMF Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/RSUD dr. Moewardi Surakarta baik staf edukatif maupun staf administratif atas dorongan serta bantuan dan kerjasamanya. Khusus kepada dr. Djoko Suwito, Sp.KJ, motivasi yang Saudara sampaikan kepada saya sungguh memiliki makna yang besar hingga saya mampu bertahan dan mencapai tahap seperti yang saya peroleh saat ini. Demikian pula saya sampaikan ucapan terima kasih kepada almarhum dr Ibnu Madjah, Sp.KJ yang telah memberikan kelonggaran waktu kepada saya untuk menyelesaikan tugas-tugas ekstra.
Kedua almarhum orang tua dan mertua saya yang senantiasa menekankan pentingnya pendidikan agar kelak dapat menjadi orang yang berbudi luhur, berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama. Berkat doa merekalah saya Insya Allah nantinya saya menjadi seseorang yang sebagaimana mereka dambakan. Semoga arwah mereka mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amien.
Istri saya tercinta, Endang Trihayutiningsih, yang telah mendampingi saya selama 26 tahun baik dalam suasana suka maupun duka dan dalam tahun-tahun terakhir ini senantiasa setia dan ikhlas tanpa menghiraukan kepentingan sendiri untuk mendorong dan membantu saya dalam menyelesaikan pendi¬dikan sehingga beban yang berat terasa lebih ringan. Semoga kebahagian yang kita peroleh bersama ini dapat mendorong kesuksesan keluarga dan kemabruran hajimu

Kepada anak-anakku Budi Hendro Priyono, Selly Astriana, Rosida Noor Rahmawati, Rozaq Noor Hakim, dan Firman Ridlo Mursyidi atas doa dan dukunganmu. Kehadiran kalian telah menghibur hari-hari saya hingga beban berat yang saya pikul serasa lebih ringan dan akhirnya saya mampu meraih gelar tertinggi dalam bidang pendidikan. Harapan saya, apa yang telah bapak usahakan ini dijadikan teladan bagi anak-anakku semua bahkan sedapat mungkin setingkat lebih tinggi dari segi kualitas.
Semua pihak dan handai taulan serta teman-teman sejawat yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah ikut membantu saya dalam mempersiapkan pengukuhan ini. Pada kesempatan ini, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abernethy AD. 2000. “Psychoneuroimmunilogy, Spirituality and Medicine” Spirituality & Medicine Connection 4(1): 11-12 *
Akbar ZO, Fanani M. 2006. Keefektifan Jenis Konseling Keagamaan terhadap Penurunan Intensitas Depresi pada Pasien Pra dan Pasca Operasi Hipertrofi Prostat.”Konferensi Nasional I Kesehatan Jiwa Islami” Surakarta 1-2 Juli 2006*
Albar BS. 1992.“Qurano Therapy” Disampaikan di Kongres Nasional II IDAJI. Yogyakarta, Juli 8-11 1992*
Ali OM., Milstein G., Marzuk PM. 2005. ”The Imam Role’s in Meeting the Counceling Needs of Moslim Nommunities in the United States”. Psychiatir Services 56 (2): 202-5*
Ambarwati WN, Indro Nugroho IGB, Fanani M. 2006. Keefektifan Ruqyah sebagai Terapi Tambahan Pasien Gangguan Jiwa. “Konferensi Nasional I Kesehatan Jiwa Islami” 1-2 Juli 2006 di Surakarta
Borg J., Andree B., Soderstrom H., Farde L. 2003. ”The Serotonin System and Spiritual Experiences” Am J Psychiatry 160 (11): 1965-9
Colp R. 2001. History of Psychiatry. Dalam “Kaplan & Sadock Comprehensive Textbook of Psichiatry” 7th ed*
Corey, Gerald. 1997. “Teori dan Praktik Konseling & Psiko¬terapi” Terjemahan E Koeswara. Penerbit Refika Aditama, Bandung.*
Culliford L. 2002. Spiritual Care and Psychiatric Treatment: an Introduction. Dalam Culliford L, Brazier & Sajid “Advances in Psychuatric Treatment pp 249-61*
Dervic K., Oquendo MA., Grunebaum MF., Ellis S., Burke AK., Mann JJ. 2004. “Religious Affiliation and Suicide Attempt“ Am J Psychiatry 161(12): 2303-8*
Emoto, Masaru. 2006. “The True Power of Water” MQ Publishing. Bandung.*
Fanani, Mohammad. 2006. “Tinjauan Medik Terapi Ruqyah” Disampaikan dalam: Konferensi Nasional I Kesehatan Jiwa Islami” Surakarta 1-2 Juli 2006
———-, 2006. “Peran Dzikir dalam Mengantisipasi Stres” Buletin Sinar Mentari VI(4):1-4*
———-, 2006. ”Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Jiwa” Disampai¬kan dalam:”Kajian Ilmiah Yayasan Dana Sosial Umat Islam Surakarta. 3 September 2006
Fathoni M. 2006. Role of Ibadah Value on Cardiovascular Disease. Disampaikan pada “Konferensi Nasional I Kesehatan Jiwa Islami” Tgl 1-2 Juli 2006 di Surakarta*
Hawari D. 2002. “Dimensi Religi dalam praktik Psikiatri dan Psikologi” Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalaluddin, Fanani M. 2006. Keefektifan Jenis Konnseling Keagaman terhadap penurunan intensitas Kecemasan pada pasien pra dan pasca operasi Hipertrofi Prostat. “Konferensi Nasional I Kesehatan Jiwa Islami” Surakarta 1-2 Juli 2006*
Kendler KS., Liu XQ., Gardner CO., McCulloigh ME., Larson D., Prescott CA. 2003. “Dimension of Religiousity and Their Relationship to Lifetime Psychiatric and Substance Use Disorders” Am J Psychiatry 160(3): 496-503*
Lubis D.B., 2002. ”Iman dan Ilusi” Kuliah Bulan Ramadhan di Bag Psikiatri FK UI.*
Larson DB., Larson SS., Koenig HG. 2000. “Religious Commit¬ment and Serious Illness” Psychiatric Times XVII(6):5-6*
Maramis WF. 1983. “Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa” Airlangga University Press. Surabaya*

Mohr S., Brandt P-Y, Borras L, Gilieron C, Huguelet P. 2006. ”Toward an Integration of Spirituality ane Religiousness Into the Psychosocial Dimension of Schizophrenia” Am J Psychiatry 163 (11):1952-9*.
Sholeh M. 2000. Pengaruh salat tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik . Disampaikan dalam ”Komferensi Nasional I Patobiologi” pada tanggal 10-13 Nopember di Surabaya.*
Van Ness PH., Larson DB. 2002. Religion, Senescnce, and Mental Health The End of Life Is Not the End of Hope” Am J Geriatry 10(4) 386-97*

PERUBAHAN ANATOMIK ORGAN TUBUH PADA PENUAAN

Prof. Dr. Didik Gunawan Tamtomo, dr. PAK, MM, M.Kes

Yang terhormat:
Ketua dan para anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Dekan, Direktur Pasca Sarjana,
Para Ketua Lembaga, Kepala Biro dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium/Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha dan KaSubBag serta seluruh Tenaga Administrasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Dosen, Mahasiswa serta segenap Sivitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Tamu undangan, Sanak Keluarga dan Handai Taulan serta hadirin sekalian yang saya muliakan,

Perkenankanlah, sebelum memulai pidato pengukuhan ini, saya mengajak seluruh hadirin untuk sejenak memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan, yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Karena limpahan karunia-Nya kita diberi kesempatan berkumpul diruangan ini dalam keadaan sehat walafiat untuk mengikuti Sidang Senat Terbuka   dengan acara tunggal pegukuhan saya sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada kesempatan ini ijinkanlah saya memenuhi kewajiban dan tradisi akademik yang dipersyaratkan oleh Senat Universitas Sebelas Maret kepada setiap Guru Besar baru untuk menyampaikan pidato pengukuhannya. Pidato pengukuhan ini merupakan pandang¬an saya tentang anatomi yang merupakan ilmu dasar yang mempunyai peran memberi landasan pada ilmu yang menjadi mata rantai selanjutnya yaitu ilmu kedokteran klinis. Yufrem Rukhin seorang dokter bangsa Rusia mengatakan “Seorang dokter yang tidak mengenal Anatomi, tidak hanya sebagai dokter yang tidak berguna tetapi juga seorang dokter yang berbahaya. “
Pandangan tersebut saya tuangkan dalam pidato dengan judul: Perubahan Anatomik Organ Tubuh Pada Penuaan.

Hadirin yang saya hormati,
Anti Aging Medicine berkembang dengan sangat pesat akhir-akhir ini. Pusat-pusat kedokteran yang maju berlomba-lomba menemukan formula-formula atau cara untuk memperlambat pro¬ses penuaan ini. Anti Aging Medicine adalah cabang ilmu kedok¬teran yang menerapkan ilmu dan teknologi kedokteran mutakhir untuk deteksi dini, prevensi, terapi serta membalikkan disfungsi organ yang berhubungan dengan usia tua.
Disadari atau tidak secara naluri manusia ingin selalu tampil muda dan menarik. Sepanjang sejarah dan tiap kebudayaan banyak ditemui obat- obat dan resep-resep agar tampil awet muda. Berabad-abad yang lalu bangsa Mesir rela berendam dalam lumpur karena percaya lumpur dapat mengencangkan kulit. Kabarnya, orang yang mandi air terjun Tirtosari di Magetan dapat tetap awet muda (spa pilar anti aging medicine). Hebohnya di Singapura terdapat tempat-tempat, dimana orang dapat mengembalikan payudara dan wajahnya yang sudah kendor menjadi kencang kembali, dan banyak orang Indonesia yang pergi kesana. Tentu ini bukan untuk melawan takdir, karena kemudaan dan kecantikan  tetap di tangan Tuhan. Tetapi tidak ada salahnya sekedar menunda gejala alam agar hidup bisa dinikmati lebih lama dan nyaman.
Menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki dan mengganti diri serta memper¬tahankan struktur dan fungsi normal. Jadi pada dasarnya pada proses penuaan akan terjadi perubahan-perubahan anatomis pada organ-organ tubuh. Dalam kenyataannya sulit untuk mem¬bedakan apakah suatu abnormalitas disebabkan oleh proses menua atau proses penyakit. Pembedaan ini sangat penting untuk mem¬berikan pelayanan kesehatan yang tepat pada usia lanjut, karena harus dihindari pemberian obat pada abnormalitas yang diakibatkan proses menua yang normal. Dengan makin lanjutnya usia, maka penurunan anatomik dan fungsi organ semakin besar. Peneliti Andres dan Tobin mengintroduksi hukum 1% yang menyatakan bahwa fungsi organ menurun sebanyak 1 % setiap tahunnya setelah usia 30 tahun.
Sering dikatakan bahwa anatomi adalah ilmu yang mati dan statis. Kenesi mengatakan: Anatomy is an exhausted science, with no future in investigation and rooted in the past. Tetapi sebenarnya anatomi adalah ilmu yang sangat dinamis yang berkembang seiring dengan kehidupan manusia bahkan pada setiap tahap kehidupan terjadi perubahan anatomis. Pada proses penuaan organ-organ tubuh berubah sejalan berjalannya waktu. Artinya akan terjadi perubahan gambaran anatomis organ tubuh dari bayi sampai ke manula. Contoh yang sederhana papilla mama (puting susu), didalam buku ajar anatomi, literatur bahkan dosen anatomi selalu mengajarkan bahwa papilla mama terletak setinggi  IC V, tetapi bila terletak setinggi IC VIII apakah ini salah?  karena pada wanita yang telah berkali kali menyusui letak papilla akan turun dan ini normal bukan penyakit, pada orang yang berusia 80 th papillanya dapat turun setinggi Umbilicus (pusar). Ini membuktikan bahwa antomi bukanlah ilmu yang statis maka didalam pengajaran anatomi pengajar harus cerdik dan tidak kaku supaya proses belajar tidak menakutkan dan tidak membosankan karena anatomi terkenal dengan sebutan ilmu yang menakutkan karena mahasiswa langsung berhadapan dengan jasad manusia sebenarnya.

Perubahan-Perubahan Anatomik Organ Tubuh pada Penuaan
I.    Perubahan Anatomik pada Sistem Integumen
1.    Kulit

2.    Rambut
a.    Pertumbuhan menjadi lambat, lebih halus dan jumlahnya sedikit.
b.    Rambut pada alis, lubang hidung dan wajah sering tumbuh lebih panjang.
c.    Rambut memutih.
d.    Rambut banyak yang rontok.
3.    Kuku
a.    Pertumbuham kuku lebih lambat, kecepatan pertumbuhan menurun 30-50% dari orang dewasa.
b.   Kuku menjadi pudar.
c.   Warna kuku agak kekuningan.
d.   Kuku menjadi tebal, keras tapi rapuh.
e.     Garis-garis kuku longitudinal tampak lebih jelas. Kelainan ini dilaporkan terdapat pada 67% lansia berusia 70 tahun.

II.    Perubahan Anatomik pada Sistema Muskuloskeletal
Massa tulang kontinu sampai mencapai puncak pada usia 30-35 tahun setelah itu akan menurun karena disebabkan berku¬rang¬nya aktivitas osteoblas sedangkan aktivitas osteoklas tetap normal. Secara teratur tulang mengalami turn over yang dilaksana¬kan melalui 2 proses yaitu; modeling dan remodeling, pada ke¬adaan normal jumlah tulang yang dibentuk remodeling sebanding dengan tulang yang dirusak. Ini disebut positively  coupled jadi masa tulang yang hilang nol. Bila tulang yang dirusak lebih banyak terjadi kehilangan masa tulang ini disebut negatively  coupled yang terjadi pada usia lanjut.
Dengan bertambahnya usia terdapat penurunan masa tulang secara linier yang disebabkan kenaikan turn over pada tulang sehingga tulang lebih pourus. Pengurangan ini lebih nyata pada wanita, tulang yang hilang kurang lebih 0,5 sampai 1% per tahun dari berat tulang pada wanita pasca menopouse dan pada pria diatas 80 tahun, pengurangan tulang lebih mengenai bagian trabekula dibanding dengan kortek. Pada pemeriksaan histologi wanita pasca menopouse dengan osteoporosis spinal hanya mempunyai trabekula kurang dari 14%. Selama kehidupan laki-laki kehilangan 20-30% dan wanita 30-40% dari puncak massa tulang.
Pada sinofial sendi terjadi perubahan berupa tidak ratanya permukaan sendi terjadi celah dan lekukan dipermukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin menyebabkan pembentukan kista di rongga sub kondral. Ligamen dan jaringan peri artikuler menga¬lami degenerasi Semuanya ini menyebabkan penurunan fungsi sendi, elastisitas dan mobilitas hilang sehingga sendi kaku, kesu¬litan dalam gerak yang rumit
Perubahan yang jelas pada sistem otot adalah berkurangnya masa otot terutama mengenai serabut otot tipe II. Penurunan ini disebabkan karena otropi dan kehilangan serabut otot. Perubahan ini menyebabkan laju metabolik basal dan laju komsumsi oksigen maksimal berkurang. Otot menjadi mudah lelah dan kecepatan laju kontraksi melambat. Selain penurunan masa otot juga dijumpai berkurangnya rasio otot dan jaringan lemak.

III. Perubahan anatomik pada sistema kardiovaskuler
1.    Jantung (Cor)
Elastisitas dinding aorta menurun dengan bertambahnya usia. Disertai dengan bertambahnya kaliber aorta. Perubahan ini terjadi akibat adanya perubahan pada dinding media aorta dan bukan merupakan akibat dari perubahan intima karena ateros¬kle¬rosis. Perubahan aorta ini menjadi sebab apa yang disebut isolated aortic incompetence dan terdengarnya bising pada apex cordis.
Penambahan usia tidak menyebabkan jantung mengecil (atrofi) seperti organ tubuh lain, tetapi malahan terjadi hipertropi. Pada umur 30-90 tahun massa jantung bertambah (± 1gram/tahun pada laki-laki dan ± 1,5 gram/tahun pada wanita).
Pada daun dan cincin katup aorta perubahan utama terdiri dari berkurangnya jumlah inti sel dari jaringan fibrosa stroma katup, penumpukan lipid, degenerasi kolagen dan kalsifikasi jaringan fibrosa katup tersebut. Daun katup menjadi kaku, peruba¬han ini menyebabkan terdengarnya bising sistolik ejeksi pada usia lanjut. Ukuran katup jantung tampak bertambah. Pada orang muda katup antrioventrikular lebih luas dari katup semilunar. Dengan bertambahnya usia terdapat penambahan circumferensi katup, katup aorta paling cepat sehingga pada usia lanjut menyamai katup mitral, juga menyebabkan penebalan katup mitral dan aorta.  Peru¬bahan ini disebabkan degenerasi jaringan kalogen, pengecilan ukuran, penimbunan lemak dan kalsifikasi. Kalsifikasi sering ter¬jadi pada anulus katup mitral yang sering ditemukan pada wanita. Perubahan pada katup aorta terjadi pada daun atau cincin katup. Katup menjadi kaku dan terdengar bising sistolik ejeksi.

2.    Pembuluh Darah Otak
Otak mendapat suplai darah utama dari Arteria Karotis Interna dan a.vertebralis. Pembentukan plak ateroma sering di¬jumpai didaerah bifurkatio kususnya pada pangkal a.karotis interna, Sirkulus willisii dapat pula terganggu dengan adanya plak ateroma juga arteri-arteri kecil mengalami perubahan ateromatus termasuk fibrosis tunika media hialinisasi dan kalsifikasi. Walaupun berat otak hanya 2% dari berat badan tetapi mengkomsumsi 20% dari total kebutuhan oksigen komsumsion. Aliran darah serebral pada orang dewasa kurang lebih 50cc/100gm/menit pada usia lanjut menurun menjadi 30cc/100gm/menit.
Perubahan degeneratif yang dapat mempengaruhi fungsi sistem vertebrobasiler adalah degenerasi discus veterbralis (kadar air sangat menurun, fibrokartilago meningkat dan perubahan pada mukopoliskharid). Akibatnya diskus ini menonjol ke perifer men¬dorong periost yang meliputinya dan lig.intervertebrale menjauh dari corpus vertebrae. Bagian periost yang terdorong ini akan mengalami klasifikasi dan membentuk osteofit. Keadaan seperti ini dikenal dengan nama spondilosis servikalis.
Discus intervertebralis total merupakan 25% dari seluruh collumna vertebralis sehingga degenerasi diskus dapat mengakibat¬kan pengurangan tinggi badan pada usia lanjut. Spondilosis servi¬kalis berakibat 2 hal pada a.vertebralis, yaitu:
a.    Osteofit sepanjang pinggir corpus vetebrales dan pada posisi tertentu bahkan dapat mengakibatkan oklusi pem¬buluh arteri ini.
b.    Berkurangnya panjang kolum servikal berakiabat a.verter¬balies menjadi berkelok-kelok. Pada posisi tertentu pembu¬luh ini dapat tertekuk sehingga terjadi oklusi.
Dengan adanya kelainan anatomis pembuluh darah arteri pada usia lanjut seperti telah diuraikan diatas, dapat dimengerti bahwa sirkulasi otak pada orang tua sangat rentan terhadap peru¬bahan-perubahan, baik perubahan posisi tubuh maupun fungsi jantung dan bahkan fungsi otak

3.    Pembuluh Darah Perifer.
Arterosclerosis yang berat akan menyebabkan penyumbatan arteria perifer yang menyebabkan pasokan darah ke otot-otot tungkai bawah menurun hal ini menyebabkan iskimia jaringan otot yang menyebabkan keluhan kladikasio.

IV.    Perubahan Anatomik pada Sistem Pernafasan (System Respiratorius)
1.    Dinding dada: Tulang-tulang mengalami osteoporosis, rawan mengalami osifikasi sehingga terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil.
2.    Otot-otot pernafasan: Musuculus interkostal dan aksesori mengalami kelemahan akibat atrofi.
3.    Saluran nafas: Akibat kelemahan otot, berkurangnya jaring¬an elastis bronkus dan aveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cicin rawan bronkus mengalami pengapuran.
4.    Struktur jaringan parenkim paru: Bronkiolus, duktus alveoris dan alveolus membesar secara progresip, terjadi emfisema senilis. Struktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga me¬nyebabkan elasti¬sitas jaringan parenkim paru mengu¬rang. Penurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurun¬nya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permu¬kaan alveolus.
Perubahan anatomi tersebut menyebabkan gangguan fisiologi pernapasan sebagai berikut:
a.    Gerak pernafasan: adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika per¬nafasan menjadi dangkal, timbul gangguan sesak nafas, lebih-lebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan.
b.    Distribusi gas: perubahan struktur anatomik saluran nafas akan menimbulkan penimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air trapping) ataupun gangguan pendistribusian gangguan udara nafas dalam cabang bronkus.
c.    Volume dan kapasitas paru menurun: hal ini disebabkan karena beberapa faktor: (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkim paru menurun, (3) resistensi saluaran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru.
d.    Gangguan transport gas: pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, penyebabnya terutama disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah dari alveoli (difusi) dan transport O2 ke jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olahraga. Penurunan pengam¬bil¬an O2 maksimal disebabkan antara lain karena: (1) ber¬bagi perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan (2) kerena bertkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnyan curah jantung.
e.    Gangguan perubahan ventilasi paru: pada usia lanjut terjadi gangguan pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penu¬runan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral atupun pusat-pusat pernafasan di medulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan PaO2, peninggian PaCO2, Perubahan pH darah arteri dan sebagainya.

V.    Perubahan Anatomik pada Sistem Pencernaan (System Digestivus)
1.     Rongga Mulut (Cavum Oris)
a.    Gigi (Dente)s
•    Atrial: Hilangnya jaringan gigi akibat fungsi pengunyah yang terus menerus. Dimensi vertikal wajah menjadi lebih pendek sehingga merubah penampilan /estetik fungsi pengunyah.
•    Meningkatkan insiden karies terutama bagian leher gigi dan akar, karies sekunder di bawah tambalan lama.
•    Jaringan penyangga gigi mengalami kemunduran sehingga gigi goyang dan tanggal.
b.    Muskulus
Koordinasi dan kekuatan muskulus menurun sehingga terjadi pergerakan yang tidak terkontrol dari bibir, lidah dan rahang orafacial dyskinesis.
c.    Mukosa
Jaringan mukosa mengalami atrofi dengan tanda-tanda tipis, merah, mengkilap, dan kering.
d.    Lidah (Lingua)
Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofi papil lidah dan terjadinya fisura-fisura. Sehubungan dengan ini maka ter¬jadi perubahan persepsi terhadap pengecapan. Akibatnya orang tua sering mengeluh tentang kelainan yang dirasakan terhadap rasa tertentu misalnya pahit dan asin. Dimensi lidah biasanya membesar dan akibat kehilangan sebagian besar gigi, lidah besentuhan dengan pipi waktu mengunyah, menelan dan berbicara.
e.    Kelenjar liur (Glandula Salivarius)
Terjadi degenerasi kelenjar liur, yang mengakibatkan sekresi dan viskositas saliva menurun.
f.    Sendi Temporo Mandibular (Art Temporo Mandibularis)
Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis sering sudah terjadi pada usia 30-50 tahun. Perubahan pada sendi Temporo Mandibularis ini akibat dari proses degenerasi. Dengan manifestasi adanya TM joint sound, melemahnya otot-otot mengunyah sendi, sehingga sukar membuka mulut secara lebar.
g.    Tulang Rahang (Os Maxilare dan Os Mandibulare)
Terdapat resorbsi dan alveolar crest sampai setinggi 1 cm terutama pada rahang tanpa gigi atau setetelah pencabutan.
2.     Lambung (Ventriculus)
Terjadi atrofi mukosa, atrofi sel kelenjar dan ini menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor intrinsik berkurang. Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga daya tampung makanan berkurang. Proses pengubahan protein men¬jadi pepton terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang rangsang rasa lapar juga berkurang. Absobsi kobalamin menurun sehingga konsentrasi kobalamin lebih rendah.
3.     Usus halus (Intestinum Tenue)
Mukosa usus halus mengalami atrofi, sehingga luas permukaan berkurang jumlah vili berkurang yang menyebebabkan penu¬run¬an proses absorbsi. Di daerah duodenum enzim yang di¬hasil¬kan oleh pancreas dan empedu menurun, sehingga meta¬bolisme karbohidrat, protein dan lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda. Keadaan seperti ini menyebabkan gangguan yang disebut sebagai maldigesti dan mal absorbsi.
4.     Pankreas (Pancreas)
Produksi ensim amylase, tripsin dan lipase menurun sehingga kapasitas metabolisme karbohidrat, protein dan lemak juga menurun. Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang dihubung¬kan dengan batu empedu. Batu empedu yang menyumbat ampula vateri menyebabkan oto-digesti parenkim pankreas oleh ensim elastase dan fosfolipase-A yang diaktifkan oleh tripsin dan/atau asam empedu.
5.     Hati (Hepar)
Ukuran hati mengecil dan sirkulasi portal juga menurun pada usia kurang dari 40 tahun 740 ml/menit, pada usia diatas 70 tahun menjadi 595 ml/menit.
Hati berfungsi sangat penting dalam proses metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Disamping juga memegang peranan besar dalam proses detoksikasi, sirkulasi, penyimpanan vitamin, konyugasi, bilirubin dan lain sebagainya. Dengan meningkatnya usia secara histologik dan anatomik akan terjadi perubahan akibat atrofi sebagian besar sel, berubah bentuk menjadi jaringan fibrous sehingga menyebabkan penurunan fungsi hati. Hal ini harus di ingat terutama dalam pemberian obat-obatan.
6.    Usus Besar dan Rektum (Colon dan Rectum)
Pada colon pembuluh darah menjadi ber kelok-kelok yang menyebabkan motilitas colon menurun, berakibat absobsi air dan elektrolit meningkat sehingga faeses menjadi lebih keras sering terjadi konstipasi.

VI.    Perubahan Anatomik pada Sistema Urinarius
1.    Ginjal (Ren)
Setelah umur 30 tahun mulai terjadi penurunan kemampuan ginjal dan pada usia 60 tahun kemampuan tingggal 50% dari umur 30 tahun, ini disebabkan berkurangnya populasi nefron dan tidak adanya kemampuan regenerasi. Dengan menurunnya jumlah popu¬lasi nefron akan terjadi penurunan kadar renin yang menyebabkan hipertensi.
Terjadi penebalan membrana basalis kapsula Bowman dan ter¬ganggunya permeabilitas, perubahan degeneratif tubuli, perubahan vaskuler pembuluh darah kecil sampai hialinisasi arterioler dan hiperplasia intima arteri menyebabkan disfungsi endotel yang berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin yang menyebabkan resobsi natrium ditubulus ginjal.
Efisien ginjal dalam pembuangan sisa metabolisme ter¬ganggu dengan menurunnya massa dan fungsi ginjal
–    jumlah neufron tinggal 50% pada akhir rentang hidup rata-rata
–    aliran darah ginjal tinggal 50% pada usia 75 tahun
–    tingkat filtrasi glomerlusdan kapasitas ekskresi maksimum menurun

2.    Kandung Kemih (Vesica Urinarius)
Dengan bertambahnya usia kapasitas kandung kemih menu¬run, sisa urin setelah selesai berkemih cenderung meningkat dan kontraksi otot kandung kemih yang tidak teratur sering terjadi keadaan ini menyebabkan sering berkemih dan kesulitan menahan keluarnya urin. Pada wanita pasca menopouse karena menipisnya mukosa disertai dengan menurunnya kapasitas, kandung kemih lebih rentan dan sensitif terhadap rangsangan urine, sehingga akan berkontraksi tanpa dapat dikendalikan keaadan ini disebut over active bladder. Gangguan ini mengenai sekurang-kurangnya 50 juta orang di negara yang berkembang.
Normal berkemih seorang sehat dalam waktu 24 jam adalah: 1100-1800 cc, frekuensi kurang 8 kali, nokturna kurang 2 kali, volume berkemih rata-rata 200-400 cc, dan volume maksi¬mum berkemih 400-600 cc.

VII. Perubahan Anatomik pada Sistema Genitalia
A.     Wanita
Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, geni¬talia interna dan eksterna berangsur-angsur mengalami atrofi.
1.    Vagina
•    Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina mengalami pengecilan.
•    Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol ke dalam vagina. Sejak klimakterium, vagina berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada wanita belum pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan ber¬henti berfungsi. Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak lagi mempertahankan elastisitas¬nya akibat fibrosis.
•    Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh keber¬langsungan koitus, artinya makin lama kegiatan tersebut dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan geni¬talia eksterna.

2.    Uterus
Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya menyusut dan dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak menon¬jol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan.

3.    Ovarium
Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permu¬kaannya menjadi “keriput” sebagai akibat atrofi dari medula, bukan  akibat dari ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan ovarium menjadi  rata lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat  folikel. Secara umum, perubahan fisik genetalia interna dan eksterna dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi dan terjadi inaktivitas organ yang pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan progesteron.

4.    Payudara (Glandula Mamae)
Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan menggan¬tung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya mem¬pengaruhi kelenjar payudara saja.
Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik maupun fungsional, begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal menjadi “keras” dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa akromegali ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis mengurang, oleh karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut kepala menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik.

B.    Pria
1.    Prostat
Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria lansia, gejala yang timbul merupakan efek mekanik akibat pembesaran lobus medius yang kemudian seolah-olah bertindak sebagai katup yang berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu terdapat efek dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar, kapsul dan leher kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh sistem alfa adrenergik. Timbulnya nodul mikros¬kopik sudah terlihat pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada  60% pria berusia 60 tahun, 90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang menjadi BPH Makroskopik dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik yang menimbulkan problem medik.
Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena meningkatnya enzim 5 alfa reduktase yang mengkonfersi tetosteron menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap menjadi pendorong hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain  proses menua rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat dibuktikan pada pria yang di kastrasi menjelang pubertas tidak akan menderita BPH pada usia lanjut.

2.    Testis
Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan berat testis tetapi sel yang memproduksi dan memberi nutrisi (sel Leydic) pada sperma berkurang jumlah dan aktifitasnya sehingga sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun. Hal ini menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun adalah multipel ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi banyak golongan lansia tetap menjalankan aktifitas sexsual sampai umur lanjut.

VIII. Perubahan Anatomik pada Sistem Imun.
1.    Kelenjar Timus (Glandula Thymus)
Pemeriksaan anatomis menunjukkan bahwa ukuran maksi¬mal kelenjar Timus terdapat pada usia pubertas sesudahnya akan mengalami proses pengecilan. Pada usia 40-50 tahun jaringan ke¬lenjar tinggal 5-10%. Diketahui bahwa Timus merupakan kelenjar endokrin sekaligus tempat deferensiasi sel limfosit T menjadi sel imunokompeten
Involusi ditandai dengan adanya infiltrasi jaringan fibrous dan lemak. Sentrum Germinativum jumlahnya  berkurang dan menjadi fibrotik serta kalsifikasi. Konsekwensinya kemampuan kelenjar Timus untuk mendewasakan sel T berkurang.

2.    Limpa (Lien), kelenjar Limfe
Tidak ada perubahan morfologis yang berarti hanya menun¬juk¬kan turunnya kemampuan berproliferasi dan terdapat sedikit pembesaran limpa.

IX.    Perubahan Anatomik pada sistema Syaraf Pusat (Systema Nervosum Centrale).
1.    Otak
Berat otak kurang lebih 350 gram pada saat kelahiran kemudian meningkat menjadi 1,375 gram pada usia 20 tahun, berat otak mulai menurun pada usia 45-50 tahun penurunan ini kurang lebih 11% dari berat maksimal. Berat dan volume otak berkurang rata-rata 5-10% selama umur 20-90 tahun. Otak mengandung lebih 100 million sel termasuk diantarnya sel neuron yang berfungsi menyalurkan impuls listrik dari susunan saraf pusat. pada penuaan otak kehilangan 100.000 neuron /tahun.  Neuron dapat mengirim signal kepada beribu-ribu sel lain dengan kecepatan 200 mil/jam.
Pada orang tua Sulci pada permukaan otak melebar sedang¬kan girus akan mengecil. Pada orang muda rasio antara subtansia grisea dan substansia alba 1 : 28, pada orang tua menurun menjadi 1 : 13. Terjadi penebalan meningeal, atropi cerebral (berat otak menurun 10% antara usia 30-70 tahun. Secara berangsur-angsur tonjolan dendrit dineuron hilang disusul membengkaknya batang dendrit dan batang sel.
Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat deposit lipofusin (pigment wear &tear yang terbentuk di sitoplasma, kemungkinan berasal dari lisosom atau mitokondria). RNA, Mitokondria dan enzym sitoplasma meng¬hilang, inklusi dialin eosinofil dan badan Levy, neurofibriler menjadi kurus dan degenerasi granulovakuole. korpora amilasea terdapat dimana-mana dijaringan otak.
Berbagai perubahan degeneratif ini meningkat pada indi¬vidu lebih dari 60 tahun dan menyebabkan gangguan persepsi, analisis dan integrasi, input sensorik menurun menyebabkan gangguan kesadaran sensorik (nyeri sentuh, panas, dingin posisi sendi). Tampilan sensori motor untuk menghasilkan ketepatan melambat. Gangguan mekanisme mengontrol postur tubuh dan daya anti grafitasi menurun, keseimbangan dan gerakan menurun. Daya pemikiran abstrak menghilang, memori jangka pendek dan kemampuan belajar menurun, lebih kaku dalam memandang persoalan, lebih egois dan introvet.

2.    Saraf Otonom
Pusat pengendali saraf otonom adalah hipotalamus. Peneli¬tian tentang berbagai gangguan fungsi hipotalamus pada usia lanjut saat ini sedang secara intensif dilakukan di berbagai senter, yang antara lain diharapkan bisa mengungkap berbagai penyebab terjadi¬nya gangguan otonom pada lansia.
Beberapa hal yang dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan otonom pada usia lanjut adalah penurunan asetilkolin, atekolamin, dopamin, noradrenalin.
•    Perubahan pada ‘neurotransmisi” pada ganglion otonom yang berupa penurunan pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama kolin-asetilase.
•    Terdapat perubahan morfologis yang mengakibatkan pengurangan jumlah reseptor kolin
Hal ini menyebabkan predeposisi terjadinya hipotensi postural, regulasi suhu sebagai tanggapan atas panas/dingin terganggu, otoregulasi disirkulasi cerebral rusak sehingga mudah terjatuh.

X.    Perubahan Anatomik pada Organon Visus
1.    Palpebra.
Dengan bertambahnya usia akan menyebabkan kekendoran seluruh jaringan kelopak mata. Perubahan ini yang juga disebut dengan perubahan involusional terjadi pada:
•    M.orbikularis okuli
Perubahan pada m.orbicularis menyebabkan peruba¬han kedudukan palbera yaitu terjadi entropion atau ekstro¬pion. Entropion /Ekstropion yang terjadi pada usia lanjut disebut entropion/ektropion senilis/involusional. Ada¬pun proses ter¬jadinya mirip, namun yang membedakan adalah perubahan pada m.orbicularis preseptal dimana pada entropion, musculus tersebut berpindah posisi ke tepi bawah tarsus, sedangkan pada ektropion musculus tersebut relatif stabil.
•    Retraktor palpebra inferior
Kekendoran retraktor palpebra inferior mengakibat¬kan tepi bawah tarsus rotasi /berputar kearah luar sehingga memper¬berat terjadinya entropion.
•    Tarsus
Bila tarsus kurang kaku oleh karena proses atropi akan menyebabkan tepi atas lebih melengkung ke dalam sehing¬ga entropion lebih nyata.
•    Tendo kantus medial/lateral
Perubahan involusional juga mengenai tendon kantus media/lateral sehingga secara horizontal kekencangan palpebra berkurang.
Perubahan pada jaringan palpebra juga di perberat dengan keadaan dimana bola mata pada usia lanjut lebih enoftalmus karena proses atropi lemak peri orbita. Akibatnya keken¬cangan Palpebra secara horizontal relatif lebih nyata. Jadi apakah proses involusional tersebut menyebabkan margo palpebra menjadi inversi atau eversi tergantung pada peru¬bahan–perubahan yang terjadi pada m.orbicularisoculi, retraktor palpebra inferior dan tarsus.
•    Aponeurosis muskulus levator palpebra
Aponeurosis m.levator palpebra mengalami disinsersi dan terjadi penipisan, akibatnya terjadi blefaroptosis akuisita.

•    Kulit
Pada usia lanjut kulit palpebra mengalami atropi dan kehi¬langan elastisitasnya sehingga menimbulkan kerutan dan lipatan kulit yang berlebihan. Keadaan ini biasanya di perberat dengan terjadinya perenggangan septum orbita dan migrasi lemak preaponeurotik ke anterior. Keadaan ini bisa terjadi pada palpebra superior maupun inferior dan disebut dengan dermatokalasis.

2.    Glandula lakrimalis
Pada usia lanjut sering dijumpai keluhan nrocos, ini di¬sebab¬kan  kegagalan fungsi pompa  sistem kanalis lakrimalis oleh karena kelemahan palpebera, eversi punctum atau malposisi pal¬pebra. Namun sumbatan sistim kanalis lakrimalis yang sebenarnya atau dacryostenosis sering juga dijumpai, dimana dikatakan bahwa dacryostenosis akuisita tersebut lebih banyak dijumpai pada wanita dibanding pria. Adapun patogenesis yang pasti terjadinya sumbatan ductus nasolakrimalis masih belum jelas, namun diduga oleh karena terjadi proses fibrotik dan berakibat terjadinya sumbatan.
Setelah usia 40 tahun khususnya pada wanita pasca meno¬pause sekresi basal kelenjar lakrimal  tak menunjukkan gejala epifora oleh karena volume air matanya sedikit. Akan tetapi bilamana sumbatan sistim lakrimalis tak nyata akan memberi keluhan mata kering yaitu adanya rasa tidak enak seperti terdapat benda asing atau seperti ada pasir, mata terasa lelah dan kering bahkan kabur. Sedangkan gejala obyektif yang didapatkan adalah konjungtiva bulbi kusam dan menebal kadang hiperaemi, pada kornea didapatkan erosi dan filamen. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah Schirmer, Rose Bengal, “Tear film break up time”.

3.    Kornea (Cornea)
Arkus Senilis (Gerontoxon, Arcus Cornea)
Merupakan manifestasi proses penuaan pada kornea yang sering dijumpai. Keberadaan arcus senilis ini tidak memberikan keluhan, hanya secara kosmetik sering menjadi masalah. Kelainan ini berupa infiltrasi lemak yang berwarna keputihan, berbentuk cincin dibagian tepi kornea. Mula-mula timbulnya dibagian inferior kemudian diikuti bagian superior berlangsung luas dan akhirnya berbentuk cincin (anulus senilis).
Etiologi arkus senilis diduga ada hubungannya denga pening¬katan kolesterol dan low density lipoprotein (LDL). Bahan yang membentuk cincin tersebut terdiri dari ester kolesterol, kolesterol dan gliserid. Arkus senilis mulai dijumpai pada usia 40–60 tahun dan terjadi pada hampir pada semua orang yang berusia diatas 80 tahun dimana laki-laki lebih awal timbulnya dibanding wanita.

4.    Muskulus siliaris (Musculus Ciliaris)
Dengan bertambahnya usia, bentuk dari muskulus siliaris mengalami perubahan. Pada masa kanak-kanak muskulus tersebut cenderung datar, namun semakin bertambah usia seseorang serabut otot dan jaringan ikatnya bertambah sehingga muskulus tersebut menjadi lebih tebal, terutama bagian inferior. Proses tersebut berlanjut dan mencapai tebal maksimal pada usia lebih kurang 45 tahun. Setelah itu terjadi proses degenerasi dimana maskulus ter¬sebut mengalami proses atropi, juga hialinisasi. Tampak pening¬katan jaringan ikat diantara serabut-serabut muskulus siliaris dan nukleusnya menipis. Tampak pula butiran lemak dan deposit kalsium diantara serabut muskulus tersebut.
Dengan bertambahnya usia terjadi penurunan amplitudo akamodasi dengan manifestasi klinis yaitu presbiopia. Penurunan amplitudo akomodasi ini dikaitkan dengan perubahan serabut lensa yang menjadi padat dan kapsulnya kurang elastis, sehingga lensa kurang dapat menyesuaikan bentuknya. Untuk mengatasi hal ter¬sebut muskulus siliaris mengadakan kompensasi sehingga menga¬lami hipertropi. Proses ini terus berlanjut dengan semakin bertam¬bahnya usia sehingga terjadi manifestasi presbiopia.

5.    Humor Aqueous
Pada mata sehat dengan pemeriksaan fluorofotometer diper¬kirakan produksi H.Aqueous 2,4 l+/_ 0,06 micro liter/menit. Beberapa faktor berpengaruh pada pada produksi H.Aqueous. Dengan pemeriksaan fluorofotometer menunjukkan bahwa dengan bertambahnya usia terjadi penurunan produksi H.Aqueous 2% (0,06 micro liter/menit) tiap dekade.

6.    Lensa Kristalina
Bentuk lensa cakram biconvex; berukuran diameter 9 mm dan tebal bagian sentral 4mm. Bagian-bagiannya adalah: kapsul, korteks, nukleus.
Pada usia muda lensa tidak bernukleus, pada usia 20 tahun nucleus mulai terbentuk. Semakin bertambah umur nuleus makin membesar dan padat, sedangkan volume lensa tetap, sehingga bagian korteks menipis, elastisitas lensa jadi berkurang, indeks bias berubah (membias sianar jadi lemah). Lensa yang mula-mula bening transparan, menjadi tampak keruh (Sklerosis) berwarna kekuning-kuningan ini mungkin yang menyebabkan kekurang mampuan membedakan warna antara biru dan purple. Kekeruhan lensa yang disertai gangguan visus disebut katarak.

7.    Iris
Mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi tampak ada bercak berwarna muda sampai putih dan strukturnya menjadi lebih tebal.

8.    Pupil
Konstriksi, mula-mula berdiameter 3mm, pada usia tua terjadi 1 mm, reflek direk lemah, kemampuan akomodasi menurun. Pupil pada orang muda menghantar sinar 6x lebih besar dibanding orang ber-usia 80 tahun. Pada tempat yang gelap orang yang berusia 20 tahun menerima sinar 16x lebih besar.

9.    Badan Kaca (Corpus Vitreum)
Pada usia diatas 50 tahun badan kaca akan mengalami liquefaksi (sineresis), kavitasi namun dibagian tepi justru menga¬lami kondensasi dan penebalan serta lepasnya membran hyaloid dari retina maupun kapsul lensa belakang. Konsistensi badan kaca lebih encer, dapat menimbulkan keluhan photopsia (melihat kilatan cahaya saat ada perubahan posisi bola mata).

10.    Retina
Terjadi degenerasi (Senile Degenaration). Gambaran Fundus mata yang mula-mula merah jingga cemerlang menjadi suram dan ada jalur berpigmen (Tygroid Appearance) terkesan seperti kulit harimau. Jumlah sel fotoreseptor berkurang sehingga adaptasi gelap dan terang memanjang dan terjadi penyempitan lapangan pandang, ini disebabkan terlambatnya regenerasi dari rodopsin.

11.    Syaraf Optik (Nervus Opticus)
Jumlah akson syaraf optik berkurang dan ada penambahan jaringan ikat, warna papil Syaraf optik lebih pucat. Atrofi peri¬papiler, depigmentasi sekeliling papil menimbulkan warna pucat sekeliling papil.

XI.    Perubahan Anatomik pada Organon Auditus
Dengan makin lanjutnya usia terjadi degenerasi primer di organ corti berupa hilangnya sel epitel syaraf yang dimulai pada usia pertengahan. Juga dilaporkan bahwa keadaan yang sama terjadi pula pada serabut aferen dan eferen sel sensorik dari kokhlea. Disamping itu juga terdapat penurunan elastisitas mem¬bran basalis di kokhlea dan membran timpani. Pasokan darah dari reseptor neuro-sensorik mengalami gangguan, sehingga baik jalur audiotorik dan lubus temporalis otak sering terganggu, dari pen¬jelasan diatas terlihat bahwa gangguan pendengaran pada usia lanjut dapat disebabkan oleh berbagai sebab antara lain: gangguan pendengaran tipe konduktif, adalah gangguan bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalitas auditorius, membran timpani atau tulang pendengaran. Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada pemeriksaan. Hanya dengan membersihkan lubang telinga dari serumen ini pendengaran bisa menjadi lebih baik.

Kesimpulan
1.    Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti terjadi perubahan struktur anatomik dan fungsi sel maupun jaringan disebabkan oleh penyimpangan didalam sel/jaringan dan bukan oleh faktor luar (penyakit). Menghambat penuaan berarti mempertahankan struktur anatomi pada suatu tahapan kehidupan tertentu sepanjang mungkin maka untuk ini diper¬lukan penguasaan ilmu anatomi
2.    Terjadinya perubahan anatomik pada sel maupun jaringan tiap saat dalam tahapan kehidupan menunjukan bahwa anatomi adalah ilmu yang dinamis.
3.    Anatomi adalah ilmu dasar yang selalu menjadi dasar dari ilmu yang berkembang kemudian, mengembangkan ilmu anatomi berarti membina ilmu masa depan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum mengahkiri pidato pengukuhan ini, perkenankan saya menyampaikan rasa syukur kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa atas segala tuntunan, kekuatan, kesabaran, serta limpahan rahmat dan karuniaNya. Sehingga mendapat kepercayaan menerima jabatan akademik Guru Besar dan pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan rasa hormat dan terimakasih setulus-tulusnya kepada:
1.    Pemerintah Republik Indonesia, (melalui) Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
2.    Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof. Dr. H. Moch. Syamsulhadi, dr, SpKJ(K), para anggota Senat Universitas, Senat Fakultas Kedokteran, Dekan Fakultas Kedokteran UNS, Dr.A.A Subijanto, dr, MS saya ucapkan terimakasih atas perse¬tujuan¬nya dalam menilai dan meloloskan CCP saya untuk  memperoleh jabatan akademik Guru Besar di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3.    Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Sura¬karta, DR. A.A Subijanto, dr, MS. Pembantu Dekan I Prof DR Satimin Hadiwijaya dr,PAK, MARS, Pembantu Dekan II Isdaryanto dr,MARS, Pembantu Dekan III  Bambang Suratman dr, SpTHT (KL) atas bantuan dan tuntunan yang baik selama ini, sehingga jabatan Guru Besar Anatomi dapat saya peroleh.
4.    Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr. Admadi Suroso, dr, SpM, MARS, atas ijin yang diberikan sehingga saya dapat mengikuti program Doktor di Surabaya yang akhirnya dapat menghantarkan saya untuk meraih jabatan Guru Besar.
5.    Prof. Drs. Soekijo dan Prof. Drs. Anton Sukarno atas dorongan dan bantuannya maka surat keputusan pengangkatan Guru Besar saya dapat terwujud dalam waktu yang relatif singkat.
6.    Kepada  Prof H Ari Gunawan, dr, MS,Phd; Prof. Dr. Hj Juliati Hood A, dr, MS, SpPA, FIAC;  Prof. Dr Indri Safitri, dr, MS sebagai promotor dan co-promotor yang selalu membimbing dan memberi petunjuk dengan sabar dan dukungan moril yang memberikan kesejukan dan ketenangan dalam menyelesaikan pendidikan program Doktor di Universitas Airlangga.
7.    Prof Djumikan, dr (alm).Guru saya yang selalu membimbing dengan penuh perhatian sebagai seorang bapak, semoga Tuhan memberi tempat yang layak disisinya.
8.    Prof. Dr Satimin Hadiwijaya, dr, MARS,   kepala laboratorium anatomi senior saya yang mendorong dan memberi ijin kepada saya untuk melanjutkan studi S3 di Unair.
9.    Seluruh staf edukatif, administratif maupun tenaga laboran di Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Hasan Doewes, dr, SU, MARS, PAK.,                    Sri Indratni, dr, PAK, MOr., Ratnaningsih H, drg, Ort., Selfi  Handayani, dr, MKES, Nanang Wiyono, dr., mbak Sribukit, mas Mujiono, mas Darmanto, dan mas Lasimin atas bantuan pengertian dan kerjasama yang baik selama ini, sehingga saya dipercaya untuk memangku jabatan akademik Guru Besar Anatomi.
10.    Semua guru saya, mulai dari guru di Sekolah Rakyat, SMP, SMA, serta pendidikan di Fakultas kedokteran Undip, Program Pascasarjana di STIMJ, Program Pasca Sarjana Kedokteran Keluarga UNS, Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, atas bimbingan dan didikannya.
11.    Mbakyu Dra Endang Sudiyono, kakak saya yang tanpa mengenal lelah memberi dorongan semangat dan doa.
12.    Kedua orang tua saya, almarhum Bapak Slamet Sutantyo dan almarhumah Ibu Sri Rahayu yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang. Ananda haturkan sembah sujud atas bimbingan, didikan dan doa yang selalu terucap pada saat kami terlelap.
13.    Kedua mertua saya almarhum Bapak Siswanto dan almarhumah Ibu Kustiartini yang senantiasa memberikan doa restu kepada saya sekeluarga.
14.    Saudara -saudara kandung saya beserta keluarga saya ucapkan terima kasih yang tulus atas segala doa dan dorongannya.
15.    Saudara-saudara ipar beserta keluarga terima kasih atas dukungan dan doanya.
16.    Istri tersayang Dwi Yanti Hastuti, dari lubuk hati yang terdalam saya sampaikan ucapan terima kasih atas segala kesabaran, keprihatinan, dorongan dan dukungan doa selama ini, mengi¬kuti dan menyertai sejak awal hingga saya berhasil meraih jabatan akademik tertinggi ini
17.    Ketiga anak saya, Wulandari Ekorini S Kom beserta suaminya William Budi Kurniawan Dipl Inf, Endah Dwi Palupi SPd,MM, Retno Tri Astuti SE, engkau semua adalah permata yang Tuhan anugerahkan kepadaku.Tak ketinggalan untuk cucuku Sidney engkau pembawa keceriaan dan  kebahagian. Terima kasih untuk dorongan kepada saya untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan bangsa.
18.    Semua pihak yang tidak dapat saya sebut satu persatu yang telah membantu, mendorong dan memberi doa restu sehingga saya berhasil meraih jabatan ini
19.    Hadirin sekalian, yang telah meluangkan waktu yang sangat berharga ini, dengan tekun dan penuh kesabaran berkenan untuk mengikuti prosesi pengukuhan saya sebagai Guru Besar, mohon maaf apabila ada kata atau tingkah laku yang kurang berkenan.
20.    Seluruh panitia pengukuhan Guru Besar yang telah memper¬siapkan segala sesuatunya, sehingga acara prosesi pengukuhan saya sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Uni¬ver¬sitas Sebelas Maret berjalan dengan lancar. Saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya semoga Tuhan yang membalasnya. Amin.

Daftar Pustaka

Agoestina T. 2001. Pentingnya Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menoupouse. Medika no. 11 Tahun XXIII, Nopember 2001.
Best B. 2006. Mechanism of Aging://wysiwyg 1 /file/e/mechanism of Aging htm.
Brain & Aging, 2006. http://www.biorap.org/rg/rgagebrainaging. html
Carola R, Harley JP, Noback, 1990. Human Anatomy and Physiology. McGraw-Hill Publishing Company.
Carmel R, 1997. Cobalamin, Stomach, and Aging. Am J Clin Nutr 1997; 66: 750-9.
Darmojo RB, 2001.  A Visit to Geriatric Heart Disease (Sukaman Lecture). Medika no. 6 TahunXXVII, Juni 2001.
Darmojo RB, 2002.  Penatalaksanaan Penderita Lanjut Usia secara Terpadu. Medika no. 1 tahun XXVIII, juni 2002.
Darmojo RB, et al, 2004. Buku Ajar Geriatri.Balai Penerbit FK UI Jakarta.
Djuwantoro D, 2006. Overactive Bladder. Patofisiologi dan Penatalaksanaan. Medika no.6 Tahun XXXI, juni 2006.
Guttman M. The Aging Brain. http://www.usc.edu/hsc/info /pr/hmm/01spring/brain.html

Hartford JA, 2002. Aging & Sensory Function. http://www.nyu .edu/education/nursing/hartford.institute/course
Kennard C, 2005. The Aging Brain. http.//alzheimer.about.com/ od/research
Kodim N, 1999, Perubahan Proses Berkemih, Masalah Kesehatan Potensial pada Kelompok Usia Lanjut. Medika no. 12 Tahun XXV, Desember 1999.
Laksmiasanti, 1987.  The Pathophysiology of Brain Ischaemia. Geriatrics Symposium on Dementia and Brain Ischaemia
Mayo Clinic Staff. 2005. Anti Aging Therapies: Too Good To be True? http://health.MSN.com/womenshealth/articlepage
Montagna W, Carlisle K, 1979. Structural Changes in Aging Human Skin. The Journal of Investigative Dermatology, 73: 47-53
Nair KS, 2005. Aging Muscle. Am J Clin Nutr 2005; 81:953-963.
Nalla Rk, et al, 2004. Effect of Aging on the Toughness of Human Cortical Bone: Evaluation By R-Curves. UCRL_JRNL.
National Institute on Aging, 2005.  Skin Care and Aging, http://www.nia.nih.gov
Nasution I, 2003.  Pendekatan Farmakologis pada Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).  Medika no. 3 tahun XXIX, Maret 2003.
Nolan DE, 2006. Normal Age-Related Vision Loss and Related Services for the Elderly. http:/nubel.statsu.edu/research /donia/agng-visual changes.htm

Pribakti B, 2004.  Prolaps Urogenital Pasca Menoupause. Medika no. 2 Tahun XXX, Pebruari 2004.
Reiman E, 2006.  What Physical Changes Happen to The Brain?
Russell RM, 1992. Changes in Gastrointestinal Function Attributed to Aging. Am J Clin Nutr 1992; 55:1203s-7s.
Setiati S, 2003.  Radikal Bebes, Antioksidan, dan Proses Menua. Medika no. 6 Tahun XXIX, Juni 2003.
Siregar AH, 2006. Spa Medic Pilar Anti Aging Medicine. Cermin Dunia Kedokteran no. 150, 2006
Situmeang R, 2000. Terapi Growtth Hormon pada Perawakan Pendek. Medika no. 11 Tahun XXVI, November 2000.
Soejono CH, 2004. Pasien Geriatri dan Permasalahannya. Medika no.5 tahun XXX, Mei 2004.
Subrata G, 1995.  Pencegahan dan Terapi Mutakhir Osteoporosis dengan Clodronate. Medika no. 5 Tahun XXI, Mei 1995.
Suhardjo, 1994.  Pola Kelainan Mata pada Usia Lanjut. Medika no. 10 Tahun XX, Oktober 1994.
Taslim H, 2001. Gangguan Muskuloskeletal pada Usia Lanjut. Medika no. 7 Tahun XXVII, Juli 2001.
Vision and Anatomic changes with aging eye. The Eye Digest. http://www.agingeye.net 2007 01/10/2007.

TANGGUNGJAWAB PENGAJARAN ANATOMI TERHADAP PENDIDIKAN DOKTER

Prof. Dr. dr. Satimin Hadiwidjaja, PAK, MARS

Bismillahirrahmanirrahim
Yang saya hormati :
Ketua dan para anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Surakarta
Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Pejabat Sipil maupun Militer
Para Ketua Lembaga, Kepala Biro dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium/Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha dan KaSubBag serta seluruh Tenaga Administrasi di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Dosen, Mahasiswa serta segenap Sivitas Akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Tamu undangan, Sanak Keluarga dan Handai Taulan serta hadirin sekalian yang saya muliakan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Perkenankanlah, sebelum memulai pidato pengukuhan di pagi hari ini, saya mengajak seluruh hadirin untuk sejenak memanjatkan puji syukur ke hadirat Illahi Robbi, karena limpahan nikmat dan karuniaNya, kita semua masih diberi kesempatan untuk berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat wal afiat untuk mengikuti sidang Senat Terbuka dengan acara tunggal pengukuhan saya sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Pada kesempatan ini ijinkanlah saya berdiri dihadapan hadirin sekalian untuk memenuhi kewajiban dan tradisi akademik yang dipersyaratkan oleh Senat Universitas Sebelas Maret kepada setiap Guru Besar baru untuk menyampaikan pidato pengukuhannya. Pidato pengukuhan ini merupakan pandangan saya tentang Anatomi (yang merupakan salah satu pilar utama di setiap Fakultas Kedokteran), sesuai dengan kapasitas saya sebagai staf pengajar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Pandangan tersebut saya tuangkan dalam pidato pengukuhan dengan judul: Tanggungjawab Pengajaran Anatomi Terhadap Pendidikan Dokter

Hadirin yang saya hormati
Pidato pengukuhan ini saya bagi ke dalam beberapa bagian, yaitu: 1. Pengertian dan Perkembangan Anatomi, 2. Kedudukan Mata Kuliah Anatomi di Fakultas Kedokteran, 3. Anatomi dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan 4. Kesimpulan.

1. Pengertian dan Perkembangan Anatomi
Anatomi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang struktur tubuh manusia (Human Anatomy). Sebetulnya Anatomi bukan merupakan bahasa Indonesia asli, melainkan berasal dari Greek, anatome, yang dibentuk dari kata ana artinya ke atas dan tome, artinya memotong, yang mempunyai arti sama dengan bahasa Latin, dissection, dibentuk dari kata dis, artinya berkeping-keping  dan secare, artinya memotong, yang keduanya kemudian saling di sepadankan; dari sinilah asal kata Anatomi itu.
Ilmu Anatomi pada mulanya (dianggap) berasal dari orang-orang Mesir kuno, oleh karena melalui pengawetan mayat yang dilakukannya dengan cara membalsem, mereka telah mengenal anatomi; dari sini setidak-tidak mereka telah mengetahui tentang susunan tubuh manusia. Tetapi, sebagai ilmu pengetahuan, anatomi baru dikenal kira-kira empat atau lima abad sebelum Masehi.
Di Yunani, banyak ahli anatomi yang muncul di sana, di antaranya (1). Alcmaeon (500 tahun sebelum Masehi) yang mengawali dengan pencatatan anatomi binatang, (2). Hippocrates (400 tahun sebelum Masehi) yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu anatomi disertai dengan nilai-nilai etika dan moral: Human Surface Anatomy telah dipelajari oleh orang-orang Greek kira-kira 500 tahun sebelum Masehi. On Anatomi (dari koleksi Hippocrates sekitar pertengahann abad ke-4 sebelum Masehi) dan mungkin merupakan buku  pertama yang mengulas tentang risalah anatomi dan On the Heart (dari koleksi Hippocrates kira-kira 340 tahun sebelum Masehi) yang merupakan buku pertama yang mengulas secara lengkap tentang anatomi; (3). Aristoteles (384-322 tahun sebelum Masehi) yang telah meletakkan dasar-dasar anatomi komparativa. Kemudian muncul (4). Herophilus (300 tahun sebelum Masehi) yang sangat terkenal dan dianggap sebagai ”Bapak Anatomi”, selanjutnya (5). Erasistratus (290 tahun sebelum Masehi), dikenal sebagai ”Bapak Fisiologi”, walaupun ada pula yang menyebut bahwa ”Bapak Fisiologi” adalah Galen.
Kemudian di abad ke-2, muncul Galen, sangat terkenal dengan sejarah anatomi, hidup di tahun 130-200 Masehi ; terjemahan ke dalam bahasa Latin dari teksnya dipakai sebagai dasar untuk anatomi di Barat hingga lebih dari 1.000 tahun. Dia kemudian diangkat sebagai ”Dokter Kerajaan”. Pada awalnya, beliau tertarik dengan anatomi binatang, tetapi kemudian dengan pengetahuannya itu beliau tertarik dengan anatomi manusia; sehingga belajar anatomi berarti mempelajari Galen.
Di jaman kerajaan Romawi, muncul nama-nama:(1). Rufus (tahun ke-50), yang telah membuat buku untuk pertama kalinya tentang Nomenklatur Anatomi, kemudian (2). Soranus (tahun ke-100) meletakkan awal-awal anatomi deskriptiva.

Di abad ke-14
Diseksi pada manusia untuk pertama kalinya telah dilakukan di Italia dan Perancis. Mondino de’Luzzi (1276-1326) merupakan orang yang memperbaiki citra diseksi anatomi kepada publik di Bologna (1315) dengan  ditulisnya dalam Anothomia (1316).

Di abad ke-15
Anatomi telah dipelajari oleh seorang pelukis Leonardo da Vinci (1452-1519). Ilustrasi anatomi diawali dengan dicetaknya dalam dekade terakhir di abad ke-15

Abad ke-16
Berdasarkan komentar Mondino di tahun 1521, Berengario da Carpi (1470-1550) membuat ilustrasi pertama kali dalam textbook Anatomi. Dasar-dasar Nomenklatur anatomi diletakkan oleh Jacobus Sylvius.
Anatomi komparativa telah dipelajari  oleh Belon, Fabricius ab Aquapendente dan Coter; Fabricius ab Aquapendente dan Coter juga menulis tentang Embryologi.
Anatomi kemudian mengalami reformasi di zaman Andreas Vesalius (1514-1564) di Brussel yang ditulis dalam bukunya: ”De Humani Corporis Fabrica” pada tahun 1543; Vesalius, merupakan dokter muda, kemudian diangkat sebagai profesor di Universitas Padua, dipandang sebagai ”master of dissecting anatomy”. Beliau banyak mengkritik anatomi yang telah dipaparkan oleh Galen. Bartolomeo Eustachi (1524-1574) telah membuat atlas anatomi, sayang tidak dipublikasikan sampai dengan akhir tahun 1714.

Di abad ke-17
William Harvey (1578-1657) telah memberi orientasi fisiologi dalam konteks anatomi yang ditulis dalam bukunya: “Exercitatio anatomica de motu cordis et sanguinis in animalibus” yang ditulis pada tahun 1628.
Vasa lymphatica juga telah diketemukan dalam abad ini. Untuk pertama kali, Human dissection telah  diterima di Massachusetts (Amerika Serikat) di tahun 1638.
Mikroskopik anatomi dipublikasikan oleh Marcello Malpighi (1628-1694)
Ahli anatomi terkenal di masa itu adalah: Fabricius, Casserio, Thomas Bartholin, dan Riolan terlihat paling muda. Ahli anatomi komparativa saat itu adalah: Swammerdam, Perrault, Duverney dan Tyson.

Di abad ke-18
Dasar-dasar patologi anatomi telah diletakkan oleh Giovanni Battista Morgagni (1682-1771); ahli anatomi yang terkenal saat itu adalah: Albinus dan Winslow. Sedangkan ahli anatomi komparativa saat itu adalah; Buffon, Daubenton Vicq d’Azyr, dan John Hunter telah meletakkan dasar-dasar anatomi gigi.
Museum Anatomi yang terkenal dirancang oleh William (1718-1783) dan John Hunter (1728-1793); museum surgical anatomy dirancang oleh John (1753-1820) dan Charles Bell (1774-1842), sedangkan embryology modern ditetapkan oleh Caspar Friedrich Wolff (1733-1794)

Di abad ke-19
Klasifikasi jaringan secara garis besar telah dicanangkan di tahun 1801 oleh Xavier Bichat (1771-1802); diseksi anatomi diwajibkan pada mahasiswa untuk pertama kali dilakukan di Edinburgh tahun 1826 dan  Myriland tahun 1833.
Kebangkitan anatomi terjadi di Great Britain and Ireland di tahun 1750-1832.
Pernah dilaporkan oleh William Burke dan William Hare pada tahun 1828 di Edinburgh terjadi pembunuhan, mayatnya dijual untuk kepentingan anatomi, karena sulitnya memperoleh mayat. Tiga tahun kemudian di tahun 1832 di London juga terjadi pembunuhan yang mayatnya dipergunakan untuk diseksi anatomi (An act for regulating schools of Anatomi); diseksi anatomi pertama kali di dilaksanakan di Massachusetts (Amerika Serikat)  tahun 1831.
Sinar-X ditemukan di tahun 1895 oleh Wilhelm Conrad Rontgen (1845-19230), penemuan ini sangat besar perannya di dunia kedokteran sebagai pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit; sementara neurohistology dikembangkan oleh Ramon Cajal (1852-1934)
Di abad ini telah muncul asosiasi anatomi, di antaranya: Anatomische Gesellschaft (1886), Anatomical Society of Great Britain and Ireland (1887) dan American Association of Anatomists (1888).

Terminologi Anatomi
Berdasarakan etimologi, istilah anatomi mengambil dari banyak referensi, seperti  dari: (1). E. J. Field and R. J. Harrison, Anatomical Terms. Their Origin and Derivation, Heffer, Cambridge, 2nd ed., 1957. (2). H.A. Skinner, The Origin of Medical Terms, William and Wilkins, Baltimore, 2nd ed., 1961. (3). H. Wain, The Story Behind the Word, Thomas, Springfield, Illinois, 1958.
Sampai menjelang akhir abad ke-19, diperkirakan telah terkumpul sekitar 50.000 istilah anatomi yang dipakai untuk sekitar 5.000 struktur tubuh manusia. Tetapi di tahun 1895, terdapat sekitar 4.500 istilah anatomi, dan telah disepakati di Basle; sistem nomenklatur yang dipakai kemudian dikenal dengan ”Basle Nomina Anatomica (B.N.A.)” dengan ditetapkan bahasa utama yang dipakai adalah bahasa Latin.
Selanjutnya terjadi revisi yang dilaksanakan di Britain, disebut kemudian dengan Birmingham  Revision, atau BR di tahun 1933, dan di Jerman pada tahun 1935 dengan nama Jena Nomina Anatomica disingkat dengan I.N.A. Terminologi yang pertama secara aklamasi telah diterima oleh Anatomical Association of Great Britian and Ireland dan tetap mendasarkan dengan bahasa Latin sebagai istilah utama Anatomi, kemudian juga dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Di Paris, tahun 1955, terjadi kesepakatan internasional yang menetapkan nomenklatur anatomi dengan bahasa Latin atas dasar penetapan dalam B.N.A.
Nomina Anatomica ini diamandemen di New York tahun 1960; terjemahan ke dalam bahasa Inggris dapat diterima, walaupun synonim dalam bahasa Latin harus selalu disertakan. Di antara prinsip-prinsip New N.A.yang tetap harus dicermati adalah: (a). Beberapa struktur tertentu tetap menggunakan satu istilah saja. (b). Setiap istilah resmi haruslah tetap ditulis dalam bahasa Latin, walaupun setiap negara dapat menterjemahkan istilah Latin ini dengan bahasa negaranya sendiri dalam rangka proses pembelajarannya. (c). Istilah-istilah yang muncul diharapkan mempunyai nilai informatif  dan deskriptif. (d). Istilah-istilah eponym sedapat mungkin dihindarkan (walapun dalam hal-hal tertentu masih banyak ditemukan).

Hadirin yang saya hormati
2. Kedudukan Mata Kuliah Anatomi di Fakultas Kedokteran
Indonesia termasuk negara berkembang, dengan demikian dapat dimaklumi bahwa peradaban dan kulturnya jauh ketinggalan dibanding dengan kelompok negara-negara maju. Dalam hal pendidikan misalnya, bila dibanding dengan negara-negara maju Indonesia jauh tertinggal. Pendidikan Kedokteran di Indonesia sebelum tahun depalan puluhan, masih menganut sistem bebas; kurikulum belum ditetapkan secara jelas. Baru di tahun 1982, Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia ditetapkan dalam KIPDI I dan sepuluh tahun kemudian diperbaharui dengan KIPDI II. Konsep pembelajaran yang ditetapkan di KIPDI I maupun KIPDI II bersifat ”Teacher centered” yang didasarkan pada ”Subject based”, mata kuliah tertentu berdiri dengan kokohnya secara sendiri-sendiri. Kelompok mata kuliah disusun secara sekeunsial, mulai dari mata kuliah preklinik, mata kuliah paraklinik dan mata  kuliah klinik (Dep. P dan K, 1982; 1992).
Baik dalam KIPDI I maupun KIPDI II, Anatomi dimasukkan ke dalam kelompok mata kuliah ”preklinik”.
Dalam KIPDI I setiap mata kuliah disajikan dalam topik-topik dan sub-subtopik, yang masing-masing dijabarkan ke dalam Tujuan instruksi umum (TIU) dan Tujuan perilaku khusus (TPK). Mata kuliah anatomi dituangkan ke dalam topik: Anatomi Umum, embryologi, extremitas superior, extremitas inferior, kepala dan leher,  tengkuk, punggung dan pinggang,  thorax, abdomen, pelvis, susunan saraf pusat, serta mata dan telinga. Sementara dalam KIPDI II, setiap mata kuliah tidak disajikan ke dalam tujuan instruksi umum maupun tujuan perilaku khusus secara rinci, dengan harapan memberi kesempatan kepada setiap Prodi Kedokteran untuk meramu sendiri mata kuliahnya sesuai dengan visi dan misinya.
Anatomi bersama-sama dengan fisiologi, biokimia dan  farmakologi merupakan  kelompok mata kuliah dasar di suatu Fakultas Kedokteran (basic medical sciences), yang akan mendasari mata kuliah klinik. Setiap pembelajaran suatu mata kuliah klinik selalu mempersyaratkan pengetahuan dasar anatomi; tidak ada satupun mata kuliah klinik yang tidak didasari oleh anatomi.
Proses pembelajaran di era KIPDI I maupum KIPDI II, selalu dipimpin dan di awali dengan kuliah oleh dosen; pembelajaran bersifat ”teacher centered”, sebaliknya mahasiswa bersifat pasif, ”hanya” menerima apa kata dosen. Proses pembelajaran seperti ini telah berjalan lama, mungkin sudah seumur dunia ini, dan masih tetap dianut oleh hampir semua negara di dunia baik negara brkembang maupun negara maju sekalipun. Konsep pendidikan yang bersifat ”teacher centered” ini merupakan konsep pembelajaran tertua di dunia. Pendidikan di Indonesia, dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan tingkat strata tiga (S3) masih tetap memerlukan guru atau dosen untuk mengawal proses pembelajarannya dengan metode kuliah; karena proses pembelajaran seperti ini telah berlangsung lama, maka akan mampu memberi warna ”kultur” pendidikan di Indonesia, sehingga (walaupun dapat), kiranya pola pembelajaran seperti ini sangat sulit untuk dirubah.
Paradigma pendidikan yang sedang berkembang sekarang ini berdasar pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), bersifat ”student centered”; seluruh kegiatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa, dan dosen hanyalah bersifat fasilitator saja.

Hadirin yang saya hormati
Saya akan mencoba mengkritisi paradigma baru yang memandang proses pendidikan dengan konsep ”teacher centered” hanya dengan sebelah mata, yang mengandung makna serba ”salah dan kurang”; sebetulnya bukan begitu. Saya sadar bahwa tidak ada satu sistempun bentukan manusia di bumi ini yang sempurna, semuanya ada kurang dan lebihnya. Dalam paradigma lama yang bersifat ”teacher centered”, dosen mengawal pembelajaran dengan metode kuliah, tidak hanya menuntun mahasiswa untuk berfikir runtut dari hal-hal yang sederhana sampai dengan yang sangat kompleks, tetapi sekaligus juga memberikan ”key word” kepada mahasiswa, dengan tujuan supaya mahasiswa nantinya dapat berfikir mandiri dengan cepat dan mudah dalam menyelesaikan masalah yang muncul. Dalam kuliahnya, dosen akan menjelaskan setiap topiknya ke dalam Tujuan instruksi umum (TIU) dan Tujuan perilaku khusus (TPK) secara tuntas, sehingga tidak ada satu potongpun tujuan yang tertinggal; dosen berusaha menunjukkan tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik dalam ranah kognitif, psikomotor maupun afektif. Tujuan masing-masing ranah tersebut terlihat seakan-akan terpisah antara ranah satu dengan lainnya; tetapi seorang mahasiswa yang mempunyai tingkat kognitif yang tinggi dipastikan akan mempunyai ketrampilan yang tinggi serta mampu bersikap santun, oleh karena kedua ranah terakhir tersebut mendasarkan pada kemampuan kognitif yang tinggi. Itulah sepotong nilai lebih dari konsep ”teacher centered”. Sebagai seorang kritikus, saya sadar bahwa konsep pendidikan yang bersumber pada KIPDI I dan II mempunyai banyak kekurangannya, di antaranya tidak diprogramkannya proses pembelajaran ”Skills Lab”, yang disadari  bahwa proses pembelajaran ”Skills Lab” ini dapat meningkatkan kemanmpuan psikomotor seorang mahasiswa sebelum berhubungan langsung dengan pasien. Masih banyak hal yang harus dikritisi pada konsep pembelajaran yang bersifat ”teacher centered”, tapi kiranya hanya inilah kritik saya terhadap konsep ”teacher centered”, karena bukan pada tempatnya untuk memasalahkan hal tersebut berkepanjangan.
Anatomi yang merupakan satu pilar utama dalam Pendidikan Kedokteran mempunyai korelasi horizontal maupun vertikal dengan mata kuliah lainnya; itulah temuan anatomi yang senyatanya di lapangan. Pembelajaran anatomi tidaklah cukup kalau hanya belajar bersifat ”instant saja” yang hanya ”sepotong-sepotong”, karena hampir setiap masalah yang akan muncul dalam pembelajaran klinik selalu berhubungan dengan anatomi, dan bukan hanya karena ”out-put” seorang dokter umum nantinya cukup dengan potongan-potongan anatomi yang bersifat instant tersebut. Konsep pembelajaran seperti ini sangat tidak benar, karena pengertian yang sepotong-sepotong tentang anatomi tersebut justru akan menjerumuskan cara berfikir seorang mahasiswa. (Seorang buta yang memegang gajah pada kakinya, mereka berkesimpulan bahwa gajah itu seperti bumbung kasar yang panjang, sementara orang buta lainnya memegang belalainya, menyebutkan bahwa gajah itu seperti sosis panjang yang melengkung; mereka masing-masing memberikan kesimpulan yang berbeda terhadap satu masalah yang sama). Itulah sekelumit contoh fiktif hal yang sangat mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan.

Hadirin yang saya hormati
Pembelajaran anatomi seperti yang telah diuraikan di depan, dimulai dari Anatomi Umum sampai dengan organon Visus (mata) dan organon Auditus (telinga), mengisyaratkan bahwa tidak ada satu bagianpun di tubuh manusia ini yang tidak dipelajari. Dalam pokok bahasan Anatomi Umum disuguhkan pula subpokok bahasan tentang sejarah pendidikan kedokteran (sejarah anatomi) secara umum serta istilah-istilah dasar (terminologi) yang dipakai di dunia kedokteran. Bukan berusaha menempatkan anatomi di atas mata ajar lainnya, tetapi kehadiran anatomi di setiap Fakultas Kedokteran merupakan penanda bagi seorang mahasiswa, karena baru merasa sebagai mahasiswa kedokteran kalau mereka sudah belajar anatomi melalui cadaver. ”Dia baru berani bilang bahwa saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran, karena saya telah kenal dengan intestinum, uterus, hepar, cor dan lain-lainnya dari cadaver bukan lagi dengan sebutan usus, rahim, hati, jantung dan lain-lainnya; cadaver adalah guru saya”. Oleh karena itu, motto pembelajaran anatomi adalah: ”Mortui Vivos Docent” yang artinya kurang lebih: ”Orang yang sudah mati mampu memberi pelajaran (anatomi)” kepada saya.
Disadari bahwa matrik anatomi sangat banyak, sehingga ada sementara mahasiswa menyebutkan anatomi itu momok; itu tidak benar. Yang benar adalah bahwa anatomi itu besar, dan hanya dengan modal tekun membaca dan banyak membacalah maka anatomi dapat dikuasai. Memang bukan tanpa alasan bagi seorang mahasiswa yang menyatakan belajar anatomi itu sulit, karena bukan hanya matriknya yang banyak, tetapi juga karena harus menggunakan bahasa asing untuk istilah-istilah anatomi.
Kita harus menaruh rasa hormat kepada pendahulu-pendahulu kita bahwa sudah sejak dahulu kala telah dipikirkan tentang bahasa persatuan di bidang kedokteran (anatomi). Sampai menjelang akhir abad ke-19 sekitar 50.000 istilah anatomi telah dipergunakan untuk sekitar 5.000 struktur tubuh manusia; tetapi, di tahun 1895 telah disepakati sebanyak 4.500 istilah anatomi di Basle, dan sistem nomenklatur anatomi yang disepakati dikenal dengan Basle Nomina Anatomica (B N A), ditetapkan dengan bahasa Latin. Walaupun telah melalui beberapa kali revisi, tetapi bahasa untuk istilah-istilah anatomi (istilah-istilah kedokteran) tetap bahasa Latin dan bahasa Inggris yang istilah pokoknya harus bersumber pada bahasa Latin. Dalam perjalanannya, istilah-istilah yang disepakati adalah bahasa Latin dan Greek. Memang dibenarkan bahwa  dalam proses pembelajaran, dapat menggunakan dengan bahasa negara masing-masing untuk mempermudah pemahamannya, tetapi disetiap akhir istilah yang dimaksud haruslah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.
Mengapa harus diterjemahkan ke dalam bahasa Latin? Karena istilah dengan bahasa negara masing-masing memberikan pengertian dan nuansa yang beragam; sebagai contoh misalnya untuk istilah (maaf) organa genitalia, ”vagina”. Istilah ini sudah sangat familier di dunia kedokteran, tetapi apabila istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ”liang sanggama”, maka akan memberikan persepsi yang sangat lain, seakan berbau ”porno” dan ”jorok”, walaupun memang itu namanya. Bahkan ada istilah Latin ”vulva”, yang tidak mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia, tetapi justru dalam bahasa Jawalah istilah ini ada padananya, yaitu  ”padonan” atau bahkan ada nama lainnya lagi. Oleh karena itu sangatlah bijak pendahulu kita untuk menetapkan bahasa Latin / Greek sebagai bahasa persatuan di bidang Kedokteran yang jauh dari nuansa ”porno” dan ”jorok”. Sulit memang untuk memahami sekian ribu istilah anatomi yang harus diketahui.
(Sebagai ilustrasi di tahun 70-an, saat itu saya masih duduk di tingkat II FK-UII, yang juga sedang belajar anatomi; saya merasa memang ada kesilutan dalam memahami dan mencerna bahasa Latin untuk istilah-istilah anatomi. Secara kebetulan pada saat itu kelompok musisi Koes Plus sangat tenar-tenarnya. Teman saya, yang sekarang juga telah menjadi dokter di Kalimantan, memakai bantuan lirik lagu yang diciptakan Koes Plus untuk menghafal istilah-istilah Latin, entah apa nama judul lagunya, tetapi sepotong liriknya berbunyi sebagai berikut:
Pagi nan indah sekali…..ee.. diganti dengan …. Vagina indah sekali……; begitulah kira-kira kiat-kiat seorang mahasiswa dalam rangka memahami istilah-istilah anatomi yang sangat merepotkan).
Dengan cara-cara seperti ini sebetulnya mahasiswa sangat dibantu untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dianggap sulit tadi.
Disamping Nomina Anatomica, ditetapkan pula Nomina Histologica dan Nomina Embryologica, yang kesemuanya termasuk ke dalam Medical Terminology yang bersifat universal, dengan bahasa Latin. Alhamdullilah kita ucapkan, bahwa di dunia kedokteran telah disepakati bahasa persatuan yang sifatnya universal, sehingga apabila pembelajaran anatomi diharuskan dengan bahasa Latin dalam konteks Nomina Anatomica, maka Pembelajaran Kedokteran di Indonesia  sudah ”Go International”.  Inilah amanah yang saya emban dalam mengantarkan lulusan Fakultas Kedokteran UNS untuk ”Go Internasional”. Tetapi tugas ini tidaklah mudah, karena ada kecenderungan di banyak center Pendidikan Dokter di Indonesia (tidak di Fakultas Kedokteran UNS) telah ”melegalkan” dengan istilah-istilah daerah atau lokal dalam pembelajarannya.
Bahasa Latin / Greek adalah bahasa yang telah matang, artinya bahwa bahasa itu mampu memberi nama sendiri-sendiri untuk setiap bagian dari organ tubuh manusia; yang ini tidak dimiliki oleh bahasa asing lainnya, termasuk bahasa Indonesia.
Kata-kata dalam bahasa Latin digolongkan ke dalam 3 (tiga) genus, yaitu: genus masculinum, genus femininum dan genus neutrum, dan ada juga istilah-istilah untuk tunggal (singular) dan jamak (pleural). Misalnya, vena (singular) berubah menjadi venae (plural), nervus (singular) menjadi nervi (plural), dst. Ren (singular) artinya adalah ginjal, bila plural disebut dengan Renes; bila kita menggunakan istilah bahasa daerah (Indonesia) ren dengan ginjal (singular) maka akan menjadi ginjal-ginjal (plural) yang akan memberi makna yang sangat berbeda dengan pokok masalah yang dimaksud.
Itulah sekedar contoh pentingnya menggunakan istilah Latin di bidang Kedokteran untuk tidak memunculkan makna yang berbeda.

Hadirin yang saya hormati
Ketenaran nama besar anatomi terlihat semakin tidak menggembirakan seiring dengan berjalannya waktu, termasuk akibat munculnya paradigma baru tentang konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), walaupun makna hakiki yang terkandung di dalam mata ajar anatomi tetap tegar sepanjang masa di dalamnya.
Di tahun-tahun terakhir abad ke-20 dan di awal millenium ke-3, merupakan masa kritis dalam pembelajaran Gross anatomy atau anatomi. Menurunnya pamor anatomi disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yaitu:
1. Di tahun 1957 akibat ditariknya mandat General Medical Council yang menyatakan: All medical students shoud perform the dissection of a complete human body (Newe, 1995).
2. Tajuk yang di tulis oleh Kenesi, 1984 di journal Clinical Anatomy, yang menyatakan : The place of Anatomy in the medical curriculum in France: A noble past, a calamitous present, a precarious future, yang artinya kurang lebih: Kedudukan Anatomi di kurikulum Kedokteran Perancis: Yang lampau (dulu) sangat mulia, sekarang gawat dan pada masa mendatang ragu-ragu. Bagian yang terakhir ini sesuai dengan tajuk yang ditulis Yates, 1999 di Journal Anatomical Record (The New Anatomist). Kenesi juga menyatakan bahwa: Anatomy is an exhausted science, with no future in investigation and rooted in the past; diseksi, yang merupakan tindakan khusus di anatomi terlihat semakin tidak populer dan isinya dianggap tidak jelas
3. Tulisan Reidenberg dan Laitman (2002) dalam The New Anatomist: The old Anatomy is dead. Long live the new Anatomy.
Untuk menanggulangi kemerosotan pamor anatomi tersebut di atas, ada kiat-kiat yang telah dilakukan yaitu: (a). Meningkatkan  waktu diseksi di Lab. Anatomi, (b). Memberikan terminologi kedokteran yang sering dipakai dan (c). Selalu mengikuti perkembangan asosiasi anatomi dunia (Vazquez at al., 2005)
Diakui oleh mahasiswa kedokteran maupun Staf Anatomi akan pentingnya anatomi di bidang kedokteran, pengurangan pembelajaran anatomi memberikan dampak yang cukup besar bagi kalangan profesi pada saat mereka harus menganalisis struktur anatomi, studi imaging dan melakukan tindakan pembedahan. Sebagai contoh di Amerika Serikat, sepertiga dari residen mengalami kesulitan dalam menganalisis Anatomi (Cottman, 1999), yang kejadian itu disimpulan akibat kesalahan dalam training staf, yang mengakibatkan kurangnya pengetahuan anatomi (Cahill et al., 2000).
Sekarang terlihat trend pembelajaran anatomi menuju ke arah long-life learning dan postgraduate scenario untuk spesialis dan training bagi instruktur anatomi; trend ini dianggap in-depth knowledge of advanced and specific anatomy (Kenesi, 1984)
Pengajaran anatomi yang mengarah ke clinical anatomy, di antaranya adalah: Living Anatomy, Functional Anatomy, Imaging Anatomy, kesemua ini sangat sesuai dengan orientasi dan arah pembelajaran anatomi secara menyeluruh.
Pada tahun-tahun terakhir ini, anatomi dalam orientasi khusus, dimasukkan ke dalam clinical teaching melalui Problem Based Learning (PBL), sementara masih ada Universitas yang proses  pembelajarannya masih menggabungkan dengan kurikulum konvensional (Bonn et al., 2002; Chakravarty et al., 2005)
Diakui bahwa untuk keperluan diagnosis pada kelainan organ maupun sistem, seorang dokter memerlukan pengetahuan anatomi; pembelajaran anatomi sangat diperlukan untuk teknik imaging, mulai dari pemeriksaan endoscopy, laparoscopy, CT scan dan MRI sampai imaging tiga dimensi. Pengetahuan  Gross anatomy menjadi sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan interpretasi prosedur imaging yang dilakukan tetapi juga untuk mengetahui lintasan target terapi. Pengatahuan tentang struktur tubuh manusia mulai dari Gross anatomy sampai dengan tingkat molekuler sangat penting untuk mengetahui fungsi organ tertentu yang dikaitkan dengan munculnya suatu penyakit.
Ironisnya, ketika pengetahuan anatomi diakui perannya, kita dihadapkan dengan adanya krisis pembelajaran anatomi; penurunan staf anatomi di Fakultas Kedokteran maupun Kedokteran Gigi  semakin meningkat.
Berdasar hal tersebut di atas, Universitas Salamanca, Spanyol menempatkan proses pembelajaran anatomi dikombinasikan dengan diseksi di laboratorium; kuliah konvensional masih tetap mendukung metode ini melalui kelompok kecil, dalam diseksi maupun tutorial.
Di Fakultas Kedokteran New Jersey (Amerika Serikat), reformasi kurikulum membuahkan pengurangan jam pembelajaran anatomi, meningkatkan diseksi di Laboratorium Anatomi dalam kelompok kecil dengan menekankan korelasi klinik. Sebagai kelompok mata kuliah preklinik, anatomi harus melakukan integrasi dengan disiplin lainnya sehingga dapat membuahkan pertautan klinik yang elegan.
Indonesia, merupakan kelompok negara berkembang, dunia pendidikannya baru mulai bangkit di tahun  60-an, maka reformasi dalam Pendidikan Kedokteran yang sudah mulai terjadi di negara-negara maju pada tahun 1957 di atas tidak mungkin berjalan mulus seperti yang diharapkan negara maju. Baru di tahun 1982, Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI I) untuk pertama kalinya dibentuk dan diberlakukan, sampai revisi pertama tahun 1992 dengan KIPDI II yang berlaku sampai dengan tahun 2006; mulai tahun 2007 nantinya seluruh Prodi Kedokteran harus sudah melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, pemberlakuan KBK harus diterima dengan lapang dada; banyak kendaraan yang dapat ditumpangi untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan. Problem Based Learning (PBL) merupakan satu kendaraan yang dapat dipergunakan untuk mencapai sasaran yang dimaksud dan bukan satu-satunya kendaraan yang harus ditumpangi.
Studi kasus yng terjadi di International Center for Health Sciences Manipal, India, yang juga merupakan kelompok negara berkembang, PBL dilaksanakan dengan 2 (dua) fase, yaitu: fase I (fase preklinik) dan fase II (fase klinik). Pelaksanaan pembelajaran ditata secara berjenjang, mulia dari fase I selama 2 (dua) tahun pertama, mata kuliah anatomi, fisiologi, biokimia, farmakologi, patologi dan mikrobilogi saling diintegrasikan; sedang fase II dilaksanakan dalam 2½ (dua setengah) tahun berikutnya, untuk kelompok mata kuliah klinik. Pada fase I terdapat 3 (tiga) sesi PBL setiap minggu, yang mendiskusikan problem klinik, dan secara keseluruhan terdapat 12 (dua belas) blok. Di India yang kondisinya kurang lebih sama dengan Indonesia, masih memberlakukan kombinasi dalam proses pembelajarannya, dengan hybrid approach (Nayak S, 2005); berdasar contoh di atas, model inilah yang mungkin sangat cocok diberlakukan di Indonesia.

Hadirin yang saya hormati
3. Anatomi dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi   (KBK)
Kurikulum baru untuk Fakultas Kedokteran di Indonesia terhimpun dalam KIPDI III, harus dilaksanakan di seluruh Prodi Kedokteran di Indonesia paling lambat pada tahun 2007. Di dalam kurikulum ini pendekatan pembelajarannya berubah dari ”Teacher centered” menuju ”Student centered” dengan berdasarkan ”competent based”, bukan lagi ”subject based” seperti yang terjadi pada KIPDI I dan II. Jelasnya dalam KIPDI III yang dasarnya adalah kompetensi, sudah tidak ditemukan lagi mata kuliah-mata kuliah tertentu secara eksplisit; yang muncul adalah kompetensi, umumnya merupakan kompetensi yang dimiliki mata kuliah kllinik.
Yang khas pada KBK ini adalah: (1). Proses pembelajaran bersifat ”Student centered”, (2). Pembelajaran berdasar pada ”Competent based”, (3). Bentuk kuliah digeser dengan diskusi dalam kelompok kecil, (4). Pembelajaran ”Skills Lab” diberikan sedini mungkin, (5). Masalah yang didiskusikan sesuai dengan tema blok yang tersaji, baik dalam bentuk pendekatan per-sistem, per-organ maupun bentuk lainnya.
Dengan demikian, tidak ada satu mata kuliahpun yang muncul dalam setiap sajian blok yang dirancang; blok yang disajikan tersebut dapat ditinjau dari berbagai disiplin yang terkait. Perubahan proses pembelajaran dari yang bersifat ”Teacher centered” ke dalam ”Student centered” tidaklah berjalan mudah, masih banyak yang pro dan kontra. Kultur pembelajaran di Indonesia mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai dengan tingkat Strata-3 selalu dikawal oleh dosen melalui kuliah-kuliahnya. Oleh karena itu, atas kultur tersebut di atas, paradigma pembelajaran ke dalam pendekatan ”Student centered” di Indonesia masih perlu dikawal oleh ahlinya. Kuliah-kuliah konvensional masih perlu disertakan (dalam bentuk kelas-kelas kecil), yang kemudian diikuti dengan kuliah-kuliah secara terintegrasi untuk mata kuliah-mata kuliah yang dapat diintegrasikan. Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu kendaraan yang dapat ditumpangi untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Di masa transisi, pendekatan ”Hybrid approach” lah yang paling tepat untuk menjembatani antara kelompok yang mengagungkan pendidikan berdasar pada ”Teacher centered” dengan kelompok pembaharu yang mengedepankan kompetensi melalui pendekatan ”Student centered”. Dalam ”Hybrid approach” masih ada kuliah-kuliah yang bersifat konvensional, tetapi jam tatap muka dikurangi, diskusi kelompok ditingkatkan, dengan disertai pembelajaran Skills Lab.
Oleh karena ”Medical Terminology” dapat dipandang berperan sebagai break-through dalam membedah kebuntuan di bidang kedokteran, maka topik ini perlu diberikan tersendiri ataupun dilebur dalam satu kesatuan mata kuliah anatomi.

4. Kesimpulan
Dari uraian di atas, sebagai pengemban ilmu anatomi di Fakultas Kedokteran, saya mengusulkan hal-hal sebagai berikut.
(a).    Implementasi KBK melalui ”Hybrid approach”, artinya proses pembelajaran masih memerlukan  bantuan kuliah-kuliah konvensional oleh dosen, kuliah dalam kelas-kelas kecil,  jam kuliah tatap muka dikurangi; kegiatan diseksi di Lab. Anatomi ditambah
(b).    Menambah dosen anatomi untuk mengawal/membimbing mahasiswa dalam diskusi kelompok maupun dalam diseksi anatomi
(c).    ”Medical Terminology” diberikan di semester awal; pembelajaran anatomi berdasar pada Nomina Anatomica
(d).     Kegiatan Skills Lab diberikan di sepanjang semester
(e).    Satuan Kredit Semester (SKS) masih perlu diberikan untuk menentukan beban studi serta untuk menilai keberhasilan studi mahasiswa seperti yang dikehendaki stake-holder.

UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya hormati
Sebelum saya mengakhiri pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya sekali lagi menyampaikan rasa syukur ke hadirat Allah subhana huwata’ala atas perkenan dan ridhoNya, saya mendapat kepercayaan menerima jabatan akademik sebagai  Guru Besar Anatomi yang sangat terhormat ini, dengan harapan semoga Allah tetap memberi petunjuk dan bimbingan-Nya, karena jabatan Guru Besar yang saya terima ini sebenarnya merupakan amanah yang harus saya pertanggungjawabkan dihadapan-Nya di kemudian hari.
Pada kesempatan ini pula, perkenankanlah saya mohon waktu sejenak untuk menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya, kepada:
1.    Pemerintah Republik Indonesia, (melalui) Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
2.    Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta,                            Prof. Dr. H. Moch. Syamsulhadi, dr, SpKJ(K), para anggota Senat Universitas, Senat Fakultas Kedokteran, Dekan Fakultas Kedokteran UNS, Dr. A. A. Subijanto, dr, MS atas persetujuannya dalam menilai dan meloloskan CCP saya untuk memperoleh jabatan akademik Guru Besar di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
3.    Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret,          Dr. A. A Subijanto, dr, MS, Pembantu Dekan II,                      dr. Isdaryanto, MARS, PHK, Pembantu Dekan III,                   dr. Bambang Suratman, SpTHT (KL) atas bantuan dan kerjasama yang baik selama ini, sehingga jabatan Guru Besar Anatomi dapat saya peroleh.
4.    Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Dr. Admadi Suroso, dr, SpM, MARS, atas ijin yang diberikan sehingga saya dapat mengikuti program Doktor di Surabaya dan alhamdullilah dapat saya selesaikan, yang akhirnya dapat mengantarkan saya untuk meraih jabatan Guru Besar Anatomi ini.
5.    Prof. Drs. Soekijo dan Prof. Drs. Anton Sukarno atas dorongan dan bantuannya, maka Surat Keputusan pengangkatan Guru Besar saya dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.
6.    Prof. Soedjono Aswin, dr, Ph.D, sebagai senior saya dan sekaligus guru saya sejak saya masih duduk di tingkat Propacdeuse di Fakultas Kedokteran UII Surakarta sampai dengan saya mengambil Program Doktor di Surabaya, beliau tetap membimbing saya sehingga Program Doktor tersebut dapat saya selesaikan di tahun 2002 sampai akhirnya saya dipercaya untuk memangku jabatan Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ini.
7.    Prof. Djumikan, dr (alm), senior saya dan sekaligus juga guru saya yang telah menggembleng saya dalam menggeluti ilmu Anatomi, yang secara langsung maupun tidak langsung juga mendorong saya untuk dapat lebih dewasa dan sekaligus juga mengantarkan saya dalam memperoleh jabatan akademik Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
8.    Prof. Achmad Surjono, dr, SpA(K), Ph.D (alm),  guru saya, yang dengan gigihnya menuntun dan menempa saya dalam menggeluti ilmu Anatomi semenjak beliau masih Drs.Med. di tahun 1967-1971, hingga  akhirnya  saya menjadi lebih mandiri dalam meniti karier sebagai seorang Guru Besar Anatomi.
9.    Sjafiq, dr, PAK, senior dan sekaligus guru saya, karena dorongan beliaulah saya dapat menyelesaikan Program Doktor di Surabaya, yang merupakan satu perabot yang harus dipenuhi untuk dapat memangku jabatan Guru Besar.
10.    Seluruh staf edukatif, administratif maupun tenaga laboran di Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Hasan Doewes, dr, SU, MARS, PAK.,            Dr. Didik G Tamtomo, dr, MM, MKK, PAK.,                            Sri Indratni, dr, PAK, MOr., Ratnaningsih H, drg, Ort.,      Selfi Handayani, dr, MKes, Nanang Wiyono, dr.,  mbak Sri Bukit, mas Mujiono, mas Darmanto dan mas Lasimin atas bantuan, pengertian dan kerjasama yang baik selama ini, sehingga saya dipercaya untuk memangku jabatan akademik Guru Besar Anatomi  di Fakultas saudara.
11.    Semua Guru saya mulai dari Guru saya di Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar), Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas serta di Pendidikan Tinggi baik di Fakultas Kedokteran UII, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan Program Doktor di Program Pascasarjana Universitas Airlangga, atas bimbingan dan bantuannya, dapat mengantarkan saya memperoleh jabatan Guru Besar Anatomi di pagi ini.
12.    Kedua orang tua saya, Almarhum Bapak Samin Wongsoidjojo yang selalu menekankan untuk berbuat bijak dan berlaku jujur dan Ibu saya Almarhumah Mbok Suliyem Wongsoidjojo (Mbok Wongso Suli) yang selalu menekankan untuk tangguh dan tegar dalam menghadapi masalah apapun dalam kehidupan ini;  pesan-pesan itulah yang mendasari kehidupan saya, sehingga saya sebagai anak dari desa nun jauh di sana, yang hidup di suatu rumah di bawah rindangnya rumpun bambu ori, bambu apus dan bambu petung di Dukuh Kebakdemang Desa Kemiri Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar mampu memperoleh jabatan Guru Besar Anatomi. Sayang sekali di pagi hari yang sangat membahagiakan ini saya tidak bisa bersama-sama dengan beliau. Kepada beliau berdua saya panjatkan do’a: Robbighfirlii wali wali dayya warhamhumma kamma rabbayaani shaghieraa. (Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua saya dan berilah kasih sayangMu kepada kedua orang tua saya, sebagaimana beliau menyayangi saya semasa saya masih kecil). Amien ya Robbal ’alamin.
13.    Ayah mertua, Bapak Atmanto Atmosudarso yang sudah sepuh, 83 tahun, yang tidak hadir pada kesempatan ini, yang selalu memberi do’a restu kepada saya sekeluarga, semoga Allah SWT memberi kesehatan dan panjang umur serta mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amien. Ibu mertua, Almarhumah Ibu Sri Suyatmi Atmosudarso, yang sebelumnya senantiasa memberi petuah, kasih sayang kepada saya sekeluarga, saya senantiasa berdo’a semoga segala dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.
14.    Saudara kandung saya mbakyu Darmosuwarno (alm) berserta kangmas ipar, Katidjo Darmosuwarno (alm), kangmas Samadi Poerwodiono (alm) dan mbakyu ipar, Suminah Poerwodiono, mbakyu Siswowiyono (alm) beserta kangmas ipar, Supono Siswowiyono (alm) dan adik saya, Suwarni Hadiwardoyo beserta suaminya Surahmin Hadiwardoyo, karena do’a dan dorongannya, saya dapat meraih jabatan Guru Besar; kepada kangmas dan mbakyu yang telah tiada, saya berdo’a semoga diampuni segala kesalahannya dan diterima semua amal ibadahnya oleh Allah SWT, sementara saudara saya yang masih sugeng, semoga diberi kesehatan dan panjang umur, sehingga dapat momong anak dan cucunya.
15.    Saudara ipar dari isteri saya, Drs. Dradjat Sri Setyanto, MM, Dradjat Sri Sudiatmi, Dradjat Susilaningsih, Dradjat Sri Atmini, Dradjat Hesti Pratiti, Dradjat Sri Pradjatmi dan Dradjat Rihadiningsih, masing-masing beserta keluarga, karena do’a restunya, saya dapat meraih jabatan Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
16.    Isteriku yang tercinta, Dradjat Sri Adijati, dari lubuk hati yang terdalam saya sampaikan ucapan terima kasih atas kesabaran, perhatian, ketabahan, pengorbanannya dalam mendampingi saya, terutama dalam tahun-tahun terakhir ini, sehingga cita-cita saya menjadi Guru Besar dapat tercapai. Semoga pengorbananmu mendapat balasan dari Allah SWT, dan selanjutnya selalu mendapatkan ridhoNya, sehingga mampu mendidik dan mengawasi anak-anak kita, dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrohmah
17.    Ketiga anakku, Anggraeni Wijaya, ST beserta  suaminya Erry Prasetyo, SE, MM, Bayu Basuki Wijaya, S.Ked., dan Dedy Tri Wijaya, keberadaanmu ibarat bunga rampai yang selalu dapat membuat harum dalam keluarga, atas pengertian kalian dan doronganmu semua khususnya dalam waktu-waktu akhir ini yang hampir-hampir perhatian saya kepada anda semua berkurang, sampai akhirnya saya dapat dipercaya memangku jabatan Guru Besar Anatomi ini. Tidak ketinggalan buat si kecil Rasyid Yudhistira Megantara saya ucapkan selamat belajar semoga sekolahmu sukses selalu yang akhirnya dapat menjadi anak yang sholeh. Jabatan Guru Besar ini saya peroleh memang karena tuntutan profesi seorang pendidik yang harus memperoleh jabatan setinggi-tingginya, tetapi lebih dari itu supaya langkah Bapak ini dapat anda tiru dan teruskan, sehingga bukanlah tidak mungkin kalau kalian nantinya juga dapat memperoleh jabatan Guru Besar seperti yang saya peroleh ini. Amien.
18.    Semua pihak yang tidak dapat saya sebut satu-persatu yang telah membantu, mendorong dan memberi do’a restu sehingga saya berhasil meraih jabatan akademik tertinggi ini.
19.    Hadirin sekalian, yang telah meluangkan waktu yang sangat berharga ini,  dengan tekun dan penuh kesabaran berkenan untuk mengikuti prosesi pengukuhan saya sebagai Guru Besar; mohon maaf apabila ada tutur kata dan tingkat laku yang kurang berkenan, semoga Allah SWT berkenan melimpahkan taufik dan hidayahNya kepada kita semua. Amien.
20.    Seluruh panitia pengukuhan Guru Besar yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga acara prosesi pengukuhan saya sebagai Guru Besar Anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret berjalan dengan lancar.

Terima kasih
Wassamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

DAFTAR PUSTAKA

Boon et al., 2002. In Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Cahill et al., 2000. In Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Chakravarty et al., 2005.  In Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Corner G W, 1964. Clio Medica. Anatomi. Hafner Publishing Company. New York.

Cottman, 1999. In Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1982. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Konsorsium Ilmu Kedokteran. Kurikulum Inti Pendidikan  Dokter di Indonesia I. Jakarta

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1992. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Konsorsium Ilmu Kedokteran. Kurikulum Inti Pendidikan  Dokter di Indonesia II. Jakarta

Dorland, 2000. Kamus Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.Edisi 29.

Dyer G S M, Thorndike M E L, 2000. Quidne Mortui Vivos Docent? The Evolving Purpose of Human Dissection in Medical Education. Article. Academic Medicine,Vol. 75. No.10.

Federative Commitee on Anatomical Terminology, 1998. Terminologia Anatomica. International Anatomical Terminology. Thieme Stuttgart. New York.

Gardner E , Gray D J, O’Rahilly R, 1963. Anatomy. A Reginal Study of Human Structure. 2nd ed.  W.B. Saunders Company. Philadelphia and london.

Gray H, Goss C M, 1973. Gray’s Anatomy. Anatomy of the Human Body 29th ed., Lea & Febiger. Philadelphia.

Kenesi, 1984: In. Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Laksman H T, 2005. Kamus Anatomi. Percetakan PT Kesaint Blane Indah Corp. PT Penerbit Jambatan. Jakarta.

Max  J, 2005. In the Anatomy Lab, a new way of thinking.  Yale medicine Spring 2005.

McCuskey R S, Carmichael S W, Kirch D G, 2005. The importance of Anatomy in Health Professions Education and the Shortage of Qualified Eductors. Academic Medicine, Vol.80 No.4.

Moisio M A, Moisio E W, 2002. Medical Terminology. A Student-Centered Approach. Delmar Thomson Learning. Austraolia Canada Mexico Singapura Spain United Kingdom  United States.

Nayak S, 2005. Teaching Anatomy in a Problem Base learning (PBL) Curriculum. Original article. In Neuroanatomy 5:2-3

Newel, 995. In. Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Radiopoetro R, 1981. Anatomi Klinik. Cetakan pertama.  Penerbit “Erlangga” Jakarta Pusat.

Reidenberg and Laitman, 2002. In. Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Smith GL, Davis P E, 1963. Medical Terminology. A programmed Text 2nd ed., John Wiley & Sons, INC. New York. London. Sydney.

Stanfield P S, Hui Y H, 1991. Essential Medical Terminology. Jones and Bartlett Publishers. Boston

Subcommitees of the International Anatomical Nomenclature Committee, 1983. Nomina Anatomica, 5th ed.., Nomina Histologica, 2nd ed., Nomina Embryologica 2nd ed., Williams & Wilkins. Baltimore / London

Vasan NS, Holland BK, 2003. Increased Clinical Correlation in Anatomy teaching enhances students perfomance in the course and national board subject examination. Med Sci Monit, 2003 9(5); SR35-40

Vazquez R, Reisco J M, Carretero J, 2005. Teaching in Anatomy. Reflections and challenges in the teaching of human anatomy at the beginning of the 21st century. Eur J Anat, 9(2). 111-115.

Williams P L, 1995. Gray’s Anatomy.  38th ed. Churchill Livingstone. New York, Edinburgh, London, Tokyo, Madrid and Melbourne

PEMBANGUNAN OLAHRAGA BAGIAN INTEGRAL DARI PEMBANGUNAN BANGSA

Prof. Dr. H.M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.

Yang terhormat,
Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret;
Sekretaris dan Anggota Senat;
Pimpinan Fakultas, Pascasarjana, Lembaga, UPT, Jurusan/Bagian, dan Program Studi;
Yang terhormat Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa
Yang terhormat Para Pejabat Sipil dan Militer
Para Tamu Undangan, Wartawan, dan Hadirin yang berbahagia.

Marilah kita tiada pernah lupa dan tiada henti-hentinya memanjatkan puji dan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, karena dengan limpahan taufik, hidayah, dan inayah-Nya kita sekalian dapat berkumpul di tempat yang terhormat ini. Berkat perkenan-Nya pula pada hari ini saya mendapat kehormatan untuk menyam¬pai¬kan pidato pengukuhan jabatan guru besar dalam bidang Ilmu Keolahragaan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uni¬ver¬sitas Sebelas Maret di hadapan para hadirin yang saya muliakan.
Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul: “Pembangunan Olahraga bagian Integral dari Pembangunan Bangsa”.

Hadirin yang Saya Muliakan,

PENDAHULUAN

Lagu Kebangsaan Republik Indonesia yang berjudul “Indonesia Raya”, yang dikarang oleh WR. Supratman, syairnya antara lain berbunyi: “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Sepenggal syair ini menunjukkan bahwa dalam membangun bangsa, termasuk membangun Sumber Daya Insani (SDI) mene¬kan¬kan pada pembangunan jiwa dan raga atau jasmani dan rokhani.
Kondisi jasmani dan rokhani yang kuat akan memberikan landasan yang kuat pula terhadap pengembangan Sumber Daya Insani. Bangsa yang kuat dan besar terutama ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Insaninya. Banyak faktor untuk membangun SDI yang kuat, dalam konteks ini olahraga memiliki peran yang cukup penting.
Dalam kenyataannya, olahraga telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan manusia. Persoalannya adalah bagaimana agar olahraga dapat dijadikan wahana dalam membangun bangsa yang sehat dan kuat jasmani dan rohani. Akan tetapi di sisi lain masih ditemui banyak kendala dalam pembangunan olahraga.
Pembangunan olahraga di Indonesia masih perlu peningkatan dan pengembangan lebih lanjut, karena di samping harus mengejar ketinggalan dengan negara-negara lain, Indonesia juga masih me¬miliki berbagai kendala dalam pembinaannya. Masalah yang dihadapi dunia olahraga Indonesia, yaitu:
1.    Belum optimalnya kemauan politik (political will) pemerintah dalam menangani olahraga. Hal ini ditandai antara lain: lembaga yang menangani olahraga belum secara herarkhis-vertikal terpadu; kegiatan olahraga dikenai pajak; dana terbatas; dan lain-lain.
2.    Sistem pembinaan belum terarah. Kurangnya keterpaduan dan kesinambungan penyusunan pembinaan pendidikan jasmani dan olahraga serta pelaksanaan operasionalnya mengenai kegiatan pemassalan, pembibitan, dan peningkatan prestasi sebagai suatu sistem yang saling kait-mengkait. Sebagai indikatornya antara lain: belum memiliki sistem rekruitmen calon atlet; pemilihan olahraga prioritas belum tepat; dan lain-lain.
3.    Lemahnya kualitas Sumber Daya Insani olahraga. Rendahnya kualitas pelatih dan kurang optimalnya peran guru pendidikan jasmani di luar sekolah merupakan sebagian indikator yang menunjukkan rendahnya kualitas.
4.    Belum optimalnya peran Lembaga Pendidikan Tinggi Olahraga (LPTO), seperti Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK); Fakultas/ Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK/JPOK), Program Studi-Program Studi yang menangani disiplin ilmu keolahragaan dalam Program Pascasarjana. Hal ini ditandai dengan masih rendahnya kualitas lulusan; banyak SDI yang tidak terlibat dalam kegiatan olahraga di luar kampus sesuai dengan potensinya, dan lain-lain.
5.    Lemahnya peran Lembaga/Bidang Penelitian dan Pengem¬bangan Olahraga. Indikatornya adalah: perhatian terhadap lembaga tersebut rendah; data tentang keolahragaan (misalnya data: atlet, pelatih, kelembagaan) belum lengkap; dan lain-lain.
6.    Terbatasnya sarana dan prasarana.  Tidak seimbangnya antara pengguna dan fasilitas yang tersedia, bahkan fasilitas olahraga yang telah ada beralih fungsi, dan lain-lain.
7.    Sulitnya pemanfaatan fasilitas olahraga. Karena terbatasnya fasilitas, maka berdampak pada sulitnya memanfaatkan fasilitas tersebut. Bahkan untuk kebutuhan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah pun masih jauh dari memadai. Untuk fasilitas tertentu,  Pengguna harus mambayar.
8.    Masih kaburnya pemahaman dan penerapan pendidikan jasmani dan olahraga. Terutama di sekolah, masih banyak dijumpai pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani yang berorien¬tasi pada peningkatan prestasi olahraga. Padahal seharusnya pendidikan jasmani tersebut diarahkan pencapaian tujuan pen¬di¬dikan. Pencapaian prestasi di sekolah dapat dilakukan pada kegiatan ekstrakurikuler.
Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa kondisi kesegaran jasmani guru-guru pendidikan jasmani rata-rata ber¬kategori “kurang”*) (Furqon, 2003: 3). Faktor-faktor yang mempe¬nga¬ruhi kondisi kesegaran jasmani tersebut terutama karena sebagian besar guru pendidikan jasmani di sekolah dasar tidak melakukan aktivitas olahraga secara teratur. Bahkan juga ditemu¬kan faktor lain, yaitu dalam pelaksanaan mengajarnya pun jarang terlibat atau melibatkan diri dalam aktivitas fisik. Di sisi lain, kondisi kesegaran jasmani bagi anak usia 11–17 tahun juga berkategori “kurang” (Furqon dan Kunta, 2004: 2).
Melengkapi temuan tersebut, berdasarkan hasil tes peman¬du¬an bakat dengan Metode Sport Search sebagian besar (> 70 %) potret keberbakatan anak Sala adalah olahraga yang bersifat individual atau perorangan dan sangat jarang anak yang memiliki bakat dalam olahraga beregu atau tim (Furqon dan Muhsin,           2000: 5). Kondisi semacam ini kemungkinan besar disebabkan, karena lemahnya kemampuan gerak dasar dan kemampuan koor¬dinasi gerak anak. Lemahnya kemampuan gerak tersebut, kemung¬kinan disebabkan oleh: (1) spesialisasi pada cabang olahraga tertentu terlalu dini; (2) lemahnya pendidikan jasmani di sekolah dasar; (3) kegiatan anak di luar sekolah tidak memberikan peluang untuk bergerak; dan (4) lingkungan yang kurang konduksif, seperti terbatasnya tempat bermain, hilangnya kesempatan anak untuk berburu, berpetualang, dan lain-lain.
Dalam bidang olahraga kompetitif, yang menekankan pada pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya juga mengalami kemun¬duran. Salah satu indikatornya adalah sejak SEA Games 1995 di Thailand prestasi Indonesia merosot**). Padahal sejak Indonesia terlibat dalam SEA Games tahun 1978, Indonesia selalu ranking satu (Juara Umum).
Berdasarkan fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pembangunan olahraga kurang ada keserasian dan kesinambungan baik secara horisontal maupun secara vertikal. Dengan kata lain, ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam sistem pembangunan olahraga kita. Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mengoptimalkan peran olahraga sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa? Dan bagaimana memberdayakan olah¬raga tersebut agar mampu mendukung pembangunan bangsa?

KENDALA DAN POTENSI

Sebagai bangsa yang tergolong dalam kelompok negara berkembang bahwa pertumbuhan olahraganya belum menggem¬bi¬rakan, karena penduduknya masih diliputi suasana meningkatkan pertumbuhan taraf hidup yang lebih baik. Sebagai akibatnya olah¬raga belum mendapat prioritas utama.
Tempat-tempat berolahraga di lingkungan lembaga pendi¬dikan, lingkungan pemukiman, dan lingkungan industri di kota-kota besar makin terbatas, bahkan banyak lapangan olahraga yang sudah ada berubah atau beralih fungsi, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk berolahraga. Demikian pula kurangnya tenaga keolahragaan profesional yang mengabdikan diri sepenuhnya pada perkembangan olahraga, seperti pembina, penggerak, dan pelatih, merupakan kendala pula dalam pembangunan olahraga.
Di samping kendala yang dihadapi, kita juga memiliki peluang untuk menggalang potensi yang ada.
Gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat telah memperlihatkan perkembangan yang menggembi¬rakan, terutama sejak dicanangkannya gerakan tersebut. Kondisi ini memiliki potensi yang baik sebagai dasar dalam pembangunan olah¬raga.
Dari segi jumlah penduduk yang cukup besar, pada dasarnya merupakan sumber untuk memperoleh bibit-bibit olahragawan yang berpotensi dalam berbagai cabang olahraga. Tentunya dalam pemanfaatan Sumber Daya Insani ini harus disesuaikan dengan karakteristik postur tubuh orang Indonesia. Cabang-cabang olah¬raga yang tidak atau kurang memerlukan postur tubuh yang tinggi, memiliki potensi untuk dibina dan dikembangkan, seperti bulu¬tangkis, tinju, tenis meja, panahan, loncat indah, senam dan lain-lain. Tampaknya kita akan kesulitan untuk meraih prestasi tingkat internasional, misalnya dalam cabang bola basket, bola voli, lari 100 meter, dan lain-lain, karena kita kurang atau belum memiliki postur tubuh yang menguntungkan, walaupun unsur postur tubuh tidak selamanya menjadi jaminan dalam mencapai prestasi.
Dari segi geografis maupun tersedianya sarana alami yang berupa wilayah darat, perairan, dan udara Indonesia memungkin¬kan untuk pengembangan berbagai cabang olahraga.
Dari segi banyaknya olahraga tradisional di masyarakat merupa¬kan kekayaan budaya bangsa yang dapat dikembangkan, seperti olahraga beladiri, sepak takraw, olahraga air dan lain-lain.

HAKIKAT BEROLAHRAGA

A. Berolahraga Merupakan Bagian dan Kebutuhan Hidup
Salah satu karakteristik makhluk hidup di dunia ini, termasuk manusia adalah melakukan gerakan. Antara manusia dan aktivitas fisik merupakan dua hal yang  sulit atau tidak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat bahwa sejak manusia pada jaman primitif hingga jaman moderen, aktivitas fisik atau gerak selalu melekat dalam kehidupan sehari-harinya. Berarti aktivitas fisik selalu dibutuhkan manusia.
Neilson (1978: 3) mengemukakan bahwa manusia berubah sangat sedikit selama 50.000 tahun yang berkaitan dengan organi¬sasi tentang struktur dan fungsi yang dibawa sejak lahir. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa perubahan utama bukan pada manusianya, melainkan pada kebutuhan dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan besar di dalam ling¬kungan alam dan lingkungan buatan manusia. Manusia berusaha memodifikasi lingkungannya dengan mencoba-coba, eksplorasi dan dengan eksploitasi.
Pada jaman primitif gerakan pada mulanya merupakan gejala emosional murni yang dilakukan manusia untuk kesenangan dan komunikasi dengan dewa. Selanjutnya, gerakan berkembang dari pelaksanaan gerak yang tidak terencana ke kondisi gerak yang hingar-bingar pada upacara seremonial dan komunikasi untuk kerja seni. Karena aktivitas gerak sangat penting baik untuk kelang¬sungan hidup maupun komunikasi dengan dewa, maka aktivitas fisik tersebut merupakan yang terpenting untuk eksistensi manusia. Oleh karena itu, mereka mulai menyusun struktur geraknya ke dalam bentuk-bentuk yang bermanfaat, tepat dan sadar. Semua peristiwa penting dalam siklus kehidupan orang primitif yang memiliki makna praktis dan religius disimbulkan dalam gerakan-gerakan tubuh yang terstruktur. Di seluruh periode evolusinya, aktivitas fisik sangat penting untuk kelangsungan hidup dan tetap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimum.
Harrow (1977: 5) mengemukakan bahwa ada tujuh pola gerak yang sangat penting untuk eksistensi orang primitif yang merupakan dasar gerakan keterampilan. Aktivitas gerak ini adalah inheren dalam diri manusia, yakni lari, lompat/loncat, memanjat, mengangkat, membawa, menggantung, dan melempar.
Hingga kini aktivitas fisik atau gerak, juga tidak dapat dipi¬sah¬kan dari kehidupan manusia, karena gerak dipandang sebagai kunci untuk hidup dan untuk keberadaan dalam semua bidang kehidupan. Jika manusia melakukan gerakan yang memiliki tujuan tertentu, maka ia mengkoordinasikan aspek-aspek kognitif, psiko¬motor, dan afektif.
Secara internal, gerak manusia terjadi secara terus menerus, dan secara eksternal, gerak manusia dimodifikasikan oleh penga¬laman belajar, lingkungan yang mengitari, dan situasi yang ada. Oleh karena itu, manusia harus disiapkan untuk memahami fisio¬logis, psikologis dan sosiologis agar dapat mengenali dan secara efisien menggunakan komponen-komponen gerak secara keselu¬ruhan. Dengan demikian, antara manusia dan aktivitas fisik tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya.

B. Olahraga tak Tergantikan Aktivitas Lain
Kemajuan ilmu dan teknologi telah memberikan berbagai perubahan perilaku dan pola hidup. Salah satu contoh praktis, adanya kemajuan dalam dunia transportasi; semula orang naik angkutan kereta kuda meningkat ke mobil, dari pesawat terbang meningkat ke pesawat jet yang mampu menjelajahi ruang angkasa. Secara umum hasil kemajuan ilmu dan teknologi telah banyak membuat hidup manusia lebih mudah dan ringan. Demikian juga dalam aktivitas kehidupan sehari hari sering dijumpai kebanyakan orang yang melakukan aktivitasnya serba mudah dan ringan, misalnya ke supermarket memilih naik mobil daripada berjalan kaki atau naik sepeda. Di supermarket pun ke sana ke mari melalui elevator (tangga berjalan), pergi ke kantor naik mobil bahkan parkirnya sangat dekat dengan pintu kantornya dan sebagainya.
Dari gambaran singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur aktivitas fisik tidak dominan sehingga telah membuat manusia lebih sedikit mempergunakan unsur fisiknya daripada unsur yang lain. Pendek kata, hasil perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi moderen secara tidak disadari menumbuhkan pola hidup inaktif (inactive life) atau sedentari (sedentary life), yakni kegiatan orang sehari-harinya tidak banyak memerlukan aktivitas fisik. Secara umum dapat dikatakan bahwa keadaan fisik menjadi pasif dan statis, artinya tidak segar baik jasmaniah maupun rohaniah. Kondisi ini antara lain sebagai akibat dari terus menerus menghadapi persoalan dan pekerjaan yang sama dan membosan¬kan, lagi pula tugas pekerjaannya terlalu banyak membuat orang duduk atau diam, bahkan karena kesibukannya sering kali tidak mempunyai waktu atau kesempatan untuk melakukan aktivitas jasmani secara teratur.
Uraian tersebut menggambarkan bahwa hampir semua akti¬vitas manusia dapat digantikan dengan peralatan modern yang dapat mempermudah seseorang untuk melakukannya dengan efektif dan efisien. Namun, secara tidak disadari ada salah satu aktivitas jika diganti dengan peralatan atau sarana modern malah berdampak negatif, yaitu jika seseorang tidak berolahraga. Artinya aktivitas gerak digantikan atau dilakukan oleh peralatan atau sarana lain. Oleh karena itu, khusus untuk aktivitas jasmani atau olahraga harus dilakukan oleh setiap orang (dilakukan sendiri) dan tidak dapat digantikan dengan aktivitas apapun dan oleh siapapun.

C. Berolahraga Mendorong Pola Hidup Aktif
Suatu aktivitas atau pekerjaan rutin yang kurang mendapat¬kan gerak, bila tidak diimbangi dengan aktivitas yang dapat meng¬gerakkan otot-otot atau organ-organ tubuh, biasanya akan mudah terkena gangguan kesehatan. Dalam kenyataannya pola hidup seden¬tari (pola hidup tanpa aktivitas fisik) telah membawa kemunduran tingkat kesehatan dan kesegaran jasmani. Kondisi seperti ini memiliki faktor resiko yang lebih besar terhadap penyakit tertentu.
Dampak pola hidup sedentari yang menjadi masalah kese¬hatan adalah resiko penyakit jantung yang merupakan salah satu penyebab kematian di Amerika dewasa ini, bahkan lebih dari separoh disebabkan karena penyakit-penyakit kardiovaskuler, seperti serangan jantung, tekanan darah tinggi, dan sejenisnya (Fox, Kirby, dan Fox, 1987: 5). Selanjutnya mereka juga mengatakan bahwa masalah kesehatan umum lainnya sebagai akibat kurang gerak adalah kegemukan (obesity). Ternyata timbulnya penyakit kardiovaskuler secara statistik ada kaitannya dengan faktor kegemukan.
Oleh karena itu salah satu upaya dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut adalah dengan berlatih olahraga secara teratur, karena dengan latihan olahraga yang teratur dapat mengurangi problem-problem kegemukan dan meningkatkan kemampuan jantung yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesegaran jasmaninya.
Manusia makin menyadari bahwa olahraga tak dapat dipisah¬kan dari kehidupan manusia. Apalagi dengan majunya ilmu dan teknologi, olahraga makin dibutuhkan manusia untuk memelihara keseimbangan hidup.
Perkembangan dan persaingan pembangunan olahraga antar negara makin ketat dan keras, karena masing-masing negara sekarang ini makin menyadari akan pentingnya pembangunan olahraga bagi bangsanya, apalagi dalam era globalisasi sekarang ini.
Salah satu wahana dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani adalah melalui pembangunan olahraga. Olahraga telah terbukti keampuhannya dalam turut serta membentuk manusia yang berkualitas.

D. Berolahraga sebagai Perwujudan Rasa Syukur
Dengan memperhatikan pentingnya dan dampak berolahraga, serta sebaliknya dengan memperhatikan resiko bagi yang tidak berolahraga, maka bagi mereka yang memiliki pola hidup sedentari (artinya, bagi mereka yang tidak memanfaatkan anugerah “Nikmat” dari Yang Maha Kuasa dalam wujud tersedianya komponen-komponen produksi energi untuk “gerak”) dapat dikatakan terma¬suk dalam golongan orang-orang yang kurang atau tidak bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.
Sebagai ilustrasi sebagaimana yang digambarkan oleh Starnes (1994: 27) yang menjelaskan bahwa proses tranformasi energi yang terjadi di dalam mitrokondria (organ sub seluler, tempat di mana energi ATP diproduksi) adalah suatu proses yang amat efisien. Kebutuhan sel dan jaringan akan ATP sangatlah tinggi, di mana volume ATP yang diperlukan selama 24 jam untuk orang dewasa dengan berat badan 68 kilogram kurang lebih 100.000 mmol ATP. Melalui proses “fosforilasi oksidatif” di dalam mitokondria, produk hidrolisis ATP (yaitu: ADP + Pi + E) dengan segera di “daur ulang” untuk membentuk kembali ATP.
Sangkot dalam kompas (1994: 11) menyatakan bahwa untuk kebutuhan seluruh tubuh, setiap hari kita membutuhkan 50-70 kg ATP, sedangkan untuk jantung saja 2-3 kg ATP. Harga ATP per kg saat ini 1.500 dollar AS, jadi setiaphari ATP yang diproduksi mitokon¬dria mencapai nilai hampir 100.000 dola AS. Luar Biasa, di dalam    tubuh kita ternyata terdapat suatu pabrik kimia dan biologi yang amat efisien.
Jika tidak terjadi proses “daur ulang” maka dibutuhkan konsumsi ATP harian + 50 kilogram sewaktu istirahat. Kita ketahui bahwa harga ATP per kg. pada tahun 1994 adalah US $ 1.500. Jadi setiap hari ATP yang diproduksi oleh mitokondria yang terdapat di dalam sel-sel tubuh mencapai nilai US $ 75.000. Seandainya kurs dolar Amerika hari ini Rp. 10.000,- per US dolar, maka tubuh kita dalam kondisi istirahat, membutuhkan dana sebesar 750 juta rupiah per hari. Hitung berapa umur kita sekarang (misalnya 54 tahun), artinya 54 x 360 hari = 19.440 hari. Dengan demikian –                 Rp. 750.000.000,- x 19.440 =Rp. 145.800.000.000,- (148.8 trilyun). Ini dalam kondisi istirahat, apalagi dalam keadaan beraktivitas (Subhanallah, Allah Maha Pemurah dan Penyayang).
Jika malas berolahraga, maka fungsi tubuh tidak dapat meme¬lihara nikmat Tuhan ini. Dengan berolahraga, proses sistem tubuh tersebut, terutama yang berkaitan dengan produksi sistem energi, akan berfungsi secara efektif dan efisien, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, berolahraga secara teratur berarti merupakan perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dalam arti, kita senantiasa berusaha dan memposisikan diri secara proporsional dan benar.

SISTEM PEMBANGUNAN DAN PEMBINAAN OLAHRAGA

Sistem adalah suatu keseluruhan atau keutuhan yang kom¬pleks atau terorganisasi; suatu himpunan atau gabungan bagian-bagian yang membentuk keutuhan yang kompleks atau terpadu. Sistem merupakan seperangkat elemen-elemen yang saling ber¬hu¬bungan .
Pembangunan olahraga pada dasarnya merupakan suatu pelaksanaan sistem. Sebagai indikator adalah terwujudnya prestasi olahraga. Prestasi olahraga merupakan perpaduan dari berbagai aspek usaha dan kegiatan yang dicapai melalui sistem pemba¬ngun¬an. Tingkat keberhasilan pembangunan olahraga ini sangat ter¬gantung pada keefektifan kerja sistem tersebut. Makin efektif kerja sistem, maka akan makin baik kualitas yang dihasilkan, demikian juga sebaliknya.
Pembinaan dan pengembangan pada dasarnya adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangankan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, dalam rangka memberikan pengetahuan dan keteram¬pilan sesuai dengan bakat, kecenderungan/keinginan serta kemam¬puan sebagai bekal untuk selanjutnya atas prakarsa sendiri me¬nambah meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesama maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusia yang optimal dan pribadi yang mandiri (Abdul  Gafur, 1983:46)
Mengkaji sistem pembinaan olahraga di Indonesia pada hakikat¬nya adalah mengkaji upaya pembinaan Sumber Daya Insani Indonesia. Dengan kata lain, upaya pembinaan ini tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Harre, Ed. (1982: 21) mengemukakan bahwa pembinaan olahraga yang dilakukan secara sistematik, tekun dan berkelan¬jutan, diharapkan akan dapat mencapai prestasi yang bermakna. Proses pembinaan memerlukan waktu yang lama, yakni mulai dari masa kanak-kanak atau usia dini hingga anak mencapai tingkat efisiensi kompetisi yang tertinggi. Pembinaan dimulai dari program umum mengenai latihan dasar mengarah pada pengembangan efisiensi olahraga secara komprehensif dan kemudian berlatih yang dispesialisasikan pada cabang olahraga tertentu.

A. Olahraga kompetitif
Olahraga kompetitif yang dimaksud adalah berbagai kegiatan yang diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Olahraga prestasi biasanya digunakan sebagai alat per¬juangan bangsa. Banyak negara yang memanfaatkan berbagai arena olahraga, seperti Olympic Games, atau Regional Games sebagai forum propaganda keunggulan bangsa dan memperlihatkan pem¬bangunan bangsa di negaranya.
Berhasilnya Indonesia meraih satu medali Perak melalui olah¬¬raga panahan pada Olympic Games di Seoul 1988 dan bebe¬rapa medali emas, perak dan perunggu melalui cabang olahraga bulutangkis dan angkat besi ternyata mampu menunjukkan kepada dunia Internasional melalui prestasi olahraga. Peristiwa menarik yang lain adalah pada Olympic Games 1956 di Melbourne, Aus¬tralia, tim sepakbola Indonesia mampu menahan tim sepakbola Rusia. Hanya setelah perpanjangan waktu, tim Indonesia menga¬lami kekalahan. Dalam Olympic Games ini Rusia akhirnya sebagai juara. Bagi negara-negara yang memikirkan kesejahteraan rakyat¬nya jauh ke depan, maka akan menempatkan olahraga pada urutan prioritas yang penting. Sejak kemerosatan prestasi olahraga Ame¬rika dan Australia di arena Olympic Games, konggres dan parlemennya turut membahas bahkan berusaha mengatur pembina¬an olahraga di negaranya masing-masing melalui rancangan undang-undang olahraga.
Penekanan pada peningkatan prestasi tidak hanya sekedar melakukan alih ketarampilan dari pelatih kepada atlet, melainkan merupakan upaya membina manusia seutuhnya.
Sistem pembangunan olahraga yang digunakan di Indonesia adalah sistem piramida, yang meliputi tiga tahap, yaitu (1) pemas¬salan; (2) pembibitan; dan (3) peningkatan prestasi.
Apabila model perencanaan ini dikaitkan dengan teori pira¬mida yang terdiri dari (1) pemassalan; (2) pembibitan; dan (3) pening¬katan prestasi, maka selanjutnya dapat dilihat dalam       Gambar 1.

Atlet Senior    Pembinaan
Prestasi    Usia pencapaian pres¬tasi puncak = pasca adolesensi

Junior lanjut
Atlet    Pembibitan    Usia spesialisasi = masa adolesensi
junior
Pemula    Pemassalan    Usia mulai berolahraga = masa kanak-kanak

Gambar 1.  Pembinaan prestasi olahraga ditinjau dari Teori Piramida, usia berlatih, tingkat atlet dan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan atlet.

1. Pemassalan Olahraga
Pemassalan adalah mempolakan keterampilan dan kesegaran jasmani secara multilateral dan landasan spesialisasi. Pemassalan olahraga bertujuan untuk mendorong dan menggerakkan masya¬rakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat dan manfaat olahraga sebagai kebutuhan hidup, khususnya jenis olah¬raga yang bersifat mudah, murah, menarik, bermanfaat dan massal. Kaitannya dengan olahraga prestasi; tujuan pemassalan adalah melibatkan atlet sebanyak-banyaknya sebagai bagian dari upaya peningkatan prestasi olahraga.
Pemassalan olahraga merupakan dasar dari teori piramida dan sekaligus merupakan landasan dalam proses pembibitan dan peman¬duan bakat atlet.
Pemassalan olahraga berfungsi untuk menumbuhkan kese¬hatan dan kesegaran jasmani manusia Indonesia dalam rangka membangun manusia yang berkualitas dengan menjadikan olahraga sebagai bagian dari pola hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam pembangunan olahraga perlu selalu meningkatkan dan mem¬perluas pemassalan di kalangan bangsa Indonesia dalam upaya membangun kesehatan dan kesegaran jasmani, mental dan rokhani masyarakat serta membentuk watak dan kepribadian, displin dan sportivitas yang tinggi, yang merupakan bagian dari upaya pening¬katan kualitas manusia Indonesia. Pemassalan dapat pula berfungsi sebagai wahana dalam penelusuran bibit-bibit untuk membentuk atlet berprestasi.
Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyara¬kat merupakan bentuk upaya dalam melakukan pemassalan olah¬raga. Dalam olahraga prestasi, pemassalan seharusnya dimulai pada usia dini.
Bila dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, pemassalan sangat baik jika dimulai sejak masa kanak-kanak, teru¬tama pada akhir masa kanak-kanak (6-12 tahun). Pada masa ini merupakan tahap perkembangan keterampilan gerak dasar.

2. Pembibitan Atlet
Pembibitan atlet adalah upaya mencari dan menemukan indi¬vidu-individu yang memiliki potensi untuk mencapai prestasi olah¬raga di kemudian hari, sebagai langkah atau tahap lanjutan dari pemassalan olahraga.
Pembibitan yang dimaksud adalah menyemaikan bibit, bukan mencari bibit. Ibaratnya seorang petani yang akan menanam padi, ia tidak membawa cangkul mencari bibit ke hutan, tetapi melaku¬kan penyemaian bibit atau membuat bibit dengan cara tertentu, misalnya dengan memetak sebidang tanah sebagai tempat pem¬buatan bibit yang akan ditanam.
Pembibian dapat dilakukan dengan melaksanakan identifikasi bakat (Talent Identification), kemudian dilanjutkan dengan tahap pengembangan bakat (Talent Development). Dengan cara demi¬kian, maka proses pembibitan diharapkan akan lebih baik.
Ditinjau dari sudut pertumbuhan dan perkembangan gerak anak, merupakan kelanjutan dari akhir masa kanak-kanak, yaitu masa adolesensi.
Pelaksanaan pembibitan atlet ini menjadi tanggung jawab pengelola olahraga pada tingkat eksekutif-taktik dan sekaligus bertanggung jawab pada pembinaan di tingkat di bawahnya, yaitu pada tahap pemassalan olahraga. Di sini disusun program yang mampu memunculkan bibit-bibit, baik di tingkat kotamadya/kabu¬paten maupun di tingkat propinsi. Adanya kejuaraan-kejuaraan yang teratur merupakan salah satu cara untuk merangsang dan memacu munculnya atlet-atlet agar berlatih lebih giat dalam upaya meningkatkan prestasinya.

3. Peningkatan Prestasi
Prestasi olahraga merupakan puncak penampilan atlet yang dicapai dalam suatu pertandingan atau perlombaan, setelah melalui berbagai macam latihan maupun uji coba. Pertandingan/per¬lom¬baan tersebut dilakukan secara periodik dan dalam waktu tertentu.
Pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya merupakan pun¬cak dari segala proses pembinaan, baik melalui pemassalan mau¬pun pembibitan.
Dari hasil proses pembibitan akan dipilih atlet yang makin menampakkan prestasi olahraga yang dibina. Di sini peran penge¬lola olahraga tingkat politik-strategik bertanggung jawab membina atlet-etlet ini yang memiliki kualitas prestasi tingkat nasional.
Para pengelola olahraga tingkat politik-strategik pada dasar¬nya bertanggung jawab terhadap sistem pembangunan olahraga secara keseluruhan.
Oleh karena itu, pengorganisasian program pembinaan jangka panjang dapat dikemukakan bahwa (1) masa kanak-kanak berisi program latihan pemula (junior awal) yang merupakan usia mulai berolahraga dalam tahap pemassalan; (2) masa adolesensi berisi program latihan junior lanjut yang merupakan usia spesialisasi dalam tahap pembibitan; dan (3) masa pasca adolesensi berisi program latihan senior yang merupakan usia pencapaian prestasi puncak dalam tahap pembinaan prestasi.

B. Olahraga Non Kompetitif
Pembangunan olahraga termasuk suatu usaha untuk mem¬bentuk manusia dalam totalitasnya, baik jasmaniah maupun rokhaniah, sehingga melalui olahraga dapat memberikan sumbang¬an dharma baktinya bagi pembangunan bangsa.
Suatu negara yang ingin membangun bangsa yang sehat, kuat dan segar, maka perlu menyusun dan melaksanakan suatu sistem pembangunan olahraga secara menyeluruh yang melibatkan seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan bangsa tidak akan lengkap atau sempurna tanpa pembangunan olahraga, karena aktivitas gerak manusia merupakan modal dasar aktivitas manusia dalam pem¬bangunan.
Oleh karena pembangunan bangsa dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia dan pembangunan seluruh masya¬rakat Indonesia, maka pembangunan olahraga dilaksanakan untuk mencapai keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara per¬tumbuhan fisik-biologis dan pertumbuhan mental spiritual, antara kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.
Adapun pembangunan olahraga yang bersifat non kompetitif dapat diarahkan dalam rangka upaya-upaya sebagai berikut:

1. Pendidikan Bangsa
Olahraga dapat mengembangkan dan membangun kepriba¬dian, watak, budi pekerti luhur dan moral tinggi serta inisatif. Karena penyelenggaraan pembinaan olahraga bagi individu dan masyarakat ini, mengandung pendidikan yang positif.

2. Persatuan dan Kesatuan Nasional.
Olahraga dapat menghilangkan rasa kedaerahan dan ke¬sukuan serta mempertebal rasa persatuan dan kesatuan Nasional. Hal ini dapat terlihat pada pertandingan-pertandingan atau kejuara¬an-kejuaraan olahraga seperti, Pekan Olahraga Nasional (PON), pertandingan-pertandingan antar negara, dan lain-lain.

3. Pertahanan dan Ketahanan Nasional.
Dengan pembinaan olahraga bagi individu dan masyarakat, khususnya bagi generasi muda, antara lain meliputi pengarahan, bimbingan dan pengawasan intensif serta mengikutsertakan manusia secara aktif dalam penyelenggaraan, akan merupakan proses pendewasaan dan pengembangan kepemimpinan. Manusia yang berkepribadian tangguh, sehat jasmani dan rokhani merupa¬kan modal penting bagi pertahanan dan ketahanan Nasional.

4. Rekreasi.
Dalam kehidupan moderen dengan kemajuan ilmu dan teknologi mutakhir, gerak manusia berkurang, maka untuk meme¬lihara keseimbangan hidup manusia, kegiatan olahraga yang bersifat rekreatif sangat dibutuhkan.

MEMBERDAYAKAN POTENSI BANGSA DALAM UPAYA PEMBANGUNAN OLAHRAGA

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi seba¬gai Daerah Otonom dinyatakan bahwa kewenangan pemerintah pusat dalam bidang olahraga adalah sebagai berikut:
(1)    Pemberian dukungan untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga;
(2)    Penetapan pedoman pemberdayaan masyarakat olahraga; dan
(3)    Penetapan kebijakan dalam penentuan kegiatan-kegiatan olah¬raga nasional/internasional.
Untuk itu, berdasarkan wilayah atau daerah, selebihnya men¬jadi kewenangan daerah (terutama kota/kabupaten). Implikasinya adalah pemerintah daerah (propinsi/kota/kabupaten) memiliki keleluasaan dalam menentukan kebijakan dalam pembangunan olahraga di wilayah/daerahnya sesuai dengan kewenangannya, tanpa mengabaikan kebijakan pembangunan olahraga secara nasional.
Agar dalam merumuskan kebijakan pembangunan olahraga dapat dilakukan dengan baik, maka perlu memperhatikan kondisi dan potensi daerah yang ada. Khususnya dalam pembinaan olah¬raga prestasi harus dilakukan kajian dengan cermat.
Setelah kebijakan pembangunan olahraga dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah menggali dan menggalang potensi di daerah/masyarakat agar pembinaan olahraga tersebut secara opera¬sional dapat dilakukan dengan baik.
Pembangunan olahraga bukan hanya tanggung jawab insan-insan olahraga, tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Pembangunan olahraga bukan hanya tanggung jawab pelatih dan atlet, melainkan tanggung jawab bangsa Indo¬nesia secara keseluruhan.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan kaitannya dengan pembangunan  olahraga di Indonesia, yaitu (1) olahraga dijadikan gerakan nasional (national movement); (2) perlunya undang-undang keolahragaan; dan (3) perlunya sistem perencanaan pro¬gram yang berkesinambungan dan terpadu.

A. Olahraga Dijadikan Gerakan Nasional (National Movement)
Kondisi pembinaan dewasa ini tampaknya masih belum menyentuh sampai lapisan bawah, yaitu kurang mengakar. Oleh karena itu perlu adanya upaya-upaya pembenahan.
Tak ada salahnya bila kita mengkaji dari pengalaman bidang lain yang telah berhasil di negara kita, yaitu keberhasilan gerakan nasional Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan mulai tahun tujuh puluhan. Kalau kita perhatikan gerakan KB waktu itu, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Berkat komitmen dan usaha yang keras, maka KB sekarang ini bukan hanya disadari pentingnya bagi pembinaan keluarga, melainkan menjadi kebutuh¬an individu dan keluarga di masyrarakat. Bahkan sekarang ini di tingkat RW telah ada sebuah lembaga, yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Belajar dari pengalaman gerakan nasional KB, tampaknya tidaklah berlebihan apabila pembangunan olahraga di Indonesia dijadikan sebagai gerakan nasional yang benar-benar mengakar sampai ke lapisan bawah. Dalam hal ini upaya memasyarakatkan olahraga dan menngolahragakan masyarakat dilakukan dengan membentuk wadah pembinaan atau organisasi sampai tingkat Kecamatan (misalnya, KONI tingkat Kecamatan).
Sebagai pertimbangan mengenai perlunya KONI tingkat kecamatan adalah karena ada beberapa potensi yang dapat dikem¬bangkan dan dilibatkan. Hampir di setiap kecamatan memiliki SD, SMTP dan/atau SMTA. Kondisi ini memungkinkan untuk mem¬bentuk suatu wadah pembinaan olahraga, minimal membentuk klub olahraga. Bersama-sama dengan tokoh lain, guru-guru pendidikan jasmani yang ada dapat dilibatkan dan difungsikan sebagai pelatih, sedangkan para siswa dapat dilibatkan sebagai atlet.
Dalam kenyataannya bahwa munculnya bibit-bibit unggul yang selama ini terjadi ditemukan di kampung-kampung yang ter¬bukti telah menghasilkan atlet-atlet tangguh di cabangnya masing-masing, misalnya Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Sumardi, Yayuk Basuki dan lain-lain. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memayungi dan mewadahi munculnya bibit-bibit melalui lembaga atau organisasi olahraga, setidak-tidaknya di tingkat kecamatan.
Organisasi/lembaga olahraga di tingkat kecamatan ini teru¬tama berupaya menumbuhkan dan mengelola klub-klub olahraga yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal ini didasarkan bahwa keberadaan klub-klub olahraga di Indonesia telah muncul beberapa puluh tahun yang lalu.
Klub olahraga ini bermunculan di berbagai tempat. Hampir semua cabang olahraga menyandarkan pembinaannya bersumber dari aktivitas hasil klub sebagai landasan awal. Dalam kenyataan¬nya, masyarakat olahraga membutuhkan wadah ini sebagai tempat untuk berlatih dan membina atlet. Namun penanganan yang tepat agar klub tersebut dapat hidup dalam suasana yang kondusif masih belum optimal.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa populasi anak usia SD dan SMTP cukup besar jumlahnya. Oleh karena itu, keberadaan klub-klub olahraga sangat strategis sebagai upaya menampung minat yang berada di lingkungan mereka. Dan klub ini tidak akan kekurangan peserta. Perlunya wadah dan lembaga olahraga tingkat kecamatan ini, tampaknya sangat memungkinkan untuk ditangani, terutama dalam upaya pemassalan dan pembibitan.

B. Perlunya Undang-Undang Keolahragaan
Kebutuhan akan adanya undang-undang tentang keolahraga¬an dirasakan sangat mendesak. Hal ini disebabkan karena pembina¬an ataupun pembangunan olahraga pada dasarnya merupakan suatu sistem. Oleh karena sistem melibatkan berbagai unsur yang bersifat koordinatif dan terpadu, maka diperlukan adanya pengaturan.
Ada beberapa pertimbangan utama mengenai perlunya undang-undang keolahragaan, yaitu:
1.    Bahwa pembinaan dan pembangunan olahraga merupakan bagian penting dari pembangunan manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya penanganan pembinaan olahraga di Indonesia belum mendapat penanganan secara proporsional.
2.    Berbagai masalah yang selama ini muncul, misalnya pemba¬ngu¬nan sarana dan prasarana di lingkungan pendidikan, masya¬rakat maupun lingkungan industri akan sangat efektif apabila diatur dalam undang-undang.
3.    Pembinaan olahraga, baik melalui pemassalan, pembibitan, mau¬pun peningkatan presitasi, makin lama mengalami perkem¬bangan yang makin padat dan memerlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Di samping itu, kewenangan dalam penge¬lolaannya juga memerlukan peraturan yang jelas.
4.    Secara umum bahwa perkembangan olahraga bersifat universal tidak dapat lepas dari perkembangan olahraga internasional. Indonesia sebagai salah satu bangsa yang menyadari akan pentingnya olahraga bagi kehidupan bangsa, maka perlu adanya pengaturan untuk menjamin terlaksananya pembangunan olah¬raga yang didasarkan pada ketentuan dan peraturan yang berupa legalitas hukum atau undang-undang.
5.    Hampir semua lembaga maupun individu merasa berhak, ber¬wenang dan bebas mengurus olahraga di Indonesia, sehingga sering terjadi tumpang tindih dan sering kali terjadi peng¬hamburan dana yang sasarannya tergantung pada si pemberi dana.
Pentingnya undang-undang olahraga ini telah ditunjukkan tingkat keefektivan dan keefisienannya oleh negara-negara maju, seperti Amerika dan Australia.

C. Perlunya Sistem Perencanaan dan Pelaksanaan Program Yang Berkesinambungan dan Terpadu
Idealnya pembangunan olahraga di Indonesia dikelola oleh sebuah departemen yang memiliki struktur organisasi sampai ke tingkat bawah. Selama ini pembangunan olahraga ditangani oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Departemen Pendi¬dikan Nasional, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Badan Pembina Olahraga Profesional Indonesia (BAPOPI). Per¬soalannya adalah bagaimana program dari masing-masing lembaga tersebut dapat dijalankan dengan baik, dan tidak terjadi tumpang tindih.
Keefektivan suatu sistem pembangunan olahraga sangat ter¬gantung pada sistem perencanaan. Dalam arti bahwa perencanaan suatu sistem merupakan suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, perencanaan sistem pembangunan olahraga yang matang sangat diperlukan.
Perencanaan pembangunan olahraga seharusnya dipandang sebagai suatu alat yang dapat membantu para pengelola pemba¬ngunan untuk menjadi lebih berdaya guna dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Perencanaan dapat membantu pencapaian suatu target atau sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu dan memberi peluang untuk lebih mudah dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, perencanaan program yang sistematis dan sistemik, akan menjadikan program tersebut runtut, terpadu dan berkesinambungan.

UPAYA MENGGALI DAN MENGGALANG POTENSI MASYARAKAT

A.    Menjadikan Olahraga sebagai Wahana Pembangunan Daerah
Kita telah menyaksikan penyelenggaraan PON XVI (2-14 September 2004) di Palembang yang lalu, Sumatera Selatan. Semula banyak orang meragukan akan keberhasilan penyeleng¬garaan PON tersebut, ternyata dengan PON Palembang di samping telah mampu menyelenggarakan PON dengan baik, Palembang juga telah mampu mengembangkan atau membuat kota baru di Jaka bareng dengan fasilitas olahraga (stadion, GOR, dan fasilitas olahraga lain) yang bertempat di lahan baru dengan disertai pembangunan perumahan yang relatif indah dan nyaman.
Keberhasilan ini antara lain dilatar-belakangi adanya kebi¬jakan pemerintah setempat untuk menyelenggarakan PON tersebut. Penyelenggaraan PON tersebut secara tidak langsung telah mem¬promosikan kota Palembang ke seluruh Indonesia. Hal serupa juga terjadi pada PON XV Tahun 2000 di Surabaya, Jawa Timur, yang telah terselenggara dengan sukses.

B. Pembinaan Olahraga Desentralisasi
Penyelenggaraan pemusatan latihan (Training Centre) selama ini bukan berarti tanpa hambatan. Hambatan utama yang dihadapi adalah mereka harus berpindah tempat ke Jakarta (jika TC diseleng¬garakan di Jakarta) dalam waktu yang relatif lama. Dengan kepindahan ini tentu akan menyulitkan bagi atlet yang masih sekolah/kuliah maupun yang sudah bekerja.
Untuk cabang-cabang olahraga tertentu terutama untuk olah¬raga individual, tampaknya dapat dilakukan di daerah tanpa harus berlatih ke Jakarta. Di sisi lain tentunya juga tidak mudah untuk melaksanakan konsep desntralisasi ini. Desentralisasi dapat dilaku¬kan jika sistem pembinaan olahraga kita sudah mantap dan merata. Paling tidak kemantapan dalam hal kepelatihan dan sarana dan prasarana. Kualitas kepelatihan ini ditandai dengan adanya tingkat kualitas pelatih yang tinggi baik dari segi fisik, teknik, strategi dan taktik maupun mental yang tertuang dalam program latihan yang applicable.

C. Menggalang Dana Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda)
Pembinaan olahraga tidak dapat dilepaskan dengan kebu¬tuh¬an dana. Pembinaan olahraga bukan hanya tanggung jawab insan-insan olahraga, tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.
Untuk memperoleh dana, guna mendukung suksesnya penye¬leng¬garaan pembinaan olahraga diperlukan berbagai upaya, antara lain dapat dilakukan misalnya “Bulan Dana Olahraga” yang didasari dengan suatu kebijakan dari pemerintah kota/kabupaten seperti Perda, atau melaui bentuk lain, seperti sponsor.

PENUTUP

Pada hakikatnya pembangunan olahraga tidak dapat dipisah¬kan dari kehidupan dan sekaligus merupakan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, pembangunan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta ditujuan untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki displin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi-tingginya.
Untuk melaksanakan pembangunan olahraga, perlu melaku¬kan berbagai upaya penggalangan dan penggalian terhadap potensi yang ada, baik dalam bidang sistem pembinaan, lembaga/organi¬sasi, maupun adanya landasan hukum yang digunakan sebagai dasar pembangunan keolahragaan. Untuk mewujudkan tercapainya tujuan tersebut, pembangunan olahraga harus dijadikan sebagai gerakan nasional. Gerakan nasional ini perlu terus dibangun dan ditingkatkan agar lebih meluas dan merata di seluruh tanah air untuk menumbuhkan dan menciptakan budaya olahraga yang sehat.
Perlunya penyediaan sarana dan prasarana olahraga yang memadai baik di lingkungan sekolah, pekerjaan maupun pemukim¬an sehingga memungkinkan segenap lapisan warga masyarakat melakukan olahraga dan berbagai aktivitas jasmani.

Hadirin yang terhormat,

UCAPAN TERIMA KASIH

1.    Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jenderal pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Keolahragaan di FKIP UNS.
2.    Rektor yang juga Ketua Senat UNS Bapak Prof Dr. dr. H. Muhammad Syamsulhadi, SpKj., Sekretaris Senat Bapak           Prof. Dr. Sunardi, M.Sc., dan segenap anggota Senat yang telah mempromosikan dan mengusulkan serta memberi kemudahan kepada saya untuk memangku jabatan sebagai guru besar. Demikian juga kepada Dekan yang juga Ketua Senat FKIP UNS Bapak Drs. H. Trisno Martono, M.M., para Pembantu Dekan, Ketua Jurusan dan Program Studi beserta seluruh anggota Senat Fakultas yang telah mengusulkan saya sebagai guru besar di FKIP UNS.
3.    Prof. Dr. H. Abdulkadir Ateng, Prof. Dr. Hj. Toeti Sukamto, M.Pd., Prof. Dr. H. M. Yusuf Adisasmita, M.Pd., Prof. Dr. Sumitro, M.Pd. (Alm), Prof. Drs. H. Mulyono B., Dra. Sayarti Soetopo (Alm), dan H. Moch. Sahli, BcHk. Mereka semua adalah Promotor, Co-Promotor, dan Pembimbing Disertasi, Tesis, Skripsi, dan Karya Tulis yang turut memberikan sumbangan dalam mengembangkan kemampuan akademik saya.
4.    Segenap guru-guru saya sejak Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, SMP, Madrasah Tsanawiyah, SMA, Madrasah Aliyah, hingga Perguruan Tinggi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, mereka telah ikut meletakkan dasar-dasar kepercayaan pentingnya menuntut ilmu sehingga turut andil membentuk kemampuan akademik saya.
5.    Para sesepuh dan senior yang telah banyak memberikan nasehat, arahan, dan memberikan dorongan, antara lain adalah: Bapak Drs. Supiarto (Alm), Prof. Drs. H. Sukiyo, Prof. Drs. Sumarno (Alm), Prof. Drs. H. Mulyono B., Prof. Drs. Soedar¬minto, Prof. Dr. Sugiyanto, Prof. Dr. Sudjarwo, Prof. Drs. H. Moch. Sholeh Y.A. Ichrom, M.A., Ph.D., Prof. Dra. Hj. War¬kitri, Drs. Danarto (Alm), Drs. Soekatamsi dan Dra. Srihati Waryati, Drs. Bambang Soetedjo, dan juga senior saya Drs. H. Trisno Martono, M.M. Demikian juga para senior dan teman-teman sejawat kerja di Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP UNS yang telah memberikan kesempatan, dorongan dan semangat untuk bekerja dengan baik. Teman-teman di lingkungan Yayasan Perguruan Al-Islam dan Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta beserta unit-unit amal usahanya. Para senior dan teman-teman di lingkungan PP. PERPANI, KONI Sala, yaitu Bapak Haposan Panggabean, SE., Bapak H. Udi Harsono, Bapak RB. Didik Sukardi (Alm), dan lain-lain. Para sahabat saya antara lain Dr. dr. H. Muchsin Doewes, MARS., Drs. H. Munawir Yusuf, M.Psi., Drs. Sugi¬harto, M.Kes., Drs. H. Agus Margono, M.Kes, Drs. Bambang Wijanarko, M. Kes., dan lain-lain.
6.    Para sesepuh dan Kiai, terutama KH. Syaebani (Alm), Ibu Hj. Siti Aminah Abdullah, Abdullah Ghzali (Alm), KH. Amin Ghozali, KH. Drs. Anwar Sholeh, M.Hum., KH. Solehan MC., KH. Moch. Djufri, KH. Drs. Mudjahid AM., M.Pd. dan lain-lain, mereka telah turut mendidik dan membetuk aqidah saya sebagai landasan dalam mengarungi kehidupan.
7.    Keluarga Bani Poredjo Abdul Ghoni khususnya Keluarga Mbah Marto Widjojo, keluarga Bani Dimyati, keluarga Ibu Hj. M. Asngat, dan keluarga H. Sangadi (Alm).
8.    Kedua orang tua saya Bapak Syarengat (Alm) dan Ibu Hj. Daryati, yang dengan kesederhanaan dan kasih sayangnya telah mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya. Yang mengesan¬kan hingga kini adalah setelah saya pulang dari Jakarta melaksanakan Ujian Terbuka untuk promosi gelar doktor antara lain beliau berpesan: “Golek ilmu apa wae kuwi keno, ananging tujuane sing apik” (Mencari ilmu apa saja itu boleh, tetapi untuk tujuan yang baik). Ternyata itu merupakan pesan terakhir karena esok harinya beliau meninggal dunia. Kepada mertua Bapak H. M. Wachied dan Ibu Hj. Nurul Jannah yang selalu mendoakan secara tulus ikhlas sejak kami berumah tangga dan selalu memberikan dorongan dan nasehat untuk kebahagiaan saya sekeluarga.
9.    Kepada adik kandung saya (Drs. M. Rohimullah H. beserta keluarga) serta saudara ipar saya (Ir. H. Munawir, Hj. Farah Dina, Ahmad Yahya, Amalia, Drs. Luqman Hakim, Maria Ulfah, dan Rahmi Clara Sari, S.Pd.), yang telah memberikan dukungan, dorongan, dan do’a sehingga saya dapat memangku jabatan guru besar ini.
10.    Isteri tercinta Dra. Hj. Sarah Dahlia dan ananda tersayang Rafid Cahyadi yang telah banyak berkurban terutama selama saya menempuh studi di Program Pascasarjana IKIP Jakarta maupun selama bertugas di luar kampus, dengan segala do’a, penger¬tian, ketulusan, dan kesabarannya telah mendorong dan mem¬beri semangat kepada saya mencapai jabatan akademik ter¬tinggi ini. Dengan itu semua, semoga Allah SWT. menjadikan kami keluarga sakinah, mawaddah war rahmah.

Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangannya. Semoga Allah SWT. selalu memberikan petunjuk dan bimbingan kepada kita semua. Amin.

Billahit taufiq wal hidayah, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonim (1994). “Prospek Perkembangan Bioteknologi Modern”. Kompas, Minggu, 28 Agustus 1994. Halaman 11.
A. Setiono Mangoenprasodjo (2005). Olahraga Tanpa Terpaksa. (Yogyakarta: Think Fresh).
Ateng, Abdulkadir (1993). “Keefektifan Model Pemassalan dan Kontribusinya terhadap Usaha Pencapaian Prestasi Olahraga Empat Besar Asia Tahun 2002”, dalam Majalah Spirit No. 57, Oktober 1993. Jakarta: KONI Pusat.
____________________  Pendidikan Olahraga. Jakarta: IKIP Jakarta.
Burke, Edmund R., Ed. (1998). Precision Heart Rate Training: For Maximum Fitness and Performance. (Champaign: Human Kinetics Publishers, Inc.).
Cooper, Kenneth H. (2004). Sehat Tanpa Obat: Empat Langkah Revolusi Antioksidan yang Mengubah Hiodup Anda. Terjemahan Marlia Singgih Wibowo (Bandung: Kaifa).
Enoch, Jusuf (1992). Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Gafur, Abdul (1983). Olahraga Unsur Pembinaan Bangsa dan Pembangunan Negara. Jakarta: Kantor Menpora.
Harrow, A.J. (1977). A Taxonomy of The Psychomotor Domain: A Guide for Developing Behavioral Objectives. New York: David McKay Company, Inc.
Kaufman, Roger (1991). Strategic Planning Plus. Tallahassee, Florida: Scott Foresman Professional Books.
Kuntaraf, Jonathan and Kuntaraf, Kathleen L. (2003). Olahraga Sumber Kesehatan. (Bandung: Percetakan Advent Indonesia).
M. Furqon H. (1994). Menggalang Potensi Bangsa Salah Satu Usaha Untuk Mencapai Prestasi Olahraga Yang Membanggakan. Makalah diajukan dalam Rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Inovatif Keolahragaan HAORNAS XI/1994 (Juara I Kelompok Umum).
____________(1997). “SEA Games dan Prestasi Olahraga Kita”, Harian REPUBLIKA, Sabtu 11 Oktober 1997, halaman 8.
____________(2000). “Profil Kesegaran Jasmani Guru Pendidikan Jasmani Sekolah dasar di Indonesia”. Paedagogia FKIP UNS, Jilid VI No. 1 Februari 2003.
___________ (2003). Teknik Pemanduan Bakat Olahraga. (Jakarta: Direktorat Oahraga Pelajar dan Mahasiswa Depdiknas).
M. Furqon H. dan Muchsin Doewes, MARS. Potret dan Analisis Keberbakatan Olahraga Anak Sala dengan Metode Sport Search. Disampaikan dalam Desiminasi “Pemanduan Bakat dan Pembinaan Olahraga Usia Dini  & Terapi Cidera Olahraga” di Hotel Sahid Raya Jl. Gajah Mada Surakarta tanggal 05 Pebruari 2000.
M. Furqon H. dan S. Kunto P. (2004). Kesegaran Jasmani Anak Usia 11-17 Tahun. (Surakarta: JPOK FKIP UNS).
Neilson, N.P. (1978). Concepts and Objectives In The Movement Arts and Sciences. New York: Vantage Press, Inc.
Niemen, David C. (1993). Fitness and Your Health. (California: Bull Publishing Company).
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom.
Siregar, M.F. (1994). “Dunia Olahraga Indonesia Perlu Ditata Kembali”, dalam Harian Kompas 10 Pebruari 1994.
___________ (1978). “Peranan Olahraga dalam Pembangunan Bangsa”. Majalah Prisma, No. 4 Mei 1978 Tahun VII.
Snowdown, Les and Humphereys, Maggie (2004). The Walking Diet. (Mumbai: Orient Paperbacks).
Soeworo (1978). “Kedudukan Politik dalam Olahraga”. Majalah Prisma, No. 4 Mei 1978 Tahun VII.
Starnes, Joseph W. (1994). “Introduction to Respiratory Control in Skeletal Muscle”. Medicine and Science in Sports and Exercise of Journal of The ACSM Vol. 26, No. 1. Jan. 1994.
Tjiptoherijanto, Priyono (1989). Pengembangan Sumber Daya Insani. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

PENGGUNAAN BAHASA DALAM PERSPEKTIF PRAGMATIK DAN IMPLIKASINYA BAGI PENINGKATAN KUALITAS GENERASI MUDA DI INDONESIA

Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana

Yang terhormat,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat
dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Anggota Dewan Penyantun,
Pejabat Sipil dan Militer,
Para Pemangku Jabatan di Lingkungan Universitas Sebelas Maret
Para sejawat staf edukatif, staf administrasi, dan mahasiswa
Para tamu undangan, handai taulan, sanak saudara
dan segenap hadirin yang saya muliakan,

Perkenankanlah saya pertama-tama memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rakhmat¬Nya kepada kita sekalian sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang terhormat ini untuk mensyukuri nikmat dan karunia¬Nya, dan untuk menghadiri sidang senat terbuka dengan acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS).

Dalam rangka memenuhi kewajiban dan tradisi akademik, per¬kenan¬kanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan saya yang berjudul:

PENGGUNAAN BAHASA DALAM PERSPEKTIF PRAGMATIK DAN IMPLIKASINYA BAGI
PENINGKATAN KUALITAS GENERASI MUDA                        DI INDONESIA

Judul tersebut bertolak dari pencermatan saya terhadap keadaan kebahasaan di negara kita, beberapa konsep dasar ikhwal kebaha¬saan, penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi dalam pers¬pektif pragmatik, serta implikasinya bagi peningkatan kualitas generasi muda di Indonesia, khususnya dalam ikhwal peningkatan kemampuan berbahasanya. Sajian ini pada umumnya berangkat dari penelusuran kepustakaan dan pengalaman pribadi saya selama bergelut dalam bidang kebahasaan.

1.    PENDAHULUAN

Hadirin yang saya hormati,

Sejak zaman dahulu orang Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, murah senyum, gagah berani dan suka bergotong-royong, dan telah dikenal dalam hubungan kerjasama dan perdagangan dengan berbagai bangsa di manca negara. Disebutkan bahwa pada tanggal 22 Juni 1596, kapal Belanda pertama dari “Verenigde Oost Indische Compagnie” mendarat di Banten, dan menjadi ajang pertemuan dari para pedagang, syahbandar, gubernur dan ningrat dari Jawa, Turki, Cina, Bengal, Arab, Persia, dan Gujarat. Kapal tersebut tercatat sebagai salah satu perintis dari kapal-kapal yang datang dan pergi, dan di kemudian hari membentuk “the sea trade route”. Rute laut itu membuka kegiatan hubungan perdagangan antara Nusantara  dengan Malaka, Siam, Madagaskar, Turki, Italia, hingga ke daratan Eropa, dan sebaliknya. Di situ orang membawa hasil bumi, ternak, dan kerajinan rakyat untuk diperjualbelikan atau sebagai ambassadorial gifts, untuk ditukarkan sebagai ikatan hubungan kerjasama antar bangsa. Rute laut tersebut menghubung¬kan pula India dengan Cina, juga dengan Indonesia bagian Barat dan Timur. Ia menjadi jalan masuknya agama Hindu dan ajaran Budha, selanjutnya agama Islam, dan kemudian agama Nasrani, dari bumi sebelah Barat ke bumi Pertiwi. (Van Leur: 1960: 3-5). Sesungguhnya Indonesia telah memiliki nama harum pada masa itu. Rute tersebut hingga kini masih ramai dan berkembang secara signifikan dalam percaturan hubungan perdagangan antara Indo¬nesia dan manca negara.

Gambaran sekilas tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi kegiatan komunikasi antar bangsa dengan memakai berbagai bahasa di bumi Pertiwi sejak berabad-abad yang lalu. Menyimak peta kebahasaan di Indonesia, bangsa Indonesia dapat dipandang sebagai bangsa besar dengan sikap politik kebahasaan yang tertata rapi. Seperti diketahui, di bumi Indonesia terdapat berbagai ke¬lompok etnis dengan tujuhratusan bahasa daerah. Selain itu bangsa Indonesia memiliki bahasa Indonesia sebagai lingua franca untuk merajut persatuan bangsa, serta bahasa asing – utamanya bahasa Inggris – untuk berkiprah di tingkat dunia. Politik bahasa yang tertuang pada Sumpah Pemuda dan Kongres Bahasa Nasional Pertama telah menunjukkan sikap dan langkah besar dalam menata dan mewujudkan persatuan di antara berbagai kelompok etnis sejak awal kemerdekaan Indonesia, serta komitmen agar bangsa Indo¬nesia tertantang untuk mampu memasuki percaturan global. Dalam hal ini, politik bahasa tersebut mengisyaratkan agar anak Indonesia perlu dipersiapkan supaya menjadi dwi-/multibahasawan. Setelah menguasai bahasa ibunya, mereka setidaknya wajib belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Di pihak lain keadaan kebahasaan itu mengisyaratkan pula bahwa masih tersedia lahan yang luas untuk melakukan kajian bahasa, baik yang bersifat linguistik murni, antar-disiplin atau terapan. Kaswanti Purwo (2000) bahkan menan¬das¬kan perlunya dibuat kajian dari berbagai bahasa daerah di tanah air yang penutur aslinya semakin menyusut dan terancam punah, supaya kekayaan kebahasaan di Indonesia tidak hilang ditelan waktu.

2.    BEBERAPA KONSEP DASAR IKHWAL KEBAHASAAN DAN KAJIAN KEBAHASAAN

Hadirin yang saya hormati,

Berbicara tentang kajian kebahasaan, bahasa perlu dipandang sebagai entitas mandiri agar mempunyai landasan empiris metodo¬logis yang berterima. Sebelum abad ke 20 kajian bahasa pada umumnya dilakukan secara diakronis untuk menelusuri proto-bahasa dan kin-languages. Baru pada awal abad tersebut, de Saussure mengajukan gagasan bahwa bahasa merupakan sistem lambang yang menunjuk pada relasi bentuk dan makna dalam suatu kerangka pikir bahwa setiap bahasa memiliki sistemnya sendiri-sendiri. Gagasan de Saussure mengacu pada konsep Durheim bahwa fakta sosial dapat dipandang sebagai obyek kajian (Dineen, 1967: 193-195) Gagasan de Saussure menjadi dasar acuan bagi kajian sistem internal bahasa secara sinkronis yang dilakukan oleh para linguistik strukturalis. Dalam waktu yang relatif singkat, ilmu bahasa sebagai suatu disiplin sendiri berkembang dengan pesat, dan kajian pada sistem internal bahasa dilakukan pada tataran fonologi (bunyi), morfologi (kata), sintaksis (frasa dan kalimat), dan semantik (makna). Kajian seperti yang dilakukan Bloomfield di tahun 1930-an dan Chomsky pada tahun 1957 berikut pengikut mereka menelaah kaidah kebahasaan dengan mendekonstruksi bahasa lepas dari konteks situasinya. Sementara itu bahasa dikaji pula dalam ber¬bagai perspektif, seperti telaah linguistik fungsional yang mengkaji penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi, telaah sosio¬linguistik yang mengkaji bahasa dalam masyarakat sebagai kelom¬pok sosial dengan berbagai variabel sosialnya, telaah psiko¬linguis¬tik yang mengkaji penggunaan bahasa dan proses perkembangan bahasa, telaah linguistik terapan yang dimanfaatkan untuk kepen¬tingan terjemahan dan pengajaran bahasa, kemudian berbagai telaah tekstual dan kewacanaan. Dewasa ini kajian kebahasaan telah merambah pada telaah pragmatik, yang mengkaji pengunaan bahasa dalam berkomunikasi selaras dengan konteks situasinya. Lintasan sekilas tersebut menunjukkan bahwa kajian bahasa telah semakin berkembang dalam perspektif yang berbeda, atau yang saling melengkapi.

Hadirin yang saya hormati,

Manusia merupakan makhluk sosial – dan kecuali dalam keadaan yang amat khusus – manusia perlu berinteraksi dengan sesamanya. Sarana utama dalam berinteraksi itu adalah melalui bahasa. Dalam hal ini, Sapir (1949) mendefinisikan bahasa sebagai: “a purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions and desires by means of voluntarily produced symbols” (dalam Dinneen, 1967: 221). Definisi tersebut menyatakan bahwa bahasa merupakan milik manusia. Bahasa itu hidup selagi masih ada penuturnya. Ia bersifat non-instingtif, karena bahasa diper¬gunakan untuk mengkomunikasikan berbagai gagasan, perasaan dan keinginan. Dengan kata lain, ketika berkomunikasi manusia menggunakan bahasanya untuk berbagai fungsi, seperti untuk menyampaikan informasi, bertanya, menyuruh, memberi apresiasi, menyatakan kekecewaan, dan sebagainya.

Bahasa binatang tidak dapat disamakan dengan bahasa manusia, karena bahasa binatang bersifat tertutup dan instingtif – ia dipakai agar binatang dapat bertahan hidup. Fungsi penggunaan bahasa pada binatang sangat terbatas dan dikategorikan dalam tiga jenis, yakni: fungsi dalam memperoleh makanan, dalam membela diri, dan dalam reproduksi (Taylor, 1976: 1-8). Dalam fungsi mem¬peroleh makan, kita perhatikan seekor induk ayam berkotek ketika menemukan cacing dan memanggil anaknya. Dalam fungsi bela diri, ia akan memperlihatkan sikap agresif dengan suara meng¬geram ketika melihat ada bahaya mengancam dan melindungi anak¬nya di bawah sayapnya. Ada pun dalam fungsi reproduksi, ia berlarian membuat gaduh ketika ayam jantan mau mengajaknya mating dan ia berkotek ramai sekali pada saat bertelur. “Bahasa ayam” itu bersifat universal, selalu sama dalam mendukung ketiga fungsi itu, meskipun ayamnya hidup di Indonesia atau di tempat lain. Meskipun bahasa binatang itu sama, tetapi sebutan refe¬rensialnya berbeda-beda pada setiap bahasa, kadang-kadang mengacu pada kesamaan dengan bunyinya (atau: onomatopoeia). Penutur Jawa mengidentifikasi bunyi ayam jantan dengan “kukuru¬yuuk” dan mengatakan “jago kuwi kluruk”; mereka mengidentifi¬kasi bunyi kambing dengan “mbeek” dan menyebut “wedus kuwi ngembek”. Penutur Inggris mengidentifikasi bunyi ayam jantan dengan “kok, kok, kok” dan mengatakan “the cock crows”, mereka mengidentifikasi bunyi kambing dengan “bla, bla, bla” dan menyebut”the goat bleats”. Perbedaan istilah antara kedua bahasa tersebut menunjukkan sifat manasuka (atau arbitrariness) dalam bahasa. Orang tidak dapat bertanya mengapa bunyi kambing diidentifikasi sebagai “mbeek” dalam bahasa Jawa sedang dalam bahasa Inggris orang mengidentifikasinya sebagai “bla” karena telah diterima dari generasi ke generasi sebagai bagian perjalanan sejarah masing-masing masyarakat tutur.

Dalam hal bahasa manusia (selanjutnya disebut bahasa), sifat universal hanya terdengar pada tangis bayi. Bayi berkomunikasi dengan tangisnya, seperti pada saat ia lapar atau haus, ketika ia merasa tidak nyaman karena gatal atau basah. Seterusnya bayi tumbuh menjadi anak yang bahasanya bertumbuhkembang dari hari ke hari karena mendapat pajakan dari lingkungan sekitarnya. Ia mendengar bunyi-bunyi yang diujarkan orang tua, saudara atau orang disekitarnya, dan selalu aktif melatih ucapan bunyi itu, kemudian membuat “analisis” tentang makna dan fungsi tuturan sesuai dengan tingkat kemampuannya (Dardjowidjojo, 2003: 243-268). Anak mempunyai motivasi tinggi untuk berkomunikasi dengan mereka yang ada di sekelilingnya. Motivasi itu lah yang mendorongnya selalu aktif menggunakan bahasa-anaknya. Ia memiliki sifat ingin-tahu (inquisitive) yang tinggi. Bahasa anak ternyata sangat efisien; dengan “Ini!”, “Itu!”, “Apa ini?” Apa itu?” sambil telunjuk jarinya menunjuk pada benda yang di¬mak¬sudkan, anak mampu berkomunikasi. Dalam proses penguasa¬an bahasa ibunya, kemampuan berbahasa anak berkembang sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitifnya. Semula ia me¬nguasai bahasa-satu-kata, kemudian bahasa-dua-kata, dan demikian seterusnya, tuturannya menjadi semakin panjang. Dalam per¬kembangan tersebut, ia mampu memahami makna kosakata yang dikenalnya, menggunakan struktur bahasa seperti yang ada pada bahasa ibunya, sehingga dalam waktu relatif singkat ia telah mampu menggunakan bahasa anak dengan lancar. Dalam waktu yang relatif singkat pula, seluruh sistem bahasa ibunya akan dikuasainya. Bayi yang kurang beruntung sebab tidak mendapat kesempatan menerima pajakan bahasa dari lingkungannya (seperti oleh tuli sejak lahir, karena sakit atau kecelakaan) biasanya akan tumbuh menjadi bisu tuli atau mengalami speech defect (Caroll, 1986: 67-70). Mereka memerlukan upaya khusus untuk berkomu¬nikasi melalui speech therapy atau bahasa isyarat.

Uraian tentang pemerolehan bahasa pertama tersebut mengimpli¬kasikan bahwa anak belajar bahasa ibunya dengan mengikuti tatanan sistem terstruktur dalam masyarakatnya. Dalam pengalam¬an anak, fungsi kognitif saat ia menangkap makna kata terjadi setelah fungsi pragmatik berlangsung. Dengan kata lain, anak mengembangkan kemampuan kebahasaannya ketika ia meng¬guna¬kan bahasa itu dalam konteks situasi terkait. Dalam hal ini kiranya bisa disimak teori linguistic relativism sebagaimana dikemukakan oleh Sapir dan Whorf, yang menyebutkan bahwa dunia yang dimiliki seorang penutur terbentuk secara tidak sadar oleh ke¬biasa¬an berbahasa dalam masyarakat tuturnya (dalam Dinneen, 1967: 236). Teori itu bertolak pada kenyataan bahwa manusia bertumbuh¬kembang dalam tatanan sistem kemasyarakatan masing-masing, melalui pengalaman ketika menggunakan bahasa. Misalnya, se¬bagai bagian dari pengalamannya, masyarakat Inggris mengenal berbagai jenis roti yang dinamakan: bread, sandwich, bun, pastry, hotdog. Sementara itu masyarakat Indonesia yang belum tentu akrab dengan berbagai jenis makanan itu, biasanya hanya mengenal istilah roti atau pinjaman kata (loan word)-nya saja.

Pada pihak lain, bahasa akan berkembang pula sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Di daerah pedusunan, misalnya, masih sering terdengar: “Pakdeku beli Honda merek Yamaha kemarin.” Demikian pula bisa didapati: “Sepedaku yang baru merek Yamaha. Mau lihat?” Ini disebabkan karena penutur setempat belum akrab dengan istilah sepeda-motor, meskipun kendaraan tersebut mung¬kin sudah mulai masuk ke dalam lingkungannya. Di kemudian hari, istilah tersebut lambat laun akan dikenal, menjadi milik masyarakat itu dan dipakai secara luas juga.

Keadaan kebahasaan tersebut menunjukkan bahwa bahasa sama sekali tidak berdiri sendiri. Bahasa merupakan bagian dari budaya masyarakat tuturnya dan bersifat terbuka, memiliki potensi untuk berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Ada pun budaya, menurut Lado (1957: 111), merupakan: “structured systems of patterned behaviour”; karena itu dalam berbahasa pun orang dapat mengidentifikasi berbagai pola perilaku masyarakat tutur sebagai bagian dari sistem budayanya. Orang Indonesia mengenal istilah tidur di atas ranjang “sleep on the bed”, karena posisi tidurnya memang berada di atas alas tempat tidur. Sementara itu orang Inggris menyatakan “sleep in the bed” karena tempat tidur ditutupi dengan alas dan selimut berlapis-lapis, dan orang yang akan tidur harus masuk diantara lapisan alas tersebut. Siapa tahu di kemudian hari, bahasa Indonesia pun akan memakai istilah “tidur dalam ranjang” sebagaimana telah banyak diperkenalkan dalam hotel berbintang dewasa ini.

Berkaitan dengan ihkwal penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi, kiranya dapat disimak gagasan dari pada fungsionalis seperti Malinoswky, Whorf, Firth dan Halliday (dalam Kress, 1976: xiv-xxi). Mereka pada dasarnya menyatakan bahwa peng¬gunaan bahasa bersifat context-dependent, yakni tidak dapat ter¬lepas dari konteks situasinya. Tuturan dan konteks situasi senan¬tiasa saling berkaitan satu dengan yang lain; dan lebih dari itu, pengetahuan tentang konteks situasi yang relevan diperlukan untuk memahami tuturannya. Malinowsky, dengan mengacu pada kajian¬nya terhadap masyarakat Polinesia, menyebutkan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi, yakni: fungsi pragmatik (bahasa sebagai suatu bentuk tindakan), fungsi magis (bahasa untuk mengontrol ling¬kungan) dan fungsi naratif (bahasa sebagai kompilasi informasi kemasyarakatan yang diterimakan dalam perjalanan waktu). Sedang¬kan Whorf menunjukkan perlunya dicermati hubungan antara tatanan budaya dan refleksi budaya dalam struktur bahasa. Ada pun Firth menyatakan bahwa peristiwa tutur perlu memper¬hatikan a) partisipan, yakni orang, kepribadian, dan segala sesuatu terkait dengannya, termasuk tindakan verbal dan non-verbal partisipan; b) obyek dan peristiwa verbal dan non-verbal terkait, serta c) efek dari tindakan verbal. Akhirnya Halliday mencetuskan konsep tentang lingustik sistemik fungsional. Menurut Halliday, bahasa bersifat sosio-kultural, direalisasikan oleh suatu sistem leksi¬kogramatik, dan memiliki tiga jenis fungsi (yakni fungsi inter¬personal, fungsi ideasional dan fungsi tekstual), yang ketiganya terbungkus dalam lingkup budaya. Meskipun berangkat dari wawasan berbeda, keempat orang tersebut memberikan sumbangan pemikiran terhadap pencermatan pada konteks situasi dan orientasi pragmatik dalam kajian bahasa.

3.    PENGGUNAAN BAHASA DALAM PERSPEKTIF PRAG¬MATIK

Para hadirin yang terhormat

Teori Halliday tentang ketiga fungsi dalam sistemik kebahasaan dapat dijadikan batu loncatan dalam memahami berbagai aspek pada pragmatis kebahasaan. Fungsi interpersonal berkait dengan wawasan tentang hubungan penutur-petutur, yakni untuk mem¬bentuk, memelihara dan menspesifikkan hubungan antara anggota masyarakat yang berkomunikasi. Fungsi ideasional berkait dengan wawasan tentang gagasan atau pesan, yaitu untuk mentransmisikan informasi antar anggota masyarakatnya. Adapun fungsi tekstual berkait dengan wawasan tentang medium komunikasi, yakni untuk menyuguhkan tekstur atau susunan wacana relevan dengan situasi¬nya (Kress, 1976: xviii-xxi). Dalam hal fungsi ideasional, kita melihat misalnya, bahwa bahasa yang dipakai dalam bidang kedok¬teran bersifat khas dan sarat dengan terminologi di bidang tersebut, yang tidak selalu dimengerti oleh orang awam. Dari fungsi inter¬personal, bisa dilihat adanya keanekaragaman bahasa tergantung dari dekat jauhnya hubungan para interlokuter. Hal ini misalnya terdapat pada tuturan anak berikut: “Mummy, one more candy, please?” Setelah mendapat respon ibu: “No, no and don’t forget to brush your teeth.” yang direspon balik oleh anak dengan: “Yes, ma’am.” Perubahan dari mummy ke ma’am menunjukkan komit¬men anak untuk patuh pada ibunya. Ini terbentuk dari pemahaman anak tentang kewajibannya untuk menyesuaikan diri sebagaimana dituntut oleh pragmatisme dalam budaya bahasanya, yaitu muncul¬nya pergeseran jarak dari hubungan informal ke lebih formal, serta super¬ordinasi ibu atas diri anak. Sedangkan fungsi tekstual berkait dengan medium penggunaan bahasa, yaitu yang bisa berbentuk lisan (seperti pada peristiwa tutur di pasar tradisional), bentuk tulis (dalam buku teks), bentuk lisan tulis (pada skrip drama), atau bentuk tulis lisan (pada sambutan yang dipersiapkan sebelumnya).

Halliday melihat peristiwa tutur sebagai fakta sosial. Ia menan¬das¬kan bahwa bahasa berkembang dengan bertumpu pada ketiga fungsi tersebut, dan pada struktur yang merefleksikan fungsi ter¬sebut. Di satu sisi hal ini terjadi sebagai respon terhadap perkem¬bangan kebutuhan masyarakat, dan di sisi lain sebagai refleksi dari kebutuhan tersebut. Perkembangan bahasa anak, misalnya, dimung¬kinkan karena anak secara aktif membuat “hipotesa” berdasarkan pengalamannya, yang kemudian memacunya untuk membuat kons¬truksi baru ketika ia mengembangkan kemampuan kebahasaannya. Di sisi lain, anak juga belajar memahami konteks budaya masya¬rakatnya melalui penguasaan bahasa ibunya (Kress, 1976: xix-xxi). Pada penggalan ini kita melihat bahwa bahasa itu cukup rumit (intricate), namun ia terstruktur secara sistemik, karena pengguna¬an bahasa dalam komunikasi merupakan tingkah laku yang terpola (patterned behaviour).

Teori yang dikemukakan para fungsionalis tersebut mengisyaratkan bahwa kajian kebahasaan dapat dikembangkan pada berbagai aspek kebahasaan. Ia tidak hanya memperhatikan aspek verbal, tetapi juga aspek non-verbal bahasa; ia tidak hanya mengkaji yang tersurat, tetapi juga yang tersirat; ia tidak hanya bergayut pada konteks saja, tetapi juga pada koteksnya (yakni sistem semantik yang berada paralel dengan struktur bahasa). Akhirnya ditandaskan bahwa bahasa dipayungi oleh budaya, yang perlu diperhitungkan dalam menginterpretasikan makna sesuai dengan konteks situasi yang relevan.

Hadirin yang saya hormati,

Pada saat menggunakan bahasa, orang tidak hanya merepresen¬tasikan pikiran yang terdapat pada benaknya (bersifat konstantif), tetapi juga melakukan tindakan (bersifat performatif). Tuturan kons¬tantif diuji dari persyaratan kebenaran (truth condition), sementara tuturan performatif diuji dengan kesahihan (felocity condition) (Gunarwan, 2005: 5). Contohnya, tindak tutur verbal ”Pukul berapa sekarang, ya?” direspon dengan tindak tutur ber¬bentuk non-verbal “melihat ke jam tangan” dan bentuk verbal “Enam.” Dari segi kebenaran maknanya, respon tersebut berterima, karena memberi informasi tentang waktu. Adapun dari segi kesahihan, respon itu juga berterima, seperti ditunjukkan oleh kesesuaiannya dengan jarum jam.

Namun adakalanya suatu tindak tutur ternyata tidak sesuai ketika diuji dari kebenarannya. Dalam hal ini, bisa dimungkinkan timbul¬nya kekecewaan atau ekspektasi yang tidak diharapkan. Ini misalnya tampak pada:”Ayo mbak, ditawar berapa?”. Bila calon pembeli, karena sesuatu hal tidak jadi menawar, pedagang akan menggerutu dan mungkin bertutur: “Ooo, cantik-cantik menawar saja nggak becus!” Di sini tidak terjadi transaksi jual beli di antara para interlokutor karena tuturan performatif yang diharapkan tidak terwujud. Sebaliknya adakalanya transaksi jual-beli terwujud, namun pembeli kemudian dikecewakan karena persyaratan kebe¬naran¬nya tidak terpenuhi, seperti tersirat pada tuturan berikut:  “Lho, pak katanya kemarin mangganya manis-manis!” Tersirat pada tuturan tersebut bahwa pada hari sebelumnya telah terjadi transaksi jual-beli; tetapi mangga yang diperjualbelikan tidak sesuai rasanya dengan yang ditawarkan si pedagang. Ketika mem¬buat tanggapan, si pedagang mangga mungkin berusaha untuk “menjaga mukanya” dan memberi respon balik tidak langsung (indirect respone) seperti: “Sampeyan mung kecut sekilo. Kula niki kecut sekranjang”. Meskipun pembeli diam, kemungkinan di kemudian hari ia tidak akan bertransaksi lagi dengan pedagang tersebut, sehingga secara tidak langsung hal ini merugikan si pedagang. Contoh tersebut menunjukkan bahwa hasil uji kebenaran dan kesahihan dalam bertutur seharusnya sesuai dengan yang diha¬rapkan agar salah satu atau kedua interlokutor tidak dike¬cewa¬kan.

Hadirin yang saya hormati,

Semula kajian kebahasaan melihat bahasa sebagai tuturan. Sesuai dengan paham bahwa penggunaan bahasa untuk komunikasi merupa¬kan fakta sosial, pada perspektif pragmatik penggunaan bahasa tersebut dipandang sebagai tindakan, lazim dikenal dengan tindak tutur (speech acts) (Searle, 1969). Austin (1962) mendefi¬nisi¬kan tindak tutur sebagai: the act performed in saying something (dalam Cunning, 2000:16). Austin menyatakan pula bahwa penggunaan bahasa berkait dengan tiga fungsi, yakni: a) fungsi lokusioner, fungsi pada makna bahasa itu sendiri, seperti ”Sebentar lagi hari hujan!” yang muncul karena sifatnya informatif dan berasal dari pemikiran penutur ketika melihat mendung gelap menutup langit; b) fungsi ilokusioner, fungsi pada pihak penutur, yang berkait dengan permintaan tidak langsung kepada petutur untuk meng¬angkat jemuran, dan c) fungsi perlokusioner, fungsi pada pihak petutur, berupa respon petutur dengan tindakan mengangkat jemuran.

Mengenai jenis fungsi tindak tutur, terdapat berbagai klasifikasi, di antaranya Cutting (2002: 16-17) mengidentifikasi lima jenis yakni: fungsi deklaratif, representatif, komisif, direktif dan ekspresif. Fungsi deklaratif dapat mengubah status atau kondisi seseorang, seperti pada tindak tutur Rektor Perguruan Tinggi di saat mewisuda lulusan:“Saudara berhak menyandang gelar Sarjana S-1.”. Fungsi representatif berfungsi mengekspresikan gagasan atau pesan dalam benak penutur, seperti pada tindak tutur guru Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar: “Matahari terbit di sebelah Timur”. Fungsi komisif membuat penutur melakukan komitmen atau terlibat dalam tindakan tertentu, seperti pada tindak tutur seorang suami kepada isterinya: “Nanti akan saya jemput pukul 12.00 sehabis rapat.” Fungsi direktif dimaksudkan agar petutur melaku¬kan sesuatu tindakan, seperti pada tindak tutur kepala regu barisan “Balik kanaaan, gerak!” Sedangkan fungsi ekspresif terkait  dengan perasaan yang diekspresikan penutur, seperti pada tindak tutur polisi yang memuji keberanian tim SAR UNS: “Tindakan saudara luar biasa!” Fungsi tersebut ada yang bersifat langsung atau tak langsung, bisa juga sederhana atau rumit. Pada contoh tersebut di atas, orang dapat memprediksi konteks situasi dari kata kuncinya.

Namun adakalanya tindak tutur itu tidak jelas konteks situasinya, sehingga interpretasi maknanya pun bisa beragam. Tindak tutur ekspresif “Aduh Euis!”, misalnya, dapat diujarkan dengan intonasi berbeda dalam konteks situasi yang berbeda dan memiliki makna berbeda pula, seperti kejengkelan, kesakitan, dan kekaguman. Contoh lain terjadi pada masyarakat tutur Jawa berikut. Seorang pemuda tampak berdiri di depan pintu bis di dekat Terminal Tirtonadi Solo dengan meneriakkan “Boyo, boyo, boyo!”. Tindak tuturnya berfungsi sebagai tawaran dan mengandung maksud: “Bapak, ibu, saudara yang mau pergi ke Surabaya, mari silahkan naik ke dalam bis ini karena kita akan menuju ke Surabaya.” Sementara itu, seorang perempuan berteriak histeris di pinggir sungai sambil meneriakkan: “Boyo, boyo, boyo!”. Disini tindak tuturnya berfungsi sebagai peringatan dan mengandung maksud: “Hai rekan-rekan, cepat keluar dari sungai, ada bahaya mengancam, itu ada buaya!”  Kedua contoh dengan menggunakan unsur fonologis yang sama namun intonasi berbeda itu menegaskan bahwa pemahaman tentang makna dalam pragmatik biasanya memang perlu didukung oleh konteks situasi terkait.

Kiranya pemahaman tentang istilah konteks masih perlu diklari¬fikasi, karena istilah tersebut tidak hanya yang menyertai teks kebahasaan, melainkan bergayut pula dengan konteks di luar itu, seperti konteks fisik, konteks sosial, dan asumsi pengetahuan yang dimiliki bersama oleh interlokutor (Cutting, 2002: 4-6). Transaksi jual-beli mangga tersebut misalnya, memiliki konteks fisik tempat Pedagang Kaki Lima di Pasar Gedhe, konteks sosialnya berada dalam lingkup budaya Timur, sedang konteks latar pengetahuan yang dimiliki bersama adalah mengenai pengalaman interlokutor tentang kegiatan tawar-menawar untuk mendapat bagian yang lebih menguntungkan dari nilai uang atau barang yang dimiliki. Dalam budaya Barat pada umumnya tidak terdapat budaya tawar-me¬nawar. Pembeli langsung membayar sesuai dengan harga yang ditawarkan pedagang. Seandainya pedagang menginginkan agar dagangannya lekas laku, ia dapat menginformasikannya secara tertulis dengan label: “DISCOUNT” atau “BARGAIN” yang mem¬beri indikasi bahwa calon pembeli akan dapat memperoleh barang dengan harga yang lebih rendah dari yang biasanya ditawarkan. Jadi meski¬pun tidak tersurat secara eksplisit, transaksi jual-beli tersebut memberikan gambaran bahwa suatu peristiwa tutur harus diambil maknanya dalam lingkup budaya masyarakatnya.

Hadirin yang tehormat,

Memahami informasi dalam bahasa memang tidak selalu mengacu pada tindak tutur yang tersurat, melainkan juga pada yang tersirat (disebut implicatures). Implikatur itu tidak diekspresikan secara eksplisit, namun turut dikomunikasikan. Dalam hal ini komunikasi dapat berlangsung dengan baik, oleh adanya prinsip kerjasama (cooperative principles) yang perlu dipatuhi oleh penutur dan petutur. Grice (dalam Versheuren, 1999: 32) menyatakan: “Make your conversational contribution such as is required, at the stage at which it occurs, by the accepted purpose and direction of the talk exchange in which you are engaged.” Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa prinsip kerjasama terkait dengan beberapa bidal (maxims) yang dibedakan ke dalam: a) bidal kuantitas (infor¬masinya tidak lebih dan tidak kurang), b) bidal kualitas (infor¬masi¬nya benar dan penutur memiliki bukti kebenarannya), c) bidal relevansi (informasinya relevan dengan topik) dan d) bidal cara (informasinya disampaikan secara jelas, tidak samar-samar). Contoh¬nya terdapat pada peristiwa tutur tentang pesanan kamar berikut:
(nada bunyi telepon):
+    :     Allo, Bonjour?
–    :    Oh, hello, I wonder if you have a erm… room free for tonight, please?
+    :    Tonight? Er ..… no. I’m sorry, we’re fully booked.
(Rixon, 1990: 70)

Meskipun peristiwa tuturnya singkat, tindak tutur pada kedua belah pihak penutur dan petutur cukup informatif dan memenuhi keempat bidal. Bidal kuantitas terpenuhi karena informasinya lengkap. Bidal kualitas terpenuhi karena informasinya jelas dan tidak menimbul¬kan kesenjangan komunikasi. Bidal relevansi terpenuhi karena topiknya relevan dengan tujuan komunikasi, yakni untuk memesan kamar. Bidal cara juga terpenuhi karena masing-masing mengguna¬kan sapaan yang berterima. Orang akan langsung me¬mahami konteks situasi terkait. Dari dering telepon dipahami bahwa komu¬ni¬kasi dilakukan dalam jarak jauh, dari sapaan diketahui bahwa penelpon adalah penutur bahasa Inggris sedang penerima telepon adalah petutur dari masyarakat tutur bahasa Perancis.

Namun perlu diketahui bahwa pengguna bahasa tidak selalu patuh terhadap bidal-bidal tersebut dengan berbagai alasan pada dimensi personal, sosial atau budaya. Contoh berikut menunjukkan peris¬tiwa tutur yang mungkin pernah dialami oleh seorang wisatawan yang belum mengenal wilayah yang dilaluinya. Ketika ia meminta informasi kepada penduduk setempat: ”Pak, panjenengan pirsa, kalurahanipun wonten pundi? Menapa taksih tebih?” direspon seorang penduduk dengan:”Sampun celak nak, wonten sakwing¬kingi¬pun gumuk menika.” Setelah ia jalani, kalurahan tersebut memang terletak di balik bukit tersebut, tetapi untuk sampai ke sana ia masih harus menelusuri jalan naik turun bukit yang me¬lingkar-lingkar. Di sini terdapat pelanggaran terhadap bidal kuan¬titas tentang jarak: “sampun celak”. Mungkin ini disebabkan karena penduduk setempat sudah terbiasa dengan rute tersebut, yang dipandangnya tidak jauh. Informasi tentang:”wonten sakwingkingipun gumuk menika” sudah jelas, tetapi masih belum memadai dari segi kualitasnya sebab tidak disebutkan bahwa jalan kesana berkelok-kelok naik turun bebukitan. Di sini terdapat pengu¬rangan pada bidal kualitas. Pengalaman penduduk setempat pada dimensi sosial telah membuatnya memiliki perspektif tentang jarak yang tidak sama dengan perspektif si wisatawan atau pen¬datang.
Tersirat dari tindak tutur antara wisatawan dan penduduk tersebut, bahwa mereka telah mengikuti prinsip sopan santun berbahasa. Dalam bahasa Jawa dikenal adanya undha usuk atau unggah ungguh basa yang mensyaratkan agar interlokutor yang baru berkenalan perlu saling menghargai dengan menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Prinsip sopan santun biasanya berkait dengan ‘harga diri seseorang’ atau ‘citra umum yang diharapkan atas diri masing-masing interlokutor.’ Bahasa dalam komunikasi berisi kaidah-kaidah yang mengatur cara seorang bertutur agar hubungan interpersonal dari para interlokutor terpelihara dengan baik (Cutting, 2002: 44-49). Pesan dalam penggunaan bahasa seyogya¬nya disampaikan sesuai dengan norma yang berterima pada masya¬rakat tuturnya. Dua prasyarat dalam kompetensi pragmatik yang berterima adalah a) jelas dan b) sopan. Seyogyanya penutur menyampaikan tindak tuturnya dengan mengikuti kedua prasyarat tersebut. Namun jika ia harus memilih mana yang harus diutama¬kan, ia harus mengedepankan prinsip sopan santun untuk menjaga harga diri dan perasaan petutur daripada tercapainya kejelasan dengan cara yang tidak sopan.
Mari kita simak contoh kasus berikut. Dalam kondisi kesempitan waktu untuk berangkat kerja lebih pagi, seorang karyawati akan merasa lebih dihargai jika mendengar atasan menegurnya dengan: “Saya mengerti kesibukan ibu di pagi hari, tetapi coba usahakan untuk mulai pekerjaan di rumah lebih dini, supaya jangan terlambat masuk kerja, ya.” Disini terdapat kasus adanya kesadaran pada pihak penutur terhadap harga diri dan rasa hormat pada petutur. Tindak tutur tersebut akan lebih berterima daripada kalau ia ditegur dengan: Lagi-lagi terlambat…. lagi-lagi terlambat.. kapan sih ibu bisa masuk kerja tepat waktu. Besuk kalau terlambat lagi akan saya laporkan pada bos.” Disini terdapat kasus tindakan ancaman muka (face-threatening act disingkat FTA), tindakan yang cenderung mengganggu muka petutur oleh tindak tutur penutur yang terus terang (bald on record).
Contoh lain, misalnya, bisa terjadi pada Alfa yang memiliki kesulitan belajar dan cenderung banyak bermain PS (Play Station). Ayahnya perlu memotivasi agar ia dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Ketika Alfa datang kepada ayahnya dengan rapor kurang memuaskan, ayah dapat bertindaktutur dengan: “Wah, wah, rapor kok kebakaran begini ya…. Lain kali usahakan agar nilai merahnya bisa berkurang.. Janji pada bapak, kurangi main PS.” Pada kesempatan lain, ia bisa mengatakan: “ Bagus…. Lihat, kamu bisa asal belajar lebih rajin… Lain kali usahakan rangkingmu naik, ya.”  Tindak tutur ayah pada kasus ini terasa menyejukkan dan berdampak positif pada kemauan belajar Alfa. Pada pihak lain, mungkin dampak positif tersebut tidak akan tercapai jika ayah bertindak tutur dengan cara berbeda, yakni dengan membentaknya dan memberi umpatan dan ancaman berikut: “Wah… dasar bodoh …rapor isinya kok nilai merah melulu… Kebanyakan main PS ya! Lain kali, awas kalau aku lihat kamu main PS terus!”  Bisa diprediksi bahwa tindak tutur ayah pada kasus kedua itu tidak akan memacu Alfa untuk memperbaiki kemauan belajarnya; sebaliknya ia akan merasa tertekan di bawah ancaman ayah. Disini bisa di¬simak pendapat Lakoff dalam memberikan rumusan tentang kaidah sopan santun, yakni: a) jangan memaksakan, b) berilah kebebasan, dan c) ciptakan rasa sejuk dan bersahabat (Lakoff, dalam Bon¬villain, 2003: 126).

Hadirin yang terhormat,
Secara tersirat bahasa mengandung norma dan etika yang mengatur cara seseorang harus berperilaku dan agar diperlakukan dengan baik. Dalam bersopan santun itu, Brown dan Levinson (dalam Bonvinllain, 2003: 127) membedakan antara sopan santun positif (positive face-wants), yang berorientasi pada citra positif pada petutur (seperti: Would you like to come in and have a cup of tea?).  dan sopan santun negatif (negative face-wants), yang berorientasi pada keinginan agar petutur tidak dipaksakan (seperti:  If you have time, please call me some time this week.). Selain itu mereka juga membedakan antara sopan santun langsung (positive politeness), yang berorientasi pada tujuan agar pesan tersampaikan secara lang¬sung, tanpa ditutup-tutupi (seperti: Would you close the window, please?) dan sopan santun tak-langsung (negative politeness), yang berorientasi pada fungsi penyampaian pesan secara tersirat untuk menghindari pemaksaan pada pihak petutur (seperti: I’m freezing. The window is open.) yang mengandung maksud sebagai per¬mohonan agar “petutur menutup jendela”.
Berbagai jenis sopan santun tersebut menunjukkan bahwa orang dapat menyampaikan pesan dan fungsi berkomunikasi dalam ber¬bagai cara. Chomsky menyatakan bahwa meskipun orang me¬miliki kompetensi kebahasaan yang masih terbatas, setiap kali orang dapat membuat novel sentences, yakni kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuatnya sebelumnya. Meskipun teori Chomsky mengacu pada kemampuan (baca: kompetensi) pada sistem internal bahasa, pendapatnya bisa dianalogkan dalam fungsi pragmatik. Di kala seseorang belajar bahasa kedua atau bahasa asing, ia juga harus belajar cara berbahasa yang benar (appro¬priate), sesuai dengan konteks situasi terkait. Sebagai misal, dalam hal permintaan “mempersilahkan atau meminta duduk”, orang perlu mempertim¬bangkan konteks yang sesuai. Orang dapat mengata¬kan: “Sit down” yang bersifat langsung dalam situasi infor¬mal. Dapat juga dipakai “Would you sit down, please?” yang ber¬sifat langsung dengan sikap hormat dalam situasi informal. Alternatif lain adalah: “Would you mind sitting down?” yang ber¬sifat tidak langsung dan bernada gusar dalam situasi informal. Adapun “Would you please be seated” dipakai untuk menunjukkan sikap hormat dalam situasi formal. Jadi tindak tutur pramugari berikut: “Passengers, would you sit down, please!” terasa kurang tepat, karena ia sedang menjalankan tugas formalnya. Contoh tersebut menunjukkan bahwa keragaman pun bisa didapati ketika orang menggunakan bahasa untuk komunikasi, yakni perlu sesuai dengan konteks situasinya. Pilihan diksi dan intonasi juga perlu dipertimbangkan, agar petutur merasa nyaman dan tidak merasa dipaksakan untuk melaksanakan permintaan duduk itu. Dengan kata lain, adanya keragaman tersebut berkait dengan sikap mema¬tuhi prinsip sopan santun, yang mencerminkan iktikad manusia untuk saling menghargai ketika melakukan kegiatan kerjasama saat bertindak tutur itu.
Pada dasarnya manusia memang berkehendak untuk saling meng¬hargai dan dihargai, untuk saling menghormati dan dihormati. Ini merupakan suatu aspek universal, karena sebagai makhluk sosial, pada dasarnya manusia berkehendak untuk hidup dalam kondisi nyaman dan sedikit mungkin mengalami konflik ketika berhu¬bung¬an dengan sesamanya. Konflik itu seharusnya memang dihindari. Sungguh patut disayangkan saat masyarakat Indonesia melihat wakil-wakilnya bersitegang dalam mempertahankan kebenaran masing-masing, tanpa menghiraukan norma dan etika berbahasa dengan santun dalam situasi formal di Sidang Dewan Perwakilan Rakyat – salah satu lembaga tinggi negara. Mungkin kemampuan bersopan santun dan iktikad baik untuk mengedepankan kepen¬ting¬an rakyat perlu dijadikan kriteria tambahan pada fit and proper test yang wajib diikuti calon anggota saat masyarakat mempertim¬bang¬kan mereka untuk dipilih menjadi anggota Dewan di kemudian hari. Sesungguhnya negara ini memerlukan wakil rakyat yang mampu menggunakan bahasa dengan santun dalam komunikasinya dan dalam memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara seba¬gai¬mana dicontohkan oleh para pendiri negara pada saat menjelang dan awal kemerdekaan negara kita.
Para hadirin yang saya hormati,
Oleh karena bahasa memiliki sistemnya sendiri-sendiri, masing-masing memiliki prinsip sopan santun yang bisa berbeda dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Lado (1957: 112)) menyatakan bahwa orang dapat mengembangkan kajian bahasa dari aspek budaya, dengan mencermati bentuk, makna dan distribusi budayanya. Hal ini berlaku pula untuk prinsip sopan santun. Peristiwa tutur yang sama dapat memiliki bentuk tindak tutur berbeda pada bahasa yang berbeda, oleh perbedaan norma dan etika pada masing-masing budayanya. Dalam budaya Indonesia, misalnya, orang tua atau yang dituakan atau yang memiliki posisi superordinat biasanya disapa dengan “bapak” atau “ibu” untuk menunjukkan hormat, seperti pada tindak tutur mahasiswa berikut: “Bapak ada waktu? Saya mau konsultasi.” Pada budaya Inggris, sapaan seperti “Mr Miller” dan “Ms. Miller” biasanya dipakai pada situasi formal, atau apabila penutur dan petutur baru berkenalan. Setelah saling kenal, biasanya orang cukup memanggil nama panggilannya saja. Maha¬siswa pun dapat menyapa gurunya dengan “Do you have time, Bill? I need to consult with you.” Jika ia kemudian menyapa gurunya itu dengan “Mr. Miller, I need to see you.” orang akan menginter¬pretasikan bahwa ia sedang gusar atau mengambil jarak dengan Mr. Bill Miller. Perbedaan ini dapat menjadi masalah bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di negara berbahasa ibu bahasa Inggris, karena ia terbiasa menggunakan sapaan dengan bentuk hormat, dan menganggap sapaan dengan nama panggilan bisa mengurangi derajat hormat yang hendak dikomunikasikannya. Demikian pula, anak pun dapat menyapa orang tuanya dengan nama panggilan “Jack” dan “Jill” saja sebagai tanda keakraban di antara mereka. Sementara itu anak dalam budaya Jawa tidak diperbolehkan menyapa dengan sebutan nama orang tuanya karena dianggap tabu. Uraian pada bagian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kelaziman dalam prinsip sopan santun pada bahasa terkait biasanya diperlukan dalam komunikasi antar budaya.
Ketika baru memasuki komunikasi antar budaya, orang pada umum¬nya memiliki monocular vision (Fishman, 1976) atau wawas¬an monokuler, yang membuatnya berpandangan sempit, ter¬kung¬kung oleh budaya dalam bahasa yang dikuasainya. Fantini (1997: 5) menjelaskan bahwa dalam komunikasi antar budaya diperlukan pergeseran dari perspektif emik ke perspektif etik. Pada perspektif emik, orang melihat aspek budaya dari dalam kelompok tuturya, sedangkan pada perspektif etik, ia melihatnya sebagai orang luar yang memahami aspek budaya itu. Dengan kata lain, orang perlu memahami kedua konteks budaya terkait ketika ia melakukan komunikasi antar budaya, sehingga ia mampu bertindaktutur yang berterima dalam masing-masing budaya itu. Hal ini memerlukan suatu proses penyesuaian diri yang memakan waktu dan perlu didukung dengan pengalaman dalam konteks budaya terkait.
Pada akhir penggalan ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa dalam lingkup pragmatik telah membuka jendela wawasan kita bahwa bahasa merupakan tindak tutur yang terkait dengan berbagai aspek yang saling terkait, baik yang bersifat eksplisit mau pun implisit. Dengan kemampuan berbahasa yang baik, orang dapat menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial berdasarkan prinsip sopan santun yang berterima ketika berkomunikasi. Di situ manusia diharapkan dapat saling menghargai dan dihargai, saling meng¬hormati dan dihormati, sehingga tercipta hubungan interpersonal dan sosial yang sejuk dan nyaman.

4.    IMPLIKASI BAGI PENINGKATAN KUALITAS GENERASI MUDA

Para hadirin yang saya hormati,

Dengan kondisi dan sikap politik kebahasaan yang saya kemukakan pada awal sajian ini, marilah sekarang kita mengamati implikasinya bagi peningkatan kualitas generasi muda di Indonesia. Relevansi topik bahasan ini dengan penyiapan generasi muda itu adalah karena orang perlu mampu berbahasa dengan baik untuk dapat memposisikan dirinya dalam masyarakat Seseorang dapat meraih bargaining position yang tangguh jika ia mampu berkomunikasi dalam argumentasi yang berterima dan nyaman didengar. Generasi muda yang berkualitas unggulan merupakan aset bangsa yang potensial, yang akan dapat mengharumkan nama dan bangsa dalam percaturan dunia di masa mendatang. Namun sebelumnya perlu kita sadari bersama bahwa upaya dan tanggung jawab untuk memikirkan peningkatan kualitas generasi muda sebenarnya bukan merupakan monopoli para pendidik saja, melainkan merupakan tugas dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat luas, termasuk diri yang bersangkutan pula. Anak muda perlu dipersiapkan untuk mampu berkiprah dalam proses pendidikan seumur hidup sejak dini.

Telah disebutkan bahwa anak Indonesia wajib mengembangkan kemampuan dwi-/multibahasawan. Setelah menguasai bahasa daerah yang menjadi bahasa ibunya, ia masih perlu belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, dan kemudian bahasa Inggris sebagai bahasa asing pertama dan utama di negara kita. Kecuali di wilayah tertentu di mana bahasa Indonesia dipergunakan dalam keluarga, pembelajaran bahasa Indonesia biasanya berawal di kelas formal di Sekolah Dasar. Dalam hal ini, pada umumnya ia men¬dapat banyak pajakan dari penggunaan bahasa resmi itu di masya¬rakat, yakni di sekolah, di kantor, di media cetak dan di medium layar kaca. Lingkungan kebahasaan tersebut sangat mendukung pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam konteks kebahasaan di Indonesia, penguasaan bahasa ibu pada anak tidak akan banyak menimbulkan interferensi karena bahasa daerah sebagai bahasa ibu dipergunakan secara terbatas dalam masyarakat tuturnya. Pada umumnya penggunaan bahasa daerah dipakai dalam kegiatan informal pada tradisi lisan sehari-hari khususnya di pedesaan, di samping pada upacara sosial budaya yang dianggap sakral, dan kosakata budayanya mengandung nilai-nilai yang acapkali tidak tersampaikan dalam bahasa lain. Dalam hal pembelajaran bahasa kedua itu, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di negara kita sungguh diuntungkan. Biasanya anak langsung belajar bahasa lisan dan tulis dengan didukung oleh lingkungan kebaha¬saan yang cukup memadai, di dalam dan di luar kelas.

Setelah belajar bahasa Indonesia, anak Indonesia dituntut pula untuk belajar bahasa Inggris di bangku pendidikan formal. Oleh karena bahasa Inggris merupakan bahasa asing di negara kita, lingkungan penggunaan bahasa Inggris didapati secara terbatas di sebagian besar wilayah Indonesia, kecuali di tempat-tempat yang menjadi pertemuan berbagai bangsa (seperti di kota-kota perda¬gang¬an atau tempat tujuan wisata). Di sini bisa diharapkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris akan mendapat interferensi dari bahasa yang telah dikenal anak sebelumnya, khususnya dari bahasa Indonesia. Tantangan dalam pembelajaran tersebut semakin besar karena sistem bahasa pada bahasa Indonesia sangat berbeda dari bahasa Inggris. Bahasa Indonesia termasuk bahasa aglutinatif, sementara bahasa Inggris termasuk tipologi bahasa infleksi. Bahasa Indonesia memiliki konsistensi pada hubungan bentuk lisan dan tulisnya, sementara bahasa Inggris memiliki variasi dalam hal itu. Tantangan lain adalah dari perspektif budaya, karena bahasa Indonesia dipayungi oleh budaya bangsa Timur, sementara bahasa Inggris oleh budaya bangsa Barat. Pembelajaran bahasa yang berujung pada kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris tersebut, perlu pula didukung oleh pemahaman tentang konteks situasinya, baik yang berada pada dimensi personal, sosial mau pun dimensi budayanya.

Selagi pembelajar masih berada pada masa linguistik (biasanya hingga usia 11 tahun), belajar bahasa masih relatif mudah karena pengembangan bahasa (language development) terjadi seiring dengan pengembangan kemampuan kognitifnya (cognitive develop¬ment). Menurut Chomsky, pembelajar perlu meningkatkan kom¬petensi kebahasaannya, agar ia mampu melakukan performansi sesuai dengan tingkat kompetensinya. Kompetensi kebahasaan yang dimaksud Chomsky mengacu pada kaidah-kaidah kebahasaan yang perlu dipahami dan dikuasai pembelajar. Ini perlu didukung dengan latihan-latihan yang memungkinkan pembelajar mampu menggunakan kaidah-kaidah tersebut dalam kalimat dan teks secara baik. Namun belajar bahasa tidak lah berhenti pada ke¬mampu¬an menggunakan kaidah-kaidah saja. Teori belajar bahasa kedua (atau bahasa asing) dewasa ini menunjukkan bahwa muara pembelajaran berada pada dua tahapan. Tahapan pertama bermuara pada tingkat rule-governed behaviour (tindak bahasa yang ber¬orientasi pada pemahaman dan penggunaan kaidah-kaidah bahasa), sedangkan tahapan kedua pada penggunaan bahasa untuk keperluan komunikasi (Harmer, 1998: 40-41). Jika tahapan pertama berorien¬tasi pada tingkat ketepatan (accuracy), tahapan kedua  berorientasi pada keberterimaannya (appropriateness). Pada tahapan kedua, pembelajar perlu diarahkan agar membentuk kemampuan komuni¬katif dalam bahasa yang dipelajarinya. Canale (dalam Richards & Schmidt, 1983 6-10) menyebutkan bahwa kemampuan komunikatif tersebut terbentuk dari empat kompetensi, yakni a) kompetensi gramatikal yang berkait dengan penguasaan sistem bahasa, meliputi pilihan kosakata, pembentukan kata, penyusunan kalimat dan pemahaman makna kalimat; b) kompetensi sosiolinguistik, yang berkait dengan pemahaman dan penyusunan ujaran dalam konteks situasi yang relevan; c) kompetensi kewacanaan, yang berkait dengan pemahaman dan pembentukan wacana, serta d) kompetensi strategis yang berkait dengan strategi berkomunikasi yang efektif. Selanjutnya Fantini (dalam Fantini (ed.) 1997: 3-20) menyebutkan masih diperlukannya kompetensi komunikasi interkultural yang berkait dengan kemampuan bertindak tutur yang berterima dalam menghadapi budaya asing. Dalam belajar bahasa itu, pembelajar acapkali memerlukan waktu yang cukup lama agar ia dapat mem¬biasakan diri untuk menerapkan berbagai fungsi bahasa dengan benar ketika berkomunikasi. Dengan kata lain, ia acapkali baru memiliki kompetensi komunikatif setelah ia membiasakan dirinya menggunakan bahasa tersebut dalam konteks sosial-budayanya. Keadaan ini menyiratkan bahwa dalam pembelajaran bahasa-setelah-bahasa-ibu, pembelajar biasanya meningkatkan kemampu¬an kognitifnya dan baru lah kemudian mengembangkan kemampu¬an komunikatifnya. Kondisi ini berlawanan dengan yang dia alami ketika belajar bahasa ibu. Seperti telah diuraikan, dalam peme¬rolehan bahasa ibu, anak mengembangkan kemampuan komuni¬katifnya yang kemudian dipakai untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya.

Telah disebutkan bahwa dalam belajar bahasa, seorang pembelajar perlu mendapat dukungan dari lingkungan kebahasaannya, agar setelah memahami kaidah-kaidah kebahasaan, ia mampu meng¬gunakan bahasa yang dipelajarinya itu. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam konteks pembelajaran bahasa asing di Indonesia, lingkungan yang mendukung peningkatan kemampuan berbahasa itu pada umumnya terbatas pada lingkungan mikro, lingkungan dalam kelas formal. Waktu dan kesempatan berlatih dalam ling¬kungan mikro itu pun terbatas. Kajian Samiati & Kustiati (1998) dalam hal pembelajaran bahasa Inggris menunjukkan beberapa kendala budaya dan kontekstual berikut: a) sebagian besar maha¬siswa belum mencapai bahasa Inggris tingkat Intermediate ketika mereka masuk ke Perguruan Tinggi; b) kelas bahasa biasanya ter¬lalu besar untuk memberi kesempatan berlatih yang memadai bagi pembelajar; c) motivasi pembelajar yang tinggi dalam waktu singkat akan menurun jika ia menganggap bahwa belajar bahasa Inggris itu sulit; d) pembelajar biasanya segan untuk menyam¬pai¬kan masalah belajarnya, dan e) pembelajar pada umumnya masih bergantung pada guru dalam kegiatan belajarnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, kiranya perlu diupayakan untuk mengubah strategi pembelajaran dari yang bersifat teacher-centred menjadi learner-centred. (Sheerin, 1989: 3-4). Pembelajar perlu diberdayakan agar ia termotivasi untuk belajar bahasa Inggris secara mandiri dan supaya motivasi belajarnya tetap terpelihara. Apabila ia menjadi seorang autonomous learner, maka ia akan merasa bertanggungjawab terhadap keberhasilan belajarnya. Ellis dan Sinclair (1989) menyarankan agar pembelajar diberi pemaham¬an dan pelatihan tentang “learning how to learn”. Selanjutnya diharapkan agar ia berupaya untuk mencari kesempatan dalam meng¬gunakan berbagai sumber belajar, yang memungkinkannya untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya di luar kelas formal. Dalam hal ini beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia telah menyediakan fasilitas belajar mandiri yang lazim dikenal dengan Self-Access Center (disingkat SAC), Independent Learning Center (ILC), Self-Learning Center (SLC) atau Self-Access Learning Center (SALC). Apa pun istilahnya, pada umum¬nya pusat belajar itu menyediakan berbagai peralatan dan sumber belajar – baik yang berbentuk materi pedagogik untuk meningkat¬kan tindak tutur rule-governed dengan rancangan khusus sesuai tingkat kompetensi pembelajar, mau pun materi otentik, untuk mengembangkan komunikasi dalam berbahasa. Materi tersebut bisa langsung diakses pembelajar, sehingga ia dapat menggunakannya pada waktu luang, sesuai dengan minat dan kebutuhannya (Sheerin, 1989; Gardner & Miller, 1999). Kegiatan di SAC dan ILC di UNS bahkan telah dimasukkan sebagai bagian kegiatan kurikuler.

Berkaitan dengan temuan Samiati dan Kustiati tersebut di atas, kiranya diperlukan suatu sistem manajemen di pusat belajar man¬diri itu, utamanya untuk melatih dan memonitor kegiatan belajar mahasiswa. Samiati (2005) menyarankan agar pembelajar men¬dapat orientasi tentang fasilitas dan sumber belajar yang tersedia. Demikian pula diperlukan pelatihan agar pembelajar mampu me¬manfaatkan fasilitas dan sumber belajar itu dengan benar, membuat analisis kebutuhan belajarnya, merancang kegiatan belajarnya, dan melaporkan kemajuan belajarnya. Ia bisa belajar sendiri, secara ber¬pasangan, atau dalam kelompok. Ia bisa berangkat dari suatu ketergantungan pada petugas SAC, namun lambat laun diharapkan mampu melaksanakan kegiatan belajar atas prakarsa sendiri, yang lazim dikenal dengan Self-Directed Learning atau yang lazim disebut SDL (Harmer, 1998: 36-37).

SDL merupakan salah satu strategi belajar dalam lingkup belajar mandiri (individualized instruction) dan bertujuan untuk memper¬siapkan pembelajar menjadi anggota masyarakat yang berkualitas. Belajar mandiri sesungguhnya merupakan bagian dari proses pen¬di¬dikan seumur hidup, karena pembelajar dilatih untuk merancang sendiri kebutuhan belajarnya, memonitor kemajuan belajarnya, dan mengatasi permasalahan belajarnya. Dengan kata lain, pembelajar dilatih untuk mampu bertanggungjawab terhadap keberhasilan belajar¬nya sebagai bagian dari proses pemberdayaan warga masya¬rakat. SDL dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan kemampuan kebahasaan, yang selanjutnya dapat dipakai pula untuk mendukung kegiatan belajar dalam bidang ilmu relevan dengan kebutuhan pembelajar. Bukankah proses pembelajaran di lembaga pendidikan pada hakekatnya merupakan wadah sementara dalam pembentukan warga masyarakat yang bertanggung jawab?

Hadirin yang saya hormati,

Pada umumnya orang beranggapan bahwa belajar bahasa itu tidak perlu mendapat perhatian khusus, mengingat seorang anak kecil pun dapat belajar bahasa ibunya tanpa bimbingan guru. Seperti dikemukakan dalam bahasan ini, bahasa memiliki struktur kompo¬nen kebahasaan yang terpola sehingga orang memang dapat mem¬pelajari pola-pola struktural tersebut. Namun penggunaan bahasa untuk komunikasi melibatkan pencermatan terhadap berbagai aspek pragmatis yang berada pada tataran internal dan eksternal ke¬bahasaan, baik yang eksplisit maupun implisit. Dengan wawasan pragmatis, orang perlu memahami berbagai fungsi komunikasi ketika berkomunikasi dalam bahasa. Ia diharapkan mematuhi prinsip sopan santun yang berterima dalam masyarakat tutur terkait. Pada umumnya semua itu tidak selalu bisa dikuasai secara instan dalam waktu singkat lebih-lebih jika melibatkan komunikasi antar budaya.

Dewasa ini dunia ditandai dengan globalisasi dan kemajuan tek¬nologi yang pesat, sehingga tuntutan kehidupan menjadi semakin kompleks. Orang perlu bergiat dalam mengakses informasi, yang antara lain disajikan dalam bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasional. Untuk memperoleh kesempatan belajar atau kesempatan bekerja yang lebih berkualitas, acapkali orang dituntut untuk bisa mengemukakan gagasannya atau membuat argumentasi dalam wawancara atau karya tulis. Acapkali diperlukan pula kemampuan berbahasa yang baik pada berbagai situasi formal, seperti dalam rapat dinas, dalam pertemuan ilmiah dan dalam berbagai kegiatan lokakarya dan seminar lain. Lapangan pekerjaan pada tingkat manajerial di masa mendatang lambat laun hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kemampuan prima. Karena itu dunia pendidikan perlu memberi kesempatan luas agar pembelajar dapat mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin, sehingga ia mampu bersaing untuk dapat masuk ke dunia tersebut setelah menyelesaikan pendi¬dikan formalnya. Kiranya tiadalah berlebihan bila saya tutup sajian pada penggalan ini dengan pendapat berikut. Hanya mereka yang berkualitas unggulan, yang memiliki wawasan dan kecakapan dalam bidang ilmunya dan yang mampu berkomunikasi dengan baik dalam penggunaan bahasanya, yang bisa masuk dalam per¬caturan kegiatan dunia di masa mendatang.

5.    PENUTUP

Para hadirin yang saya hormati,

Tibalah saya pada akhir bagian sajian ini. Ada pepatah mengata¬kan:”bahasa menunjukkan bangsa”. Ketika seseorang mengguna¬kan bahasanya, acapkali orang lain dapat menduga ikhwal kebang¬saan atau identitas kelompok dari masyarakat tuturnya. Telah di¬kemukakan bahwa hal itu dimungkinkan karena penutur itu ber¬tumbuhkembang dan dibentuk oleh bahasa sebagai bagian dari budaya masyarakatnya. Berbagai fenomena kebahasaan meliputi unsur linguistik (yakni bunyi, leksikon dan unsur gramatikal), unsur para¬linguistik (seperti kecepatan, ekspresi wajah dan gerak tangan), unsur non-linguistik (seperti kondisi psikologis atau fisik penutur) dan lingkup budayanya akan muncul saling berkaitan ketika bahasa dipergunakan dalam berkomunikasi. Ketika terjadi realisasi peng¬gunaan bahasa dalam komunikasi tersebut, keter¬kaitan antara bahasa, tindakan dan latar pengetahuan penutur tidak dapat dipisah¬kan. Kita mengenal orang Jepang sebagai bangsa yang berperilaku selalu serius dan taat azas. Dengan sudut pandang dan karakteristik tersebut dan kebanggaan berbangsa di atas segalanya, bangsa Jepang telah berhasil mengangkat harga dirinya menjadi salah satu bangsa besar yang dihargai dan perlu diperhitungkan dalam per¬caturan dunia dewasa ini. Bahasa Jepang pun telah banyak diper¬gunakan di tingkat global.

Sementara itu bangsa Indonesia sesungguhnya telah memiliki nama besar dalam percaturan dunia sejak zaman dahulu. Telah saya sebut¬kan bahwa bangsa Indonesia pada dasarnya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan menjunjung prinsip gotong-royong dalam bermasyarakat dan bernegara – suatu prinsip atas dasar saling meng¬hargai, saling menghormati dan saling membantu. Haryanto (2005: 22, 29) menyebutkan adanya local wisdom dan dua sistem nilai dalam masyarakat Jawa, yakni nilai rukun dan nilai hormat. Nilai-nilai dan prinsip tersebut pada hakekatnya telah tercermin dalam etika berbahasa dan menjadi akar budaya bangsa Indonesia yang bernas sejak zaman dahulu. Kini setelah sekitar enam dasa¬warsa merdeka, pembangunan memang telah membawa hasil, namun kesenjangan dalam masyarakat semakin meluas. Tampak¬nya akar budaya bangsa sudah banyak yang bergeser. Konsume¬risme, korupsi, pemaksaan kehendak dan terorisme menjadi feno¬mena umum yang sungguh merisaukan Penjarahan kekayaan negara di berbagai sektor terjadi dengan fantastis. Kemajuan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian dari mayoritas masyarakat Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Kondisi tersebut sama sekali bukan cerminan dari keinginan kita ketika cita-cita untuk menegak¬kan negara dan bangsa Indonesia didengungkan pada awal kemer¬dekaan. Banyak di antaranya muncul sebagai dampak langsung atau tidak langsung dari keputusan yang dibuat di lembaga tinggi negara dan tindakan perorangan yang lebih mementingkan kepen¬tingan pribadi dan golongan di atas kepentingan bangsa dalam perjalanan sejarah Indonesia. Norma dan etika dalam sopan santun berbahasa pun acapkali terabaikan. Rasa nasionalisme yang di¬contoh¬kan oleh pendiri negara Indonesia di masa lalu tampaknya sudah jauh memudar. Alhasil, pada saat ini bangsa Indonesia masih jauh tertinggal dari tingkat kemajuan dan kesejahteraan yang diharapkan.

Saya perlu menambahkan, saya sungguh merasa bersyukur dan bangga bahwa kondisi budaya yang menghargai norma dan etika sopan santun berbahasa dan akar budaya bangsa seperti dicontoh¬kan para pendiri negara Indonesia pada umumnya masih tetap dipertahankan di dunia pendidikan tinggi di negara kita. Banyak di antara para pendidik tetap beriktikad untuk memajukan bangsa ini di tengah kegalauan dan kesempitan dalam gerak langkahnya. Namun tampaknya memang masih perlu dilakukan refleksi diri dan pembenahan di berbagai sektor untuk mengurai benang-benang kusut dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat Indonesia – termasuk para akademisi – masih perlu mengembang¬kan sikap dan keberanian bertindak dalam menata ulang kesadaran berbangsa di negara kita. Masyarakat luas pun perlu turut mem¬berikan andil agar generasi muda dapat bertumbuhkembang men¬jadi aset bangsa yang berkualitas – termasuk dalam hal kemampuan berbahasanya – sehingga mampu berkiprah dalam menegakkan  kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin cerah di kemu¬dian hari. Adalah menjadi harapan kita semua agar bangsa Indo¬nesia dapat menjadi bangsa yang besar, maju dan sejahtera, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang mapan di dunia.

UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya muliakan,

Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya sekali lagi menyampaikan rasa syukur ke hadirat Tuhan atas segala tuntunan dan karuniaNya, sehingga saya mendapat kepercayaan untuk memangku jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra dan Seni Rupa di Universitas Sebelas Maret.

Ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada semua pihak yang secara langsung mau pun tidak langsung telah me¬nyetujui, memberi kesempatan, mengarahkan, membantu dan men¬dukung saya dalam proses pengajuan jabatan guru besar sehingga saya dapat berdiri di mimbar kehormatan ini.

Secara khusus, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar;
Rektor Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. dr. H. Much. Syamsulhadi Sp. KJ., selaku Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. dr. H. Aris Sudyanto, Sp. KJ. selaku Sekretaris Senat, Prof. Dr. Sunardi M.Sc. selaku mantan Sekretaris Senat, dan segenap anggota Senat Universitas, yang telah menyetujui dan mengusulkan saya untuk menduduki jabatan Guru Besar;
Pembantu Rektor II Prof. Dr. Ir, Sholahuddin, MS., Kepala Biro Administrasi dan Keuangan Universitas Sebelas Maret, Ibu Dra. Karpini BS, demikian pula Prof. Drs. Sukiyo, Prof. Drs. Anton Sukarno, MPd., Prof. Dra. Warkitri, Prof. Dr. Sri Yutmini, MPd. dan mereka yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah mendorong dan mendukung saya dalam proses pengajuan usulan saya untuk memangku jabatan Guru Besar. Sesungguhnya, tanpa dukungan mereka, saya mungkin belum sampai pada muara untuk memangku jabatan terhormat, namun mengandung tugas dan tanggung jawab berat ini.
Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, Dr. Maryono Dwiraharjo, SU. selaku Ketua Senat Fakultas dan segenap anggota Senat Fakultas Sastra dan Seni Rupa, yang telah meyetujui dan meneruskan usulan ke jabatan Guru Besar.
Ketua dan Sekretaris Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Seni Rupa dan segenap teman sejawat di Jurusan, yang telah memotivasi dan mendukung saya untuk mengusulkan diri, me¬mangku jabatan Guru Besar.

Secara khusus pula, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
semua guru saya, yang telah memberi landasan pendidikan dasar dan lanjutan dengan penuh dedikasi, baik di Sekolah Dasar YMCA Surabaya, di Sekolah Menengah Pertama St. Theresia Surabaya, di Sekolah Menengah Atas V Surabaya mau pun di Sekolah Menengah Atas Negeri Mataram, utamanya Zr. Adel¬gondis, yang menumbuhkan cinta saya kepada profesi guru bahasa Inggris;
para dosen dan pembimbing saya, khususnya Prof. Dr. Samsuri, Prof. Dr. E.A. Sadtono, Dr. Subandi Djayengwasito,    Prof. M.F. Baradja, Dr. Zaini Machmoed, Prof. Dr. Nurul Huda (alm.), dan Prof. Dr. Soeseno Kartomihardjo (alm.) yang telah membimbing dan memberi wawasan keilmuan kepada saya, sejak saya menempuh studi di tingkat sarjana muda, tingkat sarjana, dan program studi Doktor di IKIP Malang hingga saya meraih gel

SUMBANGAN FILOLOGI DALAM PENYUSUNAN STRATEGI KEBUDAYAAN INDONESIA

Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum.

Bismillahir rahmaanir rahiim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua
Yang terhormat.:
1.    Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret.
2.    Para Pejabat Pemerintah, baik sipil maupun  militer
3.    Para Ketua Lembaga, Kepala Biro, dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret.
4.    Para Dekan, Pembantu Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Labo¬ra¬¬¬torium, Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha, dan Kasubbag di lingkungan Universitas Sebelas Maret
5.    Para Dosen, Mahasiswa, serta Civitas Akademika  Univer¬sitas Sebelas Maret
6.    Para Tamu Undangan, Sanak Keluarga, dan handai taulan
7.    Para wartawan, baik cetak maupun elektronik, yang meliput acara ini.

Marilah kita bersama-sama senatiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah memberi kita karunia yang tak terbilang.
Pada awal Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka, Universitas Sebelas Maret ini, izinkahlah saya mengung¬kapkan rasa syukur dan kegembiraan hati dengan cara memanjat¬kan puji syukur ke hadirat Allah dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional yang telah menghargai jerih payah, prestasi, dan potensi diri saya yang sejak 1 April 2006 telah mengangkat saya sebagai guru besar Filologi di Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, secara loncat jabatan.
Selanjutnya, dalam rangka memenuhi tradisi akademik yang mulia lagi terpuji, dalam pidato pengukuhan guru besar ini, saya akan menyampaikan sumbangan pemikiran dan pandangan akade¬mik saya yang berjudul ”SUMBANGAN FILOLOGI  DALAM PENYUSUNAN STRATEGI KEBUDAYAAN INDO¬NESIA”.

1.  Pengertian Filologi
Di antara para hadirin tentu ada yang menyeruak pertanyaan dari dalam hati sanubari: ”Apakah gerangan yang dimaksud Filologi itu?” Filologi adalah cabang ilmu budaya berupa disiplin ilmu yang berorientasi pada naskah-naskah klasik. Sebagai disiplin ilmu, Filologi merupakan ilmu yang cukup tua. Setidaknya pada abad ke-3 sebelum Masehi, ilmu ini sudah berkembang di Iskandariyah, Yunani Kuna.
Secara etimologis, filologi dari bahasa Latin philos dan logos. Philos berarti cinta  dan logos berarti kata. Filologi berarti “cinta kata”. Sebagai disiplin ilmu, ciri khas Filologi memang selalu berkutat pada hal-hal yang berkaitan dengan kata dan makna¬¬nya. Karena kata yang tersusun menjadi teks mengandung aneka pengetahuan yang luas, maka dewasa ini pengertian filologi di ber¬bagai tempat di dunia sering berbeda-beda (Sudardi, 2003: 5-6).
Di Indonesia filologi diartikan sebagai disiplin ilmu pengeta¬huan yang mempelajari kebudayaan masa lalu suatu bangsa melalui teks-teks klasik tertulis. Pengertian ini mirip pengertian yang ber¬kembang di negeri Belanda. Hal ini patut kita pahami karena sebagian perintis kegiatan filologi di Indonesia adalah orang-orang Belanda.
Kegiatan filologi berawal di Iskandariyah. Pusat kegiatan filologi tersebut berada di museum yang waktu itu merupakan tempat sakral. Museum berarti kuil untuk Dewi Muses. Menurut mitologi Yunani, Dewi Muses merupakan dewi kesenian dan ilmu pengetahuan (Reynold dan Wilson, 1968: 6). Pada masa itu, di Museum Iskan¬dariyah, terdapat kegiatan pengkajian terhadap naskah-naskah klasik. Salah satu tokoh yang disegani di Museum adalah Eratosthenes (295-214 sebelum Masehi). Ia banyak memiliki ilmu pengetahuan dan dikenal sebagai ahli sastra. Perpustakaan di Museum yang dikelolanya diperkirakan menyimpan 200 sampai 490 naskah. Kegiatan Filologi di tempat itu ialah menyimpan, mengoreksi, mengkopi, dan menyelamat¬kan naskah-naskah kuna. Berkat jasa Eratosthenes dan kawan-kawannya, teks-teks klasik Yunani Kuna dapat ditemukan sampai sekarang dalam keadaan yang baik  (Reynold dan Wilson, 1968: 7-8).
Kegiatan Filologi pada saat itu mencakup semua bidang studi sehingga dapat dianggap sebagai studi kebudayaan secara umum karena yang dikaji adalah berbagai ilmu pengetahuan. Ahli Filologi di masa Yunani ini benar-benar sebagai ilmuwan yang mumpuni karena mengetahui hampir semua pengetahuan pada masanya.

2.  Objek Penelitian Filologi
Telah diuraikan bahwa filologi mempelajari kebudayaan masa lalu melalui teks-teks tertulis. Teks-teks tertulis di atas suatu bahan yang disebut naskah. Jadi, objek penelitian filologi adalah teks dari masa lalu yang tertulis di atas naskah yang mengandung nilai budaya.
Di dalam filologi dengan jelas dibedakan pengertian teks dan naskah. Teks adalah sesuatu yang tertulis yang berupa kode-kode bahasa. Teks dapat berupa teks lisan, teks tertulis, teks rekaman, dan sebagainya.Naskah adalah benda material tempat suatu teks dituliskan.
Filologi dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu budaya tentang masa lalu seperti paleografi, arkeologi, dan sejarah. Hanya saja di sini tampak perbedaan objek kajian. Paleografi mengkhususkan pada kajian tentang tulisan-tulisan kuna. Arkeologi meneliti benda-benda budaya dari masa lampau, sementara sejarah meneliti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Filologi meneliti teks-teks masa lampau yang tertulis di atas naskah. Hal ini karena ada juga teks-teks masa lampau yang tidak tertulis di atas naskah, melainkan tertulis di media lain seperti prasasti yang tertulis di atas batu dan teks-teks lisan. Pengkhususan objek kajian pada teks-teks klasik tertulis dimaksudkan untuk membatasi lingkungan kerja agar beban yang disandang tidak terlalu berat dan kajian yang dilakukan dapat dikerjakan secara mendalam.
Perlu disadari bahwa untuk memahami teks-teks klasik, pem¬baca harus menghadapi beberapa kendala seperti jenis tulisan yang sudah tidak digunakan, bahasa yang mempunyai langgam berbeda, makna kata yang berubah, dan perubahan nilai-nilai budaya. Sebagai misal, kata ”cinta” yang dewasa ini bermakna ’suka sekali, sayang benar’,  di dalam bahasa Melayu klasik kata ’cinta’ bermakna susah hati atau risau” (Alwi dkk., 2001: 215). Kata ”ranjau” yang sekarang berkonotasi dengan peledak dalam peperangan modern, dalam bahasa Melayu klasik bermakna sebagai ’pancang bambu atau besi untuk menjebak musuh atau binatang, (Alwi dkk, 2001: 931).

3.  Tujuan Filologi
Sebagai suatu kegiatan filologi mempunyai tujuan tertentu di dalam bekerja. Secara garis besar tujuan filologi ialah memahami suatu kebudayaan masa lalu melalui teks tertulis (naskah). Filologi juga mempunyai tujuan khusus, yakni mendeskripsikan dan menya¬jikan suatu teks tertulis di dalam naskah dalam wujud yang paling tepat. Filologi mempunyai tugas untuk menjabarkan ide-ide, gagasan, peristiwa, dan pandangan hidup. Filologi berusaha mema¬hami sejauh mungkin kebudayaan masa lalu suatu bangsa melalui hasil sastranya (Baried dkk., 1985:5). Pengertian sastra di sini dalam arti yang luas berupa penyajian ilmu pengetahuan melalui bahasa (tekstual) yang di dalamnya berisi berbagai infor¬masi masa lalu seperti pandangan hidup, sastra, bahasa, sejarah, seni, religi, kepercayaan, adat istiadat, pengobatan, dan sebagainya. Atau dengan kata lain, konsep sastra di sini mencakup segala sesuatu yang menggunakan bahasa dengan cara yang kreatif (Hussein, 1974: 12). Untuk mencapai tujuan tersebut, Filologi beru¬saha menyajikan teks (menyunting) setepat mungkin dengan cara melakukan penelitian secara seksama sesuai dengan dasar-dasar teoretis yang digunakan. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, Filologi juga berkewajiban mengungkap sejarah terjadi¬nya teks dan sejarah perkembangannya serta mengungkapkan resepsi  (tang¬gapan) pembaca pada setiap kurun penerimaan (Baried, 1985: 6).

4.  Relevansi Studi Filologi
Naskah klasik sering sudah tidak dikenal oleh masyarakat¬nya. Untuk membaca dan mengkajinya perlu waktu bersuntuk-suntuk, sementara masyarakat pemiliknya kadangkala sudah tidak memperhatikan lagi. Sebagai contoh, naskah klasik Jawa yang jumlahnya ribuan eksemplar mungkin sudah tidak dikenal lagi oleh generasi muda Jawa dewasa ini, bahkan kemungkinan besar mayo¬ritas generasi muda Jawa tidak memahami dengan baik tulisan Jawa (ha na ca ra ka). Ironisnya, seringkali orang-orang asing yang jauh dari negeri seberang yang lahir dari kebudayaan yang amat berbeda merelakan hidupnya untuk mempelajari naskah-naskah klasik kita, bahkan selanjutnya mereka menjadi guru-guru kita dalam menggali khasanah budaya masa lampau.
Pertanyaan yang mudah sekali muncul: Untuk apa naskah-naskah klasik dipelajari? Mempelajari naskah klasik memiliki relevansi secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, naskah klasik menyimpan berbagai informasi yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan kandungan informasi yang dibawa¬nya seperti sastra, sejarah, pengobatan, adat istiadat, agama, dan sebagainya (Soeratno, 2003). Secara praktis, Filologi juga dapat membantu menyediakan bahan-bahan bagi tujuan praktis seperti menyusun gambaran masa lampau untuk kepentingan per¬satuan, mencari nilai-nilai luhur masa lalu, membangun kebuda¬yaan, mencari inspirasi, dan sebagainya. Beberapa konsep yang sekarang kita kenal betul sebenarnya bersumber dari teks-teks klasik seperti bhineka tunggal ika, Pancasila, nusantara, adigang-adigung adiguna, tirakatan, dan sebagainya. Pengetahuan sejarah Indonesia masa lampau juga kita peroleh dengan agak lengkap berkat naskah-naskah klasik, misalnya tentang petualangan Ken Arok yang fantastis (Pararaton), kebesaran Majapahit (Negara kerta¬gama), masuknya Islam ke Aceh (Hikayat Raja-Raja Pasai),   hubungan Jawa dan Kalimantan (Hikayat Banjar), ajaran Hamzah Fansuri dan Seh Siti Jenar, dan lain-lain. Pada kesempatan ini, akan dipaparkan mengenai urgensi studi filologi dalam rangka me¬nyusun strategi kebudayaan Indonesia.
5.  Strategi Kebudayaan
Strategi kebudayaan adalah suatu usaha manusia untuk menemu¬kan jawaban-jawaban tepat dan sikap yang paling dapat dipertanggungjawabkan mengenai pertanyaan-pertanyaan besar yang berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia (Peursen, 1976: 19). Strategi kebudayaan bersifat abstrak yang menjiwai berbagai aktivitas keseharian. Strategi kebudayaan merupakan suatu hal yang dinamis dengan seiring tantangan-tantangan budaya yang muncul di masyarakat.
Strategi kebudayaan tampak dalam berbagai bentuk hasil budaya. Cerita kancil di Jawa yang dikenal suka menipu lawan-lawannnya adalah cerminan strategi budaya masyarakat Jawa. Cerita tersebut merupakan bentuk sikap budaya orang Jawa yang tidak suka open conflict. Cerita ini berbeda dengan cerita kancil Melayu berjudul Hikayat Pelanduk Jenaka yang di dalamnya kancil tampak dinamis, bahkan bergelar Syah Alim Dirimba yang berhasil merajai hewan-hewan di belantara (Dipodjojo, 1966).
Cerita kancil yang suka menipu merefleksikan strategi kebu¬da¬yaan orang Jawa yang tidak suka konflik terbuka dan tidak ber¬terus terang. Di dalam budaya Jawa, menipu memiliki tingkat-tingkat hirarkis.
a.    Menipu yang mulia yang disebut dora sembada (menipu untuk membela kebaikan dan kebenaran).
b.    Menipu yang dianggap biasa dan dapat membawa kebe¬run¬tungan yang dikenal goroh nguripi. Perbuatan ini adalah per¬buatan pedagang dalam membujuk pembelinya yang juga sering menggunakan kata-kata tipuan.
c.    Menipu untuk menjaga kesopanan yang dikenal ulas-ulas. Misal¬nya sebenarnya lapar, tetapi menyatakan kenyang, me¬nyata¬¬kan nggih (ya), tetapi sebenarnya tidak, dan sebagainya.
d.    Menipu yang tidak merugikan orang lain, tetapi tidak disenangi. Contoh tindakan ini ialah umuk, yaitu menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Umuk merupakan refleksi untuk menutupi kekurangan pribadi seperti tercermin dalam ungkapan ”timbang mati ngantuk luwung mati umuk” (dari¬pada mati mengantuk lebih baik mati sombong.
e.    Menipu yang merugikan orang lain yang disebut apus-apus atau apus krama. Tindakan ini adalah tindakan menipu yang menurut budaya Jawa dianggap perbuatan yang tidak dapat dimaafkan.
Demikian contoh kecil strategi kebudayaan yang diambil dari budaya Jawa. Bagi orang yang belum memahami budaya Jawa, perbuatan ”menipu” seperti itu mungkin dianggap perbuatan yang sangat menjengkelkan, tetapi bagi orang Jawa dianggap sesuatu yang biasa, wajar, bahkan termasuk kesopanan.
Sementara itu, pelanduk (kancil Melayu) yang bergelar Syah Alim Dirimba tidak lain merupakan refleksi strategi budaya Melayu yang condong ke falsafah Islam seperti tercermin dalam pepatah ”adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”. Artinya, adat Melayu berdasarkan pada syariat Islam, sementara syariat bersandar pada Al-Qur’an (Kitabullah). Karena itu, pelan¬duk Melayu fasih pula mensitir ayat-ayat Al-Qur’an.

6.  Strategi Kebudayaan Indonesia
Sebagai ilustrasi, kondisi strategi kebudayaan Indonesia budaya kita dewasa ini tampak belum menemukan format yang mantap. Dewasa ini, kebudayaan kita kehilangan orientasi yang berakibat timbulnya kebingungan di masyarakat. Masyarakat kita dijejali dengan konsep-konsep strategis yang tidak memiliki akar budaya dan menimbulkan interpretasi baru. Beberapa konsep seperti demokrasi, reformasi, otonomi, yang dewasa ini menjadi vital dalam orientasi kebudayaan Indonesia pada hakikatnya tidak betul-betul dipahami karena sebenarnya konsep tersebut berakar pada lingkungan budaya yang berbeda dan latar belakang sejarah yang berlainan. Baik di lapisan atas maupun lapisan bawah, pemahaman konsep-konsep tersebut semakin kabur. Demokrasi akan dimaknai sebagai ”hukum rimba”, yakni yang banyak anggota¬¬nya harus menang dan benar, reformasi berarti boleh melanggar hukum, melanggar norma, merusak tatanan, otonomi diartikan milik negara boleh dijadikan milik pribadi atau golongan.
Bangsa kita dewasa ini juga terjebak dalam paradoks-para¬doks, misalnya kita menolak pornografi dan pornoaksi, tetapi menolak apabila hal tersebut diatur dalam undang-undang. Pemi¬kiran budaya kita juga terjebak pada cara, bukan pada esensi. Yang namanya demokrasi, reformasi, otonomi, HAM (Hak Azasi Manusia), dan konsep-konsep lain dari luar sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi idiil. Di Indonesia cara tersebut hendak¬nya digunakan untuk menuju cita-cita luhur bangsa Indonesia seperti yang terukir indah di dalam PANCASILA. Artinya, apa pun yang kita lakukan hendaknya diarahkan pada tercapainya kondisi idiil dalam Pancasila seperti berketuhanan yang mahaesa, ber¬kemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial”. Sebagai suatu cara, kita boleh memilih alternatif dan tidak menjadikan konsep-konsep asing sebagai ”agama baru” dengan harga mati. Alternatif yang paling sesuai ialah alternatif yang bersumberkan pada nilai-nilai luhur budaya Indonesia sendiri.
Sebagai ilustrasi patut diingat bahwa majelis kekuasaan tertinggi bangsa Indo¬nesia adalah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Sesuai dengan nama¬nya unsur musyawarah hendaknya menjadi semangat. Hal ini sesuai dengan semangat luhur bangsa kita seperti dalam pepatah ”bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”. Untuk bisa men¬capai mufakat, harus terbentuk internalisasi diri atau pengendapan rohaniah seperti terungkap dalam pepatah Jawa ”bisa rumangsa, ora rumangsa bisa” (mampu berintstropeksi dan tidak menonjol¬kan diri”. Capaian mufakat merupakan sesuatu yang sangat bernilai daripada model voting, misalnya, karena mufakat lebih terasa ”nguwongke” (menghargai) dan sangat sesuai dengan prinsip ”kema¬¬nusiaan yang adil dan beradap”. Kemampuan mencapai mufakat merupakan cerminan dari ”kelonggaran hati dan kebesaran jiwa”. Orang yang berpikiran picik dan mementingkan diri sendiri tentu tidak akan mampu membangun esensi kemufakatan, yaitu terbentuknya harmoni baru yang menyejukkan.
Dewasa ini diperlukan kaji ulang mengenai berbagai pelak¬sanaan strategi budaya di segala bidang. Sebagai misal, budaya demokrasi yang pada mulanya diharapkan dapat menyelesaikan masalah bangsa, pada kenyataannya justru menimbulkan masalah baru. Demi demokrasi yang tidak betul-betul dipahami konsepnya oleh bangsa Indonesia, ternyata kita harus membayar mahal. Di samping biaya pesta demokrasi yang mahal dan melelahkan, kadang-kadang demokrasi menimbulkan dampak baru berupa terkotak-kotaknya bangsa ini dalam berbagai kelompok dan muncul¬nya permusuhan di kalangan rakyat. Sementara substansi demokrasi Pancasila yang mengedepankan ”hikmat kebijaksanaan” dan permusyawaratan menjadi semakin jauh dari kehidupan. Dalam kondisi demikian, pemikiran untuk membentuk masyarakat adil makmur akan terabaikan karena energi kita tersedot pada hal-hal yang bukan esensi.
Menurut hemat kami, bila bangsa Indonesia ingin maju dan tidak kehilangan energi untuk hal-hal yang tidak esensial, model strategi kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia perlu dikedepankan. Tampaknya kita perlu belajar dari bangsa Jepang. Tidak disangsikan bahwa dewasa ini Jepang telah mencapai kemajuan yang signifikan, tetapi strategi budaya yang dijalankan tetap berakar pada nilai-nilai asli bangsa tersebut. Sukses Jepang dalam percaturan bisnis global menjadi fenomena menarik untuk dikaji, bukan hanya oleh negara-negara berkem¬bang, melainkan juga oleh negara-negara maju. Bangsa Jepang memiliki kerangka 7 landasan dalam membangun budayanya, yaitu:
a.    kompleksitas bahasa,
b.    homogenistas ras dan budaya,
c.    menjunjung harmoni,
d.    sikap eksklusif,
e.    kuatnya ikatan kelompok
f.    komitmen kesejahteraan, dan
g.    rasa superioritas (Khadiz, 2003: 205).
Perlu pula ditambahkan bahwa negara-negara yang suka meng¬gembar-gemborkan HAM dan demokrasi sekalipun, ternyata juga tidak konsisten memegang teguh prinsip tersebut. Serangan pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat ke Afganistan dan Irak (dua negara berdaulat) adalah contoh nyata tentang hal itu.

7.   Peran Filologi dalam Menyusun Strategi Kebudayaan
Peran Filologi dalam menyusun strategi kebudayaan Indo¬nesia pada dasarnya menyediakan bahan-bahan sebagai sarana refleksi dan instrospeksi. Filologi juga dapat membantu menggali nilai-nilai luhur sebagai bekal menyongsong kehidupan yang lebih baik. Harus disadari bahwa bangsa Indoensia memiliki pengalaman dan sejarah masa lampau yang membentuk karakter. Tidak semua hal dari masa lampau sesuai dan baik untuk saat ini, tetapi beberapa di antaranya relevan dan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di antaranya:
a.  Konsep Kepemimpinan
Krisis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Yang menjadi pusat perhatian kita hanyalah pada bagaimana ”memilih pemimpin” dan tidak menyinggung ”pemim¬pin yang bagaimana yang dipilih”. Naskah-naskah klasik mem¬berikan konsep pemimpin yang seharusnya ”hambeg adil para¬marta, bérbudi bawalekasana, bau denda nyakrawati” yang adil, murah hati, penyayang, taat menjalankan aturan, dan mampu menye¬lesaikan masalah”. Karena itu, gelaran raja Jawa adalah ”senapati ing alaga, amirul mukminin, kalifatuloh, sayidin panata¬gama” (panglima dalam peperangan. pimpinan orang beriman, penguasa kerajaan, pemimpin keagamaan”. Sementara itu, Sejarah Melayu menyatakan bahwa pemimpin adalah zilzullah fil alam (bayangan Allah di dunia). Sejarah Melayu menggambarkan bahwa seorang pemimpin hendaknya berkasih sayang dengan bawahan¬nya. Sekali pemimpin berbuat aniaya pada bawahannya, maka itu sebagai tanda awal kehancurannya.
Nilai luhur ini di dalam Sejarah Melayu ini digambarkan dalam kisah ke-10, yaitu kisah tentang Singapura diserang ikan todak. Ikan todak adalah sejenis ikan cucut yang mampu naik ke darat dan menusuk manusia sehingga menimbulkan kematian. Men¬dapat serangan ikan ini, Raja Singapura menjadi bingung. Datanglah seorang anak yang memberi nasihat bahwa untuk mengalah¬kan ikan todak harus digunakan perisai dari batang pisang. Dengan cara itu, moncong ikan todak akan menancap di batang pisang sehingga tidak membahayakan lagi.
Pikiran anak yang kreatif tersebut justru menimbulkan iri hati dan kekhawatiran. Anak itu kemudian dibunuh oleh Raja Singapura. Pembunuhan ini merupakan awal hancurnya Singapura.
”Syahdan maka budak (= anak, pen) itupun disuruh bunuh oleh baginda, menjadi benar pada hatinya. Adapun tatkala budak itu dibunuh, maka hak rasanya ditanggungkan atas negeri Singapura” (Situmorang dan Teeuw, 1952: 75).
Kisah di atas menyampaikan pesan bahwa seorang pemim¬pin hendaknya mampu menerima pikiran-pikiran kreatif dari  siapa pun dan tidak menerima dengan syak wasangka.

b.    Alon-alon waton kelakon  dan cukat trengginas kadya Srikatan nyamber walang
Ungkapan alon-alon waton kelakon sering dimaknai nega¬tif. Ungkapan tersebut sebenarnya merupakan salah satu bentuk strategi yang mencerminkan kesabaran. Hal ini dapat dilihat pada kisah dalam Babad Tanah Jawi sebagai berikut.
Danang Sutawijaya adalah seorang hamba Sultan Pajang. Karena kecerdasan otak dan kehalusan budinya, ia diangkat men¬jadi anak angkat Sultan Pajang. Babad Tanah Jawi menggam¬barkan kegigihan Danang Sutawijaya yang masih anak-anak dengan gagah berani melawan Harya Penangsang yang sakti. Dengan cara tersebut Danang Sutawijaya berhasil memenangkan sayembara memperoleh Alas Mentaok (Hutan Mentaok) yang angker kemudian bergelar Panembahan Senopati. Dengan sabar ia membangun hutan menjadi perdikan dan dengan sabar ia mem¬bina hubungan baik dengan penguasa di sekitarnya sehingga banyak penguasa takluk bukan karena perang, ”hamung kayungyun marganing kautaman” (hanya tertarik pada kebaikannya). Panembahan Sena¬pati menempuh hal tersebut dengan sabar (alon-alon waton kelakon). Ketika situasi memungkinkan, maka dengan cepat Panem¬bahan Senopati mendirikan dinasti Mataram yang sampai saat ini masih dapat disaksikan kemegahannya dengan Kraton Yogya, Kraton Surakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangku¬negaran yang kesemuanya mengaku sebagai keturunan Panembahan Sena¬pati atau ”Darah Mataram”.
Kisah tersebut merupakan gambaran yang patut dicontoh bahwa dalam mencapai cita-cita kesabaran memang perlu. Panem¬bahan Senapati membangun Mataram dengan penuh kesabaran, tetapi pada saat-saat diperlukan ia mampu bertindak gesit yang digambarkan sebagai ”cukat trengginas kadya srikatan nyamber walang”.
Kalau sementara ini dikatakan bahwa Panembahan Senapati mengawini Ratu Kidul, yang patut dicatat adalah kronologi kisah yang disebutkan bahwa Ratu Kidul merasa kalah wibawa dengan Panembahan Senapati lalu Ratu Kidul mengabdi kepada¬nya. Serat Wedhatama menyebutkan ”pamrihe mung ameminta, supangate teki teki, nora ketang teken janggut suku jaja” (maksud¬nya hanya meminta, manfaat laku prihatin, meskipun dengan susah payah).
Karena itu, kalau dewasa ini ada orang-orang yang pergi ke Laut Selatan untuk meminta atau memuja pada Ratu Kidul, dari segi kebudayaan merupakan kemunduran dari apa yang telah dicapai pendahulu raja Mataram yang merupakan tuladha laku utama (contoh baik).

c.  Membangun Keserasian
Membangun keserasian adalah salah satu strategi kebuda¬yaan yang patut ditanamkan pada tata kehidupan kita. Harmoni merupakan konsep yang sesuai  dengan akar budaya Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kisah-kisah klasik yang menekankan penting¬nya harmoni. Di dalam Hikayat Banjar dan Kota Waringin (Ras, 1968) dikisahkan tentang Ampu Jatmaka yang tidak mau menjadi raja. Untuk membangun kerajaan dicarilah calon penurun raja. Calon permaisuri diperoleh dari bayi yang berada di air di atas buih yang bernama Putri Jumjum Buih. Calon raja diperoleh dari anak mata¬hari yang berasal dari Majapahit bernama Suryanata. Cerita ini menyiratkan bahwa untuk membangun kebudayaan yang kokoh harus dapat membangun harmoni. Dalam kisah di atas digambar¬kan harmoni yang diharapkan berupa perpaduan air (buih), tanah (tempat kerajaan), dan udara-api (matahari). Dengan kata lain, untuk membangun negara yang kokoh, persatuan dan kesatuan merupakan modal utama. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari suatu negara yang selalu kisruh.

d.  Perencanaan dan Manajemen yang baik
Manajemen merupakan hal yang sangat vital dalam strategi kebudayaan. Secara kasat mata, dewasa ini banyak terjadi pemborosan di segala bidang karena manajemen yang tidak baik. Di dalam Hikayat Mahsyud Hak digambarkan bahwa tanpa manajemen yang baik, apalagi hanya didasari emosi, maka rencana dan cita-cita akan kandas berantakan.
Dikisahkan ada seorang pemuda yang sangat mencintai kekasihnya. Ketika kekasihnya digigit nyamuk di kakinya, karena emosi pemuda tersebut mengambil kapak untuk membunuh nyamuk di kaki kekasihnya. Yang terjadi, nyamuk bisa lolos sementara kekasihnya kehilangan satu kaki. Kisah lain menyebut¬kan seorang hamba yang dipercaya menjaga lumbung majikannya. Ketika ia melihat seekor tikus bersembunyi dan makan di dalam lumbung, maka dengan emosi dibakarnya lumbung tersebut dengan maksud membakar tikus yang ada di dalamnya. Hasilnya, lumbung yang seharusnya dijaga justru lenyap menjadi abu (Jusuf dkk, 1984).

e.  Pentingngnya Ilmu Pengetahuan
Asal mula budaya Jawa dan huruf Jawa di dalam naskah Jawa klasik bersumber dari cerita Aji Saka. Karena besarnya pengaruh cerita ini, tempat seperti Bledug Kuwu dipercaya munculnya pada zaman Aji Saka. Tahun Jawa juga disebut Tahun Saka. Tiang utama penyangga rumah Jawa disebut Saka Guru. Di dalam cerita Aji Saka disebutkan adanya raja asli Jawa bernama Dewata Cengkar. Raja ini tidak berbudaya dan kanibal. Aji Saka menewas¬kan raja ini dengan cara disuruh menggelar surban (penutup kepala). Surban Aji Saka mengembang sampai Laut Selatan. Di pinggir tebing laut Dewata Cengkar dikibaskan dan jatuh ke laut. Dewata Cengkar menjadi bajul (buaya) putih yang menjadi peng¬ganggu manusia
Cerita ini memberi gambaran bahwa pribumi akhirnya tersisih karena tidak memiliki ilmu pengetahuan yang disimbolkan “kalah dalam menggelar surban”. Relevansi bagi strategi kebu¬dayaan bahwa bangsa Indonesia apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan akhirnya hanya akan menjadi bajul putih atau begajulan (berandalan) yang suka mengganggu orang saja. Alih ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang strategis dalam strategi kebudayaan dewasa ini.
Demikian uraian mengenai sumbangan Filologi bagi penyu¬sunan strategi kebudayaan Indonesia. Harapan saya, semoga pidato ini mampu menggugah kita semua untuk menengok kembali kekayaan rohani bangsa kita yang saat ini tersimpan di dalam naskah-naskah klasik dalam rangka membangun kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian kita. Semoga pidato ini juga menumbuhkan minat di kalangan mahasiswa untuk mau menekuni naskah-naskah klasik. Kondisi yang memprihatikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS ialah bahwa mahasiswa yang tertarik menekuni studi filologi setiap tahunnya hanya satu dua orang saja.

Hadirin yang saya hormati,
Pada penghujung pidato pengukuhan guru besar ini izin¬kan¬lah saya mengungkapkan hal-hal yang sifatnya pribadi dalam rangka mengungkapkan rasa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pribadi-pribadi yang dijadikan Allah sebagai perantara saya mencapai kedudukan guru besar ini.
1.    Sekali lagi, terima kasih kami sampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikand Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A. yang telah menetapkan diri saya sebagai guru besar Ilmu Filologi secara loncat jabatan.
2.    Terima kasih juga kepada Bapak Rektor/Ketua Senat UNS dan para anggota Senat Universitas, Bapak  Dekan dan Pembantu Dekan I, II, III Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia, Segenap Anggota Senat Fakultas dan Universitas, tim CCP, dan kawan-kawan seprofesi yang telah mengusulkan dan memperjuangkan saya untuk men¬duduki jabatan yang mulia ini. Saya sadar betul bahwa jabatan ini saya sandang berkat kerja keras dan kerja sama unsur-unsur di UNS tercinta ini.
3.    Terima kasih juga kepada Prof. Dr. Kunardi Harjo¬prawira, M.Pd. yang tidak jemu-jemunya menasihati saya untuk mengusulkan diri sebagai guru besar secara loncat jabatan. Langkah selanjut¬nya, kami sangat dibantu oleh Prof. Drs. Sukiyo dan                      Prof. Drs. Anton Sukarno yang dengan tulus ikhlas banyak memberi saran dan bantuan demi mulusnya usulan saya. Terima kasih juga kepada Mas Willy yang menata berkas-berkas usulan.
4.    Rasa terima kasih kami sampaikan juga kepada kedua orang tua saya, yaitu Ny. Dalinah Karja Subiyantara dan almarhum  Bapak Karja Subiyantara. Bagi saya pribadi, kedua orang tua saya itulah manusia paling luar biasa dan paling saya kagumi. Merekalah yang telah mendidik saya dengan penuh pengor¬banan dan deraan ujian yang bertubi-tubi, tetapi semua dapat dijalani dengan selamat. Mereka pula yang mengajarkan kepada saya untuk (1) tegar dalam berjuang (2) teguh dalam meng¬hadapi tantangan, (3) rendah hati terhadap sesama, serta         (4) tidak takut untuk hidup prihatin.
5.    Terima kasih juga kepada leluhur kami di alam kubur (yaitu mbah Kakung/Gimin Karto Pawiro dan Pak Uwo/Marjan Marto Sentono) yang saya jelas-jelas merasakan juga getaran kehadiran arwahnya di sini. Leluhur kami adalah keluarga petani sederhana di desa. Saya melihat di mata batin saya, mereka tersenyum bangga karena salah seorang cucunya dimuliakan Allah untuk berdiri di hadapan hadirin dalam pengukuhan sebagai seorang guru besar di tempat sejauh sekitar 87 kilometer dari sebuah amben tempat kelahiran saya, di sebuah dusun kecil di lereng Merapi, di kabupaten Sleman. Terima kasih kepada Bulik Jimah, Mas Dodo, dan Pak Dhe Bud yang semasa saya kuliah banyak memberikan bantuan untuk keberhasilan kuliah saya. Demikian juga kepada Mbakyu Asri dan Tabi.
6.    Terima kasih pula kepada keluarga mertua (Bapak Tukiman dan Ibu Rubi) dan adik-adik ipar yang banyak memberi bantuan untuk kesuksesan keluarga kami. Demikian juga kepada almarhum Dodi Slamet Widodo SE yang banyak memberikan bantuan ketika saya melakukan riset S3 di Jakarta.
7.    Terima kasih pula kepada guru-guru saya, baik guru-guru di sekolah formal (dari TK sampai Pascasarjana) maupun guru-guru spiritual yang membekali ngelmu ”sejatining ngaurip” dan ”ngaurip sejati” sebagai bekal saya meniti kehidupan.
8.    Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada  Prof. Dr. H. D. Edi Subroto dan Drs. Sawu, S.U.  Kedua beliau inilah yang menganjurkan dan mendukung saya untuk mendaftarkan diri menjadi dosen di UNS pada tahun 1988.
9.    Terima kasih juga kepada almarhum Prof. Dr. H. Suwito yang pada waktu itu menjabat sebagai dekan Fakultas Sastra, yang dalam perkenalan kami yang singkat, telah memberi nasihat untuk tidak berhenti dalam melanjutkan studi. Terima kasih juga kepada Bapak F.X. Soehardjo, yang pada periode beliau menjadi ketua jurusan selalu mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
10.    Terima kasih juga kepada Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno (promotor) dan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo (kopromotor) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang telah ”melahirkan” saya sebagai doktor ilmu budaya dan dengan gelar itu mempermudah saya mencapai jabatan guru besar.
11.    Terima kasih juga kepada segenap redaksi Humaniora (Fakul¬tas Ilmu Budaya UGM), Varidika (FKIP Universitas Muham¬madiyah Surakarta), SENI (ISI Yogya), Kajian Linguistik dan Sastra (UMS) yang telah memuat tulisan saya di majalah terakreditasi DIKTI yang menjadi salah satu syarat untuk dapat diusulkan sebagai guru besar secara loncat jabatan.
12.    Terima kasih kepada Direktur Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah memberi beasiswa kepada saya melalui TMPD (S2) dan BPPS (S3) sehingga sangat meringankan  saya dalam mengikuti studi lanjut yang secara akumulatif telah menjadi bagian terpenting dalam pengusulan guru besar.
13.    Terima kasih juga kepada segenap pimpinan Masyararakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Oral Tradition Asso¬ciation (Masyarakat Tradisi Lisan) sebagai organisasi profesi internasional yang telah ikut berjasa membentuk karakter ilmiah saya dan memberi saya berbagai fasilitas dan sumbangan dana guna pengembangan karir ilmiah saya. Terima kasih pula kepada Penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Badan Penerbit Sastra Indonesia, Jurnal Nuansa Indonesia, Jurnal Etonografi, Jurnal Haluan Sastra, Jurnal Artikulasi dan penerbit lainnya yang telah menerbitkan tulisan saya yang secara keseluruhan memberikan nilai yang cukup tinggi untuk memperoleh angka kredit bagi pengusulan ke guru besar.
14.    Selanjutnya, yang sangat bermakna bagi hidup saya adalah  ucapan terima kasih saya kepada istri saya tercinta,  Dra. Hj. Sri Mulyati, M.Hum sebagai teman seperjalanan dalam panas dan hujan. Terima kasih atas segala pengertian yang karena tugas saya harus berhari-hari meninggalkan rumah. Juga kepada keempat anak saya tersayang, Insyirah Anwari, Umar Sidiq Syaifuddin, Hisyam Syaiful Fatah, dan Khalid Alim Jauhari. Merekalah permata hati saya dan harapan generasi masa depan saya. Tanpa pengertian dan dorongan mereka, tentu saya tidak dapat menjalankan tugas sampai mencapai jabatan yang setinggi ini. Dan tentunya jabatan ini tidak akan bermakna bila tidak mengantarkan kami ke dalam kehidupan yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Saya menyadari bahwa jabatan ini mengandung tanggung jawab yang besar yang harus saya pikul. Karena itu, saya memohon doa hadirin semuanya, semoga jabatan yang mulia ini dijadikan Allah sebagai sarana saya manembah dan ngibadah kepada Allah.
15.    Terima kasih saya haturkan kepada segenap Panitia Pengu¬kuhan Guru Besar yang telah menyelenggarakan acara ini dengan usaha yang maksimal.
16.    Terima kasih pula kepada segenap wartawan yang meliput acara ini dan memberitakan kepada khalayak yang lebih luas.
17.    Akhirnya, saya haturkan terima kasih atas kehadiran dan kesabaran hadirin yang mulia untuk dalam mendengarkan pidato ini.  Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada hal yang tidak berkenan.
Alhamdulillahirabil’alamin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Baried, Siti Baroroh dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Terjemahan S. Gunawan. Jakarta: Bhratara.
Casparis, J.D. 1975. De. Indonesia Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500 . Leiden: E.J. Brill.
Dipodjojo, Asdi S. 1966. Sang Kancil: Tokoh Tjerita Binatang Indonesia. Djakarta: Gunung Agung.
Hussein, Ismail. 1974. The Study of Traditional Malay Literature with A Selected Bibliography. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia.
Jusuf, Jumsari. 1984. Aspek Humor dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Khadiz, Antar Venus. 2003. “Jepang dalam Percaturan Bisnis Global: Suatu Pendekatan Komunikasi Antar Budaya”. dalam Deddy Mulyana dkk. Komuniasi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Peursen, C.A. van. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Yayasan Kanisus.
Ras, J.J. 1968. Hikajat Bandjar : A Study in Malay Historiography.  The Hague: Martinus Nijhoff.
Reynolds, L.D. dan  N.G. Wilson . 1974. Scribes and Scholars : A Guide to the Transmission of Greek and Latin Literature. London:  Oxford University Press.
Situmorang, T.D. dan Teeuw, A. 1952. Sedjarah Melaju. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Soeratna, Siti Chamamah. 2003. Filologi Sebagai Pengungkap Orisionalitas dan Transformasi Produk Budaya.  Pidato Pembukaan Kuliah 3 September 2003. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Sudardi, Bani. 2003. Penggarapan Naskah. Surakarta: BPSI
Weddha Tama Jinarwa. Surakarta: Cendrawasih

PERTIMBANGAN RETURN DAN RISIKO DALAM KEPUTUSAN INVESTASI

Prof. Dr. H. Hartono, M.S

Yang saya hormati:
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan seluruh Anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Ketua dan Anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, dan Direktur serta Asisten Direktur Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret,
Para Ketua Lembaga, Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, Kepala UPT, dan seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para sejawat dosen dan staf administrasi, mahasiswa, tamu undangan, serta segenap hadirin.

Asssalamu¬¬ ,alaikum warahmatullaahi Wabarakaatuhu
Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala atas segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua selama ini, serta atas perkenan-Nya kepada kita semua untuk dapat hadir di dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret ini. Semoga Allah senantiasa memberikan per¬lindungan kepada kita semua di masa-masa mendatang.
Selanjutnya perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih kepada Ketua, Sekretaris, dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan kehormatan kepada saya untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret di hadapan para hadirin sekalian. Pada hari yang bagi saya sekeluarga, sangat bersejarah dan membahagiakan ini, izinkan saya untuk menyampai¬kan pidato yang saya beri judul:

Pertimbangan Return dan Risiko
dalam Keputusan Investasi

Hadirin sekalian yang saya hormati
Pokok bahasan yang akan saya sampaikan dalam pidato saya ini berkaitan dengan Manajemen Investasi khususnya yang mengarah pada investasi di pasar finansial, termasuk pasar modal. Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa datang. Dengan kata lain, investasi merupakan komitmen untuk mengorbankan konsumsi sekarang dengan tujuan memper¬besar konsumsi di masa datang. Investasi dapat berkaitan dengan penanaman sejumlah dana pada aset riil seperti: tanah, emas, rumah dan aset riil lainnya atau pada aset finansial seperti: deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lainnya.
Harapan keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Dalam konteks investasi, harapan keuntungan tersebut sering disebut sebagai return. Seorang investor mengharapkan return yang tinggi dari investasi yang dilakukannya. Namun, untuk mendapat¬kan return yang tinggi, investor menghadapi risiko yang tinggi pula. Artinya semakin tinggi return yang diharapkan semakin tinggi risiko investasi. Penelitian Siegel (1992) yang membanding¬kan return saham dan obligasi di Amerika dalam kurun waktu hampir seabad (1902-1990) menemukan bahwa return saham jauh melebihi return obligasi. Hal itu diikuti pula dengan fakta bahwa risiko saham jauh lebih tinggi dibandingkan risiko obligasi.
Akhir-akhir ini banyak tawaran investasi dengan iming-iming return yang sangat tinggi bahkan cenderung tidak rasional secara bisnis. Di lain fihak tidak pernah dikemukakan apa dan seberapa besar risikonya, sehingga banyak masyarakat yang dirugikan atas keikut sertaannya dalam berinvestasi. Fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa setiap ada tawaran investasi yang menjanjikan return yang tinggi selalu mendapatkan respon yang besar tanpa memperhitungkan risikonya dibelakang hari. Masih ingat kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (PT QSAR), dan CV Medical yang populer dengan sebutan kasus gingseng, yang baru saja terungkap adalah CV Berlian Artha Sejahtera (Investindo) di Purbalingga yang mampu menyedot investor sebanyak 1.700 orang dengan nilai investasi sebesar Rp 62 miliar yang sampai sekarang belum dapat terbayarkan dan direkturnya sudah ditahan oleh pihak kepolisian, serta masih banyak lagi kasus yang lainnya. Mereka menawarkan ”mimpi” (return) tetapi tidak menunjukkan ”realitas” (risiko) kepada calon investor.
Dalam investasi, disamping return juga dikenal adanya konsep risiko. Risiko investasi bisa diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan. Dua konsep ini, risiko maupun return, bagaikan dua sisi mata uang yang selalu berdampingan. Artinya, dalam ber¬investasi, di samping menghitung return yang diharapkan, investor harus memperhitungkan risikonya. Investor perlu mencari alternatif investasi yang menawarkan tingkat return yang paling tinggi dengan tingkat risiko tertentu, atau investasi yang menawarkan return tertentu pada tingkat risiko terendah.
Sumber-sumber return investasi terdiri dari dua komponen utama, yaitu yield dan capital gain (loos). Yield merupakan komponen return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Jika investasi¬nya pada sebuah obligasi atau mendepositokan uang di bank, maka besarnya yield ditunjukkan dari bunga obligasi atau bunga deposito yang  diterima. Apabila jika kita membeli saham, yield ditunjukkan oleh besarnya dividen yang kita peroleh. Sedangkan, capital gain sebagai komponen kedua dari return merupakan kenaikan (penurunan) harga suatu surat berharga (saham atau obligasi), yang bisa memberikan keuntungan (kerugian) bagi investor.
Seperti dijelaskan di atas, di samping memperhitungkan return, investor juga perlu mempertimbangkan tingkat risiko suatu investasi sebagai dasar pembuatan keputusan investasi. Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko investasi antara lain: risiko suku bunga, risiko pasar, risiko inflasi, risiko bisnis, risiko finansial, risiko likuiditas, risiko nilai tukar dan risiko negara (country risk) serta masih banyak lagi sumber risiko.

Diversifikasi

Hadirin yang terhormat,
Untuk menurunkan risiko, investor perlu melakukan diversi¬fikasi. Diversifikasi dapat bermakna bahwa investor perlu mem¬bentuk portofolio penanaman dana sedemikian rupa hingga risiko dapat diminimalkan tanpa mengurangi return yang diharapkan. Mengurangi risiko tanpa mengurangi return adalah tujuan investor dalam berinvestasi.
Henry Markowitz (1952) memberikan nasihat yang sangat penting dalam diversifikasi portofolio investasi yaitu ”not to put all eggs in one basket” (janganlah menaruh semua telur ke dalam satu keranjang), karena kalau keranjang tersebut jatuh, maka semua telur yang ada dalam keranjang tersebut akan pecah. Teori porto¬folio yang diperkenalkan oleh Markowitz (yang di kalangan ahli manajemen keuangan disebut sebagai the father of modern portfolio theory) telah mengajarkan konsep diversifikasi portofolio secara kuantitatif. Dengan bantuan teknik statistik sederhana ia dapat menunjukkan dengan sistematis bagaimana bekerjanya mekanisme nasihat Markowitz tersebut, sehingga investor dapat menekan risiko portofolionya. Markowitzlah yang mula-mula mengajarkan bagaimana mengukur hasil (return) dan risiko (risk) portofolio sehingga memudahkan investor dalam menbanding-bandingkan berbagai ”keranjang” bukan telur. Sekilas ajaran tersebut terlihat sederhana, namun mempunyai makna yang dalam tentang bagaimana proses diversifikasi investasi dapat menurunkan risiko. Ajaran ini pula yang mengantar Markowitz meraih peng¬hargaan Nobel di bidang ekonomi dan keuangan pada tahun 1990.
Kontribusi penting dari ajaran Markowitz adalah bahwa risiko portofolio tidak boleh dihitung dari penjumlahan semua risiko aset-aset yang ada dalam portofolio, tetapi harus dihitung dari kontribusi risiko aset tersebut terhadap risiko portofolio, atau diistilahkan dengan kovarians. Kovarians adalah suatu ukuran absolut yang menunjukkan sejauh mana return dari dua sekuritas/ aset dalam portofolio cenderung untuk bergerak secara bersama-sama atau merupakan koefisien korelasi antara satu aset dengan aset yang lain.
Dalam pembentukan portofolio, investor selalu ingin me¬maksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat risiko tertentu yang bersedia ditanggungnya, atau mencari portofolio yang menawarkan risiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik portofolio seperti ini disebut sebagai portofolio yang efisien. Untuk membentuk portofolio yang efisien, salah satu asumsi yang paling penting  adalah bahwa semua investor tidak menyukai risiko (risk averse). Investor seperti ini jika dihadapkan pada dua pilihan investasi yang menawarkan return yang sama dengan risiko yang berbeda, akan cenderung memilih investasi dengan risiko lebih rendah. Namun demikian dalam perilaku berinvestasi tidak semua  investor bersifat  risk averse.
Sebagai gambaran macam-macam perilaku investor di pasar modal Bailard, Biehl & Kaiser (2003), sebuah lembaga investasi di California mengatakan ada 5 macam investor di pasar modal yang dikenal sebagai the Five-Way Model. Kelompok pertama disebut kelompok petualang (adventurers). Orang-orang yang termasuk di dalam kelompok ini pada umumnya tidak memperdulikan risiko, bahkan cenderung untuk menyukainya (risk takers). Mereka cende¬rung untuk tidak memperdulikan nasihat para financial advisors karena berbeda pandangan tentang risiko.
Kelompok investor kedua adalah kelompok yang dinamakan celebrities. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang selalu ingin tampil, menonjol, dan menjadi pusat perhatian. Mereka seringkali tidak terlalu peduli pada perhitungan untung rugi investasi, asalkan keputusan mereka untuk membeli atau menjual surat berharga dilihat dan didengar oleh orang banyak. Kelompok ini cenderung untuk bersifat risk takers.
Kelompok ketiga disebut sebagai kelompok individualists. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang cenderung untuk bekerja sendiri dan tidak peduli pada keputusan investasi orang lain (jadi merupakan kebalikan dari perilaku yang cenderung untuk mengikuti arus). Kelompok ini cenderung untuk menghindari risiko yang tinggi dan tidak keberatan untuk menghadapi risiko yang moderat.
Selanjutnya ada kelompok investor yang keempat disebut sebagai kelompok guardians. Kelompok ini beranggotakan investor yang lebih “matang”, lebih berpengalaman serta berpe¬ngetahuan relatif luas. Mereka cenderung untuk sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Kalau mereka didampingi oleh financial advisor, maka pendampingnya itu akan dijadikan teman berdiskusi. Kalau ternyata terjadi ”kesalahan” keputusan investasi, kelompok ini cenderung tidak mengkambing hitamkan orang lain, karena merasa telah terlibat langsung dalam proses pemilihan investasi. Mereka yang ada di kelompok ini pada umumnya lebih bersifat risk averse.
Kelompok yang terakhir adalah kelompok yang tidak dapat secara tegas dimasukkan ke salah satu dari empat kelompok di muka. The Five-Way Model menyebutnya sebagai kelompok straight arrows. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini kadang-kadang bersifat sangat risk averse, kadang-kadang sebalik¬nya. Suatu ketika mereka mengambil keputusan atas dasar kepercayaan pada kemampuan diri sendiri seperti halnya kelompok individualists, tetapi pada waktu lain lebih menampakkan sifat follow the crowd (Marwan Asri, 2003).

Aset Berisiko dan  Aset Bebas  Risiko

Hadirin yang saya muliakan,
Dalam berinvestasi, investor bisa memilih menginvestasikan dananya pada berbagai aset, baik aset yang berisiko maupun aset yang bebas risiko, ataupun kombinasi dari kedua aset tersebut. Pilihan investor atas aset-aset tersebut akan tergantung dari sejauh¬mana preferensi investor terhadap risiko. Semakin enggan seorang investor terhadap risiko (risk averse), maka pilihan risiko investasi¬nya akan cenderung lebih banyak pada aset-aset yang bebas risiko.
Aset berisiko adalah aset-aset yang tingkat return aktualnya di masa depan masih mengandung ketidakpastian. Salah satu contoh aset berisiko adalah saham. Misalnya kita hari ini membeli saham perusahaan tertentu, kita tidak tahu pasti berapa return aktual yang akan diperoleh di masa yang akan datang baik yang berupa dividen maupun keuntungan dari selisih harga saham tersebut. Demikian halnya apabila kita membeli obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan, kita tidak dapat memastikan bahwa pada saat jatuh temponya obligasi tersebut akan dapat terbayarkan oleh perusahaan yang mengeluarkan obligasi.
Aset bebas risiko merupakan aset yang tingkat returnnya di masa depan sudah bisa dipastikan pada saat ini, dan ditunjukkan oleh varians return yang sama dengan nol. Contoh aset bebas risiko adalah obligasi yang diterbitkan pemerintah (ORI), atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, karena tidak mungkin Pemerintah atau Bank Indonesia tidak membayar¬kan obligasi atau SBI yang diterbitkan pada saat jatuh temponya.
Dalam model Markowitz sebagaimana telah dibahas dimuka, investor bisa menentukan pilihan portofolio optimal dari berbagai pilihan portofolio yang ada pada garis portofolio yang efisien. Akan tetapi, model Markowitz tersebut membatasi pilihan investor hanya pada portofolio yang terdiri dari aset berisiko. Padahal dalam kenyataannya, investor bebas memilih portofolio yang juga terdiri dari aset bebas risiko. Oleh karena itu muncul teori yang didasari oleh teori portofolio yaitu teori Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang mula-mula dikenalkan oleh Sharpe pada tahun 1964, kemudian disempurnakan oleh Lintner dan  Mossin beberapa tahun kemudian. Dalam teori ini diajarkan bahwa return yang disyaratkan dari sebuah investasi pada surat berharga ditentukan oleh dua komponen, yaitu return investasi bebas risiko (risk free rate) dan premi risiko (risk premium). Persamaan CAPM menunjukkan bahwa saham dengan risiko yang besar harus mampu memberikan premi risiko yang besar pula; demikian sebaliknya.
Terdapat dua macam risiko pada setiap sekuritas yaitu risiko yang dapat dihilangkan atau diperkecil dan risiko yang tidak dapat dihilangkan melalui diversivikasi. Risiko sekuritas yang dapat dihilangkan melalui diversifikasi disebut risiko yang tidak siste¬matis atau unsystematic risk atau diversifiable risk. Untuk risiko yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi disebut dengan risiko yang sistematis atau systematic risk, ada yang menyebutnya market risk. Risiko yang sistematis adalah risiko yang terjadi karena faktor perubahan pasar secara keseluruhan, seperti misalnya karena perubahan tingkat suku bunga yang mengakibatkan meningkatnya tingkat keuntungan yang disyaratkan atas sekuritas secara keseluruhan, inflasi, resesi ekonomi, peru¬bahan kebijakan ekonomi secara menyeluruh. Adapun risiko yang tidak sistematis adalah risiko yang terjadi karena karakteristik perusahaan yang mengeluarkan sekuritas berbeda satu dengan lain seperti misalnya dalam hal kemampuan manajemen, kebijakan investasi, kondisi dan lingkungan kerja. Karena perbedaan atau keunikan itu maka masing-masing sekuritas memiliki kepekaan yang berbeda terhadap setiap perubahan pasar.

Hasil Studi Empiris

Hadirin dan handai taulan yang saya muliakan
Beberapa hasil studi empiris tentang jumlah saham dalam portofolio yang bisa mengurangi risiko telah dilakukan, dan meng¬hasilkan rekomendasi bahwa untuk mengurangi risiko portofolio diperlukan sedikitnya antara 15 hingga 20 jenis saham. Beberapa penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh: Reilly (1992) memberikan rekomendasi jumlah saham minimal 12 – 18 saham;  French (1989) jumlah saham minimal 20 saham; Winger dan Frasca (1991) merekomendasikan jumlah saham 15 – 20 saham. Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Tandelilin (1998) di pasar modal Indonesia dan Pilipina. Penelitian tersebut menghasil¬kan rekomendasi bahwa untuk meminimalkan risiko portofolio sedikitnya diperlukan 14 saham untuk pasar modal Pilipina dan 15 saham untuk pasar modal Indonesia.
Bagi investor yang ingin membeli saham pada pasar perdana atau saham yang ditawarkan kepada publik untuk pertama kali oleh perusahaan (Initial Public Offering) terdapat informasi yang asimetri antara pemilik lama dengan investor potensial. Pemilik lama memiliki informasi privat tentang prospek perusahaan atau mengetahui tentang kondisi dan prospek arus kas di masa yang akan datang sedangkan investor potensial tidak memiliki informasi tersebut. Investor tidak mengetahui apakah perusahaan yang melaku¬kan IPO itu benar-benar bagus. Untuk itu diperlukan suatu sinyal yang dapat ditangkap dan dianalisis oleh calon investor  bahwa perusahaan mempunyai prospek yang bagus. Leland dan Pyle (1977) telah mengadopsi teori  sinyal Spence (1973) ke dalam pasar penawaran umum perdana. Leland dan Pyle (1977) meng¬gunakan retensi kepemilikan saham (α) atau proporsi saham yang masih dipertahankan oleh pemilik lama setelah penawaran umum perdana sebagai sinyal arus kas di masa yang akan datang atau sinyal prospek perusahaan. Semakin besar α dapat dimaknai bahwa perusahaan mempunyai prospek yang bagus. Para investor ber¬kesimpulan bahwa semakin baik prospek arus kas perusahaan makin enggan pemilik lama membagikan kekayaannya kepada orang lain, makin besar proporsi saham yang masih dipertahankan oleh pemilik lama.
Prediksi teori Leland dan Pyle (1977) ini telah banyak diuji secara empiris antara lain: Downes dan Heinkel (1982); Ritter (1984); Krinky dan Rotenberg (1989); Clarkson et al (1991); Keasey dan Short (1997); Prasad dan Merikas (1990); Firth dan Liau-Tau (1998). Hasil temuan mereka menunjukkan ada hubungan yang positif antara proporsi saham yang masih dipertahankan oleh  pemilik lama dengan prospek arus kas di masa yang akan datang. Hasil temuan ini memberikan dukungan pada teori sinyal Leland dan Pyle tersebut. Teori sinyal Leland dan Pyle ini juga dikem¬bang¬kan oleh beberapa ahli manajemen keuangan antara lain: Hughes (1986); Grinblatt dan Hwang (1989); Courteau (1995); dan Datar, Feltham dan Hughes (1991). Mereka memasukkan variabel lain disamping α dalam memberikan sinyal prospek perusahaan.
Di pasar modal Indonesia penelitian untuk menguji teori sinyal Leland dan Pyle (1977) ini telah dilakukan oleh Wiyasha (2003), hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara α dengan nilai perusahaan yang merupakan proksi dari prospek arus kas yang akan datang. Hartono (2006) mengem¬bang¬kan penelitian di pasar modal Indonesia dengan menambahkan variabel kepemilikan institusional sebagai variabel yang memper¬kuat sinyal arus kas perusahaan dimasa yang akan datang. Dasar pemikirannya adalah bahwa institusi atau lembaga seperti Peme¬rintah (PT Persero), Yayasan, Perseroan Terbatas (PT) memiliki kemampuan dan pengalaman lebih bagus dalam mengelola peru¬sahaan dibandingkan dengan individu. Hasil penelitiannya selain mendukung prediksi teori Leland dan Pyle, ternyata kepemilikan institusional dapat memperkuat sinyal positif prospek perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana. Hal ini dapat diartikan bahwa para investor dengan minimnya informasi tentang prospek perusahaan yang melakukan IPO akan menggunakan referensi berapa proporsi saham yang masih dipertahankan oleh pemilik lama (α) dan juga siapa pemilik sebelumnya dalam pengambilan keputusan investasi.
Studi empiris tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan juga telah banyak dilakukan antara lain: Slovin dan Suskha (1993) menunjukkan bahwa nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif; Smith (1996) mengemukakan bahwa aktivitas monitoring yang dilakukan oleh institusi mampu mengubah struktur penge¬lolaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham, sehingga nilai perusahaan akan meningkat; McConnel dan Servaes (1990) menyimpulkan adanya hubungan yang positif antara kepemilikan institusional dengan nilai perusahaan; Field (1995) menemukan bukti bahwa perusahaan yang kepemilikan institusio¬nalnya lebih besar dalam jangka panjang dapat menghasilkan return yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang kepemi¬likan institusionalnya lebih rendah; Opler dan Sobokin (1997) menemukan bahwa semakin tinggi kepemilikan institusional maka semakin aktif pengawasan oleh institusi terhadap perusahaan sehingga meningkatkan nilai perusahaan; Varma (2001) juga dapat membuktikan bahwa kepemilikan institusional akan meningkatkan nilai perusahaan. Wahal dan McConnel (2000) melakukan peneliti¬an terhadap 2.500 perusahaan di Amerika dari tahun 1988 sampai tahun 1994, hasil temuannya adalah bahwa argumen entrenchment manajemen tidak terbukti pada kondisi adanya kepemilikan insti¬tusional.

Penutup

Hadirin yang terhormat,
Berdasarkan uraian yang saya sampaikan di atas saya men¬coba untuk menarik beberapa kesimpulan. Pertama, dalam konsep investasi selalu melekat adanya return yang diharapkan dan risiko yang akan muncul. Prinsip dalam berinvestasi adalah dengan return tertentu risikonya terendah atau dengan risiko tertentu returnnya maksimal. Untuk itu sesuai dengan teori Markowitz agar risiko investasi dapat diminimalkan maka melakukan diversifikasi untuk membentuk portofolio investasi merupakan pilihan yang tepat. Kedua, pemilihan aset-aset yang membentuk portofolio penanaman dana tergantung pada preferensi investor terhadap return yang diharapkan dan risiko yang akan ditanggung atas aset–aset ter¬sebut. Ketiga, perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO), memiliki prospek yang bagus apabila besarnya proporsi saham yang masih dipertahankan oleh pemilik lama (α) cukup besar dan perusahaan dimiliki oleh sebuah lembaga/institusi. Sinyal positif ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi investor dalam me¬laku¬kan investasi pembelian saham di pasar perdana.

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup pidato pengukuhan ini perkenankan saya mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala lim¬pah¬an rakhmat, hidayah dan innayah-Nya kepada kami sekeluarga, dan perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mem¬berikan bantuan, dorongan dan dukungan sehingga saya dapat memperoleh jabatan Guru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus saya sampaikan kepada:
1.    Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya, serta Direktur Jendral Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan sebagai Guru Besar  Ilmu Ekonomi bidang ilmu Manajemen Keuangan.
2.    Rektor Universitas Sebelas Maret yang juga selaku Ketua Senat, Bapak Prof. Dr. dr. H. Muchammad Syamsulhadi, Sp.KJ(Konsultan) beserta segenap anggota senat Universitas Sebelas Maret yang telah mengusulkan saya untuk memangku jabatan Guru Besar.
3.    Dekan beserta segenap Anggota Senat Fakultas Ekonomi Univer¬sitas Sebelas Maret pada masa pengajuan usulan jabatan Guru Besar yang telah menyetujui usulan tersebut.
4.    Khusus kepada yang saya hormati Prof. Dr. Marwan Asri, MBA., sebagai promotor saya dalam penyusunan disertasi,         Dr. Ainun Na’im, MBA., dan Dr. Agus Sartono, MBA., sebagai ko-promotor, yang telah dengan sabar dan bijak memberi bimbingan kepada saya dalam menyusun disertasi dan dalam menyelesaikan studi pada jenjang doktor di Universitas Gadjah Mada. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Prof. Dr. Mas’ud Machfoedz, MBA, Akuntan; Prof. Dr. Jogiyanto Hartono, MBA.,Akuntan dan Dr. Mamduh Hanafi MBA, sebagai tim penilai disertasi saya serta segenap anggota tim penguji disertasi, yang telah memperlancar penyelesaian diser¬tasi saya sehingga saya bisa menyelesaikan program Doktor saya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tidak lupa ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Dr. Hani Handoko, MBA selaku pengelola Program Doktor Program Studi Manajemen Universitas Gadjah Mada beserta para dosen dan karyawan atas dukungannya sehingga saya bisa lancar menyelesaikan program Doktor saya.
5.    Saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap guru dan karyawan serta teman-teman semasa sekolah dari sekolah tingkat dasar sampai dengan sekolah menengah tingkat atas, serta kepada segenap dosen, karyawan, dan teman-teman pada waktu menempuh pendidikan tinggi program sarjana dan program pascasarjana atas dukungan yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan studi pada masing-masing jenjang dan dapat melanjutkan ke program doktor.
6.    Saya juga mengucapkan terima kasih kepada segenap pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa dan alumni di lingkungan Fakul¬tas Ekonomi Universitas Sebelas Maret dan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada saya dalam mencapai jabatan Guru Besar. Secara khusus kepada Bapak Prof. Dr. Soeharno TS, SU., dulu sebagai dosen saya, atasan saya dan sekarang menjadi kolega saya atas komitmennya dalam mendorong munculnya Guru Besar pada Fakultas Eko¬nomi Universitas Sebelas Maret. Obsesi beliau adalah sebelum memasuki masa pensiun harus sudah ada beberapa Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
7.    Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada ayah dan ibu saya, Bapak Purwohartoko (almarhum) dan Ibu Hj. Satinah yang senantiasa mendo’akan dan memberikan dukungan pada saya. Demikian juga terima kasih saya sampai¬kan kepada bapak dan ibu mertua saya, Bapak Soeradjin Hadmo¬soekarto (almarhum) dan Ibu Siti Kartinah (almarhumah) yang semasa hidupnya juga mendo’akan dan memberi du¬kungan pada saya.
8.    Kepada istri saya yang tercinta Endang Tri Mastuti dan anak-anak saya yang saya sayangi dan banggakan Ari Eko Hartoyo dan Deny Dwi Hartomo serta saudara-saudara saya, saya mengucapkan terima kasih atas do’a, pengertian, perhatian dan dukungan  yang diberikan.
9.    Kepada segenap hadirin yang saya hormati yang dengan sabar mengikuti pidato pengukuhan ini, saya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan saya. Semoga apa yang saya sampaikan ini ada manfaatnya, dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah dan barokah-Nya kepada kita semua serta meng¬ampuni dosa-dosa kita dan kita selalu dalam perlindungan- Nya. Amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA
Akerlof, G.A.1970. The Market for “Lemon”: Quality Uncertainty and the Market Mechanism. The Quarterly Journal of Economics Vol. LXXXIV No.3: 488-500.

Charter, R., and S. Manaster. 1990. Initial Public Offering and Underwriter Reputation. The Journal of Finance Vol. XlV, No. 4: 1045 – 1065.

Clarkson, P.M., A. Dontoh., G. Richardson., and S.E. Sefcik. 1991. Retained Ownership and the Valuation of Initial Public Offerings: Canadian Evidence. Contemporary Accounting Research Vol. 8 No 1: 115-131.

Courteau, L. 1995. Under Diversification and Retention Commit¬ments in IPO’s. Journal of Financial and Quantitative Analysis Vol. 30. No. 4: 487 – 518.

Conroy, R, and J.S. Hughes. 1988. On the Observability of Ownership Retenstion by Entrepreneurs with Private Information in the Market for New Issues. Contemporary Accounting Research Vol. 6 No. 1: 159-176

Crutchley, C.E., M.R.H. Jensen., J.S. Jahera, and J.E. Raymond. 1999. Agency Problems and The Simultaneity of Financial Decesion Making The Role of Institutional Ownership. International Review of Financial Analysis 8: 177-197.

Datar, S.M., G.A. Feltham, and J.S. Hughes. 1991. The Role of Audits and Audit Quality in Valuing New Issues. Journal of Accounting and Economies 14: 3 – 49.

Downes, D.H. and R. Heinkel. 1982. Signalling and the Valuation of Unseasoned New Issues. The Journal of Finance Vol. XXXVII No1 March 1-10.

French, D.W. 1991. Security and Portofolio Analysis, Columbus, OH, Merril.

Firt M., and C.K. Liau-Tan. 1998. Auditor Quality, Signalling, and The Valuation of Initial Public Offerings, Journal of Business Finance & Accountings, 25: 145-165.

Field, L.C. 1995. Is Institutional Investment in IPO Related to  long-Run Performance of these Firms?, University of California, Los Angeles.

Gale, I., and J.E. Stiglitz. 1989. The Informational Content of Initial Public Offerings. The Journal of Finance, Vol. XLIV. No. 2: 469-477.

Grinblatt, M., and C.Y. Hwang. 1989. Signalling and the Pricing of New Issues. The Journal of Finance, 44: 393-420.

Hughes, P.J. 1986. Signalling By Direct Disclosure under Asymmetric Information, Journal of Accounting And Economies, 8: 119-142.

_________. 1992. Discussions of “The Valuation of Initial Public offerings”, Contemporary Accounting Research Vol. 5        No. 2: 519-525.

Jogiyanto, H. M. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investisi, edisi 2, BPFE Yogyakarta.

Keasey, K., and H. Short. 1997. Equity Retention and Initial Public Offering: The Influence of Signalling and Entrenchment Effect. Applied Financial Economic 7: 75-85.

Krinsky, I., and W. Rotenberg. 1989. Signalling and the Valuation of Unseasoned New Issues Revisited. Journal of Financial and Quantitave Analysis Vol. 24 No. 2 June: 257-266.

Leland, H.E., and D.H. Pyle. 1977. Informational Asymmetries, Financial Strucutre, and Financial Intermediation. The Journal of Finance Vol. XXXII. No. 2: 371- 387.
Marwan Asri, 2003. Ketidakrasionalan Investor di Pasar Modal., Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Opler, T.C., and J. Sobokin. 1995. Does Coordinated Institutional Shareholders Activism Work? An Analysis of The Activities of The Council of Institutional Investors. Working Paper.

Prasad, D., and A. Merikas. 1990. Conveying Value of Firm’s Equity Through Signals: An Empirical Study of Initial Public Offerings. Journal of Economics and Finance Vol. 14:          171-180.

Reilly, F.K. 1992. Investment Analysis and Portofolio Manage¬ment, 3rd ed., Chicago, IL, The Dryden Press.

Ritter, J.R. 1991. The Long-Run Performance of Initial Public Offering. The Journal of Finance Vol. XLVI, No. 1: 3-27.

______1984. Signaling and the Valuation of Unseasoned New Issues: A Comment. The journal of Finance Vol. XXXIX. No. 40: 1231-1237.
______1984. The “Hot Issue” Market of 1980. Journal of Business Vol. 57 No. 2: 215-240.

Sartono, A. 2001. Pengaruh Aliran Kas Internal dan Kepemilikan Manajer dalam Perusahaan Terhadap Pembelanjaan Modal: Managerial Hypothesis atau Pecking Order Hypothesis. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 16, No. 1: 54-63.

Short, H., and K. Keasey. 1999. Managerial Ownership and the Performance of Firms: Evidence from the UK. Journal of Corporate Finance 5, 79-101.

Siegel, J.J., 1992. Does It Pay Stock Investors to Forecast the Business Cycle? Jurnal of Portfolio Management 18 (1),  28-38

Slovin, M.B., and M.E. Sushka. 1993. Ownership Concentration, Corporate Control Activity, and Firm Value: Evidence from the Death of Inside Blockholders. Journal of Finance            Vol. XLVIII, No. 4.

Smith, M.P. 1996. Shareholder Activism by Institutional Investors: Evidence from CalPERS. The Journal of Finance Vol. LL. No. 1: 227-252.

Tandelilin, E., and T. Wilberfore. 2002. Can Debt and Dividend Policies substitute Insider Ownership in Controlling Equity Agency Conflict? Gadjah Mada International Journal of Business Vol. 4. No .1: 31-43.

_______,2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. BPFE, Yogyakarta.
Varma, R. 2001. The Role of Institutional Investors in Equity Financing and Corporate Monitoring. Journal of Business and Economic Studies 7: 39-53.

Wahal, S., and J.J. McConnell. 2000. Do Institutional Investors Exacerbate Managerial Myopia? Journal of Corporate Finance 6: 307-329.

Wiyasha, I.B.M. 2003. Analisis Proporsi Kepemilikan Saham Pemilik Lama  Pada Penerbitan Saham Perdana Studi Kasus di BEJ. Disertasi tidak dipublikasikan, Universitas Gadjah Mada.

Winger, B.J., R.R. Frasca. 1991. Investment: Introduction to Analysis and Planning, 2nd ed., New York, NY, Macmillan.

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI “REFLECTIVE TEACHING”

Oleh : Joko Nurkamto

Assalaamu ‘Alaikum Warachmatullaahi Wabarakaatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Yang terhormat:
Bapak Rektor selaku Ketua Senat UNS,
Bapak Sekretaris dan Bapak/Ibu Anggota Senat UNS,
Bapak/Ibu Pimpinan Fakultas/Lembaga/Jurusan/Unit di Lingkungan UNS,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Anggota Sivitas Akademika UNS, dan
Segenap Tamu Undangan yang Berkenan Hadir.

Untuk mengawali pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya mengajak hadlirin untuk memanjatkan puji syukur alham¬du¬lillah ke hadirat Allah S.W.T atas rahmat dan hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di ruang ini dalam keadaan sehat wal-afiat tiada kurang suatu apa. Alhamdulillah, berkat perkenan-Nya pula pada kesempatan ini saya dapat menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai guru besar.

Hadlirin yang berbahagia,
Topik yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini adalah “Peningkatan Profesionalisme Guru melalui Reflective Teaching”. Pemilihan topik tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa guru memainkan peran yang sangat penting dalam pendidikan sekolah. Hal itu karena guru berfungsi sebagai manajer dan pemimpin pembelajaran (Gerstner dkk., 1995). Sebagaimana diketahui, bentuk konkret pendidikan adalah proses belajar-mengajar. Bahkan, secara lebih tegas dapat dikatakan bahwa inti pendidikan terletak pada proses belajar-mengajar. Itulah sebabnya, setelah mengadakan analisis yang komprehensif tentang kompo¬nen-komponen penentu, Soedijarto (1993a) menyimpulkan bahwa mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas proses belajar-mengajar; dan oleh karenanya, apabila terjadi penurunan mutu pendidikan, yang pertama kali harus dikaji adalah kualitas proses belajar-mengajar tersebut.
Kualitas proses belajar tergantung pada tiga unsur: (1) tingkat partisipasi dan jenis kegiatan belajar yang dihayati oleh siswa, (2) peran guru dalam proses belajar-mengajar, dan (3) suasana proses belajar.  Makin intensif partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar makin tinggi kualitas proses belajar itu (Soedijarto, 1993a). Tingkat partisipasi siswa yang tinggi dalam kegiatan belajar-mengajar dapat dicapai apabila mereka memiliki kesempatan untuk secara langsung (1) melakukan berbagai bentuk pengkajian untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman, (2) berlatih berbagai keterampilan kognitif, personal-sosial, dan psikomotorik, baik yang terbentuk sebagai efek langsung pengajar¬an maupun sebagai dampak pengiring pelaksanaan berbagai kegiatan belajar yang memiliki sasaran pembentukan utama lain, dan (3) menghayati berbagai peristiwa sarat nilai baik secara pasif dalam bentuk pengamatan dan pengkajian maupun secara aktif melalui keterlibatan langsung di dalam berbagai kegiatan serta peristiwa sarat nilai (Raka Joni, 1993).
Sebagai orang “nomor satu” di dalam kelas, guru ber¬tanggung jawab atas terselenggaranya proses belajar mengajar yang berkualitas. Karena perannya yang sedemikian penting, maka guru dituntut untuk senantiasa meningkatkan kemampuan profesio¬nal¬nya.

Konsep Mengajar
Sebelum berbicara lebih jauh tentang peningkatan profesio¬nalisme guru, terlebih dulu saya akan mengetengahkan konsep mengajar, yang menjadi tugas utama guru di sekolah (Pasal 39 UU RI No. 20/2003). Menurut Raka Joni (1993) mengajar adalah menggugah dan membantu terjadinya gejala belajar di kalangan siswa. Pendapat senada dikemukakan oleh Brown (1994), yang mengatakan bahwa mengajar adalah memberikan bimbingan dan fasilitas yang memungkinkan siswa dapat belajar. Sementara itu, Bowden dan Ference (1998) mengatakan bahwa mengajar bukan berarti mentransfer pengetahuan kepada siswa, tetapi membantu siswa mengembangkan pengetahuan mereka. Tugas guru adalah merancang kesempatan belajar yang mampu menghadapkan siswa pada pelbagai persoalan yang menuntut mereka mengidentifikasi dan memanipulasi variabel-variabel kritis untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Pendapat para ahli tentang mengajar di atas mengandung dua implikasi utama. Pertama, sebagai pengajar guru berperan hanya sebagai orang yang membantu siswa belajar. Bantuan tersebut berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan belajar serta penyediaan fasilitas belajar. Pemberian motivasi berkenaan dengan upaya mendorong siswa untuk belajar, baik melalui penyadaran (motivasi intrinsik) maupun melalui sistem ganjaran dan hukuman (motivasi ekstrinsik). Pemberian bimbingan mengacu pada pem¬berian arah agar siswa dapat belajar secara benar. Ini dapat dila¬ku¬kan antara lain dengan menjelaskan tujuan pelajaran, menjelaskan hakikat tugas (tasks) yang mereka kerjakan, dan menjelaskan strategi pengerjaan tugas tersebut. Penyediaan fasilitas belajar ber¬kenaan dengan upaya guru mempermudah terjadinya kegiatan belajar. Ini mencakup kegiatan yang luas seperti merancang kesempatan belajar, menciptakan kondisi yang kondusif bagi terjadinya pemelajaran, dan menyediakan sarana belajar (Richards dan Rodgers, 2001).
Kedua, yang bertanggung jawab atas terjadinya kegiatan belajar adalah siswa. Meskipun guru aktif mengajar, proses pemelajaran tidak terjadi apabila siswa tidak mau belajar. Di sini siswa menjadi subjek pemelajaran yang aktif dan mandiri (auto¬nomous learner). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cotteral dan Crabbe (1992) terhadap pemelajar bahasa menunjuk¬kan bahwa pemelajar yang mandiri adalah pemelajar yang (1) merencanakan dan mengorganisasi sendiri pengalaman belajarnya, (2) mengetahui bidang-bidang yang menjadi fokus pemelajaran, (3) memantau sendiri kemajuan belajarnya, (4) mencari kesempatan untuk ber¬latih, (5) memiliki antusiasme terhadap bahasa dan belajar bahasa, dan (6) memiliki kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa dan mencari bantuan apabila diperlukan.
Uraian tentang konsep mengajar di atas menyanggah pan¬dangan tradisional yang mengatakan bahwa mengajar adalah menyalurkan pengetahuan kepada siswa. Siswa dianggap tabung kosong yang siap diisi oleh guru. Siswa duduk dengan tenang di bangku yang ditata berjajar sambil mendengarkan keterangan guru, sedangkan guru sibuk di depan kelas menyampaikan materi pelajaran. Konsep mengajar sebagaimana diuraian di atas juga mengakibatkan berubahnya peran guru, dari sebagai sumber informasi tunggal menjadi fasilitator pemelajaran.
Selanjutnya di bawah ini diuraikan konsep belajar yang terkait erat dengan konsep mengajar di atas. Menurut Raka Joni (1993) belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan oleh siswa melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya. Kebermaknaan penga¬laman tersebut memiliki dua sisi, yaitu sisi intelektual dan sisi emosional. Kebermaknaan intelektual dicapai melalui dua proses, yaitu proses kognisi dan proses meta-kognisi. Proses kognisi mengacu pada terasimilasikannya isi pengalaman ke dalam struktur kognitif yang telah ada atau termodifikasinya struktur kognitif untuk mengakomodasikan isi pengalaman yang baru. Proses asimilasi kognitif terjadi apabila struktur kognitif yang telah ada mampu menampung isi pengalaman yang baru, sedangkan struktur akomodasi terjadi apabila isi pengalaman yang baru tidak dapat ditampung dalam struktur kognitif yang telah ada. Sementara itu, proses meta-kognisi mengacu pada kesadaran siswa atas proses kognisi yang sedang dilakukannya serta kemampuannya mengen¬da¬li¬kan proses kognisinya itu. Dengan kata lain, di samping menangkap pesan kegiatan belajar yang tengah dihayatinya, siswa juga membentuk kemampuan untuk belajar (learning how to learn).
Sisi emosional dari kebermaknaan pengalaman mengacu pada rasa memiliki pengalaman itu oleh siswa. Hal ini ditandai oleh kesadaran siswa bahwa isi pengalaman tersebut penting baginya, baik pada saat ia mengalaminya maupun untuk waktu-waktu yang akan datang. Penghayatan terhadap pentingnya isi pengalaman tersebut akan memotivasi siswa melakukan aktivitas yang merupa¬kan bagian dari pengalaman belajarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan motivasi intrinsik. Motivasi semacam itu menjadi landasan bagi terbentuknya kemampuan serta kebiasaan belajar secara mandiri (self-directed learning) (Raka Joni, 1993).

Mengajar sebagai Profesi (?)
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah mengajar atau menjadi guru adalah sebagai suatu profesi, sebagaimana dokter, akuntan, dan hakim? Dalam hal ini Ornstein and Levine (1984) mengidentifikasi 14 karakteristik suatu profesi, empat di antaranya dianggap paling penting. Keempat karakteristik itu adalah bahwa (1) pengetahuan dan keterampilan suatu profesi tidak dapat dipahami dan dikuasai oleh orang yang tidak mendalami pengetahuan dan keterampilan tersebut, (2) terdapat kontrol dan pengawasan ketat yang terus menerus terhadap standar pelayanan minimal dan  implementasinya di lapangan, (3) terdapat otonomi dalam membuat keputusan tentang bidang pekerjaan tertentu, dan (4)  orang yang memiliki suatu profesi memperoleh penghargaan yang tinggi, baik penghargaan material maupun immaterial.
Marilah kita lihat kondiri riil apa yang dikemukakan oleh Ornstein and Levine (1984) di atas, terutama di Indonesia, negara yang kita cintai ini. Pertama, kita dapati bahwa orang yang tidak pernah belajar bagaimana mengajar (learning how to teach) suatu pelajaran “dibiarkan” mengajar di sekolah-sekolah. Dalam peneli¬tiannya di delapan propinsi di Indonesia, Nuril Huda (1990) menemukan bahwa terdapat 37% guru-guru bahasa Inggris di sekolah lanjutan di Indonesia hanya berpendidikan SLTA dan mereka belum pernah memperoleh pelatihan di bidang TEFL (Teaching of English as a Foreign Language) sebelumnya. Pro¬gram-program sertifikasi yang akhir-akhir ini dilakukan oleh beberapa LPTK memperkuat temuan di atas.
Kedua, untuk menjadi guru di sekolah, orang, terutama yang sudah lulus dari suatu Lembaga Pendidikan Tenaga Kepen¬didikan (LPTK), cukup melamar dan memperoleh ijin dari pejabat setempat. Kalau ada tes, biasanya tes tersebut hanya berupa penge¬tahuan umum dan tidak berkenaan dengan “profesi” yang nantinya ia jalani, seperti tes mengajar, misalnya. Ketika ia mengajar, tidak ada kontrol dan pengawasan terhadap apa yang ia lakukan dengan pekerjaannya tersebut. Apabila ia membuat kesalahan dalam meng¬ajar, tidak ada sanksi apa pun. Ia tetap diperbolehkan mengajar.
Ketiga, organisasi guru di Indonesia, tidak memiliki otoritas yang memadai dalam pengambilan kebijakan yang ber¬kaitan dengan masalah keguruan. Organisasi tersebut misalnya, belum pernah memainkan peran yang signifikan dalam mengembangkan staf dan meningkatkan kesejahteraan guru. Bahkan, ketika banyak guru memperoleh perlakukan yang tidak adil (seperti pemotongan gaji yang tidak semestinya atau keterlambatan penerimaan gaji), organisasi tersebut tidak mengambil tindakan yang berarti.
Keempat, menjadi guru di Indonesia bukanlah menjadi pilihan pekerjaan yang membanggakan. Penyebabnya adalah bahwa penghargaan yang diterima oleh guru, terutama penghar¬gaan materi yang berupa gaji bulanan dan berbagai tunjangan lainnya, sangat kecil dibandingkan dengan gaji dokter, misalnya. Untuk menutup kebutuhan keseharian saja, seringkali seorang guru harus “mengamen” ke sana ke mari. Akibatnya, ia tidak pernah menekuni pekerjaannya sebagai guru; ia hanya menjadi “tukang mengajar”.
Berdasarkan keempat karakteristik di atas dan kondisi riil di lapangan, Ornstein and Levine (1984) menganggap bahwa mengajar atau menjadi guru bukanlah merupakan profesi dalam arti penuh, sebagaimana seorang  dokter, akuntan, dan hakim.
Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa, Richards and Lockhart (2000) mengatakan bahwa secara umum pengajaran bahasa tidak dianggap sebagai suatu profesi. Tingkat profesional¬is¬me guru terhadap pekerjaannya tergantung pada kondisi peker¬jaan¬nya, tujuan dan sikap pribadinya, dan prospek kariernya di dalam masyarakat. Elemen kunci dari itu semua adalah kesediaannya mengkaji praktek pengajarannya sepanjang kariernya untuk menjadi pengajar yang makin baik. Pendapat senada dikemukakan oleh Bartlett (dalam Richards and Lockhart, 2000), yang melihat kunci profesionalisme dalam mengajar terletak pada pemberian peranti kepada guru untuk dapat memahami secara lebih baik praktek mengajarnya di dalam kelas. Selanjutnya  Bartlett (dalam Richards and Lockhart, 2000: 40-41) mengatakan sebagai berikut:
I think we should be thinking about the best means or best professional development practices that will make teachers professionals. We need to find the best ways for helping them to explore their practice … that practice involves exploring the relationship between the individual teacher’s thinking and acting within the four walls of the classroom and the relationship between what the teacher does in the classroom and how this reproduces and/or transforms values and social ideals in society.

Guru yang Profesional
Istilah profesional dalam konteks ini digunakan menurut pandangan Richards and Lockhart (2000) di atas. Soedijarto (1993b) mengklasifikasikan kemampuan profesional ke dalam empat gugus, yaitu (1) merencanakan proses belajar mengajar, (2) melaksanakan dan memimpin proses belajar mengajar, (3) menilai kemajuan  proses belajar mengajar, dan (4) menafsirkan serta memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan infor¬masi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan dan pelaksana¬an proses belajar mengajar. Menurut Soedijarto, keempat gugus kemampuan tersebut dianggap sebagai kemampuan profesional karena di samping memerlukan cara kerja yang tidak mekanistik, keempat gugus kemampuan itu memerlukan penguasaan yang memadai akan dasar-dasar pengetahuan, pengetahuan tentang hubungan dasar-dasar pengetahuan dengan pelaksanaan pekerjaan, dan cara kerja dengan dukungan cara berfikir yang kreatif dan imajinatif.
Untuk memberikan gambaran sekilas tentang keempat gugus kemampuan di atas, berikut ini diketengahkan penjelasn singkat tentang masing-masing kemampuan itu. Yang pertama adalah merencanakan program belajar mengajar. Menurut Soedijarto (1993b), kegiatan itu meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (1) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (2) mengu¬raikan deskripsi satuan pelajaran, (3) merancang kegiatan belajar-mengajar, (4) memilih media dan sumber belajar untuk memberi¬kan fasilitas bagi dapat berlangsungnya proses belajar-mengajar, dan (5) menyusun instrumen untuk menilai pencapaian tujuan belajar yang telah ditetapkan. Untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan di atas, guru perlu menguasai berbagai pengetahuan dan kemampuan dasar yang berhubungan dengan (1) ilmu pengetahuan, yang merupakan sumber dari materi pelajaran suatu bidang studi; (2) pelajar, dengan segala karakteristiknya, terutama yang berhu¬bungan dengan kemampuan kognitif dan pola tingkah lakunya; (3) teori dan model belajar baik umum maupun khusus; (4) media dan sumber-sumber belajar; dan (5) teknologi pendidikan.
Langkah kedua adalah melaksanakan dan memimpin pro¬ses-belajar mengajar. Dalam tahap pelaksanaan ini semua ketentu¬an yang telah ditetapkan dalam rencana dicoba dilaksanakan dengan berbagai modifikasi sesuai dengan keadaan atau perkem¬bang¬an yang terjadi di lapangan. Dalam kaitan ini guru dituntut memiliki kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu dilakukan, seperti menghentikan kegiatan belajar karena diketemukannya kesalahan mendasar dari beberapa siswa dalam mengerjakan tugas; mengubah pola interaksi karena pola yang digunakan kurang efektif; mengarahkan dan memotivasi siswa karena sebagian dari mereka kurang memiliki semangat belajar; dan berbagai tindakan yang sering terjadi di luar rencana yang ditetapkan. Menurut Soedijarto (1993b), kemampuan melak¬sa¬nakan program memerlukan kemampuan menangkap perubahan, mengambil keputusan yang cepat dan tepat, memilih dan mengam¬bil alternatif pemecahan dengan segera, dan berbagai kemampuan lapangan yang memerlukan kiat dan kemampuan taktis.
Langkah ketiga adalah menilai kemajuan proses belajar mengajar. Menurut Soedijarto (1993b), kegiatan ini dapat dilaku¬kan dengan dua cara, yaitu secara iluminatif-observatif dan secara struktural-objektif. Yang pertama dilakukan dengan pengamatan berkelanjutan tentang perubahan dan kemajuan  yang diperlihatkan oleh siswa. Ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan mengajar. Yang kedua antara lain berkaitan dengan pemberian nilai, penentuan kedudukan siswa, dan pemberian angka yang lazim dilakukan dalam rangka penilaian kemajuan belajar.
Langkah terakhir adalah memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar dan informasi lainnya tentang pelajar bagi per¬baikan program belajar mengajar. Setiap pekerja profesional tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya, terutama dalam kaitannya dengan pemerolehan informasi yang diperlukan. Hal ini juga berlaku bagi guru yang profesional. Seorang guru seyogyanya mengetahui jenis informasi yang diperlukan, misalnya apabila harus menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar; mengetahui sumber informasi yang sahih dan dapat dipercaya; dan mengetahui begaimana menafsirkan informasi yang diperoleh baik dari orang tua siswa, dokter, psikolog, dan sumber informasi lain (Soedijarto, 1993 b).
Dari uraian tentang gugus kemampuan profesional di atas dapat diketahui bahwa untuk dapat merealisasikan kemampuan-kemampuan tersebut, guru perlu memiliki sejumlah pengetahuan dan penguasaan teknik dasar profesional.  Dalam kaitannya dengan masalah ini, Soedijarto (1993b) mengetengahkan enam belas jenis pengetahuan dan penguasaan yang dimaksud: (1) pengetahuan tentang disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan studi; (2) peguasaan materi bidang studi sebagai objek belajar; (3) penge¬tahuan tentang berbagai teori belajar, baik umum maupun khusus; (4) pengetahuan serta penguasaan berbagai model proses belajar, baik umum maupun khusus; (5) pengetahuan tentang kharakteristik dan kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik sebagai latar belakang dan konteks berlangsungnya proses belajar; (6) pengetahuan ten¬tang proses sosialisasi dan kulturisasi; (7) pengetahuan dan peng¬hayatan Pancasila sebagai pandangan hidup bagsa; (8) pengetahuan dan penguasaan berbagai media sumber belajar; (9) pengetahuan tentang berbagai jenis informasi kependidikan dan manfaatnya; (10) penguasaan teknik mengamati proses belajar mengajar; (11) penguasaan berbagai metode mengajar; (12) penguasaan teknik menyusun instrumen penilaian kemajuan belajar; (13) penguasaan teknik perencanaan dan pengembangan program belajar mengajar; (14) pengetahuan tentang dinamika hubungan interaksi antara manusia terutama dalam proses belajar mengajar; (15) pengetahuan tentang sistem pendidikan sebagai bagian terpadu dari sistem sosial negara-bangsa; dan (16) penguasaan teknik memperoleh informasi yang diperlukan untuk kepentingan proses pengambilan keputusan.
Deretan panjang pengetahuan dan penguasaan di atas menya¬darkan orang bahwa menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, sebagaimana dibayangkan oleh sementara kalangan. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Oleh karena itu calon guru perlu dibekali dengan pengetahuan filsafat, psikologi, sosio¬logi, antropologi, politik dan penelitian, di samping disiplin ilmu bidang studi (content) dan metodologi pengajaran.

Pengembangan Profesionalisme Guru
Secara tradisional, pengembangan profesionalisme guru dipahami sebagai  pemerolehan pengetahuan bidang studi dan ke¬teram¬pilan mengajar. Hal itu lazimnya dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti penataran dan lokakarya tanpa diikuti dengan kegiatan pembimbingan dan pendampingan dalam implementasi¬nya di lapangan. Seringkali, apa yang dilakukan dalam penataran dan lokakarya tersebut terpisah dari tugas-tugas keseharian sebagai guru yang mengajar di dalam kelas (Dewi Rochsantiningsih, 2004). Bahkan tidak jarang, apa yang direkomendasikan dalam penataran atau lokakarya tersebut tidak dapat diaplikasikan di sekolah karena faktor-faktor tertentu, seperti pemahaman kepala sekolah yang kurang memadai akan hakikat bidang kajian yang ditatarkan itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila tidak terdapat per¬bedaan kompetensi mengajar yang signifikan antara masa sebelum dan sesudah penataran atau lokakarya.
Akhir-akhir ini, pengembangan profesionalisme guru men¬cakupi perspektif yang lebih luas, yang meliputi keseluruhan penga¬laman belajar, baik formal maupun informal, sepanjang karier seseorang dari pendidikan prajabatan hingga masa pensiun (Fullan dalam Dewi Rochsantiningsih, 2004). Pendapat tersebut senada dengan pendapat Richards and Lockhart (2000) bahwa pengembangan profesionalisme guru terletak pada kesediaan guru untuk mengkaji praktek pengajarannya sepanjang kariernya untuk menjadi pengajar yang makin lama makin baik.
Beberapa strategi yang efektif tentang pengembangan pro¬fesionalisme guru disarankan oleh Darling-Hammond (dalam Dewi Rochsantiningsih, 2004). Strategi yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) melibatkan guru dalam tugas mengajar keseharian yang nyata; (2) didasarkan pada permasalahan yang terjadi di lapangan; (3) bersifat kolaboratif, yang melibatkan pertukaran pemikiran beberapa guru; (4) terkait dengan pekerjaan guru dengan siswanya serta pengkajian terhadap bidang studi dan metode penyampai¬an¬nya; (5) intensif dan berkelanjutan, yang didukung oleh modeling, pendampingan, dan pemecahan masalah yang bersifat lokal dan kontekstual; dan (6) terkait dengan aspek-aspek lain tentang peru¬bahan kebijakan di sekolah.

Peningkatan Profesionalisme Guru melalui Reflective Teaching
Sejumlah pendekatan pengembangan guru telah diusulkan dan diimplementasikan di dalam kelas. Di antaranya adalah guru sebagai peneliti, penelitian tindakan kelas, supervisi klinis, dan perspektif pedagogi kritis. Pendekatan lain pengembangan guru adalah reflective teaching (Bartlett, 1990). Karakteristik profesio¬nal¬is¬me guru sebagaimana dikemukakan di atas memandatkan guru untuk secara terus menerus memikirkan secara reflektif apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakannya di dalam kelas (Raka Joni, 1992). Inilah yang kemudian lazim dikenal sebagai pengajaran reflektif (reflective teaching). Pengajaran reflektif merupakan proses siklikal pengembangan profesionalisme guru.
Makna pengajaran reflektif dapat disimpulkan dari pendapat John Dewey (dalam Henke, 2001: 1) yang mendefinisikan refleksi sebagai “that which involves active, persistent, and careful conside¬ration of any belief or practice in light of the reasons that support it and the further consequences to which it leads”.  Apabila diterap¬kan dalam pengajaran, maka diperoleh pengertian bahwa penga¬jaran reflektif adalah penggunaan kesempatan oleh seorang guru dalam kehidupannya sehari-hari untuk secara sistematis mengeks¬plorasi, mempertanyakan, dan membingkai kembali praktek penga¬jarannya secara holistik untuk dapat membuat interpretasi secara benar berdasarkan keadaan di lapangan dan kemudian dapat menentukan pilihan yang tepat untuk memperbaiki kinerjanya.
Pendapat senada dikemukakan oleh Cruickshank (dalam Bartlett, 1990), yang mendefinisikan pengajaran reflektif sebagai pemikiran guru tentang apa yang terjadi dengan pelajaran di dalam kelas dan pemikiran tentang cara-cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ia melihat pengajaran reflektif sebagai cara untuk mengkaji peristiwa pengajaran secara cermat, analitis, dan objektif. Tujuannya adalah untuk melahirkan kebiasaan berpikir yang ber¬fokus pada  mengajar sebagai keahlian.
Untuk dapat melakukan pengajaran reflektif tersebut guru perlu memiliki kesadaran akan praktek pengajarannya dan kesedia¬annya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Hal ini pada giliran¬nya melahirkan sikap-sikap lain yang sangat penting. Sikap yang dimaksud adalah keterbukaan (open-mindedness), keterlibatan secara penuh (whole-heartedness), dan tanggung jawab (responsi¬bility) (Dewey, dalam Loughran, 1996). Keterbukaan mengacu pada kesediaan mempertimbangkan masalah dari berbagai perspektif yang berbeda, dan bersikap terbuka terhadap gagasan baru yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Keterlibatan secara penuh mengacu pada keterlibatan guru dalam pemikiran dan pengalaman kepengajaran. Yang bersangkutan senantiasa meme¬liha¬ra minat dan perhatiannya serta mencari cara-cara untuk memperbaiki keadaan. Tanggung jawab mengacu pada kesediaan seorang guru untuk menanggung segala akibat dari apa yang telah dipikirkan, dipilih, dan dialami di lapangan.
Dalam pengajaran reflektif, guru terlibat dalam siklus yang berkesinambungan yang terdiri atas beberapa langkah yang terkait satu sama lain. Bartlett (1990) mengidentifikasi lima langkah tersebut sebagai berikut: mapping, informing, contesting, appraisal, dan acting. Mapping berkaitan dengan pertanyaan “Apa yang kita lakukan sebagai guru?”  Langkah ini melibatkan pengumpulan data secara deskriptif tentang kegiatan mengajar kita di dalam kelas. Pengumpulan data tersebut dapat dilakukan dengan peranti audio visual atau dengan jurnal/buku harian. Data yang kita kumpulkan berkenaan dengan perilaku kita di dalam kelas, percakapan dengan siswa, critical incidents di dalam pelajaran, kehidupan pribadi kita sebagai guru, kepercayaan kita tentang mengajar, pandangan kita tentang belajar, dan lain-lainnya.
Informing berkaitan dengan pertanyaan “Apa arti mengajar kita?” Setelah memperoleh gambaran tentang kegiatan mengajar kita, tentang diri kita sendiri, tentang materi pelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran, kita mencari makna dari semuanya itu. Mungkin kita dapat membedakan antara ke¬giatan mengajar yang kita lakukan secara rutin dan yang kita lakukan secara sadar. Ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan mengajar kita.
Contesting berkenaan dengan pertanyaan “Bagaimana kita dapat mengajar dengan cara ini?” Pada langkah ini kita memper¬tanyakan gagasan kita berikut landasan berpikirnya. Langkah ini dimaksudkan untuk menguak asumsi-asumsi yang selama ini kita pegang berkenaan dengan kegiatan kepengajaran kita, yang berarti mempertanyakan kembali gagasan yang mungkin telah mengakar tentang mengajar. Apabila dalam mapping dan informing kita menggu¬na¬kan teori-teori yang mendukung praktek kepengajaran kita, maka dalam contesting kita mengkritisi teori-teori tersebut. Pada fase ini kita mengidentifikasi ketidakharmonisan antara apa yang kita laku¬kan dengan apa yang kita pikirkan. Kontradiksi akan muncul mana¬kala gagasan untuk suatu tindakan tidak dapat terealisasi secara bersama-sama sekaligus. Dengan demikian, apabila kita mengikuti suatu prinsip kita meninggalkan prinsip yang lain. Seringkali harapan kita untuk memperbaiki kepengajaran kita terhambat oleh aturan-aturan kelembagaan.
Appraisal berkenaan dengan pertanyaan “Bagaimana kita dapat mengajar dengan cara yang berbeda dari sebelumnya?” Apa¬bila langkah sebelumnya, contesting, mengarahkan kita pada pencarian alternatif tindakan dalam mengajar, pada langkah ini kita mulai mengaitkan dimensi pemikiran reflektif kita dengan pen¬carian cara mengajar yang konsisten dengan pemahaman baru kita. Pertanyaan yang muncul pada langkah ini adalah “apa yang terjadi jika saya mengubah cara mengajar kita?”
Langkah terakhir, acting, berkenaan dengan pertanyaan “Bagaimana sekarang kita mengajar?” Langkah ini merupakan implementasi dari apa yang telah kita hipotesiskan pada langkah appraisal. Langkah ini dapat dikatakan sebagai pengetesan hipo¬tesis. Hasil pengetesan tersebut dapat digunakan untuk menerima atau menolak gagasan kita tentang mengajar yang masih bersifat taksiran.
Dengan melaksanakan pengajaran reflektif, guru akan dapat mengajar secara lebih baik karena ia memiliki kesadaran tentang apa yang dilakukannya seraya melakukan perubahan ke arah kebaikan. Tindakan yang diambilnya senantiasa didasarkan pada alasan yang kuat dan pada asumsi yang telah teruji.

Penutup
Intisari dari pidato saya adalah sebagai berikut. Guru meru¬pa¬kan ujung tombak pelaksanaan pendidikan karena gurulah yang secara langsung memimpin kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, yang menjadi inti kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, guru menjadi orang pertama yang bertanggung jawab atas kualitas pendidikan di sekolah. Karena perannya yang sangat penting, guru dituntut memiliki profesionalisme yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Beberapa pendekatan telah diusulkan dan dilaksanakan dalam rangka peningkatan profesionalisme guru; salah satu di antaranya adalah melalui pengajaran reflektif. Dalam pengajaran reflektif, guru menggunakan kesempatan dalam tugasnya sehari-hari untuk secara sistematis mengeksplorasi, mempertanyakan, dan membingkai kembali praktek pengajarannya secara holistik untuk dapat membuat interpretasi secara benar berdasarkan keadaan di lapangan dan kemudian dapat menentukan pilihan yang tepat untuk memperbaiki kinerjanya. Untuk dapat melakukan pengajaran reflektif tersebut guru perlu memiliki kesadaran akan praktek pengajarannya dan kesediaannya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dalam bidang pendidikan sekolah, pengajaran reflektif men¬jadi salah satu kecenderungan (trend) mutakhir yang menggeser minat orang yang sebelumnya berpusat pada metode mengajar. Pengajaran reflektif bukanlah metode mengajar tetapi beyond the methods dan memiliki perspektif yang lebih holistik. Diharapkan dengan melaksanakan pengajaran reflektif ini, guru mampu me¬ning¬katkan profesionalismenya. Pertanyaannya adalah sejauh mana kesadaran kita akan praktek kepengajaran yang kita lakukan sehari-hari dan sejauh mana tingkat kesediaan kita untuk berubah ke arah perbaikan. Waullaahu a’lam.
Hadlirin yang berbahagia
Di penghujung pidato pengukuhan ini perkenankanlah saya sekali lagi memanjatkan puji syukur ke hadlirat Allah SWT atas ni’mat yang telah dilimpahkan kepada saya dan keluarga saya yang berupa penganugerahan jabatan guru besar. Saya yakin bahwa tanpa ridlo dan perkenan-Nya saya tidak mungkin memperoleh jabatan fungsional tertinggi dalam bidang pendidikan ini.
Di samping itu, saya juga menyadari sepenuhnya bahwa jabatan ini dapat saya peroleh berkat dorongan dan bantuan ber¬bagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1.    Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2.    Rektor yang sekaligus menjadi Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. dr. H. Muhammad Syamsulhadi, Sp.Kj. dan mantan Rektor UNS, Prof. Drs. Haris Mudjiman, M.A., Ph.D.; Sekretaris Senat UNS, Prof. Dr. Sunardi, M.Sc. dan mantan Sekretaris Senat UNS, Prof. Drs. Soekiyo; seluruh anggota senat UNS; Dekan yang sekaligus Ketua Senat FKIP UNS, Drs. Trisno Martono, M.M. beserta seluruh anggota senat FKIP UNS yang telah mengusulkan saya sebagai guru besar FKIP UNS.
3.    Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP UNS,     Drs. Amir Fuady, M. Hum. dan mantan Ketua Jurusan PBS FKIP UNS, Drs. Suyitno, M.Pd.; Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNS, Drs. Gunarso Susilohadi, M.Ed. dan mantan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Drs. Suparno, M.Pd. serta segenap rekan-rekan dosen di Jurusan PBS FKIP UNS yang telah memuluskan pengusulan saya sebagai guru besar.
4.    Prof. Dra. Hj. Warkitri, Prof. Drs. Soekiyo, Prof. Dr. Thomas Soemarno, M.Pd., Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro yang seccara pribadi senantiasa mendorong saya untuk melakukan lompat jaba¬tan ke guru besar.
5.    Prof. Siswojo Hardjodipuro, Ph.D. (almarhum), Prof. Sri Utari Subyakto Nababan, Ph.D., dan Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., Ph.D. selaku promotor dan ko-promotor yang membimbing penulisan disertasi ketika saya masih menjalani program doktor di Universitas Negeri Jakarta. Dengan gelar doktor tersebut saya dapat melompat jabatan ke guru besar.
6.    Segenap guru dan dosen saya, mulai dari madrasah ibti¬da¬iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), — keduanya di Ngawi –, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Surakarta, Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNS, Magister Pendi¬dikan Bahasa IKIP Jakarta, dan Doktor Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta yang telah membimbing saya sehingga saya dapat meniti dan mencapai karier seperti sekarang ini. Secara khusus saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada guru saya Prof. Soenjono Dardjowijojo, Ph.D., Prof. Dr. Anton M. Moeliono, M.A., Prof. Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri, dan Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., Ph.D. yang telah membentuk karakter akademik saya dan senantiasa mendorong saya untuk terus berkarya.
7.    Bapak dan Ibu saya, Bapak H. Samuri, Ibu Musa’adah, Bapak Muhammad Toha, Ibu Suwarni, Bapak Muhammad Humam Abdurrochman (alm), dan Ibu Hj. Munawaroh yang telah melahirkan, membesarkan, mengasuh, dan men¬didik saya hingga saat ini. Mereka senantiasa memberi restu kepada saya untuk meniti karier dan senantiasa mendoakan saya agar saya berhasil. Mereka juga menjadi tempat saya berkeluh kesah dan dengan sabar dan penuh kasih sayang mereka memberikan pencerahan bak embun pagi yang menyejukkan hati. Di atas ridlo merekalah saya dapat me¬niti karier setinggi ini. Terima kasih Bapak dan Ibu.
8.    Istri saya tercinta, Dra. Mustabsiroh, dan keempat anak saya, Afif, Ida, Dana, dan Tia yang telah banyak berkorban untuk saya, terutama ketika saya menempuh studi lanjut di Jakarta selama kurang lebih 10 tahun. Kesempatan dan dorongan yang engkau berikan, kesabaran yang engkau perlihatkan, dan doa yang engkau panjatkan memungkinkan saya dapat bekerja dengan baik. Tanpa dukungan darimu saya tidak mungkin berhasil. Saya sungguh berhutang budi pada kalian semua.
9.    Anggota panitia pengukuhan, rekan-rekan wartawan yang meliput acara ini, serta segenap hadlirin yang berkenan hadir dalam acara ini. Tanpa partisipasi dan bantuannya, acara ini tidak akan berlangsung dengan baik dan lancar.

Saya berdoa semoga  Allah SWT berkenan memberikan imbalan yang berlipat kepada pihak-pihak yang telah saya sebutkan di atas atas apa yang telah diberikan kepada saya. Akhirnya, semoga Allah berkenan memberkati kita semua, amiin.

Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Bartlett, Leo. (1990). “Teacher Development through Reflective Teaching” . Dalam Richards, Jack C. dan Nunan, David (eds.). Second Language Teacher Education, 202 – 214. Cambridge: Cambridge University Press.
Bowden, John dan Ference, Marton. (1998). The university of learn¬ing: Beyond quality and competence in higher education. London: Kogan Page. http://www.unca.edu/et/br 110698.html.
Brown, H. Douglas. (1994). Principles of language learning and teaching. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice Hall Regents.
Cotteral, Sara dan Crabbe, David. (1992). “Fostering autonomy in the language classroom: Implications for teacher education,” Guidelines, vol. 14 No. 2 Desember. Singapura: SEAMEO Regional Language Centre.
Dewi Rochsantiningsih. (2004). Enhanching Professional Develop¬ment of Indonesian High School Teachers through Action Research. Disertasi (tidak dipublikasikan). Macquarie University.
Gerstner, et al. (1995). Reinventing education: Entrepeneurship in America’s public school.  New York: A Plume Book.
Henke, Niura Regiane. (2001). “Reflective Teaching.” Disal, New Route: http://www.disal.com.br/nroutes/nr5/pgnr5_08.htm
Loughran,J. John. (1996). Developing Reflective Practice: Learn¬ing about Teaching and Learning through Modelling. London: Falmer Press.
Ornstein, Allan C. and Levine, Daniel U. (1984). An Introduction to the Foundation of Education (third edition). Boston: Houghton Mifflin Company.

Raka Joni, T. (1992). Pokok-pokok pikiran mengenai pendidikan guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
__________.(1993). “Pendekatan cara belajar siswa aktif: Acuan konseptual peningkatan mutu kegiatan belajar-mengajar.” Dalam Conny R. Semiawan dan T. Raka Joni (Eds.).  Pende¬kat¬an pembelajaran: Acuan konseptual pengelolaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pen¬didikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.
Reiman, A.J. (1999). What is reflective practice in teaching? http://www.ncsu.edu/mctp/reflection/reflective_practice.html
Richards, Jack C. dan Rodgers, Theodore S. (2001). Approaches and methods in language teaching: A description and analysis. Cambridge: Cambridge University Press.
Richards, Jack C. dan Lockhart, Charles. (2000). Reflective teach¬ing in second language classrooms. Cambridge: Cambridge University Press.
Soedijarto. (1993a). Memantapkan sistem pendidikan nasional. Jakarta: Gramedia Widiarsa Indonesia.
__________. (1993b). Menuju pendidikan nasional yang relevan dan bermutu. Jakarta: Balai Pustaka.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: BP. Cipta Jaya.

KONSELING PERKAWINAN, HUBUNGAN SUAMI-ISTERI, DAN KESEHATAN SEKSUAL, SERTA IMPLIKASINYA

Oleh:
Prof. Dr. H. Soeharto, M.Pd

Yang saya hormati,
Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Dekan dan Pembantu Dekan di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala Biro dan para   Kepala UPT, serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para Ketua Jurusan, Ketua Laboratorium, dan Staf Pengajar Universitas Sebelas Maret utamanya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Para Sejawat dosen dan Staf Administrasi, Tamu Undangan, dan Mahasiswa.

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua;
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur Alham¬dulillah ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia dan kenikmatan berupa sehat kepada kita semua sehingga pada pagi hari ini kita dapat berkumpul bersama di tempat ini; dan saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendi¬dikan, Universitas Sebelas Maret.

PENDAHULUAN

Hadirin yang saya hormati;
Dari fakta yang kita amati langsung di masyarakat maupun dari yang kita ketahui dari media masa, kita dapat mengatakan bahwa begitu banyak masalah yang muncul ke permukaan ber¬kaitan dengan kehidupan keluarga sebagai akibat dari perkawinan. Masalah-masalah dalam keluarga khususnya yang menyangkut hubungan suami-isteri, demikian merebak dan susul-menyusul seolah tak ada akhirnya. Masalah-masalah tersebut selayaknya diatasi sesegera mungkin, dan kalau tidak segera diatasi atau tertunda pengatasannya, tidak saja mengakibatkan terganggunya komunikasi mereka; namun juga dapat berakibat lebih jauh berupa terganggunya kualitas perilaku seksual mereka dan tidak menutup kemungkinan menjadi betul-betul tidak sehat perilaku seksualnya.
Kehidupan keluarga yang harmonis, utamanya hubungan suami-isteri yang harmonis tentu saja menjadi harapan atau ke¬inginan siapapun yang akan dan telah melakukan perkawinan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua yang telah melakukan perkawinan atau pernikahan selalu diikuti suatu keharmonisan dalam hubungan mereka, dan bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengalami kegagalan dalam perkawinannya. Setelah dikaji, sumber penyebab ketidak harmonisan hubungan mereka bermacam-macam dan berbeda-beda; ada yang karena belum atau tidak memahami karakteristik pasangannya, ada yang karena tidak tahu bagaimana seharusnya berkomunikasi yang tepat dengan pasangannya, ada yang karena salah satu tidak mencintai pasangannya sepenuh hati, ada yang karena mencintai pasangannya namun tidak bisa mewujudkan cintanya, dan lain sebagainya.  Komunikasi yang tidak harmonis dapat berakibat perilaku seksual dirinya tidak sehat, demikian pula pasangannya; dan sebaliknya karena perilaku seksualnya tidak sehat dapat mengakibatkan rusak¬nya hubungan harmonis mereka sebagai suami-isteri. Demikianlah   kejadian itu berjalan bagaikan lingkaran setan, namun kajian kali ini lebih ditekankan pada dampak ketidak harmonisan hubungan suami-isteri terhadap perilaku seksualnya, dan bukan sebaliknya dampak ketidak-sehatan perilaku seksual terhadap keharmonisan hubungan dengan pasangannya.
Banyak cara atau upaya yang dapat dilakukan agar terhindar atau teratasi keadaan yang mengerikan itu. Konseling perkawinan merupakan salah satu alternatif cara atau upaya yang dapat dilaku¬kan agar tercipta hubungan yang harmonis pada pasangan suami-isteri, yang pada gilirannya perilaku seksual yang sehat dapat terwujud dan ternikmati atas ridha Allah Yang Mahakuasa. Sehubungan dengan itu, pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar ini saya beri judul ”Konseling Perkawinan, Hubungan Suami-Isteri, dan Kesehatan Seksual, serta Implikasinya”.
Kajian ini, dimaksudkan untuk dapat lebih memahami penting¬nya tiga hal (variabel) ini dalam kehidupan kita, dan selanjutnya diharapkan dapat memberi manfaat kepada kita calon suami dan calon isteri, serta pasangan suami-isteri yang mem¬butuhkannya. Kajian ini dan mungkin contoh-contoh kasus yang saya kemukakan ada kesamaannya dengan yang hadirin alami, percayalah bahwa itu semua hanya kebetulan saja; karena saya tidak tahu sama sekali apa dan bagaimana yang terjadi pada diri para hadirin sekalian di ruangan ini.

KESEHATAN SEKSUAL

Hadirin yang saya hormati,
Kesehatan seksual menunjuk kepada suatu rentang kondisi perilaku seksual dari yang tidak sehat sampai pada yang sehat. Perilaku seksual yang sehat dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang normal, yang adekwat, dan yang tidak mengalami gangguan fungsi; dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang tidak normal, tidak adekwat, dan mengalami gangguan fungsi (disfungsi seksual). Sesuai dengan topik pembicaraan kali ini, istilah-istilah tersebut diwakili oleh istilah perilaku seksual yang sehat untuk keadaan perilaku seksual yang positif, dan perilaku seksual yang tidak sehat untuk  perilaku  seksual  yang  negatif; meskipun demikian dalam penyampaiannya akan digunakan istilah-istilah tersebut bergantian.
Kondisi perilaku seksual seseorang dan pasanganya, baik yang sehat maupun yang tidak sehat mewarnai kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya; artinya perilaku seksual yang sehat dapat membuat hidupnya berkualitas dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat dapat membuat hidupnya tidak ber¬kualitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Wimpie Pangkahila (2006:13-14) yang menyatakan bahwa pada akhirnya disfungsi seksual dapat mengganggu kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya. Pendapat ini menggambarkan betapa urgentnya kondisi perilaku seksual seseorang dalam kehidupannya. Kualitas hidup seseorang seolah tergantung pada kesehatan perilaku seksual¬nya. Namun, banyak yang tidak menyadari akan hal itu. Banyak orang tidak menyadari bahwa kehidupan seksual sangat mempengaruhi kualitas hidup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan bahwa ”aktivitas seksual” sebagai salah satu aspek dalam menilai kualitas hidup manusia. Berarti kalau kehidupan seksual terganggu, maka kualitas hidup juga terganggu. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual baik dan menyenangkan, maka kualitas hidup menjadi lebih baik (Wimpie Pangkahila, 2006:3). Sayangnya orang baru sadar setelah akibat darinya sudah terlalu jauh, sudah memporak porandakan kebahagiaan yang selama ini telah dicapai dan yang akan dicapainya.

Hadirin yang saya hormati,
Rono Sulistyo (1977:103-107) menggolongkan perilaku seksual manusia tidak memadai ke dalam tiga golongan, yakni:          (1) cara-cara yang tidak normal dalam pemuasan keinginan seks, seperti: sadisme, masochisme, exhibitionisme, scoptophilia, voyeurisme, dll; (2) partner seksual yang tidak normal, seperti: homoseksualitas, pedophilia, bestiality, necrophilia, frottage, dll;  (3) derajat ketidak normalan daripada keinginan dan kekuatan dorongan seksual, seperti: anorgasme, dyspareunia, vaginisme, frigidity, impotency, dll.
Wimpie Pangkahila (2006:3-5) mengemukakan jenis-jenis disfungsi seksual pada pria, yakni: (1) mengalami gangguan dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan ereksi, (3) mengalami gangguan ejakulasi, (4) mengalami disfungsi orgasme, (5) mengalami dyspereunia. Sedangkan jenis-jenis dis¬fungsi seksual pada wanita, yakni: (1) mengalami gangguan   dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan bangkitan seksual, (3) mengalami gangguan orgasme, (4) menga¬lami gangguan yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin dan sekitarnya, dan kekejangan abnormal otot vagina 1/3 bagian luar.
Itulah jenis-jenis perilaku seksual yang tidak memadai atau yang mengalami gangguan yang sengaja dikemukakan secara garis  besar, sebagai gambaran tentang perilaku seksual yang tidak sehat; yang perlu mendapatkan perhatian dan yang sedang dikaji dari sudut pandang konseling perkawinan saat ini.

Hadirin yang saya hormati,
Perilaku seksual tidak sehat pada seseorang, dapat disebab¬kan oleh banyak faktor, namun dapat dikelompokkan ke dalam dua faktor besar yakni: faktor fisik dan psikis. Dalam hal ini, Wimpie Pangkahila (2006:7-9) mengemukakan bahwa pada dasarnya dis¬fungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik ialah semua penyebab yang berupa gangguan fisik atau penyakit yang berpengaruh terhadap fungsi seksual. Sedang faktor psikis, ialah semua penyebab yang secara kejiwaan dapat mengganggu reaksi seksual terhadap pasangannya sehingga fungsi seksual terganggu.
Tanpa mengurangi perhatian saya terhadap faktor fisik, saya akan lebih fokus kepada faktor psikis yang dapat mempengaruhi fungsi seksual seseorang, karena faktor psikis penyebab sehat tidak¬nya perilaku seksual inilah yang merupakan bidang kajian konseling perkawinan. Dalam hal faktor psikis yang dapat meng¬akibatkan disfungsi seksual, lebih lanjut Wimpie Pangkahila (2006:8) menyatakan bahwa faktor psikis yang dapat meng¬akibatkan disfungsi seksual meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan, yaitu periode anak-anak, remaja, dan dewasa. Faktor psikis tersebut dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, dan faktor pembinaan. Faktor predisposisi, misal¬nya pandangan yang negatif tentang seks, trauma seksual, pendi¬dikan seks kurang, hubungan keluarga terganggu, masalah gaya hidup, dan tipe kepribadian. Faktor presipitasi, misalnya akibat  psikis karena penyakit atau gangguan fisik, proses penuaan, ketidak setiaan terhadap pasangan, harapan yang berlebihan, depresi dan kecemasan, dan kehilangan pasangan atau yang disebut widower’s syndrome.
Faktor pembinaan misalnya karena pengalaman sebelumnya, hilangnya daya tarik pasangan, komunikasi tidak baik, takut yang berkaitan dengan keintiman, dan informasi seks yang kurang.

Hadirin yang saya hormati,
Seksualitas manusia mengalami perkembangan. Fundasi perkembangan seks dan seluruh kepribadian manusia telah di¬tentukan pada umur lima tahun pertama.
Perkembangan kepribadian manusia sebagian besar ditentu¬kan oleh perkembangan seksualitasnya (Sigmund Freud, dalam Sikun Pribadi (1981:184). Pendapat tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa begitu eratnya hubungan antara seks dan kepribadian. Dalam hubungan ini, Masters & Johnson, dalam Sikun Pribadi (1981:184) menyatakan bahwa ”seksualitas adalah dimensi (aspek) dan pernyataan daripada kepribadian” (sexuality is a dimension and expression of personality). Pendapat ini dapat dimaknai bahwa kesehatan perilaku seksual seseorang diwarnai   oleh  kesehatan kepribadiannya. Dengan kata lain, sehat tidaknya perilaku seksual seseorang tergantung pada sehat tidaknya kepri¬badian seseorang tersebut. Pertanyaan yang sering muncul dan ditunggu-tunggu jawabannya adalah apakah perilaku seksual yang tidak sehat tersebut dapat diatasi apa tidak? Jawabnya adalah dapat. Perilaku seksual yang tidak sehat dapat diatasi. Bagaimana caranya? Dalam hal cara mengatasi, Wimpie Pangkahila (2006:14-15) menyatakan bahwa pada dasarnya cara mengatasi disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, terdiri dari: (1) konseling seksual, (2) sex therapy, (3) penggunaan obat, dan (4) penggunaan alat bantu. Dengan demikian, konseling khususnya konseling seksual sebagai salah satu alternatif cara dapat ditempuh guna membantu klien-klien yang sedang ”menderita” karena tidak sehat perilaku seksualnya.

Hubungan Suami-Isteri

Hadirin yang saya hormati,
Hubungan suami-isteri yang harmonis merupakan dambaan setiap pasangan. Burgess dan Locke (1960:294-306) mengemuka¬kan bahwa keharmonisan hubungan suami-isteri meliputi kompo¬nen-komponen: (1) saling mencintai, (2) adanya saling keter¬gantungan emosional, (3) adanya pemahaman yang simpatik,             (4) adanya kesesuaian temperamental (saling melengkapi dan salaing menutup kekurangan yang ada), dan (5) adanya saling ketergantungan peranan, perilaku seksual, dan keluarga ekstra.
Sebagai suami, selayaknya memerankan diri sebagai ”sex partner” yang setia bagi isterinya, yang membatasi dirinya dalam memuaskan nafsu birahinya, sehingga suami yang bijaksana mengerti apa artinya cinta itu, yaitu bukan saja minta dicintai melainkan juga mampu mencintai yang sangat dibutuhkan sang isteri. Demikian pula sebaliknya, isteri pun selayaknya juga memerankan diri sebagai ”sex partner” bagi suaminya atas dasar cinta. Jadi, jelas bahwa suami dan isteri selayaknya saling men¬cintai, sesuai dengan rumus cinta yakni ”memberi dan menerima” (give and receive), dan bukannya ”memberi dan meminta” (give and take). Suami harus ”memberi” kepada isterinya, tetapi juga ”menerima” dari isterinya tanpa memintanya. Demikian pula isteri harus ”memberi ” kepada suaminya, tetapi juga ”menerima” dari suaminya tanpa memintanya.
Demi kelanggengan hidup bersama, setiap pasangan suami-isteri memerlukan bangunan kaidah dan ketentuan yang khas. Artinya, kehidupan suami-isteri hanya mungkin tegak dan ber¬langsung dalam suasana tenteram dan damai bila dilandasi perasaan cinta dan kasih sayang. Dengannya, pasangan suami-isteri akan mampu melewati jalan kehidupan dan memperoleh kesempurnaan yang didamba. Kehidupan bersama yang kosong dari pengaruh cinta, pengorbanan, dan toleransi, akan menjadi tidak berarti. Kehidupan tanpa cinta dan saling menghargai merupakan kehidupan yang hina dan tidak bernilai, bahkan kita tidak dapat menyebutnya sebagai kehidupan (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007:20).
Salah satu motif seorang wanita berani menerjunkan diri dalam kehidupan berumah tangga ialah karena cinta, yaitu ingin memberikan cinta tetapi juga ingin menerima cinta. Cinta adalah simbol psikologis bagi setiap wanita, sebab bila faktor ini tidak ada maka suasana rumah tangga akan dingin tanpa kehangatan dan  kegembiraan. Hal ini penting juga bagi perkembangan anak-anak yang dilahirkan dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa suasana hangat yang penuh dengan cinta, anak-anak tidak akan dapat mengem¬bangkan inteligensinya, dan tidak akan dapat mengem¬bang¬kan rasa simpatinya terhadap sesama manusia sebagai makhluk sosial. Ketidak mampuan anak dalam pergaulan sosial (sikap mengundurkan diri, sifat pemalu, konflik dengan anak-anak lain) justru karena kekurangan suasana hangat dan lembut dari sang ibu yang penuh kasih sayang (Sikun Pribadi, 1981: 42).
Kasih sayang dari ibu kepada anak sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak di masa-masa selanjutnya. Artinya, kalau pada masa kecil utamanya pada masa balita anak cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tua utamanya ibu, dapat diyakini bahwa anak tersebut kelak akan tumbuh dan ber¬kembang dengan baik dan positif; sebaliknya kalau kekurangan kasih sayang tidak mustahil anak tersebut kelak akan mengalami  kesulitan dalam menyayangi atau mencintai orang lain termasuk mencintai suami atau isterinya. Mereka mengaku sangat menya¬yangi atau mencintai suami atau isterinya, tetapi tidak bisa mewujudkan rasa sayang dan cintanya itu dalam perilaku nyata; sehingga tidak mustahil dapat berakibat mengalami kegagalan dalam perkawinannya. Kemungkinan kegagalan itu dapat diatasi dengan jalan mengubah atau meningkatkan kualitas kemampuan¬nya dalam menyayangi atau mencintai pasangannya itu dalam   tindakan nyata. Dengan demikian, disertai faktor-faktor pendukung lainnya tujuan perkawinan dapat tercapai tanpa banyak perma¬salahan yang menghadangnya, misalnya: sering terjadi perteng¬karan, pasangan melakukan perselingkuhan, dan lain sebagainya.

Hadirin yang saya hormati,
Perkawinan tidak akan terelakkan dari konflik-konflik. Tidak mungkin dua orang yang hidup bersama dari tahun ke tahun tanpa pertengkaran, kecuali kalau salah satu dari pasangan memutuskan bahwa adalah paling baik untuk tidak melakukan konfrontasi (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005:35). Di antara berbagai persoalan yang memicu terjadinya pertengkaran suami-isteri khususnya pasangan muda, tetapi juga dapat terjadi pada pasangan yang sudah berusia lanjut; adalah perbedaan pendapat dan pandangan tentang kehidupan. Biasanya, jejaka dan gadis yang memasuki gerbang per¬nikahan, pada waktu yang bersamaan memiliki pendapat, impian, dan harapan yang berbeda-beda; dan biasanya khayalan dan harapan masing-masing menghalangi keduanya untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Akhirnya, tanpa disertai pengetahuan dan kemampuan masing-masing tersebut; keduanya mulai membina kehidupan bersama.
Bagaimana perjalanan selanjutnya? Setelah melewati masa dua atau tiga tahun kehidupan yang serba tenang, dimulailah fase perhitungan, penilaian, dan evaluasi terhadap segala hal. Ketika itu, sinar mentari menyeruakkan kabut-kabut khayalan dan fantasi mereka yang selama ini menggumpal dan menumpuk sedemikian rupa. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, masing-masing pihak berusaha saling membiarkan dan mendiamkan satu sama lain. Segeralah sikap buruk dan kedengkian yang selama ini terpendam mencuat ke permukaan. Sejak itu dimulailah babak pertengkaran dan pertentangan di antara keduanya (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007:17). Berarti hubungan mereka sudah tidak harmonis lagi, meski wujud ketidak harmonisan tidak hanya ditandai adanya pertengkaran.
Kaitannya dengan pertengkaran ini, sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa seringkali pertengkaran itu dipicu oleh hal-hal yang kecil saja. Namun, pada tahap berikutnya pertengkaran tersebut cepat meluas hingga mengancam bangunan keluarga; dimulai dari kata-kata menyakitkan yang berhamburan sedemikian rupa, kemudian dilanjutkan dengan pertengkaran yang adakalanya disertai tindak kekerasan fisik, dan berujung pada hasrat untuk bercerai dan berpisah. Pertengkaran itu sendiri, baik yang menyerta¬kan intensitas emosional ringan maupun berat, baik yang menyertakan tindak kekerasan fisik maupun yang tidak; akan menyita energi psikis mereka yang pada gilirannya akan ber¬pengaruh negatif secara nyata bagi kesehatan fisik dan mental mereka.
Penelitian di Amerika, hasilnya menunjukkan bahwa perteng¬karan seperti itu memberikan efek negatif, seperti: (1) adanya   peningkatan resiko psikopatologi, (2) meningkatnya kecelakaan mobil yang berakibat fatal, (3) meningkatnya kasus percobaan bunuh diri, (4) meningkatnya perlakuan kekerasan antar pasangan, (5) kehilangan daya tahan tubuh yang menyebabkan kerentanan  terhadap penyakit, (6) kematian karena penyakit yang diderita oleh ketegangan psikis (Bloom,et.al, 1978; dalam Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005:2). Pertengkaran yang berlarut-larut apalagi disertai tindak kekerasan fisik, dapat juga berakibat masing-masing pihak menemukan dirinya berada dalam pusaran angin kencang yang menderu-deru dan menghempaskan keduanya ke dalam keterasingan dan kabut penyelewengan.
Tidak menutup kemungkinan pertengkaran akan berujung per¬ceraian. Perceraian mungkin saja tidak berdampak negatif secara berarti bagi pasangan yang bercerai, namun yang pasti anaklah yang menjadi korbannya. Penelitian di Amerika membuktikan bahwa orang dewasa yang pernah mengalami perceraian kedua orang tuanya pada masa anak-anak, merasa lebih rentan terhadap situasi stres dibanding dengan mereka yang tidak mengalami peristiwa perceraian pada kedua orang tuanya. Kecuali itu, mereka juga merasa tidak nyaman berada di antara keluarga dan teman-temannya, serta lebih menderita kecemasan yang amat sangat. Mereka juga mengalami kesulitan untuk mengatasi stres kehidupan yang mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 2).
Pertengkaran, yang berarti pula ketidak harmonisan hubungan suami-isteri dan memberikan efek negatif sejauh itu, tentu saja ada penyebabnya. Di samping faktor perbedaan pendapat dan pandangan tentang kehidupan sebagaimana telah diutarakan, faktor-faktor penyebab pertengkaran adalah: (1) tidak adanya pengalaman hidup berumah tangga, (2) kedua belah pihak memiliki harapan-harapan yang terlampau muluk, (3) adanya prasangka buruk, (4) hasrat untuk berkuasa dan mendominasi, (5) tidak adanya ketegaran, (6) tidak adanya saling pengertian, (7) tujuan dan sebab-sebab material, (8) tutur kata yang buruk, (9) hilangnya kemesraan (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007:39-40).
Tipe isteri dan tipe suami tertentu, juga potensial menjadi penyebab terjadinya pertengkaran atau ketidak harmonisan hubungan suami-isteri. Beberapa tipe isteri yang dapat mengancam keharmonisan hubungan suami-isteri, yaitu: (1) tipe xantipte: yang
terus menerus menjajah suami dan seluruh keluarga, (2) tipe erotis seksual: yang menuntut amat banyak dari suaminya, dan kalau tidak terpenuhi mencari pada lelaki lain, (3) tipe penjudi: yang menjudikan seluruh harta benda, dirinya, dan seluruh pernikahan¬nya. Sedangkan tipe suami yang mengancam keharmonisan hubung¬¬an suami-isteri, yaitu: (1) tipe brute: yang berlaku kasar terhadap isterinya, (2) tipe sadist: merasa senang jika mengganggu, meng¬hina, atau menyakiti isterinya secara jasmaniah atau rokhaniah,          (3) tipe hiperseksual: yang tidak puas dengan koitus berkali-kali dengan isterinya, dan masih memerlukan wanita-wanita lain untuk memberikan kepuasan seksualnya, (4) tipe suami yang hemat: yang selalu menegur isterinya untuk berhemat, (5) tipe pekerja berat: yang mementingkan kerja, sehingga tidak ada waktu berrekreasi bersama keluarga, dan (6) tipe eksplosif: yang lekas marah, tidak sabar dan menguasai (S.J. Warouw: 1964, dalam Sinolungan, 1979: 126-127).
Keharmonisan hubungan suami-isteri besar pengaruhnya ter¬hadap kesehatan perilaku seksual mereka. Hubungan keluarga yang terganggu, komunikasi suami-isteri yang tidak baik, dapat menjadi penyebab terjadinya gangguan fungsi seksual mereka (Wimpie Pangkahila, 2008: 8).

KONSELING PERKAWINAN

Hadirin yang saya hormati,
Perkawinan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita sebagai suami isteri berdasarkan hukum (UU), hukum agama atau adat istiadat yang berlaku (Dadang Hawari, 2006: 58). Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974) yang dimaksud dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam perkawinan terdapat ikatan lahir batin, yang berarti bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut pada keduanya. Ikatan lahir adalah merupakan ikatan yang menampak, ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Ikatan formal ini adalah nyata, baik yang mengikat dirinya yaitu suami dan isteri, maupun bagi orang lain yaitu masyarakat luas. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, tetapi merupakan ikatan psikologik. Antara suami dan isteri harus ada ikatan ini, harus saling mencintai satu sama lain, tidak adanya paksaan dalam perkawinan. Bila perkawinan dengan paksaan, tidak adanya cinta kasih satu dengan yang lain, maka berarti bahwa dalam perkawinan tersebut tidak ada ikatan batin (Bimo Walgito, 1984:10).
Pengertian perkawinan dapat disejajarkan dengan pengertian pernikahan. Dalam hal nikah, Sikun Pribadi (1981:33) menge¬muka¬kan bahwa ”nikah” ialah ikatan janji cinta antara dua jenis kelamin, yang bertemu dalam hatinya. Dalam pengertian cinta, ada dua unsur yaitu saling ”menyayangi” dan tarik-menarik karena ”birahi”. Di dalam gejala birahi terdapat unsur seks, yang selalu ada pada setiap manusia yang normal. Seks ialah energi psikis, yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk hubungan antar manusia sebagai pria dan wanita.
Atas dasar pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa perkawinan atau pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita  sebagai suami-isteri atas dasar cinta dengan tujuan mem¬bentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal ber¬dasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hadirin yang saya hormati,
Tujuan perkawinan implisit di dalam rumusan tentang pengertian perkawinan sebagaimana diuraikan di muka. Lebih jelas¬nya, dalam pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tersebut dikemukakan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tujuan perkawinan tersebut meng¬isyarat¬kan bahwa tujuan kedua individu yang melakukan perka¬winan itu haruslah sama. Tidaklah termasuk ke dalam pengertian ini kalau tujuannya berbeda. Kalau sampai terdapat tujuan yang berbeda, tentu saja perlu mendapatkan perhatian yang serius,  karena tujuan yang tidak sama antara suami dan isteri akan merupakan sumber permasalahan dalam keluarga. Untuk mem¬bentuk keluarga yang bahagia perlu mempersatukan tujuan yang akan dicapai dalam perkawinan itu.
Di samping tujuan yang akan dicapai harus sama antara suami dan isteri, kebahagiaan dalam keluarga perlu dijadikan arah dan bila perlu dijadikan target yang harus dicapai; karena bahagia   merupakan ukuran hidup yang sebaik-baiknya, yaitu sebagai seni hidup, ukuran bagi kebaikan dalam arti etika humanistik (Erich Fromm, dalam Sikun Pribadi, 1981:163). Jadi, menurut Erich Fromm hidup bahagia itu adalah kriteria bagi kehidupan yang utama, bagi kehidupan yang etis. Itulah seni hidup yang paling sukar. Jika kondisi itu tercapai, dapat dikatakan bahwa hidup kita telah berhasil sebagai hidup yang produktif. Hidup yang produktif ialah hidup yang sangat besar manfaatnya, hidup yang banyak amalnya, yang tidak konsumtif sebagai parasit yang hidup dari usaha orang lain.
Tidak ada suatu perkawinan yang tidak mengalami cobaan, bagaikan peribahasa yang mengatakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga itu tidak selamanya angin dari arah buritan, ter¬kadang badai menghadang. Di sinilah seni hidup, mereka yang berhasil melampuainya akan berakhir pada tujuan kebahagiaan rumah tangga (Dadang Hawari, 2006: ix).
Konflik atau masalah-masalah yang dialami oleh pasangan suami-isteri selayaknya diatasi dan bukan dihindari. Menghindari masalah tak ubahnya merusak diri (self-defeating). Konseling perkawinan merupakan salah satu pendekatan dalam mengatasi konflik atau masalah dalam perkawinan tersebut. Lalu apa kon¬seling perkawinan itu?

Hadirin yang saya hormati,
Konseling perkawinan yang memiliki istilah lain: couple counseling, marriage counseling, dan marital counseling, marupa¬kan konseling yang diselenggarakan sebagai metode pendidikan, metode penurunan ketegangan emosional, metode membantu partner-partner yang menikah untuk memecahkan masalah dan cara menentukan pola pemecahan masalah yang lebih baik (Klemer,   dalam Latipun, 2008:221). Konseling perkawinan merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada individu atau sekelompok individu klien, yang dimungkinkan akan atau sedang mengalami sesuatu masalah yang berhubungan dengan hidup sebagai pasangan suami-isteri, yang bermuara pada teratasi¬nya masalah yang dihadapinya (Soeharto, 2007:5).
Konseling perkawinan bebeda dengan konseling pranikah dan konseling keluarga. Konseling pranikah (premarital counseling) merupakan konseling yang diselenggarakan kepada pihak-pihak yang belum menikah, sehubungan dengan rencana pernikahannya, seperti: dalam rangka membuat keputusan agar lebih mantap dan dapat melakukan penyesuaian di kemudian hari secara lebih baik  Sedangkan konseling keluarga (family counseling) secara umum dibatasi sebagai konseling yang berhubungan dengan masalah-masalah keluarga, seperti: hubungan peran di keluarga, masalah komunikasi, tekanan dan peraturan keluarga, ketegangan orang tua-anak, dan lain-lain. Pemecahan masalah yang dialami oleh anggota keluarga perlu adanya keterlibatan anggota keluarga lainnya. Sementara konseling perkawinan lebih menekankan pada masalah-masalah pasangan suami-isteri(Latipun,2008:222-230).
Membedakan secara sangat ketat antara konseling perkawin¬an dan konseling keluarga adalah tidak gampang, dan oleh karenanya dalam kajian ini ada kemungkinan menyentuh wilayah konseling keluarga. Yang jelas, pemecahan masalah-masalah baik yang di¬alami oleh pasangan suami-isteri maupun yang dialami oleh anggota keluarga, adalah menggunakan pendekatan konseling. Pendekatan konseling bercirikan pemecahan masalah yang di¬tempuh melalui komunikasi dua arah (two way traffic) antara konselor dengan klien, dan bukan satu arah (one way traffic) seperti dalam kepenasihatan.

Hadirin yang saya hormati,
Konseling perkawinan diselenggarakan tidak dimaksudkan untuk mempertahankan suatu pasangan. Konselor perkawinan menyadari betul bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menentu¬kan apakah suatu pasangan suami-isteri harus bercerai atau tidak. Tujuan konseling perkawinan adalah membantu klien-kliennya untuk mengaktualisasikan yang menjadi perhatian pribadi, apakah dengan jalan bercerai atau tidak (Brammer & Shostrom,1982:348-349); membantu klien membuat keputusannya sendiri bercerai atau tidak, dan konselor bertanggung jawab membantunya berfikir secara rasional, dan oleh karenanya klien dapat hidup dengan keputusan yang dibuatnya (Gibson and Mitchell, 1986:100).
Dalam konseling perkawinan, konselor membantu klien (pasangan) untuk melihat realitas yang dihadapi, dan membantu membuat keputusan yang tepat bagi keduanya. Keputusannya dapat berbentuk menyatu kembali, berpisah, cerai; dalam rangka mencari kehidupan yang lebih harmonis, dan menimbulkan rasa aman bagi keduanya. Huff dan Miller, mengemukakan bahwa tujuan jangka panjang daripada konseling perkawinan adalah: (1) meningkat¬kan kesadaran dirinya dan dapat saling empati di antara pasangan, (2) meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing, (3) meningkatkan sikap saling membuka diri,            (4) meningkatkan hubungan yang lebih intim, (5) mengembangkan ketrampilan komunikasi, pemecahan masalah, dan mengelola konfliknya (Brammer and Shostrom, 1982:348-349).

Hadirin yang saya hormati,
Sesuai dengan pengertian dan tujuan konseling perkawinan tersebut, berikut ini konselor perkawinan menyampaikan pandangan¬nya dan pandangan-pandangan lain seputar bagaimana menciptakan hubungan suami-isteri atau keluarga yang harmonis, serta mengatasi masalah berkaitan dengan ketidak harmonisan hubungannya sebagai suami-isteri dan ketidak sehatan perilaku seksualnya secara garis besar.
Di bagian depan telah dijelaskan bahwa pada dasarnya suatu perkawinan tidak akan terelakkan dari konflik. Adalah wajar dalam suatu perkawinan terjadi pertengkaran antara suami dengan isteri. Di samping nilai negatifnya, pertengkaran suami-isteri terdapat juga nilai positifnya. Beberapa terapis perkawinan, menekankan bahwa memang dalam situasi yang tepat, pertengkaran dapat memproduksi kedekatan yang lebih di antara pasangan (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005:100). Beberapa terapis perkawinan ter¬sebut menyarankan beberapa cara untuk mengatasi konflik secara adil dan produktif, sebagai berikut:

  1. Hendaknya pasangan mengungkapkan keluhan secara spesi¬fik dan meminta pasangannya untuk melakukan perubahan-perubahan perlakuan dan tingkah laku yang memang bisa diubah agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Untuk itu, pasangan harus mengungkapkan keurutan isu-isu tertentu yang pasti pada waktu yang tepat.
  2. Pasangan hendaknya memahami diri masing-masing, dengan mencoba meminta dan memberikan umpan balik dari pasangan¬nya.
  3. Pasangan tidak dibenarkan untuk membuat keputusan tentang karakteristik spesifik tertentu pasangannya, misalnya: ”Kamu keras kepala”, ”Kamu pembohong”.  Pasangan juga tidak dibenarkan membuat keputusan seolah pasangannya  tidak mungkin untuk konsisten terhadap kesepakatan yang telah ditentukan oleh pasangan, apalagi dengan kata-kata yang mengandung unsur sarkastik.
  4. Pasangan hendaknya mengkomunikasikan hal-hal yang ter¬jadi, di sini dan pada saat ini, sehingga tidak akan terkom¬plikasi dengan muatan-muatan perilaku negatif dan ke¬susahan-kesusahan terdahulu yang telah terjadi pada masa lalu, atau bahkan menyertakan keluhan-keluhan yang tidak relevan dengan masalah aktual yang saat ini dan pada waktu ini terjadi.
  5. Pasangan hendaknya mempertimbangkan kemungkinan untuk selalu mencari jalan kompromi, karena tidak akan pernah menjadi pemenang tunggal dalam argumentasi yang jujur di antara pasangan perkawinan. Dalam hal ini, pasangan harus mengingat bahwa mereka adalah satu tim dan bukan dua kelompok yang berbeda dan terpisah.
  6. Pasangan harus trampil untuk berkomunikasi dengan penuh empati sehingga mampu memahami sudut pandang pasangan¬nya. Pasangan hendaknya memiliki optimisme bahwa akan selalu dapat dicapai satu jalan terbaik bagi penyelesaian konflik yang mereka hadapi.

Hadirin yang saya hormati,
Kita semua baik yang sudah menikah maupun yang baru akan menikah pasti menginginkan pernikahan/perkawinan kita mencapai hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia. Untuk itu perlu   adanya pegangan atau kriteria yang jelas untuk perwujudannya. Adapun pegangan atau kriteria menuju hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia, atau keluarga yang harmonis, adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan beragama dalam keluarga. Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga, sebab dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama dalam kehidupan keluarga berdasarkan ajaran agama ialah kasih sayang. Cinta mencintai dan kasih mengasihi berarti silaturahmi tidak terputus, tetapi diperbaiki dan dikembang¬kan. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa keluarga yang tidak religius, yang komitmen agamanya lemah, dan keluarga yang tidak mem¬punyai komitmen agama sama sekali, mempunyai resiko empat kali untuk tidak berbahagia dalam keluarganya.
  2. Waktu bersama keluarga. Waktu untuk bersama keluarga itu harus ada. Menciptakan suasana kebersamaan dengan unsur  keluarga itu penting. Untuk memelihara perkawinan itu  sendiri, seorang suami harus menyempatkan waktu untuk isterinya. Berdua saja, tidak dengan anak-anak lagi pergi ke mana saja secara pribadi.
  3. Hubungan yang baik antar anggota keluarga. Harus dicipta¬kan hubungan yang baik antara anggota keluarga. Harus ada komunikasi yang baik (timbal balik), demokratis. Ayah dan ibu dituntut untuk menciptakan suasana yang komunikatif dan demokratis.
  4. Saling harga menghargai antar anggota keluarga. Seorang anak perlu menghargai sikap ayahnya, begitu juga ayah bisa menghargai prestasi anak atau sikap anak. Seorang isteri menghargai sikap suami dan sebaliknya suami menghargai sikap isteri.
  5. Hubungan yang erat dalam keluarga. Hubungan antara ayah, ibu, dan anak harus erat dan kuat. Jangan longgar dan   rapuh. Hubungannya harus menghasilkan keadaan dekat di mata dekat dihati. Setidaknya jauh di mata dekat di hati, dan bukannya dekat di mata jauh di hati atau jauh di mata jauh di hati.
  6. Keutuhan keluarga. Jika keluarga mengalami krisis karena sesuatu persoalan, maka prioritas utama adalah keutuhan keluarga. Keluarga harus kita pertahankan, baru apa masa¬lah¬nya atau apa krisisnya kita selesaikan. Jangan karena krisis, lalu ”kita pisah, kita cerai saja”. Apapun alasan  per¬ceraian, yang menjadi korban adalah anak-anaknya. Mungkin si isteri atau suami bahagia, tetapi anak-anaknya   akan menderita (Dadang Hawari, 2006:17-25).

Kaitannya dengan pembinaan rumah tangga yang harmonis, Rasullullah Muhammad SAW memberi nasihat kepada pasangan yang hendak menikah dengan mengemukakan 3 hal menjadi suami yang baik dan 3 hal menjadi isteri yang baik. Suami yang baik, adalah suami yang: (1) setia pada isterinya, (2) bertanggung jawab terhadap isteri dan keluarganya (anak-anaknya), (3) tidak kasar terhadap isterinya. Sedangkan isteri yang baik, adalah isteri yang: (1) loyal pada suaminya, (2) hormat (respect) kepada suaminya,  (3) melayani dan merawat suaminya dengan baik, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Konselor perkawinan sering menambah¬kan bahwa isteri yang baik itu adalah isteri yang anggun di depan umum, hemat di dapur, dan hangat di tempat tidur (Dadang Hawari, 2006:9-12).

Hadirin yang saya hormati,
Perkawinan yang bahagia tidak cukup hanya didukung dengan cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja, meskipun cinta diperlukan dan bahkan menjadi syarat dalam suatu per¬kawinan. Bekal cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja tidak cukup, karena pada hakekatnya kebahagiaan suatu perkawinan terletak pada sampai seberapa jauh kemampuan masing-masing pasangan untuk saling berintegrasi dari dua kepribadian yang berbeda. Cinta dan kepuasan biologik mungkin menyenangkan pada awal perkawinan, tetapi tidak akan berlangsung lama; karena  masing-masing pasangan tidak mampu untuk saling berintegrasi dan beradaptasi menjaga hubungan silaturahmi (Dadang Hawari, 2006: 27-28).
Dalam penelitiannya terhadap pasangan-pasangan perkawinan yang bertahan (tidak bercerai), Grunebaum, H.U (1990) menemu¬kan 5 faktor yang mengikat suami-isteri sehingga mereka mem¬pertahankan perkawinannya, yaitu: (1) saling memberi dan mene¬rima kasih sayang, (2) suami-isteri merupakan kemitraan persaha¬batan (bukan rival atau pesaing satu dengan lainnya), (3) saling memuaskan dalam pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) dan  bertindak serta berperilaku sesuai dengan etika moral agama, (4) masing-masing pihak mempunyai komitmen dalam pengambilan keputusan (keputusan bersama), (5) saling menjaga dan memelihara   hubungan sosial dengan anak-anak dan keluarga kedua belah pihak. Kelima ikatan tersebut merupakan pilar bagi keharmonisan rumah tangga, sehingga terjadinya perselingkuhan amat kecil karena masing-masing saling menjaga terhadap intervensi pihak ketiga (Dadang Hawari, 2006: 43-44).
Perselingkuhan dapat berakibat perceraian, namun perceraian dapat dihindari manakala masing-masing memiliki komitmen untuk memperhatikan faktor-faktor penting yang terkait dengan itu. Faktor-faktor yang menentukan perkawinan pasca perselingkuhan dapat dipertahankan, adalah:

  1. Kesadaran dan pengakuan bahwa perselingkuhan itu adalah  perbuatan yang melanggar norma-norma hukum perkawin¬an, moral etik agama. Atau dengan kata lain, suami atau isteri yang berselingkuh itu menyadari kesalahannya.
  2. Adanya penyesalan, rasa bersalah dan berdosa terhadap perselingkuhan yang telah dilakukannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
  3. Adanya kesediaan dari suami atau isteri untuk melepaskan pasangan selingkuhnya.
  4. Adanya motivasi dari pasangan suami-isteri untuk berniat   mempertahankan perkawinan. Motivasi ini harus datang dari kedua belah pihak.

Sehubungan dengan hal tersebut, konselor atau terapis hendaknya dapat menumbuhkan motivasi dan menghindarkan agar pihak yang bersangkutan tidak merasa dipojokkan ataupun menjadi kehilangan muka (Dadang Hawari, 2006:140-143).
Hadirin yang saya hormati,
Terkait dengan isu poligami yang belakangan ini banyak dibicarakan orang (terlepas dari pro atau kontra), konselor per¬kawin¬an menyarankan agar para isteri berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi isteri yang berbakti, demi meraih kasih sayang suami sepenuhnya. Di samping itu, senantiasa berlapang  dada menerima apapun yang ditakdirkan Allah SWT, karena pilihan Allah adalah jalan terbaik yang diberikan-Nya. Beberapa ciri isteri yang berbakti kepada suaminya dan taat kepada Allah SWT, adalah: (1) mentaati suami, (2) mensyukuri segala sesuatu yang diberikan suami, (3) menjaga amanah, (4) selalu menjaga penampilan agar tetap menarik, (5) tidak buruk sangka dan cemburu buta, (6) bersikap lemah lembut, (7) pandai bergaul dengan keluarga suami, (8) selalu jujur dan terbuka, (9) menjaga perasaan suami, (10) membiasakan budaya musyawarah (Abu Azzam Abdillah, 2007:73-81).
Yang masih menjadi pertanyaan adalah, kalaulah semua itu sudah diupayakan dalam kualitas yang baik, apakah dapat dijamin bahwa suami tidak akan melakukan poligami atau berselingkuh? Wallahu alam. Yang jelas, masih ada hal lain yang  harus kita pahami yakni sifat cinta laki-laki itu adalah ”jamak” dan sifat cinta wanita adalah ”tunggal” (Sikun Pribadi, 1981). Karena sifat cinta laki-laki jamak atau majemuk, memang memungkinkan cintanya dapat terdistribusikan ke mana-mana; sedangkan karena sifat cinta wanita tunggal menungkinkan cintanya hanya tertuju kepada suami   yang dicintainya saja. Di samping itu, pria (maskulin) yang normal, dalam arti komposisi unsur maskulinitas dan femininitas pada dirinya proporsional; adalah wajar apabila jatuh cinta kepada wanita. Sebaliknya, wanita (feminin) yang normal dalam arti kompo¬sisi unsur femininitas dan maskulinitasnya proporsional, adalah juga wajar apabila jatuh cinta kepada pria. Justru kalau pria malahan lebih tertarik kepada sesama pria (homoseks), dan wanita  lebih tertarik kepada sesama wanita (lesbian); itu pertanda kompo¬sisi unsur maskulinitas dan femininitas dalam dirinya tidak propor¬sional. Lalu harus bagaimana? Upaya lahiriah tersebut harus di¬laku¬kan sebaik-baiknya, disertai permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT dengan pengharapan semoga Allah memberikan yang terbaik kepada kita semua dan kepada yang telah keliru diberi kekuatan untuk kembali ke jalan yang benar.

Hadirin yang saya hormati,
Kaitannya dengan komunikasi seksual yang membahagiakan, pasangan suami-isteri selayaknya memperhatikan pentingnya komuni¬kasi yang baik dengan pasangannya.
Terdapat empat area penting dalam kualitas komunikasi   yang berpengaruh pada perbaikan komunikasi seksual, yaitu: pertanda (signals), makna (meaning), perasaan (feeling), dan peranan (roles) (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 101-104).

1.    Pertanda (signals)
Untuk melakukan dan meningkatkan komunikasi seksual,   pasangan dapat menggunakan pertanda (signals) sebagai komuni¬kasi non-verbal. Komunikasi non-verbal memang paling sukses  untuk meningkatkan komunikasi seksual, apabila rabaan dapat dirasakan, desahan dapat didengarkan, dan senyuman dapat dilihat. Jadi, orang yang menerima signal juga harus mampu mendengar aktif, melihat, mengarahkan perhatian, dan mengenali signal-signal   yang signifikan. Namun, yang sering terjadi justru pasangannya tidak mampu membaca signal dengan baik. Dengan demikian, tanggung jawab signal sebetulnya hanya bernilai separuh dari apa yang diharapkan.
Dalam hal peningkatan komunikasi seksual, pada pasangan yang berhasil ditemukan bahwa pasangan dapat meningkatkan komunikasi seksual mereka dengan belajar memahami masing-masing signal yang diberikan oleh pasangannya. Kesimpulan yang menyatakan bahwa setiap orang secara alami akan mampu mema¬hami signal yang diberikan oleh pasangannya, sehingga tidak perlu belajar memahaminya; malahan menjadi sumber kesulitan kehi¬dupan seksualya (Bell dan Lobzenz, 1977).

2.    Makna ( Meanings )
Makna dibalik kata-kata atau gestur dapat saling dipahami, dan menjadi fasilitator yang baik. Pasangan harus mampu menangkap makna yang terkandung dari setiap kejadian. Misalnya, kemampuan menangkap makna yang terkandung dari kejadian seorang isteri memasukkan tangannya ke dalam kemeja suaminya atau mengencangkan ikatan dasi suaminya, berpengaruh terhadap respon lanjut yang akan diberikan oleh suaminya. Namun, mungkin saja pasangan mengalami kesulitan dalam menangkap makna dari signal yang diberikan oleh pasangannya. Misalnya, seorang suami yang mengatakan bahwa ” Saya mau tidur sekarang”, sering isteri   tidak menangkap makna yang tersirat dari ungkapan tersebut dan berpendapat bahwa suaminya memang lelah dan mau tidur lebih dulu, sehingga isteri dapat melanjutkan menikmati tayangan tele¬visi. Padahal, dengan ungkapan tersebut suami memberikan signal bahwa ia membutuhkan kesediaan isterinya untuk melakukan hubungan seksual.

3.    Perasaan (Feelings)
Perasaan hampir selalu menyertai pasangan dalam perilaku seksualnya. Pasangan yang terbuka satu sama lain tentang apa yang mereka rasakan, adalah penting. Karena keterbukaan itu menjadi informasi yang berguna bagi peningkatan pemahaman simpati yang juga berperan sebagai fasilitator komunikasi seksual. Kesediaan pasangan untuk mendengar penjelasan pasangannya tentang perasaan¬nya dan menghargai bahwa perasaan tersebut memang   tepat (walaupun belum tentu pasangannya menyetujuinya), akan meningkatkan keintiman seksual. Misalnya, isteri menyatakan perasaannya dengan kata-kata ”Aku kangen mas”, akan membuat tumbuh empati suaminya dan selanjutnya bertambah intim komuni¬kasi seksualnya.

4.    Peranan (Roles)
Kesadaran akan peran yang harus diambil olah pasangan dalam aktivitas seksual merupakan hal vital dalam komunikasi seksual yang baik. Pasangan yang tahu apa yang diharapkan dari pasangannya dan apa yang secara sadar diketahui tentang tuntutan pasangannya, merupakan hal yang penting dalam kelancaran komunikasi seksual. Dalam aktivitas seksual, baik peran laki-laki maupun perempuan dapat dinegosiasikan oleh pasangan ingin menyertakan peran apa. Yang  terpenting,  peran  yang  dipilih oleh salah satu dari pasangan itu mendapatkan peran resiprokal sebagai peran dari pasangannya. Dengan menetapkan satu peran, salah satu dari pasangan seyogyanya memproyeksikan peran resiprokal yang harus dilakukan oleh pasangannya. Misalnya, perempuan yang percaya bahwa hendaknya laki-lakilah yang harus menjadi insiator dalam perilaku seksual, tentu akan merasa kecewa apabila pasangan¬nya tidak berinisiatif dalam perilaku seks. Dalam peranannya sebagai penunggu inisiatif pasangannya, akhirnya ia tidak tahu harus berbuat apa apabila ternyata keyakinan akan peran laki-laki dan perempuan tidak sesuai dengan kenyataan yang ia hadapi.

IMPLIKASI

Hadirin yang saya hormati,
Kajian terhadap 3 (tiga) variabel di atas, mengandung impli¬kasi sebagai berikut:

  1. Kesehatan perilaku seksual suami, isteri, atau suami-isteri; akan mewarnai kualitas hidup mereka, akan mewarnai kebahagiaan   hidup mereka; artinya suami, isteri, atau suami-isteri yang sehat perilaku seksualnya dimungkinkan mempunyai peluang untuk dapat berkualitas  hidupnya, bahagia  hidupnya; dan sebaliknya yang tidak sehat perilaku seksualnya tidak mempunyai peluang untuk  berkualitas hidupnya, untuk bahagia hidupnya.
  2. Sehat tidaknya perilaku seksual suami, isteri, atau suami-isteri dapat dipengaruhi oleh faktor harmonis tidaknya hubungan mereka. Dengan kata lain, keharmonisan hubungan suami-isteri dapat mempengaruhi kesehatan perilaku seksual mereka; demi¬kian pula sebaliknya kesehatan perilaku seksual suami, isteri,  atau suami-isteri dapat mempengaruhi  keharmonisan hubungan  mereka. Kalau ketidak sehatan perilaku seksual suami atau isteri adalah positif karena hubungan dengan pasangannya sedang tidak harmonis, tidak usah bingung-bingung mencari obat kuat (bagi suami) atau obat perangsang gairah seksual (bagi isteri) atau ke dokter. Upaya itu akan sia-sia. Diselesaikan masalahnya dan dinetralisir perasaan-perasaan negatif yang ada saja dulu, Insya Allah potensi untuk dapat lagi melakukan hubungan seksual akan muncul kembali, dan keberhasilan akan diraih atas ridho Allah SWT.
  3. Layanan konseling perkawinan mempunyai kontribusi yang berarti bagi upaya penciptaan hubungan suami-isteri yang harmonis, yang pada gilirannya dapat tercipta perilaku seksual yang sehat pada diri mereka, berkualitas hidupnya, dan bahagia hidupnya; sesuai tujuan perkawinannya dan menjadi dambaan banyak pasangan. Layanan konseling perkawinan yang di¬seleng¬garakan oleh siapapun atau institusi manapun selayak¬nya menjadi kebutuhan bagi yang memerlukan, baik untuk tujuan-tujuan preventif, kuratif, maupun preservatif agar keadaan yang ”mengerikan” tidak terjadi.
  4. Terkait dengan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia yang sudah akan diperluas di mana tidak lagi hanya di sekolah-sekolah, melainkan juga di masyarakat; berarti perlu penataan kembali kurikulum Program Studi Bimbingan dan Konseling yang sesuai secara bertahap. Ini berarti pula bahwa kajian yang saya lakukan terhadap variabel-variabel di atas bermakna ”men-triger” sekaligus ”menjemput bola” atas terselenggaranya layanan bimbingan dan konseling yang lebih luas sebagaimana diharapkan. Tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa berfikir dan mengupayakan terwujudnya hal ini adalah salah satu kewajiban saya sebagai Guru Besar di Program Studi Bimbingan dan Konseling.


KESIMPULAN

Hadirin yang saya hormati,
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketidak harmonisan hubungan suami-isteri dapat berakibat tidak sehatnya perilaku seksual mereka, dan pada tingkat tertentu berpengaruh negatif  terhadap kualitas hidupnya. Pasangan suami-isteri tidak perlu khawatir dalam menyikapi kondisi yang mengerikan itu, karena ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghadapinya baik secara preventif, kuratif, maupun preservatif. Konseling perka¬win¬an yang diselenggarakan baik oleh perorangan atau kelembagaan, merupakan salah satu alternatif yang cukup menjanjikan untuk dapat diperolehnya kembali keharmonisan dan kebahagiaan sebagai suami-isteri, dan pada gilirannya perilaku seksual yang sehat dapat dinikmati kembali atas ridho Allah SWT.
Sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan,  layanan bimbingan dan konseling di Indonesia sudah saatnya diperluas tidak lagi hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah; tetapi juga di masyarakat, seperti: layanan konseling perkawinan, konseling keluarga, konseling seksual, dan lain-lain. Tentu saja diawali dengan penataan kurikulum yang sesuai secara bertahap.

Ucapan Terima Kasih

Hadirin yang saya hormati,
Mengakhiri pidato pengukuhan saya ini, perkenankan saya sekali lagi mengungkapkan rasa syukur saya ke hadirat Allah SWT  yang telah melimpahkan rakhmat, hidayah, dan innayah-Nya kepada saya sekeluarga; sehingga pada hari ini saya dapat dikukuhkan sebagai Guru Besar. Di samping itu, pada kesempatan ini perkenankan saya mengungkapkan perasaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan jasanya, sehingga saya diperkenankan memangku jabatan fungsional terhormat sebagai Guru Besar bidang Bimbing¬an dan Konseling di FKIP Universitas Sebelas Maret.
Sangat banyak yang telah berjasa mengantarkan saya menjadi Guru Besar ini, di antaranya:

  1. Pemerintah Republik Indonesia, yang dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberi kepercayaan kepada saya sebagai Guru Besar bidang Bimbingan dan Konseling di FKIP Universitas Sebelas Maret.
  2. Rektor Universitas Sebelas Maret yang juga Ketua Senat: Bapak Prof. Dr. H. Moch. Syamsulhadi, dr. Sp.KJ.(K); Sekre¬taris Senat: Bapak Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr, Sp.KJ.(K); dan segenap anggota Senat Universitas. Demikian pula Dekan yang juga sebagai Ketua Senat FKIP Universitas Sebelas Maret: Bapak Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatulah, M.Pd; para Pembantu Dekan; Ketua dan Sekretaris Jurusan; Ketua dan Sekretaris Program Studi; beserta seluruh anggota Senat Fakultas; yang telah mengusulkan saya untuk memangku jabatan akademik Guru Besar di FKIP Universitas Sebelas Maret. Di samping itu, juga para senior dan rekan sejawat di Program Studi Bimbingan dan Konseling, yang telah mem¬beri¬kan dorongan dan kesempatan kepada saya untuk memangku jabatan akademik yang terhormat ini.
  3. Prof. Dr. H. Muh. Djawad Dahlan (alm); Prof. Dr. H. Rochman Natawidjaja; Prof.Dr. Kusdwiratri Setiono; Prof.Dr. H. Achmad Sanusi; Prof. Dr. H. Moh. Surya; Prof. Dra. Hj. Warkitri; Prof. Dr. H. M. Saleh Muntasir (alm); beliau semua adalah Promotor dan Co-Promotor penulisan disertasi serta Pembimbing penulis¬an thesis/skripsi saya, yang telah ikut serta memberikan sumbangan dalam pendewasaan dan pengembangan kemam¬puan akademik saya.
  4. Para senior saya yang selalu mendorong saya untuk mencapai jabatan akademik Guru Besar ini, yakni: Drs. H. Thulus Hidayat, SU, MA; Dra. Hj. Chosiyah, M.Pd; Dr. H. Soetarno, M.Pd; Prof. Drs. Anton Sukarno, M.Pd; Prof. Dr. Kunardi, M.Pd; Prof. Dr. H. Santosa, MS, Sp.Ok. Pimpinan dan mantan pimpinan Program Studi Penyuluhan Pembangunan PPs UNS, yakni: Prof. Dr. Totok Mardikanto, MS; Prof. Dr. H. Rafik Karsidi, MS (yang juga PR I UNS); Ir. Supangya, MS;                  Dr. Ir. Hj. Eny Lestari, MS, dan rekan-rekan di Pusat Studi Kesehatan Seksual LPPM UNS, yakni: Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr, Sp.KJ (K); Prof. Dr. H. Fanani, dr, Sp.KJ (K); Prof. Dr. H. Setiono, SH, MH;  dr. Murbono, Sp.KK; dr. H. Istar Yuliadi; H. Arista, S.Psi,MM; dr. Andri Putranto, M.Kes.   yang selalu memotivasi saya untuk beranjak ke jabatan akade¬mik Guru Besar. Tidak lupa, kolega saya Taufiq Lilo, ST., MT yang telah banyak membantu penyiapan pidato pengukuhan ini.
  5. Semua guru saya sejak Sekolah Rakyat (SR) sampai dengan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan semua dosen saya di Program S1, S2, dan S3 yang tidak dapat saya sebut satu per¬satu; yang telah membekali ilmu pengetahuan dan ketrampilan serta ikut menanamkan semangat untuk selalu menuntut ilmu dan kemandirian pada diri saya.
  6. Kedua orang tua saya Bapak dan Ibu Marmosuwarno (alm dan almh), yang di kala suka dan sulit telah dengan sabar dan penuh kasih sayang mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya; disertai pengorbanan dan jerih payah yang luar biasa dan penuh keikhlasan. Demikian pula senantiasa mendoakan dan merestui, serta mendorong setiap perjuangan saya agar bisa hidup layak di masyarakat. Kedua mertua saya Bapak dan Ibu Wiryowitono (alm dan almh) utamanya ayah mertua yang dengan gaya mendidiknya justru membuat saya dan isteri menjadi pribadi mandiri.
  7. Saudara-saudara kandung saya (mbak Sungatmi, dik Sri Partini, dik Surati, dik Soeharno, Drs dan dik Siswanto), serta saudara ipar saya (mas Kamsi, dik Paimin, dik Wirosujono, dik Sri Rahayu); yang selalu berdoa untuk saya sehingga saya dapat menduduki jabatan akademik Guru Besar. Demikian pula paman saya H. Tjitroatmodjo sekaliyan, kakak sepupu saya mbak Sri Lukasmi dan mas Sunardi Agus (alm); yang telah menolong orang tua saya di kala sulit dan mendoakan saya.
  8. Isteri saya tercinta Dra. Hj. Dwi Harini, dan keempat anak saya tersayang (termasuk menantu): Rini Hartanti Septina            Soeharto, SE.Ak dan Gatut Nugroho Agung Darmawan, ST (menantu); Dewi Wulansih Agustina Soeharto, SE; dan Erni Kusuma Meisita Soeharto; yang telah banyak berkorban dan berdoa selama saya menempuh pendidikan formal di Bandung (S2 dan S3), pendidikan dan latihan tambahan di Jakarta dan di Penang, Malaysia; dan telah mendorong saya untuk mencapai jabatan akademik Guru Besar ini.

Sekali lagi,  kepada  semua  yang  saya  sebut tadi dan yang tidak sempat saya sebut satu persatu saya sampaikan banyak terima kasih, semoga Allah memberikan balasan yang lebih banyak lagi, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan yang telah saya perbuat. Amien.

Bi-Llahit al-Taufiq Waal-hidayah.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

DAFTAR  PUSTAKA

Abu Azzam Abdillah. (2007). Agar Suami tak Berpoligami: Meraih Simpati Suami Tanpa Menentang Syar’i. Bandung: Iqomatuddin Press.
Ali Qaimi. (2007), terjemahan: Abu Hamida MZ. Pernikahan: Masalah & Solusinya. Jakarta: Cahaya.
Bimo Walgito.(1984). Bimbingan dan Konseling Perkawinan.  Yogyakarta: Yabit Fak.    Psikologi UGM.
Brammer, L.M & Shostrom, E.L. (1982). Therapeutic  Psychology:   Fundamentals  of Counseling and Psychotherapy. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Burgess, Ernest W & Locke, Harvey J. (1960). The Family, From Institution to Companionship. New York: American Book Company.
Dadang Hawari (2006). Marriage Counseling (Konsultasi Perka¬winan). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Gibson, Robert L & Mitchell, Marianne H. (1986). Introduction  to Counseling and Guidance. New York: MacMillan Publishing Company.
Latipun. (2008). Psikologi Konseling. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Lembaran Negara RI Tahun 1974 No. 1. (1974). Undang-Undang   Republik Indonesia Nomer 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Rono Sulistyo. (1977). Pendidikan Sex. Bandung: Elstar Offset.
Sawitri Supardi Sadarjoen.(2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual, dan Alternatif Solusinya. Bandung: Refika Aditama.
Sikun Pribadi dan Subowo. (1981). Menuju Keluarga Bijaksana.   Bandung: Yayasan Sekolah Isteri Bijaksana.
Sinolungan, A.E. (1979). Pengaruh Keluarga di Dalam  Masalah  Kecenderungan Nakal Siswa Remaja pada SMA-SMA  Manado.  (Disertasi). Bandung:  Sekolah Pascasarjana IKIP Bandung.
Soeharto. (1986). Sumbangan Keutuhan Keluarga dan Inteligensi  Anak Terhadap Adekuasi Penyesuaian Dirinya (Thesis). Bandung: Fakultas Pasca Sarjana.
Soeharto. (2007). Konseling Kesehatan Seksual. (Makalah).    Surakarta: Pusat  Studi Kesehatan Seksual.
Soeharto. (2007). Konseling Perkawinan dan Kesehatan Seksual.  (Makalah). Surakarta: Pusat studi Kesehatan Seksual.
Wimpie Pangkahila. (2006). Seks yang Membahagiakan: Menciptakan Keharmonisan Suami Isteri. Jakarta: Kompas.

OPTIMALISASI PENGELOLAAN LAHAN KERING UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN

Oleh :
Prof. Dr. Ir. S. Minardi, M.P.

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu,
salam sejahtera untuk kita semua

Yang terhormat
Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret
Sekretaris Senat dan seluruh Anggota Senat Universitas Sebelas Maret
Para Pejabat Sipil, Militer dan Kepolisian
Para Pimpinan di tingkat Universitas, Fakultas, Program Pasca¬sarjana, Lembaga, Biro, UPT dan Jurusan serta Program Studi di lingkungan Univ. Sebelas Maret
Seluruh civitas akademika Universitas Sebelas Maret
Tamu Undangan, teman sejawat dosen dan staf administrasi,  mahasiswa
dan seluruh keluarga yang berbahagia.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, ijin dan per¬kenankanlah saya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala ridla, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga pada hari ini saya memperoleh kesempatan dan kepercayaan untuk menyampai¬kan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Tanah (Pengelolaan Tanah) pada Fakultas Pertanian, Universitas sebelas Maret.
Rasa hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan hadirin sekalian yang telah berkenan hadir dan dengan kesabaran sejenak untuk mengikuti dan mendengar¬kan uraian pidato saya dengan judul :

OPTIMALISASI PENGELOLAAN LAHAN KERING UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN

Hadirin yang saya hormati,

Penurunan produksi bahan pangan nasional yang dirasakan saat ini lebih disebabkan oleh semakin sempitnya luas lahan pertanian yang produktif (terutama di pulau Jawa) sebagai akibat alih fungsi seperti konversi lahan sawah, ditambah isu global tentang meningkatnya degradasi lahan (di negara berkembang). Salah satu alternatif pilihan yang diharapkan dapat meningkatkan potensi produksi tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan adalah pendayagunaan lahan kering. Selain karena memang tersedia cukup luas, sebagian dari lahan kering belum diusahakan secara optimal sehingga memungkinkan peluang dalam pengembangannya.

Hadirin yang saya hormati,
Secara umum sistem pertanian di Indonesia, khususnya yang menyangkut budidaya pertanian tanaman pangan dapat di¬kelompok¬kan ke dalam dua bagian yaitu pertanian lahan basah/ sawah dan pertanian lahan kering. Seperti diketahui, pem¬bangunan pertanian di Indonesia selama ini terfokus pada peningkatan produksi pangan, terutama beras (Manuwoto, 1991), sehingga sebagian besar dana dan daya telah dialokasikan untuk program-program seperti intensifikasi, jaringan-jaringan pengairan dan pencetakan sawah. Usaha intensifikasi pertanian di lahan sawah lebih efektif apabila dibandingkan dengan lahan kering, sehingga wajar kalau lahan sawah memberikan sumbangan yang paling besar terhadap tingginya peranan subsektor tanaman pangan sebagai bagian dari sektor pertanian. Sebaliknya, ciri usahatani bukan sawah ternyata telah menyebabkan kurang diprioritaskannya pertanian lahan kering di dalam proses pening¬katan produksi pangan. Namun, dengan semakin meningkatnya alih fungsi lahan, disinyalir peluang penggunaan lahan sawah untuk usaha pertanian makin hari makin menyempit sehingga pengalihan usaha ke lahan kering makin terasa diperlukan (Departemen Pertanian, 2004). Beberapa laporan menunjukkan :
Pada periode 1999-2002 terjadi pengurangan lahan sawah sebesar 563.156 ha di seluruh Indonesia,karena alih fungsi dan 30% (157.150 ha) di antaranya terjadi di pulau Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan pangan luas lahan sawah yang diperlukan pada tahun 2010 sekitar 9,29 jt ha (Nasution, 2004).
Luas lahan terkonversi/alih fungsi di Pulau Jawa sejak periode 1978-1998 mencapai 1,07 jt ha,sehingga produksi padi yang hilang akibat konversi tersebut adalah 4,7 jt ton/tahun. Beberapa komoditas tanaman pangan utama telah mencapai batas yang tak dapat ditingkatkan lagi (levelling off), produktifitas dalam lima tahun cenderung konstan. Rerata nasional masing-masing pada tanaman :  Padi berkisar 4,6- 4,7 ton/ha, Jagung berkisar 2,8 – 3,3 ton/ha, Kedele 1,2 – 1,3 ton/ha dan. Kacang tanah 1,1 – 1,2 ton/ha
Departemen Pertanian (2007) menyebutkan Impor beras meningkat berkisar 2,5 juta ton/th dan impor Jagung meningkat dari 1,28 menjadi  2,73 ton/ha  di tahun 2004.
Selain alih fungsi, lahan sawah yang selama ini sudah terlanjur dianggap sebagai tulang punggung pertanian dan peng¬hasil pangan nasional, nampaknya sudah mulai sakit-sakitan karena jenuh oleh masukan pupuk buatan/kimia yang berlebih dalam rangka memacu pemenuhan produksi beras. Dikatakan oleh Notohadiparwiro (1989), penggunaan pupuk buatan/kimia yang berkonsentrasi tinggi dan tidak proporsional pada lahan sawah berdampak pada penimpangan status hara dalam tanah. Dampak lain adalah menyusutnya kandungan bahan organik tanah karena berkurangnya penggunaan pupuk organik. Dilapor¬kan, sekitar 60 persen areal sawah di Jawa kandungan bahan organiknya kurang dari 1 persen (Sugito, et al., 1995., Syekhfani, 1993)). Sementara, sistem pertanian dapat menjadi berkelanjutan (sustainable) apabila kandungan bahan organik tanah lebih dari 2 persen (Handayanto, 1999).
Dalam kaitannya dengan memposisikan lahan kering sebagai sumberdaya pertanian masa depan, maka pemanfaatan lahan kering perlu diperluas dan lebih memberikan aspek penting, utamanya untuk pengembangan pertanian tanaman pangan sebagai penopang kehidupan berbagai masyarakat, dengan tetap menjaga peranannya sebagai stabilisasi dan peningkatan fungsi ekosistem.
Dalam kesempatan ini saya coba untuk menyajikan :

  1. Tinjauan tentang sifat/karakteristik, dan luasan lahan kering (Literature  review).
  2. Potensi lahan kering dan peluang   pemanfaatannya untuk pertanian tanaman pangan
  3. Optimalisasi pengelolaan lahan kering.

Hadirin yang saya hormati,
1.    Tinjauan tentang sifat/karakteristik lahan kering (Literature review)
Lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usahatani bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu daerah aliran sungai (DAS) sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air (Manuwoto, 1991., Satari et.al, 1977). Untuk memudahkan pengutaraan dalam penyajian ini, yang dimaksud lahan kering adalah lahan atasan, karena kebanyakan lahan kering berada di lahan atasan. Belakangan ini pengertian yang tersirat dalam istilah lahan kering yang digunakan masyarakat umum banyak mengarah kepada lahan kering dengan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuh¬nya pada air hujan dan tidak pernah tergenang air secara tetap (Notohadiprawiro, 1989).
Membayangkan lahan sawah, maka secara mudah dapat di¬gambarkan suatu hamparan lahan dengan petak-petak hamparan yang ditanami padi dan tergenang air. Keluaran hasil pokoknya adalah padi, meskipun beberapa palawija juga dihasilkan dari sawah. Keadaan sangat berbeda apabila diminta untuk mem¬bayang¬kan sistem usahatani pada lahan kering. Menurut peng¬gunaannya BPS (2006) mengelompokkan lahan kering ke dalam sembilan (9) jenis penggunaan, meliputi usaha tani lahan kering (tegalan/kebun, padang rumput, tanah tidak diusahakan, tanah hutan rakyat dan perkebunan) dan usaha tani lainnya (pekarangan/ bangunan, tanah rawa, tambak dan kolam/empang). Dari sembilan jenis penggunaan, ternyata rawa (yang tidak ditanami padi), tambak dan kolam juga digolongkan sebagai lahan kering. Keadaan seperti ini tentu saja akan membuat sulit untuk meng¬gambarkan keadaan lapangan dari usaha tani lahan kering.
Secara umum, lahan kering daerah tropika basah dan setengah kering didominasi oleh jenis tanah yang termasuk dalam golongan/ordo Alfisol, Ultisol dan Oksisol. golongan/ordo Oksisol meliputi 35% luasan, diikuti oleh Ultisol 28% dan sisanya Alfisol 4% (NAP, 1982 cit Syekhfani, 1991). Oksisol dan Ultisol umumnya terdapat di daerah lembab yang mengalami tingkat pelapukan dan pencucian yang tinggi. Tanah-tanah yang termasuk dalam ordo ini didominasi oleh mineral liat kaolinit dan oksida-oksida besi dan aluminium (Juo and Fox, 1981); dicirikan oleh tingkat kemasaman yang kuat, level unsur-unsur Ca, K dan Mg rendah dan proporsi kompleks pertukaran dijenuhi oleh aluminium. Defisiensi unsur N, P, K, Ca dan Mg umum dijumpai di lapang (miskin unsur hara) (Sanchez, 1992; Kang dan Juo, 1983), fiksasi P dan anion lain kuat, kadar lengas dan kapasitas simpan lengas tanah rendah dan rentan terhadap erosi (Sudjadi, 1984., Notohadiprawiro, 1989). Sifat/karakteristik seperti dimiliki oleh tanah-tanah yang didominasi Alfisol, Ultisol dan Oksisol, menyebabkan produktivitas atau kesuburan tanahnya rendah (Luthful Hakim, 2002), sehingga menjadi kendala dalam pengembangannya. Selain mempunyai tingkat kesuburan rendah, umumnya lahan kering memiliki kelerengan curam, dan kedalaman/solum dangkal yang sebagian besar terdapat di wilayah bergunung (kelerengan > 30%) dan berbukit (kelerengan 15−30%), dengan luas masing-masing 51,30 juta ha dan 36,90 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002). Lahan kering berlereng curam sangat peka terhadap erosi, terutama apabila diusahakan untuk tanaman pangan semusim. Keterbatas¬an air pada lahan kering juga mengakibatkan usaha tani tidak dapat dilakukan sepanjang tahun.
Ditinjau dari segi luasannya, potensi lahan kering di Indo¬nesia tergolong tinggi dan masih perlu mendapat perhatian yang lebih bagi pengembangannya, namun apabila ditinjau dari sifat/ karakteristik lahan kering seperti diuraikan tersebut di atas, sangat diperlukan beberapa tindakan untuk menanggulangi faktor pem¬batas yang menjadi kendala dalam pengembangannya.
Apabila dikaji lebih jauh dari data penggunaan lahan kering yang ada, menunjukkan bahwa ketergantungan pertanian pada usahatani lahan kering jauh lebih besar daripada lahan basah/ sawah yang hanya 7,8 juta ha, dan separuh areal luasannya 3,24 juta ha berada di Jawa (Anonim, 2007).
Survai Pertanian-BPS memberikan angka-angka luasan lahan kering khususnya dalam hal penggunaannya dan secara ringkas dapat disebutkan dari yang terbesar berturut-turut adalah hutan rakyat (16,5%), perkebunan (15,8%), tegalan (15,0%), ladang (5,7%), padang rumput (4,0%). Lahan kering yang kosong dan merupakan tanah yang tidak diusahakan seluas (14,0%) dari total lahan kering, sudah barang tentu merupakan potensi yang besar untuk dapat dimanfaatkan.

Hadirin yang saya hormati,
2.    Potensi lahan kering dan peluang pengembangannya untuk pertanian tanaman pangan
Berdasarkan sifat/karakteristik lahan kering seperti saya utarakan di atas, peluang pengembangan untuk pertanian sesungguh¬nya masih terbuka lebar, (mengingat luasnya yang sangat besar) dibandingkan lahan sawah, meskipun tidak semua lahan kering sesuai untuk pertanian. Dari total luas lahan kering yang ada, sebagian besar terdapat di dataran rendah dan sesuai untuk budidaya pertanian penghasil bahan pangan (seperti padi gogo, jagung, kedele, kacang tanah). Lahan kering juga penghasil produk pertanian dalam arti luas lainnya, seperti perkebunan (antara lain kelapa sawit, kopi, karet), peternakan, kehutanan dan bahkan perikanan (darat), apalagi di luar Jawa yang memiliki lahan sangat luas dan belum banyak dimanfaatkan (kurang dari 10%)  (Soepardi dan Rumawas, 1980). Dari sebagian Luasan lahan kering yang tidak diusahakan secara optimal, dapat menjadi alternatif pilihan dan merupakan peluang untuk pengembangannya, mengingat selama ini potensi itu terkesan seperti terabaikan.
Utomo, M. (2002) melaporkan bahwa lahan kering di Indo¬nesia cukup luas, dengan taksiran sekitar 60,7 juta hektar atau 88,6% dari luas lahan, sedangkan luas lahan sawah hanya 7,8 juta hektar atau 11,4% dari luas lahan, sebagian besar banyak ter¬sebar pada dataran rendah yakni hamparan lahan yang berada pada ketinggian 0 – 700 m dpl (60,65%) dan dataran tinggi yang terletak pada ketinggian >700 m dpl.(39,35%) dari total luasan lahan kering di Indonesia (Hidayat dan Mulyani, 2002). Data terbaru, menyebutkan Indonesia memiliki lahan kering sekitar 148 juta ha (78%) dan lahan basah (wet lands) seluas 40,20 juta ha (22%) dari 188,20 juta ha total luas daratan (Abdulrachman, et al. 2005).
Lebih lanjut dijelaskan oleh Abdulrachman, et al. (2005), bahwa dari total luas lahan kering 148 juta ha, yang sesuai untuk budi daya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha (52%), sebagian besar terdapat di dataran rendah (70,71 juta ha atau (93%) dan sisanya di dataran tinggi. Di wilayah dataran rendah, lahan datar sampai bergelombang (lereng < 15%) yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan mencakup 23,26 juta ha sedang pada lahan dengan lereng15−30%, lebih sesuai untuk tanaman tahunan (47,45 juta ha). Di dataran tinggi, lahan yang sesuai untuk tanaman pangan hanya sekitar 2,07 juta ha, dan untuk tanaman tahunan 3,44 juta ha.
Hadirin yang saya hormati,
Untuk mencoba mengkaji peluang dengan melihat sifat/ karakteris¬tik dan potensi dari lahan kering dalam pengem¬bangan¬nya untuk pertanian tanaman pangan, ijinkanlah saya mengajak hadirin untuk meninjau potensi lahan kering di Jawa tengah, khususnya untuk wilayah Karesidenan Surakarta dalam hal menyediakan bahan pangan pokok.
Dari data BPS Propinsi Jawa Tengah dalam Angka (2005), diketahui luas penggunaan lahan sawah 30,61% (996.197 ribu ha) dan lahan bukan sawah atau lahan kering  69,39% (2,26 juta ha). Kalau dilihat pada masing-masing kabupaten di wilayah Karesi¬denan Surakarta, ada tiga kabupaten yaitu Wonogiri, Boyolali, dan Karanganyar yang mempunyai luas lahan kering sangat dominan di atas 70%.
Secara keseluruhan dapat dilihat dari penggunaan lahan kering yang terluas, berturut-turut, adalah : Wonogiri 85,97%, Boyolali 77,47%, Karanganyar 71,93%,  Klaten 60,59%, Sragen 56,36%, dan Sukoharjo 50,74%, sedangkan lahan sawah terluas di Klaten 62.23% dan Sukoharjo 57.39% berikut berturut-turut Sragen 43,64%., Boyolali 29.61%, Karanganyar 28.08% kemudian Wonogiri 24.03%, dari total luas penggunaan lahan yang ada di masing-masing kabupaten (dikutip dan diolah dari masing-masing BPS pada Kabupaten dalam angka tahun 2006 – 2007).
Dari penggunaan lahan tersebut nampak bahwa luas areal penggunaan lahan kering jauh lebih besar dibanding areal penggunaaan lahan basah/sawah, meskipun secara keseluruhan sumbangan subsektor tanaman pangan yang paling tinggi masih didapat dari hasil penggunaan lahan sawah. Dapat dijelaskan di sini, penyebab utamanya karena lahan sawah didukung dari segi produksi jenis tanaman pangan utama yaitu padi, seperti yang ditunjukkan pada Kabupaten Sragen dengan persentase produksi padi yang didominasi oleh padi sawah 98,28%, sedangkan produksi padi ladang/gaga di lahan kering hanya sebesar rata-rata  1,72% demikian halnya untuk Kabupaten Wonogiri 86,82% padi sawah dan 13,18% padi ladang/gaga dan persentase hasil yang serupa hampir dijumpai di kabupaten lain yang ada di wilayah Surakarta.
Dari luas areal lahan kering yang ada, peluang untuk meningkat¬kan produksi pertanian tanaman pangan masih sangat besar.

Hadirin yang saya hormati,
Sekilas akan saya coba meninjau potensi lahan kering di masing-masing kabupaten di wilayah Karesidenan Surakarta hubungannya dengan produksi bahan pangan pokok yang ber¬sumber dari data BPS Kabupaten tahun 2006-2007.
Produksi pertanian tanaman pangan terutama bahan pangan yang dihasilkan dari penggunaan lahan kering, tampak bahwa Kabupaten Boyolali menduduki persentase tertinggi untuk jagung (42.15%) dan ubi kayu (26.55%), diikuti Wonogiri untuk ubi kayu (25.78%) dari total produksi 6 (enam) kabupaten di wilayah Karesi¬denan Surakarta. Kabupaten yang lain berpotensi penghasil tanaman pangan pokok tertinggi, seperti ubi jalar adalah Sukoharjo (48.94%), dan Karanganyar (25.07%) untuk tanaman kedele adalah Karanganyar (63.86%) dan Wonogiri (30.81%), sedang penghasil kacang tanah tertinggi adalah Wonogiri (54.33%) dan Sukoharjo (19.69%). Secara umum penggunaan lahan kering yang kurang potensial memberikan tanaman bahan pangan adalah Sragen.
Masih bersumber dari data BPS Kabupaten dalam angka 2007, menunjukkan bahwa beberapa kabupaten di antaranya potensial untuk tanaman pangan dan hortikultura. Dapat dikemukakan di sini beberapa tanaman buah-buahan yang umum seperti mangga, rambutan, nangka, jambu biji, sawo, pepaya, dan buah-buahan lain hampir merata dihasilkan pada semua kabu¬paten dan bahkan ada yang merupakan sentra bagi komoditas unggulan.
Sukoharjo misalnya, dari data potensi pertanian didapatkan rambutan adalah tanaman buah-buahan tertinggi produksinya dibanding tanaman lain, sedang untuk jenis sayur-sayuran yang menjadi andalan adalah jenis kacang panjang, selain hasil sayuran seperti cabai merah, mentimun, dan bawang merah. Peluang bisnis yang cukup menjanjikan ditunjukkan dengan produktivitas yang tinggi dan terus meningkat tiap tahunnya adalah durian (Klaten), durian dan pepaya (Boyolali). Pencanangan trade mark Sragen sebagai Kota beras organik, memberikan peluang ber¬kembangnya pertanian organik, termasuk yang tengah dirintis untuk komoditas lain seperti melon, kacang, kedele, kacang hijau, serta sayur-sayuran. Jeruk Keprok Tawangmangu, duku Matesih, durian, rambutan, alpokat, salak Tawangmangu, ketela rambat, ubi kayu, kacang tanah, jagung kuning, dan komoditas agrobisnis seperti cabai, bawang, kentang, telah menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Karanganyar. Untuk Kabupaten Wonogiri komoditas tanaman pertanian unggulan lebih banyak dihasilkan dari per¬kebunan seperti cengkeh, jambu mete, kopi, dan kakao. Dilapor¬kan hasil tanaman cengkeh dan kakao mengalami kenaikan, dan diharapkan menjadi tanaman unggulan daerah.
Dari hasil pengamatan data rata-rata tanaman bahan pangan dan holtikultura pada lahan kering di beberapa kabupaten di wilayah Surakarta kalau diperhatikan menunjukkan produksi yang berbeda. Perbedaan produksi yang terjadi, dimungkinkan selain produktivitas tanahnya yang memang rendah, barangkali karena pengaruh musim dan bisa jadi kemungkinan tanaman bahan pangan tersebut tidak semua ditanam di lahan kering tetapi ada juga yang ditanam di lahan sawah.
Berdasar pada produksi tanaman pertanian dari penggunaan luas lahan yang ada (meliputi penggunaan lahan kering dan penggunaan lahan sawah) kalau dihubungkan dengan keadaan ekonomi di sektor pertanian, maka nampak bahwa secara total sektor pertanian masih merupakan penyumbang terbesar bagi perekonomian di beberapa kabupaten setempat meskipun belum semua kabupaten yang ada di wilayah Surakarta mampu mem¬berikan sumbangan yang besar bagi  pendapatan daerah.
Kalau dicermati dari data produksi pertanian yang ada terhadap sumbangannya pada Pendapatan Domestik Regional Bruto Daerah (PDRB) pada tahun 2006, berturut-turut terbesar adalah Kabupaten Wonogiri (50,91%), Boyolali (35,24%), Sragen (32,64%), Klaten (22,66%), Sukoharjo (21,91%), dan Karanganyar (16,72%) dari total sumbangan yang didapat baik dari sektor pertanian maupun non pertanian yang ada pada masing-masing kabupaten setempat (dikutip dan diolah dari masing-masing BPS pada Kabupaten dalam angka tahun 2006 – 2007).
Informasi seperti diungkapkan di atas, mengisyaratkan masih rendahnya produksi tanaman pertanian pada budidaya lahan kering terhadap sumbangan pendapatan daerah. Karenanya opti¬malisasi pengelolaan lahan kering untuk pengembangan tanaman pertanian perlu dilakukan agar dapat memberikan peningkatan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan daerah. Pengelolaan lahan kering untuk budidaya pertanian sangatlah berbeda dengan budidaya tanah sawah. Permasalahan dalam pengelolaan yang timbul pada lahan kering umumnya sangat ditentukan dalam memilih tanaman yang sesuai dengan karakte¬ristik lahan sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman, baik untuk pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan kehutanan yang mempunyai daya hasil tinggi baik dari segi kualitas maupun nilai ekonominya.

Hadirin yang saya hormati,
3.    Optimalisasi pengelolaan lahan kering
Diperlukan upaya strategis dalam pengelolaan lahan kering agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pertanian secara optimal mengingat beberapa kendala antara lain :

  1. Sebagian besar lahan kering tingkat kesuburannya rendah dan sumber pengairan terbatas kecuali dari curah hujan yang distribusinya tidak bisa dikendalikan sesuai dengan kebutuhan.
  2. Topografi umumnya tidak datar, berada di daerah lereng dan perbukitan, memiliki tingkat erosi relatif tinggi yang berpotensi untuk menimbulkan degradasi kesuburan lahan.
  3. Infra struktur ekonomi tidak sebaik di lahan sawah.
  4. Keterbatasan biofisik lahan, penguasaan lahan petani, dan infrastruktur ekonomi menyebabkan teknologi usaha tani relatif mahal bagi petani lahan kering.
  5. Kualitas lahan dan penerapan teknologi yang terbatas menyebabkan variabilitas produksi pertanian lahan kering relatif tinggi.

Beberapa tindakan untuk menanggulangi faktor pembatas biofisik lahan, sudah barang tentu diperlukan sentuhan inovasi teknologi guna meningkatkan produktivitasnya. Teknologi penge¬lola¬an lahan kering yang umum dilakukan meliputi :
a)    Tindakan konservasi tanah dan air,
b)    Pengelolaan kesuburan tanah (pengapuran/pemberian kapur, pemupukan dan penambahan bahan
organik),
c)    Pemilihan jenis tanaman pangan (tanaman berumur pendek tahan kekeringan merupakan pilihan
yang tepat untuk dilakukan pada wilayah yang beriklim kering).

a)    Tindakan konservasi tanah dan air,
Tindakan konservasi tanah dan air, bertujuan untuk me¬lindungi tanah terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh butir-butir air hujan yang jatuh, memperlambat aliran permukaan (run off), memperbesar kapasitas infiltrasi dan memperbaiki aerasi serta memberikan penyediaan air bagi tanaman (Utomo, W.H,  1983). Pada lahan kering, tindakan konservasi lebih ditujukan pada upaya mengurangi erosi dan kehilangan unsur hara (Syekhfani, 1991).
Menurut Arsyad (2000), ada beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai tindakan konservasi, antara lain :

  1. Cara mekanik (pengolahan tanah, pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, terras dan tanggul),
  2. Cara vegetatif (penanaman tanaman yang dapat menutupi tanah  secara terus menerus, pola pergiliran tanaman, penanaman strip/alley cropping, sistem penanaman agro¬forestry dan pemanfaatan sisa-sisa tanaman sebagai mulsa dan bahan organik),
  3.  Pemanfaatan Agrokimia.

Cara mekanik seperti pengolahan tanah menurut kontur, pem¬buatan guludan, terras terbukti berhasil di Cina Selatan, Bali (Indonesia), Nepal dan Hugo (Filipina), namun dibutuhkan biaya mahal dan memakan waktu serta tenaga (Syekhfani, 1991). Lebih lanjut dikatakan oleh Syekhfani, (1991). bahwa pendekatan secara kombinasi antara cara mekanik dan vegetatif adalah yang umum dilakukan karena lebih menguntungkan.
Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan tindakan koservasi melalui cara vegetatif, seperti yang dilaporkan Haryati, et al. (1995) bahwa budidaya lorong/alley cropping dapat menurun¬kan laju erosi tanah sebesar 0,7 ton/ha/th dan aliran permukaan sebesar 1,51 m3/ha/th pada musim ke VI penanaman dengan produksi jagung 0,73 ton/ha. Lal (1994) menambahkan bahwa kemampuan budidaya lorong dalam menurunkan laju erosi dan aliran permukaan terbukti lebih rendah dibanding sistem penanaman agroforestry. Melengkapi kelebihan budidaya lorong, Basri (1994) melaporkan, bahwa mengembalikan bahan organik dan sisa-sisa pangkasan ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan kimia tanah, serta mempertahankan kandungan bahan organik tanah.
Hasil penelitian tentang pola pergiliran tanaman yang dilaku¬kan International Institut of Tropical Agriculture (IITA), Ibadan, Nigeria memberikan pengaruh yang besar dalam memperbaiki kerusakan tanah (Lal, 1994).
Penelitian Noeralam (2002) yang dilakukan pada penerapan pola tanam (kacang tanah-jagung-kedele) dengan teknik pe¬manen¬an air (rorak bergulud + mulsa vertikal) dapat menurunkan aliran permukaan dan besarnya erosi tanah masing-masing sekitr 88% dan 94% serta dapat memperbaiki kualitas tanah pada lahan kering di Malang, Jawa timur. Hasil penelitian lain yang me¬nunjukkan tindakan konservasi, seperti penggunaan sisa-sisa tanaman (jerami padi dan jagung) sebagai mulsa yang disebarkan di atas permukaan tanah pada lahan pertanaman pangan menurunkan laju erosi tanah sebesar 80 sampai 100% (Kurnia, et al. 1997).
Menurut Abdurachman dan Sutono (2005) menurunnya produktivitas lahan kering, antara lain disebabkan karena terjadi erosi terutama pada lahan yang dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman semusim seperti tanaman pangan tanpa tindakan konservasi (Kurnia et al. 2005). Hasil penelitian menunjukkan budidaya tanaman pangan semusim tanpa disertai konservasi tanah menyebabkan erosi berkisar antara 46−351 t/ha/tahun (Sukmana 1994). Erosi bukan hanya mengangkut material tanah, tetapi juga unsur hara dan bahan organik, baik yang terkandung di dalam tanah maupun yang berupa input pertanian. Santoso et al. (2004) menyarankan, penerapan teknik konservasi mekanik sebaiknya dikombinasikan dengan teknik vegetatif, karena efektif dalam mengendalikan erosi dan lebih cepat diadopsi petani.  Pengaturan pola tanam dengan mengusahakan permukaan lahan selalu tertutup oleh vegetasi dan/atau sisa-sisa tanaman atau serasah, juga berperan penting dalam konservasi tanah. Pengaturan proporsi tanaman semusim dan tahunan pada lahan kering juga penting; makin curam lereng sebaiknya makin tinggi proporsi tanaman tahunan.
Penelitian penggunaan mulsa sebagai tindakan konservasi secara vegetatif yang dilakukan oleh Kurnia (1996), ternyata dapat mencegah hilangnya unsur hara makro N, P, dan K dan dilaporkan bahwa perbandingan jumlah unsur hara N, P, dan K yang hilang akibat erosi tanah pada penggunaan mulsa jerami padi dan Mucuna sp, berturut-turut sekitar 5,1% dan 26,8% dibandingkan perlakuan kontrol.

b)    Pengelolaan kesuburan tanah (pemupukan, pengapuran dan penambahan bahan organik).
Pengelolaan Kesuburan Tanah tidak terbatas pada pening¬katan kesuburan kimiawi, tetapi juga kesuburan fisik dan biologi tanah. Dapat diartikan bahwa tindakan pengelolaan kesuburan tanah tidak cukup dilakukan hanya dengan memberikan pupuk saja, tetapi juga perlu disertai dengan pemeliharaan sifat fisik tanah sehingga tersedia lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman, dan kehidupan organisme tanah.
Pemupukan adalah salah satu teknologi pengelolaan ke¬suburan tanah yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanah pada level yang tinggi, namun penerapan input teknologi pertanian seperti penggunaan pupuk kimia/anorganik dan penga¬puran harus dilakukan secara tepat sesuai dengan kebutuhannya (seimbang). Penelitian Santoso et al. (1995) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk anorganik yang tidak tepat (takaran tidak seimbang) serta waktu pemberian dan penempatan pupuk yang salah, dapat mengakibatkan kehilangan unsur hara sehingga respons tanaman menurun. Hara yang tidak termanfaatkan tanaman juga dapat berubah menjadi bahan pencemar. Santoso et al. (1995) menganjurkan pentingnya penggunaan pupuk yang berimbang dan perlunya pemantauan status hara tanah secara berkala.
Praktek penggunaan pupuk oleh petani pada lahan kering jarang yang dilakukan secara intensif meskipun pada saat ini sudah dilakukan tetapi dengan takaran rendah, namun perlu diwaspadai karena dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketidakseimbangan kandungan hara tanah sehingga menurunkan produktivitas tanaman.
Selain pemupukan, pengapuran/pemberian kapur juga penting dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering yang umumnya bersifat masam, dengan tujuan untuk mengurangi keracunan aluminium (Al) dan meningkatkan reaksi tanah/pH tanah (Anonim, 2001). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengapuran dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan produksi beberapa jenis tanaman (Handayanto, 1998). Disarankan, pengapuran harus dilakukan secara berkala dan diikuti dengan pemupukan N, P, K dan unsur hara lain tergantung kepada status hara yang ada di dalam tanah.
Penelitian yang dilakukan Purwanto (1998), menunjukkan bahwa pemberian dolomit terbukti meningkatkan hasil kacang tanah di tanah Alfisol Jumantono Karanganyar. Hasil penelitian di daerah Kubang Ujo Jambi, menunjukkan bahwa penggunaan pupuk P alam, pengapuran (2,0 ton CaCO3/ha) dan bahan organik (5,0 ton/ha) dapat meningkatkan hasil tanaman kedele sebesar 95% dibandingkan kontrol (Anonim, 2001).
Penerapan teknologi pemupukan organik juga sangat penting dalam pengelolaan kesuburan tanah karena mengandung hara makro N, P, dan K dan hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman juga berfungsi sebagai bahan pembenah tanah (Sutanto, 2002). Pupuk organik dapat bersumber dari sisa panen, pupuk kandang, kompos atau sumber bahan organik lainnya.
Bahan organik tanah itu sendiri dapat diartikan semua bahan berasal dari tanaman atau hewan, baik masih hidup atau sudah mati yang terdapat dalam tanah (Tate, 1987). Selain menyumbang hara yang tidak terdapat dalam pupuk anorganik, seperti unsur hara mikro, pupuk organik juga penting untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah (Setiyono, 1996). Pendapat yang sama dikatakan Suriadikarta et al. (2002), bahan organik memiliki peran penting dalam memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. Meskipun kontribusi unsur hara dari bahan organik tanah relatif rendah, peranannya cukup penting karena selain unsur NPK, bahan organik juga merupakan sumber unsur esensial lain seperti C, Zn, Cu, Mo,Ca, Mg, dan Si.
Mengingat jumlah dan kualitas bahan organik yang banyak dijumpai di lapangan, maka pemilihan terhadap bahan organik yang digunakan perlu dipertimbangkan karena penggunaan bahan organik dipandang sebagai yang paling sesuai dalam penerapan konsep teknologi masukan rendah. Pushparajah (1995), Handa¬yanto, dan Ismunandar (1999), Heal et al. (1997) dan Suntoro (2001), menyebutkan beberapa parameter penting yang dipakai dalam menentukan kualitas bahan organik sebagai sumber pupuk organik, antara lain nisbah C/N rendah, kandungan lignin, kandungan polifenol yang juga rendah, lebih efektif untuk mereduksi Al dalam larutan tanah.
Pada umumnya lahan kering memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, terutama pada tanah-tanah yang tererosi, sehingga lapisan olah tanah menjadi tipis dan kadar bahan organik rendah. Kondisi ini makin diperburuk dengan terbatasnya penggunaan pupuk organik, terutama pada tanaman pangan semusim. Selain itu, secara alami kadar bahan organik tanah di daerah tropis cepat menurun, mencapai 30−60% dalam waktu10 tahun (Brown dan Lugo 1990 cit Suriadikarta et al. 2002).
Penelitian yang dilakukan Minardi (2006) pada lahan kering di tanah Andisol Tawangmangu, menunjukkan bahwa penggunaan bahan organik Gliricida sepium, pupuk kandang dan jerami padi dengan dosis yang sama 10 ton/ha pada tanaman jagung manis, ternyata hasil tertinggi jagung manis (ton/ha) didapat pada peng¬gunaan Gliricida sepium (8,40 ton/ha ) > pupuk kandang (6,02 ton/ha) > jerami padi (5,87 ton/ha). Kemampuan peng¬guna¬an bahan organik terhadap perbedaan hasil jagung manis, lebih dipengaruhi oleh peran asam-asam organik terutama asam humat dan fulvat yang berasal dari hasil dekomposisi bahan organik terutama pada Gliricida sepium sehubungan dengan kemampuan¬nya dalam mengurangi aktivitas aluminium dalam tanah melalui penukaran anion organik terhadap ion hidroksida aluminium, yang selanjutnya akan memberikan kontribusi pada berkurangnya aktivitas aluminium dalam memfiksasi phosfat. Perubahan pening¬katan ketersediaan P akan berakibat pada peningkatan nilai serapan dan konsentrasi phosfat jaringan tanaman, yang selanjut¬nya berpengaruh pada hasil tanaman jagung manis, dalam hal ini berat tongkol per tanaman.

c)    Pemanfaatan Agrokimia
Pemanfaatan Agrokimia merupakan tindakan konservasi tanah dengan menggunakan bahan/preparat kimia sintetis atau alami yang lebih ditujukan pada perbaikan sifat-sifat tanah dan mengurangi besar erosi tanah. Menurut Arsyad (2000), ada bebe¬rapa jenis bahan kimia yang dipakai sebagai soil conditioner seperti PVA, PAA, DAEMA, PAM dan Emulsi bitumen yang sering digunakan untuk memperbaiki struktur tanah. Pemanfaatan bebe¬rapa bahan kimia sintetis tersebut sudah mulai dirintis oleh Puslit¬bangtanak untuk dicoba memperbaiki sifat fisik tanah pada Entisol, Ultisol, Oxisol dan Alfisol.
Stem, et al. (1991) menyatakan bahwa penggunaan Polya¬crilamide (PAM) pada tanah Alfisol dapat menurunkan aliran permukaan (run off) sebesar 2-3 kali dibandingkan dengan tanpa penggunaan PAM/kontrol. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ginting (1975) di Jonggol yang menunjukkan bahwa penggunaan Polyacrilamide (PAM) dapat menurunkan besarnya erosi tanah sekitar 11,85% dibanding kontrol.

Hadirin yang saya hormati,
Uraian saya yang singkat tentang pengelolaan lahan kering untuk pengembangan tanaman pertanian secara kuantitatif memiliki potensi yang sangat penting tetapi secara kualitatif dihadapkan pada permasalahan majemuk baik dari segi teknis maupun sosial ekonomi. Sifat/karakteristik dan luasan lahan yang ada mengakibatkan pengelolaan usaha tani lahan kering menjadi sangat beragam pada setiap wilayah. Berdasar dari data lahan kering yang cukup luas dengan aneka ragam jenis komoditas yang diusahakan (bahkan ada komoditas yang menjadi andalan) di beberapa kabupaten yang ada di wilayah Karesidenan Surakarta; seharusnya menjadi peluang untuk dioptimalkan pengembangan¬nya untuk pertanian khususnya tanaman pangan. Dengan meng¬andalkan teknologi pengelolaan yang tersedia, seperti pendekatan secara kombinasi antara tindakan konservasi diikuti dengan inten¬sifikasi usahatani merupakan satu pilihan yang lebih menguntung¬kan karena dapat mengurangi resiko kegagalan panen.
Sebagai contoh yang mungkin dapat dikaji untuk dapat dikembangkan pada wilayah yang mempunyai permasalahan yang sama adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh P3HTA tentang pola usahatani lahan kering. Diinformasikan bahwa pola tanam : jagung + kacang tanah (atau kedele) + ubikayu, diikuti jagung + kedele (atau kacang hijau), dan diikuti kacang tunggak lebih efisien dalam memanfaatkan sumberdaya pertanian dan lebih produktif (BTP NTB, 2004). Menurut Suntoro (2007) dalam rangka penganekaragaman hasil usaha taninya (diversifikasi), petani disarankan menerapkan sistem tumpang sari tanaman jarak pagar dengan tanaman pangan semusim lain seperti jagung, kacang tanah, kedele, atau padi gogo. Dari segi konservasi tanah, tumpang sari membuat penutupan tanah oleh daun lebih sempurna sehingga mengurangi terjadinya erosi. Tumpang sari akan memperpendek musim paceklik. Selama petani belum dapat memetik hasil secara optimal, petani mendapatkan hasil dari tanaman selanya. Tanaman tumpang sari dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan makan rumah tangga hariannya. Secara teknis budidaya sistem tumpang sari ini akan mengoptimalkan faktor produksi (lahan dan sinar matahari).
Keuntungan menerapkan pola tanam tumpangsari (inter¬cropping)  atau  multi cropping   menurut Bahar, (1987) adalah :

  1. mengurangi resiko kegagalan panen;
  2. peningkatan produksi secara keseluruhan, penggunaan tenaga kerja lebih efisien dgn tersebar kegiatan sepanjang tahun;
  3. efisiensi penggunaan tanah, air, dan sinar matahari sebagai sumber daya alam;
  4. pengawetan kesuburan tanah dapat dipertahankan karena  adanya tanaman sepanjang tahun;
  5. pengendalian gulma (dengan pola tanam tidak memberi  kesempatan tumbuhnya gulma);
  6. memperbaiki gizi keluarga petani yang diperoleh dari ber¬bagai   tanaman.

Hasil Praktek Lapang Kesesuaian Lahan yang dilakukan mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri, menyebutkan bahwa sebagian besar intensifikasi usahatani lahan kering yang dilakukan oleh petani masih bersifat tradisional, artinya pemilihan jenis tanaman dan pengaturan pola tanam yang melibatkan tanaman semusim dan tanaman tahunan belum ditujukan untuk lebih dikembangkan secara produktif. Usahatani tanaman pertanian bahan pangan seperti tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedele, kacang tanah, kacang hijau, dan beberapa jenis tanaman lain, demikian juga tanaman sayuran seperti kacang panjang, terong, mentimun, cabai merah, kangkung, kubis, dan bayam, sudah banyak dilakukan petani, namun pengembangannya belum secara optimal. Upaya untuk lebih mengoptimalkan usahatani lahan kering, dilakukan dengan mengatur pola tanam agar dapat mengurangi resiko kegagalan panen, misalnya dengan pola tumpangsari atau tumpang gilir, memilih tanaman yang toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik pada lokasi tertentu, sehingga akan  memperbesar peluang panen dan mengatur perubahan cara tanam, cara pengolahan tanah dan waktu tanam.
Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis tanaman agar optimalisasi pengembangan per¬tanian tanaman pangan dapat berhasil, antara lain :

a) memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi agro¬klimat setempat,
b) memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat (tanaman disenangi petani, teknologi¬nya mudah, tidak memerlukan masukan tinggi, sesuai dengan ketersediaan tenaga kerja),
c) sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah setempat,
d) mendukung usaha konservasi tanah dan air.

Ke depan (sebagai tantangan), yang harus dilakukan adalah melibatkan peran serta petani (sebagai pelaku aktif) dan masya¬rakat pedesaan dalam meningkatkan dan mengembangkan lahan kering yang ada secara optimal dan lestari dengan memanfaatkan pilihan teknologi yang benar untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan petani, dan kesejahteraan masyarakat (Soemarno, 2007). Menggunakan teknologi yang murah, seder¬hana, dan efektif dalam rangka optimalisasi pengembangan lahan kering (saat ini) perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Seperti teknologi pengelolaan padi gaga dan palawija sebagai bagian dari sistem usaha tani (farming system) yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi. Namun, pada kenyataan¬nya sering menjadi kendala yang menentukan tingkat efektivitas penyampaian teknologi pengelolaan yang ada, karena akses penyuluh apalagi petani relatif terbatas. Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang secara langsung lebih mendekatkan sumber teknologi dengan petani sebagai calon pengguna tekno¬logi.
Menurut Soemarno, (2007) peran pemerintah sangat penting terutama dalam memberikan fasilitas dan pembinaan kemampuan aparat dalam menjalankan fungsi lembaga pemerintah yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Beberapa upaya yang telah dilakukan sebagai alternatif pilihan dalam pengembangannya tidak seluruhnya saya bahas dengan tuntas mengingat keragaman lahan kering yang dimiliki pada masing-masing wilayah. Namun saya percaya, upaya yang ditujukan untuk lebih mengoptimalkan lahan kering untuk pengembangan tanaman pertanian sudah banyak dilakukan. Beberapa fakta yang dapat saya kemukakan di sini, antara lain kerjasama beberapa kabupaten dengan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret dalam penanganan pengembangan potensi lahan kering untuk kesesuaian tanaman. Dari browsing internet, saya temukan rencana pengoptimalan sebanyak 70 persen lahan kering di Boyolali utara oleh Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut), Kabupatan Boyolali di Kecamatan Juwangi, Wonosegoro, Kemusu, Karanggede, dan Andong dengan sistem pola tanam, misalnya penanaman padi yang setelah panen kemudian diselingi tanaman palawija, adalah bukti peran pemerintah daerah maupun dinas dalam upaya mendayagunakan lahan kering untuk pengembangan pertanian.
Pemahaman dan penerapan perubahan paradigma akan penting¬nya posisi lahan kering untuk pengembangan pertanian akan berhasil kalau secara tulus diikuti kemauan politik dari legislatif maupun ekskutif dengan melakukan proteksi bagi lahan pertanian yang produktif agar tidak terkonversi, serta penegakan aturan dan kebijakan yang dilaksanakan dengan penuh konsis¬tensi. Mengingat (kondisi sekarang ini), selain masih lemahnya kerangka hukum, koordinasi antar lembaga terkait dan birokrasi serta kebijakan makro ekonomi masih belum berfihak pada petani.

Hadirin yang  saya hormati,
Mengakhiri uraian yang singkat ini, saya akan coba me¬rangkum beberapa pokok pikiran yang terkait pada upaya pengelolaan lahan kering dengan memanfaatkan potensinya untuk pengembangan produksi tanaman pertanian.
Jumlah areal yang bercirikan usahatani lahan kering men¬capai luasan terbesar dibanding lahan sawah namun kontribusi pada subsektor pertanian masih rendah, sehingga masih perlu mendapat perhatian yang lebih dalam pengembangannya.
Mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering dapat melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian yang telah diusahakan saat ini, atau perluasan lahan pertanian tanaman pangan dengan memanfaatkan lahan kering terlantar atau yang belum diusahakan secara optimal dengan memilih sistem pertanaman yang sesuai dengan daya dukung tanah dan iklim setempat.
Berbagai teknologi pengelolaan lahan kering telah tersedia, mencakup pengendalian erosi (konservasi tanah dan rehabilitasi lahan), pengelolaan kesuburan tanah dan pengelolaan sumber daya air secara efisien adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi faktor pembatas biofisik lahan.
Dalam menggali potensi lahan kering yang ada di masing-masing wilayah diperlukan pemilihan paket teknologi yang sesuai dengan kondisi spesifik lokasi, mengingat tingkat keragaman yang ada pada lahan kering baik lingkungan fisik maupun sosial ekonomi¬¬nya (secara teknis dapat dilaksana¬kan, secara ekonomis menguntungkan, secara sosial tidak bertentangan, ramah dan aman lingkungan serta berkelanjutan).

Hadirin yang saya hormati,
Menutup pidato pengukuhan ini, dengan segala kerendahan hati saya mohon kesabaran hadirin, perkenankanlah sekali lagi saya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya kepada saya dan keluarga.
Banyak pihak yang terlibat dalam membantu, memberikan dorongan, dukungan dan doanya sehingga saya memperoleh kehormatan menyandang jabatan Guru Besar. Untuk itu, ijinkanlah saya pada kesempatan ini menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberikan keper¬cayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Tanah Umum pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
  2. Rektor Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. dr. M, Syamsulhadi, Sp.KJ (K) selaku Ketua Senat, Sekretaris Senat dan seluruh anggota Senat Universitas yang telah menyetujui dan mengusul¬kan saya untuk menduduki jabatan Guru Besar.
  3. Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS dan segenap anggota senat Fakultas, Semua Ketua Jurusan di lingkungan Fakultas Pertanian, Staf edukatif dan nonedukatif yang telah banyak membantu proses pengajuan jabatan Guru Besar.
  4. Kepada Guru-guru saya, di Sekolah Dasar Masehi Kudus, SMP Negeri 3 Kudus, SMA Negeri 2 Surakarta, saya sampai¬kan perghargaan yang setinggi-tingginya. Berkat jasa dan pengabdian beliau, hari ini saya berkesempatan men¬duduki jabatan tertinggi di lingkungan akademisi.
  5. Rasa hormat dan terima kasih juga saya sampaikan kepada         Ir. Djoko Isbandi, MSc. (Almarhum), Ir. Suseno Prawirowardoyo (Almarhum), semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan Ir. Toeranto Sugiyatmo sebagai pembimbing pada jenjang strata 1/S1; Kepada Prof. Dr. Ir. Syekhfani, MS., Prof. Dr. Ir. Moch.Munir, MS., Dr. Ir. Muji Santosa, MS. dan Prof. Ir. Eko Handayanto, MSc. Ph.D., selaku pembimbing Strata 2/S2 .
  6. Kepada Prof. Ir. Eko Handayanto, MSc. Ph.D., Prof. Dr. Ir. Syekhfani, MS., dan Prof. Dr. Ir. Suntoro, MS., masing-masing selaku promotor dan ko-promotor disertasi/S3 saya; Prof. Dr. Ir. Soemarno, MS., Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri, MS, Prof. Dr. Ir. M.Luthfi Rayes, MSc., dan Dr. Ir. Suyanto Simoen, MS. APU selaku penguji disertasi yang secara tulus memberikan saran, arahan dan evaluasinya yang sangat besar manfaatnya.
  7. Segenap civitas akademika Fakultas Pertanian, khususnya rekan-rekan sejawat di Jurusan Ilmu Tanah. Terima kasih atas kerjasamanya selama ini.
  8. Terimakasih, saya sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, MP, yang pernah mengajak untuk bersama-sama melanjutkan studi S3, waktu itu saya tidak bersedia dengan alasan usia, tapi akhirnya tahun berikutnya saya mengikuti saran beliau, untuk melanjutkan dan dapat menyelesaikan S3 dan saat ini saya juga mengikuti jejak beliau berkesempatan menduduki jabatan Guru Besar.
  9. Selamat jalan kepada keponakan yang juga rekan seangkatan saya waktu bersama-sama menempuh S3 di Universitas Brawijaya Malang, almarhum Ir. Holly Purwanto, MP (terima¬kasih, sebagai kawan kamu banyak membantu dan sebagai keponakan kamu mau mengerti), semoga kamu mendapat chusnul chotimah dan mendapatkan kebahagiaan di surga, amin.  Kepada Dimas dan Diajeng yang sekaligus sahabat saya : Dr. Ir. Purwanto, MS, Dr. Ir. Rob. Sudaryanto, MS.,            Dr. Ir. WS Dewi, MP., Dr. Ir. Mth. Budiastuti, MSi., dan Dr. Ir. Eni Lestari, MSi., terimakasih atas kerjasamanya.
  10. Kedua orang tua saya, Bapak Ibnu Sami’an (almarhum) dan Ibu Hj. Saenah yang selalu mengingatkan saya untuk selalu mengerti dan berharap putra-putrinya semua dapat berhasil dalam meniti hidup, yang saat ini (meskipun usia ibu sudah sepuh) masih menyempatkan kerso rawuh dan sabar menunggui saya berdiri di mimbar terhormat untuk me¬nyampai¬kan pidato pengukuhan saya, maturnuwun ibu. Kepada Bapak Suwardi (almarhum) dan Ibu Siti Srikanah (almarhumah), yang telah mengasuh, mendidik, membesarkan saya dengan penuh kesederhanaan dan berambisi anaknya berhasil pada jenjang sekolah tertinggi (Alhamdulillah berhasil), kepada beliau saya haturkan rasa hormat dan terima kasih, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Rasa hormat dan terimakasih juga saya sampaikan kepada bapak ibu mertua saya Bapak Soeseno (almarhum) dan Ibu Sumirah (almar¬hu¬mah) yang dengan penuh kasih sayang selalu mendoakan untuk keberhasilan putra-putrinya. Kepada Sesepuh dan pinisepuh yang telah memberikan bekal keteladanan kepada saya dalam meniti hidup dengan petuah-petuah: eling, sabar, ulet, ojolali, lan ojo dumeh dengan segala hormat dan kerendahan hati saya ucapkan terima kasih.
  11. Saudara-saudara kandung saya Mbakyu Asih Minarsi sekaliyan, Adik Asih Minarti sekaliyan, Adik Asih Darwati sekaliyan, Adik Ketut Darwanto sekaliyan Adik Sri Handayani (almarhumah), Adik Ani Saptaningsih (almarhumah), Adik Samsul Komar S.Pd., M.Pd. sekaliyan dan Adik Asri Renggowati, S.Kar. sekaliyan dan seluruh keponakan saya. Tidak lupa juga pada saudara ipar saya, Mas Teguh Suharyo sekaliyan, Mbakyu Retna Sulistyowati dan Kangmas Prof. Dr. Rustopo, S.Kar., MS. dan putra-putranya mas Bondet Wrahatnolo, S,Sos, M.Sn. dan Mas Bondan Aji Manggolo, S,Sn., M.Sn. yang membantu memberikan ilustrasi dalam penyajian pada pidato pengukuhan ini, sehingga memberikan nuansa lain, saya sampaikan terima kasih atas bantuannya, terima kasih atas doa dan dorongan semangatnya.
  12. Tidak lengkap kiranya apabila saya tidak mengucapkan terima kasih kepada Isteri tercinta Ir. Setie Harieni, MP dan anakku tersayang Danar Praseptiangga, S.TP, M.Sc. yang lebih punya hak dalam menerima penilaian atas jabatan saya ini, kepada mereka kucurahkan rasa kasih sayang atas doa, kesetiaan, kesabaran, pengertian, dorongan moral dan pengorbanannya.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada hadirin sekalian yang telah dengan sabar mengikuti pidato pengukuhan saya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Amin.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, A. dan S. Sutono. 2005. Teknologi pengendalian erosi lahan berlereng. dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering : Menuju pertanian produktif dan ramah lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Adiningsih, J.S. dan M. Sudjadi. 1993. Peranan sistem bertanam lorong (alley cropping) dalam meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering masam. Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Anonim, 1998. Statistik Sumberdaya Lahan. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.
———-, 2001. Teknologi pengelolaan sumberdaya lahan. Ekspose hasil-hasil penelitian Puslittanak di Pulau Kalimantan. Kerjasama antara Puslittank dengan Bappeda Tk. I Propinsi Kalimantan Timur.
———-, 2007. Statistik Indonesia. BPS. Jakarta.
Arsyad, S. 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Bahar, F .1987. Makalah Pelatihan Teknis Proyek Penelitian dan Pengembangan Pertanian Nusa Tenggara. Badan Litbang Pertanian.
BPS. 2005. Jawa Tengah Dalam Angka 2005. Badan Pusat Statistik. Jawa Tengah.
Basri, I.H. 1994. Agroforestry sebagai solusi sistem usahatani berkelanjutan Ultisol di daerah tropika basah (studi kasus Sitiung). Prosiding Lokakarya Nasional Agroforestry. Bogor.
BTP NTB, 2004. Pengkajian Sistem Usahatani Jagung pada Lahan Kering di Lombok Timur. Laporan tahunan, BPTP Nusa Tenggara Barat.
Departemen Pertanian.  2004. Basis data, Departemen Pertanian, Jakarta.
—————————–.  2007. Basis data, Departemen Pertanian, Jakarta.
Ginting, F.  1975. Pengaruh tanaman, soil conditioner dan lereng, serta sifat-sifat hujan terhadap erosi. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Handayanto, E. 1998. Pengelolan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
——————–,   1999. Komponen biologi tanah sebagai bioindikator kesehatan dan produktivitas tanah. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Biologi Tanah. Fakultas Pertanian Universitas brawijaya. Malang.
——————- dan Ismunandar. 1999. Seleksi bahan organik untuk peningkatan sinkronisasi nitrogen pada Ultisol Lampung. Habitat 109, 37-47.
Haryati, U., Haryono dan A. Asbdulrachman.  1995. Pengendalian erosi dan aliran permukaan serta produksi tanaman pangan dengan  berbagai tehnik konservasi pada tanah Typic Eutropepts di Ungaran. Jawa Tengah. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. No. 13 : 40-50.
Heal, O.W., Anderson, J.M. and Swift, M.J. 1997. Plant litter quality and decomposition : An Historical overview in G. Cadish and K.E. Giller (ed.), Driven by Nature Plant Litter Quality and Decomposition. CAB International, Wallingford. p. 3 – 33.
Hidayat dan Mulyani, 2002. Lahan Kering untuk pertanian dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian. Depar¬temen Pertanian. Jakarta.
Juo, A.S.R. and R.L. Fox, 1981. Phosphate sorption characteris¬tics of some denchmark soils of West Africa. Soil Sci. 124 : 370-376.
Kang, B.T. dan A.R.S. Juo, 1983. Management of Low activity clay soils in Tropical Africa for food crop production. Proceeding of 4th International Soil Classification Workshop, Rwanda.
Kurnia, U. 1996. Kajian metode rehabilitasi lahan untuk mening¬katkan dan melestarikan produktivitas tanah. Disertasi Doktor, Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kurnia, U., N. Sinukaban, F.G. Suratmo, H. Pawitan dan H. Suwardjo. 1997. Pengaruh teknik rehabilitasi lahan terhadap produktivitas dan kehilangan air. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk, No. 15 : 10-18.
Lal, R. 1994. Sustainable land use systems and soil resilience. In Soil Resilience and Sustainable land use. Proceding of a Symposium held in Budapest.
Luthful Hakim, 2002. Strategi Perencanaan dan Pengelolaan Lahan Kering Secara Berkelanjutan Di Kalimantan. Makalah Falsafah Sains, Program Pascasajana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Manuwoto. 1991. Peranan Pertanian Lahan Kering di dalam Pembangunan Daerah. Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering yang Berkelanjutan.  Malang 29-31 Agus¬tus 1991.

Minardi, S. 2006. Pengaruh Penggunaaan Macam Bahan Organik dan Pupuk P Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis Pada Andisol Tawangmangu. Agrineca.           Vol. 7 No. 2.  Juli 2007.
Nasoetion, L.I. 2004. Masalah Pengkonversian Lahan Pertanian ke Lahan Non-Pertanian dan Beberapa Alternatif Kebijakan untuk Mengatasi Dampak Negatifnya. Makalah disampai¬kan pada Seminar Keprofesian Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah, Bogor, 27 Oktober 1988.
Noeralam, A. 2002. Teknik pemanena air yang efektif dalam pengelolaan lengas tanah pada usaha tani lahan kering. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Notohadiparwiro, T.  1989. Dampak Pembangunan Pada Tanah, Lahan dan Tata Guna Lahan. Pusat Studi Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogjakarta.
————————-. 1989. Pertanian Lahan Kering Di Indonesia : Potensi, Prospek, Kendala dan Pengembangannya. Lokakarya Evaluasi Pelaksanaan Proyek Pengembangan Palawija. USAID. Bogor
Purwanto, H. 1998. Pengaruh Pemberian Dolomit Terhadap Hasil Kacang Tanah. Tesis. Program Pasca Sarjana. Univer¬sitas brawijaya. Malang.
Pushparajah, E. 1995. Soil Organic Matter : Its Role and Management, in  Pushparajah, E, (ed.), The Establesment of Experiment for The Menagement of Acid Soils. IBSRAM. Tech. Notes. No. 5. p. 31 – 54.
Sanchez, P.A. l992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. (Trnsl, Johana T. Jayadinata) dari judul asli: Properties and Management of Soil in the Tropics. John Willey & Sons. New York. Penerbit Institut Tehnologi Bandung. Bandung.

Santoso, D., I P.G. Wigena, Z. Eusof, and C.Xuhui. 1995. The Asian land management of sloping lands network: Nutrient balance study on sloping land. In A.Maglinao and A. Sajjapongse (Eds.). International Workshop on Conser¬vation Farming for Sloping Upland in South East Asia: Challenge, Opportunities, and Prospects. IBSRAM Proc. No. 14. Bangkok, Thailand. p. 103−108
————- dan A. Sofyan. 2005. Pengelolaan hara tanaman pada lahan kering. dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju pertanian produktif dan ramah lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. hlm. 73−100.
Satari, G., Sadjad, S. dan Sastrosoedardjo. 1977. Pendayagunaan tanah kering untuk budidaya tanaman pangan menjawab tantangan tahun 2000. Konggres Agronomi, Perhimpunan Agronomi Indonesia. Jakarta.
Setijono, S. 1996. Intisari Kesuburan Tanah. Penerbit IKIP Malang. Malang.
Soemarno. 2007. Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Dalam Rangka Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Soepardi, G. dan F. Rumawas, 1980. Lahan dan Tanah, kaitannya dengan transmigrasi. Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (18 September 1980). Bogor.
Stem, R., M.C . Laker and A.J. Van der Merwe. 1991. Field studies on effect of soil conditioners and mulch on runoff form kaolinitic and illitic soil. Ausrtralian Journal Soil Res. No. 29 : 249-261.
Sudjadi, M. 1984. Problem soils in Indonesia and their manage¬ment. dalam : Ecology and Management of  Problem Soils in Asia. FFTC Book Series No. 27. Taipe, h. 50-57.
Sugito, Y., Y. Nuraini dan E. Nihayati. 1995. Sistem Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Universitas brawijaya. Malang.
Sukmana, 1994. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah, dalam Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu. Jambi, 2 Juli 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Suntoro (2001). Kajian Imbangan K, Ca, Mg dan Ketersediaan P Dalam Budidaya Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Melalui Penambahan Bahan Organik. Disertasi Program Pascasarjana. Universitas Brawijaya. Malang.
———   (2007).  “Minyak jarak & alternatif bioenergi”.  Kumpulan artikel Menegemen Lahan Ramah Lingkungan. Media cetak Solo Pos dan Suara Merdeka.
Suriadikarta, D.A., Trihatini, D. Setyorini, dan W. Hartatiek. 2002. Teknologi pengelolaan bahan organik tanah dalam Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. hlm. 183−238.
Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogjakarta.
Syekhfani. 1993. Pengaruh sistim pola tanam terhadap kandungan bahan organik dalam mempertahankan kesuburan tanah. Makalah disajkan dalam Seminar Nasional Budidaya Pertanian Olah Tanah Konservasi di Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Tate, R. l. 1987. Soil Organic Matter Biological and Ecological Effects. A Wiley Interscience Publ. John Wiley and Sons, New York Chichester Brisbane Toronto Singapore.
Utomo, M. 2002. Pengelolaan Lahan Kering untuk Pertanian Berkelanjutan. Makalah utama pada Seminar Nasional IV pengembangan wilayah lahan kering dan pertemuan ilmiah tahunan himpunan ilmu tanah Indonesia di Mataram, 27-28 Mei 2002.
Utomo, WH. 1994. Erosi dan Konservasi Tanah. Penerbit IKIP Malang. Malang.