MANAJEMEN LABA DAN MANFAAT KUALITAS LABA DALAM KEPUTUSAN INVESTASI

Oleh
Prof. Dr. Bambang Sutopo, M. Com., Ak.

Yang saya hormati:

Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan Anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Para    Anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret,
Para    Pejabat Sipil dan Militer,
Para    Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, dan Direktur serta Asisten Direktur Program Pascasarjana
Para    Ketua Lembaga, Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, Kepala UPT, dan seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para    sejawat dosen dan staf administrasi, mahasiswa, tamu undangan, serta segenap hadirin.

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala kenikmatan kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di ruang Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret ini. Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar yang saya beri judul ”Manajemen Laba dan Manfaat Kualitas Laba dalam Keputusan Investasi”.

Hadirin yang saya hormati,
Informasi keuangan yang berkualitas merupakan informasi penting dalam pengambilan keputusan ekonomi atau investasi. Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (1994) dinyata¬kan bahwa tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi. Agar bermanfaat, laporan keuangan perlu memiliki karakteristik sebagai laporan keuangan yang berkualitas.

Meskipun kebermanfaatan informasi keuangan mensyarat¬kan kualitas, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata informasi keuangan atau informasi akuntansi tidak selalu berkualitas. Topik pidato pengukuhan ini membahas kualitas informasi akuntansi dengan fokus informasi laba yang merupakan informasi penting dalam keputusan investasi. Pembahasan diawali dengan pengertian kualitas laba (earnings quality) dan manfaat kualitas dalam pengambilan keputusan investasi, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang manajemen laba dan alternatif solusi dalam mengatasi masalah yang dapat terjadi akibat manajemen laba.

Kualitas laba, menurut Schipper dan Vincent (2003), menunjukkan tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan Hicksian income, yang merupakan laba ekonomik yaitu jumlah yang dapat dikonsumsi dalam satu perioda dengan menjaga kemampuan perusahaan pada awal dan akhir perioda tetap sama. Sesuai dengan Schipper dan Vincent, kualitas laba akuntansi ditunjukkan oleh ”kedekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba ekonomik” (Suwardjono, 2006, hlm. 463).  Demikian juga, Hodge (2003) memberikan definisi kualitas laba sebagai “the extent to which net income reported on the income statement differs from “true” (unbiased and accurate) earnings” (hlm. 37).

Dalam literatur penelitian akuntansi, terdapat berbagai pengertian kualitas laba dalam perspektif kebermanfaatan dalam pengambilan keputusan (decision usefulness). Schipper dan Vincent (2003) mengelompokkan konstruk kualitas laba dan pengukurannya berdasarkan cara menentu¬kan kualitas laba, yaitu berdasarkan: sifat runtun-waktu dari laba, karakteristik kualitatif dalam rerangka konseptual, hubungan laba-kas-akrual, dan keputusan implementasi. Empat kelompok penentuan kualitas laba ini dapat diikhtisarkan sebagai berikut.

Pertama, berdasarkan sifat runtun-waktu laba, kualitas laba meliputi: persistensi, prediktabilitas (kemampuan prediksi), dan variabilitas. Atas dasar persistensi, laba yang berkualitas adalah laba yang persisten yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan tidak bersifat transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan perspektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan khususnya dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa datang. Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba yang smooth.

Kedua, kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur dengan berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba, perubahan akrual total, estimasi abnormal/discretionary accruals (akrual abnormal/ kebijakan), dan estimasi hubungan akrual-kas. Dengan meng¬gunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindikasi laba yang semakin berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual total, laba berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual total kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa peru¬bahan total akrual disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary accruals semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya. Selanjutnya, keeratan hubungan antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk mengukur kualitas laba. Semakin erat hubungan antara akrual dan aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.

Ketiga, kualitas laba dapat didasarkan pada Konsep Kualitatif Rerangka Konseptual (Financial Accounting Standards Board, FASB, 1978). Laba yang berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi, reliabilitas, dan komparabilitas /konsistensi. Pengukuran masing-masing kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain misalnya aliran kas) diinterpretasi sebagai ukuran kualitas laba berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

Keempat, kualitas laba berdasarkan keputusan imple¬men¬tasi meliputi dua pendekatan. Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan dalam meng¬implementasi standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya. Dalam pendekatan kedua, kualitas berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar (manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi kualitas laba yang semakin rendah, dan sebaliknya.

Pengertian masing-masing kualitas laba tersebut bersifat kontekstual. Dalam pembahasan berikut ini, masing-masing pengertian kualitas laba digunakan sesuai dengan konteks pembahasan.

Hadirin yang saya hormati,
Model yang menunjukkan tiga hubungan (links) yang mengkaitkan laba dan return saham (Nichols dan Wahlen, 2004) dapat digunakan untuk memperjelas manfaat informasi keuangan (dalam hal ini laba).  Link 1 (hubungan antara current period earnings dan expected future earnings) mengasumsikkan bahwa angka laba perioda sekarang  (current period earnings) menyajikan informasi yang dapat digunakan oleh pemegang saham untuk menentukan ekspektasi atas laba di masa datang (expected future earnings). Link 2 (hubungan antara expected future earnings dan expected future dividends)  mengasumsikan bahwa profitabilitas sekarang dan profitabilitas masa datang ekspektasian (current and expected future profitability) menentukan kapasitas perusahaan dalam membayar dividen di masa datang. Selanjutnya, Link 3 (hubungan antara expected future dividends dan current share price) menga¬sumsikan merefleksi nilai sekarang dari semua dividen masa datang ekspektasian. Atas dasar ketiga hubungan tersebut, dapat dilakukan pengujian bagaimana hubungan antara angka laba dan harga saham.   Keeratan hubungan antara angka laba dan harga saham menunjukkan manfaat informasi laba dalam keputusan investasi (dalam hal ini investasi saham).  Pengujian manfaat laba atau kualitas laba dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan pada satu link atau lebih dalam model tersebut dengan berbagai variasi.

Berbagai studi tentang kualitas laba dan kebermanfaatannya dalam konteks pengambilan keputusan investasi telah dilakukan.  Misalnya, Francis et al. (2004) meneliti hubungan antara atribut laba dan biaya ekuitas yang didasarkan pada model teoritis yang memprediksi hubungan positif antara kualitas informasi dan biaya ekuitas. Dalam penelitian ini, atribut laba meliputi kualitas akrual, persistensi, predik¬ta¬bilitas, smoothness, relevansi nilai, timeliness, dan konser¬vatisma, sedangkan biaya ekuitas merupakan indakator keputusan alokasi sumber dana investor. Hasil studi Francis et al. menunjukkan bahwa perusahaan dengan laba yang memiliki atribut laba yang tidak menguntungkan mempunyai biaya modal yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang memiliki atribut laba yang menguntungkan. Hasil penelitian Francis et al. (2004) ini menunjukkan bahwa kualitas laba mempunyai peran menurunkan biaya ekuitas. Semakin  tinggi kualitas laba, semakin rendah biaya ekuitas. Dalam analisis investasi, biaya ekuitas digunakan menentukan nilai sekarang aliran kas di masa datang. Biaya ekuitas yang semakin rendah menghasilkan nilai sekarang aliran kas di masa datang semakin tinggi, dan sebaliknya. Dalam penentuan nilai saham, semakin rendah biaya ekuitas semakin tinggi nilai saham. Sebaliknya, semakin tinggi biaya ekuitas semakin rendah harga saham.

Hasil penelitian Mikhail et al. (2003) menunjukkan bahwa pada perusahaan dengan kualitas laba tinggi, revisi ramalan analis setelah pengumuman peningkatan dividen lebih rendah dan reaksi pasar terhadap pengumuman peningkatan dividen tersebut juga lebih rendah. Hasil studi ini mengindi¬kasi bahwa jika kualitas laba tinggi maka revisi ramalan analis rendah dan investor dapat memanfaatkan revisi ramalan analis sehingga kurang memerlukan informasi peningkatan dividen.

Nichols dan Wahlen (2004) menguji dampak persistensi laba pada return saham. Hasil pengujian menunjukkan bahwa return saham berhubungan dengan peningkatan laba, dan hubungan ini lebih besar untuk perusahaan dengan per¬sistensi tinggi daripada untuk perusahaan dengan persistensi rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas laba dapat mempengaruhi return.

Hadirin yang saya hormati,
Contoh tersebut menunjukkan manfaat kualitas laba. Untuk memenuhi tujuan penyajian informasi keuangan yaitu bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi atau investasi, seharusnya laba yang disajikan merupakan laba yang berkualitas. Namun demikian, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa laba tidak selalu berkualitas.  Hal ini banyak ditemukan dalam literatur tentang manajemen laba sebagai yang dapat didefinisi sebagai pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk mencapai tujuan tertentu (Scott, 2006).

Manajemen laba dapat terjadi karena penyusunan statemen keuangan menggunakan dasar akrual. Dengan mengguna¬kan dasar akrual, transaksi atau peristiwa lain diakui pada saat transaksi atau peristiwa lain tersebut terjadi bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan. Sebagai konsekuensi penggunaan dasar akrual ini, dalam statemen keuangan, laba dalam suatu perioda dapat mengandung unsur kas dan akrual (non-kas).  Unsur akrual dapat terjadi berdasarkan kebijakan manajemen (discretionary accruals) atau non-kebijakan manajemen (nondiscretionary accruals).  Peningkatan penjualan secara kredit seiring dengan per¬tumbuhan perusahaan (tanpa perubahan kebijakan) dapat merupakan contoh nondiscretionary accruals, sedangkan perubahan biaya kerugian piutang yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan oleh manajemen dalam penentuan biaya kerugian piutang dapat dijadikan contoh discretionary accruals. Dasar akrual ini mempunyai implikasi bahwa laba akuntansi antara lain ditentukan oleh besaran akrual baik yang discretionary maupun nondiscretionary.  Penentuan discretionary accruals dengan maksud untuk menaikkan atau menurunkan laba merupakan tindakan manajemen laba (earnings manage¬ment). Hasil penelitian Yoon et al. (2006) menunjukkan bahwa dalam melakukan manajemen laba, perusahaan yang menaikkan laba cenderung menggunakan untung dari penghentian aset, sedangkan perusahaan yang menurunkan laba cenderung menggunakan biaya kerugian piutang dan rugi penghentian aset.

Manajemen laba dilakukan dengan tujuan tertentu. Misalnya, manajemen laba dilakukan (dengan menggunakan akrual yang menaikkan laba) untuk tujuan mendapatkan harga saham yang relatif tinggi pada waktu penerbitan saham. Hasil penelitian Gumanti (2001) menunjukkan bahwa ter¬dapat manajemen laba dalam statemen keuangan peru¬sahaan sebelum go public dengan mengunakan akrual yang menaikkan laba. Di samping itu, Marquardt dan Wiedman (2004) menemukan bahwa discretionary accruals adalah positif dalam tahun dilakukan secondary offerings dan manajemen menjual saham mereka.  Discretionary accruals positif tersebut lebih besar dibandingkan dengan discretionary accruals untuk kelompok sampel perusahaan yang melakukan secondary offerings tetapi manajemen tidak menjual saham mereka.

Manajemen laba dapat juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan keuntungan terkait dengan kepemilikan saham manajemen. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, dalam rangka program opsi saham karyawan. Dalam program ini, harga pengambilan opsi biasanya ditentukan pada saat penawaran program. Hal ini mendorong manajemen untuk melakukan manajemen laba sebelum tanggal hibah opsi yaitu menurunkan laba agar supaya mempengaruhi harga saham dan dengan demikian manajemen dapat menerima opsi pada waktu harga saham relatif rendah. Bukti empiris mendukung bahwa terdapat pengaruh proporsi opsi saham pada manajemen laba menurun sebelum tanggal hibah opsi (Asyik, 2005). Selanjutnya, Cheng dan Warfield (2005) juga menemukan tindakan manajemen laba pada perusahaan dengan insentif ekuitas tinggi (high equity incentives) dan menemukan bahwa manajemen dengan insentif ekuitas tinggi cenderung menjual saham pada tahun berikutnya.  Hasil studi ini konsisten dengan temuan Beneish dan Vargus (2002) yang menunjukkan bahwa persistensi income-increasing accrual lebih rendah jika diikuti oleh abnormal insider selling dan lebih tinggi jika diikuti oleh abnormal insider buying.  Persistensi income-increasing accrual lebih rendah jika diikuti oleh abnormal insider selling ini merupakan indikasi dilakukannya manajemen laba oportunistik untuk mendapat¬kan keuntungan dari pembelian atau penjualan saham.

Manajemen laba juga dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu yang lain, misalnya dalam rangka mendapatkan bonus berbasis laba, untuk menghindari pelanggaran kontrak utang, dan menghindari biaya politis (political cost) pada waktu perusahaan mendapat laba yang tinggi. Di samping itu, manajemen laba khususnya dalam pola perataan laba juga dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengkomunikasi¬kan informasi privat (private information) secara efisien, misalnya dalam studi studi Tucker dan Zarowin (2006).

Hadirin yang saya hormati,
Manajemen laba mempunyai dampak pada kebermanfaatan informasi laba dalam pengambilan keputusan. Gietzmann dan Ireland (2005) menemukan bahwa perusahaan yang menggunakan kebijakan akuntansi agresif (positive discre¬tionary accruals) mempunyai biaya modal lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang menerapkan kebijakan akuntansi konservatif (negative discretionary accruals) konsisten dengan temuan Gietzmann dan Ireland, dengan hasil penelitian Utami (2006) menunjukkan pengaruh positif manajemen laba pada biaya modal ekuitas, semakin tinggi manajemen laba semakin  tinggi biaya ekuitas. Selanjutnya, Marquardt dan Wiedman (2004) menemukan bahwa rele¬vansi nilai dari laba menurun pada waktu terjadi manaje¬men laba. Hasil studi Richardson (2003) menunjuk¬kan bahwa short sellers tidak dilakukan atas dasar informasi dalam akrual tinggi yang dapat menghasilkan keuntungan dari return mendatang rendah yang dapat diprediksi.  Di samping itu, Chan et al. (2006) menemukan bahwa pening¬katan laba yang disertai akrual tinggi mengindikasi laba berkualitas rendah dan berhubungan dengan return rendah di masa datang. Hanlon (2005) antara lain menemukan bahwa investor menilai terlalu tinggi persistensi komponen akrual dari laba pada perusahaan dengan perbedaan laba akun¬tansi-pajak negatif besar (yaitu laba akuntansi lebih kecil daripada laba menurut pajak, yang merupakan indikator manajemen laba). Temuan-temuan penelitian ini menunjuk¬kan bahwa manajemen laba tidak atau kurang sesuai dengan tujuan kebermanfaatan informasi keuangan (dalam hal ini informasi laba) dalam pengambilan keputusan.

Berbeda dengan temuan-temuan tersebut, Tucker dan Zarowin (2006) mendapatkan bukti bahwa perataan laba (sebagai salah satu pola manajemen laba) meningkatkan keinformasian laba masa lalu dan laba sekarang tentang laba dan aliran kas di masa datang. Temuan ini diperoleh dengan menguji future earnings response coefficient (FERC), yaitu asosiasi antara return saham tahun sekarang dan laba (serta aliran kas) masa datang untuk perusahaan dengan tingkat perataan yang berbeda. Temuan ini mengin¬dikasi bahwa manajemen laba dapat digunakan untuk meningkatkan kebermanfaatan informasi laba dalam pengambilan keputusan.

Hadirin yang saya hormati,

Manajemen laba dapat sinkron dengan kebermanfaatan informasi laba dalam pengambilan keputusan tetapi dapat juga tidak. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai alternatif solusi atas masalah yang timbul akibat manajemen laba yang dapat tidak sesuai dengan kebermanfaatn laba dalam pengambilan keputusan, dan solusi tersebut tidak menimbul¬kan masalah baru.

Salah satu alternatif adalah pemberlakuan standar akuntansi yang lebih ketat tetapi masih memberi peluang bagi manajemen dalam melakukan pemilihan kebijakan akuntansi dalam batas wajar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk mengkomunikasikan informasi privat yang dapat meningkatkan keinformasian laba, atau untuk tujuan efficient contracting berbasis laba. Standar akuntansi yang lebih ketat dapat meningkatkan kualitas laba, tetapi perlu diperhatikan bahwa standar akuntansi yang lebih atau terlalu ketat dapat meningkatkan manajemen laba total (manajemen laba akuntansi dan manajemen laba real) serta  meningkat¬kan biaya manajemen laba karena standar akuntansi hanya mampu mencegah manajemen laba akuntansi bukan manajemen laba real, dan manajemen laba tetap dilakukan jika terdapat tujuan tertentu yang harus dicapai dengan manajemen laba tersebut (Ewert dan Wagenhover, 2005).

Di samping itu, untuk mencegah manajemen laba yang berlebihan, penerapan good corporate governance (GCG) diperlukan. Struktur corporate governance yang baik dapat mengurangi manajemen laba. Lee et al. (2007) menemukan bahwa manajemen laba berhubungan positif dengan keter¬kaitan organisasional (manajemen laba cenderung terjadi pada perusahaan dengan keterkaitan organisasional tinggi). Manajemen laba tersebut berkurang pada perusahaan dengan keterkaitan organisasional tinggi yang disertai proporsi direksi eksternal yang besar dan kepemilikan ekuitas institusional yang tinggi (struktur corporate governance relatif baik). Penerapan GCG memungkinkan keputusan-keputusan operasional yang relatif baik, misalnya pemilihan auditor sesuai dengan spesialisasi auditor dalam industri yang diaudit. Balsam et al. (2003) menemukan bahwa perusahaan yang diaudit oleh auditor spesialis industri mempunyai discretionary accruals lebih rendah dan koefisien respon laba lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit oleh auditor non-spesialis. Temuan ini menunjukkan bahwa kompetensi auditor yang tinggi dalam industri yang diaudit dapat mengurangi manajemen laba (meningkatkan kualitas laba) dan menambah manfaat informasi laba.

Perluasan pengungkapan merupakan alternatif untuk mencegah atau mengurangi manajemen laba berlebihan. Sebagai contoh, kewajiban pengungkapan tentang dampak pemilihan kebijakan akuntansi yang menaikkan atau menurunkan laba, misalnya dampak untung penghentian aset, biaya kerugian piutang, atau rugi penghentian aset sesuai temuan Yoon et al. (2006), memungkinkan manaje¬men laba lebih terkendali karena pengungkapan tersebut menjadikan manajemen laba berlebihan lebih mudah diketahui oleh pengguna laporan keuangan (misalnya investor) dan dapat berakibat buruk bagi manajemen (misal¬nya terkena sanksi akibat melanggar efficient contracting).  Di samping itu, perluasan pengungkapan dapat memudah¬kan keputusan pemanfaatan informasi selain laba dalam pengambilan keputusan, misalnya informasi aliran kas yang lebih bermanfaat ketika tingkat perataan laba semakin tinggi (Sutopo, 2003).

Hadirin yang saya hormati,
Dari pembahasan yang telah saya sampaikan, dapat saya sampaikan simpulan sebagai berikut. Kualitas laba ber¬manfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi, bisnis, atau investasi. Hal ini didukung oleh hasil-hasil penelitian tentang berbagai aspek pengambilan keputusan investasi. Hasil penelitian antara lain mengindikasi bahwa kualitas laba dapat mengurangi biaya modal yang merupakan unsur penting dalam pengambilan keputusan investasi. Di samping itu, kualitas laba dapat meningkatkan return saham dalam hubungannya dengan kenaikan laba.

Untuk memenuhi tujuan penyajian informasi keuangan yaitu bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi atau investasi, seharusnya laba yang disajikan merupakan laba yang berkualitas. Meskipun demikian, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa laba tidak selalu berkualitas. Hal ini banyak ditemukan dalam literatur tentang manajemen laba, yaitu pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen laba dapat dilakukan untuk tujuan mendapat keuntungan dari pembelian dan atau penjualan saham, menghindari pelanggaran kontrak, men¬dapatkan bonus sesuai target, menghindari atau mengurangi biaya politis, mengkomunikasikan informasi privat (private information) secara efisien, dan tujuan tertentu yang lain.

Manajemen laba dapat sinkron dengan kebermanfaatan informasi laba dalam pengambilan keputusan tetapi dapat juga tidak. Berbagai alternatif solusi diperlukan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat manajemen laba yang dapat tidak sesuai dengan kebermanfaatn laba dalam pengambilan keputusan. Berbagai alternatif solusi ini antara lain, pemberlakuan standar akuntansi yang lebih ketat tetapi masih memungkinkan manajemen melakukan pemilihan kebijakan akuntansi dalam batas wajar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk tujuan efficient contracting berbasis laba atau untuk mengkomunikasikan informasi privat yang dapat meningkatkan keinformasian laba. Di samping itu, penerapan good corporate governance (GCG) dan perluasan pengungkapan (misalnya pengung¬kapan tentang dampak pemilihan kebijakan akuntansi yang menaikkan atau menurunkan laba) dapat diberlakukan untuk mencegah atau mengurangi manajemen laba yang ber¬lebihan. Penerapan GCG dan perluasan pengungkapan ini lebih memudahkan manajemen laba dikenali dan dapat mendorong manajemen untuk menghindarinya karena mengandung risiko yang lebih besar bagi manajer. Di samping itu, perluasan pengungkapan dapat memudahkan keputusan pemanfaatan informasi di samping laba dalam pengambilan keputusan investasi, misalnya informasi aliran kas pada waktu tingkat manajemen laba semakin tinggi.

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup pidato pengukuhan ini, saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat-Nya, dan perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas kontribusi yang diberikan kepada saya dalam pen¬capaian jabatan Guru Besar.

Kepada Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A. saya mengucapkan terima kasih atas pengangkatan saya dalam jabatan Guru Besar. Saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor/Ketua Senat beserta segenap anggota senat Universitas Sebelas Maret dan Dekan/Ketua Senat beserta segenap anggota Senat Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret pada masa pengajuan usulan jabatan Guru Besar yang telah menyetujui usulan tersebut. Terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pengusulan saya dalam jabatan Guru Besar sejak proses awal di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret sampai dengan diterbitkan Surat Keputusan pengangkatan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Penyelesaian studi program doktor merupakan salah satu syarat pengusulan jabatan Guru Besar. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Zaki Baridwan, M. Sc., promotor saya dalam penyusunan disertasi, dan Prof. Dr. Mas’ud Machfoedz, M.B.A., Dr. Suwardjono, M.  Sc., serta Dr. Gudono, M.B.A., ko-promotor, yang telah dengan sabar dan bijak memberi bimbingan kepada saya dalam menyusun disertasi dan dalam menyelesaikan studi pada jenjang doktor di Universitas Gadjah Mada. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada segenap anggota tim penguji disertasi, segenap dosen dan karyawan, serta rekan-rekan saya pada waktu menempuh program doktor atas perhatian, bantuan, dan dukungan dalam penyelesaian studi saya.

Saya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap guru dan karyawan serta teman-teman semasa sekolah dari sekolah tingkat dasar sampai dengan sekolah menengah tingkat atas, serta kepada segenap dosen, karyawan, dan teman-teman pada waktu menempuh pendi¬dikan tinggi program sarjana dan program pasca¬sarjana atas dukungan yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan studi pada masing-masing jenjang dan dapat melanjutkan ke program doktor.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada segenap pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni di lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret dan kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan kepada saya dalam mencapai jabatan Guru Besar.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada ayah dan ibu saya, Bapak Suyud Sastrowiryono (almarhum) dan Ibu Nanik Sutarni Suyud Sastrowiryono (almarhumah) yang semasa hidup senantiasa mendo’akan dan memberi dukungan pada saya. Demikian juga terima kasih saya sampaikan kepada bapak mertua saya, Bapak R.M. Sutardi Sumosutragio, atas do’a dan dukungannya, dan kepada ibu mertua saya, Ibu Moerdinah Sutardi Sumo¬sutragio (almarhumah) yang semasa hidup juga mendo’akan dan memberi dukungan pada saya.

Kepada isteri saya Intan Murtarina Adiati dan anak-anak saya, Arum Kusumaningdyah Adiati, Purnama Siddi, Lina Nur Ardila, dan Dany Adi Saputra, serta kepada menantu saya Rian Kusindratno dan saudara-saudara saya, saya mengucapkan terima kasih atas do’a, pengertian, perhatian, dan dukungan yang diberikan.

Kepada segenap hadirin yang saya hormati yang dengan sabar mengikuti pidato pengukuhan ini, saya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan saya. Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat, dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah, dan barokah-Nya kepada kita semua serta mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Asyik, N. F. 2005. Dampak penyataan dan nilai wajar opsi pada pengaruh magnitude kompensasi program opsi saham karyawan (POSK) terhadap pengelolaan laba serta pengaruh ikutannya pada nilai intrinsik opsi. Disertasi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Balsam, S., J. Khrisnan, dan J. S. Yang. 2003. Auditor industry specialization and earnings quality. Auditing  22 (2): 71-97.
Beneish, M. D., dan M. E. Vargus. 2002. Insider trading, earnings quality, and accrual mispricing. The Accounting Review 77 (4): 755-791.
Chan, K., L. K. C. Chan, N. Jegadeesh, dan J. Lakonishok. 2006. Earnings quality and stock returns. Journal of Business 79 (3): 1041-1082.
Cheng, Q., dan T. D. Warfield. 2005. Equity incentives and earnings management. The Accounting Review 80 (2): 441-476.
Ewert, R., dan A. Wagenhover. 2005. Economic effects of tightening accounting standards to restrict earnings management. The Accounting Review 80 (4): 1101-1124.
Francis, J., R. LaFond, P. M. Olsson, dan K. Schipper. 2004. Costs of equity and earnings attributes. The Accounting Review 79 (4): 967-1010.
Gietzmann, M. dan J. Ireland. 2005. Cost of capital, strategic disclosure, and accounting choice. Journal of Business Finance & Accounting 32(3): 599-634.
Gumanti, T. A. 2001. Earnings management dalam pena¬waran saham perdana di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 4 (2): 165-183.
Hanlon, M. 2005. The persistence and pricing of earnings, accruals, and cash flows when firms have large book-tax differences.  The Accounting Review 80 (1): 137-166.
Hodge, F. D. 2003. Investors’ perceptions of earnings quality, auditor independence, and the usefulness of audited financial information. Accounting Horizons 17: 37-48.
Lee, K. W., B. Lev, dan G. Yeo. 2007. Organizational structure and earnings management. Journal of Accounting, Auditing & Finance 22 (2): 293-331.
Marquardt, C. A., dan C. I. Wiedman. 2004. The effect of earnings management on the value relevance of accounting information. Journal of Business Finance & Accounting 31(3 & 4): 297-332.
Mikhail, M. B., B. R. Walther, dan R. H. Willis. 2003. Reactions to dividend changes conditioned on earnings quality. Journal of Accounting, Auditing & Finance 18 (1): 121-151.
Nichols, D. C., dan J. M. Wahlen. 2004. How do earnings numbers relate to stock returns?– Review of classic accounting research with updated evidence. Accounting Horizons 18 (4): 263-286.
Richardson, S. 2003. Earnings quality and short sellers. Accounting Horizons 17: 49-61.
Schipper, K., dan L. Vincent. 2003. Earnings quality. Accounting Horizons 17: 97-110.
Scott, W. R. 2006. Financial Accounting Theory. 4th ed. Toronto: Prentice-Hall.
Sutopo, B. 2003. The moderating impact of income smoothing on the incremental information content of cash flows. Jurnal Bisnis Strategi 12 (Desember):             44-57.
Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi 3. Jogjakarta: BPFE.
Tucker, J. W., dan P. A. Zarowin. 2006. Does income smoothing improve earnings informativeness?  The Accounting Review 81 (1): 251-270.
Utami, W. 2006. Pengaruh manajemen laba terhadap biaya modal ekuitas (studi pada perusahaan pulik sektor manufaktur). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 9(2):178-199.
Yoon, S. S., G. Miller, dan P. Jiraporn. 2006. Earnings management vehicles for Korean firms. Journal of International Financial Management & Accounting 17 (2): 85-109.

PATOGENESIS GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER DAN USAHA PENCEGAHANNYA

Oleh :
Prof. Dr. Admadi Soeroso, dr., Sp.M., MARS

Yang terhormat,
Rektor/Ketua senat, Sekretaris dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Para Dekan, Direktur Program Pascasarjana dan Para Ketua Lembaga di Universitas Sebelas Maret,
Para Guru Besar Tamu,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Para Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Surakarta dan sekitarnya,
Para Kepala UPT, Ketua Jurusan, Ketua Laboratorium, dan Ketua Program Studi di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para sejawat Staf Edukatif, Administrasi, Mahasiswa dan segenap tamu undangan, yang saya muliakan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Selamat pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Marilah kita panjatkan doa puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan karuniaNya lah kita dapat hadir dalam keadaan sehat wal afiat pada acara Sidang Senat Terbuka hari ini, dalam acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Semoga Allah SWT selalu bersama kita. Amin.

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Menurut Quigley (1998) glaukoma merupakan penyebab kedua kebutaan utama di dunia setelah katarak atau kekeruhan lensa, dengan jumlah penderita diperkirakan sebanyak                           + 70.000.000 orang. Di antara jumlah penderita kebutaan tersebut, sebanyak 50%-70% berasal dari bentuk glaukoma sudut terbuka primer. Namun menurut Vaughan (1995), jumlah tersebut berkisar antara 85%-90% dari jumlah penderita glaukoma, dan hanya  sebagian kecil penderita yang tergolong pada glaukoma sudut tertutup primer, atau disebut juga dengan glaukoma sudut sempit yang dapat melalui stadium akut, subakut dan khronik, serta bentuk glaukoma lainnya. Menurut survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilaporkan tahun 1996 (Ilyas, 2001), glaukoma merupakan penyebab kebutaan utama yang  ketiga untuk kedua mata, setelah katarak dan kebutaan karena  kelainan refraksi, dengan prevalensi sekitar 0.16% jumlah penduduk Indonesia.
Di Amerika, jumlah penderita glaukoma sudut terbuka primer yang berasal dari kelompok pendatang (imigran) dengan ras kulit berwarna, 3–4 kali lebih besar daripada jumlah pendatang yang berkulit putih. Sementara itu, pada glaukoma sudut terbuka primer seringkali ditemukan pada kelompok umur di atas 40 tahun, dan prevalensinya terus meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Vaughan (1995) menyatakan bahwa prevalensi glaukoma sudut terbuka primer pada usia 40 tahun sekitar 0.4%–0.7%, sedangkan pada usia 70 tahun sekitar 2%–3%. Pernyataan yang hampir sama dikeluarkan oleh Framingham Study dan Ferndale Glaucoma Study (1994), yang menyebutkan bahwa prevalensi glaukoma sudut terbuka primer pada penduduk berusia 52–64 tahun sekitar 0.7%, dan 1.6 % pada penduduk usia 65–74 tahun, serta 4.2% pada penduduk usia 75–85 tahun.

Ibu, Bapak dan hadirin yang kami muliakan,
Perkenankan saya untuk menyampaikan pandangan saya tentang Glaukoma dan Upaya Pencegahannya, dalam upaya pengembangan ilmu kedokteran, khususnya pengembangan ilmu kedokteran bidang Ilmu Penyakit Mata di Indonesia. Pandangan tersebut saya tuangkan dalam pidato pengukuhan Guru Besar ini, dengan judul : Patogenesis Glaukoma Sudut Terbuka Primer dan Usaha Pencegahannya, yang akan dikelompokkan dalam beberapa bagian, yaitu Pengertian Glaukoma, Klasifikasi Glaukoma, Faktor Resiko Terjadinya Glaukoma Sudut Terbuka Primer, Upaya Pencegahan dan Perkembangan Patogenesis Glaukoma Sudut Terbuka Primer, Hasil Penelitian serta Kesimpulan dan Harapan.

I.    Pengertian Glaukoma
Menurut Chandler & Grant (1977), glaukoma adalah suatu keadaan pada mata, dimana ditemukan kenaikan tekanan bola mata yang sudah menyebabkan kerusakan/kelainan pada diskus optikus dan lapang pandangan/yojana penglihatan. Sedangkan menurut Kolker & Hetherington (1983), glaukoma adalah suatu penyakit mata dengan tanda yang lengkap berupa kenaikan tekanan bola mata, degenerasi dan ekskavasi diskus optikus dan gangguan khas serabut saraf, yang menimbulkan gangguan lapang pandangan/ yojana penglihatan. Sementara itu, Liesegang (2003) menyatakan bahwa glaukoma adalah sekumpulan gejala dengan tanda karak¬te¬ris¬tik berupa adanya neuropati optik glaukomatosa bersamaan dengan defek atau gangguan penyempitan lapang pandangan yang khas, disertai dengan kenaikan tekanan bola mata. Goldberg (2003) juga menyatakan bahwa glaukoma sudut terbuka primer adalah neuropati yang khronik progresif dengan karakteristik perubahan papila syaraf optik dan atau lapang pandangan tanpa disertai penyebab sekunder.

II.    Klasifikasi Glaukoma
Ibu, Bapak & hadirin yang kami muliakan,
Dalam dunia kedokteran, jenis penyakit mata ini digolongkan pada beberapa klasifikasi. Menurut Vaughan (1995), klasifikasi glaukoma menurut etiologinya dikelompokkan dalam Glaukoma Primer, Glaukoma Kongenital, Glaukoma Sekunder dan Glaukoma Absolut.
A.    Glaukoma Primer :
Glaukoma sudut terbuka disebut juga glaukoma simpleks, glaukoma simpleks menahun. Bentuk glaukoma ini adalah bentuk yang paling sering ditemukan, dan presentasinya sekitar 85%-90% dari seluruh kasus glaukoma. Sementara itu, glaukoma sudut tertutup disebut juga glaukoma sudut sempit; bentuk glaukoma ini dapat terjadi melalui beberapa stadium yaitu: akut, subakut, khronik/menahun, dan iris plato/plateau iris.
B.    Glaukoma Kongenital :
1.    Glaukoma kongenital primer,
2.     Glaukoma yang berkaitan dengan anomali kongenital dan perkembangan:
a.    Sindroma pembelahan bilik mata depan, yaitu  sindroma Axenfeld, sindroma Rieger dan anomali Peter
b.    Aniridia
3.     Glaukoma berkaitan dengan gangguan perkembangan  ekstra okuler, seperti Sindroma Sturge-Weber, Sindroma Marfan, Neurofibromatosis, Sindroma Lowe, dan Rubela kongenital.
C.    Glaukoma Sekunder :
1.    Glaukoma berpigmen
2.    Sindroma eksfoliatif
3.    Karena kelainan lensa, yaitu dislokasi, intumesensi, dan fakolitik
4.    Karena kelainan uvea, yaitu uveitis, synechia posterior,  dan tumor
5.    Sindroma iridokorneo endotelial
6.    Trauma, yaitu Hiphema dan pendarahan bilik mata belakang yang masif, serta pergeseran akar iris/cekungan sudut
7.    Pasca Operasi :
    Ciliary block glaucoma/glaukoma akibat hambatan siliaris
    Sinekhia Anterior Perifer
    Pertumbuhan epitel ke dalam bilik mata depan
    Pasca operasi Keratoplasti
    Pasca operasi ablasio retina
8.    Glaukoma neovaskuler, oleh karena Diabetes mellitus, serta pembuntuan/ sumbatan pembuluh darah vena retina yang sentral
9.    Kenaikan tekanan vena epi sklera, yaitu Fistula kovernosa karotikus, dan Sindroma Sturge-Weber
10.    Akibat pemakaian kortikosteroid
D.    Glaukoma Absolut
Akhir dari semua glaukoma yang tidak terkontrol akan terjadi glaukoma absolut, dengan cirri-ciri mata teraba keras, tajam penglihatan nol, dan seringkali disertai dengan nyeri mata hebat. Keadaan ini dapat terjadi pada bentuk Glaukoma sudut terbuka maupun glaukoma sudut tertutup.

III.    Faktor Resiko Terjadinya Glaukoma Sudut Terbuka Primer

Ibu & Bapak serta hadirin yang saya muliakan,
Glaukoma mempunyai beberapa faktor resiko, yang akan saya sampaikan untuk melengkapi pengetahuan kita tentang jenis penyakit ini.
1.    Tekanan bola mata yang meningkat
Sejumlah faktor yang dapat berhubungan dengan timbulnya glaukoma sudut terbuka primer adalah tekanan bola mata. Hal ini disebabkan karena tekanan bola mata merupakan salah satu faktor yang paling mudah dan paling penting untuk meramalkan timbul¬nya glaukoma di masa mendatang (Vaughan, 1995).
Secara umum dinyatakan bahwa tekanan bola mata yang lebih tinggi akan lebih memungkinkan terhadap peningkatan pro¬gresifitas kerusakan diskus optikus, walaupun hubungan antara tingginya tekanan bola mata dan besarnya kerusakan, sampai saat ini masih diperdebatkan. Beberapa kasus menunjukkan, bahwa adanya tekanan bola mata yang berada di atas normal akan diikuti dengan kerusakan diskus optikus dan gangguan lapang pandangan dalam beberapa tahun. Sebaliknya, terjadi juga pada banyak kasus, bahwa selama pemeriksaan tekanan bola mata tidak pernah di atas normal, namun terjadi kerusakan pada papil dan lapang pandangan yang khas glaukoma.
Oleh karena itu, definisi tekanan bola mata yang normal sangat sukar untuk ditentukan dengan pasti. Jika dalam suatu populasi dinyatakan rerata tekanan bola mata 16 mmHg dengan standard deviation 3 mmHg, maka nilai tekanan bola mata  yang normal berada di antara 10–22 mmHg. Jika dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata pada populasi umur di atas 40 tahun, maka diperkirakan tekanan bola mata yang di atas 22 mmHg adalah 5%-10% (Boyd ,2002).
Masalah lain yang harus dipertimbangkan mengenai tekanan bola mata, adalah adanya pengaruh variasi diurnal dari tekanan bola mata itu sendiri, yaitu bahwa tekanan bola mata sangat fluktuatif, tergantung pada waktu saat pemeriksaan, yaitu pagi, siang, sore atau malam hari (Liesegang, 2003). Beberapa peneliti menyatakan bahwa, variasi diurnal yang lebih besar dari normal dapat digunakan sebagai pembeda untuk menentukan bentuk glaukoma-nya.
Di samping itu, terdapat pula pengaruh makanan dan konsumsi cairan. Disebutkan bahwa, variasi diurnal pada orang normal berkisar antara 3.5-5 mmHg. Keadaan ini menjadi lebih nyata pada glaukoma  sudut terbuka primer yang tidak diobati.
Variasi tekanan bola mata yang luas ini sangat mempengaruhi kondisi untuk mendiagnosis secara dini dengan cepat, hal ini ditunjukkan dalam suatu survei populasi yang menyebutkan bahwa 50% penderita terdiagnosis glaukoma sudut terbuka primer tidak menunjukkan adanya kenaikan tekanan bola mata pada saat pemeriksaan pendahuluan, di samping itu juga ditemukan adanya kenaikan tekanan bola mata tanpa gangguan diskus optikus dan lapang pandangan (hipertensi okuler). Secara umum dinyatakan bahwa hanya sekitar 0.5%-2% per tahun terjadi kerusakan papil dan lapang pandangan selama  pengamatan.
Ironisnya, sebagian besar penderita glaukoma sudut terbuka primer hampir tidak pernah menyadari bahwa tekanan bola mata¬nya mengalami peningkatan. Seringkali mereka baru menyadari setelah merasakan ada gangguan yang jelas terhadap tajam peng¬lihatan, atau penyempitan lapang pandangan.
Liesegang (2003), juga menyatakan bahwa kenaikan tekanan bola mata, merupakan salah satu faktor resiko utama terjadinya glaukoma. Sementara itu, nilai batas normal tekanan bola mata dalam populasi berkisar antara 10 – 22 mmHg. Menurut  Sommer (Boyd, 2002), pada populasi, nilai rerata tekanan bola mata yang normal adalah 16 mmHg dengan standard deviasi 3 mmHg.
2.    Pelebaran Gaung Diskus Optikus (Large optic disk cups)
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Faktor yang berhubungan dengan kerusakan yang khas glaukoma adalah melebarnya penggaungan pada diskus optikus. Oleh karena itu, pelebaran penggaungan diskus optikus merupakan salah satu tanda adanya kerusakan khas glaukoma. Jika pada penderita ditemukan adanya penggaungan diskus optikus, maka untuk sementara harus diduga bahwa, penderita mempunyai tanda-tanda permulaan dari penyakit glaukoma. Kondisi penggaungan diskus optikus ini secara normal juga sangat individual. Oleh karena, pada individu yang mengalami pelebaran gaung diskus optikus tidak harus dinyatakan telah menderita glaukoma, melain¬kan masih tergantung dari ada/tidaknya kerusakan pada jaringan neuroretinal rim. Hal ini dapat terjadi akibat adanya penggaungan yang bersifat fisiologis. Sementara dapat dimengerti bahwa cupping atau gaung yang lebih lebar merupakan faktor yang lebih besar untuk terjadinya kerusakan khas glaukoma daripada cupping  yang lebih kecil dengan adanya kenaikan tekanan bola mata .
3.    Ras
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Wilensky (1994) yang didukung oleh beberapa penelitian menyatakan, bahwa faktor ras dan atau kulit berwarna mempunyai prevalensi glaukoma sudut terbuka primer yang lebih tinggi daripada orang kulit putih dan penderita yang berasal dari daerah oriental. Di Amerika Serikat perbandingan prevalensinya sekitar 2:1 untuk ras kulit berwarna. Sementara pada populasi lain tampak¬nya perbandingan tersebut lebih besar lagi. Hasil survei yang dilakukan di Kepulauan Karibia pada populasi umur di atas 40 tahun, dinyatakan bahwa prevalensi pada kulit berwarna sekitar 14%, sedang pada kulit putih hanya sekitar 2%.
Diperkirakan juga bahwa beratnya kasus glaukoma pada kulit berwarna lebih  berbahaya daripada kulit putih. Sementara, kasus yang menjadi buta pada orang kulit berwarna insidensinya 8 kali lebih banyak daripada kulit putih. Di samping itu ditinjau dari hasil pengobatan maupun tindakan pembedahan, hasilnya lebih baik pada kulit putih daripada kulit berwarna.
4.    Faktor Umur
Faktor bertambahnya umur mempunyai peluang lebih besar untuk menderita glaukoma sudut terbuka primer. Vaughan (1995), menyatakan bahwa frekuensi pada umur sekitar 40 tahun adalah 0.4%–0.7% jumlah penduduk, sedangkan pada umur sekitar 70 tahun frekuensinya meningkat menjadi 2%–3% dari jumlah penduduk. Framingham Study dalam laporannya tahun 1994 me¬nyata¬kan bahwa populasi glaukoma adalah sekitar 0.7% penduduk yang berumur 52–64 tahun, dan meningkat menjadi 1.6% pendu¬duk yang berumur 65–74 tahun, serta 4.2% pada penduduk yang berusia 75–85 tahun. Keadaan tersebut didukung juga oleh per¬nyataan yang dikeluarkan oleh Ferndale Glaucoma Study di tahun yang sama.

5.    Faktor Keluarga
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Glaukoma sudut terbuka primer merupakan suatu penyakit yang dipengaruhi faktor keluarga. Hal ini dapat ditunjukkan oleh beberapa survei yang dilakukan, namun hasil survei tersebut tidak lengkap karena tidak mengikut-sertakan anak-anak dan orang yang belum mencapai umur 40 tahun yang kemungkinan dicurigai menderita glaukoma. Walaupun demikian hasil survei tersebut cukup bermanfaat karena dapat menunjukkan adanya indikasi bahwa 1 dari 10 orang pada garis keturunan pertama atau first degree menderita glaukoma seperti yang diderita orangtua mereka.
6.    Penyakit Sistemik
Insiden dari glaukoma sudut terbuka primer seringkali dihubung¬kan dengan dua penyakit sistemik, yaitu Diabetes Mellitus dan Hipertensi arterial. Sehubungan dengan hal tersebut dilaporkan bahwa glaukoma sudut terbuka primer prevalensinya akan meningkat 3 kali lebih tinggi pada Diabetes Mellitus daripada non Diabetes Mellitus. Berdasarkan penelitian studi kasus–control, ditemukan perbedaan resiko-relatif antara penderita hipertensi yang diobati dengan tanpa pengobatan hipertensi.

Ibu, Bapak dan hadirin yang kami muliakan,
Problem yang sampai saat ini banyak menjadi bahan diskusi para pakar tentang glaukoma adalah patogenesis terjadinya glaukoma sudut terbuka primer yang masih belum diketahui secara jelas. Beberapa kemajuan sudah mulai tampak, yaitu mulai muncul kesepakatan diantara mereka, bahwa berkurangnya atau hilangnya sel endotel trabecular meshwork merupakan penyebab utama terjadinya hambatan outflow cairan akuos yang berakhir dengan kenaikan tekanan bola mata. Tetapi sampai saat ini, semua peneliti tidak atau belum dapat menjelaskan tentang bagaimana mekanisme terjadinya pengurangan atau hilangnya sel endotel trabecular meshwork tersebut. Untuk memberikan penanganan yang tepat kepada penderita hipertensi okuler dan glaukoma, diperlukan usaha yang maksimal untuk mengungkap mekanisme terjadinya pengu¬rangan sel endotel trabecular meshwork melalui upaya penelitian, serta melalui berbagai pendekatan.

IV.    Perkembangan Patogenesis Glaukoma Sudut Terbuka Primer
Dalam 2-3 dekade terakhir ini, banyak penelitian dilakukan secara perorangan maupun kelompok untuk mencari penyebab timbulnya glaukoma sudut terbuka primer. Di antaranya dilakukan oleh Hogan dan Zimmerman (1962), Lutjen-Drecoll E & Rohen JW (1994), Tripathi (1994), Vaughan (1995), Quigley HA (1998), Petrolani M dkk (1999), Cotran (1999), Wallach (1999), Rizzo V & Belfort R (2000), Lutjen-Drecoll E (2000), Liesegang TJ dkk (2001 & 2003), Boyd B & Luntz M (2002), Ochiai Y & Ochiai H (2002), Gottanka J dkk (2004), Ozcan AA dkk (2004) dll.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Menurut etiologinya glaukoma sudut terbuka primer adalah salah satu bentuk glaukoma primer, yang ditandai oleh terganggu¬nya atau terjadinya hambatan outflow cairan akuos melewati trabecular meshwork. Hambatan ini terjadi akibat hilang atau berkurangnya jumlah sel endotel trabecular meshwork, namun mekanisme kejadiannya masih belum diketahui  secara jelas dan sampai saat ini masih menjadi obyek penelitian.
Lutjen-Drecoll dan Rohen (1994) menemukan bahwa pada glaukoma sudut terbuka primer terjadi pengurangan atau meng¬hilang¬nya jumlah sel endotel trabecular meshwork, disertai penebal¬an lamela daerah uvea dan korneo-skeral. Penebalan tersebut akan menimbulkan penyempitan ruang antar-trabekulum yang berakhir dengan penutupan, sehingga terjadi hambatan outflow cairan akuos. Akan tetapi peneliti tersebut tidak atau belum menjelaskan mekanisme kejadian berkurang atau menghilangnya sel endotel trabeculer meshwork pada glaukoma sudut terbuka primer. Vaughan (1995) menyatakan bahwa kondisi berkurang atau hilangnya sel endotel trabecular meshwork tersebut terjadi akibat degenerasi, tetapi bukan akibat degenerasi seperti pada proses penuaan (ageing process). Hogan dan Zimmerman (1962) mengata¬kan bahwa kondisi tersebut merupakan akibat pembengkakan dan sklerosis sel endotel trabecular meshwork. Sedangkan Cotran (1999) menerangkan bahwa penyebabnya belum diketahui dengan jelas.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas, dapat di¬muncul¬kan dugaan kuat bahwa penyebab berkurangnya jumlah sel endotel trabecular meshwork, adalah akibat kematian sel itu sendiri oleh karena berbagai sebab. Menurut Lutjen-Drecoll (1994), berkurangnya jumlah sel endotel trabecular meshwork, disertai dengan akumulasi matriks ekstra-seluler dan penebalan lamela daerah uvea dan korneo-sklera akan menimbulkan hambatan outflow cairan akuos pada glaukoma sudut terbuka primer.
Pada hakekatnya, kematian sel dapat terjadi karena rangsangan atau jejas letal yang berasal dari luar atau dari dalam sel itu sendiri (bersifat aktif atau pasif). Kematian sel yang berasal dari dalam sel dapat terjadi melalui mekanisme genetik, yang merupakan suatu proses fisiologis dalam usaha mempertahankan keadaan homeo¬stasis atau keseimbangan fungsinya. Proses kematian  yang berasal dari luar sel dan bersifat pasif dapat terjadi karena jejas atau injury yang letal akibat faktor fisik, kimia, iskhemia maupun biologis (Cotran,1999).
Ibu, Bapak dan hadirin yang saya muliakan,
Jejas atau injury biologis dapat terjadi akibat pengaruh infeksi mata akibat mikro-organisme, secara  intra maupun ekstra seluler, baik akibat kuman, jamur, parasit ataupun virus, yang kesemuanya dapat merupakan antigen yang dapat menimbulkan inflamasi. Akhirnya  antigen  tersebut dapat mengaktivasi APC dan limfosit T. Pendapat ini didukung oleh Clancy (1998), Handoyo  (2003) dan Judajana (2004)
Limfosit T mengekspresikan molekul untuk mengikat antigen pada membrannya, yang disebut sebagai sel reseptor T. Reseptor  limfosit T ini hanya dapat mengenal antigen yang terikat pada protein sel membran, yang disebut sebagai  molekul  MHC (kelas I atau kelas II). Fungsi utama limfosit T adalah sebagai limfosit T helper (Th) dan limfosit T Cytotoxic (Tc). Antigen akan berpenga¬ruh terhadap limfosit T helper, dan selanjutnya akan berdiferensiasi menjadi limfosit Th1, limfosit Th2 dan limfosit Th3, tergantung pada macam antigen yang mempengaruhinya ( Clancy, 1998, Roitt, 2001).
Limfosit Th1 akan  mengekspresikan beberapa sitokin antara lain IL-2, IFN- , serta TNF- . Menurut Abbas (1994), sitokin TNF-  mempunyai peran terbesar sebagai pengatur mediator imun dalam proses inflamasi, yang dapat mengakibatkan lisis sel target, dan akhirnya mengalami kematian.
Sementara itu, limfosit Th2 akan mengekspresi IL-4, IL-5,  IL-6, IL-10 dan IL-13. Hampir pada semua proses inflamasi ditemukan IL-10, yang berfungsi sebagai anti inflamasi dan sebagian besar diproduksi oleh monosit (Theze, 1999). Menurut Petrolani (1999) IL-10 dapat meningkatkan harapan hidup sel dengan cara meningkatkan protein anti apoptosis Bcl2
Oppenheim (2001) mengatakan, bahwa limfosit Th3 merupa¬kan sumber utama dalam memproduksi sitokin TGF-β. Menurut Condos (2004) dan Judajana (2004), TGF-β merupakan sitokin yang dapat berfungsi ganda, yaitu sebagai sitokin pro-inflamma¬tory dan sitokin anti-inflammatory. Oppenheim (2001) juga me¬nyata¬kan bahwa, TGF-β mempunyai hubungan yang sangat erat dengan proses apoptosis sel akibat pengaruh enzim endonuklease.
Tripathi (1994) juga menyatakan, bahwa pada glaukoma ditemukan kadar TGF-2 yang lebih tinggi dari orang normal. Kedua pendapat tersebut juga didukung oleh Welge-Luessen (2000), yang menginformasikan juga bahwa TGF-1 dan TGF-2 dapat merangsang peningkatan akumulasi matriks ekstra seluler, fibronectin dan peningkatan enzim Tissue–Transglutaminase, yang sangat berperan  dalam proses kematian sel (apoptosis).
Berdasarkan hal tersebut, sitokin TNF- , IL-10 dan TGF- , mempunyai pengaruh yang besar pada proses inflamasi, sehingga diperkirakan juga berperan terhadap kematian sel. Wallach (1999), Petrolani (1999) dan Pimentel (1994) menyebutkan, bahwa ketiga sitokin yaitu TNF- , IL-10 danTGF- , memang berpengaruh terhadap kematian sel, namun sampai dengan saat ini, peran ketiga sitokin tersebut khususnya terhadap kematian sel endotel trabe¬cular meshwork, belum pernah dijelaskan. Oleh karena itu, mekanisme kejadian berkurangnya atau hilangnya sel endotel trabe¬cular meshwork belum dapat dijelaskan. Akibatnya, pengobat¬an dan penanggulangan glaukoma sebagai salah satu penyakit mata yang menyebabkan kebutaan utama masih belum memberikan hasil yang memuaskan.
Jika peran ketiga sitokin tersebut dalam respons inflamasi dan kematian sel tidak diperjelas, maka pemahaman tentang peran ketiga sitokin tersebut tidak dapat dimanfaatkan bagi kepentingan penanggulangan proses perjalanan dan perkembangan peningkatan tekanan bola mata pada glaukoma sudut terbuka primer. Hal ini menyebabkan jumlah kecacatan netra akibat glaukoma sudut terbuka primer dengan tekanan bola mata yang meningkat akan tetap saja tinggi atau bahkan lebih tinggi lagi.
Kondisi tersebut secara umum tentu akan berpengaruh ter¬hadap kemampuan sumber daya manusia dan produktivitasnya. Sebaliknya, jika peran ketiga sitokin tersebut telah menjadi jelas, maka usaha penanganan dan pencegahan terhadap timbulnya kenaikan tekanan bola mata pada glaukoma sudut terbuka primer, diharapkan akan dapat dilakukan dengan cara pemberian bahan yang bersifat antagonis terhadap ketiga sitokin tersebut, atau bahkan dengan pemberian sitokinnya sendiri.

V. Hasil Penelitian
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelum ini, hanya meneliti sitokin TGF- , serta juga tidak menerangkan bagaimana proses terjadinya peningkatan ekspresi sitokin TGF-  dalam cairan akuos penderita glaukoma sudut terbuka primer. Oleh karena itu penelitian yang saya lakukan ini mengutarakan konsep baru yang ingin menunjukkan proses ekspresi sitokin TNF- , IL-10 dan TGF- , sampai peningkatan kadarnya dalam cairan akuos dan perannya terhadap peningkatan tekanan bola mata pada penderita glaukoma sudut terbuka primer.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan imunologis, yang melibatkan dua kelompok sampel, yaitu kelompok glaukoma sudut terbuka primer dengan tekanan bola mata yang meningkat dan kelompok non glaukoma, dalam hal ini adalah katarak lentis dengan tekanan bola mata yang normal atau tidak meningkat.
Sebenarnya yang ideal, penelitian yang dipilih adalah jenis penelitian longitudinal pada seseorang yang memiliki faktor resiko terjadinya glaukoma sudut terbuka primer sampai orang tersebut menjadi penderita glaukoma sudut terbuka primer. Selanjutnya setiap fase atau setiap rentang waktu tertentu kadar sitokinnya diukur sampai dilakukan tindakan operasi. Mengingat keterbatasan yang ada, di antaranya waktu penelitian menjadi tidak terbatas, serta teknis pengambilan cairan akuos pada mata orang sehat secara etik tidak dimungkinkan untuk dikerjakan,  maka jenis penelitian ini tidak dipilih.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan perjalanan penyakit dan dapat diperiksa cairan akuosnya, maka diambil sampel secara cross-sectional atau sesaat, dengan subyek penderita glaukoma sudut terbuka primer dengan tekanan bola mata meningkat yang menjalani operasi anti glaukoma sebagai kelompok kasus, serta kelompok kedua adalah penderita non glaukoma atau katarak lentis dengan tekanan bola mata normal atau tidak meningkat yang  menjalani operasi katarak sebagai kelompok kontrol.
Mengingat keterbatasan volume cairan akuos pada setiap individu, maka pengambilan sampel pada setiap penderita hanya dilaksanakan sebanyak 0.5 cc saja, sehingga pengambilan sampel pada setiap penderita tidak dapat dilakukan untuk tiga jenis sitokin sekaligus, tetapi hanya dilakukan untuk mengambil satu jenis sitokin saja, kecuali untuk pemeriksaan TNF- dan IL-10 pada penderita katarak, satu penderita untuk dua macam sitokin tersebut. Dari data penelitian diperoleh nilai rerata kadar ketiga jenis sitokin pada kelompok kasus mempunyai kadar yang berbeda dibanding¬kan nilai rerata pada kelompok kontrol untuk  jenis sitokin yang sama.
Hasil penilitian saya ini menunjukkan bahwa pada penderita glaukoma sudut terbuka primer dengan peningkatan tekanan bola mata, kadar sitokin TNF- , IL-10 dan TGF-  secara statistik berpengaruh secara bermakna terhadap tekanan bola mata. Pengaruh terbesar diberikan oleh TGF- , diikuti oleh IL-10 dan terakhir TNF- . Sedangkan pada penderita katarak dengan tekanan bola mata normal, ditemukan bahwa  kadar sitokin              TNF- , IL-10 dan TGF- , secara statistik tidak berpengaruh secara bermakna terhadap tekanan bola mata.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Kenyataan tersebut menimbulkan harapan, bahwa suatu saat dimasa mendatang dapat ditemukan atau diproduksi suatu bahan  bersifat anti ketiga sitokin tersebut (TNF-a, IL-10 dan TGF-b), yang diharapkan dapat menghambat laju peningkatan tekanan bola mata  pada penderita glaukoma sudut terbuka primer.
Sejalan dengan upaya tersebut, pemberian bahan anti TNF-a, IL-10 dan TGF-b dapat dipertimbangkan, sebagai usaha pencegah¬an terjadinya kenaikan tekanan bola mata penderita dengan tekanan bola mata normal yang mempunyai faktor risiko terkena glaukoma sudut terbuka primer. Melalui pertimbangan tersebut, maka diharap¬¬kan usaha pencegahan terhadap terjadinya peningkatan tekanan bola mata, yang merupakan faktor resiko utama terjadinya glaukoma sudut terbuka primer, dapat tercapai. Dengan demikian dapat di¬harap¬kan terjadi peningkatan kualitas pengobatan terhadap pening¬katan tekanan bola mata yang diakibatkan dari peningkatan kadar sitokin TNF- , IL-10 dan TGF- .

VI. Kesimpulan dan Harapan
Kesimpulan
1.    Walaupun dijuluki sebagai “maling penglihatan”, Glaukoma sudut terbuka primer sebetulnya dapat dideteksi secara dini.
2.    Dengan memperhatikan faktor-faktor resiko terjadinya glaukoma sudut terbuka primer pada seseorang, diharapkan yang ber¬sangkutan dapat melakukan tindakan yang tepat jika muncul tanda-tanda awal jenis penyakit mata ini. Misalnya memeriksa¬kan kesehatan mata pada waktu yang tepat, atau memeriksakan¬nya secara rutin dan berkala terutama bagi seseorang yang ter¬masuk dalam kelompok salah satu atau beberapa faktor resiko.
Harapan
Dengan ditemukannya jenis sitokin (TNF-a, IL-10 maupun TGF-b) yang berpengaruh secara bermakna terhadap kenaikan tekanan bola mata pada glaukoma sudut terbuka primer, maka diharapkan hasil penelitian tersebut dapat ditindaklanjuti, misalnya dengan pembuatan anti ketiga sitokin tersebut, agar dapat diguna¬kan untuk menghambat laju peningkatan tekanan bola mata  pada penderita yang beresiko menderita glaukoma sudut terbuka primer.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Perkenankan sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, saya menyampaikan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, atas tuntunan dan petunjuk serta karuniaNya yang saya terima, sehingga saya masih diperkenankan untuk menguak setitik rahasiaNya, untuk saya persembahkan kembali kepada masyarakat Indonesia terutama, khususnya bagi kemajuan pengetahuan di bidang ilmu penyakit mata, sampai sayapun masih diperkenankan menerima jabatan akademik Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Teriring doa, semoga Allah SWT selalu memberi¬kan petunjuk dan bimbinganNya, agar saya dapat mengemban amanah sebagai Guru Besar, serta dapat mempertanggung jawab¬kannya kelak di hadapanNya. Amin.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Selanjutnya perkenankan saya untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus, kepada yang terhormat :
    Pemerintah Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasio¬nal Republik Indonesia, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di ling¬kung¬an Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
    Rektor Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Moch. Syamsul¬hadi, dr, SpKJ(K), beserta seluruh anggota Senat Universitas Sebelas Maret, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Dr. A.A. Subiyanto, dr, MS beserta seluruh anggota Senat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, yang telah menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar dan menerima saya di lingkungan Senat Universitas Sebelas Maret.
    Prof. H. Wisnujono Soewono, dr, SpM(K), Guru Besar Ilmu Penyakit Mata di FK UNAIR, dan Dr. F.M. Judajana, dr, SpPK(K), yang masing-masing telah bersedia menjadi Pro¬motor dan Ko-Promotor serta guru saya. Di tengah kesibukan¬nya yang begitu padat, kedua beliau tersebut selalu memberikan dorongan dan dukungan moril yang memberi kesejukan dan ketenangan tersendiri bagi saya, hingga saya dapat melanjutkan langkah saya ke jenjang tertinggi jabatan akademik.
    Dengan penuh hormat, terimakasih saya sampaikan kepada semua guru saya, sejak di tingkat Sekolah Dasar, SMP dan SMA, di Surabaya. Karena beliau-beliaulah yang meletakkan dan membangun fondasi keilmuan saya, sehingga saya mampu menimba ilmu yang lebih tinggi.
    Terimakasih dan hormat saya kepada Rektor/mantan Rektor serta guru-guru saya, dan seluruh civitas akademika Fakultas Kedokteran UNAIR, tempat saya menuntut ilmu sampai meraih gelar dokter umum, dokter spesialis dan doktor; serta seluruh pimpinan dan civitas akademika Fakultas Kesehatan Masya¬rakat Universitas Indonesia, tempat saya menuntut ilmu sampai meraih gelar magister.
    Secara khusus, ingin saya haturkan terima kasih saya kepada Prof. Hj. R.K. Tamin Radjamin, dr, SpM (alm) dan Isnania Koento, dr, SpM (alm) yang telah mendidik dan membentuk saya hingga menjadi dokter spesialis mata seperti sekarang ini.
    Terima kasih saya haturkan pula kepada guru-guru ilmu penyakit mata yang saya banggakan, Dr. P.N. Oka, dr, SpM (alm), Kuntjoro Liman, dr, SpM serta Yosef Kadi, dr, SpM(K) serta para senior serta sejawat saya, atas bimbingannya yang membuat saya selalu ingin lebih mendalami ilmu penyakit mata.
    Kepala dan mantan Kepala Laboratorium/Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran UNS/RSUD Dr. Moewardi Sura¬karta, H. Djoko Susianto, dr, SpM dan H. Sutrisno Danusastro, dr, SpM beserta semua sejawat dokter mata dan semua staf  yang telah memberikan doa, dorongan samangat dan penger¬tiannya kepada saya  selama ini.
    Kepala dan mantan Kepala Laboratorium/Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran UNAIR/RSU Dr. Soetomo Sura¬baya, Prof. Syamsu Budiono, dr, SpM dan Prof. Hj. Diany Yogiantoro, dr, SpM(K) beserta semua sejawat dokter mata dan semua staf yang telah memberikan doa, dorongan semangat kepada saya  selama ini.
    Direktur Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, guru sekaligus sejawatku, H. Moch. Badri, dr, SpM, beserta seluruh staf medis dan para medis, atas semua kesempatan dan partisipasinya selama saya melakukan penelitian disertasi.
    Saya haturkan pula rasa terima kasih yang tidak mungkin ter¬balaskan dari lubuk hati yang paling dalam, kepada kedua orangtua saya, yaitu almarhum Bapak R. Soejono dan almar¬humah Ibu Soekartidjah yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang serta memberikan contoh dan tauladan agar menjadi pribadi yang tangguh, namun sayang beliau berdua tidak sempat menyaksikan keberhasilan putra tertuanya memperoleh jabatan akademik tertinggi ini.
    Saya haturkan terima kasih yang tiada ternilai kepada, mertua saya, almarhum Bapak Mayor Jendral TNI (Purn) H. Sukadji Hendrotomo, SH serta almarhumah Ibu Hj. Widji Oetami atas segala doa, perhatian serta bimbingannya semasa hidup beliau, namun sayang beliau berdua juga tidak sempat menyaksikan  menantunya yang bandel ini menerima jabatan akademik tertinggi di Universitas Sebelas Maret.
    Penghargaan dan rasa terima kasih yang dalam saya sampaikan untuk kedua kakak ipar saya, mas H. Bambang Watuadji, Ir. beserta mbak Hj. Srie Roostiani dan mas Johnny Hendro¬sudjono beserta mbak Renny Swasti, Dra, MSi atas dorongan semangat dan doanya, disamping terima kasih yang tiada terhingga kepada ketiga adik iparku, dik H. Djiet Gardjito Utomo, dik Hj. Anny Sri Rahmani Hendrotomo SH, bersama suami dik H. Santoso serta dik Hj. Happy Prasetyawati SE, atas segala doa dan  perhatiannya selama ini.
    Penghargaan dan ungkapan kasih juga saya sampaikan kepada keenam adik saya, dik H. Theo Setijono, drh beserta isteri  dik Hj. Erna, drh, dik Sri Oetami Budi Rahayu dan suaminya Sukanto Wibowo, dik Hj. Sri Sumarti, dik Harry Wibowo dan dik Indrawatie, dik Edy Walujo, Drs, dan dik Wiwiek Muharlina, serta dik Winarto, Drs, MM dan isterinya dik Endah Kustijani SPi, atas segala doa,  perhatian dan dorongan semangat yang telah diberikan kepada saya selama ini.
    Besan dan calon besan beserta calon-calon menantu tercinta, terima kasih atas perhatian, dorongan dan doanya, sehingga saya mendapatkan angerah yang tak ternilai ini.
    Kepada anak-anakku tercinta dan selalu bapak banggakan, rasa sayang dan terimakasih ini bapak sampaikan kepada kalian, Hendrarini Suryaningtiyas, SE.Ak, M.Ak, dan suaminya nanda Bowie Jimmy Soedomo; Heru Prasetiyono, dr., dan Hanindyo Tri Wibowo S.IP, yang telah memberikan pengertian, dorongan semangat, dan selalu siap membantu kapanpun diperlukan tanpa menuntut, serta doa dan keikhlasannya, sehingga bapak mendapat kesempatan menerima jabatan tertinggi akademik ini.
    Rasa terima kasih yang tidak dapat saya lukiskan dengan ungkap¬¬an kata dan kalimat, saya sampaikan kepada istri ter¬cinta, Hj. Susy Susmartini, Ir, MSIE, yang sering melontarkan saran dan ktitik yang positif, menjadi teman diskusi, selalu memberi dorongan ketika semangat menurun, dan siap men¬dampingi saya kapan dan dimanapun, serta selalu berdoa bagi kesehatan dan keberhasilan saya hingga saya menerima amanah ini, sebagai Guru Besar.
    Terimakasih juga saya sampaikan kepada panitia Pengukuhan Guru Besar kali ini, yang telah mempersiapkan acara pengu¬kuh¬an ini dengan lancar dan tertib, serta kelompok Paduan Suara Mahasiswa “Voca Erudita” yang saya banggakan.
    Terakhir, kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah membantu, mendorong dan memberi doa restu, sehingga saya mendapatkan jabatan akademik ter¬tinggi ini dan berhasil menyampaikan pidato pengukuhan hari ini dengan lancar, saya dan keluarga menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya.
Ibu, Bapak dan hadirin yang saya muliakan,
Rasa haru dan terimakasih juga saya sampaikan kepada seluruh hadirin, yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar mengikuti acara pengukuhan ini hingga selesai. Semoga kita dapat memetik manfaat dari kegiatan ini, mohon maaf jika ada sesuatu yang tidak berkenan. Semoga Allah SWT melimpahkan taufiq, hidayah dan karuniaNya kepada kita semua. Amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

DAFTAR  PUSTAKA

Bossy-Wetzel E, Green D (1999), Mutation Research 434 : 243-251
Boyd B, Luntz M (2002), Open Angle Glaucoma Clinical Evaluation and Risk Factors In Innovation in The Glaucomas Etiology, Diagnosis and Management, High Light of Ophthalmology (International), Bogota, 3 – 10
Clancy J (1998), Antigen Processing and Presentation in Basic Concept in Immunology. A student’s Survival guide. The Mc GrawHill Companies Health Professions Devision. New York, St Louis, San Francisco, p. 65-81
Cotran  R S,  Kumar V,  Collins  T (1999),  Glaucoma  In Robbins Pathologic Basis of Disease. Sixt Edition. Saunders Company, Philadhelphia, London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo,  1374- 1375.
Dunitz M (1998), Pathogenesis of infection and the ocular Immune Response, In Ocular Infection, Investigation and Treat¬ment in Practice, Martin Dunitz Ltd, London; 1 – 5
Gottanka J, Chan D, Eichhorn M, Lutjen-Drecoll E, Ethier CR (2004), Effects of TGF -2 in the perfused human eyes.         J Investigative Ophthalmology and Visual Science : 45(1): 153-8
Goldberg I (2003), Definition of Terms: Primary open angle glaucoma (POAG) In Asia Pasific Glaucoma Guidelines South East Asia Glaucoma Interest Group, Sydney : 89-90
Handoyo I (2003), Pengantar imunoasai dasar, cetakan pertama, Airlangga University Press, Surabaya, Indonesia
Hogan MJ, Zimmerman LE (1962), Glaucoma In Ophthalmic Pathology An Atlas and Textbook.second Edition.W.B. Saunders Company.Philadelphia, London : 688-705.
Ilyas S (2001), Glaukoma Edisi ke-2 FK- UI Jakarta, Indonesia.
Inatani M, Tanihara H, Katsuta H, Honjo M, Kido N, Honda  Y (2001), Transforming growth factor- beta2 level in aqueous humor of glaucomatous eyes.Graefes Arch Clin Exp Ophthalmology : 239(2) : 109-13
Judajana FM (2004), Immunology today & the perspective  Kuliah S3 Kedokteran Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya Indonesia
Kolker AE, Hetheringthon J (1983), Classification of The Glau¬comas In Becker – Shaffer’s Diagnosis and Theraphy of The Glaucomas, 5th Edition, The CV Mosby Company,      St Louis, Toronto, p. 3 – 8.
Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB (2003), Introduction to Glaucoma: Terminology, Epidemiology and Heredity In Basic And Clinical Science Course section 10 : Glaucoma. American Academy of Ophthalmology. San Francisco, USA, 5-12.
Liesegang TJ, Deutsch TA, Grand  GM (2001), Anterior Chamber, Trabecular Meshwork In Basic And Clinical Science Course section 2 : Fundamentals And Principles of Ophthalmology, American Academy of Ophthalmology,  San Francisco, USA, 53-60.
Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB (2003), Intraocular Pressure and Aqueous Humor Dynamics in Basic And Clinical Science Course section 10: Glaucoma, American Academy of Ophthalmology. San Francisco, USA, 14-23
Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB (2003), Clinical Evaluation: History and General Examination, Gonioscopy. In Basic And Clinical Science Course section 10: Glaucoma, American Academy of Ophthalmology. San Francisco, USA, 25-33.
Lutjen-Drecoll E, Rohen JW (1994), The Normal Anterior Segment, Anatomy of Aqueous Humor Formation and Drainage In textbook of Ophthalmology, edited by Podos SM and Yanoff Myron, Glaucoma vol 7, Mosby, London, St Louis, Baltimore, Boston, Chicago, Philadelphia, Sydney, Toronto, p. 1.1 –1.16
Lutjen-Drecoll E, Rohen JW (1994), Pathology of The Trabecular Meshwork in Primary Open Angle Glucoma In textbook of Ophthalmology, edited by Podos SM and Yanoff Myron, Glaucoma vol. 7, Mosby, London, St Louis, Baltimore, Boston, Chicago, Philadelphia, Sydney, Toronto, p. 837 – 839
Lutjen-Drecoll E (2000), Importance of trabecular meshwork changes in the pathogenesis of Primary Open Angle Glaucoma, J of Glaucoma ; 9; 417-8
Ochiai Y, Ochiai H (2002 ), Higher concentration of Transforming growth factor-beta in Aqueous humor of glaucomatous eyes  and diabetic eyes. Jpn J Ophthalmology: 46(3) : 249-53
Oppenheim JJ, Ruscetti FW (2001), Cytokines In Medical Immunology, tenth edition by Parslow GT; Stites PD, Terr IA, Imboden BJ, Lange Medical Book/McGraw-Hill, Medical Publishing Division. New York, Chicago, San Francisco, Lisbon, London, Madrid, Mexico City, Milan, New Delhi, san Juan,  Seoul, Singapore, Sydney, Toronto, p.148-164
Ozcan AA, Ozdemir N, Canataroglu A (2004), The aqueous levels of TGF-beta2 in patients with glaucoma. Int Ophthalmology J : 25(1): 19-22
Petrolani M, Stordeur P, Goldman M (1999), Interleukin-10 In The Cytokine network And Immune Functions by Theze. J. Oxford University Press, New York, p. 45-50
Pimentel E (1994), Transforming Growth Factors In Handbook of Growth Factors, vol. II: Peptide Growth Factor, CRC Press, Boca Raton, Ann Arbor, London, Tokyo, p. 263-274.
Potau JM, Canal M, Costa J, Merindano, Ruano D (2001), Ultra Structural Changes of the Extracellular Matrix of the Trabe¬cular Meshwork with Age; European Journal of Anatomy; 5 : 83 – 87
Quigley H A (1998), Search for Glaucoma Genes Implications  for pathogenesis and Disease detection New England J of Medicine vol.  338, 1062-1064
Rizzo V, Belfort R (2000), Ocular Auto Immunity In textbook of The Auto Immune Diseases. Edited by RG Lahita, N Chiorazzi and WH Reeves Lipincot Willian and Wilkin, Philadelphia, 515-667
Sato T, Roys S (2002), Effect of High Glucosa on Fibronectin Expression and Cell Proliferation in Trabecular Meshwork Cells, Investigative J Ophthalmology and Visual Science : 43 : 170 – 175
Theze J (1999), The Cytokine Network and Immune Functions, Oxford University Press, New York
Tripathi R C, Li J, Chan B J (1994), Aqueous humor in glaucoma¬tous eyes, contains an increased level of TGFbeta- 2. Exp Eye Res 59:  723-7
Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P (1995), Glaucoma in General Ophthalmology, Fourteenth edition a Lange Medical Book Printice- Hall International  Inc. p. 208-225
Wallach D, Bigda J, Engelman H (1999), Tumor Necrosis Factor (TNF) Family and Related Mollecules in The Cytokine network And Immune Functions by Theze. J. Oxford University Press, New York, p. 51-84
Wilensky J T (1994), Epidemiology of Open Angle Glaucoma In Textbook of Ophthalmology Edited by Podos S M and   Yanoff Myron Glaucoma The CV Mosby. London, St Louis, Baltimore, Boston, Chicago, Philidelphia, Sydney, Toronto, p. 829- 833

PERAN KOMUNIKASI DALAM MENJALANKAN PROFESI DOKTER YANG BERKUALITAS DI MASYARAKAT

Oleh:
Prof. Dr. H. Achmad Arman Subijanto, dr., M.S.

Bismillahirrahmanirrahim

Yang saya hormati,
Rektor/Ketua Senat, Pembantu Rektor, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Seluruh Guru Besar dan Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Para Guru Besar Tamu yang hadir.
Rektor, jajaran Pimpinan Fakultas dan Ketua Lembaga di Universitas Negeri dan Swasta di seluruh Indonesia.
Direktur Program Pascasarjana, seluruh Dekan, Ketua Program, Ketua Jurusan, Kepala Bagian dan Sub Bagian, Kepala UPT, Kepala Laboratorium, seluruh Tata Usaha serta Tenaga Administrasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Seluruh Direktur beserta Wakilnya dan para Kepala Bagian Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Surakarta dan sekitarnya.
Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di seluruh Indonesia
Para Pejabat Sipil dan Militer di seluruh Indonesia.
Teman Sejawat dan segenap Civitas Akademika Univer¬sitas Sebelas Maret Surakarta.
Para tamu undangan, sanak keluarga, handai taulan dan hadirin yang saya muliakan.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat pagi serta salam sejahtera dan Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan Berkah dan RahmatNya kepada kita semua, Amien.

Bapak, Ibu, dan para Hadirin yang saya hormati,
Pertama–tama marilah kita menyampaikan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Pemurah atas limpahan karunia nikmat tiada terkira yang terus mengalir untuk kita semua. Kemudian marilah kita memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Penyayang agar diberikan kesehatan, kekuatan, kesabaran, ketabahan, kepedulian dan ke¬teguhan hati kepada kita semua dan kepada saudara–saudara kita yang hidupnya sedang mengalami ujian. Amien.
Terlebih dahulu perkenankanlah saya menghaturkan rasa hormat dan penghargaan yang setinggi–tingginya kepada Rektor sebagai Ketua Senat beserta seluruh Anggota Senat di Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi kesempatan dan kepercayaan kepada saya dalam menempuh proses untuk menjadi Guru Besar sampai dengan Upacara Pengukuhan Guru Besar hari ini.
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih sebesar–besarnya kepada para hadirin atas semua bantuannya dan telah ber¬kenan meluangkan waktu untuk menghadiri upacara pengukuhan ini.
Hari ini merupakan saat yang berbahagia bagi saya karena mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pidato Pengukuhan Guru Besar dengan judul :

Peran Komunikasi dalam Menjalankan Profesi Dokter
yang Berkualitas di Masyarakat

Komunikasi dan Tantangan Profesi Dokter Masa Kini

Bapak, Ibu, dan Hadirin yang saya hormati,
Pola hubungan dokter dan pasien telah mengalami pergeseran dari zaman ke zaman. Terdapat suatu pergeseran paradigma, dimana dokter bukan lagi dianggap sebagai dewa atau orang suci tetapi telah menjadi figur manusia biasa. Hubungan antara dokter dan pasien yang dulunya menganut pola paternalistik berubah menjadi hubungan yang bersifat kontraktual. Kondisi dan situasi saat ini telah menempatkan dokter dalam peran sebagai pelaku ekonomi yakni sebagai penyedia layanan jasa. Sehingga, apabila jasa yang diberikan tidak memuaskan pasien, maka pasien pun berhak untuk menyampaikan keluhan bahkan sampai pada tuntutan hukum ke pengadilan. Tinjauan yang dilakukan oleh Levinson (1999) menyimpulkan bahwa sebenarnya tuntutan-tuntutan malpraktek tersebut dapat dicegah dengan komunikasi dokter-pasien yang adekuat. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa marak¬nya tuntutan malpraktek di masyarakat adalah cermin suatu kondisi komunikasi yang kurang baik antara masyarakat dengan profesi kesehatan, lebih spesifik lagi antara pasien dengan dokter.
Banyaknya bermunculan pelayanan kesehatan non medis yang tidak diketahui evidence based-nya, yang ternyata diserbu oleh masyarakat awam misalnya pengobatan alternatif dukun cilik Ponari di Jombang dan sebagainya adalah indikasi adanya fenomena menurunnya minat orang sakit untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Fenomena tersebut mungkin dipengaruhi oleh tingginya biaya kesehatan maupun berkurangnya kepercayaan masyarakat pada pelayanan dokter. Kita juga dapat melihat bahwa sebagian dokter mencari keuntungan berlimpah dengan berpraktik yang tidak sesuai dengan Kode Etik Kedokteran dan Undang-Undang Praktik Kedokteran. Misalnya, ada dokter yang memberi¬kan resep atau obat yang tidak sesuai dengan diagnostik karena sudah terikat perjanjian dan mendapat keuntungan dari Perusahaan Farmasi, ada juga sebagian dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meskipun tidak pada tempatnya, contoh, ada pasien yang menderita gangguan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), maka dokter sering meminta pasien untuk melakukan foto radiologi lengkap. Jika ada pasien yang mengeluh pusing, maka seringkali dokter meminta pasien tersebut untuk melakukan CT-Scan, dan sebagainya. Saat ini semakin banyak pula masyarakat Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk berobat karena sudah tidak lagi percaya akan kompetensi dokter di Indonesia. Sebuah kajian menyimpulkan bahwa kepercayaan pada pelayanan kesehatan ternyata sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dokter-pasien (Calnan et al., 2004). Pergeseran paradigma tentang hubungan dokter-pasien tak lepas dari dampak dari kemajuan teknologi, keterbukaan informasi dan perubahan sosioekonomi masyarakat. Perubahan-perubahan tersebut telah membuat masyarakat sebagai pemakai jasa dokter semakin kritis atas mutu pelayanan kesehatan di negeri kita. Pasien telah berubah peran dari pasif menjadi asertif dalam upaya memperoleh informasi medis dan pembuatan ke¬putusan medis (Beisecker, 1990). Pola hubungan dokter dan pasien pun telah bergeser menjadi hubungan yang berimbang berupa suatu kemitraan (Ali MM et al., 2006a).
Tantangan bidang kesehatan di negara kita juga bergeser dengan munculnya epidemi penyakit tidak menular yang banyak terkait dengan perilaku kesehatan seperti penyakit degeneratif dan penyakit kardiovaskuler. Peran dokter dalam komunikasi kesehatan masyarakat pada aspek promotif dan preventif pun bertambah kompleks. Seiring dengan kondisi tersebut, perubahan perilaku pun telah dijadikan fokus pembangunan bidang kesehatan (IDI, 2007) Dokter merupakan agen perubahan di tingkat mikro yang ber¬hadap¬an langsung dengan pasien atau masyarakat umum. Tak diragukan lagi, komunikasi juga menjadi peran sentral untuk mengubah perilaku masyarakat, dari perilaku sakit ke perilaku sehat. Dalam hal ini dokter sebagai tenaga kesehatan memegang peran penting dengan melakukan komunikasi promotif dan preventif, sebagai individual atau kelompok, menuju paradigma pembangunan ke¬sehatan yang baru yakni paradigma sehat (PDPERSI, 2007).

Menilik Teori Dasar Komunikasi
Komunikasi berasal dari kata ”communicare” yang berarti berpartisipasi atau memberitahukan dan ”communis” yang berarti milik bersama. Komunikasi mengandung beberapa pengertian komunikasi, yaitu: (1) Pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti serta saling percaya demi terwujudnya hubungan yang baik antara seseorang dengan orang lainnya; (2) Pertukaran fakta, gagasan, opini atau emosi antar dua orang atau lebih, dan (3) Suatu hubungan yang dilakukan melalui surat, kata-kata, simbol atau pesan yang bertujuan agar tiap manusia yang terlibat dalam proses dapat saling tukar menukar arti dan pengertian terhadap sesuatu (Liliweri A, 2008).
Pada prinsipnya, komunikasi bertujuan untuk menimbulkan saling pengertian, bukan persetujuan. Dalam suatu komunikasi seseorang bisa saja tidak menyetujui pesan yang disampaikan, tetapi apabila orang tersebut memahami pesan tersebut maka dikatakan komunikasi telah berjalan baik. Terdapat lima unsur yang berperan dalam komunikasi, yakni sumber, pesan, media, sasaran, umpan balik dan akibat. Sumber (pengiriman berita atau komunikator) adalah tempat asalnya pesan. Pesan atau berita adalah rangsangan atau stimulasi yang disampaikan sumber pada sasaran. Pesan tersebut pada dasarnya adalah hasil pemikiran atau pendapat sumber yang ingin disampaikan pada orang lain. Penyampaian pesan dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, yakni kata-kata (simbol berupa kata-kata) atau dalam bentuk bukan kata-kata (simbol berupa gerakan tubuh, gerakan tangan, ekspresi wajah dan gambar). Isi simbolik dari pesan disebut informasi, dan jika sifatnya sebagai sesuatu yang baru disebut inovasi. Media (alat pengirim pesan atau saluran pesan) adalah alat atau saluran yang dipilih oleh sumber untuk menyampaikan pesan pada sasaran.
Media dibagi menjadi dua jenis, yakni media massa dan media antar pribadi. Contoh media massa adalah surat kabar, majalah, film, radio dan televisi. Keuntungan media massa adalah sasaran yang dicapai (coverage) cukup banyak, sehingga lebih efisien dari segi waktu, biaya dan tenaga. Kerugiannya adalah sulit diketahui keberhasilan komunikasi yang dilakukan karena umpan balik sulit diperoleh. Kerugian lain adalah tidak dapat menyampai¬kan semua jenis pesan, misalnya pesan yang bersifat pribadi, tabu atau yang dinilai akan mendatangkan akibat negatif pada masya¬rakat. Contoh media antar pribadi adalah interaksi antara sumber dan sasaran, pembicaraan melalui telepon, surat-menyurat dan pembicaraan perorangan lainnya. Keuntungan dari cara ini adalah dapat disampaikan pesan secara lengkap dan terperinci dengan demikian keberhasilan komunikasi dapat diketahui melalui umpan balik yang diterima. Pesan yang disampaikan dapat mencakup ber¬bagai jenis pesan, termasuk yang bersifat rahasia atau pribadi. Kerugiannya adalah jangkauan sasaran terbatas serta membutuhkan waktu, tenaga dan biaya cukup besar, apalagi jika jumlah sasaran yang dituju besar.
Sasaran (penerima pesan atau komunikan) adalah yang menerima pesan, artinya kepada siapa pesan tersebut ditujukan. Komunikan bisa berupa orang perorang, sekelompok orang, satu organisasi atau institusi atau masyarakat luas. Umpan balik (feedback) adalah reaksi dari sasaran terhadap pesan yang di¬sampaikan, yang dimanfaatkan oleh sumber untuk memperbaiki dan ataupun menyempurnakan komunikasi yang dilakukan. Dengan adanya reaksi ini, sumber akan mengetahui apakah komunikasi berjalan dengan baik atau tidak. Jika hasilnya baik disebut positif dan jika hasilnya buruk disebut negatif. Akibat (impact) adalah hasil dari komunikasi, yakni terjadinya perubahan pada diri sasaran. Perubahan dapat pada pengetahuan, sikap atau perilaku. Terjadinya perubahan perilaku adalah tujuan akhir komunikasi.

Gambar 1. Unsur-unsur dalam komunikasi

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interper¬sonal yang baik. Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Komunikasi yang efektif bukan hanya menentukan isi tetapi juga mendefinisikan hubungan inter¬personal. Menurut segi psikologi komunikasi, hubungan inter¬personal semakin baik bila seseorang makin terbuka untuk meng¬ungkapkan dirinya, makin cepat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang ber¬langsung diantara komunikan. Terdapat tiga faktor dalam komuni¬kasi interpersonal untuk menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu percaya, sikap suportif dan terbuka (Rahmat J, 1993).
Percaya merupakan faktor yang paling penting dalam komuni¬kasi interpersonal. Rasa percaya dapat meningkatkan komuni¬kasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas penerimaan informasi serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai maksudnya. Kepercayaan kita terhadap orang lain di¬pengaruhi oleh faktor-faktor personal dan situasional. Seseorang dengan harga diri yang positif akan cenderung mempercayai orang lain, sebaliknya seseorang dengan kepribadian otoriter cenderung sukar mempercayai orang lain. Di samping faktor-faktor personal tersebut terdapat pula faktor lain seperti karakteristik seseorang, hubungan kekuasaan, sifat dan kualitas komunikasi, dan kejujuran. Seseorang akan menaruh kepercayaan kepada seseorang yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman di bidang tertentu. Akhirnya sikap percaya kita dipengaruhi oleh persepsi yang sama antara kita dengan orang lain. Rasa percaya tumbuh bila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain.  Komunikasi yang bersifat terbuka dengan maksud dan tujuan yang jelas disertai ekspektasi yang sudah dinyatakan maka akan tumbuh rasa percaya.    Sikap percaya berkembang bila setiap komunikan meng¬anggap komunikan lainnya berlaku jujur. Kejujuran menyebab¬kan perilaku kita dapat diduga, hal ini mendorong orang lain untuk percaya pada kita.
Sikap suportif ialah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Sikap defensif dalam komunikasi menyebabkan komunikasi interpersonal akan gagal, karena sikap defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang lain.
Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor per¬sonal seperti ketakutan, kecemasan, harga diri yang rendah, pengalaman defensif atau faktor-faktor situasional. Diantara faktor situasional itu adalah perilaku komunikasi orang lain. Gibb menyebut¬kan enam perilaku yang menimbulkan perilaku suportif (Tabel 1).

Tabel 1. Perilaku defensif dan suportif menurut Gibb

Iklim Defensif Iklim Suportif
1.      Evaluasi

  1. Kontrol
  2. Strategi
  3. Netralitas
  4. Superioritas
  5. Kepastian
1.      Deskripsi

  1. Orientasi masalah
  2. Spontanitas
  3. Empati
  4. Persamaan
  5. Provisionalisme

Dalam penelitian Gibb diungkapkan bahwa semakin sering orang menggunakan perilaku di sebelah kiri, maka semakin besar kemungkinan komunikasi menjadi defensive. Sebaliknya, komuni¬kasi defensif berkurang dalam iklim suportif ketika orang meng¬guna¬kan perilaku di sebelah kanan. Marilah kita uraikan isi tabel 1:

1.    a.  Evaluasi
Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain yaitu dengan cara memuji atau mengecam. Dalam mengevaluasi, kita seringkali mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila kita menyebutkan kelemahan dan kekurangan orang lain, maka kita akan melahirkan sikap defensif. Pada evaluasi, kita sering menggunakan kata sifat (salah, ngawur, bodoh). Kita sering mengevaluasi pada gagasan dan kinerja orang lain, bukan pada diri sendiri.

b.  Deskripsi
Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Pada deskripsi, biasanya kita menggunakan kata kerja. Deskripsi dapat terjadi ketika kita sedang meng¬evaluasi orang lain, tetapi orang merasa bahwa kita meng¬hargai diri mereka.

2.    a.  Kontrol
Kontrol artinya berusaha untuk mengendalikan bahkan cen¬derung ingin mengubah orang lain dari sikap, pendapat dan tindakannya. Melakukan kontrol juga berarti ingin menentu¬kan sikap, pendapat dan tindakan orang lain sesuai dengan yang kita inginkan. Itu berarti kita tidak menerima sikap, pendapat dan tindakan orang lain. Sehingga kalau terjadi kontrol orang lain terhadap kita, maka kita ada perasaan menolaknya.

b.  Orientasi Masalah
Orientasi masalah berarti mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah. Kita mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.

3.    a.  Strategi
Strategi adalah penggunaan cara untuk mempengaruhi orang lain. Kita menggunakan strategi apabila orang menduga kita mempunyai motif tersembunyi. Kita berkomunikasi dengan ”udang di balik batu”. Apabila orang lain tahu kita melaku¬kan strategi, maka ia akan menjadi defensif.

b.  Spontanitas
Spontanitas artinya sikap jujur, apa adanya dan dianggap tidak memiliki motif yang terpendam. Apabila kita melaku¬kan spontanitas, maka kita mempunyai iklim suportif.

4.    a.  Netralitas
Netralitas berarti sikap impersonal dan memperlakukan orang lain tidak sebagai persona, melainkan sebagai obyek. Ber¬sikap netral bukanlah bersifat obyektif, melainkan menunjuk¬kan sikap acuh tak acuh dan tidak menghiraukan kelebihan orang lain.

b.  Empati
Empati artinya memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita, sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain yang mengalami emosi. Tanpa empati, orang seakan-akan menjadi mesin yang hampa perasaan dan tanpa perhatian. Dengan empati, kita akan menumbuhkan iklim yang suportif.

5.    a.  Superioritas
Superioritas artinya kita menunjukkan sikap lebih tinggi atau lebih baik dibanding orang lain karena status atau kekuasaan atau kekayaan atau kemampuan intelektual (dalam istilah Islam disebut Takabur). Superioritas akan melahirkan iklim defensif.

b.  Persamaan
Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dalam sikap persamaan, kita tidak mempertegas perbedaan. Maksudnya status boleh jadi ber¬beda tetapi komunikasi kita tidak vertikal, kita tidak meng¬gurui tetapi berkomunikasi pada tingkat yang sama. Dengan persamaan, kita mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pandangan (Dalam istilah Islam disebut Tawadlu’). Kalau kita senantiasa dapat menciptakan persamaan maka akan timbul iklim yang suportif.

6.    a.  Kepastian
Orang yang memiliki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Bersikap kepastian cenderung mengarah ke iklim defensif.

b.  Provisionalisme
Provisionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan yaitu siap untuk mengakui dan mengoreksi kesalahan yang kita perbuat, karena itu wajar juga kalau suatu saat pendapat dan keyakinan kita bisa berubah. ”Provisonal” dalam bahasa Inggris, artinya bersifat sementara atau menunggu sampai ada bukti yang lengkap.

Komunikasi Dokter-Pasien dan Mutu Pelayanan Kesehatan

Para hadirin yang saya muliakan,
Hubungan dokter dan pasien telah disadari merupakan bagian penting dalam aspek mutu pelayanan kesehatan dengan semakin disadarinya pentingnya suara pasien sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Komunikasi dokter dan pasien telah terbukti membawa pengaruh pada kepatuhan pengobatan, meningkatkan kepuasan pasien dan akhirnya akan membawa manfaat bagi keluaran pengo¬batan (Roberts, 2002; Roter et al., 2006; Trummer et al., 2006; Lee et al., 2008; Thorne et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Stewart et al. (2000a) pada 39 dokter keluarga dan 315 pasien mereka menyimpulkan bahwa komunikasi yang berpusat pada pasien juga meningkatkan efisiensi pelayanan dengan berkurangnya prosedur diagnosis dan rujukan. Roter (2006) meneliti pengaruh latihan keahlian berkomunikasi terhadap proses dan outcome perawatan yang berkaitan dengan distress emosi pasien, menemukan bahwa semakin baik keahlian dokter dalam berkomunikasi berhubungan dengan penurunan distress emosional pasien. Komunikasi yang lebih baik antara dokter dan pasien menunjukkan hubungan emosional dan kesehatan fisik yang lebih baik, penurunan gejala yang lebih bermakna dan kontrol yang lebih baik pada penyakit kronis yang meliputi tekanan darah, kadar glukosa darah dan kontrol nyeri yang lebih baik (Stewart, 1999; Stewart, 2000b).
Komunikasi dokter-pasien yang efektif adalah terciptanya rasa nyaman dengan terapi medis yang diberikan dokter pada pasien. Faktor perilaku dokter terhadap pasiennya, kemampuan dokter untuk mendapatkan dan menghormati perhatian pasien, tersedianya informasi yang tepat dan timbulnya empati serta mem¬bangun kepercayaan pasien ternyata merupakan kunci yang menentu¬kan dalam kenyamanan yang baik dengan terapi medis pada pasien. Sikap empati yang ditunjukkan oleh dokter kepada pasien akan menumbuhkan rasa kepercayaan pasien kepada dokter¬nya yang kemudian dapat menimbulkan kepuasan dan kepatuhan pasien pada pengobatan (Kim et al., 2004). Komunikasi dokter-pasien yang efektif ditandai dengan adanya proses yang interaktif antara dokter dan pasien, dimana terjadi penyampaian informasi yang timbal balik antara dokter dan pasien secara efektif baik secara verbal maupun non verbal (Ali MM et al., 2006b). Komunikasi yang kolaboratif, proaktif dan menghargai pendapat pasien dalam pengambilan keputusan medis serta ternyata dapat membawa efek yang baik bagi outcome pengobatan (Naik et al., 2008). Sebuah penelitian di Korea menyimpulkan bahwa pasien akan mempunyai pandangan negatif terhadap dokternya jika dokter mempunyai gaya komunikasi yang dominan terhadap pasien dan tidak memberi kesempatan bagi pasien untuk mengemukakan pandangannya tentang suatu rencana terapi (Kim et al, 2008).
Saat ini diketahui bahwa terdapat beberapa pendekatan yang berbeda dalam mengambil keputusan terapi terhadap pasien, yaitu: pendekatan paternalistik, berbagi dan informatif (konsumeris). Masing-masing memiliki implikasi yang berbeda dalam peran dokter terhadap pasien dalam hal mengkomunikasikan informasi dan untuk tipe, jumlah dan arus informasi diantara keduanya.
Dokter yang mengadopsi pendekatan paternalistik kurang memiliki ketertarikan dalam diskusi dan mendapatkan perhatian pasien. Dokter tipe ini seringkali menginginkan deskripsi gejala fisik yang singkat sehingga mereka dapat mengubahnya menjadi kategori diagnostik. Tipe murni pendekatan dokter semacam ini dapat kemudian membuat suatu keputusan terapi yang menurut mereka terbaik untuk pasien tanpa harus mengetahui nilai dan perhatian masing-masing pasien.
Dokter yang menggunakan pendekatan informatif terhadap pasien mengacu pada suatu peran yang lebih aktif dalam menemu¬kan masalah pasien dan menentukan terapi yang tepat. Tipe murni peran dokter dalam pendekatan tipe ini meliputi kesediaaan infor¬masi penelitian yang relevan mengenai pilihan terapi beserta ke¬untungan dan risiko terapi sehingga pasien dapat membuat keputusan yang jelas. Hanya pada pendekatan berbagi, dokter ber¬komitmen kepada dirinya sendiri kepada suatu hubungan interaktif dengan pasien dalam membangun suatu rekomendasi terapi yang konsisten dengan nilai dan pilihan pasien. Untuk menciptakan hal ini terjadi, dokter harus membuat suatu atmosfer terbuka dimana pasien dapat mengkomunikasikan semua hal yang ada dalam agenda mereka. Pendekatan ini memberikan pertukaran informasi yang membantu dokter memahami pasien dan meyakinkan bahwa pasien diberikan informasi pilihan terapi beserta risiko dan ke¬un¬tungannya. Hal tersebut juga memudahkan pasien untuk menge¬tahui apakah mereka merasa bahwa mereka dapat membangun suatu hubungan kepercayaan dengan dokternya.

Komunikasi Dokter-Masyarakat dan Perubahan Perilaku Kesehatan

Seorang dokter juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam kesehatan masyarakat. Seorang dokter yang ideal salah satunya harus mampu berlaku sebagai komunikator yang melakukan persuasi kepada individu, keluarga dan masyarakat untuk melaksanakan gaya hidup yang sehat dan menjadi mitra dalam program kesehatan (Boelen, 1994).
Upaya untuk melakukan perubahan perilaku kesehatan dalam bentuk kegiatan-kegiatan promosi kesehatan yang telah lama di¬gagas sejak Konferensi Ottawa tahun 1986 tetaplah relevan dengan permasalahan saat ini. Sudah banyak studi yang menyimpulkan bahwa penyakit-penyakit tidak menular dan penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Penanganan penyakit-penyakit kronis tersebut mem¬butuh¬kan penanganan dengan pendekatan integratif, mulai dari aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif sejak di tingkat pelayanan kesehatan primer (Beaglehole R. et al., 2008). Oleh karena itu, seorang dokter harus ikut serta pula dalam membangun mediasi dan advokasi kesehatan dengan melibatkan masyarakat selain harus mampu menangani kesehatan individual (Liliweri A, 2008).
Perkembangan media pada dewasa ini sangat potensial untuk menunjang peran dokter sebagai komunikator. Di berbagai negara telah tumbuh berbagai ragam intervensi untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat. Salah satu bentuk intervensi tersebut adalah konseling kepada pasien, baik secara langsung maupun melalui media interpersonal tertentu misalnya telepon dan email. Suatu projek pilot untuk mengubah perilaku diet untuk mengurangi risiko penyakit kronis menunjukkan bahwa konseling lewat telepon (delapan kali konseling) dapat mengubah perilaku pasien untuk mengkonsumsi sayur dan buah lebih banyak (Newman VA et al. 2008).
Dewasa ini kita dapat menjumpai berbagai tayangan konsul¬tasi kesehatan dengan berbagai topik di media cetak seperti surat kabar, radio maupun televisi pemerintah maupun swasta. Pengaruh media terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat memang luar biasa. Sebuah penelitian di India menyimpulkan adanya kenaikan kesadaran masyarakat tentang penyakit Glaukoma setelah ada intervensi kampanye edukasi kesehatan lewat televisi, media cetak dan radio lokal (Baker et al., 2008). Demikian halnya kajian yang dilakukan oleh Bertrand et al. (2006) menyimpulkan bahwa edukasi kepada masyarakat lewat media massa televisi ternyata mempunyai dampak positif untuk meningkatkan penge¬tahuan tentang penularan HIV, meningkatkan penggunaan kondom, memperbaiki norma-norma sosial di antara kaum muda, mengu¬rangi risiko tinggi perilaku seksual  dan meningkatkan kesadaran di kalangan para petugas kesehatan sendiri (Bertrand et al., 2006a).

Komunikasi dan Pendidikan Kedokteran Masa Kini
Sosok dokter diharapkan memiliki ciri profesionalisme yang melekat pada dirinya yakni kejujuran, integritas, kepedulian terhada pasien serta sopan santun kepada pasien. Karena itulah, saat ini Konsil Kedokteran Indonesia telah memasukkan komuni¬kasi sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai dokter di Indonesia (Ali MM et al., 2006).
Sudah selayaknya bahwa mahasiswa kedokteran khususnya di Universitas Sebelas Maret dididik untuk menjadi dokter yang mempunyai kompentensi komunikasi yang baik. Mereka harus menjadi manusia yang memiliki empati, selain memiliki moral, etika dan logika yang baik serta ilmu pengetahuan yang mutakhir. Kompetensi komunikasi mencakup komunikasi interpersonal dokter dan pasien misalnya dalam bentuk konseling maupun komunikasi kepada sasaran yang lebih luas (kelompok masyarakat). Untuk itulah, di Fakultas Kedokteran UNS telah mulai memberikan pem¬belajaran kompetensi komunikasi dalam kegiatan laboratorium keterampilan medik (skills lab) yang terintegrasi dalam kurikulum berbasis kompetensi. Semoga hal ini adalah awal yang baik untuk terciptanya dokter yang profesional di masa mendatang.

Komunikasi Dokter dengan Sejawat

Pertumbuhan pengetahuan ilmiah yang berkembang pesat disertai aplikasi klinisnya membuat pengobatan menjadi kompleks. Dokter secara individu tidak bisa menjadi ahli untuk semua penyakit yang diderita oleh pasiennya, sedangkan perawatan tetap harus diberikan sehingga membutuhkan bantuan dokter spesialis lain dan profesi kesehatan yang memiliki keterampilan khusus seperti perawat, ahli farmasi, fisioterapis, teknisi laboratorium, pekerja social dan lainnya.
Seorang dokter sebagai anggota profesi kesehatan, diharap¬kan memperlakukan profesi kesehatan lain lebih sebagai anggota keluarga dibandingkan sebagai orang lain, bahkan sebagai teman. Deklarasi Geneva dari WMA juga memuat janji: ”Kolega saya akan menjadi saudara saya”. Interpretasi janji ini bervariasi dari satu negara dan negara lain sepanjang waktu.
Dalam tradisi etika kedokteran Hippocrates, dokter memiliki hutang penghargaan khusus terhadap guru mereka. Deklarasi Geneva menyatakan: ”Saya akan memberikan guru saya peng¬hormatan dan terima kasih yang merupakan hak mereka”.
Sebagai balasan atas kehormatan yang diberikan masyarakat dan kepercayaan yang diberikan oleh pasien, maka profesi kesehatan harus membangun standar perilaku yang tinggi untuk anggotanya dan prosedur pendisiplinan dalam menyelidiki tuduhan adanya tindakan yang tidak benar dan jika perlu menghukum yang berbuat salah. Kewajiban untuk melaporkan kolega yang melaku¬kan tindakan yang tidak kompeten, mencelakakan, perbuatan tidak senonoh ditekankan dalam Kode Etik Kedokteran Internasional yang dikeluarkan oleh WMA menyatakan: ”Dokter harus berusaha keras untuk menyatakan kekurangan karakter dan kompetensi dokter ataupun yang terlibat dalam penipuan atau kecurangan”. Penerapan prinsip ini tidaklah mudah, di satu sisi seorang dokter mungkin menyerang reputasi koleganya karena motif yang tidak benar seperti karena rasa iri atau terhina oleh koleganya. Dokter juga merasa sungkan atau ragu untuk melaporkan tindakan koleganya yang tidak benar karena simpati atau persahabatan. Konsekuensi pelaporan tersebut dapat berakibat kurang baik bagi yang melapor, yang tertuduh atau bahkan dari kolega lain.

Kerjasama Dokter Dengan Sejawat Menurut KKI

1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harus me¬rujuk pasien pada sejawat lain untuk mendapatkan saran, pemerik¬saan atau tindakan lanjutan. Bagi dokter yang menerima rujukan, sesuai dengan etika profesi, wajib menjawab/memberikan advis tindakan akan terapi dan mengembalikannya kepada dokter yang merujuk. Dalam keadaan tertentu dokter penerima rujukan dapat melakukan tindakan atau perawatan lanjutan dengan persetujuan dokter yang merujuk dan pasien. Setelah selesai perawatan dokter  rujukan mengirim kembali kepada dokter yang merujuk.
Pada pasien rawat inap, sejak awal pengambilan kesimpulan sementara, dokter dapat menyampaikan kepada pasien kemungkin¬an untuk dirujuk kepada sejawat lain karena alasan kompetensi. Rujukan dimaksud dapat bersifat advis, rawat bersama atau alih rawat. Pada saat meminta persetujuan pasien untuk dirujuk, dokter harus memberi penjelasan tentang alasan, tujuan dan konsekuensi rujukan termasuk biaya, seluruh usaha ditujukan untuk kepentingan pasien. Pasien berhak memilih dokter rujukan, dan dalam rawat bersama harus ditetapkan dokter penanggung jawab utama.
Dokter yang merujuk dan dokter penerima rujukan, harus mengungkapkan segala informasi tentang kondisi pasien yang relevan dan disampaikan secara tertulis serta bersifat rahasia.
Jika dokter memberi pengobatan dan nasihat kepada seorang pasien yang diketahui sedang dalam perawatan dokter lain, maka dokter yang memeriksa harus menginformasikan kepada dokter pasien tersebut tentang hasil pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan penting lainnya demi kepentingan pasien.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda¬kan jenis kelamin, ras, kecacatan, agama/kepercayaan, usia, status social atau perbedaan kompetensi yang dapat merugikan hubungan profesional antar sejawat.
Seorang dokter tidak dibenarkan mengkritik teman sejawat melalui pasien yang mengakibatkan turunnya kredibilitas sejawat tersebut. Selain itu tidak dibenarkan seorang dokter memberi komentar tentang suatu kasus, bila tidak pernah memeriksa atau merawat secara langsung.

3. Bekerjasama dalam tim
Asuhan kesehatan selalu ditingkatkan melalui kerjasama dalam tim multidisiplin. Apabila bekerja dalam sebuah tim, dokter harus :
a.    Menunjuk ketua tim selaku penanggung jawab
b.    Tidak boleh mengubah akuntabilitas pribadi dalam perilaku keprofesian dan asuhan yang diberikan
c.    Menghargai kompetensi dan kontribusi anggota tim
d.    Memelihara hubungan profesional dengan pasien
e.    Berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim di dalam dan di luar tim
f.    Memastikan agar pasien dan anggota tim mengetahui dan memahami siapa yang bertanggung jawab untuk setiap aspek pelayanan pasien
g.    Berpartisipasi dalam review secara teratur, audit dari standar dan kinerja tim, serta menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja dan kekurangan tim
h.    Menghadapi masalah kinerja dalam pelaksanaan kerja tim dilakukan secara terbuka dan sportif.
4. Memimpin tim
Dalam memimpin sebuah tim, seorang dokter harus memasti¬kan bahwa :
a.    Anggota tim telah mengacu pada seluruh acuan yang ber¬kaitan dengan pelaksanaan dan pelayanan kedokteran
b.    Anggota tim telah memenuhi kebutuhan pelayanan pasien
c.    Anggota tim telah memahami tanggung jawab individu dan tanggung jawab tim untuk keselamatan pasien. Selanjutnya, secara terbuka dan bijak mencatat serta mendiskusikan permasalahan yang dihadapi
d.    Acuan dari profesi lain dipertimbangkan untuk kepentingan pasien
e.    Setiap asuhan pasien telah terkoordinasi secara benar, dan setiap pasien harus tahu siapa yang harus dihubungi apabila ada pertanyaan atau kekhawatiran
f.    Pengaturan dan pertanggungjawaban pembiayaan sudah ter¬sedia
g.    Pemantauan dan evaluasi serta tindak lanjut dari audit standar pelayanan kedokteran dan audit pelaksanaan tim dijalankan secara berkala dan setiap kekurangan harus diselesaikan segera
h.    Sistem sudah disiapkan agar koordinasi untuk mengatasi setiap permasalahan dalam kinerja, perilaku atau keselamatan anggota tim dapat tercapai
i.    Selalu mempertahankan dan meningkatkan praktek kedok¬ter¬an yang benar dan baik.

5. Mengatur dokter pengganti
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter pengganti serta mengatur proses pengalihan yang efektif dan komunikatif dengan dokter pengganti. Dokter pengganti harus diinformasikan kepada pasien.
Dokter harus memastikan bahwa dokter pengganti mem¬punyai kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan keahlian untuk mengerjakan tugasnya sebagai dokter pengganti. Dokter pengganti harus tetap bertanggung jawab kepada dokter yang digantikan atau ketua tim dalam asuhan medis.

6. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerja pada institusi pelayanan/ pendidikan kedokteran harus mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk sebagai dokter pengganti.
Dokter penanggung jawab tim harus memastikan bahwa pasien atau keluarga pasien mengetahui informasi tentang diri pasien akan disampaikan kepada seluruh anggota tim yang akan memberi perawatan. Jika pasien menolak penyampaian informasi tersebut, dokter penanggung jawab tim harus menjelaskan kepada pasien keuntungan bertukar informasi dalam pelayanan kedokteran.

7. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, mahasiswa kedok¬ter¬an, peserta program pendidikan dokter spesialis, atau dokter pengganti dalam hal pengobatan atau perawatan atas nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam melak¬sanakan prosedur dan pemberian terapi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dokter yang mendelegasikan tetap menjadi penang¬gung jawab atas penanganan pasien secara keseluruhan.

Hubungan dan kinerja teman sejawat
Seorang dokter harus melindungi pasien dari risiko diciderai oleh teman sejawat lain, kinerja maupun kesehatan. Keselamatan pasien harus diutamakan setiap saat. Jika seorang dokter memiliki kekhawatiran bahwa teman sejawatnya tidak dalam keadaan fit untuk praktek, dokter tersebut harus mengambil langkah yang tepat tanpa penundaan, kemudian kekhawatiran tersebut ditelaah dan pasien terlindungi bila diperlukan. Hal ini berarti seorang dokter harus memberikan penjelasan yang jujur mengenai kekhawatiran terhadap seseorang dari tempat ia bekerja dan mengikuti prosedur yang berlaku.
Jika sistem setempat tidak memadai atau sistem setempat tidak dapat menyelesaikan masalah dan seorang dokter masih mengkhawatirkan mengenai keselamatan pasien, maka dokter harus menginformasikan badan pengatur terkait.

Menghormati teman sejawat
Seorang dokter harus memperlakukan teman sejawatnya dengan adil dan rasa hormat. Seorang dokter tidak boleh memper¬main¬kan atau mempermalukan teman sejawatnya, atau mendiskri¬minasikan teman sejawatnya dengan tidak adil.
Seorang dokter harus tidak memberikan kritik yang tidak wajar atau tidak berdasar kepada teman sejawatnya yang dapat mempengaruhi kepercayaan pasien dalam perawatan atau terapi yang sedang dijalankan, atau dalam keputusan terapi pasien.

Berbagi informasi dengan teman sejawat
Berbagi informasi dengan teman sejawat lain sangatlah pen¬ting untuk keselamatan dan keefektifan perawatan pasien. Ketika seorang dokter merujuk pasien, dokter tersebut harus memberikan semua informasi yang relevan mengenai pasiennya, termasuk riwayat medis dan kondisi saat itu.
Jika seorang dokter spesialis memberikan terapi atau saran untuk seorang pasien kepada dokter umum, maka ia harus mem¬beritahu hasil pemeriksaan, terapi yang diberikan dan informasi penting lainnya kepada dokter yang ditunjuk untuk kelangsungan perawatan pasien, kecuali pasien tersebut menolak.
Jika seorang pasien belum dirujuk dari dokter umum kepada dokter spesialis, dokter spesialis tersebut harus menanyakan kepastian pasien tersebut untuk memberitahu dokter umumnya sebelum memulai terapi, kecuali dalam keadaan gawat darurat atau saat keadaan yang tidak memungkinkan. Jika dokter spesialis tersebut tidak memberitahu dokter umum yang merawat pasien tersebut, dokter spesialis tersebut harus bertanggung jawab untuk menyediakan atau merencanakan semua kebutuhan perawatan.

Para hadirin yang saya hormati,

Praktek Kedokteran yang Baik

Semua pasien berhak atas standar praktek dan perawatan yang baik dari dokter. Elemen penting terkandung didalamnya ialah kompetensi profesional; hubungan erat dengan pasien dan sejawat serta kewajiban mengikuti kode etik kedokteran

Perawatan Klinis yang Baik

Standar praktek dan perawatan yang baik
1.    Perawatan klinis yang baik harus meliputi
o    penilaian adekuat kondisi pasien sesuai keluhan/gejala, jika perlu, dilakukan pemeriksaan yang tepat
o    merencanakan dan memberikan pemeriksaan atau penata¬laksanaan jika diperlukan
o    melakukan tindakan yang sesuai / tepat jika perlu
o    merujuk pasien ke dokter lebih ahli sesuai indikasi
2.    Dalam melakukan penanganan, dokter harus:
o    bekerja dalam batas kompetensi profesional
o    bersedia melakukan konsultasi dengan sejawat
o    bekerja kompeten dalam menegakkan diagnosis, memberikan dan merencanakan penatalaksanaan
o    menjaga rekam medis pasien tetap jelas, akurat, dan dapat dibaca dalam melaporkan hasil pemeriksaan klinis, keputusan yang diambil, informasi dan penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien.
o    mengupayakan sejawat mendapatkan informasi berkesinam¬bung¬an saat melakukan rawat bersama.
o    melakukan tindakan untuk menekan rasa sakit atau distress pasien bila terapi kuratif tidak memungkinkan
o    meresepkan obat dan melakukan penatalaksanaan hanya bila¬mana mengetahui keadaan dan kebutuhan pasien. Sebaiknya tidak merekomendasikan pemeriksaan atau penatalaksanaan yang tidak perlu kepada pasien dan tidak menunda penata¬laksanaan yang tepat maupun merujuk pasien.
o    melaporkan reaksi obat yang merugikan dan bekerjasama memenuhi permintaan informasi dan organisasi yang memantau kesehatan masyarakat
o    mendayagunakan fasilitas kedokteran yang tersedia seefisien mungkin
3.    Jika dokter memiliki alasan bahwa kemampuannya dalam me¬nangani pasien terganggu akibat peralatan atau fasilitas yang tidak adekuat, maka harus diambil tindakan yang tepat. Dokter harus memperhatikan tanggung-jawabnya dan mengambil langkah untuk memecahkan masalah tersebut
4.    Pemeriksaan atau penatalaksanaan yang diberikan atau direncana¬kan oleh dokter harus didasarkan atas penilalan klinis akan ke¬butuhan pasien dan tingkat efektivitas penatalaksanaan. Dokter hendaknya tidak mengikuti pandangan “gaya hidup, budaya, keper¬cayaan, suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, seksualitas, kekurangan, usia, status ekonomi/sosial” pasien dalam menentukan penatalaksanaan yang akan diberikan/direncanakan. Dokter tidak boleh membatalkan atau menunda penatalaksanaan karena meng¬anggap tindakan pasien sebagai penyebab kondisinya.
5.    Jika dokter meyakini bahwa kepercayaannya dapat mempengaruhi nasehat atau penatalaksanaan, maka dokter sebaiknya menjelas¬kan permasalahannya kepada pasien dan menyarankan bahwa pasien memiliki hak berobat ke dokter lain
6.     Dokter harus menekankan prioritas pemeriksaan dan penatalak¬sanaan pasien berdasarkan kebutuhan klinis.

7.    Dokter tidak boleh menolak memberikan tatalaksana kepada pasien yang dinilai mendatangkan risiko bagi dokter. Jika keadaan pasien berisiko bagi kesehatan atau keamanan dokter maka dokter harus mengambil tindakan untuk melindungi diri sendiri sebelum melaku¬kan pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien.

Penatalaksanaan dalam kegawatdaruratan
Dalam keadaan gawat darurat, dimanapun terjadi, seorang dokter harus mencari orang yang dapat membantunya dalam memberikan per¬tolongan sesuai dengan prosedur.

Menjaga praktek kedokteran yang baik
Mengikuti kemajuan dunia kedokteran

  1. Setiap dokter harus meningkatkan keilmuan dan keahliannya sesuai dengan perkembangan ilmu. Dokter harus berpartisipasi secara teratur dalam kegiatan edukasi untuk mempertahankan dan mengembangkan kompetensi dan kemampuannya.
  2. Praktek kedokteran diatur oleh hukum dan etika kedokteran. Oleh sebab itu seorang dokter juga harus mengikuti perkembangan dunia hukum terkait dan kode etik kedokteran.

Menjaga Kemampuan
Seorang dokter harus bekerja dengan sejawat dalam mengawasi dan menjaga kualitas perawatan yang diberikan dengan menitikberatkan pada keselamatan pasien. Secara garis besar seorang dokter harus:

  1. berpartisipasi dalam audit kedokteran dan klinis secara teratur dan sistematik sesuai data yang ada. Jika perlu, dokter harus merespon hasil audit dengan meningkatkan kemampuan diri misal lebih banyak mengikuti pelatihan
  2. memberikan respon membangun terhadap hasil tinjauan, penilaian atau pengharapan akan kemampuan seorang dokter
  3. berpartisipasi dalam pertemuan dan melaporkan upaya menekan risiko pasien

Hubungan Dengan Pasien

Meminta persetujuan pasien (Informed Consent)
Dokter harus menghargai hak pasien untuk terlibat penuh dalam pengambilan keputusan. Jika perlu, dokter harus menjelaskan apa dan mengapa yang akan dilakukan, risiko atau efek samping bermakna terkait dan meminta persetujuan sebelum memeriksa keadaan pasien atau memberikan penatalaksanaan.

Menghormati kerahasiaan pasien
1.    Dokter harus merahasiakan informasi keadaan pasien. Dalam kondisi pengecualian, dibutuhkan alasan tepat untuk memberikan informasi tanpa persetujuan pasien dan harus mengikuti panduan yang ada serta bersiap untuk mempertanggungjawabkan keputusan tersebut terhadap pasien dan pengadilan.
2.    Keberhasilan hubungan dokter-pasien tergantung pada keperca¬yaan. Untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan, seorang dokter harus
o    jujur, penuh pertimbangan dan kebenaran
o    menghormati privasi dan martabat pasien
o    menghormati hak pasien membatalkan partisipasinya dalam pendidikan/penelitian dan memastikan penolakannya tidak berdampak merugikan hubungan dokter-pasien.
o    menghormati hak pasien mencari pendapat kedua
o    sedia setiap saat untuk dihubungi oleh pasien atau sejawat ketika sedang bertugas
3.    Dokter tidak boleh membiarkan kepercayaan yang diberikan pasien rusak akibat hubungan pribadi. Dokter tidak boleh menggunakan posisi profesinya untuk membangun hubungan emosional atau seksual yang tidak tepat dengan pasien atau seseorang yang dekat dengannya
Komunikasi Yang Baik

1.    Komunikasi yang baik pasien dan dokter sangat penting demi penatalaksanaan efektif dan hubungan kepercayaan. Komunikasi yang baik meliputi:
o    mendengarkan keluhan pasien dan menghormati pandangan dan kepercayaannya.
o    memberi informasi yang dibutuhkan pasien mengenai ke¬adaan, terapi dan prognosis dalam bahasa yang dapat di¬pahami pasien termasuk obat yang akan diresepkan, infor¬masi efek samping serius dan dosis yang tepat.
o    memberi informasi kepada suami/istri pasien, kerabat dekat atau perawatnya memerlukan ijin pasien terlebih dahulu. Bila pasien tidak dapat memberikan ijinnya, maka dokter seharus¬nya memberi informasi hanya pada kerabat dekat pasien kecuali dokter percaya bahwa pasien tidak akan berkeberatan.
2.    Jika pasien dalam perawatan dokter menghadapi bahaya, maka dokter harus bertindak tepat mengatasi masalah. Dokter harus menjelaskan selengkap dan sejelas mungkin apa yang telah terjadi dan kemungkinan efek jangka pendek maupun panjang kepada pasien. Jika perlu, dokter harus meminta maaf. Jika pasien adalah orang dewasa yang tidak memenuhi kapasitas tersebut, maka penjelasan harus diberikan pada seseorang yang bertanggung¬jawab kepada pasien, atau suami/istri pasien, kerabat dekat/ teman yang mengikuti penanganan pasien kecuali dokter percaya bahwa pasien tidak akan berkeberatan.
3.    Jika seorang anak dalam penanganan dokter meninggal dunia maka dokter tersebut harus memberikan penjelasan terbaik sesuai keilmuannya, alasan dan ruang lingkup kematian pasien kepada orang tuanya. Demikian pula pada orang dewasa, dokter harus memberikan informasi kepada suami/isteri pasien, kerabat dekat atau teman yang terlibat dalam penanganan pasien.

Memutuskan Hubungan Profesional dengan Pasien

  1. Kadangkala, dalam keadaan tertentu dimana pasien bertindak kasar terhadap dokter atau sejawatnya atau terus bertindak tanpa pertimbangan/alasan yang merusak kepercayaan dokter dan pasien maka dokter menganggap perlu untuk memutuskan hubungan profesional dengan pasien. Pada keadaan ini, dokter harus meng¬ambil keputusan yang adil dan siap memper¬tanggungjawabkan keputusan tersebut. Dokter tidak boleh meng¬akhiri hubungan dengan pasien karena pasien mengeluhkan kinerja dokter/karena pengaruh finansial penatalaksanaan pasien dalam praktek kedok¬teran.
  2. Dokter harus memberikan informasi kepada pasien baik secara langsung maupun tertulis mengenai alasan mengakhiri hubungan profesionalnya. Dokter harus mengambil langkah untuk memasti¬kan bahwa perencanaaan alih rawat berkesinambungan pasien telah dibuat dan mengalihkan rekam medis pasien pada dokter lain sedini mungkin

Menghadapi Permasalahan Praktek Profesional

Kemampuan sejawat

  1. Dokter harus melindungi pasien dan risiko terpajan bahaya oleh dokter atau praktisi kesehatan lainnya.
  2. Jika dokter meyakini bahwa dokter/praktisi kesehatan lainnya berisiko terhadap pasien, maka dokter tersebut harus memberikan penjelasan yang jujur pada individu tersebut untuk mengikuti prosedur.
  3. Bila memiliki tanggung-jawab penatalaksanaan, dokter harus me¬mastikan bahwa mekanisme telah berjalan sebagaimana mestinya sehingga sejawat dapat lebih memahami risiko terhadap pasien.

Keluhan dan permohonan formal

  1. Pasien mengeluhkan penanganan/penatalaksanaan yang ia terima berhak mendapat respon terbuka, membangun dan jujur meliputi penjelasan mengenai apa yang telah terjadi dan permohonan maaf. Dokter tidak boleh membiarkan keluhan pasien mengganggu penanganan atau penatalaksanaan.
  2. Dokter harus bekerjasama penuh dalam penanganan pasien dan membuka diri terhadap sejumlah keluhan yang disampaikan. Dokter harus memberikan informasi relevan kepada pihak yang berkepentingan dalam penilaian profesi dokter dan sejawatnya, terkait perilaku, kemampuan dan kesehatan.
  3. Jika dokter bebas tugas dan bagian atau dilarang melakukan praktek terkait kemampuan atau perilaku, wajib melaporkan tempat bekerjanya.

Bekerja dengan Sejawat

Memperlakukan sejawat dengan adil

  1. Dokter harus bertindak adil dengan sejawat. Sesuai hukum berlaku, tidak boleh ada diskriminasi terhadap sejawat dan segi apapun seperti jenis kelamin, suku bangsa dan kekurangannya. Dokter juga tidak boleh membiarkan perbedaan ini mempengaruhi hubungan profesionalnya.
  2. Dokter tidak boleh merusak kepercayaan pasien akan penanganan atau penatalaksanaan yang diterima atau dengan menyalahkan dokter lain yang memberikan terapi karena rasa dengki atau dengan memberikan kritik yang tidak mendasar.

Berbagi Informasi dengan Sejawat

  1. Sesuai harapan pasien akan dokter, seorang dokter, biasanya dokter umum harus dapat memberikan informasi sepenuhnya dan bertanggung jawab untuk menjaga kelanjutan penanganan medis pasien.
  2. Dokter harus memastikan bahwa pasien mengetahui bagaimana informasi disebarkan dalam tim dan kepada siapa saja yang akan melakukan penanganan. Jika pasien berkeberatan maka dokter harus menjelaskan manfaat informasi itu disebarkan dalam tim, tetapi dokter tidak boleh memaksa jika pasien bersikeras.
  3. Saat akan merujuk pasien, dokter harus memberikan semua infor¬masi yang relevan mengenai riwayat perjalanan penyakit pasien dan kondisi terkini
  4. Jika anda memberikan penatalaksanaan atau nasehat kepada pasien tetapi bukan dokter pribadi pasien, seharusnya anda memberitahu dokter yang menangani pasien mengenai basil pemeriksaan dan terapi yang diberikan serta informasi penting untuk kelanjutan penanganan pasien kecuali pasien merasa keberatan. Jika pasien tidak dirujuk kepada anda oleh dokter umum, maka anda harus menginformasikan dokter umum sebelum memulai penatalak¬sana¬an kecuali dalam keadaan gawat darurat. Jika anda tidak memberi¬tahu dokter yang menangani pasien sebelum atau sesudah mem¬berikan terapi maka anda harus bertanggungjawab untuk mem¬berikan dan merencanakan seluruh tindak lanjut pasien hingga ada dokter yang mengambil alih perawatan pasien.

Delegasi dan Rujukan

  1. Delegasi meliputi permintaan kepada perawat, dokter, dokter muda atau praktisi kesehatan lainnya untuk memberikan penatalak¬sanaan atas perkenan dokter. Saat mendelegasikan penanganan/ penatalaksanaan, dokter harus memastikan bahwa orang yang menerima delegasi tersebut memiliki kompetensi untuk menjalan¬kan prosedur / memberikan terapi. Dokter harus selalu memantau informasi terbaru mengenai pasien dan penatalaksanaan yang diberikan. Apapun yang terjadi, dokter tersebut harus bertanggung jawab akan keseluruhan penatalaksanaan yang diberikan.
  2. Rujukan meliputi transfer sebagian atau seluruh tanggung jawab penanganan pasien, biasanya bersifat sementara atau untuk tujuan tertentu misalnya pemeriksaan tambahan, penanganan atau penatalaksanaan yang berada diluar kompetensinya. Biasanya seorang dokter akan merujuk pada dokter lainnya yang lebih berkompetensi.

Penutup

Dalam menjalankan perannya di masyarakat, seorang dokter perlu mempunyai kompetensi komunikasi baik kepada pasien maupun pada masyarakat luas. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien sangatlah penting dan memiliki berbagai dampak pada berbagai aspek outcome kesehatan. Dampak tersebut meliputi outcome kesehatan yang lebih baik, kenyamanan yang lebih tinggi terhadap rejimen terapi pada pasien, kepuasan yang lebih tinggi pada pasien dan dokter serta penurunan risiko malpraktek. Selain komunikasi dokter dan pasien di aspek kuratif dan rehabilitatif, komunikasi dokter dengan pasien serta masyarakat luas dalam hal preventif dan promotif semakin dibutuhkan dewasa ini dengan semakin tingginya masalah kesehatan yang terkait dengan perilaku kesehatan.

قُل لَّوۡ كَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَ بِمِثۡلِهِ مَدَد
Katakanlah (wahai Muhammad): Kalaulah semua jenis lautan menjadi tinta untuk menulis Kalimah-kalimah Tuhanku, sudah tentu akan habis kering lautan itu sebelum habis Kalimah-kalimah Tuhanku, walaupun Kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya, sebagai bantuan. (Q.S. Al-Kahfi: 109)
وَقُل رَّبِّ أَنزِلۡنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيۡرُ الۡمُنزِلِينَ
Dan berdoalah dengan berkata: Wahai Tuhanku, turunkanlah daku di tempat turun yang berkat dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi tempat. (Q.S. Al-Mukminun:29)
DAFTAR PUSTAKA

Ali MM, Sidi IPS, Hadad T, Adam K, Rafly A, Sampurna B. Kemitraan dalam hubungan dokter-pasien. Konsil Kedok¬teran Indonesia. Jakarta. 2006a.h. 9-22.
Ali MM, Sidi IPS, Hadad T, Adam K, Rafly A, Zahir H et al. Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2006b. h 1-10.
Baker H, Murdoch IE. Can a public health intervention improve awareness and health-seeking behaviour for glaucoma.            Br J Ophthalmol 2008; 92(12):1671-1675.
Beaglehole R, Epping-Jordan J, Patel V, Chopra M, Ebrahim S, Kidd M. et al. Improving the prevention and management of chronic disease in low-income and middle-income countries: a priority for primary health care. Lancet 2008;372 (9642): 940-949
Beisecker AE. Patient Power in Doctor-Patient Communication: what do we know?. Health communication 1990; 2(2): 105-122.
Bertrand JT, Anhang R. The effectiveness of mass media in changing HIV/AIDS-related behaviour among young people in developing countries. World Health Organ Tech Rep Ser 2006; 938:205-241.
Bertrand JT, O’Reilly K, Denison J, Anhang R, Sweat M. Systematic review of the effectivenees of mass communication programs to change HIV-AIDS related behaviours in developing countries. Health Educ Res 2006; 21 (4): 567-597.
Ikatan Dokter Indonesia. Perubahan Perilaku Fokus Utama Pembangunan Bidang Kesehatan. http:// www.depkominfo. go.id/2007/06/12/perubahan-perilaku-fokus-utama-pembangunan-kesehatan.html (diakses 20 Februari 2009)
Kim SS, Park BK. Patient-perceived communication styles of physicians in rehabilitation: the effect on patient satisfaction and compliance in Korea. Am J Phys Med Rehabil 2008; 87(12):998-1005.
Lee YY, Lin JL. Linking patients’s trust in physicians to health outcomes. Br J Hosp Med (Lond) 2008; 69 (1):42-46.
Levinson W. In context: physician-patient communication and managed care. J Med Pract Manage 1999; 14(5): 226-230.
Liliweri A. Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008. h. 2-22.
Naik AD, Kallen MA, Walder A, Street RL Jr. Circulation 2008; 117(11): 1361-1368
Newman VA, Flatt SW, Pierce JP. Telephone counseling promotes dietary change in healthy adults: results of a pilot trial. J Am Diet Assoc 2008;108(8):1350-1354.
PDPERSI. Peran tenaga kesehatan masyarakat dalam mengubah perilaku masyarakat menuju hidup bersih dan sehat. http://lkpk.org/2007/01/31/peran-tenaga-kesehatan-masyarakat-dalam-mengubah-perilaku-masyarakat-menuju-hidup-bersih-dan-sehat.html (diakses 20 Februari 2009).
Rakhmat J. Psikologi komunikasi. Edisi revisi. Remaja Rosdakarya. Bandung. 1993. h. 129-36.

Roberts KJ. Physician-Patient Relationships, Patient Satisfaction, and Antiretroviral Medication Adherence Among HIV-Infected Adults Attending a Public Health Clinic. AIDS Patient Care and STDs. January 1, 2002, 16(1): 43-50. doi:10.1089/108729102753429398.
Roter DL, Frankel RM, Hall JA, Sluyter D. The expression of emotion through nonverbal behavior in medical visits. Mechanisms and outcomes. J Gen Intern Med 2006; 21 Suppl 1:S28-34
Steward M, Brown JB, Boon H, Galajda J, Meredith L, Sangster M. Evidence on patient-doctor communication. Cancer Prev Control 1999; 3(1): 25-30
Stewart M, Brown JB, Donner A, Mc Whinney IR, Oates J, Weston WW et al. The impact of patient-centered care on outcomes. J Fam Pract 2000a; 49(9): 796-804.
Stewart M, Meredith L, Brown JB, Galajda J. The influence of older patient-physician communication on health and health related outcomes. Clin Geriatr Med 2000b; 16(1): 25-36.
Thorne SE, Hislop TG, Armstrong EA, Oglov V. Cancer care communication: the power to harm and the power to heal? Patient Educ Couns 2008; 71(1):34-40.
Trummer UF, Mueller UO, Nowak P, Stidi T, Pelikan JM. Does physician-patient communication that aims at empowering patients improve clinical outcome? A case study. Patient Educ Couns 2006; 61(2):299-306.

MANIFESTASI KLINIS COW’S MILK PROTEIN ALLERGY PADA SALURAN GASTROINTESTINAL, DIAGNOSIS DAN TALAKSANA PADA ANAK

Oleh:
Prof. Dr. H. B. Subagyo, dr., Sp.A(K)

Bismillahirrahmanirrahiim
Yang saya hormati,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Guru Besar Tamu
Para Pejabat Sipil dan Militer
Para Dekan/Pimpinan Fakultas, Direktur Pascasarjana
Kepala Biro, Kepala UPT, Kepala Jurusan, Kepala Bagian serta Kepala Program Studi, Dosen/Staf pengajar, Staf Administrasi dan Mahasiswa serta seluruh pejabat di lingkungan Univer¬sitas Sebelas Maret Surakarta
Teman sejawat, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis, dan mahasiswa Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
Para Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Surakarta dan sekitarnya, Para Ketua Lembaga, Para Tamu Undangan, wartawan media masa yang meliput acara ini, sanak keluarga, handai taulan, serta hadirin sekalian yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Pada kesempatan ini, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, kita dapat berkumpul di ruangan ini untuk hadir pada Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam rangka pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak dengan judul:
MANIFESTASI KLINIS COW’S MILK PROTEIN  ALLERGY  PADA SALURAN GASTROINTESTINAL, DIAGNOSIS DAN TALAKSANA PADA ANAK

Diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang menempati 3 besar pada anak kelompok umur 2-3 tahun. Penyebab utama diare pada anak di bawah usia 2 sampai 3 tahun adalah virus rota. Etiologi diare lainnya adalah malabsorpsi, infeksi bakteri, infeksi parasit, virus. Penyebab yang sering dilupakan adalah adalah alergi makanan khususnya alergi air susu sapi.
Saat ini hangat dibicarakan tentang alergi susus sapi atau CMPA ( Cow’s Milk Protein Allergy). Ada beberapa  hal mengapa CMPA, perlu dibicarakan. Ada kesan kejadian CMPA meningkat. Beberapa alasan mengapa CMPA meningkat. Diantaranya bahwa adanya  teori higiene dimana manifestasi atopi meningkat sejalan meningkatnya sikap perilaku hidup sehat pada sebagian kelompok masyarakat. Di satu sisi kelompok anak sampai usia 2 sampai 3 tahun merupakan kelompok konsumen susu sapi. Pada kelompok usia tersebut enterosit belum matur, lapisan mukus mukosa yang juga belum sempurna. Jumlah SIgA belum cukup. Peran lain adalah faktor genetik (Damayanti W, 2007; Vandenplas, 2007). Pemahaman ilmu alergi imunologi semakin bertambah.
Atopi merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting, khususnya pada anak. Alergi makanan merupakan tantangan bagi klinisi, oleh karena tidak ada patognomonik untuk CMPA, gejala¬nya sangat bervariasi, dan tidak ada uji laboratorium tunggal untuk dapat mendiagnosis CMA. Diketahui lebih dari 20 macam makanan penyebab alergi. Penyebab alergi makanan yang sering disebut dalam literatur adalah: susu sapi, putih telur, ikan laut dan kacang (Sampson dan Leung, 2004). Jenis makanan lain penyebab alergi; coklat, kacang tanah, semangka, mentimun dan rambutan (Santosa, 1989).
Angka kejadian
Di negara Barat, diperkirakan atopi pada anak menempati sekitar 30% dari populasi (Vandenplas, 2007) Angka kejadian CMPA 1,1%-5,2% (Saarinen dkk, 1999; Egesbo dkk, 2001). Pada usia 2 tahun pertama, alergi makanan terjadi kurang lebih 6%. Empat puluh persen diantaranya adalah alergi non-IgE mediated. Alergi makanan dapat melibatkan berbagai organ target, baik di traktus gastrointestinal maupun diluar traktus gastrointestinalis (Wood, 2003)
Alergi makanan terjadi pada 0,5-1,6% anak yang minum ASI dan 2-5% pada yang minum susu sapi formula (CM). Penelitian  Marzuki dkk (2004)  menunjukkan prevalensi diare akibat CMPA sebesar 3%, sebenarnya sangat kecil apabila dibandingkan dengan diare akibat virus Rota pada usia yang sama, yang dapat mencapai lebih dari 60%.
Di sisi lain untuk mengurangi kejadian alergi, pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (EBM=exclusive breast feeding) merupakan nutrisi hipoalergenik yang dianjurkan. ASI khususnya kolustrum memacu maturasi sel mukosa saluran cerna.  ASI mengandung SIgA yang berfungsi menghalangi absorpsi antigen atau alergen.

Definisi alergi protein susu sapi (CMPA)
Istilah alergi protein susu sapi (CMPA) adalah reaksi terha¬dap susu sapi yang diperantarai respon imunologis. Respon terha¬dap susu sapi yang tidak diperantarai respon imun disebut into¬le¬ransi susu sapi.
Pada intoleransi makanan, penyebab reaksi yang timbul merupakan respon fisiologis abnormal terhadap makanan, misalnya intoleransi laktosa, reaksi terhadap toksin bakteri, malabsorpsi laktosa dll.
Respon imunologis susu sapi atau disebut CMPA, terdiri dari dua kelompok yaitu; pertama IgE-mediated, reaksi yang diper¬anta¬rai IgE yang terjadi sesaat atau beberapa jam setelah paparan dengan makanan. Kedua reaksi non-IgE mediated, tidak diper¬an¬ta¬rai IgE, terjadi lebih lama, mungkin sehari atau beberapa hari setelah paparan dengan makanan (Atkins, 2007; Sampson dan Leung, 2004). IgE-mediated CMPA, merupakan reaksi hipersensi¬tivitas tipe I, sedangkan respon imun yang tidak diperantarai IgE adalah reaksi hipersensitivitas tipe III (immun mediated) dan hipersensitivitas tipe IV (cell-mediated).

Imunopatologi hipersensitivitas
1.    Reaksi hipersensitivitas tipe I
Pada individu yang mempunyai predisposisi genetik, paparan antigen makanan menyebabkan produksi IgE. Pada usia penya¬pihan, apabila supresor sel T tidak berkembang, atau produksi IgA defisien pada saat lahir, maka terjadi proses lebih lanjut yang diawali ikatan IgE spesifik pada sel mast atau basofil. Pemaparan antigen spesifik berikutnya, maka sel mast atau sel basofil akan mengikat antigen kemudian mengeluarkan berbagai macam media¬tor. Penyebab utama reaksi tipe I adalah protein susu sapi atau protein telur. Protein susu sapi dapat berada di dalam ASI dalam jumlah sedikit, sehingga kasus alergi CMPA pada anak yang minum EBF  lebih jarang (Mac Donald dalam Pitono, 2003)

2.    Reaksi hipersensitivitas tipe III
Antibodi (IgG atau IgM) bereaksi dengan antigen yang ber¬lebih, diikuti perlekatan komplemen, dengan akibat respon kera¬dang¬an lokal. Reaksi berlangsung dalam beberapa jam sesudah pemaparan antigen. Dikemukakan reseptor Fc untuk imunoglobulin dan bukannya komplemen yang penting dalam kerusakan jaringan. Reaksi gastrointestinal dapat terjadi 6 jam setelah pemaparan berupa muntah, diare dan kolik, serta peningkatan lokal dari IgM dan sel plasma IgA. Dalam jangka 24 jam berikutnya akan terlihat sembab lokal, reaksi endotel, penebalan membran dasar, penimbunan serat kolagen dan infiltrasi lekosit polimorf. Terjadi pula pening¬katan lokal IgG dan C3 di dalam jaringan ikat subepitelial yang menunjukkan adanya reaksi kompleks imun. Pada tahap ini mulai terlihat kerusakan enterosit yaitu mikrovili yang menjadi tidak teratur, peningkatan lisosom dan pembengkakan mitokondrial. Selain penimbunan lokal, kompleks imun yang mengandung antigen makanan dan imunoglobulin (IgG dan IgE) terlihat pula dalam serum penderita alergi makanan (Mac Donald dalam Pitono, 2003)

3.    Reaksi hipersensitivitas tipe IV (Delayed type hypersensitivity reaction=DTH)
DTH mencerminkan fenomena imunitas dengan perantaraan sel CMI (cell-mediatedimmunity). DTH merupakan mekanisme imunologik yang paling jelas perannya terhadap kerusakan mukosa usus yang berat. DTH adalah reaksi yang ditimbulkan oleh antigen dengan limfosit T spesifik terhadap antigen tersebut dikenal sebagai sel DTH (Pitono S dkk, 2003, Siti Boedina Kresna, 1996) Antigen  menembus mukosa usus melalui Plaques Peyeri, ditangkap sel APC, sel dendritik atau makrofag. Selanjutnya disajikan pada sel T yang mengikat MHC II, akan memacu Th1 menghasilkan IFN-. Sel akan bermigrasi pada lamina propria yang juga memacu Th1 lebih banyak dan menghasilkan IFN-. IFN- ini menyebabkan keradangan dan kerusakan mukosa usus. Sitokin lainnya adalah TNF- dan IL-1 yang akan menghasilkan berbagai metalo¬proteinase yang merusak mukosa (Mowatt, 1994 dalam Pitono, 2003)

CMPA
Sebagian kecil penderita CMPA akan menetap, sebagian besar akan menjadi toleran. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan Radio allergosorbent test (RAST), Uji kulit, skin prict test  (SPT). negatif, CMPA akan mengalami toleransi lebih awal apabila dibandingkan pada penderita dengan RAST dan SPT positif. Pada anak CMPA dengan riwayat IgE positif, akan lebih sering muncul gejala seperti asma, rinokonjungtivitis, atopi dermatitis, apabila dibandingkan pada anak dengan IgE negatif. Anak dengan IgE negatif kemungkinan menderita alergi berbagai macam makanan juga lebih kecil. Pada saat diagnosis CMPA ditegakkan dengan eliminasi diet dan uji provokasi, disarankan untuk memeriksa IgE (Vandenplas dkk, 1997).
Diketahui ada sekitar 40 macam protein penyebab alergi. Protein-protein tersebut yang menginduksi respon imun sehingga menyebabkan alergi. Komponen whey terdiri dari -lactoglobulin, -laktalbumin, bovin imunoglobulin. Komponen kasein yaitu              -bovine serum albumin dan imunoglobulin. Komponen -lacto¬globulin, -laktalbumin dan imunoglobulin merupakan komponen yang paling alergenik (Wido, 2006; Mc Bean, 2006). Selain CMA sebagai penyebab, maka CMPA dipengaruhi faktor genetik. Bebe¬rapa penelitian menunjukkan bahwa atopi terjadi pada anak 20-40% apabila salah satu orang tua atopi. Riwayat atopi pada saudara  maka risiko atopi pada anak 25-35%. Apabila kedua orang tua ada riwayat atopi, anak akan mengalami atopi sekitar 40-60%. Apabila didalam keluarga tidak ada riwayat atopi, anak mengalami atopi 5-15% (Sawitri, 2007).
Waktu manifes CMPA dapat bervariasi, pada umumnya setelah satu minggu mendapatkan CM. Lebih muda anak menderita CMPA, lebih cenderung anak mengalami gangguan pertumbuhan. Pemberian EBF akan memperlambat terjadinya CMPA akan tetapi  EBF tidak menurunkan kejadian atopi (Snijder, Thijs dkk, 2008).
Tidak ada gejala CMPA yang patogpnomonik untuk diagnosis CMPA. Variasi gejala klinis meliputi; pada gastrointestinal men¬capai 50-60%, kulit 50-60%, saluran nafas 20-30%. Gejala dapat ringan, sedang sampai berat yang dapat mengancam jiwa seperti anafilaksis, udem laring, asma berat. Diagnosis banding CMPA antara lain kelainan metabolisme, kelainan anatomis, penyakit celiac, enteropati, insufisiensi pankreatik (cystic fibrosis), reaksi non-imunologi terhadap makanan seperti malabsorpsi fruktose, intoleransi laktosa.
Perlu mendapat perhatian adanya gejala klinik yang mirip, misalnya refluk gastroesofagus pada CMPA yang dapat terjadi pada 15-21%. CMPA juga dapat terjadi kolik infantil.
Demikian juga hubungan antara CMPA dengan gejala derma¬titis atopi. Semakin berat dermatitis, semakin muda anak maka sangat mungkin ada kaitan antara CMPA dengan dermatitis atopi.
CMPA dapat bersamaan dengan alergi makanan lain seperti telur, ikan, kacang, sehingga pada saat diagnosis, perlu dipertim¬bangkan untuk melakukan eliminasi bahan-bahan makanan tersebut (Vandenplas, 1997).

Gejala Klinik.
Organ target CMPA meliputi: kulit, saluran cerna, saluran nafas, sistim kardio vaskuler, mata. Gejala klinik pada kulit berupa eczema, rash, urticaria, swelling, dryness.
Gejala pada saluran cerna dimulai dari mulut; gatal atau udema pada bibir, mulut, lidah, faring. Gejala klinik lainnya berupa mual, muntah. Sakit perut di daerah ulu hati selama dan setelah minum CM, kembung, konstipasi, nyeri perut, diare, rectal bleeding, anemia defisiensi besi, berak berdarah dan berlendir, diare kronik, gangguan pertumbuhan. Muntah maupun diare kronik dapat me¬nyebabkan gangguan tumbuh kembang, maupun diare akut berat.
Gejala di saluran nafas berupa batuk, rhinitis, wheezing, reaksi alergi yang berat dapat menyebabkan; asma berat, edema laring akut, dermatitis atopi disertai eksudasi, anafilaksis.

Diagnostik
Adanya riwayat atopi dalam keluarga (ayah & ibu, ayah saja, atau ibu saja, saudara, kakek, nenek, usia penderita). Gejala klinik atopi bervariasi misalnya adanya rhinitis, dermatitis atopi, asma, GER dan diare kronik. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis; eliminasi dan provokasi bahan yang diduga sebagai alergen.
Endoskopi, pemeriksaan biopsi yang dilanjutkan pemeriksaan patologi anatomi. Diagnostik lainnya adalah RAST, SPT.  Pemerik¬sa¬an IgE total, IgE spesifik. Uji SPT menggunakan ekstrak komer¬sial memberikan 58,8% positif, sedangkan pemakaian alergen  fresh food dapat memberikan positifitas sebesar 91,7%. Hal ini menunjuk¬¬kan fresh food memberikan hasil yang lebih baik daripada pemakian ektrak komersial. SPT dan RAST bermanfaat dalam penentuan progosis dan lama penyakit
Proporsi Eosinofil darah tepi lebih dari 3% dan jumlah eosi¬nofil absolut lebih dari 300/mL.
Eliminasi dan provokasi  merupakan baku emas diagnostik CMPA (Vandenplas, Bruiton dan Dupon, 2007).

Uji provokasi
Setelah dilakukan eliminasi selama 2-4 minggu dan gejala klinis membaik, seharusnya dilakukan uji provokasi dengan CMP. Hendaknya provokasi dilakukan di bawah pengawasan dokter, dapat dilakukan di luar rumah sakit, akan tetapi perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya reaksi berat seperti anafilaksis, hal ini mungkin terjadi setelah periode eliminasi. Dapat pula terjadi  awal¬nya muncul gejala klinis ringan diikuti gejala klinis berat. Sehingga provokasi hendaknya dilakukan di rumah sakit, dengan peralatan resusitasi, persiapan pemberian cairan intravena dan obat-obat lainnya. Langkah selanjutnya dilakukan  pemeriksaan SPT dan IgE. Adanya dugaan gejala klinis berat, uji provokasi hendaknya diper¬timbangkan untuk tidak dilakukan kecuali uji SPT atau IgE menunjuk¬kan perbaikan. Prosedur provokasi dilakukan dalam dosis kecil, awalnya diteteskan susu formula pada bibir, timbul reaksi sekitar 15 menit. Kalau tidak ada reaksi maka dimulai pemberian CMP yang ditingkatkan bertahap selang waktu setiap 30 menit dari 0,5 ml sampai 100 ml yang diberikan secara bertahap. Lihat reaksi pada kulit atau saluran nafas. Setelah 2 jam tidak ada reaksi, anak boleh pulang. Orang tua dipesankan untuk melihat reaksi lambat yang mungkin timbul setelah anak diberikan CMP. CMP dari susu formula dapat diberikan sebanyak 250 ml/hari pada minggu berikut¬nya.

Uji provokasi positif:
Apabila dengan melakukan uji provokasi gejala muncul lagi, maka diagnosis adalah suspek CMPA. Langkah selanjutnya adalah eliminasi CMP, diberikan eHF atau AAF selama 9 s/d 12 bulan. Uji provokasi dilakukan lagi, kalau dimungkinkan dilakukan peme¬riksa¬an SPT dan IgE spesifik. Perbaikan uji SPT atau IgE, dapat dilakukan pemberian provokasi CMP. Apabila negatif, maka secara bertahap diberikan CM.

Uji provokasi negatif= bukan CMPA
Pada anak dengan uji provokasi negatif, selama 1 minggu diberikan diet normal dengan observasi kemungkinan timbulnya reaksi atopi. Orang tua dipesankan untuk melihat kemungkinan timbulnya reaksi atopi lambat, setelah beberapa hari.

Tatalaksana
Penatalaksanaan CMPA pada prinsipnya adalah eliminasi CMP dan makanan yang mengandung susu sapi.
Pada ibu hamil dan menyusui, disarankan untuk diet bebas CM dan produk makanan yang bebas CMP. Keluarga penderita seharusnya perlu diberitahu untuk dapat memilih produk makanan yang tidak mengandung CMP.
EBF sampai usia 4 bulan-6 bulan. Kejadian CMPA minimal pada bayi yang minum EBF apabila dibandingkan bayi minum CMP atau kombinasi ASI dan CMP. Sekitar 0,5% penderita CMPA pada bayi minum ASI eksklusif dan gejala klinik yang timbul ringan sampai sedang. Klinik CMPA berat seperti dermatitis atopi berat, hilang protein enteropati disertai gangguan tumbuh kembang, anemia akibat enterokolitis dan perdarahan rektum. Komponen protein ada pada ASI seperti susu sapi, telur, kacang yang dapat menyebabkan efek samping selama bayi minum ASI pada anak yang sensitif. Pada ibu yang menyusui, diet ibu bebas susu sapi.
Rekomendasi pemberian bertahap CMP dengan partially hydrolised formula(pHF), extensively hydrolised formula (eHF), atau diet bebas CMP. Pada anak yang mengalami CMPA berat, pemberian eHF pun masih memberikan reaksi alergi. Pada kasus anak ini diberikan amino acid-derived elemental formula (AAF). Perlu dipertimbangkan harga eHF dan AAF sangat mahal. Rasa susu formula pHF dan eHF tidak enak.
Pemberian susu kedelai masih menjadi kontroversi, oleh karena anak yang alergi CMP, 17-47% juga alergi susu kedelai.  Di sisi lain sudah diketahui susu kedelai mengandung fitat yang meng¬hambat penyerapan zat besi dan zink. Pemberian susu kedelai men¬jadi pertimbangan.
Air susu kambing (GMP=goat’s milk protein, atau sheep’s milk=SMP), susu unta dan susu kuda tidak dianjurkan, oleh karena komponen protein di dalam susu-susu tersebut juga mengandung komponen protein alergen, sehingga susu formula dari GMP tidak direkomendasikan sebagai pengobatan  CMPA.
Proses pasteurisasi, pemanasan, evaporasi tidak menghilang¬kan tetapi hanya mengurangi efek antigen atau CMPA. Pada umum¬nya CMPA akan menghilang pada usia 2-3 tahun, maka untuk menghindari diet bebas CMP berkepanjangan, serta pengobatan yang berlebihan, maka perlu dilakukan uji ulang terhadap reaksi alergi dari CMP pada usia 6-12 bulan. Uji ulang dilakukan selang 1-2 tahun setelah anak berusia diatas 3 tahun (Host, 1997).
Saat ini dikembangkan immunoterapi spesifik (ITS) atau  “vaksinasi” alergen, untuk memicu desensitisasi alergen spesifik (dalam Rengganis I, 2008). Beberapa waktu ini prebiotik dan probiotik, dipergunakan mengurangi efek alergi (Bindels, 2008).

Algoritma diagnostik dan tatalaksana CMPA pada anak dengan EBF
ASI eksklusif merupakan nutrisi pada bayi yang paling baik, setidaknya diberikan sampai 4-6 bulan. Pada anak yang mendapat¬kan ASI eksklusif apakah kejadian CMPA akan lebih rendah dari¬pada anak mendapatkan susu sapi? Masalah ini yang menjadi kontro¬versial. Snijders dkk (2008) melakukan penelitian dan menemukan pemberian EBF tidak menurunkan angka kejadian CMPA pada usia selanjutnya, hanya menunda.
Gejala klinis CMPA yang berat jarang terjadi pada anak yang minum ASI eksklusif. Kejadian anak dengan ASI eksklusif sekitar 0,5% dan umumnya akan mendapatkan CMPA ringan atau sedang. Perbedaan ini menyangkut masalah imunomodulator dan flora usus
Anak dengan CMPA berat dapat menyebabkan anemia oleh karena perdarahan rektum akibat kolitis ataupun adanya losing enteropathy. Kondisi ini jarang, tetapi perlu pemeriksaan yang lebih teliti.
Bayi dengan dermatitis atopi, cenderung mendapatkan alergi lebih sering akibat pemberian susu (Vance GH dkk, 2005) maupun telur pada ibu dari pada anak yang tidak menderita dermatitis atopi (Scoetzou dkk, 2002).
Potensi penyebab alergi susu sapi dan telur, pada anak ter¬sebut cenderung juga mengalami alergi terhadap alergen lain seperti gandum atau ikan laut.  Eliminasi diet pada dermatitis atopi atau kolitis hendaknya dilanjutkan sampai 2-4 minggu. Ibu diberi¬kan kalsium 1000 mg/hari dan pemberiannya dibagi dalam bebe¬rapa dosis, selama eliminasi diet. Apabila dengan diet makanan yang diduga sebagai penyebab alergi, maka makanan ibu kembali dapat diberikan seperti semula sebelum dilakukan eliminasi.  Apabila dengan elimonasi diet, gejala tidak timbul, maka secara bertahan diet satu persatu diberikan setiap minggu, sampai semua diberikan seperti sebelum diperlakukan eliminasi diet.
Apabila gejala tetap ada, maka diet diperlakukan selama anak minum ASI. Pemberian makanan solid juga harus diperhatikan adanya komponen alergen. Penyapihan pada anak setelah ASI dihentikan, diberikan susu pHF atau eHF dan diikuti gejala klinis¬nya yang mungkin timbul.

Algoritma dan tatalaksana CMPA pada anak minum susu formula
Penderita alergi dengan gejala berat, seperti gejala saluran nafas atau anafilaksis/syok sebaiknya segera dirawat bagian gawat darurat rumah sakit. Diagnostik CMPA sama dengan penderita yang minum ASI eksklusif, mencari riwayat adanya alergi di dalam keluarga
Algoritma tergantung berat ringan gejala. Apabila gejalan ringan sedang, maka langkah awal untuk mendiagnosis CMPA adalah eliminasi diet CMP. Anak dengan angioudem pada bibir, mata, urtikaria, muntah terus menerus, cenderung akibat alergi tipe Ig-E. Pada bentuk ini pertama harus diberikan penanganan sebelum dilakukan provokasi. SPT yang positif, tampaknya akan memberi¬kan reaksi positif pada provokasi, tidak memberi informasi beratnya alergi. Penelitian Celic Belgili (dalam Vandeplas, 2005), reaksi RST, 60% menunjukkan provokasi klas 1, 50% klas 2, 30% provo¬kasi klas 3 dan selebihnya 20% provokasi negatif atau kelompok klas 4.

Diagnostik CMPA dengan gejala ringan sedang
Adanya kecurigaan adanya gejala alergi CMPA, langkah awal dilakukan eliminasi CMP, dan kedua diberikan susu formula  eHF, atau AAF. Selama dilakukan eliminasi, maka semua macam makanan yang mengandung CM dihentikan. Pada anak usia diatas 6 bulan mungkin tidak dapat dilakukan eliminasi jenis makanan, maka pilihan makanan yang diberikan harus minimalis, setidaknya makanan yang tidak mengandung CMP, protein telur, protein kedelai atau kacang. Menghindari makan ikan, gandum yang umum¬nya diberikan 2 minggu-4 minggu khususnya yang menyang¬kut gejala gastrointestinal dan dermatitis atopi.
Susu eHF merupakan pilihan utama, apabila eHF anak tidak mau oleh karena rasanya yang kurang enak maka pilihannya adalah AAF. Kegagalan pemberian eHF pada CMPA mencapai 10%.  Kegagalan pemberian eHF dapat dijumpai juga bersamaan dengan kegagalan pemberian AAF. Akan tetapi ada laporan bahwa sisa alergen eHF dapat disebabkan reaksi IgE. Apabila pemberian AAF tidak memberikan hasil perlu dipikirkan diagnosis lainnya. Masalah yang lain yaitu harga AAF sangat mahal.

Uji diagnostik CMPA
Tidak ada diagnostik pasti yang memberikan bukti anak penderita CMPA. Eliminasi dan provokasi pada formula nutrien CMP, merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis CMPA baik yang ringan, sedang atau berat (Vandenplas dkk, 2007). Pada uji SPT, maka pemberian CMP segar  akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada pemberian parsial CMP. Penelitian menunjuk¬kan bahwa perbandingan antara hasil SPT antara alergen komersial dibandingkan dengan CMP segar  58,8 % dibanding 91,7%. Pada SPT pemberian alergen dengan makanan segar memberikan hasil yang lebih baik, seperti pada alergi telur, susu sapi, ikan dan kacang (Rance dkk, 1997).
Uji SPT dan RAST bermanfaat untuk menentukan prognosis atopi. RAST dan SPT negatif, cenderung menunjukan toleransi pada usia yang lebih awal dan tidak menunjukkan gejala berat pada uji provokasi. Anak yang menunjukkan reaksi cepat pada angioedema, udema pada bibir, kelopak mata, maka umumnya IgE positif. Apabila diameter SPT lebar > 7 mm, atau titer RAST tinggi, kemungkinan 90% anak akan bereaksi positif apabila dilakukan uji provokasi.

Penderita CMPA berat
Pada penderita dengan CMPA yang berat dapat menimbulkan diare kronik yang berakibat malnutrisi. Adanya riwayat gejala klinis berat dan mengancam jiwa, merupakan kontraindikasi untuk dilakukan provokasi atau bila dilakukan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Penderita diberikan pemberian eHF atau diet AAF.

Proctitis/Proctocolitis
Anak kelihatan sehat. Gejala muncul pada usia beberapa bulan, sekitar 2 bulan. Di dalam tinja ditemukan bercakan darah dan mukus. Darah yang hilang minimal, jarang menyebabkan anemia. Pada umumnya anak masih minum ASI. Sebagai pemicu proctocolitis adalah CMP dan jarang susu kedelai. Gejala berasal dari diet ibu yang mengandung CMP. Pemeriksaan biopsy dan PA menunjukkan infiltrasi eosinofil dan hiperplasia limfonoduler. Mekanisme hipersensitivitas tidak berkaitan dengan IgE. Hasil PST negatif. Perdarahan pada umumnya akan berhenti dalam waktu 72 jam setelah CMP yang diduga sebagai penyebab di eliminasi. Pada umumnya gejala akan menghilang pada usia 1-2 tahun

Cow’s Milk Protein sensitive Enteropathy (CMPSE)
CMPSEP pada anak usia 6 bulan dan jarang setelah 3 tahun reaksi alergi bisa terjadi di usus dengan gejalanya mual, muntah, dapat disertai urtikaria, dermatitis atopi, wheezing, dan kadang kadang gagal tumbuh karena proses kronik. Diare dapat menyebab¬kan dehidrasi berat. Pada bayi, awal reaksi bisa terjadi di kolon dan rektum CMPSE akan timbul setelah minum susu beberapa hari atau minggu, dengan gejala perdarahan kolon dan rektum, diare disertai lendir dan darah (Chong S et al, 1984). Protein-losing enteropathy dapat menyebabkan edema, distensi abdomen, anemia, malnutrisi (dalam Hegar B, 2007). Tatalaksana yaitu eliminasi nutrisi alergen CMP, koreksi anemia dan malnutrisi.

Kolik infantile
Beberapa bukti menunjukkan hubungan CMPA dengan kolik infantile. CMP pada bayi mengalami kolik sekitar 44%. Pemberian eHF atau pHF, lebih memberikan efek daripada pemberian formula rendah laktosa.

Immediate Gastrointestinal Hypersensitivity
Gejalanya akut, mulai beberapa menit hingga 1-2 jam. Gejala berupa nausea, muntah, beberapa menit setelah makan/minum, akan timbul abdominal pain. Beberapa jam kemudian dapat disertai diare. Mekanisme imun terjadi akibat IgE-mediated. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dehidrasi. dan eliminasi CMP.

Eosinophilic Gastroenteropathies
Terdiri dari; eosinophilic, Esophagitis dan Gastritis. Diagno¬sis dan tatalaksana yang sulit adalah allergic eosinophylic esopha¬gitis. Penyakit ini mirip dengan GER (gastroesophageal reflux), gastritis. Pada Esophagitis dan gastritis, sangat dianjurkan dilakukan endoskopi dan biopsi, selanjutkan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Eosinophilic primer merupakan 1% dari esophagitis. Pengobatan ditujukan pada reflux esophagitis memberikan respon pada pengobatan GER.

Konstipasi kronik
CM menyebabkan gangguan motilitas usus, menyebabkan konstipasi. Sitokin dan proses inflamasi dari syaraf dan sistim motorik, mengakibatkan konstipasi. Infiltrasi limfosit dan eosinofil pada lamina propria dan peningkatan eosinofil intraepithelial dan infiltrasi pada kripta, ditemukan pada CMP disertai konstipasi. Eliminasi CMP akan memperbaiki konstipasi kronik, dan apabila dilakukan provokasi akan memberikan relap.

Anafilaksis
CM sebenarnya jarang menimbulkan anafilaksis. Anafilaksis merupakan keadaan klinik, yang diakibatkan pelepasan secara men¬dadak mediator aktif dari sel mast dan basofil yang mengakibatkan urtikaria kulit, angioedema, kulit memerah (flushing), spamus bronchus, edema laring, kardiovaskuler seperti hipotensi, disritmia iskemia miokardial dan gejala gastrointestinal seperti nausea, pain abdomen kolik, muntah, diare. Di USA diperkirakan kejadian ana¬filaksis terjadi 30 kasus per 100.000 orang per tahun. Di Australia, 0,59% anak usia 3-17 tahun mengalami anafilaksis. Penyebab anafilaksis dapat disebabkan bahan makanan yang berasal dari kacang, telur, susu sapi, ikan, bahan makanan yang mengandung susu sapi seperti keju, yoghurd, es krim. Tatalaksana anafilaksis harus dilakukan secara agresif dengan pemberian epinefrin intra-muskuler atau antihistamin H1 dan H2 secara intravaskuler,  pem¬berian oksigen, cairan intravena. Pada asma maka pemberian                -agonis dan kortikosteroid inhalasi albuterol. Menghindari penyebab alergen dan semua makanan yang mengandung makanan penyebab alergen (Leung, 2004).

Di bawah ini disalin algoritma diagnostik dan tatalaksana CMPA dari Vandenplas dkk (2007)
Suspecion of cow’ milk protein allergy (CMPA)

Suspician of cow’s milk allergy (CMPA)

Pencegahan
Pencegahan primer
Pencegahan primer dilakukan pada ibu berisiko alergi yang sedang hamil, dianjurkan untuk menghindari makanan dan minuman seperti susu, telur, ikan laut, dan kacang-kacangan. Pemberian susu hipoalergenik, diharapkan terjadi respon toleransi pada bayi di kemudian hari. Pencegahan primer ini masih menjadi kontroversial (Wido, 2006; Mc Bean, 2006)

Pencegahan sekunder
Pada anak yang sudah diketahui terjadi CMPA. Diketahui dengan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah perifer atau tali pusat atau SPT. Menghindari CMP. Dengan pemberian pHF atau eHF atau susu kedelai akan menghindari sensitisasi lebih lanjut (Wido, 2006; Mc Bean, 2006).

Pencegahan tertier
Pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjuk¬kan manifestasi alergi ringan seperti dermatitis, rhinitis pada anak usia 6 bulan sampai 4 tahun, diberikan eHF atau pHF. Bila gejala berat terjadi, maka anak diberikan susu AAF (Wido, 2006). Pem¬berian susu soya masih merupakan kontroversi. Pengalaman beberapa pengamat, pemberian susu soya memberikan perbaikan klinis.

Prognosis
CMPA pada umumnya tidak berlangsung seumur hidup. Pada usia sekitar 1-3 tahun gejala klinis akan menghilang. Gejala alergi akan menghilang pada usia 1 tahun sekitar 80-90%. Sekitar10-33% berlanjut sampai usia 3 tahun. Sisanya akan berlangsung sampai usia 9-14 tahun  (Hugh A, Sampson dan Leung D, 2004).
KESIMPULAN
Gejala klinis alergi makanan sangat bervariasi. Eliminasi dan provokasi merupakan baku emas diagnostik. Untuk menegakkan diagnosis perlu secara cermat di telusuri adanya faktor risiko, adanya riwayat atopi di dalam keluarga. CMPA perlu mendapat perhatian khususnya pada usia dibawah 3 tahun, terutama lagi usia dibawah 1 tahun. Gejala klinik CMPA dari saluran cerna dapat berupa muntah, CMPSE, konstipasi, kolik infantil, proktitis, Immediate Gastrointestinal Hypersensitivity, eosinophilic gastro¬enteropathy, diare kronik yang dapat menyebabkan malnutrisi dan anemia. Pada masa penyapihan, CMPA gejala ringan-sedang, pem¬berian pHF, eHF maupun eliminasi CMP perlu dipertimbangkan. Penderita CMPA dengan anafilaksis jarang terjadi, dan bila terjadi tatalaksana sesuai tatalaksana anfilaksis pada umumnya, disertai eliminasi penyebab alergi. Perlu dilakukan pencegahan. Promosi pemberian EBF. Penderita penderita CMPA perlu dilakukan evaluasi berkala setiap 6 bulan sampai usia 3 tahun dengan melakukan provokasi CM, perlu dilakukan dengan hati-hati.

Ilustrasi Kasus
1.    Seorang bayi laki-laki, usia 2 bulan, BB 4.5 kg. Suhu 37,00C, RR 32 x/menit, nadi 120x/menit. CRT < 2 detik. Sejak 24 jam mengalami muntah-muntah dan diare frekuen, tanpa panas. Bayi minum susu formula sejak lahir oleh karena ASI tidak keluar. Penderita terdiagnosis diare akut dehidrasi sedang. Diberikan cairan rehidrasi. Dalam 1 x 24 jam, muntah setiap diberikan susu dan diare berlanjut, cair tanpa lendir dan darah. Pemeriksaan laboratorium darah tepi tidak menunjukkan kelainan. AL 7.400/mm3, AE 4.000/mm3. Eosinofil 2%, basofil 0%, staf 2%, segment 62%, limfosit 30%, monosit 4%. Trom¬bosit 360.000/mm3 Pemeriksaan tinja dan urin, tidak menunjuk¬kan kelainan. Ditelusuri dari ayah dan ibu ada riwayat atopi yaitu rinitis alergika. Setelah pemberian pHF gejala tidak membaik, bahkan gejala muntah dan diare semakin memberat.  Susu diganti dengan eHF, tetapi anak menolak. Kemudian diberikan susu soya, dan muntah dan diare mengalami per¬baikan. Pada pemberian CM, anak mengalami muntah dan diare lagi. Diare dan muntah mengalami perbaikan setelah diberikan susu soya lagi.
2.    Seorang anak perempuan, usia 2.5 tahun dengan berat badan  20 kg. Suhu 37,20C. RR 30 x/menit. Nadi 110 x/menit. CRT < 2 detik. Diagnosis klinis diare akut dehidrasi ringan. Anak minum ASI sampai usia 2 tahun. AL 8.400/mm3, AE 5.000/mm3. Eosinofil 3%, basofil 0%, staf 2%, segment 61%, limfosit 30%,  monosit 3%. Trombosit 360.000/mm3 Pemeriksaan tinja dan urin, tidak menunjukkan kelainan. Selama pemberian ASI, anak secara berselang mendapat susu formula. Beberapa bulan sudah ada gejala gatal dikulit, yang tidak hilang secara total. Pada suatu saat gatal meningkat disertai muntah dan diare cair berulang. Tanpa panas, tanpa lendir dan tanpa darah dalam tinja. Keluarga ibu, kakek, nenek ada riwayat atopi. Eliminasi susu formula segera menghentikan muntah dan diare, dermatitis atopi bertahap menghilang. Oleh karena itu CMP perlu di¬eliminasi seterusnya, sedangkan kebutuhan nutrisi sudah ter¬penuhi dari makanan yang lain karena anak mau makan dengan berbagai variasi makanan.  Perlu dipikirkan untuk melakukan provokasi CM atau makanan yang mengandung CM untuk meyakinkan apakah anak masih menderita CMPA yang terdapat pada makanan yang mengandung CM.

Dari gambaran 2 kasus tersebut, gejala klinis atopi pada kasus pertama muncul lebih awal, sedang kasus kedua gejala klinis muncul lebih lama. Pada kasus ke-2, keluarga tidak menyadari adanya atopi pada anaknya meskipun dermatitis atopi sudah berlangsung lama. Dermatitis atopi dianggap akibat perubahan suhu tempat tinggal, dari daerah dingin ke daerah dengan suhu lebih panas. Kedua kasus diatas bila tidak terdiagnosis, dapat memberikan risiko diare kronik dan malnutrisi. Pemeriksaan RAST, SPT dan IgE bermanfaat untuk menentukan prognosis selanjutnya.
Sesuai penelitian di Eropa (Sneiyder dkk, 2008), penangguhan pemberian susu formula,  tidak akan menurunkan kejadian CMPA.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan
Perkenankan sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, saya sampaikan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, atas tuntunan dan petunjuk serta karunia-Nya yang saya terima, sehingga saya masih diperkenankan untuk menerima jabatan ini. Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Teriring doa, semoga Allah SWT selalu memberikan pentunjuk dan bimbingan-Nya, agar saya dapat mengemban amanah sebagai Guru Besar… Amin

Ibu, Bapak dan Hadirin yang saya muliakan,
Selanjutnya perkenan saya untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus, kepada yang terhormat:

  1. Pemerintah Republik Indonesia dan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di lingkungan Fakultas Kedokteran Sebelas Maret.
  2. Prof. Haris Mudjiman, Drs, MA, Ph.D. Rektor Universitas Sebelas Maret. Prof. Dr. Suroto, dr., Sp.SS dan Prof. Dr. Admadi Suroso, dr.,SpM selaku Dekan FK UNS, pada tahun 1997-1998 memberikan ijin pada saya untuk melanjutkan pendidikan S3.
  3. Rektor Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Moch. Syamsul¬hadi, dr., Sp.KJ (K). Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. AA.Subiyanto, dr., MS, anggota senat FK UNS dan para anggota senat UNS  yang telah menyetujui pengangkatan saya sebagai Guru Besar.
  4. Prof. Dr. H. Soegeng Soegijanto, dr., SpA(K), DTM&H Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK UNAIR. Prof. Dr. Soewignjo Soemohardjo dr., SpPD, KGEH dari RSU Mataram NTB dan Prof. Widodo J. Pudjirahardjo,dr., MS, MPH, Dr. PH Guru Besar Kesehatan Masyarakat UNAIR yang masing masing telah bersedia menjadi Promotor dan Ko-Promotor serta sebagai guru saya. Ketiga beliau tersebut memberikan dorongan dan dukungan moril sehingga saya dapat melanjutkan langkah saya ke jenjang jabatan akademik.  Saya ucapkan terima kasih atas bimbingan yang telah diberikan oleh; Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS.  Drh. Widya Asmara, MS, PhD, Dr. Eddy Bagus Wasito, dr. SpMK, MS,  Prof. Dr. Subijanto Marto Sudarmo, dr., SpA(K), Prof.. Purnomo Suryohudoro, dr.  Prof. Dr. Soegeng Soekamto, dr., MS (alm), Prof. Dr. Pitono Suparto,  dr. SpA(K) (alm), Prof.  Marsetyawan HNE Soesatyo,  dr. MSc, PhD.
  5. Prof. Dr. Agus Firmansyah, dr., SpA(K) dari Ilmu Kesehatan Anak FK UI dan Prof. Srisupar Yati Soenarto, dr., SpA(K), Ph.D Guru Besar dari Ilmu Kesehatan Anak FK UGM, yang telah memberikan perhatian dan dorongan pada saya untuk melanjutkan ke jenjang  jabatan akademik yang lebih tinggi.
  6. Saya ucapkann terima kasih dan dengan segala hormat, saya sampaikan kepada guru saya, sejak di tingkat Sekolah Dasar, SMP dan SMA di Jogyakarta. Jasa beliau beliaulah yang memberikan motifasi untuk terus belajar sehingga saya dapat mencapai ilmu yang lebih tinggi.
  7. Terima kasih saya saya sampaikan Rektor UGM dan Dekan FK UGM, guru guru saya pada saat saya mengikuti kuliah di FK UGM Jogyakarta, seluruh civitas akademika Universitas Gajah Mada, tempat saya menuntut ilmu sampai  memperoleh gelar dokter.
  8. Terima kasih saya saya sampaikan Rektor UNDIP, Dekan FK UNDIP, guru saya dan seluruh civitas akademika UNDIP, tempat saya menuntut ilmu sampai  memperoleh gelar Dokter Spesialis Anak. Kepada yang terhormat DR. RRY Sri Djoko¬muljanto sebagai Dekan FK UNDIP, Direktur RSUP Dr. Kariadi Dr. Suraryo yang telah menerima saya mengikuti pendidikan di Bag.Lab IKA FK UNDIP/RSUP Dr Kariadi Semarang. Khususnya saya sampaikan ucapan terima kasih pada guru saya Prof. dr. Moeljono Trastotenojo, SpA(K) Kepala Bagian/Lab Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP/RSUP  Dr. Kariadi, yang telah memberikan kesempatan untuk melanjut¬¬kan pendidikan Dokter Spesialisasi Ilmu Kesehatan Anak di Lab/Bagian IKA FK UNDIP/RSUP DR. Kariadi. Demikian juga ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. dr. Hardiman Sastrosubroto, Sp.A(K) (alm), atas kesempatan untuk menuntut pendidikan di Lab/Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP/ RSUP Dr Kariadi. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas bimbingan dan motivasi dari para staf Lab/Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP/RSUP Dr. Kariadi; Dr. Sudigbyakti Adinoto, Sp.A, Prof. Dr. Hariyono Suyitno, Dr. Sp.A(K), Prof. Dr. Ag Sumantri, Dr. Sp.A(K), Prof. DR. I. Soedigbia, dr. SpA(K), Suparman Soerodiprojo, dr., Sp.A (alm), Prof. Dr. Lydia Kosnadi, dr. SpA(K), Widjaya, dr. Sp.A, Anggoro DB Sachro, dr., Sp.A(K), DTM&H, Prof. Dr. Harsoyo Notoatmojo, dr. Sp.A(K), Kamilah Budhirahardjani, dr., SpA(K), Soetardji Notoatmodjo, dr., SpA(K), MPH, Dr. Tatty Ermin Setiadi, dr. Sp.A(K), dan seluruh staf medis dan nonmedis Lab/Bagian IKA FK UNDIP/RSUP Dr. Kariadi atas segala bantuan dan kerjasamanya selama saya mengikuti pendidikan. Seluruh civitas akademika FK UNDIP, tempat saya menuntut ilmu sampai  memperoleh gelar Dokter Spesialis Anak.
  9. Kepada yang terhormat Prof. Drs. Med Puruhito, Sp.BJP dan Prof. Dr. H. Soedarto, DTM&H, Ph.D, Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sudijono Tirtowidarto, dr., Sp.THT sebagai direktur Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Prof. Dr. H. Muhammad Amin, dr., Sp.P sebagai direktur Program Pasca¬¬ sarjana Universitas Airlangga Prof. Dr. Laba Mahaputra, drh. M.Sc Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana UNAIR. Prof. Dr. Juliati Hood Alsagaff, dr., MS, FIAC Ketua Program Studi Ilmu Kedokteran S3 Pascasarjana Iniversitas Airlangga. Atas segala perkenannya, saya dapat menyelesaikan pendidikan S3 di Unair Surabaya.
  10. Prof. Sofyan Ismael, dr., SpA(K) Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UI/RSCM Jakarta, Ketua koligium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia, saya ucapkan terima kasih atas perkenan beliau memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Sub Bag Gastroenterohepatologi. Beliau sangat berperan besar pada pendirian PPDS IKA FK UNS. Demikian juga para pembimbing di Sub Bag Gastroenterologi Anak, saya ucapkan terima kasih; Prof. Dr. Suharyono, dr., Sp.A(K) (alm), Prof. Sunoto, dr., Sp.A(K) (alm), Aswitha Boediarso, dr., Sp.A(K), Prof. Dr. Agus Firmansyah, dr., Sp.A(K), Badriul Hegar Syarif, dr., Sp.A(K), Adnan Wiharto, dr., Sp.A(K), Julfina Bisanto, dr., Sp.A(K), Poernamawati, dr., Sp.A(K) dan seluruh staf Departemen IKA FK UI/ RSUP Dr. Tjipto¬mangunkusumo.
  11. Direktur RSUD Dr. Muwardi saat itu M. Abdul Rasim, Dr., Sardjono, dr., Sudjoko, dr yang memberikan  kesempatan untuk mengikuti pendidikan S3 di UNAIR, saya ucapkan terima kasih. Yang saya hormati Isbandiyah Naharyeni. dr., Sp.A (alm), direktur RSUP Dr. Muwardi Sutrasno, dr., Sp.M (alm) yang telah berkenan menerima di Bagian Penyakit Anak RSUD Dr. Muwardi, demikian juga Faried Herman, dr. (alm) Sekretaris Dekan FK UII, Dekan FK UII Suroyo, dr. Sp.Rad (alm), Prof. Drs. Radioputro (alm) Dekan FK UII yang telah menerima saya di Bagian Penyakit Anak FK UII/RSUD Dr. Muwardi. Atas segala bantuannya, memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis Anak.
  12. Kepada rekan rekan sekerja, saya ucapkan terima kasih Sabdo¬waluyo, dr., Sp.A (alm), Indrawarman, dr., Sp.A (alm). Dr. Suhadi, dr., Sp.A(K) (alm), Mustarsid, dr., SpA, Sunyataning¬kamto, dr., Sp.A, Ngatrini, dr., Sp.A, Rosyid Ridho A,dr.,  Sp.A, Iskandar Zulkarnaen, dr., Sp.A(K), Prof. Dr. Harsono Salimo, dr., Sp.A(K), Yulidar Hafidz, dr., Sp.A(K), Syahrir Dullah, dr., Sp.A, Ganung Harsono, dr. Sp.A(K), Rustam Siregar, dr., Sp.A, Endang Tatar, dr., Sp.A(K), MPH, Dr. Pudjiastuti, SpA(K), Dr. Martuti, Sp.A, Mkes, Dr. Dwi Hidayah, Sp.A, Mkes, Muh.Riza, dr., Sp.A, Mkes, Annang Giri Moelyo,  dr., Sp.A, Mkes dan seluruh staf dan paramedis di Lab.IKA /Unit Penyakit Anak FK UNS/RSUD Dr  Moewardi yang tak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah bekerja sama saling mengisi kekosongan saat saya mengikuti pendi¬dikan dan mengganti tugas tugas saya.
  13. Pada akhirnya saya ucapkan terimakasih dan hormat yang setinggi tingginya pada kedua orang tua saya, Bapak Soemardjo dan Ibu Soeripti (alm) atas doa dan dukungan sehingga saya dapat menapak pada tingkat guru besar. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan mengampuni segala dosanya dan diterima ibadahnya.
  14. Kedua mertua saya, Bapak Wignjomartono (alm) dan Ibu Wignjomartono (alm) yang telah memberikan restu, dorongan moril kepada saya dan keluarga, kasih sayang pada para cucu dan keluarga, saya ucapkan terima kasih.
  15. Kepada Pakde (alm), Bude Marsudi (alm) dan Paklik Murtedjo (alm) yang telah memberikan bimbingan dan dorongan moril sehingga saya dapat menapak sekolah lebih lanjut.
  16. Kepada semua empat saudara saya dan saudara ipar saya atas dorongan dan doanya, saya ucapkan terima kasih.
  17. Kepada ketiga anak saya, Wawan, Rosa, Riri, saya ucapkan terima kasih atas pengertiannya dan  doanya. Saya doakan agar selalu mendapatkan khusnul khotimah dan semoga selalu mendapat lindungan dari Allah SWT.
  18. Demikian juga ucapan terima kasih saya sampaikan istri tercinta Wuryantiningsih yang telah mendampingi saya selama 37 tahun di saat suka dan duka, menghantarkan anak-anak berkeluarga, selalu ikhlas, setia, memberikan dorongan selama saya mengikuti pendidikan S3. Semoga selalu mendapatkan rahmah dan barokahnya.
  19. Semua pihak dan handai taulan serta sejawat yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, saya ucapkan terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Chong S, Sanderson I, Wright V, Walker Smith JA, 1984. Foot allergy and infantile colitis. Arch Dis Child; 59:690-1
Bindel J.G, 2008. Immune-modulatory effects of prebiotic oligosaccharides: new data from experimental and clinical studies. Immunity Breakthroug. Di Jogyakarta
Damayanti R.S, 2006. Seminar Alergi. IDAI Jakarta.
Damayanti W, 2007. Cow’s milk protein sensitive enteropathi. Kongres Nasional Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia (BKGAI), Surabaya. 59-65
Eggesbo M, Botten G, Halvoren R, Magnus P, 2001. The prevalence of CMA/CMPI in young children: the validity of parentally perceived reactions in population-based study. Allergy 56:393-402
Harjono K, 2008. Recent Treatment Of Atopic Dermatitis In Children. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.
Hegar B, 2007. Cow’s Milk Protein Allergy and Clinical Aspect of Gastrointestinal. Seminar Alergi Anak, Semarang.
Host A, 1997. Cow’s milk allergy. Journal of The Royal Society of Medicine. Sup No 30, vol 90 p: 3436
Iskandar Z, 2008. Diagnosis dan tatalaksana asma pada anak. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.
Leung D.Y.M, 2004. Anaphylaxis in In Nelson Textbook of Paediatrics.  Saunders 17th  Ed.  p; 781-782
Mc Bean L, 2006. Cow’s milk allergy versus lactose intolerance. Dairy Council. Digest; 77,3
Pitono S, Subijanto MS, Suhartono TP, FM Judajana, 2003. Gangguan Sistem Imun Mukosa Intestinal. Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. RSUD Dr.Soetomo-Surabaya. Hal 336-353
Rance F, Juchet A, Breman F, et al, 1997. Comparison between skin prick tests with commercial extracts and fresh foods specific IgE and food challenges. 52: 1031-5
Rengganis I, 2007. Immunotherapy In Allergy. Pertemuan Simposium; One Day Simposium, Children’s Allergy in Clinical Perspective. Surakarta.
Saarinen KM, Juntunen-Backman K, Jarvenpaa AL,1999. Supplementary feeding in maternity hospitals and the risk of cow’s milk allergy: a prospective study of 6209 infants. J Allergy Clin Immunol; 104:457-461
Sampson HA and Leung DYM, 2004. Adverse Reaction to Foods. In Nelson Textbook of Paediatrics. Saunders 17th  Ed. p; 789-790
Santosa H, 1989. Masalah alergi makanan pada anak. Disampaikan pada Simposium Alergi Makanan. Denpasar, 7 Februari.
Schoetzau A, Filipiak-Pittrof B, Frank K et al, 2002. German Infant Nutritional Intervention Study Group. Effect of axclusive breast-feeding and early solid food avoidance on the incidence of atopic   dermatitis   inhigh-risk infants at 1 year of age. Pediatr Allergy Immunol. 13:234-42
Siregar S, 2007. Cow’sMilk Allergy: Pathopdysiology, diagnosis and therapy. Simposium, 14-12
Siti Boedina Kresno, 1996. Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Fakultas Kedokteran Indonesia. Ed 3: hal 80-87
Snijders B.E.P, Thijs C, Ree R, and Brandt P, 2008. Age at First Introduction of Cow Milk Products and Other Food Products in Relation to Infant Atopic Manifestation in the First 2 years of Life: The KOALA Birt Cohort Study. American Academic of Pediatr. Diunduh dari http://www.pediatrics.org/cgi/ conten/full/ 122/1/e115 pada jam 20 12.12.2008
Vandenplas Y, 2007. Universitair Ziekenhuis Brussel, Brussels, Belgium. Effect of external enviroment on mucosal immune response.
Vance GH, Lewis SA, Grimshaw KE et al, 2005. Exposure the fetus and infant ti hens’s egg albumin via  placenta and breast milk in relation to maternal intake of diatary egg. Clin.Exp Allergy. 35:1318-20
Vandenplas Y, Brueton M, Dupont C, Hill D, Isolauri E et al, 2007. Guideline for diagnosis and management of cow’s milk protein allergy in infant. Arch Dis Chil. 902:902-908. (Downloaded  from adc-bmj.com on  4 November 2007)
Wido. Diet dapat mempengaruhi perilaku anak. Children Allergy  Center. http://childrenallergycenter.jouser.com/article/ 134676

PERAN LABORATORIUM MIKROBIOLOGI KLINIK DALAM UPAYA PENGENDALIAN RESISTENSI MIKROBA TERHADAP ANTIBIOTIKA DI RUMAH SAKIT

Oleh :
Prof. Dr. Prijambada, dr., M.S. Sp.MK

yang saya muliakan dan hormati,
Rektor/Ketua Senat, Pembantu Rektor, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Para Pejabat Sipil dan Militer
Direktur Program, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran.
Para Direktur Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Surakarta dan sekitarnya.
Para Ketua Lembaga Kepala Biro dan Ketua UPT serta seluruh pejabat di Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Para Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium, Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha dan Kepala Sub Bagian serta seluruh Tenaga Administrasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Para Teman Sejawat, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Para Tamu undangan sanak keluarga, handai taulan, serta hadirin yang saya muliakan.

Selamat pagi, salam sejahtera dan semoga Tuhan Yang Maha Kasih senantiasa melimpahkan Berkat dan Rahmat kepada hadirin sekalian dan saya, Amin.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, pertama-tama marilah kita mengucapkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah atas limpahan karunia dan rahmat yang tiada henti kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul bersama-sama dalam keadaan sehat wal afiat di ruangan ini untuk hadir pada sidang senat terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar di bidang Mikro¬biologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Terlebih dulu perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para hadirin yang telah berkenan meluangkan waktu yang sangat berharga untuk menghadiri upacara pengukuhan ini.
Hari ini merupakan saat yang berbahagia bagi saya karena mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pidato pengu¬kuhan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Hadirin yang saya hormati,
Perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar ini untuk memenuhi kewajiban dan tradisi akademik. Pidato pengukuhan ini saya beri judul:
“Peran Laboratorium Mikrobiologi Klinik dalam upaya pengendalian resistensi mikroba terhadap antibiotika di rumah sakit “
Judul ini dipilih untuk mengingatkan kembali kepada para petugas kesehatan terutama para klinisi/praktisi dalam menjalankan tugasnya di tempat-tempat pelayanan kesehatan bahwa saat ini kita perlu waspada adanya kejadian peningkatan resistensi/ kekebalan mikroba terhadap berbagai antibiotika baik di rumah sakit maupun di masyarakat. Dan kita perlu melakukan pence¬gahan secara dini agar dikemudian hari tidak akan terjadi pemusnahan umat manusia akibat tidak dapat menanggulangi penyakit infeksi. Seperti diketahui bahwa dalam upaya meningkat¬kan derajat kesehatan masyarakat, dilaksanakan berbagai upaya pembangunan di bidang kesehatan. Upaya tersebut bertujuan untuk mendukung “Visi Indonesia Sehat 2010” yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan. Banyak tantangan dan kendala yang dihadapi dalam mencapai visi tersebut dan salah satu kendalanya adalah bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kekebalan mikroba penyebab infeksi terhadap berbagai antibiotika.

Hadirin yang  saya muliakan,
Penyakit infeksi dewasa ini di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan utama baik di masyarakat maupun di rumah sakit, dan merupakan penyebab kesakitan serta kematian di negara berkembang termasuk di Indonesia. Meskipun secara kuantitatif saat ini telah tergeser oleh penyakit non infeksi seperti banyaknya berbagai penyakit degeneratif seperti PJK (Penyakit Jantung Koroner), kanker, stroke, hipertensi, DM (kencing manis) dan semuanya ini umumnya akibat pola makan dan perilaku yang tidak benar.
Namun secara kualitatif penyakit infeksi justru cenderung telah terjadi peningkatan. Dan ini terbukti bahwa telah diketemu¬kan kuman penyebab penyakit baru dengan mikroba yang belum diketahui secara jelas atau penyakit lama yang dulu sudah di¬nyata¬kan hilang namun telah muncul kembali, bahkan muncul sebagai bentuk KLB. Hal ini kemungkinan akibat mikroba sebagai penyebabnya telah mengalami mutasi, berubah menjadi ganas. Contoh lain adanya peningkatan kualitas penyakit infeksi yaitu adanya mikroorganisme penyebab penyakit yang dulu hanya terjadi pada binatang namun sekarang mampu menular kepada manusia seperti penyakit flu burung.
Dan yang terakhir saat ini yang telah merisaukan di dunia kedokteran adalah adanya penyakit infeksi dimana kuman penye¬babnya telah kebal dengan berbagai antibiotika yang diberikan baik di masyarakat maupun di rumah sakit. Hal ini sangat mengkawatirkan karena mudah menyebar sebagai sumber infeksi baik di masyarakat maupun di rumah sakit, dan kemungkinan dapat menyerang penderita sedang rawat inap yang dikenal sebagai infeksi  nosokomial.
Seperti diketahui bahwa diagnosa penyakit infeksi pada umumnya di tempat pelayanan kesehatan yang tidak mempunyai pelayanan laboratorium mikrobiologi atau sudah mempunyai laboratorium mikrobiologi tetapi sering tidak dimanfaatkan, maka diagnosis penyakit infeksi hanya didasarkan atas diagnosa klinik tanpa diagnosa kausal atau diagnosa mikrobiologik. Dan selanjut¬nya pengobatan dengan antibiotika hanya berlandaskan atas informasi dari perusahaan farmasi atau dari laporan penelitian-penelitian yang ada atau hanya berlandaskan pengalaman para klinisi yang tidak selalu benar.
Hal ini secara langsung atau tidak langsung akan berakibat penggunaan antibiotika tidak tepat mengenai sasaran dan akhir¬nya dapat merubah pola kuman penyebab infeksi dan resistensi¬nya terhadap berbagai antibiotika.
Untunglah para klinisi saat ini sudah mulai menyadarinya, sehingga akhir-akhir ini banyak dilakukan penelitian tentang pola kuman dan resistensinya terhadap berbagai antimikroba di rumah sakit. Demikian juga laboratorium mikrobiologi klinik telah terjadi peningkatan permintaan kultur mikrobiologi dan uji sensitivitasnya sehingga pengobatan pada penderita infeksi sudah banyak ber¬dasarkan hasil laboratorium mikrobiologi meskipun belum semua¬nya melaksanakan.
Manfaat hasil kultur mikrobiologi dan sensitivitasnya yang diterima dapat digunakan untuk membuat pola kuman di bangsal atau di rumah sakit setempat sehingga untuk penderita kritis dengan infeksi sudah mempunyai antibiotik initial sebagai anti¬biotik empirik untuk  menolong  jiwa  penderita tersebut.
Sebenarnya manfaat lain dari permintaan hasil laboratorium mikrobiologi klinik dari para klinisi selain dapat menentukan diag¬nosa kausal secara tepat juga ada beberapa keuntungan ganda antara lain sebagai berikut :

  1. Dapat mengetahui jenis mikrobia yang paling sering terlibat sebagai infeksi.
  2. Dapat memilih antibiotik yang paling tepat untuk pengobatan sehingga penderita cepat sembuh.
  3. Dapat mengetahui jenis antibiotik yang paling sensitif terhadap bakteri kausal tersebut untuk digunakan sebagai antibiotika emperik dan data pribadi .
  4. Dapat ikut mencegah peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik yang akhir-akhir ini telah meningkat dengan pesat.
  5. Dapat membantu di bagian farmasi dalam menyediakan anti¬biotik yang diperlukan sehingga mengurangi pemborosan.
  6. Dapat mengurangi beban biaya perawatan dari penderita yang dirawat di rumah sakit.
  7. Dan terakhir merupakan tuntunan dan contoh yang baik seba¬gai tenaga pendidik, bagi residennya dan dokter mudanya, karena Rumah Sakit type A dan B bahkan rumah sakit tipe C sebagai RS satelit digunakan untuk rumah sakit pendidikan dokter spesialis dan dokter umum dari Fakultas Kedokteran setempat.

PENYEBAB  TERJADINYA  RESISTENSI ANTIBIOTIK
A.    Mikroba
Mikroba atau bakteri, adalah organisme hidup yang ber¬ukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, untuk melihatnya diperlukan alat mikroskop cahaya.
Berjuta-juta bakteri hidup di sekitar lingkungan manusia namun sebagian bakteri ini tidak berbahaya bagi manusia, bahkan beberapa bakteri hidup dalam tubuh manusia berperan penting melindungi tubuh dari serangan organisme luar dan juga berperan dalam proses membantu pencernaan, membuat vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Kelompok bakteri ini dinamakan bakteri flora normal.
Namun ada sebagian bakteri lain yang bersifat patogen artinya bakteri ini dapat menimbulkan penyakit infeksi bahkan penyebab infeksi yang serius pada manusia dan bakteri inilah yang perlu mendapatkan perhatian kita di bidang kesehatan.  Untuk menghambat dan menghentikan perkembangan biak bakteri yang patogen ini diperlukan antibiotika/antimikroba.

B.    Virus
Virus adalah suatu organisme hidup terdiri dari asam nukleat DNA atau RNA yang dibungkus selubung protein yang ukurannya jauh lebih kecil dari pada bakteri atau mikroba. Mereka berkem¬bang biak sebagai bentuk parasit mutlak pada sel inang yang ditumpanginya dengan merampas dan memperdayakan DNA sel inang sebagai sumber energi sel untuk berkembang biaknya. Oleh karena itu, diluar tubuh kita, virus tidak dapat hidup lama. Namun virus dalam tubuh manusia tidak dapat dibunuh oleh antibiotika dan hanya bisa dibasmi oleh sistem imun inang atau daya tahan tubuh kita.

C.    Antibiotika/Antimikroba
Definisi terdahulu menyebutkan bahwa antibiotika adalah bahan kimia yang diproduksi oleh berbagai spesies mikroba yang dalam jumlah kecil dapat menghambat pertumbuhan mikroba lain.
Sekarang yang dimaksud dengan antibiotika adalah bahan-bahan yang diproduksi oleh mikroba atau bahan serupa yang diproduksi secara sintetik dan dalam konsentrasi yang kecil dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen.
Di alam bebas terdapat bermacam-macam antibiotika yang ikut mengatur dan mengawasi populasi mikroba di dalam tanah, air, sampah dan kompos dalam proses daur ulang. Antibiotika yang saya sebutkan di atas ini berbeda dengan antibiotika yang dipergunakan untuk tujuan pengobatan, karena sifatnya lebih toksis untuk manusia.
Hanya sebagian kecil antibiotika di alam yang dipergunakan untuk tujuan pengobatan, yaitu yang diproduksi oleh Genera Penicillium, Streptomyces, Cephalosporium, Micromonospora dan Bacillus.
Kemampuan antibiotika untuk menghentikan infeksi tergan¬tung dari kemampuannya membunuh atau menghentikan pertum¬buhan bakteri. Namun beberapa bakteri yang cerdik, agar tetap dapat bertahan hidup untuk meneruskan generasinya mempunyai berbagai mekanisme pertahanan diri yang cukup ampuh terhadap pengaruh lingkungan termasuk mekanisme pertahanan diri terha¬dap efek antibiotika yang diberikan, sehingga bakteri ini bisa mampu memperbanyak diri menyebabkan penyakit dan menye¬bar.
Bakteri yang resisten/kebal terhadap antibiotika memang telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius di komunitas. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional bukan hanya merugikan individu yang bersangkutan (pasien yang mem¬peroleh terapi antibiotika), melainkan juga dapat merugikan ling¬kungan sekitarnya.
Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengkonsumsi antibiotika secara berlebihan atau dengan dosis yang kurang optimal maka lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh mikroba yang sudah resisten antibiotika. Dan hal ini sangat memprihatin¬kan bahwasanya tidak sedikit konsumen kesehatan maupun dokter yang menganggap bahwa antibiotika itu obat dewa alias magic savers.
Suatu pola pikir yang sangat keliru bahwa hampir semua kondisi kesehatan di terapi dengan antibiotika termasuk infeksi virus seperti flu, padahal antibiotika telah impoten terhadap virus. Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh anti¬biotika. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau lambat, kita akan terpental kembali ke era kegelapan, era pra antibiotika, dimana angka kematian akibat infeksi kuman kembali meningkat akibat kebalnya kuman tersebut terhadap antibiotika yang ada. Resistensi terhadap antibiotika dapat terjadi melalui beberapa cara  antara lain melalui proses mutasi pada materi genetik (DNA) bakteri, atau melalui seleksi alam atau evolusi vertical yang se¬benar¬nya sudah resisten sebelum terpapar antibiotika.
Pada mutasi genetik, maka akan menyebabkan bakteri dapat melawan ataupun menginaktivasi antibiotika yang memaparnya. Mutasi spontan pada kromosom bakteri yang memberikan resis¬tensi terhadap satu populasi bakteri pada lingkungan tertentu  Selain itu, bakteri bisa mendapatkan gen resistensi melalui per¬tukaran gen atau dengan perantaraan plasmid suatu gen ekstra kromosomal yang mudah pindah dari bakteri satu dengan bakteri lain, sehingga faktor pemicu terjadinya resistensi adalah peng¬gunaan satu jenis antibiotika berulang kali serta penggunaan salah antibiotika (pemberian antibiotika untuk penyakit yang tidak di¬sebab¬kan oleh bakteri).

Mekanisme resistensi bakteri terhadap antibiotik

Upaya lain dari bakteri supaya tetap hidup dan eksis pada lingkungannya khususnya terhadap antibiotika yang akan mem¬bunuhnya mereka mampu memproduksi enzim sehingga anti¬biotika dapat dirusak atau diinaktivasi seperti enzim betalaktamase dan enzim ini dapat ditularkan kepada rekan sesama bakteri.
Di tingkat rumah sakit mekanisme terjadinya resistensi di¬duga melalui beberapa hal berikut: (1) terpaparnya populasi bakteri oleh organisme resisten; (2) ditemukannya resistensi akibat mutasi spontan strain-strain yang sensitif atau melalui transfer genetika; (3) ekspresi resistensi pada mikroba yang sebelumnya telah ada dalam populasi; dan (4) menyebarnya organisme resis¬ten melalui tranmisi silang.
Meskipun kenyataannya penggunaan antibiotika relatif lebih ekstensif di komunitas, tetapi reservoir mikroorganisme resisten tersebar berada di rumah sakit, karena hampir sebagian besar pasien akan mendapat antibiotika profilaksi ataupun terapi yang polanya sangat beragam dan cenderung sulit dikendalikan melalui regulasi biasa. Penyebaran mikroba resisten melalui kontaminasi silang umumnya lebih mudah di antara pasien-pasien penderita infeksi yang dirawat di rumah sakit.
Adapun faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya resis¬tensi bakteri di Rumah Sakit:

  1. Pasien yang dirawat umumnya menderita penyakit infeksi  serius
  2. Pasien-pasien imunokompromais seperti keganasan, kega¬galan berbagai organ
  3. Penggunaan alat-alat serta prosedur medik untuk diagnosis dan terapi
  4. Meningkatnya paparan organisme resisten di komunitas atau   fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.
  5. Pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit yang tidak efektif terhadap prosedur aseptik
  6. Peningkatan penggunaan antibiotika profilaksi
  7. Peningkatan penggunaan antibiotik kombinasi oleh klinisi yang sering tidak didasarkan indikasi yang jelas
  8. Tingginya penggunaan antibiotika oleh berbagai kalangan mulai oleh dokter praktek, perawat, apotik, warung-warung  obat  hingga hewan-hewan ternak.

Kekebalan kuman terhadap antibiotika juga dapat terjadi secara non genetik akibat kesalahan dari tenaga medis yang memberinya atau pada perilaku masyarakat atau akibat dari kondisi penyakitnya sendiri. Berdasarkan data-data penelitian di Indonesia, bakteri dan virus adalah penyebab infeksi yang paling banyak. Sementara antibiotika dapat membunuh bakteri, tetapi virus tidak dapat dibunuh oleh antibiotika.
Pada penderita selesma, flu, batuk, bronkhitis, diare atau ada cairan di hidung dan telinga, dan gangguan tenggorokan yang merupakan penyakit-penyakit yang paling sering diderita anak-anak terutama disebabkan oleh virus atau akibat pengaruh makan¬an yang dijual di jalanan karena banyak mengandung bahan-bahan sintetik. Bahkan hanya 15% saja radang tenggorokan disebabkan oleh bakteri. Namun begitu banyak resep antibiotika yang dituliskan dokter untuk mengobati infeksi virus.

Penyalahgunaan antibiotik

Alasan dokter meresepkan antibiotika antara lain karena penegakkan diagnosis yang belum pasti, atau sedikitnya waktu yang tersedia menerangkan hal ini pada pasien, karena lebih mudah memberikan resep antibiotika daripada menjelaskan kepada pasien mengapa menggunakannya atau alasan yang lain yang mungkin bisa dinalar adalah adanya infeksi virus menyebab¬kan lesi-lesi kecil di tempat lokasi infeksi, hal ini dapat memungkin¬kan adanya infeksi tumpangan/infeksi skunder oleh bakteri sehingga perlu diberi antibiotika.
Namun di samping itu juga karena tuntutan pasiennya sendiri. Mereka sering diketemukan pada dokter selama praktek adalah minta diberi antibiotika supaya cepat sembuh karena mereka harus cepat bekerja atau tidak mau bolos bekerja. Alasan lain mereka tidak mau terjaga pada malam hari karena anaknya sakit, sehingga sebelumnya mereka mencoba segala obat, ter¬masuk antibiotika yang mungkin dapat mengatasi penyakitnya.
Dari pihak apotik sendiri yang menyediakan obat untuk resep dokter, juga sering melayani masyarakat membeli antibiotika tanpa resep atau kalau ada masyarakat yang sakit tapi tidak ke dokter hanya datang ke apotik atau ke warung obat mereka juga me¬layani¬nya termasuk pembelian antibiotika.
Resistensi kuman terhadap antibiotika juga dapat terjadi di masyarakat karena salah satu penyebabnya adalah pemberian antibiotika pada hewan ternaknya dengan tujuan membantu pen¬cernaan agar tumbuh lebih gemuk. Tetapi dengan mengkonsumsi antibiotika yang tidak tepat, kepada pasien yang sakit dan belum tahu penyebabnya maka pasien justru berada dalam kondisi yang berbahaya, karena antibiotika yang dikonsumsi mungkin kurang dosis atau kelebihan dosis atau pemberian antibiotika tidak tepat. Hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotika di kemudian hari. Dan akhirnya suatu saat semua antibiotika tidak lagi ada gunanya untuk mengobati pasien yang menderita penya¬kit infeksi.
Kemampuan antibiotika untuk menghentikan infeksi tergan¬tung dari kemampuannya membunuh atau menghentikan pertum¬buhan bakteri. Namun beberapa bakteri dapat bertahan terhadap efek antibiotika lalu kemudian memperbanyak diri dan menyebar. Beberapa bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika secara alami, jauh sebelum adanya antibiotika komersil diedarkan. Hal tersebut dibuktikan oleh para ilmuwan yang menemukan bakteri pada sungai es di kutub utara yang telah berusia lebih dari 2000 tahun dan diantaranya telah resisten terhadap antibiotika yang mengindikasikan terjadinya resistensi secara alami.
Resistensi antibiotika bukan hanya tanggung jawab dokter dan ilmuwan, tapi merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dari pasien/masyarakat. Pasien harus mengerti bahwa penyakit-penyakit yang sering diderita seperti selesma dan flu selalu tidak dapat diatasi hanya dengan antibiotika. Selain itu, jika memang pasien harus mengkonsumsi antibiotika, maka pasien harus meng¬habiskan semua antibiotika yang telah diresepkan dokter meski¬pun telah merasa sembuh.
Sedangkan pasien dapat melakukan hal berikut :

  1. Tidak memaksa dokter untuk meresepkan antibiotika, tapi menanyakan bagaimana cara menghilangkan gejala-gejala penyakit.
  2. Jangan mengkonsumsi antibiotika pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, seperti selesma, batuk, atau flu.
  3. Habiskan antibiotika yang telah diresepkan dokter, jangan berhenti mengkonsumsinya meskipun merasa telah sembuh.
  4. Jangan menerima atau memberi antibiotika  dari atau kepada orang lain.

Selain itu masyarakat sebaiknya tidak menggunakan produk-produk yang mengandung  antibakteri seperti sabun, deterjen, lotion, dan lain-lain. Penggunaan produk-produk tersebut sebaik¬nya hanya digunakan di lingkungan rumah sakit. Karena hal ini bisa terjadi bakteri yang menyebabkan infeksi belum mati dan justru menjadi resisten.
Pada akhirnya para ilmuwan dan tenaga medis sepakat bahwa untuk mengurangi terjadinya resistensi antibiotika  dengan cara menggunakan antibiotika hanya untuk infeksi bakteri dan dengan mengawasi dan mencatat terjadinya infeksi bakteri yang resisten antibiotika.

PERAN LABORATORIUM MIKROBIOLOGI KLINIK  DI RUMAH SAKIT
Dari faktor-faktor di atas maka perlu peran laboratorium mikro¬¬biologi klinik di rumah sakit perlu ditingkatkan dalam mem¬bantu pencegahan dan pengendalian peningkatan resistensi mikroba terhadap berbagai antibiotika yang di berikan.
Secara fungsional minimal peran Laboratorium Mikrobiologi Klinik di rumah sakit mempunyai tanggung jawab dalam hal :

  1. Penentuan diagnosa kausal penyakit infeksi baik yang di¬sebab¬kan bakteri, virus maupun jamur baik secara langsung maupun tidak langsung.
  2. Pemilihan antibiotika yang sesuai untuk pengobatan penderita infeksi dengan melakukan uji kepekaan kuman penyebab dengan berbagai antibiotika.
  3. Bekerja sama dengan para klinisi di rumah sakit dalam menangani penderita penyakit infeksi yang di rawat. Kerja sama dalam hal ini adalah antara Spesialis Mikrobiologi Klinik dengan Klinisi pada kasus penderita infeksi yang sulit diatasi  penyembuhannya atau penderita infeksi yang kritis khususnya di ruang ICU .

    Selanjutnya dari Spesialis Mikrobiologi Klinik mengarahkan dalam hal pengambilan spesimen yang benar dan representatif untuk dilakukan pemeriksaan mirkobiologi secara akurat untuk mengetahui mikroba penyebabnya dan menentukan antibiotika mana yang sesuai untuk mikroba tersebut. Laporan hasil harus segera diberikan sesuai jenis spesimennya dan permintaan pemeriksaan mikrobiologi agar penderita mendapatkan pengo¬batan secara cepat dan tepat.

  4. Fungsi dari laboratorium mikrobiologi klinik dikembangkan dan sifatnya multifungsi bekerja sama dengan Panitia Farmasi dan terapi untuk membantu program kerja Rumah Sakit antara lain bersama-sama membuat Pedoman Penggunaan Antibiotika dalam rangka pencegahan peningkatan resistensi kuman di rumah sakit. Buku pedoman sebaiknya dicantumkan cara kerja, rute pemberian dan dosisnya Adapun tujuan pembuatan buku pedoman ini adalah:
  1. Untuk guideline/pegangan para klinisi dalam penggunaan antibiotika secara benar, disamping tujuan lain agar para klinisi/praktisi mempunyai pengetahuan yang seragam dan dapat memilih antibiotika secara bijak
  2. Mempengaruhi kebijakan penggunaan antibiotika di rumah sakit sehingga apotik dapat mengatur suplai penggunaan antibiotika disamping dapat mendorong pabrik farmasi  ikut bertanggung jawab dalam melakukan promosi dari produk yang  ditawarkan.

Dengan adanya buku pedoman ini maka akan meningkatkan kualitas dari penulisan resep antibiotika dan secara tidak langsung dapat mencegah dan mengendalikan resistensi mikroba terhadap antibiotika di rumah sakit

PERAN LAIN LABORATORIUM MIKROBIOLOGI KLINIK  DALAM PENGENDALIAN INFEKSI  RUMAH SAKIT
Rumah sakit merupakan tempat orang sakit mencari penyem¬buhan sehingga wajar apabila banyak orang dengan beragam penyakit berkumpul di tempat ini. Hal ini memungkinkan setiap orang yang memasuki lingkungan rumah sakit berpotensi untuk menyebabkan sumber penyakit yang dibawanya ditularkan kepada orang lain.
Seseorang yang sedang menderita suatu penyakit cende¬rung memiliki kekebalan yang lebih rendah pada umumnya sehingga penderita ini mempunyai resiko tinggi mudah tertular penyakit selama rawat inap.
Rumah sakit termasuk gedung, peralatan dan SDM-nya ber¬tanggung jawab atas tersedianya lingkungan yang bersih nyaman dan aman sehingga dapat memperkecil kemungkinan penularan kuman dari satu orang ke orang lain.
Dalam uraian di atas peran laboratorium mikrobiologi klinik sangat penting ikut secara tidak langsung membantu mengen¬da¬likan infeksi rumah sakit di samping ikut membantu mencegah peningkatan resistensi kuman karena pada umumnya penyebab infeksi nosokomial / Innos  telah banyak resisten  antibiotika.
Penyembuhan penderita yang sakit dapat dipercepat dengan segera mengirimkan hasil pemeriksaan mikrobiologi dengan me¬nyajikan hasil kepekaan kuman penyebab terhadap berbagai anti¬biotika yang disediakan. Selanjutnya apabila ada hasil pemerik¬saan mikrobiologi menunjukkan masih ada antibiotik yang sensitif, sedangkan sebelumnya antibiotika initial sudah diberikan, maka antibiotika tersebut perlu diganti, dan sebaiknya dicari antibiotika yang berspektrum sempit terlebih dahulu.
Dengan cara yang demikian maka peran laboratorium mikro¬biologi klinik juga secara tidak langsung dapat mengendalikan peningkatan resistensi kuman di rumah sakit.
Adapun kegiatan laboratorium mikrobiologi klinik yang lain dalam hubungannya dengan pelaksanaan Program Kerja Pengen¬da¬lian dan Pencegahan Infeksi Rumah Sakit /PPIRS antara lain adalah :
1.    Membantu pengawasan hasil pemeriksaan mikrobiologi ter¬hadap penyebab kejadian infeksi nosokomial melalui survelens innos, khususnya di bagian yang mempunyai resiko tinggi terkena Infeksi rumah sakit misal di bagian bedah, di ICU/ ICCU/PNCU, di bangsal Neonatus dan di bangsal Hemodialisis dan di bangsal-bangsal perawatan yang melakukan tindakan invasif seperti pemasangan infus dan pemasangan kateter khususnya dauer kateter.
2.    Membantu pengawasan terhadap flora mikroba rumah sakit termasuk personalnya yang dapat merupakan sumber penular¬an dengan bekerja sama dengan instalasi Sanitasi antara lain:
a.    Pemeriksaan rutin ruang ventilasi udara kamar operasi, uji pencemaran kuman pada permukaan lantai, tempat cuci tangan untuk yang tidak ada air yang mengalir, uji kualitas sumber air secara bakteriologik yang digunakan di rumah sakit terutama yang menuju ke tempat-tempat rawan ter¬kena resiko Infeksi nosokomial.
b.    Pemeriksaan terhadap limbah rumah sakit agar bebas dari cemaran mikrobia patogen produk rumah sakit ke pen¬derita, personal dan kepada masyarakat sekitar.
c.    Pemeriksaaan uji potensi bahan-bahan desinfektans yang digunakan di Rumah Sakit Dokter Moewardi Surakarta.
d.    Bagi personalnya yang bekerja di rumah sakit, misal men¬deteksi adanya carier kuman patogen termasuk MRSA  pada usap hidung, usap tenggorok parawat yang bekerja di bagian neonatus, usap rektum para karyawan di bagian pengelola dapur, uji derajat pencemaran mikroba pada tangan perawat yang sedang bekerja di bangsal–bangsal.
e.    Memberikan rekomendasi layak pakai terhadap ruang operasi/peralatan yang digunakan untuk operasi (uji ste¬rili¬tas  peralatan).
3.    Bersama dengan Instalasi Farmasi melakukan “Quality Control” terhadap mutu antibiotika dan pedoman penggunaan antibiotika.
4.    Memberi masukkan/pengarahan atau pemecahan permasalah¬an yang terjadi sewaktu-waktu muncul di setiap unit SMF rumah sakit terutama unit invasif seperti di ruang operasi, di ICU yang ada hubungan erat dengan kejadian infeksi noso¬komial atau suatu kejadian yang mengarah dapat menimbulkan  kejadian infeksi nosokomial.
5.    Membantu melaksanakan pendidikan/penataran bersama- sama dengan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS) di lingkungan rumah sakit maupun di luar rumah sakit. Atau mengirimkan tenaga perawat ICN (Infection Nurse Controle), sebagai anggota Tim PPIRS  ke workshop atau seminar-seminar dalam rangka pengembangan kualitas pengetahuan dan keterampilan SDM Rumah Sakit.
Dari uraian di atas dengan membantu Tim PPIRS maka laboratorium Mikrobiologi Klinik secara tidak langsung juga ikut membantu mengendalikan resistensi antimikroba.

PENUTUP
Seperti diketahui bahwa antibiotika telah terbukti membantu penyembuhan penderita penyakit infeksi di rumah sakit. Tetapi penggunaan antibiotika yang terus menerus akan menimbulkan  pula berbagai masalah.
Masalah yang terpenting dalam hal ini adalah timbulnya strain kuman yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika, sehingga pengobatan penyakit infeksi dengan antibiotika tidak lagi efisien, atau bahkan menjadi lebih mahal, atau efek samping obat menjadi lebih besar. Dan yang paling jelek lagi adalah bila tidak ada lagi antibiotika yang mampu membunuh kuman penyebab sehingga penderita yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan terancam jiwanya.
Dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi seperti di atas maka perlu mengupayakan langkah langkah sebagai berikut:
1.    Peningkatan mutu dan fasilitas Laboratorium Mikrobiologi Klinik
Mengupayakan agar setiap rumah sakit mempunyai pelayanan Laboratorium Mikrobiologi Klinik sesuai dengan kelas rumah sakit yang bersangkutan (Kelas A, B, C dan Khusus). Menyelenggarakan pelayanan mikrobiologi klinik yang bermutu berdasarkan standar baku dan menjalankan quality assurance. Disamping itu rumah sakit perlu mengu¬paya¬kan peningkatan fasilitas yang diperlukan Laboratorium Mikrobiologi agar Laboratorium Mikrobiologi Klinik mampu melak¬sanakan pemeriksaan lebih lengkap dengan sistem informasi terkomputerisasi untuk membantu seleksi jenis anti¬biotik disamping dipersiapkan peralatan yang lain dan canggih misalnya ”Molekuler Typing” untuk menunjang epidemiologis seperti pada Kejadian Luar Biasa / KLB.

2.    Melakukan survelens penggunaan antibiotika di rumah sakit
Melakukan survelens/pengawasan penggunaan anti¬biotika di rumah sakit dengan tujuan pertama adalah untuk meningkatkan kualitas dari penulisan antibiotika pada resep-resep dokter yang terkendali untuk pasiennya berdasarkan buku pedoman dan pola kuman dan sifat resistensinya ter¬hadap antibiotika. Buku pedoman/”Clinical Practiuse Guideline” tersebut sebaiknya juga dicantumkan juga cara kerja anti¬biotika, dosis dan rute pemberian, guideline/pegangan peng¬gunaan antibiotika yang benar dan lain-lain dengan maksud agar setiap dokter mempunyai pengetahuan yang seragam dan dapat memilih antibiotika yang rasional.
Tujuan kedua adalah untuk mempengaruhi kebijakan penggunaan antibiotika di rumah sakit sehingga apotik dapat mengatur suplai penggunaan antibiotika disamping mendo¬rong pabrik obat/farmasi untuk ikut bertanggung jawab dalam me¬laku¬kan promosi dari produk yang ditawarkan.
Bagian farmasi harus mampu menetapkan dan mem¬batasi jenis dan jumlah antibiotika berdasarkan formularium obat yang umumnya dipakai dalam periode tertentu. Dan apotik melaksanakan sesuai kesepakatan bersama.

3.    Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial.
Pimpinan rumah sakit beserta jajarannya perlu memper¬hati¬kan keberadaan dari Komite Pencegahan dan Pengen¬dalian Infeksi Rumah sakit (PPIRS) yang ada di rumah sakit. Adapun wujud perhatiannya adalah berupa pengalokasian dana khusus untuk Tim PPIRS.
Apabila Tim PPIRS dapat menekan jumlah kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit maka akan membantu masalah resistensi kuman terhadap antibiotika, karena kuman penyebab infeksi nosokomial umumnya telah resisten dengan berbagai antibiotika dan dapat menularkan kepada orang lain di sekitarnya.

4.    Peningkatan kinerja dokter spesialis mikrobiologi klinik
Para dokter spesialis mikrobiologi klinik hendaknya aktif terlibat dalam Komite Farmasi dan Terapi, Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit, terlibat dalam penge¬lolaan pasien bekerja sama dengan para klinisi di rumah sakit  khususnya penyakit infeksi .

Hadirin yang saya hormati,
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini perkenankanlah saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kasih atas rahmat dan karunianya kepada kami sekeluarga sehingga atas perkenannya saya dapat menyandang jabatan Guru Besar di bidang Ilmu Mikrobiologi.
Saya menyadari bahwa proses pengangkatan ini melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya dengan segala kerendahan hati menyam¬pai¬kan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberi bantuan, dorongan, dukungan pengertian dan perhatian kepada saya sehingga proses pengukuhan saya sebagai Guru Besar pada hari ini dapat ber¬langsung dengan baik .
Pertama tama saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang atas kepercayaan dan kehor¬matan kepada saya untuk memikul tugas sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Mikrobiologi pada Fakultas Kedokteran Univer¬sitas Sebelas Maret Surakarta.
Selanjutnya kepada yang terhormat bapak Rektor Univer¬sitas Sebelas Maret Prof. DR. H. Muhamad Syamsulhadi, dr. Sp.KJ(K)  saya sekeluarga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya atas dorongannya dan dukungannya serta yang telah menyetujui pengusulan saya untuk memperoleh jabatan Guru Besar Fakultas Kedokteran UNS dan atas kese¬diaan¬nya memimpin acara pengukuhan ini.
Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada mantan Rektor UNS Prof Koento Wibisono PhD, Prof. Drs. Haris Mudjiman MA, Ph.D dan Direktur Pascasarjana Prof. Drs. Suranto, MSc., Ph.D atas dukungan dan dorongan yang diberikan kepada saya sewaktu saya mengikuti Pendidikan Program Doktor Pascasarjana Univer¬sitas Airlangga yang akhirnya dapat mengantarkan saya meraih jabatan Guru Besar.
Terima kasih saya ucapkan kepada segenap anggota Senat Fakultas Kedokteran dan Senat Universitas Sebelas Maret atas pertimbangan dan persetujuan bagi saya untuk menjadi Guru Besar dan menerima saya dalam lingkungan akademik yang ter¬hormat ini.
Kepada Dekan Fakultas Kedokteran DR. dr. AA Subiyanto, MS dan mantan Dekan Prof. Soetjipto, dr. Sp.Rad, Almarhum                  dr. Kamalita, dr. Soetrisno Danusastro, Sp.M, Prof. Dr. Suroto, dr. Sp.S dan Prof. Dr. Admadi Soeroso, dr. Sp.M. MARS, Pembantu Dekan I Prof. Dr. Suradi, dr. Sp.P dan mantan Pembantu Dekan I Prof. Dr. Satimin Hadiwidjaya, dr. PAK. MARS. Pembantu Dekan II dr. Sugeng Purwoko, M.MedSc. Sp.GK, mantan Pembantu Dekan II dr. Isdaryanto, MARS, mantan Pembantu Dekan II                           Prof. Dr Muhardjo, dr. Sp.THT, Pembantu Dekan III                      dr. Hari Purnomo Sidik, M.Kes, mantan Pembantu Dekan III             dr. Bambang Suratiman Sp.THT-KL, dan mantan Pembantu Dekan III dr. Samigun, SU, saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan sejak awal dari mulai saya melanjutkan studi S2 dan S3 sampai pengusulan saya menjadi Guru Besar.
Kepada yang terhormat Prof. Dr. Yoes Priyatna Dahlan, dr., M.Sc. dan Almarhum Prof. Dr. Noor Rahman, dr., Sp.MK, sebagai promotor saya, kepada Prof. H.R.Wasito, drh. M.Sc. Ph.D,              Prof. Made Sukahatya, Sp.PD., KGH, sebagai ko promotor saya dan semua guru guru saya pada Program Pascasarjana Univer¬si¬tas Airlangga khususnya Bapak Widodo JP. Poejirahardjo, dr., MS, Prof. Dr. Imam Supardi, dr. Sp.MK, Prof. Dr. Marsetyo Donoseputro, dr., Sp.PK(K), Prof. Dr.Yuliati, dr., MS., Sp.A, FIAC, Dr. dr. F. Yudayana, Sp.K(K), Alm. Ibu dr. Atasiati Idajadi Sp.MK, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas bimbingannya selama mengikuti pendidikan Pascasarjana di Unair Surabaya sehingga saya dapat meraih jabatan Guru Besar  ini.
Terima kasih saya sampaikan kepada Direktur RSUD              Dr. Moewardi, Dr. Mardiatmo, Sp.Rad, Wakil Direktur Pelayanan Medis Dr. Tri Lastiti Widowati, Sp.RM, M.Kes, Wakil Direktur Keuangan dr. Sri Indriyani, MM, Wakil Direktur Umum dr. Tatar Sumandjar Sp.PD., KPTI dan Mantan Wakil Direktur Umum               dr. Ganung Suharsono, Sp.A, Prof. Dr. JB. Suparyatmo dr.,Sp PK(K) atas dukungan dan doanya serta atas pemberian ijin untuk berdirinya Instalasi Laboratorium Mikrobiologi Klinik Di RSUD            Dr. Moewardi Surakarta, sehingga saya dan rekan-rekan saya di Bagian Mikrobiologi dapat lebih meningkatkan ilmu mikrobiologi kami selain di Fakultas Kedokteran juga aplikasinya di rumah sakit.dan masyarakat.
Terima kasih saya ucapkan kepada rekan rekan dari         Amrin Study khususnya kepada Prof. Dr. Henry Verburg,                               Prof. dr. Wijosena Garjito, Sp.BU, Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS. Sp.MK, Prof. Dr. Hendrowahyono, dr., Sp.MK, DR. dr. Winarto, Sp.MK,         dr Isbandrio, Sp.MK, dr. Lindawati, Sp.MK, M.Kes, dr. Agung, M.Si yang selalu mendorong saya untuk menambah cakrawala ilmu mikrobiologi khususnya tentang resistensi antimikroba.
Saya juga tidak melupakan jasa semua guru guru saya sejak di Sekolah Rakyat di Rembang, SMP di Delanggu Klaten, SMA Kristen Banjar Sari dan SMA Nasional di Pati sampai ke Perguruan Tinggi Fakultas Kedokteran UNS Surakarta.
Tidak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih kepada almarhum bapak dr. Purwadi, Sp.OG atas jasa-jasa beliau membiayai kami kelompok enam belas sehingga kami dapat terus melanjutkan lagi kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Veteran Surakarta sebagai cikal bakal Fakultas Kedokteran PTPN dan Fakultas Kedokteran UNS Surakarta.
Demikian pula kepada semua rekan sejawat dan karyawan di Fakultas Kedokteran UNS  khususnya di Bagian Mikrobiologi              dr. R. Bambang Sujono, Sp.MK, dr. Marwoto, M.Sc., Sp.MK,             dr. Maryani, M.Si, Drs. Hudiono, MS, dr. Betty Suryawati M.BiomedSc, dr. Afiono Agung Prasetyo, dr. Leli Saptawati, dr. Tri Nugraha Susilowati, Maryuni Wahningsih, Robianto, Sri Suharti, Parjo, Kasiono, Nur Dwi Handayani dan Danur Wahyu Dewanto saya ucapkan penghargaan dan terima kasih yang tak terhingga atas dorongan, bantuan dan kerjasama dalam suasana kekeluargaan yang kita ciptakan bersama-sama selama ini.
Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman sejawat dari anggota PAMKI seperti Prof. DR. Dr. Usman Chatip, Ph.D., Sp.Mk., Prof. Amin Soebandrio Ph.D., Sp.Mk., Prof. Sjahrurachman A, Ph.D., Sp.MK, Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono, Ph.D., Sp.MK, Prof. Dr. Robert Uci, Sp.MK, Dr. dr. Titik Sudigdoadi, Sp.MK, Prof. Sam Suharto, Sp.MK, Dr. Edy Mugihardi, Sp.MK, dr. Setyo Harsono, Sp.MK, dr. Kartuti Yusuf Sp.MK, Dr. Dr. Edi Bagus Wasito, Sp.Mk, Prof. Dr. dr Sanarto Santosa, Sp.MK, Prof. Dr. dr. Sumarno, Sp.MK, Dr. Ruskisti¬ningsih, Sp.MK, DR. Dr. Norhamdani, Sp.MK, dr. Sjukur M Dzen Sp.Mk, dr. Isbandrio, Sp.MK, dr. Musrichan, Sp.PD, Sp.MK, dr. Ristanto, Sp.MK, Dr. Abutolip, Ph.D, dr. Moh Amin Romas, Sp.MK dan teman-teman sejawat Mikrobiologi lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang mendukung dan mendorong saya sehingga saya dapat meraih jabatan guru besar ini.
Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada teman-teman sekerja di RSUD Dr. Moewardi Surakarta khususnya di Instalasi Laboratorium Mikrobiologi Klinik yaitu Perwito, Sri Muji Wahyuni, Sri Manunggal Prawesri, Yulika, Rebiati, Sriyanto dan dari Anggota Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit khususnya kepada teman sejawat, dr. Bintang Sutjahyo, Sp.OT, Drs. Suharsono, Sp.FRS, Endah Kusumaningsih, ST,  dr. Nana Hoemar Dewi, M.Kes, dr. Purwoko, Sp.An, dr. Suharto Wijanarko,  Sp.U, Prof. Dr. Guntur Hermawan, dr., Sp.PD. KPTI, Prof. Dr. Dalono, dr., Sp.OG dan semua anggota perawat ICN yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu atas semua doa, bantuan dan dorongannya sehingga saya dapat meraih jabatan Guru Besar ini.
Terimakasih juga saya tujukan kepada dr. Sugandi, Sp.B Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, dr. Louw Siauw Ging, mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, dr.B udi Kadarto, Sp.B, dr. Sumartanto, Sp.An, dr. Suyarsono, Sp.B, dr. Ndarumurti Pangesti, Sp.PD, dr. Umar Bahaswan, Sp.An, dr. Irvieta Kania, drg. Haryani, drg. Inawati, Dra. Dwi Astuti, Apt, dr. Yulius Widiyarto, dr. Ari Dartoko, dr. Dewi P. Pribadi S, dan teman sejawat yang lain yang bekerja di RS Kasih Ibu, Analis laboratorium RS Kasih Ibu khususnya Sri Ningsih, AMD, dan para tenaga paramedis atas bantuan, dorongan dan doanya ketika saya melakukan penelitian untuk studi S3 dengan istri saya, sehingga saya dapat meraih jabatan Guru Besar ini.
Sebelumnya juga saya mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada nama-nama yang terlewatkan dalam ucapan terima kasih ini, namun budi baik bapak ibu, teman sajawat dan saudara sekalian tidak pernah saya lupakan dan akan terkenang dalam lubuk hati sanubari saya.
Hadirin yang kami hormati,
Pada kesempatan ini izinkan pula saya menyampaikan rasa terima kasih kepada ayah saya Almarhum Bp Sriwismo Hadipranoto, dan khususnya Ibu saya Suharti yang telah men¬didik, membesarkan dengan segala kasih sayangnya dan memberi suri tauladan untuk berjuang dengan gigih untuk mencapai cita-cita dan beliau mengharapkan saya menjadi orang yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan orangtuanya sebagai perawat Rumah Sakit. Semoga arwah beliau keduanya diterima di sisi Tuhan yang Maha Asih sesuai dengan amal baktinya semasa hidup di dunia ini.
Untuk Almarhum kedua mertua saya Bpk-ibu  Darmosuwiryo  yang semasa hidupnya selalu memberikan dorongan dan memberi suri tauladan yang baik kepada anak anaknya dan saya panjatkan doa kehadirat Tuhan yang Maha Asih agar Arwah beliau di terima disisiNya.
Kepada Almarhum Paman Sugiarto dan Bulik Suparmi atas jasa-jasanya ikut mengarahkan saya kuliah di Fakultas Kedokteran di Surakarta Semoga arwah beliau keduanya diterima di sisi Tuhan yang Maha Asih sesuai dengan amal baktinya semasa hidup di dunia ini.
Kepada para Pastor yang pernah berkarya di Gereja San Inigo, Romo L. Sugiri Van den Heivel, Romo D. Windyo Wiryono, Romo T. Waji Pr, Romo L. Djono Wasono Pr, Romo Ant. Budi Wihandono Pr, juga pastor yang berkarya di Pusroh Surakarta terutama Romo Van Diense SJ, Romo Widodo SJ, juga Pastor yang lain yang tidak saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan dan bimbingannya, serta doa selama kami berdua studi di Fakultas Kedokteran, sehingga saya dapat meraih jabatan Guru Besar ini.
Kepada seluruh keluarga saudara kandung baik dari keluarga dari istri dan keluarga saya sendiri seperti kakak Dra.Th. Siti Rochani, Almarhum Dra. M.I. Sriwidadi, S.Pd, Almarhum Sri Heru Widodo, dengan istri Surastini, Sri Sumarah beserta suami Drs. Heru Santoso, Ph.D, Drs. Yusup Subianto beserta istri Dra. Sri Widyastuti, adik Drs. Sri Widjojo beserta istri, Almarhum Ir. Joko Susanto degan istri Elot Kinanto, kakak saya Sri Mulyani, Sri Mulyati, Almarhum adik Sri Muktini, adik Sri Haryuni beserta suami Suharno, Sm.Ph dan Sri Hastuti beserta suami Sri Umar Lantip dan adik Emy Handayani, Sigit Gunawan, Ir. Jati Utama, Drs Haryanto dan adik-adik yang lain terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini sehingga saya dapat mencapai Guru Besar sebagai salah satu cita-cita keluarga kita.
Kepada anak-anakku yang kucintai dr. R. Iwan Wahyutomo beserta istri Afrita Kishariadini, SE, ananda Th. Diah Lestari Widiasih, SH., MKn. PPAT, ananda dr. Ant. Andi Kurniawan beserta istri  dr. Marion Cinta, bapak ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas dorongan dan doa dengan penuh harap sehingga atas perkenan Tuhan yang Maha Asih tercapailah keberhasilan dalam menyelesaikan sebagian tugas hidup bapak.
Akhirnya kepada istri saya tersayang Dr. Y. Nining Sri Wuryaningsih, dr. Sp.PK, saya panjatkan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga atas dorongan dan dampingannya selama ini dan dengan sabar selalu memberi semangat untuk tidak menyerah, dan selalu menjaga keharmonisan baik dalam lingkungan keluarga maupun di pergaulan masyarakat, Semoga Tuhan Allah yang Maha Asih senantiasa memberkatimu dan memberi kesehatan yang sangat bermanfaat di dalam mendidik anak dan cucu-cucu kita.

Pesan untuk dosen muda,
Adik adik semuanya merupakan aset yang sangat berharga bagi kemajuan dunia pendidikan di negara kita. Oleh karena itu marilah kita bekerja tanpa pamrih untuk mencerdaskan anak-anak didik kita dengan segala ilmu yang kita miliki.
Dengan kawan sekerja, hendaklah saling bekerja sama, dan saling memberi semangat, saling bertukar ilmu dan membina keke¬luargaan yang lebih erat dengan satu cita-cita untuk mening¬katkan mutu Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret yang kita cintai.
Dengan demikian harapan saya nanti dikemudian hari Fakultas Kedokteran UNS dengan Rumah Sakit pendidikannya RSUD Dr. Moewardi Surakarta khususnya dan Universitas Sebelas Maret pada umumnya merupakan Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit yang membanggakan tidak hanya di Surakarta tetapi lebih luas lagi sampai ke pelosok dunia sesuai harapan dan cita-cita Rektor UNS dan Direktur Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.
Oleh karena itu nasehat saya jangan suka menunda-nunda apa yang sudah kita raih dengan susah payah teruskan men¬dalami ilmu sampai tuntas ke puncaknya, tidak seperti kakak kakakmu sebelumnya.
Sebagai penutup kepada hadirin yang telah memberikan perhatian dan dengan sabar mendengarkan pidato pengukuhan ini, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas kesediaannya untuk meluangkan waktu yang sangat berharga menghadiri upacara ini.
Saya sampaikan juga permintaan maaf bila terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian. Semoga Tuhan Allah selalu memberkati kita semua Amin

Sekian Terima kasih

Priyambodo

Daftar Kepustakaan

Buntaran L (2006). The Role of Clinical Microbiologist in the Control Programme of Antimicrobial Resistance  Workshop of Prudent Use of Antibiotics. Surabaya, March 17–19, 2006.
Darmansjah, Iwan. (1996). Perkembangan Antibiotik Dan Penggu¬naan¬nya Yang Rasional. Majalah Kedokteran Indonesia.                 11 : 637 – 642.
Dwi Prahasto I (2005). Kebijakan untuk minimal risiko terjadinya resistensi  bakteri di Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit JMPK. Vol.08/No.04/Desember.
Eickhoff, Theodore C. 1992. Antibiotics And Nosocomial Infections. In: The Intensive care Unit. In: John V. Bennet and Philip S. Brachman. Hospital Infections. 3rd ed. Atlanta: Little Brow Company. pp : 245-264
Gardjito Wijoseno  (2006). Why should antibiotics be used prudently. Workshop of Prudent Use of Antibiotics. Surabaya, March 17 – 19, 2006
Hartawan, Setiawati, Dwiprihasto, Iwan. (2003). Evaluasi Peng¬gu¬naan Antibiotika Pasca Pengembangan Formularium 2002 Di RSUD Wangaya Denpasar Bali. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 06 : 125-130.
Istiantoro, Yati H, Gan, Vincent H.S. 2004. Penisilin, Sefalosporin dan Antibiotik Betalaktam Lainnya. In: Sulistia G Ganis¬warna. Farmakologi Dan Terapi. Jakarta: Bagian Farmako¬logi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. pp : 622-650
Juliawati, Melly, Astrawinata, Dalima AW. (1996). Infeksi Noso¬komial Pada Penderita Keganasan. Majalah Kedokteran Indonesia. 04 : 189-202
Kuntaman. Pengendalian Resistensi Antimikroba. Kuntaman            Workshop of Prudent Use of Antibiotic. Surabaya, March 17-19, 2006
Pittet, Didier, Herwaldt, Loreen A, Massanari, R.Michael. 1992. The Intensive care Unit. In: John V. Bennet and Philip S. Brachman. Hospital Infections. 3rd ed. Atlanta: Little Brow Company. pp : 405 – 439
Priyambodo (2000). Gambaran Mikrobiologik yang berfungsi     Menunjang Diagnosis Sepsis. Pertemuan Ilmiah PETRI Surakarta. 2000
Priyambodo, Purwoko (2006). Pola Kuman dan resistensinya terhadap antibiotika dalam rangka penentuan Antibiotika Emperik di RSUD Dr.Moewardi Surakarta
Priyambodo, Maryani, Bety S. (2007). Pola Resistensi Obat Anti tuberkulosis Dari Penderita TB paru di RSUD Dokter Moewardi
Santosa, Elly, Astrawinata, Dattma AW. 1993. Efektivitas Anti¬biotika Turunan Sefalosporin Terhadap Kuman di Jaringan Apendiks.  http://www3.kalbefarma.com  (25 Maret 2006)
Setiabudy, R, Gan, Vincent H.S. 2004. Pengantar Antimikroba. Sulistia G. Ganiswarna. Farmakologi Dan Terapi. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.            pp: 571-583
Tortora, Gerard J, Funke, Berdell R, Case, Christine L. 1986. Microbiology An Introduction. 2nd ed. United States Of America: The Benjamins/Cummings Publishing Company, Inc. p : 514.
Sjahrurachman A, Ikaningsih, Sudiro T.M (2004) Profil Etiologi Bakteremi dan Resistensinya terhadap Antibiotik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta tahun 1999-2002. Majalah Kedokteran Indonesia. 54 (7): 262.
Utji R (1993). Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr. Cipto Mangunkusuma dengan Sumber Daya Minimal. Cermin Dunia Kedokteran. No.82:5.
Usman Hadi (200^). Pengunaan antibuiotik secara bijak. Workshop on Prudent Use of Antibiotics Surabaya, July 21 – 23, 2006
Wahyono H. (1994). Penggunaan Antibiotika Secara Rasional  pada Penyakit Infeksi. Medika. 2:45-6.
Widodo, Djoko (1999). Infection Control In The Intensive Care Unit. Majalah Kedokteran Indonesia. 49 : 174 – 179  RSUD. Dr. Moewardi Surakarta (2008)

KEBUTUHAN PANGAN,KETERSEDIAAN LAHAN PERTANIAN DAN POTENSI TANAMAN

Oleh:
Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, M.P.

Yang terhormat,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan Para Anggota Senat Universitas SebelasMaret,
Para Pimpinan Daerah dan Pejabat Militer,
Para Guru Besar Tamu Undangan,
Para Dekan/Pimpinan Fakultas, Direktur Pasca Sarjana, Ketua Lembaga, UPT, Bagian serta Program Studi,
Para Dosen, Pejabat dan Staf Administrasi di lingkungan UNS,
Tamu undangan, Teman Sejawat, Sanak Keluarga,
Serta handai taulan semua.

Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat dan berkah sehingga kita dapat berkumpul bersilaturahmi dalam sidang yang terhormat ini. Pada kesempatan ini saya menyampaikan pidato pengukuhan jabatan fungsional Guru Besar bidang Ekologi Tanaman pada Fakultas Pertanian UNS, Surakarta, dengan judul:

KEBUTUHAN PANGAN, KETERSEDIAAN LAHAN PERTANIAN DAN POTENSI TANAMAN

Hadirin yang terhormat,

Hadiah Nobel telah diterima oleh beberapa pakar kimia, namun belum ada pakar yang dapat meniru tanaman mengubah CO2 dan H2O (bahan yang relatif sederhana dan banyak tersedia) menjadi karbohidrat menggunakan energi cahaya matahari.  Dengan demikian tanaman sebagai pabrik karbohidrat tidak dapat tergantikan sehingga terus diperlukan khususnya sebagai sumber pangan bagi manusia. Ini mengisyaratkan bahwa ketersediaan pangan harus sesuai dengan kebutuhan yang secara langsung terkait dengan jumlah penduduk. Penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2000 telah mencapai 206 juta jiwa (sensus) dengan laju pertumbuhan 1,25% per tahun. Tahun 2006 jumlah penduduk telah mencapai 222 juta jiwa dan saat ini berdasar estimasi telah mencapai hampir 235 juta jiwa. Oleh karena itu kebutuhan pangan juga meningkat, sebagai salah satu contoh adalah peningkatan kebutuhan beras.  Kebutuhan beras tahun 2001, 2002, 2003, dan tahun 2004 masing-masing sebesar 32.771.246, 33.073.152, 33.372.463, dan 33.669.384 ton (BPS, 2007).  Dengan demikian dapat diduga bahwa kebutuhan beras akan terus meningkat dan akan melampaui ketersediaannya. Ini berakibat pada peningkatan impor beras yang setiap tahun berkisar 2,5 juta ton.  Hal yang sama juga terjadi pada jagung dan dengan peningkatan impor dari 1,28 juta ton (tahun 2000), menjadi 1,39 juta ton (tahun 2003), dan naik menjadi 2,73 juta ton di tahun 2004 (Departemen Pertanian, 2007).
Uraian di atas merupakan tantangan bagi dunia pertanian pada saat ini maupun masa mendatang. Guna memenuhi kebutuhan pangan yang selalu meningkat dan agar ketergantungan pada impor komoditas pangan menurun atau bila mungkin dihentikan, dilakukan upaya: (i) peningkatan potensi produksi tanaman baik secara intrinsik maupun ekstrinsik (ii) perluasan lahan pertanian atau luas panen melalui peningkatan intensitas pertanaman                 (iii) pencegahan kehilangan hasil pra panen dan pascapanen, dan (iv) ketergantungan pangan pada satu komoditas harus dihindari dengan memasyarakatkan penganekaragaman pangan.

Hadirin yang terhormat
Upaya mengeliminasi ketergantungan pada impor dengan peningkatan potensi produksi pangan mengalami beberapa kendala.  Peningkatan potensi tanaman secara intrinsik yang termanifestasi¬kan dalam produktivitas komoditas, terasa sangat sulit dicapai meski¬pun terbuka peluang untuk hal itu.  Beberapa komoditas tanaman pangan utama telah mencapai batas yang tak dapat ditingkatkan lagi (levelling off), dan tampak pada produktifitas tanaman Padi (Oryza sativa), Jagung (Zea mays), Kedelai (Glycine soya), dan Kacangtanah (Arachis hypogaea). Komoditas tersebut dalam lima tahun terakhir cenderung konstan (rerata nasional masing-masing berkisar antara 4,6 – 4,7, 2,8 – 3,3, 1,2 – 1,3, dan 1,1 – 1,2 ton ha-1).  Ini tidak terlepas dari faktor ekstrinsik sehubungan dengan peru¬bahan lingkungan seperti ketersediaan air, ketersediaan pupuk karena pengurangan subsidi (padahal kemampuan petani rendah), dan budidaya tanaman secara organik yang makin memasyarakat.  Budidaya tanaman organik memang meningkatkan mutu produksi tanaman namun jumlah produksi, secara teoritis lebih rendah daripada produksi tanaman yang menggunakanan sumberdaya anorganik.
Tanaman memerlukan media tumbuh yang berupa hamparan tanah atau lahan. Lahan pertanaman atau lahan pertanian pada dasawarsa terakhir ini, telah banyak beralih fungsi menjadi per¬untukan lain di luar pertanian.  Luas sawah terus menyusut, di Jawa selama periode 1981- 1999 luas sawah berkurang sebesar 483.831 ha. Hal itu menjadi salah satu penyebab luas panen yang tumbuh negatif untuk Padi, Jagung, Kedelai dan Kacangtanah pada tahun 2000 – 2003, sebesar 1,59, 4,95, 1,16, dan 2,34 (Departemen Pertanian, 2004). Meskipun peningkatan produktifitas masih terbuka, namun peluang perluasan areal pada lahan pertanian konvensional, dapat dikatakan telah tertutup, sehubungan dengan kecepatan laju konversi lahan pertanian menjadi peruntukan lain.

Hadirin yang terhormat
Bagaimana mengatasi kendala tersebut, dan apa yang harus dilakukan.
Peningkatan potensi produksi tanaman melalui rekayasa genetika baik secara konvensional maupun secara inkonvensional merupakan tantangan bagi pemulia tanaman. Penciptaan varietas unggul spesifik lokasi sangat diharapkan karena setiap lokasi memiliki ciri lingkungan khas, disamping untuk menghindari penyempitan diversitas hayati. Lahan dengan tingkat kesuburan rendah, lahan kering, atau sebaliknya lahan tergenang merupakan lahan marginal yang terpaksa digunakan sebagai lahan pertanian di masa datang.  Varietas yang adaptif terhadap kondisi tersebut perlu dipersiapkan sejak saat ini.
Upaya peningkatan potensi produksi tanaman secara ekstrinsik selama ini melalui pengairan, pemupukan, pengendalian pengganggu, dan pengolahan tanah merupakan hal yang tidak perlu diper¬debat¬kan lagi. Namun demikian ketersediaan sumberdaya tersebut di masa depan terasa semakin mencemaskan. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan khususnya hutan berpotensi mengakibatkan kelangkaan air. Penggunaan pupuk senyawa anorganik yang sebagian besar menggunakan bahan dasar dari bahan bakar fosil dirasa semakin mahal. Sebagai bahan perbandingan, bahwa negara Afrika jarang sekali menggunakan pupuk dari bahan bakar fosil, dan bahkan dapat dikatakan tidak pernah. Demikian pula dengan penggunaan pestisida.  Kesadaran terhadap pemeliharaan kesehatan jasmani dan perbaikan lingkungan, dengan meningkatkan peng¬gunaan bahan organik sebagai pupuk dan pestisida, merupakan hal yang menggembirakan. Penggunaan bahan organik selain meningkat¬¬kan mutu hasil tanaman sekaligus dapat mengatasi pencemaran akibat penimbunan limbah rumah tangga terutama di perkotaan.  Penggunaan bahan organik memang menjanjikan dari segi kualitas sehingga bernilai ekonomi tinggi yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Namun demikian, perlu pula diperhatikan dampak limbah organik berbahaya dan beracun terhadap produk tanaman (Hairiah, 2003).
Faktor ekstrinsik berikutnya adalah cahaya yang berperan besar dalam menentukan produksi tanaman. Cahaya hampir sepenuh¬nya tergantung pada kondisi alam sehingga tidak dapat secara bebas petani melakukan rekayasa (Sitompul dan Guritno, 1995). Bila cahaya berlebih (hal yang sangat jarang terjadi pada tanaman pangan di Indonesia) kemungkinan masih dapat dikurangi dengan menggunakan naungan, namun bila kurang hampir sangat sulit untuk meningkatkannya, terutama untuk budidaya tanaman dalam skala luas. Produksi tanaman mencapai maksimum pada cahaya maksimum, dengan catatan bila tidak dibatasi oleh keter¬sediaan faktor lain terutama air. Sebagian besar lahan per¬tanian di Indonesia ketersediaan air masih tergantung pada air hujan yang tampak pada penentuan masa tanam di suatu wilayah. Seharusnya penentuan masa tanam pada suatu wilayah dilaku¬kan dengan mengkombinasikan curah hujan dan irradiasi maksimum (bukan curah hujan semata).

Ibu dan bapak yang saya hormati
Sehubungan dengan laju alih fungsi lahan pertanian yang semakin cepat dari tahun ke tahun seperti telah saya sampaikan di atas, perluasan lahan pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman hanya dapat dilakukan pada lahan marginal seperti lahan kering, lahan gambut, lahan pasangsurut, lahan bermasalah lain, dan di kawasan hutan. Penggunaan lahan tersebut sebagai lahan pertanian memerlukan kajian untuk memperoleh teknologi yang tepat dan mudah diterapkan. Bila ahli bangsa Israel dan China terutama ahli tanah mampu mengubah padang pasir menjadi lahan pertanian bagaimana dengan ahli Indonesia.  Apakah permasalahan di lahan marginal Indonesia lebih kompleks dari padang pasir.  Karena saya bukan ahli tanah saya tidak dapat menjawab hal itu.  Kawasan hutan telah sejak lama dipergunakan oleh penduduk sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan pangan selain kayu untuk bangunan dan kayu bakar. Berdasarkan pengalaman tersebut kawasan hutan dapat dipergunakan sebagai lahan produksi per¬tanian sehingga fungsi hutan juga sebagai fungsi pertanian atau agronomi. Berbagai kegiatan pertanian seperti budidaya tanaman, perikanan, peternakan, telah dilakukan di kawasan hutan, dan sistem pertanian tersebut kemudian dikenal sebagai sistem agroforestri.  Sistem agroforestri merupakan perkembangan ilmu pertanian dan kehutanan yang relatif baru sehingga masih terus dikembangkan sesuai dengan kondisi hutan dan masyasrakat sekitarnya.
Agroforestri (Wanatani) secara harfiah merupakan kombinasi antara pertanian dan kehutanan berawal dari tema multiple use of forest land (hutan serbaguna) yang tercetus dalam World Forestry Congress pada tahun 1960 di Seattle, Amerika Serikat (Wiradinata, 1981).  Semenjak itu hutan yang semula hanya berfungsi sebagai penghasil kayu terutama untuk bahan bangunan berkembang menjadi penghasil kayu untuk keperluan selain bangunan, pemelihara dan pengatur tata air, perlindungan satwa, penghasil pangan dan pakan ternak serta sebagai tempat rekreasi. Bagi negara yang berpenduduk padat dengan laju pertumbuhan cukup besar, sistem agroforestri menjadi pilihan dalam mencukupi kebutuhan pangan.
Berbagai tipe agroforestri yang jumlahnya puluhan bahkan mungkin ratusan atau lebih, dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai segi atau sudut pandang.  Berdasarkan pembentukan dan perkembangan (motivasi) terdapat agroforestri sistem tradisional yang terbentuk secara tradisional, dikembangkan dan diuji sendiri oleh petani. Sebaliknya agroforestri sistem modern berkembang atas dasar hasil penelitian (Hairiah, 2001). Berdasarkan konsep yang berbeda (de Foresta dan Michon, 2000; Michon dan de Foresta, 2000) atau interaksi dan keanekaragaman komponen sistem (van Noordwijk and Swift, 1999) terdapat sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks.
Sistem agroforestri sederhana adalah perpaduan konven¬sional, terdiri atas sejumlah kecil unsur, dan menggambarkan skema agroforestri klasik. Perpaduan hanya terdiri atas satu unsur pohon yang berperan ekonomi penting (Kelapa, Karet, Cengkeh, Jati) atau berperan ekologi (Dadap dan atau Petai Cina) dengan sebuah unsur tanaman semusim (Padi, Jagung, sayur-mayur, rerumputan) atau jenis tanaman lain seperti Kopi, Pisang, Kakao yang juga memiliki nilai ekonomi.
Sistem agroforestri kompleks adalah sistem yang terdiri atas sejumlah besar pepohonan, perdu, tanaman semusim dan atau rumput.  Penampakan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam primer maupun sekunder. Sistem ini bukan berasal dari hutan yang ditata secara lambat laun melalui trans¬formasi sistem alami, melainkan (pohon yang ditanam) melalui proses perladangan. Kebun agroforest dibangun pada lahan yang telah dibersihkan (pohon dan semak telah dibabat) kemudian ditanami dengan berbagai pohon (diperkaya).
Sistem agroforestri sederhana dan kompleks dapat dihubung¬kan dengan kebutuhan cahaya tanaman semusim. Tanaman pada sistem agroforestri sederhana pada umumnya merupakan tanaman suka cahaya (sun loving) sehingga memerlukan pengaturan jarak pohon sedemikan rupa, dan sistem agroforestri disebut sistem agroforestri cahaya (sun agroforestry system). Sebaliknya bila tanaman sela merupakan tanaman teduh atau tanaman bayangan (shade loving) sehingga tidak memerlukan pengaturan jarak tanam pohon, sistem semacam itu disebut sistem agroforestri teduh atau bayangan (shade agroforestry system) (Anonim, 2003). Diversifi¬kasi penggunaan lahan sesuai lingkungan setempat melalui penanaman pohon secara tumpangsari dengan tanaman semusim pada suatu tempat dan waktu yang bersamaan maupun bergiliran (sistem bera) merupakan pola dasar sistem agroforestri (Hairiah et al., 2000).
Budidaya komoditas pertanian diantara pohon menciptakan berbagai struktur sistem agroforestri sehingga terdapat bermacam bentuk antara lain (a) agrisilvikultur, (b) silvopastur, (c) silvofisheri, (d) hutan serbaguna (Satjapradja, 1981)., dan (e) (Farm forestry) kebun campuran (Sitompul, 2003) atau multipurpose forest tree production system (Kartasubrata dan Mas’ud, 1981).
a.     Agrisilvikultur adalah suatu bentuk agroforestri yang merupa¬kan campuran kegiatan kehutanan dengan pertanian lainnya. Tumpangsari merupakan istilah yang banyak digunakan di Perhutani yaitu cara pengelolaan hutan yang memperbolehkan petani membudidayakan tanaman pangan seperti Padi, Jagung, Kacangtanah, Kedelai, Kentang, Kol di lahan kawasan hutan disamping tanaman pokok kehutanan (Jati, Pinus, Damar, Sonokeling dan Mahoni).
b.    Silvopastur merupakan bentuk agroforestri dengan campuran kegiatan kehutanan dengan peternakan yaitu lahan diantara tegakan pohon hutan ditanami rerumputan atau hijauan pakan ternak dalam waktu bersamaan.
c.    Silvofisheri adalah bentuk agroforestri dengan campuran kegiatan kehutanan didaerah pantai (hutan payau) dengan perikanan.  Di sini petani tambak membudidayakan ikan (udang atau bandeng) sekaligus menghutankan kembali dan mereha¬bilitasi hutan payau.
d.    Hutan serbaguna merupakan bentuk agroforestri dengan campuran kegiatan kehutanan dengan tanaman pangan, peter¬nakan, tanaman obat, pemeliharan lebah madu, pemeliharaan ulat sutera, wisata, pendidikan (perkemahan) dan latihan militer.
e.    Kebun campuran (Farm Forestry atau multipurpose forest tree production system) yang merupakan campuran kegiatan pertanian (berbagai jenis tanaman) dengan penanaman pohon di luar kehutanan (pohon bukan merupakan tanaman utama) antara lain seperti pekarangan atau talun.

Ibu/bapak, hadirin yang terhormat
Alih fungsi hutan untuk keperluan pemenuhan pangan mengindi¬kasikan bahwa telah terjadi over grazing karena manusia mencari makan yang berhubungan dengan kemiskinan. Oleh karena itu kerusakan hutan dan kemiskinan merupakan dua fenomena yang saling berhubungan. Untuk menghindari kerusakan hutan namun tidak mengabaikan kebutuhan masyarakat, lahir konsep perhutanan sosial (social forestry). Perhutani sebagai pengelola hutan di Indonesia berdasarkan konsep tersebut melaksanakan program pendekatan kemakmuran yang dimulai pada tahun 1974, kemudian disempurnakan menjadi pembinaan masyarakat desa hutan (PMDH) pada tahun 1982 (Anonim, 1999). Pelaksanaan PMDH melalui berbagai kegiatan 1) perhutanan sosial yaitu sebagian lahan hutan diberikan kepada petani sebagai penggarap (0,25–0,50 ha/KK) untuk ditanami tanaman kehutanan, buah-buahan dan palawija serta dibina dalam usaha produktif lainnya, 2) insus tumpang sari hutan, yaitu petani diberi garapan lahan di kawasan hutan selama 2 tahun (0,25 ha/KK) dan kredit pupuk serta benih, 3) pengelolaan hutan Jati optimal yaitu sekelompok pohon Jati ditanam berselang-seling dengan tanaman palawija yang digarap oleh petani.  Hasil tanaman semusim yang dicapai dalam program PMDH secara agronomi relatif rendah, yaitu padi gogo hanya              1,6 ton ha-1 dan jagung hanya 2,2 ton ha-1. Hasil rendah selain karena masukan faktor tumbuh kurang (terutama pemupukan) juga karena ternaungi oleh pohon (Purnomo, 2004). Karena pohon menaungi kemudian pohon dipangkas di pangkal tajuk atau ditebang langsung oleh petani sehingga hal itu menjadikan fungsi hutan terganggu.  Oleh karena itu perhutani menganggap program PMDH gagal dan diganti dengan program pembinaan hutan bersama masyarakat (PHBM) sejak tahun 2000. Melalui program PHBM diharapkan petani dapat memelihara pohon dengan baik karena ikut memiliki pohon tersebut secara bagi hasil dengan perhutani di samping memperoleh hasil tanaman semusim di lahan hutan.
Peranan atau fungsi sistem agroforestri dapat dibagi menjadi fungsi produksi dan fungsi ekologi. Fungsi produksi sistem agrofo¬restri adalah mengoptimumkan produksi pertanian (fungsi agronomi) dan hutan karena peningkatan hubungan komplementer antara pohon dan tanaman pertanian akibat dari kondisi pertumbuhan dan peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya alam. Fungsi ekologi sistem agroforestri adalah peranan interaksi antara tanah, pohon dan tanaman terhadap lingkungan. Keanekaragaman yang tinggi akan meningkatkan stabilitas ekosistem sehingga produktivitas jangka panjang dapat terpelihara.
Fungsi produksi sistem agroforestri berkaitan dengan pema¬haman mengenai interaksi antara pohon-tanah-tanaman yang sangat menentukan keberhasilan penerapan sistem agroforestri. Pohon mempengaruhi tanaman baik negatif maupun positif (Hairiah, 2001; Huxley, 1999). Pengaruh positif pohon (yang menguntung¬kan) antara lain:
a.    daun pepohonan yang gugur atau dipangkas dan dikembalikan ke dalam tanah dapat menambah bahan organik tanah,
b.    penambahan bahan organik tanah dapat meningkatkan kapasitas menahan air, sehingga kelembaban tanah dapat dipertahankan dan mengurangi bahaya kekeringan,
c.    naungan pohon dapat menekan pertumbuhan gulma,
d.    akar pepohonan yang dalam dapat memperbaiki daur ulang hara, melalui peran sebagai jaring penyelamat hara, yaitu menyerap hara yang tercuci ke lapisan bawah dan pemompa hara, yaitu menyerap unsur hara hasil pelapukan bahan induk pada lapisan bawah,
e.    pohon jenis legume mampu menambat N langsung dari udara, sehingga mengurangi jumlah pupuk N yang harus diberikan,
f.    menjaga kestabilan iklim mikro, mengurangi kecepatan angin, meningkatkan kelembaban tanah, serta memberi naungan parsial, dan
g.    untuk jangka panjang peningkatan bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah dan porositas tanah sehingga erodibilitas tanah rendah.
Pengaruh negatif pohon yang merupakan kendala sistem agroforestri antara lain: a) terjadi kompetisi akan cahaya antara pohon dan tanaman sela, b) kompetisi akan air dan unsur hara antara pohon dan tanaman sela dan c) pepohonan dapat menjadi inang hama atau penyakit bagi tanaman semusim. Pengaruh negatif pohon terhadap tanaman semusim dapat dikurangi antara lain dengan pemangkasan pohon secara teratur, memilih pohon bertajuk tidak melebar, mengatur jarak pohon, menanam tanaman tahan naungan atau memilih pohon yang berakar dalam.
Macam agroforestri memerlukan tindakan pengelolaan yang berbeda.  Di Jawa Tengah terdapat agroforestri dengan pohon jati, pinus, sonokeling, mahoni, melina dan Eucalyptus (sengon buto) dengan tanaman semusim (padi gogo, jagung, kacangtanah, kedelai dan tanaman obat). Jenis pohon mempengaruhi kandungan hara tanah seperti yang telah disebutkan di atas antara lain diperkuat oleh hasil penelitian di Meksiko tengah (Farrel, 1987) antara pohon Prunus capuli dan Juniperus deppeania.  Hasil analisis tanah untuk semua sifat lebih tinggi pada tanah di bawah pohon P. capuli seperti P tersedia, Karbon dan K total, Ca dan Mg demikian pula kapasitas tukar kation dan pH.
Pengaruh pohon terhadap tanaman semusim juga berhubungan dengan sifat pertumbuhan pohon sehingga pengaruh pohon jati, sonokeling, mahoni, pinus, melina atau eucalyptus terhadap tanaman di bawah tegakan berbeda.  Penelitian jangka panjang di Lampung (1986–1999) penanaman pohon legume yang memiliki pertumbuh¬an cepat (yang direkomendasikan untuk tanaman pangan pada sistem budidaya pagar) memberikan hasil yang mengecewakan.  Hasil yang lebih baik diperoleh pada pohon petaian (Peltophorum dasyrrachis) yang berperakaran dalam, tahan pemangkasan dan pertumbuhan lambat sehingga tidak memerlukan pemangkasan intensif (Hairiah et al., 2000).
Secara menyeluruh interaksi antara pohon dan tanaman (I) digambarkan dalam persamaan (Huxley, 1999):
I = F + C + M + P – L
F: peranan mulsa berasal dari pohon terhadap kesuburan tanah,        C: produksi tanaman berkurang karena kompetisi dengan pohon, M: adalah perubahan iklim mikro di atas tanah karena adanya pohon, P: adalah konsekuensi sehubungan perubahan sifat tanah baik secara fisik maupun kimiawi, dan L: adalah setiap penurunan atau penghilangan kerugian seperti lahan miring bila terkena hujan juga akan kehilangan hara karena pencucian. Penurunan hasil tanaman diketahui dengan membandingkan bila tanaman ditanam tunggal tanpa mulsa. Faktor F dan C dapat diperoleh dengan membandingkan tanaman di petak lain yang diberi mulsa pohon (Cm) atau tidak (C0). Pengaruh kompetitif (C) adalah perbedaan hasil tanaman antar petak tanaman yang ditanam tunggal atau dibandingkan dengan tanaman di antara pohon (menggunakan mulsa Cm dan C0 dan tanpa mulsa Hm dan H0).  Nilai estimasi M, L dan P lebih sulit diperoleh karena sangat tergantung pengaruh macam agroforestri terhadap iklim mikro yang meliputi semua hal yang tidak mudah diidentifikasi secara tepat.
Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian pada umumnya diikuti oleh masalah-masalah lain yang timbul seperti penurunan kesuburan tanah karena erosi atau pencucian hara, kepunahan flora dan fauna atau kekeringan (Hairiah, 2001). Dari segi ekologi konversi hutan menjadi peruntukan lain (lahan pertanian, pemu¬kiman, industri) mengakibatkan CO2 atmosfer meningkat sehingga dalam jangka panjang mengakibatkan perubahan iklim akhirnya mempengaruhi pola pertanian. Agroforestri merupakan suatu sistem pertanian yang dapat mencegah atau menghambat peristiwa di atas. Selain itu agroforestri menjaga penurunan biodiversitas yang terjadi pada setiap kawasan hutan yang dikonversi menjadi peruntukan lain.  Biodiversitas di hutan alam Sumatra sebesar 120 turun menjadi 60–90 bila dikonversi secara agroforestri dan kemudian turun lagi menjadi 15–45 saja bila diubah menjadi lahan Ketela pohon atau Padi gogo (Tomich and Noordwijk, 1999).  Namun dengan pengelolaan yang cermat seperti di Maninjau kebun campuran masih menampakkan biodiversitas seperti hutan asli (Hairiah, 2000).
Biodiversitas atau keanekaragaman hayati sistem berkorelasi positif dengan stabilitas, semakin besar biodiversitas semakin besar stabilitas sistem tersebut (Soemarwoto, 1977; Altieri, 1987; Soeriaatmadja, 2000). Stabilitas adalah kemampuan sistem untuk menahan gangguan, berarti stabilitas semakin besar semakin tidak mudah terkena gangguan. Selain stabilitas, pada suatu sistem terdapat resiliensi yaitu kemampuan atau kecepatan untuk kembali ke keadaan semula setelah menerima gangguan. Hal ini perlu dicermati karena tidak seperti stabilitas, hubungan resiliensi dengan biodiversitas tidak menentu (Soemarwoto, 1977).  Perubahan hutan menjadi padang alang-alang di beberapa kawasan di Indonesia kemungkinan besar berhubungan dengan resiliensi yang rendah.  Dengan demikian agroforestri merupakan suatu sistem yang berfungsi agronomi dan ekologi diharapkan mampu berperan sebagai sistem pertanian yang berkelanjutan.
Kendala pada sistem agroforestri yang telah diuraikan di atas merupakan hambatan (faktor pembatas) tanaman sela dalam mencapai hasil optimum karena keberadaan pohon. Kendala ketersediaan air untuk tanaman sela meskipun pengairan secara artifisial bukan berarti tidak mungkin namun kebanyakan sistem agroforestri dapat diduga merupakan lahan tadah hujan. Petani sudah sangat berpengalaman mengelola lahan pertanian yang dimiliki sesuai dengan pola musim setempat. Demikian pula bila terjadi ketersediaan nutrisi yang terbatas atau terjadi kerusakan tanaman oleh organisme pengganggu, petani tinggal memilih cara atau metode dengan teknologi yang tersedia untuk mengatasi hal itu.  Tidak demikian halnya dengan cahaya, ketersediaan teknologi untuk mengatasi kendala yang timbul oleh karena cahaya (terutama bila cahaya di bawah optimum) masih terbatas.

Hadirin yang saya hormati,
Fungsi agronomi sistem agroforestri berjalan seperti yang diharapkan (produksi atau pendapatan) apabila cahaya cukup tersedia. Namun demikian, tajuk pohon seringkali menghalangi cahaya yang seharusnya diterima oleh tanaman budidaya.  Di sisi lain, naungan menguntungkan bagi faktor tanah, karena peneduhan oleh tajuk pohon mencegah terpaan hujan dan cahaya langsung pada permukaan tanah sehingga degradasi sifat fisik tanah dan laju oksidasi bahan organik di lapisan atas terhambat (Sitompul et al., 1992). Kuantitas cahaya lolos dari tajuk pohon selain ditentukan oleh kuantitas cahaya yang datang seperti dinyatakan oleh Beer, juga tergantung pada jarak tanam dan kepadatan tajuk.  Jarak tanam pohon menentukan area atau lorong tempat tanaman semusim ditanam. Distribusi cahaya pada lorong semakin besar ke tengah lorong dan tergantung pada tinggi pohon dan kepadatan tajuk.  Suatu penelitian menunjukkan bahwa lebar lorong sangat ver¬pengaruh terhadap distribusi jenis gulma. Lorong makin lebar, gulma jenis Poaceae semakin dominan, jumlah individu, luas penutupan dan kerapatan gulma tiap m2 makin tinggi (Harahap dan Siagian, 2003).
Kepadatan tajuk kecuali ditentukan oleh umur pohon, di¬pengaruhi oleh karakteristik tajuk antara lain tipe atau bentuk, sifat pertumbuhan, tinggi dan lebar, serta jumlah cabang. Karakteristik lain cahaya dalam sistem agroforestri adalah kuantitas yang tidak konstan karena gerakan tajuk oleh angin, perkembangan dan sebaran daun dalam tajuk yang tidak merata serta sifat pertumbuhan (meranggas atau tidak) (Sitompul, 2002). Hal itu dapat mengun¬tung¬kan karena tanaman tidak selalu dalam kondisi terteduhi atau tanaman memperoleh cukup cahaya pada awal penanaman, di¬sebabkan oleh tajuk pohon yang semula meranggas. Namun dapat pula merugikan karena kuantitas cahaya semakin berkurang sehubungan dengan kepadatan tajuk bertambah karena per¬tumbuh¬an pohon.
Selain kuantitas, kualitas cahaya pada sistem agroforestri berbeda dengan pada sistem tanaman tunggal. Nisbah R/FR (red/far red atau merah/merah jauh) cahaya normal, berkisar antara 1,05 sampai 1,25 (Cober and Voldeng, 2001). Cahaya dengan nisbah R/FR rendah, terjadi pada  senja hari atau kondisi cahaya di tempat teduh (di bawah kanopi). Nisbah R/FR cahaya normal, akan turun bila terjadi penetrasi cahaya ke kanopi. Ini disebabkan karena cahaya merah diabsorpsi vegetasi, sedangkan cahaya merah jauh dipantulkan. Penurunan nisbah cahaya R/FR dalam kanopi pada sistem tanam tunggal juga akan terjadi, bila tanaman ditanam dengan populasi (jarak tanam) rapat. Hal tersebut menjelaskan, mengapa Kedelai dalam populasi rendah, partisi biomassa total lebih banyak ke cabang daripada populasi normal. Bila populasi tanaman jarang, maka nisbah R/FR tinggi mengakibatkan perkem¬bangan cabang lebih besar dibandingkan dengan bila tanaman ditanam dalam populasi rapat (Board, 2000).

Hadirin yang saya hormati,
Demikian sekelumit permasalahan yang dapat saya kemuka¬kan dan tidak seluruh masalah yang saya bahas di atas, saya dapat memberikan solusi secara tuntas. Permasalahan tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan tuntas, tantangan demi tantangan akan terus muncul baik secara umum maupun di bidang pertanian.  Tantangan paling besar di bidang pertanian saat ini adalah minat masyarakat (tercermin pada minat mahasiswa masuk ke Fakultas Pertanian) belajar di bidang pertanian sangat rendah. Padahal pangan terus diperlukan dan harus diproduksi melalui tanaman yang terus memerlukan perhatian agar manusia tidak sampai kekurangan pangan. Ahli pertanian akan terus diperlukan dengan kualitas yang semakin tinggi karena tantangan yang makin besar.

Ibu/bapak hadirin yang saya muliakan
Sebelum mengakhiri orasi ini mohon kesabaran ibu/bapak semua untuk memberi kesempatan kepada saya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam kehidupan sejak kecil hingga mencapai taraf seperti saat ini.  Sebelum ucapan terimakasih, saya menyampaikan puji syukur ke hadirat Illahi yang telah memberikan kehidupan dengan suka dan duka kepada saya dan keluarga yang ternyata semuanya mengan¬dung hikmah luar biasa.
Pertama saya menyampaikan terimakasih kepada Rektor UNS dan segenap anggota senat Universitas, Dekan Fakultas Pertanian dan segenap anggota senat fakultas, Semua Ketua Jurusan di lingkungan Fakultas Pertanian terutama Ketua Jurusan Agronomi sebagai atasan langsung, dan semua kolega staf edukatif maupun non edukatif di Fakultas Pertanian.
Kedua saya menyampaikan terimakasih kepada kedua orang tua terutama ibu saya, ibu Siti Suparlin almarhumah, yang dengan ketabahan, ketekunan, kesabaran, dan perjuangan sebagai single parent, karena ayah telah tiada sejak saya masih kecil, mendidik dan membesarkan saya berdua dengan adik, menyekolahkan yang secara rasional sebenarnya tidak mampu untuk membiayai.  Kemudian terimakasih kepada anak-anak saya Febi, Meizal, Rizat, dan Irvin yang dengan segala keterbatasan karena ambisi bapaknya dan penuh pengertian untuk menahan diri karena tidak semua keperluan terpenuhi. Terimakasih juga kepada mbah Pusposumitro almarhum beserta mbah putri yang memelihara saya saat masih kecil karena itu saya panggil bapak dan ibu kepada beliau, Bude/Pakde Dwijosiswoyo (almarhumah/almarhum), paman yang saya panggil mas yaitu mas Mo (Suparmo), mas No (Sumarno), mas Hartono (semua sudah almarhum) yang ikut membesarkan dan mewarnai hidup saya, terimakasih juga pada segenap anggota keluarga besar Pusposumitro. Paman (adik ayah) Pak dan Bu Sarwono terimakasih atas arahan kehidupan agama saya. Adik saya Drs. Bambang Hermanto, MBA terimakasih atas segala bantuan baik moril maupun materiil.
Ketiga terimakasih kepada segenap guru saya sejak Sekolah Rakyat/Dasar (di SR Tanjung, Bulukerto, Wonogiri dan SRL 2 Kepatihan, Solo, kemudian menjadi SD no 4 Kepatihan), Sekolah Menengah Pertama (SMPN 3, Purworejo, Kedu), Sekolah Menengah Atas (SMAN 1 Solo), dan Perguruan Tinggi di Unversitas Gadjah Mada Jogjakarta dan Universitas Brawijaya Malang. Dengan tidak bermaksud menganggap peran guru saya yang lain lebih kecil (semua berperan besar), secara khusus saya menyampaikan terimakasih kepada Prof. Ir. S.M. Sitompul M.Sc. Ph.D yang dengan sangat sabar (karena saat studi usia saya sudah tidak muda lagi) berperan sebagai pembimbing (S2) dan promotor (S3) saat saya studi di Unibraw, Malang. Karena beliau kehidupan ilmiah saya, juga etos kerja, berubah dan mudah-mudahan masih dapat berkembang. Pak Tom juga berusaha meringankan beban saya dengan mengajukan proposal disertasi ke Depdiknas untuk memperoleh dana dan alhamdullilah berhasil. Kepada Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, M.S. sebagai pembimbing tesis S2 juga ko-promotor S3, terimakasih atas bimbingan bapak yang dengan penuh kebapakan, persahabatan, dan kebijakan mengarahkan saya.  Ibu Cho (Prof. Ir.Kurniatun Hairiah, Ph.D) sebagai ko-promotor, terimakasih karena dari ibulah saya paham benar arti penelitian yang terfokus sehingga setelah lulus seorang doktor menjadi superspesialis namun dapat menerapkannya pada kondisi makro.
Keempat, saya menyampaikan terimakasih kepada kolega dekat yang bersama-sama bahu-membahu saat UNS baru berdiri dengan segala kesulitan dan keterbatasan yaitu pak Bud (Prof. Dr. Drh. G. Boedihardjo almarhum), pak Turanto (Ir. Toeranto Sugijatmo), pak Priyo (Ir. Priyo Prasetyo, M.S.), pak Maryo (Ir. Soemarjo), pak Harno (Ir. Suharno PS, M.S.), pak Indro (Prof. Drs. Indrowuryatno, M.S.), bu Win (Ir. Winatuningsih, S.U.), Bu Prapti (Dr. Ir. Suprapti, M.S.), bu Han (Prof. Ir. Sri Handajani, M.Sc. Ph.D), pak Dji (Prof. Ir. Djiwandi) dan karena kekompakan kita oleh mahasiswa disebut wali songo faperta UNS.
Kelima, terimakasih kepada sahabat yang membantu me¬ringan¬kan kehidupan saya terutama kepada mas O’ok (dr. Bambang Widjokongko) dan jeng Tuti (Dr. Ir. Mth. Sri Budiastuti, M.Si), sebagai teman berbagi rasa, khususnya di saat saya meng¬hadapi masalah-masalah kehidupan, Pak Darji (Soedardji S.H., almarhum) dengan ibu, yang ikut mengarahkan anak pertama saya sehingga dia memanggil beliau papi dan mami, demikian pula terimakasih untuk pak Mien (Dr. Ir. S. Minardi, MS) dan ibu (Ir Setie Harieni, MS) sehingga anak saya keempat memanggil papa Mien dan mama Mien.
Yang terakhir adalah terimakasih saya sampaikan kepada teman sejawat yang selama ini menyampaikan kritik baik secara langsung maupun tidak langsung, karena dengan kritikan itu (terutama kritikan yang pedas) justru menjadikan atau melecut saya hingga mencapai seperti sekarang. Kepada yang lebih muda dari saya, hargailah kritikan betapapun pedas dan janganlah terlalu berbangga dengan pujian karena pujian dapat meninabobokkan bahkan dapat menggelincirkan.

Sekian dan terimakasih, semoga Tuhan selalu memberikan rahmat kepada kita semua di masa mendatang, Amin.

Surakarta, 24 Nopember 2007

PUSTAKA ACUAN

Altieri, M.A. 1987. Agroecology, The Scientific Basic of Alternative Agriculture. Westview Press. I.T Pub. London.
Anonim. 1999. Perhutanan Sosial. Perhutani Unit I. Semarang. Jawa Tengah.
Badan Puas Statistik. 2006. Kebutuhan, Produksi, dan Impor Beras Indonesia. BPS, Jakarta.
Board, J. 2000. Light Iterception Efficiency and Light Quality Affect Yield Compensation of Soybean at Low Plant Population. Crop Sci. 40: 1285-1294.
Cober, E.R. and H.D. Voldeng. 2001. Low R: FR Light Quality Delays Flowering of E7E7 Soybean Lines. Crop Sci. 41: 1823-1826.
de Foresta, H. dan G Michon. 2000. Agroforestri Indonesia: Beda Sistem Beda Pendekatan p 1-7 dalam H.de Foresta, A. Kuswanto, G. Michon, dan W.A. Djatmiko (ed) Ketika Kebun Berupa Hutan: Agroforest Khas Indonesia Sebuah Sumbangan Masayarakat. ICRAF. Bogor Indonesia. 249 pp.
Departemen Pertanian. 2004. Basis Data. Deptan, Jakarta.
Departemen Pertanian. 2007. Basis Data. Deptan, Jakarta.
Sitompul, S.M. dan B. Guritno. 1995. Potensi Tanaman Pangan di Bali Seminar Komponen Teknologi Budidaya Tanaman  Pangan di Propinsi Bali. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Malang. 42-52.
Hairiah, K. 2001. Agroforestri di Indonesia : Manfaat dan Permasalahannya. Makalah dalam Lokakarya Lingkup Penelitian Agronomi. P.S. Agronomi. Faperta Unibraw. Malang.
Hairiah, K. 2003. Agroforestri: Tawaran Menuju Pertanian Sehat. Prosiding Seminar Nasional Agroforestri. UGM Jogjakarta. 47-64
Hairiah, K., S.R. Utami, D. Suprayogo, Widianto, S.M. Sitompul, Sumaryo, B. Lusiana. R. Mutia, M. van Noordwijk and G. Cadisch. 2000. Agroforestri pada Tanah Masam di Daerah Tropika Basah : Pengelolaan Interaksi antara Pohon – tanah – tanaman semusim. ICRAF. Bogor.
Harahap, R. dan M. Siagian. 2003. Pengaruh Lebar Lorong Pada Model Agroforestri Terhjadap Komposisi Gulma Pada Lahan Kering. J. Agroland 10(4): 322-327.
Huxley, P. 1999. Tropical Agroforestry. Blackwell Sci. Ltd. Oxford. London.
Kartasubrata, J. dan A.F. Mas’ud. 1981. Beberapa Definisi, Pengertian dan Perkembangan Dari Konsep Agroforestri p 492-501 dalam Proceeding Seminar Agroforestri dan Pengendalian Perladangan, 19-21 Nopember. Jakarta.
Michon, G. dan H. de Foresta. 2000. Peranan agroforest. P 173-204 dalam H.de Foresta, A. Kuswanto, G. Michon, dan W.A. Djatmiko (ed) Ketika Kebun Berupa Hutan: Agroforest Khas Indonesia Sebuah Sumbangan Masayarakat. ICRAF. Bogor Indonesia. 249 pp.

Purnomo, D. 2004. Peningkatan Fungsi Agronomi Agroforestri, Jati, Pinus dengan Jagung dan Kedelai Berdasar Acuan Energi Radiasi. Disertasi. Program Pasca Sarjana Unibraw. Malang.
Satjapradja, O. 1981. Agroforestri di Indonesia: Pengertian dan Implementasinya p 19-21 dalam Proceeding Seminar Agroforestri dan Pengendalian Perladangan, Nopember. Jakarta. 68-75.
Soemarwoto, O. 1977. Penerapan Prinsip dan Teori Ekologi Umum Dalam Pembangunan. Kertas Kerja Untuk Loka Karya dan Latihan Bidang Lingkungan di perguruan Tinggi. Aspek Ekologi. Lembaga Ekologi UNPAD. Bndung.
Soeriaatmadja, R.E. 2000. Ekologi Sebagai Ilmu, Wawasan dan Pendekatan Pembangunan. p 193-199 dalam Pengetahuan Alam dan Pembangunan. Dit. Jen. Perti. Depdiknas. Jakarta.
Sitompul, S.M. 2003. Fungsi Agronomi dan Ekologi Sistem Agroforestri Pinus Dengan Kedelai dan Jagung Sebagai Area Resapan Air (ARA): Transformasi Energi Radiasi dan Presipitasi. Laporan Hibah Penelitian. Program Studi agronomi. Fak. Pertanian Unibraw. Malang.
Sitompul, S.M., M.S. Syekhfani and J. van der Heide. 1992. Yield of Maize and Soybean in a Hedgerow Intercropping System. Agrivita (15) 1: 69-75.
Tomich, T.P. and M. van Noordwijk. 1999. Biodiversity Loss, Agricultural Development, and Sustainability p 36 – 52.In Proceeding Seminar Toward Sustainable Agriculture in Humid Tropics Facing 21st Century. Bandar Lampung. Indonesia.
van Noordwijk, M. and M.J Swift. 1999. Belowground Biodiversity and Sustainability of Complex Agroecosystem p 8-28 in A.Gafur, Fx. Susilo, M. Utomo and M.van Noordwijk (ed), Proc. Workshop Management of Agrobiodiversity For Sustainable Land Use and Global Environmental Benefit. Bogor. Indonesia.
Wiradinata. 1981. Agroforestri di Indonesia. Proceeding Seminar Agroforestri dan Pengendalian Perladangan, Nopember. Jakarta. 68-75.

TRANSHIRARKI DALAM BAHASA JAWA DAN MASYARAKAT TUTURNYA SEBUAH WAWASAN CATUR TUNGGAL

Oleh :
Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U.

Bismillahirahmaanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yang terhormat Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret
Yang terhormat Bapak Pembantu Rektor I, Bapak Pembantu Rektor II, dan Bapak Pembantu Rektor III Universitas Sebelas Maret
Yang terhormat para Pejabat Sipil dan Militer
Yang terhormat Teman Sejawat Dekan, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III di lingkungan Universitas Sebelas Maret.
Yang terhormat para civitas akademika : dosen, karyawan, dan mahasiswa di Universitas Sebelas Maret.
Yang terhormat para tamu undangan, handai taulan, sanak saudara, dan
Hadirin sekaliyan yang saya hormati.

Perkenankanlah, saya dengan rendah hati memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan barokah-Nya kepada kita semua, sehingga kita semua dapat dipertemukan di Auditorium Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam keadaan sehat wal afi’at tiada halangan suatu apa.
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, lewat Bapak Menteri Pendidikan Nasional yang telah mengangkat dan mempercayai saya untuk memangku jabatan akademik sebagai Guru Besar pada Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam bidang Ilmu Sosiolinguistik.
Untuk memenuhi kewajiban dan tradisi akademik yang terpuji, saya akan menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di hadapan sidang senat terbuka yang terhormat ini, dengan mengambil judul “Transhirarki dalam Bahasa Jawa dan Masyarakat Tuturnya Sebuah Wawasan Catur Tunggal”.
Adapun sistematika dan uraian pembahasannya adalah sebagai berikut :
1.    Pendahuluan
Dalam linguistik (ilmu tentang bahasa) telah dijelaskan ciri-ciri khusus bahasa dan telah dikenalkan istilah transformasi, transposisi, transkripsi dan transliterasi (David Crystal, 1980; Harimurti Kridhalaksana, 1982; Edi Subroto, 1985). Keempat istilah tersebut secara mendasar dapat dinyatakan sebagai alih bentuk (untuk transformasi), alih jenis kata (untuk transposisi), alih tulis (untuk transkripsi) dan alih aksara (untuk transliterasi). Keempatnya menyatakan makna perubahan wujud dari wujud yang satu ke wujud yang lain.
Sehubungan dengan istilah tersebut, secara analogis terdapat istilah transhirarki. Istilah ini saya temukan sewaktu penelitian mengenai perubahan kosa kata ngoko menjadi bentuk krama dalam bahasa Jawa. Perubahan yang dimaksud yaitu tampak adanya perbedaan struktur antara kosa kata ngoko dengan bentuk krama. Perbedaan struktur menunjukkan perbedaan hirarki, maka perubahan yang demikian saya sebut transhirarki (Maryono Dwiraharjo, 1997 dan 2001). Dalam hal ini proses transhirarki dapat terjadi karena “pengkramaan” artinya proses pembentukan kosa kata ngoko menjadi krama.
Istilah transhirarki dalam bidang penerjemahan dapat dise¬jajarkan dengan istilah Rank – shift ‘pergeseran tataran‘. yang dimaksud Rank – shift adalah pergeseran tataran atau struktur dari morfem, frasa, klausa atau kalimat berubah menjadi kalimat, klausa, frasa, morfem atau sebaliknya (Catford, 1974 dalam Soemarno, 1999 : 2).
Pembahasan transhirarki dengan wawasan catur tunggal artinya sebuah pendapat mengenai analisis dan pemahaman bahasa yang mendasarkan atau memperhitungkan 4 hal dalam bahasa. Keempat hal tersebut yaitu (1) lapal, (2) makna, (3) murad, dan          (4) maksud (Radjiman, 2000 : 126 – 140; Maryono Dwiraharjo 2003 : 7). Keempat hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
(1)    Lapal yaitu bunyi atau ekspresi, bentuk tuturan/ujaran.
(2)    Makna yaitu arti yang terkandung dalam suatu lapal/ ujaran
(3)    Murad yaitu arti yang tersirat dalam suatu bentuk ujaran
(4)    Maksud yaitu tujuan yang dikehendaki penutur dalam menggunakan suatu bentuk tuturan.
Tujuan adanya wawasan catur tunggal ini yaitu untuk meng¬analisis dan memahami bahasa secara kontekstual tidak semata-mata tekstual. Pemahaman bahasa secara tekstual kadang-kadang menimbulkan perbedaan penafsiran dan bahkan dapat menimbul¬kan “ketegangan social.” Sebagai gambaran misalnya pemahaman Jaksa Agung Abdulrahman Saleh terhadap kalimat : Ustad di kampung maling ; Wakil presiden M Yusuf Kalla terhadap puisi  Bapak Winarno Surachmad pada 27 Nopember 2005 di Stadion Manahan. Ternyata pemahamannya menimbulkan suasana yang tidak harmonis.
Sebagai contoh misalnya kita menganalisis/memahami : Mangesthi Luhur Ambangun Nagara
1)    Lapal : Mangesthi luhur ambangun nagara, bukanlah : mangesti luhur mbangun nagara, atau mangesthi luhung mbangun nagara, dll-nya.
2)    Makna : mengusahakan keluhuran (dalam) membangun negara.
3)    Murad :     –    Bahasa Jawa literer
–    Adanya unsur bahasa kawi
–    Kata bernilai angka
4)    Maksud : Tahun 1908 Jawa atau tahun 1976 yaitu tahun berdirinya Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Hadirin yang saya hormati.
2.    Penanda dan Bentuk Transhirarki
Penanda transhirarki maksudnya ialah unsur dari suatu proses pembentukan kebahasaan yang dapat menghasilkan hirarki atau tataran dari bentuk semula dengan hasil bentukannya. Sebagai contoh misalnya bentuk semula kata kemudian hasil bentukannya berupa klausa, yang dapat diamati pada pembentukan sebagai berikut.
1)    daktegor (ngoko)  kula tegor ‘saya tebang’ (krama)
2)    daktegora (ngoko) sanajan kula tegor ‘walaupun saya tebang’ (krama).
Bentuk daktegor dan daktegora berstruktur kata, sedangkan kula tegor dan sanajan kula tegor berstruktur klausa. Perubahan yang demikian itu merupakan transhirarki karena proses “peng¬kramaan”. Oleh karena itu, “pengkramaan” dapat disebut sebagai penanda transhirarki.
Selain itu, dalam bahasa Jawa ada bentuk idu abang ‘air liur merah’ dan ada pula bentuk dubang. Idu abang merupakan struktur frasa, sedangkan dubang berstruktur kata. Perubahan dari bentuk idu abang menjadi dubang karena proses pengakroniman. Dengan demikian pengakroniman juga dapat disebut penanda transhirarki.
Berdasarkan contoh-contoh tersebut tampaklah adanya per¬bedaan struktur dari struktur bentuk semula dengan struktur hasil bentukannya. Apabila struktur bentuk semula kata kemudian struktur bentukannya berupa klausa disebut transhirarki naik tataran. Sebaliknya, apabila bentuk semula frasa kemudian struktur bentukannya berupa kata disebut transhirarki turun tataran. Transhirarki naik tataran dan turun tataran dalam istilah pener¬jemahan disebut shunt up dan shunt down (Calford, 1974 dalam Soemarno, 1999:2). Dengan demikian, di dalam transhirarki di¬kenal adanya dua bentuk transhirarki, yaitu (1) transhirarki naik tataran, dan (2) transhirarki turun tataran.

Hadirin yang terhormat.
3.    Jenis Penanda dan Bentuk Transhirarki
Di dalam bahasa Jawa, sekurang-kurangnya ditemukan 9 pro¬ses kebahasaan yang merupakan penanda transhirarki. Ke¬sembilan jenis penanda tersebut yaitu (1) “pengkramaan”, (2) penyingkatan, (3) pengakroniman, (4) pengafiksasian, (5) pemajemukan, (6) pe¬mara¬frasean, (7) penerjemahan, (8) persandian, dan (9) peman¬jangan.

3.1.    Pengkramaan
“Pengkramaan” maksudnya adalah proses kebahasaan yang menunjukkan adanya perubahan  kosa kata ngoko menjadi bentuk krama. Tidak semua perubahan kosa kata ngoko menjadi bentuk krama menyebabkan transhirarki. Perubahan kosa kata ngoko menjadi bentuk krama yang menyebabkan transhirarki yaitu kosa kata ngoko yang mengandung afiks sebagai berikut :
1)    dak-,  kok-, -ku, -mu.
2)    -a,  -ana, -na, -en.
3)    N-/-a,  N-/-na, N-/-ana.
dak-/-a,  dak-/-na, dak-/-ana.
kok-/-a,  kok-/-na, kok-/-ana.
di-/-a,  di-/-na, di-/-ana.
Berdasarkan afiks-afiks tersebut misalnya afiks pada kelompok            1) dengan bentuk dasar kosa kata ngoko tuku ‘beli’ dan buku ‘buku’ akan didapatkan kata daktuku ‘kubeli’, kok tuku ‘kau beli’, bukuku ‘bukuku’ dan bukumu ‘bukumu’. Keempat kata tersebut dalam bentuk krama adalah : kula tumbas, panjenengan tumbas, buku kula, dan buku panjenengan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa daktuku, koktuku, bukuku dan bukumu berstruktur kata, sedangkan kula tumbas, panjenengan tumbas, buku kula, buku panjenengan berstruktur klausa dan frasa. Oleh karena itu, perubahan kosa kata ngoko menjadi bentuk krama mengalami transhirarki yang berupa naik tataran.
Demikian juga misalnya bentuk 2) dan 3) misalnya bentuk afiks  -a, N-/-a, dak-/-a, kok-/-a, dan di-/-a untuk kata tuku ‘beli’, bentuknya adalah tukua ‘belilah’ nukua ‘membelilah’, daktukua ‘walaupun saya membeli’, ditukua ‘walaupun dibeli’. Kosa kata ngoko tersebut apabila dirubah menjadi bentuk krama menjadi : kula aturi tumbas, kula aturi numbas, sanajan kula tumbas, senajan panjenengan tumbas, dan senajan dipuntumbas. Jelaslah bahwa perubahan kosa kata tersebut juga mengalami transhirarki naik tataran.

3.2.    Penyingkatan
Penyingkatan merupakan gejala umum dalam bahasa Jawa. Orang suka membuat singkatan, untuk efisiensi. Dalam hal ini penulisan buku, misalnya bausastra atau kamus, penulis cenderung untuk membuat singkatan yang sebelumnya diterangkan di dalam suatu daftar singkatan.
Bentuk yang disingkat pada umumnya lebih panjang daripada singkatannya. Singkatan dapat disejajarkan dengan kata. Singkatan dalam bahasa Jawa dapat dijumpai dalam singkatan nama gelar bangsawan, singkatan dalam buku-buku, dan singkatan yang terdapat di dalam  kata turunan. Adapun contoh-contoh singkatan adalah sebagai berikut .
1)    Singkatan gelar kebangsawanan
a.    S.I.S.K.S    :    Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan.
b.    K.P.H.     :    Kanjeng Pangeran Harya.
c.    G.P.H.      :    Gusti Pangeran Harya.
d.    B.R.M.     :    Bandara Raden Mas.
e.    G.R.Ay.    :    Gusti Raden Ayu.
f.    R.T.        :    Raden Tumenggung.
g.    K.R.T.      :    Kanjeng Raden Tumenggung dan lain-lainnya.
2)    Singkatan dalam buku-buku (kamus)
a.    ki     :    krama inggil
b.    ku     :    krama ngoko
c.    lsp     :    lan sapanunggalane
d.    ip     :    inggih punika
e.    JB     :    Jaya Baya
f.    PS    :    Penyebar Semangat
g.    LSW    :    layang Saka Warga
3)    Singkatan dalam kata turunan
a.    KUT-ne     :    Kredit Usaha Tanine.
b.    KTP-ne     :    Kartu Tandha Pendhudhuke (ne).
c.    PPH-ne     :    Pajak Pertambahan Hasile (ne).
Contoh-contoh singkatan tersebut menunjukkan adanya per¬bedaan struktur antara singkatan dengan bentuk yang disingkat. Perbedaan strukturnya menunjukkan adanya transhirarki turun tataran.

3.3.    Pengakroniman
Pengakroniman sebenarnya hampir sama dengan penying¬katan, hanya saja secara tegas dinyatakan bahwa pengakroniman merupakan penyingkatan yang pelafalannya seperti kata. Akronim dalam bahasa Jawa misalnya dijumpai di dalam (1) nama pagu¬yuban, (2) nama panggilan, (3) jarwa dhosok, (4) ajaran atau semboyan, (5) istilah populer, dan (6) cangkriman.
Adapun contoh-contohnya adalah sebagai berikut :
1)    Nama paguyuban
a.    Pakasa : Paguyuban Karaton Surakarta.
b.    Sangpawara : Sanggar Pasinaon Pambiwara.
c.    Pasipamarta : Paguyuban Purna Siswa Pambiwara Marcukundha Karaton Surakarta Hadiningrat.
d.    Purigadhing : Campur Sari Warga Gadhing.
2)    Nama panggilan
a.    Budhe : Ibu gedhe.
b.    Pakdhe : Bapak gedhe.
c.    Bulik : Ibu cilik.
3)    Jarwa dhosok.
a.    Kathok : diangkat sithok-sithok.
b.    Guci lenga kayu gayuk : Lugu suci mentheleng lunga, kaku ngguyu lega sayuk.
c.    Krikil : keri nyang sikil.
4)    Ajaran semboyan atau peringatan
a.    Trima : tiga ma           masak, macak, manak.
b.    Catur Es : Empat S    sambung, sambang, sumbang, sombong (sembrana).
c.    Ma lima : Ma lima     madat, madon, minum, main, maling.
d.    Mala : lima la : lima l : lugu ‘sederhana’, lagu ‘irama’, lega ‘iklas’, legawa ‘sangat iklas’, legi ‘manis’.
e.    Mawa : lima w : wisma ‘rumah’, wareg ‘kenyang’, waras ‘sehat’, wasis ‘pandai’, widada ‘selamat’.
5)    Istilah populer
a.    bonek : bandha nekat
b.    congdhut : keroncong ndhangdhut
c.    ciblek : cilik betah melek
6)    Cangkriman
a.    Lidhe litan : Kali gedhe mili ngetan.
b.    Lesba dhonge : Tales amba godhonge.
c.    Pak peyut : Tepak cempe ciyut.
Berdasarkan contoh-contoh akronim tersebut tampaklah bahwa bentuk akronim lebih pendek daripada bentuk yang semula. Contoh-contoh itu juga menunjukkan adanya transhirarki turun tataran.

3.4.    Pengafiksasian
Penambahan afiks yang dapat menghasilkan transhirarki pada umumnya adalah bentuk dasar yang berupa frasa yang diikuti          oleh afiks seperti : (1) {Sa-/-e}, (2) {Sa-/-mu}, (3) {di-/-ake}, (4) {di-/-a}, dan (5) {-an}. Adapun contoh-contohnya sebagai berikut :
1)    Saanakputune ‘seluruh anak cucunya’
2)    Sabalasentanumu ‘seluruh tentara kerabatmu’
3)    Diranarenekake ‘ dibawa ke sana ke mari’
4)    Dipadhamacaa ‘dimohon agar membaca’
5)    Pitulas agustusan ‘peringatan tujuh belas agustus’
Bentuk-bentuk tersebut di atas apabila dianalisis bentuk dasar¬nya bukanlah berupa kata, akan tetapi berupa kelompok kata/frasa. Oleh karena itu, pengafiksasian seperti itu menghasilkan trans¬hirarki turun tataran. Peristiwa kebahasaan seperti dapat disebut sebagai “sintakomorfemis”.

3.5.    Pemajemukan
Pemajemukan menghasilkan kata majemuk. Kata majemuk tidak dianggap sebagai kelompok kata, akan tetapi dianggap sebagai kata. Contoh kata majemuk dalam bahasa Jawa misalnya :
1)    nagasari ‘nama makanan’
2)    lembah manah ‘ramah tamah’
3)    sato kewan ‘hewan’
4)    ngalor ngidul ‘ ke sana ke mari’
5)    padhang jingglang ‘terang sekali’.
Sehubungan dengan contoh-contoh tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa pemajemukan menghasilkan transhirarki turun tataran.

3.6.    Pemarafrasean
Pemarafrasean akan dibuat dalam bentuk parafrase maksudnya pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, tanpa mengubah maknanya, dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan (Harimurti Krida¬laksana, 1982 ; 120). Kemungkinan penekanan yang dimaksud misalnya untuk keindahan, penghalusan atau untuk memperjelas. Di dalam bahasa Jawa dapat ditemukan bentuk-bentuk kata dengan parafrasenya sebagai berikut :
1)    ajatasatru :     ora duwe mungsuh
boten darbe mengsah
‘tidak punya musuh’
2)    mati : sampun katimbalan marak/sowan ing ngarsaning Pangeran
‘sudah dipanggil menghadap Tuhan’
3)    Sedhela : sakedheping mata ‘sekejap mata’
4)    Manut : sumangga karsa ‘silahkan kehendakmu’
5)    Sabar : aywa asring duka ‘jangan sering marah’
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa bentuk-bentuk yang diparafrasekan merupakan kalimat atau kelompok kata. Oleh karena itu, bentuk-bentuk parafrase yang demikian menghasilkan transhirarki naik tataran.

3.7.    Penerjemahan
Penerjemahan dari bahasa Indonesia atau bahasa Asing ke dalam bahasa Jawa kadang-kadang tidak sepadan. Artinya antara bahasa Sumber dan bahasa Sasaran tidak dalam tataran yang sama. Hal ini dapat diamati dalam kamus Dwi Bahasa Indonesia – Jawa, misalnya :
1)    instropeksi : mulat salira, mawas dhiri.
2)    abatoar : papan kanggo mbeleh kewan.
3)    abstrak  : ora kasat ing mripat.
4)    absolut : tanpa wangenan.
5)    diapragma : bleblekan tipis kanggo ngatur mlebune cahyo ing piranti motret.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sumber (Indonesia) berstruktur kata, sedangkan bahasa Sasarannya (Jawa) berstruktur kelompok kata, frasa, bahkan kalimat. Oleh karena itu penerjemahan yang demikian dapat disebut transhirarki naik tataran.

3.8.    Persandian
Dalam bahasa Jawa, terutama dalam karya sastra tembang, banyak dijumpai persandian. Yang dimaksud persandian yaitu gabungan kata atau lebih yang menimbulkan bentuk baru. Unsur kata yang digabung, terutama kata-kata yang berakhir bunyi vokal dan kata-kata berawal bunyi vokal. Sebagai contoh misalnya kata jalu ’laki-laki’ dan estri ‘perempuan’ kedua kata tersebut dalam bentuk persandian menjadi jalwestri, dan tidak menjadi jalu estri. Sebelum mengalami persandian jalu estri merupakan bentuk frasa, akan tetapi setelah menjadi jalwestri seolah-olah hanya sebagai kata. Dalam hal perubahan jalu estri menjadi jalwestri dapat disebut sebagai transhirarki turun tataran.
Contoh-contoh bentuk persandian yang lain adalah sebagai berikut :
1)     prameswari    parama + iswari ‘isteri utawa raja’
2)     sawadyabalanireki     sawadyabalanira + iki ‘seluruh balatentaranya + iki’
3)     sireku    sira + iku ‘kamu itu’
4)     cidreng    cidra + ing ‘ingkar pada’
5)     wirotama    wira + utama ‘perwira utama’
6)     jiwanggamu     jiwa + anggamu ‘jiwa ragamu’
7)     satriyarga    satriya + arga ‘satria gunung’.
Bentuk-bentuk tersebut semula berstruktur frasa, setelah dibentuk dengan persandian berstruktur kata. Oleh karena itu dapat dinyatakan sebagai transhirarki turun tataran. Bentuk-bentuk seperti tersebut dapat dinyatakan sebagai bentuk “sintakofonemis”.

3.9.    Pemanjangan
Pemanjangan ini sebenarnya merupakan kebalikan dari pe¬nying¬katan dan pengakroniman. Penyingkatan dan pengakroniman menghasilkan bentuk transhirarki turun tataran, sedangkan pemanjangan menghasilkan transhirarki naik tataran. Penutur memanfaatkan kata yang diperlakukan sebagai akronim.

4.    Hubungan dengan Masyarakat Tuturnya
Transhirarki merupakan kenyataan kebahasaan yang memi¬liki karakterisasi dapat menurunkan tataran dan dapat pula menaikkan tataran. Wujud kenyataan kebahasaan ini memiliki kesamaan dengan kenyataan dalam masyarakat/masyarakat tutur¬nya. Pem¬bicaraan mengenai kaitan bahasa dengan masyarakat tuturnya telah dibicarakan dalam studi Sosiolinguistik (Sosiologi Bahasa).
Ahli bahasa yang telah membicarakan adanya kaitan bahasa dengan masyarakat, seperti terlihat pada tulisan Hudson (1980), Erlaine Chaica (1982), dan Joseph Errington (1985). Adanya pem¬bahasan seperti : Speech as a Signal of Social identity (Hudson, 1980), Language the Social Mirror (Erlaine Chaica), dan Language and Social Change in Java (J. Errington, 1985) menunjukkan adanya kaitan antara bahasa dengan masyarakat tuturnya. Hal semacam ini dalam bahasa Indonesia dikenal adanya ungkapan : bahasa menunjukkan bangsa.
Di dalam wujud kebahasaan ada peristiwa turun tataran dan ada pula naik tataran. Hal ini juga dapat ditemukan adanya turun status dan naik status di dalam masyarakat tutur Jawa. Masyarakat tutur Jawa mengenal adanya istilah mudhun pangkat ‘turun pangkat’, dan munggah pangkat ‘naik pangkat’. Oleh karena itu, kenyataan kebahasaan memiliki kesamaan dengan kenyatan dalam masyarakat tuturnya. Kenyataan yang demikian itu menunjukkan adanya perubahan, yang dalam masyarakat Jawa dikenal dengan adanya istilah : owah gingsir ‘perubahan’, ora langgeng ‘tidak kekal’, cakra manggilingan ‘selalu berputar’, lengser keprabon ‘turun tahta’, dan dilengser ‘diturunkan’. Istilah-istilah tersebut menyatakan makna perubahan di dalam masyarakat. Perubahan dapat berupa naik tataran/status dan turun tataran/status.

5.    Kandungan / Pesan dalam Transhirarki
Transhirarki pada prinsipnya merupakan perubahan tataran kebahasaan yang menyebabkan ada naik tataran dan turun tataran.
Kenyataan kebahasaan yang demikian memiliki kesamaan dengan kenyataan dalam masyarakat tutur Jawa. Naik tataran bernuansa makna positif, sedangkan turun tataran bernuansa makna negatif. Tataran tinggi dapat berubah menjadi tataran rendah, karena tataran tinggi dapat dikenani proses kebahasaan yang ber¬laku pada tataran di bawahnya. Misalnya saja tataran frasa (anak bojo ‘anaka istri’) bisa turun tataran kata (saanakbojone ‘seanak isterinya’) karena dapat dikenani proses afiksasi sa-/-esebagai afiks pembentuk kata.
Kenyataan kebahasaan turun tataran tersebut memiliki impli¬kasi bahwa seseorang dalam tataran atas agar tidak terjadi mudhun drajat ‘turun derajat’ supaya berperilaku selayaknya pada tataran tataran atas. Akan tetapi apabila tataran atas berperilaku seperti pada tataran bawah tentu dapat berakibat turun tataran. Kenyataan yang demikian dapat ditemui dalam kehidupan yang mencerminkan ada perilaku kurang terpuji.
Dalam hal “pengkramaan” dan pemarafrasean bentuk peng¬halusan dapat menyebabkan transhirarki naik tataran. Pengkramaan dan penghalusan dalam kebahasaan merupakan bentuk kesopanan berbahasa. Bentuk kesopanan berbahasa merupakan cerminan budi pekerti yang baik.
Perlu dinyatakan pula bahwa pengakroniman dalam bahasa Jawa ditemukan bentuk-bentuk akronim berisi ajaran/tuturan ke arah budi pekerti yang terpuji. Sebagai misalnya ma lima, guci lenga kaya gapuk, tiji tibeh,akronim ma lima (madat, madon, minum, main, maling) merupakan larangan untuk tidak dilakukan. Akronim guci lenga kayu gapuk (lugu suci, mentheleng lunga kaku ngguyu, lega dipukpuk) merupakan nasehat dalam per¬kawinan. Akronim tiji tibeh (mukti siji mukti kabeh mati siji mati kabeh) merupakan ajaran yang mencerminkan semangat keber¬samaan dalam suka dan duka.
Berkaitan pengakroniman dan pengkramaan di bawah ini ditampilkan tembang macapat sebagai berikut :
“Mungguh laku miwah hurip hiki,    ‘Adapun jalan dan hidup ini,
wus cinakup hing haksara Jawa,    telah tercakup dalam huruf Jawi,
Jawa jawi lan jiwaie,    Jawa Jawi dan Jiwinya
Jawa pikajengipun,    jawa maksudnya,
prasahaja walaka yekti,    sungguh sederhana apa adanya,
Jawi basa kramanya,    Jawi bentuk kramanya,
subasitanipun,    Sopan santunnya,
Jiwaning budayanira,    Jiwa budayanya,
Jiwi hiku sawiji lawan hyang widhi,    Jiwi itu menyatu dengan Tuhan
purneng haksara Jawa”,    Sempurna huruf Jawa
(SISKS. Pakoe Boewana IX, dalam Yosodipuro, 1993).

Di dalam tembang tersebut berisi tiga ajaran ke arah budi pekerti yang luhur yaitu Jawa, Jawi, dan Jiwi. Jawa dapat memiliki makna ‘Keterbukaan’, Jawi memiliki makna ‘Kesopanan/ Etika’, dan Jiwi memiliki makna ‘Ketuhanan’. Ajaran tersebut mengisyaratkan bahwa Keterbukaan perlu mempertimbangkan Etika dan Ketuhanan.
Selain tembang dandanggula tersebut, tembang-tembang berikut menjelaskan mengenai maksud satriya :
(2) Punika ingkang satuhu,
mengku makna tripakarti,
hanggadhuh kang pinaringan
hangrengkuh dhawuhireki,
minangka srana makarya,
mrih dadya labuhing urip
(3) Titah manungsa kang sampun,
netepi wewarah aji,
kaparengalem winastan,
sinebat satriya janmi,
dumadi saking triwanda,
makaten keplasing uni,
(5)    Sa punika tegesipun,
Nggadhahi makna sawiji,
Tri tiga pikajengira,
Ya punika ingsun yekti,
Manawi sampun mangkana,
Antuk uwohing pakarti.
———————————
(6)    Kabeh tanduran punika,
Bisane uwoh marani,
Awit saka gustinira,
Sapa hingkang kanampani,
Sanadyan begja cilaka,
Haku wajib denilangi (Maryono, Dwiraharjo, 2003 : 3)

Terjemahan :
(2)    Itu yang sebenarnya,
Mengandung makna tiga perbuatan,
Nggaduh yang diberikan,
Mengaku perintahnya,
Sebagai sarana berbuat,
Agar jadi perjuangan hidup.
(3)    Manusia yang sudah,
menepati janji,
kehendak beliau disebut,
disebut satriya manusia,
terjadi tiga suku kata,
demikian maksudnya.
(4)    Sa itu maksudnya,
mempunyai makna satu,
tri tiga maksudnya,
yaitu sesungguhnya aku
bila sudah demikian,
mendapat hasil perbuatan.
(5)    Semua tanaman itu,
agar bias berbuah,
sebab dari Tuhan,
siapa yang menerima,
walaupun beruntung dan celaka,
aku harus dihilangkan.

Tiga bait tembang kinanthi, tersebut terdapat penjelasan mengenai satriya yaitu seseorang yang di dalam dirinya telah menyatu tiga perbuatan : nggadhuh, ngrengkuh, dan labuh, dan disarankan orang tidak egois tetapi selalu disarankan agar memiliki jiwa ketuhanan selalu ingat kepada Tuhan pencipta alam.
Dari contoh-contoh transhirarki ternyata didapatkan peman¬faat¬an kata-kata yang sudah ada untuk maksud yang lain. Hal semacam itu merupakan kebiasaan “melu payu” mengikut yang sudah ada dan “kudhung walulang” artinya berlindung kepada pihak yang memiliki kekuasaan/pengaruh di masyarakat.

6.    Simpulan
Sebagai penutup uraian saya simpulkan sebagai berikut:
1)    Transhirarki merupakan kenyataan kebahasaan yang me¬miliki karakterisasi dapat menaikkan tataran dan dapat pula menurunkan tataran.
2)    Di dalam bahasa Jawa ditemukan penanda transhirarki seperti (1) “pengkramaan”, (2) “penyingkatan”, (3) “pang¬a¬kroniman”, (4) “pengafiksasian”, (5) “pemajemukan”, (6) “pama¬rafrasean”, (7) “penerjemahan”, (8) “persandian”, dan (9) “pemanjangan”.
3)    Transhirarki memiliki kesamaan dengan kenyataan dalam masyarakat tutur Jawa yang juga memiliki pesan positif terhadap masyarakat tutur untuk menuju kebaikan dalam kehidupan.
4)    Dengan wawasan Catur Tunggal analisis dan pemahaman bahasa sesuai dengan maksud untuk dapat menghindari salah paham bahkan ketegangan social.
5)    Ada dua hal yang perlu dikaji dalam bahasa Jawa yaitu adanya sintakofonemis dan sintakomorfemis.
Demikianlah uraian dan penjelasan tentang Transhirarki dalam bahasa Jawa dan masyarakat tuturnya sebuah Wawasan Catur Tunggal semoga bermanfaat. Amin.

PENUTUP
Hadirin yang terhormat,
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini perkenankanlah saya sekali mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan hidayah, karunia-Nya kepada saya sekeluarga.
Ucapan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang secara langsung telah membantu mengantarkan saya menjabat jabatan terhormat sebagai Guru Besar ini, sehingga tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Namun saya perlu menyebut¬kan antara lain :
1)    Mendiknas Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan Guru Besar bidang Sosiolinguistik di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Univer¬sitas Sebelas Maret Surakarta.
2)    Rektor Universitas Sebelas Maret Bapak Prof. Dr. dr. H. Syamsulhadi, Sp.Kj (Konsultan) dan segenap anggota senat yang telah menyetujui dan mengusulkan saya untuk memangku jabatan Guru Besar.
3)    Rekan-rekan sejawat anggota senat Fakultas Sastra dan Seni Rupa telah mendukung dan mengusulkan saya sebagai Guru Besar.
4)    Rekan saya Bapak Drs. Paina Partana, M.Hum sebagai kawan sejawat yang telah membantu mengumpulkan, menyusun syarat-syarat pengusulan Guru Besar ke Sidang Senat Fakultas Sastra dan Seni Rupa.
5)    Guru-guru saya mulai dari sekolah rakyat hingga Perguruan Tinggi yang telah mendidik saya hingga dapat mencapai jabatan Guru Besar sungguh merupakan jasa yang selalu kuingat dalam hidupku.
6)    Bpk Prof. Drs. M. Ramlan selaku pembimbing yang mempermudah langkah saya untuk mencapai gelar Doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
7)    Secara khusus kepada Almarhum pembimbing saya : Alm. Bp. Prof. Dr. H. Suwito, Alm. Bapak. Prof. Dr. H. Soeseno Kartomihardjo, Alm. Bapak. Prof. Dr. Darusuprapto, dan Almarhumah Ibu Prof. Dra. Siti Bararah Baried yang telah tiada, memiliki jasa yang besar sewaktu saya menempuh program S3 di Program Pasca Sarjana UGM. Semoga Allah SWT mengampuni kesalahannya dan menempatkan di surga-Nya
8)    Kedua orang tua saya Bapak Amatrejono dan Almarhumah Ibu Tugiyem Amatrejono yang telah susah payah dengan sembur (doa), tutur (nasehat), dan uwurnya (pemberian) untuk keberhasilan hidup saya sekeluarga. Khusus kepada Almarhumah Ibu saya yang sewaktu saya menempuh S3, selalu berbaring di tempat tidur hingga wafat semoga Allah SWT memberikan ampunan-Nya.
9)    Kedua mertua saya Bapak Harjowidodo dan Ibu Harjo¬widodo yang telah memberikan dorongan, bimbingan kesuksesan keluarga saya.
10)    Kepada istri saya Murningsih dan anak-anak saya yang telah rela berkorban demi keberhasilan studi saya sewaktu di S3 di UGM Yogyakarta isteriku selalu setia mendam¬ping¬iku dalam duka dan suka.
11)    Kepada saudara-saudara kandung saya, saudara ipar dan keponakan-keponakan saya yang telah memberikan pengertian untuk keberhasilan saya.
12)    Rekan-rekan wartawan media cetak maupun elektronik yang telah menginformasikan acara pengukuhan ini kepada masyarakat.
13)    Semua hadirin yang sabar telah mengikuti acara pengukuhan ini.

Akhirnya, saya sekali lagi mengucapkan terima kasih, mohon dimaafkan segala kekurangan, semoga Allah SWT selalu melim¬pah¬kan nikmat dan barakah-Nya kepada hadirin semuanya. Amin ya Rabbal ‘alamin
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Daftar Pustaka

Chaica, Erlaine. 1982. Language The Social Mirror. Rowley. London, Tokyo:Newbury House Publisher, Inc.
Crystal, David, 1980. A Fist Dictionary of Linguistics and Phonetics. Colorado:Westview Press Boneder.
Edi Subroto, D. 1985. “Transposisi dan Adjektiva menjadi Verba dan Sebaliknya dalam bahasa Jawa”. Disertasi Universitas Indonesia Jakarta.
Errington J, Josheph. 1985. Language and Social Change in Java. Ohio : Athena.
Harimukti Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia.
Hudson, R. 1980. Sociolinguistics. Cambrige : Cambrige University Press.
Margono. 1986. “struktur Tataran Kata” dalam Kumpulan Karya Alumni. Yogyakarta : Panitia Kegiatan Ilmiah.
Maryono Dwiraharjo. 1997. “Fungsi dan Bentuk Krama” Disertasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
————————-. 2000a. “Kawruh Basa Jawi Kawedhar”. Surakarta : Sastra Daerah FS UNS.
————————-. 2000b. “Transhirarki dan Masyarakat Tuturnya : Suatu Kajian Awal”. Diskusi KSL Jurusan Sastra Daerah. 1 April 2000.
MLI. 1999. Buku Panduan Konggres Nasional IX. Jakarta : Panitia.
Prawiroatmojo, S. 1981. Bausastra Jawa – Indonesia. Jakarta : PT. Gunung Agung.
Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa. Groningen, Batavia : J.B. Wolters Vitgevers Maatschappij, N.V.
Sudaryanto, dkk. 1991 a. Kamus Indonesia-Jawa. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.
——————. 1991 b. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.
Yosodipuro, KRMH. 1992. “Basa Jawi ing Tembe Wingking”. Djoko Lodang nomer 1038 8 Agustus 1992.

PERAN IMUNISASI UNTUK MENUNJANG TUMBUH KEMBANG BALITA ANAK INDONESIA BERKUALITAS

Oleh:
Prof. Dr. Harsono Salimo, dr, SpA(K)

Yang terhormat,
Ketua dan para anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Rektor/Ketua Senat, Pembantu Rektor, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Direktur Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran,
Para Ketua Lembaga, Kepala Biro dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium/Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha dan KaSubBag serta seluruh Tenaga Administrasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta,
Para teman sejawat, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis, dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret,
Para Tamu undangan, sanak keluarga,  handai taulan,  serta  hadirin sekalian yang saya muliakan,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, pertama-tama marilah  kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang karena limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kita dapat berkumpul di rungan ini untuk hadir pada Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan acara pengukuhan saya sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Salawat dan salam senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.
Terlebih dahulu perkenankanlah saya mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para hadirin yang telah berkenan meluangkan waktu yang sangat berharga untuk menghadiri upacara pengukuhan ini. Hari ini merupakan saat yang berbahagia bagi saya karena mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Hadirin yang saya hormati,
Perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar ini untuk memenuhi kewajiban dan tradisi akademik. Pidato pengukuhan ini saya beri judul ”Peran Imunisasi untuk Menunjang Tumbuh Kembang Balita Anak Indonesia Berkualitas”. Judul ini dipilih untuk mengingatkan kembali salah satu pilar kekhasan dan keunikan seorang anak, yaitu tumbuh kembang. Tumbuh kembang adalah dasar dari ilmu kesehatan anak, sebab ilmu ini mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses kehidupan sejak konsepsi sel telur dengan sperma, kehidupan janin dalam rahim, masa bayi, anak kecil, masa prasekolah, remaja hingga menjadi masa dewasa. Ilmu ini dipelajari agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik, mental, emosi dan sosial sesuai dengan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia dewasa yang berguna bagi diri dan lingkungannya. Secara khusus, dengan memahami proses tumbuh kembang, maka kelainan yang terjadi pada proses ini dapat dideteksi secara dini dan ditangani per¬masalahannya (Suganda, 2002).
Salah satu yang menunjang aspek tumbuh kembang adalah imunisasi. Program yang telah disosialisasikan dan dilaksanakan secara luas oleh pemerintah, dalam hal ini melalui puskesmas dan posyandu, telah membantu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas anak secara signifikan. Dengan menurunnya angka kesakitan dan angka kematian anak, berarti memberi kesempatan kepada anak dan menunjang tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa mencapai potensi genetiknya.
Pada kesempatan ini akan saya sampaikan pandangan-pandangan saya tentang imunisasi ini agar dapat membantu para petugas kesehatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia, para sejawat dan seluruh pihak yang memiliki perhatian mendalam tentang aspek tumbuh kembang anak. Cita-cita kita bersama untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkualitas harus menjadi motivasi dan tanggung jawab bersama.

TUMBUH KEMBANG

Hadirin yang saya muliakan,
Tumbuh kembang memang menjadi dasar ilmu kesehatan anak, namun tumbuh kembang sering dianggap sesuatu yang mudah dan terlalu sederhana. Padahal pengalaman membuktikan bahwa penatalaksanaan anak dengan gangguan tumbuh kembang cukup sulit. Gizi buruk, anak dengan retardasi mental, tumbuh kembang bayi prematur, kekerasan pada anak, kenakalan remaja, dan segudang permasalahan tumbuh kembang anak rupanya memerlukan penanganan yang cukup rumit dan kompleks, melibatkan tidak hanya aspek fisik saja tetapi juga aspek psikososial; tidak hanya dokter anak tetapi juga psikolog, ahli rehabilitasi medik, dan lain-lain.
Pengertian tumbuh kembang yang dalam kehidupan sehari-hari telah mempunyai satu makna sendiri, sebenarnya mencakup 2 pengertian yang berbeda, tetapi tetap saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Yang dimaksud dengan pertumbuhan (growth) adalah semua perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu, dan ini bisa diukur dengan ukuran berat, panjang dan umur tulang. Jadi lebih mengarah pada kuantitas dan mempunyai dampak terhadap aspek fisik. Perkembangan (development) adalah perubahan dalam hal fungsi dan proses pematangan sel maupun organ dan individu, termasuk perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku. Dalam hal ini lebih mengarah pada kualitas. Walaupun mempunyai dua pengertian yang berbeda, tetapi kedua peristiwa itu terjadi secara sinkron dan saling berkaitan. Tujuan Ilmu Tumbuh Kembang adalah mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan segala upaya untuk menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak baik fisik, mental dan sosial. Juga menegakkan diagnosis dini setiap kelainan tumbuh kembang dan kemungkinan penanganan yang efektif, serta mencari penyebab dan mencegah kelainan tersebut (Sutjiningsih, 1995).
Ilmu Tumbuh Kembang mempelajari tumbuh kembang sejak masa konsepsi yaitu bertemunya sel sperma dengan sel ovum, pada masa janin, neonatus, masa prasekolah, sekolah sampai remaja yang ditandai dengan berhentinya pertumbuhan yaitu menutupnya epiphise pertumbuhan tulang panjang. Pada anak perempuan terjadi pada kurang lebih umur 18 tahun dan pada anak laki pada kurang lebih umur 20 tahun. Agar anak dapat tumbuh kembang optimal sesuai potensi genetiknya, diperlukan pemantauan atau follow-up yang terus menerus selama masa tumbuh kembangnya. Apabila ada hal yang menyimpang, misalnya terkena penyakit infeksi, maka harus segara diberi penatalaksanaan yang memadai sehingga anak dapat kembali pada proses tumbuh kembang yang optimal. Untuk mencegah hal yang akan menyebabkan penyimpangan pada tumbuh kembangnya, perlu mengetahui  hal di bidang pediatri pencegahan maupun pediatri sosial.

Para hadirin yang saya hormati,
Perkembangan ilmu dan teknologi juga mengantarkan kita pada tantangan untuk bisa memprediksi kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kehidupan seorang anak di masa yang akan datang (Moersintowati, 2004).
Ada dua faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (milleu). Faktor ling¬kungan yang baik harus dapat menyediakan segala kebutuhan dasar anak untuk dapat tumbuh kembang optimal, yang kita kenal dengan asuh, asah dan asih. Asuh berupa kebutuhan fisis-biomedis, asah bermakna kebutuhan latihan/rangsangan/bermain/stimulasi, asih berarti kebutuhan akan kasih sayang/emosi (Titi Sularyo, 1994).
Kebutuhan fisis-biomedis atau asuh mencakup kebutuhan nutrisi yang seimbang dan tepat, perawatan kesehatan dasar, pakaian, perumahan, higiene diri dan lingkungan serta kesegaran jasmani. Nutrisi memegang peranan paling penting dalam memenuhi kebutuhan asuh ini. Kasus-kasus gizi buruk di negara kita tercinta ini menjadi bukti bahwa permasalahan nutrisi ini masih menjadi kendala di sebagian masyarakat kita. Namun yang tidak kalah penting juga adalah perawatan kesehatan dasar, yang termasuk di dalamnya adalah imunisasi dan usaha pencegahan morbiditas pada anak yang lainnya. Anak yang sehat akan tumbuh dan berkembang dengan baik, sedangkan anak yang sering sakit akan terganggu pula tumbuh kembangnya. Dengan demikian imunisasi sebagai salah upaya mencegah terjangkitnya penyakit pada anak menjadi program wajib yang telah disediakan oleh negara/pemerintah melalui program pengembangan imunisasi (PPI). Telah kita ketahui bersama bahwa dengan pemberian imunisasi telah bisa menyelamatkan berjuta-juta nyawa anak didunia. Sebelum era imunisasi campak, didapatkan sekitar 5,7 juta anak meninggal setiap tahunnya (MMWR 2002, MMWR 2003). Sejak dilaksanakannya program imunisasi campak pada tahun 1963, angka kesakitan dan angka kematian karena penyakit campak menurun dengan drastis sanpai 86%, yaitu dengan didapatkannya angka kematian sebesar 800.000 pertahun pada tahun 1995. Dengan demikian, dengan pemberian imunisasi campak saja telah bisa menyelamatkan berjuta-juta nyawa anak setiap tahunnya, berarti memberi kesempatan hidup pada berjuta-juta anak. Dengan telah dilaksanakannya Expanded Program on Immunization (EPI) pada tahun 1973 dan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada tahun 1974 yang meliputi pemberian imunisasi terhadap tujuh penyakit, yaitu BCG, DPT, Polio. Campak dan Hepatitis B akan lebih lebih menunjang tumbuh kembang anak Indonesia menjadi anak Indonesia yang sehat fisik, jasmani, mental, beriman, bertaqwa, mandiri, sehingga nantinya akan menghasilkan manusia dewasa yang tangguh sebagai penerus generasi bangsa.

IMUNISASI

Sejarah imunisasi telah dimulai sejak abad 15 di China dengan meng-inokulasikan serbuk cacar pada orang sehat. Selanjut¬nya, pengetahuan ini dibawa ke negara Barat. Pada 1798, Edward Jenner memperkenalkan vaksin yang pertama untuk penyakit cacar. Hal ini menjadi awal salah satu penemuan besar di dunia kedokteran, meskipun sebenarnya praktek ini sudah dilaku¬kan di India, Persia dan Cina. Semenjak itu imunisasi mengalami kemajuan yang besar. Bahkan akhir-akhir ini juga diperkenalkan vaksin-vaksin yang relatif baru, seperti vaksin untuk rotavirus, vaksin untuk pneumokokus, dan yang terakhir yang baru kita kenal beberapa bulan yang lalu yaitu vaksin Human Papilloma Virus (HPV).
Teknologi imunisasi pada saat ini semakin berkembang. Pengetahuan tentang patogenesis penyakit secara biomolekuler, pembuatan vaksin DNA, dan epidemiologi penyakit semakin berkembang, sehingga diharapkan dapat meng-eradikasi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (VPDs = Vaccine-preventable diseases).
Menurut laporan WHO pada 2002, lembaga ini memperkira¬kan terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa yang disebabkan oleh karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yaitu campak 540.000 (38%), Haemophilus influenzae type b 386.000 (27%), pertussis 294.000 (20%) dan tetanus 198.000 (14%) (WHO, 2006). Adapun  laporan WHO pada tahun 2006, angka cakupan imunisasi untuk DPT3 dan Polio secara global adalah 78%. Berarti terdapat 28 juta anak didunia yang belum mendapat imunisasi DPT3 dan Polio pada 2005. Tujuh puluh lima persen dari anak-anak ini tinggal di 10 negara, di antaranya Indonesia (Global Immunization Coverage, 2006). Saat ini, WHO dan UNICEF bekerja sama dengan mitra untuk mengembangkan Global Imminization Vision and Strategy (GIVS) untuk implementasi selama tahun 2006-2015. Tujuan GIVS ini adalah melindungi lebih banyak anak terhadap lebih banyak penyakit dengan mengembangkan pencapaian imunisasi untuk semua anak (WHO, 2006)
Keberhasilan program imunisasi di Indonesia tampak dari cakupan program imunisasi yang cukup tinggi. Penggunaan kartu menuju sehat (KMS) yang termasuk di dalamnya program imunisasi sejak tahun 1977, telah membantu menurunkan angka kematian bayi dan balita. Angka kematian balita menurun hingga sekitar 46 per 1000 kelahiran hidup (Ranuh, 2005; Bappenas 2007).

Pada tahun 1990, angka cakupan imunisasi dasar di Indonesia telah mencapai lebih dari 90%. Hal ini masih ditambah dengan gerakan Pekan Imunisasi Nasional terhadap penyakit polio dan campak. Namun kita mendapatkan kenyataan masih adanya letupan-letupan kejadian luar biasa, baik untuk penyakit polio maupun campak.
Program imunisasi campak sendiri di Indonesia telah mencapai cakupan berkisar 94%. Namun dilaporkan masih terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak di beberapa daerah di Indonesia (Heriyanto, 1998; Heriyanto, 1999). Pada daerah dengan cakupan imunisasi yang tinggi, proporsi kejadian penyakit campak antara umur 5-14 tahun meningkat. Banyak anak yang sudah mendapatkan imunisasi campak tetapi masih bisa terkena penyakit campak, bahkan kejadiannya cenderung meningkat; 1% pada tahun 1981, 4,6% pada tahun 1985 dan 23,3% pada tahun 1995 (Griffin, 1996; Heriyanto, 1999; Heriyanto, 2000; Maldonado, 2003).
Banyak faktor penyebab ketidak-berhasilan imunisasi campak. Dari faktor host bisa disebabkan oleh karena umur bayi pada waktu diberikan imunisasi, status gizi, masih adanya antibodi maternal dari ibu pada waktu imunisasi campak diberikan dan pemberian ASI. Dari faktor lingkungan yang berpengaruh adalah keadaan higiene sanitasi lingkungan, tingkat kepadatan penduduk yang akan menyebabkan mudahnya terjadi penularan, terjadinya wabah/KLB dan angka cakupan imunisasi. Sedangkan dari faktor agent bisa karena pengaruh virus vaksin campak di mana di Indonesia yang dipakai adalah galur CAM-70, jenis adjuvant yang dipakai, perlakuan/pendistribusian cold-chain mulai dari tingkat pusat sampai di tingkat propinsi, kabupaten, puskesmas dan terakhir di posyandu dan juga kemungkinan adanya mutasi galur virus campak (Ismail,1991; Soegijanto. 1992; Heriyanto, 1999; El Mubarak, 2000; Harun, 2001;  Maldonado, 2003).
Dalam disertasi pendidikan doktor saya, saya temukan adanya 2 jenis gejala klinis campak, yaitu gejala klinis klasik dan modifikasi. Untuk gejala klinis atipikal, hemoragik maupun gejala klinis pasien immunocompromised tidak ditemukan (Tabel 1). Dengan demikian saat ini para dokter hendaknya mempertimbangkan kembali bahwa gejala klinis campak tidak hanya gejala klasik campak saja tapi juga ada gejala klinis campak modifikasi, yang ditandai dengan masa inkubasi yang lebih lama, gejala panas yang lebih ringan, timbulnya ruam yang tidak spesifik dan biasanya terjadi pada bayi muda.

Tabel 1. Jenis manifestasi klinis

No    Golongan Umur    CampakKlasik    CampakModifikasi
1      5-<9 bulan                 1                        2
2      9 bl -<6 th                 6                        1
3      6-13 th                     11                       3
Jumlah                      18                       6

Pada analisis filogenetik, saya menemukan genotip virus campak, yaitu D9 di Bandung, D9 dan G3 di Solo dan D9 di Pacitan.(Tabel 2). Hasil tersebut menunjukkan adanya kesamaan untuk genotip G3 dengan isolat virus asal Gresik, Jawa Timur dan untuk genotip D9 dengan isolat virus asal Bali (WHO 2003). Sementara itu WHO menyatakan ada 3 genotip virus campak di Indonesia, yaitu D9, G2 dan G3. Dengan ditemukannya 3 genotip virus campak di Indonesia, hal ini bisa menjawab pertanyaan mengapa seorang anak yang telah menderita campak, bisa menderita campak lagi bila terinfeksi dengan virus campak dengan genotip yang berbeda.

Tabel 2. Hasil pemeriksaan analisis filogenetik
No    Nomor Sampel    Genotip
1      MV-7-SOLO           D9
2      MV-14-SOLO         G3
3      MV-16-PCT           D9
4      MV-25-BDG           D9

Pada pemeriksaan serologis IgG dan IgM dengan metode ELISA spesifik campak didapatkan hasil sangat bervariasi tergantung pada umur penderita, adanya antibodi maternal dan status imunisasinya, tetapi semuanya konsisten dengan skema klasifikasi.
Pada golongan umur 5-<9 bulan didapatkan 2 bayi dengan              IgG(-)/IgM(-) dan satu bayi IgG(+)/IgM(+). Pada golongan umur         9 bulan – <6 tahun didapatkan 1 anak IgG(-)/ IgM (-), 1 anak IgG(+)/IgM(+) dan 5 anak IgG(-)/IgM(+). Adapun untuk golongan umur 6-13 tahun didapatkan 2 anak IgG(+)/IgM(+), 5 anak             IgG(-)/IgM(+), 7 anak IgG(+)/IgM(-).
Penelitian oleh Erdman dkk (1995)  terhadap 57 penderita campak yang sebelumnya sudah mendapat imunisasi campak didapatkan 55 (96%) didapatkan antibodi IgM campak. Dari jumlah tersebut, 35 (55%) diklasifikasikan sebagai respon antibodi primer dan 25 (45%) sebagai respon antibodi sekunder berdasar rasio antibodi IgM terhadap IgG.
Hasil pemeriksaan IgG dan IgM spesifik campak penelitian saya terhadap 23 penderita kasus campak didapatkan dari golongan umur 5 – <9 bulan, didapatkan 2 bayi dengan IgG(-)/IgM(-). Ini memperlihatkan bahwa sampai umur 5 – <9 bulan, kedua bayi tersebut sudah tidak mempunyai antibodi maternal sehingga mudah terkena penyakit campak. Sedangkan bayi yang satu lagi, walaupun masih mempunyai antibodi maternal tetapi masih terkena penyakit campak juga. Hal ini sesuai dengan penelitian Soegijanto (1992) yang mendapatkan bahwa pada bayi mulai umur 3 bulan kadar antibodi maternal mulai menurun, dan mulai umur 6 bulan sudah mulai tidak terdapat antibodi maternal lagi. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan oleh Salimo (2006) pada bayi baru lahir di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Dari 15 bayi baru lahir yang diperiksa kadar IgG, ternyata semuanya mempunyai IgG positif dengan konsentrasi yang cukup tinggi di atas rata-rata.
Pada golongan umur 9 bulan – <6 tahun, diasumsikan mereka sudah pernah mendapat 1x imunisasi Campak, terdapat 6 dari 7 anak (85,7%) dengan IgG  negatif, berarti terjadi kegagalan respons imun primer dan hanya satu dari tujuh anak (14,3%) dengan IgG positif.
Pada golongan umur 6 – 13 tahun, dimana diasumsikan mereka sudah mendapat 2x imunisasi campak (satu kali pada waktu umur 9 bulan, satu kali pada waktu di SD pada waktu BIAS), didapatkan 9 anak (64.4%) IgG nya positif. Berarti dengan 2x pemberian imunisasi campak dapat menaikkan respons imun cukup tinggi, sedangkan 5 di antara mereka (35.7%) IgM nya negatif. Hal ini mungkin disebabkan  pengambilan sampel yang dilakukan pada waktu  hari pertama atau hari kedua memang masih memberi hasil negatif pada 30% penderita, sehingga diduga hasil ini adalah false negative results atau hasil negatif palsu (WHO 2002).

VAKSIN LOKAL

Hadirin yang saya hormati,
Hasil dari disertasi saya tersebut, menimbulkan pandangan baru yang kiranya perlu saya kemukakan dalam Sidang hari ini. Pandangan baru tersebut adalah perlunya penggunaan vaksin campak yang berasal dari virus campak yang beredar di Indonesia (virus lokal), sehingga dapat memberi perlindungan kekebalan terhadap infeksi virus campak yang lebih baik. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan isolasi dan kultur virus campak, sehingga dapat diperoleh kandidat vaksin campak yang lebih sesuai dengan virus yang beredar di Indonesia.

EPIDEMIOLOGI MOLEKULER

Hadirin yang saya hormati,
Saat ini, ilmu epidemiologi molekuler telah  berkembang pesat, tidak saja bermanfaat untuk mempelajari epidemioloigi suatu penyakit menular tapi juga untuk mempelajari penyakit yang tidak menular. Ilmu epidemiologi molekuler adalah sebuah ilmu yang mempelajari berbagai faktor risiko genetik dan lingkungan, yang diidentifikasi melakui tingkat molekuler, baik terhadap etiologi sebagai penyebab, distribusi dan pencegahan penyakit di dalam keluarga dan lintas populasi (Rima, 1995a; Rota 1996; Katayama, 1997, Liffick, 2001; Rota, 2002; Korukluoglu, 2005). Aplikasi dari pendekatan epidemiologi molekuler terutama merupakan kombinasi pendekatan amplifikasi fragmen tertentu genom virus mengguna¬kan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dan analisis sekuensing nukleotida. Saat ini epidemiologi molekuler merupakan alat yang penting dan sensitif untuk mempelajari penyebaran virus pada tingkat molekuler, sehingga dapat memberikan pengertian yang lebih baik pada kejadian epidemiologi.
Salah satu komponen pemberantasan penyakit campak adalah melakukan penelitian di bidang surveilans laboratorium, yang salah satu komponennya yang penting adalah melakukan karakterisasi genetik virus campak wild-type. Informasi genetik ini akan mem¬berikan tambahan yang kuat untuk data standar epidemiologi untuk menentukan pola penyebaran virus campak. Epidemiologi molekuler menyokong epidemiologi klasik dalam hal asal sumber impor virus campak. Hal ini dapat diketahui dengan mengkonfirmasi genotip virus yang didapat dengan genotip virus yang telah diketahui beredar dalam suatu negara. Galur prototip (Edmonston) dari virus campak yang dipakai untuk vaksin campak saat ini adalah termasuk dalam genotip A. Dalam penelitian epidemiologi molekuler di Amerika Serikat pada tahun 1997-2001, Rota mendapatkan genotip D6, D5, D4, H1, C2, D2, D3, D7 dan D8 yang beredar di Amerika Serikat (Jin et al, 1997). Masing-masing negara mempunyai genotip virus campak yang berbeda. Untuk kepentingan epidemiologi molekuler, dilakukan penandaan genotip dengan mempertimbangkan unit operasi taksonomi. Pada tahun 2001, WHO (2001) telah membuat konvensi untuk pemberian nama galur virus campak. Variasi genetik ini memungkinkan gambaran klinis penyakit campak yang tidak khas lagi seperti gambaran semula (Griffin, 1996). Menurut data publikasi WHO (WHO 2003, dan WHO 2005), saat ini genotip campak yang beredar di Indonesia ada 3 yaitu G2, G3 dan D9. Genotip G2, Genotip G2, MVi/Amsterdam. NET/49.97, didapat dari penderita dari Jakarta yang berobat ke Belanda pada 1997. Kejadian ini sempat menimbulkan penularan dikalangan personel rumah sakit tempat anak tersebut dirawat. Bahkan sampai semua personel rumah sakit dilakukan skrining pemeriksaan IgG dan IgM spesifik campak (de Swart 2000). Genotip G3, MVi/Gresik.INO/17.02 berasal dari Gresik, sesuai dengan publikasi WHO (WHO 2003) dan D9 adalah penderita dari Bali yang diperiksa di Australia pada 1999, MVi/Victoria,AUS/12.99. Untuk genotip G2, pada tahun 2001 WHO (WHO, 2001) telah mempublikasikan  genotip yang beredar di Indonesia dan Malaysia adalah genotip G2.
Untuk genotip G3, sesuai dengan publikasi  WHO (2005), didapatkan genotip  MV-14-Solo yang berasal dari Solo, termasuk dalam genotip G3. Hal ini sesuai dengan  population dynamic mobilization, dimana telah terjadi arus mobilisasi penduduk pada kegiatan perdagangan sejak zaman dulu melewati aliran Bengawan Solo, dari Solo sampai Gresik, sehingga virus yang beredar di Gresik bisa sampai di Solo. Juga disebutkan bahwa sebelumnya didapatkan genotip G3 dari penderita (pengungsi) yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste) yang bermigrasi ke Australia pada tahun 1999. Virus tersebut berasal dari bahan sampel spesimen klinis. Namun pada 2002 didapatkan isolat virus genotip G3, Mvi/Gresik.INO/17/02 dari Gresik, Jawa Timur dan ini yang kemudian oleh WHO dijadikan acuan galur genotip G3 (WHO, 2003).
Pada kegiatan surveilens virologis terakhir, telah didapatkan genotip baru di Indonesia, yaitu D9. Galur acuan genotip ini adalah MVi/Victoria.AUS/12.99, diisolasi dari kasus campak yang di-import ke Australia dan berasal dari Bali. Dalam publikasinya, WHO menyebutkan bahwa genotip D9 juga telah di-isolasi di pulau Jawa, Indonesia (WHO, 2003). Dari hasil penelitian ini didapatkan, virus campak yang menginfeksi penderita MV-16-Pct yang berasal dari Kabupaten Pacitan (provinsi Jawa Timur) adalah genotip D9. Walaupun berasal dari provinsi Jawa Timur, namun karena Kabupaten Pacitan berdekatan dengan Solo, penderita tersebut berobat ke Solo. Penderita MV-25-Bdg yang berasal dari Bandung, juga termasuk dalam genotip D9.. Berarti sebaran atau distribusi genotip D9 telah merata di Indonesia.

PENUTUP

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup dari uraian tentang peran imunisasi untuk menunjang tumbuh kembang anak Indonesia berkualitas maka dapat disimpulkan bahwa imunisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang tumbuh kembang, dalam hal menurunkan angka kematian dan angka kesakitan. Namun, masih ada kendala yang cukup menghambat peran imunisasi yaitu masih rendahnya angka cakupan yang dicapai dibandingkan dengan angka cakupan yang seharusnya, sehingga manfaat imunisasi kurang bermakna. Untuk mengatasi kendala tersebut, berbagai usaha telah dilakukan Departemen Kesehatan berupa  Pekan Imunisasi Nasional (PIN), Bulan Imunisasai Anak Sekolah (BIAS) serta beberapa kegiatan tambahan lainnya. Selain itu juga dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dengan mengadakan pertemuan ilmiah, seminar dan simposium, diantaranya kegiatan yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berupa Pelatihan Vaksinologi diberbagai kota di Indonesia. Dengan berbagai kegiatan tersebut diharapkan angka cakupan imunisasi di Indonesia dapat ditingkatkan sehingga kita bisa mendapatkan manfaat imunisasi semaksimal mungkin.

Sepatah kata untuk mahasiswa kedokteran
Telah kita ketahui bersama bagaimana pentingnya imunisasi dalam menunjang tumbuh kembang anak Indonesia. Namun, banyak kendala untuk mendapatkan manfaat yang maksimal yang seharusnya didapat seperti yang telah didapat oleh negara maju, sehingga angka kesakitan dan angka kematian masih cukup tinggi, dan belum bisa kita turunkan lagi sesuai harapan kita.Penyakit infeksi disertai dengan kekurangan gizi masih merupakan masalah utama di Indonesia. Oleh karena itu sudah pada tempatnya bila dokter Indonesia mempunyai bekal yang memadai dalam meng-identifikasi, mendiagnosis dan memberikan penatalaksanaan yang semaksimal mungkin. Tentu saja berbagai upaya untuk pen¬cegahan¬nya harus diketahui sebaik mungkin, termasuk ilmu imunisasi. Jangan sampai terjadi kesalahan dalam pemberian imunisasi, sehingga seolah-olah kita telah memberikan imunisasi kepada seorang anak tetapi karena ada kesalahan dalam cara dan teknik pemberiannya, maka tidak dapat memberikan hasil berupa timbulnya respon imun yang protektip terhadap penyakitnya. Di Indonesia, belum banyak penelitian mengenai penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi sampai mendalam ditingkat biologi molekuler. Padahal dengan mempelajari secara lebih mendalam mengenai penyakit infeksi, tidak hanya fenomena klinisnya saja, tetapi juga sampai pengetahuan dasar pada tingkat biologi molekulernya yang menjadi dasar fenomena klinis tersebut, akan mendapat penatalaksanaan yang lebih baik dan cara pencegahan yang lebih terfokus.
Oleh karena itu saya harapkan agar pengetahuan dasar sampai ditingkat biologi molekuler sudah diketahui oleh para mahasiswa kedokteran, sehingga nantinya mereka akan lebih mantap dalam memberikan penatalaksanaan dan pencegahan terhadap penyakit infeksi.

Pesan kepada peserta program pendidikan dokter spesialis anak
Seperti kita ketahui semua, tujuan pendidikan dokter spesialis anak adalah menghasilkan dokter spesialis anak sekaligus Magister yang mempunyai kompetensi profesional sebagai seorang dokter spesialis yang mampu memberikan pelayanan kesehatan anak secara paripurna dalam tingkat spesialistik bertaraf internasional sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat dan mempunyai kompetensi akademik sebagai seorang Magister yang mampu menyerap, meneliti, mengembangkan dan menyebarkan ilmu kesehatan khususnya ilmu kesehatan anak sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, saya harapkan agar para peserta program pendidikan dokter spesialis anak bekerja dan belajar lebih giat lagi agar dapat mencapai kompetensi seperti tersebut di atas. Salah satu diantaranya adalah mempelajari dengan lebih mendalam semua aspek imunisasi, apalagi didalam  bidang biologi molekuler. Masih terbuka dengan lebar ruang lingkup dalam penelitian masalah imunisasi, terutama dalam hal mendapat¬kan vaksin lokal, yang dapat memberikan kekebalan  yang lebih baik untuk anak Indonesia. Dengan demikian diharapkan dapat menunjang tumbuh kembang anak Indonesia berkualitas, karena masa depan Ilmu Kesehatan Anak di Indonesia berada ditangan anda.

Ucapan terima kasih

Hadirin yang saya hormati,
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya kepada kami sekeluarga sehingga atas perkenanNya saya dapat menyandang jabatan Guru Besar yang terhormat di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya dengan segala kerendahan hati menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberi bantuan, dorongan, dukungan, pengertian dan perhatian kepada saya sehingga proses pengusulan, pengangkatan dan pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam Ilmu Kesehatan Anak dapat terlaksana dengan baik. Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada nama yang terlewatkan dalam ucapan terima kasih ini, namun budi baik ibu, bapak dan saudara sekalian tidak pernah saya lupakan dan akan selalu terkenamg dalam lubuk hati sanubari saya.
Pertama-tama saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang dalam bulan Ramadhan yang penuh rahmad dan barokah yang baru lewat, telah memberi kepercayaan dan kehormatan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak.
Terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H.M. Syamsulhadi, dr.,Sp.KJ(K) yang telah menyetujui pengusulan saya untuk memperoleh jabatan Guru Besar Fakultas Kedokteran UNS, dan atas kesediannya memimpin acara pengukuhan ini.
Terima kasih saya ucapkan kepada segenap anggota Senat Fakultas Kedokteran  dan Senat Universitas Sebelas Maret atas pertimbangan dan persetujuan bagi saya untuk menjadi Guru Besar dan menerima saya dalam lingkungan akademik yang terhormat ini.
Kepada Dekan FK UNS Dr. A.A. Subijanto, dr., MS, Pembantu Dekan I  Prof. Dr. Suradi, dr, Sp.P dan mantan Pembantu Dekan I Prof. Dr. Satimin Hadiwijaya, dr., PAK, MARS, Pembantu Dekan II Sugeng Purwoko, dr. dan mantan Pembantu Dekan II Isdaryanto, dr., MARS, Pembantu Dekan III Hari Purnomo, dr. dan mantan Pembantu Dekan III Bambang Suratman, dr., Sp.THT-KL saya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan sejak awal pengusulan saya menjadi Guru Besar. Saya terkenang kepada Soelatin Winarno, dr, Sp.A(alm), Kamalita, dr.(alm), Prof. Sutjipto, dr., Sp.R, Prof. Dr. Suroto, dr., Sp.S, Sutrisno Danusastro, dr., SpM, Dr. Admadi Soeroso, dr., Sp.M, MARS, beliau-beliau adalah mantan Dekan FK UNS yang beserta para Pembantu Dekan pada masa jabatannya masing-masing telah memberi bimbingan dan kesempatan kepada saya untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya. Untuk itu perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya. Kepada Dr. Admadi Soeroso, dr., Sp.M, MARS, mantan Dekan FK UNS, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas ijin yang diberikan untuk mengikuti Pendidikan Program Doktor Pascasarjana Universitas Airlangga yang akhirnya dapat menghantarkan saya meraih jabatan Guru Besar.
Terima kasih saya sampaikan kepada Direktur RSUD Dr. Moewardi Mardiatmo, dr., Sp.R dan kepada para mantan Direktur RSUD Dr. Moewardi Abdul Rosim, dr., MARS, Sudjoko, dr., Sardjono, dr.,  beserta para Wakil Direktur pada masa jabatannya masing-masing atas kesempatan yang saya peroleh untuk bekerja dan menggunakan segala fasilitas di rumah sakit dalam bidang pendidikan kepada dokter muda dan peserta program pendidikan dokter spesialis dan pengabdian dibidang pelayanan kepada masyarakat.
Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak Iskandar Zulkarnain, dr., Sp.A(K) dan para mantan Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak Sabdo walujo, dr., Sp.A. (alm), Dr. Soehadi, dr., Sp.A (alm), Dr. B. Subagyo, dr., Sp,A(K), Ganung Harsono, dr., Sp.A., yang telah memberi kesempatan kepada saya bekerja sebagai staf akademik di Bagian Ilmu Kesehatan Anak.
Kepada semua teman sejawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNS/RSUD Dr. Moewardi, Dr. B. Subagyo, dr., Sp.A.(K), Mustarsid, dr., Sp.A, Syahrir Dullah, dr., Sp.A, Yulidar Hafidz, dr., Sp.A(K), Sunjataningkamto, dr., Sp.A., Ganung Harsono, dr., Sp.A., Rustam Siregar, dr., Sp.A., Endang Dewi Lestari, Sp.A(K), Puji Astuti, dr., Sp.A(K). Lilijanti, dr., Sp.A., Suci Murti Karini, Dra., M.Si., dan Suwito, dr., Sp.A., Ning Djarwati, dr., Sp.A dari RS Pandan Arang Boyolali,  saya ucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas kerja sama, bantuan dan  dorongan yang diberikan dan pengertiannya pada waktu saya menempuh pendidikan Doktor. Saya akan selalu teringat saat-saat kita bekerjasama dengan baik menyelesaikan suatu tugas, walau kadang menemukan masalah sulit penuh ketegangan namun tetap bisa diselesaikan dengan baik.
Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Prof. Dr. H. M. Amin, dr., Sp.P(K), mantan Direktur Program Pascasarjana Universitas Airlangga beserta para Wakil Direkturnya, dan Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Fasich, Apt. dan mantan rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mrd. H. Puruhito, Sp.B, TKV, yang telah menerima dan memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Doktor di Program Pascasarjana Universitas Airlangga sampai selesai.
Kepada Prof. Dr. H. Soegeng Soegiyanto, dr., Sp.A(K), DTM&H sebagai promotor saya, Prof. Soetjipto, dr., M.S, Ph.D, Prof. Kuntoro, dr., MPH, DR. PH, Prof. Retno Handajani, dr., M.S, Ph.D sebagai ko-promotor dan semua guru saya pada Program Pascasarjana Universitas Airlangga, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas bimbingan dan dorongannya. Dari beliau-baliau saya mendapat wawasan keilmuan bagaimana seorang ilmuwan bersikap dan mengamalkan ilmunya sesuai dengan tanggungjawabnya kepada Allah SWT, sampai saya dapat menyelesaikan Program Pendidikan Doktor di Program Pascasarjana Universitas Airlangga, dan yang menghantarkan saya meraih jabatan Guru Besar.
Saya tidak akan melupakan jasa semua guru saya sejak di  Taman Kanak-kanak, Sekolah Rakyat Pawiyatan Daha Kediri, SMP Negeri II Kediri, SMA Negeri IB Kediri, sampai ke Perguruan Tinggi Fakultas Kedokteran Unair, Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran Unair dan Program Pendidikan Doktor Program Pascasarjana Unair.
Demikian pula kepada semua rekan paramedis, non-medis dan karyawan petugas administrasi dan karyawan tata usaha di Bagian Ilmu Kesehatan Anak, mbak Kusniyati, mbak Dyah Kusumastuti, S.H., mas Muhammad, saya ucapkan rasa terima kasih atas semua bantuan dan kerjasamanya.
Dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua fihak, yang namanya tidak dapat saya sebut satu persatu, yang telah mem¬berikan perhatian dan bantuan sejak masa awal sekolah sampai pada saat saya mencapai kedudukan terhormat ini.

Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan ini izinkan pula saya menyampaikan rasa terima kasih kepada almarhum ayah H. Salimo, yang telah mendidik, membesarkan dan memberi suri tauladan untuk berjuang dengan gigih untuk mencapai suatu cita-cita. Semoga arwah beliau diterima Allah SWT disisiNya sesuai dengan amal ibadahnya. Terima kasih dan sembah sujud saya kepada ibunda Hj. Siti Romlah Salimo, yang dengan segala kasih sayangnya telah membesarkan saya serta memberi contoh bagaimana menjadi seorang manusia yang tegar dan bermartabat. Untuk almarhum kedua mertua saya, dr. H. Abdul Murad Husin dan  Hj. Umi Isnaeni yang semasa hidup kedua baliau selalu memberikan dorongan dan mengajari saya etika profesi kedokteran yang luhur, saya panjatkan doa kehadirat Allah SWT agar arwah kedua beliau diterima disisiNya.
Kepada istri saya tercinta, Hj. Ismuraddiani, saya panjatkan rasa syukur dan saya sampaikan rasa terima kasih saya karena telah mendampingi saya selama ini, selalu memberikan semangat untuk tidak mudah menyerah dan selalu menjaga keharmonisan baik dalam lingkungan keluarga maupun dipergaulan masyarakat. Kepada anak-anakku Maya, Riza, Sari, Ronny, Uci, Mujaddid dan cucu-cucuku Alief, Amel, Neeqa, Kaylyn. Aqshal serta Ayas, ayah-eyang ingin mengucapkan rasa terima kasih dan bersyukur atas kebahagiaan yang kalian berikan dalam keluarga kita. Semoga Allah SWT selalu membimbing dan memberikan rahmat, taufiq serta hidayah kepada kalian. Amien.
Terima kasih saya sampaikan kepada keluarga bapak Letkol (Purn) Sukadi, keluarga bapak Drs. Abdul Moeis Oesman (alm) dan keluarga bapak Drs. Heru Santosa, yang telah bersama membimbing dan membina anak kita dan insya Allah mereka dapat membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.
Kepada kakak saya H. Subaratko (alm), Drs. H. Hardio Salimo, Apt. dan adik H. Sefaham Salimo, Hj. Siti Rahayu, dr., Trismariyadi, Adji Martoyo, Ir. Saptowo Salimo dan kepada keluarga besar saudara ipar saya Ir. Imam Wahyudi (alm),                        Ir. H. Husni Murad, Ir. M. Arifin Murad (alm), M. Effendi Murad SH, Syamsul Bachri SH, dr. Syaiful Murad, Drs. H. M. Rusjdan,             Drs. Amir Machmudin, Hendro Pramono SH, serta Syahril Murad SH, saya sampaikan rasa terima kasih saya atas dorongan yang diberikan kepada saya dan kebersamaan dalam membina keluarga besar kita.
Akhirnya kepada hadirin yang telah memberikan perhatian dan dengan sabar mendengarkan pidato pengukuhan ini, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas kesediaannya meluangkan waktu ibu-bapak yang sangat berharga menghadiri upacara ini. Saya sampaikan juga permintaan maaf bila terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Amin ya Rabbil Alamin.

Wabillahitaufiq wal hidayah,
Wassalamau’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Surakarta, 10 Nopember 2007.

Harsono Salimo

DAFTAR PUSTAKA

Bellini WJ, Rota JS, Rota PA 1994. Virology of measles virus.               J Infect Dis 170 Suppl 1 : S 15-23.

Bellini WJ, Rota PA. 1998. Genetic diversity of wild type measles viruses : implication for global measles elimination programs. Emerg Infect dis 4(1): 29-35.

Center for Disease Control. 1983. Classification of measles cases and categorization of measles elimination program. MMWR 1983; 31: 707-711.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) 2005. Standard Protocols for RT-PCR for Molecular Epidemiology. Measles Virus Section, CDC. January, 2005.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) 2006. National Immunization Program .The Pink Book. 9 edition. Global Laboratory Networks.

Commitee on Infectious Diseases 2000. Red Book. American Acadaemy of Pediatrics. PO Box 927, Elk Grove Village, Illionis.
Debre R and Celers J. 1970. Measles : Pathogenesis and  epidemiology. In Clinical Virology. WB Saunders Company. Philadelphia

De Swart RL, Wertheim-van Dillen PM, van Binnendijk RS et al. 2000. Measles in Dutch hospital introduced by an immunocomprimized infant from Indonesia infected with a new virus genotype. Lancet 355(9199) 1557-8.
El Mubarak HS, Van de Bildt MWG, Mustofa OA, Vos HW, et al. 2000. Serological and virological characterization of clinically diagnosed cases of measles in Suburban Khartoum. J Clin Microb. 38:987-991.

Erdman DE, Heath JL, Watson JC, Markowitz LE, Bellini WJ. 1993. Immunoglobulin M antibody respons to measles virus following primary and secondary vaccination and natural virus infection. J Med Virol, 41:44-8.

Griffin DE and Bellini WJ,. 1996. Measles virus. In: Fields Virology. Ed: BN Fields, DM Knippe, PM Howley et al. Third ed. Lippincott-Raven Publishers, Philadelphia.

Handajani R. 2003. DNA sequencing. Kursus Biologi Molekuler. Gramik FK Unair, Surabaya 7 Juni:1-12.

Harun S. 2001. Genotyping dan karakterisasi antigenic virus liar campak di Indonesia. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Heriyanto B. 2000. Model pemberian imunisasi ulang campak pada anak. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Heriyanto B. 1998. Penelitian KLB Campak di Jawa dan Luar Jawa. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Heriyanto B. 1999. Penelitian Campak di Jawa dan Luar Jawa. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Ismail D. 1991. Measles in Indonesia. Epidemiology and Prevention. Disertation. Vrije Universiteit, Amsterdam.

Jin, Brown DWG, Ramsay MEB, Rota PA, Bellini WJ. 1997. The diversity of measles virus in the United Kingdom, 1992-1995. J Gen Virol 78:1278-1294.

Katayama Y, Shibaharea K, Kohama T, Homma M, Hotta H. 1997. Molecular epidemiology and changing distribution of genotypes oe measles virus field strain in Japan. J Clin Microb 35:2651-3.

Korukluoglu G, Liffick S, Guris D, et al. 2005. Genetic characterization of measles viruses isolated in Turkey during 2000 and 2001. Virol J. 2:58.

Liffick SL, Thoung NT, Xu W, Li Y, Lein HP, Bellini WJ, Tora PA. 2001. Genetic characterization of contemporary wild-type measles viruses from Vietnam and the People’s Republic of China: identification of two genotype within clade H. Virus research. 77:81-87.

Maldonado Y, 2003. Measles. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Textbook of Pediatrics. 17 ed. Philadelphia. WB Saunders Company pp. 1026-1031.

MMWR 1983. Classification of measles cases and categorization of  Measles Elimination Program. Morb Mortal Wkly Rep 31:707-11.

MMWR 1998. Advances in Global Measles Control and Elimination: Summary of the 1997 International Meeting. Morb Mortal Wkly Rep July 24, 47:1-23.

MMWR 2002. Measles – United States, 2000-2002. Morb Mortal Wkly Rep. 51: 120-123.

MMWR 2003. Update : global measles control and mortality reduction-worldwide, 1991-2001. Morb Mortal Wkly Rep. May 23; 52 (20):471-5.

MMWR 2004. Epidemiology of Measles, United States 2001-2003. Morb Mortal Wkly Rep. August 13; 53 (31):713-716.

Moersintowati. 2004. Pediatri Komunitas (Pendekatan Mencapai Potensi Anak Indonesia Berkualitas) dikemukakan pada  Pidato peresmian penerimaan Jabatan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Airlangga, Surabaya pada 21 Februari 2004.

Ranuh, IGN. 2005. Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi 2. Editor IGN Ranuh, Hariyono S, Hadinegoro S, Kartasasmita CB. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Rima BK, Earle JA, Baczko K, Rota PA, Bellini WJ. 1995. Measles virus strain variations. Curr Top Microbiol Immunol. 191:65-83.

Rota JS, Heath JL, Rota PA, King GE, Celma ML, et al. 1996. Molecular epidemiology of measles virus: identification of pathways of tranmission and implications for measles elimination. J. Infect Dis 173(1):32-7.

Rota PA, Rota JS Bellini WJ. 1995. Molecular epidemiology of measles viruses. Semin Virol. 6: 379-386.

Rota PA, Liffick s, Rosenthal S, Heriyanto B, Chua KB. 2000. Measles genotype G2 in Indonesia and Malaysia. Lancet 355:1557-8.

Rota PA, Liffick SL, Rota JS, et al. 2002. Molecular epidemiology of measles viruses in the United States, 1997-2001. Emerg Infect Dis.

Suganda T. 2002. Kebutuhan Dasar Tumbuh Kembang Anak. Dalam Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, editor  Moersintowati, dkk. Edisi I, Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Suganda T. 2002. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Dalam Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, editor  Moersintowati, dkk. Edisi I, Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Soegiyanto S. 1992. Imunisasi dini vaksin campuran Campak DPT  suatu upaya peningkatan cakupan imunisasi dan penurunan angka kesakitan penyakit Campak. Disertasi Universitas Airlangga.

Soegijanto S. 2001. Campak. Dalam : Ranuh IGN, Hadinegoro SS, Soeyitno H, Kartasasmita C. Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi 1. Penerbit Pengurus Pusat IDAI, Jakarta. Hal. 19-33.

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

World Health Organization. 2001. Nomenclature for describing the genetic characteristics of wild-type measles viruses (update)-Part I. Wkly Epidemiol Rec 76: 241-7.
World Health Organization. 2003. Update of the nomenclature for describing the genetic characteristics of wild-type measles viruses: new genotype and references strains. Wkly Epidemiol Rec 78: 229-240.

Yuwono D. 2000. Uji coba vaksin Campak CAM-70 buatan PT Bio Farma pada kelompok anak umur 8 – 11 bulan. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TUMBUHAN OBAT DALAM MENUNJANG PERTANIAN BERKELANJUTAN

Oleh:
Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, M.S.

Disampaikan pada Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Tanggal 30 April 2009

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan, karunia, rahmat, taufik, hidayah, inayah serta barokah-Nya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita dapat hadir di sini dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa. Atas ijin Allah SWT saya dapat berdiri di mimbar terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dalam bidang Ilmu Agronomi pada Fakultas Pertanian, UNS di hadapan para hadirin yang mulia.

Hadirin yang saya hormati,

Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampai¬kan pidato pengukuhan guru besar dengan judul ”Strategi Pengembangan Budidaya Tumbuhan Obat dalam Menunjang Pertanian Berkelanjutan”. Judul ini saya pilih mengingat pentingnya tumbuhan obat sebagai bagian dari kekayaan plasma nutfah di Indonesia, yang perlu dimanfaatkan sekaligus dilestarikan eksistensinya. Selain itu tumbuhan obat merupakan salah satu komoditi hortikultura prospektif untuk dikembangkan menjadi salah satu komoditas andalan, karena mempunyai peranserta yang besar dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan penerimaan devisa negara.
Peran tumbuhan obat dalam pemberdayaan ekonomi dapat melalui: (1) penyediaan bahan baku, (2) sebagai penggerak ber¬kembangnya sektor ekonomi pedesaan, (3) pemanfaatan sumber daya domestik, (4) penyerapan tenaga kerja produktif di pedesaan sekaligus sebagai media untuk meratakan dan meningkatkan kese¬jah¬teraan masyarakat, (5) menghasilkan devisa negara. Pengem¬bang¬an tumbuhan obat harus memperhatikan: (1) pengembangan sentra produksi, (2) pengembangan benih, (3) pengembangan penangkar benih/ bibit, (4) pemanfaatan paket teknologi, (5) peningkatan sumber daya manusia, dan (6) penguatan modal kelompok petani  (Pujiasmanto, 2003).
Hasil olahan tumbuhan obat mempunyai nilai ekonomi tinggi.  Penggunaan obat tradisional (herbal medicine) di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun.  Total impor fitofarmaka di pasaran internasional pada dekade terakhir ini mencapai 500.000 ton per tahun dan tumbuh 8.5% per tahun. Budidaya tumbuhan obat me¬miliki keuntungan yang bersifat ekonomis maupun non ekonomis, yaitu: (1) peningkatan pendapatan masyarakat, (2) pelestarian ekosistem dan plasma nutfah, (3) penjaminan kontinyuitas suplai bahan baku, (4) peningkatan kuantitas dan kualitas hasil produksi tumbuhan obat.  Perhatian dunia terhadap obat-obatan dari bahan alam (obat herbal) menunjukkan peningkatan, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Menurut data  yang dihimpun oleh Sekretariat Convention on Biological Diversity (CBD) penjualan global obat herbal dapat mencapai US $ 60 milyar (>54 triliun rupiah/tahun). Obat-obatan herbal telah diterima secara luas di negara-negara yang tergolong berpendapatan rendah sampai maju. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 65% dari penduduk negara-negara maju menggunakan obat-obatan herbal (Aspan,  2004; Depkes, 2006;  Pujiasmanto, 2009).

Strategi Pengembangan Tumbuhan Obat
Strategi ialah perencanaan, arah dan pengelolaan untuk mencapai suatu tujuan. Strategi ialah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengkaitkan keunggulan strategi dengan tantangan lingkungan. Strategi dirancang untuk memasti¬kan bahwa tujuan utama dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat. Arah penyiapan teknologi budidaya tumbuhan obat perlu memperhatikan aspek teknis, sosial, budaya dan ekonomi. Aspek teknis ditinjau dari ekologi ialah faktor abiotis dan biotis. Faktor abiotis ialah suhu, kelembaban udara, curah hujan, pH, jenis tanah, struktur tanah, kedalaman solum dan kesuburan tanah. Faktor biotis ialah jenis-jenis pohon dan tumbuhan herba yang berasosiasi dengan tumbuhan obat (Dephut, 2004).
Tahapan awal strategi pengembangan tumbuhan obat dapat dilakukan berkaitan dengan pembudidayaan tumbuhan obat. Proses dari tumbuhan liar menjadi tanaman budidaya melalui penanaman pada habitat baru disebut domestikasi. Domestikasi sebagai proses perkembangan organisme yang dikontrol manusia, mencakup pertumbuhan genetik tumbuhan yang berlangsung berkelanjutan semenjak dibudidayakan. Domestikasi berkaitan dengan seleksi dan manajemen oleh manusia dan tidak hanya sekedar pemeliharaan. Proses mendomestikasi ialah menaturalisasikan biota ke kondisi manusia dengan segala kebutuhan dan kapasitasnya. Pada domestikasi tumbuhan perlu dikaji kondisi benih, perubahan morfologi, laju pertumbuhan dan perkembangannya. Berdasarkan penalaran manusia, tumbuhan didomestikasi dengan beragam cara, mulai cara yang sederhana hingga ke cara yang sangat maju dengan bioteknologi. Menurut Demchik dan Streed (2002) domestikasi untuk tumbuhan dengan cara bertahap ialah: (1) wildcrafting, (2) stand improvement, (3) penanaman (pemeliharaan), (4) seleksi (pemuliaan) dan penggunaan stok andal dalam penanaman (budidaya). Pengubahan tersebut berkonsekuensi dengan penam¬bah¬an modal dan teknologi agronomik penggunaan benih dan bibit terpilih, pengaturan tanaman dan pemupukan yang tepat. Perbaikan teknik budidaya tumbuhan obat ialah cara memperbaiki kualitas simplisia dan meningkatkan kuantitas simplisia dalam jumlah cukup dan seragam untuk memenuhi bahan baku obat. Langkah awal yang dilakukan ialah mengevaluasi kondisi habitat tumbuhan sebagai dasar pengembangan tumbuhan lebih lanjut (Luasunaung et al., 2003; Naiola et al., 2006).

Prospek Pengembangan Budidaya Tumbuhan Obat, dan Pemanfaatannya
Prospek pengembangan tumbuhan obat cukup cerah dilihat dari aspek potensi flora, iklim, tanah maupun aspek industri obat dan komestika tradisional. Secara empiris, beberapa tumbuhan obat selain mempunyai keunggulan kimiawi (sebagai bahan obat) juga mempunyai keunggulan fisik (sebagai tanaman hias), dan biologis (sebagai tanaman yang dibudidayakan). Pemanfaatan obat tradisio¬nal meningkat karena pergeseran pola penyakit dari infeksi ke penyakit degeneratif serta gangguan metabolisme. Penyakit dege¬ne¬ratif memerlukan pengobatan jangka panjang yang menyebabkan efek samping serius bagi kesehatan. (Depkes,  2005).
Indonesia sangat kaya dengan berbagai spesies flora. Sebanyak 40 ribu jenis flora yang tumbuh didunia, 30 ribu tumbuh di Indonesia. Sekitar 26% telah dibudidayakan dan sisanya sekitar 74% masih tumbuh liar di hutan-hutan. Indonesia memiliki sekitar 17% jumlah species yang ada di dunia. Hutan tropis yang sangat luas beserta keaneragaman hayati yang ada di dalamnya merupakan sumber daya alam yang tak ternilai harganya.  Indonesia dikenal sebagai gudang tumbuhan obat (herbal) sehingga mendapat julukan live laboratory  (Litbang Depkes, 2009).
Pemakaian tanaman obat dalam dekade terakhir ini cende¬rung meningkat sejalan dengan berkembangnya industri jamu atau obat tradisional, farmasi, kosmetik, makanan dan minuman. Tanaman obat yang dipergunakan biasanya dalam bentuk simplisia (bahan yang telah dikeringkan dan belum mengalami pengolahan apapun). Simplisia tersebut berasal dari akar, daun, bunga, biji, buah, terna dan kulit batang. Pemanfaatan tanaman obat Indonesia akan terus meningkat mengingat kuatnya keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan mengkonsumsi jamu. Eks¬ploitasi tumbuhan obat yang berlebihan tanpa memperhatikan upaya konservasi, tentu sangat mengkuatirkan. Peran para ahli budidaya (agronomis) dan para ahli bioteknologi khususnya tekno¬logi kultur jaringan sangat penting untuk menghindari kelangkaan bahan baku obat herbal, yang masih banyak diambil dari tanaman aslinya secara konvensional (Radji, 2005).
Beberapa bahan baku obat tradisional telah menjadi komo¬ditas ekspor yang andal untuk menambah devisa negara.  Berdasar¬kan data ekspor, Hongkong merupakan pasar utama tumbuhan obat Indonesia karena mempunyai nilai ekspor yang paling besar, walaupun nilai setiap tahunnya berfluktuasi. Rata-rata ekspor tanaman obat Indonesia ke Hongkong setiap tahunnya sebesar 730 ton dengan nilai sebesar US$ 526,6 ribu. Ekspor terbesar kedua adalah ke Singapura dengan rata-rata ekspor setiap tahunnya mencapai 582 ton dengan nilai sebesar US$ 647 ribu. Jerman merupakan tujuan ekspor terbesar ketiga dengan tingkat ekspor rata-rata setiap tahunnya mencapai sebesar 155 ton dengan nilai sebesar US$ 112,4 ribu. Selain itu tujuan ekspor tanaman obat Indonesia ialah Taiwan, Jepang, Korea Selatan & Malaysia. Sebanyak 2000 tumbuhan obat dan tanaman aromatik digunakan di Eropa untuk kebutuhan komersial. Beberapa species botani secara konsisten diperlukan oleh banyak industri di USA dan Eropa, diantaranya gingseng, valerian dan bawang putih (Maximillian, 2008).
Untuk menunjang kelestarian lingkungan hidup dan men¬jamin suplai bahan baku bagi kebutuhan industri obat maka perlu dikembangkan sistem budidaya tumbuhan obat yang sesuai dengan agroekosistem. Dalam budidaya tersebut perlu diperhatikan kualitas produk bahan baku yang dihasilkan dan kualitas varietas tanaman.  Pemanfaatan tanaman obat harus seiring dengan upaya pertanian yang menjaga ketersedian, kelestarian dan keaslian jenisnya (speciesnya) (Sukardiman et al.,2009).
Terkait kesesuaian lingkungan, iklim dan tanah, untuk budi¬daya tumbuhan obat, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Setiap tahap mempunyai ciri tersendiri dan memerlukan perlakuan khusus. Lingkungan tumbuh merupakan faktor yang cukup penting karena berkaitan dengan peningkatan produksi dan dapat di¬pertahankan sifat genetik dari tanaman. Masalah pengolahan lepas panen juga ikut berperan dalam mendapatkan bahan atau simplisia yang bermutu tinggi.
Penggunaan produk herbal untuk jamu perawatan kesehatan maupun kecantikan telah diakui oleh masyarakat sejak beberapa abad yang lalu. Konsep jamu ini sebenarnya diambil dari hubungan harmoni antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya sehingga menghasilkan konsep-konsep yang unik dalam kaitannya dengan pemeliharaan kesehatan dan kecantikan selaras dengan siklus hidup perkembangan manusia. Prospek pengembangan tanaman obat sangat cerah, karena ada beberapa faktor pendukung, ialah (1) tersedianya sumber kekayaan alam Indonesia dengan keaneka¬ragaman hayati terbesar ketiga di dunia, (2) sejarah pengobatan tradisional yang telah dikenal lama oleh nenek moyang dan diamalkan secara turun menurun sehingga menjadi warisan budaya bangsa, (3) isu global ”back to nature” berakibat meningkatkan pasar produk herbal termasuk Indonesia, (4) krisis moneter menyebabkan pengobatan tradisional menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat dan (5) kebijakan pemerintah berupa peraturan perundangan menunjukkan perhatian yang serius bagi pengembangan tumbuhan obat (Kintoko, 2006).
Banyak kalangan mulai melirik untuk mengembangkan tanaman obat, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk bisnis. Apalagi sejak masyarakat mulai sadar tentang manfaat tanaman obat untuk menjaga dan memelihara kesehatan dan dengan makin menjamurnya industri-industri obat tradisional di dalam maupun luar negeri. Hal ini juga ditunjang dengan meningkatnya pandang¬an tentang segi positif mengkonsumsi bahan-bahan alam (natural) dibandingkan bahan kimia atau sintesis. Dengan latar belakang tersebut maka beberapa pendapat mengatakan bahwa tanaman obat Indonesia patut dan layak dikembangkan.

Kelemahan Pengembangan Tumbuhan Obat
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ditemukan berbagai simpul lemah dalam rangkaian kegiatan yang berhubung¬an dengan kegiatan pengembangan tumbuhan obat. Simpul-simpul lemah tersebut perlu diangkat sebagai isu strategis untuk mendapat¬kan penanganan secara tepat, profesional dan terpadu. Berbagai simpul lemah tersebut yaitu:

1. Sumber bahan obat alam sebagian besar (diperkirakan lebih dari  90%) masih merupakan pengumpulan dari tumbuhan liar, hutan dan pekarangan. Kegiatan budidaya tanaman obat belum banyak diselenggarakan secara profesional.
2. Industri kecil obat tradisional dan juga banyak industri obat tradisional berskala besar memperoleh bahan baku langsung dari pengumpul dan atau pedagang (penyalur) simplisia. Pedagang simplisia yang sebagian besar berada di Jawa Tengah dan di Jawa Timur memperoleh suplai simplisia dari petani di pulau Jawa.
3. Mutu simplisia pada umumnya kurang memenuhi persyaratan yang diperlukan, akibat ketidakmampuan petani dan pengumpul dalam mengolah dan mengelola simplisia secara baik.
4. Hampir semua obat tradisional, baik industri kecil maupun industri besar, belum melakukan bimbingan/pelatihan teknis kepada pengumpul dan petani. Industri mengaku menerima dan menyeleksi kembali hasil yang diperoleh dari pengumpul dengan biaya yang cukup besar. Walaupun demikian sudah ada beberapa industri obat tradisional yang membangun kemitraan dengan petani di sekitar lokasi pabriknya.
5. Industri obat tradisional masih sangat kurang memperhatikan dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian ilmiah dalam pengem¬bangan produk dan pasar. Dalam pengembangan pasar industri obat tradisional masih lebih menekankan pada kegiatan pro¬mosi, dibanding dukungan ilmiah mengenai kebenaran khasiat, keamanan dan kualitasnya. Dalam era globalisasi dengan pasar bebasnya, upaya standarisasi yang berlaku secara nasional/ internasional menjadi hal yang sangat penting. Oleh karena itu penyusunan standar bahan baku dan sediaan jadi perlu terus ditingkatkan.

Peluang Pengembangan Tumbuhan Obat
Beberapa peluang yang bisa mewujudkan keberhasilan agri¬bisnis tanaman obat di Indonesia antara lain sebagai berikut.

1. Sejak terjadi masa krisis, posisi obat tradisional yang berbahan baku nabati mulai bisa sejajar dengan obat-obatan modern di pasaran karena harganya relatif murah.
2. Tren kembali ke alam di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika makin mempopulerkan pengobatan dan perawatan kesehatan secara natural sehingga meningkatkan permintaan dunia terhadap bahan baku nabati.
3. Untuk mengantisipasi tingginya permintaan bahan baku nabati oleh negara-negara penghasil produk herbal seperti Cina dan India maka Indonesia adalah daerah yang cocok untuk pengem¬bangan budidaya tanaman obat. Seperti yang terjadi di negara Eropa dan Amerika yang mengembangkan bahan baku nabati di daerah Amerika Selatan dan Afrika Barat yang bersuhu tropis.
4. Beberapa jenis tanaman tropis yang berkhasiat obat dan banyak digunakan untuk perawatan natural hanya bisa tumbuh di daerah tropis Indonesia.

Tantangan Pengembangan Tumbuhan Obat
Beberapa tantangan yang mendorong untuk segera dilakukan pengembangan budidaya tumbuhan obat dan kosmetika di Indo¬nesia adalah sebagai berikut:

1. Tumbuhan obat sudah mulai sulit ditemukan di habitatnya, bahkan  beberapa spesies sudah mulai langka karena kurangnya kesadaran masyarakat yang tidak menghiraukan segi peles¬tarian, tetapi hanya memanfaatkan saja.
2. Berdasarkan beberapa penelitian, produksi simplisia dari tanaman obat  hasil budidaya masih lebih rendah dari tanaman liar, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
3. Beberapa spesies tumbuhan obat masih cukup sulit dibudi¬dayakan secara konvensional.
4. Budidaya tumbuhan obat dan komestika sebaliknya dilakukan dengan sistem organik (organic farming) tanpa menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya seperti pupuk kimia buatan, herbisida, insektisida, dan fungisida.
5. Budidaya tanaman tanpa menerapkan bioteknologi yang di¬kuatir¬kan dapat merusak gen-gen bermanfaat dari tanaman dalam jangka waktu yang lama.
6. Pasar tumbuhan bahan obat masih terbatas dan eksklusif, walaupun akhir-akhir ini permintaannya cukup tinggi baik lokal maupun ekspor.

Program Pengembangan Tumbuhan Obat
Secara umum kebijakan pengembangan tumbuhan obat di Indonesia ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya alam tum¬buhan obat lainnya secara optimal bagi pembangunan kesehatan sekaligus pembangunan industri obat tradisional dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam tersebut.
Strategi pengembangan tumbuhan obat dilakukan dengan pendekatan asas manfaat, asas legalitas secara komprehensif terpadu dari hulu ke hilir dengan melibatkan semua pihak terkait yang mencakup unsur pemerintah, industri, petani, pendidik, peneliti dan praktisi kesehatan.
Semua kegiatan pengembangan tumbuhan obat berbasis pada lima pilar program pengembangan tumbuhan obat yaitu:
1.    Pemeliharaan mutu, keamanan dan kebenaran khasiat
2.    Keseimbangan antara suplai dan permintaan (demand)
3.    Pengembangan dan kesinambungan antara industri hulu, industri antara, dan industri hilir.
4.    Pengembangan dan penataan pasar, termasuk penggunaan pada pelayanan kesehatan
5.    Penelitian dan pendidikan.

Pengembangan Budidaya Tumbuhan Obat Menunjang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Pada hakikatnya, sistem pertanian yang berkelanjutan adalah back to nature, yakni sistem pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras, dan seimbang dengan lingkungan atau pertanian yang patuh dan tunduk pada kaidah-kaidah alamiah. Upaya manusia yang mengingkari kaidah-kaidah ekosistem dalam jangka pendek mungkin mampu memacu produktivitas lahan dan hasil. Namun, dalam jangka panjang biasanya hanya akan berakhir dengan kehancuran lingkungan. Kita yakin betul bahwa hukum alam adalah kuasa Tuhan. Manusia sebagai umat-Nya hanya berwenang menikmati dan berkewajiban menjaga serta melestari¬kannya.
Terminologi pertanian berkelanjutan (sustainable agri¬culture) sebagai padanan istilah agroekosistem pertama kali dipakai sekitar awal tahun 1980 oleh pakar pertanian FAO (Food Agriculture Organization). Agroekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur-tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, serat, dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Conway (pakar pertanian) menggunakan istilah pertanian berkelanjutan dengan konteks agroekosistem yang berupaya memadukan antara produktivitas (productivity), stabilitas (stability), dan pemerataan (equity). Jadi, semakin jelas bahwa konsep agroekosistem atau pertanian ber¬kelanjutan adalah jawaban bagi kegamangan dampak green revolution yang antara lain ditengarai oleh semakin merosotnya produktivitas pertanian (leveling off). Green revolution memang sukses dengan produktivitas hasil panen biji-bijian yang menakjub¬kan (miracle seeds), namun ternyata juga memiliki sisi buruk atau eksternalitas negatif, misalnya erosi tanah yang berat, punahnya keanekaragaman hayati, pencemaran air, bahaya residu bahan kimia pada hasil-hasil pertanian, dan lain-lain (Conway and Barbier, 1990).
Di kalangan para pakar ilmu tanah dan agronomi, istilah sistem pertanian berkelanjutan lebih dikenal dengan istilah LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) atau LISA (Low Input Sustainable Agriculture), yaitu sistem pertanian yang berupaya meminimalkan penggunaan input (benih, pupuk kimia, pestisida, dan bahan bakar) dari luar ekosistem, yang dalam jangka panjang dapat membahayakan kelangsungan hidup sistem pertanian (Reijntjes et al., 2006).
Kata sustainable mengandung dua makna, yaitu maintenance dan prolong. Artinya, pertanian berkelanjutan harus mampu merawat atau menjaga (maintenance) untuk jangka waktu yang panjang (prolong). Dalam bahasa Indonesia, sustainable di¬terjemah¬kan dengan kata berkelanjutan. Otto Soemarwoto lebih senang menggunakan istilah terkelanjutan. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah yang lebih tepat, yaitu pertanian lumintu (terus-menerus), sempulur (lestari, langgeng), atau milimintir. Berhubung lahir sebagai solusi alternatif untuk mengatasi kegagalan pertanian modern di masa lalu, pertanian berkelanjutan juga dapat disebut pertanian pascamodern (Salikin, 2007).
Di Indonesia, pembangunan berwawasan lingkungan merupa¬kan implementasi dari konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas, melalui peningkatan produksi pertanian, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Pembangunan pertanian yang dimaksud ialah pembangunan pertanian dalam arti luas atau komprehensif, meliputi bidang-bidang pertanian tanaman pangan, tumbuhan obat (hortikultura), perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, dan kelautan. Pembangunan pertanian harus dilakukan secara seimbang dan disesuaikan dengan daya dukung ekosistem sehingga kontinyuitas produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang, dengan menekan tingkat kerusakan lingkungan sekecil kecilnya. Pengembangan budidaya tumbuhan obat yang menunjang pem¬bangunan pertanian berkelanjutan dapat dilakukan dengan budi¬daya secara organik.

Pengembangan Budidaya Tanaman Obat Secara Organik
Di kawasan hutan hujan tropis Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 30.000 spesies tanaman tumbuh di jumlah tersebut jauh melebihi potensi daerah-daerah tropis lainnya, termasuk Amerika Selatan dan Afrika Barat. Dari spesies tanaman yang ada tersebut, lebih dari 8.000 spesies merupakan tanaman yang mem¬punyai khasiat obat dan baru 800-1.200 spesies yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk obat tradisional atau jamu (Litbang Depkes, 2009).
Mengingat kekayaan alam Indonesia dengan keberagaman tanaman berkhasiat obat maka sudah selayaknya jika penggunaan dan pemanfaatannya tetap memperhatikan faktor pelestariannya agar tidak sampai punah. Namun demikian, sejalan dengan meningkatnya permintaan bahan nabati yang diambil dari tanaman untuk keperluan pengobatan maupun perawatan kesehatan dan kecantikan maka perlu segera dilakukan upaya pembudidayaan tanaman tersebut di habitat aslinya (in situ) maupun luar ling¬kungan tumbuhnya (ex situ). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keberadaan suatu jenis tanaman dengan tidak mengambilnya secara liar dan tidak terkendali dari lingkungan tumbuhnya. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pembudidayaannya. Upaya ini diharapkan dapat mengimbangi pesatnya perkembangan pemanfaatan bahan nabati untuk produk herbal dalam skala industri besar.
Pada awalnya, industri herbal memang hanya terbatas pada industri kecil dan skala rumah tangga yang dipasarkan secara lokal dan individu seperti jamu gendong. Namun, industri ini sekarang sudah ekspor ke manacanegara. Oleh karena itu, upaya pembudi¬dayaan tanaman obat ini sangat tepat. Di samping untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nabati dengan kualitas yang baik dan kontinyu, upaya ini juga untuk melestarikan jenis-jenis tanaman obat tertentu dengan tidak mengganggu kehidupan di lingkungan tumbuhnya atau di habitatnya.
Beberapa orang yang sangat peduli terhadap keberlanjutan hidup generasi mendatang mulai berbuat sesuatu dengan memper¬kenalkan sistem bercocok tanam yang tidak bergantung pada bahan-bahan kimia. Sistem bercocok tanam ini dikenal dengan sebutan bercocok tanam secara organik (organic farming). Bercocok tanam secara organik didasarkan pada empat prinsip dasar yaitu 1) tidak menggunakan pestisida kimia. 2) tidak meng¬gunakan pupuk kimia. 3) beberapa spesies gulma tetap dibiarkan tumbuh, dan 4) tidak membajak tanah yang akan ditanami.
Penggunaan pestisida kimia sebaiknya dihindarkan sama sekali dan diganti dengan pestisida alami, seperti misalnya dengan menanam beberapa jenis tanaman atau gulma yang bagian tubuh¬nya (bunga, daun, atau akarnya) dapat berfungsi sebagai pengusir serangga pengganggu. Pestisida alami bisa juga dibuat dengan menggunakan ramuan dari beberapa jenis tanaman kemudian dicampur dan dilarutkan untuk disemprotkan ke tanaman. Sementara, pupuk yang digunakan untuk menambah nutrisi dalam tanah sebaiknya berupa pupuk alam atau pupuk organik berasal dari sampah dapur, humus, serasah daun, atau tanaman lainnya yang telah melalui proses penguraian oleh bakteri. Menurut Fukuoka (1985)  pembajakan tanah akan merusak udara, air, dan nutrisi di dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies gulma yang dibiarkan tumbuh di sekitar pertanaman dimungkinkan dapat menanggulangi kerusakan tanah akibat pertumbuhan tanaman lainnya. Jenis gulma tersebut tentu saja yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman utama seperti gulma dari jenis Leguminoccae atau polong-polongan.
Beberapa ahli di bidang budidaya organik yang lain yaitu Klaus Mori, Kurt Egger, dan Bapa Agato Eisener (Swiss) sangat mendukung konsep budidaya organik ini. Mereka berpendapat bahwa konsep utama budidaya organik ialah bercocok tanam secara tumpang sari (multiple cropping), yaitu dalam satu luasan ditanam beberapa jenis tanaman. Upaya ini pada awalnya memang sangat sulit dan cukup berat untuk mengubah sistem bercocok tanam yang telah lama dilakukan petani menuju sistem budidaya organik. Kendala ini terutama dirasakan pada saat menghadapi serangan hama atau penyakit karena dalam sistem budidaya organik tidak digunakan pestisida. Petani umumnya juga belum siap menghadapi kenyataan bahwa hasil panennya sangat jelek dan di pasar dihargai sangat murah. Namun demikian, masalah-masalah tersebut sudah dapat diatasi sedikit demi sedikit, misalnya saja untuk menang¬gulangi hama bisa digunakan pestisida alami seperti daun sereh, tembakau, bunga cengkih, atau bahan-bahan lain (Wardana et al., 2002).
Departemen Pertanian pernah mencetuskan suatu tema ”Menuju Pertanian Organik 2010”. Hal ini merupakan salah satu langkah strategis dalam rangka mempercepat terwujudnya program pembangunan agribisnis berwawasan lingkungan (ecoagri¬business) untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masya¬rakat. Selanjutnya, dikatakan bahwa pertanian organik ialah sistem produksi yang holistik dan terpadu dengan mengutamakan kesehatan dan produktivitas agroeosistem secara alami untuk mampu meng¬hasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berke¬lanjutan.
Untuk itu, beberapa teknik yang dilakukan dalam pertanian organik adalah sebagai berikut:

1. Mengindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika.
2. Menghindari penggunaan pestisida kimia sintesis. Pengendalian gulma, hama mapun penyakit sebaiknya dilakukan secara mekanis, biologis, dan rotasi tanaman.
3. Menghindari penggunaan zat pengatur dan pupuk kimia sintesis. Untuk itu, kesuburan dan produktivitas tanah di¬tingkatkan dan dipelihara melalui penggunaan bahan-bahan organik berupa humus, serasah tanaman, pupuk kompos, kandang, dan batuan mineral alami, serta penanaman legum (tanaman polong-polongan), dan rotasi tanaman.

Tumbuhan Obat Unggulan
Berdasarkan Badan POM Depkes RI ada 9 tanaman obat unggulan Indonesia. Pengembangan produk obat bahan alam ke arah fitofarmaka dengan melakukan serangkaian penelitian ter¬hadap 9 tumbuhan obat unggulan Indonesia mulai dari budidaya sampai uji klinik (Aspan, 2004).
Obat bahan alam yang telah dibuktikan khasiat dan ke¬amanan¬nya berdasarkan uji klinik adalah sejajar dengan obat modern. Oleh karena itu tidak ada alasan penolakan penggunaan fitofarmaka pada pelayanan kesehatan formal asalkan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Kesembilan tumbuhan obat unggulan tersebut ialah :

1. Salam (Eugenia polyantha), bagian daunnya berkhasiat: anti¬hipertensi, imunomodulator, dan diabetes.
2. Sambiloto (Andrographis paniculata), bagian tanaman di atas tanah berkhasiat; diabetes, antiinflamasi, antihipertensi, dan antimikroba.
3. Kunyit (Curcuma domestica), bagian rimpang berkhasiat; menurunkan hepatoprotector, antiinflamasi, dan dyspepsia (gangguan pencernaan).
4. Temulawak (Curcuma xanthorriza) bagian rimpang ber¬kha¬siat; hepatoprotector, antiinflamasi, dyspepsia (gangguan pencernaan).
5. Jati Belanda (Guazuma ulmifolia) bagian daun berkhasiat; menurunkan kolesterol, dan diabetes.
6. Cabe Jawa (Piper retrofractum) bagian buah berkhasiat; andro¬genik, dan anabolik.
7. Mengkudu/Pace (Morinda citrifolia) bagian buah masak berkhasiat; antihipertensi, imunomodulator, diabetes.
8. Jambu biji (Psidium guajava) bagian daun untuk mengobati demam berdarah.
9. Jahe merah (Zingiber officinale) bagian rimpang berkhasiat; antiinflamasi, analgesik, rheumatik.

Penelitian-penelitian terhadap tumbuhan obat unggulan telah dilakukan oleh institusi terkait dan perguruan tinggi, sebagaimana yang pernah penulis lakukan terhadap tumbuhan obat sambiloto atas payung kerjasama BPTO dengan Fakultas Pertanian UNS.  Sambiloto sebagai salah satu tumbuhan obat unggulan, berdasarkan survai yang penulis lakukan ternyata belum dibudidayakan, dan diambil dari hutan-hutan, sehingga dapat mengganggu kelestarian alam. Terkait dengan pertanian berkelanjutan, sambiloto perlu didomestikasi (dibudidayakan), sehingga sebagai bahan obat herbal dapat terpenuhi baik kuantitas dan kualitas, sekaligus terjaga erosi plasmanutfah dan kerusakan alam. Diharapkan hasil penelitian akan meningkatkan pemanfaatan bahan obat alam dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Pengembangan pemanfaatan obat bahan alam dalam pela¬yanan kesehatan masyarakat membuka kesempatan kepada produsen untuk mengembangkan produknya ke arah fitofarmaka. Untuk melindungi masyarakat dari produk yang tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan manfaat ada instansi yaitu Badan POM yang melakukan pengawasan terhadap produk sebelum dan sesudah beredar. Sebelum beredar, produk didaftarkan di Badan POM untuk dievaluasi terhadap aspek mutu, keamanan dan manfaat, dan apabila telah memenuhi persyaratan maka diberikan persetujuan sehingga produk tersebut dapat beredar. Terhadap produk yang telah beredar dilakukan kegatan survei dan atau monitoring dengan mengamati parameter efek samping, kegiatan yang merugikan serta periklanan dan promosi. Peran Badan POM dalam mendukung industri obat bahan alam diharapkan dapat meningkatkan gairah perkembangan bisnis obat bahan alam mengingat masa depannya yang cerah dan potensinya yang cukup besar (Aspan, 2004).

Pengembangan Budidaya Tumbuhan Obat dengan Riset Aksi
Riset Aksi (action research) merupakam metode pembelajaran masyarakat menjadi pilihan tepat untuk usaha pengembangan masyarakat dalam rangka pemasyarakatan budidaya tumbuhan obat yang berorientasi komersial.
Dalam riset aksi terjadi usaha-usaha untuk mendorong masya¬rakat baik secara individu maupun kelompok untuk meman¬faat¬kan potensi yang ada pada diri mereka untuk mengembangkan diri dan melakukan perbaikan-perbaikan.
Pertama kali yang perlu ditempuh dalam penemuan paket teknlogi tanaman obat adalah melakukan pengumpulan data pendahuluan (need assesment); yang dalam hal ini dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan apa yang diperlukan oleh masyarakat setempat. Setelah diketahui secara pasti potensi daerah maupun minat masyarakat terhadap pengembangan tanaman obat lalu diadakan persiapan sosial, pengorganisasian masyarakat dan kemudian dilakukan kegiatan aksi yang dapat berupa pembuatan demplot (lahan percontohan) yang berisi percobaan-percobaan yang berhubungan dengan budidaya tanaman obat untuk mendapatkan paket teknologi yang tepat guna. Mulai dari persiapan sampai pengamatan, evaluasi masyarakat dilibatkan secara aktif. Setiap tahapan riset aksi diadakan ”back up research” untuk menindaklanjuti kegiatan-kegiatan yang menonjol atau hal-hal yang perlu diteliti lebih lanjut. Tahap akhir dari riset aksi adalah pelembagaan (institusionalisasi), jika kegiatan komoditi tanaman obat dengan paket teknologinya telah teruji dengan baik.
Hadirin yang saya hormati,
Uraian yang telah saya sampaikan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa (1) pengembangan budidaya tumbuhan obat harus memperhatikan kaidah-kaidah alam, dengan strategi melaku¬kan domestikasi terhadap tumbuhan obat secara organik, (2) pengem¬bangan tumbuhan obat didahulukan yang unggul dan prospektif serta telah teruji secara klinik untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya tanpa merusak lingkungan, (3) pengembangan budidaya tumbuhan obat dapat dilakukan dengan cara riset aksi (action research) dengan pelibatan masyarakat di semua tahapan kegiatan. Akhirnya keberhasilan pengembangan tumbuhan obat bergantung kesinambungan antara petani (industri hulu), pengum¬pul/pedagang (industri antara), dan pabrik/eksportir obat herbal (industri hilir). Semua pihak baik unsur petani, pedagang, industri obat, peneliti dan pemerintah harus sinergi dan terpadu agar pengembangan budidaya tumbuhan obat yang berwawasan per¬tanian berkelanjutan terwujud.

UCAPAN TERIMA KASIH

Hadirin yang saya hormati dan saya muliakan.
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, secara tulus saya menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar dalam bidang Agronomi pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
2. Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Bapak Prof. Dr. Muchammad Syamsulhadi, dr., Sp.Kj.(K), dan seluruh anggota Senat Universitas, Dekan/Ketua Senat Fakultas Pertanian Univer¬sitas Sebelas Maret dan segenap  anggota Senat Fakultas Pertanian, Ketua Jurusan Agronomi, Ketua Laboratorium EMPT beserta jajarannya, dan Tim Kumulatif Kredit Point (CCP) yang telah menyetujui dan mengusulkan saya untuk menduduki jabatan Guru Besar.
3. Tim Asistensi Kelayakan Pengukuhan Guru Besar: Prof. Drs. Suranto, MSc., PhD.;  Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr.,Sp.PA(K); Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.; Prof. Dr. Sigit Santosa, MPd.; dan Prof. Dr. Joko Nurkamto, MPd. yang telah memberikan masukan.
4. Kepada guru-guru saya di Sekolah Rakyat Negeri V Karang¬anyar, SD Negeri Jetis Karangmalang Juwiring Klaten, SMP Negeri 1 Karanganyar, SMA Negeri I  Karanganyar, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan Program Pascasarjana Univer¬sitas Brawijaya, saya menghaturkan terima kasih yang berkat jasa dan pengabdiannya, saya dapat mencapai jabatan tertinggi sebagai Guru Besar di Perguruan Tinggi. Untuk para guru saya tersebut, saya mendoakan semoga Allah SWT membalas budi baik beliau dengan pahala dan karunia yang berlipat ganda.
5. Prof. Ir. Harjono Danoesastro (alm.); Prof. Dr. Ir. T. Sujono selaku pembimbing saya pada jenjang S1 dan Prof. Ir. Asparno Mardjuki (alm.); Prof. Dr. Ir. Soedharoedjian (alm.); Ir. Djoko Isbandi, MSc. (alm); dan Ir. Siti Fatimah, SU selaku pem¬bimbing saya pada jenjang S2.
6. Prof. Dr. Ir. Jody Moenandir, Dipl. Agr. Sc.; Prof. Dr. Ir. Syamsul¬bahri, MS., dan Prof. Dr. Ir. Kuswanto, MS., selaku Promotor, Ko-Promotor disertasi saya, dan Prof. Dr. Ir. Tatik Wardiyati, MS.; Dr. Ir. Agus Suryanto, MS.; Dr. Ir. Sudiarso, MS.; dan Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, MP. selaku penguji disertasi, terima kasih atas segala bimbingan, perhatian, dan arahan yang sangat besar kepada saya.
7. Segenap civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, khususnya di Jurusan Agronomi/Prodi. Agro¬teknologi. Terima kasih atas doa, dukungan, bantuan dan kerja sama yang telah kita ciptakan bersama selama ini.
8. Ir. Toeranto Sugiyatmo, Ir. Zainal Jauhari, MS., Prof. Dr. Ir. Sholahudin, MS.; Prof. Dr. Ir. Suntoro Wongso Atmojo, MS. yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada saya untuk menuntut ilmu dan karier. Prof. Dr. Ir. Djoko              Purnomo, MP.; Ir. Wartoyo SP, MS.; Ir. Suharto Pr., MS.;  Prof. Dr. Ir. Supriyono, MS.; Prof. Dr. Ir. Edi Purwanto, MSc.; Dr. Ir. Pardono, MS.; Dr. Ir. Sulanjari, MS.; Ir. Eddy Tri¬haryanto, MP.; Ir. Sri Nyoto, MS.; Ir. Triyono DS, MP.;             Dr. Ir. Purwanto, MS.; Dr. Ir. Eko Murniyanto, MS.;                      Dr. Ir. MTH Budiastuti M.Si.; Drs. Didik Suroto, MP.; Hery Widijanto, SP.,MP.; dan kolega yang lain di lab. EMPT dan lab. lainnya lingkup FP-UNS yang telah memberikan inspirasi dan teman diskusi.
9. Kedua Orang Tua Saya, Ayahanda M. Tarumulyatno (Alm.) yang selalu memberikan keteladanan dan berpesan agar putra-putranya menuntut ilmu setinggi-tingginya, dan ibunda                     R. Ngt. Sriyati tercinta, atas jasanya membesarkan dan men¬didik saya sejak kecil, memberikan motivasi dan selalu mendoakan saya. Kedua mertua saya Bp. Mulyanto (alm) dan ibu R. Ngt. Ning Komariasri yang telah memotivasi dan selalu mendoakan saya.
10. Akhirnya, terima kasih kepada istriku Dra. Linda Nur              Susila, MM. dan kedua anakku Bintang Asmanda Putra dan Kartika Asmanda Putri atas pengertian, doa, pengorbanan dan sumbang sarannya. Juga kepada kakakku beserta keluarganya: Ir. Suwono Pujiastopo; Dr. Ir. Djoko Muljanto, MSc. (alm.);  dr. Tri Atmodjo Wasito, SpB. dan adikku beserta keluarganya: drh. Sri Gatiyono, MSc.;   Ir. Heru Santosa, dan Drs. Saptono, yang selalu mendoakan dan berdiskusi. Juga kakak dan adik ipar beserta keluarganya: Sri Mulyaningsih, BA. (alm.), Anda Nur Juwita, Cahyo Nugroho, SE.; Dirgahayu Nugrahani, SE. dan Kurniawan Jati, ST. yang telah memberikan doa.
11. Semua pihak yang telah membantu baik berupa tenaga, sumbangsaran dan fasilitas,  penulis mengucapkan terima kasih. Semoga cita-cita luhur kita selalu mendapat ridhlo Allah SWT, Allahumma Amin. Maha Suci Allah, Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Wabillahittaufiq Wal Hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Aspan, R. 2004. Pengembangan pemanfaatan obat bahan alam dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Pros. Sem. Nas. 25 Tumb. Obat Ind. Depkes RI.: 8 -15.
Demchik and Streed. 2002. “Non timber forest products and implication for forest managers: use, collection and growth of berries, fruits and nuts”. http://www.rudyct.topcities.com.
Dephut.  2004.  “The roles of medicinal plants on plantation forest development”.  http://www.dephut.go.id/indonesia.
Depkes. 2005. Pokok-pokok kebijakan nasional penelitian dan pengembangan tanaman obat dan pengobatan tradisional. Temu Ilmiah Iptek Balitbang Depkes RI. : 1 – 14.
Depkes. 2006. ”Mengenal beberapa tanaman yang digunakan sebagai anti diabetika”. http://www.pom.go.id/public/ default.asp. 6 Januari 2006.
Conway, G.R. and Barbier. 1990. After green revolution, sustain¬able agriculture development. Earthscan Pub., London.
Fukuoka, M. 1985. The One-Straw Revolution. Bamtam Books. Toronto.
Gunawan, D. dan S. Mulyani. 2004. Ilmu obat alam (farma¬kognosi). Penebar Swadaya. pp. 139.
Jenie, U.A., M.Hanafi dan L.B.S. Kardono. 2005. Metode bio¬teknologi dan biomolekuler terkini dan tepat guna yang mendukung pengembangan obat tradisional/alam di pasar lokal dan global. Temu iIlmiah dan Iptek Balitbang Depkes RI.: 4 – 11.
Kintoko, 2006. ”Prospek pengembangan tanaman obat”.  http://pkukuwel.ukm. Download 31-03-2009.
Litbang Depkes. 2009. ”Tanaman obat asli milik bangsa dan negara RI”. http://www.bmf.litbang.depkes.go.id. Download              31-03-2009.
Luasunaung, A., Erwan, G.E. Mamuaya, Kisman, N. Sahiri, R.L. Worang, Purwantomo,S., Susiyanti,  dan V.J.Pical. 2003. ”Domestikasi tumbuhan dan hewan”. http://www.ruyct. topcities.com. 2 Maret 2006.
Maxximilllian, 2008. “Pharmacy Business, an overview of pharmacy related and healthcare industry”. http://www. bisnisfarmasi.wordpress.com
Muhlisah, F.1999. Temu-Temuan dan Empon-empon Budidaya dan Manfaatnya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Mursito, B dan H. Prihmantoro. 2002. Tanaman Hias Berkhasiat Obat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Moenandir, J. 2004. Prinsip-prinsip utama, Cara menyukseskan produksi pertanian. Dasar-dasar budidaya pertanian. Bayu Media Publ. Malang. pp. 378.
Naiola B.P., T. Murningsih dan Chairul. 1996.  Pengaruh stres air terhadap kualitas dan kuantitas komponen aktif pada sambiloto.  Warta Tumb. Obat Indo.
Pujiasmanto, B. 2001. Usaha-usaha Peningkatan Tanaman Jahe. Caraka Tani (19) : 1. FP-UNS, Surakarta.
Pujiasmanto, B. 2003. Pengembangan Budidaya Tanaman Obat. Pelatihan Teknis Fungsional Pengawasan Mutu Benih Tanaman Obat, di Tawangmangu 20 – 23 Oktober 2003.
Pujiasmanto, B. 2008. ”Prospek Budidaya Tumbuhan Obat”. Berita Nasional Yogyakarta. 11 Oktober 2008.
Pujiasmanto, B. 2008. ”Perlunya Domestikasi Tumbuhan Obat”. Berita Nasional Yogyakarta. 1 November 2008.
Pujiasmanto, B. 2009. Domestikasi Tumbuhan Obat Untuk Mengatasi Erosi Plasmanutfah Akibat Krisis Ekonomi. Seminar Nasional Revitalisasi Pertanian Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Global. Suarakarta 21 Maret 2009.
Pus.Ris. Obat & Makanan. 2004. Pedoman budidaya pasca panen dan produksi obat bahan alam. Pus. Ris. Obat dan Makanan. Jakarta.  pp. 27.
Radji, M.,2005. ”Peranan bioteknologi dan mikroba endofit dalam pengembangan obat herbal”. Jurnal Ilmu Kefarmasian (2)3 : 113- 126.
Tim Penulis. 2004. ”Obat tradisional”. http://www.majalah-farmacia.com/news.php.  5 Januari 2006.
Tim Penulis.  2007.  ”Menjaga benteng pertahanan tubuh”. http:// www.pen.swadaya.com. 6 Januari 2008.
Reijntjes, C., B. Havercort, dan W. Bayer. 2006. Pertanian Masa Depan. Pengantar untuk pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah. Kanisius, Yogyakarta.
Salikin, K.A. 2007. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius, Yogyakarta.
Simon, A.J. 1996. “ICRAF’s Strategy for domestication of non–wood tree products”. http://.www.fao.org/docrep/w373e/ 373eo7.htm.
Soemartono, 1996. Paradigma Dasar dan Inovasi Iptek Menyongsong Pertanian Abad ke-21. FP-UGM, Yogyakarta.
Sumarno, 2003. Kesiapan Pertanian Indonesia Dalam Era Perdagangan Bebas dan Otonomi Daerah Khususnya Agrobisnis Hortikultura. Seminar Nasional FP-UNS, Surakarta.
Sukardiman, A. Wydarwaruyanti, H.Plumeriastuti, 2009. Komisi Pengembangan Obat Tradisional (KPOT). LPPM, Univ. Airlangga, Surabaya.
Syukur C, 2003. Temu Putih Tanaman Obat Anti Kanker. Penerbit Swadaya, Jakarta.
Syukur C, dan Hernani, 2002. Budidaya Tanaman Obat Komersial. Penerbit Swadaya, Jakarta.
Utami, N.W. dan T. Juhaeti. 2004. Respon mengkudu  pada media tanam dan naungan. Pros. Sem. Nas. 25. Pokjanas Tan. Obat Indonesia.: 118 -126.
Vanhaelen, M., J. Lejoly, M. Hanocq, and L. Molle. 1991. Climate and geographical aspects of medicinal plant constituents. The Medicinal Plant Industry.  2(1): 59 – 76.
Verpoorte, R.  2000.  Secondary metabolism. Kluwer Acad. Publi. London. p. 1 – 9.
Wardana, H., N.S. Barwa, A.Kongsjahyu, M.A. Iqbal, M.Khalid  dan R.R. Karyadi. 2002. Budidaya organik tanaman obat rimpang. Penebar Swadaya, Jakarta. pp.  96.
Winarto, W.P. 2003. Sambiloto : Budidaya dan pemanfaatan untuk obat. Penebar Swadaya. Jakarta. pp.  71.
Wilkipedia. 2008. Domestication. http://www.encyclipedia.org/ AE/AEC/AEF/case leaf.html. 9 Januari 2008.
Widiyastuti, Y. 2003. Budidaya dan pembibitan tanaman obat. Mak. Pel. BPTO. Tawangmangu.: 4 – 9.
Yulianto, A, 2003. “Peran Pemerintah Daerah Pada Pengembangan Agrobisnis Hortikultura Di Era Otonomi Daerah”. Seminar Nasional. FP-UNS, Surakarta.

ANIMASI SIMULASI PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KOMPUTER

Oleh:
Prof. Dr. H. Widha Sunarno, M.Pd.

Disampaikan pada Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Tanggal 30 April 2009

 

Bismillahirrahmaaniraahiim

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhuh

Yang terhormat

Rektor/ Ketua Senat, Sekretaris dan para Anggota Senat Universitas Maret Surakarta

Para Pejabat Sipil, Militer, dan Kepolisian

Para Dekan dan Pembantu Dekan, Diterktur dan para Asisiten Direktur Program Pascasarjana

Para Ketua Lembaga, Kepala Biro, Ketua UPT serta seluruh Pejabat di Lingkungan Univesrsitas Sebelas Maret Surakarta

Ketua Jurusan, Ketua Laboratorium, Ketua Program Studi, dan Staf Pengajar di Universitas Sebelas Maret

Para Staf Administrasi, Kepala Sekolah, Teman Sejawat, Mahasiswa, seluruh Keluarga, dan semua Tamu Undangan

Alhamdu lillaahi rabbil ’aalamiin, segala puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah s.w.t. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga pada acara Sidang Senat Terbuka hari ini, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Fisika Dasar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ibu, Bapak, dan Hadirin yang terhormat

Sejak dilahirkan ke dunia, semuanya akrab dengan fenomena atau gejala alam yang ada di sekitar kita. Ketika lahir bayi menangis memberikan respons terhadap pengaruh suhu lingkungan, tekanan udara, suara yang terdengar, dan fenomena lain yang ada di sekitarnya. Manusia dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari gejala alam yang dijumpainya.

Fisika mengkaji fenomena alam yang ada di sekitar kita. ”Sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam, fisika mengkaji perilaku alam dan penyebabya dengan rentang ukuran mahalebar mulai dari yang paling mungil dalam ukuran atom hingga jagat raya atau alam semesta dalam ukuran kosmologis” (Wospakrik, 2005). Kajian fisika cukup luas, dan fisika mempunyai andil dalam memberikan sumbangan pada kemajuan peradaban manusia, khususnya dalam perkembangan teknologi suatu bangsa.

Banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu fisika itu sulit dan membosankan. ”Selama ini fisika dianggap pelajaran yang sulit dan menakutkan. Para siswa baik SMP maupun SMA menganggap bahwa ilmu fisika hanya untuk orang pintar” (Surya, 2008). Untuk mengubah paradigma tersebut, maka perkenankanlah saya untuk menyampaikan gagasan dalam upaya melakukan pembelajaran fisika yang sederhana, mudah dicerna, menarik bagi siswa dan menyenangkan. Gagasan tersebut saya tuangkan dalam pidato Pengukuhan Guru Besar ini, dengan judul : ”ANIMASI SIMULASI PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KOMPUTER ”.

Hadirin yang Terhormat

Pengkajian fisika mencakup tiga aspek, yaitu fisika sebagai produk, proses, dan sikap ilmiah. Fisika sebagai produk merupakan tubuh pengetahuan yang meliputi konsep-konsep, prisip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori fisika. Produk fisika diperoleh dan dikembangkan melalui ketrampilan yang lebih dikenal sebagai metode ilmiah. ”The scientific processes as observation, measurement, experimentation, and the other operation included in the scientific method” (Sund & Trowbridge, 1973). Orang yang berkecimpung di dalam fisika akan mendapatkan sikap ilmiah seperti jujur, cermat, berpikir kritis, rasa ingin tahu, menghormati pendapat orang lain, dan sebagainya.

Hasil belajar fisika meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar aspek kognitif lebih dekat dengan produk fisika, aspek psikomotorik berkaitan erat dengan proses fisika, dan aspek afektif berhubungan dengan sikap ilmiah. Agar belajar siwa menjadi lebih bermakna, siswa tidak hanya menghafal fakta ataupun konsep fisika saja, tetapi juga mencakup aspek psikomotorik, dan afektifnya. Dengan kata lain pembelajaran fisika harus sesuai dengan hakekat atau karakteristik bidang studi fisika.

Hadirin yang Terhormat

Di sekolah, mengapa fisika menjadi sulit, dan ditakuti bagi siswa?. Sering kita jumpai dalam pembelajaran fisika terdapat banyak persamaan-persamaan matematika yang rumit-rumit. Memang telah disadari bahwa fisika tidak bisa lepas dari matematika, karena dalam mendiskripsikan fisika, selain digunakan bahasa verbal juga digunakan matematika sebagai bahasa pengantarnya. Bagi Sekolah Bertaraf Internasinal (SBI) pembelajaran fisika menjadi bertambah sulit bagi guru, karena bahasa verbalnya menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini dapat menyebakan penguasaan konsep fisikanya menjadi tidak optimal.

Banyak upaya yang telah dilakukan, antara lain dengan penerapan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dalam pembelajaran fisika di sekolah. Tugas utama yang paling mendasar bagi para guru fisika adalah melakukan pembelajaran yang menarik, sehingga para siswa senang dengan fisika. Telah disadari bahwa fisika sebagai ilmu dasar merupakan sokoguru kemajuan teknologi, dan pelajaran fisika sudah dikenalkan sejak usia dini.

Hadirin yang Terhormat

Pembelajaran fisika di sekolah perlu memanfaatkan laboratorium. Seiring dengan perkembangan informasi dan komunikasi yang berbasis komputer, maka ada dua laboratorium fisika di sekolah, yaitu laboratorium nyata dan laboratorium maya. Dengan bantuan komputer, maka dapat diciptakan laboratorium yang bersifat maya. “Melalui imajinasi visual, siswa dapat menciptakan gagasan mereka sendiri, dan imajinasi cukup efektif sebagai suplemen kreatif dalam belajar” (Silberman, 2006). Dewasa ini bagi anak cukup familiar dengan komputer sebagai fasilitas di rumah maupun di sekolah. Pengusaan konsep awal fisika, dan kemampuan mengoperasikan komputer pada dasarnya sudah dimiliki oleh para siswa. “Semua pengetahuan dan pemahaman sudah berada dalam diri pelajar/pembelajar dan hanya perlu diangkat ke kesadaran” (Win Wenger, 2001). Dengan menggunakan laboratorium maya ketrampilan berpikir siswa dapat ditingkatkan.

Laboratorium maya sangat membantu sekolah yang fasilitas laboratorium riilnya kurang memadai. Selain itu, laboratorium maya sangat cocok bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual. ”Siswa dengan gaya belajar yang bertipe visual lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, dan mengingat dengan asosiasi visual” (DePoter & Hernacki, 2007, 116). Komuninasi maya sekarang sudah merambah ke berbagai aspek kehidupan manusia, maka pembelajaran fisika yang dikemas dalam bentuk animasi simulai yang dapat diakses melaui internet sangat relevan dengan perkembangan teknologi komunikasi di dunia maya.

Banyak dijumpai paket pembejaran fisika yang sudah dikemas dalam bentuk CD yang beredar di pasaran, namun teknik penyajiannya tidak berbeda jauh dari buku teks, sehingga perlu disediakan paket pembelajaran yang lebih interaktif dan tidak terjadi miskonsepsi. Perangkat lunak (soft ware) pembelajaran fisika dengan animasi simulasi dapat dikemas dalam bentuk CD yang setiap saat dapat dibuka dan dipelajari baik di rumah maupun di sekolah. Paket Animasi Simulasi Pembelajaran Fisika juga dapat diakses pada webblog dengan alamat : http://psains.blogspot.com, dan email : widha_fisikauns@yahoo.com.

Hadirin yang Terhormat

Selanjutnya, marilah kita cermati konsep-konsep fisika yang mudah dicerna oleh siapapun, baik siswa, mahasiswa, maupun orang awam sekalipun. Konsep-konsep yang didiskripsikan dalam pembahasan di sini tanpa diramu dengan persamaan-persaman matematika yang rumit-rumit, tetapi cukup menggunakan aritmatika sederhana, dan lebih didominasi dengan penggunaan logika. ” Konsep fisika yang pertama akan kita pelajari adalah gerak, burung terbang, planet berputar, pohon tumbang, seluruh alam semesta berbegrak” (Larry Gonick & Art Huffman, 2007). Gerak meupakan konsep yang fundamental dalam fisika, oleh karena itu dalam kajian ini diawali dengan pembahasan gerak dan khususnya pada gerak lurus beraturan.

Gerak Lurus beraturan

Benda yang bergerak mempunyai kecepatan. Apa artinnya benda bergerak dengan kecepatan 5 m/dt ?

5 m/dt

Artinya dalam 1 detik benda menempuh jarak 5 m. Setelah 10 detik benda menempuh jarak 50 m.

Benda A dan B bergerak dengan kecepatan yang sama, yaitu 10 m/dt. Apa artinya dua benda bergerak dengan kecepatan yang sama?

10 m/dt

A

B 10 m/dt

Artinya dalam waktu yang sama bola A dan B menempuh jarak yang sama. Jika bola A dan B bergerak dengan kecepatan yang sama yaitu 8 m/dt, maka setelah bergerak 5 detik, keduanya menempuh jarak = 5 x 8 m = 40 m.

Bola C dan D bergerak dengan kecepatan yang berbeda. Apa artinya dua bola bergerak dengan kecepatan yang berbeda ?

C 10 m/dt

12 m/dt

D

Misalnya bola C bergerak dengan kecepatan 10 m/dt dan bola D bergerak dengan kecepatan 12 m/dt. Ini berarti bahwa dalam 1 detik selisih jarak yang ditempuh kedua = 12 m -10 m = 2 m. Jika kedua bola sudah bergerak selama 5 detik, maka selisih jarak yang ditempuh bola C dan D sejauh 5 x 2 m = 10 m. Setelah bergerak 30 detik selisih jarak yang ditempuh bola C dan D sejauh = 30 x 2 m = 60 m.

A 3 m/dt 2 m/dt B

Pengendara sepeda A dan B bergerak saling mendekati. Apa artinya dua pengendara sepeda bergerak saling mendekati? Artinya jarak kedua pengendara sepeda semakin pendek, dan akhirnya bertemu. Jika masing-masing pengendara sepeda bergerak dengan kecepatan 3 m/dt dan 2 m/dt, maka setelah satu detik jarak kedua pengendara sepeda berkurang sejauh = 3 m + 2 m = 5 m. Andaikan jarak mula-mula keduanya 100 m, setelah berapa detik kedua pengendara sepeda berpapasan? Kedua pengendara sepeda berpapasan setelah bergerak = 100 : 5 = 20 detik. Di mana dua pengendara sepeda bertemu ? Keduanya bertemu, setelah pengendara sepeda A bergerak sejauh = 20 x 3 m = 60 m, atau setelah pengendara sepeda B menenpuh jarak sejauh = 20 x 2 m = 40 m.

Dalam jarak tertentu benda A mengejar bola B yang juga sedang bergerak. Apa artinya A mengejar B ?.

5 m/dt 3 m/dt

Artinya benda A mempunyai kecepatan yang lebih besar dibandingkan dengan benda B, jarak kedua benda semakin pendek, dan akhirnya bola B tersusul oleh benda A. Ketika benda A mengejar B, dalam satu detik jaraknya semakin pendek sejauh = 5 m – 3 m = 2 m. Jika jarak mula-mula kedua benda sejauh 100 m, maka setelah berapa detik benda A menyusul benda B. Berapa jarak yang telah ditempuh oleh benda B ketika tersusul oleh benda A. Benda A dapat menyusul benda B setelah bergerak 100 : 2 = 50 detik. Ketika tersusul oleh benda A benda B telah bergerak sejauh = 3 m x 50 = 150 m.

Contoh soal: Seekor kucing melihat tikus pada jarak 10 m. Tikus tahu ada kucing segera berlari dengan kecepatan 5 m/dt. Setelah 4 detik kucing mengejar tikus dengan kecepatan 7 m/dt. Berapa detik tikus dapat tertangkap kucing? Setelah berlari berapa jauh kucing dapat menangkap tikus ? ( dengan anggapan kucing dan tikus bergerak lurus dan tidak ada percepatan). Jawab: Setelah 4 detik kucing baru mengajar tikus, ini berarti tikus sudah lari sejauh = 4 x 5 m = 20 m. Dengan demikian jarak kucing dan tikus menjadi = 10 m + 20 m = 30 m. Jarak kucing dan tikus semakin pendek, dalam 1 detik jarak keduanya semakin dekat sebesar = 7 m – 5 m = 2 m. Ini berarti tikus dapat ditangkap kucing setelah = 30 : 2 = 15 detik. Kucing dapat menangkap tikus setelah berlari = 7 m x 15 = 105 m. Dengan kata lain setelah tikus lari sejauh = 5 m x 15 = 75 m.

Contoh lain (soal olimpiade fisika): Bangunan berbentuk kotak yang berukuran panjang 20 m dan lebar 15 m. Dari pojok bangunan dua ekor serangga bergerak menyusuri tepi bangunan dengan arah yang berlawanan. Serangga A lari dengan kecepatan 3 m/dt, dan serangga B berlari dengan kecepatan 2 m/dt.

3 m/dt

2 m/dt

15 m

20 m

Setelah berapa detik kedua serangga bertemu ? Di mana kedua serangga bertemu ? Setiap detik jarak kedua serangga semakin pendek sejauh = 3 m + 2 m = 5 m. Keliling kotak = (20 m + 15 m) x 2 = 70 m. Jadi kedua serangga bertemu setelah mereka bergerak = 70 : 5 = 14 detik. Mereka bertemu setelah serangga A bergerak sejauh = 14 x 3 m = 42 m, dan serangga B telah bergerak sejauh = 14 x 2 m = 28 m.

Apabila dibandingkan dengan kebiasaan para guru fisika dalam pembelajaran gerak lurus beraturan, selalu menngunakan persamaan : s = v x t. Dalam hal ini s sebagai jarak yang ditempuh dengan satuan meter, v sebagai kecepatan gerak benda dalam m/dt, dan t merupakan waktu atau lama benda bergerak dalam satuan detik. Persamaan gerak ini, jika diterapkan pada beberapa kasus seperti uraian di atas dapat menyebabkan siswa menjadi pusing, sehingga dapat berakibat bahwa fisika itu sulit.

Gerak Lurus Berubah Beraturan

Benda A bergerak dengan percepatan 2 m/dt2 . Apa artinya bergerak dengan percepatan 2 m/dt2 ? Ini berarti setiap satu detik kecepatannya bertambah 2 m/dt.

2 m/dt2

Setelah 5 detik kecepatan benda A menjadi = 5 x 2 m/dt. Setelah bergerak 10 detik kecepatannya menjadi = 10 x 2 m/dt = 20 m/dt

Sebuah benda mula-mula bergerak dengan kecepatan 6 m/dt, setelah 2 detik kecepatannya menjadi 10 m/dt. Berapakah percepatan gerak benda tersebut ?

6 m/dt 10 m/dt

Selama 2 detik pertambahan kecepatannya = 10 m/dt – 6 m/dt = 4 m/dt. Jadi percepatan gerak benda tersebut sebesar = 4 m/dt : 2 detik = 2 m/dt2.

Bola bergerak dengan kecepatan 5 m/dt. Kemudian gerak bola dipercepat, dalam waktu 4 detik kecepatannya menjadi 10 m/dt. Berapakah jarak yang ditempuh bola ?

5 m/dt 10 m/dt

4 detik

Jika bola bergerak terus menerus dengan kecepatan 5 m/dt, maka dalam waktu 4 detik jarak yang ditempuhnya = 4 x 5 m = 20 m. Jika bola bergerak terus menerus dengan kecepatan 10 m/dt, maka dalam waktu 4 detik jarak yang ditempuhnya = 4 x 10 m = 40 m. Oleh karena kecepatan bola bertambah secara teratur dari 5 m/dt menjadi 10 m/dt, maka jarak yang ditempuh bola adalah tengah-tengah antara 20 m dan 40 m, yaitu = (20 + 40) : 2 = 30 m.

Hadirin yang Terhormat

Sebagai ilustrasi, dalam pembelajaran fisika tentang gerak lurus berubah beraturan, seorang guru biasanya menggunakan persamaan : vt = vo + a.t dan st = vo t + ½ a t2. Dalam hal ini vo = keceapatan awal, vt = kecepatan pada waktu t, a = percepatan gerak, dan st = jarak yang ditempuh selama t.

Contoh: Pesawat terbang bergerak lurus dengan percepatan 10 m/dt2. dan kecepatan awalnya 30 m/dt. Setelah bergerak 6 detik berapa kecepatan pesawat terbang, berapa jarak yang ditempuhnya? Apabila diselesaikan dengan menggunakan persamaan secara matematik, maka dapat dilakukan sebagai berikut : Setelah bergerak 6 detik, kecepatan pesawat terbang adalah : vt = vo + a.t = 30 + 10 x 6 = 90 m/dt. Jarak yang ditempuh pesawat : st = vo t + ½ a t2 = 30 x 6 + ½ 10 x 62 = 180 + 180 = 360 m.

Apabila diselesaikan dengan uraian, maka dapat dinyatakan sebagai berikut : Percepatan pesawat 10 m/dt2, artinya setiap detik kecepatan bertambah 10 m/dt. Dalam 6 detik pertambahan kecepatannya = 6 x 10 = 60 m/dt, sehingga kecepatan pesawat menjadi = 30 m/t + 60 m/dt = 90 m/dt. Jika pesawat bergerak terus menerus dengan kecepatan 30 m/dt, maka dalam waktu 6 detik jarak yang ditempuhnya = 30 x 6 m = 180 m. Jika pesawat bergerak terus menerus dengan kecepatan 90 m/dt, maka dalam waktu 6 detik jarak yang ditempuhnya = 90 m x 6 m = 540 m. Oleh karena kecepatan pesawat bertambah secara teratur dari 30 m/dt menjadi 90 m/dt, maka jarak yang ditempuh pesawat adalah tengah-tengah antara 180 m dan 540 m, yaitu = (180 + 540) : 2 = 720 : 2 = 360 m.

Hadirin yang Terhormat

Gerakan vertikal ke atas dan ke bawah pada dasarnya sama dengan gerak lurus berubah beraturan, dengan mendapatkan percepatan gravitasi dari bumi. Untuk memudahkan pembahasan, nilai percepatan gravitasi bumi sebesar 10 m/dt2. Sebagai contoh kasus, sebuah peluru ditembakkan vertikal ke atas dengan kecepatan awal 30 m/dt. Berapa detik peluru mencapai tinggi maksimum, dan berapa jaraknya, jika percepatan gravitasi bumi 10 m/dt2 ?

Tinggi maksimum ————————————

t = ?

h = ?

30 m/dt

Jika diselesaikan dengan menggunakan persamaan matematika, dapat dinyatakan seperti berikut ini. Ketika peluru mencapai ketinggian maksimum vt = 0. Ini berarti vt = vo – g t atau 0 = 30 – 10 t. Dengan demikian t = 3 detik, dan tinggi maksimum adalah st = vo t – ½ a t2 = 30 x 3 – ½ 10 x 32 = 90 – 45 = 45 m.

Jika diselesaikan secara uraian, dapat dinyatakan seperti berikut ini. Semakin ke atas gerakan peluru semakin lambat, setiap detik kecepatannya berkurang 10 m/dt. Peluru mencapai tinggi maksimum kecepatannya = 0, dan ditempuh dalam waktu = (30 – 0) : 10 = 3 detik. Apabila peluru bergerak dengan kecepatan 30 m/dt secara terus-menerus, maka jarak yang ditempuhnya = 30 m x 3 = 90 m. Jika peluru bergerak dengan kecepatan 0 m/t secara terus menerus, maka jarak yang ditempuhnya = 0 m. Oleh karena kecepatan peluru berkurang secara teratur dari 30 m/dt menjadi 0 m/dt, maka jarak yang ditempuh peluru adalah tengah-tengah antara 90 m dan 0 m, yaitu sebesar = (90 – 0) : 2 = 45 m.

Ditinjau kembali suatu kasus, sebutir kelapa lepas dari dahannya dan setelah 2 detik jatuh di tanah. Buah kelapa jatuh karena pengaruh gravitasi bumi dan percepatan gerakannya 10 m/dt2. Berapakah ketinggian pohon kelapa tersebut. Jika diselesaikan dengan menggunakan persamaan matematik dapat dinyatakan sebagai berikut. Karena jatuh dari dahannya, maka kecepatan awal atau vo = 0. Ketinggian pohon kelapa adalah st = vo t – ½ a t2 = 0 + ½ 10 x 22 = 20 m.

Apabila diselesaikan secara uraian, maka dapat dinyatakan seperti berikut ini. Gerakan kelapa yang jatuh setiap detik kecepatannya bertambah 10 m/dt. Setelah 2 detik buah kelapa jatuh di tanah dengan kecepatan 20 m/dt. Ketika kelapa bergerak dengan kecepatan 0 m/dt, maka jarak yang ditempuhnya = 0 m. Jika buah kelapa bergerak dengan kecepata 20 m/dt secara terus menerus, maka setelah 2 detik jarak yang ditempuhnya 40 m. Ketinggian pohon kelapa adalah tengah-tengah antara 0 m dan 40 m, yaitu = (40 – 0) : 2 = 20 m.

Oleh karena keterbatasan waktu, maka pembahasan gerak lurus diakhiri pada tinjauan gerak jatuh bebas. Konsep-konsep fisika yang lain pada dasarnya dapat ditampilkan melalui pembahasan yang mengutamakan pada penggunaan logika atau penalaran. Penyajian konsep-konsep fisika dengan pengguanaan aritmatika yang sederhana tersebut di atas ditampilkan dalam bentuk animasi simulasi yang berbasis komputer. Artinya paket pembelajarannya dikemas dalam bentuk CD dan agar interaktif, maka perlu dijalankan dengan menggunakan komputer. Penyajian konsep-konsep fisika tersebut di atas dikemas dalam bentuk animasi simulasi yang dapat diakses pada webblog dengan alamat: http://widhauns.blogspot.com atau pada alamat: http://psain.blogspot.com

Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat ditarik berbagai kesimpulan. Dalam pembelajaran fisika, khususnya fisika dasar dapat digunakan paradigma baru, para siswa jangan selalu dihadapkan pada penggunaan persamaan matematik yang mereka anggap rumit. Penggunaan persamaan matematika dalam pembelajaran fisika yang tidak proposional dapat menimbulkan kesan bagi siswa bahwa fisika itu sulit. Pada hal tugas guru fisika adalah mampu menyajikan pembelajaran fisika yang menyenangkan, sehingga para siswa menjadi lebih tertarik dan senang dengan fisika.

Untuk mengubah paradigma fisika itu sulit, maka dalam pembelajaran fisika dan penyelesaian soal-soal lebih ditekankan pada penggunaan logika yang dilandasi oleh konsep-konsep fisika. Dalam pembelajaran fisika bagi anak-anak perlu dibantu dengan penggunaan berbagai media. Sebagai media pembelajaran dapat digunakan benda asli maupun tiruannya ataupun dalam media dua dimensi dan tiga dimensi.

Dengan kemajuan teknologi dan informasi, terutama penggunanan komputer dalam browsing maupun dalam komunitas webblog, maka perlu disediakan animasi simulasi pembelajaran fisika yang dikemas dalam bentuk keping CD maupun yang dapat diakses melalui internet. Model penyajian fisika dengan animasi simulasi dapat diakses pada alamat : http://widhauns.blogspot.com dengan email : widhauns@gmail.com atau pada alamat : http://psain.blogspot.com dengan email : widha_fisikauns@yahoo.com . Semoga dengan alamat-alamat yang ada di weblog tersebut dapat memberikan konstribusi dalam meningkatkan ranking pada webometrik bagi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Pramono. (2005). Merancang Website Secara Instan Dengan Yahoo! SiteBuilder. Yogyakarta. Penerbit Andi.
Andi Pramono. (2004). Berkreasi Dengan Macromedia Flah MX Profesional 2004. Yogyakarta. Andi Offset
Andreas Avellino. (2005). Panduan Praktis Menguasai Macroedia Flash MX 2004. Yogyakarta. Penerbit Andi
Ariesto Hadi Subroto. (2002). Animasi Dengan Macromedia Flah berikut ActionScript.. Jakarta. Penerbit Salemba Infotek
Chandra. (2006). ActionScript. Flash MX 2004 Untuk Pro¬fesional. Palembang. Maxikom.
Daniel Muijs & David Reynold. (2008). Effective Teaching, Theory and Application. Penerjemah : Helly Prajitno dan Sri Mulyantini. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Hergenhahn & Matthew H. Olson. (2008). Theories of Learning. Penerjemah : Tri Wibowo. Jakarta. Penerbit Kencana, Prenada Media Group.
Laksamana Media. (2008). Blogspot. Yogyakarta. Mediakom.
Larry Gonick, & Art Huffman. (2007). The Cartoon Guide to Physics. Diterjemahkan oleh : Christina M Udiani. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.
Lillian C. McDremott and Shaffer & Rosequist. (1996). Physics by Inquiry. New York. John Wiley & Sons, Inc.
Melvin L. Siberman. (2006). Active Learning. Penerjemah: Raisul Muttaqin. Bandung. Penerbit Nusamedia.
Paul Suparno. (2007). Metodologi Pembelajaran Fisika, Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta. Penerbit Universitas Sanata Dharma.
Parratore. (2005). Hand-On Science for Active Learning Class¬room. Penerjemah: Mike Gembirasari. Bandung. Penerbit Nuassa
Silberman, M L. (2006). Active Learning. Diterjemahkan oleh: Raisul  Muttaqien. Bandung. Penerbit Nusamedia bekerja¬sama dengan Penerbit Nuansa.
Sudarma. (2008). Tip dan Trik Seputar Laptop. Jakarta. Mediakita.
Sund, & Trowbridge. (1973). Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Columbus, Ohio. Published by Charles E. Merrill Publishing Company, A Bell & Howell Company.
Surya, Y. (2008). Pembelajaran Fisika Melalui Metode Gasing. Seminar Nasional fisika. Surakarta. 4 – 5 April 2008.
Suzanne Donovan & John Bransford. (2005). How Students Learn. The National Academies Press. Washington, DC.
Teguh Wahyono. (2009). Blog Spot, (Panduan Praktis Membuat, Mengelola, dan Mempromosikan Blog). Jakarta. PT Elex Media Komputindo
William Crain. (2007). Theories of Development, Concept and Application. Penerjemah : Yudi Santosa. Yogyakarta. Penerbit Pustaka Pelajar.
Win Wenger. (2001). Beyond Teaching & Learning. Diterjemah¬kan oleh: Ria Sirait dan Purwanto. Bandung. Penerbit Nuansa.
Wospakrik, H.J. (2005). Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta. Penerbit Universitas Atma Jaya dan Kepustakaan Populer Gramedia.
Yahya Kurniawan. (2005). Kiat Praktis Menguasai ActionScript 2.0 Flash MX 2004. Jakarta. PT Elex Media Kompetindo.