PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN STATISTIKA DALAM RANGKA MENGEMBANGKAN TRANSFERABLE SKILLS MAHASISWA:Upaya meningkatkan competitive advantage lulusan pendidikan tinggi

Oleh :
Prof. Dr. Siswandari, MStats

Yang saya hormati:
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret;
Ketua dan para Anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret;
Para Pejabat Sipil maupun Militer;
Para Guru Besar Tamu;
Para Dekan dan Pembantu Dekan di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, dan Ketua UPT  serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret;
Para Ketua Jurusan, Ketua Program Studi dan seluruh staf pengajar di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengatahuan Sosial FKIP Universitas Sebelas Maret;
Para rekan sejawat, staf administrasi, dan mahasiswa Universitas Sebelas Maret;
Segenap tamu undangan, sanak keluarga, dan hadirin sekalian yang saya muliakan;

Assalamu”alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah SAW
Untuk mengawali pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur alhamdullilah ke hadirat Allah SWT. atas rahmat dan hidayahNya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di ruangan yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat wal-afiat tiada kurang suatu apa, untuk mengikuti acara sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret Surakarta. Atas perkenanNya pulalah saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam Bidang Pendidikan untuk mata kuliah Statistika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang berjudul ”Peningkatan Kualitas Pembelajaran Statistika Dalam Rangka Mengembangkan Transferable Skills Mahasiswa: Upaya Meningkatkan Competitive Advantage Lulusan Pendidikan Tinggi”

A.    PENGANTAR
Hadirin yang saya muliakan,
Judul pidato ini saya pilih karena tiga alasan (1) Tuntutan untuk meningkat¬kan kualitas pembelajaran, terutama untuk mata kuliah statistika, secara berkelanjutan dimana pembelajaran ini selalu saya pandang sebagai roh setiap pendidikan tinggi. (2) Keprihatinan saya terhadap tingginya angka pengangguran untuk lulusan pendidikan tinggi dari tahun ke tahun, dan (3) Panggilan hati untuk mengisi celah yang mungkin dan sangat  logis untuk ikut berpartisipasi aktif membantu pemerintah Indonesia dalam mempersiap¬kan lulusan pendidikan tinggi memasuki dunia kerja, baik sebagai wirausaha atau sebagai tenaga kerja yang kompetitif. Hal ini sudah lama terpikir namun baru terealisasi bersamaan dengan upaya pemerintah dalam menangani un/under employed higher education graduates bagi mereka yang setelah dua tahun lulus namun belum mendapatkan pekerjaan. Pemerintah mengeluarkan dana milyardan rupiah per propinsi per tahun untuk membantu lulusan pendidikan tinggi yang menganggur ini melalui program yang diberi nama Retooling. Saya terlibat dalam program nasional ini dua kali yaitu untuk Batch III dan Batch IV. Program ini terutama dimaksudkan untuk membekali kembali lulusan pendidikan tinggi dengan berbagai keterampilan, yang diharapkan dapat membantu mereka memenangkan kompetisi pada dunia kerja.

Hadirin yang saya muliakan,
Pikiran saya sungguh sederhana, jika keterampilan yang dibekalkan melalui program Retooling itu dapat kita berikan sekarang kepada mahasiswa selama mereka kuliah maka sebenarnya kita sudah melakukan dua hal besar. Pertama bersungguh-sungguh, dalam mendampingi dan memfasilitasi mahasiswa yang sedang belajar, dengan memberikan yang terbaik – materi terbaik, strategi terbaik, frekuensi kehadiran kuliah terbaik, cinta terbaik, hubungan timbal balik terbaik dan sebagainya, sehingga jika seandainya setelah mereka lulus mereka tidak segera mendapatkan pekerjaan, perasaan berdosa kita akan berkurang karena kita dapat mengatakan ‘saya sudah melakukan yang terbaik untuk mereka’ dan, hal itu tentu disebabkan oleh belum terpenuhinya syarat-sayarat yang lain misalnya pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah sehingga tidak memungkinkan terciptanya lapangan kerja yang memadai. Kedua, kita sudah membantu pemerintah mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan program Retooling.

Hadirin yang saya muliakan,
Celah yang sudah saya upayakan adalah meningkatkan transferable sklills mahasiswa, yang berdasarkan hasil penelitian saya tiga tahun yang lalu (awal tahun 2006) menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Atas dasar hasil identifikasi tentang tingkat transferable skills mahasiswa tersebut selama tiga tahun ini, yaitu tahun 2006 – 2008 saya melakukan uji coba sampai saya dapatkan kesimpulan bahwa transferable skills tdapat ditkembangkan melalui peningkatan kualitas pembelajaran. Kesemuanya ini saya lakukan agar lulusan kita memiliki nilai pasar yang lebih baik dari waktu ke waktu, disamping meningkatkan competitive advantage mereka agar lebih mudah memenangkan persaingan pada dunia kerja. Sudah bertahun-tahun saya mencoba selalu memperbaiki kualitas pembelajaran statistika yang saya ampu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Upaya ini antara lain untuk menghilangkan image teman-teman mahasiswa bahwa statistika itu sulit, kering, membosankan dan sama sekali tidak menyenangkan. Saya selalu mencari cara strategis untuk meyakinkan dan membuktikan bahwa statistika itu tidak sulit dan perkuliahan statistika itu menyenangkan serta memberikan hasil yang luar biasa baik dalam hal peningkatan prestasi maupun transferable skills mereka. Saya lakukan upaya ini, dengan sepenuh hati dan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya untuk memenuhi salah satu kewajiban saya dalam rangka mensejahterakan mahasiswa sebagai stakeholder utama setiap perguruan tinggi, selama mereka kuliah dan setelah mereka lulus.

Hadirin yang saya muliakan,
Istilah kualitas merupakan kata kunci yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi termasuk yang ada di Indonesia. Di dalam strategi jangka panjang pendidikan tinggi (DGHE, 2004) disebutkan bahwa peningkatan kualitas dipandang sebagai strategi utama dalam meningkatkan nation’s competitiveness. Demikian juga pandangan negara-negara lain di dunia, seperti di Amerika, Inggris yang memiliki Quality Assurance Agency, atau Australia yang memiliki The Australian Higher Education Quality Assurance Framework. Semua Negara maju  memandang kualitas sebagai karakteristik yang sangat penting bagi sektor pendidikan tinggi pada saat  ini, baik menurut pemerintah maupun kalangan universitas. Di samping itu, hasil penelitian yang menyangkut pendidikan tinggi sebagai industri pelayanan dan pusat inovasi berbagai pengetahuan yang dilakukan oleh Siswandari (2006; 2007); Siswandari & Susilaningsih (2006, 2007, 2008)); Rademakers (2005) dan Sahney, Banwet & Karunes (2003), meng¬informasikan bahwa universitas memang sudah seharusnya mencanang¬kan inovasi di bidang penanaman nilai-nilai yang utama, pengetahuan dan keterampilan sebagai prioritas utama.

Era globalisasi yang dimulai pada abad XXI ini sudah selayaknya dipandang sebagai era persaingan kualitas. Kenyataan ini membawa berbagai konsekuensi baru pada berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Konsekuensi baru itu antara lain adanya tuntutan terhadap lembaga pendidikan, terutama pendidikan tinggi, untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dalam arti yang luas dan mampu memenuhi permintaan pasar kerja dimana penguasaan berbagai teknologi baru dan keterampilan yang termasuk kedalam transferable skills semakin dituntut. Adanya konsekuensi tersebut, maka tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa pada era globalisasi ini universitas sebagai penyelenggara pendidikan yang berkualitas diposisikan sebagai kunci utama untuk memenuhi semua tuntutan itu.

Tuntutan dihasilkannya SDM yang berkualifikasi sesuai dengan permintaan pasar kerja – sebagai  konsekuensi logis dari era persaingan kualitas tersebut – tampaknya tidak dapat ditunda-tunda lagi, bahkan kita harus marathon untuk dapat memenuhinya. Hal ini disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa pada era globalisasi SDM dipandang sebagai sumberdaya utama dari competitive advantage baik pada bidang pendidikan maupun bisnis dan merupakan faktor kunci dalam reformasi ekonomi. Namun demikian, menurut beberapa hasil penelitian hanya SDM yang mampu menunjukkan kinerja pada level yang tinggi di dalam  sistem kerja yang baik yang dapat meningkatkan competitive advantage tersebut. Dengan demikian tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa untuk menghadapi era globalisasi, SDM yang mampu bersaing memang mutlak diperlukan. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, hampir setiap pihak yang berkepentingan menyandarkan harapannya pada institusi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Mereka mengharapkan agar perguruan tinggi benar-benar mampu meng¬hasilkan SDM unggul yang mampu bersaing dan memainkan perannya baik sebagai pakar akademik, tenaga kerja dengan kinerja unggul maupun sebagai agen pembaharu. Di samping itu, pendidikan dan berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi di suatu perguruan tinggi sebaiknya juga lebih diarahkan pada pemahaman dan manajemen keragaman budaya interpersonal dan penguasaan keterampilan yang dibutuhkan. Hal ini diperlukan antara lain untuk menyelaraskan dampak keragaman budaya pada saat diperlukan kerjasama dimanapun mereka bekerja. Mengenai spesifikasi keterampilan yang sebaiknya dimiliki oleh setiap calon SDM sangatlah beragam terutama yang terkait dengan transferable skills yang saat ini menjadi fokus pembicaraan di berbagai Negara maju termasuk Inggris (Siswandari, 2006)

Kepemilikan transferable skills bagi SDM yang siap bekerja  dan bagi calon lulusan pendidikan tinggi saat ini menjadi isu yang sangat signifikan pada dunia pendidikan tinggi pada berbagai negara karena keterampilan inilah yang benar-benar dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat mereka bekerja.  Namun demikian, mengkaji empat isu strategis berikut ini cukup mengisyaratkan adanya kecenderungan belum dikembangkannya transferable skills tersebut secara memadai di kalangan pendidikan tinggi, padahal transferable skills tersebut dapat ditingkatkan melalui berbagai media termasuk melalui peningkatan kualitas pembelajaran berbagai mata kuliah yang dipilih sebagai sarana.

B.    LIMA KATA KUNCI SEBAGAI UPAYA MERAIH KEUNGGULAN BERSAING MELALUI PEMANFAATAN INOVASI ICT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Pada masa sekarang ini pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology, ICT) merupakan  fasilitas bagi sumberdaya manusia (SDM) untuk mempertahankan keberlanjutan suatu lembaga dimana mereka bekerja (Jarboe, 2005; AeA, 2005; Sahney, Fawcett, Rhoads & Burnah, 2004; Banwet & Karunes, 2003; Mangundayao, 2003; Lievens, van Dam & Anderson, 2002 ; Mazzarol, Hosie, Jacobs, 1998; Somekh, 1998; NEA, 1995). Ada lima kata kunci yang terkait dengan pemanfaatan ICT yang dapat dijadikan salah satu referensi.
Kata kunci pertama adalah messiness, dimana inovasi membutuhkan individu-individu untuk memahami situasi yang bersifat non-mekanik, dengan kata lain setiap individu harus mampu mengelola perubahan dan memahami kompleksitas situasi karena adanya perubahan itu, baik yang menyangkut perbedaan motivasi, perbedaan kemampuan, perbedaan respon dan sebagainya.
Kata kunci kedua adalah kekuatan setiap individu untuk memberikan kontribusi positif pada saat membawa perubahan tersebut. Hasil penelitian memberikan bukti dimana setiap individu hendaknya memahami bahwa struktur organisasi (dimana yang bersangkutan bekerja) berpotensi untuk menghalangi perubahan itu dan melakukan pencegahan. Jika pencetus perubahan berpikir tentang kolega maka tidak perlu kecewa seandainya ada yang mengatakan bahwa perubahan semacam itu pernah dilakukan namun tidak berhasil, atau tidak dapat menjalankan perubahan itu, pimpinan akan kecewa dan sebagainya, dimana kesemuanya itu hanyalah perasaan terancam dan tidak berdaya karena mereka kesulitan atau mempunyai perbedaan motivasi atau asumsi.
Kata kunci ketiga adalah partnership dimana penekanan lebih difokuskan pada pengembangan pemahaman bersama dan mengajak orang untuk menciptakan critical mass.
Kata kunci keempat adalah mengembangkan profesionalitas dosen sebagai pusat dari proses perencanaan dan implementasi perubahan. Keterlibatan dalam proses pengelolaan perubahan terfokus pada diri sendiri sebagai bentuk efektif pengembangan staf.
Kata  kunci kelima adalah integrasi antara teori dan praktek

Dari kelima konsep tersebut tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa keberhasilan dalam menerapkan inovasi ICT dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran tergantung dari individu dan organisasi, yaitu individu yang proaktif terhadap perubahan dan percaya diri dan organisasi belajar atau yang sering disebut sebagai learning organization.

Learning organization is an organization that has developed the continuous capacity to adapt and change (Robbins, 2003: 573), dengan demikian organisasi belajar adalah suatu organisasi yang telah mengembangkan kapasitas bersinambung untuk menyesuaikan diri dan berubah. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa organisasi belajar adalah organisasi yang menerapkan organizational learning – yaitu proses dalam mana suatu organisasi secara terus menerus meningkatkan dirinya untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Berikut ini adalah karakteristik dari learning organization yang dikemukakan oleh Robbins (2003: 574)

1.    Ada visi bersama yang disepakati oleh semua orang
2.    Orang membuang cara berpikir dan standar rutin yang lama (yang lalu), yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah atau melakukan pekerjaan
3.    Para anggota organisasi memikirkan semua proses, kegiatan, fungsi, dan interaksi dengan lingkungan sebagai bagian dari suatu sistem antar hubungan (interrelationship)
4.    Orang saling berkomunikasi secara terbuka (melintasi batas vertikal dan horisontal) tanpa rasa takut terhadap kritik atau hukuman.
5.    Orang menghilangkan pamrih pribadi atau kepentingan departemen  untuk bekerjasama dalam rangka mencapai visi organisasi

C.    KONSEP TRANSFERABLE SKILLS  & KOMPETENSI
Para Hadirin yang saya muliakan,
Secara umum skills adalah kompetensi spesifik yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan, yang beragam sesuai dengan keragaman aktivitas dan dapat dikembangkan selama proses pembelajaran berlangsung (Robbins, 2003 : 465; Vecchio, 1992 : 78; Nelson & Quick,  1994 : 21).  Sedangkan transferable skills adalah ketrampilan yang dapat ditransfer di tempat kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Dari, semua ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang transferable skills merupakan ketrampilan utama yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja sebab transferable skills ini merupakan portable skills yang dimiliki seseorang dan siap dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja (Copland 2006; Smith, 2003; QAA, 2000). Kelompok skills yang portabel sebagaimana dimaksud dapat dilihat pada A Skills Framework yang tertera pada         Gambar-1. Pemikiran dan pengembangan konsep ini didasarkan pada hasil beberapa penelitian di pasar kerja global tentang skills yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna kerja (University of Cambridge 2004; University of Westminster 2004).
Sejak beberapa tahun yang lalu transferable skills dikembangkan oleh University of Westminster (2004) dan University of Cambridge (2004). Prinsip dasar dari pengembangan transferable skills mahasiswa ini adalah “dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas pembelajaran” selama masa studi berlangsung. Konsep ini sampai saat ini terus dikembangkan di kedua universitas tersebut terutama pada University of Westminster namun belum diukur. Karena curiosity yang tinggi saya mencoba mulai mengukur¬nya sejak tahun 2006 yang lalu, sampai tahun ini dan akan terus saya lakukan pada tahun-tahun mendatang sampai saya meyakini bahwa konsep tersebut memang benar dan universitas manapun yang mempunyai mimpi untuk menjadi penghasil lulusan kerja tentu akan berpikir untuk mengembang¬kannya.

Gambar-1 A Skills Framework

Hadirin yang saya muliakan,
Pondasi kompetensi yang baik dibangun dari bahan soft skills yang baik, ciri kepribadian yang diterima masyarakat, dan nilai-nilai yang unggul. Hal ini diperlukan agar pengetahuan dan hard skills yang dikembangkan oleh seseorang menjadi lebih berarti karena yang bersangkutan meniatkannya dengan tujuan yang baik dan untuk kebaikan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pengetahuan yang dikembangkan tidaklah akan besar manfaatnya jika dalam proses pengembangannya tidak didasari oleh nilai-nilai yang mengandung kebaikan bagi umat manusia. Soft skills yang dikembangkan seyogyanya dipilih dari aspek-aspek yang transferable sehingga transferable skills yang dimiliki mahasiswa benar-benar dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat mereka kelak (Siswandari, 2006 ; Siswandari dan Susilaningsih, 2006; 2007; 2008), misalnya: (1) Kemampuan berkomunikasi secara efektif didalam tim kerja (ingat bahwa kemampuan berkomunikasi termasuk kedalam soft skill); (2) Kemampuan bernegosiasi dengan win-win solution (harap diingat pula bahwa kemampuan bernegosiasi saja termasuk kedalam soft skill); (3) Kemampuan  menilai manfaat penggunaan IT secara benar; (4) Kemampuan bekerjasama didalam kelompok dengan mematuhi pembagian kerja dan tanggungjawab; (5) Kemampuan menghargai orang lain berdasarkan kompetensi yang dimiliki; (6) Kemampuan memimpin tim secara adil dan demokratis
Selanjutnya, ciri kepribadian yang dianggap sangat penting untuk dikembangkan (Loogma, 2004; Parry, 1998)) antara lain: (1) Bertanggung¬jawab; (2) Jujur; (3) Inisiatif; (4) Setia; dan (5) Mandiri.
Disamping itu, ciri kepribadian lain yang sebaiknya juga dikembangkan adalah: (1) Percaya diri (karena Allah akan memberikan kekuatan dan petunjuk jika seseorang berniat melakukan kebaikan); (2) Pemurah (tidak pelit) secara material dan non-material misalnya dalam hal membagi pengetahuan dan keterampilan atau menunjukkan nilai-nilai yang menurut pengukuran tertentu dipandang baik; (3) Pekerja keras; (4) Peduli terhadap lingkungan kerja dan sosial
Demikian pula nilai-nilai unggul yang sebaiknya dikembangkan antara lain: (1) Memiliki etos kerja yang unggul dimana dosen memiliki pandangan bahwa kerja harus dilakukan atas dasar pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang benar, malu jika hasil pekerjaanya kurang baik, dan selalu meningkatkan kualitas hasil kerja dari waktu ke waktu; (2) Selalu berusaha untuk ”do the best” sehingga tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya bahwa pekerjaan akan dilakukan  sekadarnya tanpa perencanaan dan hasil yang dapat diukur atau diamati; (3) Selalu berorientasi pada ”action” dan ”product”, tidak cenderung menghabiskan waktu untuk bicara yang tidak karuan dan tanpa hasil; (4) Meyakini bahwa pekerjaan apapun harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada atasan di dunia namun terutama harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa setelah yang bersangukutan meninggal dunia; (5) Tidak mengambil hak orang lain; Selalu berupaya untuk bersikap adil bahkan terhadap ”musuh” dengan semangat untuk kebaikan penyelenggaraan institusi
Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar-2 Unsur yang Membangun Kompetensi (Siswandari, 2007)

D.    PENGEMBANGAN INSTRUMEN NON-TES
Hadirin yang saya muliakan,
Melalui penelitian yang dibiayai oleh DP2M Dikti dari scheme Hibah Bersaing, selama tiga tahun terakhir ini saya dan co researcher saya yaitu Ibu Dra. Susilaningsih, MBus (yang sekarang sedang menempuh program Doktor di Universitas Negeri Malang) telah mengembangkan instrumen untuk mengukur tingkat transferable skills mahasiswa versi Indonesia (Siswandari, 2006; Siswandari & Susilaningsih 2006; 2007; 2008). Instrumen ini sudah didaftarkan untuk memperoleh HAKI dengan nomor Pendaftaran HAKI C00200801756) Tahun 2008. Instrumen versi tahun 2008 ini terdiri dari 50 pernyataan yang dapat dimanfatkan untuk melakukan deteksi awal tentang tingkat transferable skills mahasiswa. Saya yakin bahwa transferable skills ini baru dikembangkan di Universitas kita yang tercinta ini dan baru universitas kita yang mengukur serta berupaya terus untuk mengembang¬kan¬nya meskipun baru pada tahap pilot project.
E.    PENGINTEGRASIAN TRANSFERABLE SKILLS YANG AKAN DITINGKAT¬KAN KEDALAM KURIKULUM DAN MANFAAT YANG DAPAT DIPEROLEH

Para Hadirin yang saya muliakan,
Setiap program studi dapat mengembangkan transferable skills mahasiswa melalui berbagai mata kuliah yang relevan, yang memang secara sengaja dipilih sebagai sarana pengembangannya. Transferable skills yang akan dikembangkan tercantum secara eksplisit didalam Silabi mata kuliah yang ”diamanahi” untuk mengembangkannya. Pada saat jurusan atau program studi tertentu bersepakat untuk mengembangkannya selama delapan semester maka setelah lulus mahasiswa tentu sudah terbekali dengan keterampilan yang jauh lebih baik sehingga mereka akan lebih siap memasuki dunia kerja.

Manfaat dari pengembangan transferable skills ini terutama terkait dengan aspek penjaminan mutu di bidang pendidikan dalam aspek proses pem¬belajaran. Dalam hal ini, pembelajaran sebagai inti dari aspek pendidikan haruslah berorientasi pada lulusan kerja. Dengan memanfaatkan konsep yang sudah teruji melalui beberapa hasil penelitian ini diharapkan  pelaku pendidikan yang berminat dapat seoptimal mungkin mempertimbangkan beberapa aspek relevan yang dapat dimasukkan kedalam benchmark statements yang ingin dicapai. Dengan memasukkan benchmark statements terutama yang terkait dengan transferable skills mahasiswa, diharapkan setiap pendidikan tinggi dapat menyiapkan lulusannya secara memadai sehingga memiliki nilai pasar melalui mekanisme penjaminan mutu seperti yang telah digariskan oleh Depatemen Pendidikan Nasional, Dirjen DIKTI.

Disamping itu, melalui hasil penelitian yang terkait dengan transferable skills ini diharapkan dapat mendorong pengembangan dan penerapan model-model aplikatif yang dapat dihasilkan dari berbagai penelitian pengem¬bangan transferable skils. Hal ini merupakan salah satu upaya partisipatif untuk memenuhi spesifikasi permintaan pasar tenaga kerja era globalisasi. Spesifikasi tersebut terutama yang terkait dengan tuntutan profil SDM yang ternyata sangat bervariasi, baik ditinjau secara mikro maupun makro dimana setiap pasar tentu mempersyaratkan serangkaian kemampuan dan keteram¬pilan berbeda yang harus dimiliki oleh tenaga kerja dimana kemampuan berbahasa Inggris sebagai modal memasuki pasar internasional hanya merupakan salah satu krtiteria dari sekian banyak kriteria yang diper¬syaratkan pada masa perubahan ini.

Disamping itu, dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki keunggulan bersaing (competitive advantage) dan nilai pasar yang tinggi maka hal yang sebaiknya dipikirkan (disamping pemikiran tentang peningkatan knowledge and understanding) adalah meningkatkan keteram¬pilan calon lulusan pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Keterampilan yang dimaksud adalah yang tercakup di dalam apa yang disebut sebagai transferable skills. Peningkatan keterampilan ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain seperti yang telah diuraikan diatas dan melalui pengembangan hidden curriculum untuk semua mata kuliah yang dipilih sebagai sarana peningkatan transferable skills maha¬siswa. Hidden curriculum dapat dikembangkan tanpa batas dan dosen dapat sangat leluasa memilih strategi untuk mengembangkan hidden curriculum sebagaimana yang dimaksud. Melalui penyelenggaraan proses pem¬belajar¬an yang dirancang dan terus dikembangkan dengan baik (sampai mem¬buahkan suatu keunikan positif), diharapkan lulusan pendidikan tinggi akan memiliki nilai pasar yang lebih tinggi dan competitive di pasar kerja inter¬nasional!

F.    MODEL PEMBELAJARAN STATISTIKA YANG DAPAT MENINGKATKAN TRANSFERABLE SKILLS MAHASISWA

Para Hadirin yang saya muliakan,
Pada kesempatan ini saya ingin ‘sharing’ tentang kasus pembelajaran statistika yang telah saya lakukan yang ternyata dapat meningkatkan transferable skills mahasiswa. Prosedur pembelajaran yang saya lakukan saya kemas dalam tiga langkah strategis untuk 16 kali pertemuan berikut ini.

1.    Pertemuan Tahap Awal
a.    Penyampaian silabi secara tertulis
b.    Penyampaian kegiatan belajar mengajar terutama adanya praktek Lab pada pertemuan-pertemuan sebagaimana yang telah disepakati bersama
c.    Penyampaian Bahan Ajar
d.    Penyampaian Petunjuk Praktis Mengoperasikan MINITAB
e.    Penyampaian soal-soal latihan
f.    Penjelasan tentang pentingnya Transferable Skills yang diupayakan peningkatannya oleh dosen dengan dukungan yang berupa partisipasi positif dari mahasiswa selama proses pembelajaran berlangsung
g.    Penjelasan tentang prosedur penilaian
h.    Pengisian instrumen Transferable Skills (tahap awal)
i.    Pengamatan tentang kemampuan awal mahasiswa (termasuk kemampuan mempresentasikan topik statistika deskriptif, dipilih secara random)

2.    Pertemuan Selama Proses Pembelajaran Berlangsung
a.    Penyampaian konsep di ruang kuliah
1)    Per topik sesuai dengan urutan materi sebagaimana yang tercantum didalam silabi
2)    Penjelasan tentang pentingnya menguasai software pengolah data seperti MINITAB dengan baik
3)    Pendemonstrasian perhitungan statistik dengan komputer (divisualisasikan melalui laptop dan LCD) sambil menekankan hal-hal penting yang harus diperhatikan dari hasil pengolahan data dengan software MINITAB yang sedang divisualisasikan,  misalnya model yang diperoleh dan p-value untuk analisis regresi
4)    Penyampaian beberapa pesan moral dan nilai-nilai yang baik
5)    Mahasiswa, ditunjuk secara random, diminta ikut mencoba melakukan di depan kelas seperti apa yang telah dilakukan oleh dosen (dilakukan agar mahasiswa semakin termotivasi untuk melakukan pengolahan data dengan komputer dan meng-apresiasi teknologi)
6)    Penjelasan print out
7)    Penekanan pada beberapa langkah-langkah penting yang harus dilakukan agar pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien (terutama untuk topik ANOVA ONE-WAY)

b.    Praktek di Laboratorium Komputer
1)    Memberikan penjelasan umum, terutama yang terkait dengan:
a)    Memulai program MIN ITAB for Windows
b)    Menjelaskan fungsi “Worksheets”
c)    Menjelaskan fungsi “Command line editor”
d)    Menjelaskan cara meng – entry data secara efisien
e)    Menjelaskan Menu “STAT”
f)    Menjelaskan pengolahan data melalui menu “STAT”
2)    Mahasiswa melakukan praktek sesuai dengan prosedur seperti yang telah dijelaskan
3)    Mahasiswa mengerjakan tugas-tugas terstruktur
4)    Praktek Lab dilakukan selama 300 menit

c.    Evaluasi
1)    Tugas (2 kali)
2)    Latihan mandiri
3)    Latihan terbimbing/tutorial
4)    Presentasi & diskusi
5)    Ujian I
6)    Ujian II

d.    Penyampaian umpan balik (feed back)
1)    Membahas tugas (yang sudah dikoreksi dan dikembalikan kepada mahasiswa)
2)    Membahas hasil ujian I (yang sudah dikoreksi dan dikembalikan kepada mahasiswa)
3)    Memberikan penjelasan ulang untuk topik atau sub topik yang belum dikuasai mahasiswa
4)    Penekanan pemanfaatan statistik untuk penelitian dalam rangka menyusun tugas akhir (skripsi) berdasarkan survey.

3.    Pertemuan Tahap Akhir
a.    Pengisian instrument Transferable Skills (tahap akhir)
b.    Ulasan umum

MODEL PEMBELAJARAN STATISTIKA YANG DAPAT MENINGKATKAN TRANSFERABLE SKILLS MAHASISWA
(Siswandari, 2006; Siswandari & Susilaningsih, 2006; 2007; 2008)

G.    HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN DAN DISEMINASI YANG SUDAH DILAKUKAN

1.    Penyelenggaraan pembelajaran sebaiknya diupayakan berfokus pada mahasiswa (student oriented) dan dosen merupakan fasilitas utama yang benar-benar dapat diandalkan oleh mahasiswa untuk memberikan dukungan penuh terhadap keberhasilan belajar mahasiswa. Secara konseptual, salah satu peran universitas adalah menyiapkan lulusannya melalui proses pembelajaran agar dapat beradaptasi dengan masa depan, universitas harus merubah cara pandangnya terhadap pembelajaran dimana mengajar sebagai kegiatan ritual harus diubah menjadi komitmen ”mahasiswa belajar”. Fokus setiap universitas antara lain adalah mahasiswa yang sedang belajar, produktivitas akademik dan performansi organisasi (Srikanthan & Dalrymple, 2004; Scott 2003). Analisis penyelenggaraan pembelajaran dalam model yang dihasilkan ini terutama dilakukan dalam rangka menetapkan transferable skills apa saja yang sangat dimungkinkan untuk dikembangkan melalui pembelajaran statistika berbantuan komputer yang sejak awal telah dirancang dengan seksama. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya ada 14 aspek transferable skills  telah terbukti meningkat melalui perbaikan kualitas pembelajaran, termasuk lima aspek yang ditargetkan, yang diberi tanda (*) setelah proses pembelajaran  statistika berbantuan MINITAB for windows selesai yaitu kemampuan untuk:
1.    Melatih orang lain (*)
2.    Menghitungan dengan memanfaatkan computer
3.    Membedakan penggunaan IT
4.    Troubleshooting
5.    Mengumpulkan data (*)
6.    Menghitung secara manual (*)
7.    Mengembangkan database
8.    Memanfaatkan spreadsheets
9.    Menafsirkan grafik (*)
10.    Menguji hipotesis
11.    Menafsirkan hasil pengolahan data
12.    Mempresentasikan hasil pengolahan data
13.    Memanfaatkan data empiris untuk mengerjakan tugas
14.    Mengolah data dengan menggunakan komputer (*)
Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa peningkatan kualitas pem¬belajaran dapat meningkatkan transferable skills mahasiswa sebagai calon lulusan dan sekaligus calon SDM lulusan pendidikan tinggi yang semakin membutuhkan berbagai ketrampilan untuk memudahkan mereka memasuki pasar kerja. Kepemilikan transferable skills ini akan relatif dirasa semakin penting pada saat semua pihak yang terlibat dalam penyeleng¬garaan pendidikan dan pembelajaran, terutama dosen, menyaksi¬kan tinggi¬nya angka pengengguran setelah mereka lulus.
2.    Persepsi mahasiswa tentang pemanfaatan MINITAB for windows antara lain mengungkap kebermanfaatan software tersebut dalam meningkatkan semangat belajar mandiri dan mendukung suasana belajar yang menye¬nang¬kan (Siswandari, 2006)
3.    Transferable skills mahasiswa dan prestasi statistika mereka meningkat dua kali lipat setelah mereka mengikuti proses pembelajaran statistika dengan bantuan MINITAB for windows

Hasil penelitian ini mendukung teori pengembangan skills dan transferable skills yang dikemukakan oleh Copland (2006, 2004) maupun Curzon (1985), dimana transferable skills ini dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran ini antara lain dapat diterjemahkan oleh peneliti kedalam peningkatan tiga tahap proses pembelajaran yaitu (1) tahap perencanaan atau perancangan pembelajaran, (2) tahap pelaksanaan pembelajaran dan (3) tahap pengukuran. Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa pengembangan transferabkle skills mahasiswa dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pembelajaran secara terpadu (terutama yang berkaitan dengan perumusan tujuan pembelajaran yang didasarkan pada kurikulum dan hasil kajian atau prediksi terhadap permintaan pasar kerja;  perancangan strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan – terutama transferable skills dan sikap positif mahasiswa untuk terus mengembangkannya dalam rangka menunjang pencapaian kehidupan yang lebih baik, dan implementasi dari langkah strategis yang telah dirancang tersebut). Hal ini antara lain dimaksudkan untuk mewujudkan tanggungjawab lembaga pendidikan tinggi terhadap stakeholders terutama kepada mahasiswa sebagai calon lulusan yang akan segera memasuki dunia kerja agar memiliki transferable skills yang memadai dan memenuhi tuntutan pengguna kerja yang membutuhkan berbagai spesifikasi ketrampilan dari SDM yang akan dipekerjakan.

Selanjutnya dapat saya dikemukakan bahwa diseminasi tentang konsep transferable skills dan implementasinya antara lain disebarluaskan melalui beberapa media berikut ini
1.    Peningkatan Transferable Skills Mahasiswa: Upaya Memperbaiki Kualitas SDM Lulusan Pendidikan Tinggi (Jurnal Ekonomi Arthavidya Nomor 3 –Nopember 2006 – Accredited Journal, yang telah diakreditasi melalui SK Dirjen DIKTI  No. 23a/DIKTI/Kep/2004
2.    Kompetensi, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum, dan Pening¬katan Kualitas Pendidikan Berkelanjutan (Jurnal Pendidikan Dwija Wacana Jilid 8 No. 1, Mei 2007 – Jurnal Terakreditasi SK Dirjen DIKTI  No. 23a/DIKTI/Kep/2004 tgl 4 Juni 2004)
3.    Pengembangan Model Pembelajaran Statistika Untuk Meningkatkan Transferable Skills Mahasiswa: Upaya Meningkatkan Daya Saing Lulusan (Jurnal Penelitian Pendidikan Paedagogia Jilid 9 No. 2 Agustus 2007 – Jurnal Terakreditasi SK Dirjen DIKTI  No. 23a/DIKTI/Kep/2004 tgl 4 Juni 2004)

Selain itu hasil penelitian tentang pengembangan transferable skills tersebut sudah saya presentasikan di berbagai forum seperti:
1.    “Model Pembelajaran Statistika Berbasis Kompetensi: Upaya Pening¬katan Transferable Skills Mahasiswa” disampaikan pada workshop penyempurnaan kurikulum Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. 9 dan 23 Pebruari 2007
2.    “Skills: Hard Skills, Softskills and Transferable Skills for Education Studies” disampaikan pada Seminar Nasional Tantangan Soft Skills bagi Pendidikan Tenaga Kependidikan yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Sebelas Maret, 5 April 2007
3.    “Developing 33 aspects of students’ transferable skills” one of the alternatives in replacing Retooling Program for un/under employed HE graduates disampaikan pada Seminar Nasional Pemanfaatan IPTEKS Dalam Rangka Penguatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang diselenggarakan oleh LPPM Universitas Sebelas Maret, 21 April 2007
H.    TESTIMONY

Hadirin yang saya muliakan,
Saya selalu mendapatkan testimony dari mahasiswa, baik melalui SMS maupun melalui surat atau hasil penilaian mahasiswa atas pembelajaran statistika yang saya lakukan. Berikut ini adalah beberapa testimonial statements – dari sekian banyak testimony yang saya terima – baik dari mahasiswa maupun dari peserta pelatihan yang mengikuti paparan saya tentang Statistika atau Statistik Dalam Penelitian Kuantitatif, yang saya terima dalam dalam empat tahun terakhir ini.

    Cara ibu membelajarkan statistika dg bantuan komputer sangat menyenangkan, suasana belajar serius tapi santai. Sikap keterbukaan ibu membuat saya tidak takut bertanya dan saya jadi lebih senang mempelajari statistika (Helmi Winarni, 085647186604)
    Kuliah Yang Sangat Menyenangkan, Ada Minitab, Dosen Yang Baik, Keibuan, Ramah, Bersahabat Dan Penjelasannya Mudah Dimengerti. Kini Statistika Bukan Lagi Mata Kuliah Yang Mengerikan…… (Yoke Wandaningrum, 0856-251-8881)
    Saya Masih Bingung Dan Belum Lancar Menggunakan Minitab, Tapi Saya Mulai Menenangi Statistika  Dan Tidak Khawatir Bu….Karena Ada Ibu Yang Sabar Dalam Membimbing Saya (Murniati Rochimah, 085647235711)
    Dengan Minitab Dan Belajar Statistika Bersama Ibu Membuat Semuanya Jadi Lebih Mudah… (Eko)
    Cara Ibu Menyampaikan Minitab Bagus Banget, Ibu Sudah Akrab Di Hati Saya Meskipun Baru Pertama Kali Ketemu… (Umi Nur Qomariah, 081548741261)
    Sejak Pertemuan Pertama Saya Dengan Ibu, Saya Terus Tertarik Untuk Mempelajari Statistika, Lebih-Lebih Ketika Ibu Memperkenalkan Cara Menghitung Statistik Dengan Komputer……. (Sandra Dwi Lestari, 085229 020110)
    Senang..!, Bermanfaat, Menghemat Waktu Dan Saya Menikmati Pembelajaran Dengan Teknologi Komputer Ini (Dwi Susilo, 085647008807)
    Dengan Minitab, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti karena ada ibu yang membimbing (Etik)
    Penggunaan It Dalam Proses Pembalajaran Sangat Bermanfaat, Hemat Waktu, Persoalan Statistik Mudah Diatasi…Apalagi Dengan Bimbingan Ibu semuanya Jadi Lebih Mudah (Giyarni, 085296885470)
    Saat Membaca Judulnya Kayaknya Kami Pesimis Banget Untuk Dapat Mengerjakan. Tetapi Setelah Bu Siswandari Memotivasi Bahwa Sebenarnya One-Way Anova Sangat Mudah Kami Termotivasi Untuk  Bisa. Setelah Mendengarkan Dan Memperhatikan Penjelasan Ibu Akhirnya…. Benar! Hal Yang Sulit Menjadi Begitu Mudah. Semoga Dosen-Dosen Di Fkip Seperti Ibu Semua. Chayooo……!!!! (Nurul Kusniah 085725220004;  Wahyu Mustika 085647467145;Nur Indah P 085642028898)
    Pertama Melihat Tampaknya Sungguh Rumit Tapi Setelah Diterangkan Dan Mencoba Mengerjakan Soal Seperti Pendekatan Yang Dilakukan Bu Siswandari Ternyata Mudah Dan Tidak Memakan Waktu Lama Untuk Mengerjakannya. Love U Full Bu……. (Umi Syukriani Dkk 085642170978)
    Thanks Mom…… Now We Can Do statistic F Easily.I Promise That You Will Always Life In Our Soul…(Ryza Bakti Kusuma; Wiwik Nurfika; Sri Wahyuningsih; Niputra Dhanar W; Rohmad Sawaluddin)
    Setelah Menerima Kuliah Anava Satu Jalan Kami Merasa Lebih Paham Dan Mudah Mengerjakannya Sendiri Seperti Metode Yang Diperagakan Bu Siswandari. Kami Dapat Menyelesaikannya (Menghitung Statistik F) Dalam Waktu 5 Menit Dan Setelah Selesai Kami Dapat Tertawa Bangga  Haaa…. Haaa ….…. Haaa…… Haaaaaaa (RIZKY WORO 085642339869; SUNGGING 085728235709; UMI 085647064621; PUTRI NURAINI 08560496374; RINA DWI N 085630295288)
    Dengan segala ketulusan hati saya sampaikan Alhamdulillah kami mempunyai dosen statistika yang penuh dedikasi dan low profile seperti Ibu Siswandari. Ibu benar-benar membuat statistic tidak terlalu sulit dan dapat dipahami dengan mudah. Mungkin dosen seperti Ibu jarang dijumpai di Indonesia. Semoga Ibu selalu dalam keadaan sehat (085725252788; 14/10/2008 jam 15.36)

I.    PENUTUP: PENJAMINAN MUTU & PENINGKATAN KUALITAS BERKELANJUTAN

Para Hadirin yang saya muliakan,
Peningkatan kualitas pembelajaran  dari mata kuliah apapun yang digunakan sebagai sarana peningkatan transferable skills mahasiswa sebaiknya dimonitor dan dievaluasi dari waktu ke waktu sehingga baik kualitas pembelajarannya, peningkatan kognisi, peningkatan prestasi maupun pening¬katan transferable skills mahasiswa, baik yang tergolong kedalam hard skills maupun soft skills dapat diamati dan terukur dari waktu ke waktu sampai diyakini bahwa standar yang telah dicapai oleh dosen adalah yang terbaik. Dengan kata lain dosen sudah sampai pada level best practices atau khusnul khotimah untuk aspek pembelajarannya.

Hadirin yang saya muliakan,
Secara skematis peningkatan kualitas berkelanjutan sebagaimana yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut:

Transferable skills mahasiswa ini akan terus dikembangkan, dimonitor, diukur, dievaluasi, dan ditingkatkan kualitas implementasinya di lapangan. Tidak ada lain yang diharapkan kecuali semangat para dosen Universitas Sebelas Maret untuk menyumbangkan darma baktinya untuk mengimple¬mentasikan konsep pengembangan transferable skills ini (yang saya pandang sebagai salah satu “proyek unggulan”) pada semua jurusan dan program studi serta BKK yang antara lain dalam rangka efisiensi dana pendidikan (karena pemerintah tidak perlu lagi menyelenggarakan Retooling Program for un/under employed Higher Education graduates yang mem¬butuh¬kan dana milyard-an rupiah per tahun disamping  peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan.

Hadirin yang saya muliakan,
Puji syukur dengan sepenuh hati saya haturkan kehadirat Allah SWT yang limpahan nikmat dan kasih sayangNya sangat besar kepada saya, yang selalu memenuhi janji NYA: “setelah kesulitan pasti ada kemudahan”, yang telah mengajari saya untuk selalu bekerja dengan sangat baik atas dasar prioritas utama, untuk menghargai dan mengatur waktu, dan membuat academic writing yang baik melalui Rasul Pilihan dan Penghulu Para Nabi: Muhammad SAW, lewat risalah-risalah didalam Al-Qur’anul Karim.
Sholawat, cinta serta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW yang telah memberi berbagai contoh yang baik, yaitu teladan bagaimana seharusnya seorang muslim menjadi “rahmatan lil alamin” dan menjadi seorang abdi yang penuh kehormatan diri dan kesadaran terhadap semua kegiatan yang akan dipertanggungjawabkan kelak sesudah kehidupan ini berakhir.
Mengakhiri pidato saya ini, perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Pendidikan Nasional, yang telah mengangkat saya dalam jabatan Guru Besar untuk bidang ilmu Statistika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada Pimpinan dan Anggota Senat Universitas Sebelas Maret beserta Pimpinan dan Anggota Senat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah menyetujui, mengusulkan, dan memproses pengangkatan guru besar saya. Tak lupa ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS, Ketua dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Ketua dan Sekretaris Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, dan seluruh dosen di Jurusan Pendidikan IPS, terutama dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi, yang selama ini telah memberi bantuan dan kerjasama yang sangat baik. Terimakasih kepada semua Senior saya terutama Prof. Haris Mudjiman, MA, Ph.D, Prof. DR. Ambar Mudigdo, dr.Sp.PA (K), Prof. Dr. Soetarno Joyoatmojo, Prof. DR. Sigit Santosa, M.Pd, Prof. Dr. M. Syamsulhadi, dr. Sp.KJ (K), Prof. Dr. Sri Anitah, M.Pd, Prof. Dr. Aris Sudyanto, dr. Sp.KJ(K), Prof. Dr. Budiyono, M.Sc,            Prof. Dr. Sunardi, M.Sc, dan Dr. Suyatno Kartodirdjo karena berbagai ilmu dan motivasi yang diberikan sehingga saya terus belajar dan berbakti kepada UNS. Saya juga mengucapkan terimakasih yang tulus kepada semua sahabat saya terutama kepada kedua sahabat saya yang sering memberikan inspirasi untuk pekerjaan akademis yang saya lakukan yaitu Ibu Dra. Susilaningsih, MBus  dan Ibu Asminah Rachmi, SE, MBA yang sekarang keduanya sedang menempuh program Doktor. Kepada semua teman saya staf administrasi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, pada khususnya terutama kepada Bu Aris dan Mas Midin, dan di Universitas Sebelas Maret, pada umumnya – terutama teman-teman yang ada di bagian kepegawaian universitas: Bu Eny, Pak Danang, Pak Pri, Pak Djoko, Pak Dur, Pak Haryanto, Mas Willy, Dik Dian, Dik Ana dan semuanya yang banyak membantu saya. Terimakasih kepada para senior dan teman-teman saya di Lembaga Pengembangan Pendidikan baik dari kalangan peer group maupun staf administrasi: Pak Hendri, Bu Sari, Dik Yenny, Dik Bagus dan juga Eros & Yusuf atas segala partisipasinya. Terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada semua sahabat saya dari kalangan peer group: Pak Edy Tri, Pak Edy Legowo, Pak Joko Sutrisno, Bu Ratna, Dik Santi, Dik Tutik, Mami Andri dan semuanya maupun adik-adik staf administrasi di Pusat Pengembangan Kewirausahaan yang telah banyak membantu saya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memungkinkan saya mendapatkan gelar guru besar dan dikukuhkan pada hari ini.
Terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada para guru saya, di Sekolah Dasar Negeri I Sanansari Malang, SMP Negeri 5 Malang, SMA Negeri I Malang, para dosen saya di FKIS IKIP Negeri Malang terutama penghargaan yang tinggi kepada almarhum Prof. Bambang Yuwono yang menjadi teladan terbaik bagi saya, dosen-dosen saya di Department of Statistics–School of Mathematics – Faculty of Science – The University of New South Wales, New South Wales Australia terutama kepada Supervisor saya Prof. DR. D.J. Street dan Prof. DR. McGilchrist yang selalu memberi dorongan kepada saya untuk menyelesaikan studi tepat waktu dan juga untuk dosen-dosen saya di Universitas Negeri Malang, atas bimbingan dan pendidikan yang telah diberikan kepada saya, yang merupakan bekal yang sangat berharga bagi saya dalam mengarungi bahtera hidup ini. Kepada pembimbing disertasi saya, almarhum Bapak Prof. H.M. Zaini Hasan, M.Sc, Ph.D; Bapak Prof. Dr. Salladien dan Ibu Prof. Dr. Djumilah Zain, SE saya mengucapkan terima kasih. Secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Prof. Dr. Djumilah Zain, SE yang telah mengapresiasi pemikiran saya tentang transferable skills yang saya tuangkan kedalam disertasi dengan cara meminta saya mendiseminasikan hasil penelitian saya itu di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dalam empat kesempatan yang berbeda pada tahun 2007 yang lalu. Terimakasih karena Ibu juga bersedia menunggui saya saat ini. Terima kasih juga saya haturkan kepada Bapak Prof. Dr. Salladien yang telah menurunkan ilmu tentang meneliti kepada saya. Upaya Bapak itu sungguh tidak sia-sia karena saya telah membuktikan lewat beberapa penelitian kompetitif, yang karena kemurahan Allah, dapat saya menangkan pada tiga tahun terakhir ini.
Dalam lingkup yang lebih pribadi, pertama-tama saya haturkan terima kasih yang tak terhingga disertai cinta dan penghargaan yang tulus kepada Ibu dan Bapak saya, Bapak Ma’oen Hadiwidjojo yang keduanya telah berada di sisi Allah SWT dimana sejak 38 tahun yang lalu, yaitu pada saat saya berumur 11 tahun Bapak sudah meninggalkan saya. Terima kasih untuk pendidikan berbasis moral dan bermuara pada kebermanfaatan bagi orang banyak, yang telah beliau berdua tanamkan kepada saya sejak saya masih kecil. Terimakasih untuk pendidikan agar saya biasa bertanggungjawab dengan sangat baik, kalau tidak boleh saya katakan terbaik. Terima kasih karena saya telah belajar banyak tentang makna bertanggungjawab dan mencintai, tentang indahnya mengenang akhirat, dan tentang nikmatnya menjauhi kemegahan duniawi. Saya yakin Ibu dan Bapak dapat memandang putranya yang ke-4 saat ini. Semoga saya dapat menjadi salah satu bukti bahwa Ibu dan Bapak telah mengemban amanah Allah dengan sangat baik.Terimakasih untuk cinta dan kasih Ibu yang seperti matahari. Terima kasih untuk pembebasan yang Ibu berikan kepada saya. Saya yakin tidak ada di dunia ini seorang Ibu yang dengan suka rela menyatakan dengan penuh cinta – membebaskan putrinya untuk tidak menikah. Semoga Allah Yang Maha Pemurah, memberikan semua pahala dari berbagai kebaikan yang timbul karena jabatan guru besar saya, karena tulisan ini dan berbagai tulisan rangkaiannya sesudah tulisan ini kepada Ibu dan Bapak saya dan memberikan kepada beliau berdua sorga yang penuh kenikmatan.
Secara khusus saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Mas saya Achmad Siswanto dan Mbakyu saya Susilaningsih yang selama 26 tahun ini telah menemani saya dalam suka dan duka dan mendukung semua kegiatan akademik saya untuk UNS selama 24 tahun ini mulai dari menyiapkan makanan bergisi sampai menunggui saya jika saya harus bekerja di tempat yang saya cintai ini sampai larut malam, dan kesemuanya itu sungguh memberikan kontribusi yang signifikan sehingga saya berada disini saat ini. Terimakasih untuk doa, cinta dan kasih sayang sampean yang tulus dan tanpa pamrih.
Masih dalam lingkup keluarga, saya mengucapkan terimakasih kepada semua Mas, Mbakyu serta adik-adik saya – beserta keluarga – yang sekarang hadir di ruangan yang sangat mulia ini, terutama Mas Siswoyo yang pada saat remaja dulu telah bersedia menjadi guru saya untuk membaca Al-Quran dan memberikan pendidikan kepada saya untuk menjadi perempuan yang mandiri, cerdas dan maju. Kepada Mbak Watik yang membantu Ibu saya mengatur makanan dan pakaian saya sewaktu saya masih kecil. Terimakasih juga saya sampaikan kepada kedua adik saya, dik Yayuk dan Dik Wiwin yang menjadi motivasi saya untuk terus bekerja keras dan menjadi saksi bahwa saya adalah mbakyu yang penuh tanggungjawab dan penerima amanah orangtua yang sungguh setia pada janji.
Pada kesempatan ini saya sungguh menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada Keluarga Besar Bapak Mayor Mardjono (alm): Ibu Kamisyah Mardjono beserta para putra dan keluarganya masing-masing yang telah berkenan menghadiri acara pengukuhan saya sebagai guru besar di UNS. Juga kepada keluarga besar Bapak Drs.H.M.Sudja’i, M.A beserta keluarga yang telah banyak membantu saya dalam berbagai hal selama ini dan kepada keluarga besar Bapak Ridwan Abdul Hadi (alm) saya mengucapkan terima kasih terutama karena do’a sahabat saya yang telah tiada yaitu almarhumah Ibu Dra.Muyasiroh yang sejak tahun 1988 atau 20 tahun yang lalu sungguh meyakini bahwa saya akan menjadi salah satu guru besar di UNS tercinta ini. Semoga engkau senang di akhirat sana meskipun guru besar ini saya dapatkan ‘by chance’ dan bukan ‘by plan’ sebab engkau sungguh mengenal saya bahwa saya tidak pernah condong kepada kehidupan duniawi yang penuh kepalsuan dan tipu daya ini.
Ucapan terima kasih yang tulus dan tak terhingga juga saya sampaikan untuk sahabat seperjuangan saya ‘del JaMbu’. Terima kasih karena selalu ikut membantu memecahkan permasalahan jika saya sudah merasa jenuh dengan berbagai hal yang terkait dengan kegiatan akademik saya di UNS dan terutama selama saya menempuh studi S3 di Malang.Terima kasih untuk semua diskusi ilmiah yang selalu menjadi inspirasi bagi saya untuk berkarya nyata di UNS. Lebih dari semuanya itu, terimakasih untuk cinta yang sangat besar dan dorongan yang positif agar saya selalu menjadi yang terbaik.
Terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada semua mahasiswa saya baik untuk program S1, S2, dan S3 terutama untuk semua anak-anak saya mahasiswa S1 karena kalian menjadi semangat bagi saya untuk melanjutkan perjalanan saya di UNS……. Saya mencintai kalian semua……..
Kepada segenap panitia pengukuhan guru besar hari ini dan kepada adik-adik kelompok Paduan Suara Mahasiswa, saya mengucapkan terima kasih. Tanpa bantuan bapak-bapak dan ibu-ibu serta adik-adik mahasiswa, acara hari ini tidak mungkin terlaksana. Kepada teman-teman pers yang telah meliput acara ini, saya juga mengucapkan terima kasih.
Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada semua yang hadir di sini dan telah bersabar mendengarkan pidato saya. Mohon maaf apabila pidato saya ini kurang berkenan. Semoga kebaikan hati dan pengorbanan waktu Ibu/Bapak/Saudara sekalian mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, selama di dunia ini sampai di akhirat kelak. Amin.
Terima kasih. Billahit taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh.

DAFTAR REFERENSI

AeA. 2005. Losing the Competitive Advantage?. On http://www.aeanet.org

Copland. 2006. Welcome Address to the University of Westminster’s Student – Headquarters 309 Regent Street London

Directorate General of Higher Education. DGHE (D). 2004. Higher Education Long Term Strategy – HELTS 2003 – 2010

Jarboe, P.K. 2005. The Changing Contexs of Higher Education and Four Possible Futures for Distance Education.  University of Minnesota

Lievens, F., K. van Dam & N. Anderson. 2002. Recent Trends and Challenges in Personnel Selection. Personnel Review. Vol.31 No.5. pp. 580 – 600. Published by: The Emerald Group

Loogma, Krista. 2004. Learning At Work and Competence: Difference Contexts and Meanings in the Case of Transition Economy. Journal of European Industrial Training. Vol. 23 No.7. 2004. pp. 574 – 586

Mangundayao, A.B., S.J. Briones & J.D. Mefragata. 2003. Sustaining Technician Education in the Age of Globalization. Research Report: Technological University of the Philippines.

Mazzarol, T., P. Hosie & S. Jacobs. 1998. Information Technology as A Source of Competitive Advantage in International Education. Journal on Information and Technology for Teacher Education. Vol.7 No.1

National Education Association, NEA. 1995. Information Technology: A Road to the Future?. NEA of the United States

Nelson, D.L & J.C. Quick. 1994. Organizational Behavior – Foundation, Realities and Challenges. St. Paul : West Publishing Company

Parry, Scott B. 1998. Just What is a Competency? (And Why should you care?). Educational Journal. June 1998. Vol. 35 No.6 pp. 58 – 62

QAA for Higher Education. 2000. Guideline for Preparing Programme Specification. On http:// www.qaa.ac.uk

Rademakers M, 2005. Corporate Universities: Driving Force of Knowledge Innovation. Journal of Workplace Learning, Volume 17, Number 1 – 2005 pp. 130 – 136

Robbins, S.P. 2003. Organizational Behavior.  10th Edition. Pearson Education, Upper Saddle River: Prentice-Hall International Inc.

Sahney, S, D. K. Banwet & S. Karunes, 2003. Enhancing Quality in Education: Application of Quality Function Deployment – An Industry Perspective. Journal of Work Study, Volume 52 – Number 6 – 2003 pp. 297 – 309

Scott, R.A. 2003. The University as A Moral Force. Horizon.Volume 11 Number 2 – 2003 pp. 32-36

Siswandari. 2006. Peningkatan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Statistika Berbantuan Komputer (Upaya Meningkatkan Competitive Advantage Lulusan Pendidikan Tinggi). Disertasi. Universitas Negeri Malang

Siswandari & Susilaningsih. 2006. Pengembangan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Peningkatan Kualitas Pembelajaran Statistika Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Tinggi.  Laporan Penelitian Hibah Bersaing XIV Tahun I. DP3M Dikti

_________ . 2007. Pengembangan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Peningkatan Kualitas Pembelajaran Statistika Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Tinggi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XIV Tahun II. DP3M Dikti

_________ . 2007. Developing 33 Aspects Of Students’ Transferable Skills”  disampaikan pada Seminar Nasional Pemanfaatan IPTEKS Dalam Rangka Penguatan dan Pemberdayaan Masyarakat yang diselenggara¬kan oleh LPPM Universitas Sebelas Maret, 21 April 2007

_________ . 2008. Pengembangan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Peningkatan Kualitas Pembelajaran Statistika Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Tinggi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XIV Tahun III. DP3M Dikti

Smith, R. 2003. Transferable Skills. On http://www.placement-mannual.online

Srikanthan, G & J. Dalrymple. 2004. A Synthesis of A Quality Management Model for Education in Universities. International Journal of Educational Management. Volume 18 Number 4 – 2004 pp. 266-279

University of Cambridge. 2004. Transferable Skills. On http://www.phil.cam.ac.uk

University of Westminter. 2004. Transferable Skills: Acquiring the Skills Employers Want. On http://www.wmin.ac.uk

Wacker, J.G & L.C. Sprague. 1998. Forecasting Accuracy: Comparing the Relative Effectiveness of Practices Between Seven Developed Countries. Journal of Operation Management. Vol.16 pp. 271 – 290. Elsevier Science B.V

Vecchio, R.P, G. Hearn, G. Southey. 1992. Organizational Behavior – Life at Work in Australia. Marrickville: Harcourt Brace & Co.

PENGGUNAAN TEKNIK MOLEKULER UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT PRODUKSI HEWAN TERNAK

Oleh :
Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D.

Yang saya hormati,
Bapak  Rektor/ Ketua  Senat,  Sekretaris  Senat
dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret,
Para  Anggota  Dewan  Penyantun,
Para  Pejabat  Sipil  dan  Militer,
Para  Dekan  dan  Pembantu  Dekan  di  lingkungan  Universitas  Sebelas  Maret,
Para  Ketua  dan Sekretaris  Lembaga,  Kepala  Biro  dan  para  Kepala  UPT,  serta  seluruh pejabat  di  lingkungan  Universitas  Sebelas  Maret,
Para  Ketua  Jurusan,  Ketua  Laboratorium,  dan  Staf  Pengajar  Fakultas  Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas  Sebelas  Maret,
Segenap Tamu  Undangan,  rekan Sejawat dan  Staf  Administrasi,  Mahasiswa, dan hadirin  yang  saya  hormati,

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua,
Pertama-tama marilah kita bersama panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga pada pagi hari ini kita dapat berkumpul bersama di ruang ini, dan atas perkenan-Nya pulalah saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Genetika Molekuler Fakultas MIPA UNS di hadapan para hadirin semua.

Pendahuluan
Hadirin yang saya hormati,
Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi hewan ternak maupun tanaman budidaya telah lama diusahakan mulai dari peng¬gunaan pendekatan yang konvensional sampai pada penggunaan teknologi molekuler yang akhir-akhir ini dikembangkan.  Dalam pidato ini, saya mengambil contoh pemanfaatan teknik molekuler dalam seleksi untuk memperoleh bibit yang unggul dalam produksi daging (pertumbuhan) pada sapi pedaging berdasarkan hasil-hasil penelitian yang saya lakukan selama ini serta beberapa referensi terkait.
Peningkatan produksi daging  maupun peningkatan sifat fenotip lain yang dimiliki makhluk hidup pada umumnya, akan lebih tepat bila dilakukan melalui seleksi yang tidak hanya ber¬dasarkan pada penampakan luar (fenotipe), melainkan melalui seleksi langsung pada tingkat DNA yang mengkodekan fenotipe yang akan diperbaiki. Seleksi pada level DNA lebih akurat di¬banding seleksi secara konvensional yang hanya berdasarkan fenotipe, karena seleksi secara molekuler ini dilakukan pada gen yang mengkodekan sifat yang akan diperbaiki dan bukan hanya melalui efeknya terhadap suatu fenotipe.

Produksi daging sapi di Indonesia
Haris Syahbuddin (2005) menjelaskan bahwa dengan jumlah penduduk yang sangat besar di Indonesia ini, merupakan pangsa pasar yang sangat potensial untuk berbagai produk per¬tanian dan industri, namun demikian hingga saat ini berbagai produk pertanian yang dihasilkan belum dapat mencukupi permin¬taan pasar dalam negeri. Antara permintaan dan suplai masih terdapat senjang yang sangat besar. Kenyataan dilapangan yang ditemukan oleh Swastika dan Ilham dkk (dalam Syahbudin 2005) menunjukkan bahwa, suplai produksi pertanian untuk memenuhi permintaan di tahun 2003 terhadap beras (35.01 juta ton) terdapat senjang sekitar 4.54 juta ton, kedelai (1.56 juta ton) senjang 0.28 juta ton, jagung (9.65 juta ton) senjang 0.80 juta ton, kentang (1033.42 ribu ton) senjang 12.8 ribu ton, daging ayam broiler (205.87 ribu ton) senjang 11.5 ribu ton, dan daging sapi (253.33 ribu ton) senjang 50.8 ribu ton. Senjang tersebut akan bertambah besar pada tahun-tahun mendatang seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, bila tanpa diikuti dengan penerapan teknologi yang memadai.
Di Jawa Tengah, sesuai dengan data produksi daging sapi yang dikeluarkan oleh departemen pertanian (2006), menunjukkan bahwa Produksi daging sapi Jawa tengah dari tahun 2000 sampai 2005 selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2000, produksi daging propinsi Jawa tengah: 54.560 ton pertahun, sedangkan pada tahun 2005 produksinya mencapai 66.450 ton pertahun. Produksi daging sapi nasional pada tahun 2005 adalah sebesar 463.820, sehingga Jawa Tengah mensuport sekitar 14.3% dari kebutuhan daging nasional.
Keadaan inilah yang memacu Pemerintah provinsi Jawa Tengah bertekad menjadi sentra produksi ternak sapi potong dan sapi perah dengan menetapkan peternakan sebagai salah satu sub-sektor pertanian yang akan tumbuh paling baik dibandingkan subsektor lainnya. Rachmat Sujianto (2004) menjelaskan bahwa Jawa Tengah berupaya mewujudkan sub-sektor ini dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan daging sapi nasional, serta mampu menjadi motor penggerak perekonomian di provinsi ini, sehingga provinsi ini menempatkan penanganan di bidang peternakan dalam skala prioritas. Kenaikan produk daging sapi itulah yang juga menjadi faktor utama mendorong Jawa Tengah lebih serius mengupayakan peningkatan terhadap penyediaan sapi potong dan setiap tahunnya sebanyak 457.000 ekor mampu dihasilkan di provinsi ini untuk memenuhi kebutuhan di wilayahnya sendiri yang saat ini mencapai 287.000 ekor, sedangkan sumbangan untuk memasok pasar di luar daerah mencapai 170.000 ekor. Sedangkan populasi sapi potong di Jawa Tengah yang kini menduduki rangking kedua nasional mencapai sebanyak 1.345 juta ekor. Kenaikan produksi ternak tersebut diharapkan akan lebih cepat melalui penerapan program Inseminasi Buatan (IB).
Sapi lokal Indonesia, seperti sapi Bali, memiliki kelebihan berupa kemampuan reproduksi dan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan Indonesia, baik terhadap iklim, ketersediaan pakan alami, ketersediaan air dll. Namun demikian, meskipun sapi jenis ini memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, kualitas dan kuantitas produksinya lebih rendah bila dibandingkan dengan sapi impor. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa para peternak Indonesia khususnya yang memiliki modal usaha besar mulai meninggalkan sapi lokal. Perbaikan genetis melalui IB dengan menggunakan pejantan sapi jenis limusin dan simental, memberikan hasil yang cukup baik. Menurut Sugiyono Pranoto dalam Rachmat Sujianto (2004), sapi betina lokal yang diinseminasi mani beku pejantan sapi limusin maupun simmental mampu melahirkan anak sapi dengan pertumbuhan yang lebih cepat bila dibandingkan sapi lokal. Pada usia tiga tahun, sapi hasil inseminasi dengan mani beku limusin maupun Simmental bobotnya mampu mencapai 800 kg, jauh lebih besar dibandingkan dengan sapi lokal dengan usia sama yang rata-rata hanya memiliki berat badan 350 kg per ekor.
Aspek lain yang kurang menguntungkan bagi perkem¬bang¬an sapi lokal Indonesia adalah belum adanya usaha untuk perbaikan keturunan dengan teknologi yang tepat. Usaha untuk menyeleksi dan menyingkirkan sapi-sapi yang kurang baik dari kelompok sapi yang dipelihara tidak pernah dilakukan, dan bagaimanapun laju pertumbuhannya tidak pernah dihiraukan. Hal semacam ini di¬samping kurang menguntungkan dari segi ekonomi, juga dapat memperburuk keturunan-keturunan berikutnya. Dengan memper¬baiki kualitas maupun kuantitas produksi sapi lokal Indonesia, maka diharapkan minat para peternak untuk beternak sapi lokal menjadi lebih meningkat, sehingga kepunahan sapi lokal Indonesia dapat dihindari dan sekaligus ketergantungan Indonesia akan daging maupun sapi dari negara lain (import) dapat dikurangi. Pening¬katan kebutuhan daging yang tidak diikuti dengan pening¬katan produksi daging dalam negeri telah menyebabkan pemerintah Indonesia sampai saat masih melakukan impor daging maupun sapi bakalan. Indonesia melakukan import sapi bakalan pada tahun 2004 sebanyak 330.000 ekor.

Berbagai permasalahan terkait dengan produksi hewan ternak
Produksi hewan ternak dipengaruhi oleh banyak faktor, yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam faktor lingkungan dan faktor genetis. Salah satu faktor lingkungan utama yang mempengaruhi produktivitas hewan ternak adalah berupa pakan, baik kualitas maupun kuantitas pakan. Untuk mengatasi permasalahan kualitas pakan dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan baik secara fisik, kimia maupun biologi. Kualitas pakan akan mempengaruhi sistem pencernaan dan metabolisme hewan yang pada gilirannya akan mempengaruhi produktivitas hewan ternak. Rendahnya produktivitas merupakan contoh permasalahan terkait dengan rendahnya kualitas atau kuantitas pakan, serta per¬masalahan-permasalahan lain seperti resistensi terhadap penyakit maupun faktor lingkungan yang lain. Disamping itu, masing-masing individu hewan ternak memiliki sistem pencernaan dan sistem metabolisme yang diatur secara genetis, yang antara indi¬vidu satu dengan individu lain dalam populasi itu terdapat variasi. Variasi genetis inilah yang kemudian dijadikan dasar dalam pemuliaan.
Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam pro¬duksi daging pada sapi pedaging maupun hewan penghasil daging lainnya, sehingga memiliki nilai ekonomi penting dalam budidaya hewan ternak. Untuk meningkatkan sifat produksi daging (pertum¬buhan),  secara umum dapat dilakukan melalui pendekatan biotek¬nologi yang bersifat sementara (temporary approach) maupun yang bersifat permanen (permanent approach), yang secara skematis ditunjukkan pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1: Peran Bioteknologi dalam Peningkatan pertumbuhan

Seleksi berdasarkan marka gen
Marka gen adalah variasi sekuen DNA yang mencirikan terjadinya variasi sifat fenotipe, baik yang secara langsung mem¬pengaruhi sifat tersebut maupun secara tidak langsung karena ter¬jadi linkage (pautan) dengan sekuen DNA yang mempengaruhi sifat fenotip. Ide dasar yang melatar belakangi perlunya seleksi ber¬dasarkan marka gen adalah adanya kemungkinan gen-gen dengan pengaruh signifikan yang menjadi target khusus dalam seleksi. Kegunaan utama marka gen adalah untuk seleksi/ pemuliaan hewan berdasarkan variasi pada aras DNA terpilih. Peta DNA pada sapi (bovine genome map) yang dibuat berdasarkan marka pada aras DNA menggunakan teknik-teknik molekuler telah memungkinkan untuk mengidentifikasi lokus-lokus gen yang bertanggung jawab terhadap variasi sifat yang memiliki nilai ekonomi penting (quan¬titative trait loci/ QTL). Dari peta semacam inilah muncul suatu pendekatan molekuler untuk melakukan pemuliaan hewan guna memperoleh suatu individu unggul. Teknik ini dikenal dengan pen¬dekatan Marker Assisted Selection (MAS), yaitu suatu pende¬katan langsung untuk memperoleh hewan-hewan yang secara genetik superior. Dalam perkembangannya, pendekatan molekuler ini di¬bedakan menjadi: MAS (Marker Assisted Selection) dan GAS (Genotypic assisted selection). MAS digunakan dalam seleksi ber¬da¬sarkan pada marka yang berhubungan dengan gen yang dikehen¬daki (indirect marker), sedangkan GAS digunakan dalam seleksi langsung pada gen yang dikehendaki (direct marker). Pendekatan MAS maupun GAS dapat digunakan pada hewan, tumbuhan maupun manusia, dengan berbagai macam tujuan.
Efisiensi dari MAS dalam peningkatan kualitas hewan produksi tergantung pada beberapa faktor antara lain heritabilitas sifat yang akan ditingkatkan, proporsi varian sifat tambahan yang disebabkan oleh marka, dan ketepatan teknik seleksi. Namun demikian, Edwards dan Page (1994) serta Lande dan Thompson (1990) menyatakan bahwa peningkatan sifat genetik sampai 50% dapat dipastikan terjadi dengan teknik MAS ini. Peningkatan ini terjadi karena lebih akuratnya teknik MAS dalam seleksi, dan pengurangan waktu seleksi antar generasi karena gen dapat diiden¬tifikasi sejak awal kelahiran atau bahkan semasa masih dalam embryo. Pendekatan marka gen telah banyak digunakan dengan baik untuk sifat-sifat: 1) Resistansi terhadap penyakit, 2). Kualitas dan kuantitas karkas, 3). Fertilitas dan reproduksi, 4). Produksi susu, dan  5). Keragaan pertumbuhan
MAS merupakan suatu cara potensial untuk meningkatkan susunan genetik populasi tanaman dan hewan budidaya. Karena sebagian besar sifat yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang diper¬timbangkan dalam peningkatan genetik pada hewan dan tumbuhan merupakan sifat kuantitatif, dimana sifat ini  dikendalikan oleh beberapa gen bersama dengan faktor lingkungan yang masing-masing gen memiliki pengaruh terhadap sifat fenotip yang nampak, maka peningkatan sifat yang memiliki nilai ekonomi penting ini menjadi kompleks dan tidak mudah bila dilakukan secara konven¬sional. Contoh dari sifat kuantitatif ini adalah produksi susu dan kecepatan pertumbuhan pada hewan. Pada program peningkatan genetik secara konvensional, seleksi dilakukan dengan berdasarkan fenotipe (sifat) yang nampak saja tanpa mengetahui gen mana yang sebenarnya diseleksi. Dengan demikian berkembangnya marka molekuler ini disambut secara antusias yang besar karena merupa¬kan suatu penemuan utama yang menjanjikan untuk mengatasi keterbatasan teknik konvensional. Untuk mendapatkan marka gen, dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu:  1). Pende¬katan marka gen kandidat (Candidate gene marker approach), dan        2). Pendekatan marka random (Random marker approach).
Pendekatan marka gen kandidat didasarkan pada penge¬tahuan pendukung yang telah ada seperti bukti-bukti kausatif secara fisiologi dan biokimia yang menunjukkan bahwa gen yang dipilih terlibat pada sifat yang diinginkan. Misal dipilihnya gen penyandi hormon pertumbuhan untuk studi gen-gen yang mempengaruhi pertumbuhan karena produk dari gen tersebut adalah sangat penting dalam pertumbuhan. Kelemahan dari pendekatan ini adalah terbatas hanya pada sifat-sifat yang telah diketahui hubungan fisiologis dan biokimianya. Sedangkan keuntungan pendekatan ini adalah bahwa gen yang dipelajari terlibat pada sifat fenotip yang diinginkan, sesuai untuk analisis yang menunjukkan kontribusi lokus kandidat terhadap variasi total fenotip, dan hasil yang diperoleh inter¬pre¬table secara fisiologis dan biokimia. Sebaliknya, pada pende¬katan marka random berusaha melokalisasi marka gen dengan melakukan pengukuran genotipe pada sejumlah loki yang sangat banyak (kese¬luruhan genome) tanpa mengetahui pengaruh fenotipnya, dengan harapan ada locus/loci yang berpautan dengan sifat yang diingin¬kan. Dengan demikian, maka marka yang dicari tidak hanya ter¬batas pada sifat-sifat yang telah diketahui keterkaitan gen secara fisiologis dan biokimianya, namun demikian, susah untuk mengin¬ter¬pretasikan varian molekuler dalam hubungannya dengan sifat fenotip secara fisiologis dan biokimia, sehingga pendekatan ini kurang valuable dibanding pendekatan kandidat.

Gen Hormon Pertumbuhan
Pertumbuhan sapi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan yang meliputi pakan, baik hijauan maupun konsentrat, air, iklim, fasilitas pemeliharaan, dan faktor genetis yang diken¬da¬likan oleh gen. Modifikasi faktor lingkungan dapat digunakan untuk peningkatan pertumbuhan namun bersifat sementara. Pening¬katan pertumbuhan secara temporer ini tidak diturunkan kepada keturunannya, sehingga tidak cocok untuk perbaikan keturunan. Sedangkan faktor genetis yang mengkodekan sifat pertumbuhan diturunkan kepada keturunannya, sehingga sangat tepat digunakan dalam program pemuliaan untuk memperoleh bibit unggul.
Pertumbuhan dikendalikan oleh beberapa gen, baik gen yang pengaruhnya besar (major gene) maupun gen yang pengaruh¬nya kecil (minor gene). Salah satu gen yang diduga merupakan gen utama dalam mempengaruhi pertumbuhan adalah gen pengkode hormon pertumbuhan yang mempengaruhi sekresi hormon pertum¬buhan. Disamping itu, DNA mitokondria yang terletak di luar inti (sitoplasma) juga berpengaruh pada pertumbuhan mengingat DNA ini merupakan pengendali proses pembentukan energi bagi tubuh (Sutarno, 2002).
Hormon pertumbuhan pada sapi (bovine growth hormone) mempunyai peran utama pada pertumbuhan, laktasi dan perkem¬bangan kelenjar susu (Cunningham, 1994; Hoj et al., 1993). Dalam hubungannya dengan pertumbuhan pada sapi, penelitian yang dilakukan oleh Burton et al. (1994) pada sapi pedaging Eropa me¬nun¬jukkan bahwa pemberian hormon pertumbuhan dapat mening¬katkan rata-rata pertumbuhan sapi. Meningkatnya pertumbuhan ini diduga melalui perantara kerja IGF-I (Armstrong et al., 1995). Dugaan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Ballard et al. (1993) yang menunjukkan bahwa pengaruh secara tidak lang¬sung melalui IGF-I menyebabkan terjadinya peningkatan pertum¬buhan (Gambar 2). Dengan demikian, terjadinya variasi tingkat pertumbuhan antar individu yang disebabkan oleh variasi genotip gen hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya variasi sirkulasi hormon pertumbuhan diperkirakan diperantarai oleh aktivitas IGF-I.

Gambar 2. Skema menunjukkaan peran hormon pertumbuhan dalam pengaturan bahan metabolit untuk pembakaran (fuel regulation) dan peningkatan pertumbuhan (Sutarno, 1998).

Publikasi terakhir tentang pengaruh variasi gen pengkode hormon pertumbuhan pada pertumbuhan (berat capaian harian) sapi Benggala (Sutarno, 2003) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan, yaitu individu dengan genotipe (MspI+-) merupakan individu yang superior dalam pertumbuhan. Penemuan ini sesuai dengan penemuan terdahulu yang menunjukkan bahwa variasi gen hormon pertumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan sapi peda¬ging jenis Composit dan Hereford (Sutarno, 1998). Sampai bebe¬rapa tahun yang lalu, seleksi untuk memperoleh bibit unggul umumnya dilakukan hanya berdasarkan penampakan luar (fenotip). Individu yang memiliki fenotip baik dikawinkan dengan individu lain yang fenotipnya juga baik dengan harapan diperoleh keturunan yang fenotipnya baik. Namun demikian, teknik ini kurang tepat, keadaan lingkungan yang menguntungkan, misalnya faktor makan¬an, air dan fasilitas pemeliharaan dapat menjadikan suatu individu memiliki penampakan luar yang baik, namun faktor ini tidak dapat diturunkan. Dengan demikian, perlu adanya seleksi yang didasar¬kan pada gen yang bertanggung jawab terhadap munculnya sifat fenotip yang diinginkan.
Pada sapi pedaging dan hewan lain yang diternakkan untuk tujuan produksi daging, hormon pada aksis somatotrop (seperti hormon pertumbuhan dan IGF-I) adalah merupakan titik awal yang tepat untuk pendekatan kandidat gen. Hormon ini mempengaruhi pertumbuhan, produksi susu dan komposisi tubuh hewan mamalia, dan rerata sekresi hormon pertumbuhan telah diduga berhubungan dengan rerata pertumbuhan yang lebih tinggi pada beberapa spesies hewan ternak (Winkelmann et al., 1990). Pada kondisi lingkungan pemeliharaan yang sama, faktor yang bertanggung jawab terhadap variasi pertumbuhan adalah gen yang menyebabkan terjadinya variasi sirkulasi hormon pertumbuhan dalam setiap individu. Sekresi hormon ini dipengaruhi oleh gen pengkode hormon per¬tum¬buhan. Menurut Schlee et al., (1994b) polimorfisme pada gen hormon pertumbuhan menyebabkan terjadinya perbedaan sintesis hormon, sehingga terjadi perbedaan konsentrasi/ sirkulasi hormon tersebut. Perbedaan ini menyebabkan terjadinya variasi pertum¬buhan antar individu. Dengan demikian, variasi DNA pada gen hormon pertumbuhan dapat dijadikan kandidat yang potensial sebagai gen penanda (marka gen) sifat pertumbuhan sapi.
Penelitian yang dilakukan pada sapi jenis Hereford dan Composit di Wokalup Research Station Australia Barat oleh Sutarno et al., (1996) dan Sutarno (1998) menunjukkan bahwa variasi pada lokus gen hormon pertumbuhan secara signifikan mem¬pengaruhi terjadinya variasi rerata pertumbuhan. Sebelumnya, Schlee et al. (1994b) menemukan bahwa perbedaan genotip dari gen hormon pertumbuhan mempengaruhi konsentrasi sirkulasi hormon pertumbuhan dan IGF-I pada sapi Eropa jenis Simental. Rocha et al. (1992) juga telah menemukan hubungan signifikan antara allele hormon pertumbuhan dengan berat badan waktu lahir serta lebar punggung saat lahir pada sapi jenis Brahman. Meskipun variasi-variasi ini telah banyak dilaporkan pada sapi Eropa, sampai saat ini masih sangat terbatas adanya laporan mengenai terjadinya variasi gen pengkode hormon pertumbuhan pada sapi pedaging lokal Indonesia (Sutarno and Aris Junaidi, 2001; Sutarno, 2003).
Untuk tujuan seleksi dalam rangka memperoleh sapi lokal Indonesia yang unggul dalam produksi daging, maka sangat pen¬ting untuk memperoleh penanda gen (marka gen) dari populasi sapi lokal Indonesia melalui analisis secara menyeluruh dari perpaduan antara data fenotip (pertumbuhan), data genotip (allele), serta semua data pendukung yang mungkin mempengaruhi pertumbuhan (jenis, jenis kelamin, umur, konsentrasi hormon pertumbuhan ter¬sirkulasi).
Gen hormon pertumbuhan sapi (bovine growth hormone gene) telah dipetakan terletak pada kromosom 19 dengan lokasi q26-qtr (Hediger et al., 1990). Sekuen gen ini terdiri dari 1793 bp yang terbagi dalam lima ekson dan dipisahkan oleh 4 intron. Intron A, B, C dan D berturut-turut terdiri dari 248 bp, 227 bp, 227 bp dan 274 bp, dan secara sederhana dipresentasikan pada Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Skema menunjukkan struktur gen hormon pertumbuhan pada sapi. Huruf A, B, C dan D menunjukkan intron, sedangkan angka romawi I, II, III, IV dan V menunjukkan akson                    (Sutarno, 1998).

Variasi gen pengkode hormon pertumbuhan telah dilapor¬kan pada sapi Eropa, misalnya sapi perah jenis Red Danish (Hoj et al., 1993), sapi pedaging jenis Bavarian Simental (Schlee et al., 1994a), serta sapi pedaging jenis Hereford dan Composite (Sutarno, 1998; Sutarno et al., 1996), dan sapi Benggala, sapi Bali dan sapi Madura (Sutarno, 2001; 2003). Variasi yang terjadi pada sapi Eropa tersebut umumnya disebabkan oleh adanya delesi, substitusi atau insersi (Sutarno, 1998), demikian juga untuk sapi lokal Indo¬nesia jenis Benggala, Madura dan Bali (Sutarno, 2003).
Penelitian-penelitian terhadap hewan percobaan di labo¬ratorium maupun hewan ternak seperti sapi telah dilakukan untuk mengungkap adanya pengaruh variasi genotip terhadap sirkulasi hormon pertumbuhan maupun secara langsung pengaruhnya terha¬dap kecepatan pertumbuhan. Pada sapi pedaging jenis Simmental, Schlee et al. (1994a) menunjukkan bahwa individu yang memiliki genotip LV (Leucine/Valine) pada gen hormon pertumbuhan adalah superior dalam pencapaian berat karkas dan kualitas daging. Polimorfisme yang dideteksi dengan TaqI pada gen hormon per¬tumbuhan dilaporkan berhubungan dengan berat lahir pada sapi jenis Brahman (Rocha et al., 1991). Sedangkan pada sapi Korea telah dilaporkan bahwa polimorfisme TaqI pada gen ini secara signifikan berhubungan dengan pertumbuhan sapi (Choi et al., 1997). Penelitian yang dilakukan oleh Sutarno (1998) terhadap sapi Hereford dan Composite dari Wokalup Reasearch station-Australia menunjukkan bahwa polimorfisme MspI gen hormon pertumbuhan pada daerah antara ekson III dan IV secara signifikan mempenga¬ruhi pertumbuhan, dimana individu yang memiliki allele MspI (–) bersifat superior. Sedangkan untuk sapi lokal Indonesia jenis Benggala, akhir-akhir ini dilaporkan bahwa allele MspI (+-) adalah superior (unggul) dalam produksi daging/ pertumbuhan (Sutarno, 2003). Hubungan antara variasi genotip pada lokus hormon per¬tum¬buhan dengan total pertumbuhan sapi ini kemungkinan dise¬bab¬kan oleh perbedaan sirkulasi hormon pertumbuhan sebagai akibat adanya variasi gen hormon pertumbuhan.
Seleksi untuk memperoleh bibit unggul berdasarkan marka DNA seperti polimorfisme DNA dapat diperoleh hasil yang lebih akurat dan efisien (Schlee et al., 1994b). Variasi gen pada gen hormon pertumbuhan berhubungan dengan variasi hormon per¬tumbuhan dan IGF-I, selanjutnya variasi hormon pertumbuhan dan IGF-I ini menyebabkan perbedaan pertumbuhan, sehingga gen pengkode hormon pertumbuhan dapat dijadikan sebagai titik awal yang potensial sebagai marka DNA untuk pertumbuhan sapi lokal Indonesia.

DNA Mitokondria
Selain gen hormon pertumbuhan, DNA mitokondria yang terletak di luar inti yang bertanggung jawab dalam proses pem¬bentukan energi dalam tubuh organisme, akhir-akhir ini menarik banyak perhatian para peneliti. Penelitian banyak diarahkan pada produksi daging (pertumbuhan) dan produksi susu pada sapi dalam hubungannya dengan variasi pada DNA mitokondria. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa DNA mitokondria mem¬pengaruhi pertumbuhan, reproduksi dan sifat produksi pada hewan ternak ( Schutz et al., 1994). Penelitian terakhir menunjukkan bahwa variasi DNA mitokondria pada segmen D-loop secara sig¬ni¬fikan berpengaruh pada sifat reproduksi sapi Hereford dan Compo¬site (Sutarno et al, 2002a; 2002b).
Variasi pada DNA mitokondria sapi telah dilaporkan (Sutarno and Lymbery, 1997, Sutarno, 2002a). DNA mitokondria mengalami evolusi lebih cepat bila dibandingkan DNA inti, dan meskipun ribuan kopi genom mitokondria ada pada setiap sel,  substitusi nukleotide terjadi sekitar lima sampai sepuluh kali lebih cepat bila dibandingkan dengan mutasi yang sama pada DNA inti. Modifikasi, dan juga terjadinya variasi pada DNA mitokondria akan memiliki pengaruh pada fenotipe. Schutz et al. (1994) mela¬por¬kan adanya pengaruh variasi sekuen DNA mitokondria pada produksi susu, sedangkan Schutz et al. (1993) menemukan penga¬ruh yang signifikan dari substitusi pada pasangan nukleotida (bp) no 169 sekuen D-loop pada prosentase lemak susu.
Analisis terhadap data molekuler dari gen hormon pertum¬buhan dan DNA mitokondria yang dipadukan dengan data fenotip pertumbuhan sapi, maka dapat diketahui genotip-genotip sapi yang unggul dalam produksi daging (pertumbuhan) yang dapat dijadikan sebagai marka gen. Dalam aplikasinya, pendekatan marka gen dapat digunakan dalam pemuliaan hewan untuk memperoleh bibit-bibit unggul melalui persilangan alami terencana yang diatur genotip induknya. Pengembangan lebih jauh dari marka gen adalah dapat digunakan dalam DNA rekombinant untuk menghasilkan hormon pertumbuhan yang dapat digunakan secara temporer untuk menginduksi pertumbuhan, maupun lebih jauh ke arah pemben¬tuk¬an hewan transgenik, deteksi dini suatu penyakit, maupun deteksi dini sifat-sifat fenotip lainnya. Prinsip ini dapat diaplikasikan pada setiap makhluk hidup, baik hewan, tumbuhan maupun manusia.

Penutup
Dari uraian di atas, maka variasi pada gen hormon per¬tumbuhan menyebabkan terjadinya perbedaan sirkulasi hormon pertumbuhan yang pada gilirannya akan mempengaruhi pertum¬buh¬an sapi. Pertumbuhan ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan energi yang diproduksi oleh mitokondria yang dikendalikan oleh DNA mitokondria. Produksi energi ini bervariasi antar individu karena adanya variasi DNA mitokondria. Identifikasi dan karak¬terisasi gen hormon pertumbuhan dan DNA mitokondria dengan mengaplikasikan teknik molekular dapat digunakan sebagai dasar seleksi yang akurat untuk pemuliaan hewan guna memperoleh individu yang unggul dalam produksi daging. Model peningkatan pertumbuhan pada sapi pedaging menggunakan marka molekuler ini dapat digunakan sebagai model dalam usaha pemuliaan ber¬bagai jenis hewan ternak maupun tanaman budidaya untuk mem¬peroleh bibit unggul, serta dalam usaha untuk deteksi dini suatu penyakit di bidang kesehatan.

Ucapan Terima kasih
Hadirin yang saya hormati,
Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, perkenankan saya mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rakhmat, hidayah dan barokah-Nya kepada saya sekeluarga. Dalam kesempatan ini pula, perkenankan saya untuk mencurahkan perasaan dan ucapan terimakasih yang paling dalam kepada berbagai pihak yang telah memberikan jasanya, sehingga saya mendapatkan jabatan terhormat sebagai Guru Besar bidang Genetika Molekuler di Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret.
Banyak sekali pihak-pihak yang telah berjasa mengantarkan saya menjadi guru besar ini, sehingga tidak mungkin kami sebut satu persatu, antara lain:

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan sebagai Guru Besar bidang Genetika Molekuler di FMIPA Universitas Sebelas Maret.
  2. Rektor Universitas Sebelas Maret, yang juga sebagai Ketua Senat: Bapak Prof. Dr. dr. H. Muhammad Syamsulhadi, Sp.KJ, Sekretaris Senat: Prof. Dr. dr. Aris Sudiyanto, Sp. KJ, mantan sekretaris senat: Prof. Dr. Sunardi, MSc., dan segenap anggota Senat yang telah mempromosikan dan mengusulkan serta mem¬berikan kemudahan bagi saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar.
  3. Dekan Fakultas MIPA yang juga sebagai Ketua Senat Fakultas MIPA: Drs. H. Marsusi, MS, para pembantu Dekan, Ketua dan Sekretaris Jurusan beserta seluruh anggota Senat Fakultas yang telah mengusulkan saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar FMIPA UNS. Demikian juga para senior dan dosen saya di program Biologi FKIP UNS, rekan sejawat kerja di jurusan Biologi FMIPA UNS yang telah memotivasi dan mendukung saya mengusulkan diri untuk memangku jabatan guru besar.
  4. Teman-teman seperjuangan di Pusat Studi Lingkungan Hidup, Pusat Studi Bioteknologi dan Biodiversitas, S2 Ilmu Ling¬kungan, S2 Pendidikan Sains, S2 Agronomi, S2 Biosain yang semuanya telah memungkinkan saya untuk mengaktualisasikan potensi dan minat saya dalam bidang ilmu yang saya tekuni.
  5. Guru-guru saya sejak di sekolah dasar sampai dengan per¬guru¬an tinggi, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah ikut meletakkan dasar-dasar kepercayaan untuk menuntut dan mengembangkan sikap keilmuan, kemandirian dan kemam¬puan akademik saya. Para supervisor yang telah membimbing saya untuk menyelesaikan program master di Newcastle Uni¬versity, Prof. Raymond Murdoch dan Prof. John Rodger yang telah banyak memberikan motivasi untuk selalu bersikap sebagai seorang scientist. Prof. RCA Thompson, Prof. Carnegie, Prof. Jim Cummin dan Alan Lymbury, PhD. Super¬visor program Doktor saya di Murdoch University yang sampai saat ini selalu memotivasi saya untuk selalu berkarya dan meng-up date keilmuan saya.
  6. Kedua orangtua saya Almarhum Bapak Tukiman Asmorejo dan Ibu Satinem Asmorejo, yang telah mengasuh, mendidik dan membesarkan saya dengan segala pengorbanan dan jerih payah¬nya, yang dengan penuh tulus ikhlas mendoakan dan memberi¬kan restu, serta mendorong tak henti-hentinya untuk kesuksesan hidup saya sekeluarga. Semoga kedua beliau tersebut arwahnya diterima Allah SWT, dan saya panjatkan doa: Allaahummagh-firlii waliwaalidayya war hamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiirran. Kedua mertua saya Bapak H. Syukir Santo¬widagdo dan Ibu Hj. Wartini, SAg yang telah mendoakan saya secara tulus ikhlas dan selalu memberikan dorongan dan bim¬bingan untuk kesuksesan saya sekeluarga.
  7. Kepada saudara-saudara kandung saya, saudara ipar, keponakan serta saudara saya semuanya yang telah memberikan dorongan bagi keberhasilan studi saya.
  8. Istri saya tercinta Dra. Atik Listiyami, dan kedua anak-anak saya tersayang Vita dan Alvin yang telah banyak berkorban selama saya menempuh studi S3 dan mendampingi selama 5 tahun di Perth – Australia dengan segala pengertian, ketulusan dan kesabarannya, serta kedua anak saya tersayang Rhea dan Aza yang semuanya telah menjadikan saya untuk selalu ber¬semangat dalam berkarya hingga mencapai jabatan akademik tertinggi ini. Mereka sangat berjasa dalam memperoleh jabatan ini,  semoga Allah SWT membawa kami menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rohmah.
  9.  Rekan-rekan wartawan media cetak maupun elektronik yang meliput  acara yang membahagiakan ini; dan
  10. Semua hadirin yang telah dengan sabar mengikuti pidato pengukuhan guru besar ini.
    Akhirnya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas per¬hatian¬nya dan mohon maaf atas segala kekurangannya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amien
    illahit taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum wr. wb.

REFERENSI
Armstrong, J. D., Harvey, R. W., Poore, M. A., Simpson, R. B., Miller, D. C., Gregory, G. M. & Hartnell, G. F. (1995). Recombinan bovine somatotropin increases milk yield and calf gain in diverse breeds of beef cattle: associated changes in hormones and indices of metabolism. Journal of Animal Science 73, 3051-3061.
Ballard, F. J., Francis, G. L., Walton, P. E., Knowles, S. E., Owens, P. C., Read, L. C. & Tomas, F. M. (1993). Modification of animal growth with growth hormone and insulin-like growth factors. Australian Journal of Agricultural Research 44, 567-577.
Burton, J. L., McBride, B. W., Block, E., Glimm, D. R. & Kennelly, J. J. (1994). A review of bovine growth hormone. Canadian Journal of Animal Science 74, 167-201.
Choi, Y. J., Yim, D. S., Cho, J. S., Cho, B. D., Na, K. J. & Balk, M. G. (1997). Analysis of Restriction Fragment Length Polymorphism in the Bovine Growth Hormone Gene Related to Growth Performance and Carcass Quality of Korean Native Cattle. Meat Science 45, 405-410.
Cunningham, E. P. (1994). The use of bovine somatotropin in milk production- a review [Review]. Irish Veterinary Journal 47, 207-210.
Edwards, M. D. & Page, N. J. (1994). Evaluation of marker assisted selection through computer simulation. Theoretical and Applied Genetics 88, 376-382.
Haris Syahbuddin, 2005. Jangan Lupa Swasembada Pangan. Inovasi Online – Vol.4/XVII/Agustus 2005
Hediger, R., Johnson, S. E., Barendse, W., Drinkwater, R. D., Moore, S. S. & Hetzel, J. (1990). Assignment of the growth hormone gene locus to 19q26-qter in cattle and to 11q25-qter in sheep by in situ hybridization. Genomics 8, 171-174.
Hoj, S., Fredholm, M., Larsen, N. J. & Nielsen, V. H. (1993). Growth hormone gene polymorphism associated with selection for milk fat production in lines of cattle. Animal Genetics 24, 91-96.
Lande, R. & Thompson, R. (1990). Efficiency of marker-assisted selection in the improvement of quantitative traits. Genetics 124, 743-756.
Rachmat Sujianto (2004). Jateng incar posisi sentra produksi ternak sapi. Bisnis Indonesia, Jumat, 23/07/2004
Rocha, J. L., Baker, J. F., Womack, J. E., Sanders, J. O. & Taylor, J. F. (1991). Associations between RFLPs and quantitative traits in beef cattle. Journal of Animal Science 69 (suppl 1), 201.
Rocha, J. L., Baker, J. F., Womack, J. E., Sanders, J. O. & Taylor, J. F. (1992). Statistical associations between restriction fragment length polymorphism and quantitative traits in beef cattle. Journal of Animal Sciences 70, 3360-3370.
Schlee, P., Graml, R., Rottmann, O. & Pirchner, F. (1994a). Influ¬ence of Growth-Hormone Genotypes On Breeding Values of Simmental Bulls. Journal of Animal Breeding & Genetics Zeitschrift fur Tierzuchtung und Zuchtungsbiologie 111, 253-256.
Schlee, P., Graml, R., Schallenberger, E., Schams, D., Rottmann, O., Olbrichbludau, A. & Pirchner, F. (1994b). Growth Hormone and Insulin Like Growth Factor I Concentrations in Bulls of Various Growth Hormone Genotypes. Theoretical & Applied Genetics 88, 497-500.
Schutz, M. M., Freeman, A. E., Lindberg, G. L. & Beitz, D. C. (1993). Effects of maternal lineages grouped by mito¬chondrial genotypes on milk yield and composition. Journal of Dairy Science 76, 621-629.

Schutz, M. M., Freeman, A. E., Lindberg, G. L., Koehler, C. M., Beitz, D. C., Bradley, D. G., Machugh, D. E., Cunningham, P. & Loftus, R. T. (1994). The effect of mitochondrial DNA on milk production and health of dairy cattle mitochondrial diversity and the origins of African and European cattle. Livestock Production Science 37: 283-295.
Sutarno, Lymbery, A. J., Thompson, R. C. A. & Cummins, J. M. (1996). Associations Between  Growth Hormone Genotypes and Estimated Breeding Values for Pre weaning Growth of Beef Cattle. Proceedings of The 13th International Congress on Animal Reproduction , P26-19.
Sutarno and Lymbery, A.J. (1997). New RFLPs in the Mitochondrial Genome of Cattle. International Journal of Animal Genetics 28 (3): 240-241.
Sutarno. (1998). Candidate Gene Marker for Production Traits in Beef Cattle. PhD thesis, Murdoch University.
Sutarno and Aris Junaidi. (2001). Identification and characterization of bovine growth hormone gene and mitochondrial DNA variations of Indonesian native cattle. Proceeding of ITSF One Day Seminar on Science and Technology January 29th 2001, Hilton International Hotel, Jakarta.
Sutarno, Cummins, J.M., Greeff, J., Lymbery, A.J. (2002a). Mito¬chon¬drial DNA polymorphisms and fertility in beef cattle.  Theriogenology, an International Journal of Animal Reproduction 57: 1603-1610.
Sutarno, Aris Junaidi, Baharudin Tappa. (2002b). Growth hormone gene variations and meat production (growth) of Indonesian local cattle. Proceedings The 3rd International Seminar on Tropical Animal Production, 108-116.

Sutarno, Aris Junaidi, Baharudin Tapa. 2003 Seleksi untuk mem¬peroleh sapi lokal Indonesia yang unggul dalam produksi daging (pertumbuhan) melalui seleksi berdasarkan marka gen pada gen hormon pertumbuhan.Laporat RUT VIII, Lemlit UNS.
Winkelmann, D. C., Querengesser, L. D. & Hodgetts, R. B. (1990). Growth hormone restriction fragment length polymorphisms that segregate with 42-day live weight of mice. Genome 33, 235-239.

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, KINERJA GURU, BUDAYA ORGANISASI SEKOLAH, PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS SEKOLAH

Oleh :
Prof. Dr. H. Trisno Martono
28 Juli 2007

Bismillahirahmanirrohiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yth.    Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Sekretaris dan anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Yth.    Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret Surakarta
Yth.    Para pejabat sipil dan militer
Yth.    Para Pimpinan Tingkat Universitas, Fakultas dan Jurusan serta Prodi/BKK di lingkungan Universitas Sebelas Maret.
Yth.    Tamu undangan, teman sejawat semua dan seluruh hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama marilah kami hantarkan secara bersama, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rakhmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian sehingga pada pagi hari ini kita dapat berkumpul bersama di ruang ini. Atas ridha dan perkenanNya pulalah, saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univer¬sitas Sebelas Maret Surakarta.
Melalui pidato pengukuhan ini, saya berharap dapat memberikan sumbangan fikiran untuk meningkatkan kualitas pendi¬dikan di segala jenjang pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan.
Sumbangan pikiran ini diharapkan pula dapat menjadi upaya bersama bagi para profesional pendidikan dan pihak yang bertanggung jawab dalam mengabdikan diri di bidang pendidikan dalam peningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pendahuluan

Hadirin yang terhormat,
Kualitas pendidikan di Indonesia mengalami pasang surut. Perkem¬bangan kualitas pendidikan di Indonesia masih dikategorikan rendah baik di tingkat dunia maupun di tingkat Asia Tenggara. Meskipun telah dilakukan upaya, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pihak swasta untuk meningkatkan kualitas pendi¬dikan. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah diantaranya : 1) perubahan sistem pendidikan yang berkali-kali, baik mengenai substansi materi maupun organisasi pendidikan; 2) peningkatan kualitas pendidik/SDM melalui diklat; 3) pengadaan materi dan media pembelajaran; 4) perbaikan sarana prasarana pembelajaran, dan 5) upaya peningkatan manajemen sekolah.
Terbitnya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, yaitu perubahan dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi dalam pengelolaan pendidikan. UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendi¬dikan Nasional, UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, PP          No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada era desen¬tralisasi, budaya pendidikan telah memberikan kewenangan lebih kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan pengelolaan pendi¬dikan agar lebih baik, merata dan produktifitas tinggi.
Berdasarkan fakta masih banyak kepada sekolah yang bertujuan hanya semata mencapai jabatan dan masih banyak yang belum berprofesi sebagai pemimpin sebatas bekerja sesuai dengan aturan saja atau memenuhi target kerja. Namun sebenarnya diperlukan suatu pengetahuan, kemampuan, seni, prediksi, dan ketepatan dalam bertindak atau mengambil keputusan.
Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah masih diwarnai oleh gaya paternalistik, yang terlihat adalah gejala bahwa adanya gagasan yang dianggap dari Kepala Sekolah harus dihargai, dihormati, dan bahkan harus dilaksanakan.
Oleh karena itu, peningkatan produktivitas sekolah harus mendapat dukungan dari berbagai pihak dengan cara mengelola komponen-komponen, baik yang berada di dalam maupun di luar lingkungan pendidikan.
Perubahan sistem pendidikan terjadi dalam proses yang relatif cepat sehingga membuat banyak pendidik/guru perlu beradaptasi diri terutama pada budaya organisasi sekolah.
Budaya organiasi sekolah dengan sistem tradisional masih melekat pada perilaku sumber daya manusia yang ada.
Selain kepala sekolah, dan budaya organisasi sekolah, guru ter¬masuk salah satu komponen penting yang berperan dalam keber¬hasilan peningkatan kualitas produktivitas sekolah.
Kinerja guru sering dipertanyakan oleh masyarakat ketika terjadi ketidakpuasan pada hasil pendidikan peserta didik seperti hasil Ujian Nasional (UN) siswa yang rendah dan SDM lulusan sekolah kalah kualitasnya dengan negara lain.
Namun demikian kinerja guru tidak hanya dipengaruhi oleh kuali¬fikasi dan kompetensinya tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang secara langsung maupun tidak langsung ikut ber¬peran.
Oleh karena itu untuk mengubah budaya organisasi sekolah yang modern dan profesional dalam waktu singkat merupakan hal yang berat bagi guru maupun kepala sekolah.
Hal tersebut juga disebabkan oleh adanya dukungan berbagai pihak termasuk dinas pendidikan suatu saat sebagai pembina terkait tidak sesuai dengan apa yang harap oleh guru maupun kepala sekolah.

Kepemimpinan Kepala Sekolah

Pemimpin akan muncul jika ada sekelompok orang bekerja yang melakukan aktivitas bersama untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan sese¬orang untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapai tujuan bersama (Gibson dalam Sudarmayanti, 2002: 272).
Jadi dalam memimpin pasti terlibat kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memotivasi orang lain/bawahannya agar mereka mau melaksanakan tugasnya dengan baik. Pengertian lain bahwa kepemimpinan merupakan suatu aktivitas untuk mempe¬ngaruhi perilaku atau seni mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok (Miftah Toha, 2004: 9).
Pengertian juga mengungkapkan bahwa pemimpin ditentukan oleh bakat dan kemampuan/kepandaian. Bakat yaitu sifat yang dibawa sejak lahir sedang kemampuan atau kepandaian yaitu suatu kemampuan yang dicapai karena belajar atau berlatih secara teori maupun praktek mengenai kepemimpinan untuk bertindak sebagai pemimpin. Di dalam prakteknya akan lebih baik apabila kedua hal tersebut ada pada diri seorang pemimpin, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi dan kemampuan untuk mengelola pekerjaan atau suatu organisasi.
Kepemimpinan berkaitan dengan sebuah organisasi bahwa kepe¬mimpinan sebagai pencerminan suatu kualitas organisasi sebagai sistem yang memiliki karakteristik. Konsep tersebut menjadi gambaran bahwa maju dan mundurnya suatu organisasi sangat tergantung dari pemimpin.
Lembaga pendidikan atau sekolah sebagai organisasi formal merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Dari komponen yang ada seorang pemimpin harus mengetahui dan memberdayakan bawahannya untuk mengerjakan tugas.
Sehubungan dengan jabatan sebagai kepala sekolah sebenarnya terdapat tiga peran yaitu: 1) Kepala Sekolah sebagai pemimpin sekolah, 2) Kepala Sekolah sebagai manajer dan 3) Kepala Sekolah sebagai administrator.
Kepala sekolah sebagai pemimpin yaitu mengarahkan, mempe¬ngaruhi, memberi pengertian atau sejenisnya kepada staf untuk bekerja mencapai tujuan. Sedang kepala sekolah sebagai manajer berkaitan dengan pengelolaan sekolah mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan pelaporannya. Kepala sekolah sebagai adminsitrator berkaitan dengan jabatan dalam keorganisasian yaitu terkait dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab seperti halnya dikemukakan Wirawan (2002: 17) bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses bukan sesuatu yang terjadi seketika. Istilah proses dalam istilah kepemimpinan ini terdiri dari masukan, proses dan keluaran.
Pemimpin mempunyai peranan sebagai subyek yang aktif, kreatif dalam menggerakkan orang baik sebagai individu maupun kelompok/organisasi dalam pencapaian tujuan/visi, secara efektif.
Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategi dalam kerangka manajemen dan kepala sekolah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menunjang keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Kepala sekolah adalah pengelola satuan pendidikan yang bertugas menghimpun, memanfaatkan, mengoptimalkan seluruh potensi dan SDM, sumber daya lingkungan (sarana dan prasarana) serta sumber dana yang ada untuk membina sekolah dan masyarakat sekolah yang dikelolanya.
Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami kebera¬daan sekolah sebagai organiasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Kualitas kepemimpinan menurut Rodger D. Callons dalam Timpe (1993: 38-40) telah diidentifikasi sejumlah ciri-ciri pemimpin yang berhasil diantaranya adalah kelancaran berbicara, kemampuan untuk memecahkan masalah, kesadaran akan kebutuhan, keluwes¬an, kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, ketrampilan sosial dan kesadaran akan lingkungan.
Pemimpin sebagai suatu atribut yang terdiri dari 12 karakteristik yaitu : 1) fitalitas dan stamina fisik, 2) inteligensia, 3) kemampuan menerima tanggung jawab, 4) kompetensi penugasan, 5) mema¬hami kebutuhan orang lain, 6) terampil berurusan dengan orang lain, 7) ingin berhasil, 8) kemauan bermotivasi, 9) keberanian, keteguhan dan ketahanan pribadi, 10) kemampuan menenangkan perasaan, 11) kemampuan memanajemen, memutuskan dan menetapkan, 12) adaptasi dan fleksibilitas (Salusu, 1996: 210).
Berdasarkan beberapa sifat pemimpin di atas maka pemimpin merupakan orang pilihan yang mempunyai sifat-sifat unggul dibanding dengan lainnya dalam satu kelompok.
Di samping sifat, fungsi dan kualitas terdapat implikasi dari sifat-sifat, perilaku, pengetahuan, dan fungsi dalam pelaksanaan sehari-hari dengan cara atau gaya tersendiri agar berhasil sesuai dengan harapan.
Terdapat 2 dua gaya yang digunakan oleh pemimpin yaitu gaya yang berorientasi pada tugas dan gaya yang berorientasi pada karyawan.
Gaya pemimpin yang berorientasi pada tugas yaitu mengarahkan dan mengawasi secara ketat bawahannya untuk memastikan bahwa tugas dijalankan dengan memuaskan. Gaya pemimpin yang berorientasi pada karyawan yaitu mencoba memotivasi karyawan bukan mengendalikan karyawan (Linkert dikutif oleh James AF Stoner, 1982: 120).
Terdapat 8 tipe kepemimpinan yaitu 1) tipe kharismatik, 2) Tipe paternalistik dan maternalistis, 3) tipe meliteristis, 4) tipe otokratis, 5) tipe laissez faire, 6) tipe populastis, 7) tipe administratif atau eksekutif, 8) tipe demokratis.
Berdasarkan pendapat Gary Yukl, 2002: 6, dijelaskan berbagai ukuran dari keberhasilan pencapaian tujuan yang disebabkan oleh kepemimpinan dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung.
Dengan demikian kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap hasil kerja atau produktivitas secara langsung maupun tidak langsung.

Kinerja Guru

Kinerja merupakan hasil kerja seluruh aktivitas dari seluruh komponen sumber daya yang ada.
Kinerja atau performance adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum sesuai dengan norma maupun etika (Suryadi Prawiro Sentono, 1999: 1).
Guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyam¬paikan ilmu pengetahuan dan sebagai orang yang banyak digugu dan ditiru. Menurut UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik (guru) merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembe¬lajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan.
Guru adalah seorang tenaga profesional yang dapat menjadikan murid-muridnya mampu merencanakan, menganalisis dan menyim¬pul¬kan masalah yang dihadapi (Syafrudin Nurdin, 2005: 7).
Seorang guru tidak hanya terbatas pada status sebagai pengajar saja, namun peranan guru lebih luas lagi yaitu seabgai penyeleng¬gara pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan/mutu pro¬duktivitas.
Kinerja seseorang sangat ditentukan oleh pengalaman, latihan, pendidikan dan karakteristik mental serta fisik, di samping itu kinerja juga dipengaruhi oleh aspek bahasa, aspek hukum, kebudayaan setempat yang merupakan tambahan spesifik penting lainnya.
Untuk penilaian kinerja oleh John Suprihanto, 1996: 2 dapat di¬tujukan pada berbagai aspek yaitu; 1) kemampuan kerja, 2) kerajin¬an, 3) disiplin, 4) hubungan kerja, 5) prakarsa dan kepemimpinan atau hal-hal khusus sesuai dengan bidang dan level pekerjaan yang dijabatnya.
Hal yang mudah mempengaruhi kinerja adalah imbalan yang diperoleh, hadiah yang diberikan baik hadiah dari luar maupun dari dalam akan dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Hadiah ter¬sebut dapat memotivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan lebih baik.
Sesuatu yang paling berperan untuk memotivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan lebih baik adalah adanya hadiah. Disamping hal tersebut juga diperlukan kemampuan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan pemberian penghargaan.
Kinerja guru sebagai tenaga kependidikan dan sebagai karyawan/ pegawai negeri sipil baik di lembaga/yayasan sekolah, berperan sebagai pengelola pendidikan. Maka sebagai seorang guru dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah dalam rangka mencapai tujuan, terkait dengan prestasi belajar siswa.
Pendidik/guru sebagai unsur yang sangat strategis dan sebagai ujung tombak dalam merealisasikan tujuan untuk mewujudkan produktivitas sekolah yang berkualitas. Pendidikan harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk me¬wujud¬kan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi; 1) kompetensi pedagogik,       2) kompe¬tensi kepribadian, 3) kompetensi profesional, dan 4) kompe¬tensi sosial (PP 19/2005: 23-24).
Dengan demikian kinerja guru merupakan hasil yang dicapai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah baik sebagai pendidik dan pengajar dalam rangka mencapai tujuan yaitu mewujudkan lulusan/prestasi belajar siswa yang optimal.

Budaya Organisasi Sekolah

Budaya adalah sumber keunggulan kompetitif utama berkelanjutan yang kemungkinan timbul sebagai pemersatu dalam organisasi sistem, struktur dan karir (Subir Chowdhury, 2005: 327). Budaya sebagai semua temu hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan, kebendaan dan kebudayaan jasmaniah dalam upaya menguasai alam sekitar¬nya. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan dalam arti luas, di dalamnya meliputi ideologi, kebatinan, kesenian serta segala pengetahuan dan teknologi (Soerjono Soekanto, 1993: 166).
Sekolah merupakan suatu organisasi, dan budaya yang ada di tingkat sekolah merupakan budaya organisasi. Resep utama budaya organisasi adalah interpretasi kolektif yang dilakukan oleh anggota-anggota organisasi berikut hasil aktivitasnya.
Budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi. Budaya selalu menga¬lami perubahan, hal ini sesuai dengan peranan sekolah sebagai agen perubahan yang selalu siap untuk mengikuti perubahan yang terjadi. Maka budaya organisasi sekolah diharapkan juga mampu mengikuti, menyeleksi, dan berinovasi terhadap perubahan yang terjadi. Tilaar, 2004: 41 mengemukakan bahwa kebudayaan dan pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan karena saling mengikat. Budaya itu hidup dan berkembang karena proses pendidikan, dan pendidikan itu hanya ada dalam suatu konteks kebudayaan. Yang ada dalam arti kurikulum adalah sebagai rekayasa dari pembudayaan suatu masyarakat, sedangkan proses pendidikan itu pada hakekatnya merupakan suatu proses pembudayaan yang dinamik.
Budaya organiasi terdiri dari dua komponen yaitu: 1) nilai (value) yakni sesuatu yang diyakini oleh warga organisasi dalam menge¬tahui apa yang benar dan apa yang salah, dan 2) keyakinan (belief) yakni sikap tentang cara bagaimana seharusnya bekerja dalam organisasinya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam penyeleng¬garaan pendidikan diharapkan para pelaksana pendidikan di sekolah dapat mengubah budaya organisasinya sesuai dengan kondisi yang ada.
Terdapat beberapa kriteria kelompok dalam merespon perubahan dikemukakan oleh Handoko T. Hani, 2001: 322-323 yaitu:            1) menyangkal perubahan yang terjadi, 2) mengabaikan adanya perubahan, 3) menolak perubahan, 4) menerima perubahan dan menyesuaikan dengan perubahan, dan 5) mengantisipasi perubahan dan merencanakannya.
Kondisi yang terjadi mengenai sikap, perilaku, pola pikir, tindakan terhadap keadaan organisasi adalah merupakan suatu budaya organisasi.
Budaya organisasi dapat diciptakan dan dikondisikan oleh sesama tenaga kerja yang ada di organisasi bersangkutan.
Budaya organisasi memiliki peranan yang sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan keefektifan kinerja organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Budaya organisasi berperan sebagai perekat sosial yang mengikat sesama anggota organiasi secara bersama-sama dalam suatu visi dan tujuan yang sama.
Ada 4 fungsi budaya organisasi yaitu; 1) memberikan suatu iden¬titas organisasional kepada anggota organisasi, 2) memfasilitasi dan membuahkan komitmen kolektif, 3) meningkatkan stabilitas sistem sosial, dan 4) membentuk perilaku dengan membantu anggota-anggota organisasi memiliki pengertian tehadap sekitarnya.
Budaya organisasi dapat dikatakan baik jika mampu menggerakkan seluruh personal secara sadar dan mampu memberikan kontribusi terhadap keefektifan serta produktivitas kerja yang optimal.
Dengan demikian budaya organisasi sekolah sebagai bagian kebiasa¬¬an dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formulanya untuk menciptakan norma perilaku pelaku organisasi dan menentukan arah organisasi secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan organisasi sekolah.

Produktivitas Sekolah

Produktivitas merupakan rasio antara input (masukan) dan out put (keluaran) yang diperoleh. Masukan dapat berupa biaya produksi, peralatan dan lainnya sedang keluaran dapat berupa barang, uang atau jasa.
Jika diterapkan pada pendidikan maka produktivitas merupakan hasil segala upaya dari sekolah dengan menghasilkan kuantitas serta kualitas siswa, dan pendidikan. Namun dalam pengertian keluaran atau hasil ini cenderung pada kualtias keluasan.
Demikian pula produktivitas di bidang pendidikan/sekolah me¬nyang¬kut upaya peningkatan produksi. Sebagai sarana untuk meningkatkan produksi di bidang pendidikan adalah ketenagaan, kepandaian/keahlian, teknik pembelajaran, kurikulum, peralatan atau sarana prasarana pendidikan sebagai sistem pendidikan (Hasibuan, 2005: 128)
Produktivitas yang diharapkan terjadinya peningkatan pengetahuan dan perilaku siswa menuju ke arah yang lebih baik maupun peningkatan kuantitas. Di dunia pendidikan lebih cenderung ke peningkatan kualitas atau mutu lulusan yang semakin tinggi.
Dewasa ini produktivitas individu mendapatkan perhatian cukup besar. Individu sebagai tenaga kerja yang memiliki kualitas adalah ukuran untuk menyatakan seberapa jauh dipenuhi berbagai per¬syaratan, spesifikasi dan harapan. Kualitas berkaitan dengan hasil yang dicapai dan proses produksi, hal ini mempengaruhi kualitas hasil yang dicapai. Keluaran di bidang pendidikan meliputi berbagai upaya yang terkait dengan peningkatan kuantitas out put, peningkatan kualitas out put, peningkatan efektivitas kerja dan peningkatan efisiensi kerja.
Oleh Smith 1990: 45 dikemukakan bahwa produktivitas dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan. Pengertian tersebut dikaitkan dengan keberadaan guru, yaitu berupa gaji dan penghasilan lainnya dari tempat kerja atau sekolah.
Apabila kebutuhan dapat dipenuhi maka guru akan lebih semangat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Produktivitas pendidikan mencakup tiga fungsi yaitu: 1) the administrative function, 2) the psychology production function, 3) the economic production function.
Beberapa prinsip untuk meningkatkan produktivitas dan merupakan cara atau strategi dalam pencapaiannya yaitu: 1) mempercepat produk dapat diimplikasikan dalam dunia pendidikan adalah peningkatan proses pencapaian tujuan pembelajaran; 2) mendapatkan posisi yang tepat diimplikasikan di dunia pendidikan yaitu dengan menempatkan guru sesuai dengan bidang studi yang menjadi latar belakang pendidikannya; 3) jangan menambah kapasitas yang telah ada diimplikasikan di dunia pendidikan adalah memaksakan kerja kepada guru di luar kemampuannya; 4) gunakan informasi yang akurat untuk mengukur kerja.
Beberapa unsur yang menentukan produktivitas sekolah diantara¬nya adalah kepemimpinan kepala sekolah, guru, sarana prasarana, siswa dan unsur penunjang lainnya.
Khusus bagi guru memegang peranan penting di dalam produktivitas sekolah yang berkaitan dengan kualitas lulusan siswa. Sedang faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas sekolah tergantung dari berbagai hal yang saling berhubungan diantaranya adalah dengan guru, sarana prasarana, pemimpin, siswa, aturan serta unsur-unsur lainnya yang terkait.
Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang dapat dibedakan dalam 3 jenis yang sangat berbeda yaitu: 1) perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan meningkat atau ber¬kurang, 2) perbandingan pelaksanaan antara satu unit (perorangan) dengan unit lainnya. Pengukuran secamam ini merupakan pencapaian secara relatif, dan 3) perbandingan pelaksanaan sekarang dengan target yang dicapai. Inilah yang terbaik, sebab memusatkan perhatian pada sasaran/tujuan.

Berdasarkan atas hasil temuan bahwa :
1) Ternyata terdapat pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung kepemimpinan kepala sekolah terhadap produktivitas sekolah; 2) Terdapat pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung budaya organisasi sekolah terhadap produktivitas sekolah; 3) terdapat pengaruh langsung kinerja guru terhadap produktivitas sekolah.

Kesimpulan

Hadirin yang terhormat,
Produktivitas sekolah baik secara kuantitas dan kualitasnya dapat ditingkatkan melalui peningkatan profesionalitas kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru serta budaya organisasi sekolah yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung.
Peningkatan strategi kepemimpinan profesional, dilakukan dengan jalan mengadakan analisis lingkungan yang meliputi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/tantangan. Melalui peningkatan gaya kepemimpinan dengan menerapkan gaya kepemimpinan situasional. Khususnya bagi yang memerlukan sikap tegas dapat diterapkan gaya kepemimpinan otoriter, namun bagi yang dapat diajak bekerja sama dilakukan gaya kepemimpinan demokrasi.
Produktivitas sekolah dapat meningkat jika penerapan demokrasi antar unsur sumberdaya manusia terwujud, disamping juga diperlu¬kan peningkatan budaya saling menghargai, budaya inovatif, budaya kreatif, budaya profesionalisme dan budaya belajar. Bagi semua unsur yang terkait dalam satu sistem juga harus melak¬sana¬kannya baik siswa, guru dan karyawan termasuk kerjasama dengan unsur terkait di luar lembaga yang ada.
Berbagai unsur sekolah yang ada terutama guru, diharapkan dapat menciptakan kondisi adanya budaya organisasi sekolah yang sejuk, nyaman sehingga dengan adanya budaya organisasi yang baik di sekolah akan tercipta suasana akademik yang kondusif. Akhirnya berpengaruh tercapainya produktivitas sekolah dan kinerja guru yang optimal.

Saran

  1. Kepada sekolah perlu kiranya mempertimbangkan pola kepe¬mimpinan yang dijalankan selama ini dengan mempertim¬bang¬kan berbagai indikator ke berhasilan pencapaian tujaun. Hal tersebut sangat berkaitan karena begitu vitalnya keberadaan kepala sekolah, dimana pola kepemimpinannya dapat mempe¬ngaruhi kinerja guru, budaya organisasi sekolah dan produk¬tivitas sekolah yang semakin meningkat.
  2. Dalam menyiapkan calon kepada sekolah diperlukan berbagai persyaratan yang memenuhi kemampuan sebagai pemimpin profesional bukan karena atas imbalan yang diberikan dari yang bersangkutan.
  3. Bagi segenap unsur sekolah terutama para guru, agar dapat menciptakan kondisi adanya budaya organisasi sekolah yang sejuk, nyaman dengan memperhatikan berbagai indikator yang ada. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap produtivitas sekolah yang semakin berkualitas dan kinerja guru akan menjadi optimal.

Penutup

Hadirin yang terhormat,
Dipenghujung akhir pidato pengukuhan Guru Besar ini, saya mohon perkenankan atas ketulusan hati para hadirin,  memberikan kesempatan kepada saya, untuk mengungkapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang masih memberi kesempatan kepada saya untuk memperoleh pahala amal ibadah yang saya lakukan bersama keluarga.
Seperti halnya kata bijak Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist shohih Bukhory yang berbunyi:
Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputus amalnya, kecuali tiga hal yaitu: ilmu yang bermanfaat, karya yang dimanfaat¬kan untuk kemaslahatan ummat manusia, anak sholih sholihah yang mau dan mampu mendo’akan orang tuanya. Oleh karena itu saya selalu berdo’a atas RodhoNya agar ilmu yang saya peroleh yang menghantarkan saya ke jabatan akademik sebagai Guru Besar, dapat bermanfaat bagi sesama. Amin ya rabbal allamin.
Keberhasilan mencapai jabatan terhormat sebagai guru besar yang diamanatkan kepada saya ini tidak lepas dari dorongan dan bantuan berbagai pihak. Perkenankanlah saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

  • Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di FKIP Universitas Sebelas Maret Sura¬karta. Kehormatan bagi saya karena SK Guru Besar saya dibawa sendiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Kurikulum dan Media dan juga sebagai mantan Sekretaris Jenderal Menteri Pendidikan Nasional RI (Bapak Dr. H. Boedhowi, M.Si)
  • Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Yth. Bapak Prof. Dr. H. Mochamad Syamsulhadi, dr. SpKJ (K) selaku Rektor/Ketua Senat Universitas dan Bapak Prof. Dr.H. Aris Sudiyanto dr. SpKJ (K) selaku sekretaris senat beserta seluruh anggota senat universitas yang telah memberikan penilaian dan persetujuan dalam promosi jabatan saya sebagai Guru Besar.
  • Dekan FKIP juga selaku Ketua Senat Fakultas: Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Furqon Hidayatullah, M.Pd, sekretaris Senat Fakultas (Bapak Drs. Bambang Prawiro, MM) beserta seluruh anggota senat Fakultas diantaranya juga Bapak Prof. Drs. Anton Sukarno, M.Pd, Bapak Prof. Drs, H. Sukiya, Bapak Prof. Drs. Haryono DW, Bapak Prof. Drs. Mulyono B, serta Ibu Prof. Dr. Sri Yutmini yang telah banyak memberikan motivasi serta dukungannya mengusulkan saya untuk membangku jabatan Guru Besar di FKIP Universitas Sebelas Maret.
  • Prof. Dr. H. Soedijarto, MA. Prof. Dr. H. Nana Kasasih (Alm), selaku Promotor Disertasi, Prof. Dr. W. P. Napitupulu, Prof. Dr. Conay Seniawan, Prof. Dr. Made Putrawan (Direktur Program Pasca Sarjana UNJ) dan Prof. Dr. Ir. Kazan Gunawan MM yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan yang sangat berharga dalam menyelesaikan studi dan telah ikut memberikan sumbagnand alam mengembangkan kemampuan akademik saya.
  • Segenap guru-guru saya sejak di Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas serta di Perguruan Tinggi yang telah berjasa mengantarkan saya dalam menempuh jenjang pendidikan diantaranya: Drs. Soemadtya Marto Hatmodjo (Alm), Drs. Hananto (Alm), Dra. Hj. Siti Musrifah (Alm) juga Drs. Soepomo Hadi Kusuma, Dra. Sri Soedarni yang sangat banyak memberikan nasehat dan menanamkan pola kerja yang baik. Prof. Dr. H. Soeharno TS SU, Prof. Dr. H. Setiono SH. MH., Dra. Endang Trisnowati Suryadi dan masih banyak lagi yang ikut memberikan sumbangan dalam mengembangkan kemampuan akademik saya.
  • Rekan-rekan sejawat di Jurusan Pendidikan IPS khususnya di Program Studi Pendidikan Ekonomi – BKK Pendidikan Tata Niaga FKIP UNS yang telah banyak membantu mengembang¬kan karir akademik saya.
  • Juga rekan-rekan sejawat Pimpinan Jurusan dan program studi beserta semua rekan-rekan dosen dan staf karyawan yang ada di lingkungan FKIP Universitas Sebelas Maret.
  • Kedua orang tua saya Alm. Bapak Yitno Martono dan Almarhumah Ibu Subi’ah Yitno Martono yang telah melahirkan saya dan membesarkan saya dengan kasih sayangnya.
  • Kedua mertua saya Alm. Bapak Supardi Taru Prawiro, Almarhumah Ibu Suhermi Supardi Taru Prawiro selama selama beliau masih hidup banyak memberikan dorongan dengan tulus iklas mendoakan saya mendapatkan jenjang jabatan akademik tertinggi di Universitas, kepada beliau saya selalu mendoakan: “Allahummaghfirlie wali walidaya war ham humma kamaa robbayanie shoghieraa” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, dan kasihilah mereka, seperti mereka mengasihi saya). Amin yaa robbal allamiin.
  • Seluruh keluarga besar Yitno martono (kakak: Suryono sekeluarga, Sri Maryati sekeluarga, Asmuri sekeluarga, Adik Martaningsih, S.Pd sekeluarga, Drs. Imam Supimi-Tatik Hartati sekeluarga, H. Arwan Mahmud, Hj. Titi Hastuti, S.Pd sekeluarga,  Ir. Satoto Martono, MM sekeluarga.
  • Keluarga besar Soepardi Taru Prawiro (kakak Drs. H. Ichwan Dardiri + Hj. Sri Sulastri sekeluarga, Drs. H. Chairul Socheh + Hj. Sri Sutanti, SE sekeluarga, Sugiyanto sekeluarga, Ir. Delan Suharto, MT sekeluarga, Prof. Dr. H. Sutarno, M.Pd, Dra. Sri Supartinah, M.Pd sekeluarga dan adik kami Kol. Dr. Ir. H. Suharno, MM + Dr. Hj. R. Ajeng Ratna Suminar, SH, MM sekeluarga yang banyak memberikan dorongan baik moril maupun finansial yang sangat membantu melancarkan semuanya dalam pengembangan karir.
  • Terima kasih kepada rekan sejawat bapak Prof. Dr. Soedijono, M.Si (Rektor UNNES) Prof. Dr. H. Soedjarwo (Dekan UNILA) Ketua FORKOM, Pimpinan FKIP Negeri Seluruh Indonesia Drs. Yoyok Susetyo, SH, MM, Ketua Umum HISPISI Dekan FIS-E-UNY, Dekan FIP-UNY, Dekan FIP UNNES, Dekan FIS UNNES, Dekan FE-UNNES, Rektor Universitas Veteran Bantara Sukoharjo-Ketua Yayasan Pendidikan Veteran Suko¬harjo beserta jajarannya atas partisipasi dan kehadirannya.
  • Dalam kesempatan yang berbahagia ini secara khusus saya sampaikan ucapan terima kasih yang tak ternilai kepada istri tercinta Dra. Hj. Sri Supartini, M.M, anak-anak Marlia Dewi Trisnaningsih, SE dan menantu Kresna Bayu Sangka, SE, MM. Serta Fajar Danur Isnantyo, ST, Danur Arya Sadewa yang bersama ibunya telah menciptakan keluarga yang menyejukkan sehingga memungkinkan saya meniti karier akademik dan dapat mencapai jabatan akademik sekarang ini.

Terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu di sini, yang telah membantu memberi saran, pandangan, dukungan dan fasilitas berupa apapun sehingga proses kenaikan jabatan saya sebagai Guru Besar menjadi kenyataan dan berlangsung secara lancar.
Kepada semua hadirin kami mohon doa restunya, agar saya tetap amanah dan istiqomah dalam mengemban jabatan saya, pandai bersyukur dan semoga tidak menjadi congkak dan sombong tetapi rendah hati dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Alhamumma Amin.
Terima kasih kepada semua hadirin atas kesabaran dan perhatiannya untuk mengikuti pidato saya ini semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rakhmat dan HidayahNya kepada ktia semua dan mohon maaf sebesar-besarnya apabila dalam pidato ini ada hal-hal yang tidak berkenan di hati para hadirin yang saya hormati. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah seru sekalian alam.
Wabillahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA

Abizar, Komunikasi Organisasi, Jakarta: P2LPTK, 1988
Alan, Thomas, J., The Production School: A System Analysis Approach to Educational Administration Chichago University, 1985.
Alhumami, Amich, Membangun Pendidikan yang Bermutu. Kompas, 25 Agustus 2000.
Almond, Gabriel A. and Sidney Verba. The Civic Culture, political attitude and Democracy in Five Nations. Boston: Tittle, Brown and Company, 1965.
Ardian Syam, Kacamata Kuda, Yogyakarta: Amara Books, 2006.
Bryson, John M. Strategic Planning For Public and Non Profit Organizations. San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1995
Cascio, Wayne F.,  Managing  Human Resource, New York : McGraw Hill,. 1995
Crawford, Megan, Lesley Kydd and Colin Riches, Leadership and Teams in Educational Management, Terjemahan Erick Dibyo Wibowo, (Philadelpia: Open University Press).
Dessler, Gerry. Manajemen Personalia, Teknik dan Konsep. Jakarta: Erlangga. 1992.
Diwan, Parag. Human Resource Management. Kualalumpur: Golden Book Center SDN BHDO. 2003.
Djoko Santoso Moeljono, Culture-Budaya Organisasi dalam Tantangan. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2005.
Freedman, Mike and Benjamin B. Tregoe. The Art and Dicipline of Strategic Leadership. Terjemahan Hikmat Kusumaningrat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Gomes, Faustino Cardoso, Manajemn Sumberdaya Manusia, Yogyakarta: Andi,1995
Hadiyanto. Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Handoko, T. Hani. Manajemen. Yogyakarta: BPFE, 2001

PERANAN BIOTEKNOLOGI TANAMAN DALAM BIDANG PERTANIAN

Oleh:

Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S.
Tanggal 6 Agustus 2009

Bismillahirrahmanirrahim,

Yang saya hormati,
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret
Para Pejabat Sipil dan Militer
Para Pembantu Rektor, Direktur dan Asisten Direktur Pascasarjana UNS, Dekan dan Pembantu Dekan di lingkungan UNS
Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, Kepala UPT, serta seluruh pejabat di lingkungan UNS
Para Ketua Jurusan/Program Studi, Kepala Bagian, Ketua Laboratorium di Lingkungan UNS
Para Rekan Sejawat, Dosen, Staf Administrasi, dan Mahasiswa UNS, khususnya Fakultas Pertanian UNS
Para Tamu Undangan, Wartawan, Sanak Keluarga, Handai Taulan serta Hadirin yang berbahagia.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia, rahmat, dan petunjuk- Nya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita dapat hadir di sini dalam keadaan sehat wal afiat. Atas ijin Allah SWT saya dapat berdiri di mimbar terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dalam bidang Bioteknologi Tanaman pada Fakultas Pertanian UNS di hadapan para hadirin yang mulia ini.
Hadirin yang saya hormati,
Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul ”Peranan Bioteknologi Tanaman dalam Bidang Pertanian”. Judul ini saya pilih mengingat pentingnya Ilmu Bioteknologi Tanaman dalam perbaikan sifat dan produksi tanaman dalam bidang Pertanian.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang terkait dengan Pembangunan Pertanian terdapat dalam misi kedua, kelima, dan keenam.
Misi kedua yaitu : Mewujudkan bangsa yang berdaya saing, dengan program: (1) membangun struktur perekonomian yang kokoh dengan basis pertanian dalam arti luas; (2) menghasilkan produk secara efisien, modern dan berkelanjutan yang mampu bersaing di pasar lokal dan global serta untuk memperkuat basis produksi secara nasional; (3) mendorong efisiensi, modernisasi dan nilai tambah sektor primer terutama sektor pertanian dalam arti luas.
Misi kelima : Mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan : (1) mengembangkan sistim ketahanan pangan guna menjaga ketahanan dan kemandirian pangan nasional;                (2) mengembangkan kemampuan produksi dalam negeri;                     (3) kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup ditingkat rumah tangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan dan harga yang terjangkau;      (4) mengembangkan sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal.
Misi keenam : Mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari : (1) memulihkan daya dukung sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan meningkat¬kan nilai tambah; (2) mengamankan ketersediaan energi yang terukur sesuai dengan sumber daya dan kebutuhan, serta meningkatkan pengembangan energi alternatif ; (3) memanfaatkan jasa lingkungan dalam mencegah degradasi lingkungan serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan (UU No. 17 Tahun 2007).
Adapun program penelitian dan pengembangan pertanian Departemen Pertanian adalah : (1) Penelitian dan Pengembangan Komoditas (Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Peternakan); (2) Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian (Bioteknologi, Sumberdaya Genetik dan Sumberdaya lahan); (3) Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi (Sosial Ekonomi, dan Analisis Kebijakan); (4) Peningkatan Efisiensi dan Nilai Tambah Pertanian (Mekanisasi Pertanian dan Pasca Panen); (5) Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Pertanian;              (6) Pengembangan Kelembagaan dan Komunikasi Hasil Litbang (Kelembagaan, Perpustakaan dan Penyebaran teknologi pertanian) (Menteri Pertanian, 2009).

Hadirin yang saya hormati,
Apabila kita menengok sejarah masa lalu, ribuan tahun yang lalu peradaban manusia mulai berubah dari hidup berpindah-pindah menjadi hidup menetap dengan menyandarkan hidup pada pertanian dan peternakan. Pada Era itu bangsa yang tercatat memulai dengan hidup menetap dengan bertani adalah bangsa-bangsa di Timur Tengah yang kemudian menyebabkan per¬tumbuhan desa dan kota serta daerah perkotaan.
Pada tahun 8000 SM bangsa di Mesopotania (Assyiria, Sumeria, Babylonia) memulai bertani, kemudian diikuti bangsa Mesir pada tahun 4000 SM mulai menanam gandum dan membuat roti, dan bangsa China menanam padi. Pada tahun 700 SM bangsa Babylonia untuk pertama kalinya menggunakan teknik pemuliaan seleksi pada tanaman jenis palma (Halford, 2006).

Hadirin yang saya hormati,
Dunia ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, pada tahun 1753 M, Linnaeus mempublikasikan Species Plantarum, sejak saat itulah ilmu taksonomi tumbuhan mulai berkembang,  kemudian pada tahun 1859 Charles Darwin mempublikasikan On the origin of Species dan pada tahun 1866 Gregor Mendel mempublikasikan Versuche Aber Pflanzen Hybride (Halford, 2006).  Ilmu genetika tanaman yang membahas gen dan pola pewarisannya berkembang terus, demikian pula biologi seluler, pada tahun 1900 Haberlandt  mengeluarkan teori Totipotensi Sel  yaitu teori yang menerangkan bahwa setiap sel tumbuhan mempunyai kemampuan untuk hidup menjadi tumbuhan utuh apabila ditempatkan pada media atau lingkungan yang sesuai (George and Sherington, 1984).
Setelah ditemukannya DNA pada tahun 1869 oleh Friederich Miescher, penelitian-penelitian mengenai apa sebenarnya materi pembawa sifat keturunan pada makhluk hidup, akhirnya menunjuk¬kan hasil bahwa DNA adalah pembawa sifat keturunan. Setelah itu penelitian untuk mengetahui struktur DNA mulai dilakukan, struktur DNA dianalisis dengan kristalografi sinar X yang dibuat oleh Franklim dan Wilkins, kemudian diketahui bahwa struktur DNA adalah double helix  (Watson and Crick, 1953).
Studi mengenai DNA sebagai materi genetik dan enzim-enzim yang berperan dalam sintesis DNA dan rekombinasi DNA yang berada didalam sel terus berkembang. DNA polymerase merupakan enzim yang berperan dalam sintesis DNA, DNA ligase sebuah enzim yang berfungsi untuk menyambung DNA. Enzim restriksi endonuklease yang bisa memotong sequen DNA tertentu sangat besar manfaatnya untuk melakukan rekayasa DNA.  Stanley Cohen dan kawan-kawan menunjukkan bahwa DNA yang telah dipotong bisa disambung dengan plasmid (Cohen et al., 1973).
Kemajuan terus dicapai oleh para peneliti, penemuan metode analisis sequen DNA oleh Maxam dan Gilbert tahun 1977 membuat perkembangan teknologi DNA sequencing cepat maju (Maxam and Gilbert, 1977). Perkembangan selanjutnya Kary Mullis menemukan metode polymerase chain reaction (PCR) yaitu metode untuk amplifikasi atau penggandaan DNA tanpa melalui kloning dalam bakteri (Mullis and Faloona, 1987). Metode PCR sekarang ini telah digunakan secara luas dalam bidang Biologi Molekuler. Atas keberhasilannya para peneliti DNA tadi akhirnya mendapatkan hadiah Nobel.

Hadirin yang saya hormati,

Perbanyakan mikro (Micropropagation)
Teknik mikropropagasi tanaman telah dilakukan untuk menghasilkan bibit yang berkualitas dan bebas dari penyakit terutama pada tanaman yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : tidak menghasilkan  biji, tanaman yang terus menerus diperbanyak secara vegetatif, tanaman yang terinfeksi virus,  biji yang tidak sempurna, dan tanaman yang relatif sulit diperbanyak secara vegetatif dan generatif.
Beberapa tanaman yang berhasil diperbanyak secara in vitro antara lain : pisang yang bisa menghasilkan jumlah sisir buah pisang dalam tandan yang lebih banyak. Produksi umbi mikro kentang untuk penyediaan bibit kentang yang telah dikembangkan di Fakultas Pertanian UNS dengan berbagai metode perlakuan penggunaan zat perlambat tumbuh (Retardant) dan zat pengatur tumbuh (Growth Regulator) serta pengaturan pencahayaan (Yunus et al. 2002).
Demikian juga dengan tanaman lain seperti tanaman hias Anthorium, Anggrek, dan Sansivera; tanaman tahunan seperti Jati, sengon, bambu dan jarak pagar (Yunus et al. 2007); tanaman sayuran asparagus, bawang putih dan bawang merah; tanaman rimpang jahe, dan umbi seperti ketela rambat, dan ketela pohon  telah dilakukan dilaboratorium Fisiologi dan Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian UNS.
Teknik mikropropagasi juga telah dikembangkan untuk beberapa tanaman obat.  Beberapa diantaranya yang telah berhasil dilakukan seperti pule pandak, artemisia, mahkota dewa dan lainnya. Embryogenesis somatik juga telah banyak dilakukan yaitu suatu proses pembentukan embrio dari sel somatik. Keberhasilan pembentukan embrio somatik sangat bermanfaat karena akan membawa keberhasilan dalam penyediaan bibit dalam jumlah besar (Jha et al., 2007).
Metabolit sekunder (Secundary Metabolite)

Tanaman obat merupakan sumber bahan baku obat. Sebagian besar senyawa kimia yang berasal dari tanaman yang digunakan sebagai bahan obat adalah metabolit sekunder. Secara in vitro produksi metabolit sekunder ini dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan (Yunus et al., 2007).
Beberapa diantaranya adalah produksi artemisinin sebagai bahan obat anti malaria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Artemisinin bisa diproduksi di dalam sel kalus Artemisia annua, sehingga perlu dikembangkan metode yang efisien untuk meghasilkan senyawa artemisinin dari sel kalus (Yunus et al., 2007).
Penelitian untuk tanaman Purwoceng yang mengandung senyawa afrodisiak yaitu stigmasterol dan sitosterol sedang dilakukan, tujuannya adalah untuk mengetahui apakah senyawa stigmasterol dan sitosterol bisa disintesis dari kalus, untuk meningkatkan kandungan senyawa tersebut baik pada tingkat molekuler, sel, maupun tanaman. Disamping itu dilakukan  penelitian teknik budidaya porwoceng secara ex situ untuk mengembangkan sentra purwoceng di daerah lain.

Hadirin yang saya hormati,
Endofit (endophyte) adalah mikrobia baik jamur maupun bakteri yang hidup di intraseluler jaringan tanaman dengan membentuk koloni tetapi tidak merugikan inangnya (Yunus et al., 1999).
Kualitas interaksi antara tanaman dengan mikrobia diantara¬nya ditentukan oleh indole acetamide yang merupakan produk antara (intermediate) dari biosintesis IAA (Auksin). Transfer gen iaaM dari bakteri Pseudomonas syringae kedalam Neothyphodium endophyte akan dapat memperbaiki kualitas interaksi antara tanaman dengan Neotyphodium. Interaksi antara tanaman dengan Neotyphodium akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stress abiotik dan biotik (Yunus et al., 2000)
Setiap tanaman tingkat tinggi dapat mengandung beberapa mikrobia endofit yang mampu menghasilkan metabolit sekunder yang sama dengan inangnya, yang diduga sebagai akibat terjadinya  transfer gen dari tanaman ke endofit (Tan et al., 2001). Kemampuan endofit memproduksi metabolit sekunder merupakan peluang penelitian yang besar untuk memproduksi metabolit sekunder.
Berbagai jenis endofit telah berhasil diisolasi dari tanaman inangnya, dan telah berhasil dibiakkan dalam media pertumbuhan yang sesuai. Demikian pula metabolit sekunder yang diproduksi oleh endofit tersebut telah berhasil diisolasi dan dimurnikan serta diketahui struktur molekulnya. Beberapa diantaranya adalah  Cryptocandin adalah anti jamur yang dihasilkan oleh endofit Cryptosporiopsis quercina yang diisolasi dari tanaman  Tripterigeum wilfordii (Strobel et al. 1999).

Eliminasi virus dari Tanaman terinfeksi virus
Teknik kultur meristem menjadi pilihan untuk pemurnian bibit dari induk tanaman yang terinfeksi virus seperti yang telah berhasil kami lakukan yaitu kentang, bawang merah dan bawang putih. Kultur meristem kentang telah diterapkan di Balai Benih Induk Kentang di Temanggung untuk menghasilkan bibit yang bebas virus yang selanjutnya dipakai sebagai penghasil bibit. Bibit yang bebas virus akan menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang baik.
Hasil penelitian kultur meristem untuk bawang merah dan bawang putih menunjukkan bahwa bibit yang dihasilkan tidak terinfeksi virus, diharapkan bibit yang sudah dimurnikan dari virus tersebut mempunyai produksi yang tinggi. Hasil penelitian dengan menggunakan pucuk mikro bawang merah menunjukkan peningkatan hasil yang cukup tinggi dibandingkan dengan meng¬gunakan bibit biasa (Yunus et al., 2000).

Hadirin yang saya hormati,

Keragaman Somaklonal (Somaclonal Variation)
Keragaman somaklonal dapat diperoleh dari kultur sel atau kalus dalam media yang diberi perlakuan agensia seleksi seperti toksin, garam, polyethylen glycol (PEG) dan mutagen lainnya. Penelitian yang pernah dilakukan pada tanaman tebu untuk meningkatkan ketahanan terhadap penyakit pokah bung yang disebabkan oleh Fusarium moniliforme memberikan hasil yang positif. Sel kalus yang bertahan hidup setelah diberi toksin                   F. moniliforme dalam media In vitro menghasilkan bibit yang lebih tahan terhadap serangan F. moniliforme. Hasil pengujian ketahanan di alam terhadap bibit asal sel kalus yang diinokulasi isolat cendawan dari alam, menunjukkan bahwa peningkatan status ketahanan menjadi: dari jenis tebu yang tidak tahan menjadi agak tahan, dari jenis yang agak tahan menjadi tahan, dan dari jenis yang tahan menjadi sangat tahan sesuai dengan prosedur standar pengujian ketahanan penyakit pokah bung (Yunus et al., 2000).

Hadirin yang saya hormati,

Penanda Molekuler (Molecular Marker)
Dewasa ini telah berkembang penanda genetik untuk membantu analisis keragaman genetik tanaman baik antar spesies maupun dalam satu spesies. Ada tiga jenis penanda yang umum digunakan yaitu: penanda morfologi, penanda berdasarkan protein, dan penanda berdasarkan DNA. Penanda yang mudah dikenali dari pengamatan mata adalah penanda morfologi seperti bentuk daun, urat daun, bentuk kelopak bunga, warna bunga dan sebagainya.  Penanda morfologi dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sehingga kurang akurat.
Penanda berdasarkan protein umumnya adalah isozim, sedangkan alozim jarang digunakan, isozim menunjukkan satu enzim dengan lebih dari satu lokus karena adanya duplikasi gen atau famili gen, sedangkan alozim menunjukkan satu enzim dengan satu lokus. Penanda isozim mempunyai beberapa kekurangan yaitu terbatas pada enzim yang dapat dideteksi in situ, dan pola pita relatif dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan tipe jaringan sel spesifik. Penanda isozim telah banyak diaplikasikan pada beberapa tanaman seperti pada kedelai (Rita et al., 2004), dan tanaman jarak pagar (Yunus, 2007a dan Yunus, 2007b).
Jumlah, ukuran, dan kariotip kromosom pada tanaman tertentu yang belum diketahui terutama yang mempunyai prospek baik juga perlu diketahui seperti pada jarak pagar (Yunus et al., 2008).
Penanda berdasarkan DNA akhir-akhir ini menjadi pilihan dan telah diaplikasikan pada banyak jenis tanaman. Kelebihan penanda DNA atau penanda molekuler adalah tidak dipengaruhi oleh lingkungan dan terekspresi pada semua jaringan tanaman. Beberapa macam penanda DNA adalah: Restriction Fragment Length Polymorphisms (RFLP), fragmen atau potongan DNA yang didapat berasal dari DNA genom yang dipotong oleh enzim restriksi, sehingga metode ini tidak berbasis pada teknologi PCR.
Penanda DNA yang lainnya adalah penanda DNA yang berbasis pada teknologi PCR yaitu: Random Amplified Poly¬morphic DNA (RAPD); Simple Sequence Repeat (SSR) atau Microsatellite DNA; dan amplified fragment length polymorphisms (AFLP) yang merupakan kombinasi dari metode RFLP dengan PCR. RAPD bisa dikatakan sebagai penanda DNA yang anonym tetapi bisa dikonversi ke penanda pada daerah dimana sequen dapat diamplifikasi atau sequenced characterized amplified region marker (SCAR). Mekanisme kerja SSR berdasarkan pada primer 18-25 bp, polimorfisme tergantung pada jumlah ulangan sequen unit (Orosco et al., 1994; Collard et al., 2005). Penerapan analisis keragaman genetik dengan penanda RAPD dan SSR cukup baik  untuk tanaman jarak pagar, sehingga dapat diterapkan pada tanaman lainnya (Yunus et al., 2009).

Hadirin yang saya hormati,

Rekayasa Genetika (Genetic Engineering)
Kemajuan yang telah dicapai dalam bidang bioteknologi tanaman telah membantu mempercepat dan meningkatkan berbagai penelitian menuju ke arah pemahaman tentang biosintesis. Berbagai penelitian telah berhasil dilakukan untuk manipulasi enzim-enzim yang berperan dalam metabolisme. Teknik rekayasa genetika dengan melakukan transfer gen telah dilakukan dengan menggunakan bakteri Agrobacterium tumafaciens (Murakami et al. 1998) atau transformasi genetik secara langsung dengan meng¬gunakan Polyethylene glycol (PEG) dan particle gun (Yunus et al., 1999; Yunus et al., 2000).
Kemampuan bakteri A. tumafaciens yang mampu mentransfer T-DNA ke dalam nukleus dan berintegrasi ke dalam kromosom tanaman inilah yang dimanfaatkan oleh para peneliti untuk melakukan rekayasa genetika. Ekspresi dari gen yang ditransfer kedalam tanaman telah banyak diteliti terutama pengaturan ekspresinya (Murakami et al., 1998).
Teknologi rekayasa genetika telah berkembang untuk tujuan peningkatan kandungan nutrisi tertentu seperti beta karotin pada padi, kandungan protein dan nutrisi lainnya pada ubi kayu (Sayre, 2008). Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kandungan minyak dan pengaturan komposisi minyak biji-bijian baik yang dipakai sebagai minyak makan maupun sebagai bahan baku biodisel.
Hasil penelitian transformasi genetik terhadap tanaman obat seperti  Echinea purpurea dapat meningkatkan komposisi alkaloid secara signifikan (Koroch et al., 2002). Demikian pula transformasi genetik menggunakan A. rhizogenes telah berhasil meningkatkan produksi artemisin 4.8 mg/l dari kultur  A. annua  (Cai et al., 1995).
Teknologi anti-sense DNA juga berkembang yang bertujuan untuk mengatur penekanan gen (down regulated) agar gen yang bertanggung jawab terhadap penyebab penyakit atau sintesis toksin bisa dihambat kerjanya. Analisis terhadap kelainan bahkan kegagalan ekspresi seperti kejadian gen yang tidak bekerja pasca transkripsi (post transcriptional gene silencing) bisa dideteksi secara molekuler (Yunus et al., 2001).

Hadirin yang saya hormati,
Riset untuk memperbaiki kualitas nutrisi tanaman masih terbatas karena kurangnya pengetahuan mengenai metabolisme dan interaksi dari ribuan jalur metabolisme. Perlu memperkuat penguasaan jalur metabolisme tersebut untuk melakukan rekayasa metabolit, yaitu mengarahkan satu atau beberapa reaksi enzimatis untuk memperbaiki produksi senyawa yang sudah ada, senyawa baru, atau sebagai media untuk mendegradasi metabolit yang tidak diinginkan. Sebagai contoh keberhasilan rekayasa metabolit adalah ekspresi dari gen Tf C1 dan R yang mengatur produksi flavonoid di lapisan aleuron jagung, bisa menghasilkan akumulasi antosianin yang tinggi di tanaman Arabidopsis (Bruce et all., 2000). Della Penna mendapatkan bahwa gen Tf RAP2.2 dan SINAT2 dapat meningkatkan carotenogenesis pada daun Arabidopsis (Welsh              et all., 2007).
Perkembangan akhir-akhir ini Carlson et all. (2007) telah merancang vektor minikromosom yang tetap terpisah secara otonom dengan kromosom tanaman dan bereplikasi secara stabil ketika dimasukkan kedalam sel jagung. Hasil penelitian ini memungkinkan untuk merancang minikromosom yang mampu membawa gen untuk merekayasa proses biosintesis yang meng¬hasilkan metabolit.

Hadirin yang saya hormati,
Minyak makan dengan kandungan asam lemak tidak jenuh (monounsaturated) memberikan perbaikan kestabilan, flavor, dan nutrisi bagi manusia. Asam Oleat (18:1) sebagai monounsaturated memberikan stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan polyunsaturated asam linoleat (18:2) dan asam linolenat (18:3). Metode penghambatan antisen dari oleate desaturase pada kedelai dapat menghasilkan minyak yang mengandung lebih dari 80% asam oleat (normal 23%) (Kinney and Knowlton, 1988).
Malnutrisi untuk nutrisi mikro (micronutrient) yang umum disebut kelaparan tersembunyi (hidden hunger) banyak terjadi pada penduduk dunia terutama ibu dan anak di negara berkembang (United Nation Committee on Nutrition, 2004). Beberapa mineral seperti kalsium, selenium, dan iodin serta  vitamin A, B6, E, dan folat memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan. Jumlah vitamin E dapat ditingkatkan pada tanaman kedelai dan jagung, dan Betakarotin (prekursor vitamin A) pada padi, manfaat dari peningkatan nutrisi tersebut telah diteliti oleh lembaga riset ilmu Hayati (International Life Sciences Institute, 2008).

Sebagai akhir dari uraian tulisan ini saya membuat kesimpulan sebagai berikut:

  1. Penelitian Bioteknologi Tanaman perlu diarahkan untuk memperbaiki sifat dan produksi tanaman terutama tanaman asli Indonesia
  2. Penelitian Bioteknologi Tanaman diharapkan mampu menghasilkan tanaman yang tahan terhadap hama, penyakit dan kekeringan
  3. Bioteknologi Tanaman diharapkan mampu meningkatkan kualitas nutrisi hasil tanaman pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH
Hadirin yang saya hormati dan saya muliakan.
Di akhir pidato pengukuhan ini, dari lubuk hati yang terdalam saya menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar dalam bidang Bioteknologi Tanaman pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
  2. Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Bapak Prof. Dr. Muchamad Syamsulhadi, dr., Sp.KJ.(K), dan seluruh anggota Senat Universitas.
  3. Dekan/Ketua Senat Fakultas Pertanian Univer¬sitas Sebelas Maret dan segenap  anggota Senat Fakultas Pertanian, Para Ketua Program Studi S1, S2 dan S3 di lingkungan Fakultas Pertanian, Ketua Laboratorium Fisiologi dan Bioteknologi  beserta anggotanya, dan Tim Kumulatif Kredit Point (CCP) yang telah menyetujui saya untuk naik ke jabatan Guru Besar.
  4. Tim Asistensi Kelayakan Pengukuhan Guru Besar: Prof. Drs. Suranto, MSc., Ph.D.;  Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr., Sp. PA (K); Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.; Prof. Dr. Sigit Santosa, M.Pd yang telah memberikan masukan terhadap naskah ini.
  5. Kepada para guru saya di SD Negeri Sidoarjo, Madrasah Ibtidaiyah Sunan Drajat  Lamongan, SMP Negeri 1 Lamongan, SMA Negeri I  Lamongan, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Program Pascasarja Institut Pertanian Bogor dan Graduate School of Natural Sciences and Technology Okayama University.
  6. Prof. Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc (alm.), Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, M.P, Ir. Sutopo, MP selaku pembimbing saya pada program Sarjana; Prof. Dr. Ir. Rusmilah Suseno, M.Sc, Prof. Dr. Ir. Livy Winata Gunawan, M.Sc (alm.); Dr. Ir. Gunawan Sukarso, M.Sc;  selaku pem¬bimbing saya pada program Magister.
  7. Prof. Dr. Tetsuji Yamada (alm.),  Prof. Dr. Yuki Ichinose, dan Prof. Dr. Tomonori Shiraishi, selaku Promotor, Ko-Promotor pada program Doktor.
  8. Prof. Dr. Sutarno, M.Pd sebagai Ketua Tim KBK UNS yang secara rutin mengembangkan sistim KBK di UNS bersama para Pembantu Dekan I di lingkungan UNS. Dr. Ir. Syafii, M.Sc sebagai Ketua International Office UNS yang memberi layanan untuk mengangkat UNS menuju World Recognized University.
  9. Segenap civitas akademika Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, khususnya di Jurusan Agronomi/Agro¬teknologi. Tim Penjaminan Mutu dan Tim Kurikulum. Terima kasih atas kerja sama yang telah terbina selama ini.
  10. Ir. Toeranto Sugiyatmo, Ir. Sri Soetiarti S. Hartono, M.Sc, Ir. Zainal Jauhari, MS., Prof. Dr. Ir. Sholahudin, MS.; Prof. Dr. Ir. Suntoro, M.S, Prof. Dr. Ir. Edi Purwanto, M.Sc, Prof. Dr. Ir. Sri Handayani, M.Sc. yang telah memberikan motivasi kepada saya untuk menuntut ilmu. Prof. Dr. Suranto, M.Sc; Prof. Dr. Sutarno, M.Sc; dan Prof. Dr. Sajidan M.S, Dr. Ir. Vita R. Cahyani, M.S; Dr. Ir. Samanhudi, M.S  yang  menekuni disiplin ilmu yang sama Bioteknologi.
  11. Kedua Orang Tua Saya, Ayahnda bapak H. Abdul Rochim dan Ibunda Hj. Masruchah (alm.) yang membesarkan dan men¬didik saya sejak masih kecil, memberikan keteladanan dalam kesederhanaan, kesabaran dan selalu mendoakan saya agar menjadi orang yang berguna bagi sesama dan lingkungannya. Kedua mertua saya bapak R.M Sunarno (alm) dan ibu R. Ngt. Satini (alm) yang selalu mendoakan saya sewaktu masih bersama. Untuk orang tua, mertua dan para guru saya tersebut, saya mendoakan semoga Allah SWT membalas amal baik beliau dengan pahala yang berlipat ganda.
  12. Kepada istri tercinta yang senantiasa setia mendampingi dalam menjalani hidup saya Dra. R.A. Andam Dewi Indriani dan kedua anakku Aditya Muhamad Nur dan Hana Indriyah Dewi ucapan terima kasih rasanya tiada cukup atas pengertian, pengorbanan, kasih sayang dan doanya. Kepada adik-adikku beserta keluarganya: drh. Ahmad Yuhanes, M.M; Drs. Ahmad Mujtahid;  Ir. Imam Sayuti; Dra. Risnichlah; dan dr. Ahmad Zamroni, yang selalu mendoakan saya. Kakak dan adik ipar beserta keluarganya: bpk. Sartono (alm.),  Drs. Sarwono;  Drs. Sarsito; Saryanto B.A; Dra. Sri Yuniati; yang selalu memberikan doanya kepada saya.
  13. Semua pihak yang telah membantu baik berupa tenaga, fasilitas, masukan dan saran,  penulis mengucapkan terima kasih. Semoga cita-cita luhur kita selalu mendapat ridhlo dari Allah SWT, Amien.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Pustaka Acuan

Bruce W, Folkerts O, Garnaat C, Crasta O, Roth B, Bowen B.2000. Expression profiling of the maize flavonoid pathway genes controlled by estradiol-inducible transcription factors CRC and P. Plant Cell 12: pp.65–80
Cai G., G. Li, H. Ye. 1995. Hairy roots culture of Artemisia annua L. by Ri plasmid transformation and biosynthesis of artemisinin. Chin j Biotechnol. 11: 227-235.
Carlson S.R, Rudgers G, Zieler H, Mach J, Luo S, Grunden E, Krol C, Copenhaver G, Preuss D. 2007. Meiotic transmission of an in vitro assembled autonomous maize minichromosome PLoS Genet 3: e.179
Carvalho, V.P., Ruas, C.F., Ferreira, J.M., Moreira, R. M. P., and Ruas, P. M. 2004. Genetic diversity among maize (Zea mays L.) landraces assessed by RAPD marker. Genet Mol Biol 27 (2):1-33.
Castillo UF., G.A. Strobel, E.J. Ford, W.M Hess, H. poter, J.B.Jenson, H. Albert, R. Robinson, MA. Condron, DB. Teplow, D. Stevens and D.Yaver. 2002. Munumbicins, wide spectrum antibiotics produced by Streptomyces NRRL 30562, endophytic on Kennedia nigriscans. Microbiology 148: 2675-2685.
Collard B.C.Y., Jahufer M.Z.Z., Brouwer J.B., Pang E.C.K. 2005. An introduction to markers, quantitative trait loci (QTL) mapping & marker assisted selection for crop improvement: The basic concepts Euphytica 142: 169–196
Halley, S. D., Miklas, P. N., Stavely, J. R., Bryan, J. and Kelly, J.D. 1992. Identification of RAPD marker linked to a major gene block in common bean. Theor. Appl Genet 86: 505-512.
Hamrick, J.L. and M.J.W. Gode.1989. Allozyme diversity in plants.In Brown, A.H.D., M.T. Clegg, A.L. Kahler, and B.S. Weir (Eds.). Plant Population Genetics. Breeding and Genetic Resources. Sinauer Associates, Sunderland. MA. USA. P.318-370.
Halford N.G. 2006. Crop Performance and Improvement, Rothamsted Research, Harpenden, Hertfordshire, AL5 2JQ, United Kingdom. Plant Biotechnology. John Wiley & Sons, Ltd.
International Life Sciences Institute. 2008. Nutritional and safety assessments of foods and feeds nutritionally improved through biotechnology: case studies. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety 7: 50–99.
Jha T.M., Mukherjee  P. and M.M. Datta. 2007. Somatic embryo genesis in Jatropha curcas Linn., an important biofuel plant. Plant Biotechnology Reports. Korean Society for Plant Biotechnology and Springer.
Jako. C., A. Kumar, Y. Wei, J. Zou, D.L. Barton, E.M Giblin, P.S. Covello, and D.C.Taylor. 2001. Seed-Specific Over-Expression of an Arabidopsis cDNA Encoding a Diacylg lycerol Acyltransferase Enhances Seed Oil Content and Seed Weight. Plant Physiology, June 2001, Vol. 126, pp. 861–874.
Kinney A.J, and Knowlton S. 1998. Designer oils: the high oleic acid soybean. In S. Roller, S Harlander, eds, Genetic Modification in the Food Industry. Blackie Academic and Professional, London, pp. 193–213.
Maxam, A.M. and Gilbert, W. 1977. New method for sequencing DNA. Proceedings of the National Academy of Sciences USA 74, pp.560–564.
Meghna R. M., F. Wang, J.M. Dirpaul, N. Zhou, J. Hammerlindl, W. Keller., Suzanne., R. Abrams., Alison M.R. Ferrie and J.E. Krochko. 2008. Isolation of an embryogenic line from non-embryogenic Brassica napus cv. Westar through microspore embryogenesis. Journal of Experimental Botany, Vol. 59, No. 10, pp. 2857–2873
Menteri Pertanian. 2009. Meningkatkan Peran Pertanian Indonesia dalam Daya Saing Global. Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia. Kupang. NTT.
Mullis, K.B. and Faloona, F.A. 1987. Specific synthesis of DNA in vitro via a polymerasecatalyzed chain-reaction. Methods in Enzymology 155, pp.335–350.
Murakami Y., Nishino T., Taira T., Yunus A., Ichinose, Y.1998. The effect of Expression of Procaryotic Type iaa Genes in Agrobacterium tumefaciens on Plant Tumorigenecity. Journal of General Plant Pathology. Japan.Vol.63 No.5
Nirmala S., M. Anderson, A. Kumar, Y. Zhang, E.M Giblin, S.R. Abrams, L.I. Zaharia, D.C. Taylor and P.R. Fobert. 2008. Transgenic increases in seed oil content are associated with the differential expression of novel Brassica-specific transcripts. BMC Genomic, 9: 619 2-18
Orozco-Castillo, K.,J. Chalmers, R. Waugh & W. Powell. 1994. Detection Of Genetic Diversity And Selective Gene Introgression In Coffee Using RAPD Markers. Theor. Appl. Gent. 87: 934-940.
Rita, R. C., A. Yunus., E. Purwanto. 2004. Analisis Keragaman Genetik Beberapa Varietas Kedelai. Jurnal Agrosain. Vol. 6 (2): 96-104.
Strobel G.A., R.V. Miller, C.Miller, M. Condron, D.B. Teplow, and WM. Hess. 1999. Cryptocandin, a potent antimycotic from endophytic fungus Cryptosporiopsis quercina.  Microbiology 145: pp.1919-1926.
Tan, R.X and W.X Zou. 2001. Endophytes a rich source of functional metabolites.  Nat prod. Rep.18: 448-459.
UU No. 17. Tahun 2007. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).
Watson, J. and Crick, F. 1953. A structure for deoxyribose nucleic acid. Nature 171, pp.737.
Welsch R, Maass D, Voegel T, Dellapenna D, Beyer P. 2007. The transcription factor RAP2.2 and its interacting partner SINAT2: stable elements in the carotenogenesis of Arabidopsis leaves. Plant Physiol 145: pp.1073–1085
Williams, J.G.K., A.R. Kubelik., K.J. Livak, J.A. Rafalski, and S.V. Tingey. 1990. DNA Polymorphisms Amplified By Arbitrary Primers Useful As Genetic Markers. Nucl. Acids Res. 18:6531-6535.
Ye X., AlBabili S, Kloti A., Zhang J, Lucca P, Beyer P, Potrykus I. 2000. Engineering the provitamin A (beta-carotene) biosynthetic pathway into (carotenoid-free) rice endosperm. Science 287: 303–305
Yunus, A., Ichinose, Y., Shiraishi, T and Yamada, T. 1999. Genetic modification of Mutualistic Fungal Acremonium Endophyte. Scientific Journal of the Faculty of Agriculture, Okayama University, Japan. Vol. 87:99-107
Yunus, A., Kawamata, S., Shimanuki T., Ichinose, Y., Shiraishi, T and Yamada, T. 2000. Transformation of Endophyte Neotyphodium with the iaaM Gene. Journal of General Plant Pathology. Japan. Vol.65 No.2:192-196
Nishiguchi, M., S. Sonoda, Y. Tanaka, M. Shimono and A. Yunus. 2000. Graft-transmission of target specificity of Post-transcriptional Gene Silencing in Transgenic Plant with CP gene of Sweet Potato feathery mottle virus. Proc.Inter. Symposium of Durable Disease Resistance. Netherlands.
Yunus, A., Sukarso, G., and Gunawan, L. W. 2000. The Effect of Extract of Fusarium  moniliforme on the Growth and  Resistance of Sugarcane against Fungal Disease. Journal Agrosain. Vol.2:1-11.
Yunus, A., Nishiguchi, M., Sonoda, S., Tanaka, Y., and Shimono, M. 2001. Detection of 25 nucleotides of Post- transcriptional Gene Silencing of cpfeathery motle virus on Transgenic of Nicotiana bentamiana. Journal of  Plant Biotechnology, Nat. Institute of Agrobiol. Res. Japan.
Yunus, A., Amalia, T. S., Eva, P. L., Reny, H., and Ummul, B. 2002. Microtuber Induction on Potato through Plant Growth Regulator Manipulation. Journal Agrosain. Vol. 4: 15-19.
Yunus, A., Praswanto, Bayu, N., and Yulia, W. 2002. The Induction of Secondary metabolites, Alkaloid and Flavonoid on the Manipulation of Medicinal Plant Callus. Journal Agrosain. Vol. 4: 25-30.
Yunus, A. 2007a. Studi Morfologi dan Isozim Jarak Pagar Sebagai Bahan Baku Energi Terbarukan di Jawa Tengah. Jurnal Enviro. Vol. 9 (1):73-82.
Yunus, A. 2007b. Identifikasi Keragaman Genetik Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) di Jawa Tengah Berdasarkan Penanda Isozim. Jurnal Biodiversitas. Vol. 8, No.3:249-252
Yunus, A., Parjanto, E. Yuniastuti, D.W. Djohar, S.J. Fajarwati. 2008. Chromosome Analysis Of Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Asia Pacific Conference II on Art, Science, Engineering, and Technology.
Yunus, A., Samanhudi, E.Yuniastuti, N. Hanifah. 2008. The Effect Of NAA And BAP On The Growth Of Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Explant Through In Vitro Culture. Asia Pacific Conference II on Art, Science, Engineering, and Technology.

PENDEKATAN BIOREGION DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA TANAMAN BIOFARMAKA

Oleh:
Prof. Dr. Ir. Sulandjari, M.S.
Tanggal 6 Agustus 2009

Bismillahirahmannirrahim

Yang saya hormati:

Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para Anggota Senat Universitas Sebelas Maret;
Ketua dan para Anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret;
Para Pejabat Sipil maupun Militer;
Para Pembantu Rektor, Direktur dan Asisten Direktur Program Pasca Sarjana UNS, Dekan dan Pembantu Dekan di Lingkungan Unversitas Sebelas Maret;
Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, dan Ketua UPT serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret;
Para Rekan Sejawat, Dosen dan segenap sivitas akademika UNS
Para Tamu Undangan, Wartawan, Sanak Keluarga, Handai Taulan serta hadirin yang berbahagia

Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama pada kesempatan yang membahagiakan ini perkenankanlah saya bersama hadirin sekalian untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah tiada habis – habisnya melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita semua dapat berkumpul di ruangan yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat wal-afiat tiada kurang suatu apa, untuk mengikuti acara sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Atas perkenan-Nya pulalah saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar Agroekologi pada Fakultas Pertanian UNS, yang berjudul :
Pendekatan Bioregion Dalam Pengembangan
Budidaya Tanaman Biofarmaka

Hadirin yang saya muliakan,

Judul ini saya pilih karena rasa syukur saya akan keberuntung¬an kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki begitu banyak plasma nutfah tanaman berkhasiat obat (biofarmaka). Taslim (2004)  melaporkan bahwa tidak kurang dari 7.000 spesies tumbuhan berkhasiat obat yang berarti meliputi  90% dari jumlah tanaman obat yang terdapat di kawasan Asia. Lebih lanjut  Alrasyid (1991) menyatakan  Indonesia mempunyai tumbuhan obat kurang lebih  9.606 spesies. Namun sampai saat ini, belum terdapat catatan yang pasti mengenai jumlah tumbuhan yang telah dimanfaatkan sebagai obat yang terdapat di Indonesia. Zuhud (1997) menyatakan bahwa kekayaan jenis tumbuhan obat yang terdapat di ekosistem alami di Indonesia berasal dari berbagai tipe ekosistem hutan, yang telah berhasil diidentifikasi dan diinventarisasi tidak kurang dari 1845 jenis tumbuhan obat.
Lebih dari 400 etnis masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan hutan dalam kehidupannya sehari-hari dan mereka memiliki pengetahuan tradisional yang tinggi dalam pemanfaatan tumbuhan obat. Di Indonesia, tumbuhan obat merupakan salah satu komponen penting dalam pengobatan, yang berupa ramuan jamu tradisional dan telah digunakan sejak ratusan tahun yang lalu. Tumbuhan obat telah berabad-abad didayagunakan oleh bangsa Indonesia dalam bentuk jamu untuk memecahkan berbagai masalah kesehatan yang dihadapinya dan merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Kondisi pemanfaatan obat tradisional serta adanya perubahan gaya hidup akan memberikan peluang pasar yang makin besar sehingga memberikan dampak yang positif bagi perkembangan industri obat tradisional dan fitofarmaka. Pemanfaatan keaneka¬ragaman hayati berupa berbagai ramuan jamu-jamu telah menarik perhatian jauh di luar batas negara Indonesia dan pemakaian jamu sebagai obat alternatif untuk berbagai penyakit khususnya untuk penyakit yang tidak berhasil disembuhkan dengan obat-obatan modern, sekarang terus meningkat. Saat ini industri jamu tradisi¬onal maju pesat dan secara ekonomis menguntungkan negara. Mengingat permintaan yang terus meningkat, pengadaan bahan baku obat atau jamu dengan cara pemungutan langsung dari alam akan mengancam keberadaan populasinya. Beberapa spesies tumbuhan adalah spesies yang secara alam dinyatakan langka serta terancam kepunahan.
Di Indonesia, kegiatan eksploitasi hutan, konversi hutan dan pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat, serta pengambilan tumbuhan obat dengan tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dapat dipandang sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi kelestarian dan penurunan populasi tumbuhan obat, sehingga secara tidak disadari kelangkaan jenis tumbuhan obat terus meningkat. Pemanfaatan tumbuhan obat Indonesia diduga akan terus ber¬langsung mengingat eratnya keterikatan bangsa Indonesia pada tradisi  kebudayaannya dalam memakai jamu. Di samping itu, beberapa bahan baku jamu telah menjadi komoditas ekspor yang handal untuk menambah devisa negara. Sayangnya meningkatnya pemanfaatan tumbuhan obat sebagai komoditas ekspor belum diikuti dengan pembudidayaan yang rasional dan pelestarian plasma nutfahnya. Kenyataan ini akan memaksa perlunya suatu kesadaran terhadap pemanfaatan sumber daya alam hayati secara lebih hati-hati dan lebih optimal dan lebih didasarkan pada kesadaran bahwa alam merupakan stok bahan baku obat-obatan yang potensial.
Hal inilah yang  mendorong saya untuk mengkaji lebih jauh pengembangan  tanaman biofarmaka dengan pendekatan bioregion yaitu memaksimalkan kapasitas manusia (sosial, budaya, ilmu pengetahuan) serta  pengelolaan ekologi untuk beradaptasi pada kondisi ekologis setempat yang terus berubah.

Hadirin yang saya hormati,

Bioregion adalah suatu bentuk pengelolaan sumberdaya alam; yang tidak ditentukan oleh batasan politik dan administratif tetapi dibatasi oleh batasan geografik, komunitas manusia serta sistem ekologi. Dalam suatu cakupan bioregion, terdapat mozaik lahan dengan fungsi konservasi maupun budi daya yang terikat satu sama lain secara ekologis. Dengan demikian pengelolaannya merupakan pendekatan integratif dalam pengelolaan keseluruhan bentang alam yang terikat secara ekologis yang menyandarkan dirinya pada tiga komponen yaitu: (1)  komponen ekonomi yang mendukung usaha pendayagunaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dalam matriks kawasan budi daya, dengan pengembangan budidaya jenis-jenis unggulan setempat   (2) Komponen ekologi yang terdiri atas kawasan-kawasan ekosistem alam yang saling berhubungan satu sama lain melalui koridor, baik habitat alami maupun semi alami dan (3) Komponen sosial budaya yang dapat memfasilitasi parti¬sipasi masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam serta memberi¬kan peluang bagi pemenuhan  kebutuhan sosial/budaya secara lintas generasi. (Sumardja, 1997).
Konsep biorgion dari sudut pandang sumberdaya biofarmaka dan pengetahuan tradisional masyarakat lokal merupakan ikatan yang sangat erat untuk keberlanjutan pengembangan budidaya biofarmaka. Sebagai contoh setiap region hutan mengandung keanekaragaman jenis tumbuhan obat yang tinggi dan spesifik, dan berguna untuk mengobati penyakit dan menjaga kesehatan masyarakat setempat. Dengan melibatkan informan pangkal (tokoh adat, pemerintah, agama), informan pokok (ahli pengobatan tradisional) dan pelengkap (anggota masyarakat biasa yang memiliki pengetahuan mengenai tumbuhan obat) kita dapat mengetahui macam biofarmaka yang esensial diperlukan oleh etnis setempat untuk menjaga kesehatannya. Sebagai contoh dari hasil penelitian diperoleh 28 jenis tumbuhan obat pada suku Heibebulu dan 24 jenis pada masyarakat suku Moi. Jenis tumbuhan yang paling dominan digunakan sebagai obat pada kedua lokasi penelitian tersebut adalah dari Famili Euphorbiaceae. Pemanfaatan¬nya terutama untuk jenis penyakit seperti batuk, demam, sakit perut, alat KB tradisional dan malaria (Herny, 2001). Selanjutnya (Zuhud et al., 2000) melaporkan di Taman Nasional Meru Betiri terdapat 355 jenis tumbuhan, terbagi ke dalam 92 famili. Dari total jenis tumbuhan tersebut, 291 jenis (81,7%) telah teridentifikasi mempunyai khasiat obat.
Pengetahuan tradisional masyarakat lokal tidak bisa dilepas¬kan dari pengembangan konsep bioregional dan IPTEK. Pengem¬bangan IPTEK yang tidak berbasis pada sumberdaya alam hayati setempat sering tidak berhasil secara maksimal dan tumbuh hanya sesaat. Hal ini disebabkan karena sumberdaya alam dan sumber¬daya manusia yang berpengetahuan tradisional dimarginalkan dan akhirnya kemandirian dan kepercayaan diri menjadi hancur. Pengembangan tanaman biofarmaka didasarkan kepada beberapa pertimbangan antara lain  (1) besarnya potensi tanaman biofarmaka dan kayanya pengetahuan tradisional masyarakat akan peman¬faatan¬nya (2) berkembangnya pasar simplisia/obat tradisional atau adanya perusahaan jamu di sekitar lokasi; (3) tersedianya lahan yang sesuai baik secara ekologis maupun aksesibilitas untuk pengembangan budidaya tanaman biofarmaka (4) sumberdaya manusia (para pakar dibidang biofarmaka dan petani) telah siap.

Hadirin yang saya muliakan,

Marilah kita tinjau nilai ekonomi dari tanaman biofarmaka. Komoditas ini sangat tangguh terhadap gangguan krisis moneter karena basis harga pemasarannya dalam dolar Amerika. Dalam kondisi saat ini harga jual yang tinggi (dalam rupiah) menjadikan produk berbasis sumberdaya alam ini sebagai penghasil devisa yang tangguh.
Menurut data dari Sekretariat Convention on Biological Diversity, pasar global obat herbal pada tahun 2000 mencapai US$ 43 milyar. WHO mencatat pada tahun 2000 pasar obat herbal yang tergolong besar adalah sebagai berikut: Cina (US$ 5 milyar); Eropa barat (US$ 6,6 milyar); Amerika Serikat (US$ 3 milyar); Jepang (US$ 2 milyar) dan Kanada (US$1 milyar). Demikian pula pasar Indonesia juga terus meningkat dari tahun ke tahun (tahun 2001  sebesar Rp. 1,3 trilyun dan tahun 2002 naik menjadi Rp. 1,5 trilyun),  di Malaysia nilai perdagangan produk herbal tahun 2000 mencapai US$1,2 miliar, dengan tren pasar meningkat 13% per tahun (Sampurno, 2003).
Kecenderungan masyarakat dunia yang memprioritaskan produk yang ekologis daripada kimiawi, menyebabkan permintaan akan obat bahan alami juga akan terus meningkat. Nilai obat modern yang berasal dari ekstrak tumbuhan tropis di dunia pada tahun 1985 mencapai US$ 43 milyar, 25% obat modern tersebut bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Sedangkan nilai jual obat tradisional pada tahun 1992 di dunia mencapai US$ 8 milyar (Maxmillian, 2007).
Untuk kawasan Asia, dalam hal ini Cina berdasar data terakhir tahun 2000, ada 11146 jenis biofarmaka yang dimanfaat¬kan pada industri TCM (Tradisional China Medicine) dengan memanfaatkan area seluas 760.000 hektar dengan total output 8.500.000 metrik ton dan secara rutin pembudidayakan sekitar 200 jenis biofarmaka utama sepanjang tahun. Dengan kurang lebih 1200 industri dan 600 di antaranya memiliki kebun terintegrasi dengan pabrik China dapat meraup omset US$ 5 milyar (domestik) dan US$ satu milyar (ekspor). (Maxmillian, 2007).
Di pasar domestik, rimpang temulawak (Curcuma aeruginosa Roxb.) dan rimpang jahe (Zingiber officinale Roxb.) merupakan dua jenis biofarmaka budidaya yang banyak dipasok oleh petani untuk industri obat tradisional, baik industri besar maupun menengah, yaitu rata-rata 310.870 kg/tahun dan 272.854 kg/tahun. Jenis-jenis biofarmaka yang diminta oleh negara-negara industri farmasi, seperti tapak dara (Catharanthus roseus),kina (Chinchona spp), kecubung (Datura metel), pule pandak (Rauwolfia serpentina) dan valerian (Valeriana officinalis) umumnya dapat tumbuh di Indonesia dan tidak membutuhkan persyaratan yang spesifik untuk tumbuhnya (Maxmillian, 2007).
Dari data dan angka di atas menunjukkan bahwa prospek ke depan biofarmaka kita masih terbuka lebar pemasarannya.

Hadirin yang saya hormati,

Kekayaan jenis tanaman biofarmaka yang terdapat di ekosistem alami di Indonesia berasal dari berbagai tipe ekosistem hutan, oleh karena itu strategi pengembangan tanaman biofarmaka  haruslah mempertimbangkan secara cermat faktor biogeografi dan ekologinya. Di dalam usaha budidaya suatu tanaman, diperlukan pengetahuan tentang faktor tumbuh tanaman tersebut, karena dalam proses budidaya suatu tanaman yang berorientasi pada produk¬tivitas tanaman selain kemampuan suatu tanaman beradaptasi pada faktor lingkungan yang sedang berubah juga memerlukan pengetahuan tentang faktor-faktor produksi untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang optimum. Pengetahuan tentang daerah penyebaran tumbuhan digunakan untuk menentukan  tipe  iklim  dan  tanah  yang  sesuai  sehingga dapat memilih tempat budidaya.
Nilai tanaman biofarmaka adalah terletak pada kandungan bahan aktif atau metabolit sekundernya dan keberadaan metabolit sekunder dalam tumbuhan sangat tergantung pada lingkungan terutama faktor-faktor yang mempengaruhi proses enzimatik antara lain jenis tanah, unsur hara, curah hujan, temperatur dan cahaya. Disamping itu bagian dari tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan baku obat atau berkhasiat obat untuk berbagai jenis tanaman berbeda. Kadang bagian akar, daun, bunga buah dsb. Per¬masalahan¬nya adalah bahan aktif sebagai hasil utama tanaman biofarmaka pembentukannya memerlukan tekanan lingkungan sedangkan untuk mendapatkan simplisia dengan bobot kering yang tinggi diperlukan faktor lingkungan yang mendukung fotosintesis yang maksimal. Dengan demikian dalam memproduksi tanaman biofarmaka dengan bobot simplisia yang tinggi adalah dilema.
Hoft et al., (1996) menyatakan, beberapa laporan menunjuk¬kan bahwa pada tanaman terjadi reaksi positip bila kekurangan air terhadap kandungan metabolit sekunder, seperti alkaloid tidak muncul di bawah kondisi kelembaban udara tinggi; kandungan alkaloid tertinggi pada Opium poppy (candu) yang ditanam di Rusia, Polandia dan Hongaria terjadi di bawah kondisi kekurangan air; dan stress air meningkatkan nikotin pada tembakau. Pada penelitiannya terhadap Tabernaemontana pachysiphon menunjuk¬kan bahwa intensitas cahaya yang rendah merangsang pembentukan alkaloid tetapi menurunkan pertumbuhan. Lebih dari 20% bobot kering akar berkurang pada intensitas cahaya yang rendah, namun kadar isovoacangine meningkat.
Tanaman pule pandak (R. Serpentina), akarnya mengandung lebih dari 50 senyawa alkaloid yang berkhasiat menyembuhkan beberapa penyakit, faktor limit untuk pertumbuhannya adalah tanaman ini menghendaki naungan. Hasil penelitian yang saya lakukan menunjukkan bahwa pada kerapatan naungan 50% sampai dengan kerapatan naungan  80%, kadar reserpina lebih tinggi daripada kerapatan naungan 20%; namun bobot akar pertanaman tertinggi didapat pada tingkat naungan 20% (Sulandjari et al., 2005).
Ketinggian tempat juga dapat berpengaruh terhadap kandungan bahan aktif dari tanaman biofarmaka. Biji dari tanaman kelabet (Trigonella spp) yang berfungsi sebagai antidiabetik, kandungan alkaloid trigonelina-nya lebih tinggi apabila ditanam di dataran tinggi daripada di dataran rendah (Hendrison, 2007). Demikian juga pada tanaman pule pandak kandungan reserpinanya lebih tinggi apabila ditanam di dataran rendah daripada di dataran tinggi (Sulandjari, 2007).
Sisi lain dari tanaman biofarmaka yang berfungsi bagi kesehatan tubuh manusia, beberapa jenisnya dapat digunakan sebagai pestisida dan herbisida bahkan untuk pupuk atau sebalik¬nya dapat merugikan karena dapat menjadi inang dari suatu penyakit bagi tanaman lain. Sebagai contoh adalah Ageratum conyzoides (Babandotan/wedusan), tanaman ini lebih dikenal dalam lingkungan pertanian sebagai gulma karena kemampuan adaptasinya yang tinggi, sehingga dapat hidup dimana-mana sehingga menjadi tanaman pengganggu.
Babandotan  telah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Di India, tanaman ini digunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan anti-lithik. Di Indonesia, babandotan banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Namun apabila diperhatikan dengan teliti, lebih dari 30% tanaman babandotan menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus dan hal ini terbukti pada penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman babandotan yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan Geminivirus ( Sukamto, 2007).
Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa dalam pengembangan tanaman biofarmaka faktor ekofisiologis haruslah menjadi pertimbangan.

Hadirin yang saya muliakan,

Di dalam mengembangkan budidaya tanaman biofarmaka berbasis pengelolaan bioregional dapat ditempuh melalui cara di dalam habitat aslinya (in-situ) dan di luar habitat aslinya (ex-situ). Menurut McNeely et al.,(1992) strategi terbaik bagi pelestarian jangka panjang adalah pelestarian in-situ, tetapi untuk spesies yang langka dan telah terdesak populasinya perlu strategi ex-situ.
Pengembangan budidaya tanaman biofarmaka yang dilakukan di kawasan hutan (hutan produksi, hutan lindung atau pada zona rehabilitasi taman nasional) dapat dilakukan dengan sistem agrowanatani atau pola agroforestri. Agroforestri merupakan suatu bentuk pengelolaan sumberdaya alam yang dinamis dan berbasis ekologi, dengan memadukan tegakan pepohonan sehingga mampu mempertahankan terjadinya interaksi antara ekologi, ekonomi, dan unsur-unsur lainya, terutama dengan sosial-budaya sehingga dapat terwujud pembangunan yang berkelanjutan (Adnan, 2006). Namun perlu diperhatikan kemungkinan adanya sifat alelopati dari tegakan ataupun tanaman biofarmaka itu sendiri yang memungkinkan untuk berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil masing-masing tanaman.
Konsep yang menyatakan bahwa tumbuhan dapat menimbul¬kan pengaruh buruk atau beracun atau hambatan pada tumbuhan lain yang dikenal sebagai alelopati dikemukakan oleh de Candolle sejak tahun 1932. Fenol merupakan salah satu komponen senyawa yang bersifat alelopatik yang dapat ditemukan dalam jumlah cukup besar pada hampir semua tumbuhan. Terutama tanaman-tanaman yang diketahui menghasilkan minyak atsiri dan metabolit sekunder lain seperti Eukaliptus dan Akasia. Senyawa fenol dapat dikeluar¬kan melalui akar, daun ataupun organ tumbuhan lainnya. Senyawa-senyawa ini merupakan senyawa sekunder yang memegang peranan penting dalam interaksinya antara tumbuhan yang satu dengan yang lainnya. Bertambahnya senyawa-senyawa fenol yang sifatnya autoinhibitor meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan tumbuhan tersebut (Hall et al., 1982).
Beberapa penelitian pernah dilakukan terhadap tumbuhan Eucalyptus deglupta adanya senyawa alelokemi yang dilepaskan ke lingkungan yang mempengaruhi tumbuhan lain yang berasosiasi. Senyawa yang menghambat pertumbuhan berupa fenol yang mudah larut dalam air, terpen yang mudah menguap, telah dapat diperoleh dari daun, kulit kayu dan akarnya (Silander et al., 1983). Selanjutnya senyawa fenol dapat masuk ke dalam tanah melalui pelindian, daun, eksudat akar atau karena dekomposisi sisa-sisa tumbuhan (Rice, 1984).
Di samping itu pola tanam tumpangsari telah banyak dilakukan oleh masyarakat yaitu tanaman biofarmaka antara lain empon-empon dengan tanaman pangan; tumpangsari tanaman jahe diantara karet muda; tempuyung dengan daun dewa dan lain-lain  Pemanfaatan lahan marginal dapat juga menjadi pilihan untuk pengembangan tanaman biofarmaka mengingat luas lahan marginal di Indonesia mencapai 140 juta ha dan baru sebagian kecil saja yang sudah dimanfaatkan sehingga tidak mengurangi lahan-lahan subur yang disediakan untuk tanaman pangan.

Hadirin yang saya hormati,

Kegiatan utama yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya tanaman biofarmaka dengan pendekatan bioregion adalah pembimbingan dan pendampingan kepada masyarakat pelaku budidaya tanaman biofarmaka terutama masyarakat tepi hutan untuk memberikan pengertian dan motivasi dalam melestarikan kekayaan tanaman biofarmaka kita. Dalam pembimbingan dilakukan pembelajaran dalam budidaya dan pasca panen yang memenuhi syarat dalam kualitas sebagai bahan baku obat. Selanjutnya membangun kemitraan dengan industri jamu/ dan industri fitofarmaka. Dalam kerjasama dengan mitra, keuntungan yang dapat diambil adalah jenis simplisia biofarmaka yang dibutuhkan untuk industri mitra, waktu panen, dan penjaminan pasar dari hasil budidaya, oleh karenanya kelestarian tanaman biofarmaka akan lebih terjaga dan terjamin sesuai dengan daya dukung lingkungan.
Agar unsur-unsur bioregion tersebut berjalan dengan baik maka pemerintah setempat diperlukan sebagai fasilitator dan penunjang kemitraan tersebut. Dalam hal ini peran LSM sangat berarti. Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian berperan dalam penelitian-penelitian, pelatihan dan pendidikan serta bersama pemerintah memonitor dan mengevaluasi program.
Sebagai akhir dalam uraian yang telah saya kemukakan,  dalam menunjang pengembangan tanaman biofarmaka dengan pendekatan bioregion perlulah kiranya dilakukan pemetaan biofarmaka budidaya berdasarkan  kesesuaian lahan hubungannya dengan bahan aktif dan ekofisiologi dan letak Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) ataupun Industri Obat Tradisional (IOT) untuk menunjang dalam menetapkan kebijakan dan agribisnis tanaman biofarmaka.

Hadirin yang saya muliakan,

Sebelum saya akhiri pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya sekali lagi menghaturkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho- Nya sehingga saya memperoleh keper¬cayaan memangku jabatan tertinggi bidang pendidikan di perguruan tinggi yaitu Guru Besar dalam bidang ilmu Agroekologi. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan tuntunan dan kemudahan kepada saya dalam mengemban tugas mulia ini sehingga ber¬manfaat bagi  Negara, Bangsa dan Agama, Amin.
Pada kesempatan ini pula saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Pendidikan Nasional, atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk mengemban jabatan terhormat ini serta Pimpinan dan angota Senat Universitas Sebelas Maret beserta Pimpinan dan anggota Senat Fakultas Pertanian UNS yang telah menyetujui, mengusulkan dan memproses pengangkatan Guru Besar saya. Tak lupa ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Ketua dan Sekretaris Jurusan Agronomi, Ketua Laboratorim Ekologi dan Mangement Produksi Fak. Pertanian UNS, yang selama ini memberikan bantuan dan kerjasama yang baik.
Secara khusus saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada

  • Bp. Ariadhie Nursasongko, S.H., pada saat beliau menjabat di bagian Kerjasama UNS, telah banyak membantu, mendorong dan memberi motivasi untuk terselesaikannya studi S3 saya.
  • Kakak dan juga sahabat saya Ir. Retni Marduhartati, M.S.
  • Teman sejawat saya Prof. Dr. Ir. Achmad Yunus, M.S.
  • Sahabat saya Drs. H. Ahmad Syarifuddin,

yang telah membantu banyak hal dalam kehidupan ataupun tugas  saya sehingga banyak beban ataupun masalah menjadi mudah untuk diselesaikan. Semoga Allah SWT melimpahkan pahala- Nya, Amin.
Ucapan terimakasih yang tulus saya tujukan kepada Promotor dan juga panutan saya, Alm. Prof. Dr. Ir. Soemantri Sastrosoedarjo.  Di samping itu ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada Ko Promotor yang telah membimbing saya meskipun tidak sampai selesai yaitu, Alm. Prof. Ir. Soedharujian; Alm. Prof. Dr. Ir. Rudjiman, MS; Alm. Prof. Dr. Ir. Oemi Haniin, M.Sc.; Alm. Prof. Dr. Ir. H. Soekardi Wisnubroto. Semoga beliau-beliau mendapat¬kan ketenangan, kebahagiaan dan tempat yang terhormat di sisi-Nya. Amin. Kepada Promotor dan Ko Promotor saya, Prof. Dr. Soewidjio Pramono, Apt. DEA; Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa; Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc.; saya mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga dalam membimbing, hingga saya dapat menyelesai¬kan program S3 di UGM. Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada para penguji disertasi saya yaitu, Prof. Dr. Prapto Yudono, MSc.; Prof. Dr. Ir. Putu Sudira, M.Sc.; Prof. Dr. Ir.  Edi Purwanto, M.Sc.; Prof. Dr. Ir. Susamto, M.Sc.; Dr. Ir. Bambang Sunarminto, S.U., dan Dr. Ir. Endang Sulistyaningsih, M.Sc.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada para guru-guru saya sejak SD Bopkri dan IKIP; SMPN.V, SMAN I di Jogjakarta dan SMA BUPI di Bandung serta para Dosen dan Pembimbing Tesis saya di S1 dan S2 UGM. Kepada sahabat-sahabat  saya para dosen di Fak. Pertanian UGM yang saya cintai antara lain Muhartini; Mbak. Cicik Nasrulah; Mbak  Setyastuti; Dik Erlina dan
Dik Rohmanti serta sahabat-sahabat saya di SMAN I Yogya, Erning, dr. Anisah, Prof. Basuswasta, Nuryatin, S.H., dll. saya mengucapkan terimakasih dan semoga persahabatan kita tetap langgeng. Kepada teman-teman saya di Fak. Pertanian UNS,                Ir. Wartoyo, M.S.; Dr. Ir. Nandariyah, M.S.; Dra. Soewarni, M.P, Prof. Dr. Ir. Djoko Purnomo, M.P.; Dr. Ir. MTh. Budihastuti, M.Si; Ir. Triyono D.S., MP.; Drs. Sugiyono, M.P.; Prof. Dr. Bambang Pudjiasmanto, M.S.; Prof. Dr. Ir. Priyono, M.S. dan teman sejawat lainnya yang tidak dapat saya sebut satu persatu, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas kerjasama dan dukungan dalam berkarya selama ini. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih kepada Staf Administrasi Fak. Pertanian UNS, P. Warno, P. Suroto, P. Sutino, P. Wardoyo dan teman-teman  lainnya yang tidak dapat saya sebut satu persatu, atas bantuan untuk kelancaran tugas-tugas saya.
Dalam lingkup keluarga, pertama-tama saya ingin menghatur¬kan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada kedua orang tua saya Alm. RM. Sudardji Sosrosuparto dan Almarhumah Ibu. Nindiyati yang dengan segenap cinta kasih dan perhatiannya telah membesarkan dan mendidik saya sehingga saya berhasil menyelesai¬kan pendidikan dan dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini. Semoga saya masih terus dapat menyebut nama beliau dalam doa-doa saya untuk ketenangan dan kebahagiaanya di sisi Allah SWT. Amin. Demikian juga kepada kedua mertua saya Alm.R. Saroyo Dipo dan Almh. Ibu Marisestri.
Kepada kakak-kakak saya yang saya kasihi, Dyah Harjanti dengan Purwanto, B.Sc; Prof. Dr. Drg. Pinandi Sri Pudyiani, Sp.Ort. dengan Prof. Dr. Bambang Irawan M., SpPD-KKV., SpJP(K).,FIHA.; Mbak Sasmerti R; dan adik-adik saya yang saya sayangi Dra. Sri Hartati dengan Sumarno, S.H.; Drs. Pradopo dengan Sudiyati; Pradipto (Alm) dengan Uli; Tyas Winoroyekti dengan Faizal L., S.H.; Dra. Murtijayanti, M.M. dengan Drs. Sofyan T., M.M..;  Prof. Dr. Drg. Wihaskoro S., PhD. Dengan Drg. E. Herminajeng,M.S.; Dra. Menuk Gandini dengan Drs. Aris. Suherlan; Dra. Hesti Darmawati dengan M. Husni, S.H. dan Ir. D.W. Gunarti dengan Ir. Budiutomo. Serta Keponakan dan cucu-cucu saya. Pada kesempatan ini ingin saya sampaikan rasa syukur dan bahagia yang sungguh saya rasakan atas kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga kita sehingga sesuatu yang berat terasa menjadi ringan. Alhamdullilah.
Kepada suami saya tercinta yang telah lama meninggalkan saya Alm. Drh. Mas Besar S. Dipo. Apabila memungkinkan saya ingin menyampaikan bahwa saya akan terus berjuang untuk memenuhi pesannya yaitu mengantar anak kami menjadi dokter dan Alhamdulilah dengan bantuan berbagai pihak, sekarang telah masuk Co Ass dan sebentar lagi selesai. Insyaallah, Amin.
Terima kasih tiada terhingga secara khusus saya sampaikan kepada anak sekaligus juga sahabat saya Dite Bayu Nugroho yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan hati, memberikan ketenangan batin dan semangat kepada ibunya sehingga saya menjadi kuat untuk menyelesaikan amanah dan kuwajiban-kuwajiban saya untuk keluarga. Dite, mama selalu siap men¬dampingi kamu dalam mencapai cita2mu dan doa mama semoga Allah mengabulkannya, Amin.
Terima kasih yang setulusnya saya haturkan kepada para hadirin sekalian atas kesabaran dan perhatiannya beserta permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata dan sikap saya yang kurang berkenan di hati para hadirin sekalian selama saya membacakan pidato pengukuhan saya ini.

Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2006. Belajar Kepada Rakyat: Pengelaan Hutan dan Kawasan dengan Kearifan  Lokal. www.blog.com. 6 hlm.
Hendrison Marnis, 2007. Pengaruh Ppemupukan Nitrogen Pada pH Tanah Berbeda terhadap Hasil dan kadar Alkaloid Biji Kelabet Trigonella Foenum graecum L.) di Dua lokasi dengan Ketinggian dan Musim Tanaman Berbeda. http://www.digilib.itb.ac.id.com.
Herny E.I.S. 2001. Inventarisasi tumbuhan obat pada masyarakat Suku Heibebulu dan Suku Moi Kabupaten Jayapura Irian Jaya. IJPTUNCEN
Hall,A.B.,U.Blum & R.C.Fites, 1982. Stress Modification of     Allelopathy of Helianthus annus L. Debries on Seed     Germination. Am.J.Bot. 64,776-783.
Hoft M.;R. Verpoortee; E.Beck.1996.Growth and alkaloid contents in leaves of Tabernaemontana pachysiphon Stapf (Apocy¬naceae) as influenced by light intensity, water and nutrient supplay. Oecologia (1996) 107: 160-169.
Hall,A.B.,U.Blum & R.C. Fites, 1982. Stress Modification of Allelopathy of Helianthus annus L. Debries on Seed Germination. Am.J.Bot. 64, 776-783.
McNeecly, J.A., Kenton, R.M., Walter, V.R., Russel, A.M., Timothy B.W. 1992. Conserving The World’s Biological Diversity. Paper in International Course on Regenerative Agriculture. International Institute of Rural Reconstruction, Silang, Carvite, Philippines.
Maximillian.2007. Pharmacy Business; an overview of pharmacy related and healthcare industry. Agrofarmasi (2). Phyto¬pharmacy. Februari.
Rice,E.L., 1984. Allelopathy. Second Edition. Academic Press Inc. London. Ltd.
Sumardja, E. 1997. “Pendekatan Bioregional dan Prospeknya di Indonesia”.  Prosiding Diskusi Panel Manajemen Bioregional Taman Nasional Gn. Gede Pangrango, Taman Nasional Gn. Halimun dan Gunung Salak.  Puslitbang Biologi LIPI dan Program Studi Biologi Pasca Sarjana UI. Depok.
Sampurno, 2003. “Kebijakan Pengembangan Obat Bahan Alam Indonesia. Makalah Seminar Nasional Tumbuhan Obat. Indonesia. XXXIII. Univ. Pancasila”.
Sulandjari, Suwidjijo P., Sukardi W. 2005. Hubungan mikroklimat dengan kandungan reserpina pule pandak. Majalah Obat tradisional. 10(33)34-38.
Silander,J.A.,B.R. Trenbath & L.R.Fox, 1983. The Allelopathic     Potential of A     Native Plant. Oecologia. 58, 415.
Taslim Ersam. 2004. “Keunggulan Biodiversitas Hutan Tropika Indonesia Dalam Merekayasa Model Molekul Alami”.  Makalah Seminar Nasional Kimia VI.
Zuhud, E.A.M. 1997. Mencari Nilai Tambah Potensi Hasil Hutan Non Kayu Tumbuhan Obat Berbasiskan Pemberdayaan Masyarakat Tradisional Sekitar Hutan. Tidak dipublikasikan.
Zuhud, E.A.M, Siswoyo, Hikmat dan Sandra. 2000.  Inventarisasi, Identifikasi dan Pemetaan Potensi Wanafarma Propinsi Jawa Timur. Laporan. Tidak Dipublikasikan.

TEKNOLOGI REKOMBINAN ENZIM FITASE DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN MATA KULIAH BIOKIMIA, GENETIKA DAN BIOTEKNOLOGI

Oleh:
Prof. Dr. rer.nat. H. Sajidan, M.Si
Tanggal 6 Agustus 2009

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu ’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat,
Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret,
Sekretaris dan Anggota Senat,
Pimpinan Fakultas, Pascasarjana, Lembaga, UPT, Jurusan/Bagian, Program Studi/ Bidang Keahlian Khusus.
Yang terhormat Dosen, Karyawan dan Mahasiswa
Yang terhormat para Pejabat Sipil dan Militer
Para Tamu Undangan, Wartawan dan Hadirin yang Berbahagia.

Marilah kita panjatkan  puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena dengan limpahan taufik, hidayah dan inayah-Nya kita dapat berkumpul di tempat yang terhormat ini. Berkat perkenan Nya pula pada hari ini saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan pidato pengukuhan jabatan guru besar dalam bidang Genetika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta di hadapan para hadirin yang saya hormati.
Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar dengan judul: Teknologi Rekombinan Enzim Fitase dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Mata Kuliah Biokimia, Genetika dan Bioteknologi.
Hadirin yang saya hormati,

A.    Pendahuluan
Fitase merupakan salah satu enzim yang tergolong dalam kelompok Fosfatase yang mampu menghidrolisis senyawa fitat (myo-Inositol (1,2,3,4,5,6) hexakisfosfat. Tahun 1977 International Union of Pure and Apllied Chemistry (IUPAC) mengelompokkan enzim fitase menjadi 2 yaitu: 3-fitase dan 6-fitase. Pengelompokan ini didasarkan pada kemampuan enzim fitase untuk melepas molekul phosphor (H2PO4) pada atom C dari gugus benzena Inositol. Enzim 3-fitase umumnya dijumpai pada mikrobia dan memulai menghidrolisis molekul phosphor pada atom C nomor 3 dari gugus benzena Inositol, namun demikian Greiner et al (1993) menemukan 6-fitase dari bakteria Escherichia coli strain ATCC 33965.
Pada beberapa tahun terakhir, enzim fitase sangat intensif diteliti dan menjadi enzim yang mempunyai nilai komersial tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mereduksi senyawa fitat dalam rangsum makanan ternak. Fitase dapat dijumpai pada mikroorganisme seperti jamur dan bakteria, baik fitase ekstraseluler maupun intraseluler. Sampai saat ini aktifitas spesifik fitase tertinggi ditemukan dari isolasi nativ protein bakteri E. coli (Greiner et al, 1993).
Shieh dan Ware (1968) mengadakan penelitian tentang aktifitas fitase dari 2000 jenis Jamur, dan Aspergillus niger NRRL3135 sebagai strain yang paling aktif. Fitase ini pada beberapa tahun terakhir telah berhasil dikomersialkan sebagai campuran pakan ternak. Fitase ekstraseluler dari jamur berfilamen telah diisolasi, 28 strain termasuk dalam genus Aspergillus, satu strain genus Penicillium dan satu termasuk genus Mucor. Howson dan Davis (1983) melaporkan bahwa fitase Aspergilus niger adalah yang paling meyakinkan stabilitasnya. Selain itu fitase ekstraseluler  dari jamur Basidiomycetes (Peniophora lycii, Agrocybe pediades, Cerioporia sp. dan Trametes pubescens) (Lassen et al., 2001). Fitase Aspergillus mempunyai aktifitas optimal pada pH 2,5 dan 5,00 – 5,50. seperti pada gambar 1.

Gambar 1. Aktifitas enzim fitase dari Aspergillus (Walter, 2000)

Fitase ekstraseluler dari Bacillus subtilis berhasil diisolasi oleh Powar dan Jagannathan (1982), B. subtilis var. natto oleh Shimizu (1992), B. amyloliquefaciens (Kim et al., 1998; Idriss et al., 2002) dan fitase periplasma dan sitoplasma dari Escherichia coli (Greiner et al., 1993), Enterobacter (Aerobacter) aerogenes (Greaves et al., 1967), Pseudomonas spec. (Irving dan Cosgrove 1971), Klebsiella terrigena (Greiner et al., 1997) dan Klebsiella aerogenes (Tambe et al., 1994). Aktifitas fitase dijumpai juga pada bakteri rumen, khususnya Selenomonas ruminantium, Megasphaera elsdenii, Prevotella ruminicola, Mitsuokella multiacidus dan Trepo¬nema spp. (Yanke et al., 1998).
Gen penyandi fitase dari beberapa mikroorganisme telah berhasil diisolasi dan selesai proses sequensingnya seperti: Aspergillus niger (Piddington et al., 1993; Van Hartingsveldt et al., 1993; Han et al., 1999); Emericella nidulans dan Talaromyces thermophylus (Pasamontes et al., 1997a); A. fumigatus (Pasamontes et al., 1997b), A. terreus dan Mycelophthora thermophila (Mitchel et al., 1997); Peniophora lycii, Agrocybe pediades, Cerioporia sp. dan Trametes pubescens (Lassen et al., 2001). Escherichia coli (Dassa et al., 1982; Pradel dan Boquet, 1988; Dassa et al., 1990; Greiner, 1993; Rodriguez et al., 1999);  Bacillus sp (Kerovuo et al., 1998; Kim et al., 1998; Idriss et al, 2002) Caulobacter crescentus (Nierman et al., 2001); Selenomonas ruminantium (Yanke et al., 1999); dan Yersinia pestis (Parkhill et al., 2001) dan Klebsiella pneumoniae ASR1 (Sajidan, 2002), Pantoea aglomerans (Greiner dan Sajidan, 2008) .

B. Teknologi Rekombinan Gen pada Mikrobia
Teknologi rekombinan merupakan teknik penggabungan  materi genetik dua spesies organisme yang berlainan. Jika gen-gen ini digabungkan dalam sel telur atau sel sperma supaya materi genetik ini boleh diturunkan kepada progeni, maka hasil daripada gabungan ini dinamakan organisme transgenik. Dalam teknologi DNA rekombinan melibatkan dua proses: yaitu manipulasi DNA in vitro (di luar sel organisme) dan gabungan atau rekombinasi DNA sesuatu organisme dengan DNA bakteri dalam plasmid. Proses tersebut pertama kali dilakukan oleh Paul Berg dan A.D. Kaiser pada tahun 1972 yang  berhasil memasukkan DNA prokariot kedalam bakteria, kemudian oleh S.N. Cohen dan Herbert Boyer (tahun 1973) yang berhasil menggabungkan DNA organisma eukariot bersama plasmid bakteria (http://ms.wikipedia.org).  Teknologi rekombinan gen dimulai dengan sreening, kemudian ditindaklanjuti dengan isolasi gen dan ekspresi gen.
1.    Screening
Langkah  pertama dalam pencarian enzim baru dari mikrobia adalah melakukan screening enzim. Screening merupakan upaya inventarisasi enzim yang dikelompokkan menurut fungsinya, misalnya enzim restriksi (endonuklease restriksi), ligase dan Taq DNA polymerase bermanfaat dalam pekerjaan laboratorium rekayasa genetika (genetic enginering). Enzim fitase, amilase, protease, cellulose, xylanase bermanfaat dalam bidang industri makanan, pakan ternak dan perombak limbah serta enzim murein hydrolase sebagai anti bakteria yang bermanfaat dalam bidang perlindungan tanaman.
Screening enzim merupakan langkah awal yang paling menentukan dalam penemuan baru enzim fitase.  Kerouvo (1998) berhasil menemukan medium penginduksi fitase yang spesifik untuk Bacillus sp. dan Bae et al (1998) mengembangkan metode screening fitase dengan medium agar yang ditambah dengan substrat Natrium fitat 0,4%, namun hasilnya hanya sesuai dengan karakter fitase intraseluler dari Solenomonas ruminantium. Dari uraian tersebut di atas, bahwa beberapa metode yang telah dipublikasi belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, sehingga penemuan metode screening enzim fitase masih membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut dan usulan paten.
Screening aktifitas enzim pada mikrobia diperlukan media padat dan cair yang sesuai dengan tujuan dari pencarian enzim baru. Pada tabel berikut (tabel 1dan 2) merupakan contoh hasil screening enzim pada bakteria dan jamur:
Tabel 1.    Screening aktifitas enzim ekstraseluler pada marine bakteria dan fungi*).

*) Sumber : Sajidan et al., 1999
Tabel 2.    Sreening aktifitas enzim pada bakteria dari tanah sawah*)

*) Sumber: Sajidan, 2002
Dari hasil screening kemudian ditindaklanjuti dengan isolasi  gen pengkode 16S rRNA beserta analisis sequensingnya guna mengetahui nama dari spesimen dan sejarah evolusi bakteria (Sajidan et al, 1999). Berikutnya adalah isolasi gen pengkode enzim yang akan diproduksi dalam skala industri. Enzim-enzim yang mempunyai nilai komersial tinggi seperti enzim yang mempunyai kualitas dan termostabilitas tinggi kemudian ditindak¬lanjuti dengan teknologi kloning, sequensing dan over ekspresi sehingga diperoleh mikrobia rekombinan baru penghasil enzim yang berkualitas unggul. Organisme rekombinan tersebut kemudian dikulturkan dalam skala besar di dalam bioreaktor/fermentor.
2.    Isolasi gen
Isolasi gen adalah suatu tahapan pengambilan/penemuan dari suatu fragmen dari DNA pengkode suatu gen tertentu. Fragmen DNA struktural dari suatu gen pengkode enzim tertentu dapat diisolasi dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dan metode gene bank.

a.     Metode PCR
Metode ini digunakan untuk penggandaan DNA template sehingga diperoleh jumlah DNA yang memadai guna pengamatan dan penelitian berikutnya. Untuk memulai pekerjaan ini, langkah pertama yang harus ditempuh adalah isolasi DNA kromosom bakteria. DNA Kromosom digunakan sebagai DNA template pada metode PCR. Gambar 2 diperlihatkan hasil isolasi DNA kromososom dan gambar 3 diperlihatkan hasil amplifikasi PCR dari Klebsiella pneumoniae ASR1 (penghasil enzim fitase).

1       2          3
Gambar. 2. DNA Kromosom yang diisolasi dari bakteri Klebsiella pneumoniae

Keterangan :
1.     DNA marker (DNA λ  dipotong dengan EcoRI dan HindIII).
2.     DNA kromosom Klebsiella pneumoniae  dipotong secara parsial dengan restriksi  Sau 3A
3.     DNA Kromosom Klebsiella pneumoniae (tanpa pemotongan,  21,226 kb)
Fragmen DNA hasil amplifikasi PCR dari suatu enzim dapat diamati peta fisik dari suatu gen melalui pemotongan dengan endonuklease restriksi yang dikenal dengan metode RFLP (Restriction fragment length polymorphism).
Fragmen DNA hasil amplifikasi PCR juga dapat langsung dikloning guna mendapatkan DNA yang cukup dan berkualitas untuk keperluan sequensing dan penelitian lanjutan, misalnya: penelitian untuk produksi enzim dalam skala besar melalui ekspresi gen, uji karakterisasi molekuler, uji karakterisasi fisik dan kimia (temperatur optimum, stabilitas temperatur, pH optimum, stabilitas pH, jalur hidrolisis substrat), uji modulasi dan kinetik enzim serta kristalisasi protein enzim.
1        2     3    4     5      6    7
Gambar. 3.    Hasil amplifikasi PCR dari gen enzim fitase dari DNA Kromosom Klebsiella pneumoniae (Sumber : Sajidan, 2002)
Keterangan gambar:
1.    DNA marker ,   2. dan 3. Hasil amplifikasi PCR (1,260 kb)
4.    dan 5. Uji hasil kloning fragmen DNA (hasil amplifikasi PCR 1,260 kb) pada pGEM-T plasmid–vektor/3,0 kb setelah pemotongan dengan restriksi BamHI dan HindIII.
6.    dan 7. Uji hasil kloning fragmen DNA (hasil amplifikasi PCR 1,260 kb)  pada pET 22b(+) (5,46 kb) setelah pemotongan dengan restriksi BamHI dan HindIII.
Hasil squensing DNA fitase pada Klebsieela pneumoniae ASR1 (Sajidan, 2002).
1     atg cct gca aga cat cag ggg ctg tta cgc ctg ttt atc gcc tgc   45
1      M   P   A   R   H   Q   G   L   L   R   L   F   I   A   C    15

46    gcg ctg ccg ctg ctg gcg ctg cac tca gcc gcc gcc gca gac tgg   90
16     A   L   P   L   L   A   L   H   S   A   A   A   A   D   W    30

91    cag ctg gag aaa gtg gtg gag ctt agc cgc cac ggc att cgt ccg   135
31     Q   L   E   K   V   V   E   L   S   R   H   G   I   R   P    45

136   cga cgc cgg caa ccg gga agc cat cga ggc cgc acc gga cgc cca   180
46     R   R   R   Q   P   G   S   H   R   G   R   T   G   R   P    60

181   tgg acc gag tgg acc acc cat gac ggc gag ctc acc ggt cat ggc   225
61     W   T   E   W   T   T   H   D   G   E   L   T   G   H   G    75

226   tat gcc gcc gtg gtc aac aaa ggg cgt gag gaa ggc cag cac tat   270
76     Y   A   A   V   V   N   K   G   R   E   E   G   Q   H   Y    90

271   cgc cag ctc ggc ctg ctg cag gcg gga tgc ccg acg gcg gag tcg   315
91     R   Q   L   G   L   L   Q   A   G   C   P   T   A   E   S    105

316   att tac gtg cgc gcc agc ccg ctg cag cgg acg cgg gcg acc gcc   360
106    I   Y   V   R   A   S   P   L   Q   R   T   R   A   T   A    120

361   cag gcg ctg gtg gat ggc gcc ttc ccc ggc tgt ggc gtc gct atc   405
121    Q   A   L   V   D   G   A   F   P   G   C   G   V   A   I    135

406   cat tac gcc aac ggg gat gcc gat ccg ctg ttt cag acc gac aaa   450
136    H   Y   A   N   G   D   A   D   P   L   F   Q   T   D   K    150

451   gtt cgc cgc cac gca aac cga ccc cgc ccg cca gct ggc ggc ggt   495
151    V   R   R   H   A   N   R   P   R   P   P   A   G   G   G    165

496   gaa aga aaa ggc cgg gga tct ggc gca gcg tcg gca ggc ctt gcg   540
166    E   R   K   G   R   G   S   G   A   A   S   A   G   L   A    180

541   ccg act atc cag cta ttg aaa cag gcg gtt tgc cag gcc gat aag   585
181    P   T   I   Q   L   L   K   Q   A   V   C   Q   A   D   K    195

586   ccc tgc ccg atc ttt gat acc cca tgg cgg gtc gag cag agc aaa   630
196    P   C   P   I   F   D   T   P   W   R   V   E   Q   S   K    210

631   agc ggc aag acc acc att agc gga ctg agc gtg atg gcc aat atg   675
211    S   G   K   T   T   I   S   G   L   S   V   M   A   N   M    225

676   gtg gaa acg ctg cgt ctc ggc tgg agt gaa aac ctg cct ctc agc   720
226    V   E   T   L   R   L   G   W   S   E   N   L   P   L   S    240

721   cag ctg gcg tgg ggc aag atc gcc cag gcc agt cag atc acg gcc   765
241    Q   L   A   W   G   K   I   A   Q   A   S   Q   I   T   A    255

766   ctg ctg ccg ctg tta acg gaa aac tac gat ctg agt aac gac gtg   810
256    L   L   P   L   L   T   E   N   Y   D   L   S   N   D   V    270

811   ctg tat acc gcg caa aaa cgc ggg tcg gtg ctg ctc aac gcc atg   855
271    L   Y   T   A   Q   K   R   G   S   V   L   L   N   A   M    285

856   ctc gac ggc gtc aaa cca gag gcg aat ccg aac gta cgc tgg ctg   900
286    L   D   G   V   K   P   E   A   N   P   N   V   R   W   L    300

901   ctg ctg gtg gcg cat gac acc aac atc gcc atg gtg cgc acg ctg   945
301    L   L   V   A   H   D   T   N   I   A   M   V   R   T   L    315

946   atg aac ttt agc tgg cag ctg ccg ggc tac agc cgg ggg aat atc   990
316    M   N   F   S   W   Q   L   P   G   Y   S   R   G   N   I    330

991   ccg ccg ggc agt agc ctg gtg ctg gag cgc tgg cga acg cga aga   1035
331    P   P   G   S   S   L   V   L   E   R   W   R   T   R   R    345

1036  gcg gtg aac gct atc tgc ggg tct att ttc cag gcg caa ggc ctc   1080
346    A   V   N   A   I   C   G   S   I   F   Q   A   Q   G   L    360

1081  gac gac ctg cgt cgt ctg cag acg ccg gac gcg cag cac ccg atg   1125
361    D   D   L   R   R   L   Q   T   P   D   A   Q   H   P   M    375

1126  ctg cgt cag gag tgg cgt cag ccg ggc tgc cgt cag acc gac gtc   1170
376    L   R   Q   E   W   R   Q   P   G   C   R   Q   T   D   V    390

1171  ggt acg ctg tgc ccc ttc cag gcg gcc att acc gcc ctc ggt cag   1215
391    G   T   L   C   P   F   Q   A   A   I   T   A   L   G   Q    405

1216  cgt atc gac cgg ccc tcc gcc ccg gcg gta gcc atg gtc ctg ccg   1260
406    R   I   D   R   P   S   A   P   A   V   A   M   V   L   P    420

1261  tag   1263
421    *

Gambar 4.    Data sequen dari gen pengkode fitase Klebsiella pneumoniae ASR1, Anak panah pada bagian depan menunjukkan adanya daerah pengkode signal peptide. Sequen tersebut telah disubmit pada  Accession Number AY091638 pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov  dan didaftarkan pada biro Paten Humboldt Universitaet zu Berlin. Nomor:   HU 12/2002

b.     Metode gene bank
DNA kromosom dipotong dengan endonuklease restriksi Sau3A (gambar 1 lini 2). Fragmen DNA dikelompokkan ber¬dasar¬kan besaran fragmen misalnya 2-4 kb, 4-6 kb, 6-8 kb, dan seterusnya. Kemudian fragmen DNA diligasikan dengan pUC18 (2,86 kb) sebagai gene bank plasmid-vektor yang telah dipotong dengan BamHI yang telah dilakukan defosforilasi pada setiap ujung phosphatnya. Plasmid rekombinan ditransformasi ke dalam E. coli DH5α. Koloni E. coli DH5α rekombinan berwarna putih bila ditanam pada medium agar yang mengandung X-Gal dan IPTG.  Sebagai antibiotik marker dari pUC18 adalah amphicillin. Sedangkan bakteria yang hanya mengandung plasmid-vektor pUC18 (tanpa insert) akan berwarna biru karena gen pengkode β-Galactosidase (lac-Z) tetap terekspresi (model lac operon). Peristiwa ini terkenal dengan istilah “blue white selection“. Bakteria E. coli DH5α rekombinan kemudian discreening dengan media padat / cair untuk mengetahui aktifitas dari enzim yang diteliti. Pada gambar 4 ditunjukkan peta fisik dari pUC18 sebagai gene bank plasmid-vektor.

Gambar. 5. Peta fisik dari pUC18 sebagai gene bank plasmid vektor (http://www.fermentas.com).
3.     Kloning gen (Teknologi Rekombinan)
Dalam teknologi rekombinan perlu dipilih plasmid-vektor yang sesuai dengan tujuan penelitian. Setiap DNA plasmid-vektor mempunyai urutan basa nitrogen yang specifik. Misalnya plasmid–vektor pGEM-T (PROMEGA) mempunyai ujung T (Timin) yang sangat sesuai untuk kloning fragmen DNA hasil amplifikasi PCR dengan Taq DNA Polymerase yang selalu mempunyai ujung A (Adenin) pada urutan basa nitrogennya. Gambar 6 dan 7 ditunjuk¬kan peta fisik dan MCS (Multiple Cloning Site) dari pGEM-T kloning plasmid-vektor dan pET22b(+) sebagai plasmid-vektor untuk ekspresi gen.

Gambar.6. Peta fisik dari pGEM-T (produk PROMEGA) (http://www.promega.com)

Gambar. 7. Peta fisik dari pET22b(+) (produk NOVAGEN)                 (http://wolfson.huji.ac.il)
4.    Ekspresi gen fitase guna produksi enzim dalam skala besar
Pemurnian langsung enzim nativ dari bakteria banyak mengalami kesulitan, diantaranya:
1.    Untuk memperoleh 1 µg protein enzim diperlukan kultur bakteria dalam skala besar (mencapai 50 liter).
2.    Pemurnian menggunakan chromatografi yang beruntun seperti (CM cellulose, S-sepharose, Q-sepharose, Blue sepharose dan gel filtration). Pekerjaan ini biasa dilakukan pada suhu 4°C dan diperlukan waktu 1-2 bulan.
3.    Masih relatif sering terjadi kontaminasi protein atau enzim lain ( gambar 8), sehingga mengganggu dalam karakterisasi fisik dan khemis.
Namun permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara pemurnian enzim rekombinan. Dari hasil  pemurnian enzim fitase rekombinan (gambar 9) diperoleh keuntungan sebagai berikut:
1.    Dari satu  liter kultur bakteria rekombinant berhasil dipanen 8 µg protein enzim.
2.    Pemurnian hanya menggunakan satu matrix chromatografi (Ni-NTA Agarose/QUIAGEN). Sehingga untuk memurni¬kan satu liter kultur hanya diperlukan waktu 5-6 jam.
3.    Protein enzim terlihat hanya satu band (gambar 9) dan karakteristik enzim tidak mengalami perubahan (sama dengan enzim nativ).

Gambar.8.    Hasil pemurnian enzim fitase natif  dari Klebsiella pneumoniae (melalui S-sepharose, Q-sepharose, blue sepharose dan gel filtration).

Gambar. 9.    Hasil pemurnian enzim fitase rekombinan dari Klebsiella pneumoniae melalui Ni-NTA agarose afinitas chromatographi.

Ekspresi gen guna produksi enzim dalam skala besar melalui jasa mikrobia (bakteria dan jamur) masih dirasa mahal, karena masih diperlukan media pertumbuhan dan biaya listrik. Sehingga akhir-akhir ini dikembangkan teknologi baru guna produksi enzim dalam skala besar melalui transgenik. Tanaman transgenik mampu menghasilkan biomasa melimpah, sehingga dapat diperoleh enzim rekombinan dalam skala besar. Kekhawatiran adanya aliran gen rekombinan dari tanaman transgenik ke tanaman non trasgenik dapat diatasi setelah Tim yang dipimpin Prof Ralph Bock (Universitas Muenster Jerman) berhasil mendapatkan tanaman trasgenik ramah lingkungan yaitu melalui plastida trangenik pada tanaman tomat.

C. Manfaat Fitase untuk Campuran  Pakan Ternak
Bagi hewan-hewan yang tergolong monogastric (unggas dan ikan), fitat merupakan senyawa fosfat-komplek yang sulit dicerna, karena tidak adanya bakteri penghasil fitase dalam saluran pen¬cernaannya. Selain itu dengan kemampuan sifat pengkelat dari fitat maka  akan mengurangi ketersediaan fosfat, mineral dan elemen-elemen serta protein penting dalam tubuh hewan  (Rimbach et al., 1994).
Beberapa studi melaporkan bahwa enzim fitase dari mikrobia mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan keuntungan ekologi (Pallauf und Rimbach, 1998). Penambahan eksogen fitase rekom¬binan dimulai sejak tahun 1993 dan merupakan enzim rekombinan yang pertama dalam industri pakan ternak dan kemudian diterapkan oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Penggunaan enzim fitase rekombinan dari Aspergillus niger produksi  Natuphos, BASF, Mount Olive, New York dapat meniadakan penambahan fosfat anorganik dalam ransum pakan ternak. Penggunaan fitase Aspergilluas mampu memperbaiki kecernaan, Ca, Cu dan Zn, mem¬perbaiki mineralisasi tulang dan mereduksi kandungan P dalam feses pada broiler. Hasil penelitian di Belanda juga menunjukkan bahwa penggunaan fitase dalam pakan ternak dapat mengurangi penggunaan pupuk fosfat anorganik dalam pertanian. Penggunaan fitase dari Aspergillus selain dapat memperbaiki kecernaan Ca, Cu dan Zn, juga dapat memperbaiki mineralisasi tulang dan mereduksi kandungan P dalam feses ayam broiler. Pemanfaatan fitase pada pakan ternak dapt mengoptomalkan pemanfaatan unsur P pada hewan monogastrik (unggas dan ikan), serta dapat mereduksi polisi P di lingkungan, (Shin et al., 2001).
Hal senada juga dinyatakan bahwa pemanfaatan enzim fitase terutama sebagai campuran makanan ternak guna mengoptimalkan pemanfaatan unsur phosphor dalam tubuh hewan ternak mono¬gastric (non ruminantia) seperti unggas dan ikan, serta guna mereduksi polusi unsur Phosphor di lingkungan, sehingga eutrofikasi dipermukaan perairan (waduk dan sungai) dapat dicegah (Pen et al., 1993 dan Volfova et al., 1994, Shin et al., 2001).

Gambar 10. Molekul fitat dan mekanisme kerja enzim fitase menurut Lei dan Stahl, 2001

Berdasar beberapa pertimbangan di atas, maka dilakukan upaya peningkatan kualitas pakan ayam broiler dengan probiotik dari mikrobia penghasil fitase. Aplikasi mikroba penghasil fitase pada pakan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pakan dan mengurangi penggunaan fosfor anorganik yang harganya mahal, sehingga dapat mengurangi biaya pembuatan pakan dan meningkat¬kan performan ayam broiler.
Hasil analisis aplikasi probiotik bakteri penghasil fitase terhadap performan ayam broiler ditampilkan pada tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3.    Pengaruh jenis bakteri pada probiotik terhadap performan ayam broiler *)

*) Sumber: Sajidan et al (2004)

Bakteri menghasilkan enzim fitase untuk mendegradasi ikatan fitat, sehingga dapat melepaskan mineral, asam amino dan protein tertentu, dengan kata lain dapat meningkatkan kecernaan bahan pakan.
Secara umum  terdapat kecenderungan kenaikan pertambahan berat badan dengan pemakainan  level probiotik terhadap kontrol. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadorn et al. (2004) yang menyatakan penambahan fitase pada ransum dengan formulasi tertentu dapat memperbaiki pertambahan berat badan. Terlihat bahwa jenis probiotik E. coli dan K. pneumoniae cenderung memberikan pertambahan berat badan yang paling tinggi                    (42,86 g/ekeo/hari).  Hal ini diduga karena kedua jenis bakteri pada kombinsi probiotik tersebut sesuai dengan kondisi pada saluran pencernaan ayam, sehingga dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan. E. coli dan K. pneumoniae yang digunakan mempunyai pH optimum asam. Menurut Tillman et al.  (1986) saluran pencernaan pada unggas  pada lambung cenderung asam.
Secara keseluruhan konsumsi pakan cenderung mengalami penurunan dibanding kontrol. Hal ini sesuai dengan pendapat Kim et al. (2004) bahwa menambahan fiase dapat memperbaiki konsumsi pakan. Pada penelitian tampak penurunan konsumsi pakan diikuti oleh pertambahan berat badan, hal ini bertentangan dengan pendapat Hadorn et al. (2004) bahwa pada pakan dengan penambahan fitase mengakibatkan penurunan konsumsi pakan yang diikuti oleh penurunan berat hidup. Terlihat bahwa konsumsi pakan yang paling rendah pada K. pneumoniae.
Secara umum konversi pakan mengalami kecenderungan penurunan dibanding kontrol. Hal ini sesuai dengan pendapat Short et al. (2004) bahwa pemakaian fitase dapat menurunkan konversi pakan. Konversi pakan paling rendah pada E. coli dan K. pneumoniae yaitu sebesar 2,04. Konversi pakan merupakan banyak¬¬nya pakan yang dikonsumsi untuk menghasilkan satu kg pertambahan berat badan, semakin rendah nilai konversi pakan berarti semakin baik. Rendahnya konversi pakan menunjukkan bahwa pakan dicerna secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dengan baik. Ramia (2000) menyatakan bahwa manfaat penambahan probiotik adalah membantu sistem pen¬cernaan unggas untuk meningkatkan daya cerna, sehingga penyerapan zat pakan optimal untuk pertumbuhan dan produksi.
Berdasarkan performan yang dihasilkan oleh ketiga jenis perlakuan probiotik, meskipun tidak terdapat perbedaan yang nyata, tetapi kombinasi E. coli dan K. pneumoniae memberikan kecenderungan performan yang terbaik secara kualitatif,  yaitu rata-rata pertambahan berat badan sebesar 42,86 g/ekor/hari, konsumsi pakan sebesar 87,39 g/ekor/hari dan konversi pakan sebesar 2,04.

D. Implementasi Teknologi Rekombinan Dalam Pembelajaran Mata Kuliah  Biokimia, Genetika dan Bioteknologi
Materi pembelajaran “Biokimia, Genetika dan Bioteknolgi” menempati prosentase tingkat pemahaman guru Biologi (IPA) terendah atau rata-rata kemampuan pemahaman guru sebesar 30% (Ditjen PMPTK, 2007), sehingga perlu peningkatan kualitas pembelajaran dari materi tersebut bagi mahasisiwa calon guru di LPTK.
Dalam rangka realisasi strategi peningkatan kualitas pem¬belajaran ini, maka mulai tahun akademik 2007/2008 program studi pendidikan Biologi FKIP UNS melalui program Hibah Kompetisi A2 secara sistematik dan berkelanjutan menawarkan program Hibah Inovasi Pembelajaran (teaching innovation grant) untuk semua dosen. Pada dasarnya program ini berkaitan dengan perbaikan dan peningkatan kinerja dosen dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran untuk terciptanya peningkatan efisiensi, efektifitas, dan produktivitas proses dan hasil pembelajaran.
Sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (bioteknologi), maka proses pembelajaranpun perlu dilakukan secara kreatif dan inovatif (Model PAIKEM= Pem¬belajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenang¬kan). Program Hibah Inovasi Pembelajaran (teaching innovation grant) dimaksudkan untuk mendorong kreatifitas dan inovasi dosen dalam menjalankan fungsinya sebagai staf pengajar. Peningkatan pro¬fesionalisme ini diharapkan memudahkan mahasiswa dalam mencerna dan memahami mata kuliah yang diajarkan. Dengan kata lain peningkatan profesionalisme dosen akan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Proses pembelajaran Biokimia, Genetika dan Bioteknolgi yang awalnya dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi, dengan menggunakan sumber belajar berupa berbagai buku teks (referensi) yang belum terapadu relatif masih menyulitkan mahasiswa dalam memahami konsep. Hal ini dibuktikan dengan capaian prestasi belajar mahasiswa (kurang lebih 40%) mendapatkan  nilai mata kuliah Biokimia  yang kurang memuaskan (nilai 2,0 atau C) atau bahkan masih relatif banyak mahasiswa yang tidak lulus (nilai 1,0 tau D) pada setiap tahunnya.  Kesulitan utama yang dijumpai oleh mahasiswa adalah masih rendahnya pemahaman konsep pada buku-buku teks yang diguna¬kan dalam perkuliahan, disamping itu disebabkan masih belum   menggunakan metode CBL (Computer Based Learning).
Thompson, Ganxglasd dan Simon (Simamora, 2000) mem¬berikan definisi bahwa “pembelajaran berbasis computer (Computer Based Learning)” is “instructional content or learning experiences delivered or enabled by electronic technology”. Definisi lain adalah bahwa pembelajaran elektronik (pembelajaran berbasis komputer) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaat¬kan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.
Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (Pembelajaran Berbasis Komputer), yaitu: (a) Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan internet), (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan.
Disamping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya: (a) lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan pembelajaran berbasis komputer seperti ICT-center, (b) sikap positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) rancangan system pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap pesrta belajar, (d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Dalam pembelajaran Biokimia, Genetika dan bioteknologi, perkuliahan dikelas dilaksanakan dengan pembelajaran berbasis komputer (Computer Based Learning). Seluruh materi perkuliahan disajikan dengan menggunakan komputer yang disusun secara terpadu sesuai dengan SAP dan buku ajar yang telah dibuat. Pembelajaran demikian dimaksudkan sebagai variasi dalam pem¬belajaran yang diperkaya dengan animasi dan film, sehingga mahasiswa tidak merasa bosan dengan perkuliahan yang  dilakukan.
Pembelajaran berbasis komputer ini juga didukung dengan penugasan bagi mahasiswa yang mewajibkan bagi mereka untuk mencari informasi yang berkaitan dengan materi perkuliahannya dengan menggunakan internet. Dengan penugasan internet ini mahasiswa dapat mengembangkan atau memperdalam materi yang sedang dipelajarinya. Penugasan ini meliputi beberapa tema yang berkaitan dengan materi perkuliahan yang sedang dipelajari, misalnya:
1.    Peranan Sonic Bloom dalam Peningkatan Efektivitas Fotosintesis
2.    Teknologi Plasma sebagi Pemacu Pertumbuhan Tanaman
3.    Dampak Penggunaan NS pada Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Pangan dan Lingkungan
4.    Peranan Lactobacillus dalam peningkatan efektivitas Kecernaan Pakan pada Ruminansia
5.    Pengaruh HCN terhadap Aktifitas Enzim Respirasi Sel
6.    Interaksi PGPR (Plant Growt Promoting Rhizobacter) dengan Akar Tanaman
7.    Karakterisasi Enzim Secara Fisik dan Khemis (kasus pada enzim-enzim mikrobia)
8.    Kinerja Kitinase pada Pertumbuhan Larva Nyamuk Aides eigepti
9.    Manfaat Klorofil dalam dunia Kedokteran/Kesehatan
10.    Peranan DNA Mitokondria dalam Maternal Effect Inheritance (pewarisan sifat melalui ibu).

Keberhasilan penggunaan buku ajar yang berbasis kompe¬tensi dan perkuliahan dengan pembelajaran berbasis komputer ini dapat dilihat dari persentasi kehadiran mahasiswa dan prestasi akademik mahasiswa untuk mata kuliah biokimia.
Persentase kehadiran mahasiswa dalam perkuliahan sebesar 94% dari seluruh kegiatan perkuliahan yang dilaksanakan meng¬indikasikan antusiasme dan motivasi yang tinggi dari mahasiswa dalam mengikuti perkulihan. Tingginya persentase kehadiran mahasiswa dalam perkuliahan merupakan salah satu upaya dalam meningkatan kualitas perkuliahan yang dilaksanakan. Dengan upaya pembelajaran seperti tersebut di atas, prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah Biokimia (3 SKS), Genetika (3 SKS) dan Bioteknologi (2 SKS) dapat meningkat.
Prestasi akademik mahasiswa dengan digunakannya buku ajar Biokimia (3 SKS) yang berbasis kompetensi dan pembelajaran yang berbasis komputer (Computer Based Learning) dapat dilihat dari prestasi yang dicapai mahasiswa sebagaimana disajikan dalam diagram batang pada di bawah ini.

Gambar 11.    Diagram Persentase Prestasi Akademik Mata Kuliah Biokimia dengan Penggunaan Buku Ajar Berbasis Kompetensi  dan Pembelajara Berbasis Komputer

Dari diagram batang diatas dapat diketahui mahasiswa yang mendapatkan nilai  A (35,7%),  31% mahasiswa mendapatkan nilai B (3,0) dan 24,3%  mahasiswa mendapat nilai C (2.0) dan hanya 9% yang memperoleh nilai D (1,0).
Penggunaan buku ajar yang terpadu dari berbagai sumber dan materi pembelajaran yang disajikan berbasis komputer dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk memahami konsep materi yang diajarkan. Mahasiswa dapat memanfaatkan buku ajar dalam mempelajari dan memahami materi secara mandiri. Hal ini akan mengantarkan mahasiswa untuk melakukan konstruksi pengetahuan di dalam dirinya. Pengetahuan dan pemahaman yang telah diperoleh dengan belajar mandiri ini didukung dengan perkuliahan yang menyajikan materi dalam bentuk slide serta penugasan berbasis komputer (Computer Based Learning) yang memungkinkan mahasiswa untuk mengakses pengetahuan yang lebih dalam yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Dengan demikian antara buku ajar yang dipelajari mahasiswa dengan perkuliahan berbasis komputer yang diberikan sangat relevan dan saling mendukung dalam upaya meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi yang sedang diajarkan.
Pembelajaran seperti tersebut diatas memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara mandiri dengan buku ajarnya dan memperdalam atau meningkatkan pemahamannya dalam perkuliahan dan penugasan berbasis komputer yang diberi¬kan. Pembelajaran berbasis komputer yang dilaksanakan memberi¬kan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses informasi yang lebih dalam serta membantu mahasiswa untuk memahami suatu materi dengan bantuan dosen  maupun secara mandiri.

D. Penutup.
Dalam bidang bioteknologi dan rekayasa genetika, bangsa Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara lain, padahal ini merupakan bidang unggulan yang bisa mengubah secara eks¬ponensial pendapatan negara melalui jalur pendapatan hasil pertanian, peternakan, obat, enzim, kosmetika dan bahan makanan. Negara-negara dengan areal daratan kecil, seperti: Jepang, Thailand, dan Singapura sudah sangat jauh mengembangkan bidang ini. Selain itu, negara-negara maju, seperti: Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Australia, dan Jepang telah lama mengadakan riset terpadu di bidang bioteknologi, bahkan mereka telah menjual produk-produk baru dengan hak paten dari hasil biotek dan rekayasa genetika, seperti antibiotik, obat-obatan, bahan kosmetik, bahan makanan serta tanaman transgenik.
Bangsa Indonesia yang merupakan negara terbesar kedua akan plasma nutfahnya setelah Brasil, belum memanfaatkan produk bidang ini secara optimal sebagai sumber devisa negaranya. Sebagai contoh, dari hasil screening pada sampel satu gram tanah sawah pertanian dengan tanaman pokok padi IR64, diperoleh beberapa strain bakteria penghasil enzim fitase dan phosphatase, di antaranya marga Bacillus, Klebsiella, Enterobacter, Pantoea, dan bakteri-bakteri baru yang sama sekali belum dikenal secara taksonomi.
Enzim fitase merupakan komoditas yang sangat bagus karena merupakan salah satu anggota dari kelompok enzim phosphatase yang mampu menghidrolisis senyawa fitat (Myo-Inositol (1,2,3,4,5,6) hexakisphosphat). Enzim ini sekarang menjadi salah satu enzim komersial di dunia. Enzim dan gen fitase dari bakteria Klebsiella pneumoniae ASR1 dan Pantoea aglomerans yang diisolasi dari tanah sawah pertanian Indonesia telah berhasil dipurifikasi, dikloning, disequensing, dioverekspressikan, dan dikarakterisasi. Enzim rekombinan ini mempunyai aktifitas spesifik yang tinggi, atau sekitar 1.000 x dari bakteri biasa dan 5 x lebih tinggi bila dibandingkan fitase rekombinan dari marga Bacillus. Di samping itu, fitase rekombinan ini selain mampu menghidrolisis senyawa fitat sampai pada Inositol(2)monophosphat, juga mem¬punyai aktifitas merombak senyawa phosphatkomplek organik dan anorganik lainnya. Dengan demikian secara ekonomis enzim rekombinan ini dapat digunakan untuk keperluan industri.
Keunggulan  enzim fitase dari bakteri bila dibandingkan dengan fitase dari tanaman dan jamur adalah, bakterial fitase mempunyai kemampuan merombak senyawa fitat sampai pada Inositol monophosphat dan lebih tahan pada suasana pH netral.
Keuntungan pekerjaan bioteknologi adalah tidak memerlukan lahan yang luas, efisien waktu, dan sedikit tenaga kerja dalam meproduksi suatu produk. Namun, sisi lain yang harus dipersiapkan adalah laboratorium sentral penelitian dan pengembangan bioteknologi di Indonesia.
Proses Pembelajaran yang baik mampu memberikan kesem¬patan kepada mahasiswa untuk belajar secara mandiri dengan menggunakan buku ajar dan meningkatkan pemahamannya dalam perkuliahan dan penugasan berbasis komputer (ICT) yang diberi¬kan. Pembelajaran berbasis komputer yang dilaksanakan memberi¬kan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses informasi yang lebih dalam serta membantu mahasiswa untuk memahami suatu materi dengan bantuan dosen maupun secara mandiri.

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup dari pidato ini, perkenankanlah pada kesempatan yang baik ini saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan sebagai guru besar dalam bidang Genetika di FKIP UNS.
  2. Rektor yang juga Ketua Senat UNS Prof. Dr. H.Muh. Syamsulhadi, dr, Sp.KJ (K), Sekretaris Senat  Prof.Dr.Aris Sudiyanto, dr, Sp.KJ (K), dan segenap anggota senat yang telah mempromosikan dan mengusulkan serta memberi kemudahan kepada saya untuk memangku jabatan sebagai guru besar. Demikian juga kepada Dekan yang juga Ketua Senat FKIP UNS Prof. Dr. H.M. Furqon Hidayatullah, M.Pd, Pembantu Dekan II Drs.Sugiyanto, M.Si.,M.Si., dan Pembantu Dekan III Drs. H.Amir Fuady, M.Hum, Ketua Jurusan dan Program seluruh anggota senat Fakultas yang telah mengusulkan saya sebagai guru besar di FKIP UNS.
  3. Herrn Prof.Dr.rer.nat.Rainer Borriss (HU Berlin), Prof.Dr.rer.nat.Ralf.Greiner (BFE Karlsruehe), Prof.Dr.rer.nat. Ortwin Simon (FU Berlin) und Prof.Dr. Klaus Dieter Jany (BFE Karlsruehe) bedanke ich Ihnen fuer die wissenschaftliche Betreuung und unermuedliche Hilfberereitschaft (terimaksih atas bimbingan dan perhatian/bantuan) ketika saya menyelesaikan program Doktor di Humboldt Universitaet zu Berlin RF. Jerman.
  4. Segenap  para guru-guru saya sejak SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, mereka sungguh berjasa dalam meletakkan dasar-dasar kepercayaan pentingnya menuntut ilmu sehingga turut andil membentuk karakter dan kemampuan akademik saya.
  5. Para sesepuh, senior dan  ustadz yang telah banyak memberikan nasehat (tausiah), arahan dan memberikan dorongan, antara lain: Prof. Dr. Sukamto, M.Sc (UNY mantan Direktur Ketenagaan Ditjen Dikti), Prof. D. Sutoyo, Prof. Haryono, Prof. H. Soekiyo, Prof.Drs.H. Haris Mudjiman,M.A., Ph.D., Prof.Dr.Sri Anitah, M.Pd.,  Prof. Dr. H.Ravik Karsidi, M.S., Prof. Dr. H. Adi Sulistiyono, SH,MH., Prof.Dr. H. Sholahudin, MS., Prof. Drs. Suranto, M.Sc, Ph.D, Prof. Drs. Sutarno, M.Sc, Ph.D., Drs.H. Toegino NH, Drs.Wiryanto,M.Si, dan Dra Endang Anggarwulan, M.Si, Ustadz Dr. H. Muinudinillah Basri, MA. Dan Ustadz Drs. Wiranto, M.Kom, M.Cs.
  6. Prof.Drs.Suranto,M.Sc,Ph.D dan Prof. Dr. Ambar Mudigdo, dr, Sp.PA (K) yang telah mencurahkan waktu untuk memberikan  koreksi dan masukan terhadap isi naskah (bidang molekuler)  dan Prof.Dr. Bani Sudardi, M.Hum  yang telah memberikan  masukan dalam bidang bahasa dan tatatulis  dan Prof.Dr.Sigit Santosa, M.Pd yang telah memberikan masukan dalam bidang pendidikan pada  naskah ini.
  7. Para Senior dan Teman Sejawat kerja di Program Studi Pendidikan Biologi dan jurusan Pendidikan MIPA yang telah memberikan kesempatan, dorongan dan semangat untuk bekerja dengan baik.
  8. Kedua orang tua saya Bapak H. Suharno dan Ibu Wagiyem yang telah mengasuh, mendidik dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang. Kepada mertua saya Bapak Soekardi (Alm) dan Ibu Hj. Siti Soetarmi Soekardi yang selalu mendo’akan dengan tulus ikhlas sejak kami berumah tangga, dan memberikan dorongan dan semangat untuk kebahagiaan keluarga saya. Kepada kakak dan adik kandung dan ipar saya yang telah memberikan dukungan dan dorongan dan do’a, sehingga saya dapat meraih gelar  jabatan  guru besar ini.
  9. Istri tercinta Dra. Hj. Nanik Murti Prasetyanti dan ananda tersayang Icha Raa’ina Nailufar Prasajid dan Genicha Hilyat Prasajid yang telah banyak berkurban terutama selama saya menempuh program Doktor di Humboldt Universitaet zu Berlin Jerman, dengan segala do’a, pengertian, ketulusan, dan kesabarannya telah mendorong dan memberi semangat kepada saya mencapai jabatan guru besar. Dengan ini semua, semoga Allah SWT menjadikan keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah. (Amien).

Jazakumullahukhoiron Katsiron
Billahit taufik wal hidayah,
Wassalamu ’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bae, H. D., Yanke, L. J., Cheng, K. J. and Selinger, L. B. 1999. A novel staining method for detecting phytase activity, J. Microbio. Methods 39, 17-22
Bundesministerium für Ernährung, Landwirtschaft und Forsten, 1997. Die Grüne Gentechnik, Druckhaus Dierichs Akzidenz GmbH, Kassel.
Dassa, E., Cahu, M., Desjoyaux-Cherel, B., and Boquet, P. L., 1982. The acid phosphatase with optimum of 2,5 of Escherichia coli: physiological and biochemical study, J. Biol. Chem. 257,6669-6676
Dassa, E., and Boquet, P. L., 1985. Identification of the gene appA for the acid phosphatase (pH optimum 2,5) of Escherichia coli, Mol. Gen. Genet., 200, 68 – 73.
Dassa, E., Marck, C., and Boquet, P. L., 1990. The complete nucleotide sequence of the Escherichia coli gene appA reveals significant homology between pH 2,5 acid phosphatase and glucose-1- phosphatase , J. Bacteriology. 172, 5497-5500
Greiner, R. 1993. Reinigung, Charakterisierung und Überex¬pres¬sion einer Fitase aus Escherichia coli ATCC 33965, Dissertation, Institut für Biochemie der Universität Stuttgart.
Greiner, R; Konietzny, U and Jany, K. D. 1993. Purification and characterization of two fitases from Escherichia coli, Arch. Biochem.Biophys, 303,107-113

Greiner, R and Sajidan, 2008, Production of D-myoinositol (1,2,4,5,6) Pentakis-phosphate Using Alginate-entrapped recombinant Pantoea aglomerans Glicose-1-phosphatse , Brazilian Archives of Biology and Biotechnolog, an International Journal, Vol 51, n.2, pp 235-246.
Hadorn, R., H. Wiedmer, S, Nydegger, and. P. Spring, 2004. The effect of non-GMO phytase on the performance of broilers fed diets containing different concentration of phosphorus. www.adsa.org/jointabs/iaafs154.pdf. Abstr. (1974).
Han, Y., Wilson, D. and Lei, X. G. 1999. Expression of an Aspergillus niger phytase gene (PhyA) in Saccaromyces cerevisiae, Appl. and Environ. Microbiol 65, No 5, 1915 – 1918.
Idriss, E.E., O. Makarewicz, A. Farouk, R. Greiner, K. Rosner, H. Bochow, T. Richter, and R. Borris, 2002. Extracellular phytase activity of Bacillus amyloliquefaciens FZB45 contributes to its plant-growth-promoting effect. Micro¬biology. 148:1-13.
Irving, G., J., C. and Cosgrove, D. J. 1971. Inositol phosphate phosphatases of microbiological origin. Some properties of a partially purified bacterial phytase. Aust.J.Biol.Sci. 24,547–557.
Kerovuo, J. 2000, A Novel Phytase from bacillus. Characterization and Production of the Enzyme. Academic Dissertation, Faculty of Sciece of the University of Helsinki.
Kerovuo, J., Lauraeus, M., Nurminen, P., Kalkkinen, N., Apajalahti, J. 1998, Isolation, characterization, molecular gene cloning, and sequencing of a novel phytase from Bacillus subtilis, Appl. Eiviron. Microbiol. 64, 2079-20
Kim, Y.O., Lee, J. K., Kim, H. K., Yu, J. H. and Oh, T. K. 1998. Cloning of the thermostable phytase gene (phy) from Bacillus sp. DS11 and its overexpression in Escherichia coli, FEMS Microbiol. Lett 162, 185-191
Lassen, S. F., Breinholti, J., Ostergaard, P. R., Brugger, R., Bischoff, A., Wyss, M. and Fuglsang, C. C. 2001. Expression, gene cloning and characterization of five novel phytase from four basidiomycete fungi: Peniophora lycii, Agrocybe pediades, Ceriporia sp and Trametes pubescens. Appl. Eiviron. Microbiol 67, 4701 – 4707.
Mitchell, D. B., Vogel, K., Weimann, B. J, Pasamontes, L., and van Loon, A. P. 1997. The phytase subfamily of histidine phosphatases: isolation of genes for two novel phytase from the fungi Aspergillus terreus and Myceliophthora thermo¬phila, Microbiology 143, 245-252.
Nicholl, D.S.T., 2002. An introduction to genetic enginering, Cambridge University Press.
Pallauf, J., M. Pietsch, and G. Rimbach. 1998. Dietary phytase reduces magnesium bioavailability in  growing rats. Nutr. Res. 18 : 1029-1037
Parkhill, J., Wren, B. W., Thomson, N. R., Titball, R. W., Holden, M. T. G., Prentice, M. B., Sebaihia, M., James, K. D., Churcher, C., Mungall, K. L., Baker, S., Basham, D., Bentley, S. D., Brooks, K., Cerdeno-Tarraga, A. M., Chillingworth, T., Cronin, A., Davies, R. M., Davis, P., Dougan, G., Feltwell, T., Hamlin, N., Holroyd, S., Jagels, K., Leather, S., Karlyshev, A. V., Moule, S., Oyston, P. C. F., Quail, M., Rutherford, K., Simmonds, M., Skelton, J., Stevens, K., Whitehead, S. and Barrell, B. G, 2001. Genome sequence of Yersinia pestis, the causative agent of plague, Nature 413 (6855), 523-527
Pasamotes, L., Haiker, M., Wyss, M., Henriquez-Huecas, M., Mitchell, D. B. and and van Loon, A. P., 1997a, Gene cloning, purification and characterization of a heat stable phytase from Emericella nidulans and the thermophilic fungus Talaromyces thermophilus, Biochim. Biophys. Acta 1353, 217-223
Pasamotes, L., Haiker, M., Wyss, M., Tessier, M. and van Loon, A. P., 1997b. Gene cloning, purification and characterization of a heat stable phytase from the fungus Aspergillus fumigatus, Appl. and Environ. Microbiol 63, 1696 – 1700.
Pen, J., T. C. Verwoerd, P. A. VanParidon, R. F. Beudeker, P. J. M. Van den Elzen, K. Geerse, J. D. Van der Klis, H. A. J. Versteegh, A. J. J. Van Ooyen, and A. Hoekema, 1993. Phytase-containing transgenic seeds as novel feed additive for improved fosforous utilization. Bio. Tech. 11:811 – 814.
Piddington, C. S., Houston, C. S., Paloheimo, M., Cantrell, M., Miettinen-Oinonen, A., Nevalainen, H. and Rambosek, J. 1993. The cloning and sequencing of the genes encoding phytase (phy) and pH 2,5-optimum acid phosphatase (aph) from Aspergillus niger var. awamori. Gene 133, 55 – 62.
Powar, V. K. and Jagannanthan, V. 1982. Purification and properties of fitate-specific phosphatase from Bacillus subtilis, J. Bacteriol. 151, 1102 – 1108.
Pradel, E., and Boquet, P. L. 1988, Acid phosphatases of Esherichia coli: molecular cloning and analysis of agp, the structural gene for a periplasmic acid glucose phosphatase, J.bacteriol. 170, 4916-4923.
Rimbach, G and G. Pallauf. 1999. Effect of dietary fitate on  magnesium bioavailability and liver oxidant status in growing rats. Food Chem. Toxicol. 37: 37-45
Roche Molecular Biochemicals, 1999, PCR Applications manual, 2nd Ed. Roche Diagnostics GmbH, Mannheim
Rodriguez, E., Han, Y. and Lei, X. G. 1999. Cloning, sequencing, and expression of an Escherichia coli acid phsophatase/ fitasegene (appA2) isolated from pig colon. Biochem.and Biophys Research Comm. 257, 117-123
Sajidan,  Farouk, A. and Borriss, R. 1999, Extracellular enzime activities and 16S r RNA gene analysis of cold adapted sea water bacteria, Proceeding of „International symposium of marine biotechnology”, 27-29th October, Greifswald, Germany.
Sajidan,  Farouk, A., Piotukh, K., Greiner, R. and Borriss, R. 2001, Cloning, expression and characterization of fosfatases (fitase) from indonesian rice field bacteria Klebsiella pneumoniae ASR1, Tagungsdokumentation DAAD-BioForum-Berlin “Grenzenlos forschen?”, Band 42, 310-315
Sajidan, 2002, Enzim dan Bioaktif Sebagai Penopang Devisa Negara, artikel-IPTEK, Kompas, Jum’at 19 Juli 2002 hal 29.
Sajidan, 2002.  Molekulare Charakterisierung einer Fitase (Myo-Inositol Hexakisfosfate Hydrolase) und von Fosfatasen aus Bakterienisolaten indoneschischer Reisfelder (Klebsiella pneumoniae), Dissertation , Institut für Biologie , Humboldt Universität zu Berlin, Deutschland (Germany).
Sajidan, Farouk, A., Greiner, R., JunGambarlut, E., Muller, E.C. and Borriss, R., 2004, Molecullar and Physiological Characterization of a 3-Fitase from The Rhizobium Klebsiella pneumoniae ASR1. Applied Microbiology and Biotechnology, Vol. 65 p. 110-118, Springer Verlag, Heidelberg.
Sajidan, Adi Magna P.N. dan Adi Ratriyanto, 2004, Aplikasi Bakteri Penghasil Fitase Pada pakan Campuran Wheat Pollard Terhadap performan Ayam Broiler, Buletin Peternakan (Bulletin of Animal Science), Jurnal Terakreditasi Nasional UGM, Vol 28 (3) p: 114-121, edisi Agustus 2004.
Sajidan, 2007, Peningkatan Kualitas dan Relevansi Pembelajaran Matakuliah Biokimia Melalui Penyusunan Buku Ajar Berbasis Kompetensi dan Perbaikan Pembelajaran Berbasis Komputer (CBL). Laporan Hibah Teaching Grant A2 J P. Biologi Tahun 2007.
Shin, S., N.C. Ha, B.C. Oh, T.K. Oh, and B.H. Oh. 2001. Enzyme mechanism and catalytic property of  propeller phytase. Structure. 9:851-858.
Shieh, T. R. and Ware, J. H. 1968, Survey of microorganisms for the production of extracellular phytase. Appl. Microbiol. 16, 1348-1351.
Shimizu, M. 1992. Purification and characterization of phytase from Bacillus subtilis (natto) N-77. Biosci. Biotechnol. Biochem. 56, 1266 – 1299.
Short, F., M. Hruby, H. Burrows, and E. E. M. Pierson, 2004. The effect of combined phytase and xylanase addition on performance of broilers fed wheat-based diets. www.poultryscience. org/meet/91st/psabs5.pdf. Abstr.(41)
Simamora, L., 2002, Infrastruktur e-learning TELKOM Dalam Upaya Mendukung Pengembangan Kompetensi Kompetitif SDM, Teknodik, 10/VI/Teknodik/Oktober/2002.

Tambe, S. M.

KEUNIKAN KIMIA KOORDINASI (KIMIA KOMPLEKS)

Oleh :
Prof. Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D.
pada tanggal 20 Agustus 2009

Yang saya hormati,

Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret,

Para Pejabat Sipil dan Militer

Para Dekan dan Pembantu Dekan di lingkungan Universitas Sebelas Maret,

Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, Kepala Biro dan para Kepala UPT, serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Sebelas Maret,

Para Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan, Ketua Laboratorium, dan Staf Pengajar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret

Segenap Tamu Undangan, rekan Sejawat dan Staf Administrai, Mahaiswa dan hadirin yang saya hormati.

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga pagi hari ini kita dapat berkumpul bersama di ruangan ini.  Atas perkenanNya pula saya dapat berdiri di mimbar yang terhormat ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar dalam bidang Kimia Koordinasi atau Kimia Kompleks di Jurusan Kimia FMIPA UNS.

Pendahuluan

Hadirin yang saya hormati

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dijumpai peristiwa yang menakjubkan, misalnya:

–          Bagaimana haemoglobin mengikat oksigen untuk selanjutnya dibawa oleh aliran darah?

–          Bagaimana ikatan peptida dalam asam amino atau protein tertentu terpotong-potong?

Bagaimana penjelasan peristiwa tersebut ditinjau dari ilmu Kimia Koordinasi? Kimia Koordinasi mempelajari hubungan antara ion pusat (ion logam) dan pasangannya (ligan) dalam ion kompleks.

Kimia koordinasi dapat diterangkan dengan beberapa teori, antara lain teori ikatan valensi, teori medan kristal dan teori orbital molekul. Masing-masing teori mempunyai keunggulan dan kelemahan, demikian keterbatasan manusia dalam menerangkan ciptaan Allah SWT.  Ilmu manusia sangatlah kecil dibandingkan dengan ilmu Allah seperti tertulis dalam Al Qur’an surat Ath Thalaq ayat 12

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi                      segala sesuatu”

Maka janganlah kita takabur atau menyombongkan diri karena takabur atau sombong adalah sifat iblis sebagaimana diceriterakan dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 34:

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah  kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Sebelum membicarakan kimia koordinasi, marilah kita lihat susunan atom dalam kristal. Kristal adalah zat padat yang susunannya teratur, suatu kristal murni tanpa cacat dikatakan derajat ketidakteraturannya (entropinya) = 0. Perhatikan beberapa contoh kristal berikut, perhatikan keteraturan atom-atom dalam kristal

Liu Zhi-Qiang et al.(2008)

Madalan Augustin M. et al. (2007)

Thakuria Harjyoti and Gopal Das (2007)

Cunha Silva (2009)

Chen Zhi (2007)

Bagaimana atom-atom tersusun secara teratur membentuk suatu kristal?  Siapa yang mengaturnya ?  Atom-atom tidak tidak dapat berfikir saja bisa teratur, mengapa kita makhluk yang sempurna tidak  bisa teratur ? Allah SWT menyukai barisan orang yang teratur sebagaimana tertulis dalam Al Qur’an surat 61 As Shaff ayat 4

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”

Hadirin yang saya hormati, marilah kita tinjau teori ikatan valensi.

Teori ikatan valensi mengganggap bahwa ikatan antara ion pusat (ion logam) dan ligan adalah ikatan kovalen (terjadi pertumpang tindihan orbital)

Ion pusat              ligan                    ion kompleks

Ion pusat memiliki orbital kosong sedang ligan memiliki pasangan elektron bebas, ion pusat dan ligan merupakan pasangan yang khas dalam kimia koordinasi sebagaimana pasangan kation (ion bermuatan positif) dengan anion (ion bermuatan ngatif), pasangan suami dan istri, putik dengan benang sari serta jantan dengan betina.

Pasangan-pasangan demikian telah tertera dalam Al Qur’an surat ke 51 Adzdzariyaat ayat 49 :

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”

Bagaimana haemoglobin mengikat oksigen untuk selanjutnya dibawa oleh aliran darah ?

Sebelum mengikat oksigen haemoglobin berada sebagai deoksi­haemoglobin, sedang saat mengikat oksigen haemoglobin berada sebagai oksihaemoglobin

Dalam deoksihaemoglobin ion Fe2+ berada dalam keadaan spin tinggi dengan 4 elektron yang tidak berpasangan pada sub kulit 3d.

Ketika oksigen mendekat ke ion Fe2+ untuk mendonorkan pasangan elektronnya, maka konfigurasi elektron ion Fe2+  menyesuaikan diri menjadi spin rendah dengan menyediakan 2 orbital kosong 3d sehingga jari-jari ion Fe2+ spin rendah lebih kecil daripada jari-jari ion Fe2+ spin tinggi.

Akibatnya volume ion Fe2+  menjadi kecil dan kemudian dapat masuk ke dalam ring phorphirin membentuk struktur oktahedral.  Dengan turunnya ion Fe2+  ke dalam ring phorphirin mengakibatkan rantai di atasnya tertarik ± 0,75 Å

Bagaimana ikatan peptida dalam asam amino atau protein tertentu terpotong-potong?

Perhatikan peran Zn dalam menjerat asam amino yang mengandung gugus phenil yang terpotong ikatan peptidanya sebagaimana orang menyembelih kambing atau sapi kaki-kakinya diikat dan lehernya disiapkan agar mudah dipotong.

Zn bernomor atom 30 termasuk golongan transisi dan kebanyakan kompleksnya berstruktur tetrahedral, inilah salah satu faktor bagi Zn yang dapat berperan dalam pemutusan ikatan peptida. Meskipun hanya dalam jumlah yang kecil, Zn ini sangat diperlukan bagi tubuh manusia. Bayangkan bagaimana jika menyembelih kambing atau sapi dengan tidak mengikat kakinya.

Demikian pula Zn dalam mengikat hystidin dan sistein membentuk kompleks tetrahedral

Dalam kompleksnya Zn2+ seringnya berstruktur tetrahedral, karena tetrahedral memang sifat dasar Zn2+ sebagaimana manusia juga mempunyai sifat dasar keluh kesah dan kikir sebagaimana tertulis dalam Al Qur’an surat 70 Al Ma’aaru 19

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”

Betapa hebatnya Allah SWT yang telah menciptakan alam beserta isinya lengkap dengan mekanisme yang sempurna.

96 Al ‘Alaq ayat 1

“Bacalah dengan  nama Tuhanmu Yang menciptakan”

Maksud ayat ini, manusia diperintah oleh Allah SWT untuk mempelajari ciptaan-ciptaan Allah yang ada.

Ciptaan-ciptaan tersebut ditunjukkan kepada manusia untuk dipelajari dan digunakan untuk kesejahteraan manusia, misalnya :

–          Burung sebagai inspirasi dalam pembuatan pesawat terbang

–          Ikan hiu sebagai inspirasi dalam pembuatan kapal selam

–          Burung hantu sebagai inspirasi dalam aplikasi infra merah

Beberapa senyawa alam seperti khlorophyl dan hemoglobin memberi­kan inspirasi bagi ilmuwan untuk mengembangkan ide-ide sintesis ligan dan kompleksnya

khlorophyl

Telah kita ketahui bahwa khlorophyl membantu tumbuhan mensistesis karbohidrat dari karbon dioksida dan air.  Di sini disertai terjadinya perubahan energi dari energi matahari menjadi energi kimia. Karbohidrat dibakar oleh tubuh menjadi energi panas yang kita gunakan untuk menjaga suhu tubuh tetap konstan dan juga untuk energi gerak.  Di alam ini selalu terjadi perubahan energi sesuai hukum kekekalan energi yang berbunyi :

“Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi hanya terjadi perubahan bentuk energi”

Inilah keterbataan manusia bahwa manusia tidak dapat menciptakan sesuatu dari yang belum ada menjadi ada.  Berbeda dengan Allah SWT, bila Allah menghendaki sesuatu jadi maka jadilah sebagaimana tersurat dalam Al Qur’an surat 6 Al An’aam ayat 73 :

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”

Mengapa manusia di dunia ini tidak berfikir mengenai krisis energi matahari? Kapan energi matahari habis? Jika suatu saat energi matahari habis, tidak ada lagi peristiwa fotosintesis maka kiamatlah dunia ini.  Mengapa kita tidak yaqin bahwa kiamat ada?

Hadirin yang kami hormati, marilah kita lihat sintesis ligan khususnya makrosiklis.

Akhir-akhir ini ligan makrosiklis (ligan yang membentuk rantai tertutup, seperti halnya yang terjadi pada khlorophyl dan haemoglobin) banyak mendapat perhatian ilmuwan kimia koordinasi. Pada khlorophyl dan haemoglobin tampak adanya 4 atom nitrogen dalam lingkaran siklis.

Berdasar struktur khlorophyl dan haemoglobin maka Barefield dkk (1976) mensintesis 1,4,8,11-tetraazacyclo-tetradecane (cyclam) melalui templat

Hal yang menarik dalam sintesis ini adalah adalah siklisasi (pembentukan rantai tertutu) ligan melaui pembentukan kompleks.  Ligan dalam kompleks menjadi lebih kaku dibanding ligan bebas, hal ini menyebabkan gugus-gugus aktif ligan mudah disiklisasi oleh gugus-gugus aktif penyiklis.

Perhatikan pembentukan siklis pada sintesis 1,4,8,11-tetraazacyclo-tetradecane

Struktur 1,4,8,11-tetraazacyclotetradecane

Dari makrosiklis 1,4,8,11-tetraazacyclotetradecane dibuatlah turunan makrosiklis yang lain :

Boeyens J.C.A. et al. (1996)

1,5-dimethyl-8,11-bis(2-hydroxyethyl)tetraazacyclotetradecane

Sentot B Rahardjo, Kevin P. Waiwright (1997)

1-methyl -4,8,11-tris(2-hydroxyethyl)tetraazacyclotetradecane

Sentot B Rahardjo, Kevin P. Waiwright (1997)

1,4,8-trimethyl -11- (2-hydroxyethyl)tetraazacyclotetradecane

Sentot B Rahardjo, Kevin P. Waiwright (1997)

Hadirin yang saya hormati, marilah kita lihat sifat-sifat unik makrosiklis

Ukuran besar kecilnya makrosiklis tidak selalu sesuai dengan jari-jari ion logam yang menempatinya. Ukuran lingkar makrosiklis Crown ether I (siklis terdiri dari 14 atom) > Crown ether II, (siklis terdiri dari 12 atom) akan tetapi kemampuan Crown ether I mengekstraksi ion Li+ > kemampuan Crown ether II mengekstraksi ion ion Na+ meskipun jari-jari ion Li+ (90 Å) < ion Na+ (116 Å) .

Mengapa keadaan A lebih stabil daripada keadaan B? Tidak sebaliknya?

Demikian pula pembesaran ukuran ring dari 12 menjadi 14, cenderung mendestabilkan kompleks ion logam yang lebih besar dan meningkatkan kestabilan kompleks ion logam yang lebih kecil

Jari-jari ion (Å)   :  Pb2+(133)>Cd2+(109)Zn2+(88)>Ni2+(83)

Ukuran ring        :  L1 < L2

Thöm dan Hancock. (1877), Kodama dan Kimura, E. (1977), Hinz dan Margerum (1974), Thöm et. al. (1985)

Substitusi atom belerang (S) oleh atom oksigen (O) dapat mengurangi kestabilan kompleks Ag+ dan Pb2+ dengan ligan makrosiklis dibenzo

(Adam, K. R., et.al. (1994)

Kestabilan kompleks Pb2+

Kestabilan kompleks Pb2+

Penambahan tangan pada induk makrosiklis mengurangi kestabilan kompleks Ni2+

Cyclam : R = H

TAEC : R = CH2CH2NH2

THEC : R = CH2CH2OH

Hinz dan Margerum (1974), Thöm, et. al. (1985), Madeyski et. al. (1984), Tan et. al. (1993), Kodama dan Kimura (1977)

Kecepatan pembentukan kompleks dipengaruhi oleh jenis gugus yang diikatnya, adanya tangan-tangan yang mengikat gugus OH pada 1,4,8,11-tetraazacyclotetradecane mengakibatkan kecepatan pembentukan kompleks lebih cepat dari pada tangan dengan gugus NH2 atau tanpa tangan.

Kecepatan pembentukan komples 1,4,8,11-tetraazacyclotetradecane yang mengandung tangan hydroxyethyl lebih cepat daripada tidak mengandung tangan hydroxyethyl

Hadirin yang kami hormati, marilah kita lihat Kompleks Polynuclear

Pada umumnya kompleks hanya terdiri dari satu ion pusat dan beberapa atom donor dari ligan. Akan tetapi kini banyak kompleks yang tersusun lebih dari satu atom ion pusat (ion logam) yang biasa disebut kompleks polynuclear.

Penempatan ion logam pada makrosiklis juga tergantung gugus yang terdapat pada tangannya. Dapat membentuk Polynuclear dengan berbagai sistem jembatan

Eksperimen menunjukan bahwa yang terjadi adalah struktur B

Kompleks [Cu2(a3-L)Cl4].5H2O  merupakan kompleks yang terdiri dari dua atom pusat Cu dimana geometrinya cenderung ke arah square pyramid

Trivedi et al. (2009)

Kompleks [Hg2(phen)4](OTf)2 (phen = 1,10-phenanthroline), terdiri dari tiga atom pusat Cu(II) dengan geometri cenderung ke arah square pyramid

Malleier Richard (2008)

Struktur Kompleks Paladium dengan imidazolinium [SIBiphen]HBF4

Pada kompleks ini diantara ketiga ikatan Pd-I sekitar palladium, panjang ikatan Pd-I yang trans terhadap carbene lebih panjang daripada panjang ikatan Pd-I yang lain karena pengaruh N-heterocyclic carbene.

Hadirin yang kami hormati, perkembangan selanjutnya kompleks polynuclear dihubungkan oleh jembatan anion atau suatu molekul.

Kompleks [Cu2(pmedien)2(µ1,3-C4O4)(H2O)2](ClO4)2 terdiri dari dua atom pusat Cu(II). Masing-masing atom Cu (bulatan berwarna biru muda) berkoordinasi lima dengan bentuk geometri mendekati square pyramid.

Massoud (2008)

Kompleks trinuclear lithium (Li)

Atom Li3 terkoordinasi oleh 1 molekul air sedang Li4 ter­koordinasi oleh 2 molekul air, atom Li satu dengan atom Li yang lain dijembatani oleh atom oksigen.

Cu pada kompleks

[Cu2(µ-O2CH)(µOH)2(dpyam)2](ClO4).H2O bergeometri square pyramide terdistorsi dengan dijembatani oleh 2 gugus hidroksida dan gugus karboksil (dpyam = di-2-pyridylamine).

Youngme Sujittra (2008)

Pada Kompleks : μ-phenoxo-μ-acetato-bis(η2 acetato)dicobalt(II, II),  kobalt(II) terjembatani oleh satu asetat

Chunhui Huang, et al. (2008)

Kompleks [(2-PyC(SiMe3)2Mg(thf)Br2] dihubungkan oleh jembatan dibromida

Kompleks [(2-PyC(SiMe3)2Mg(thf))2(OEt)Cl].Et2O dihubungkan oleh jembatan etoksi dan kloro. Atom pusat magnesium (Mg) pada kompleks ini square pyramide yang terdistorsi.

Structure kompleks [OPO]Li2(DME)2

(H2[OPO] = bis-(3,5-di-tert-butyl-2-hydroxyphenyl)phenylphosphine)

DME = dimethoxyethan.

Molekul lithium siklobutana-1,1-dikarboksilat dan 3 molekul air.

Atom fosfor terkoordinasi hanya pada satu atom litium.

Kedua atom lithium dijembatani oleh  kedua atom oksigen O(5) dan O(6).  Geometri kompleks Li(1) berupa tetrahedral terdistorsi sedang Li(2) bergeometri segiempat piramida terdistorsi.

Struktur Kompleks [Zn6(µ4-O)2(L)4]

Shena Xiao-Qing et al (2008)

Dalam kompleks [Zn6(µ4-O)2(L)4] terdiri dari inti [Zn6(µ4-O)2] dan empat ligan (N,N’-bis(5-ethyl-1,3,4-thiadiazol-2-yl)-2,6-pyridine­dicarboxamide). Geometri kompleks ini terbagi menjadi dua tipe. Tipe pertama terdiri dari empat atom Zn (Zn1, Zn2, Zn5 dan Zn6) membentuk geometri square pyramid sedang tipe kedua atom Zn3 dan Zn4 membentuk geometri tetrahedral.

Kompleks dinuclear Co(II)-tris(2-pyridylmethyl)amine (TPA) dengan Jembatan terephthalato

Massoud (2008)

Pada umumnya makrosiklis terdiri dari C, H, N dan O, akan tetapi akhir-akhir ini logam seperti Sn dan Pd dapat  sebagai bagian dari makrosiklis,

Ma Chun-Lin et al (2008)

Ikatan hidrogen (ikatan antara atom yang sifat negatifnya besar dengan hidrogen) sering juga terjadi dalam kompleks

Hadirin yang saya hormati,

Masih banyak hal-hal unik dalam kimia koordinasi, akan tetapi karena keterbatasan waktu yang tersedia dan forum yang heterogen maka pidato pengukuhan ini saya cukupkan sekian. Dari beberapa contoh uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidaklah mudah menjelaskan fakta atau hasil eksperimen kimia koordinasi dengan suatu teori yang sempurna. Teori yang menurut logika manusia sudah bagus masih juga ada kelemahannya.  Disinilah keterbatasan manusia yang selalu memiliki kelemahan, sebagaimana seorang pejabat jika mengeluarkan suatu surat keputusan pada bagian akhir selalu dituliskan “Apabila terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diadakan perbaiakan”.  Berbeda dengan ketetapan Allah SWT dalam Al Qur’an, tidak pernah ada ralat karena memang telah sempurna.

Sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini, perkenankanlah saya mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam pidato saya ini terdapat kata-kata saya yang kurang berkenan dihati Bapak/Ibu.  Dalam kesempatan ini pula saya banyak mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan jasanya, sehingga saya mendapatkan jabatan terhormat sebagai Guru Besar bidang Kimia Koordinasi di Jurusan Kimia FMIPA UNS.

Berbagai rintangan telah berhasil dilalui, ini bukan karena kemampuan saya akan tetapi karena kasih sayang Allah SWT terhadap hamba-Nya yang senantiasa hanya bergantung kepada-Nya dan tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Hidup kita di dunia ini sebentar atau sementara saja, kehidupan sesungguhnya adalah besok di akhirat. Karena itu pada kesempatan ini saya menghimbau kepada diri saya sendiri dan para hadirin, marilah kita persiapkan diri kita untuk menghadapi kematian dunia dan mengawali kehidupan akhirat, hanya iman dan amal sholeh saja yang akan menemani kita di akhirat. Apa-apa yang menjadi kebanggaan kita di dunia sperti jabatan, kepandaian, kekuasaan, anak, istri dan harta benda semua akan kita tinggalkan. Semoga Allah menyuburkan kasih sayang diantara kita dan menjauhkan kita dari dengki dan berbuat jahat kepada orang lain. Pada akhirnya yang benar pasti menang, sedang yang salah pasti kalah.

Banyak pihak yang telah berjasa dalam mengantarkan saya menjadi guru besar ini, sehingga tidak mungkin kami sebutkan satu persatu.

1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan Guru Besar bidang Kimia Koordinasi di Jurusan Kimia FMIPA UNS.
2. Rektor Universitas Sebelas Maret, yang juga sebagai Ketua Senat: Bapak Prof. Dr. H. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ(K), sekretaris senat Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ(K) dan segenap anggota senat yang telah mempromosikan dan mengusulkan serta memberikan kemudahan bagi saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar.
3. Dekan Fakultas MIPA yang juga sebagai Ketua Senat Fakultas MIPA Prof. Drs. Sutarno, MSc., Ph.D, para pembantu Dekan, Ketua dan Sekretaris Jurusan beserta seluruh anggota Senat terutama Prof. Drs. Suranto, MSc., Ph.D yang telah mengusul­kan saya untuk memangku jabatan sebagai Guru Besar di Jurusan Kimia FMIPA UNS. Demikian juga para senior dan dosen saya di program Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS dan di Jurusan Kimia FMIPA UNS terutama Drs. Patiha, MS yang telah memotivasi dan mendukung saya mengusulkan diri untuk memangku jabatan Guru Besar. Terimakasih khusus juga kami sampaikan kepada sekretaris Jurusan Kimia FMIPA UNS, Soerya Dewi Marliana, MSi dan mantan sekretaris Jurusan Kimia Triana Kusumaningsih, MSi yang selalu membantu saya selaku ketua Jurusan dalam menyelesaikan permasalahan.
4. Teman-teman sejawat di Prodi Pendidikan Sains dan Prodi Biosains Fakultas Pascasarjana yang telah mempercayai saya untuk ikut mengelola para mahasiswa S2.
5. Guru-guru saya sejak di sekolah dasar hingga perguruan tinggi yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah mendidik saya dengan tulus. Para supervisor yang telah membimbing saya untuk menyelesaikan program doktor di Flinders University of South Australia, Dr. Kevin.Wainwright, Dr.R. Max Taylor dan Dr. Paul A. Duckwoorth yang telah banyak memberikan ilmu terutama di bidang penelitian kimia koordinasi.
6. Bapak saya almarhum (semoga diampuni dosa-dosanya dan diterima iman dan amal solehnya), ibu saya yang sudah lanjut usia (semoga selalu diberi hidayah oleh Allah SWT) yang telah membesarkan saya dengan penuh kasih sayang dan banyak pengorbanan. Bapak mertua saya almarhum (semoga arwahnya diterima oleh Allah SWT) dan ibu mertua saya Ibu Marsiyah yang selalu mencurahkan kasih sayangnya pada kami sekeluarga.
7. Istri saya tercinta Dra. Nur Hasanah yang telah mendampingi hidup saya selama 26 tahun dengan setia dan penuh kasih sayang dan juga rela melepaskan status pegawai negerinya untuk mendampingi saya menyelesaikan studi S3 di Australia.  Demikian pula kedua anak saya Rahmawati Budiasih, S .Ked dan Aditya Darmasurya yang saat itu masih kecil-kecil, penuh pengertian terhadap kesibukan bapaknya serta menantu saya Lettu dr. Achmad Nugroho yang juga selalu membantu dalam kerepotan.
8. Rekan-rekan wartawan media cetak maupun elektronik yang meliput acara yang membahagiakan ini, dan
9. Semua hadirin yang telah dengan sabar mengikuti pidato pengukuhan guru besar ini.

Hadirin yang saya hormati,

Akhirnya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan yang ada.  Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, K. R., Baldwin, D. S., Bashall, A., Lindoy, L. F., McPartlin, M. and Powell, H. R., 1994, J. Chem. Soc., Dalton Trans., 237.

Augustin M. Madalan, Ce´line Re´thore´, Narcis Avarvari, 2007, Copper (II) and cobalt (II) complexes of chiral tetrathiafulvalene-oxazoline (TTF-OX) and tetrathiafulvalenethiomethyl- oxazoline (TTF-SMe-OX) derivatives. Inorganica Chimica Acta, 360, 233-240.

Bartsch, R. A, Czech, B.P., Kang, S. I., Stewart, L. E., Walkowiak, Charewicz, W. A., Heo, G. S. And Son, B., J, 1985, Am. Chem. Soc., 107, 4997.

Boeyens, J.C.A., Leanne Cook, Paul A. Duckworth, Sentot B Rahardjo, M.R. Taylor, Kevin P. Wainwright, 1996, Structural requirements for rapid metal ion ingress into hydroxyethylated tetraaza macrocycles, Inorganica Chimica Acta, 246, 321 – 329.

Chunhui Huang, Gang Xu, Haibin Zhu, et. al., 2008, Synthesis, structure and magnetic property of  l-phenoxo-l-acetato-bis(g2 acetato)dicobalt(II, II) complexes.

Hancock, R.D., Shaikjee, M. S., Dobson, S. M. and Boeyens, J. C. A., 1988, Inorg. Chim. Acta, 154, 229.

Harjyoti Thakuria, Gopal Das, 2007,  CuO micro plates from a 3D metallo-organic framework (MOF) of a binary copper(II) complex of N,N-bis(2 hydroxyethyl)glycine, Journal  Polyhedron, 26, 149-153.

Hay, R. W., Pujari, M. P., Moodie, W. T., Craig, S., Richens, D. T., Perotti, A. and Ungaretti, L., 1987, J. Chem. Soc., Dalton Trans., 2605.

Hinz, F. P., and Margerum, D. W., 1974, Iorg.Chem., 13, 2941.

Kodama, M. and Kimura, 1977, J. Chem. Soc. Dalton Trans., 1473.

Kodama, M. and Kimura, E., 1977, J. Chem. Soc. Dalton Trans, 2269.

Madeyski, C.M., J.P. Michael and R. D. Hancock, 1984, “N,N’,N”,N”‘-Tetrakis(2 hydroxyethyl)cyclam, an N-Donor Macrocycle with Rapid Metalation Reaction, Inorg. Chem, 23, 1487-1489.

Manoj Trivedi, Daya Shankar Pandey, et. al., 2009, Binuclear copper and zinc complexes based on polypyridyl ligand 2,3,5,6-tetra(2-pyridyl)pyrazine (tppz): Synthesis, spectral and structural characterization, Inorganica Chimica Acta, 362, 284-290.

Philip C. Andrews, Markus Brym, Cameron Jones, et. al., 2006,   X-ray structural characterization of some sterically bulky    N-donor and N-alkyl Grignard reagents, Inorganica Chimica Acta, 359, 355-363.

Richard Malleier, Walter Schuh, Holger Kopacka, Klaus Wurst, Paul Peringer. 2008.  “[Hg2]2+ coordinated by eight nitrogen donor atoms: Synthesis and structure of [Hg2(phen)4](OTf)2, phen = 1,10-phenanthroline”, Inorganica Chimica Acta, 361, 195-198.

Salah S. Massoud, Kendra T. Broussard, Franz A. Mautner, Ramon Vicente, et. al., 2008, Squarato-metal(II) complexes. 1: Structural and magnetic characterization of squarato-bridged dinuclear nickel(II) and copper(II) complexes, Inorganica Chimica Acta, 361, 299-308.

Sentot B. Rahardjo, Kevin P. Wainwright, 1997, Hydroxyethylation and its effect on the rate of metal ion ingress inti macrocyclic ligans, Inorganica Chimica Acta, 255, 29 – 34.

Sujittra Youngme, Jaturong Phatchimkun, Nanthawat Wannarit, Narongsak Chaichit, Siwaporn Meejoo, et. al. 2008, New ferromagnetic dinuclear triply-bridged copper(II) compounds containing carboxylato bridges: Synthesis, X-ray structure and magnetic properties, Journal of Polyhedron, 27, 304-318.

Tan, L. H., Taylor, M. R., Wainwright, K. P. and Duckworth, P. A., 1993, J. Chem. Soc., Dalton Trans., 2921.

Thom, V.J.  and Hancock, R. D., 1985, J. Chem. Soc. Dalton Trans, 1877.

Thom, V. J., Hosken, G. D. and Hancock, R. D., 1985, Inorg. Chem., 24, 3374.

Xiao-Qing Shen, Hong-Chang Yao, Rui Yang, Zhong-Jun Li, Hong-Yun Zhang, et. al., 2008, Synthesis, structure and thermal properties of polynuclear complexes with a new multidentate ligand, N,N’-bis(5-ethyl-1,3,4-thiadiazol-2-yl)-2,6 pyridinedicarboxamide, Journal of Polyhedron, 27, 203-209.

Zhi Chen, Zhaofu Fei, Dongbin Zhao, et. al., 2007, Synthesis, characterization and X-ray crystal structures of lithium coordination polymer from cyclobutane-1,1-dicarboxylic acid, Inorganic Chemistry Communications,10, 77-79.

Zhi-Qiang Liu, Yan-Tuan Li, Zhi-Yong Wu, Yu-Lan Song, 2008, A two-dimensional copper(II) polymer with bridging l-trans-oxamidate and l2-picrate ligands: Synthesis, crystal structure and DNA binding studies, Inorganica Chimica Acta, 361, 226-232.

KESULITAN BELAJAR KIMIA BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH

Oleh :
Prof. Dr. Ashadi
pada tanggal 20 Agustus 2009
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokatuh
Yang kami hormati:
Bapak Rektor selaku Ketua Senat UNS,
Bapak Sekretaris dan Bapak/ Ibu Anggota Senat UNS,
Bapak Ibu Pimpinan Fakultas dan Pimpinan Program Pascasarjana/ Lembaga/ Jurusan/ Prodi / Unit di Lingkungan UNS,
Para Pejabat Sipil dan Militer,
Anggota Sivitas akademika UNS, dan
Para tamu undangan

Untuk mengawali pidato pengukuhan ini yang berjudul ”Kesulitan Belajar Bagi Siswa Sekolah Menengah” kami mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT. Yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kita dapat berkumpul dalam sidang senat terbuka ini dengan acara pengukuhan guru besar.

Pengertian Ilmu Kimia
Ilmu kimia adalah ilmu yang berkenaan dengan karakterisasi, komposisi dan transformasi materi (Mortimer, 1979). Definisi yang serupa dituliskan dalam Cambridge Anvanced Learner Dictionary: 1) Chemistry is (the part of science which studies) the basic characteristics of substances and the different ways in which they react or combine with other substances, 2)Chemistry is the scientific study of substances, what they are made of, how they act under different conditions, and how they form other substances.
Ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi/ ber¬kombinasi membentuk senyawa lain. Makanan, minuman, udara, pakaian, kendaraan, tubuh kita, benda-benda langit yang jauh dari kita tersusun oleh senyawa kimia.  Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kimia, karena hampir setiap perubahan materi melibatkan proses kimia, proses pencernaan makanan, pembusukan sampah, penuaan kulit, perkaratan besi, pembakaran bensin, kebakaran hutan, pelapukan batuan, pembentukan bintang, pembuatan plastik, pembuatan sabun dan pembuatan obat adalah contoh-contoh proses kimia.
Ilmu kimia bersama-sama ilmu-ilmu yang lain telah memberikan banyak manfaat kepada manusia, baik dalam bidang kesehatan, teknik, pertanian, pangan dan kosmetika. Ilmu kimia telah berkembang pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Kemajuan dalam bidang instrumentasi kimia sangat membantu ahli kimia dalam melakukan identifikasi senyawa dan melakukan pengukuran kadar senyawa. Kemajuan dalam bidang teknik dan fisika sangat membantu terlaksananya proses-proses kimia yang memerlukan kondisi yang sangat khusus untuk berlangsungnya reaksi kimia.
Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa, mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi, radiokimia dan topik lainnya.
Kimia modern ada yang berkembang pada pemenuhan akan barang yang memiliki karakteristik tertentu. Untuk itu telah ditemukan banyak cara untuk memproduksi barang baru. Sebagai contoh minyak mentah diubah menjadi berbagai produk seperti nylon, aspirin, cat, perekat; pasir menjadi gelas; gas nitrogen (di udara) menjadi pupuk urea; minyak cengkeh menjadi vanilin. Polycarbonate, plastik transparan yang sangat tahan terhadap sinar matahari merupakan produk derivat asam karbonat yang disubstitusikan pada asam adipat atau asam phthalat. Teflon), plastik yang sangat tahan terhadap reaksi kimia dan panas merupakan polimer tetrafluoroethylene. Tetrafluoroethylene dalam sehari-hari dikenal dengan nama freon. Di samping produk-produk yang bermanfaat, kimia juga menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti munculnya pencemaran udara, air dan tanah. Dalam bidang pangan juga terjadi pemakaian bahan kimia yang sebenarnya dilarang, seperti pemakaian warna tekstil untuk makanan, pemakaian monosodium glutamat secara berlebihan, pemakaian formalin untuk mengawetkan ikan/makanan.
Pada tingkat sekolah menengah, fungsi dan tujuan pem¬belajaran ilmu kimia(menurut kurikulum 2004) adalah:
Mata pelajaran Kimia di SMA & MA berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:

  1. Menyadari keteraturan dan keindahan alam untuk meng¬agungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:
    a.    sikap jujur dan obyektif terhadap data;
    b.    sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah pandangannya, jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar;
    c.    ulet dan tidak cepat putus asa;
    d.    kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris; dan dapat bekerjasama dengan orang lain.
  3. Memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrumen, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis.
  4. Meningkatkan kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan juga merugikan bagi individu, masyarakat, dan lingkungan serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.
  5. Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.
  6. Membentuk sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi.

Pembelajaran kimia di SMA/MA di samping mengembang¬kan sikap ilmiah juga ada pesan moral dalam mensikapi alam dan keagungan penciptaNya. Untuk mewujudkan pesan moral perlu pembekalan kepada guru agar dapat membimbing siswa yang  mempelajari kimia semakin menyadari keagungan penciptaNya.
Dalam mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada tiga dunia, yaitu dunia nyata (makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan dunia lambang. Dunia nyata adalah sesuatu yang dapat diamati menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia atom. Dunia atom sangat kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera untuk mengamatinya. Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan misteri di balik fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh karena atom tidak dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia menjelaskannya dengan menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf.
Masalah yang menarik untuk diperhatian tentang ilmu kimia adalah meskipun ilmu kimia banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, tetapi banyak fakta menunjukkan bahwa ilmu kimia dipandang ilmu yang sulit, tidak menarik untuk dipelajari.

Permasalahan Pembelajaran Kimia
Pembelajaran kimia mencakup persoalan yang sangat luas, mulai dari kebijakan pemerintah, kompetensi guru, teknisi laboratorium, laboran, proses belajar mengajar, siswa, infrastuktur dan keterlibatan orang tua. Jika mempelajari kimia dianggap sulit, maka permasalahan ini kemungkinan besar terkait dengan komponen-komponen tersebut. Selain komponen-komponen ini, kesulitan belajar juga dapat muncul dari karakteristik materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak.
Pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan seperti tertuang dalam PP. No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang mencakup standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan yang ditujukan untuk penjaminan mutu pendidikan.
Pemerintah juga telah menggariskan agar proses belajar mengajar terjadi dalam situasi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pemerintah sudah melakukan training-training untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar, namun setelah selesai mengikuti pelatihan tidak banyak berubah dengan berbagai alasan diantaranya fasilitas tidak mendukung, tidak cukup waktu , kurang menguasai IT (Information Technology). Ilmu kimia dikembangkan lewat eksperimen-ekperimen di laboratorium, dengan demikian laboratorium memiliki peran yang sangat  penting, namun demikian tidak semua sekolah memiliki fasilitas laboratorium yang memadai. Sekolah yang memiliki laboratorium penggunaannya masih kurang optimal. Ketersediaan tenaga teknisi laboratorium dan laboran masih sangat kurang bahkan sampai level perguruan tinggi keadaannya tidak banyak berbeda.
Usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah banyak dilaku¬kan dengan berbagai cara, peningkatan kompetensi guru melalui training-training, perbaikan fasilitas perpustakaan, pemanfaatan IT untuk pembelajaran, pembuatan software media interaktif, penulisan modul dan buku ajar, olimpiade kimia untuk mendorong siswa Sekolah menengah untuk belajar kimia lebih baik,  Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk peningkatan profesionalisme guru, mailing list untuk saling bertukar pengalaman dalam pembelajaran kimia, namun hasilnya belum meng¬gembirakan.

Konsep Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar siswa) mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning disabilities (www.widatra.or.id/index.php 6 Agustus 2008). Secara rinci pengertian-pengertian tersebut akan dibahas sebagai berikut:
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai. Siswa yang terbiasa mengerja¬kan segala sesuatu dengan tergesa-gesa akan sedikit mengalami kesulitan pada saat harus bekerja secara ekstra hati-hati di laboratorium.
Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. Siswa yang sebenarnya memiliki bakat numerik tinggi tetapi mengalami kesulitan pada saat mempelajari konsep mol yang di dalamnya menuntut kemampuan operasi matematik karena bakat numeriknya kurang sering diaplikasikan pada bidang-bidang lain.
Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajar¬nya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. Siswa yang di tes kemampuan penalaran formalnya dan hasilnya menunjukkan bahwa siswa tersebut sudah berada pada level operasional formal, namun mengalami kesulitan pada saat mempelajari konsep-konsep yang bersifat abstrak.
Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Prinsip pembelajaram berbasis kompetensi menyadari adanya slow learner, sehingga siswa yang belum mencapai standar kompetensi minimal (SKM) diwajibkan mengikuti remidi.
Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Kondisi ini muncul karena adanya mental retardation, hearing deficiencies, speech and language impairments, visual impairments, emotional disturbances, orthopedic impairments, a variety of medical conditions.
Sementara itu, Burton (dalam Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila: (1) Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference); (2) Tidak dapat mengerja¬kan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasar¬kan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever; (3) Tidak berhasil tingkat penguasaan materi yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater).
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran yang dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pen¬capaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan                    (4) kepribadian.
Tujuan pendidikan dalam keseluruhan sistem pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai ukuran tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar ketuntasan minimal yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar.
Kedudukan siswa dalam Kelompok  akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan. Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group.
Perbandingan antara potensi dan prestasi. Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensi¬nya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah under achiever.

Fakta-fakta yang mengindikasikan adanya kesulitan belajar kimia
Untuk memberikan gambaran tentang kesulitan belajar kimia, beberapa informasi telah dikumpulkan dari mailing list para penggemar kimia, penelitian-penelitian (mahasiswa S1, S2 dan S3)  dan informasi lain yang yang mengindikasikan adanya kesulitan belajar. Informasi yang ditemukan ada yang berupa data-data kuantitatif, seperti prosentase siswa yang berhasil mengerjakan tes, nilai rata-rata ujian, atau dapat berupa data kualitatif dari hasil angket dan wawancara dengan siswa yang berupa bentuk-bentuk kesulitan belajar.
Kelompok Studi Pendidikan Berkualitas (KSPB), LAPI-ITB (http://groups. yahoo. com/ group/ sains/files Rabu 9 Jan 2007) menyampaikan makalahnya dalam diskusi di Depdiknas tentang pendidikan sains dan matematika. Makalah tersebut  merupakan salah satu hasil riset mereka tentang prestasi siswa Indonesia dari wilayah Sumatera dan Jawa Barat selama kurang lebih sembilan tahunan dilihat dari hasil ujian SPMB/UMPTN.
Untuk mengukur prestasi, mereka menggunakan apa yang disebut dengan Indeks Fasilitas (IF) yang merupakan per¬bandingan jumlah peserta SPMB/UMPTN kelompok IPA yang menjawab soal ujian dengan benar dibandingkan dengan jumlah seluruh peserta. Dengan demikian bila didapati nilai IF yang besar maka berarti banyak peserta menjawab dengan benar soal ujian tersebut, dan bila nilai IF kecil adalah kebalikannya.
Hasil Indeks Fasilitas dari calon mahasiswa di Sumatera dan Jawa Barat tersebut selama rentang sembilan tahunan (1997-2006) disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Indeks Fasilitas SPMB/UMPTN IPA
Mata Pelajaran    Indeks Fasilitas
Biologi    27,5%
Fisika    14,6%
Kimia    28,4%
Matematika    16,3%
Hal ini menunjukkan bahwa soal-soal MIPA sangat sulit bagi calon mahasiswa kita (tidak ada yang diatas batas layak sekitar 70% lebih; kalau dianggap nilai 7 dari skala 0-10 adalah “layak”); pelajaran fisika termasuk yang paling sulit dan yang paling baik adalah pelajaran kimia, walaupun masih jauh di bawah angka yang diharapkan. Pelajaran Biologi yang dianggap lebih mudah dan banyak hapalan tidak mencerminkan hasil yang bagus juga.
Dari data tersebut memang bisa disimpulkan bahwa prestasi pencapaian lulusan SMA dalam sains memang masih rendah; hal ini juga bisa diekstrapolasi yang bisa menunjukkan kualitas guru dalam hal pemahaman dan pengajaran sainsnya masih belum bagus berhubung siswa adalah produk pengajaran mereka. Bila dirujuk bahwa MIPA merupakan dasar berkembangnya produktivitas, inovasi maupun ‘competitiveness’ suatu bangsa, maka ini juga mengindikasikan negara kita masih lemah dalam menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas dan kompetitif.
Kesulitan belajar kimia dapat dilihat dari hasil-hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh nilai UAN/UAS/Ulangan harian. Data-data nilai ujian dari beberapa sekolah disajikan dalam            Tabel 2:

Tabel 2.    Rata-rata nilai UAN, UAS dan Ulangan jharian di beberapa SMA
No    Nama Sekolah/ Kelas    Materi    Tahun    Jenis Nilai    Rata-rata
1    SMA N 2 Karanganyar    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    8.45        2008/2009    UAN    8.56
2    SMA N 2 Surakarta    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    6.42            2008/2009    UAN    7.51
3    SMA Taruna Nusantara Magelang    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    8.1            2008/2009    UAN    8.72
4    SMA (Se-Kalimantan tengah)    Kelas X s/d XII    2008/2009    UAN    6.755    SMA (se-Kabupaten Kota Waringin)    Kelas X s/d XII    2008/2009    UAN    6.34
6    SMA Pangkalan Bun    Kelas X s/d XII    2008/2009    UAN    7.16
7    SMA (se-Kota Palangkarara)    Kelas X s/d XII    2008/2009    UAN    6.83
8    SMA 1 Palangkaraya    Kelas X s/d XII    2008/2009    UAN    7.34
9    SMA Negeri 1 Solo    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    7.79        2008/2009    UAN    8.35
11    SMA Batik I Surakarta    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    6.34     2008/2009    UAN    7.05
12    SMA N 3 Madiun    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    8.59         2008/2009    UAN    9.01
13    SMA Negeri Sekay (RSBI)  Sumatra Selatan    Kelas X s/d XII    2007/2008    UAN    8.05                2008/2009    UAN    9.03
14    SMA Taruna Nusantara Magelang/ Kelas X    Hukum Dasar Kimia    2005/2006    Ulangan harian    65.1
2006/2007    Ulangan harian    60.5
2007/2008    Ulangan harian    63.5
15    SMA N 1 Pemalang/ Kelas XI    Koloid    2007/2008    Ulangan harian    60.62
16    SMA N 1 Boyolali/ kelas X    Ikatan Kimia    2009/2009    Ulangan harian    61
17    SMA Negeri 2 Boyolali/ kelas XI    Laju reaksi    2005/2006    Ulangan harian    55.1
2006/2007    Ulangan harian    5.22
2007/2008    Ulangan hari    5.26
18    SMA Batik II Surakarta/ Kelas X    Kelas X smt 2    2005/2006    UAS    5.85
2006/2007    UAS    6.87
19    SMA N 1 Sukodono/Kelas XI    Kesetimba-ngan kimia    2004/2005    Ulangan harian    65.32
2005/2006    Ulangan harian    66.45
2006/2007    Ulangan hari    66.16
20    SMA N 1 Pekalongan/ Kelas XI    Laju reaksi    2007/2008    Ulangan harian    66.5
21    SMA N 2 Karanganyar/ Kelas X    Kelas X smt 1    2007/ 2008    UAS Smt 1    44.31
*)(dengan rentang 6.5 – 9.3        **)dengan rentang 7 – 10
Sumber data: Guru sekolah terkait.
Dari data-data di atas tampak bahwa hasil belajar belum seperti yang diinginkan, namun ada yang sudah mencapai rerata  lebih dari 9. Jika kita mengikuti faham mastery learning, Bloom mendefinisikan mastery kalau siswa sudah mampu mengerjakan tes dengan benar antara 80 s/d 90 % (Siswoyo, 1981).
Kesulitan belajar juga dapat dilihat dari data jumlah siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM) pada tes pertama disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Pencapaian KKM di SMA
No    Nama SMA/ Kelas    Materi    Jml siswa    Mencapai KKM    Tidak mencapai KKM
1    SMA N 1 Boyolali/ Kelas X    SPU    40    20    20
Ikatan Kimia    40    19    21
Tatanama    40    17    23
Konsep Mol    40    18    22
Elektrolit    40    28    12
Redoks    40    19    21
Hidrokarbon    40    15    25
Sumber : Guru sekolah terkait
Data-data di atas menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum mastery/ belum menguasai materi untuk topik-topik kimia tertentu. Remidi yang dilakukan sering terkendala oleh waktu, kecuali bagi sekolah yang siswanya ditampung di asrama.
Urip Prakoso (http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files, Jun 20, 2006) seorang yang aktif dalam mailing list kimia, menyatakan bahwa kebanyakan siswa SMA/MA mengatakan bahwa matapelajaran kimia termasuk matapelajaran yang dianggap sulit. Kesulitan yang dialami siswa adalah:
1.     Dirasa sulit memnghubungkan antar konsep.
2.     Diperlukan kemampuan dalam memanfaatkan kemampuan logika matematika dan bahasa (tidak semua siswa punya 3 kemampuan sekaligus).
3.     Perlu daya juang yang tinggi dalam memahami dan menyelesaikan setiap soal.
4.     Pemahaman antara teori dan praktik sering tidak nyambung.
Dalam mailing list Yahoo group (yang anggotnya terdiri dari guru, dosen, dosen yang sedang menempuh S3 baik di dalam maupun di manca negara, para produsen alat-alat laboratorium), salah satu kelompoknya menyatakan bahwa tidak semua siswa mempelajari kimia dalam kondisi yang baik. Dari pengalaman kelompok itu, dalam satu kelas hanya ada sekitar 20% siswa yang memiliki dasar logika dan matematika yang memadai, sehingga setiap kali  mengajar kimia harus didahului mengajar matematika, akibatnya target pembelajaran kimia tidak terpenuhi.
Masalah seperti ini ditemukan juga di tempat lain, yaitu siswa kemampuan matematikanya  rendah  cenderung tidak tertarik untuk mempelajari kimia. Masalah lain juga ditemui di pelosok-pelosok daerah kebanyakan siswa kurang memenuhi prasyarat belajar kimia seperti matematika, logika dan bahasa. Memang kimia tidak melulu matematika, tetapi juga berisi konsep lain yang tidak selalu berbau matematik. Untuk menghadapi siswa yang berkemampuan mate¬matika rendah, maka guru akan sulit ketika mengajarkan konsep pH, hasil kali kelarutan, kimia inti, konsep mol, kecepatan reaksi dan yang lainnya. Sering dijumpai pula pengajaran kimia lebih banyak muatan matematisnya, sehingga siswa yang lemah dalam matematik menjadi semakin kurang tertarik dengan kimia.
Urip Prakoso (http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files Jul 2006) mengamati pembelajaran kimia di suatu kabupaten di daerah Kalimatan. Dalam pembelaran kimia, kebanyakan guru di daerah tersebut tidak pernah menyelenggarakan praktek laboratorium dengan beberapa alasan, diantaranya: (1) tidak ada peralatan dan bahan,  (2) guru tidak tahu apa tujuan praktek laboratorium, (3) tidak mau sibuk/ repot karena gajinya sama dengan guru yang tidak mengajar kimia. Terkait dengan hal ini, ada usulan dari beberapa guru agar penggajian didasarkan atas beban kerja.
Martin Fach, Tanja de Boer and Ilka Parchmann, University of Oldenburg, Institute of Pure and Applied Chemistry, D-26111 Oldenburg, Germany (www.rec org/images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006) menjelaskan bahwa akhir-akhir ini banyak peneliti yang meneliti miskonsepsi dalam stoikhiometri, stategi pemecahan masalah dalam stoikhiometri dan juga alternatif-alternatif pendekatan pembelajaran untuk materi tersebut. Hasil-hasil riset menunjukkan bahwa bagi sebagian siswa dan juga guru, topik stoikhiometri tetap dirunjuk sebagai topik yang sulit dan tidak menarik.
Ahtee dan Varjoli (1998) mempelajari miskonsepsi (http://www.daisley.net/hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf), mereka menemukan bahwa sekitar 10% siswa kelas 8 (SMP) di Finlandia gagal dalam membedakan atom dengan senyawa. Miskonsepsi, yang dalam hal ini menyebutnya Alternative conceptions yang dialami siswa pada umur 12 tahun tampak tetap ada sampai umur 18 tahun dan bahkan sampai seumur hidup, hal ini ditandai adanya kesalahan yang sama yang dilakukan oleh  siswa SMP dan mahasiswa.

Beberapa dugaan penyebab kesulitan belajar kimia.
Wayre Huang (www. chemistrysurvival.com/order.html) menemukan bahwa kesulitan belajar kimia diantaranya disebabkan karena: (1) siswa tidak tahu bagaimana caranya belajar, (2) siswa kurang mengasai matematika dasar, (3) siswa kurang mempunyai kemampuan problem solving.  Kemampuan problem solving sangat diperlukan untuk mempelajari kimia.
Dorothy Gabel pada tahun 1999 (http://www.daisley.net/ hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf) menulis bahwa ada tiga level untuk menyatakan materi, yaitu level makro, level sub mikro (model-model partikel) dan level simbolik (notasi kimia). Gabel mengamati bahwa pembelajaran kimia pada umumnya berada pada level simbolik. Pada Level simbolik siswa dituntut untuk berpikir abstrak. Gabel memiliki bukti-bukti bahwa pembelajaran yang didominasi oleh level simbolik (abstrak) ini tidak efektif. Siswa yang berada pada tahap konkret akan mengalami kesulitan untuk mempelajari konsep-konsep abstrak. Logam besi adalah konsep konkret, Ion Fe+3 adalah konsep abstrak. Konsep ikatan kimia, elektron, energi ikat, energi kisi, energi dissosiasi, oksidasi-reduksi, hidrolisis, atom, jari-jari atom adalah konsep-konsep abstrak. Untuk memberikan abstraksi, gambaran dan ilustrasi konsep abstrak tidaklah mudah. Konsep abstrak sering disebut konsep yang didefinisikan.
Huhey (1978) menjelaskan pentingnya gaya-gaya kimia (chemical forces) dalam menentukan sifat-sifat kimia, seperti titik cair, titik didih, kelarutan suatu senyawa dalam air. Gaya-gaya kimia terkait erat dengan konsep jari-jari. Jari-jari atom tidak dapat diukur secara langsung, tetapi yang dapat diukur adalah jarak antar inti. Konsep jari-jari atom harus diperlakukan secara hati-hati karena atom dapat berada dalam situasi yang berbeda, apakah berikatan secara ionik, kovalenatau van der Waals.  Konsep-konsep ini sering tidak menambah kejelasan konsep, tetapi justru menambah kebingungan dalam mempelajari kimia. Dari sini muncullah konsep jari-jari ionik, jari-jari kovalen, jari-jari van der Walls.
Salah satu ilustrasi kesulitan mempelajari jari-jari atom adalah jari-jari atom Xenon pada Xenon padat (sebesar 218 pm) yang berbeda dengan jari-jari Xenon dalam senyawa XeF4 (sebesar 170 pm). Bagi siswa pemula dalam mempelajari jari-jari akan kebingungan, karena siswa menganggap jari-jari atom itu sesuatu yang tidak berubah-ubah. Penggunaan istilah jari-jari harus digunakan secara cermat, apakah itu jari-jari ion, jari-jari kovalen atau jari-jari van der Walls. Data-data berikut perlu dicermati dalam menjelaskan jari-jari atom:

Pribula (www.study suggestion for g_chem.htm, 1996) menjelaskan bahwa pada umumnya mata pelajaran kimia dirasakan sebagai matapelajaran yang sulit. Dalam mata pelajaran ini akan dijumpai perbendaharaan kata, fakta-fakta, konsep-konsep, teknik-teknik baru. Beberapa konsep baru dalam kimia perlu dipahami secara lebih tepat karena dalam konteks kimia suatu konsep sangat berbeda artinya dengan konsep yang sudah dipahami sebelumnya. Sebagai contoh kata “reaksi”(reaction) dalam sehari-hari berarti bagaimana seseorang memberikan respon atau melakukan per¬lawanan terhadap sesuatu yang dihadapinya, sedangkan dalam konteks kimia kata “reaksi” berarti kombinasi unsur satu dengan yang lain untuk membentuk senyawa baru. Pribula juga menemukan bahwa siswa tidak benar-benar merasakan perlunya siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajarannya. Banyak siswa yang tampaknya berpikir masuk kelas, mendengarkan dengan pasif keterangan guru. Pribula mengatakan bahwa “No instructor, no matter how gifted they may be, can teach you anything if you aren’t actively engaged in, and responsible for, your own learning”
Kesulitan belajar kimia terkait juga dengan pemakaian nama-nama unsur yang tidak konsisten dengan simbolnya. Sebagai contoh unsur besi (Iron) disimbulkan Fe (Ferrum), Emas  (Gold) disimpulkan Au (Aurum), Kalsium disimbulkan Ca, sedangkan simbol K digunakan untuk kalium. Hal ini terjadi karena simbol-simbol unsur memang tidak berasal dari bahasa Inggris.
Kesulitan belajar dapat muncul dari kekeliruan guru dalam usaha mengarahkan siswa agar tidak hanya menghafal. Belajar memang tidak hanya menghafal, namun ada beberapa bagian yang tidak ada cara lain kecuali menghafal. Nama-nama unsur kimia harus dihafal, tanpa menghafalnya siswa tidak akan mengenalnya, lalu apa yang akan didiskusikan tentang kimia. Ada beberapa guru yang sangat getol meminta siswanya untuk tidak menghafal dan siswanya salah tangkap, terlanjur salah faham bahwa belajar kimia tidak boleh menghafal.
Penelitian lain dilakukan oleh Jacob Anthony Seiler tahun 2006, Webster University (http://www.mrseiler.org/thesis.pdf) yang menjelaskan penelitiannya terhadap siswa yang memiliki kemampuan mengingat yang lemah atau pemahaman yang parsial. Siswa menghubungkan pengalaman lama dengan konsep baru secara kurang tepat. Peneliti melakukan penelitian terhadap perkembangan konsep siswa tentang proses pendidihan air. Peneliti memberikan pretest dan posttest. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada siswa adalah: Asumsikan suatu beker gelas berisi air murni didihkan selama 30 menit. Gelembung-gelembung besar muncul pada saat mendidih. Gelembung-gelembung tersebut terdiri dari a) air, b) gas oksigen dan hidrogen, c) uap air, d) panas. Pada awal semester, ada 18 dari 45 siswa (40%) yakin bahwa gelembung berisi gas oksigen dan hidrogen. Pada akhir semester, 23 dari 45 siswa (51%) berpikir yang sama. Dalam hal ini kemungkinan siswa terpengaruh konsep dekomposisi air (H2O) menjadi gas H2 dan O2. Dari penelitian ini tampak adanya miskonsepsi yang ternyata tidak mudah untuk dihilangkan.
Arif Sholahuddin (www. portal dunia guru. htm, 2006) dalam penelitiannya Implementasi Teori Ausabel pada Pembelajaran Senyawa Karbon di SMU menyimpulkan bahwa pembelajaran konsep senyawa karbon umumnya dilakukan melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah dan bahkan siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut. Materi senyawa karbon cukup luas akan menjadi beban bagi siswa.  Dampak yang lebih fatal adalah pokok bahasan senyawa karbon menjadi masalah yang menjemukan dan tidak menarik untuk dipelajari. Peningkatan proses dan hasil pembelajaran konsep senyawa karbon dapat dilakukan dengan penerapan teori Ausabel, melalui: (1)  Penggunaan peta konsep yang bertujuan untuk mengetahui apa yang telah diketahui siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari, sehingga guru dapat mengkaitkan dengan pelajaran baru agar pemahaman siswa terhadap konsep menjadi benar, terintegrasi dan berkembang. (2)  Pendekatan mekanisme reaksi yakni pendekatan yang ber¬tujuan untuk memahami konsep senyawa karbon bergugus fungsi melalui logika mekanisme reaksi kimia yang disederhanakan, sehingga siswa memahami hakikat yang sesungguhnya dari sifat kimia senyawa tersebut, tidak sekadar menghafal. (3)  Penggunaan media laboratorium untuk mengurangi tingkat keabstrakan konsep senyawa karbon karena siswa mengalami sendiri, mengamati, menafsirkan, meramalkan, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama praktikum berlangsung. Dengan demikian, hal ini akan menghasilkan pemahaman yang baik terhadap konsep senyawa karbon, sekaligus mengembangkan semua ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotoris pada diri siswa.
Arif Sholahuddin menyarankan: Mengingat luasnya materi yang menyangkut senyawa karbon, guru hendaknya secara kreatif memilih konsep-konsep fundamental dalam pembelajaran sehingga pembahasan dapat lebih mendalam dan bermakna.  Karena topik yang berkaitan dengan senyawa karbon tersebar di berbagai tingkatan kelas, integrasi konsep sangat diperlukan agar terbentuk pemahaman yang utuh dan benar. Implementasi metode eksperimen dalam pembelajaran senyawa karbon merupakan salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pemahaman siswa tersebut.  Eksperimen ini tidak harus menggunakan bahan dan alat yang mahal.  Namun, dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum tetap bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan.  Selain itu, karena umumnya siswa kurang memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa mengenai potensi daerahnya.

Beberapa Saran Dari Ahli Kimia Untuk Pembelajaran Kimia.
Martin Fach, Tinja de Boer dan Ilka Parchmann  (www.rec org/images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006), dari kesulitan belajar stoikhiometri yang diperoleh dari interview terhadap siswa kelas 9, telah dikembangkan suatu Stepped Supporting Tools (SST) yaitu (1) Pemberian petunjuk umum bagimana menangani soal-soal, (2) Pemberian petunjuk tahap-tahap proses pemecahan masalah, (3) Pemberian saran-saran bagaimana murud-murid harus melewati tahap-tahap pemecahan masalah, (4) Pemberian istilah-istilah penting (glossary) kepada siswa. Menanggapi penelitian Fach dkk. ini, glossary sangat dibutuhkan dan belum banyak buku yang mencantumkan glossary. Dengan adanya glossary siswa bisa belajar lebih cepat terutama kalau dalam teks yang dibacanya ada istilah-istilah penting dan istilah itu ada di bagian bab yang berikutnya. Tanpa harus membaca bab berikutnya lebih dulu, siswa dapat tertolong dengan adanya glossary tersebut.
Fredy Kurniawan (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files/, Jun 25, 2006) menjelaskan bahwa kimia akan jadi lebih menarik kalau kita berikan dengan  mengkaitkan pelajaran dengan aspek praktis sehari hari, sehingga timbul ketertarikan akan manfaat kimia yang yang kemudian akan masuk menjadi keinginan untuk belajar. Kalau tak kenal maka tak sayang memang semboyan yang tepat. Kita kenalkan dulu mudah mudahan mereka menjadi sayang dengan kimia.
Fredy mengambil contoh pembelajaran mengenai pH, sebenarnya pH ini sangat bermanfaat bagi sekali dalam kehidupan. Kehidupan tanaman, hewan, bakteri, proses-proses dalam tubuh berlangsung pada pH tertentu. Oleh karena itu pemahaman tentang pH sangat diperlukan. Sederhana saja pH adalah ─log [H+]. Kalau ingin menerangkan pH kenapa harus di log kan H+ bukankah kita punya satuan lain yiatu molar (mol/L). Perlu dijelaskan mengapa harus di log kan, karena konsentrasi H+ dalam sistem hidup sangat rendah dan orde nya adalah 10 pangkat ─1 sampai + 14 bisa kita bayangkan kalau kita hitung dengan orde Molar maka susah menyebutnya  (0,0000000…) sehingga lebih mudah dengan meng¬gunakan ─log [H+], kenapa ─log bukan +log maka jawabannya sederhana karena supaya angkanya positif. Dengan menerangkan makna matematik ini maka siswa akan mengerti dengan benar filosofi kimianya.
Sebelum masuk ke hal hal perhitungan yang rumit alangkah baiknya diberikan sedikit waktu untuk menunjukkan tanaman x bisa tumbuh di pH sekian, tanaman Y bisa hidup di pH sekian. Tanyakan juga mengapa tanaman X bisa tumbuh ditanah jenis A, kaitkan dengan pH. Aplikasinya kita perlu mengukur keasaman tanah, lebih jauh dapat ditanyakan tanaman apa yang cocok untuk ditanam disana. Indikator alam seperti kunyit dan bunga sepatu perlu diperkenalkan.
Urip Prakoso, 2006 (http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files), mengusulkan perlunya usaha meng¬alih¬bahasakan berbagai ilmu termasuk kimia, agar lebih mudah dimanfaatkan banyak guru kimia dan guru pada umumnya di Indonesia, Kelihatannya belum ada lembaga pemerintah yang khusus mengalih bahasakan berbagai bidang ilmu yang kemudian disebar ke sekolah-sekolah. Atau setidaknya diletakkan di website khusus untuk guru. Ini lebih menghemat beaya dari pada mengeluar¬kan banyak uang sekedar penataran yg tidak dapat memberi dampak yang berarti.
Usulan ini tampaknya memang menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi beberapa pihak, khususnya yang mempunyai kendala bahasa, namun demikian karena jurnal-jurnal, buku-buku baru, informasi di web kebanyakkan berbahasa Inggris, maka kemampuan bahasa Inggris para guru juga perlu ditingkatkan. Jadi penterjemahan perlu dilakukan, namun kemampuan para guru dalam berbahasa Inggis harus ditingkatkan.
Urip Prakosa juga mengusulkan pelajaran kimia tidak semuanya dapat dijelaskan secara riil. Materi pelajaran yang abstrak, atau karena keterbatasan bahan/sarana dapat diajarkan melalui metafora atau analogi. Sebenarnya dengan menggunakan komputer saat ini tidak perlu lagi memakai metafora atau analogi, karena dengan membuat visualisasi maka materi abstrak dapat dijelaskan dengan relatif lebih mudah dan dipahami oleh siswa. Jika tidak tersedia fasilitas komputer maka tidak ada salahnya memanfaatkan analogi, harapannya siswa dapat memperoleh gambaran tentang apa yang dipelajarinya.
Contoh: Konsep elektron dan inti, mengapa atom dengan jari2 kecil lebih sulit melepaskan elektronnya, sedangkan atom dengan jari-jari lebih besar relatif lebih mudah melepaskan elektron pada kulit terluarnya. Analoginya,  kontrol orang tua sebagai inti dengan anak sebagai elektron. Semakin jauh jarak anak dengan orang tua maka semakin mudah pula anak berbuat sekehendak hatinya berbuat sesuatu karena tidak dapat terkendali secara penuh oleh orang tua. Kendali disini dapat dianalogkan dengan daya tarik inti kepada elektron.
Sandri Justiana 2006(http://www.groups_yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files) menjelaskan sebaiknya sebelum memulai mengajarkan konsep-konsep dasar kimia yang katanya membuat siswa pusing dan mengawang-awang, ada baiknya dikenalkan dahulu dunia nyata yang dapat diamati menggunakan pancaindera, yang ada disekitar kita. Selanjutnya dijelaskan bahwa benda-benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Atom tidak dapat dilihat oleh pancaindra, sehingga ahli kimia menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Sebagai contoh, dalam mengajar kimia struktur atom diberikan prolog: Amatilah tubuh Anda dan benda-benda di sekitar Anda. Amati juga fenomena alam yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dari proses bernapas, besi berkarat, hingga roti membusuk. Semua itu merupakan fakta-fakta dalam kehidupan. Apakah yang menyusun tubuh Anda? Tersusun atas apakah benda-benda di sekitar Anda? Mengapa besi berkarat dan roti membusuk? Apakah yang terbentuk bila kertas/ lilin dibakar. Jika anda ingin mengetahui jawabannya, anda harus memahami terlebih dahulu  konsep atom. Dengan prolog seperti itu, diharapkan siswa tidak akan terlalu bingung karena tahu apa manfaat belajar atom. Selanjutnya, ketika mempelajari konsep-konsep lainnya, konsep 3 (tiga) dunia kimia harus selalu dikaitkan. Jika siswa telah memahami konsep 3 Dunia Kimia ini, maka pada saat melihat air, yang terbayang adalah kumpulan molekul air. Siswa juga dapat menjelaskan mengapa air mempunyai sifat sebagai pelarut yang paling baik.
Jika ingin berhasil dalam mempelajari kimia, maka ada 4 hal yang perlu diperhatikan (http://www. Thoughts on How To Learn Chemistry.htm., Jun 25,  2006):
1.    Baca buku sebelum masuk kelas.
Bacalah buku pelajaran sebelum masuk kelas. Cara ini memungkinkan siswa untuk menelaah apa yang akan dipelajari, siswa sudah mulai memahami materi yang kan diterima di sekolah, siswa akan tahu apa yang sudah ada di buku dan apa yang belum ada di buku sehingga mempermudah siswa membuat catatan. Dengan membaca lebih awal siswa akan dapat mencurahkan perhatian khusus yang tidak jelas saat pelajaran berlangsung.
2.    Perhatikan pelajaran.
Mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, pusatkan perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat melakukan beberapa tindakan diantaranya mengecek tugas yang diberikan sebelumnya, melihat catatan siswa, menanyakan hal-hal apa yang masih belum jelas, hal-hal yang membingungkan.
3.    Buat pencatatan.
Catatlah hal-hal penting yang didengar pada waktu pem¬belajaran. Pada saat sedang membaca teks kurangi menulis, tulislah hal-hal yang belum faham, baik sebelum masuk kelas, setelah keluar kelas bahkan setelah meninggalkan sekolah. Ada kebiasaan yang kurang baik dalam mencatat, yaitu apa saja yang disampaikan guru akan dicatat. Pada saat mencatat siswa hanya mencatat terus tanpa berusaha memahami apa-apa yang sedang disampaikan guru, apa yang sedang didiskusikan. Siswa tidak berusaha untuk memahami apa yang mereka tulis. Ketika siswa ingin menggunakan catatan yang ditulisnya dalam belajar dan memecahkan masalah, mereka tidak tahu apa maksud catatan tersebut. Solusi banyaklah berikir, sedikitlah menulis, gunakan buku sebagai backup. Seseorang memiliki cara mencatat yang berbeda, ada yang cukup mebstabilo bagian penting, ada yang menambahkan catatan kecil. Temukan cara yang paling sesuai bagi anda.
4.    Kerjakan soal-soal.
Kerjakan soal-soal, kerjakan berulang-ulang. Kerjakan banyak soal. Kerjakan satu tugas sampai benar-benar dipahami. Soal-soal akan meminta siswa untuk menggunakan bahan-bahan pelajaran dan apa yang diberikan oleh guru. Soal-soal akan memberikan kepada siswa untuk menemukan konsep-konsep dan ide-ide mana yang sudah jelas dan yang belum jelas. Dengan demikian soal-soal akan menjadi menyenangkan. Banyak latihan soal merupakan hal penting untuk berhasil.
Wayre Huang, 2006) (www. chemistrysurvival.com/order. html) menjelaskan bagaimana mengingat sistem periodik unsur (SPU) hanya dalam 2 menit. Untuk memulainya siswa hanya perlu mengingat 20 unsur pertama. Cara yang dijelaskan disebutnya Acrostic Mnemonic Device.
Huang menggunakan jembatan keledai sebagai berikut:
Happy Henry, the Little Beach Boy, CaN dO FiNe
Naughty Megan, the Alpine Sister, Pretends to Ski at ClArK Canyon

Lakukan hal berikut:
1.    Pertama, bacalah dengan keras sebanyak 6 kali untuk menit pertama (masing-masing 10 detik). Pusatkan pada huruf yang digarisbawahi.
2.    Lakukan hal yang sama untuk menit kedua
3.    Camkan dua kalimat tersebut dan tulis di kertas kosong. Tandai simbol unsur yang ada dalam kalimat tersebut.
Contoh jembatan keledai ini dapat dikembangkan terus oleh siswa dalam menghadapi keadaan yang memerlukan banyak memori. Dalam mengingat semua unsur dalam SPU dapat dilakukan pengelompokan dengan mengikuti cara Huang tersebut. Buat jembatan keledai untuk kolom maupun baris. Cara pengelompokan ini sebenarnya sudah sering digunakan dalam penggunaan nomor tilpun rumah maupun hand phone. Ada yang senang menge¬lompok¬kan empat-empat ada yang tiga-tiga.

Kimia SMA diharapkan tidak hanya memberikan kecakapan akademik, namun juga dapat mengembangkan moral dan ketaqwaan.

Mata pelajaran kimia dan juga matapelajaran lain dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan moral sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum. Kapan mata pelajaran dapat diguna¬kan sebagai alat untuk mengembangkan moral dan ketaqwaan siswa? Jawabnya adalah bila kegiatan pembelajaran dapat menumbuh¬kan kesadaran bahwa:
(1)    ilmu yang kita miliki atau pahami itu amat sedikit.
(2)    kita betul-betul sangat tergantung pada rahmat dan belas kasihan dari Tuhan Yang Maha Esa.
(3)    ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah yang terbaik bagi kita.
(4) larangan-larangan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa betul-betul bermanfaat bagi kita.
(5)     bahwa keteraturan pada alam semesta adalah sangat bermanfaat bagi kita.
(6) perintah-perintah yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa betul-betul bermanfaat bagi kita.
Effendi (2009) memberikan contoh bagaimana mengajak siswa memahami bahwa Alloh maha pengasih dan penyayang dengan mengajak siswa memperhatikan air (H2O). Alloh mencipta¬kan air yang di dalamnya ada ikatan hidrogen yang menyebabkan air memiliki titik didih 100oC.
Hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari air, baik untuk minum ataupun kebutuhan lain. Kehidupan tanaman, hewan bahkan mikroorganisme bergantung adanya air.Jika tidak ada air tidak akan ada kehidupan.
Sebagian besar dari kita pasti telah mengetahui bahwa molekul-molekul air dapat mengadakan ikatan hidrogen antar¬molekul. Pada air cair molekul-molekul membentuk ikatan hidrogen antarmolekul seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Apa pengaruh ikatan hidrogen tersebut?
Pada suhu ruang air masih dalam fase cair. Bagaimana kalau antara molekul-molekul air tidak terjadi ikatan hidrogen antarmolekul? Yang akan terjadi adalah pada suhu sekitar -100ºC air sudah mendidih, sehingga tidak akan ada organisme yang dapat hidup di bumi.
Pemahaman terhadap contoh di atas akan membangkitkan kesadaran pada diri kita bahwa kita ini untuk dapat hidup betul-betul sangat tergantung pada rahmat dan belas kasihan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh lain adalah pemahanan mengapa Alloh menyimpan cadangan energi dalam tubuh kita dalam bentuk lemak. Kita semua tahu bahwa kalau makanan yang kita makan energinya melebihi energi yang kita butuhkan akan mengakibatkan kegemukan. Kegemukan ini muncul karena kelebihan energi ini akan tersimpan sebagai lemak.
Persoalannya adalah apakah kita ikhlas kalau kelebihan energi itu disimpan sebagai lemak? Bagaimana seandainya kelebihan energi itu disimpan sebagai karbohidrat?
Untuk bisa memilih kita harus tahu kesetaraan energi dari lemak dan karbohidrat.

i energi yang dihasilkan oleh 1 gram lemak setara dengan energi yang dihasilkan oleh 2.2727 gram karbohidrat.
Apa yang terjadi bila kelebihan energi disimpan sebagai karbo¬hidrat?

Misalnya:
•    Seorang ibu dengan berat badan normal 45 kg. Karena makan berlebihan beratnya menjadi 60 kg, dengan kelebihan energi disimpan sebagai lemak.
•    Berapa beratnya bila kelebihan energi tersebut disimpan sebagai karbohidrat?
Yang terjadi adalah berat badan ibu tersebut menjadi                {45 kg + (2,2727 x 15)} kg  lebih berat, jadi  = 79.09 kg

Apa yang terjadi dengan burung bila kelebihan energi disimpan sebagai karbohidrat?
Burung-burung tidak bisa terbang.
Pemahaman contoh-contoh di atas akan membangkitkan kesadaran pada diri kita bahwa apa yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah yang terbaik bagi kita.
Contoh-contoh lain dapat dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan beberapa sistem yang ada di sekitar kita. Ada siklus nitrogen yang menjelaskan bagaimana nitrogen mengalami perubahan dalam suatu sistem. Ada siklus air dan siklus lainnya. Nitrogen di udara dapat bereaksi dengan oksigen pada saat ada petir membentuk oksida nitrogen. Oksida nitrogen bereaksi dengan air membentuk asam nitrat. Asam nitrat bersama air hujan masuk ke dalam tanah menjadi pupuk untuk tanaman. Begitulah cara Alloh menurunkan pupuk nitrat. Nitrat diabsorbsi tumbuhan menjadi bagian tumbuhan dan seterusnya. Sistem ini diciptakan olehNya dengan sangat teratur dan rapi. Dari sini siswa diajak berpikir betapa hebatnya pencipta alam dan manusia semestinya bersyukur atas apa yang dikaruniakan kepadanya.

Penutup
Secara ringkas isi pidato kami adalah sebagai berikut: Ilmu Kimia adalah ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi serta perubahannya. Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari kimia. Ilmu kimia telah banyak memberikan sumbangan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, baik di bidang makanan, pakaian, kesehatan, kosmetika, teknik dan pertanian.
Indikasi adanya siswa sekolah menengah yang mengalami kesulitan belajar ditunjukkan oleh Indeks Fasilitas (perbandingan jumlah peserta SPMB/UMPTN kelompok IPA yang menjawab soal ujian dengan benar dibandingkan dengan jumlah seluruh peserta),  nilai UAN, UAS dan ulangan harian yang rendah serta siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (KKM).  Topik-topik kimia yang dirasakan sulit oleh siswa sekolah menengah juga telah teridentifikasi lewat penelitian-penelitian, termasuk adanya miskonsepsi siswa yang dapat menyebabkan kesulitan belajar berikutnya.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar antara lain banyak konsep kimia yang bersifat abstrak. Dalam mem¬pelajari kimia siswa dihadapkan pada tiga level berpikir yaitu level makroskopik, mikroskopik dan lambang (representational). Tidak semua siswa dapat berpikir dengan baik pada level mikroskopik dan lambang. Untuk mempelajari kimia diperlukan kemampuan matematika yang memadai, di samping ada bagian-bagian yang memerlukan strategi menghafal. Fasilitas laboratorium sekolah menengah yang kurang memadai dan kurang tersedianya tenaga teknisi laboratorium dan laboran juga menjadi penyebab kesulitan belajar siswa. Kompetensi guru dalam penguasan metode dan media pembelajaran, serta penguasaan IT untuk pembelajaran juga menyumbang kesulitan belajar kimia.
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dalam peningkatan kualitas pendidikan termasuk pembelajaran kimia, antara lain pelatihan ketrampilan mengajar bagi para guru, penambahan fasilitas laboratorium, namun belum menampakkan hasil yang memuaskan. Saran-saran yang dikemukakan oleh para ahli untuk mempelajari kimia, di antaranya adalah perlunya siswa memahami tahap-tahap penyelesaian masalah, perlunya glossary dalam buku ajar, perlunya prolog yang mengkaitkan materi ajar dengan lingkungan, peningkatan penggunaan IT dalam pembelajaran.  Penggunaan jembatan keledai (mnemonic) juga disarankan dalam mempelajari materi kimia tertentu. Demikian juga bagaimana cara siswa mempersiapkan diri sebelum masuk kelas, cara membuat catatan dan cara mengerjakan tugas rumah. Kimia SMA diharapkan tidak hanya memberikan kecakapan akademik, namun juga dapat mengembangkan moral dan ketaqwaan Alloh SWT., diantaranya dengan mengkaji bahwa apa-apa yang diberikan Alloh adalah yang terbaik untuk kita.

Hadirin yang kami hormati

Di bagian akhir pidato pengukuhan ini, sekali lagi kami memanjatkan syukur kehadirat Alloh SWT, atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada saya dan keluarga saya, berupa peng¬anugerahan jabatan Guru besar. Semua ini tentu atas izin Alloh dan semoga Alloh meridloinya. Amin.
Di samping itu, saya juga menyadari sepenuhnya bahwa jabatan guru besar ini dapat saya peroleh berkat dorongan dan bantuan serta do’a berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini perkenankan kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
  2. Rektor/Ketua Senat Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Muchammad Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) dan seluruh anggota Senat Universitas. Dekan/Ketua Senat Fakultas Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. dan segenap anggota Senat Fakultas yang telah menyetujui dan mengusul¬kan saya untuk menduduki jabatan Guru Besar.
  3. Dekan, Pembantu Dekan I, Pembantu Dekan II, Ketua Jurusan Pendidikan MIPA-FKIP UNS, Ketua Program Studi Pendidikan Kimia, Serta segenap dosen Prodi Pendidikan Kimia–FKIP-UNS yang telah menyetujui pengusulan saya sebagai Guru Besar.
  4. Prof. Drs. Sukiyo, Prof. Drs. Haryono Darmowisastro,  Prof. Drs. Anton Sukarno MPd, Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd., Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah dan  Prof. Dr. Sudjarwo yang selalu mendorong saya setiap kali berjumpa untuk mengusulkan jabatan Guru Besar.
  5. Segenap guru dan dosen saya, mulai dari Sekolah Dasar Sidomulyo-Ampel, SMP Negeri Boyolali, SMA Negeri Boyolali, IKIP Negeri Surakarta, IKIP Negeri Jogyakarta dan IKIP Negeri Jakarta yang telah membimbing saya sehingga saya bisa meraih jabatan Guru Besar. Secara khusus saya menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada guru kami K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan (Ponpes Al Muayyad) dan Ustad H. Mas Dhanu (AMC Jogyakarta) yang telah banyak memberikan bim¬bingan tentang aklak dan kehidupan.
  6. Bapak Saya Mudzakir (Alm) dan Ibu saya Hj. Munawaroh yang telah melahirkan, mengasuh, membesarkan, dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Beliau berdua telah bekerja keras, memeras keringat tanpa kenal lelah, melakukan sholat malam memanjatkan do’a agar putra-putranya bisa sekolah dengan harapan kelak menjadi orang yang selalu sujud dihadapan Alloh, menjadi anak yang sholeh. Untuk bapak almarhum saya berdoa semoga Alloh mengampuni dosa-dosa yang dilakukan semasa hidup beliau, diringankan siksa kubur beliau dan untuk ibuku saya berdo’a semoga Alloh mengaruniai kesehatan dan kesabaran, diberikan usia yang panjang dengan penuh rahmat dan ampunan. Amin.
  7. Bapak mertua Drs. KRTH. Sumantyo Martohatmojo (alm) dan Ibu Hj. Raden Ayu Sri Wuryanti yang selalu mendorong dan mendoakan agar saya bisa menyelesaikan program magister dan doktor sampai saya mendapatkan jabatan Guru Besar.
  8. Istri saya tercinta, Dra. Kus Sri Martini, M.Si yang dengan setia mendampingi saya dengan penuh pengorbanan, terutama ketika saya menyelesaikan program S1 dan juga studi lanjut S2 dan S3; ketiga anak saya dr. Fuad Sri Nugroho, Tontowi Hari Utomo, ST. MCs, dan Rahmat Saleh Kusuma Wardhana, S.Si, dan menantu saya Krisna Merdekawati, SPd. yang memahami pekerjaan saya dan mendoakan saya sehingga saya dapat meraih jabatan guru besar.
  9. Adik-adik saya Dra. Hj. Jazariah, H. Isbani SPd.–                  Dra. Alfiatun, Karimah–H.Khoironi, S.Pd, Nur Hidayah, SPd.–Tri Hatmoko, S.Pd., Mulyanto S.Pd. – Masruroh, Siti Khotimah dan adik-adik ipar saya Wiwik Hidayati, BA – Letkol Drs. Bambang Setyono, H. Ir. Mamik Sudarsono, S.E. –Hj. Nur Widiyanti, B.Sc., Hj. Siti Maryuti, Bktek –  H. Ir. Kamal,  Noeke Pamestri, S.E. – Ir. Didik Prasetyo,    H. dr. Hardoko Jati Purnomo–Sri Pranawingsih, Ir. Dadang WK sidhi – Dewi Laksmi, S.Sos.
  10. Anggota panitia pengukuhan, rekan-rekan wartawan yang meliput acara ini, segenap hadirin dan semua pihak yang membantu jalannya acara ini.Saya berdoa semoga Alloh SWT berkenan memberikan imbalan yang berlipat ganda  kepada pihak-pihak yang telah kami sebutkan di atas apa yang telah diberikan kepada saya. Amin.

Wabillahittaufiq Wal Hidayah
Wassalamu”laikum warahmatullahiwabarokatuh.

Daftar Pustaka
Ahtee and Varjoli.1998. Misconceptions (http://www.daisley.net/ hellevator/misconceptions/misconceptions.pdf) diakses 19 Maret 2008.
Austin, G.T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries. New York: McGraw-Hill Book Company.
Effendi. 2008. Eksperimen Dengan Program S1 Mipa Sekolah Menengah Bertaraf Internasional (SBI). Lokakarya Penyusunan Kurikulum Guru SBI. Surakarta: Jur. P.MIPA-FKIP-UNS Fach, Martin., Tanja de Boer and Ilka Parchmann. 2006.  Results of an interview study as basis for the development of stepped supporting tools for stoichiometric problems (www.rec org/ images/fach paper final-tcm 18-76278-pdf, 2006) diakses 19 Maret 2008
Fredy Kurniawan. 2006. (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files/, Jun 25, 2006) diakses 19 Maret 2008.
Huhey, J. E. 1978. Inorganic Chemistry: Prinxiples of Structure and Reactivity. New York: Harper and Row Publisher.
Mortimer, C. E. 1979. Chemistry: A Conceptual Approach. New York: d.VanNostrand Company Verbeek, M. 1972. Psikologi Umum: Ingatan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Pribula, A. J. 1996. Some Comments/Suggestions for Studying General Chemistry (www.study suggestion for g_chem.htm, 1996) diakses 19 Maret 2008.
Siswoyo. 1981. Belajar Tumtas (Mastery Learning). Jakarta: Penerbit Airlangga. Bloom mendefinisikan Matery secara operasional sebagai performance pada atau di atas teraf tertentu, biasanya 80 – 90% menjawab benar pada tes akhir.
Urip Prakoso. 2006. Persoalan dalam Pembelajaran Kimia SMA  (http://www.groups_yahoo.com/group/pengajaran_kimia_sma /files) diakses 19 Maret 2008.
Urip Prakoso. 2006. Metafora Atau Analogi Dalam Pengajaran Kimia http://www.groups_yahoo.com/group/pengajaran_kimia _ sma/files, 25 Juli 2006) diakses 19 Maret 2008.
Sandri Justiana. 2006.  3 Dunia Kimia (http://www.groups_ yahoo. com/group/pengajaran _kimia_sma/files)
Seiler, Jacob Anthony, Webster University: superficial, rote, or partial understanding of the material. (http://www. mrseiler.org/thesis.pdf)

SINKRONISASI KEBIJAKAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DENGAN HUKUM PAJAK SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN DI INDONESIA

Oleh :
Prof. Dr. H. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum.
pada tanggal 20 Agustus 2009

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sejahtera bagi kita.
Yang saya hormati,
Rektor/Ketua Senat UNS, Sekretaris Senat dan seluruh Anggota Senat Universitas Sebelas Maret.
Para pejabat dari jajaran Pemerintah Kota/Kabupaten
Para pejabat Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Militer.
Para Dekan, Pembantu Dekan di Lingkungan Universitas Sebelas Maret.
Para Kepala Lembaga, UPT di Lingkungan Universitas Sebelas Maret.
Para Ketua/Sekretaris Bagian, Ketua Laboratrium, Ketua Unit, Staf Pengajar dan Staf Administrasi, serta Mahasiswa (S1, S2, dan S3) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
Para Sejawat Dosen dan Staff Administrasi serta Mahasiswa di lingkungan Universitas Sebelas Maret,
Para Tamu Undangan, Sanak keluarga dan Hadirin yang saya hormati.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan karunia, kenikmatan, dan kelapangan hati kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul di ruangan ini mengikuti acara Sidang Senat Terbuka Universitas Sebelas Maret dan atas perkenan-Nya pula lah saya mampu berdiri di mimbar ini untuk menyampaikan pidato pengukuhan saya sebagai Guru Besar Hukum Bisnis dengan Judul “Sinkronisasi Kebijakan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Hukum Pajak Sebagai Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Di Indonesia” di hadapan hadirin.
Semenjak keruntuhan rezim Orde Baru, masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan mampu melakukan kontrol sosial (social control) terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan (profit) dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat memunculkan kesadararan baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Pemahaman itu memberikan pedoman bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga ter-alienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya. CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat. Secara teoretik, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap parastrategic stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat di sekitar wilayah kerja dan operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah mengedepankan prinsip moral dan etis (moral and etics), yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah goldenrules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.
Schermerhorn (1993) memberi definisi CSR sebagai suatu kepedulian organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani kepentingan organisasi dan kepentingan public eksternal. CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) berdasarkan prinsip kesuka¬relaan dan kemitraan (Nuryana, 2005). Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan atau bahkan sering diidentikkan dengan CRS ini antara lain Pemberian/Amal Perusahaan (Corporate Giving/ Charity), Kedermawanan Perusahaan (Corporate Philanthropy). Relasi Kemasyarakatan Perusahaan (Corporate Community/Public Relations), dan Pengembangan Masyarakat (Community Develop¬ment). Keempat nama itu bisa pula dilihat sebagai dimensi atau pendekatan CSR dalam konteks Investasi Sosial Perusahaan (Corporate Social Investment/Investing) yang didorong oleh spektrum motif yang terentang dari motif “amal” hingga “pemberdayaan” (Briliant dan Rice, 1998; Burke, 1988: Suharto, 2006).
Ide mengenai CSR sebagai sebuah tanggungjawab sosial perusahan kini semakin diterima secara luas. Namun demikian, sebagai sebuah konsep yang masih relatif baru. CSR masih tetap kontroversial, baik bagi kalangan pebisnis maupun akademisi (Saidi dan Abidin, 2004). Kelompok yang menolak mengajukan argumen bahwa perusahaan adalah organisasi pencari laba (profit oriented) dan bukan person atau kumpulan orang seperti halnya dalam organisasi sosial. Perusahaan telah membayar pajak kepada Negara dan karenanya tanggungjawabnya untuk meningkatkan kesejahteraan publik telah diambil-alih pemerintah.
Kelompok yang mendukung berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat dipisahkan dari para individu yang terlibat di dalamnya, yakni pemilik dan karyawannya. Karenanya, mereka tidak boleh hanya memikirkan keuntungan financial bagi perusahaannya saja. Melainkan pula harus memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap publik, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan. Pendapat ini dilandasi atas dasar :

  1. Masyarakat adalah sumber dari segala sumber daya yang dimiliki dan direproduksi oleh perusahaan. Bukanlah tanpa masyarakat perusahaan bukan saja tidak akan berarti, melain¬kan pula tidak akan berfungsi? Tanpa dukungan masyarakat, perusahaan mustahil memiliki pelanggan, pegawai dan sumber-sumber produksi lainnya yang bermanfaat bagi perusahaan.
  2. Meskipun perusahaan telah membayar pajak kepada negara tidak berarti telah menghilangkan tanggungjawab terhadap kesejahteraan publik. Di negara yang kurang memperhatikan kebijakan sosial (social policy) atau kebijakan kesejahteraan (welfare policy) yang menjamin warganya dengan berbagai pelayanan dan skema jaminan sosial yang merata, manfaat pajak seringkali tidak sampai kepada masyarakat, terutama kelompok miskin dan rentan yang tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Konsep Piramida CSR yang dikembangkan Archie B. Carrol memberi justifikasi teoritis dan logis mengapa sebuah perusahaan perlu menerapkan CSR bagi masyarakat di sekitarnya (Saidi dan Abidin, 2004). Dalam pandangan Carrol, CSR adalah puncak piramida yang erat terkait, dan bahkan identik dengan, tanggung jawab filantropis.(Edi Suharto, 2006)

  1. Tanggungjawab ekonomis. Kata kuncinya adalah : make a profit. Motif utama perusahaan adalah menghasilkan laba. Laba adalah pondasi perusahaan. Perusahaan harus memiliki nilai tambah ekonomi sebagai prasyarat agar perusahaan dapat terus hidup (survive) dan berkembang.
  2. Tanggungjawab legal. Kata kuncinya: obey the law. Perusahaan harus taat hukum. Dalam proses mencari laba, perusahaan tidak boleh melanggar kebijakan dan hukum yang telah ditetapkan pemerintah.
  3. Tanggungjawab etis. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menjalankan praktek bisnis yang baik, adil dan fair. Norma-norma masyarakat perlu menjadi rujukan bagi perilaku organisasi perusahaan. Kata kuncinya : be ethical.
  4. Tanggungjawab filantropis. Selain perusahaan harus mem¬peroleh laba, taat hukum dan berperilaku etis, perusahaan dituntut agar dapat memberi kontribusi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan semua. Kata kuncinya : be a good citizeb. Para pemilik dan pegawai yang bekerja di perusahaan memiliki tanggungjawab ganda, yakni kepada perusahaan dan kepada publik yang kini dikenal dengan istilah non-fiduciary responsibility.

Landasan Falsafah dan Faktor Pendorong CSR
Hadirin sidang senat terbuka yang saya hormati
Konsep CSR didasarkan oleh pemikiran bahwa bukan hanya Pemerintah melalui penetapan kebijakan publik (public policy), tetapi juga perusahaan harus bertanggung jawab terhadap masalah-masalah sosial (Chahoud, et al; 2007). Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, European Commission’s Communication (Green Paper-2001-Promoting a Enropean framework for Corporate Social Responsibilities. Brussels, European Commission’s Communication of Sustainable Development) menjelaskan sebagai berikut :
“Public policy also has a key role in encouraging a greater sense of corporate social responsibility and integrate environmental and social considerations into their activies…Busines should be encouraged to take a  pro-active approach to sustainable development in its operations both withn-the EU and elsewhere.
Konsep CSR juga dilandasi oleh argumentasi moral. Tidak ada satu perusahaan pun yang hidup di dalam suatu ruang hampa dan hidup terisolasi. Perusahaan hidup di dalam dan bersama suatu lingkungan. Perusahaan dapat hidup dan dapat tumbuh berkat masyarakat di mana perusahaan itu hidup. masyarakat di mana suatu perusahaan hidup menyediakan berbagai infrastruktur umum bagi kehidupan perusahaan tersebut, antara lain dalam bentuk jalan, transportasi, listrik, pemadam kebakaran, hukum dan penegakannya oleh para penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim). Masyarakat telah membayar pajak kepada pemerintah dan dari hasil pajak tersebut, pemerintah membangun berbagai insfrastruktur umum yang digunakan dan dinikmati oleh perusahaan tersebut. Selain itu, masyarakat telah menunjukkan kewajiban asasinya atas keberadaan perusahaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut yaitu dengan tertib telah menerima dengan baik keberadaan perusahaan di lingkungannnya. Akan ditindak secara hukum oleh para penegak hukum bila ada anggota masyarakat yang mengganggu keberadaan dan kehidupan perusahaan tersebut. Masyarakat juga telah bersedia membeli dan menggunakan jasa dan barang yang dijual oleh perusahaan (produk perusahaan), dan menyediakan tenaga kerja bagi perusahaan. Untuk semua itu, maka secara moral perusahaan wajib memperhatikan dan menunjang kepentingan-kepentingan masyarakat sebagai imbalan atas segala hal yang diberikan oleh masyarakat kepada perusahaan.
Adapun faktor-faktor pendorong utama bagi perusahaan mengapa perusahaan harus mengimplementasikan CSR. Ketiga faktor pendorong tersebut adalah (Raynard dan Fortates, 2002):

  1. Terjadinya perubahan nilai-nilai (values). Perusahaan banyak yang secara sukarela mengubah orientasinya, yaitu dari semula hanya mementingkan pemupukan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya, menjadi harus pula bertanggung jawab terhadap masyarakat, baik masyarakat lokal dimana mereka berada maupun masyarakat dunia, dan terhadaap lingkungan bisnisnya. Hal tersebut merupakan perubahan sikap moral dari perusahaan. Perubahan sikap moral tersebut telah mendorong perusahaan untuk mengubah pula nilai-nilai (values) yang berlaku sebagai budaya kerja (corporate culture) perusahaan tearsebut.
  2. Strategi; oleh karena terjadi perubahan orientasi yaitu perusahaan harus lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat dan terhadap lingkungan, maka strategi perusahaan juga harus disesuaikan.
  3. Public pressure; berbagai kelompok LSM, konsumen, media, negara, dan badan-badan publik lainnya telah menuntut dengan keras agar perusahaan-perusahaan lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat, baik masyarakat lokal di mana mereka berada dan masyarakat dunia.

Perkembangan dan Motif CSR di Indonesia
Hadirin sidang senat terbuka yang saya hormati
Sebagaimana dinyatakan Porter dan Kramer (2002) yang menyatakan bahwa tujuan ekonomi dan sosial yang terpisah dan bertentangan adalah pandangan yang keliru. Perusahaan tidak berfungsi secara terpisah dari masyarakat sekitarnya. Faktanya, kemampuan perusahaan untuk bersaing sangat tergantung pada keadaan lokasi dimana perusahaan itu beroperasi. Oleh karena itu, piramida CSR yang dikembangkan Archie B. Carrol harus dipahami sebagai satu kesatuan. Sebab CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah triple bottom lines, yaitu profit, people dan plannet (3P) (lihat gambar I) :

  1. Profit. Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
  2. People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga setempat.
  3. Plannet. Perusahaan peduli terhadap lingkungan hayati. Beberapa program CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan hidup lingkungan hidup, penyediaan sarana pengembangan pariwisata (ekoturisme).

(Archie B Carrol, 1979)

Secara tradisional, para teoritisi maupun pelaku bisnis memiliki interpretasi yang keliru mengenai keuntungan ekonomi perusahaan. Pada umumnya mereka berpendapat bahwa mencari labalah yang harus diutamakan perusahaan, karena di luar mencari laba hanya akan menganggu efisiensi dan efektifitas perusahaan. Seperti dinyatakan Milton Friedman, CSR tiada lain dan harus merupakan usaha mencari laba itu sendiri (Saidi dan Abidin, 2004). Kecenderungan selama ini menunjukkan semakin banyak kalangan akademisi maupun praktisi bisnis yang semakin menyadari pentingnya CSR. Mencari keuntungan merupakan hal penting bagi perusahaan. Tetapi, hal itu tidak harus melepaskan diri dari hal lain di luar mencari keuntungan, yakni mengembangkan dan meningkat¬¬kan kesejahteraan masyarakat. CSR sangat relevan diterapkan oleh dunia usaha di Indonesia. Selain karena kebijakan sosial dan kebijakan kesejahteraan di Indonesia cenderung bernuansa residual dan parsial (tidak melembaga dan terintegrasi dengan sistem perpajakan seperti halnya di negara-negara yang menganut welfare state), mayoritas masyarakat Indonesia masih hidup dalam kondisi serba kekurangan.
Penerapan CSR di Indonesia semakin meningkat baik dalam kuantitas maupun kualitas. Selain keragaman kegiatan dan pengelolaannya semakin bervariasi, dilihat dan kontribusi finansial, jumlahnya semakin besar. Penelitian PIRAC pada tahun 2001 (Edi Suharto, 2002) menunjukkan bahwa dana CSR di Indonesia mencapai lebih dan 115 miliar rupiah atau sekitar 11.5 juta dollar AS dan ISO perusahaan yang dibelanjakan untuk 279 kegiatan sosial yang terekam oleh media massa. Meskipun dana ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan dana CSR di Amerika Senikat, dilihat dan angka kumulatif tersebut, perkembangan CSR di Indonesia cukup menggembirakan. Angka rata-rata perusahaan yang menyumbangkan dana bagi kegiatan CSR adalah sekitar 640 juta rupiah atau sekitar 413 juta per kegiatan. Sebagai per¬bandingan, di AS porsi sumbangan dana CSR pada tahun 1998 mencapai 21.51 miliar dollar dan tahun 2000 mencapai 203 miliar dollar atau sekitar 2.030 triliun rupiah (Saidi dan Abidin, 2004: 64).

Model model Corporate Social Responsibility (CSR)
Hadirin yang saya hormati
Berbagai kegiatan CSR yang berlangsung selama ini memberikan gambaran kepada kita mengenai pola model CSR perusahaan sebagai entitas bisnis. Secara umum ada 4 pola atau model CSR yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan. Keempat model tersebut adalah:

  1. Keterlibatan langsung. Perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, sebuah perusahaan biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dan tugas pejabat public relation. Mereka inilah, dengan dengan dibantu oleh staff lain yang menjalankan berbagai aktivitas CSR. Fenomena terbaru adalah dibentuknya kelompok atau kepanitiaan dengan nama ”Peduli” di beberapa perusahaan untuk melakukan kegiatan sosial tersebut.
  2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan. Perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau groupnya. Model ini merupakan adopsi dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan di negara maju. Biasanya, perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana abadi yang dapat digunakan secara teratur bagi kegiatan yayasan. Beberapa yayasan yang didirikan perusahaan diantaranya adalah Yayasan Coca Cola Company, Yayasan Dharma Bakti Astra, Yayasan Rio Tinto (perusahaan pertambangan). Yayasan Dharma Bhakti Astra, Yayasan Sahabat Aqua. GE Fund dan lain-lain. Selain mendirikan yayasan, beberapa perusahan di Indonesia mulai mengadopsi pelibatan karyawan dalam kegiatan sosial. Perusahaan-perusahaan itu mulai mendorong organisasi karyawan dan pensiunan untuk aktif dalam kegiatan sosial. Mereka juga memberikan ijin untuk bagi karyawannya untuk memakai sebagian waktu kerjanya untuk memakai sebagian waktu kerjanya untuk kegiatan sosial. Perusahaan yang menerapkan pola ini antara lain General Electronics dengan nama GE Elfund dan City Bank lewat City Bank Peka.
  3. Bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan lembaga sosial/organisasi non-pemerintah (Ornop), instansi pemerintah, universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya. Beberapa lembaga sosial/ Ornop yang bekerjasama dengan perusahaan dalam menjalankan CSR antara lain adalah Palang Merah Indonesia (PMI). Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Dompet Dhuafa, Instansi Pemerintah (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, Depdiknas, Depkes, Depsos), universitas (UI, ITS, IPB), media massa (Kompas, Kita Peduli Indosiar). Lewat kerja sama ini semacam ini perusahaan tidak terlalu banyak disibukkan oleh program tersebut dan kegiatan yang dilakukan diharapkan dapat lebih optimal karena ditangani oleh pihak yang lebih kompeten. Misalnya pada tahun 2009 ini Pertamina memberikan bantuan kepada UNS sebesar Rp 1 Milyar untuk penyempurnaan perpustakaan UNS.
  4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium. Perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Dibandingkan dengan model lainnya, pola ini lebih berorientasi pada pemberian hibah perusahaan yang bersifat “hibah pembangunan”. Pihak konsorsium atau lembaga semacam itu yang dipercayai oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya secara pro aktif mencari mitra kerjasama dan kalangan lembaga operasional dan kemudian mengembangkan program yang disepakati bersama. Pola ini pertama kali dipakai pada awal pada awal 1980 an ketika sejumlah individu dan perusahaan mendirikan Dana Mitra Lingkungan (DML). Pada usia yang hampir dua puluh tahun ini, DML memiliki 300 anggota, baik perusahaan maupun individu yang memberikan sumbangan sosialnya. DML kemudian menyalurkan dana bantuan itu kepada kelompok maupun individu yang memiliki kegiatan dengan visi dan misi sama dalam bidang lingkungan hidup. Contoh lain model ini dilakukan oleh Yayasan Mitra Mandiri (YMM) yang didirikan tahun 1995 yang merupakan afiliasi serta hasil alih teknologi dan United Way International.

Dari  keempat pola atau model tersebut (Edi Suharto, 2002), model yang banyak dijalankan selama ini adalah model kedua dimana perusahaan bermitra dengan organisasi sosial atau lembaga lain dalam menjalankan kegiatan kedermawanannya (144), sementara dana yang teralokasi mencapai Rp 79 M. lni merupakan fenomena yang menggembirakan mengingat hubungan dan komunikasi perusahaan dengan LSM di masa lalu tidak begitu bagus. Sementara kuantitas model atau pola kedermawanan lainnya adalah: Keterlibatan secara langsung (113 kegiatan Rp 14,2 miliar), melalui yayasan atau onganisasi sosial kerelawanan (20 kegiatan/Rp 20,7 miliar), Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium (2 kegiatan/Rp 1,4 miliar).

CSR Dalam Perspektif Undang-Undang Perseroan Terbatas
Hadirin sidang senat terbuka yang saya hormati
Pada tanggal 16 Agustus  2007, undang-undang tentang perseroan terbatas yang baru telah muncul. Undang-undang tersebut adalah Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Berkaitan dengan masalah ini, yang penting dicermati dan disikapi adalah munculnya di dalam undang-undang itu suatu bab yang mengatur tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yaitu Bab V yang memuat hanya satu pasal yaitu pasal 74. Sekalipun tidak dengan jelas dikemukakan di dalam Penyelesaian Pasal 74 UUPT namun dapat dipastikan bahwa yang dimaksudkan oleh pembuat undang-undang dengan “tanggung jawab sosial dan lingkungan” tidak lain adalah apa yang di dalam bahasa Inggris disebut “social and evironmental responsibility” atau yang disebut juga dengan istilah “corporate social responsibility” yang pemahamannya adalah sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Bunyi lengkap dari Pasal 74 tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
  2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseorangan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
  3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagaimana kita memahami Pasal tersebut? Ada beberapa hal yang perlu dicermati atau dipahami dan disikapi dengan baik. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut (Jamal Wiwoho, 2008).

  1. corporate social responsibility atau CSR oleh UUPT telah ditetapkan sebagai kewajiban sebagai  kewajiban hukum  (statutory obligation), bukan sebagai kewajiban moral semata yang pelaksanaannya bersifat sukarela. Dengan demikian, CSR harus dilaksanakan. Dimasukkannya ketentuan CSR ke dalam  UUPT sebagai kewajiban hukum merupakan langkah maju bagi kepentingan masyarakat. Banyak negara yang tidak memasuk¬kan sebagian kewajiban hukum tetapi mengatur secara tidak langsung yaitu sebagai insentif berupa pengurangan pajak bagi perseroan yang melaksanakannya. Dengan kata lain, di banyak negara hal tersebut tetap menjadi kewajiban moral semata, tetapi bagi perseroan yang bersedia melaksanakan kewajiban moral itu akan memperoleh insentif karena pengeluarannya dapat diperhitungkan sebagai pengurangan pajak. Di dalam pelaksanaanya di luar negeri, insentif tersebut telah mendorong pada umumnya perusahaan menganggarkannya dan melaksana¬kan program-program CSR tersebut.
  2. Sebagai kewajiban hukum sebagaimana ditentukan dalam UUPT tersebut, hanya diberlakukan terbatas bagi perseroan yang menjalankan kagiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam. Menurut Penjelasan Pasal 74 UUPT, yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam adalah perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam. Dengan demikian, bagi perseroan-perseroan yang tidak menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam atau tidak menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam, CSR bila dilaksanakan hanya merupakan pelaksanaan dari kewajiban moral perusahaan tersebut.
  3. Bagi perseroan-perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam atau yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut dapat dijatuhi sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sayang sekali UUPT tidak menentukan secara tegas apa wujud dari sanksi tersebut. Menurut Pasal 74 ayat (4), ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan  diatur  dalam Peraturan Pemerintah. Diharapkan sanksi terhadap pelanggaran atas kewajiban yang ditentukan dalam Pasal 74 ayat (1) itu dapat diatur dalam Peraturan Pemerintah yang dimaksud. Mengingat bentuk peraturan perundang-undangan¬nya adalah Peraturan Pemerintah, maka sanksinya tidak akan lebih dari pada sanksi administratif.
  4. Perdanaan oleh perseroan (yang menjalankan kegiatan usaha¬nya di bidang sumber daya alam atau menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam) bagi pelaksana tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1), dapat dianggarkan oleh perseroan tersebut dan pengeluarannya dapat diperhitungkan sebagai biaya perseroan. Dengan demikian, pengeluaran tersebut dapat diperhitungkan sebagai pengurangan beban pajak.
  5. Pembuat UUPT ternyata membatasi berlakunya ketentuan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan hanya bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam atau yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam. Tidak jelas apa latar belakang dari pembatasan tersebut, sedangkan di dalam praktik bisnis CSR sudah dilaksanakan oleh banyak perusahaan yang melakukan kegiatan usahanya yang bukan hanya dibidang sumber daya alam atau terkait dengan sumber daya alam. Apabila tidak dilakukan pembatasan seperti itu, maka kewajiban CSR bagi perseroan-perseroan bukan saja akan sangat memberikan manfaat kepada masyarakat  tetapi juga akan mendatangkan manfaat bagi perseroan-perseroan itu sendiri. Misalnya, banyak konsumen yang bukan sekadar memilih untuk membeli dari perusahaaan-perusahaan yang melaksanakan usahanya secara etis tetapi bahkan menuntut hal tersebut. Sebagai contoh, penjualan dari produk-produk yang ramah lingkungan makin lama makin meningkat dan bahkan produk-produk tersebut dijual dengan harga terbaik (premium price). Demikian pula es krim yang dijual oleh Ben & Jerry menjadi sangat terkenal oleh karena pendekatan perusahaan tersebut melakukan bisnisnya secara bertanggung jawab termasuk berkaitan dengan produk-produknya. Perusahaan tersebut telah meningkat secara dramatis sementara perusahaan tersebut menfokuskan pada pelaksanaan CSR (lihat pada website Ben & Jerry berkenaan dengan bagaimana perdekatan yang diambil oleh Ben & Jerry terhadap CSR). Banyak perusahaan yang hanya memilih pemasok (suppliers) yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kebijakan perusahaan yang bertanggung jawab (memiliki program CSR yang baik).

Aspek Perpajakan dalam Penyaluran CSR
Hadirin yang saya hormati
Ditinjau dan sudut pandang hukum pajak, program CSR yang dilaksanakan di perusahaan-perusahaan dapat terkait dengan Pajak Penghasilan (PPh) maupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Dari sudut PPh, perusahaan biasanya harus memilih strategi sehingga semua biaya yang dikeluarkan untuk program CSR yang dipilih dapat dibebankan sebagai biaya yang mengurangi laba kena pajak (Ronny Irawan, 2008). Dari sudut pandang PPN, perusahaan biasanya memilih strategi sehingga barang atau jasa yang diberikan kepada pihak penerima tidak terhutang PPN atau kalaupun terhutang seminimal mungkin. Strategi ini diambil dengan asumsi bahwa semua program CSR yang dipilih oleh perusahaan adalah benar-benar untuk maksud yang mulia, peningkatan kualitas sumber daya alam, peningkatan pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, maupun peningkatan aspek sosial dan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian seyogyanya apapun bentuk program yang dipilih oleh perusahaan mendapat keringanan dan kemudahan dalam aspek pajaknya.
Selanjutnya saya akan membahas berbagai bentuk program CSR dan bagaimana perlakuan dalam hukum pajak, baik Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan atau Pajak  Penghasilan (PPh).

Dalam bidang Lingkungan Hidup
Perusahaan dalam menerapkan CSR yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan proses produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan sumber daya alam dan konversi sumber daya alam. Dilihat dari aspek Pajak Penghasilan Undang-Undang No.17 tahun 2000 pasal 6 ayat 1 berbunyi ”biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan dan jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalty, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan” dapat mengurangi penghasilan bruto. Dengan demikian apabila perusahaan mengeluarkan biaya pengolah limbah dan pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnisnya serta biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan yang berkaitan dengan usaha mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Perlu dicermati bahwa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pengendalian polusi atau pencemaran lingkungan hidup mungkin sangat terkait dengan Pajak Penghasilan dan PPN. Sebagai contoh perusahaan harus membuat bak pengolahan limbah untuk mengolah limbah produksinya, maka semua biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran jasa pengerjaan dan semua material dapat dibebankan ke penghasilan bruto. Tetapi perlu diketahui bahwa atas pembayaran jasa atau imbalan akan terhutang PPh Pasal 21/Pasal 26 UU PPh atau Pasal 23/Pasal 26 UU PPh, sedangkan pengadaan materialnya terutang PPN yang harus dibayar oleh perusahaan.

CSR atas hasil Produk dan Konsumen
Program CSR ini melibatkan aspek kualitatif suatu produk atau jasa, antara lain kegunaan, durability, pelayanan, kepuasan pelanggan, kejujuran dalam iklan, kejelasan atau kelengkapan isi pada kemasan, dan lainnya. Perusahaan seharusnya memberikan kualitas produk dan jasa yang baik kepada masyarakat. Perusahaan tidak semata-mata mencari laba tetapi ada tanggung jawab etis kepada masyarakat atas produk dan jasa yang diberikan. Masyarakat menuntut kejujuran dalam iklan atau produk dan jasa yang ditawarkan dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Perusahaan dihadapkan dengan beberapa pilihan untuk memberikan tanggungjawab sosialnya kepada masyarakat. Ada beberapa perusahaan yang menyisihkan sebagian pendapatan dan penjualan produknya untuk program CSR. Beberapa perusahaan lain memilih memberikan produknya secara gratis kepada masyarakat. Apabila perusahaan memilih untuk menyisihkan sebagian dan hasil penjualannya untuk program CSR dari aspek PPN maka setiap kenaikan harga dan produk yang dijual karena program CSR terhutang PPN sebesar kenaikan harga dan produk tersebut. Ditinjau dan aspek Pajak Penghasilan, kenaikan pendapatan karena program CSR dengan sendirinya menambah penghasilan bruto kena pajak. Ketika dana yang dihasilkan dibagikan, maka harus diperhatikan dalam bentuk apakah program tersebut akan didistribusikan. Dalam bentuk apa pendapatan itu dibagikan, maka akan berbeda perlakuan perpajakannya.
Dalam kegiatan ini perusahaan biasanya mengeluarkan banyak biaya untuk iklan atau promosi. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan harus dapat dipisahkan mana yang benar-benar kegiatan iklan atau promosi dan mana yang bukan. Mengacu kepada Penjelasan Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang No.17 tahun 2000 menyebutkan bahwa ”mengenai pengeluaran untuk promosi, perlu dibedakan antara biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk promosi dengan biaya yang pada hakikatnya merupakan sumbangan. Biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk promosi boleh dikurangkan dari penghasilan bruto”. Perusahaan dalam kegiatan promosi dan iklannya dapat membagi-bagikan produk perusahaan ataupun memberikan hadiah tertentu untuk mendorong penjualan perusahaan.
Perusahaan yang melakukan promosi dengan membagi-bagikan produknya sebagai sampel di masyarakat, dalam aspek Pajak Penghasilan biaya yang dikeluarkan bukan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto karena merupakan pemberian kenikmatan atau natura seperti yang diatur dalam UU No.17 Tahun 2000 pasal 9 ayat 1 huruf e. Dari aspek PPN perusahaan juga terhutang PPN atas produk yang diberikan secara cuma-cuma dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar harga jual dikurangi laba kotor.
Perusahaan juga dapat melaksanakan program tanggung jawab sosial dengan memberikan pelayanan kepada pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan setelah penjualan (service after sales). Misalnya perbaikan produk yang cacat atau penggantian produk atau sparepart. Biaya service yang dikeluarkan oleh perusahaan ini dapat dikurangkan dari penghasilan bruto karena termasuk dalam kategori biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

Ketenagakerjaan
Kegiatan yang dapat dilakukan dalam program CSR ini merupakan semua aktivitas perusahaan yang ditujukan pada orang-orang dalam perusahaan sendiri. Aktivitas tersebut meliputi rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tunjangan, mutasi dan promosi, dan lainnya. Karyawan merupakan sumber daya penting dalam pencapaian tujuan perusahaan, oleh karena itu perusahaan berkewajiban untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas maupun kesejahteraan karyawan.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah pengadaan pelatihan-pelatihan baik diselenggarakan sendiri oleh perusahaan maupun mengikutkan karyawan pada pelatihan atau seminar yang diadakan oleh pihak lain. Aspek perpajakan apabila pelatihan karyawan yang diadakan sendiri oleh perusahaan, misalnya mendatangkan pembicara dari luar, maka disini terkait dengan Obyek Pajak Penghasilan khususnya PPh pasal 21/Pasal 26 atau Pasal 23/Pasal 26 UU PPh. Pelatihan yang diberikan oleh orang pribadi maka perusahaan harus memungut PPh pasal 21/Pasal 26 UU PPh atas honorarium yang diberikan. Jika pelatihan diberikan oleh badan, maka perusahaan diharuskan memotong PPh pasal 23/Pasal 26 UU PPh atas honorarium yang diberikan. Dari sudut Pajak Pertambahan Nilai, atas jasa profesional yang diberikan oleh orang pribadi atau badan terhutang Pajak Pertambahan Nilai dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar Nilai penggantian yang diminta atas jasa yang diberikan.
Perusahaan juga dapat menyertakan karyawan-karyawan untuk peningkatan kualitas karyawan melalui mengikutkan mereka pada pelatihan yang dilakukan di luar perusahaan. Biaya yang dikeluarkan untuk pelatihan ini dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan, sesuai yang diatur dalam Undang Undang No17 Tahun 2000 Pasal 6 ayat 1 huruf g.
Program CSR perusahaan yang memilih meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui pemberian tunjangan atau fasilitas tertentu, maka perusahaan harus lebih hati-hati dengan aspek perpajakan yang terkait. Jika tunjangan tersebut menambah gaji bruto karyawan atau diberikan dalam bentuk uang, maka merupakan Obyek PPh pasal 2 1/Pasal 26, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk tunjangan tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan. Sebaliknya jika tunjangan tersebut tidak menambah gaji bruto karyawan atau dalam bentuk kenikmatan atau natura (tidak merupakan Obyek PPh Pasal 21/Pasal 26), maka biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tunjangan tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Ini sesuai dengan prinsip taxability dan deductibility. Tetapi bila program tersebut berbentuk pemberian fasilitas misalnya perumahan karyawan, maka biaya tersebut merupakan biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto karena merupakan penggantian atau imbalan yang diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan seperti yang diatur dalam UU No 17 Tahun 2000 Pasal 9 ayat 1 huruf e yang berbunyi sebagai berikut ”penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan” tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

CSR bidang pendidikan dan kesehatan (Kemasyarakatan)
Perusahaan dapat melaksanakan program tanggung jawab sosialnya ke masyarakat berupa aktivitas di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang pendidikan, yang dapat diberikan oleh perusahaan berupa pemberian beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi ataupun siswa yang tidak mampu, ataupun sumbangan untuk penyediaan sarana dan prasana sekolah. Di bidang kesehatan, perusahaan biasanya memberikan bantuan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan seperti puskesmas, program khitanan massal, imunisasi untuk masyarakat umum dan program lainnya.
Apabila program CSR berupa pemberian beasiswa, maka dari sudut Pajak Penghasilan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat dibebankan pada laba perusahaan. Seperti yang tercantum dalam Undang Undang No.17 Tahun 2000 Pasal 6 ayat I huruf g yang menyebutkan bahwa beasiswa, magang, dan pelatihan merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Pemberian program beasiswa ini sangat membantu siswa-siswa berprestasi ataupun siswa-siswa yang berlatar belakang ekonomi tidak mampu. Karena itu perusahaan-perusahaan yang akan menerapkan program CSR, pemberian berupa beasiswa merupakan salah satu pilihan yang terbaik yang dapat dijalankan secara rutin. Dengan program pemberian beasiswa demikian sangat membantu masyarakat di dunia pendidikan secara langsung.
Perusahaan yang memilih memberikan sumbangan untuk penyediaan sarana dan prasarana sekolah dan kesehatan, maka biaya yang dikeluarkan untuk sumbangan ini tidak dapat dikurangkan pada penghasilan bruto perusahaan (non deductible expenses), ini sesuai dengan Undang-Undang No.17 Tahun 2000 Pasal 9 ayat 1 huruf g. Sedangkan bagi pihak penerima bantuan atas sumbangan merupakan penghasilan yang tidak termasuk sebagai Obyek Pajak seperti diatur dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2000 pasal 4 ayat 1 huruf a. Sangat disayangkan jika sumbangan yang juga membantu negara dalam mengentaskan kebodohan dan meningkatkan kesehatan rakyat demikian tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Pemerintah seharusnya memperbolehkan biaya ini dikurangkan dipenghasilan bruto, asalkan jelas kepada siapa sumbangan itu diberikan. Pemerintah mungkin menyediakan istitusi/organisasi milik pemerintah atau non pemerintah yang dapat menampung sumbangan yang demikian.
Bisa terjadi perusahaan memberikan sumbangan berupa barang yang diproduksi sendiri oleh perusahaan, misalnya berupa komputer, meja, kursi, atau lemari. Dari segi sudut pandang Pajak Penghasilan biaya tersebut tetap merupakan biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan. Sedangkan dilihat dari aspek Pajak Pertambahan Nilai maka pemberian sumbangan dalam bentuk barang seperti di atas merupakan Obyek Pajak Pertambahan Nilai seperti diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 251/KMK.03/2002 sebagai penyempurnaan Keputusan Menteri Keuangan No 567/KMK.04/2000 tentang Nilai Lain yang dapat digunakan sebagai Dasar Pengenaan Pajak, sehingga perusahaan harus menyetor PPN yang terhutang kepada kas negara dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar harga jual atau penggantian setelah dikurangi laba kotor.
Dilihat dari manfaat yang diperoleh oleh masyarakat pemberian sumbangan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan sangat besar. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan kesejahteraan masyarakat, pemerintah belum mampu menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga perlu campur tangan pihak swasta untuk membantu pencapaian tujuan tersebut. Tetapi merupakan dilema tersendiri bagi perusahaan karena jika mereka mau memberikan sumbangan tersebut dengan maksud yang tulus ternyata sumbangan yang mereka berikan tidak dapat diakui sebagai biaya yang mengurangi penghasilan bruto mereka. Kecuali sumbangan tersebut diperuntukkan bagi korban bencana alam gempa bumi yang terjadi di Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei 2006 serta gempa bumi dan tsunami yang terjadi di pesisir pantai selatan Pulau Jawa pada tanggal 17 Juli 2006 seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No 95/PMK.03/2006. Melalui peraturan tersebut tersirat bahwa fasilitas pajak hanya diberikan pada bencana alam semata. Hal ini menyebabkan kepedulian sebagian besar perusahaan menjadi bersifat insidental dan tidak merupakan program yang dilakukan secara terus menerus.

Regulasi Pemerintah dalam CSR dan Hukum Pajak
Hadirin sidang senat terbuka yang saya hormati
Kembali pada Pasal 74 UU Perseroan Terbatas yang secara normatif menjadi awal bergaungnya CSR di Indonesia (Jamal Wiwoho, 2007) dimana ada yang kurang jelas dan tumpang tindih dengan kewajiban perusahaan kepada Pemerintah dalam bentuk pajak. Pada suatu sisi pemerintah menginginkan perusahaan melaksanakan CSR, namun pada sisi lain keinginan pemerintah untuk melaksanakan CSR itu dengan adanya regulasi yang diharapkan dapat mendorong kinerja CSR. Pada prinsipnya pemerintah dapat mendorong terlaksananya CSR pada perusahaan tanpa harus adanya regulasi. Pemerintah dapat melakukan banyak aktivitas nonregulasi yang mendorong CSR seperti, koordinasi kebijakan mengenai CSR antar departemen, meningkatkan CSR , membiayai penelitian-penelitian CSR, memberikan insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai kinerja CSR yang baik sekaligus memberikan sanksi yang nyata bagi perusahaan yang tidak mempunyai program/memberikan CSR. Dengan demikian pemerintah dapat memotivasi perusahaan-perusahaan agar melakukan CSR yang nantinya untuk kebaikan perusahaan itu sendiri, sesuai dengan prinsip CSR untuk meningkatkan citra perusahaan (image building).

Sudah terbukti bagi negara-negara Eropa (Fadmin Prihatin Malau, 2009) yang pemerintahnya mendorong perusahaan-perusahaan untuk melaksanakan CSR yang tidak dimulai dari regulasi (atau tidak membuat regulasi) atas CSR, akan tetapi mendorong perusahaan-perusahaan dengan non-regulasi. Hal itu dapat dimaklumi karena regulasi dapat berpotensi untuk memindah¬kan apa yang menjadi beban pemerintah kepada perusahaan-perusahaan (swasta). Dengan demikian pemerintah tidak boleh meminta perusahaan menyisihkan dana untuk pendidikan, kesehatan, dll karena pemerintah mempunyai kewajiban untuk  dana pendidikan, kesehatan, dll dalam APBN dan APBD. Dapat dibayangkan yang demikian itu dilakukan maka ketika proyek itu selesai (pemerintah) dapat mengklaim bahwa proyek itu dibiayai oleh APBN  atau APBD.Kondisi ini berpeluang besar untuk terjadinya korupsi yang  berakibat hakekat dari CSR itu menjadi kabur dan hilang karena CSR merupakan bagian dari sebuah korporasi untuk tumbuh, berkembang bersama masyarakat sekitar sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan.

CSR, Pajak dan Kesejahteraan Masyarakat
Hadirin yang saya hormati
Dari uraian tersebut di atas nampaklah bahwa kebijakan tentang CSR dan hukum pajak di Indonesia masih bersifat sektoral dan belum terintegral. CSR dan Hukum pajak idealnya bersifat komplementer, ada sinkronisasi baik secara horisontal maupun vertikal dengan peraturan perundang-undangan, sehingga tidak saling tumpang tindih dan pada akhirnya dapat menghadirkan kesejahteraan kepada seluruh lapisan masyarakat. Sebagai ilustrasi saya uraikan sistem CSR, hukum pajak yang dapat menghadirkan kesejahteraan di Kanada. Sistem Pajak dan Kesejahteraan Sosial di Kanada (H. Mubaroq, 2009).
Setiap orang yang tinggal di Kanada, wajib memiliki kartu Social Insurance Number (SIN). Terjemahan bebasnya kurang lebih Nomor Jaminan Sosial. Kartu SIN ini menjadi semacam kartu identitas yang merangkap fungsi KTP dan NPWP sekaligus. Dengan SIN inilah pemerintah memonitor kehidupan sosial–ekonomi seluruh penduduk. Setiap orang yang ingin mendapat upah dengan bekerja (employee) pada seorang pemberi kerja swasta dan negeri (employer) harus memiliki SIN ini. Tanpa kartu SIN pemberi kerja tidak akan berani mempekerjakan seorang bekerja. Pemberi kerja juga akan meminta nomor rekening bank untuk mentransfer upah seorang pekerja. Ketika ingin membuka rekening, pihak bank juga selalu meminta nomor SIN seseorang.  Setiap kali membayar upah seorang pekerja, sang pemberi kerja akan langsung memotong upah tersebut dengan pajak. Pajak yang dipungut pemberi kerja itu kemudian disetor ke negara dengan menyebutkan nama dan nomor SIN si pekerja. Dari besarnya pajak yang disetor tersebut pemerintah bisa memonitor berapa peng¬hasilan setiap individu penduduk. Di samping pajak upah/ penghasilan tersebut, pemerintah juga mengenakan pajak sebesar 13% atas barang dan jasa yang ditransaksikan oleh rakyat. Pedagang/penyedia jasa yang bertugas memungut dan menyerahkan pajak tersebut kepada negara. Dengan demikian seluruh aliran dana yang terjadi di masyarakat bisa dimonitor oleh negara. Dengan sistem tersebut, maka underground economy menjadi musuh Negara dan masyarakat dan menjadi sangat-sangat terbatas ruang geraknya. Underground economy adalah kegiatan ekonomi masyarakat di mana transaksinya tidak dilaporkan ke negara. Menjadi musuh negara karena negara kehilangan pemasukan pajak. Disamping itu negara kehilangan validitas data penghasilan penduduk. Menjadi musuh masyarakat karena underground economy menghasilkan ketidakadilan; orang- orang yang tidak berkontribusi terhadap negara tetapi bisa menikmati fasilitas umum yang diselenggarakan negara. Terbatas ruang geraknya karena kejahatan penggelapan pajak termasuk kategori kejahatan serius dengan ancaman hukuman yang berat.
Di samping itu negara juga menyelenggarakan skema pensiun untuk semua penduduk yang diambilkan dari pajak penghasilan yang disetor ke negara. Besarnya pensiun ini antara lain ditentukan dari masa kerja masing masing individu. Dari masa kerja ini pulalah Negara menentukan besarnya tunjangan pengangguran bagi pekerja yang di-PHK. Dengan demikian, meskipun gajinya tidak terpotong pajak, underground economy menjadi tidak favorit di kalangan para pekerja. Setiap tahun semua penduduk harus menyerahkan dokumen tax return. Tax return ini adalah semacam “hisab harta” tahunan masing masing penduduk. Setiap penduduk harus melaporkan berapa total penghasilannya dalam setahun. Kemudian penghasilan tersebut dikurangi dengan biaya hidup dirinya dan orang orang yang menjadi tanggungannya dalam setahun. Besarnya biaya hidup ini ditentukan oleh negara; dan jumlahnya sama untuk semua individu. Setelah dikurangi dengan biaya hidup tersebut, akan terlihat apakah seseorang memiliki sisa harta atau tidak. Apabila ternyata sisa hartanya kurang dari jumlah tertentu (nishob dalam zakat), maka yang bersangkutan termasuk kategori miskin. Karena miskin, maka ia tidak wajib membayar pajak.
Si miskin yang telah membayar pajak untuk semua upah yang ia terima dan semua barang dan jasa yang ia konsumsi selama setahun, maka ia berhak mendapatkan pengembalian atas pajak – pajak yang telah dipungut pemerintah tersebut. Bahkan, pemerintah memberikan beraneka skema subsidi untuk penduduk dengan penghasilan pas-pasan. Subsidi perumahan, misalnya. Pemerintah memberikan bantuan sewa rumah bagi individu yang belum punya rumah dan berpenghasilan rendah. Besarnya bantuan itu disesuai¬kan dengan jumlah penghasilan seseorang, semakin sedikit penghasilannya maka semakin besar tunjangannya. Seiring dengan berjalannya waktu, jika ia mendapatkan kenaikan penghasilan maka tunjangan tersebut dikurangi, sehingga jika penghasilannya mencapai jumlah tertentu yang membuat ia keluar dari kategori miskin, tunjangan sewa rumah tersebut tidak lagi diberikan. Apabila dalam laporan tersebut terdapat sisa harta, maka sisa harta inilah yang dikenai pajak yang besarnya progresif; semakin besar jumlahnya semakin besar prosentase pajaknya. Setiap penduduk dipersilahkan menghitung berapa pajak yang harus ia bayarkan, dan sekaligus membayarnya ke negara sebelum jatuh tempo yang ditentukan (sistem self assesment). Apabila tidak membayar dengan jumlah yang benar dan waktu sebelum jatuh tempo, maka ia akan terkena sanksi. Paling lambat delapan minggu setelah laporan dikirim, Negara akan memberikan surat penilaian atas laporan harta kekayaan tersebut, yang berisi penegasan atau pembetulan besarnya pajak yang harus dibayar ke negara atau besarnya pengembalian pajak yang harus diberikan Negara kepada individu yang bersangkutan.
Yang menarik adalah bagaimana kedudukan transaksi harta yang bersifat non ekonomi seperti hibah, shodaqoh, infaq dan amal jariyah dalam sistem ini. Transaksi harta non ekonomi pun juga harus dilaporkan dalam dokumen tax return. Istilahnya adalah charity. Ada lembaga lembaga sosial yang bergerak di bidang charity ini. Lembaga/organisasi ini menerima sumbangan dari perusahaan dan orang orang kaya (CSR) dan kemudian menyalur¬kan¬nya kepada orang orang miskin dalam bentuk pelayanan sosial, seperti menyediakan makanan, pakaian, pemukiman sementara, dll secara cuma-cuma bagi yang memerlukan. Lembaga charity ini juga harus menyampaikan laporan keuangannya kepada negara; darimana ia mendapatkan dana, dan ke mana/untuk apa dana tersebut disalurkan. Maka setiap ada orang yang menyumbang uang, charity akan memberikan tanda terima sumbangan yang menyebutkan nama dan jumlah sumbangan.
Bagi orang yang menyumbang, tanda terima sumbangan tersebut dibutuhkan sebagai bukti dalam dokumen tax return. Sumbangan/charity bisa digunakan sebagai pengurang pendapatan sebelum dikenai pajak. Misalnya saja pendapatan bersih seseorang mencapai 100,000 dolar; jika tanpa charity maka ia wajib membayar pajak sebesar 33,000 dolar (33% dari 100,000). Jika ia menyumbang ke lembaga charity sebesar katakanlah 40,000 dolar, maka pajak yang harus di bayar turun menjadi 15,000 dolar (25% dari 60,000).
Dengan sistem seperti ini, maka banyak perusahaan dan  orang kaya raya yang lebih suka mendirikan lembaga charity dengan menyebutkan nama dirinya dalam lembaga itu. Logikanya adalah besarnya prosentase pajak adalah progresif dimana semakin besar sisa harta, semakin besar prosentasenya (bisa sampai 50%). Tiger Woods, contohnya. Dalam setahun ia bisa mendapatkan penghasilan sebesar 100 juta dollar. Daripada ia membayar pajak ke negara sebesar 40 juta dollar, ia lebih suka menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke lembaga sosial yang ia dirikan. Sama sama “kehilangan” uang, akan lebih “menguntungkan” baginya jika ia berikan uangnya itu kepada lembaga yang didirikan. Masyarakat akan “melihat” langsung “amal jariyah” seorang Tiger Woods melalui lembaga sosial yang didirikan daripada uangnya ia kembalikan ke masyarakat melalui negara (pajak).
Apabila lembaga charity swasta saja harus transparan, maka lembaga pemerintah (CRA) tentunya juga dituntut untuk lebih transparan. Setiap tahun, bertepatan dengan batas waktu pengembalian dokumen tax return pada tanggal 30 April, semua instansi pemerintah mengumumkan ke publik daftar pegawai pemerintah yang mendapatkan gaji bersih (gaji dan segala macam tunjangan) yang besarnya diatas 100,000 dolar. Contohnya daftar dosen dan karyawan di University of Waterloo USA yang berpenghasilan di atas 100,000 dolar bisa dilihat di http://uwaterloo.ca/documents/sal2008.php.
Transparansi dan akuntabilitas penghasilan seluruh individu berikut lalu lintas harta yang terjadi di dalam masyarakat betul betul dijalankan secara sistematis dan berlapis-lapis. Bahkan, masyarakatpun juga diharapkan berperan serta dalam menciptakan transparansi dan akuntabilitas ini. Jika seseorang mendapati tetangganya tiba tiba kaya mendadak (rumah baru, mobil baru, dll), maka ia bisa melaporkan “kejanggalan” ini kepada pihak berwenang. Kemudian pihak berwenang akan menindaklanjuti laporan tersebut dengan memeriksa data di CRA. Apabila ”kejanggalan” tersebut positif, dalam arti ada hal yang patut dicurigai, pihak CRA akan memeriksa orang tersebut dan bila terbukti ia  melakukan kejahatan (pencurian atau underground economy) maka yang bersangkutan akan diproses hukum.
Dalam pandangan saya, sistem CSR dan perpajakan yang dijalankan di atas mengadopsi nilai nilai yang diajarkan di dalam agama. Pertama adalah konsep tentang peran Negara dalam mengatur perekonomian rakyat di mana Negara bertugas menciptakan pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi rakyat. Untuk melaksanakan tugas tersebut negara berwenang mengatur harta rakyat dengan mengambil sebagian harta milik orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Kedua adalah konsep sodaqoh. Di samping zakat yang wajib, agama menganjurkan masyarakat untuk beramal di luar zakat, seperti shodaqoh dan infaq. Shodaqoh dan infaq ini adalah amal yang terus mengalirkan pahala bagi pelakunya meskipun pelakunya sudah meninggal dunia. Shodaqoh yang tidak disiarkan kepada khalayak adalah yang terbaik sebab tidak tercampur unsur riya’/pamer. Tetapi adakalanya shodaqoh harus dipaparkan kepada masyarakat untuk keperluan transparansi dan akuntabilitas sehingga aliran dana di dalam masyarakat bisa termonitor demi terciptanya keadilan sosial. Itulah mengapa shodaqoh terang terangan tetap dipuji di dalam AlQur’an.
Ketiga adalah konsep hisab atas harta yang akan dijalani oleh semua manusia kelak di akhirat. Hisab harta manusia adalah pemeriksaan mengenai dari mana dan bagaimana manusia memperoleh harta, serta bagaimana ia membelanjakan/ menggunakan harta tersebut. Dari pemeriksaan tersebut akan tampak apakah perolehan dan pembelanjaan harta manusia selama hidup di dunia sudah sesuai dengan tuntunan atau tidak; ada kedzaliman atau tidak. Jika kita sudah terbiasa dengan hisab harta sejak di dunia ini, maka insya Allah kelak di akhirat kita akan dengan mudah melewati hisab harta dan segera bisa sampai ke surga.

Penutup
Hadirin sidang senat terbuka yang saya hormati
Sebagai penutup pidato pengukuhan ini perkenankan saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami sekeluarga sehingga atas perkenan-Nya kami mendapat cobaan menjadi Guru Besar. Saya menyadari sepenuhnya banyak pihak yang telah memberi bantuan, dorongan  dan bantuan, sehingga saya bisa mendapatkan jabatan Guru Besar Hukum Bisnis di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Dalam kesempatan ini perkenankan saya menyatakan kerendahan hati dan meyampaikan pernyataan terima kasih dan tulus kepada :

  1. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonsia Prof. Dr. Bambang Soedibyo, MBA., yang  telah memberikan kepercayaan kepada saya dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah meloloskan usulan sebagai Guru Besar Bidang Hukum Bisnis.
  2. Rektor UNS yang juga sebagai Ketua Senat, Bapak Prof. Dr. H. Muchammad Syamsulhadi, dr. Sp.KJ(K), sekretaris Senat Universitas Sebelas Maret Bapak Prof. Dr. H. Aris Sudiyanto, dr,Sp.KJ (K), Komisi D senat Universitas Sebelas Maret dimana saya berada dan seluruh anggota Senat Universitas Sebelas Maret yang telah menyetujui dan mengusulkan saya untuk menduduki jabatan Guru Besar.
  3. Dekan Fakultas Hukum, Bapak Muhammad Jamin S.H., M.Hum. Pembantu Dekan I, Bapak  Prasetyo Hadi Purwandoko,S.H., M.S. Pembantu Dekan II, Bapak Suradji, S.H., M.H. Pembantu Dekan III, Bapak Suranto S.H., M.H. Ketua Bagian Hukum Perdata Ibu Ambar Budi Sulistyowati S.H., M.Hum. Anggota Senat Fakultas Hukum periode 2007-2011. Prof. Dr. H. Setiono, S.H., M.S. Prof. Dr. Adi Sulistyono, S.H., M.H. Teman-teman Dosen Fakultas Hukum UNS, dan seluruh civitas akademika Fakultas Hukum UNS yang ikut mendukung dengan tulus karir saya sampai mendapat jabatan sebagai Guru Besar.
  4. Pembantu Rektor II, Bapak Prof. Dr. Ir. Sholahudin Alfaliehy, MS, Prof. Drs. Anton Sukarno, MPd; Kabag. Kepegawaian UNS beserta staffnya, bapak/ibu staff sekretariat Senat UNS, Bapak Sudarno dan Bapak Hari Suranto, SH (mantan dan staff administrasi Fakultas Hukum)  yang ikut terlibat secara administrasi dalam mengurus pengusulan Guru Besar.
  5. Kepada Bapak dan Ibu Guru Sejak di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Program Magister Ilmu  Hukum Universitas Diponegoro, Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro.
  6. Khusus kepada yang saya hormati, Prof. Dr. H. Miyasto, SU dan Prof. Dr. Hj. Esmi Warasih, P, S.H, MS yang penuh dengan kesabaran dan keikhlasan telah membimbing penyusunan Disertasi dan dalam menyelesaikan Program Doktor. Kepada Prof. Dr Satjipto Rahardjo, SH, Prof Dr Muladi, SH dan Prof Dr Moempoeni Moelatiningsih, SH  ketiganya mantan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam, semoga Allah SWT membalas budi baik beliau dengan pahala yang berlipat ganda dan semoga senantiasa diberi kesehatan, sehingga masih tetap bisa berkarya.
  7. Prof. Dr. Muhammad Mahfud MD,SH, SU, Prof. Dr. Chatamarassyid, S.H., Dr. Ir. Budi Darmadi, Msc. Prof. Dr. Hikmahanto Juwono, S.H., LLM, Prof. Drs. Sutandyo Wignyo Subroto, MPA, Prof. Dr. Sri Rejeki Hartono,S.H., Prof. Dr. Arif Amrullah,S.H. M.S., Prof. Dr. Zudan Arif Fakrullah, S.H., M.H., dan Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati,S.H.,M.H. yang telah memberikan dorongan untuk segera mengusulkan jabatan Guru Besar.
  8. Penghargaan yang tak terhingga kepada Yang Mulia Ny. Suratinah Hardjo Perwito yang telah mengasuh, membimbing dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Suatu kenangan yang tidak terlupakan pada pengorbanan beliau yang senantiasa memberikan bekal hidup selalu berdasarkan kepada aqidah agama, puasa, dan sholat tahajud serta sholat dhuha serta infak/sodakoh yang menjadikan roda penggerak dalam setiap aktivitas. Penghargaan yang tinggi kepada Yang Mulia Ayahanda Almarhum Hardjo Perwito yang senantiasa mendidik mengaji, Puasa dan Sholat Tahajud serta memberi nasehat bahwa hanya akan mewariskan ilmu yang bermanfaat serta mengajari selalu berani kalau benar kepada saya. Tak lupa saya juga menghaturkan terima kasih kepada Bapak Ibu Broto Subagyo yang senantiasa berdoa bagi kesuksesan anak-anak menantunya.
  9. Terima kasih yang tulus pada istri saya Budhi Widjajanti S.E. yang senantiasa berdoa dan setia mendampingi untuk kesuksesan suaminya, menjaga keharmonisan rumah tangga dan selalu menjaga kesehatan saya. Terimakasih pada ketiga anak saya Aldhilla Rahma Kusuma Wardhani Wiwoho, Aldhita Ratna Firdayanti Wiwoho, dan Aldinar Rida Fauzarani Wiwoho yang menjadi mutiara dan motivator untuk bekerja keras, yang patuh dan mau mendengarkan nasehat dan petuah dari Bapaknya.
  10. Kepada saudara-saudara saya, Keluarga Dr. Muhammad Syakur MPd, Dra. Siti Zumiati, H Irfai,  Dra. Sri Sulastri, Sri Wabiyah, Istiqomah, Ir. Darmodjo, Ir. Kusniwati, Drs Nanang Heri Triwibowo, MM,  Ir. Ari Harjaya, Ir. Krisnawati Dewi, Eka Yudia Putra, SE dan sdr Achmad terimakasih atas doa dan dorongan moral / spiritual pada saya.
  11. Terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak memungkinkan saya sebutkan satu persatu di sini, yang telah membantu doa, memberi saran, pandangan, dukungan dan fasilitas berupa apapun yang memungkinkan prosesi pengukuhan Guru Besar ini berjalan dengan lancar.

Terima kasih kepada semua hadirin tamu undangan atas kesabaran dan perhatiannya mendengarkan pidato pengukuhan ini dan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyelengaraan acara pengukuhan Guru Besar ini ada hal-hal yang tidak berkenan di hati para hadirin tamu undangan yang saya muliakan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya Rabbil Alamin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Surakarta,   20 Agustus 2009

Jamal Wiwoho

Daftar Bacaan

A Guide to Corporate Social Responsibility (CSR) http: // wwwb. Miami. Edu /ethics/pdf_files/csr_guide.

A.B. Susanto.  2007. Corporate Social Responsibility. Jakarta The Jakarta Consulting Group.

B. Tamam Achda. “Konteks Sosiologis Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Implementasinya Di Indonesia” www.menlh.go.id/serbaserbi/csr/sosiologi.pdf (diakses tanggal  2 Apri  2009)

Bostom College Centre For Corporate Community Relations, Making the Business Case : 2000. Determining the Value of Corporate Community Involvement.

BRASS: The Center of Business Relationship Accountability, Sustainability & Sociecty, History Of Corporate Social Responsibility and Sustainability www. brass. Cf. Ac. Ac. Uk/uploads/History_L3 pdf

Brilliant, Eleanor L. dan Kimberlee A. Rice .1988, “Influencing Corporate Philantropy” dalam Gary N. Gould dan Michael L. Smith (eds), Social Work in the Workplace, New York: Springer Publishing Co,

Burke, Edmund M. 1988, “Corporate Community Relations” dalam Gary M. Gould dan Michael L. Smith (eds), Social Work in the Workplace, New York: Springer Publishing Co,

Carroll, Archie B, A three dimensional conceotual model of corporate performance, Academy of Manajement Review, 1979, Vol 4, No. 4)

Chachoud, Tatjana; 2007.Johannes Emmerling; Dorothea Kolb; Iris Kubina; Gordon Repinski; Catarina Schlager; Corporate Social and environmental Responsibility in India-Assesing the UN Global Compac’s; http:// www. die- homepage. Nsf/6f3fa777ba64bd9ec12569cb00547flb/ 6f2a02709bd3a3ffc12572670041c938/SFILE/Corporate-Social-and-Environmental-Responsibility-in-India.pdf

Edi Suharto, 2006, Workshop CSR, LPSSTKS, Bandung

European Commission’s Communication, Promoting a European framework for Corporate Social Responsibility. 2001, Brussels, European Commission’s Communication on Sustainable Development, Green Paper.

Fadmin Prihatin Malau, 2009, CSR Antara Sosial dan Peraturan, www.Legalitas.org

Fonteneau, Gerard, Corporate Social Responsibility: an issues paper; Geneva, Policy Integration 2004. Department World Commission on the Social Dimension of Globalization International Labour Office.

Friedman, Milton; 1962. Capitalism and Freedom, Chicago: University of Chicago Press.

Hendrik Budi Untung. 2008. Corporate Social Responsibility, Jakarta Sinar Grafika.
http://lpks1.wima.ac.idfpphks/accurate/makalah/KT8.pdf (diakses tanggal 25 Oktober 2008).

Isa Wahyudi & Busyra Azheri. 2008. Corporate Social Responsibility: Prinsip, Pengaturan dan Implementasi. Malang in-Trans Publishing.

Jamal Wiwoho, 2004, Penyelesaian Sengketa Pajak, Citra Aditya Bhakti, Bandung .

……….., 2005, Kebijakan Pemerintah dalam Menyelesaikan Sengketa Pajak Sebagai Sarana Untuk Mewujudkan Keadilan (Membangun Model Penyelesaian sengketa pajak sebagai Perwujudan Sistem Peradilan Yang sederhana, Cepat dan Biaya Ringan), Disertasi, Program doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

………, 2007, Aspek Hukum Dalam Bisnis, UNS Press, Surakarta.

………, 2007, Pengantar Hukum Bisnis, UNS Press, Surakarta.

………, 2008, CSR ditinjau dari Aspek  Sejarah, Falsafah dan Keuntungan serta Kendalanya, Majalah Masalah-Masalah Hukum (Terakreditasi), Undip Semarang.

………,2008, Membangun Model Penyelesaian Sengketa Pajak yang Berkeadilan, UNS Press, Surakarta.

Jonathan Sofian Lusa. “Mencari Bentuk Ideal Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.” http://jsofian.wordpress.coniJ2007/ 06/10/ (diakses tanggal 28 Oktober 2008).

Lea, Ruth,Corporate Social Responbility: IoD  Member Opinion Survey; The Institute of Directors, UK, November 2002

Makna Ani Mania “Pentingnya Implementasi Corporate Social Responsibility Pasta Masyarakat Indonesia”. mamrh.wordpress.com/2008/07/21/53/ (diakses tanggal  16 Januari 2009).

McComb, Michael

Tantangan profesionalisme guru pada era sertifikasi

Oleh :
Prof. Dr. Baedhowi, M.Si.
Disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka
Kamis, 12 Nopember 2009

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua,

Sebagai insan yang beriman dan bertaqwa, pada hari yang sangat berbahagia ini, perkenankanlah saya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT – Tuhan yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan  rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada saya dan keluarga serta seluruh hadirin, sehingga pada kesempatan ini, saya dapat bersilaturahmi dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional, Bapak-Bapak mantan Menteri Pendidikan, Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat dan anggota Senat serta civitas akademika Universitas Sebelas Maret Surakarta, beserta seluruh hadirin dalam rangka pengukuhan saya sebagai Guru Besar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan – Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pada kesempatan ini, saya menghaturkan rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Rektor/Ketua Senat beserta Sekretaris Senat dan seluruh anggota Senat Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada saya dalam menempuh proses untuk menjadi Guru Besar sampai dengan upacara pengukuhan Guru Besar pada hari ini.

Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para hadirin atas semua bantuannya dan telah berkenan meluangkan waktu untuk menghadiri upacara pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ibu, Bapak, dan hadirin yang saya hormati.

Pada hari ini merupakan saat yang membahagiakan saya karena mendapat kesempatan untuk menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar dengan judul “Tantangan Profesionalisme Guru Pada Era Sertifikasi”.