SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN DAN PENGEMBANGAN JARINGAN ANTAR PERPUSTAKAAN DI LINGKUNGAN UNS SOLO

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

 

Seorang mahasiswa datang ke perpustakaan A ingin mencari suatu buku, kemudian ia menelusur melalui katalog online yang telah tersedia, kebetulan buku yang dicari berada di perpustakaan B (ini dapat diketahui dari status buku yang terlihat dalam katalog online). Karena katalog online telah menyediakan fasilitas pemesanan, maka ia memesan buku tersebut. Tiga jam kemudian buku yang diinginkan sudah tersedia di perpustakaan A, si mahasiswa dengan mudah dapat meminjamnya. Seminggu kemudian, si mahasiswa ingin mengembalikan buku yang dipinjam, tapi dia berada di perpustakaan C, dengan mudah juga dia dapat mengembalikan buku di perpustakaan C. Gambaran yang menarik ini saya lihat dan merupakan model pelayanan perpustakaan di University of South Australia di Adelaide pada tahun 1998. Universitas tersebut memiliki 3 perpustakaan (A, B, C di atas) yang terletak dalam satu kota dan jaraknya agak berjauhan serta menggunakan software yang dinamakan dengan “Dynix”.

 

 

Pertanyaannya adalah apakah gambaran seperti di atas dapat dilaksanakan di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret ? Secara teknis saya jawab bisa ! walaupun harus ada syarat-syarat untuk mendukungnya.

Untuk mewujudkan gambaran ideal seperti di atas, salah satu aspek terpenting yang perlu dibahas adalah masalah software. Oleh karena itu, dalam presentasi ini saya memfokuskan pada pembahasan tentang software dan kemungkinan untuk diaplikasikan dalam jaringan antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret.

 

KEADAAN SEKARANG DAN POTENSI YANG ADA

 

Perpustakaan yang pertama kali menjalankan otomasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret adalah UPT Perpustakaan pada tahun 1998, selanjutnya diikuti oleh Perpustakaan Fakultas Ekonomi, Perpustakaan Fakultas Kedokteran, dan Perpustakaan Fakultas Hukum, Perpustakaan Fakultas Sastra, dan UPT P2B (mudah-mudahan perpustakaan fakultas lain menyusul). Ada empat software yang digunakan oleh ke empat perpustakaan tersebut yaitu UPT Perpustakaan menggunakan “Dynix”, Perpustakaan Fakultas Ekonomi menggunakan menggunakan software dari Yogya, sedangkan Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra menggunakan software dari Salatiga, serta Perpustakaan UPT P2B menggunakan program dari UPT Komputer UNS.

 

Selama ini keberadaan perpustakaan fakultas di lingkungan Universitas Sebelas Maret sudah memberikan manfaat yang lebih terutama dalam mendekatkan koleksi dengan para penggunanya. Namun disisi lain, masih ada suatu kelemahan yang dapat kita rasakan bersama yaitu belum adanya koordinasi antar perpustakaan di lingkungan UNS. Dalam otomasi perpustakaan, misalnya, masing-masing perpustakaan cenderung mengembangkannya menurut kepentingan perpustakaan masing-masing tanpa ada koordinasi. Padahal apabila ada koordinasi dengan baik, maka akan terjadi penghematan biaya dan memudahkan untuk pengembangan jaringan apabila dihendaki di kemudian hari.

 

Otomasi perpustakaan bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah proses pelayanan di perpustakaan baik itu proses pembuatan katalog, pelayanan sirkulasi, maupun penelusuran katalog. Selama ini dari masing-masing perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret masih memanfaatkan otomasi di tempat masing-masing (kecuali Perpustakaan Pasca Sarjana dan LPPM yang telah dikoneksikan dengan UPT Perpustakaan), jadi belum ada jaringan antar perpustakaan yang terintegrasi.

 

Selain itu UPT Perpustakaan juga telah mengembangkan Perpustakaan Digital (Digital Library) bekerjasama dengan Puskom sejak April 2004. Perpustakaan Digital ini akan menampung semua karya civitas akademika UNS dalam bentuk digital dan dapat diakses melalui Internet. Jumlah dokumen yang ada di Perpustakaan Digital sampai saat ini baru 625 dokumen (kebanyakan karya skripsi). Jumlah ini akan bertambah cepat apabila masing-masing fakultas atau unit kerja (terutama Lembaga Penelitian) mau berpatisipasi dalam program ini. Perlu diketahui bahwa program ini dirancang untuk memudahkan input dan penelusuran data. Input data dapat dilakukan di setiap unit di lingkungan UNS dengan menggunakan password melalui jaringan internet , sedangkan penelusurannya dapat diakses secara internasional melalui http//www.uns.ac.id

 

KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN JARINGAN OTOMASI

 

Berdasarkan kondisi yang ada, paling tidak ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan jaringan otomasi antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret yaitu :

 

1. Memanfaatkan “Dynix” sebagai katalog induk

 

Secara teknis software ini dapat dimanfaatkan untuk membangun katalog induk, namun ada dua kendala utama yang dihadapi apabila ingin memanfaatkannya secara optimal. Kendala pertama adalah terbatasnya user licenses. Lisensi untuk mengakses Dynix hanya sebanyak 26 (sekarang sudah dimanfaatkan secara efektif sebanyak 20), artinya kita hanya dapat mengakses sejumlah 26 komputer secara bersamaan. Sementara itu penambahan user licenses memerlukan biaya mahal sekitar Australian $38.000 . Kendala kedua adalah, Dynix yang dibeli UNS adalah software yang dirancang untuk sistem perpustakaan perguruan tinggi yang menerapkan sistem sentralisasi, sedangkan sistem yang dijalankan perpustakaan di lingkungan adalah system desentralisasi. Dengan sistem desentralisasi seperti sekarang ini, kemungkinan yang dapat dilakukan adalah hanya sebatas input data dan mengaksesnya, tidak sampai ke sirkulasi (peminjaman/pengembalian buku). Kalau dijalankan sampai layanan sirkulasi tentunya harus ada koordinasi yang sangat baik antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret.

 

2. Memanfaatkan Software yang digunakan oleh Fakultas Kedokteran atau Ekonomi atau Produk UPT Komputer.

 

Ketiga software ini relatif baru, khususnya yang diterapkan di Fakultas Kedokteran, Hukum, Sastra dan UPT P2B. Oleh karena itu, apabila kita ingin memanfaatkan software ini sebaiknya ada pengkajian yang mendalam tentang layak tidaknya software tersebut digunakan untuk pengembangan jaringan antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret.

 

 

PENUTUP

 

Untuk mewujudkan otomasi jaringan antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret adalah hal yang tidak mudah. Berdasarkan paparan di atas ada dua kemungkinan yaitu memanfaatkan “Dynix” atau memanfaatkan software yang digunakan fakultas ekonomi atau kedokteran, hukum, dan Sastra atau Produk UPT Komputer. Apabila alternatif pertama yang dipilih, maka langkah pertama yang perlu di ambil adalah melakukan uji coba. Uji coba itu ditawarkan ke fakultas tertentu (tentunya yang belum menjalankan otomasi dan bersedia) untuk diintegrasikan dengan Dynix yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan. Hal ini dengan pertimbangan antara lain :

  1. Masih ada kapasitas lisensi yang belum termanfaatkan yaitu sebanyak 6.
  2. Biayanya relatif murah yaitu cukup menyediakan 3 komputer (PC) dan 2 scanner, namun apabila ingin dikembangkan keseluruh fakultas biayanya sangat mahal.
  3. Pelatihan tenaga dapat dilaksanakan dengan mudah karena banyak tenaga di UPT Perpustakaan yang berpengalaman mengoperasikan system Dynix.

Apabila alternatif kedua yang dipilih, maka pembelian software seharusnya tidak dilakukan secara sendiri-sendiri supaya biaya dapat ditekan. Disamping itu harus ada pengkajian yang mendalam tentang software tersebut terutama kaitannya dengan pengembangan jaringan antar perpustakaan di lingkungan Universitas Sebelas Maret.

Makalah ini disampaikan dalam Pelatihan “Cataloguing” dengan System Dynix pada tanggal 28 Maret 2005 di UPT Perpustakaan UNS Solo.

Sistem Otomasi Perpustakaan

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

Sistem Otomasi Perpustakaan atau Library Automation System adalah software yang beroperasi berdasarkan pangkalan data untuk mengotomasikan kegiatan perpustakaan. Pada umumnya software yang digunakan untuk otomasi perpustakaan menggunakan model “relational database”. Database atau pangkalan data merupakan kumpulan dari suatu data. Dalam perpustakaan paling tidak ada dua pangkalan data yaitu data buku dan data pemustaka. Disebut “relational database” karena dua pangkalan data tersebut akan saling dikaitkan apabila terjadi transaksi, misalnya, pada saat terjadi proses peminjaman dan pengembalian buku. Kebanyakan sistem otomasi perpustakaan memisahkan fungsi software kedalam program tersendiri disebut modul. Sedangkan modulnya terdiri dari modul pengadaan, katalogisasi, sirkulasi, serial, dan Online Public Access Catalog (OPAC). Sistem Otomasi Perpustakaan di Indonesia pada umumnya hanya mempunyai tiga modul yaitu katalogisasi, sirkulasi, dan OPAC dan ini merupakan modul minimal yang harus dimiliki oleh perpustakaan untuk kepentingan otomasi. Modul – modul tersebut merupakan sistem yang sudah terintegrasi sehingga istilah sistem otomasi perpustakaan  juga sering disebut dengan sistem perpustakaan terintegrasi (Integrated Library System).

Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan sistem otomasi perpustakaan meliputi mengapa perlu otomasi perpustakaan ?,  kendala otomasi perpustakaan, pemilihan software, spesifikasi hardware, pengalamam UNS dalam membangun otomasi perpustakaan dan penutup

MENGAPA PERLU OTOMASI PERPUSTAKAAN ?

Jika perpustakaan hanya memiliki ratusan judul buku dan puluhan peminjam barangkali otomasi perpustakaan belum diperlukan. Namun apabila judul buku yang dimiliki perpustakaan sudah mencapai ribuan bahkan puluhan ribu dan peminjam sudah mencapai ratusan orang per hari maka otomasi perpustakaan sudah sangat diperlukan. Otomasi perpustakaan akan memperingan pekerjaan staf perpustakaan dan memudahkan pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan. Singkat kata otomasi perpustakaan akan menjadikan pekerjaan dan layanan perpustakaan dapat dilaksanakan secara cepat, tepat dan akurat. Seperti sudah disebutkan di atas bahwa penerapan otomasi perpustakaan di Indonesia pada umumnya hanya mempunyai tiga modul yaitu katalogisasi, sirkulasi dan OPAC. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan di atas uraian berikut hanya menitikberatkan pada tiga hal tersebut.

1. Memudahkan dalam pembuatan katalog.

Perpustakaan yang belum menerapkan otomasi pada umumnya harus membuat kartu katalog agar pemustaka dapat menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan pengarang, judul atau  subyeknya dan menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan. Rangkaian kegiatan dalam membuat katalog secara manual banyak menghabiskan tenaga, waktu dan uang. Penerapan komputer akan dapat menghemat segalanya. Proses pembuatan katalog akan lebih mudah, penyajian buku bagi pemustaka juga akan lebih cepat dan pada gilirannya akan terjadi efisiensi.

2. Memudahkan dalam layanan sirkulasi

Sebelum perpustakaan menggunakan komputer layanan proses peminjaman biasanya dilakukan dengan menggunakan kartu. Pekerjaan yang harus dilakukan diawali dengan petugas meminta kartu pemustaka, mengambil kartu pinjam, menulis nomer buku di kartu pinjam, mencabut kartu buku dan diakhiri dengan mem “file” kartu. Pekerjaan tersebut memakan waktu yang cukup lama dan cukup rumit. Dengan komputer pekerjaan peminjaman buku dapat dilakukan dengan cepat dan mudah yaitu hanya dengan menyorot “barcode” kartu kemudian menyorot “barcode” buku selanjutnya memberikan cap tanggal pengembalian. Pekerjaan tersebut hanya memakan waktu kurang 1 menit untuk setiap buku. Begitu juga dengan proses pengembalian dan perpanjangan buku, cukup dengan menyorot “barcode” buku kemudian secara otomatis akan terjadi transaksi. Bahkan di perpustakaan yang sudah maju pemustaka sendiri yang melakukan transaksi yang dinamakan dengan “self service” sehingga sudah tidak lagi melibatkan petugas seperti penerapan ATM dalam layanan Bank.

3. Memudahkan dalam penelusuran melalui katalog.

Otomasi perpustakaan akan memudahkan pemustaka dalam menelusur informasi khususnya katalog melalui OPAC (Online Public Access Catalog). Pemustaka dapat menelusur suatu judul buku secara bersamaan. Disamping itu, mereka juga dapat menelusur buku dari berbagai pendekatan. Misalnya melalui judul, kata kunci judul, pengarang, kata kunci pengarang, subyek , kata kunci subyek dsb. Sedangkan apabila menggunakan katalog manual, pemustaka hanya dapat akses melalui tiga pendekatan yaitu judul, pengarang, dan subyek.

Disamping kemudahan di atas masih banyak manfaat lagi yang dapat diperoleh apabila kita menerapkan sistem otomasi perpustakaan. Misalnya, untuk kepentingan statistik, akreditasi dsb.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Otomasi perpustakaan sangat bermanfaat baik bagi pengelola perpustakaan/pustakawan, perpustakaan maupun pemustaka. Adapun manfaatnya antara lain :

  1. mengatasi keterbatasan waktu
  2. mempermudah akses informasi dari berbagai pendekatan misalnya dari judul, kata kunci judul, pengarang, kata kunci pengarang dsb.
  3. dapat dimanfaatkan secara bersama-sama
  4. mempercepat proses pengolahan, peminjaman dan pengembalian
  5. memperingan pekerjaan
  6. meningkatkan layanan
  7. memudahkan dalam pembuatan laporan statistik
  8. menghemat biaya
  9. menumbuhkan rasa bangga.
  10. mempermudah dalam pelayanan untuk kepentingan akreditasi.

KENDALA DALAM OTOMASI PERPUSTAKAAN

Dari pengalaman kami, memang banyak kendala yang dihadapi dalam membangun otomasi perpustakaan. Kendala tersebut harus kita antisipasi agar kita siap untuk menghadapinya. Kendala yang mungkin muncul antara lain :

1. Kesalahpahaman tentang otomasi perpustakaan.

Ada beberapa anggapan yang sebetulnya belum tentu benar adanya.

Anggapan yang pertama mengatakan bahwa biaya otomasi perpustakaan sangat besar. Pengalaman telah menunjukkan bahwa dengan adanya otomasi perpustakaan justru akan menghemat biaya. Penghematan tersebut dapat kita hitung, misalnya, dalam pembuatan dan penyajian katalog. Apabila kita menerapkan sistem manual yang standar, perpustakaan harus membuat paling tidak 5 katalog untuk setiap judul buku. Masing-masing adalah katalog judul, pengarang, dan subyek untuk kepentingan pemustaka agar mereka dapat akses melalui tiga titik akses tersebut. Dua katalog lainnya adalah Shelf List Catalog atau katalog yang disusun menurut judul/pengarang dan nomer panggil (call number) untuk kepentingan staf perpustakaan. Dari gambaran di atas akan terbayang oleh kita berapa besar biaya yang diperlukan untuk pembuatan katalog yaitu biaya untuk tenaga, kertas, tinta, dan rak katalog dsb. Memang benar bahwa pembangunan otomasi perpustakaan memerlukan investasi yang relative besar. Akan tetapi dengan adanya kemajuan teknologi informasi sekarang ini dimana harga hardware cenderung turun dari waktu ke waktu  dan juga munculnya “open source software” yang dapat diunduh secara gratis untuk kepentingan otomasi perpustakaan, maka biaya untuk otomasi perpustakaan dapat semakin ditekan.
Anggapan kedua mengatakan bahwa kalau nanti semua pekerjaan perpustakaan diotomasikan, maka akan terjadi pengurangan tenaga bahkan pengangguran staf perpustakaan. Pendapat ini menurut saya juga tidak tepat. Sebetulnya kebanyakan pustakawan di Indonesia masih bekerja pada level standar minimal atau bahkan dibawahnya. Mereka hanya melakukan pekerjaan- pekerjaan seperti katalogisasi, klasifikasi, layanan sirkulasi, referensi dan layanan majalah secara standar. Belum banyak staf perpustakaan mengembangkan layanannya seperti layanan kesiagaan terkini (Current Awareness Service), penyusunan indek dsb. Pendek kata masih banyak pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pustakawan tetapi belum dilaksanakan karena waktunya sudah habis tersita dalam pelayanan rutin.

2. Kurangnya staf yang terlatih.

Kurangnya staf yang terlatih biasanya menjadi kendala yang menghambat pengembangan otomasi perpustakaan. Pembangunan otomasi perpustakaan paling tidak harus mempunyai staf yang mampu mengoperasikan komputer (operator), bahkan kalau perlu mempunyai tenaga ahli. Banyak perpustakaan yang sampai saat ini masih menjadi tempat pembuangan. Artinya apabila ada staf yang susah untuk dibina biasanya pemimpim akan memindahkan staf tersebut ke perpustakaan. Hal inilah yang dapat menyebabkan terhambatnya pengembangan perpustakaan termasuk dalam membangun otomasi perpustakaan. Keadaan seperti itu di perpustakaan perguruan tinggi sudah mulai ditinggalkan. Mudah-mudahan perpustakaan umum/daerah dan perpustakaan sekolah akan mengikutinya. Berkaitan dengan staf yang menangani otomasi perpustakaan sebetulnya tidak harus punya keahlian yang terlalu tinggi tentang komputer, tetapi cukup dengan staf yang mempunyai semangat dan kemauan yang tinggi untuk belajar tentang hal-hal yang baru. Biasanya staf yang demikian adalah staf yang muda. Tentang pelatihan, pada umumnya, penyedia software akan menjual programnya beserta pelatihannya.

3. Kurangnya dukungan dari pihak pimpinan.

Dukungan pimpinan merupakan hal yang sangat strategis dalam membangun otomasi perpustakaan. Tanpa dukungan pimpinan yang memadai rencana otomasi perpustakaan tidak akan berhasil dengan baik. Dukungan tersebut dapat berupa dana, pengembangan staf, dan dukungan moril.

4. Input data

Proses input data biasanya juga menjadi kendala dalam membangun otomasi perpustakaan. Apalagi kalau jumlah koleksi perpustakaan sudah besar tentu akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Agar proses input data dapat lancar dan tidak perlu dana besar serta tidak mengganggu layanan perpustakaan, sebaiknya pada permulaan pelaksanaan otomasi perpustakaan tetap menjalankan dua sistem yaitu sistem manual dan sistem otomasi. Input data dimulai dari buku-buku baru, kemudian buku yang sering dipakai, dan kalau waktunya longgar baru input data buku yang lain. Setelah jumlah data yang dimasukkan dianggap pantas untuk dilayankan sebaiknya secepatnya dilakukan layanan sirkulasi dengan komputer. Dengan cara demikian, saya yakin akan memperlancar proses pelaksanaan  otomasi perpustakaan.

PEMILIHAN SOFTWARE

Kalau kita bicara komputer pasti ada kaitannya dengan dua hal yaitu software dan hardware. Ketika kita akan memilih software untuk otomasi perpustakaan kita harus melakukan dengan hati-hati. Perlu diingat bahwa pemilihan software otomasi perpustakaan untuk kepentingan jangka panjang. Kesalahan dalam memilih akan berakibat panjang dan konsekuensinya akan terjadi pemborosan. G.K. Manjunath menyarankan beberapa kriteria yang  dapat membantu para pustakawan dalam memilih software. Kriteria tersebut adalah :

  1. Who are the developers, whether an institution, or reputed company or few individuals. The preference is for institution and second preference is for the reputed company. One has to be skeptical about the software developed by individuals as there will be no continuity
  2. How many times the software has been revised since the time of its first launch.
  3. How many parameters are available for each module. More the parameters better will be the flexibility and needs no or minimum customization.
  4. Whether the software has facility to import bibliographic data available in ISO2709 format and similarly export of  data in this format
  5. Training and guidance after installation
  6. Whether available on major operating systems.
  7. Whether it is web interfaceble
  8. Whether it can be interfaced with the e-mail system of the campus network.
  9. Whether it has taken care of Y2K compliant
  10. How many installations it has got in the country, since when and major clients.
  11. Whether it can offer OPAC and different rights to different logins

Intisari dari saran di atas dapat dikemukakan bahwa dalam pemilihan software harus mempertimbangkan kriteria sebagai berikut :

  1. Siapa pengembangnya ? apakah lembaga, perusahaan, atau individu ? Yang paling baik adalah software yang dikembangkan oleh lembaga atau perusahaan yang mempunyai reputase baik. Usahakan tidak membeli software dari individu karena banyak kelemahan yang akan dihadapi.
  2. Seberapa sering software tersebut direvisi ? Untuk mengetahuinya dapat dilihat dari sejak “launching” pertama berapa kali software telah direvisi.
  3. Berapa banyak parameter yang tersedia untuk setiap modul ? Semakin banyak parameter yang dimiliki akan semakin fleksibel dan mudah untuk disesuaikan dengan kepentingan perpustakaan kita.
  4. Apakah software mempunyai fasilitas import dan export data bibliografi yang sesuai dengan ISO2709 ? Format lain seperti MARC Format dan Dublin Core dapat digunakan sebagai pertimbangan.
  5. Apakah memberikan pelatihan setelah instalasi dan apakah ada buku petunjuk ?
  6. Apakah software tersebut dapat berjalan di sistem operasi yang utama seperti Windows NT, Linux, Unix dsb.?
  7. Apakah dapat di akses melalui Web.?
  8. Apakah juga ada interfacenya dengan e-mail ?
  9. Berapa banyak yang telah memakai software tersebut ?
  10. Adakah OPAC nya menawarkan perbedaan password untuk masing pustakawan dan pengguna ?

SPESIFIKASI HARDWARE

Agar otomasi perpustakaan dapat berjalan dengan lancar, paling tidak harus memiliki 4 unit perangkat keras (computer). Untuk server 1 unit, katalogisasi 1 unit PC, sirkulasi 1 unit, dan OPAC 1 unit. Disamping itu juga diperlukan perangkat Scanner 2 unit. Adapun spesifikasi dan perkiraan harga dapat dilihat dalam table berikut :

DAFTAR SPESIFIKASI SERVER DAN PC

BESERTA PERKIRAAN HARGA

No Jenis dan Spesifikasi Perkiraan harga
1 Server

HP ML110 G5 XEON 3065 (2.33GHz)/1GB/72GB 15Krpm NHP-SAS
(1) Dual-Core Intel® Xeon® Processor X3065 (2.33GHz, 65W,1333 FSB, 4MB), 1 x 4MB Level 2 cache; memory 1 GB PC2-6400 ECC (DDR2-800Mhz) (1 x 1GB), HP SC44Ge Host Bus Adapter; 72GB 15Krpm SAS HDD ; Max Internal Storage: 1.2TB (4 x 300GB) SAS (with optional HDD) ;16x SATA DVD-ROM Form Factor: Micro ATX Tower (4U)

US$ 1,230
2 Server

HP ML115T01 1214(2.2Ghz), 512MB, 72GB NHP-SAS HDD – NEW
(1) Dual-Core AMD Opteron 1214 (2.2GHz, 2MB Cache), 2MB (2x1MB) Level 2 cache (Opteron), 512 MB PC2-5300 ECC (DDR2-667Mhz) (1 x 512 MB), 48x CD-ROM Form Factor: Micro ATX Tower

US$ 950
3 Personal Computer

Intel Dual Core Technology Processor E2140 1,6Ghz (Intel 945 GC Chipset, 1Mb L2 Cache) | 512Mb DDR | HDD 80Gb | DVD-CDRW Combo Drive | Intel GMA 3100 Graphics | Intel GMA 950 Graphics | HP Deluxe Multimedia Keyboard, Optical Scroll Mouse | Modem | NIC | 9-in-1 Media Reader | DOS | 1 AGP | 3 PCI | 6 USB Ports | 17″ Monitor with external HP Speaker

US$ 469

PENGALAMAN UPT PERPUSTAKAAN UNS

Otomasi perpustakaan bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah sistem pelayanan perpustakaan baik dalam proses pembuatan katalog (input data), pelayanan sirkulasi, maupun penelusuran catalog (OPAC).

Perpustakaan yang pertama kali menjalankan otomasi di lingkungan Universitas Sebelas Maret adalah UPT Perpustakaan pada tahun 1998 (Sistem Dynix), selanjutnya diikuti oleh Perpustakaan Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Hukum, Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik. Namun masing – masing perpustakaan masih berjalan sendiri – sendiri tanpa adanya jaringan.

Sejak tahun 2006, UPT Perpustakaan bersama dengan UPT Komputer telah mengembangkan program untuk otomasi perpustakaan yang dinamakan UNSLA (UNS Library Automation). Program tersebut sebagai pengganti sistem lama (Dynix). UNSLA dapat mengatasi beberapa kendala yang selama ini dihadapi oleh UPT Perpustakaan dalam mengaplikasikan sistem Dynix. Dynix adalah sistem yang sangat ketat dalam pembatasan “user license”. Selama ini UPT Perpustakaan hanya memiliki 26 user licenses. Artinya bahwa sistem tersebut hanya dapat diakses sebanyak 26 komputer secara bersamaan. User license dapat ditambah, namun biayanya sangat mahal.  Kendala lain adalah biaya pemeliharaan. Biaya pemeliharaan per tahun sebesar $ 6000 atau sekitar Rp. 60.000.000,- . Dengan menggunakan UNSLA, hambatan tersebut dapat dihilangkan. Oleh karena itu, pimpinan Universitas telah memutuskan semua perpustakaan di lingkungan UNS diwajibkan menggunakan UNSLA. Dalam rangka melaksanakan kebijakan Universitas tersebut, Perpustakaan Fakultas di lingkungan UNS yang telah mengimplementasikan system UNSLA adalah Perpustakaan Fakultas Pertanian (2007), Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa (2007), Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (2008), FKIP (2008) dan F. Hukum (2008). Sedangkan Katalognya sudah dapat di akses melalui Internet.

PENUTUP

Proses pembangunan sistem otomasi perpustakaan memang tidak mudah dan harus dilakukan dengan perhitungan yang cermat dan hati-hati karena merupakan investasi jangka panjang dan memakan biaya yang tidak sedikit. Namun apabila otomasi perpustakaan sudah berjalan, maka akan banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh stakeholders perpustakaan yaitu pemustaka, staf perpustakaan dan pimpinan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alan Butters. Automating library processes: achieving success with self service loans and returns. Australasian Public Libraries and Information Services 20.1 (March 2007): p.34(11).
  2. Joseph R. Matthews. Dynix for Windows-Cataloging.(Evaluation). Library Technology Reports 32.n2 (March-April 1996): p.p213(7).
  3. Integrated library system.
  4. G.K. Manjunath. Library Automation: Why and How? http://www.igidr.ac.in/lib/paper1.htm (July 11, 2008)

Kompetensi Pustakawan : antara harapan dan kerisauan

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

Ajun adalah seorang perantau yang sudah bermukim lama di Jakarta. Disamping dia sebagai pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah, dia juga sedang menempuh kuliah S2 untuk menunjang pengembangan kariernya. Seminggu sebelum lebaran dia ambil cuti untuk mudik dan merayakan idul fitri di kampungnya. Dia sengaja pulang awal agar tidak terjebak dalam kemacetan yang semakin parah dari tahun ke tahun. Setelah sampai di kampung halamannya, dia tetap berpuasa walaupun dia tahu bahwa bagi seorang musafir boleh tetap menjalankan puasa dan boleh juga tidak puasa asal nanti harus menggantinya. Dia pulang kampung sebetulnya tidak hanya bertujuan untuk bersilaturrahim dengan keluarga, namun juga ingin mencari artikel-artikel dan tesis yang berkenaan dengan penelitian yang ia rencanakan. Ketika sedang berselancar melalui Internet, dia menemukan informasi bahwa artikel dan tesis yang dia cari berada di sebuah perpustakaan yang terletak tidak jauh dari kampungnya. dia berencana berkunjung ke perpustakaan tersebut untuk mengisi waktu luangnya. Sebelum berangkat, dia berfikir sebaiknya menghubungi dulu perpustakan untuk menanyakan persyaratan berkunjung dan jam buka perpustakaan melalui telpon. Setelah jelas dia berangkat. Begitu masuk perpustakaan, dia menemui petugas “front office”. Dengan senyum yang mengembang  si petugas bertanya apa yang bisa saya bantu ? Sambutan yang ramah tersebut menjadikan Ajun merasa senang. Kemudian dia menyampaikan maksud serta tujuan kedatangannya ke perpustakaan. Setelah mendaftar dan mendapatkan kartu anggota luar biasa yang dipersyaratkan bagi pemustaka diluar sivitas akademika, maka dia langsung masuk ke ruang koleksi. Karena perpustakaan telah memasang rambu-rambu yang jelas, maka dia terus menuju ke ruang jurnal dimana artikel yang dia cari berada. Tanpa mengalami kesulitan artikel-artikel yang dicari dapat ditemukan dengan cepat. Setelah itu dia menuju ruang tesis, dan dengan mudah pula dia mendapatkannya. Untuk menghemat waktu, dia akhirnya memfotokopi sebagian tesis dan artikel yang dibutuhkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam perjalanan pulang hatinya berkata bahwa perpustakaan ini dikelola secara profesional dan ditangani oleh petugas yang mempunyai kompetensi. Akhirnya dia pulang dengan perasaan puas.
Intisari yang ingin saya sampaikan dalam ceritera fiktif tentang “perpustakaan mimpi” di atas adalah kepuasan indvidu yang dirasakan oleh seorang pengunjung perpustakaan. Kepuasan indvidu tersebut dapat berkembang menjadi kepuasan mayoritas pemustaka apabila perpustakaan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Kepuasan tersebut merupakan hasil kinerja dari tenaga perpustakaan dan pustakawan yang berkompeten. Hal ini ditandai adanya nilai-nilai seperti keterbukaan akses, kemudahan prosedur pelayanan, profesionalisme (keramahan petugas dan pengelolaan koleksi yang sistematis), dan penerapan teknologi informasi.
Pertanyaannya adalah apakah perpustakaan kita sudah memberikan layanan seperti gambaran di atas ? Kalau jawabannya belum, mari kita upayakan! Seandainya jawabannya ya, mari kita tingkatkan !. Penulis yakin bahwa tuntutan pemustaka pasti meningkat terus sesuai dengan kebutuhannya dan perpustakaan harus selalu berusaha memenuhinya. Namun demikian tidaklah mudah untuk melaksanakannya. Munculnya Undang-Undang Nomr 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan telah menumbuhkan harapan baru bagi tenaga perpustakaan dan pustakawan untuk meningkatkan kompetensinya. Walupun disisi lain juga masih ada hal-hal yang merisaukan. Oleh karena itu, makalah ini mencoba menguraikan masalah kompetensi pustakawan kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang meliputi perubahan definisi pustakawan, kompetensi pustakawan, standar kompetensi pustakawan, sertifikasi pustakawan, dan kerisauan penulis.

PERUBAHAN DEFINISI PUSTAKAWAN

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pustakawan adalah orang yang bergerak di bidang perpustakaan; ahli perpustakaan. Definisi tersebut masih sangat umum. Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya dan telah direvisi dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132 tahun 2002,  pustakawan diartikan sebagai Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Definisi tersebut tentunya sangat mengecewakan bagi tenaga perpustakaan  yang bekerja di lembaga swasta. Batasan harus pegawai negeri sipil menutup kemungkinan bagi tenaga perpustakaan di lembaga non pemerintah untuk masuk menjadi pustakawan. Namun dengan adanya Undang Undang tentang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 telah menumbuhkan harapan baru bagi tenaga perpustakaan di lembaga swasta. Dalam Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan fasilitas layanan perpustakaan. Kompetensi menjadi kata kunci dalam definisi tersebut karena siapapun dia, asal memiliki kompetensi dan bekerja di perpustakaan tanpa memandang perpustakaan negeri atau swasta dapat masuk menjadi pustakawan. Bagi pustakawan negeri pun seharusnya juga menyambut gembira. Dengan adanya perubahan definisi tersebut kemungkinan penambahan pustakawan baru semakin terbuka yang berarti akan menambah kekuatan. Jumlah pustakawan di Indonesia sebanyak 2972 orang (Kartini, 2008). Jelas jumlah ini sangat sedikit kalau kita bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Data Pustakawan berdasarkan Jenis Perpustakaan per 18 Juli 2008 dapat dilihat dalam tabel berikut :

Data Pustakawan berdasarkan Jenis Perpustakaan
per 18 Juli 2008

No Jenis Perpustakaan Pust.
Pelak.
Pust.
Pelak.
Lanj.
Pust.
Penyelia
Pust.
Pratama
Pust.
Muda
Pust.
Madya
Pust.
Utama
JML
1 Perpust. Nasional 3 20 23 24 55 28 7 160
2 Perpust. Umum 19 30 28 8 17 4 0 106
3 Perpust. Propinsi 54 183 166 95 162 47 0 707
4 Perpust. Sekolah/Madra
Sah
42 74 48 10 15 15 0 204
5 Perpust. Perguruan
Tinggi
256 274 271 161 183 154 3 1302
6 Perpust Khusus 48 159 134 34 61 52 5 493
Jumlah 422 740 670 332 493 300 15 2972

Sumber : Makalah Kebijakan Pengembangan Pustakawan disampaikan oleh Hj. Kartini,SH pada Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai. Jakarta, 23- 24 Juli 2008.

Setelah memperhatikan data tersebut, penulis memperkirakan bahwa potensi penambahan pustakawan terbanyak akan berasal dari perpustakaan perguruan tinggi swasta dan juga perpustakaan sekolah. Mengingat jumlah perguruan tinggi swasta di Indonesia cukup banyak dan jumlah pustakawan dari perpustakaan sekolah/madrasah masih sangat sedikit. Data di atas hanya menghitung pustakawan pegawai negeri sipil.

Penambahan pustakawan baru akan menambah kekuatan untuk meningkatkan posisi tawar (bargaining position) kepada pemerintah. Kalau jumlah pustakawan semakin banyak  dan organisasi profesi (Ikatan Pustakawan Indonesia dan lain) berperan dengan baik, akan dapat menjadi kelompok penekan yang mempunyai kekuatan untuk menyalurkan aspirasi kepada pemerintah khususnya pengambil kebijakan dalam bidang kepustakawanan. Contohnya adalah profesi guru. Karena jumlah guru banyak dan PGRI berperan sangat aktif, maka aspirasi guru sekarang sangat diperhatikan oleh pemerintah. Akibat turunannya adalah pendidikan guru semakin laris. Kapan profesi pustakawan mengikuti jejak mereka ? Tentu diperlukan perjuangan.

KOMPETENSI PUSTAKAWAN

Kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan, dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe kompetensi pertama yang disebut dengan “soft competency”. Tipe kompetensi ini berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatur proses pekerjaan dan berinteraksi dengan orang lain. Yang termasuk dalam soft competency diantaranya adalah kemampuan manajerial , kemampuan memimpin (kepemimpinan), kemampuan komunikasi, dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain (Interpersonal relation). Sedangkan tipe kompetensi yang kedua yaitu “hard competency” .  Tipe kompetensi kedua tersebut berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan. Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency di bidang perpustakaan antara lain kemampuan untuk mengklasir, mengkatalog, mengindek, membuat abstrak, input data, melayani pemustaka, melakukan penelusuran informasi dsb.

Dalam perspektif lain, The Special Library Association membedakan kompetensi  menjadi kompetensi profesional dan kompetensi personal/individu (Kismiyati, 2008). Kompetensi profesional adalah kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen, dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi. Sedangkan kompetensi personal adalah kompetensi yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperhatikan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya.

Dalam Undang-Undang tentang Perpustakaan disebutkan bahwa penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan perpustakaan mengacu pada standar nasional perpustakaan. Salah satu butir standar nasional perpustakaan adalah standar tenaga perpustakaan. Lebih lanjut dalam penjelasan Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa yang dimaksud standar tenaga perpustakaan mencakup kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi. Jelas sekali bahwa kompetensi pustakawan merupakan unsur penting disamping kualifikasi akademik dan sertifikasi. Persoalannya adalah bagaimana cara mengukur bahwa seorang pustakawan sudah berkompeten atau belum ? Oleh karena itu diperlukan standar kompetensi pustakawan.

STANDAR KOMPETENSI PUSTAKAWAN

Untuk mengetahui seorang pustakawan mempunyai kompetensi atau tidak, seberapa tingkat kompetensinya diperlukan adanya acuan. Acuan itulah yang disebut standar. Adanya standar kompetensi pustakawan sangat diperlukan. Paling tidak ada tiga pihak yang mempunyai kepentingan terhadap standar kompetensi pustakawan. Pertama adalah perpustakaan.  Bagi perpustakaan,  standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai pedoman untuk merekrut pustakawan dan mengembangkan program pelatihan agar tenaga perpustakaan mempunyai kompetensi atau meningkatkan kompetensinya. Kedua adalah lembaga penyelengara sertifikasi pustakawan. Bagi lembaga sertifikasi pustakawan, standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan dalam melakukan penilaian kinerja pustakawan dan uji sertifikasi terhadap  pustakawan. Sedangkan pihak ketiga adalah pustakawan. Bagi pustakawan standar kompetensi pustakawan dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mengukur kemampuan diri untuk memegang jabatan pustakawan.

Sayangnya standar kompetensi pustakawan di Indonesia sampai saat ini masih dalam proses penyusunan. Namun demikian agar tenaga perpustakaan dan pustakawan dapat mempersiapkan diri sambil menunggu terbitnya standar kompetensi pustakawan, maka dipandang perlu mengetahui kompetensi apa yang seharusnya dipenuhi oleh seorang pustakawan. The Special Library Association pada tahun 2003 telah merumuskan kompetensi pustakawan. Walaupun rumusan tersebut sebetulnya di peruntukan bagi pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus, namun dapat dipergunakan sebagai acuan sementara dan tentunya memerlukan sedikit penyesuaian. Seperti sudah disebutkan di atas bahwa The Special Library Association membedakan kompetensi menjadi 2 jenis yaitu kompetensi profesional dan kompetensi personal/individu.

Berikut adalah kompetensi profesional yang seharusnya dimiliki oleh pustakawan :

  1. memiliki pengetahuan keahlian tentang isi sumber-sumber informasi, termasuk kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaring sumber-sumber tersebut secara kritis.
  2. memiliki pengetahuan tentang subjek khusus yang sesuai dengan kegiatan organisasi pelanggannya.
  3. mengembangkan dan mengelola layanan informasi dengan baik, accessable (dapat diakses dengan mudah) dan cost-effective (efektif dalam pembiayaan) yang sejalan dengan aturan strategis organisasi.
  4. menyediakan bimbingan dan bantuan terhadap pengguna layanan informasi dan perpustakaan.
  5. memperkirakan jenis dan kebutuhan informasi, nilai jual layanan informasi dan produk-produk yang sesuai kebutuhan yang diketahui.
  6. mengetahui dan mampu menggunakan teknologi informasi untuk pengadaan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi.
  7. mengetahui dan mampu menggunakan pendekatan bisnis dan manjemen untuk mengkomunikasikan perlunya layanan informasi kepada manajemen senior.
  8. mengembangkan produk-produk informasi khusus untuk digunakan di dalam atau di luar lembaga atau oleh pelanggan secara individu.
  9. mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan menyelenggarakan penelitian yang berhubungan dengan pemecahan masalah-masalah manajemen informasi.
  10. secara berkelanjutan memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan kebutuhan.
  11. menjadi anggota tim manajemen senior secara efektif dan menjadi konsultan organisasi di bidang informasi.

Sebelas butir di atas tidak semuanya harus dimiliki oleh seorang pustakawan Kemampuan, yang harus dimiliki seorang pustakawan mesti disesuaikan dengan tingkatan atau levelnya

Sedangkan kompetensi personal/individu bagi pustakawan meliputi :

  1. memiliki komitmen untuk memberikan layanan terbaik.
  2. mampu mencari peluang dan melihat kesempatan baru baik di dalam maupun di luar perpustakaan.
  3. berpandangan luas.
  4. mampu mencari partner kerja.
  5. mampu menciptakan lingkungan kerja yang dihargai dan dipercaya.
  6. memiliki ketrampilan bagaimana berkomunikasi yang efektif.
  7. dapat bekerjasama secara baik dalam suatu tim kerja.
  8. memiliki sifat kepemimpinan.
  9. mampu merencanakan, memprioritaskan dan memusatkan pada suatu yang kritis.
  10. memiliki komitmen untuk selalu belajar dan merencanakan pengembangan kariernya.
  11. mampu mengenali nilai dari kerjasama secara profesional dan solidaritas.
  12. memiliki sifat positif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan.

Untuk kompetensi personal/individu, semua butir-butir kompetensi tersebut di atas seharusnya wajib dimiliki oleh pustakawan.

SERTIFIKASI PUSTAKAWAN

Sertifikat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai surat tanda atau surat keterangan (pernyataan tertulis) atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti suatu kejadian. Sertifikat pustakawan adalah surat bukti kompetensi pustakawan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Proses kebijakan dan pelaksanaan untuk mengeluarkan sertifikat dapat disebut sertifikasi. Seperti sudah diuraikan di atas bahwa rumusan standar kompetensi pustakawan masih dalam proses, ini merupakan langkah awal dalam sertifikasi pustakawan. Penyusunan standar kompetensi yang masih dalam proses tersebut melibatkan beberapa pihak meliputi organisasi profesi, Badan Kepegawaian Nasional, Menpan, BNSP, Depnaker, para pakar pustakawan dan lembaga pendidikan perpustakaan (Kismiyati, 2008). Penulis berharap standar kompetensi pustakawan segera dirumuskan. Langkah selanjutnya adalah menentukan lembaga mana yang akan diberi wewenang untuk mengeluarkan sertifikat pustakawan. Sampai saat ini juga belum ada kepastian tentang lembaga mana yang akan diberi wewenang mengeluarkan sertifikat pustakawan. Yang jelas lembaga tersebut harus independen dan mempunyai kredibilitas, integritas dan tanggungjawab yang tinggi.
Persoalan kemudian adalah bagaimana agar sertifikasi bisa meningkatkan kualitas kompetensi pustakawan ? Filosofi dasarnya adalah bahwa sertifikasi pustakawan merupakan sarana atau instrumen untuk meningkatkan kualitas kompetensi pustakawan. Sertifikasi bukan merupakan tujuan, melainkan sarana untuk mencapai suatu tujuan, yakni keberadaan pustakawan yang berkualitas. Oleh karena itu, perlu dibangun kesadaran dan pemahaman bersama bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kalau seorang pustakawan menempuh S2 untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya, maka tujuan kuliah adalah untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, bukan mendapatkan ijazah. Ijazah adalah bukti bahwa pemegangnya memiliki kualifikasi S 2 bidang tertentu. Dengan mempunyai kesadaran dan pemahaman seperti itu, maka untuk mendapatkan ijazah S2 tersebut tidak akan melakukan atau menghalalkan segala cara, melainkan konsekuensi dari belajar dan telah mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau pustakawan mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standard kompetensi pustakawan. Tunjangan profesi pustakawan (kalau ada) adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini maka pustakawan tidak akan mencari jalan lain guna mendapatkan sertifikat pustakawan kecuali mempersiapkan diri untuk memenuhi persyaratan yang ada dalam standar kompetensi pustakawan.

KERISAUAN PERTAMA

Beberapa uraian sebelum bab ini, banyak menguraikan tentang hal-hal yang dapat menumbuhkan harapan baru bagi pustakawan untuk meningkatkan kompetensinya. Para pustakawan sangat berharap adanya standar kompetensi pustakawan dan memegang sertifikat pustakawan. Perlu penulis ingatkan sekali lagi bahwa tujuan utama sertifikasi pustakawan adalah untuk mencapai kualitas, bukan mendapatkan tunjangan profesi. Tunjangan profesi merupakan konsekuensi logis yang menyertai adanya kompetensi yg dimiliki. Yang merisaukan penulis adalah adakah “konsekuensi logis” bagi pustakawan ?

Mari kita cermati isi Undang – Undang tentang Perpustakaan.
Dalam pasal 31 disebutkan bahwa tenaga perpustakaan berhak atas :

  1. penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejateraan sosial;
  2. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas; dan
  3. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas perpustakaan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

Coba kita bandingkan dengan isi Undang-Undang Guru dan Dosen.
Dalam pasal 14 disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:

  1. memperoleh memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
  2. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
  3. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
  4. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
  5. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
  6. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundangundangan;
  7. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
  8. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
  9. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
  10. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;
  11. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Lebih lanjut dalam pasal 16 ayat 2 dinyatakan bahwa tunjangan profesi guru diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

Yang saya risaukan adalah tunjangan profesi pustakawan yang merupakan konsekuensi logis dan yang menyertai kompetensi pustakawan ternyata tidak diatur dalam Undang-Undang Perpustakaan. Berbeda dengan Undang-Undang Guru dan Dosen, jelas menyebutkan bahwa pemegang sertifikasi guru akan mendapatkan tunjangan profesi sebesar 1 kali gaji pokok. Inilah yang menjadikan penulis risau. Mudah-mudahan kerisauan ini tidak menjadi kenyataan. Karena masih ada cara atau kemungkinan lain mengenai pemberian tunjangan profesi pustakawan baik berdasarkan Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Presiden. Untuk merevisi Undang-Undang jelas memerlukan waktu yang lama.

KERISAUAN KEDUA

Sampai saat ini, jabatan fungsional pustakawan belum menarik. Hal ini terbukti dengan merosotnya jumlah pustakawan sejak pertama kali jabatan fungsional Jabatan pustakawan dikeluarkan. Pada awal tahun 90’an jumlah pustakawan sekitar 4000 lebih, (mohon koreksi kalau salah), sekarang tinggal 2972 orang. Jelas ini merupakan kemerosotan. Banyak sebab kenapa jabatan pustakawan tidak menarik salah satunya (bukan satu-satunya) adalah soal kesejateraan pustakawan. Namun demikian bagi penulis, jumlah bukan merupakan yang utama walaupun tetap penting. Yang utama adalah kualitas.

PENUTUP

Tantangan perpustakaan di masa mendatang akan semakin berat dan kompleks. Tuntutan pemustaka akan kebutuhan informasi terus meningkat. Perpustakaan harus meningkatkan sistem layanannya agar kebutuhan informasi penggunanya dapat dipenuhi dengan cepat, tepat, efektif, dan efisien. Dalam rangka mendukung terwujudnya perpustakaan yang handal tersebut, maka diperlukan pustakawan yang memiliki kompetensi yang tinggi baik kompetensi profesional dan kompetensi personal/individu. Pengembangan pustakawan yang  berkualitas dan berkompeten merupakan suatu hal yang perlu mendapatkan perhatian serius ketika ingin membangun suatu perpustakaan yang ideal

Bangsa Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Ini merupakan intervensi langsung dalam bentuk kebijakan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan kualitas pustakawan. Semoga kebijakan ini dapat memberikan inspirasi kepada pustakawan dan calon pustakawan untuk dengan sungguh-sungguh menekuni profesinya. Semoga !

DAFTAR PUSTAKA

  1. Jalal, Fasli. Sertifikasi Guru untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu. http://sertifikasiguru.org/index.php?mact=News,cntnt01,detail,0&cntnt01articleid=69&cntnt01returnid=63 diakses tanggal 6 Oktober 2008.
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka, 1990.
  3. Kartini. 2008. Kebijakan Pengembangan Pustakawan. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Pustakawan dan Tim Penilai, tanggal, 23 – 24 Juli 2008.
  4. Kismiyati, Titik, 2008. Kompetensi Pustakawan Perguruan Tinggi. Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Nasional FPPTI, Seminar Ilmiah, dan Workshop, tanggal 21 Agustus 2008, di Cibogo, Bogor.
  5. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN
  6. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN.

Makalah ini disampaikan dalam Seminar Nasional tentang Kompetensi dan Sertifikasi Profesi Pustakawan : Implikasi UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang diselenggarakan di UPT Perpustakaan UNS Surakarta pada tanggal, 14 Oktober 2008

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN PERINGKAT WEBOMETRIC

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

Pencanangan menuju universitas bertaraf internasional oleh Menteri Pendidikan Nasional telah disampaikan lebih dari setahun yang lalu. Pencanangan tersebut telah mendorong hampir semua perguruan tinggi di Indonesia bercita-cita agar dapat menjadi universitas bertaraf internasional (World Class University), Dalam  pencanangan tersebut dinyatakan bahwa pemerintah akan mendorong 50 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang telah diseleksi menuju universitas bertaraf internasional. Dorongan tersebut sangat berpengaruh terhadap kebijakan para pimpinan perguruan tinggi untuk mewujudkannya. Agar cita-cita menjadi universitas bertaraf internasional dapat terwujud tentunya harus mendapat dukungan dari semua pihak termasuk perpustakaan.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah masuk dalam World Top Universities misalnya, UI, ITB, UGM, UNAIR masing-masing pada peringkat 250,258, 275, 330 versi The Times Higher Education Supplement – QS World University Rankings. (http://www.antara.co.id/arc/2007/9/4/50-universitas-disiapkan-jadi-world-class-university/). Persoalannya adalah adakah peran perpustakaan dalam penentuan peringkat tersebut ? Sangat sulit mengukurnya, karena kriterianya tidak ada yang berhubungan secara langsung terhadap aktivitas perpustakaan. Lain halnya dengan pengukuran  versi Webometric, dari unsur-unsur yang dinilai memungkinkan perpustakaan untuk dapat mengambil bagian dan berperan aktif dalam menentukan peringkat. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan peran perpustakaan dalam meningkatkan peringkat Webometric.

APA ITU WEBOMETRIC ?

Webometric adalah salah satu perangkat untuk mengukur kemajuan perguruan tinggi melalui Websitenya. Sebagai alat ukur (Webomatric) sudah mendapat pengakuan dunia termasuk di Indonesia (sekalipun masih ada yang meragukan tingkat validitasnya). Peringkat Webometric pertama kali diluncurkan pada tahun 2004 oleh Laboratorium Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC). CSIC merupakan lembaga penelitian terbesar di Spanyol. Secara periodik peringkat Webometric akan diterbitkan setiap 6 bulan sekali pada bulan Januari dan Juli. Peringkat ini mengukur lebih dari 16.000 lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia yang terdaftar dalam direktori. Peringkat perguruan tinggi versi Webometric dapat dengan mudah dilihat atau diakses melalui Internet dengan alamat : http://www.webometrics.info/top4000.asp

Adapun peringkat perguruan tinggi di Indonesia versi Webometric dapat di lihat dalam tabel berikut :

Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia versi Webometri Juli 2008

Ind. Ranking World Rangking University
1 819 Gadjah Mada University
2 826 Institute of Technology Bandung
3 1291 Universitas Indonesia
4 1652 University of Indonesia
5 2035 Indonesia University of Education (Note 45)
6 2267 Petra Christian University
7 2476 Bogor Agriculture University
8 2477 Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
9 2543 Brawijaya University
10 2624 Gunadarma University
11 2844 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
12 2863 Hasanuddin University
13 3040 Airlangga University
14 3489 Bina Nusantara University
15 3777 Universitas Sumatera Utara
16 3857 Diponegoro University
17 4881 Lampung University
18 4110 Universitas Padjadjaran
19 4333 Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya
20 4404 Budi Luhur University
21 4425 Universitas Islam Indonesia
22 4443 Duta Wacana Christian University
23 4681 Sebelas Maret University
24 4819 Parahyangan Catholic University

Dari tabel di atas terlihat bahwa UI mempunyai dua peringkat yaitu peringkat 1291 dan 1652, hal ini disebabkan karena UI memiliki dua domain yaitu ui.ac.id dan ui.edu . Oleh karena itu, sebagai bahan pembelajaran bagi kita, seharusnya semua Website di lingkungan suatu universitas menggunakan satu domain saja. Dari tabel di atas juga nampak bahwa perguruan tinggi swasta di Indonesia tidak kalah dan berani bersaing dengan perguruan tinggi negeri. Terbukti sudah ada 8 dari 23 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam peringkat Webometric.

KRITERIA WEBOMETRIC

Pengukuran Webometric memang hanya menekankan pada publikasi secara elektronik melalui Website baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur peringkat Webometric adalah Size, Visibility, Rich file, Scholar. Penjabarannya adalah sebagai berikut :

  1. Size (S). Jumlah halaman yang terindek oleh empat mesin pencarian utama yaitu :  Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.
  2. Visibility (V). Jumlah keseluruhan  tautan ekternal yang unik  dan terdeteksi oleh  Google search, Yahoo Search, Live Search and Exalead.
  3. Rich Files (R). Dari sekian banyak file yang terdeteksi maka dipilah file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk file : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt).
  4. Scholar (Sc). Secara khusus Google Scholar akan memberikan jumlah paper dan sitasi dari setiap domain akademik.

Apabila perguruan tinggi ingin mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, maka dalam pengelolaan Websitenya harus memperhatikan 4 unsur di atas. Semakin banyak unsur tersebut terpenuhi akan semakin tinggi potensi untuk memperbaiki peringkatnya dan potensi sebuah perguruan tinggi untuk masuk dalam “World Class University” akan semakin terbuka.

Sayangnya Webometric hanya memunculkan sampai peringkat 5000 perguruan tinggi dunia. Apabila ada perguruan tinggi yang belum masuk peringkat 5000 atau di atas 5000, maka tidak dapat dilihat dalam Webometric. Namun demikian untuk mengetahui tingkat kemajuan Website terutama dari aspek seberapa banyak jumlah yang mengakses dapat dilihat melalui alamat :  www,alexa,com. Dari alexa.com dapat diketahui “tren” jumlah yang akses terhadap suatu Website. Grafik berikut ini menggambarkan kecenderungan jumlah pengakses Website ugm,ac,id ; uns,ac.id dan ums.ac.id.

Disamping itu “alexa” juga mengetahui  seberapa jauh kontribusi Website dari masing-masing unit dan lembaga terhadap universitasnya. Beberapa contoh berikut adalah detail dari prosentase kontribusi dari masing-masing unit/lembaga dalam domain ums.ac.id; uns.ac.id; dan ugm.ac.id.

Ada dua alamat yang berkaitan dengan situs perpustakaan yaitu digilib.ums.ac.id dan library.ums.ac.id masing mempunyai kontribusi 13 % dan 7 %, Perpustakaan.uns.ac.id hanya menyumbangkan 3 %.

BAGAIMANA AGAR PERPUSTAKAAN DAPAT BERPERAN ?

Agar perpustakaan dapat berperan dalam meningkatkan peringkat Webometric, tidak ada jalan lain kecuali harus mengembangkan perpustakaan digital. Pengembangan perpustakaan digital dapat dilakukan melalui pengembangan E-book, E-Journal, E-Grey Literature dan E-Local Content.

1. Pengembangan E-Book

Pengembangan koleksi e-book dapat dilakukan dengan pembelian atau pengembangan buku hasil karya dari civitas akademika. Kalau kita mengembangkan koleksi e-book dari pembelian penulis tidak yakin bahwa hal itu akan berpengaruh secara langsung terhadap peringkat Webometric. Namun apabila pengembangan e-book berasal dari hasil karya civitas akademika akan sangat berpengaruh terhadap peringkat Webometric.

2. Pengembangan E-Journal

Sama halnya dengan e-book, pengembangan e-journal berlangganan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap Webometric. Namun pengembangan e-journal milik universitas akan dapat meningkatkan unsur – unsur dalam kriteria Webometric.

3. Pengembangan E-Grey Literature.

Grey literature atau literatur kelabu adalah koleksi yang tidak diterbitkan secara luas. Yang termasuk koleksi ini adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Apabila perpustakaan perguruan tinggi sudah medigitalkan koleksi tersebut, potensi untuk meningkatkan peringkat Webometric sangat besar.

Pengembangan E-Local Content

Sama halnya e-grey literature, e-local content sangat pontensial untuk meningkatkan peringkat Webometric.

PERAN PUSTAKAWAN

Pengembangan perpustakaan digital tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya pustakawan yang handal dan tidak “gaptek”. Untuk itu upaya-upaya pengembangan pustakawan agar “melek” teknologi harus terus menerus dilakukan. Pola pikir tradisional harus kita tinggalkan menuju pola pikir terbuka dan mengikuti perkembangan teknologi. Kegiatan pustakawan tidak cukup hanya melakukan katalogisasi, klasifikasi, layanan sirkulasi, dan layanan referensi secara manual, tetapi harus lebih dari itu. Pustakawan harus mampu melakukan penelusuran informasi, pengembangan koleksi, pengolahan koleksi dan penyebarluasan informasi secara elektronik.Pendek kata pustakawan yang diperlukan dalam era ini adalah pustakawan yang “melek” teknologi bukan pustakawan yang “gaptek”.

PENUTUP

Munculnya peringkat yang di buat oleh suatu lembaga akan dapat memotivasi kita untuk bekerja lebih giat lagi. Lebih – lebih kalau dalam  unsur penilaiannya berhubungan langsung dengan suatu kegiatan yang kita lakukan, maka akan dapat menambah semangat lagi. Adanya Webometric jelas akan memotivasi para pustakawan untuk mengikutinya dan tidak dapat dihindari mereka harus meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, keahliannya dalam bidang teknologi dan informasi. Pengembangan perpustakaan digital adalah salah satu cara yang harus ditempuh agar perpustakaan dapat berperan aktif dalam menyumbangkan peringkat perguruan tingginya. Apabila peringkat Webometric perguruan tinggi kita baik, akan mempunyai dampak yang positif terhadap perguruan tinggi kita dan pada gilirannya akan menambah kepercayaan masyarakat. Ujungnya adalah mutu perguruan tinggi kita akan diakui masyarakat. Perguruan Tinggi yang bermutu tidak akan pernah kekurangan mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.antara.co.id/arc/2007/9/4/50-universitas-disiapkan-jadi-world-class-university/ ( 2 September 2008)
  2. http://www.webometrics.info/top4000.asp (2 September 2008)
  3. http://prayudi.wordpress.com/2008/07/27/site-rank-by-alexa-untuk-pt-hasil-webometric-juli-2008/
  4. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/08/apa-itu-webometric/
  5. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/11/apa-itu-webometric-2/

 


Makalah ini disampaikan dalam Pelatihan Perpustakaan di Universitas Muhammadyah Surakarta pada Tgl. 9 Sepetember 2008

PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENDUKUNG TERWUJUDNYA PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL

ABSTRAK

Peran pustakawan, semakin berkembang dari waktu ke waktu.Kini pustakawan tidak hanya melayani sirkulasi buku, tapi dituntut untuk dapatmemberikan informasi secara cepat, tepat, akurat dan efisien dari segi waktu dan biaya.Pustakawan dituntut untuk mengembangkan kompetensi yang ada dalam dirinya gunamendukung pelaksanaan program tridarma perguruan tinggi. Kompetensi dan peranpustakawan sangat berperan dalam mendukung tercapainya visi perguruan tinggi. Dalamtulisan ini dipaparkan dan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi dan peranpustakawan dalam mendukung terwujudnya perguruan tinggi bertaraf internasional.Dijelaskan pula permasalahan yang dihadapi pustakawan, analisis masalah, solusi serta upaya upaya yang harus dilakukan guna meraih tujuan dalam mendukung perguruan tinggi bertaraf internasional.
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam menghadapi era globalisasi, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia, semakin besar dan kompleks, baik yang ditimbulkan oleh dinamika internal maupun eksternal. Perguruan tinggi harus terus berupaya mewujudkan visi, misi dan tujuannya dengan tetap berpijak pada akar budaya yang ada.

Visi Universitas Sebelas Maret menjadi Pusat Pengembangan Ilmu, Teknologi, dan Seni yang Unggul di Tingkat Internasional dengan Berlandaskan pada Nilai-Nilai Luhur Budaya Nasional Merujuk kepada visi perguruan tinggi yang umumnya ingin meraih taraf internasional, tentunya dibutuhkan kerjasama yang terarah, terencana, kooperatif, bersinergis dan berkesinambungan antara segenap sivitas akademikanya. Semua unsure harus terlibat dan dilibatkan dalam tatanan kebijakan sesuai tugas pokok dan fungsinya, demi mencapai visi yang mulia tadi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perpustakaan adalah salah satu basis penyangga peradaban bangsa. Perkembangan jaman dan globalisasi telah memberikan dampak yang cukup positif terhadap aliran informasi. Agar tidak ketinggalan zaman dan bangsa ini menjadi lebih cerdas, mau tidak mau, perpustakaan sebagai gudang ilmu, sumber informasi harus dikelola dengan professional agar mampu berkiprah di dunia internasional.

Perpustakaan bagi perguruan tinggi/Institut/universitas/organisasi merupakan sarana  nunjang yang sudah selayaknya diperhatikan dan ditangani dengan serius. Walaupun merupakan sarana penunjang, fungsi perpustakaan bagi perguruan tinggi/Institut/universitas/organisasi, sangatlah vital, seperti jantung di dalam tubuh manusia. Untuk membangun perpustakaan yang mampu bersinergi dengan perguruan tinggi dan sivitas akademikanya, dibutuhkan SDM dalam hal ini pustakawan yang profesional, yang memiliki etos kerja yang tinggi, jujur, berdedikasi, loyal serta mempunyai kemauan dan kemampuan untuk berkembang dan terus berupaya menimba ilmu sepanjang hayat.

PUSTAKAWAN

Pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Pustakawan diartikan sebagai orang yang bergerak di bidang perpustakaan; ahli perpustakaan (tanpa membedakan PNS ataupun Non PNS). Jabatan Fungsional Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian

Negara Nomor 53649/MPK/1998 dan Nomor 15/SE/1998. Keputusan ini telah dua kali direvisi yaitu dengan terbitnya Keputusan Menpan Nomor 33 tahun 1988 dan terakhir Keputusan Menpan Nomor 132/Kep/M.PAN/12/2002. Tujuan diciptakaannya jabatan fungsional tersebut yaitu agar para pustakawan dapat meningkatkan karirnya sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimilikinya. Saat ini jumlah tenaga fungsional Pustakawan yang terjaring pada pangkalan data Pusat Pengembangan Pustakawan sebanyak 2.814 orang yang tersebar di berbagai perpustakaan di Indonesia.

KOMPETENSI

Kompetensi adalah kecakapan atau kemampuan. Konsep kemampuan mengandung suatu makna adanya semacam tenaga atau kekuatan yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan atau perbuatan baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat mental. Pengertian ini menunjukkan pada adanya suatu kekuatan nyata yang dapat diperlihatkan seseorang melalui tindakan atau perbuatan, baik secara fisik maupun mental, yang umumnya diperoleh melalui latihan dan pendidikan. Dengan demikian hampir semua kemampuan diperoleh melalui latihan atau dipelajari. Dengan perkataan lain, kalau seseorang ingin memiliki kemampuan tertentu, ia dapat mempelajarinya. Kemampuan ini akan banyak membantu seseorang pada saat ia melaksanakan atau mengerjakan tugas tertentu. Kadang-kadang kemampuan secara fisik dan mental dapat muncul secara bersamaan pada saat mengerjakan suatu tugas (Klausmeier dan Goodwin), sedangkan arti kompetensi secara harfiah adalah kecakapan, kemampuan; wewenang (Kamus Inggris-indonesia). Definisi kompetensi yang sering dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaanpekerjaan non-rutin. Terdapat bermacam-macam pendekatan mengenai model kompetensi. Salah satunya Competency-based HRM (manajemen SDM berdasarkan kompetensi). Intinya perilaku individu yang paling bagus kinerjanya dijadikan tolok ukur. Perilaku ini menjadi patokan baku yang menggerakkan program SDM untuk mengembangkan gugus kerja yang lebih efektif. Kompetensi ini diintegrasikan dalam sistem SDM. Pendekatan model kompetensi lainnya adalah pendekatan “organizational” yang berarti model kompetensi ditekankan dalam organisasi dengan tipe organisasi tertentu.

PERAN PUSTAKAWAN

Peran pustakawan selama ini membantu pengguna untuk mendapatkan informasi dengan cara mengarahkan agar pencarian informasi dapat efisien, efektif, tepat sasaran, serta tepat waktu. Dengan perkembangan teknologi informasi maka peran pustakawan lebih ditingkatkan sehingga dapat berfungsi sebagai mitra bagi para pencari informasi. Sebagaimana fungsi tradisionalnya, pustakawan dapat mengarahkan pencari informasi untuk mendapatkan informasi yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Pustakawan dapat pula menyediakan informasi yang mungkin sangat bernilai, namun keberadaannya sering tersembunyi, seperti literatur kelabu (grey literature). Bahkan pustakawan dapat berfungsi sebagai mitra peneliti dalam melakukan penelitian.

Merujuk hal tersebut di atas, jelas terlihat kaitan yang erat antara pustakawan sebagai pengelola informasi dengan perannya dalam menunjang tridharma perguruan tinggi. Selain melakukan layanan sirkulasi, pengadaan dan pengolahan bahan pustaka, pustakawan juga harus mampu mengelola laporan administrasi; mengelola Web-OPAC, melakukan pelestarian dokumen (diantaranya mengolah dokumen menjadi bentuk digital); mengelola layanan pinjam antar perpustakaan (PAP); melakukan control keamanan bahan pustaka; mengelola layanan multi media (CD/DVD/Audio kaset/sinar X dll.); mengelola dan mencetak barkod; mengelola keanggotaan pengguna, melakukan penyusunan anggaran; melakukan katalogisasi (pra dan pasca catalog); melakukan layanan SDI; melakukan konversi data; mengelola e-mail; membuat laporan; mengelola terbitan berseri dan melakukan tugas-tugas lainnya yang berkaitan dengan teknologi informasi.. Dalam melakukan tugas kesehariannya, pustakawan dituntut bekerja secara profesional, jujur, berdedikasi tinggi, kreatif dan inovatif. Sebagai tolok ukur profesionalisme, semua bukti kegiatan seyogyanya dituangkan dalam lembar kinerja yang menggambarkan produktivitas dan kinerjanya dari waktu ke waktu, setiap hari, setiap minggu dan setiap bulannya.

Dengan adanya lembar kinerja yang rutin diisi oleh pustakawan setiap harinya, mau tak mau, pustakawan terpacu untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Laporan tersebut dapat menjadi indikator kinerja, produktifitas dan peran pustakawan dalam menjalankan profesinya. Peran pustakawan sebagai mitra bagi mahasiswa, dosen dan masyarakat sekitarnya, diakui semakin baik dari tahun-ke tahun. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya pengguna yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan, baik dokumen tercetak maupun elektronik, secara langsung datang ke perpustakaan ataupun tidak langsung (mencari literatur via e-mail atau menelusuri catalog on line). Sebagai contoh, statistik pengunjung perpustakaan IPB yang datang langsung ke perpustakaan pada tahun 1998 adalah 162.801 orang; tahun 1999 sebanyak 224.522 orang; tahun 2000 sebanyak 255.463 orang, tahun 2004 sebanyak 272.302 orang dan tahun 2005 sebanyak 248.084 orang. Dari data tersebut tampak adanya kecenderungan jumlah pengunjung yang meningkat dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2005. Peningkatan jumlah pengunjung dapat menjadi salah satu indikator peningkatan mutu pelayanan yang terkait juga dengan kompetensi dan peran pustakawan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL

Perguruan tinggi bertaraf internasional. Kata-kata itu sering didengungkan oleh pimpinan atau pejabat di lingkungan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Sesungguhnya apa dan bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat dikatakan bertaraf internasional? Berikut ini kutipan dari sambutan rektor IPB pada upacara wisuda tahap III tahun akademik 2004/2005 di Graha Widya Wisuda, Bogor. ” Suatu perguruan tinggi dapat disebut bertaraf internasional setidaknya harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya adalah: 1) jumlah dosen yang bergelar doktor harus lebih dari 75%, 2) persentase mahasiswa pascasarjana harus sama dengan atau lebih besar dari 75% dari total mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, 3) publikasi internasional yang diterbitkan oleh setiap staf pengajar per tahun minimal dua publikasi di jurnal terakreditasi secara internasional, 4) besarnya dana untuk kegiatan riset untuk setiap staf > USD 1300 per tahun, 5) jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi tersebut minimal 5%, 6) Koneksi internet minimal 15 Mb dengan koneksi Wifi. Dengan kriteria tersebut maka jelas masih belum ada universitas di Indonesia yang dapat masuk kelas dunia”. Dari sambutan rector  IPB tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meraih visi perguruan tinggi bertarafinternasional amatlah berat, dibutuhkan kerja keras dari berbagai fihak. Kesungguhan dan perhatian pemerintah di bidang pendidikan juga sangat menentukan keberhasilan pencapaian visi tersebut. Sarana dan prasarana pendidikan harus dikelola dengan baik, termasuk perpustakaan yang dikelola oleh pustakawan profesional.

PERMASALAHAN

Meningkatnya kebutuhan pengguna akan informasi yang akurat, bernilai, relevan, dan tepat waktu akan menghadapkan profesi pustakawan pada tantangan yang semakin berat dan kompleks. Sampai saat ini masih banyak terdengar keluhan sulitnya mendapatkan informasi yang tepat, akurat, relevan, murah dan cepat. Hampir seluruh dosen dan atau pengguna menginginkan informasi yang dibutuhkannya dapat diperoleh dengan cepat, tepat, akurat dan efisien, baik dari segi waktu dan biaya. Tingkat kenyaman pengguna dalam menikmati layanan informasi juga masih belum terpenuhi. Semuanya ini merupakan tantangan yang perlu segera dipikirkan dan disiasati dengan model pembaharuan dalam etos kerja dan kinerja pustakawan ke arah yang lebih “proaktif dan inovatif”. Konsekuensi logis dari tuntutan pembaharuan tersebut adalah melakukan pembenahan yang menyeluruh (holistic). Pustakawan dituntut agar dapat mengeksplorasi cara baru guna mengembangkan produk yang dapat ditawarkan ke pengguna untuk memperoleh akses informasi serta meningkatkan kualitas layanan untuk kepentingan pengguna. Sudah tiba waktunya, pustakawan yang profesional menyediakan jasa layanan prima. Perpustakaan, dalam upayanya mendukung Perguruan tinggi yang bertaraf internasional, masih menghadapi kendala yang cukup kompleks dan beragam, mulai daribirokrasi yang rumit, SDM yang tidak profesional hingga pendanaan yang macet atau tersendat-sendat dalam setiap kegiatan pengembangan perpustakaan. Disamping permasalahan yang cukup kompleks tadi, hingga saat ini belum ada undang-undang mengenai sitem nasional perpustakaan. Undang-undang yang berfungsi sebagai paying hukum yang mengikat pemerintah dan warganegara dalam menatalaksana perpustakaan di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan sistem nasional. Sistem nasional perpustakaan yang berfungsi sebagai prasarana atau infrastruktur bagi pengelolaan dan wadah pendayagunaan seluruh sumber informasi untuk kepentingan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat.

KOMPETENSI PUSTAKAWAN

Untuk mengatasi permasalahan dan tantangan yang semakin berat dan kompleks, dalam mendukung terwujudnya perguruan tinggi bertaraf internasional, mau tidak mau pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi pribadi. Dalam membangun kompetensi profesional, seorang pustakawan harus:

  • Mengembangkan dan mengelola layanan informasi yang nyaman, mudah diakses, efektif dari segi biaya, yang sejalan dengan arahan strategis institusi/organisasi;
    Contoh:
    Menyusun dan mengembangkan rencana strategis yang sesuai dengan tujuaninstitusi/organisasi. Memperhatikan kebutuhan dan mau mendengarkan aspirasi
  • Memiliki keahlian tentang isi sumber-sumber informasi, termasuk kemampuan untuk engevaluasi secara kristis dan menyaringnya;
    Contoh:
    Memantau perkembangan informasi global, memilih, menyaring dan mampu menyeleksi informasi yang relevan dan up to date bagi kepentingan pengguna.
  • Memiliki pengetahuan/ketrampilan khusus dalam bidang tertentu, sesuai dengan kepentingan institusi/organisasi;
    Contoh:
    Pustakawan harus berani mengambil kursus/pelatihan di bidang Pusdokinfo, manajemen, atau subyek lain yang berkaitan dengan institusi atau organisasi tempat mereka bekerja.
  • Menyediakan pengajaran dan dukungan yang baik untuk pemakai perpustakaan dan layanan informasi;
    Contoh:
    Memberikan informasi tentang penggunaan fasilitas perpustakaan dengan baik (user education), membuka layanan informasi dan menjalin komunikasi dengan pengguna Menyediakan bantuan dan referensi secara on-line.
  • Menilai kebutuhan pemakai, merancang serta memasarkan produk dan layanan informasi bernilai tambah untuk memenuhi kebutuhan tersebut;
    Contoh:
    Melakukan penilaian kebutuhan secara. Rutin, menggunakan instrumen penelitian seperti kuesioner, wawancara dengan pengguna dan narasumber.
  • Menggunakan teknologi informasi yang tepat untuk pengadaan, pengolahan, dan penyebaran informasi;
    Contoh:
    Membuat katalog koleksi perpustakaan secara on-line (OPAC). Menghubungkan penelusuran katalog dengan layanan pengiriman dokumen. Bekerja sama dengan tim manajemen informasi untuk memilih piranti lunak dan piranti keras yang tepat untuk akses komputer ke katalog perpustakaan dan pangkalan data lainnya.
  • Menggunakan pendekatan bisnis dan manajemen yang tepat untuk mengkomunikasikan pentingnya layanan informasi kepada fihak pimpinan;
    Contoh:
    Mengembangkan rencana bisnis untuk perpustakaan. Menghitung pengembalian investasi untuk perpustakaan dan layanannya. Mengembangkan rencana pemasaran untuk perpustakaan. Melaporkan kepada manajemen mengenai usaha perbaikan kualitas secara terus menerus. Menunjukkan bahwa perpustakaan dan layanan informasi dapat menambah nilai organisasi. Berkompetensi sebagai sumber daya manajemen berkualitas bagi organisasi.
  • Mengembangkan produk informasi khusus untuk penggunaan di dalam atau di luar institusi/organisasi atau pengguna secara perorangan;
    Contoh:
    Membuat pangkalan data dokumen internal seperti laporan, panduan teknis atau  bahan-bahan yang digunakan untuk proyek-proyek khusus. Membuat agar file dokumen lengkap mudah ditelusur. Menyediakan panduan teknis on-line. Membuat situs dalam jaringan. Web institusi/organisasi dan menghubungkannya dengan situs lain dalam internet. Berpartisipasi dalam kegiatan manajemen untuk menciptakan, menangkap, mempertukarkan, menggunakan, dan mengkomunikasikan modal intelektual institusi/organisasi
  • Secara terus menerus memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan kebutuhan pemakai;
    Contoh:
    Memantau arah gejala industri dan penyebaran informasi untuk orang-orang penting dalam institusi/organisasi atau klien secara perorangan. Memfokuskan kembali layanan informasi sesuai kebutuhan baru dalam bisnis. Melakukan pengiriman dokumen tepat waktu untuk mencapai fleksibilitas maksimal.
  • Menjadi anggota dari tim manajemen senior dan konsultan untuk organisasi dalam hal informasi yang efektif;
    Contoh:
    Berpartisipasi dalam perencanaan strategis dalam organisasi. Berpartisipasi dalam studi informasi dan tim teknis. Menginformasikan kepada manajemen mengenai masalah hak cipta dan kesesuaiannya dengan hukum hak cipta. Negosiasi kontrak dengan penyedia pangkalan data. Memperoleh informasi paten. Mengembangkan kebijakan informasi untuk institusi/organisasi.

Dalam membangun kompetensi pribadi, seorang pustakawan harus:

  • Memiliki pandangan jauh dan luas ke depan;
    contoh :
    Memahami bahwa pencarian informasi dan penggunaannya sebagai bagian dari proses kreatif bagi individu dan organisasi. Memandang perpustakaan dan layanan informasi sebagai bagian dari sebuah proses lebih besar dalam membuat keputusan. Memantau arah gejala bisnis utama dan peristiwa-perjstiwa internasional. Mengantisipasi arah gejala dan secara proaktif mengatur kembali perpustakaan dan layanan informasi untuk mengambil manfaat daripadanya.
  • Melayani pengguna dengan baik, santun dan ramah;
    contoh :
    Mencari umpan balik kinerja dan menggunakannya untuk perbaikan secara terus menerus. melakukan kajian pemakai secara rutin. Berbagi pengetahuan baru dengan orang lain dalam konferensi atau literatur profesional. Tetap bersikap santun dan ramah kepada pengguna walau, dalam kondisi yang melelahkan.
  • Mencari tantangan dan melihat peluang baru, baik di dalam maupun di luar perpustakaan;
    contoh :
    Ambil kompetensi baru dalam organisasi yang memerlukan seorang pemimpin informasi. Gunakan pengetahuan dan keahlian perpustakaan untuk memecahkan berbagai masalah-masalah informasi dalam arti luas. Ciptakan perpustakaan tanpa dinding (perpustakaan digital atau perpustakaan virtual)
  • Bekerja sama dan beraliansi;
    contoh :
    Menjalin aliansi dengan profesional sistem informasi manajemen. Membangun kerja sama dengan perpustakaan atau layanan informasi lain, baik di dalam maupun di luar organisasi untuk mengoptimalkan resource sharing. Menjalin aliansi dengan pemilik pangkalan data dan penyedia informasi lain untuk meningkatkan produk dan layanan. Menjalin aliansi dengan peneliti fakultas ilmu perpustakaan dan informasi untuk melakukan kajian-kajian yang terkait.
  • Menciptakan lingkungan yang saling mempercayai dan saling menghargai;
    contoh :
    Menghargai kelebihan dan kemampuan orang lain. Mengenali kekuatan sendiri dan kekuatan orang lain dengan seimbang. Membantu orang lain untuk mengoptimalkan
  • Memiliki keahlian berkomunikasi yang efektif;
    contoh :
    Mempresentasikan gagasan secara jelas dan antusias. Menulis teks secara jelas dan mudah dimengerti. Menggunakan bahasa yang umum. Meminta umpan balik dalam keahlian berkomunikasi dan menggunakannya untuk perbaikan diri.
  • Bekerja dengan baik dengan sesama anggota tim;
    contoh :
    Mempelajari kebijaksanaan tim dan mencari peluang untuk partisipasi tim: Ambil tanggung jawab dalam tim, baik di dalam maupun di luar perpustakaan. Membimbing anggota tim lainnya. Meminta bimbingan dari anggota tim lain bila diperlukan.
  • Mempunyai sifat pemimpin;
    contoh :
    Mempelajari dan mengembangkan kualitas seorang pemimpin yang baik dan mengetahui cara untuk melatih kepemimpinan tersebut. Dapat membagi kompetensi kepemimpinan dengan yang lain dan memberikan kesempatan orang lain untuk berkompetensi sebagai pemimpin.
  • Belajar terus menerus dan mempunyai perencanaan karir pribadi.
    contoh :
    Meniti karir dengan belajar secara terus menerus dan mengembangkan pengetahuan. Memiliki tanggung jawab pribadi untuk perencanaan karir jangka panjang dan mencari kesempatan untuk belajar dan memperkaya ilmu.
  • Memahami nilai solidaritas dan jaringan profesional;
    contoh :
    Berkompetensi aktif dalam asosiasi Pustakawan dan asosiasi profesional lainnya. Menggunakan peluang ini untuk berbagi pengetahuan dan keahlian, untuk studi banding dengan penyedia layanan informasi lainnya, membentuk kemitraan dan aliansi.
  • Bersifat fleksibel dan positif menghadapi perubahan terus menerus;
    contoh :
    Dapat menerima tanggung jawab yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula dan merespon kebutuhan akan perubahan. Memelihara sifat positif dan membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Menolong orang lain untuk mengembangkan gagasan mereka dengan cara menyediakan informasi yang benar.

SOLUSI

Dengan membagun/mengembangkan kompetensi profesional dan kompetensi pribadi, pustakawan diharapkan mampu menjadi mitra sejati bagi para dosen dalam mengembangkan karirnya menuju tingkat akademis yang lebih tinggi (tingkat doctoral), disamping itu, pustakawan juga harus proaktif mencarikan solusi bagi dosen yang ingin membuat artikel/tulisan di jurnal internasional, dengan cara membantu menyediakan bahan pustaka yang diperlukan dalam penulisan artikel tersebut. Untuk meraih perguruan tinggi bertaraf internasional tentunya harus ada kerjasama yang harmonis antara pemerintah dan institusi terkait, dalam hal ini pendanaan untuk penelitian berstandar internasional (USD 1300 per tahun) harus direalisasikan. Peningkatan SDM pengajar diharapkan juga mampu membuka peluang pengembangan program-studi pasca dari berbagai disiplin ilmu, sehingga minat masyarakat untuk meneruskan kuliah pasca sarjana semakin meningkat. Sarana dan prasarana pendidikan (termasuk perpustakaan), harus benar-benar diperhatikan dengan serius, karena hal ini juga menjadi modal dan daya tarik bagi calon mahasiswa (terutama untuk menarik minat mahasiswa asing).

Kerjasama yang baik antara perguruan tinggi di dalam dan luar negeri juga harus terjalin dengan erat. Dengan adanya program pertukaran mahasiswa, membuka peluang dan kesempatan bertukar pengalaman, wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa. Program pertukaran mahasiswa dalam dan luar negeri, dapat meningkatkan statistik mahasiswa asing yang belajar di perguruan tinggi di dalam negeri. Satu hal yang patut diperhatikan dan menjadi dasar keberhasilan pembangunan adalah kesejahteraan. Kesejahteraan dari staf pengajar (dosen) dan staf penunjang (pustakawan) harus benar-benar ditingkatkan. Karena tidak dapat dipungkiri tingkat kesejahteraan menjadi salah satu faktor penetu dalam bekerja dan berkarya. Kesemuanya itu seperti rantai yang saling terkait satu sama lainnya, keberhasilan pencapaian visi harus ditunjang oleh berbagai fihak disertai dengan kemauan dan kesungguhan dalam pelaksanaanya.

KESIMPULAN

Dengan adanya keselarasan semua unsur tadi (profesionalisme SDM, sarana dan prasarana yang moderen, pendanaan yang cukup disertai kesejahteraan yang memadai) dapat diyakini, visi perguruan tinggi mencapai taraf internasional akan tercapai.

Kompetensi pustakawan jika dibangun dan diasah dengan baik, maka akan dapat membantu mewujudkan Perguruan tinggi bertaraf internasional. Memang tidak mudah, meraih semua itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya harus diusahakan dan diperjuangkan, dibutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mewujudkan visi perguruan tinggi melalui kompetensi dan peran pustakawan.

Iklim sosial politik dan kesungguhan Pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pemebelajaran sepanjang hayat perlu ditingkatkan. Sarana dan prasarana pendidikan, salah satunya perpustakaan harus dibenahi dari segenap aspek. SDM perpustakaan/pustakawan dituntut memiliki pandangan jauh ke masa depan, namun tetap berpijak pada akar budaya yang ada. Pustakawan harus mampu menjembantani peradaban di masa lampau, masa kini dan masa mendatang Tantangan yang digambarkan oleh kompetensi ini harus diraih dan dilakukan saat ini agar visi menjadi perguruan tinggi bertaraf internasional dapat tercapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

SARAN

Agar peran pustakawan dalam membantu mewujudkan visi perguruan tinggi dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan, dibutuhkan kerjasama yang harmonis, terarah dan terpadu dari berbagai fihak, mulai dari pucuk pimpinan hingga bawahan (grass root). Diperlukan perjuangan dengan segenap upaya untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang ada. Peran dan kompetensi pustakawan harus lebih ditingkatkan dengan memperhatikan kepentingan pengguna dan terus mengikuti perkembangan zaman. Upaya-upaya yang perlu dilakukan yaitu:

  1. Penerapan disiplin yang tinggi, dimulai dengan sistim kehadiran. Sudah waktunya staf pengajar dan staf penunjang menerapkan sitim kehadiran dengan menggunakan komputer dan atau finger print. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kedisiplinan staf;
  2. Seyogyanya, dalam melaksanakan kegiatan, ada deskripsi kerja yang jelas (Tupoksi: tugas pokok dan fungsi). Hal ini penting agar setiap individu dapat melaksanakan kegiatan kerja secara terarah, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya;
  3. Perbaikan pendidikan (formal maupun non formal). Program ini penting dijalankan  ntuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan pegawai dalam menjalankan tugasnya. Perbaikan pendidikan juga sangat mendukung perbaikan kinerja yang pada akhirnya dapat membantu perguruan tinggi dalam mewujudkan visinya;
  4. Political will pemerintah untuk menginternasionalkan Perguruan Tinggi Indonesia harus ditunjang dengan perangkat/peraturan pemerintah yang mendukung segenap aspek ketersediaan dana, kemudahan pertukaran mahasiswa dalam dan luar    negeri, perundang-undangan perpustakaan, SDM yang professional dan jujur);
  5. Perlunya dilakukan pemetaan dan analisis terhadap program-program yang sedang berjalan dan akan dikembangkan, hal ini penting sebagai dasar penetuan kebijakan yang akan diambil;
  6. Adanya standar prosedur kegiatan (Standard Operation Procedur) di setiap unit/badan/lembaga/organisasi/institusi. Hal ini penting agar setiap kegiatan mempunyai arah dan tujuan yang jelas;
  7. Terciptanya suasana kerja yang kondusif. Hal ini penting demi terciptanya suasana kerja yang nyaman, sehingga diharapkan kinerja dan produktifitas pegawai dapat lebih baik lagi;
  8. Perlunya meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional and spiritual quotient). Hal ini penting untuk membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, jujur, disiplin, loyal, penuh dedikasi dan berjiwa sosial tinggi. Pribadi seperti itulah yang dapat menjadi modal dasar dalam mewujudkan visi perguruan tinggi yaitu mencapai taraf internasional, namun tetap memiliki kepribadian Indonesia yang luhur;
  9. Perhatian terhadap perpustakaan harus ditingkatkan, dengan menerbitkan Undang-undang tentang sistem nasional perpustakaan Indonesia, Undang-undang ini penting dan dapat berfungsi sebagai payung pelindung dan pengikat pemerintah dan masyarakat demi terwujudnya masyarakat yang cerdas dan berkebudayaan;
  10. Pembentukan Dewan Perpustakaan yang akan mengarahkan pembinaan, pembangunan dan pengembangan perpustakaan di Indonesia
  11. Kesejahteraan staf pengajar dan pustakawan, selayaknya diperhatikan dengan serius dan berpijak pada unsur keadilan, sehingga terjadi hubungan kerja yang harmonis antara dosen dan pustakawan;
  12. Seyogyanya saran-saran di atas, diaktualisaikan dan diaplikasikan secara bertahap, berkesinambungan, arif dan bijaksana. Sehingga tujuan dan cita-cita bersama yaitu mewujudkan perguruan tinggi bertaraf internasional dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta:  Balai Pustaka. 1989.
  2. Echols, John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta : Gramedia.  2000.
  3. http://www.growthcompusoft.com/librarysoftware.in/librarian/management Diakses    22 Maret. 2006
  4. Indonesia. Perpustakaan Nasional. http://www.pnri.go.id/. Diakses tanggal 23 Maret   2006.
  5. Indonesia. Perpustakaan Nasional. Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Perpustakaan Nasional RI. 2004.
  6. Institut Pertanian Bogor. http://www.iel.ipb.ac.id. Diakses 23 Maret. 2006.
  7. Klausmeier, J. Herbert and William Goodwin. Learning and Human Abilities,Educational Physiology. 4th ed. New York: Harper and Row Publisher. 1975
  8. Komalasari, Rita. Membangun Sumber Daya Manusia IPB di Era Otonomi Untuk mencapai Visi dan Misi IPB. UPT Perpustakaan. Institut pertanian Bogor. 2001.
  9. Lien, Diao Ai. Peranan Perpustakaan dalam Meningkatkan Daya saing Perguruan Tinggi. Kerjasama Forum PPTI-Perpustakaan Nasional RI-Universitas Tarumanegara. 2002
  10. Marshall, Joane; Linda Moulton; Roberta Piccoli. Kompetensi Pustakawan khusus di Abad ke-21. BACA. Jurnal Dokumentasi dan Informasi vol. 27 (2), 2003.
  11. Perpustakaan Nasional RI. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang Perpustakaan, 2006.

Mendamba Pustakawan Profesional Di Tengah Masyarakat

Hasil wawancara : Bagus Sandi Tratama dengan Dra.Tri Hardiningtyas, M.Si pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta

Perpustakaan boleh dikatakan adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan merupakan tempat pembelajaran serta pengkoleksian hasil karya budaya dan intelektual manusia yang berujud karya tulis hingga karya rekam. Keberadaan sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menjadi fasilitator terwujudnya masyarakat yang berilmu, kreatif, dan mandiri. Selain keberadaan sarana dan prasarana wajib seperti koleksi karya cetak seperti buku sebuah perpustakaan yang ideal harus juga ditunjang keberadaan sumber daya manusia pengelola yang profesional.

Namun harapan keberadaan pustakawan professional ternyata saat ini belum mampu terwujud secara maksimal. Dalam acara Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Surakarta kemarin, (22 – 23/10) terkuak jika dari 27.964 tenaga perpustakaan di Indonesia yang berstatus pustakawan hanya sebanyak 2.963 orang saja. Selain itu kompetensi dalam bidang perpustakaan juga relative rendah yaitu hanya sekitar 6.900 orang atau baru 24% pekerja perpustakaan yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan bidang perpustakaan. Sisanya sejumlah 76% atau 21 ribu orang lebih belum pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang kepustakawanan.

Padahal seperti diungkapkan oleh Tri Hardiningtyas pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut, “Secara normative pustakawan dapat dianggap sebagai tenaga professional karena memiliki kriteria seperti adanya lembaga pendidikan, organisasi profesi, kode etik, tunjangan profesi hingga publikasi ilmiah,” ungkapnya. Selain itu keberadaan profesi pustakawan sendiri dilindungi payung hukum berupa SK Menpan No 132 tahun 2002 dan Undang-Undang No 43 tahun 2007.

Meskipun  beberapa persyaratan normatif dari profesi kepustakawanan telah ada namun beberapa faktor lain disinyalir menjadi sebab tidak berkembangnya profesi kepustakawanan. Menurut Syamsul Bahri, SH, M.Si selaku Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca berbagai faktor tersebut adalah rendahnya minat generasi muda menggeluti ilmu perpustakaan di perguruan tinggi, ketergantungan pustakawan pada birokrat, kurangnya rasa percaya diri pada pustakawan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan pustakawan, belum memadainya tunjangan jabatan fungsional pustakawan, “Selain itu saat ini profesi pustakawan juga minim apresiasi dari pemerintah, kalangan pendidik, peneliti sampai masyarakat,” tuturnya.

Untuk mengatasi permasalahan di atas solusi coba ditawarkan beberapa pembicara dalam acara tersebut. Menurut Tri Hardiningtyas hal pertama yang harus dilakukan para pustakawan adalah dengan menunjukkan prestasi pustakawan di masyarakat dengan turut aktif dan kreatif mengabdi pada masyarakat. Hal kedua yang mesti dilakukan adalah meningkatan kerjasama antara para pustakawan dengan pemerintah baik pusat hingga daerah juga penting untuk dilakukan dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi.

Secara individu para pustakawan menurut Tri Hardiningtyas juga harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang semakin berkembang dan menantang. “Pustakawan saat ini dituntut untuk tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus juga mempunyai nilai tambah. Pustakawan saat ini sudah waktunya berpikir kewirausahaan dengan bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tetapi tetap layak dipakai masyarakat,” terangnya. Selain itu pustakawan juga dituntut memiliki motivasi tinggi dan kemampuan komunikasi yang baik kepada konsumen atau pemustaka agar dicapai kepuasan pengguna.

Agar keberadaan pustakawan di masyarakat semakin diakui menurutnya para pustakawan juga harus mampu mengimplementasikan UU No 43/2007 pasal 5 yang menuntut peran aktif pustakawan terjun dimasyarakat. Pelayanan aktif dari pustakawan ini semisal mampu memberikan layanan perpustakaan secara khusus pada masyarakat daerah terpencil atau terbelakang dan masyarakat yang memiliki cacat fisik, emosional, mental, intelektual dan sosial.

Namun bagaimanapun keberadaan perpustakaan berserta para pustakawannya akan kembali lagi ke dasar permasalahan yaitu tentang minat baca masyarakat. Karena salah satu tugas perpustakaan adalah mengajak masyarakat untuk gemar membaca informasi di perpustakaan. Menanggapi hal ini, Tri Hardiningtyas ditemui diluar acara mengungkapkan tanggung jawab meningkatkan minat baca masyarakat bukan hanya tanggung jawab para pustakawan saja melainkan pemerintah, masyarakat hingga keluarga

Perkembangan jaman yang memberikan konsekuensi terhadap keberadaan teknologi informasi modern seperti internet juga membuat perpustakaan serta para pustakawannya berbenah diri. “Sekarang perpustakaan sudah sulit jika memaksa masyarakat membaca buku di perpustakaan karena masyarakat sudah nyaman dengan mendapatkan informasi melalui internet,” tuturnya. Akibatnya minat baca masyarakat sudah tidak lagi dapat diukur dengan melihat ramai tidaknya sebuah perpustakaan dikunjungi oleh masyarakat.

SEKELUMIT TENTANG DENDA DAN SANKSI PERPUSTAKAAN

ditulis kembali oleh : Dra. Tri Hardiningtyas, MSi

Ada kemungkinan, seseorang yang bermasalah dengan perpustakaan, akan mengeluh tentang denda dan sanksi perpustakaan. Dalam hal ini, keluhan berhubungan dengan pemakaian koleksi suatu perpustakaan. Seseorang yang pernah menerima permasalahan dengan perpustakaan, akan menjadikan dirinya untuk berbuat lebih baik atau bahkan sebaliknya, menghindari dari permasalahan. Hal terbaik yang sudah seharusnya dilakukan adalah dengan menerima masalah yang ada, merenungkan, dan menilai atau evaluasi diri atas masalah yang ada. Seseorang akan semakin paham dan mengerti sesuatu karena belajar dari pengalaman. Sebagaimana ada ungkapan, pengalaman adalah pelajaran terbaik. Bagaimana kaitannya antara pengalaman (permasalahan) dengan perpustakaan? Apakah yang dimaksud dengan denda perpustakaan?

Permasalahan (pengalaman) dengan perpustakaan

Pengalaman adalah guru terbaik. Begitulah yang biasa kita dengar  bila seseorang menyampaikan pengalamannya atau seseorang melakukan pemecahan masalah yang pernah dihadapi. Masalah jangan kita hindari, begitu datang berarti saatnya untuk kita introspeksi dan mengurai setiap kejadian yang ada. Semakin sering seseorang menghadapi dan dapat mengurai masalah yang ada, semakin matanglah seseorang dengan kehidupan. Bagaimana jika pengalaman yang terjadi berkaitan dengan perpustakaan? Apakah pada akhirnya dapat menjadi pelajaran berharga? Seberapa pentingkah perpustakaan sehingga bisa jadi pelajaran berharga? Sebenarnya, apa saja yang akan terjadi jika seseorang berhubungan dengan perpustakaan?

Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak setiap mahasiswa mengenal perpustakaan atau berkunjung ke perpustakaan tempat mahasiswa menuntut ilmu. Kemajuan teknologi informasi saat ini, sangat memungkinkan mahasiswa untuk tidak memanfaatkan perpustakaan yang disediakan oleh universitas/institutnya. Informasi yang dibutuhkan untuk perkuliahan maupun menyusun karya tulis dapat diperoleh melalui fasilitas internet. Meskipun demikian, keberadaan perpustakaan tetap dijadikan tujuan penunjang kegiatan pendidikan bagi mereka yang tidak/belum ada kesempatan untuk akses informasi dalam dunia maya. Tidak sedikit pengunjung perpustakaan lebih yakin dengan membaca dan mengenal fisik kemasan informasi (baca:buku/majalah) yang menjadi pegangan dalam menunjang kegiatan belajar maupun membuat karya tulis.

Seseorang yang datang ke suatu perpustakaan, pasti mempunyai maksud dengan seluk beluk perpustakaan. Apakah ingin mengenal petugasnya saja, hanya ingin tahu kegiatan suatu perpustakaan, mencoba menjelajah dunia melalui koleksi perpustakaan, melepaskan diri dari kepenatan hidup yang menimpanya, sampai pada hal-hal yang berhubungan dengan segala kegiatan yang ada di perpustakaan. Siapapun akan disambut dengan baik oleh pihak perpustakaan, jika kedatangannya pun dengan maksud yang baik.

Kegiatan yang selalu ada pada setiap perpustakaan adalah transaksi pinjam kembali koleksi perpustakaan kepada pengunjung/pemakai perpustakaan. Apabila ada suatu perpustakaan hanya memamerkan kekayaan koleksi tanpa bisa dinikmati oleh pengunjung, maka belum bisa disebut sebagai sebuah perpustakaan. Berkaitan dengan keberadaan perpustakaan sebagai penunjang kegiatan tri darma perguruan tinggi, maka setiap perpustakaan didirikan dengan berbagai fungsi tertentu, agar tujuan diselenggarakannya perpustakaan benar-benar dapat menjadi penunjang tercapainya kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Sangat disayangkan, apabila kita memiliki sesuatu akan tetapi tanpa ada manfaatnya. Demikian halnya dengan keberadaan perpustakaan di perguruan tinggi, sudah selayaknya digunakan semaksimal mungkin untuk tujuan perguruan tinggi yang bersangkutan. Salah satu manfaat perpustakaan yang berkaitan dengan denda yakni pemanfaatan koleksi perpustakaan oleh pengguna dengan cara dibaca di tempat lain (dipinjam dibawa pulang/difotokopi), sehingga harus dipinjam terlebih dahulu oleh pengguna. Pelaksanaan peminjaman koleksi tentunya dengan aturan tertentu sehingga ada manfaat saling menguntungkan, baik dari pihak perpustakaan maupun pengguna. Oleh karena itu, apabila terjadi suatu pelanggaran sudah sepantasnya jika dikenai sanksi. Salah satu tujuan adanya sanksi dengan maksud mendisiplinkan pengembalian koleksi. Adapun bentuk sanksinya berupa denda yang disebabkan pengembalian koleksi yang terlambat.

Sanksi yang dimaksudkan adalah tindakan-tindakan, atau hukuman untuk memaksa orang menepati janji atau menaati apa-apa yang sudah ditentukan (KUBI, 1976:870). Sanksi inilah yang biasanya menjadi hal yang memberatkan bagi pengguna. Meskipun pemberian sanksi ini sudah sesuai ketentuan yang berlaku dan sudah disepakati. Perlu kiranya dipahami dan diresapi makna arti kata sanksi, denda, dan sanksi lain berupa penggantian koleksi perpustakaan yang dihilangkan oleh pengguna. Perpustakaan mempunyai salah satu kegiatan berupa penagihan koleksi kepada para pengguna yang terlambat mengembalikan koleksi dan pengguna yang menghilangkan koleksi. Hal yang sering dihadapi oleh pihak perpustakaan, salah satunya dalam hal  memberikan pengertian mengenai perbedaan sanksi yang berupa denda keterlambatan pengembalian koleksi dan sanksi  menghilangkan koleksi oleh pengguna. Para pengguna sering meminta hanya salah satu sanksi. Padahal kedua hal tersebut di atas mempunyai pengertian yang berbeda; yakni  sanksi tentang keterlambatan mengembalikan koleksi dan sanksi menghilangkan koleksi.  Jika koleksi yang seharusnya dikembalikan hilang/dihilangkan padahal juga sudah terlambat dan melewati batas waktu peminjaman, maka pengguna tersebut akan menerima 2sanksi. Sehubungan dengan hal ini, para pengguna diminta untuk lebih memperhatikan kedua hal tersebut. Karena yang sering terjadi, pengguna keberatan atas sanksi yang ada. Perlu kiranya para pengguna perpustakaan memperhatikan dengan benar dan seksama tentang peraturan perpustakaan yang ada. Sebagaimana seseorang jika ingin bertandang ke rumah teman atau kerabat saudaranya sudah sepantasnya dengan menerapkan sopan santun (tata krama).

Apakah yang dimaksud dengan denda perpustakaan?

Denda menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah hukuman yang berupa keharusan membayar uang; uang yang harus dibayarkan sebagai hukuman  karena melanggar aturan, undang-undang, dan sebagainya (1976:240). Tanpa mengurangi hak-hak para pengguna perpustakaan, maka pemberlakuan denda terhadap pengguna sebenarnya  tidak perlu dipermasalahkan. Melakukan hal yang baik, memang memerlukan perjuangan. Niat perpustakaan yakni menerapkan peraturan yang sesuai dan telah disepakati. Jadi, apabila terjadi keterlambatan atau menghilangkan (merusakkan, memperlakukan koleksi dengan tidak pada tempatnya) koleksi oleh pengguna, maka segala resiko menjadi tanggung jawab pengguna.

Denda bukanlah untuk mengumpulkan sejumlah uang semata. Denda yang diberlakukan oleh pihak perpustakaan dimaksudkan agar koleksi yang dimiliki utuh lengkap dan terawat. Denda yang diberlakukan pun sebenarnya tidak hanya berupa uang, dapat juga diwujudkan dengan mengganti koleksi yang sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. Pada prinsipnya denda yang diberlakukan bertujuan saling menguntungkan serta saling berbagi dalam manfaat. Dengan demikian, pihak perpustakaan berharap pelaksanaan pelayanan perpustakaan dapat tetap berlangsung dengan lancar. Di samping itu,  komunikasi  antar pengguna dan perpustakaan  diharapkan dapat meningkat ke arah yang lebih baik. Saling pengertian menjadi hal penting agar pelaksanaan sanksi-sanksi yang berlaku semakin  terarah kepada kebaikan. Apalagi pemberlakuan sanksi di perpustakaan dapat dimusyawarahkan, karena memang tujuan pemberian sanksi dalam rangka perbaikan layanan perpustakaan.

sumber : MOTIVASI, ed.September 2008

MENINGKATKAN KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Oleh: Daryono

Pendahuluan

Tak bisa dipungkiri lagi, perkembangan Teknologi Informasi (selanjutnya disebut TI) telah maju sangat pesat. Semua bidang kehidupan hampir tidak ada lagi yang tidak mendapat sentuhan “keajaiban” TI. Para futuristik pun berlomba membuat ramalan-ramalan. Ada yang meramalkan bahwa konsumsi kertas diperkantoran akan semakin sedikit (paperless). Ada juga sosiolog yang meramalkan hubungan antar manusia akan semakin renggang karena makin tingginya interaksi antara manusia dengan komputer.

Tapi fakta yang kemudian terjadi, World Wide Web ternyata masih belum menggantikan media cetak. Penggunaan kertas justru makin meningkat karena sebagian besar orang mem-print dulu artikel yang hendak dibaca. Industri majalah bahkan semakin subur. Dunia dijital ternyata juga belum mampu membuat manusia menjadi mesin-mesin mekanis dan terisolasi dalam dunia mesin. Yang terjadi justru sebaliknya. Makin banyak terbentuk komunitas pembelajar dengan interes yang sama dan saling berbagai pengetahuan dalam media-media elektronik seperti mailing list dan chat room.

Sebuah riset dari The Pew Internet & American Life Project mendapati 26 juta warga Amerika menggunakan e-mail untuk meningkatkan intensitas berkomunikasi dengan anggota keluarga yang tinggalnya berjauhan. “Banyak orang yang hampir melupakan arti persahabatan tiba-tiba menjadi intim kembali dengan e-mail”, kata Adam Gopnik dalam artikelnya di The New Yorker.

Disisi lain, akses untuk mendapatkan informasi semakin mudah. Sehingga muncul buzzword baru seperti ledakan informasi (information explosion). Tapi sebagian orang mengatakan yang terjadi bukanlah ledakan informasi tetapi hanya ledakan non-informasi atau sesuatu yang tidak memberikan informasi apa-apa (stuff that simply doesn’t inform). Informasi saja tanpa alat dan pola yang tepat tidak akan berguna. Informasi saja tidak cukup. Web tidak akan memecahkan masalah yang dihadapi manusia, tetapi manusia yang terus belajar yang mampu memanfaatkan informasi dan memecahkan masalahnya sendiri.

Dari sini kemudian banyak pengamat kembali mengangkat betapa pentingnya pembelajaran bagi tiap orang yang menggunakan informasi. Hasil akhir pemanfaatan TI bagi manusia bukanlah hanya kemudahan dalam temu kembali informasi, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran (learning environment) dan membuat manusia yang terlibat didalamnya menjadi manusia-manusia pembelajar seumur hidup (long-life learners). Maka kemudian mulai populer konsep-konsep seperti knowledge management disamping information management yang telah muncul lebih dulu.

Bertolak dari konsep ini, tulisan ini mencoba membahas kompetensi pustakawan dan perpustakaan dalam hubungannya dengan pemanfaatan TI di perpustakaan agar memudahkan perubahan fungsi perpustakaan dari sebuah pusat informasi menjadi suatu lingkungan pembelajaran bagi pemakai.

Manajemen Informasi dan Manajemen Pengetahuan

Pembahasan tentang kompetensi perpustakaan dan pustakawan di era kemajuan TI, harus dimulai dengan pemahaman bersama terlebih dulu tentang Manajemen Informasi (selanjutnya disebut MI) dan Manajemen Pengetahuan (MP). Kenapa? Karena pada dua domain inilah kompetensi-kompetensi utama perpustakaan dan pustakawan ada.

Untuk mulai membahas MI dan MP, maka dimulai dengan terlebih dulu membahas perbedaan antara apa yang dimaksud dengan Informasi (Information) dan Pengetahuan (Knowledge).
F.N. Teskey, seperti dikutip oleh Pendit (1992), memberikan model:

Data è Informasi è Pengetahuan

Data merupakan hasil pengamatan langsung terhadap suatu kejadian atau suatu keadaan; ia merupakan entitas yang dilengkapi dengan nilai tertentu.
Pengetahuan merupakan model yang digunakan manusia untuk memahami dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran manusia.
Model yang hampir sama juga diusung oleh Powell (2003). Menurut Powell, Data adalah koleksi terstruktur dari kumpulan fakta (structured collection of quantitative facts), Informasi adalah data atau fakta dengan arti (data or facts with meaning) dan Pengetahuan merupakan hasil atau keluaran atau nilai dari informasi (producing significance or value from information).

Model lain yang mirip juga dikemukakan Nathan Shedroff, seperti dikutip oleh Wurman (2001). Bahkan Shedroff menambahkan satu lagi tahap sesudah pengetahuan, yaitu Kebijakan (Wisdom).

Data è Informasi è Pengetahuan è Kebijakan

Menurut penulis, model Data è Informasi è Pengetahuan (kita namakan saja DIP) diatas mempunyai beberapa kelemahan.
Pertama, bagi model diatas, data dianggap sesuatu yang bebas nilai. Artinya, interpretasi proses pengambilan (capture) suatu fakta menjadi data, dianggap tidak mengandung muatan apa-apa sampai ia diinterpretasikan menjadi informasi. Bagi para sosiolog aliran konstruksionis, definisi data seperti diatas tidak tepat. Bagi mereka, fakta tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi merupakan sesuatu yang dibentuk atau dikonstruksi. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu fakta. Tergantung pada pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu. Berarti, sudah ada proses interpretasi manusia melalui pengetahuan sebelumnya dalam mengumpulkan data (Eriyanto, 2002).

Kedua, Model diatas tidak diatas tidak memberikan batasan dengan jelas kapan sesuatu itu dianggap informasi, kapan sesuatu itu sudah bisa dianggap pengetahuan. Kalau kita mendapat pesan bahwa “Air yang dipanaskan pada suhu mendidih 100 derajat celcius bisa mematikan kuman. Dan bila kuman tersebut mati maka penyakit kolera akan sulit berkembang”, apakah ini suatu informasi atau pengetahuan? Batasannya sangat tidak jelas.

Dengan alasan-alasan diatas, penulis menawarkan model lain dalam membedakan antara Informasi dan Pengetahuan. Yaitu:

  1. Informasi adalah sesuatu yang kita bagi melalui beragam media komunikasi yang ada (Information is something that we share).
  2. Pengetahuan adalah sesuatu yang masih ada didalam pikiran kita (Knowledge is something that is still in our mind).
  3. Informasi sama dengan pengetahuan yang dibagi atau telah dikomunikasikan melalui berbagai media yang ada (Information is shared knowledge).

Dengan pembedaan yang lebih jelas antara Informasi dan Pengetahuan, maka selanjutnya kita mulai definisikan MI dan MP.
Manajemen Informasi adalah tehnik pengaturan atau organisasi agar informasi (shared knowledge) mudah dicari dan gunakan kembali oleh pemakai. Yang termasuk dalam proses manajemen informasi antara lain: pengumpulan informasi, pengolahan informasi, kemas ulang informasi, temu kembali informasi.
Sedangkan Manajemen Pengetahuan adalah tehnik membangun suatu lingkungan pembelajaran, dimana orang-orang didalamnya mau terus belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapat. Yang termasuk dalam proses manajemen pengetahuan antara lain: pembelajaran (individu, organisasi, kolaborasi) dan berbagi (sharing) pengetahuan.

Kompetensi Perpustakaan dan Pustakawan

Bentuk perpustakaan ideal selalu berubah dari masa ke masa. Bila dulu indikator perpustakaan ideal dilihat dari besar koleksi dan gedung, maka sekarang sudah berubah menjadi sejauh apa perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan pembelajaran komunitas pemakainya. Termasuk didalam kebutuhan pembelajaran antara lain: belajar, pemenuhan kebutuhan informasi, rekreasi, pendidikan, penelitian, interaksi dengan orang lain, fasilitas untuk berbagi pengetahuan dan kebutuhan untuk melakukan inovasi dan kreatifitas. Selama perpustakaan terlalu berkonsentrasi pada manajemen informasi, padahal tuntutan pemakai ingin agar perpustakaan berubah menjadi pusat pembelajaran komunitas pemakainya.

Perpustakaan saat ini dituntut mampu berubah mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perkembangan TI telah banyak mengubah karakter sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam berkompetisi, dan lain-lain. Pada banyak institusi bisnis, para profesional informasi mulai dituntut untuk mampu mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan membantu manajemen dalam pengambilankeputusan bisnis.

Kebutuhan pembelajaran juga tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang serius melulu. Membaca komik pun bisa dianggap sebagai suatu pembelajaran. Pada akhirnya semua itu berujung pada tuntutan pemakai agar perpustakaan tidak hanya sekedar tempat mencari buku atau membaca majalah, tetapi menjadi semacam one-stop station bagi mereka. Suatu lingkungan dimana pemakai bisa:

• Berinteraksi dengan orang lain.
• Mencari informasi yang dibutuhkan.
• Berbagi pengetahuan
• Merasa termotivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas.

1) Kompetensi Perpustakaan

a) Intrastruktur Teknologi Informasi

Pemanfaatan TI saat ini menjadi kewajiban hampir dibanyak perpustakaan. TI membantu perpustakaan memperbaiki kualitas dan jenis layanan. Minimal saat ini sebuah perpustakaan harus mempunyai:

  • Jaringan lokal (Local Area Network) berbasis TCP/IP. Keuntungan TCP/IP adalah banyaknya aplikasi (misalnya: WWW) yang berjalan pada infrastruktur tersebut.
  • Akses ke Internet. Minimal harus ada akses ke internet untuk pustakawan agar mudah mengakses informasi eksternal perpustakaan.
  • Komputer buat pustakawan dan pemakai perpustakaan. Harus ada komputer untuk server yang akan memberikan servis kepada pemakai, komputer untuk pustakawan bekerja dan komputer untuk pemakai agar bisa menggunakan layanan perpustakaan.

b) Content

Yang dimaksud dengan Content adalah semua dokumen, aplikasi, dan layanan yang akan kita “sajikan” kepada pemakai perpustakaan. Yang termasuk dalam dokumen seperti buku, majalah, jurnal, prospektus, laporan keuangan, dan berbagai bentuk media lain baik tercetak maupun elektronik, termasuk juga artefak 3 dimensi seperti patung. Aplikasi adalah sistem (biasanya menggunakan komputer) yang dibuat dengan tujuan tertentu. Misalnya: aplikasi administrasi perpustakaan, aplikasi untuk menyimpan artikel yang didownload dari internet, aplikasi administrasi majalah, dan aplikasi perpustakaan dijital. Sedang Layanan adalah jenis “produk” atau “jualan”-nya perpustakaan. Misalnya: Layanan peminjaman buku, layanan pinjam antar perpustakaan, layanan pemberitahuan buku baru via e-mail, dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan adalah, perpustakaan jangan lagi hanya fokus ke penyediaan Content Manajemen Informasi. Contohnya: Buku (dokumen), Aplikasi arsip artikel elektronik (aplikasi) dan Layanan peminjaman buku (layanan). Tapi juga mulai secara serius memberikan Content Manajemen Pengetahuan. Contoh: Dokumen yang sudah dikemasulang dan diberikan nilai tambah sehingga pemakai mudah dalam pengambil keputusan yang spesifik (dokumen), Aplikasi WIKI yang memungkinkan orang bekerja secara kolaborasi dalam penulisan (aplikasi), dan Layanan Asistensi dalam melakukan riset (layanan).

c) Sumberdaya Manusia (SDM)

SDM merupakan faktor penting bagi perpustakaan dalam memberikan layanan berbasis TI. Detail kompetensi yang penting seorang pustakawan akan dibahas dalam sub-bab Kompetensi Pustakawan.

d) Pemakai

Perpustakaan pun butuh pemakai. Percuma saja semua layanan dibuat bila tidak ada yang menggunakan. Seperti layaknya institusi bisnis, perpustakaan pun harus punya profil pemakai potensialnya. Siapa target pemakainya? Bagaimana image perpustakaan dimata mereka? Bagaimana positioning perpustakaan selama ini? Apa saja kebutuhan mereka? Bagaimana pola pembelajarannya? Survei pemakai semacam segmentasi psikografis bisa membantu perpustakaan melihat pola pembelajaran pemakai potesialnya berdasarkan Nilai dan gaya hidup yang dianut (VALS/Value And Life Style).

Dengan pengetahuan yang mendalam tentang pemakai, maka perpustakaan bisa melakukan aktifitas promosi dan memberikan layanan yang tepat bagi pemakai.

2) Kompetensi Pustakawan

a) Skill Manajemen Informasi

Yang termasuk dalam skill Manajemen Informasi:

Mencari Informasi. Proses mencari informasi terbagi lagi dalam:

Menggunakan Informasi. Proses menggunakan informasi terbagi lagi dalam:

Membuat/Menciptakan Informasi. Output dari pembuatan informasi adalah produk yang bisa membantu pemakai dalam mengambil keputusan. Format yang digunakan bisa beragam tergantung preferensi pemakai. Dalam membuat informasi, skill yang penting adalah: Kemas Ulang Informasi (Information Repackaging). Dalam melakukan Kemas Ulang Informasi, hal-hal penting yang harus diperhatikan:

Organisasi Informasi. Salah satu misi pustakawan adalah pemakai memanfaatkan informasi. Beberapa skill yang membantu pustakawan agar pemakai mudah dalam mencari dan menggunakan informasi adalah:

Berbagi/Penyebaran Informasi. Yaitu:

1. Mencari Informasi. Proses mencari informasi terbagi lagi dalam:

  • Mendefinisikan kebutuhan infomasi. Yaitu: mengidentifikasikan kebutuhan pemakai, mengenali beragan jenis penggunaan informasi oleh pemakai, menempatkan informasi yang dibutuhkan dalam suatu kerangka referensi (Who, what, when, where, how, why), menghubungkan informasi yang dibutuhkan dengan domain pengetahuan, dan mendefinisikan masalah informasi menggunakan beragam skill tanya jawab.
  • Melakukan penelusuran. Yaitu: mempunyai skill dasar penelusuran informasi, kemampuan navigasi sistem dan sumberdaya elektronis, dan pengetahuan dasar tentang beragam sumber informasi yang tidak tersedia bentuk elektronis seperti bentuk cetak, orang (people and colleagues), dan lain-lain. Mengetahui sumber-sumber informasi baik eksternal maupun internal, mengetahui sumber mana saja yang dapat diandalkan dan memberikan nilai tambah.
  • Memformulasikan Strategi Penelusuran. Mensyaratkan pengetahuan yang mendasar dan komperhensif yang sumberdaya informasi yang tepat termasuk strukturnya. Skill tentang suatu subjek juga perlu. Kemampuan lain yang dibutuhkan: mampu mendiskusikan ide-ide untuk mencari berbagai masukan, memilih alat penelusuran, mengidentifikasi katakunci, konsep, tajuk subyek, deksriptor, dan mengindentifikasi kriteria untuk meng-evaluasi sumber informasi.

2. Menggunakan Informasi. Proses menggunakan informasi terbagi lagi dalam:

  • Evaluasi infomasi yang didapat. Yaitu: menentukan otoritatif, kebaruan, dan kehandalan,  relevansi, kualitas.
  • Menilai informasi yang didapat. Yaitu: melihat secara cepat ide utama dan katakunci, membedakan antara fakta, opini, propaganda, sudut pandang dan bias, melihat kesalahan dalam logika. Akan lebih baik bila pustakawan juga punya skill dalam melakukan Framing Analysis yang akan sangat bergunakan melihat beragam sudut pandang media.
  • Meng-integrasikan informasi dari berbagai sumber berbeda. Yaitu: klasifikasi informasi, mengenali hubungan antar konsep, meng-identifikasi konflik dan kesamaan berbagai sumber.
  • Memilah informasi. Yaitu: kemampuan memilah dan membuang informasi yang dianggap tidak perlu.
  • Interpretasi informasi. Yaitu: meringkas dan identifikasi detail informasi yang relevan, organisasi dan analisa informasi, membandingkan dengan sumber permasalahan yang ingin dipecahkan dan menggambar sebuah kesimpulan atau konklusi.

3.  Membuat/Menciptakan Informasi. Output dari pembuatan informasi adalah produk  yang   bisa membantu pemakai dalam mengambil keputusan. Format yang digunakan bisa beragam tergantung preferensi pemakai. Dalam membuat informasi, skill yang penting adalah: Kemas Ulang Informasi (Information Repackaging). Dalam melakukan Kemas Ulang Informasi, hal-hal penting yang harus diperhatikan:

  • menentukan tujuan kemas ulang informasi
  • menentukan isi yang dianggap penting (key content)
  • memilih format yang tepat (tertulis, oral, visual) tergantung audiens dan tujuan
  • mengerti implikasi legal dari suatu proses kemas ulang informasi
  • menyediakan panduan, dokumentasi dan referensi.

4. Organisasi Informasi. Salah satu misi pustakawan adalah pemakai memanfaatkan informasi. Beberapa skill yang membantu pustakawan agar pemakai mudah dalam mencari dan menggunakan informasi adalah:

  • Melakukan abstraksi (abstracting). Kemampuan untuk menulis ringkasan sesuatu yang membuat pembaca bisa menangkap dengan jelas relevansi dan pentingnya informasi yang ingin disampaikan.
  • Melakukan peng-indeks-an (indexing). Menggunakan sistem klasifikasi atau taksonomi (tesaurus, tajuk subyek) yang ada.
  • Melakukan retensi, review termasuk pemberian informasi versi (versioning system)

5. Berbagi/Penyebaran Informasi. Yaitu:

  • Kemampuan menyampaikan dan mempromosikan (marketing) ide-ide secara jelas dalam berbagai bentuk (tertulis, oral, presentasi).
  • mendengar dan meng-evaluasi opini dan informasi dari orang lain.
  • Menggunakan berbagai perangkat TI yang punya unsur interaktifitas tinggi seperti Portal yang memudahkan berbagi informasi.
  • Memfasilitasi berbagai bentuk forum berbagi informasi (sharing knowledge forum) antar pemakai

b) Skill Interpersonal

Yaitu skill personal pustakawan yang berguna dalam berhubungan dengan pemakai dan sesama rekan kerja:

  1. Kemampuan berkomunikasi dengan efektif dan bisa mempengaruhi orang lain. Mampu memberikan presentasi dengan jelas, komunikasi tertulis, dengan ejaan, struktur dan isi yang jelas. Berkomunikasi dengan interaktif dan mampu memberikan pandangan dari beragam perspektif.
  2. Kemampuan mendengar. Mampu mendengarkan dan mendiskusikan pendapat orang lain dari beragam sudut pandang dan bisa mendapatkan ide dari pendapat orang lain. Serta mampu memberikan komentar yang konstruktif.
  3. Mampu memberikan feedback yang baik bagi beragam situasi yang dihadapi orang lain.
  4. Mampu mengatasi konflik dengan memberikan respon yang tepat dalam beragam situasi. Bisa memberikan alasan bila tidak setuju terhadap sesuatu, memahami posisi dan kepentingan dalam sebuah konflik dan bisa menghasil win-win solutions.
  5. Menggunakan mekanisme formal dan informal dalam menjaga hubungan baik dengan sesama staf maupun pemakai perpustakaan. Seperti membuat Focus Group Discussion, kuesioner, dan analisa komplain.
  6. Mampu membangun tim dan memotivasi orang lain. Seperti: menghargai kontribusi individu.
  7. Kemampuan untuk belajar mandiri (self-learning skill)
  8. Mau melakukan suatu inisiatif tanpa harus disuruh (self-initiation)
  9. Kemampuan untuk bekerjasama dalam sebuah tim.
  10. Cerdas dan mampu melakukan sesuatu terfokus.
  11. Punya jiwa Entrepreneurship.

c) Skill Teknologi Informasi

Kemampuan untuk menggunakan berbagai perangkat Teknologi informasi untuk membantu semua proses kerja. Beberapa skill TI yang diperlukan:

1.    Desain Database dan Manajemen Database
2.    Data Warehousing
3.    Penerbitan elektronik
4.    Perangkat keras
5.    Arsitektur Informasi
6.    Sumber Informasi Elektronik
7.    Integrasi Informasi
8.    Desain Intranet/Extranet
9.    Aplikasi perangkat lunak
10.    Pemrogaman
11.    Workflow / Alur Kerja
12.    Pemrosesan Teks (Text Processing)
13.    Metadata
14.    Perangkat lunak untuk manajemen informasi (Information Management tools)

d) Skill Manajemen

  1. Administrasi. Mampu membuat sistem administrasi yang baik bagi berbagai kegiatan yang dilakukan.
  2. Memahami proses kegiatan sebuah perpustakaan dan kegiatan lain yang terkait.
  3. Manajemen Perubahan. Mampu mengatur berbagai kemungkinan yang bisa timbul dari suatu perubahan.
  4. Melakukan koordinasi dengan bagian lain yang terkait.
  5. Kepemimpinan. mempunyai karakter kepemimpinan yang menonjol.
  6. Pengukuran. Mampu melakukan pengukuran terhadap kinerja dan dampaknya terhadap layanan perpustakaan.
  7. Manajemen Sumberdaya manusia.
  8. Manajemen Proyek. Mampu memimpin dan mengatur sebuah proyek.
  9. Relationship Management. Mampu menjaga hubungan baik dengan sesama pustakawan dan pemakai perpustakaan.
  10. Team Building. Mampu membangun tim kerja yang kompak dan bisa mencapai tujuan yang telah ditentukan.
  11. Manajemen waktu.
  12. Pelatihan dan pengembangan sumberdaya manusia. Mampu menganalisa skill yang dibutuhkan dan memberikan pelatihan yang diperlukan.
  13. Mampu melakukan perencanaan-perencanaan strategis dan implementasi-nya.

Penutup

Beberapa kompetensi diatas, bukan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Walau bagaimanapun aplikasi di lapangan bisa sangat bervariasi, tergantung sumberdaya yang tersedia dan tantangan dilapangan. Apalagi masalah sumberdaya manusia yang mumpuni bidang perpustakaan masih sulit didapat.

Daftar Pustaka

Abell, Angela; Oxbrow, Nigel. Competing With Knowledge: the information professional in   the knowledge management age, London: Library Association Publishing, 2001
Eriyanto. Analisis Framing, Yogyakarta: LkiS, 2002
Pendit, Putu Laxman. “Makna Informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan”, Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan, Jakarta: Kesaint Blanc, 1992
Powell, Mike. Information Management for Development Organizations, Oxford: Oxfam GB, 2003
Rosenfeld, Louis; Morville, Peter. Information Architecture for the World Wide Web, Cambridge: O’reilly, 2002
Sudarsono, Blasius. “Pendekatan Untuk Memahami Kepustakawanan”, Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan, Jakarta: Kesaint Blanc, 1992
Wicaksono, Hendro. Segmentasi Psikografis Pemakai Perpustakaan X, Makalah Seminar Pra Skripsi, Tidak diterbitkan, 1996.
Wurman, Richard Saul. Information Anxiety 2, Indiana: Que, 2001.
Zultanawar. “Pustakawan dan Penelitian di Bidang Perpustakaan”, Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan, Jakarta: Kesaint Blanc, 1992

Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan dalam Mendukung Tugas Pokok Fungsi Instansi : antara harapan dan kenyataan

Oleh: Tri Hardiningtyas

PENDAHULUAN

Payung hukum:

. SK MENPAN Nomor 132 Tahun 2002
. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007

Pustakawan

  • adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1)
  • Adalah seseorang yg memiliki kompetensi yg diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab unt melaksanakan pengelolaan&pelayanan perpustakaan ( Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 1)
    Profesi
  • Arti umum adalah bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, yang karena hakikat dan sifatnya membutuhkan persyaratan dasar, ketrampilan teknis, dan sikap kepribadian tertentu (Surakhmad dalam Etika Kepustakawanan, 2006:62)
  • Adalah sejenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang untuk melaksanakannya dg baik memerlukan ketrampilan dan/atau keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan dan/atau pelatihan secara berkesinambungan sesuai dg perkembangan bidang pekerjaan atau lapangan kerja yg bersangkutan (Soekarman dalam Etika Kepustakawanan, 2006:63)

Pustakawan dianggap sebagai tenaga profesional karena sebagian kriteria telah ada antara lain memiliki:

  1. Lembaga pendidikan
  2. Organisasi profesi
  3. Kode etik
  4. Majalah ilmiah
  5. Tunjangan profesi

PERMASALAHAN

Apakah pustakawan sudah melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional?
Sejauh mana peran pustakawan sebagai anggota profesi?

PEMECAHAN MASALAH

  1. Tunjukkan prestasi pustakawan
  2. Peran pustakawan aktif dan kreatif terjun ke masyarakat
  3. Kerjasama antara pustakawan dan pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi (P3IR)
  4. Kerjasama antara pustakawan, pemerintah/badan/lembaga, dan organisasi profesi dalam rangka meningkatkan peran pustakawan agar aktif dan kreatif secara profesional

PEMECAHAN MASALAH

1. Tunjukkan prestasi pustakawan

Sesuai Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 maka sudah sepantasnya para pustakawan bersyukur karena telah ada payung hukumnya. Apa yang tertuang melalui undang-undang tersebut mencakup hal-hal bagi perpustakaan, pustakawan, juga pemustaka. Mengutip pendapat Tawwaf (2008) ada beberapa catatan penting sebagai berikut :

  1. Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pelayanan perpustakaan di mana pun dia berada
  2. Masyarakat daerah pedesaan terpencil, cacat fisik ataupun mental
  3. Mengamanatkan kepada pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan di kabupaten kota
  4. Mengamanatkan kepada penyelenggaraan perpustakaan yang bersifat standar nasional, tidak sekedar menggugurkan kewajiban.

Melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 31-32, pustawakan diberi hak dan kewajiban yang harus ditaati. Mari kita berhenti mengeluh dengan tunjangan yang kecil, koleksi yang sedikit, sarana prasarana kurang memadai, dan sebagainya. Syukuri dan nikmati dulu apa yang ada. Marilah kita tunjukkan prestasi kerja kita terlebih dahulu. Besarnya tunjangan dan tugas-tugas dengan angka kreditnya telah mengalami tahap-tahap penyempurnaan hingga sampai saat ini. Selain itu, aktifkan peran kita di mana pun kapan pun dengan luwes beradaptasi dengan perubahan.

Mencontoh kata AA Gym bahwa memulai sesuatu yang baik memang sulit, minimal dimulai dari diri sendiri. Evaluasi peran profesi kita, apakah sudah melakukan hak dan kewajiban sebagai seorang pustakawan ataukah masih jalan di tempat.

Berikut ini beberapa catatan penting yang harus dimiliki oleh seseorang yang berprofesi.Beberapa ketrampilan yang harus dimiliki profesi pustakawan, antara lain:

  1. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
  3. Seorang pustakawan harus selalu berpikir positif.
  4. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
  5. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai.

Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekrjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi (Profesionalisme Pustakawan di Era Global, 2001).

2. Peran pustawakan aktif dan kreatif terjun ke masyarakat

Percepatan arus informasi saat ini berimbas kepada peran kita sebagai penyampai informasi. Ditambah dengan berkembangnya berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang amat dibutuhkan dalam menunjang bidang kerja kita. Oleh karena itu, siap atau tidak siap para pustakawan harus ikut bermain di era global sekarang ini. Para penikmat internet atau mereka yang lebih suka berselancar di dunia maya harus dijadikan mitra kerja kita.

Mengutip materi yang disampaikan oleh Supriyanto, bahwa pustakawan saat ini bukanlah penjaga koleksi tapi penyedia informasi, media informasi semakin beragam, koleksi tidak terbatas pada karya cetak /rekam secara fisik tapi sudah banyak yang dapat diakses melalui internet, perpustakaan tidak perlu sibuk promosi dengan menambah pengunjung tapi kita yang berkunjung atau menjumpai pemakai, dan layanan saat ini harus makin beragam(2008).

Peran pustakawan dalam masyarakat dapat dilihat melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 5.

  1. Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk:
    a. memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan;
    b. mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan;
    c. mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan;
    d. berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan.
  2. Masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus.
  3. Masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.

Kita juga diminta aktif ikut mencerdaskan bangsa dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan perpustakaan dapat diselenggarakan oleh siapapun. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 43, 48-50 dinyatakan bahwa pertumbuhan taman baca diharapkan memberi sumbangan dalam rangka menunjang budaya gemar membaca di masyarakat. Oleh karena itu janganlah para pustakawan bergantung kepada institusi/lembaga tertentu atau tempat kerja kita saja, akan tetapi juga memainkan peran dalam masyarakat.
Perkembangan dewasa ini, bertumbuhan bentuk-bentuk semacam perpustakaan. Ada yang dinamakan taman bacaan, perpustakaan yang dikemas seperti bar, kafe buku, dan sebagainya. Hal ini merupakan perkembangan yang baik menuju budaya baca masyarakat. Apalagi dengan terbitnya Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka keberadaan perpustakaan dengan aneka jenis layanan diakui bahkan penyelenggaraan oleh masyarakat tersebut dibenarkan dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa. Salah satu contoh pasal yang menjelaskan sebagai berikut.

Pasal 15

  1. Perpustakaan dibentuk sebagai wujud pelayanan kepada pemustaka dan masyarakat.
  2. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
  3. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memenuhi syarat:
    a. memiliki koleksi perpustakaan;
    b. memiliki tenaga perpustakaan;
    c. memiliki sarana dan prasarana perpustakaan;
    d. memiliki sumber pendanaan; dan
    e. memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional.

Menurut pasal 16 dari undang-undang yang sama, terdapat berbagai jenis perpustakaan seperti perpustakaan provinsi; perpustakaan kabupaten/kota; perpustakaan kecamatan;perpustakaan desa; perpustakaan masyarakat; perpustakaan keluarga; dan perpustakaan pribadi.

3. Kerjasama antara pustakawan dan pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi (P3IR)

Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 32, pustakawan wajib untuk memberikan layanan prima terhadap pemustaka; menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; dan memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, profesi pustakawan ditantang untuk lebih aktif dan kreatif dalam masyarakat. Bagaimanapun pustakawan tidak dapat lepas dari peran sebagai mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan siapapun kapanpun di mana pun.
Upaya pemerintah dan negara mengatur pemerataan perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi (P3IR) tertuang dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 2-3, 7 dan 8. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, negara dan pemerintah kota/daerah berkewajiban menyelenggarakan dan mengembangkan layanan perpustakaan secara merata di lingkungan masing-masing yang berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitia, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk menigkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa dengan asas pembelajaran sepanjang hayat. Inilah lahan luas yang merangsang para pustakawan untuk mengukir prestasi dengan lebih baik, lebih berdaya guna, lebih manfaat. Hal ini dikarenakan salah satu tugas pustakawan yakni memberikan layanan prima terhadap pemustaka (masyarakat) dengan menciptakan suasana kondusif dan memberikan keteladanan serta menjaga nama baik pemerintah kota/daerah.
Sedikit ilustrasi mengenai pembangunan Taman Cerdas di Surakarta menjadi contoh peran pemerintah kota/daerah dalam rangka pemerataan perolehan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi. Ada tiga contoh lokasi Taman Cerdas yang dibangun yaitu di Gambirsari (Banjarsari), Sumber (Banjarsari), dan Jambon (Serengan).
Fasilitas yang ada, antara lain jaringan komputer, arena bermain, serta sebuah panggung untuk pentas seni dan budaya. Menurut Jokowi-sapaan akrab Joko Widodo-nantinya pengelolaan Taman Cerdas akan diserahkan langsung pada masyarakat (Sumarno/Sindo/ism/28/12/2007). Ada baiknya kerjasama dilanjutkan dengan pelaksanaan di lapangan, memantau kegiatan yang telah dilaksanakan, dan evaluasi kegiatan dari program kerjasama yang ada.

4. Kerjasama antara pustakawan, pemerintah/badan/lembaga, dan organisasi profesi dalam rangka meningkatkan peran pustawakan agar aktif dan kreatif secara profesional

  1. Peran pustawakan aktif dan kreatif untuk terjun dalam organisasi profesi. Keaktifan dalam beroganisasi juga harus diprioritaskan agar organisasi dapat berperan maksimal. Peran aktif terhadap organisasi profesi sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Pustakawan. Bab 3 menyebutkan:
  2. Setiap pustakawan Indonesia menjadikan IPI sebagai forum kerjasama, tempat konsultasi, dan tempat penggemblengan pribadi guna meningkatkan ilmu dalam pengembangan profesi antara sesama pustakawan
  3. Setiap pustakawan Indonesia memberikan sumbangan tenaga, pikiran, dan dana kepada organisasi untuk kepentingan pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia
    Setiap pustakawan Indonesia menjauhkan diri dari perbuatan dan ucapan, serta sikap dan tingkah laku yang merugikan organisasi dan profesi dengan menjunjung tinggi nama baik IPI (1998:2).

Organisasi profesi juga telah diatur dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 khususnya pasal 34-37. Salah satu bunyi pasal tersebut sebagai berikut.

Pasal 34

  1. Pustakawan membentuk organisasi profesi.
  2. Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi pelindungan profesi kepada pustakawan.
  3. Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi.
  4. Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi pustakawan difasilitasi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Pasal 35

Organisasi profesi pustakawan mempunyai kewenangan:

  1. menetapkan dan melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;
  2. menetapkan dan menegakkan kode etik pustakawan;
  3. memberi pelindungan hukum kepada pustakawan; dan
  4. menjalin kerja sama dengan asosiasi pustakawan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional.

PENUTUP

Harapan: ikut mencerdaskan bangsa dengan asas pendidikan sepanjang hayat
Kenyataan: peta pemerataan kesempatan dalam P3IR belum dioptimalkan

Kesimpulan:

  1. Profesionalisme pustakawan akan diakui manakala masyarakat/pemustaka mendapat manfaat dikarenakan keberadaan pustakawan.
  2. Pelaksanaan kegiatan yang disepakati dalam kerjasama antar pustakawan, pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dan organisasi profesi sebagai bentuk kerjasama yang berdaya guna dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001.
Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto, 2006.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998.
Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.
Sumarno/Sindo/ism/28/12/2007
Supriyanto. “Kompetensi&Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008
Tawwaf, Muhammad. “ UU No.43/2007 Payung Hukum Perpustakaan” Riau Pos 2008.
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

*)Pustakawan UNS Surakarta.  Disampaikan pada  “Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan”,  Badan Arsip dan Perpustakaan, Provinsi Jawa Tengah, di Surakarta,  22-23 Oktober 2008

MENGERTI PERPUSTAKAAN (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI)

OLEH: Tri Hardiningtyas

PENGANTAR

Perpustakaan pada umumnya  sebagai  tempat tumpukan buku yang siap dibaca oleh siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan. Para pengunjung perpustakaan datang langsung memilih buku yang dikehendaki, dan membacanya. Begitulah gambaran seseorang jika membayangkan sebuah perpustakaan. Sebenarnya, kegiatan seseorang datang dan membaca di perpustakaan merupakan peristiwa  transfer informasi antara pembaca dan koleksi (isi koleksi). Melalui isi koleksi, para pembaca/penikmat koleksi telah mendapatkan ‘kelebihan-kelebihan’ informasi yang dapat ditransfer dalam bentuk kemasan sesuai yang dikehendaki. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat berupa informasi tertulis (dapat berupa karya tulis), informasi lisan (tukar pikiran dengan seseorang),  pengayaan pengetahuan (aktualisasi diri), hiburan (kenikmatan/ kesenangan/hobi), dan yang pasti setiap pembaca mempunyai tujuan atas bacaan yang dinikmati.

Dalam kehidupan kampus ( perguruan tinggi ), perpustakaan dianggap sebagai jantungnya universitas. Jadi, apabila sebuah universitas tidak punya perpustakaan, universitas tersebut dianggap mati.  Kenyataannya tidaklah demikian, hal ini dikarenakan  peran perpustakaan perguruan tinggi hanyalah sebagai penunjang dalam melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi, bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN, 2004:1-9). Oleh karena itu, istilah jantung universitas dirasakan kurang pas dengan tugas yang diemban. Mungkin lebih pas jika diumpakan sebagai kaki tangan universitas. Pada kenyataannya, kami selaku pelaksana dari tugas perpustakaan sering mendapat informasi bahwa  seorang mahasiswa bisa  lulus tanpa harus ke perpustakaan. Kenyataan ini patut kita syukuri, karena melalui perkembangan teknologi informasi inilah jalan mendapatkan berbagai informsi bagi para pemakai informasi jadi begitu lancar dan mudah. Tidaklah mengherankan, pesatnya perkembangan teknologi informasi  menyebabkan kecilnya peran perpustakaan universitas bagi sivitas akademinya.

Saat sekarang, arus informasi sudah tidak berbatas oleh adanya buku atau informasi dalam berbagai kemasan fisik (misalnya bentuk cetak), akan tetapi cara perolehan informasi sekarang ini tanpa batas. Pada saatnya nanti, tidak perlu adanya buku-buku (berbagai koleksi perpustakaan dalam bentuk fisik) di sebuah perpustakaan. Perpustakaan masa depan  adalah perpustakaan maya. Segala kemasan informasi telah dituangkan dalam perbagai program komputer dan bisa diakses oleh semua orang dari tempat mana pun tanpa harus ke perpustakaan. Namun, mewujudkan model perpustakaan maya untuk universitas di  Indonesia sekarang ini bukanlah hal yang mudah.

Pada kesempatan ini, penulis ingin berbagi pemahaman tentang peran perpustakaan kepada para penikmat perpustakaan.  Mengapa perpustakaan perlu dimengerti, dipahami. Begitu pentingkah seseorang memahami perpustakaan,  apa saja peran perpustakaan.
Pemahaman tentang peran perpustakaan perlu kiranya dimengerti terlebih dahulu, agar dapat memanfaatkan perpustakaan dengan maksimal. Tidak setiap pengunjung perpustakaan mengerti tentang perpustakaan. Hal ini dikarenakan pemahaman mereka (para pengunjung) sebagaimana telah disebutkan di atas, hanya sebatas tempat meminjam dan membaca buku atau koleksi yang disajikan oleh suatu perpustakaan. Padahal, terdapat sekian banyak informasi dan manfaat yang bisa diperoleh melalui perpustakaan. Diharapkan, melalui artikel yang singkat ini, pemahaman tentang perpustakaan semakin luas sehingga dapat memanfaatkan perpustakaan dengan optimal.

PERISTILAHAN YANG DIPAKAI

Pengertian perpustakaan di sini, maksudnya  perpustakaan yang ada di suatu perguruan tinggi, universitas, institut, dan perguruan tinggi sejenis dalam rangka  pelaksanaan tri darma perguruan tinggi.
Peran perpustakaan yaitu segala fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan untuk perguruan tinggi. Adapun tugas (kewajiban) yang harus dilakukan perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan koleksi, mengolah dan merawat bahan perpustakaan, memberi layanan, serta melaksanakan administrasi perpustakaan (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN, 2004:3).
Penikmat perpustakaan adalah para pengguna/pemakai perpustakaan perguruan tinggi sebagai almamaternya.
Paham artinya mengerti,  sementara mengerti yang dimaksudkan yakni memahami sesuatu dengan  benar.

PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi disebutkan  bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dalam rangka menunjang kegiatan tri darma tersebut, maka perpustakaan diberi  beberapa fungsi di antaranya; fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi informasi ( 2004:3-4).

Demikian luasnya fungsi perpustakaan bagi para pemakainya (sivitas akademik). Pada kenyataannya, tugas dan fungsi tersebut di atas belum dapat dilakukan dengan optimal oleh pihak perpustakaan. Hal ini dikarenakan berbagai kendala yang terkadang sulit dipecahkan misalnya dalam pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia dan sarana dalam pelaksanaan tugas. Adanya aturan-aturan  panjang dalam rangka pengadaan sumberdaya manusia  atau peralatan perpustakaan. Selain itu, perbandingan antara pemakai yang dilayani dengan petugas yang ada belum sesuai. Petugas dengan kualifikasi  pendidikan selain ilmu perpustakaan, kadang kurang pas ditempatkan di perpustakaan, atau mutasi petugas yang tidak berkenaan dengan peran perpustakaan. Akibatnya, peranan sebagai pelayan perpustakaan  dijalankan dengan ‘semau gue’; karena kurangnya penghayatan/pemahaman tentang perpustakaan. Akhirnya pelayanan yang diberikan kurang ikhlas/sabar. Padahal, peran petugas (dalam hal ini pustakawan)  sangatlah  menentukan berfungsi tidaknya sebuah perpustakaan. Asumsi kita, apabila pengguna perpustakaan mau menggunakan perpustakaan lebih dari sekali, maka dapat diartikan bahwa perpustakaan berfungsi dalam menjalankan tugasnya, dan pengguna paham peran perpustakaan untuk kepentingannya.

Perpustakaan perguruan tinggi juga sering disebut sebagai perpustakaan khusus. Hal ini dikarenakan perpustakaan perguruan tinggi pada umumnya khusus melayani sivitas akademik  masing-masing.  Di samping itu, koleksi yang dimiliki perpustakaan perguruan tinggi pun khusus untuk konsumsi mahasiswa maupun dosen. Bila dibandingkan dengan pepustakaan umum, maka perpustakaan perguruan tinggi memiliki kelebihan berupa hasil-hasil karya para sivitas akademik.

MENGERTI  PERPUSTAKAAN :  UPT PERPUSTAKAAN UNS

Sebuah perpustakaan dapat berperan dan berfungsi bagi pemakainya dengan  beberapa syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut meliputi;  adanya koleksi, sistem/aturan yang digunakan, ruangan/tempat berlangsungnya kegiatan, ada petugas/pustakawan, dan pemakai, serta mitra kerja (Sutarno NS., 2006: 10-11). Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan tentu memerlukan semacam wadah agar dapat melakukan kegiatan tersebut sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh penyelenggara kegiatan. Dalam hal ini, perpustakaan bertujuan memenuhi kebutuhan informasi bagi pemakainya. Petugas  menerjemahkan kemasan informasi dalam bentuk wakil koleksi (katalog koleksi)  sehingga pemakai dapat menggunakan informasi yang dibutuhkan.

Kita berkenalan dengan salah satu perpustakaan perguruan tinggi, dengan contoh UPT Perpustakaan UNS. Dalam rangka mencapai tujuan dari perguruan tinggi, maka UPT Perpustakaan UNS tidak boleh menyimpang dari visi dan misi lembaga induk. Visi yang dijalankan yakni menjadikan UPT Perpustakaan UNS sebagai pusat layanan informasi yang profesional dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Misi yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan informasi untuk menunjang proses belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Sebelas Maret khususnya dan masysarakat pada umumnya.

Tugas UPT PERPUSTAKAAN UNS  sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0201/01995 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Sebelas Maret, tugas UPT Perpustakaan adalah memberikan layanan bahan pustaka untuk keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Adapun fungsi dari UPT PERPUSTAKAAN UNS  yaitu  fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi informasi (2004:3-4).

Syarat-syarat berfungsinya sebuah perpustakaan seperti disebutkan di atas, yakni adanya  koleksi, sistem/aturan yang digunakan, ruangan/tempat berlangsungnya kegiatan, ada petugas/pustakawan, dan pemakai, serta mitra kerja. UPT Perpustakaan UNS mempunyai  beragam fasilitas, seperti; ruang baca, taman baca, komputer (OPAC untuk Penelusuran Informasi bahan pustaka), kantin, layanan fotokopi, internet, locker (tempat tas), individual study room (ruang belajar mandiri), ruang koleksi, mushola, serta ruang seminar.

Dalam rangka  meningkatkan kualitas layanan, UPT Perpustakaan UNS  terus berupaya meningkatkan jumlah koleksi buku, juga berlangganan jurnal elektronik. Koleksi buku saat ini telah mencapai 59.590 judul berjumlah 170.123 eksemplar. Selain itu, juga menerapkan  otomasi sistem layanan.  Saat ini, UPT Perpustakaan UNS  bekerja sama dengan UPT Komputer  mengembangkan Program  UNSLA (UNS Library Automation).   Akses layanan penelusuran informasi ilmiah melalui CD-ROM  terus ditingkatkan, juga membuka layanan bibliografi melalui jaringan internet (telnet), serta menyediakan layanan digital library  yang memuat dan menyimpan semua dokumen yang dihasilkan oleh sivitas akademika UNS dalam bentuk digital, dan pelayanan melalui jaringan on-line antara perpustakaan pusat dengan perpustakaan fakultas atau unit kerja yang lain. UPT Perpustakaan UNS  sampi saat ini mempunyai staf sejumlah  32 orang, dan tidak semuanya menjadi pustakawan.

Fungsi utama perpustakaan perguruan tinggi adalah pendukung proses belajar-mengajar di perguruan tinggi (Irma Elvina, 2005:25-30). Demikianlah yang selalu kita baca, dengar, dan amalkan dalam menjalankan tugas. Lebih jelasnya biasa  diuraikan ke dalam beberapa fungsi; yaitu fungsi edukasi , sumber informasi, penunjang riset, memberikan sarana rekreasi,  fungsi publikasi, fungsi deposit, dan interpretasi informasi. Mari kita pahami fungsi yang bagaimana yang dimaksudkan dengan mendukung proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

Fungsi edukasi yang dimaksudkan yaitu peran serta dalam mendidik  para pemakai memanfaatkan perpusatkaan. Perpustakaan ikut membantu mencerdaskan para pemakainya melalui informasi yang disajikan. Ada istilah ‘autodidak’ yaitu  seseorang bisa  menjadi ahli bidang tertentu dengan belajar sendiri. Salah satunya yakni dengan membaca, meniru, merekam, mempraktikkan seperti aslinya, sesuai kemampuannya dalam memahami informasi. Hal ini tak akan terjadi tanpa ada transformasi  informasi antara pemakai informasi dengan koleksi atau informasi yang digunakan.

Fungsi sebagai sumber informasi, diharapkan  perpustakaan menjadi tujuan utama mencari  informasi sesuai keinginan pemakai. Memang tidak ada perpustakaan yang dapat memenuhi semua kebutuhan informasi pemakai. Meskipun demikian, perpustakaan dapat memberikan arahan ke mana sebaiknya mencari informasi yang dibutuhkan.

Salah satu tri darma yang memerlukan peran perpustakaan adalah penelitian. Sesuai tugas sebagai penunjang riset bagi sivitas akademik, maka perpustakaan menyajikan berbagai informasi yang berhubungan dengan riset yang akan sedang atau sudah dilakukan. Sivitas akademik sekaligus juga para peneliti yang membutuhkan gambaran tentang berbagai riset yang telah dilakukan atau diterapkan. Informasi yang diperoleh melalui perpustakaan dapat mencegah  terjadinya  duplikasi penelitian. Kecuali  penelitian yang akan sedang dilakukan  merupakan penelitian yang berkelanjutan. Oleh karena itu, melalui fungsi riset diharapkan  karya-karya penelitian yang dilakukan oleh sivitas akademik semakin berkembang. Hal yang perlu diperhatikan, riset yang selama ini telah dilakukan oleh sivitas akademik, tidak dapat langsung dinikmati melalui peran perpustakaan. Jarang pihak perpustakaan menerima karya ilmiah hasil riset sivitas akademik, kecuali tugas akhir atau skripsi sebagai syarat wisuda para mahasiswa. Sementara hasil riset para doktor atau tenaga edukatif jarang kami terima. Ada kemungkinan disebabkan keberadaan lembaga penelitian yang telah berperan sebagai penampung karya-karya riset sivitas akademik.

Sehubungan dengan fungsi rekreasi, maka  fungsi perpustakaan dalam memberikan sarana rekreasi yakni  berupa koleksi yang menghibur/menyenangkan pembaca. Informasi yang berkaitan dengan kesenangan seperti bacaan humor, cerita perjalanan hidup seseorang, berkebun, membuat kreasi ketrampilan, maupun informasi yang dapat membangkitkan semangat pemakai informasi dalam menjalani hidup bersosial. Fungsi rekeasi perpustakaan masih jarang dimengerti, ada kemungkinan kurang pahamnya para pemakai perpustakaan.
Fungsi perpustakaan dalam rangka penyebaran informasi bisa disebut publikasi informasi. Publikasi yang dimaksudkan yaitu ikut serta menyebarluaskan informasi hasil karya pemakai perpustakaan; seperti karya tulis atau hasil riset dari sivitas akademik. Fungsi publikasi sangat menguntungkan sivitas akademik. Selama ini, sivitas akademik terutama tenaga edukatif memanfaatkan fungsi ini dikarenakan urusan kenaikan pangkat maupun jabatan. Sangat disayangkan, hasil-hasil karya tulis sivitas akademik yang telah menempuh pendidikan lanjut  maupun  pengukuhan sebagai doktor, guru besar  dan sebagainya jarang ditemukan di perpustakaan. Padahal fungsi publikasi ini  dapat dimaksimalkan sebagai media komunikasi informasi,  agar hasil karya sivitas akademik dikenal dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Selanjutnya adalah fungsi deposit perpustakaan. Sesuai arti kata deposit yakni menyimpan, maka perpustakaan merupakan tempat menyimpan informasi yang dibutuhkan oleh para pemakai. Fungsi penyimpanan  yang dimaksudkan menyimpan informasi yang telah dikemas dalam berbagai bentuk kemasan. Pada umumnya orang mengenal perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku, akan tetapi perkembangan saat ini, informasi dapat dikemas dalam bentuk CD atau VCD. Boleh dikatakan juga bahwa perpustakaan sebagai tempat arsip berbagai karya. Jadi semestinya, perpustakaan menampung segala hasil karya pemakai perpustakaan. Sebagaimana peraturan serah simpan karya cetak yang memang belum diterapkan secara optimal.

Interpretasi informasi merupakan salah satu fungsi perpustakaan dengan maksud ikut serta memberikan pemahaman tentang koleksi yang dimiliki. Perpustakaan diharapkan dapat menejemahkan isi setiap koleksi yang ada. Setiap informasi yang diperoleh perpustakaan diterjemahkan dengan menyajikan berbagai alternatif subjek dalam bentuk katalog. Jenis katalog yang ditawarkan kepada pemakai sangat tergantung kepada kebijakan setiap perpustakaan. Semakin banyak jenis katalog yang ditawarkan, pemakai akan semakin leluasa mencari informasi yang diinginkan. Di samping itu, informasi dapat diperkenalkan dengan cara meresensi sebuah karya. Namun cara ini dirasa kurang efisien dikarenakan cepatnya informasi berkembang dan berubah. Pihak perpustakaan pun terhalang oleh waktu, tenaga, pikiran yang harus digunakan untuk meresensi koleksi satu per satu. Dimungkinkan jika yang diterjemahkan hanya beberapa koleksi yang dianggap akan laris digunakan. Pada akhirnya, setiap perpustakaan selalu ingin memuaskan pemakai, dan berharap pemakai akan kembai dan kembali berkunjung ke perpustakaan  disebabkan kemudahan dan ketepatan informasi yang sesuai.

PENUTUP

KESIMPULAN

Setiap pengunjung perpustakaan merupakan penikmat perpustakaan, dan secara tidak langsung mengetahui kegunaan perpustakaan. Sesudah melakukan kegiatan di suatu perpustakaan, pengunjung mendapatkan sesuatu yang langsung dirasakan maupun secara tidak langsung bermanfaat untuk dirinya. Adapun kenikmatan yang diperoleh akan ditularkan kepada orang lain atau dinikmati sendiri amatlah tergantung kepada pribadi seseorang. Seseorang yang berkunjung ke perpustakaan lebih dari sekali, dapat diartikan orang tersebut paham dan mengerti fungsi perpustakaan bagi dirinya

SARAN

Berlangsungnya kegiatan di sebuah perpustakaan sangat tergantung dari berbagai unsur yang saling berkaitan sehingga bermanfaat untuk banyak pihak. Koleksi, tenaga, tempat, sistem, dan peralatan bersatu dalam kesepakatan untuk menyajikan informasi sesuai permintaan dengan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Peran perpustakaan dan pustakawan sebagai agen perubahan; oleh Irma Elvina, hal. 25-30 dalam Perkembangan Perpustakaan di Indonesia. Penyunting: Janti G.Sujana, Yuyu yulia, dan Badollahi Mustafa. Bogor: IPB Press, 2005
PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN. Jakarta: DEPDIKNAS RI, 2004
Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan: suatu pendekatan praktis. Jakarta: Sagung Seto, 2006

sumber : Mediator, ed. oktober 2008