KOLEKSI PERPUSTAKAAN, UNTUK SIAPA?

oleh Tri Hardiningtyas

PENDAHULUAN

Setiap  orang akan membayangkan sebuah buku, bila mendapat pertanyaan mengenai makna sebuah perpustakaan. Karena kenyataan itulah yang sering kita terima apabila ada yang menanyakan tentang perpustakaan. Segera meluncur beragam pertanyaan mengenai seluk beluk  yang berhubungan dengan perpustakaan. Misalnya pertanyaan; terutama tentang judul buku, isi buku, pengarang buku, sampai masalah ciri-ciri, ukuran, gambar-gambar atau ilustrasi yang dimuat. Bahkan kadang harga pun dipertanyakan. Seolah perpustakaan identik dengan toko buku, gudang buku, kumpulan buku; apapun yang berkaitan dengan buku. Demikianlah, umumnya kita berpikir tentang perpustakaan=buku. Sebenarnya, itulah kenyataannya, bahwa asal kata perpustakaan dari pustaka yang artinya adalah buku (KUBI, 1976:782).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kontribusi untuk mentransfer informasi yang merupakan kandungan buku menjadi aneka kemasan selain buku. Saat ini, kandungan sebuah buku dapat dinikmati melalui layar monitor berupa film, gambar berjalan, aneka suara latar; sehingga tidak hanya nikmat mata tetapi juga pendengaran. Akibatnya, koleksi perpustakaan tidak hanya terdiri atas buku tapi juga kemasan informasi lainnya, mungkin kaset, cd, atau dvd. Namun demikian, para pendidik maupun anak didik cenderung masih dalam pemahaman bahwa koleksi perpustakaan adalah buku. Apalagi bila dikaitkan antara peran perpustakaan dengan keberlangsungan proses belajar mengajar. Selama ini kegiatan belajar mengajar dikdasmen (pendidikan dasar sampai menengah) sangat bergantung dengan buku paket. Meskipun telah/sudah dicanangkan tentang adanya electronic books  untuk buku paket secara nasional, namun belum menjadi jaminan paket tersebut bisa sampai ke setiap sekolah yang ada. Mengingat transfer informasi secara elektronik belum merambah semua sekolah dikarenakan sarana peralatan yang mungkin belum merata pada setiap sekolah.

Bagi mereka yang dapat memenuhi semua kebutuhan informasi dari koleksi pribadi tentu tidak begitu membutuhkan peran perpustakaan. Sebaliknya, mereka yang haus akan informasi namun tidak/belum mampu memenuhi semua kebutuhan informasinya, maka akan mendekati toko buku (dalam rangka ikut membaca tanpa harus membeli), persewaan buku, atau perpustakaan, bahkan taman bacaan. Imbas dari pesatnya teknologi informasi, maka para pemburu informasi bisa akses informasi dari mana pun jua. Akibatnya, koleksi perpustakaan yang kurang dikenal, semakin jauh saja untuk dipahami dan dimengerti peranannya.

Selama ini, koleksi perpustakaan selalu dikaitkan dengan kendala pendanaan. Hampir dalam setiap kesempatan pembahasan tentang koleksi perpustakaan, yang muncul adalah benturan dana. Padahal kriteria keberhasilan pendayagunaan fasilitas perpustakaan, salah satunya yakni keterpakaian koleksi perpustakaan karena adanya  kesesuaian informasi yang diminta. Apabila koleksi  sebuah perpustakaan  dipakai dan bermanfaat maka koleksi tersebut berdayaguna dan sesuai dengan informasi yang diinginkan pemakai. Permasalahannya, koleksi yang bagaimana yang berdayaguna bagi pemakainya. Hal ini tentu tergantung pada kesesuaian informasi yang diinginkan pemakai. Oleh sebab itu, koleksi yang sesuai saja yang didayagunakan oleh pemakai perpustakaan. Kesimpulan sementara yang bisa diambil, bahwa koleksi perpustakaan berdayaguna untuk para pemakai perpustakaan dikarenakan informasi yang sesuai dengan permintaan pemakai (selanjutnya kita sebut pemustaka).
KOLEKSI PERPUSTAKAAN UNTUK SIAPA?

Sudahkah kita mengenal koleksi perpustakaan? Umumnya para pemakai perpustakaan saja yang mengenal berbagai macam koleksi perpustakaan. Itu pun belum semuanya dipahami, karena kecenderungan orang berpendapat bahwa koleksi yang ada di perpustakaan adalah buku, buku, dan buku. Berikut ini pengertian koleksi perpustakaan sesuai undang-undang tentang perpustakaan yang sudah disahkan.

Undang-undang tentang perpustakaan pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Mengapa hanya koleksi yang dihimpun, diolah, dan dilayankan yang termasuk koleksi perpustakaan? Hal ini berkaitan dengan berdayaguna dan tidaknya koleksi perpustakaan yang ada. Karenanya, koleksi perpustakaan tidak berdayaguna tanpa adanya pemustaka maupun pengolah/penghimpun/pelayan (baca:pustakawan). Jadi koleksi perpustakaan tidak dapat berdiri sendiri agar dapat berdayaguna. Karenanya, antara koleksi maya (e-journal/e-books) dan koleksi perpustakaan dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam berdayaguna tidaknya tergantung kepada pemustaka maupun pustakawan. Semakin jelas bahwa keberadaan koleksi perpustakaan diperuntukkan bagi pemustaka. Siapa pemustaka itu?

Adapun yang dimaksud pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan (Undang-undang, No.43/2007, pasal 1 ayat 9). Para pemustakalah yang bisa menjadi peluru menuju masyarakat cerdas melalui koleksi perpustakaan. Meskipun kenyataannya, belum menjadi kesadaran para pemustaka, bahwa melalui peranannya koleksi perpustakaan berdayaguna.

Salah satu contoh yang terjadi di UPT Perpustakaan UNS. Selama ini, pengadaan koleksi perpustakaan sangat tergantung atas pendanaan yang ada, juga minat/usulan para pemustaka (dalam hal ini civitas akademika). Berbagai cara dilakukan agar dapat mengadakan koleksi perpustakaan yang sesuai minat mereka; seperti pameran buku, mengedarkan daftar judul buku/jurnal untuk dipilih sesuai minat bidang ilmunya, mengadakan sosialisasi koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Namun, yang hadir memenuhi undangan maupun memberikan saran/usulan koleksi tidaklah sebanyak yang kami perkirakan. Undangan yang datang tidak mencapai setengah dari undangan yang diedarkan. Padahal kehadiran mereka selaku pemustaka amat sangat diharapkan untuk pengembangan perpustakaan. Kegiatan tersebut diselenggarakan tidak hanya sekali, akan tetapi diadakan tiap tahun menjelang dies natalis, bahkan sejak tahun 2007 diadakan 2kali dalam setahun. Sangat disayangkan, karena  keberlangsungan layanan di perpustakaan ada pada pengembangan koleksi dan pemustaka. Apalah artinya koleksi yang ada di perpustakaan tanpa kehadiran pemustaka sebagai penikmat, pengguna, penyampai informasi. Inilah tantangan bagi para pustakawan selaku pihak yang mengolah, menghimpun dan melayankan informasi kepada pemustaka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu alasan para pemustaka untuk tidak bersentuhan dengan koleksi perpustakaan. Para pemustaka berbondong-bondong ke perpustakaan bukan karena ingin mendayagunakan koleksi, akan tetapi sekedar mampir mencari teman, numpang berselancar ke dunia maya tanpa beban listrik dan pulsa, bahkan sekedar ngobrol sambil makan dan minum ala kadarnya (karena ada taman dan kantin di perpustakaan). Pernahkah mereka berpikir sebentar saja bahwa kegiatan  yang  mereka lakukan mau diimbangi dengan sedikit saja berkontribusi dengan memberi masukan/saran bagi perpustakaan? (yang sebenarnya merupakan perpustakaan milik mereka menuntut ilmu).

KESIMPULAN

Koleksi perpustakaan bukanlah pajangan sebagaimana etalase toko buku, melainkan harta karun perpustakaan yang harus dioalah, dihimpun, dan dilayankan kepada pemustaka. Peran perpustakaan sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang  nomor 43 tahun 2007 pasal 3 bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, tidaklah semata-mata menjadi tugas penyelenggara perpustakaan namun menjadi tanggungjawab seluruh warga yang ingin menjadi cerdas. Pendayagunaan koleksi perpustakaan sangat tergantung adanya pemustaka dan pustakawan. Akan lebih tepat apabila antara keinginan dan permintaan pemustaka terhadap pendayagunaan koleksi perpustakaan dikomunikasikan. Oleh karena itu, menghadirkan koleksi perpustakaan yang sesuai keinginan pemustaka terus diupayakan, meskipun makin sedikit saja pemustaka yang paham dan sadar akan keberadaan koleksi perpustakaan untuk kebutuhannya.

Cinta dan Bangga Menggunakan Bahasa Indonesia: Wujud Nasionalisme Kita

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa. Menggunakan Bahasa Indonesia berarti memiliki jiwa nasionalisme yang tingggi kepada NKRI melalui bahasa Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia harus dilakukan gerakan secara nasional karena dengan bahasa Indonesia telah memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini selaras dengan salah satu butir isi sumpah pemuda 1928 “…kami putra dan putri Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia”.
Bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antarindividu, kelompok, dan organisasi sosial dalam berbagai konteks kehidupan. Hal ini dapat dilihat pemanfaatan Bahasa Indonesia di 33 provinsi yang ada di Indonesia ternyata telah berdampak positif sebagai alat pemersatu antarwilayah dan antarsuku yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Kita sebagai warga negara Indonesia harus cinta kepada bahasa Indonesia. Cinta terhadap bahasa Indonesia artinya harus mengenal, memahami, mencintai, dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa yang baik artinya sesuai dengan kaidah EYD dan tata bahasa baku yang diberlakukan oleh bangsa Indonesia melalui Badan Bahasa RI (eks pusat Bahasa). Kemudian penggunaan bahasa yang baik, artinya kita harus menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif sesuai dengan konteks sosial, agama, budaya, pendidikan, dan lingkungan di mana pun kita berada.
Seluruh rakyat Indonesia harus bangga memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia, berbagai suku, ras, dan golongan menyatu dalam kebhinekaan tunggal ika. Segala perbedaan tidak dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat karena disatukan dengan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Dengan bangga kita harus menggunakan dan memasyarakatkan Bahasa Indonesia, merujuk pada UU no 24 tahun 2009 mengenai bendera, lagu kebangsaan, dan bahasa Indonesia. Dengan demikian, sebagai warga negara Indonesia yang mewarisi segala nilai perjuangan nenek moyang kita, marilah bersama-sama kita kumandangkan: aku cinta bahasa Indoneis, aku bangga bahasa Indonesia, dan bahasa Indonesia memang luar biasa.
Bersatulah negeriku, bangsaku, dan seluruh rakyat Indonesia kuatkan jiwa nasionalismemu, satukan semangatmu untuk membangun dan menyatukan NKRI melalui bahasa Indonesia. Cintai dan banggakan bahasa Indonesia dalam berbagai konteks kehidupan di negeri ini sebagai upaya untuk bekerja sama dan bergotong royong untuk mewujudkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam rangka memperingati janji dan komitmen sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Salam satu bahasa, bahasa Indonesia.
Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
Kepala UPT Perpustakaan UNS
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI)
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/ HP 081391423540

Membudayakan Membaca dan Menulis (Literasi) dimulai Sejak Dini pada Ranah Keluarga

Membaca akan mampu menyibak jendela dunia. Membaca dan menulis menjadi kunci untuk mengetahui informasi dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Budaya membaca dan menulis menjadi pilar budaya literasi. Pembiasaan membaca dan menulis  harus dimulai dari ranah keluarga. Orang tua harus menjadi teladan membaca bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh membaca di rumah dan mengajak anak-anaknya bersama. Di Indonesia saat ini, budaya membaca dan menulis masih sangat kurang. Lebih banyak anak-anak dan orang tua menonton sinetron TV dan bermain game.

Membangun komitemen bersama. Orang tua harus mengajak anak-anaknya membangun komitmen bersama untuk membiasakan membaca dan menulis pada jam-jam tertentu di rumah secara bersama-sama. Misalnya sehabis maghrib, anak-anak diajak membaca berbagai buku bacaan agama, sosial, fiksi, dan berbagai bacaan yang disenangi. Komitmen membaca harus disepakati oleh keluarga secara bersama. Untuk mengawali budaya baca di rumah, tidak harus lama tetapi konsisten dan terus-menerus dan dimulai dengan komitmen untuk memulai membaca dan menulis bersama.

Konsisten membaca dan berlanjut terus. Setelah dibangun komitmen untuk memulai membaca dan menulis bersama serta  dijadwalkan secara rutin, diperlukan konsistensi dan keberlanjutan. Artinya, diperlukan upaya keberlanjutan membaca dan menulis dimulai dengan topik-topik tertentu dengan pembahasan secara bersama di forum keluarga tersebut. Banyak hal yang akan didapatkan dalam forum diskusi keluarga tersebut untuk anak-anak kita, antara lain melatih keterampilan menyimak, berbicara,  membaca, dan menulis secara kritis terhadap topik-topik yang dibaca.

Penyediaan pojok-pojok baca di rumah. Untuk mendukung budaya m,embaca dan menulis di rumah perlu disediakan berbagai bahan bacaan di pojok-pojok baca. Oleh karena itu, berbagai model bahan bacaan, seperti Koran, majalah, karya-karya fiksi, nonfiksi, biografi, dan buku-buku umum lainnya yang mendukung motivasi membaca dan menulis perlu disediakan di pojok-pojok baca keluarga. Upayakan di setiap sudut ruang yang memungkinkan tempat bermain dan duduknya anak-anak dan keluarga sediakan bahan-bahn bacaan.

Praktikan untuk membaca dan menulis secara bertahap. Keterampilan membaca dan menulis harus dipraktikkan dan dilatih secara terus menerus. Oleh karena itu, setelah tumbuh budaya membaca  dan menulis pada ranah keluarga ajaklah anak-anak untuk membiasakan diri menuangkan ide gagasannya secar lisan dan tulis. Penyampaian ide secara lisan akan membantu melatih keterampilan berbicara sedangkan penyampaian secara lisan akan melatih keterampilan menulis. Dengan demikian, pembiasaan budaya membaca dan menulis akan sangat efektif dimulai sejak dini dari ranah keluarga. Dengan demikian, upaya untuk mengintegrasikan membudayakan membaca dan menulis di rumah akan sangat membantu proses belajar mengajar anak di sekolah dan masyrakat. Dengan demikian, keluarga menjadi salah satu pilar pendidikan yang efektif untuk anak-anak kita sebagai calon generasi masa depan bangsa Indonesia.

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Motivator dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/081391423540

Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar Civitas Akademika

“Belajar adalah proses untuk mengetahui, memahami, dan mengamalkan. Bacalah, pahami, kemudian amalkan maka kebaikan akan selalau menyertai langkahmu sepanjang hayat!”

Perpustakan harus menjadi pusat sumber belajar seluruh civitas akademika di perguruan tinggi. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan di sebuah perguruan tinggi harus menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang terintegrasi, baik dalam perkuliahan maupun aktivitas softskill yang lain untuk menghasilkan generasi Indnesia, baik S-1, S-2, dan S-3 serta SDM yang unggul dan kreatif.
Generasi muda adalah calon pemimpin dan harapan bangsa. Generasi muda harus memiliki kecerdasan yang unggul dan kreatif melalui proses pembelajaran yang teringeratif dengan berbagai sumber referensi dan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai dengan karakteristik dan kemauan pembelajar. Hal terpenting yang harus diperhatikan oleh para mahasiswa dan dosen dalam pembelajaran adalah (1) tujuan pembelajaran, (2) karakteristik mahasiswa, (3) media pembelajaran, (4) suasana pembelajaran yang menyenangkan, (5) pusat sumber belajar/perpustakaan yang memadai, dan (6) dosen yang visioner. Keenam unsur tersebut apabila diintegrasikan dalam konteks pembelajaran aktif dan kreatif akan mengahasilkan insan-insan cendekia yang cerdas dan berdaya saing tinggi.
Perpustakaan dapat menjadi pusat sumber belajar yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa dan dosen ketika mereka dapat mengintegrasikan perpustakaan dengan konteks pembelajaran aktif dan kreatif berbasis perpustakaan. Belajar dari tokoh-tokoh dunia, seperti Albert Enstien, Bill Gates, Newton, dll. mereka semua adalah pembelajar dan pembaca buku-buku di perpustakaan. Oleh karena itu, untuk menghasilkan generasi muda yang hebat dan luar biasa seorang dosen harus berusaha mendekatkan dan bahkan menyatukan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang terintegrasi dengan mahasiswa. Hal ini sebagai bentuk kolaboratif antara media, sumber belajar, dan pembelajara dalam rangka akselerasi pemerolehan pengetahuan dan keterampilan sebagai insan-insan cendekian yang cerdas dan kreatif.
Tujuan pembelajaran harus tercapai dengan cara kreatif, inovatif, dan berdampak kepada para mahasiswa, baik sekarang dan di masa yang akan datang. Integrasi pembelajaran berbasis perpustakaan bukan hal yang sulit ketika dosen memiliki visi untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan unggul. Upaya tersebut dapat diwujudkan apabila pembelajaran yang dilakukan dintegrasikan dengan perpustakaan sehingga para mahasiswa secara intensif dan kolaboratif memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar dan penelitian mereka. Banyak pustaka yang dapat diresensi, dikaji, ditelaah, dan dimanifestasikan sebagai inspirasi untuk menumbuhkembangkan ide-ide kreatif mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Upaya ini dilakukan dengan program wajib baca bagi mahasiswa dan dosen minimal satu halaman per hari dan satu buku per minggu. Program pembiasaan ini dapat dievaluasi hasilnya setelah berjalan satu atau dua bulan secara intensif. Selain itu, program pembviasaan membaca ini dapat mendukung program pemerintah melalui permendikbud No. 21 tahun 2015 mengenai wajib membaca lima belas menit sebelum pembelajaran bagi pelajar. Dengan membaca kita akan mampu menjelajah dan menyibak dunia untuk kemajuan dan pengayaan pengetahuan kita melalui guru/dosen yang setia menemani belajar kita sepanjang masa, yaitu buku-buku di perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi serta perpustakaan daerah. Wahai para guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa selamat menjelajah dunia melalui membaca untuk kejayaan Indonesia tercinta! Salam sukses dan luar biasa! Salam Pustaka: Menyibak Jendela Dunia untuk Kejayaan Pendidikan Indonesia.

“Membaca dan menulis adalah upaya kita untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan diri dari kebodohan”

 

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Motivator dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/081391423540

Menjadi Pustakawan yang Andal dan Profesional

Penulis Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.(Kepala UPT Perpustakaan UNS)

” Pustakwan harus memiliki jiwa untuk megubah dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh para pemustaka, minimal senyum dan layanan prima akan selalu dikenang sepanjang masa”

Menjadi pustakawan adalah pilihan hidup. Seorang pustakawan adalah profesi yang tidak setiap orang mau dan mampu menjalankanya. Oleh karena itu, diperlukan niat dan komitmen yang kuat untuk menekuni profesi sebagai pustakawan. Pustakawan yang andal dan profesional tidak dapat serta merta menjadi idola para pemustaka. Akan tetapi komitmen untuk melayani dan memberikan berbagai informasi dan rekreasi pustaka yang dibutuhkan oleh para pemustaka adalah perwujudan komitmen dan integritas sebagai seorang pustakawan yang andal dan profesional.

Pustakawan harus memiliki kebiasan untuk membaca dan menulis. Kebiasan membaca dan menulis harus identik dimiliki oleh para pustakawan, baik pustakawan pelaksana, madya dan seterusnya. Hal ini sebagai bentuk upaya pengembangan diri dalam bidang budaya literasi bagi para pustakawan dan juga para pemustaka. Mengapa demikian? Para pemustaka diibaratkan setiap detik bergulat dan bergelimang dengan berbagai koleksi pustaka. Oleh karena itu, seorang pustakawan minimal harus memiliki kebiasaan membaca dan menulis untuk pengayaan reportoar bahasa dan pengetahuan yang beraneka ragam.

Pustakawan harus memiliki jiwa sebagai seorang pembelajar sepanjang hayat. Seorang pustakawan harus memilki jiwa pembelajar sepanjang hayat. Artinya seorang pustakawan harus dapat belajar dan membelajarkan semua aspek yang dimiliki dan siap berbagi dengan para pemustaka yang ada di  di dalam dan di luar perpustakan. Para pustakawan harus menjadi pendamping yang siap membukakan pintu menuju cakrawala dunia bagi para pemustaka. Para pustakawan harus memiliki jiwa pembelajar dalam membangun sikap untuk memberi, melayani, dan memproduksi kembali hasil pembelajaran tersebut dalam bentuk tulisan untuk masyarakat melaui media cetak, online, buku, seminar, dll..

Pustakawan harus memiliki jiwa untuk mengubah cara berpikir para pemustaka.  Perkembangan zaman dan teknologi mewajibkan kita untuk terus beranai mengubah cara berpikir diri sendiri dan orang lain menuju visi lembaga  yang hendak dicapai dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Oleh karena itu, seorang pustakawan yang andal dan professional harus beniat untuk berubah dan mengubah kondisi yang ada dilingkungannya. Semua itu akan dapat dilakukan apabila kita sudah mampu dan berani untuk mengubah cara berpikir dan kinerja kita sendiri tanpa harus ada imbalan, hadiah, atau kehadiran kepala, pemimpin, dan semua hal yang menjadi penyebab peruabahan kita.  Motivasi kuat yang harus tertanam dalam jiwa seorang pustakawan untuk menjadi pustakawan yang andal dan profesioanl adalah berniat untuk berubah dari hati kita sendiri.

Selamat mencoba untuk menjadi para pustakawan yang andal dan profesional. Kita mulai dari diri kita masing-masing, insyallah semua kawan, sahabat, dan sejawat kita akan mengikuti dengan ikhlas dan kepedulian untuk kemajuan perpustakaan dan lembaga kita tercinta.

“Menjadi matahari yang selalu menyinari  dunia sepanjang hari diperlukan kesabaran dan komitmen sepanjang masa. Karena kita harus siap memberi tanpa harus menerima, itulah prinsip dan komitmen matahari menyinari dunia”

Literasi Informasi di Perguruan Tinggi (Akses E-Journal UPT Perpustakaan UNS)

Oleh: Riah Wiratningsih

Abstrak

Literasi informasi adalah seperangkat kemampuan yang memerlukan individu untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Melimpahnya informasi melalui berbagai media (internet), menuntut keterampilan  pencari informasi (information seeker) untuk memiliki keterampilan dalam mendapatkan informasi secara benar dan cepat. Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi dan sebagai “growing organism” harus dinamis dalam mengikuti perubahan dan kemajuan TIK dimana pustakawan dituntut untuk proaktif, adaptif, dan inovatif dalam membangun pembelajar yang mandiri di perguruan tinggi.  Salah satunya adalah melalui user education “how to acces e-journal” sebagai referensi ilmiah dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi.

 

A.      Pengantar

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi  telah membawa banyak perubahan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah kemudahan dalam mendapatkan atau akses informasi, baik informasi yang sifatnya ilmiah, berita maupun hiburan. Keberadaan internet memberikan kemudahan  setiap information seeker dalam mencari solusi atas permasalahannya. Dengan mudahnya googling diantara jutaan bahkan milyaran informasi yang tersedia di internet. Internet dianggap sebagai rujukan informasi yang utama dalam menjawab segala permasalahan. Namun internet juga bisa menjadikan kita terjebak dalam arus informasi yang berlimpah tersebut, informasi “sampah”pun tersedia. Pernahkah ketika browsing, anda  akan berputar-putar di internet dengan mengklik link-link yang membawa anda  ke halaman yang tak berujung dan tak bertepi. Banyaknya pilihan informasi yang muncul, kadang memunculkan kebingungan. Sebagai contoh Black Hat SEO, sebuah situs yang mengunakan teknik  untuk menarik pengunjung agar masuk ke situsnya, namun setelah masuk pengunjung dibuat bingung dengan informasi yang ada. Situs seperti ini hanya ingin menaikkan rating saja.

Untuk itu Perlu skill tersendiri bagi information seeker dalam menentukan atau mendapatkan informasi yang benar melalui media internet. Informasi yang tersedia di internet sangat beragam dan sangat banyak informasi sampah. Adakah lembaga pengelola informasi yang bisa memberikan jaminan informasi secara benar? Tentu saja ada, dan salah satunya adalah perpustakaan. Adakah seseorang yang dapat memberikan skill dalam menelusur informasi. Sehingga hanya informasi yang benar saja yang bisa diambil? Tentu saja ada, dan jawabannya adalah pustakawan.

Perpustakaan sebagai lembaga pengelola dan penyedia informasi memiliki peran dalam membangun generasi literet. Perlu sebuah upaya  untuk memprogramkan kegiatan yang dapat meningkatkan skill dalam bidang penelusuran informasi. Masih banyak perpustakaan yang belum melakukan langkah untuk menjadikan pengguna perpustakaan sebagai pengguna yang mandiri dalam menelusur informasi. Bahkan di perpustakaan perguruan tinggi  yang memiliki koleksi beragam dan layanan yang beragam pula. Bagaimana pengguna akan tahu cara yang benar dalam memanfaatkan koleksi yang disediakan di perpustakaan, apabila tidak ada yang memberitahu? Siapa lagi yang akan melakukan kalau bukan pustakawan?

Di UNS program literasi informasi belum menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran/belum adanya kebijakan dari universitas terhadap program literasi informasi. Sehingga pemanfaatan koleksi yang melimpah di perpustakaan belum termanfaatkan secara optimal. Sangat disayangkan pengadaan koleksi elektronik yang menghabiskan budget besar tidak termanfaatkan secara optimal karena sivitas akademika tidak tahu/mengenal koleksi perpustakaan. Atau bisa saja mereka tahu adanya koleksi di perpustakaan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mendapatkan informasi/koleksi tersebut. Berdasarkan gambaran di atas penulis tertarik untuk mengadakan kegiatan  library user education dalam hal ini pemanfaatan/akses e-journal sebagai salah satu program literacy informasi yang dilakukan oleh pustakawan dalam menciptakan  generasi pembelajar yang mandiri.

B.       Perpustakaan sebagai growing organism

Disebutkan dalam Merriam-Webster (Concise Encyclopedia) bahwa perpustakaan adalah[1]

Collection of information resources in print or in other forms that is organized and made accessible for reading or study ……. Today’s libraries frequently contain periodicals, microfilms, tapes, videos, compact discs, and other materials in addition to books. The growth of on-line communications networks has enabled library users to search electronically linked databases.

Dari pengertian tersebut bahwa perpustakaan memiliki kumpulan koleksi baik tercetak maupun non cetak dan dikelola dengan aturan tertentu sehingga memudahkan untuk diakses. Seiring perkembangan TIK sangat memungkinkan pengguna perpustakaan memanfaatkan koleksi dengan link ke banyak database. Ranganathan dalam hukum perpustakaan (1931) yang ke lima mengatakan bahwa library is a growing organism. Dalam artian bahwa perpustakaan bukanlah lembaga yang statis, namun dinamis mengikuti perubahan yang terjadi.

Hukum Gorman adalah yang paling terkenal. Dia menafsirkan hukum Ranganathan dalam konteks perpustakaan saat ini dan kemungkinan masa depan. Gorman percaya bahwa S.R. Ranganathan menciptakan hukum perpustakaan berlaku untuk masa depan dan tantangan yang akan dihadapi pustakawan. Michael Gorman memberikan lima undang-undang baru tentang kepustakawanan dilihat dari sudut pandang pustakawan dalam masyarakat teknologi, yaitu: [2]

1. Libraries serve humanity.

2. Respect all forms by which knowledge is communicated.

3. Use technology intelligently to enhance service.

4. Protect free access to knowledge; and

5. Honor the past and create the future (Crawford & Gorman, 1995)

Kemajuan TIK yang sangat cepat dan overload informasi yang ada di internet menuntut pustakawan sebagai pengelola informasi harus adaptif dengan perubahan yang terjadi. Kertajaya dalam  The 10 Credos of Compassionate Marketing di mana kredo kedua adalah “BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM” dengan keterangan yang menyebutkan:[3] “Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.  Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi.  Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar.  Kalau kita tidak sensitif dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis“.

Pengguna perpustakaan di era informasi  adalah generasi digital native, di mana mereka sudah sangat terbiasa dan bisa memanfaatkan media elektronik untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Namun kemampuan mereka dalam memanfaatkan media elektronik (laptop/gadget) belum diarahkan untuk pencarian sumber informasi ke perpustakaan. Padahal perpustakaan sudah menyediakan beragam informasi dalam format elektronik.pemakai adalah orientasi utama perpustakaan, dalam hal ini adalah sivitas akademika perguruan tinggi. Perguruan tinggi adalah institusi yang paling cepat menerima/menciptakan teknologi. Perubahan teknologi ini menjadikan sivitas akademika dinamis dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Konsep-konsep baru terhadap pembaharuan selalu terupdate dan disinilah perpustakaan/pustakawan “sensitif” dalam mensikapinya dengan beradaptasi terhadap kebutuhan informasi pengguna (sivitas akademika).  Inilah konsep bahwa perpustakaan harus berkembang sesuai dengan kultur masyarakatnya yang dinamis.

Artikel lengkap klik disini