Perpustakaan dan Tim Ahli Pendidikan UNS Diskusikan Pendidikan yang Merata dan Berkualitas

SOLO – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2017, UPT Perpustakaan UNS bekerjasama dengan Tim Ahli Pendidikan dan Kebudayaan UNS Surakarta, Senin 8 Mei 2017, menyelenggarakan diskusi terarah (focus group discussion). Diskusi ini bertempat di Gedung A lantai 2FKIP UNS Surakarta. Dimana acara ini menampilkan dua pembicara yaitu Dr.Munawir Yusuf, M.Pd. dosen dan Wakil Dekan I FKIP UNS dan Dr. Suharno, ST, MT., dosen Pendidikan Teknik Mesin FKIP UNS. Kegiatan ini dipandu oleh Kepala UPT Perpustakaan UNS Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum. Peserta yang hadir terdiri dari guru besar, dosen, tenaga kependidikan, perwakilan dinas pendidikan, sekolah, dan instansi terkait.

 Menuju Kampus Inklusif Ramah Disabilitas

Dalam paparannya Dr. Munawir Yusuf, M.Pd. yang juga merupakan Ketua Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) ini menerangkan bahwa pendidikan inklusi di perguruan tinggi belum berkembang dengan baik seperti halnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Padahal instrumen terkait pendidikan inklusi sudah dikembangkan oleh pemerintah. Meskipun di beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah menerima mahasiswa disabilitas, namun penerimaan ini sebagian besar bersifat alamiah tanpa kebijakan khusus yang berperspektif disabilitas. Ke depan, kepedulian kampus terhadap disabilitas perlu dimulai sejak penerimaan calon mahasiswa baru. Perguruan tinggi harus dengan terbuka mencantumkan dalam pengumumannya bahwa penyandang disabilitas diberikan kesempatan yang sama untuk tes seleksi masuk perguruan tinggi, misalnya melalui program afirmasi, kuota penerimaan, atau seleksi khusus. Selain itu juga sarana dan prasarana di kampus juga diharapkan ramah terhadap disabilitas.

Peluang dan Tantangan Pendidikan Vokasi

Sedangkan Dr. Suharno, ST., MT. menyatakan bahwa sebuah survei tahun 2008 menunjukkan bahwa di daerah dimana populasi SMK lebih tinggi dari SMA maka daerah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto regional yang lebih tinggi. Maka berdasarkan asumsi ini, pemerintah sejak tahun 2008/2009 menetapkan kebijakan pembalikkan rasio SMK : SMA yang semula 30% : 70% maka menjadi 70% : 30%, sehingga potensi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia sangat besar. Namun bukan berarti pendidikan vokasi tanpa tantangan. Dimana tantangannya sangat berat yaitu bagaimana pemerintah mengelola SMK dan memikirkan nasib para lulusan SMK sekarang. Menurutnya bahwa ada delapan masalah utama yang menyebabkan rendahnya mutu dan relevansi lulsuan SMK ini yaitu: Pertama, pendirian SMK tanpa kontrol. Kedua, kecukupan dan kompetensi guru SMK. Ketiga, program studi tidak ada di LPTK. Keempat, masalah sarana dan prasarana yang terbatas. Kelima, pembelajaran di SMK yang tidak sesuai dengan permintaan pasar. Keenam, pendidikan vokasi yang relatif lebih mahal dibanding pendidikan umum. Ketujuh, problem manajerial kepala sekolah, dan kedelapan, belum banyaknya dukungan dunia usaha dan industri yang bekerjasama dengan SMK. Selain itu, perlunya juga perguruan tinggi menyelenggarakan program studi yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini, dimana tuntutannya adalah cepat kerja dan memiliki kemampuan berwirausaha. Sehingga ke depan UNS disarankan untuk membuka sebelas program studi terkait vokasi yang dibutuhkan oleh masyarakat yaitu, program studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif, Pendidikan Teknologi Pesawat Udara, Pendidikan Teknik Energi Terbarukan, Pendidikan Teknik Telekomunikasi, Pendidikan Farmasi, Pendidikan Agribisnis Tanaman, Pendidikan Agribisnis Ternak, Pendidikan Perikanan, Pendidikan Perhotelan dan Jasa Pariwisata, Pendidikan Tata Busana, dan Pendidikan Kuliner, serta S2 Penididkan Teknologi dan Kejuruan.

Difabel Corner

Kepala UPT Perpustakaan UNS, Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum.  dalam pernyataannya menjelaskan bahwa penerapan pendidikan inklusi sangat diperlukan, hal ini sebagai upaya menuju kampus inklusif ramah disabilitas, dalam rangka perluasan akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas. Di UPT Peprustakaan UNS dalam waktu dekat akan direalisasikan adanya “Difabel Corner” sebagai wahana sosialisasi, diskusi dan interaksi serta mewujudkan literasi informasi disabilitas, karena hal ini sesuai dengan amanat UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *