SUMBANGAN FILOLOGI DALAM PENYUSUNAN STRATEGI KEBUDAYAAN INDONESIA

Prof. Dr. H. Bani Sudardi, M.Hum.

Bismillahir rahmaanir rahiim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua
Yang terhormat.:
1.    Bapak Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para anggota Senat Universitas Sebelas Maret.
2.    Para Pejabat Pemerintah, baik sipil maupun  militer
3.    Para Ketua Lembaga, Kepala Biro, dan Ketua UPT di lingkungan Universitas Sebelas Maret.
4.    Para Dekan, Pembantu Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Labo¬ra¬¬¬torium, Kepala Bagian, Kepala Tata Usaha, dan Kasubbag di lingkungan Universitas Sebelas Maret
5.    Para Dosen, Mahasiswa, serta Civitas Akademika  Univer¬sitas Sebelas Maret
6.    Para Tamu Undangan, Sanak Keluarga, dan handai taulan
7.    Para wartawan, baik cetak maupun elektronik, yang meliput acara ini.

Marilah kita bersama-sama senatiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah memberi kita karunia yang tak terbilang.
Pada awal Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka, Universitas Sebelas Maret ini, izinkahlah saya mengung¬kapkan rasa syukur dan kegembiraan hati dengan cara memanjat¬kan puji syukur ke hadirat Allah dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional yang telah menghargai jerih payah, prestasi, dan potensi diri saya yang sejak 1 April 2006 telah mengangkat saya sebagai guru besar Filologi di Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, secara loncat jabatan.
Selanjutnya, dalam rangka memenuhi tradisi akademik yang mulia lagi terpuji, dalam pidato pengukuhan guru besar ini, saya akan menyampaikan sumbangan pemikiran dan pandangan akade¬mik saya yang berjudul ”SUMBANGAN FILOLOGI  DALAM PENYUSUNAN STRATEGI KEBUDAYAAN INDO¬NESIA”.

1.  Pengertian Filologi
Di antara para hadirin tentu ada yang menyeruak pertanyaan dari dalam hati sanubari: ”Apakah gerangan yang dimaksud Filologi itu?” Filologi adalah cabang ilmu budaya berupa disiplin ilmu yang berorientasi pada naskah-naskah klasik. Sebagai disiplin ilmu, Filologi merupakan ilmu yang cukup tua. Setidaknya pada abad ke-3 sebelum Masehi, ilmu ini sudah berkembang di Iskandariyah, Yunani Kuna.
Secara etimologis, filologi dari bahasa Latin philos dan logos. Philos berarti cinta  dan logos berarti kata. Filologi berarti “cinta kata”. Sebagai disiplin ilmu, ciri khas Filologi memang selalu berkutat pada hal-hal yang berkaitan dengan kata dan makna¬¬nya. Karena kata yang tersusun menjadi teks mengandung aneka pengetahuan yang luas, maka dewasa ini pengertian filologi di ber¬bagai tempat di dunia sering berbeda-beda (Sudardi, 2003: 5-6).
Di Indonesia filologi diartikan sebagai disiplin ilmu pengeta¬huan yang mempelajari kebudayaan masa lalu suatu bangsa melalui teks-teks klasik tertulis. Pengertian ini mirip pengertian yang ber¬kembang di negeri Belanda. Hal ini patut kita pahami karena sebagian perintis kegiatan filologi di Indonesia adalah orang-orang Belanda.
Kegiatan filologi berawal di Iskandariyah. Pusat kegiatan filologi tersebut berada di museum yang waktu itu merupakan tempat sakral. Museum berarti kuil untuk Dewi Muses. Menurut mitologi Yunani, Dewi Muses merupakan dewi kesenian dan ilmu pengetahuan (Reynold dan Wilson, 1968: 6). Pada masa itu, di Museum Iskan¬dariyah, terdapat kegiatan pengkajian terhadap naskah-naskah klasik. Salah satu tokoh yang disegani di Museum adalah Eratosthenes (295-214 sebelum Masehi). Ia banyak memiliki ilmu pengetahuan dan dikenal sebagai ahli sastra. Perpustakaan di Museum yang dikelolanya diperkirakan menyimpan 200 sampai 490 naskah. Kegiatan Filologi di tempat itu ialah menyimpan, mengoreksi, mengkopi, dan menyelamat¬kan naskah-naskah kuna. Berkat jasa Eratosthenes dan kawan-kawannya, teks-teks klasik Yunani Kuna dapat ditemukan sampai sekarang dalam keadaan yang baik  (Reynold dan Wilson, 1968: 7-8).
Kegiatan Filologi pada saat itu mencakup semua bidang studi sehingga dapat dianggap sebagai studi kebudayaan secara umum karena yang dikaji adalah berbagai ilmu pengetahuan. Ahli Filologi di masa Yunani ini benar-benar sebagai ilmuwan yang mumpuni karena mengetahui hampir semua pengetahuan pada masanya.

2.  Objek Penelitian Filologi
Telah diuraikan bahwa filologi mempelajari kebudayaan masa lalu melalui teks-teks tertulis. Teks-teks tertulis di atas suatu bahan yang disebut naskah. Jadi, objek penelitian filologi adalah teks dari masa lalu yang tertulis di atas naskah yang mengandung nilai budaya.
Di dalam filologi dengan jelas dibedakan pengertian teks dan naskah. Teks adalah sesuatu yang tertulis yang berupa kode-kode bahasa. Teks dapat berupa teks lisan, teks tertulis, teks rekaman, dan sebagainya.Naskah adalah benda material tempat suatu teks dituliskan.
Filologi dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu budaya tentang masa lalu seperti paleografi, arkeologi, dan sejarah. Hanya saja di sini tampak perbedaan objek kajian. Paleografi mengkhususkan pada kajian tentang tulisan-tulisan kuna. Arkeologi meneliti benda-benda budaya dari masa lampau, sementara sejarah meneliti peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Filologi meneliti teks-teks masa lampau yang tertulis di atas naskah. Hal ini karena ada juga teks-teks masa lampau yang tidak tertulis di atas naskah, melainkan tertulis di media lain seperti prasasti yang tertulis di atas batu dan teks-teks lisan. Pengkhususan objek kajian pada teks-teks klasik tertulis dimaksudkan untuk membatasi lingkungan kerja agar beban yang disandang tidak terlalu berat dan kajian yang dilakukan dapat dikerjakan secara mendalam.
Perlu disadari bahwa untuk memahami teks-teks klasik, pem¬baca harus menghadapi beberapa kendala seperti jenis tulisan yang sudah tidak digunakan, bahasa yang mempunyai langgam berbeda, makna kata yang berubah, dan perubahan nilai-nilai budaya. Sebagai misal, kata ”cinta” yang dewasa ini bermakna ’suka sekali, sayang benar’,  di dalam bahasa Melayu klasik kata ’cinta’ bermakna susah hati atau risau” (Alwi dkk., 2001: 215). Kata ”ranjau” yang sekarang berkonotasi dengan peledak dalam peperangan modern, dalam bahasa Melayu klasik bermakna sebagai ’pancang bambu atau besi untuk menjebak musuh atau binatang, (Alwi dkk, 2001: 931).

3.  Tujuan Filologi
Sebagai suatu kegiatan filologi mempunyai tujuan tertentu di dalam bekerja. Secara garis besar tujuan filologi ialah memahami suatu kebudayaan masa lalu melalui teks tertulis (naskah). Filologi juga mempunyai tujuan khusus, yakni mendeskripsikan dan menya¬jikan suatu teks tertulis di dalam naskah dalam wujud yang paling tepat. Filologi mempunyai tugas untuk menjabarkan ide-ide, gagasan, peristiwa, dan pandangan hidup. Filologi berusaha mema¬hami sejauh mungkin kebudayaan masa lalu suatu bangsa melalui hasil sastranya (Baried dkk., 1985:5). Pengertian sastra di sini dalam arti yang luas berupa penyajian ilmu pengetahuan melalui bahasa (tekstual) yang di dalamnya berisi berbagai infor¬masi masa lalu seperti pandangan hidup, sastra, bahasa, sejarah, seni, religi, kepercayaan, adat istiadat, pengobatan, dan sebagainya. Atau dengan kata lain, konsep sastra di sini mencakup segala sesuatu yang menggunakan bahasa dengan cara yang kreatif (Hussein, 1974: 12). Untuk mencapai tujuan tersebut, Filologi beru¬saha menyajikan teks (menyunting) setepat mungkin dengan cara melakukan penelitian secara seksama sesuai dengan dasar-dasar teoretis yang digunakan. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, Filologi juga berkewajiban mengungkap sejarah terjadi¬nya teks dan sejarah perkembangannya serta mengungkapkan resepsi  (tang¬gapan) pembaca pada setiap kurun penerimaan (Baried, 1985: 6).

4.  Relevansi Studi Filologi
Naskah klasik sering sudah tidak dikenal oleh masyarakat¬nya. Untuk membaca dan mengkajinya perlu waktu bersuntuk-suntuk, sementara masyarakat pemiliknya kadangkala sudah tidak memperhatikan lagi. Sebagai contoh, naskah klasik Jawa yang jumlahnya ribuan eksemplar mungkin sudah tidak dikenal lagi oleh generasi muda Jawa dewasa ini, bahkan kemungkinan besar mayo¬ritas generasi muda Jawa tidak memahami dengan baik tulisan Jawa (ha na ca ra ka). Ironisnya, seringkali orang-orang asing yang jauh dari negeri seberang yang lahir dari kebudayaan yang amat berbeda merelakan hidupnya untuk mempelajari naskah-naskah klasik kita, bahkan selanjutnya mereka menjadi guru-guru kita dalam menggali khasanah budaya masa lampau.
Pertanyaan yang mudah sekali muncul: Untuk apa naskah-naskah klasik dipelajari? Mempelajari naskah klasik memiliki relevansi secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, naskah klasik menyimpan berbagai informasi yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan kandungan informasi yang dibawa¬nya seperti sastra, sejarah, pengobatan, adat istiadat, agama, dan sebagainya (Soeratno, 2003). Secara praktis, Filologi juga dapat membantu menyediakan bahan-bahan bagi tujuan praktis seperti menyusun gambaran masa lampau untuk kepentingan per¬satuan, mencari nilai-nilai luhur masa lalu, membangun kebuda¬yaan, mencari inspirasi, dan sebagainya. Beberapa konsep yang sekarang kita kenal betul sebenarnya bersumber dari teks-teks klasik seperti bhineka tunggal ika, Pancasila, nusantara, adigang-adigung adiguna, tirakatan, dan sebagainya. Pengetahuan sejarah Indonesia masa lampau juga kita peroleh dengan agak lengkap berkat naskah-naskah klasik, misalnya tentang petualangan Ken Arok yang fantastis (Pararaton), kebesaran Majapahit (Negara kerta¬gama), masuknya Islam ke Aceh (Hikayat Raja-Raja Pasai),   hubungan Jawa dan Kalimantan (Hikayat Banjar), ajaran Hamzah Fansuri dan Seh Siti Jenar, dan lain-lain. Pada kesempatan ini, akan dipaparkan mengenai urgensi studi filologi dalam rangka me¬nyusun strategi kebudayaan Indonesia.
5.  Strategi Kebudayaan
Strategi kebudayaan adalah suatu usaha manusia untuk menemu¬kan jawaban-jawaban tepat dan sikap yang paling dapat dipertanggungjawabkan mengenai pertanyaan-pertanyaan besar yang berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia (Peursen, 1976: 19). Strategi kebudayaan bersifat abstrak yang menjiwai berbagai aktivitas keseharian. Strategi kebudayaan merupakan suatu hal yang dinamis dengan seiring tantangan-tantangan budaya yang muncul di masyarakat.
Strategi kebudayaan tampak dalam berbagai bentuk hasil budaya. Cerita kancil di Jawa yang dikenal suka menipu lawan-lawannnya adalah cerminan strategi budaya masyarakat Jawa. Cerita tersebut merupakan bentuk sikap budaya orang Jawa yang tidak suka open conflict. Cerita ini berbeda dengan cerita kancil Melayu berjudul Hikayat Pelanduk Jenaka yang di dalamnya kancil tampak dinamis, bahkan bergelar Syah Alim Dirimba yang berhasil merajai hewan-hewan di belantara (Dipodjojo, 1966).
Cerita kancil yang suka menipu merefleksikan strategi kebu¬da¬yaan orang Jawa yang tidak suka konflik terbuka dan tidak ber¬terus terang. Di dalam budaya Jawa, menipu memiliki tingkat-tingkat hirarkis.
a.    Menipu yang mulia yang disebut dora sembada (menipu untuk membela kebaikan dan kebenaran).
b.    Menipu yang dianggap biasa dan dapat membawa kebe¬run¬tungan yang dikenal goroh nguripi. Perbuatan ini adalah per¬buatan pedagang dalam membujuk pembelinya yang juga sering menggunakan kata-kata tipuan.
c.    Menipu untuk menjaga kesopanan yang dikenal ulas-ulas. Misal¬nya sebenarnya lapar, tetapi menyatakan kenyang, me¬nyata¬¬kan nggih (ya), tetapi sebenarnya tidak, dan sebagainya.
d.    Menipu yang tidak merugikan orang lain, tetapi tidak disenangi. Contoh tindakan ini ialah umuk, yaitu menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Umuk merupakan refleksi untuk menutupi kekurangan pribadi seperti tercermin dalam ungkapan ”timbang mati ngantuk luwung mati umuk” (dari¬pada mati mengantuk lebih baik mati sombong.
e.    Menipu yang merugikan orang lain yang disebut apus-apus atau apus krama. Tindakan ini adalah tindakan menipu yang menurut budaya Jawa dianggap perbuatan yang tidak dapat dimaafkan.
Demikian contoh kecil strategi kebudayaan yang diambil dari budaya Jawa. Bagi orang yang belum memahami budaya Jawa, perbuatan ”menipu” seperti itu mungkin dianggap perbuatan yang sangat menjengkelkan, tetapi bagi orang Jawa dianggap sesuatu yang biasa, wajar, bahkan termasuk kesopanan.
Sementara itu, pelanduk (kancil Melayu) yang bergelar Syah Alim Dirimba tidak lain merupakan refleksi strategi budaya Melayu yang condong ke falsafah Islam seperti tercermin dalam pepatah ”adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”. Artinya, adat Melayu berdasarkan pada syariat Islam, sementara syariat bersandar pada Al-Qur’an (Kitabullah). Karena itu, pelan¬duk Melayu fasih pula mensitir ayat-ayat Al-Qur’an.

6.  Strategi Kebudayaan Indonesia
Sebagai ilustrasi, kondisi strategi kebudayaan Indonesia budaya kita dewasa ini tampak belum menemukan format yang mantap. Dewasa ini, kebudayaan kita kehilangan orientasi yang berakibat timbulnya kebingungan di masyarakat. Masyarakat kita dijejali dengan konsep-konsep strategis yang tidak memiliki akar budaya dan menimbulkan interpretasi baru. Beberapa konsep seperti demokrasi, reformasi, otonomi, yang dewasa ini menjadi vital dalam orientasi kebudayaan Indonesia pada hakikatnya tidak betul-betul dipahami karena sebenarnya konsep tersebut berakar pada lingkungan budaya yang berbeda dan latar belakang sejarah yang berlainan. Baik di lapisan atas maupun lapisan bawah, pemahaman konsep-konsep tersebut semakin kabur. Demokrasi akan dimaknai sebagai ”hukum rimba”, yakni yang banyak anggota¬¬nya harus menang dan benar, reformasi berarti boleh melanggar hukum, melanggar norma, merusak tatanan, otonomi diartikan milik negara boleh dijadikan milik pribadi atau golongan.
Bangsa kita dewasa ini juga terjebak dalam paradoks-para¬doks, misalnya kita menolak pornografi dan pornoaksi, tetapi menolak apabila hal tersebut diatur dalam undang-undang. Pemi¬kiran budaya kita juga terjebak pada cara, bukan pada esensi. Yang namanya demokrasi, reformasi, otonomi, HAM (Hak Azasi Manusia), dan konsep-konsep lain dari luar sebenarnya adalah cara untuk mencapai kondisi idiil. Di Indonesia cara tersebut hendak¬nya digunakan untuk menuju cita-cita luhur bangsa Indonesia seperti yang terukir indah di dalam PANCASILA. Artinya, apa pun yang kita lakukan hendaknya diarahkan pada tercapainya kondisi idiil dalam Pancasila seperti berketuhanan yang mahaesa, ber¬kemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial”. Sebagai suatu cara, kita boleh memilih alternatif dan tidak menjadikan konsep-konsep asing sebagai ”agama baru” dengan harga mati. Alternatif yang paling sesuai ialah alternatif yang bersumberkan pada nilai-nilai luhur budaya Indonesia sendiri.
Sebagai ilustrasi patut diingat bahwa majelis kekuasaan tertinggi bangsa Indo¬nesia adalah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Sesuai dengan nama¬nya unsur musyawarah hendaknya menjadi semangat. Hal ini sesuai dengan semangat luhur bangsa kita seperti dalam pepatah ”bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”. Untuk bisa men¬capai mufakat, harus terbentuk internalisasi diri atau pengendapan rohaniah seperti terungkap dalam pepatah Jawa ”bisa rumangsa, ora rumangsa bisa” (mampu berintstropeksi dan tidak menonjol¬kan diri”. Capaian mufakat merupakan sesuatu yang sangat bernilai daripada model voting, misalnya, karena mufakat lebih terasa ”nguwongke” (menghargai) dan sangat sesuai dengan prinsip ”kema¬¬nusiaan yang adil dan beradap”. Kemampuan mencapai mufakat merupakan cerminan dari ”kelonggaran hati dan kebesaran jiwa”. Orang yang berpikiran picik dan mementingkan diri sendiri tentu tidak akan mampu membangun esensi kemufakatan, yaitu terbentuknya harmoni baru yang menyejukkan.
Dewasa ini diperlukan kaji ulang mengenai berbagai pelak¬sanaan strategi budaya di segala bidang. Sebagai misal, budaya demokrasi yang pada mulanya diharapkan dapat menyelesaikan masalah bangsa, pada kenyataannya justru menimbulkan masalah baru. Demi demokrasi yang tidak betul-betul dipahami konsepnya oleh bangsa Indonesia, ternyata kita harus membayar mahal. Di samping biaya pesta demokrasi yang mahal dan melelahkan, kadang-kadang demokrasi menimbulkan dampak baru berupa terkotak-kotaknya bangsa ini dalam berbagai kelompok dan muncul¬nya permusuhan di kalangan rakyat. Sementara substansi demokrasi Pancasila yang mengedepankan ”hikmat kebijaksanaan” dan permusyawaratan menjadi semakin jauh dari kehidupan. Dalam kondisi demikian, pemikiran untuk membentuk masyarakat adil makmur akan terabaikan karena energi kita tersedot pada hal-hal yang bukan esensi.
Menurut hemat kami, bila bangsa Indonesia ingin maju dan tidak kehilangan energi untuk hal-hal yang tidak esensial, model strategi kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia perlu dikedepankan. Tampaknya kita perlu belajar dari bangsa Jepang. Tidak disangsikan bahwa dewasa ini Jepang telah mencapai kemajuan yang signifikan, tetapi strategi budaya yang dijalankan tetap berakar pada nilai-nilai asli bangsa tersebut. Sukses Jepang dalam percaturan bisnis global menjadi fenomena menarik untuk dikaji, bukan hanya oleh negara-negara berkem¬bang, melainkan juga oleh negara-negara maju. Bangsa Jepang memiliki kerangka 7 landasan dalam membangun budayanya, yaitu:
a.    kompleksitas bahasa,
b.    homogenistas ras dan budaya,
c.    menjunjung harmoni,
d.    sikap eksklusif,
e.    kuatnya ikatan kelompok
f.    komitmen kesejahteraan, dan
g.    rasa superioritas (Khadiz, 2003: 205).
Perlu pula ditambahkan bahwa negara-negara yang suka meng¬gembar-gemborkan HAM dan demokrasi sekalipun, ternyata juga tidak konsisten memegang teguh prinsip tersebut. Serangan pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat ke Afganistan dan Irak (dua negara berdaulat) adalah contoh nyata tentang hal itu.

7.   Peran Filologi dalam Menyusun Strategi Kebudayaan
Peran Filologi dalam menyusun strategi kebudayaan Indo¬nesia pada dasarnya menyediakan bahan-bahan sebagai sarana refleksi dan instrospeksi. Filologi juga dapat membantu menggali nilai-nilai luhur sebagai bekal menyongsong kehidupan yang lebih baik. Harus disadari bahwa bangsa Indoensia memiliki pengalaman dan sejarah masa lampau yang membentuk karakter. Tidak semua hal dari masa lampau sesuai dan baik untuk saat ini, tetapi beberapa di antaranya relevan dan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di antaranya:
a.  Konsep Kepemimpinan
Krisis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Yang menjadi pusat perhatian kita hanyalah pada bagaimana ”memilih pemimpin” dan tidak menyinggung ”pemim¬pin yang bagaimana yang dipilih”. Naskah-naskah klasik mem¬berikan konsep pemimpin yang seharusnya ”hambeg adil para¬marta, bérbudi bawalekasana, bau denda nyakrawati” yang adil, murah hati, penyayang, taat menjalankan aturan, dan mampu menye¬lesaikan masalah”. Karena itu, gelaran raja Jawa adalah ”senapati ing alaga, amirul mukminin, kalifatuloh, sayidin panata¬gama” (panglima dalam peperangan. pimpinan orang beriman, penguasa kerajaan, pemimpin keagamaan”. Sementara itu, Sejarah Melayu menyatakan bahwa pemimpin adalah zilzullah fil alam (bayangan Allah di dunia). Sejarah Melayu menggambarkan bahwa seorang pemimpin hendaknya berkasih sayang dengan bawahan¬nya. Sekali pemimpin berbuat aniaya pada bawahannya, maka itu sebagai tanda awal kehancurannya.
Nilai luhur ini di dalam Sejarah Melayu ini digambarkan dalam kisah ke-10, yaitu kisah tentang Singapura diserang ikan todak. Ikan todak adalah sejenis ikan cucut yang mampu naik ke darat dan menusuk manusia sehingga menimbulkan kematian. Men¬dapat serangan ikan ini, Raja Singapura menjadi bingung. Datanglah seorang anak yang memberi nasihat bahwa untuk mengalah¬kan ikan todak harus digunakan perisai dari batang pisang. Dengan cara itu, moncong ikan todak akan menancap di batang pisang sehingga tidak membahayakan lagi.
Pikiran anak yang kreatif tersebut justru menimbulkan iri hati dan kekhawatiran. Anak itu kemudian dibunuh oleh Raja Singapura. Pembunuhan ini merupakan awal hancurnya Singapura.
”Syahdan maka budak (= anak, pen) itupun disuruh bunuh oleh baginda, menjadi benar pada hatinya. Adapun tatkala budak itu dibunuh, maka hak rasanya ditanggungkan atas negeri Singapura” (Situmorang dan Teeuw, 1952: 75).
Kisah di atas menyampaikan pesan bahwa seorang pemim¬pin hendaknya mampu menerima pikiran-pikiran kreatif dari  siapa pun dan tidak menerima dengan syak wasangka.

b.    Alon-alon waton kelakon  dan cukat trengginas kadya Srikatan nyamber walang
Ungkapan alon-alon waton kelakon sering dimaknai nega¬tif. Ungkapan tersebut sebenarnya merupakan salah satu bentuk strategi yang mencerminkan kesabaran. Hal ini dapat dilihat pada kisah dalam Babad Tanah Jawi sebagai berikut.
Danang Sutawijaya adalah seorang hamba Sultan Pajang. Karena kecerdasan otak dan kehalusan budinya, ia diangkat men¬jadi anak angkat Sultan Pajang. Babad Tanah Jawi menggam¬barkan kegigihan Danang Sutawijaya yang masih anak-anak dengan gagah berani melawan Harya Penangsang yang sakti. Dengan cara tersebut Danang Sutawijaya berhasil memenangkan sayembara memperoleh Alas Mentaok (Hutan Mentaok) yang angker kemudian bergelar Panembahan Senopati. Dengan sabar ia membangun hutan menjadi perdikan dan dengan sabar ia mem¬bina hubungan baik dengan penguasa di sekitarnya sehingga banyak penguasa takluk bukan karena perang, ”hamung kayungyun marganing kautaman” (hanya tertarik pada kebaikannya). Panembahan Sena¬pati menempuh hal tersebut dengan sabar (alon-alon waton kelakon). Ketika situasi memungkinkan, maka dengan cepat Panem¬bahan Senopati mendirikan dinasti Mataram yang sampai saat ini masih dapat disaksikan kemegahannya dengan Kraton Yogya, Kraton Surakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangku¬negaran yang kesemuanya mengaku sebagai keturunan Panembahan Sena¬pati atau ”Darah Mataram”.
Kisah tersebut merupakan gambaran yang patut dicontoh bahwa dalam mencapai cita-cita kesabaran memang perlu. Panem¬bahan Senapati membangun Mataram dengan penuh kesabaran, tetapi pada saat-saat diperlukan ia mampu bertindak gesit yang digambarkan sebagai ”cukat trengginas kadya srikatan nyamber walang”.
Kalau sementara ini dikatakan bahwa Panembahan Senapati mengawini Ratu Kidul, yang patut dicatat adalah kronologi kisah yang disebutkan bahwa Ratu Kidul merasa kalah wibawa dengan Panembahan Senapati lalu Ratu Kidul mengabdi kepada¬nya. Serat Wedhatama menyebutkan ”pamrihe mung ameminta, supangate teki teki, nora ketang teken janggut suku jaja” (maksud¬nya hanya meminta, manfaat laku prihatin, meskipun dengan susah payah).
Karena itu, kalau dewasa ini ada orang-orang yang pergi ke Laut Selatan untuk meminta atau memuja pada Ratu Kidul, dari segi kebudayaan merupakan kemunduran dari apa yang telah dicapai pendahulu raja Mataram yang merupakan tuladha laku utama (contoh baik).

c.  Membangun Keserasian
Membangun keserasian adalah salah satu strategi kebuda¬yaan yang patut ditanamkan pada tata kehidupan kita. Harmoni merupakan konsep yang sesuai  dengan akar budaya Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kisah-kisah klasik yang menekankan penting¬nya harmoni. Di dalam Hikayat Banjar dan Kota Waringin (Ras, 1968) dikisahkan tentang Ampu Jatmaka yang tidak mau menjadi raja. Untuk membangun kerajaan dicarilah calon penurun raja. Calon permaisuri diperoleh dari bayi yang berada di air di atas buih yang bernama Putri Jumjum Buih. Calon raja diperoleh dari anak mata¬hari yang berasal dari Majapahit bernama Suryanata. Cerita ini menyiratkan bahwa untuk membangun kebudayaan yang kokoh harus dapat membangun harmoni. Dalam kisah di atas digambar¬kan harmoni yang diharapkan berupa perpaduan air (buih), tanah (tempat kerajaan), dan udara-api (matahari). Dengan kata lain, untuk membangun negara yang kokoh, persatuan dan kesatuan merupakan modal utama. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari suatu negara yang selalu kisruh.

d.  Perencanaan dan Manajemen yang baik
Manajemen merupakan hal yang sangat vital dalam strategi kebudayaan. Secara kasat mata, dewasa ini banyak terjadi pemborosan di segala bidang karena manajemen yang tidak baik. Di dalam Hikayat Mahsyud Hak digambarkan bahwa tanpa manajemen yang baik, apalagi hanya didasari emosi, maka rencana dan cita-cita akan kandas berantakan.
Dikisahkan ada seorang pemuda yang sangat mencintai kekasihnya. Ketika kekasihnya digigit nyamuk di kakinya, karena emosi pemuda tersebut mengambil kapak untuk membunuh nyamuk di kaki kekasihnya. Yang terjadi, nyamuk bisa lolos sementara kekasihnya kehilangan satu kaki. Kisah lain menyebut¬kan seorang hamba yang dipercaya menjaga lumbung majikannya. Ketika ia melihat seekor tikus bersembunyi dan makan di dalam lumbung, maka dengan emosi dibakarnya lumbung tersebut dengan maksud membakar tikus yang ada di dalamnya. Hasilnya, lumbung yang seharusnya dijaga justru lenyap menjadi abu (Jusuf dkk, 1984).

e.  Pentingngnya Ilmu Pengetahuan
Asal mula budaya Jawa dan huruf Jawa di dalam naskah Jawa klasik bersumber dari cerita Aji Saka. Karena besarnya pengaruh cerita ini, tempat seperti Bledug Kuwu dipercaya munculnya pada zaman Aji Saka. Tahun Jawa juga disebut Tahun Saka. Tiang utama penyangga rumah Jawa disebut Saka Guru. Di dalam cerita Aji Saka disebutkan adanya raja asli Jawa bernama Dewata Cengkar. Raja ini tidak berbudaya dan kanibal. Aji Saka menewas¬kan raja ini dengan cara disuruh menggelar surban (penutup kepala). Surban Aji Saka mengembang sampai Laut Selatan. Di pinggir tebing laut Dewata Cengkar dikibaskan dan jatuh ke laut. Dewata Cengkar menjadi bajul (buaya) putih yang menjadi peng¬ganggu manusia
Cerita ini memberi gambaran bahwa pribumi akhirnya tersisih karena tidak memiliki ilmu pengetahuan yang disimbolkan “kalah dalam menggelar surban”. Relevansi bagi strategi kebu¬dayaan bahwa bangsa Indonesia apabila tidak memiliki ilmu pengetahuan akhirnya hanya akan menjadi bajul putih atau begajulan (berandalan) yang suka mengganggu orang saja. Alih ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang strategis dalam strategi kebudayaan dewasa ini.
Demikian uraian mengenai sumbangan Filologi bagi penyu¬sunan strategi kebudayaan Indonesia. Harapan saya, semoga pidato ini mampu menggugah kita semua untuk menengok kembali kekayaan rohani bangsa kita yang saat ini tersimpan di dalam naskah-naskah klasik dalam rangka membangun kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian kita. Semoga pidato ini juga menumbuhkan minat di kalangan mahasiswa untuk mau menekuni naskah-naskah klasik. Kondisi yang memprihatikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS ialah bahwa mahasiswa yang tertarik menekuni studi filologi setiap tahunnya hanya satu dua orang saja.

Hadirin yang saya hormati,
Pada penghujung pidato pengukuhan guru besar ini izin¬kan¬lah saya mengungkapkan hal-hal yang sifatnya pribadi dalam rangka mengungkapkan rasa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pribadi-pribadi yang dijadikan Allah sebagai perantara saya mencapai kedudukan guru besar ini.
1.    Sekali lagi, terima kasih kami sampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikand Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A. yang telah menetapkan diri saya sebagai guru besar Ilmu Filologi secara loncat jabatan.
2.    Terima kasih juga kepada Bapak Rektor/Ketua Senat UNS dan para anggota Senat Universitas, Bapak  Dekan dan Pembantu Dekan I, II, III Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia, Segenap Anggota Senat Fakultas dan Universitas, tim CCP, dan kawan-kawan seprofesi yang telah mengusulkan dan memperjuangkan saya untuk men¬duduki jabatan yang mulia ini. Saya sadar betul bahwa jabatan ini saya sandang berkat kerja keras dan kerja sama unsur-unsur di UNS tercinta ini.
3.    Terima kasih juga kepada Prof. Dr. Kunardi Harjo¬prawira, M.Pd. yang tidak jemu-jemunya menasihati saya untuk mengusulkan diri sebagai guru besar secara loncat jabatan. Langkah selanjut¬nya, kami sangat dibantu oleh Prof. Drs. Sukiyo dan                      Prof. Drs. Anton Sukarno yang dengan tulus ikhlas banyak memberi saran dan bantuan demi mulusnya usulan saya. Terima kasih juga kepada Mas Willy yang menata berkas-berkas usulan.
4.    Rasa terima kasih kami sampaikan juga kepada kedua orang tua saya, yaitu Ny. Dalinah Karja Subiyantara dan almarhum  Bapak Karja Subiyantara. Bagi saya pribadi, kedua orang tua saya itulah manusia paling luar biasa dan paling saya kagumi. Merekalah yang telah mendidik saya dengan penuh pengor¬banan dan deraan ujian yang bertubi-tubi, tetapi semua dapat dijalani dengan selamat. Mereka pula yang mengajarkan kepada saya untuk (1) tegar dalam berjuang (2) teguh dalam meng¬hadapi tantangan, (3) rendah hati terhadap sesama, serta         (4) tidak takut untuk hidup prihatin.
5.    Terima kasih juga kepada leluhur kami di alam kubur (yaitu mbah Kakung/Gimin Karto Pawiro dan Pak Uwo/Marjan Marto Sentono) yang saya jelas-jelas merasakan juga getaran kehadiran arwahnya di sini. Leluhur kami adalah keluarga petani sederhana di desa. Saya melihat di mata batin saya, mereka tersenyum bangga karena salah seorang cucunya dimuliakan Allah untuk berdiri di hadapan hadirin dalam pengukuhan sebagai seorang guru besar di tempat sejauh sekitar 87 kilometer dari sebuah amben tempat kelahiran saya, di sebuah dusun kecil di lereng Merapi, di kabupaten Sleman. Terima kasih kepada Bulik Jimah, Mas Dodo, dan Pak Dhe Bud yang semasa saya kuliah banyak memberikan bantuan untuk keberhasilan kuliah saya. Demikian juga kepada Mbakyu Asri dan Tabi.
6.    Terima kasih pula kepada keluarga mertua (Bapak Tukiman dan Ibu Rubi) dan adik-adik ipar yang banyak memberi bantuan untuk kesuksesan keluarga kami. Demikian juga kepada almarhum Dodi Slamet Widodo SE yang banyak memberikan bantuan ketika saya melakukan riset S3 di Jakarta.
7.    Terima kasih pula kepada guru-guru saya, baik guru-guru di sekolah formal (dari TK sampai Pascasarjana) maupun guru-guru spiritual yang membekali ngelmu ”sejatining ngaurip” dan ”ngaurip sejati” sebagai bekal saya meniti kehidupan.
8.    Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada  Prof. Dr. H. D. Edi Subroto dan Drs. Sawu, S.U.  Kedua beliau inilah yang menganjurkan dan mendukung saya untuk mendaftarkan diri menjadi dosen di UNS pada tahun 1988.
9.    Terima kasih juga kepada almarhum Prof. Dr. H. Suwito yang pada waktu itu menjabat sebagai dekan Fakultas Sastra, yang dalam perkenalan kami yang singkat, telah memberi nasihat untuk tidak berhenti dalam melanjutkan studi. Terima kasih juga kepada Bapak F.X. Soehardjo, yang pada periode beliau menjadi ketua jurusan selalu mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
10.    Terima kasih juga kepada Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno (promotor) dan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo (kopromotor) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang telah ”melahirkan” saya sebagai doktor ilmu budaya dan dengan gelar itu mempermudah saya mencapai jabatan guru besar.
11.    Terima kasih juga kepada segenap redaksi Humaniora (Fakul¬tas Ilmu Budaya UGM), Varidika (FKIP Universitas Muham¬madiyah Surakarta), SENI (ISI Yogya), Kajian Linguistik dan Sastra (UMS) yang telah memuat tulisan saya di majalah terakreditasi DIKTI yang menjadi salah satu syarat untuk dapat diusulkan sebagai guru besar secara loncat jabatan.
12.    Terima kasih kepada Direktur Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah memberi beasiswa kepada saya melalui TMPD (S2) dan BPPS (S3) sehingga sangat meringankan  saya dalam mengikuti studi lanjut yang secara akumulatif telah menjadi bagian terpenting dalam pengusulan guru besar.
13.    Terima kasih juga kepada segenap pimpinan Masyararakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Oral Tradition Asso¬ciation (Masyarakat Tradisi Lisan) sebagai organisasi profesi internasional yang telah ikut berjasa membentuk karakter ilmiah saya dan memberi saya berbagai fasilitas dan sumbangan dana guna pengembangan karir ilmiah saya. Terima kasih pula kepada Penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Badan Penerbit Sastra Indonesia, Jurnal Nuansa Indonesia, Jurnal Etonografi, Jurnal Haluan Sastra, Jurnal Artikulasi dan penerbit lainnya yang telah menerbitkan tulisan saya yang secara keseluruhan memberikan nilai yang cukup tinggi untuk memperoleh angka kredit bagi pengusulan ke guru besar.
14.    Selanjutnya, yang sangat bermakna bagi hidup saya adalah  ucapan terima kasih saya kepada istri saya tercinta,  Dra. Hj. Sri Mulyati, M.Hum sebagai teman seperjalanan dalam panas dan hujan. Terima kasih atas segala pengertian yang karena tugas saya harus berhari-hari meninggalkan rumah. Juga kepada keempat anak saya tersayang, Insyirah Anwari, Umar Sidiq Syaifuddin, Hisyam Syaiful Fatah, dan Khalid Alim Jauhari. Merekalah permata hati saya dan harapan generasi masa depan saya. Tanpa pengertian dan dorongan mereka, tentu saya tidak dapat menjalankan tugas sampai mencapai jabatan yang setinggi ini. Dan tentunya jabatan ini tidak akan bermakna bila tidak mengantarkan kami ke dalam kehidupan yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Saya menyadari bahwa jabatan ini mengandung tanggung jawab yang besar yang harus saya pikul. Karena itu, saya memohon doa hadirin semuanya, semoga jabatan yang mulia ini dijadikan Allah sebagai sarana saya manembah dan ngibadah kepada Allah.
15.    Terima kasih saya haturkan kepada segenap Panitia Pengu¬kuhan Guru Besar yang telah menyelenggarakan acara ini dengan usaha yang maksimal.
16.    Terima kasih pula kepada segenap wartawan yang meliput acara ini dan memberitakan kepada khalayak yang lebih luas.
17.    Akhirnya, saya haturkan terima kasih atas kehadiran dan kesabaran hadirin yang mulia untuk dalam mendengarkan pidato ini.  Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada hal yang tidak berkenan.
Alhamdulillahirabil’alamin.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Baried, Siti Baroroh dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Terjemahan S. Gunawan. Jakarta: Bhratara.
Casparis, J.D. 1975. De. Indonesia Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500 . Leiden: E.J. Brill.
Dipodjojo, Asdi S. 1966. Sang Kancil: Tokoh Tjerita Binatang Indonesia. Djakarta: Gunung Agung.
Hussein, Ismail. 1974. The Study of Traditional Malay Literature with A Selected Bibliography. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia.
Jusuf, Jumsari. 1984. Aspek Humor dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Khadiz, Antar Venus. 2003. “Jepang dalam Percaturan Bisnis Global: Suatu Pendekatan Komunikasi Antar Budaya”. dalam Deddy Mulyana dkk. Komuniasi Antar Budaya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Peursen, C.A. van. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Yayasan Kanisus.
Ras, J.J. 1968. Hikajat Bandjar : A Study in Malay Historiography.  The Hague: Martinus Nijhoff.
Reynolds, L.D. dan  N.G. Wilson . 1974. Scribes and Scholars : A Guide to the Transmission of Greek and Latin Literature. London:  Oxford University Press.
Situmorang, T.D. dan Teeuw, A. 1952. Sedjarah Melaju. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Soeratna, Siti Chamamah. 2003. Filologi Sebagai Pengungkap Orisionalitas dan Transformasi Produk Budaya.  Pidato Pembukaan Kuliah 3 September 2003. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Sudardi, Bani. 2003. Penggarapan Naskah. Surakarta: BPSI
Weddha Tama Jinarwa. Surakarta: Cendrawasih

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.