Posts

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN PERINGKAT WEBOMETRIC

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

Pencanangan menuju universitas bertaraf internasional oleh Menteri Pendidikan Nasional telah disampaikan lebih dari setahun yang lalu. Pencanangan tersebut telah mendorong hampir semua perguruan tinggi di Indonesia bercita-cita agar dapat menjadi universitas bertaraf internasional (World Class University), Dalam  pencanangan tersebut dinyatakan bahwa pemerintah akan mendorong 50 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang telah diseleksi menuju universitas bertaraf internasional. Dorongan tersebut sangat berpengaruh terhadap kebijakan para pimpinan perguruan tinggi untuk mewujudkannya. Agar cita-cita menjadi universitas bertaraf internasional dapat terwujud tentunya harus mendapat dukungan dari semua pihak termasuk perpustakaan.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah masuk dalam World Top Universities misalnya, UI, ITB, UGM, UNAIR masing-masing pada peringkat 250,258, 275, 330 versi The Times Higher Education Supplement – QS World University Rankings. (http://www.antara.co.id/arc/2007/9/4/50-universitas-disiapkan-jadi-world-class-university/). Persoalannya adalah adakah peran perpustakaan dalam penentuan peringkat tersebut ? Sangat sulit mengukurnya, karena kriterianya tidak ada yang berhubungan secara langsung terhadap aktivitas perpustakaan. Lain halnya dengan pengukuran  versi Webometric, dari unsur-unsur yang dinilai memungkinkan perpustakaan untuk dapat mengambil bagian dan berperan aktif dalam menentukan peringkat. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan peran perpustakaan dalam meningkatkan peringkat Webometric.

APA ITU WEBOMETRIC ?

Webometric adalah salah satu perangkat untuk mengukur kemajuan perguruan tinggi melalui Websitenya. Sebagai alat ukur (Webomatric) sudah mendapat pengakuan dunia termasuk di Indonesia (sekalipun masih ada yang meragukan tingkat validitasnya). Peringkat Webometric pertama kali diluncurkan pada tahun 2004 oleh Laboratorium Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC). CSIC merupakan lembaga penelitian terbesar di Spanyol. Secara periodik peringkat Webometric akan diterbitkan setiap 6 bulan sekali pada bulan Januari dan Juli. Peringkat ini mengukur lebih dari 16.000 lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia yang terdaftar dalam direktori. Peringkat perguruan tinggi versi Webometric dapat dengan mudah dilihat atau diakses melalui Internet dengan alamat : http://www.webometrics.info/top4000.asp

Adapun peringkat perguruan tinggi di Indonesia versi Webometric dapat di lihat dalam tabel berikut :

Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia versi Webometri Juli 2008

Ind. Ranking World Rangking University
1 819 Gadjah Mada University
2 826 Institute of Technology Bandung
3 1291 Universitas Indonesia
4 1652 University of Indonesia
5 2035 Indonesia University of Education (Note 45)
6 2267 Petra Christian University
7 2476 Bogor Agriculture University
8 2477 Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
9 2543 Brawijaya University
10 2624 Gunadarma University
11 2844 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
12 2863 Hasanuddin University
13 3040 Airlangga University
14 3489 Bina Nusantara University
15 3777 Universitas Sumatera Utara
16 3857 Diponegoro University
17 4881 Lampung University
18 4110 Universitas Padjadjaran
19 4333 Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya
20 4404 Budi Luhur University
21 4425 Universitas Islam Indonesia
22 4443 Duta Wacana Christian University
23 4681 Sebelas Maret University
24 4819 Parahyangan Catholic University

Dari tabel di atas terlihat bahwa UI mempunyai dua peringkat yaitu peringkat 1291 dan 1652, hal ini disebabkan karena UI memiliki dua domain yaitu ui.ac.id dan ui.edu . Oleh karena itu, sebagai bahan pembelajaran bagi kita, seharusnya semua Website di lingkungan suatu universitas menggunakan satu domain saja. Dari tabel di atas juga nampak bahwa perguruan tinggi swasta di Indonesia tidak kalah dan berani bersaing dengan perguruan tinggi negeri. Terbukti sudah ada 8 dari 23 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam peringkat Webometric.

KRITERIA WEBOMETRIC

Pengukuran Webometric memang hanya menekankan pada publikasi secara elektronik melalui Website baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur peringkat Webometric adalah Size, Visibility, Rich file, Scholar. Penjabarannya adalah sebagai berikut :

  1. Size (S). Jumlah halaman yang terindek oleh empat mesin pencarian utama yaitu :  Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.
  2. Visibility (V). Jumlah keseluruhan  tautan ekternal yang unik  dan terdeteksi oleh  Google search, Yahoo Search, Live Search and Exalead.
  3. Rich Files (R). Dari sekian banyak file yang terdeteksi maka dipilah file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk file : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt).
  4. Scholar (Sc). Secara khusus Google Scholar akan memberikan jumlah paper dan sitasi dari setiap domain akademik.

Apabila perguruan tinggi ingin mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, maka dalam pengelolaan Websitenya harus memperhatikan 4 unsur di atas. Semakin banyak unsur tersebut terpenuhi akan semakin tinggi potensi untuk memperbaiki peringkatnya dan potensi sebuah perguruan tinggi untuk masuk dalam “World Class University” akan semakin terbuka.

Sayangnya Webometric hanya memunculkan sampai peringkat 5000 perguruan tinggi dunia. Apabila ada perguruan tinggi yang belum masuk peringkat 5000 atau di atas 5000, maka tidak dapat dilihat dalam Webometric. Namun demikian untuk mengetahui tingkat kemajuan Website terutama dari aspek seberapa banyak jumlah yang mengakses dapat dilihat melalui alamat :  www,alexa,com. Dari alexa.com dapat diketahui “tren” jumlah yang akses terhadap suatu Website. Grafik berikut ini menggambarkan kecenderungan jumlah pengakses Website ugm,ac,id ; uns,ac.id dan ums.ac.id.

Disamping itu “alexa” juga mengetahui  seberapa jauh kontribusi Website dari masing-masing unit dan lembaga terhadap universitasnya. Beberapa contoh berikut adalah detail dari prosentase kontribusi dari masing-masing unit/lembaga dalam domain ums.ac.id; uns.ac.id; dan ugm.ac.id.

Ada dua alamat yang berkaitan dengan situs perpustakaan yaitu digilib.ums.ac.id dan library.ums.ac.id masing mempunyai kontribusi 13 % dan 7 %, Perpustakaan.uns.ac.id hanya menyumbangkan 3 %.

BAGAIMANA AGAR PERPUSTAKAAN DAPAT BERPERAN ?

Agar perpustakaan dapat berperan dalam meningkatkan peringkat Webometric, tidak ada jalan lain kecuali harus mengembangkan perpustakaan digital. Pengembangan perpustakaan digital dapat dilakukan melalui pengembangan E-book, E-Journal, E-Grey Literature dan E-Local Content.

1. Pengembangan E-Book

Pengembangan koleksi e-book dapat dilakukan dengan pembelian atau pengembangan buku hasil karya dari civitas akademika. Kalau kita mengembangkan koleksi e-book dari pembelian penulis tidak yakin bahwa hal itu akan berpengaruh secara langsung terhadap peringkat Webometric. Namun apabila pengembangan e-book berasal dari hasil karya civitas akademika akan sangat berpengaruh terhadap peringkat Webometric.

2. Pengembangan E-Journal

Sama halnya dengan e-book, pengembangan e-journal berlangganan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap Webometric. Namun pengembangan e-journal milik universitas akan dapat meningkatkan unsur – unsur dalam kriteria Webometric.

3. Pengembangan E-Grey Literature.

Grey literature atau literatur kelabu adalah koleksi yang tidak diterbitkan secara luas. Yang termasuk koleksi ini adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Apabila perpustakaan perguruan tinggi sudah medigitalkan koleksi tersebut, potensi untuk meningkatkan peringkat Webometric sangat besar.

Pengembangan E-Local Content

Sama halnya e-grey literature, e-local content sangat pontensial untuk meningkatkan peringkat Webometric.

PERAN PUSTAKAWAN

Pengembangan perpustakaan digital tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya pustakawan yang handal dan tidak “gaptek”. Untuk itu upaya-upaya pengembangan pustakawan agar “melek” teknologi harus terus menerus dilakukan. Pola pikir tradisional harus kita tinggalkan menuju pola pikir terbuka dan mengikuti perkembangan teknologi. Kegiatan pustakawan tidak cukup hanya melakukan katalogisasi, klasifikasi, layanan sirkulasi, dan layanan referensi secara manual, tetapi harus lebih dari itu. Pustakawan harus mampu melakukan penelusuran informasi, pengembangan koleksi, pengolahan koleksi dan penyebarluasan informasi secara elektronik.Pendek kata pustakawan yang diperlukan dalam era ini adalah pustakawan yang “melek” teknologi bukan pustakawan yang “gaptek”.

PENUTUP

Munculnya peringkat yang di buat oleh suatu lembaga akan dapat memotivasi kita untuk bekerja lebih giat lagi. Lebih – lebih kalau dalam  unsur penilaiannya berhubungan langsung dengan suatu kegiatan yang kita lakukan, maka akan dapat menambah semangat lagi. Adanya Webometric jelas akan memotivasi para pustakawan untuk mengikutinya dan tidak dapat dihindari mereka harus meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, keahliannya dalam bidang teknologi dan informasi. Pengembangan perpustakaan digital adalah salah satu cara yang harus ditempuh agar perpustakaan dapat berperan aktif dalam menyumbangkan peringkat perguruan tingginya. Apabila peringkat Webometric perguruan tinggi kita baik, akan mempunyai dampak yang positif terhadap perguruan tinggi kita dan pada gilirannya akan menambah kepercayaan masyarakat. Ujungnya adalah mutu perguruan tinggi kita akan diakui masyarakat. Perguruan Tinggi yang bermutu tidak akan pernah kekurangan mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.antara.co.id/arc/2007/9/4/50-universitas-disiapkan-jadi-world-class-university/ ( 2 September 2008)
  2. http://www.webometrics.info/top4000.asp (2 September 2008)
  3. http://prayudi.wordpress.com/2008/07/27/site-rank-by-alexa-untuk-pt-hasil-webometric-juli-2008/
  4. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/08/apa-itu-webometric/
  5. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/11/apa-itu-webometric-2/

 


Makalah ini disampaikan dalam Pelatihan Perpustakaan di Universitas Muhammadyah Surakarta pada Tgl. 9 Sepetember 2008

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET TAHUN 2008

Oleh : Harmawan

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas tidak dapat diabaikan begitu saja. Perkembangan teknologi dan informasi begitu pesat, hal ini mengharuskan kita untuk tanggap dan siap dalam menghadapi perubahan.  Begitu juga dalam pelayanan publik, termasuk pelayanan di bidang pendidikan harus menekankan pada kualitas. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam mewujudkan tujuan nasional.
Pendidikan Tinggi sebagai bagian dari pendidikan nasional harus tanggap dan siap juga menghadapi perubahan agar kualitas pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat semakin meningkat. Begitu juga perpustakaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perguruan tinggi harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.
Perpustakaan sebagai salah satu unsur penunjang di perguruan tinggi, merupakan perangkat kelengkapan di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berada diluar fakultas, jurusan, dan laboratorium (Pasal 34, PP 30/1990). Dengan kata lain tugas dan fungsi perpustakaan adalah menunjang kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi dimana perpustakaan itu berada.
UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret dalam menjalankan dan mengemban tugas mendukung pelaksanaan Tridharma perguruan Tinggi telah mengembangkan pelayanannya dari kegiatan yang sifatnya rutin seperti peminjaman buku, pelayanan majalah dan surat khabar, pelayanan referensi sampai ke pelayanan yang sifatnya inovatif seperti pelayanan penelusuran informasi ilmiah, Internet, dan
perpustakaan digital. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak kendala dan hambatan.
Berkaitan hal tersebut, maka peningkatan mutu pelayanan, akuntabilitas publik, dan pertanggungjawaban kepada pimpinan menjadi hal yang sangat penting dan harus diterapkan di setiap lembaga pendidikan. Dalam rangka untuk mempertanggungjawabkan kinerja UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret laporan ini disusun.

BAB II

RENCANA STRATEGIK

1. RENCANA STRATEGIK

a. Visi

  • Menjadikan UPT Perpustakaan UNS sebagai pusat layanan informasi yang profesional dalam memberikan pelayanan kepada pengguna

b. Misi

  • Memenuhi kebutuhan informasi untuk menunjang proses belajar mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat di lingkungan Universitas Sebelas Maret khususnya masyarakat pada umumnya.

c. Tujuan

  • Mendukung terciptanya lingkungan yang mendorong setiap warga kampus mau belajar guna mengembangkan kemampuan diri secara optimal;
  • Menyediakan informasi untuk menghasilkan  lulusan yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi luhur; cerdas, terampil, dan mandiri; serta sehat jasmani, rohani, dan sosial;
  • Menyediakan informasi untuk melahirkan temuan-temuan baru di bidang ilmu, teknologi, dan seni yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam masyarakat dan untuk membangun kehidupan yang lebih baik;
  • Mendiseminasikan hasil pendidikan dan pengajaran serta penelitian kepada masyarakat sehingga terjadi tranformasi secara terus menerus menuju kehidupan yang lebih modern;
  • Mendukung pengembangan dan penggalian nilai-nilai luhur budaya nasional sebagai salah satu landasan berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan, baik di dalam maupun di luar kampus;
  • Mendukung pengembangan pranata kehidupan yang lebih beradab menuju terciptanya masyarakat yang makin cerdas, terampil, mandiri, demokratis, damai, dan religius;
  • Mendukung terwujudnya Universitas Sebelas Maret perguruan tinggi yang unggul di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2015.

d. Sasaran

  • Meningkatnya kualitas layanan perpustakaan.

 

2. RENCANA KERJA UPT PERPUSTAKAAN UNS 2008

 

Untuk mendukung tercapainya visi, misi dan tujuan tersebut di atas, UPT Perpustakaan UNS telah berusaha untuk memberikan layanan terbaik bagi penggunanya. Adapun program kerja UPT Perpustakaan tahun 2008 meliputi 4 aspek yaitu pengembangan koleksi, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan perpustakaan digital dan pemasaran perpustakaan (Lihat Lampiran 1dan 2).

3. SUMBERDAYA PENDUKUNG

a. Koleksi

Pengembangan koleksi perpustakaan bertujuan untuk menyediakan sumber informasi yang mutakhir dan relevan dan menunjang proses belajar mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat. Realisasinya dilakukan dengan pengadaan buku teks dan langganan jurnal elektronik. Untuk jurnal elektronik UPT Perpustakaan sampi akhir tahun 2008 masih melanggan sebanyak 1.000 judul. Jumlah dan jenis koleksi UPT Perpustakaan dari tahun 2006 s.d. 2008 dapat dilihat dalam Lampiran 3.

b. Sumber Daya Manusia

UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret terus berusaha untuk meningkatan kualitas sumber daya manusia , upaya yang dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :

  • Mendorong staf untuk mengikuti pendidikan baik S1 maupun S2. Pada tahun 2008 seorang pustakawan telah menyelesaikan program Magister Administrasi Publik yaitu sdr. Riah Wiratningsih
  • Mengadakan pelatihan/training, lokakarya, dan seminar di bidang kepustakawanan untuk seluruh staf perpustakaan.
  • Mengirimkan staf untuk mengikuti pelatihan/training , lokakarya, seminar yang di adakan oleh pihak luar UPT Perpustakaan UNS.

UPT Perpustakaan UNS memiliki 31 staf dengan perincian 25 staf PNS dan 6 tenaga tidak tetap. Adapun kualifikasi pendidikan dapat terlihat dalam Lampiran 5.

Upaya peningkatan sumber daya manusia ini tetap harus dilakukan secara terus menerus guna meningkatkan mutu layanan perpustakaan. Pada tahun 2008, UPT Perpustakaan UNS mengirimkan tenaga untuk mengikuti seminar yang diselenggarakan pihak luar seperti UGM , UNY, maupun UNS sendiri. Kegiatan seminar pada tahun 2008 dapat dilihat dalam Lampiran 6

c. Gedung Perpustakaan

Sampai saat ini UPT perpustakaan UNS memiliki gedung dengan dua lantai berbentuk huruf O besar seluas 5.000 m2 dan ditengah-tengahnya ada taman baca. (Lihat Lampiran 7).

d. Sarana

Sarana dan peralatan yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan sampai saat ini, seperti meja dan kursi kantor, meja dan kursi baca, dan rak buku masih cukup memadai. Khusus untuk pintu pengaman otomatis  sering mengalami kerusakan, oleh karena itu pengamanan ditekankan kembali kepada petugas (tidak hanya mengandalkan pada pintu otomatis). Kami sedang mempertimbangkan penggantian pintu pengaman. Sedangkan komputerisasi perpustakaan sudah dikembangkan sejak tahun 1998. UPT Perpustakaan UNS sudah menjalankan komputer dengan progran Dynix secara ter-integrasi. Artinya dari tiga modul yaitu katalogisasi, sirkulasi dan OPAC yang dimiliki sudah dapat dipergunakan secara bersamaan dan saling kait mengkait.

Rintisan untuk membangun jaringan dengan perpustakaan fakultas sudah dimulai sejak Oktober 2007, dengan dikembangkannya program UNSLA (UNS Library Automation). Pada tahun 2007 perpustakaan yang mengimplementasikan program UNSLA adalah Perpustakaan FSSR dan Perpustakaan Pertanian. Sedangkan pada tahun 2008 perpustakaan fakultas yang menggunakan program UNSLA bertambah yaitu perpustakaan fakultas FISIP, Hukum, FKIP, dan MIPA. Jadi perpustakaan fakultas yang belum menggunakan UNSLA tinggal tida yaitu perpustakaan fakultas Kedokteran, Ekonomi dan Teknik.

e. Pengelolaan Dana

Sumber dana UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret selama tahun 2008  adalah sebagai berikut :

DIPA (APBN) : Rp.    200.000.000,-
DIPA (PNBP) : Rp.      40.000.000,-
Iuran Mahasiswa Baru : Rp.    854.986.000,-
Jumlah : Rp. 1.094.986.000,-

Pengelolaan dana tersebut di atas dilakukan dan bekoordinasi dengan Bagian Perlengkapan dan Bagian Keuangan.

3. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA

Sampai dengan Oktober 2008 UPT Perpustakaan telah mempunyai jumlah koleksi sebanyak 65.441 judul yang terdiri dari 183.430 eksemplar (Lihat Lampiran 3). Pengembangan koleksi selalu dilakukan secara terus menerus baik dari dana DIPA maupun iuran mahasiswa baru. Dampak yang terlihat dari pengembangan koleksi tersebut adalah adanya peningkatan rata-rata jumlah peminjam dan jumlah buku yang dipinjam. Jumlah peminjam rata-rata per bulan naik dari 6.609  pada tahun 2007 menjadi 7.854 pada tahun 2008 atau naik 18,8 %. Sedangkan rata-rata jumlah buku yang dipinjam per bulan mengalami kenaikan 2,8 % yaitu dari 11.117 pada tahun 2007 menjadi 11.432  pada tahun 2008. (Lihat Lampiran 4).

Untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi, UPT Perpustakaan UNS mengembangkan perpustakaan digital. Pengembangan perpustakaan digital meliputi penambahan personal computer, server, penggantian kabel jaringan dengan fiber optics, input data buku fakultas dan E-Journal UNS serta WebSite Perpustakaan. Renovasi ruangan untuk Self Access Terminal (SAT) dan penambahan perangkat komputer untuk Internet akan dilaksanakan pada tahun 2009 dengan bantuan dana dari Pertamina.

Sekalipun pengguna internet di UPT Perpustakaan mengalami kenaikan yaitu 838 mahasiswa rata – rata per bulan pada tahun 2007 menjadi 1.056 pada tahun 2008, namun pemanfaatan jurnal elektronik mengalami penurunan yaitu rata-rata per bulan pada tahun 2007 sebanyak 592 sedangkan pada tahun 2008 sebanyak 572 ( Lihat Lampiran 8 dan 9)

Proses input data buku dari 7 perpustakaan fakultas yang direncanakan pada tahun 2008 hanya ter-realisasi 4 Fakultas yaitu Perpustakaan F.Hukum, FISIP, FKIP, dan FMIPA. Sedangkan Perpustakaan Fakultas Kedokteran sudah ada kesediaan dan akan dilaksanakan pada tahun 2009. Sementara Perpustakaan Fakultas Teknik dan Ekonomi belum ada kemauan untuk menerapkan Sistem UNSLA.

4.  TANTANGAN DAN HAMBATAN YANG DIHADAPI

Berbagai tantangan dan hambatan dalam pengembangan program dan kegiatan di UPT Perpustakaan meliputi hal-hal sebagai berikut :

  1. Antara pustakawan dan tenaga akademik/dosen kurang bersenergi
    Antara pustakawan dan dosen masih berjalan sendiri-sendiri, belum ada sinergi yang baik dan pemahaman bahwa profesi mereka saling kait mengkait dan saling bisa mendukung.
  2. Kurangnya koordinasi antara UPT Perpustakaan dengan Perpustakaan Fakultas
    Keberadaan perpustakaan di fakultas adalah suatu kenyataan yang harus diakui manfaatnya bagi sivitas akademika UNS, namun demikian koordinasinya masih kurang memadai. Sejak tahun 2007 sudah mulai dirintis adanya Online katalog dengan Perpustakaan FSSR dan Pertanian, Sementara input data buku untuk mendukung sistem online katalog antar perpustakaan di lingkungan UNS pada tahun 2008 meliputi 4 Perpustakaan Fakultas yaitu FISIP, Hukum, FKIP, dan FMIPA. Untuk Perpustakaan Fakultas Kedokteran sudah ada kesediaan untuk mengaplikasikan sistem UNSLA dan direncanakan tahun 2009. Sedangkan Perpustakaan Fakultas Ekonomi dan Teknik belum ada kejelasan tentang kesediaannya.
  3. Sulitnya mendapatkan data elektronik jurnal dalam bentuk ”softcopy”.
    Rintisan untuk membangun Jurnal Elektronik UNS sudah dimulai pada tahun 2008, namun sampai saat ini jumlah dokumen yang ada di E-Journa UNS masih sedikit sekali yaitu 96 artikel yang terdapat dapat dalam 7 jurnal. Hal ini disebabkan karena sulitnya mendapatkan data tentang elektronik jurnal UNS.
  4. Belum optimalnya kerjasama antar perpustakaan
    Selama ini kerjasama yang telah berjalan adalah kerjasama melalui FKP2TN yang menerbitkan Kartu Sakti. Kartu sakti adalah kartu yang dapat dipergunakan oleh masing-masing pengguna untuk berkunjung ke perpustakaan anggota FKP2TN. Kerjasama ini seharusnya masih dapat  diintensifkan lagi misalnya dengan kerjasama informasi digital.

BAB III

PENUTUP

Laporan ini disusun untuk mempertanggungjawabkan kinerja UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret tahun 2008 dan sebagai bahan evaluasi untuk penyempurnaan pengembangan, dan peningkatan kinerja UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret pada tahun-tahun mendatang.

Penambahan koleksi yang dilakukan secara terus menerus telah menghasilkan dampak yang positif yaitu adanya peningkatan rata-rata jumlah peminjam dan jumlah buku yang dipinjam. Jumlah peminjam rata-rata per bulan naik dari 6.609  pada tahun 2007 menjadi 7.854 pada tahun 2008 atau naik 18,8 %. Sedangkan rata-rata jumlah buku yang dipinjam per bulan mengalami kenaikan 2,8 % yaitu dari 11.117 pada tahun 2007 menjadi 11.432  pada tahun 2008. Begitu juga tentang jumlah pengguna internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pada tahun 2009 UPT Perpustakaan UNS mendapat bantuan dari Pertamina untuk merenovasi ruang dan menambah jumlah komputer  untuk akses internet.

Namun demikian pemanfaatan elektronik jurnal belum begitu menggembirakan, oleh karena itu perlu diupayakan sosialisasi secara terus menerus agar elektronik jurnal dapat dimanfaatkan secar maksimal. Begitu juga tentang online antar perpustakaan di lingkungan UNS, masih ada tiga perpustakaan fakultas yang belum memanfaatkan UNSLA yaitu Perpustakaan F. Ekonomi, F. Kedokteran, dan F. Teknik.

Berbagai kebijakan program dan pengembangan kegiatan di UPT Perpustakaan ke depan harus senantiasa dilakukan secara proaktif dan akomodatif dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan dan mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

TEKNIK PENYUSUNAN RENCANA KERJA PERPUSTAKAAN

Oleh : Harmawan

A. PENDAHULUAN

Sering kita dengar pernyataan bahwa fungsi perpustakaan sekolah di Indonesia kurang optimal, keberadaan perpustakaan sekolah hanya sebagai syarat administratif saja, minat baca siswa rendah, koleksinya hanya buku paket (sedikit), tenaganya tidak profesional dsb. Pertanyaannya adalah mengapa hal ini terjadi ? Ada beberapa alasan kenapa hal itu terjadi, diantaranya adalah komitmen pimpinan terhadap perpustakaan kurang, tidak ada dana atau kegiatan perpustakaan belum menjadi prioritas. Kalau kita lanjutkan pertanyaan tersebut dengan mengawali kata mengapa, maka menjadi mengapa komitmen pimpinan rendah ? dan mengapa kegiatan yang menyangkut perpustakaan belum menjadi prioritas ? Kemungkinan jawaban yang saya munculkan adalah para penanggungjawab perpustakaan sekolah belum pernah menyusun rencana kerja atau kalau sudah pernahpun rencana kerja yang diusulkan belum dapat meyakinkan pimpinan untuk mengabulkannya.

Oleh karena itu, dalam lokakarya ini saya mencoba membagi pengalaman tentang bagaimana cara menyusun rencana kerja perpustakaan.

1. KERANGKA KERJA TRADISIONAL VS KERANGKA KERJA STRATEGIK

Pendekatan manajemen pada dasarnya dapat kita klasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu pendekatan konvensional atau tradisional dan pendekatan modern atau pendekatan berfikir strategik. Pendekatan manajemen tradisional merupakan suatu cara yang sederhana, kurang menekankan analisis, dan berdasarkan pertimbangan kebiasaan. Sedangkan pendekatan strategik adalah pendekatan manajemen yang didasarkan pada data dan fakta. Kedua pendekatan manajemen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Manajemen Tradisional              Manajemen Strategik

VISI                                        VISI

↓                                             ↓

MISI                                        MISI

↓                                             ↓

TUJUAN                              ANALISIS INTERNAL
& EKSTERNAL

↓                                            ↓

RENCANA KERJA              TUJUAN

↓                                            ↓

HASIL                             FAKTOR STRATEGIS

STRATEGI

RENCANA KEGIATAN

PELAKSANAAN

PEMANTAUAN & EVALUASI

 

A. ISU AKTUAL

Agar supaya rencana kerja perpustakaan berdasar kepada data, fakta, analisa dan strategi, maka penanggungjawab perpustakaan  perlu melakukan pengindentifikasian semua persoalan yang dihadapi. Adalah tidak mungkin menyelesaikan semua masalah secara bersamaan.  Oleh karena itu, setelah pengidentifikasian semua masalah selesai, langkah selanjutnya adalah menentukan isu aktual. Penentuan isu aktual dapat dilakukan dengan cara memilih mana persoalan yang paling krusial atau dengan cara membulatkan dari beberapa masalah yang penting.

Isu aktual adalah persoalan/masalah pokok yang sedang dihadapi oleh suatu organisasi. Persoalan tersebut harus dibahas, didiskusikan, dan kemudian di ambil keputusan untuk dilakukan tindakan yang relevan dengan isu tersebut.

B. PERUMUSAN SASARAN

Berdasarkan isu aktual yang telah diidentifikasi di atas, maka sasaran yang ingin dicapai dapat ditentukan. Sasaran adalah pernyataan hasil yang dapat dicapai dalam kurun waktu 1-12 bulan. Sasaran sama dengan tujuan jangka pendek. Dalam merumuskan sasaran hendaknya SMART

1. Specific, terfokus
2. Measurable, terukur
3. Achieveable, dapat dicapai, memungkinkan tercapai.
4. Relevant, terkait dengan tujuan tujuan dan kewenangan atau tanggung jawab.
5. Time related, ada batasan waktu

C. INDIKATOR

Salah satu kriteria sasaran yang baik adalah terukur seperti yang telah disebutkan di atas. Dengan adanya ukuran akan dapat diketahui tingkat kemajuan pelaksanaan tugas atau keberhasilan mencapai sasaran. Tolok ukur keberhasilan itu disebut indikator.

Indikator adalah keterangan, gejala, pertanda yang dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan tercapainya  suatu kegiatan. Indikator keberhasilan pelaksanaan tugas dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori yakni indikator input (masukan), process (proses), output (keluaran), outcome (hasil), benefit (manfaat), dan impact (dampak). Dalam praktiknya adalah sulit mengukur semua kategori di atas. Untuk kegiatan perpustakaan indikator yang digunakan barangkali cukup 2 atau 3 indikator yaitu input, process, dan output.

D.  ALAT ANALISIS

Untuk menentukan strategi yang tepat dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan, maka diperlukan suatu alat analisis. Dalam melakukan serangkaian kegiatan analisis ada beberapa alat analisis yang dapat digunaka seperti, SWOT, Force Field, Teknik pohon masalah, teknik Fishbone dsb. Dalam makalah ini akan saya uraikan sedikit tentang SWOT Analysis.

Analisis SWOT merupakan suatu alat yang berfungsi dalam melakukan “general check-up”organisasi untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman organisasi, guna menentukan strategi dan tindakan yang tepat untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kekuatan dan kelemahan merupakan faktor internal yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam organisasi , sedangkan peluang dan ancaman merupakan faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang datang dari luar organisasi tetapi sangat berpengaruh terhadap maju mundurnya organisasi.

E. PERUMUSAN STRATEGI

Dari hasil analisis SWOT dapat disusun suatu rumusan strategi. Dengan strategi yang disusun berdasarkan analisis tersebut diharapkan sasaran yang ditentukan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ada beberapa kemungkinan strategi yang dapat disusun setelah melakukan analisis SWOT antara lain : memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang (SO), menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman (ST), memperbaiki kelemahan yang masih potensial mendukung kekuatan untuk meraih peluang (WO), dan meminimalkan kelemahan atau memperbaiki kekurangan agar ancaman tidak menjadi penghambat meraih peluang (WT)


F. PENYUSUNAN RENCANA KEGIATAN

Setelah strategi dapat dirumuskan, langkah terakhir adalah menyusun rencana kegiatan. Kegiatan yang akan kita lakukan harus sesuai dan relevan dengan strategi yang telah kita tentukan. Penyusunan kegiatan ini harus diikuti jadwal kegiatan dan pembentukan tim untuk memperlancar kegiatan (Panitia).

G. PENUTUP

Penyusunan rencana kerja merupakan awal pekerjaan yang harus dilakukan oleh perencana dalam suatu organisasi termasuk perpustakaan. Awal pekerjaan ini bila dilakukan dengan baik, maka separuh dari suatu kegiatan dapat dianggap selesai. Namun demikian, penyusunan rencana kerja perpustakaan yang baik adalah hal yang tidak gampang. Para perencana (kepala atau penanggung jawab perpustakaan) perlu meningkatkan keahlian manajemennya. Keahlian manajemen dapat ditingkatkan dengan berbagai cara antara lain menambah pengalaman, suka belajar, dan ada kemauan kemauan kuat untuk maju.

Harapannya adalah setelah kita dapat menyusun rencana kerja dengan baik, maka rencana yang kita susun dapat diperhatikan oleh pimpinan dan ujungnya adalah terkabulnya usulan kita.

 

Daftar Pustaka :

  1. Sianipar, J.P.G dan Entang, H.M. Teknik-Teknik Analisis Manajemen : Bahan Ajar DIKLATPIM Tingkat III; Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2001.
  2. Saleh, Abdul Rahman. Manajemen Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud, 1995

* Makalah ini disampaikan pada kegiatan lokakarya Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah Kerjasama
antara Dinas Pendidikan Kota Tegal dengan Universitas Sebelas Maret. tgl. 5 Agustus 2005

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM PENINGKATAN PERINGKAT WEBOMETRIC (Revisi)

Oleh : Harmawan

PENDAHULUAN

Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia bercita-cita agar dapat menjadi universitas bertaraf internasional (World Class University). Pencanangan universitas di Indonesia menuju universitas bertaraf internasional telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan Nasional. Dalam pencanangan tersebut dinyatakan bahwa pemerintah akan mendorong 50 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang telah diseleksi menuju universitas bertaraf internasional. Dorongan tersebut sangat berpengaruh terhadap kebijakan para pimpinan perguruan tinggi untuk mewujudkannya. Agar cita-cita menjadi universitas bertaraf internasional dapat terwujud tentunya harus mendapat dukungan dari semua pihak termasuk perpustakaan.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang sudah masuk dalam 200 besar di Asia versi The Times Higher Education Supplement adalah UI peringkat 50, UGM peringkat 63, ITB peringkat 80, IPB peringkat 119, UNAIR peringkat 130, UNDIP dan UNS Solo mempunyai peringkat sama yaitu 171, dan UB (Universitas Brawijaya) peringkat 191. (http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/asianuniversityrankings/asian_university_rankings_top_200_universities). Persoalannya adalah adakah peran perpustakaan dalam penentuan peringkat tersebut ? Sangat sulit mengukurnya, karena kriterianya tidak ada yang berhubungan secara langsung terhadap aktivitas perpustakaan. Lain halnya dengan pengukuran yang dilakukan melalui Webometric. Perpustakaan dapat berperan aktif dalam menentukan peringkat. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan peran perpustakaan dalam meningkatkan peringkat Webometric.

APA ITU WEBOMETRIC ?

Salah satu perangkat untuk mengukur kemajuan perguruan tinggi melalui Website adalah Webometric. Sebagai alat ukur (Webomatric) sudah mendapat pengakuan dunia termasuk di Indonesia (sekalipun masih ada yang meragukan tingkat validitasnya). Peringkat Webometric pertama kali diluncurkan pada tahun 2004 oleh Laboratorium Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC). CSIC merupakan lembaga penelitian terbesar di Spanyol. Secara periodik peringkat Webometric akan diterbitkan setiap 6 bulan sekali pada bulan Januari dan Juli. Peringkat ini mencakup lebih dari 16.000 lembaga pendidikan tinggi di seluruh dunia yang terdaftar dalam direktori. Peringkat perguruan tinggi versi Webometric dapat dengan mudah dilihat atau diakses melalui Internet dengan alamat : http://www.webometrics.info/top4000.asp

Adapun peringkat perguruan tinggi di Indonesia versi Webometric dapat di lihat dalam tabel berikut :

Tabel 1.

Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia versi Webometri

Juli 2008 dan Jan.2009

Indonesia Rank World Rank

University

2008 2009 2008 2009
1 1 819 623 Gadjah Mada University
2 2 826 676 Institute of Technology Bandung
3 3 1291 906 Universitas Indonesia
4 1652 University of Indonesia
5 20 2035 3347 Indonesia University of Education (Note 45)
6 7 2267 2013 Petra Christian University
7 8 2476 2063 Bogor Agriculture University
8 6 2477 1960 Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
9 9 2543 2152 Brawijaya University
10 4 2624 1604 Gunadarma University
11 5 2844 1762 Institut Teknologi Sepuluh Nopember
12 16 2863 3198 Hasanuddin University
13 11 3040 2672 Airlangga University
14 14 3489 3026 Bina Nusantara University
15 17 3777 3254 Universitas Sumatera Utara
16 15 3857 3138 Diponegoro University
17 22 4881 3491 Lampung University
18 12 4110 2730 Universitas Padjadjaran
19 13 4333 3016 Electronic Engineering Polytechnic Institute of Surabaya
20 19 4404 3338 Budi Luhur University
21 24 4425 3821 Universitas Islam Indonesia
22 23 4443 3669 Duta Wacana Christian University
23 10 4681 2159 Sebelas Maret University
24 28 4819 4394 Parahyangan Catholic University
18 3310 Yogyakarta State University
21 3467 Sanata Dharma University
25 3950 Universitas Udayana
26 3983 Maranatha Christian University
27 4160 University of Riau
29 4430 Universitas Mercubuana
30 4572 Universitas Jendral Soedirman
31 4623 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
32 4780 Jember University
33 4800 Semarang State University

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa di Indonesia ada 10 pendatang baru dari 5000 Top World Universities versi Webometric Januari 2009 yaitu UNY, USD Yogyakarta, Universitas Udayana, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Riau, Universitas Mercubuana, UNSOED, Univeritas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Jember , dan Universitas Negeri Semarang. Semoga pada bulan Juli 2009 tambah banyak lagi Universitas yang masuk peringkat.

Pada umumnya peringkat universitas di Indonesia meningkat kecuali UPI Bandung yang semula peringkat 5 pada Juli 2008 menjadi 20 pada Januari 2009. Peningkatan yang cukup tinggi dialami oleh UNS Solo yang semula peringkat 23 menjadi peringkat 10 untuk Indonesia dan dari 4681 menjadi 2159 untuk peringkat dunia.

Dari data di atas juga terlihat bahwa peringkat 1, 2, dan 3 masih diduduki oleh Universitas top di Indonesia yaitu UGM, ITB, dan UI. Hal ini ternyata ada korelasinya dengan sistem peringkatan The Times Higher Education Supplement dimana urutannya adalah UI, UGM, dan ITB.

KRITERIA WEBOMETRIC

Pengukuran Webometric memang hanya menekankan pada publikasi secara elektronik melalui Website baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur peringkat Webometric adalah Size, Visibility, Rich file, Scholar. Penjabarannya adalah sebagai berikut :

  • Size (S). Jumlah halaman yang terindek oleh empat search engine utama yaitu : Google, Yahoo, Live Search dan Exalead. (20 %)
  • Visibility (V). Jumlah keseluruhan unique external links (inlinks) yang terdeteksi oleh Yahoo Search, Live Search and Exalead. (50 %)
  • Rich Files (R). Dari sekian banyak file yang terdeteksi maka dipilah file yang memiliki tingkat relevansi terhadap aktivitas akademik dan publikasi ilmiah, dalam bentuk file : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) and Microsoft Powerpoint (.ppt). (15 % )
  • Scholar (Sc). Secara khusus Google Scholar akan memberikan jumlah paper dan sitasi dari setiap domain akademik. Data Scholar diambil dari Google Scholar yang menyajikan tulisan-tulisan ilmiah, laporan-laporan, dan tulisan akademis lainnya. (15%)

Apabila perguruan tinggi ingin mendapatkan peringkat yang lebih tinggi, maka dalam pengelolaan Websitenya harus memperhatikan 4 unsur di atas. Semakin banyak unsur tersebut terpenuhi akan semakin tinggi potensi untuk memperbaiki peringkatnya dan potensi sebuah perguruan tinggi untuk masuk dalam “World Class University” akan semakin terbuka.

PENGUKURAN AKSES WEBSITE

Disamping Webometric ada alat ukur lain untuk mengetahui tingkat kemajuan Website terutama dari aspek seberapa banyak jumlah yang mengakses website kita. Hal ini dapat dilihat melalui alamat : www,alexa,com. Dari alexa.com dapat diketahui “tren” jumlah yang akses terhadap suatu Website. Grafik berikut ini menggambarkan kecenderungan jumlah pengakses Website brawijaya,ac,id ; uns,ac.id dan uny.ac.id, its.ac.id, dan undip.ac.id :

Grafik 1

-15,218

Dari grafik di atas nampak bahwa posisi uns.ac.id beberapa minggu sebelum 25 Mei 2009 sudah di atas brawijaya.ac.id, namun setelah itu ada tren penurunan.

Disamping itu dari “alexa” juga dapat diketahui seberapa jauh kontribusi Website dari masing-masing unit dan lembaga terhadap universitasnya. Contoh berikut adalah detail dari prosentase kontribusi dari masing-masing unit/lembaga pada domain uns.ac.id dan brawijaya.ac.id:Percent of global pageviews on uns.ac.id:

Where people go on uns.ac.id:

  • 38.3% staff.uns.ac.id
  • 21.2% spmb.uns.ac.id
  • 9.3% uns.ac.id
  • 8.8% fkip.uns.ac.id
  • 5.2% pertanian.uns.ac.id
  • 5.2% pustaka.uns.ac.id
  • 3.6% sat.uns.ac.id
  • 2.1% perpustakaan.uns.ac.id
  • 2.1% uptp2b.uns.ac.id
  • 1.0% elearning.uns.ac.id
  • 1.0% fp.uns.ac.id
  • 0.5% mail.uns.ac.id
  • 0.5% fe.uns.ac.id
  • 0.5% hukum.uns.ac.id
  • 0.5% sipil.uns.ac.id

Where people go on brawijaya.ac.id:

  • 49.2% brawijaya.ac.id
  • 11.6% forum.brawijaya.ac.id
  • 11.6% inherent.brawijaya.ac.id
  • 8.9% tp.brawijaya.ac.id
  • 5.3% elektro.brawijaya.ac.id
  • 3.6% prasetya.brawijaya.ac.id
  • 1.8% fp.brawijaya.ac.id
  • 1.8% spmub.brawijaya.ac.id
  • 0.9% elka.brawijaya.ac.id
  • 0.9% fapet.brawijaya.ac.id
  • 0.9% jurpwkub.brawijaya.ac.id
  • 0.9% mail.brawijaya.ac.id
  • 0.9% publik.brawijaya.ac.id
  • 0.9% sipil.brawijaya.ac.id
  • 0.9% teknik.brawijaya.ac.id

Ada dua alamat yang berkaitan dengan situs UPT Perpustakaan UNS yaitu pustaka.uns.ac.id dan perpustakaan.uns.ac.id masing menyumbang 5,2 % dan 2,1 %, Jadi UPT Perpustakaan hanya menyumbang 7,3 % . Potensi UPT Perpustakaan UNS sebetulnya sangat besar, namun karena keterbatasan tenaga TI nya, maka potensi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Perlu diketahui bahwa sumbangan terbesar Webometric UNS adalah dari staff.uns.ac.id yaitu 38,3 %. Adapun isinya merupakan blog sivitas akademika UNS. Berdasarkan tupoksinya (menyimpan dan menyebarluaskan hasil karya sivitas akademika) seharusnya yang menggarap blog tersebut adalah UPT Perpustakaan, namun karena alasan keterbatasan tenaga TI baik secara kualitas dan kuantitas, maka hal tersebut dilakukan oleh UPT Puskom..

Sedangkan untuk situs brawijaya.ac.id tidak nampak secara jelas berapa sumbangan UPT Perpustakaan terhadap websitenya.

BAGAIMANA AGAR PERPUSTAKAAN DAPAT BERPERAN ?

Agar perpustakaan dapat berperan dalam meningkatkan peringkat Webometric, tidak ada jalan lain kecuali harus mengembangkan perpustakaan digital. Pengembangan perpustakaan digital dapat dilakukan melalui pengembangan E-book, E-Journal, E-Grey Literature, E-Local Content , Blog dan website

1. Pengembangan E-Book

Pengembangan koleksi e-book dapat dilakukan dengan pembelian e-buku dan/atau pengembangan buku hasil karya dari civitas akademika. Kalau kita mengembangkan koleksi e-book dari pembelian, penulis tidak yakin bahwa hal itu akan berpengaruh secara langsung terhadap peringkat Webometric. Namun apabila pengembangan e-book berasal dari hasil karya civitas akademika akan sangat berpengaruh terhadap peringkat Webometric. Modul kuliah

2. Pengembangan E-Journal

Sama halnya dengan e-book, pengembangan e-journal berlangganan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap Webometric. Namun pengembangan e-journal milik universitas akan dapat meningkatkan unsur – unsur dalam kriteria Webometric.

3. Pengembangan E-Grey Literature.

Grey literature atau literatur kelabu adalah koleksi yang tidak diterbitkan secara luas. Yang termasuk koleksi ini adalah skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian. Apabila perpustakaan perguruan tinggi sudah medigitalkan koleksi tersebut, potensi untuk meningkatkan peringkat Webometric sangat besar.

4. Pengembangan E-Local Content

Sama halnya e-grey literature, e-local content sangat pontensial untuk meningkatkan peringkat Webometric. Laporan-laporan dari seluruh unit di lingkungan universitas dapat didigitalkan sehingga hal tersebut dapat diakses melalui internet .

5. Blog dan Website

E-book, e-journal, e-grey literature adalah hal-hal sifatnya sangat ilmiah sehingga cara penulisannya juga harus memenuhi kaidah ilmiah. Lain halnya dengan blog atau website, sistem penulisannya sangat bebas. Apapun hasil gagasan atau pemikiran dapat dituangkan dalam blog atau website. Apabila perpustakaan dapat mefasilitasi hal tersebut, maka peran perpustakaan dalam meningkatkan webometric akan semakin tinggi.

PERAN PUSTAKAWAN

Pengembangan perpustakaan digital tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya pustakawan yang handal dan tidak “gaptek”. Untuk itu upaya-upaya pengembangan pustakawan agar “melek” teknologi harus terus menerus dilakukan. Pola pikir tradisional harus kita tinggalkan menuju pola pikir terbuka dan mengikuti perkembangan teknologi. Kegiatan pustakawan tidak cukup hanya melakukan katalogisasi, klasifikasi, layanan sirkulasi, dan layanan referensi secara manual, tetapi harus lebih dari itu. Pustakawan harus mampu melakukan penelusuran informasi, pengembangan koleksi, pengolahan koleksi dan penyebarluasan informasi secara elektronik.Pendek kata pustakawan yang diperlukan dalam era ini adalah pustakawan yang “melek” teknologi bukan pustakawan yang “gaptek”.

PENUTUP

Munculnya peringkat yang di buat oleh suatu lembaga akan dapat memotivasi kita untuk bekerja lebih giat lagi. Lebih – lebih kalau dalam unsur penilaiannya berhubungan langsung dengan suatu kegiatan yang kita lakukan, maka akan dapat menambah semangat lagi. Adanya Webometric jelas akan memotivasi para pustakawan untuk mengikutinya dan tidak dapat dihindari mereka harus meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, keahliannya dalam bidang teknologi dan informasi. Pengembangan perpustakaan digital adalah salah satu cara yang harus ditempuh agar perpustakaan dapat berperan aktif dalam menyumbangkan peringkat perguruan tingginya. Apabila peringkat Webometric perguruan tinggi kita baik, akan mempunyai dampak yang positif terhadap perguruan tinggi kita dan pada gilirannya akan menambah kepercayaan masyarakat. Ujungnya adalah mutu perguruan tinggi kita akan diakui masyarakat. Perguruan Tinggi yang bermutu tidak akan pernah kekurangan mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.antara.co.id/arc/2007/9/4/50-universitas-disiapkan-jadi-world-class-university/ ( 2 September 2008)
  2. http://www.webometrics.info/top4000.asp (2 September 2008)
  3. http://prayudi.wordpress.com/2008/07/27/site-rank-by-alexa-untuk-pt-hasil-webometric-juli-2008/
  4. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/08/apa-itu-webometric/
  5. http://tomi.blogdetik.com/2008/08/11/apa-itu-webometric-2/
  6. http://www.webometrics.info/rank_by_country.asp?country=id ( 2 Juni 2009)

Menggagas Perpustakaan Kota Solo

Oleh : Harmawan

Sebagai kota budaya, Solo seharusnya mempunyai perpustakaan yang lebih baik dibandingkan dengan kota – kota lain yang tidak menyatakan diri sebagai kota budaya. Perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa, sehingga fungsi utama perpustakaan adalah melestarikan hasil budaya masyarakat dan menyebarluaskan gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan sebagai hasil budaya manusia kepada masyarakat yang membutuhkannya. Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya masyarakat. Agar perpustakaan dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka diperlukan manajemen yang baik untuk mengelolanya. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan perpustakaan di kota Solo khususnya pengembangan perpustakaan yang dikelola oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Surakarta antara lain :

Tempat dan bangunan.

Tempat dan bangunan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perpustakaan. Dalam ingatan penulis, tempat yang pernah difungsikan sebagai perpustakaan di kota Solo adalah Sriwedari, Tirtomoyo dan sekarang di Kepatihan tepatnya di depan Kantor Kejaksaan. Dari ketiga tempat tersebut di atas, lokasi sekarang merupakan lokasi yang paling tidak strategis terutama ditinjau dari kemudahan masyarakat untuk mengaksesnya. Sriwedari merupakan lokasi yang sangat strategis untuk perpustakaan  Tentang bangunan, ketiga bangunan yang pernah difungsikan sebagai perpustakaan kota Solo adalah bangunan yang tidak dirancang secara khusus untuk perpustakaan. Dengan kondisi tersebut, perpustakaan akan mengalami kesulitan dalam merancang pemanfaatan ruang agar pengunjung merasa nyaman dan betah berada di perpustakaan. Oleh karena itu, tempat dan bangunan harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Solo ke depan. Perpustakaan Kota Solo seyogyanya dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat (community center). Fasilitas – fasilitas seperti ruang pertemuan, pameran, ruang internet, kantin, sampai taman bermain anak perlu disediakan oleh perpustakaan. Sehingga seminar tidak perlu lagi diselenggarakan di hotel – hotel yang mahal, rekreasi tidak mesti harus ke tempat hiburan, berselancar melalui internet tidak harus ke warnet. Semuanya cukup di perpustakaan.

Sumber daya manusia

Aspek kedua yang perlu mendapat perhatian dalam mengembangkan perpustakaan adalah sumber daya manusia. Gedung yang megah, letak yang strategis tidak ada artinya tanpa ada pengelola yang profesional. Sumber daya manusia harus menjadi perhatian serius kalau ingin fungsi perpustakaan dapat dilaksanakan dengan baik. Keadaan sumber daya manusia di Perpustakaan Kota Solo sangat tidak memadai terutama dari segi kualitasnya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pustakawannya yang tidak lebih dari 4 orang itupun kebanyakan pustakawan ”impassing”. Padahal keberadaan jabatan pustakawan sudah diakui oleh pemerintah sejak tahun 1990 dan calon-calon pustakawan potensial di Kota Solo sangat banyak baik pustakawan terampil maupun ahli. Namun karena kendala administrasi, calon pustakawan tersebut tidak dapat direkrut. Dalam penerimaan calon pegawai negeri di Pemerintah Kota Solo belum pernah ada formasi untuk pustakawan. Untuk mengatasi problem tersebut dapat dilakukan terobosan baru misalnya, mempekerjakan mahasiswa jurusan perpustakaan untuk bekerja  paruh waktu (part time). Cara ini merupakan cara yang sangat efektif untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga pustakawan.  Disamping itu usaha pengusulan formasi pustakawan harus tetap dilakukan setiap ada kesempatan. Tentang peningkatan mutu tenaga yang sudah ada juga harus menjadi perhatian misalnya dengan cara mengirimkan staf ikut aktif dalam pelatihan, seminar , dan workshop yang sering diselengggarakan oleh perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan daerah, maupun Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Kota Solo dapat juga meminta bantuan pembinaan teknis dari Perpustakaan UNS Solo.

Koleksi

Koleksi adalah modal utama perpustakaan. Ibarat toko, koleksi merupakan barang dagangannya perpustakaan. Karena koleksi dapat dianggap sebagai barang dagangan, maka perpustakaan harus selalu berusaha menjaga mutu koleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Kebutuhan pengguna perpustakaan akan selalu berkembang, karena itu koleksi juga harus selalu ditambah dari waktu ke waktu. Perpustakaan yang tidak pernah menambah koleksinya, akan mengalami kesulitan dalam menarik pengunjung agar datang ke perpustakaan. Untuk dapat memberikan pelayanan informasi yang lebih baik kepada pengguna, pengembangan koleksi harus berdasarkan relevansi. Koleksi hendaknya relevan dengan program- program pemerintah. Selanjutnya pengembangan koleksi juga harus berorientasi kepada kebutuhan pengguna dan yang tidak kalah penting adalah kemutakhiran koleksi. Koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemanfaatan teknologi informasi

Tidak seperti keadaan sepuluh tahun yang lalu, bahwa setiap orang yang berkunjung ke perpustakaan akan dilayani dengan cara manual dan media yang digunakan masih dalam bentuk kertas (buku, majalah dsb). Kemajuan teknologi informasi telah merubah segalanya. Sistem layanan perpustakaan dengan cara manual sudah banyak ditinggalkan, diganti dengan sistem komputer. Media yang digunakan juga sudah berubah yang semula hanya mengandalkan kertas, sekarang mulai berkembang memanfaatkan media elektronik seperti e-book, e-journal, e-newpapers dsb. Sehingga pemanfaatan teknologi saat ini sudah menjadi kewajiban bagi perpustakaan yang ingin maju. Teknologi informasi membantu perpustakaan meningkatkan kualitas dan jenis layanannya. Minimal saat ini sebuah perpustakaan harus mempunyai sistem otomasi, jaringan lokal area network (LAN), dan akses ke internet. Pemanfaatan teknologi informasi di Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Solo masih minim. Otomasi perpustakaan belum jalan sepenuhnya, layanan internet belum dapat dilayankan untuk pengunjung, hotspot area belum menjangkau kantor tersebut. Hal ini harus menjadi perhatian pengelola perpustakaan.

Kelima aspek tersebut merupakan aspek dasar yang seharusnya dipenuhi oleh penyelenggara perpustakaan, apabila menghendaki perpustakaan tidak sepi pengunjung. Namun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara bertahap dan ada skala prioritas. Inilah mimpi perpustakaan di kota budaya. Mimpi Perpustakaan Kota Solo.