Posts

Cinta dan Bangga Menggunakan Bahasa Indonesia: Wujud Nasionalisme Kita

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa. Menggunakan Bahasa Indonesia berarti memiliki jiwa nasionalisme yang tingggi kepada NKRI melalui bahasa Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia harus dilakukan gerakan secara nasional karena dengan bahasa Indonesia telah memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini selaras dengan salah satu butir isi sumpah pemuda 1928 “…kami putra dan putri Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia”.
Bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antarindividu, kelompok, dan organisasi sosial dalam berbagai konteks kehidupan. Hal ini dapat dilihat pemanfaatan Bahasa Indonesia di 33 provinsi yang ada di Indonesia ternyata telah berdampak positif sebagai alat pemersatu antarwilayah dan antarsuku yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Kita sebagai warga negara Indonesia harus cinta kepada bahasa Indonesia. Cinta terhadap bahasa Indonesia artinya harus mengenal, memahami, mencintai, dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa yang baik artinya sesuai dengan kaidah EYD dan tata bahasa baku yang diberlakukan oleh bangsa Indonesia melalui Badan Bahasa RI (eks pusat Bahasa). Kemudian penggunaan bahasa yang baik, artinya kita harus menggunakan bahasa Indonesia secara komunikatif sesuai dengan konteks sosial, agama, budaya, pendidikan, dan lingkungan di mana pun kita berada.
Seluruh rakyat Indonesia harus bangga memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia, berbagai suku, ras, dan golongan menyatu dalam kebhinekaan tunggal ika. Segala perbedaan tidak dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat karena disatukan dengan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Dengan bangga kita harus menggunakan dan memasyarakatkan Bahasa Indonesia, merujuk pada UU no 24 tahun 2009 mengenai bendera, lagu kebangsaan, dan bahasa Indonesia. Dengan demikian, sebagai warga negara Indonesia yang mewarisi segala nilai perjuangan nenek moyang kita, marilah bersama-sama kita kumandangkan: aku cinta bahasa Indoneis, aku bangga bahasa Indonesia, dan bahasa Indonesia memang luar biasa.
Bersatulah negeriku, bangsaku, dan seluruh rakyat Indonesia kuatkan jiwa nasionalismemu, satukan semangatmu untuk membangun dan menyatukan NKRI melalui bahasa Indonesia. Cintai dan banggakan bahasa Indonesia dalam berbagai konteks kehidupan di negeri ini sebagai upaya untuk bekerja sama dan bergotong royong untuk mewujudkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam rangka memperingati janji dan komitmen sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Salam satu bahasa, bahasa Indonesia.
Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta
Kepala UPT Perpustakaan UNS
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI)
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/ HP 081391423540

Membudayakan Membaca dan Menulis (Literasi) dimulai Sejak Dini pada Ranah Keluarga

Membaca akan mampu menyibak jendela dunia. Membaca dan menulis menjadi kunci untuk mengetahui informasi dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Budaya membaca dan menulis menjadi pilar budaya literasi. Pembiasaan membaca dan menulis  harus dimulai dari ranah keluarga. Orang tua harus menjadi teladan membaca bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh membaca di rumah dan mengajak anak-anaknya bersama. Di Indonesia saat ini, budaya membaca dan menulis masih sangat kurang. Lebih banyak anak-anak dan orang tua menonton sinetron TV dan bermain game.

Membangun komitemen bersama. Orang tua harus mengajak anak-anaknya membangun komitmen bersama untuk membiasakan membaca dan menulis pada jam-jam tertentu di rumah secara bersama-sama. Misalnya sehabis maghrib, anak-anak diajak membaca berbagai buku bacaan agama, sosial, fiksi, dan berbagai bacaan yang disenangi. Komitmen membaca harus disepakati oleh keluarga secara bersama. Untuk mengawali budaya baca di rumah, tidak harus lama tetapi konsisten dan terus-menerus dan dimulai dengan komitmen untuk memulai membaca dan menulis bersama.

Konsisten membaca dan berlanjut terus. Setelah dibangun komitmen untuk memulai membaca dan menulis bersama serta  dijadwalkan secara rutin, diperlukan konsistensi dan keberlanjutan. Artinya, diperlukan upaya keberlanjutan membaca dan menulis dimulai dengan topik-topik tertentu dengan pembahasan secara bersama di forum keluarga tersebut. Banyak hal yang akan didapatkan dalam forum diskusi keluarga tersebut untuk anak-anak kita, antara lain melatih keterampilan menyimak, berbicara,  membaca, dan menulis secara kritis terhadap topik-topik yang dibaca.

Penyediaan pojok-pojok baca di rumah. Untuk mendukung budaya m,embaca dan menulis di rumah perlu disediakan berbagai bahan bacaan di pojok-pojok baca. Oleh karena itu, berbagai model bahan bacaan, seperti Koran, majalah, karya-karya fiksi, nonfiksi, biografi, dan buku-buku umum lainnya yang mendukung motivasi membaca dan menulis perlu disediakan di pojok-pojok baca keluarga. Upayakan di setiap sudut ruang yang memungkinkan tempat bermain dan duduknya anak-anak dan keluarga sediakan bahan-bahn bacaan.

Praktikan untuk membaca dan menulis secara bertahap. Keterampilan membaca dan menulis harus dipraktikkan dan dilatih secara terus menerus. Oleh karena itu, setelah tumbuh budaya membaca  dan menulis pada ranah keluarga ajaklah anak-anak untuk membiasakan diri menuangkan ide gagasannya secar lisan dan tulis. Penyampaian ide secara lisan akan membantu melatih keterampilan berbicara sedangkan penyampaian secara lisan akan melatih keterampilan menulis. Dengan demikian, pembiasaan budaya membaca dan menulis akan sangat efektif dimulai sejak dini dari ranah keluarga. Dengan demikian, upaya untuk mengintegrasikan membudayakan membaca dan menulis di rumah akan sangat membantu proses belajar mengajar anak di sekolah dan masyrakat. Dengan demikian, keluarga menjadi salah satu pilar pendidikan yang efektif untuk anak-anak kita sebagai calon generasi masa depan bangsa Indonesia.

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Motivator dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/081391423540

Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar Civitas Akademika

“Belajar adalah proses untuk mengetahui, memahami, dan mengamalkan. Bacalah, pahami, kemudian amalkan maka kebaikan akan selalau menyertai langkahmu sepanjang hayat!”

Perpustakan harus menjadi pusat sumber belajar seluruh civitas akademika di perguruan tinggi. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan di sebuah perguruan tinggi harus menjadikan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang terintegrasi, baik dalam perkuliahan maupun aktivitas softskill yang lain untuk menghasilkan generasi Indnesia, baik S-1, S-2, dan S-3 serta SDM yang unggul dan kreatif.
Generasi muda adalah calon pemimpin dan harapan bangsa. Generasi muda harus memiliki kecerdasan yang unggul dan kreatif melalui proses pembelajaran yang teringeratif dengan berbagai sumber referensi dan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai dengan karakteristik dan kemauan pembelajar. Hal terpenting yang harus diperhatikan oleh para mahasiswa dan dosen dalam pembelajaran adalah (1) tujuan pembelajaran, (2) karakteristik mahasiswa, (3) media pembelajaran, (4) suasana pembelajaran yang menyenangkan, (5) pusat sumber belajar/perpustakaan yang memadai, dan (6) dosen yang visioner. Keenam unsur tersebut apabila diintegrasikan dalam konteks pembelajaran aktif dan kreatif akan mengahasilkan insan-insan cendekia yang cerdas dan berdaya saing tinggi.
Perpustakaan dapat menjadi pusat sumber belajar yang sangat menguntungkan bagi mahasiswa dan dosen ketika mereka dapat mengintegrasikan perpustakaan dengan konteks pembelajaran aktif dan kreatif berbasis perpustakaan. Belajar dari tokoh-tokoh dunia, seperti Albert Enstien, Bill Gates, Newton, dll. mereka semua adalah pembelajar dan pembaca buku-buku di perpustakaan. Oleh karena itu, untuk menghasilkan generasi muda yang hebat dan luar biasa seorang dosen harus berusaha mendekatkan dan bahkan menyatukan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang terintegrasi dengan mahasiswa. Hal ini sebagai bentuk kolaboratif antara media, sumber belajar, dan pembelajara dalam rangka akselerasi pemerolehan pengetahuan dan keterampilan sebagai insan-insan cendekian yang cerdas dan kreatif.
Tujuan pembelajaran harus tercapai dengan cara kreatif, inovatif, dan berdampak kepada para mahasiswa, baik sekarang dan di masa yang akan datang. Integrasi pembelajaran berbasis perpustakaan bukan hal yang sulit ketika dosen memiliki visi untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan unggul. Upaya tersebut dapat diwujudkan apabila pembelajaran yang dilakukan dintegrasikan dengan perpustakaan sehingga para mahasiswa secara intensif dan kolaboratif memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar dan penelitian mereka. Banyak pustaka yang dapat diresensi, dikaji, ditelaah, dan dimanifestasikan sebagai inspirasi untuk menumbuhkembangkan ide-ide kreatif mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Upaya ini dilakukan dengan program wajib baca bagi mahasiswa dan dosen minimal satu halaman per hari dan satu buku per minggu. Program pembiasaan ini dapat dievaluasi hasilnya setelah berjalan satu atau dua bulan secara intensif. Selain itu, program pembviasaan membaca ini dapat mendukung program pemerintah melalui permendikbud No. 21 tahun 2015 mengenai wajib membaca lima belas menit sebelum pembelajaran bagi pelajar. Dengan membaca kita akan mampu menjelajah dan menyibak dunia untuk kemajuan dan pengayaan pengetahuan kita melalui guru/dosen yang setia menemani belajar kita sepanjang masa, yaitu buku-buku di perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi serta perpustakaan daerah. Wahai para guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa selamat menjelajah dunia melalui membaca untuk kejayaan Indonesia tercinta! Salam sukses dan luar biasa! Salam Pustaka: Menyibak Jendela Dunia untuk Kejayaan Pendidikan Indonesia.

“Membaca dan menulis adalah upaya kita untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan diri dari kebodohan”

 

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.
Motivator dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS
Kepala UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret
Ketua Umum Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/081391423540

Menjadi Pustakawan yang Andal dan Profesional

Penulis Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.(Kepala UPT Perpustakaan UNS)

” Pustakwan harus memiliki jiwa untuk megubah dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh para pemustaka, minimal senyum dan layanan prima akan selalu dikenang sepanjang masa”

Menjadi pustakawan adalah pilihan hidup. Seorang pustakawan adalah profesi yang tidak setiap orang mau dan mampu menjalankanya. Oleh karena itu, diperlukan niat dan komitmen yang kuat untuk menekuni profesi sebagai pustakawan. Pustakawan yang andal dan profesional tidak dapat serta merta menjadi idola para pemustaka. Akan tetapi komitmen untuk melayani dan memberikan berbagai informasi dan rekreasi pustaka yang dibutuhkan oleh para pemustaka adalah perwujudan komitmen dan integritas sebagai seorang pustakawan yang andal dan profesional.

Pustakawan harus memiliki kebiasan untuk membaca dan menulis. Kebiasan membaca dan menulis harus identik dimiliki oleh para pustakawan, baik pustakawan pelaksana, madya dan seterusnya. Hal ini sebagai bentuk upaya pengembangan diri dalam bidang budaya literasi bagi para pustakawan dan juga para pemustaka. Mengapa demikian? Para pemustaka diibaratkan setiap detik bergulat dan bergelimang dengan berbagai koleksi pustaka. Oleh karena itu, seorang pustakawan minimal harus memiliki kebiasaan membaca dan menulis untuk pengayaan reportoar bahasa dan pengetahuan yang beraneka ragam.

Pustakawan harus memiliki jiwa sebagai seorang pembelajar sepanjang hayat. Seorang pustakawan harus memilki jiwa pembelajar sepanjang hayat. Artinya seorang pustakawan harus dapat belajar dan membelajarkan semua aspek yang dimiliki dan siap berbagi dengan para pemustaka yang ada di  di dalam dan di luar perpustakan. Para pustakawan harus menjadi pendamping yang siap membukakan pintu menuju cakrawala dunia bagi para pemustaka. Para pustakawan harus memiliki jiwa pembelajar dalam membangun sikap untuk memberi, melayani, dan memproduksi kembali hasil pembelajaran tersebut dalam bentuk tulisan untuk masyarakat melaui media cetak, online, buku, seminar, dll..

Pustakawan harus memiliki jiwa untuk mengubah cara berpikir para pemustaka.  Perkembangan zaman dan teknologi mewajibkan kita untuk terus beranai mengubah cara berpikir diri sendiri dan orang lain menuju visi lembaga  yang hendak dicapai dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Oleh karena itu, seorang pustakawan yang andal dan professional harus beniat untuk berubah dan mengubah kondisi yang ada dilingkungannya. Semua itu akan dapat dilakukan apabila kita sudah mampu dan berani untuk mengubah cara berpikir dan kinerja kita sendiri tanpa harus ada imbalan, hadiah, atau kehadiran kepala, pemimpin, dan semua hal yang menjadi penyebab peruabahan kita.  Motivasi kuat yang harus tertanam dalam jiwa seorang pustakawan untuk menjadi pustakawan yang andal dan profesioanl adalah berniat untuk berubah dari hati kita sendiri.

Selamat mencoba untuk menjadi para pustakawan yang andal dan profesional. Kita mulai dari diri kita masing-masing, insyallah semua kawan, sahabat, dan sejawat kita akan mengikuti dengan ikhlas dan kepedulian untuk kemajuan perpustakaan dan lembaga kita tercinta.

“Menjadi matahari yang selalu menyinari  dunia sepanjang hari diperlukan kesabaran dan komitmen sepanjang masa. Karena kita harus siap memberi tanpa harus menerima, itulah prinsip dan komitmen matahari menyinari dunia”