Posts

Peran Pustakawan dalam Pengelolaan Perpustakaan

oleh: Tri Hardiningtyas

PENGANTAR

Pandangan umum tentang seorang pustakawan yakni sebagai manusia aneh dengan kacamata minus tanpa keramahtamahan. Hal ini dikarenakan asumsi yang beranggapan bahwa seorang pustakawan berkutat dengan kumpulan buku-buku usang dengan ruangan remang-remang gelap dan tidak sedap dipandang. Akan tetapi, ada juga yang berpendapat sebaliknya, bahwa pustakawan laksana kamus berjalan yaitu tempat bertanya segala informasi. Sebagaimana pendapat yang mengatakan bahwa perpustakaan yang merupakan tempat kegiatan seorang pustakawan disebut sebagai gudang ilmu, pusat informasi dunia, atau sarana kita mencari informasi sebagai jendela dunia.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, maka peran pustakawan pada sebuah perpustakaan sebagai media penyampai informasi dapat dengan menggunakan berbagai program kemasan informasi dengan aneka penyajian. Dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan dan pengajaran, peran perpustakaan masih menjadi kebutuhan pokok bagi para pendidik dan peneliti. Hal ini dikarenakan tidak semua informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan mudah. Berkaitan dengan sarana pembelajaran sebagai mitra dalam memperoleh informasi dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, maka pustakawan sebagai mediator informasi sangat berperan. Oleh karena itu, kalangan pendidik atau siapapun yang ingin berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan (informasi) wajib mengetahui peran seorang pustakawan.

Perpustakaan sebaiknya dikelola sesuai tujuan penyelenggaraan sebuah pusat informasi. Komunikasi informasi kepada pemakai saat ini melalui aneka media yang ada. Pada peran inilah (media informasi) pustakawan dibutuhkan agar informasi sampai kepada pemakai. Aneka kemasan informasi diolah oleh pustakawan sehingga siap untuk dimanfaatkan. Tidak dapat dipungkiri sehingga peran seorang pustakawan menjadi tolok ukur apakah informasi yang disampaikan bermanfaat atau tidak, sesuaikah dengan kebutuhan para pengguna atau pengunjung perpustakaan. Perpustakaan tanpa adanya pengguna, hanya menjadi gudang koleksi yang akhirnya menjadi sarang debu, seperti rumah tak bertuan. Karenanya, penting kiranya mengenal peran seorang pustakawan dalam mengelola sebuah perpustakaan, apa yang harus dilakukan terhadap koleksi perpustakaan agar informasi yang terdapat dalam sebuah koleksi bermanfaat bagi pengguna/pengunjung perpustakaan.

PROFESI PUSTAKAWAN

Pengertian pustakawan dalam hal ini adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1). Menurut definisi tersebut maka seseorang yang ingin menjadi pustakawan atau penyelenggara sebuah perpustakaan merupakan orang yang mempunyai pendidikan tertentu. Artinya tanpa bekal ilmu mengelola informasi janganlah bertekad mendirikan sebuah perpustakaan. Kecuali pengelola yang bersangkutan telah belajar mandiri (otodidak) mengenai penyelenggaraan suatu perpustakaan (pusat informasi). Sampai atau tidaknya sebuah informasi kepada pemakai akan tergantung kepada peran pustakawan.

Pustakawan yang bagaimana yang diharapkan oleh pemakai perpustakaan, sehingga pemakai perpustakaan mendapat informasi yang berguna sesuai yang diinginkan. Beberapa ketrampilan yang harus dimiliki seseorang yang berprofesi sebagai pustakawan sebagai berikut :

  1. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
  3. Seorang pustakawan harus selalu berpikir positif.
  4. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
  5. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai.
  6. Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekrjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi (Profesionalisme Pustakawan di Era Global, 2001).

Sementara itu, yang dimaksudkan dengan pengelolaan perpustakaan adalah kegiatan mengurus sesuatu, dapat diartikan sebagai mengurus atau menyelenggarakan perpustakaan (Kamus Besar Bahasa Indonesiai, 1976:469). Dengan demikian peran pustakawan tidaklah ringan seperti pendapat pada umumnya yang mengatakan bahwa seorang pustakawan merupakan pegawai tak bermutu yang kerjanya menunggui tumpukan buku-buku. Pustakawan sudah saatnya mengekspresikan diri sebagai media informasi yang berkualitas. Pustakawan harus mampu membuang stempel kutu buku yang sudah melekat begitu lama. Bukan hal yang mudah mengembalikan peran pustakawan sebagaimana mestinya sebagai media informasi (penyelenggara komunikasi informasi). Sehubungan dengan hal tersebut, maka pustakawan dituntut untuk memberikan pelayanan yang memuaskan pemakai. Bagaimana kualitas pelayanan yang dapat memuaskan pemakai informasi? Salah satunya adalah peran aktif pustakawan yang kreatif dalam mengelola informasi. Pustakawan dituntut untuk aktif dan giat bekerja dalam menyampaikan informasi dalam aneka produk kemasan-kemasan yang menarik dan sampai kepada pemakai.

PERAN PUSTAKAWAN DALAM PELAYANAN PEMAKAI

Pelayanan pemakai yang diberikan oleh suatu perpustakaan pada umumnya meliputi pelayanan administrasi, pengadaan koleksi, dan pendayagunaan koleksi.

  1. Pelayanan administrasi meliputi: struktur organisasi, pendaftaran anggota perpustakaan, peraturan tata tertib penyelenggaraan perpustakaan, agenda surat menyurat. Keberadaan pengguna harus didata untuk pengaturan pemanfaatan koleksi. Pengelolaan data pengguna diolah dalam sistem yang telah ditentukan sehingga pengguna perpustakaan siap untuk mendayagunakan koleksi yang ada.
  2. Pelayanan pengadaan koleksi perpustakaan melaksanakan tugas-tugas pengadaan sarana dan prasarana penyelenggaraan suatu perpustakaan, sehingga tujuan pengelolaan perpustakaan dapat berjalan dan berkelanjutan. Pelayanan pengadaan melaksanakan tugas-tugas mengadakan koleksi perpustakaan dan juga peralatan sistem yang digunakan dalam menunjang kelancaran jalannya perpustakaan. Baik berupa perangkat lunak maupun perangkat keras.
  3. Pelayanan pendayagunaan koleksi perpustakaan merupakan jenis pelayanan perpustakaan yang mengolah informasi sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang siap pakai. Koleksi harus diberi ciri atau kode agar dikenali sebagai hak milik suatu perpustakaan atau pusat informasi tertentu. Kode bisa berupa cap atau tanda gambar tertentu yang menunjukkan hak kepemilikan. Selain itu, koleksi perlu diatur penempatannya pada rak-rak atau tempat yang disediakan agar tertata dan tersusun sesuai dengan pembagian kelompok bidang ilmu pengetahuan yang sedang berkembang. Pendayagunaan koleksi diharapkan informasi dari koleksi yang dimiliki suatu perpustakaan dapat digunakan sesuai kebutuhan pemakai peprustakaan. Hal ini sehubungan dengan pelayanan yang diberikan kepada pemakai perpustakaan agar informasi yang dibutuhkan siap pakai. Dalam hal pelayanan pendayagunaan koleksi, peran pemakai perpustakaan merupakan aset penting dalam penyelengaraan perpustakaan. Berkembang tidaknya suatu perpustakaan tergantung dari jenislayanan yang diminta pengguna. Tanpa pengguna, informasi yang disajikan suatu perpustakaan menjadi informasi yang basi dan tak berguna.

Berdasarkan uraian jenis pelayanan pemakai yang diberikan suatu perpustakaan, maka kualitas pelayanan menjadi ukuran manfaat tidaknya suatu perpustakaan bagi pemakainya. Definisi mengenai kualitas suatu pelayanan memang tidak dapat diterima secara universal. Menurut Kotler dalam Tjiptono (2001:6), pelayanan (jasa) didefinisikan sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak lain yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, layanan perpustakaan tidak berorientasi kepada hasil fisik, meskipun demikian pustakawan tetap diminta untuk kreatif dalam menyajikan kemasan informasi yang diberikan kepada pemakai.

Menurut definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan (jasa) adalah setiap tindakan atau aktivitas yang pada dasarnya tidak berujud fisik yang ditawarkan dari suatu pihak kepada pihak yag lain sehingga mendatangkan kepuasan atau kemanfaatan. Pengertian pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan kepada masyarakat umum atau pelayanan pemakai perpustakaan. Pelayanan mempunyai sifat universal, artinya berlaku terhadap siapa saja yang menginginkannya. Oleh karenanya, pelayanan yang memuaskan pemakai memegang peranan penting agar perpustakaan dapat eksis.

Lebih lanjut Moenir (1995:410) mengungkapkan perwujudan pelayanan yang didambakan adalah :

  1. Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan dengan pelayanan yang cepat dalam arti tanpa hambatan yang kadang dibuat-buat
  2. Memperoleh pelayanan secara wajar tanpa gerutu atau sindiran yang mengarah kepada permintaan sesuatu, baik dengan alasan untuk dinas maupun kesejahteraan.
  3. Mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan terhadap kepentingan yang sama, tertib dan tidak pandang bulu.
  4. Pelayanan yang jujur dan terus terang.

Menurut berbagai definisi tersebut di atas, terdapat beberapa kesamaan, yaitu :

  1. Kualitas meliputi usaha untuk memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
  2. Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses, lingkungan
  3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin kurang berkualitas di masa mendatang) (Tjiptono,1998:40).

Pelayanan perpustakaan sudah selayaknya berorientasi pada pemakai, sehingga kepuasan pemakai selalu diutamakan dalam rangka meningkatkan hubungan antara pelanggan dan pengelola. Setiap pelayanan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari dalam maupun dari luar sistem penyelenggaraan.

Faktor yang mempengaruhi tesebut di antaranya:

1) Faktor kesadaran para pejabat serta petugas yang berkecimpung dalam pelayanan

2) Aturan kerja yang melandasi kerja pelayanan

3) Pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup minimal

4) Faktor ketrampilan petugas

5) Faktor sarana dalam pelaksanaan tugas pelayanan

6) Faktor organisasi yang merupakan alat serta sistem yang memungkinkan berjalannya mekanisme kegiatan pelayanan (Moenir, 1995:88).

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mendengarkan “suara pelanggan” merupakan suatu hal yang perlu dilakukan perpustakaan, baik perpustakaan besar maupun kecil. Jadi meningkatkan kualitas layanan suatu perpustakaan harus dimulai dari diri sendiri sebagai pelayan/penyampai informasi terlebih dahulu; yaitu meningkatakan ketrampilan dan kualitas pribadi sebagai pelayan yang dapat memberikan kepuasan pemakai. Kewajiban pustakawan terhadap diri sendiri sebagaimana tercantum dalam kode etik pustakawan. Diantaranya, setiap pustakawan dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu, memelihara akhlak dan kesehatan untuk dapat hidup dengan tenteram, dan bekerja dengan baik; serta selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam pergaulan dan bermasyarakat (Kode Etik Pustakawan, 1998:3).

PENUTUP

Profesi sebagai seorang pustakawan harus aktif kreatif melakukan pengembangan diri dalam rangka penyelenggaraan perpustakaan yang berorientasi pada kepuasan pemakai informasi. Peran dan tanggungjawab seorang pustakawan menjadi tolok ukur kepuasan pemakai. Peran pustakawan dituntut untuk mendengarkan dan menerima ‘suara-suara’ pelanggan dengan lapang dada demi kemajuan dan peningkatan pelayanan. Pesatnya peredaran informasi membuat profesi pustakawan harus mau bekerjasama dalam tim kerja dengan profesi bidang lain.

DAFTAR PUSTAKA

A.S. Moenir, 1995. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.

Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001.

Fandy Tjiptono. 1998. Prinsip-prinsip Total Service. Yogyakarta: Andi Offset

Fandy Tjiptono. 2001. Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi OffsetFandy

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.

Kode Etik pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998.

Rosady Ruslan. 2001. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi (Konsep dan Aplikasi). Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Mendamba Pustakawan Profesional Di Tengah Masyarakat

Hasil wawancara : Bagus Sandi Tratama dengan Dra.Tri Hardiningtyas, M.Si pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta

Perpustakaan boleh dikatakan adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan merupakan tempat pembelajaran serta pengkoleksian hasil karya budaya dan intelektual manusia yang berujud karya tulis hingga karya rekam. Keberadaan sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menjadi fasilitator terwujudnya masyarakat yang berilmu, kreatif, dan mandiri. Selain keberadaan sarana dan prasarana wajib seperti koleksi karya cetak seperti buku sebuah perpustakaan yang ideal harus juga ditunjang keberadaan sumber daya manusia pengelola yang profesional.

Namun harapan keberadaan pustakawan professional ternyata saat ini belum mampu terwujud secara maksimal. Dalam acara Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di Surakarta kemarin, (22 – 23/10) terkuak jika dari 27.964 tenaga perpustakaan di Indonesia yang berstatus pustakawan hanya sebanyak 2.963 orang saja. Selain itu kompetensi dalam bidang perpustakaan juga relative rendah yaitu hanya sekitar 6.900 orang atau baru 24% pekerja perpustakaan yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan bidang perpustakaan. Sisanya sejumlah 76% atau 21 ribu orang lebih belum pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang kepustakawanan.

Padahal seperti diungkapkan oleh Tri Hardiningtyas pustakawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut, “Secara normative pustakawan dapat dianggap sebagai tenaga professional karena memiliki kriteria seperti adanya lembaga pendidikan, organisasi profesi, kode etik, tunjangan profesi hingga publikasi ilmiah,” ungkapnya. Selain itu keberadaan profesi pustakawan sendiri dilindungi payung hukum berupa SK Menpan No 132 tahun 2002 dan Undang-Undang No 43 tahun 2007.

Meskipun  beberapa persyaratan normatif dari profesi kepustakawanan telah ada namun beberapa faktor lain disinyalir menjadi sebab tidak berkembangnya profesi kepustakawanan. Menurut Syamsul Bahri, SH, M.Si selaku Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca berbagai faktor tersebut adalah rendahnya minat generasi muda menggeluti ilmu perpustakaan di perguruan tinggi, ketergantungan pustakawan pada birokrat, kurangnya rasa percaya diri pada pustakawan, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan pustakawan, belum memadainya tunjangan jabatan fungsional pustakawan, “Selain itu saat ini profesi pustakawan juga minim apresiasi dari pemerintah, kalangan pendidik, peneliti sampai masyarakat,” tuturnya.

Untuk mengatasi permasalahan di atas solusi coba ditawarkan beberapa pembicara dalam acara tersebut. Menurut Tri Hardiningtyas hal pertama yang harus dilakukan para pustakawan adalah dengan menunjukkan prestasi pustakawan di masyarakat dengan turut aktif dan kreatif mengabdi pada masyarakat. Hal kedua yang mesti dilakukan adalah meningkatan kerjasama antara para pustakawan dengan pemerintah baik pusat hingga daerah juga penting untuk dilakukan dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi.

Secara individu para pustakawan menurut Tri Hardiningtyas juga harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang semakin berkembang dan menantang. “Pustakawan saat ini dituntut untuk tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus juga mempunyai nilai tambah. Pustakawan saat ini sudah waktunya berpikir kewirausahaan dengan bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tetapi tetap layak dipakai masyarakat,” terangnya. Selain itu pustakawan juga dituntut memiliki motivasi tinggi dan kemampuan komunikasi yang baik kepada konsumen atau pemustaka agar dicapai kepuasan pengguna.

Agar keberadaan pustakawan di masyarakat semakin diakui menurutnya para pustakawan juga harus mampu mengimplementasikan UU No 43/2007 pasal 5 yang menuntut peran aktif pustakawan terjun dimasyarakat. Pelayanan aktif dari pustakawan ini semisal mampu memberikan layanan perpustakaan secara khusus pada masyarakat daerah terpencil atau terbelakang dan masyarakat yang memiliki cacat fisik, emosional, mental, intelektual dan sosial.

Namun bagaimanapun keberadaan perpustakaan berserta para pustakawannya akan kembali lagi ke dasar permasalahan yaitu tentang minat baca masyarakat. Karena salah satu tugas perpustakaan adalah mengajak masyarakat untuk gemar membaca informasi di perpustakaan. Menanggapi hal ini, Tri Hardiningtyas ditemui diluar acara mengungkapkan tanggung jawab meningkatkan minat baca masyarakat bukan hanya tanggung jawab para pustakawan saja melainkan pemerintah, masyarakat hingga keluarga

Perkembangan jaman yang memberikan konsekuensi terhadap keberadaan teknologi informasi modern seperti internet juga membuat perpustakaan serta para pustakawannya berbenah diri. “Sekarang perpustakaan sudah sulit jika memaksa masyarakat membaca buku di perpustakaan karena masyarakat sudah nyaman dengan mendapatkan informasi melalui internet,” tuturnya. Akibatnya minat baca masyarakat sudah tidak lagi dapat diukur dengan melihat ramai tidaknya sebuah perpustakaan dikunjungi oleh masyarakat.

SEKELUMIT TENTANG DENDA DAN SANKSI PERPUSTAKAAN

ditulis kembali oleh : Dra. Tri Hardiningtyas, MSi

Ada kemungkinan, seseorang yang bermasalah dengan perpustakaan, akan mengeluh tentang denda dan sanksi perpustakaan. Dalam hal ini, keluhan berhubungan dengan pemakaian koleksi suatu perpustakaan. Seseorang yang pernah menerima permasalahan dengan perpustakaan, akan menjadikan dirinya untuk berbuat lebih baik atau bahkan sebaliknya, menghindari dari permasalahan. Hal terbaik yang sudah seharusnya dilakukan adalah dengan menerima masalah yang ada, merenungkan, dan menilai atau evaluasi diri atas masalah yang ada. Seseorang akan semakin paham dan mengerti sesuatu karena belajar dari pengalaman. Sebagaimana ada ungkapan, pengalaman adalah pelajaran terbaik. Bagaimana kaitannya antara pengalaman (permasalahan) dengan perpustakaan? Apakah yang dimaksud dengan denda perpustakaan?

Permasalahan (pengalaman) dengan perpustakaan

Pengalaman adalah guru terbaik. Begitulah yang biasa kita dengar  bila seseorang menyampaikan pengalamannya atau seseorang melakukan pemecahan masalah yang pernah dihadapi. Masalah jangan kita hindari, begitu datang berarti saatnya untuk kita introspeksi dan mengurai setiap kejadian yang ada. Semakin sering seseorang menghadapi dan dapat mengurai masalah yang ada, semakin matanglah seseorang dengan kehidupan. Bagaimana jika pengalaman yang terjadi berkaitan dengan perpustakaan? Apakah pada akhirnya dapat menjadi pelajaran berharga? Seberapa pentingkah perpustakaan sehingga bisa jadi pelajaran berharga? Sebenarnya, apa saja yang akan terjadi jika seseorang berhubungan dengan perpustakaan?

Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak setiap mahasiswa mengenal perpustakaan atau berkunjung ke perpustakaan tempat mahasiswa menuntut ilmu. Kemajuan teknologi informasi saat ini, sangat memungkinkan mahasiswa untuk tidak memanfaatkan perpustakaan yang disediakan oleh universitas/institutnya. Informasi yang dibutuhkan untuk perkuliahan maupun menyusun karya tulis dapat diperoleh melalui fasilitas internet. Meskipun demikian, keberadaan perpustakaan tetap dijadikan tujuan penunjang kegiatan pendidikan bagi mereka yang tidak/belum ada kesempatan untuk akses informasi dalam dunia maya. Tidak sedikit pengunjung perpustakaan lebih yakin dengan membaca dan mengenal fisik kemasan informasi (baca:buku/majalah) yang menjadi pegangan dalam menunjang kegiatan belajar maupun membuat karya tulis.

Seseorang yang datang ke suatu perpustakaan, pasti mempunyai maksud dengan seluk beluk perpustakaan. Apakah ingin mengenal petugasnya saja, hanya ingin tahu kegiatan suatu perpustakaan, mencoba menjelajah dunia melalui koleksi perpustakaan, melepaskan diri dari kepenatan hidup yang menimpanya, sampai pada hal-hal yang berhubungan dengan segala kegiatan yang ada di perpustakaan. Siapapun akan disambut dengan baik oleh pihak perpustakaan, jika kedatangannya pun dengan maksud yang baik.

Kegiatan yang selalu ada pada setiap perpustakaan adalah transaksi pinjam kembali koleksi perpustakaan kepada pengunjung/pemakai perpustakaan. Apabila ada suatu perpustakaan hanya memamerkan kekayaan koleksi tanpa bisa dinikmati oleh pengunjung, maka belum bisa disebut sebagai sebuah perpustakaan. Berkaitan dengan keberadaan perpustakaan sebagai penunjang kegiatan tri darma perguruan tinggi, maka setiap perpustakaan didirikan dengan berbagai fungsi tertentu, agar tujuan diselenggarakannya perpustakaan benar-benar dapat menjadi penunjang tercapainya kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Sangat disayangkan, apabila kita memiliki sesuatu akan tetapi tanpa ada manfaatnya. Demikian halnya dengan keberadaan perpustakaan di perguruan tinggi, sudah selayaknya digunakan semaksimal mungkin untuk tujuan perguruan tinggi yang bersangkutan. Salah satu manfaat perpustakaan yang berkaitan dengan denda yakni pemanfaatan koleksi perpustakaan oleh pengguna dengan cara dibaca di tempat lain (dipinjam dibawa pulang/difotokopi), sehingga harus dipinjam terlebih dahulu oleh pengguna. Pelaksanaan peminjaman koleksi tentunya dengan aturan tertentu sehingga ada manfaat saling menguntungkan, baik dari pihak perpustakaan maupun pengguna. Oleh karena itu, apabila terjadi suatu pelanggaran sudah sepantasnya jika dikenai sanksi. Salah satu tujuan adanya sanksi dengan maksud mendisiplinkan pengembalian koleksi. Adapun bentuk sanksinya berupa denda yang disebabkan pengembalian koleksi yang terlambat.

Sanksi yang dimaksudkan adalah tindakan-tindakan, atau hukuman untuk memaksa orang menepati janji atau menaati apa-apa yang sudah ditentukan (KUBI, 1976:870). Sanksi inilah yang biasanya menjadi hal yang memberatkan bagi pengguna. Meskipun pemberian sanksi ini sudah sesuai ketentuan yang berlaku dan sudah disepakati. Perlu kiranya dipahami dan diresapi makna arti kata sanksi, denda, dan sanksi lain berupa penggantian koleksi perpustakaan yang dihilangkan oleh pengguna. Perpustakaan mempunyai salah satu kegiatan berupa penagihan koleksi kepada para pengguna yang terlambat mengembalikan koleksi dan pengguna yang menghilangkan koleksi. Hal yang sering dihadapi oleh pihak perpustakaan, salah satunya dalam hal  memberikan pengertian mengenai perbedaan sanksi yang berupa denda keterlambatan pengembalian koleksi dan sanksi  menghilangkan koleksi oleh pengguna. Para pengguna sering meminta hanya salah satu sanksi. Padahal kedua hal tersebut di atas mempunyai pengertian yang berbeda; yakni  sanksi tentang keterlambatan mengembalikan koleksi dan sanksi menghilangkan koleksi.  Jika koleksi yang seharusnya dikembalikan hilang/dihilangkan padahal juga sudah terlambat dan melewati batas waktu peminjaman, maka pengguna tersebut akan menerima 2sanksi. Sehubungan dengan hal ini, para pengguna diminta untuk lebih memperhatikan kedua hal tersebut. Karena yang sering terjadi, pengguna keberatan atas sanksi yang ada. Perlu kiranya para pengguna perpustakaan memperhatikan dengan benar dan seksama tentang peraturan perpustakaan yang ada. Sebagaimana seseorang jika ingin bertandang ke rumah teman atau kerabat saudaranya sudah sepantasnya dengan menerapkan sopan santun (tata krama).

Apakah yang dimaksud dengan denda perpustakaan?

Denda menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah hukuman yang berupa keharusan membayar uang; uang yang harus dibayarkan sebagai hukuman  karena melanggar aturan, undang-undang, dan sebagainya (1976:240). Tanpa mengurangi hak-hak para pengguna perpustakaan, maka pemberlakuan denda terhadap pengguna sebenarnya  tidak perlu dipermasalahkan. Melakukan hal yang baik, memang memerlukan perjuangan. Niat perpustakaan yakni menerapkan peraturan yang sesuai dan telah disepakati. Jadi, apabila terjadi keterlambatan atau menghilangkan (merusakkan, memperlakukan koleksi dengan tidak pada tempatnya) koleksi oleh pengguna, maka segala resiko menjadi tanggung jawab pengguna.

Denda bukanlah untuk mengumpulkan sejumlah uang semata. Denda yang diberlakukan oleh pihak perpustakaan dimaksudkan agar koleksi yang dimiliki utuh lengkap dan terawat. Denda yang diberlakukan pun sebenarnya tidak hanya berupa uang, dapat juga diwujudkan dengan mengganti koleksi yang sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. Pada prinsipnya denda yang diberlakukan bertujuan saling menguntungkan serta saling berbagi dalam manfaat. Dengan demikian, pihak perpustakaan berharap pelaksanaan pelayanan perpustakaan dapat tetap berlangsung dengan lancar. Di samping itu,  komunikasi  antar pengguna dan perpustakaan  diharapkan dapat meningkat ke arah yang lebih baik. Saling pengertian menjadi hal penting agar pelaksanaan sanksi-sanksi yang berlaku semakin  terarah kepada kebaikan. Apalagi pemberlakuan sanksi di perpustakaan dapat dimusyawarahkan, karena memang tujuan pemberian sanksi dalam rangka perbaikan layanan perpustakaan.

sumber : MOTIVASI, ed.September 2008

Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan dalam Mendukung Tugas Pokok Fungsi Instansi : antara harapan dan kenyataan

Oleh: Tri Hardiningtyas

PENDAHULUAN

Payung hukum:

. SK MENPAN Nomor 132 Tahun 2002
. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007

Pustakawan

  • adalah seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan (Kode Etik Pustakawan, 1998:1)
  • Adalah seseorang yg memiliki kompetensi yg diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab unt melaksanakan pengelolaan&pelayanan perpustakaan ( Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 1)
    Profesi
  • Arti umum adalah bidang pekerjaan dan pengabdian tertentu, yang karena hakikat dan sifatnya membutuhkan persyaratan dasar, ketrampilan teknis, dan sikap kepribadian tertentu (Surakhmad dalam Etika Kepustakawanan, 2006:62)
  • Adalah sejenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang untuk melaksanakannya dg baik memerlukan ketrampilan dan/atau keahlian khusus yang diperoleh dari pendidikan dan/atau pelatihan secara berkesinambungan sesuai dg perkembangan bidang pekerjaan atau lapangan kerja yg bersangkutan (Soekarman dalam Etika Kepustakawanan, 2006:63)

Pustakawan dianggap sebagai tenaga profesional karena sebagian kriteria telah ada antara lain memiliki:

  1. Lembaga pendidikan
  2. Organisasi profesi
  3. Kode etik
  4. Majalah ilmiah
  5. Tunjangan profesi

PERMASALAHAN

Apakah pustakawan sudah melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional?
Sejauh mana peran pustakawan sebagai anggota profesi?

PEMECAHAN MASALAH

  1. Tunjukkan prestasi pustakawan
  2. Peran pustakawan aktif dan kreatif terjun ke masyarakat
  3. Kerjasama antara pustakawan dan pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi (P3IR)
  4. Kerjasama antara pustakawan, pemerintah/badan/lembaga, dan organisasi profesi dalam rangka meningkatkan peran pustakawan agar aktif dan kreatif secara profesional

PEMECAHAN MASALAH

1. Tunjukkan prestasi pustakawan

Sesuai Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 maka sudah sepantasnya para pustakawan bersyukur karena telah ada payung hukumnya. Apa yang tertuang melalui undang-undang tersebut mencakup hal-hal bagi perpustakaan, pustakawan, juga pemustaka. Mengutip pendapat Tawwaf (2008) ada beberapa catatan penting sebagai berikut :

  1. Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pelayanan perpustakaan di mana pun dia berada
  2. Masyarakat daerah pedesaan terpencil, cacat fisik ataupun mental
  3. Mengamanatkan kepada pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan di kabupaten kota
  4. Mengamanatkan kepada penyelenggaraan perpustakaan yang bersifat standar nasional, tidak sekedar menggugurkan kewajiban.

Melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 31-32, pustawakan diberi hak dan kewajiban yang harus ditaati. Mari kita berhenti mengeluh dengan tunjangan yang kecil, koleksi yang sedikit, sarana prasarana kurang memadai, dan sebagainya. Syukuri dan nikmati dulu apa yang ada. Marilah kita tunjukkan prestasi kerja kita terlebih dahulu. Besarnya tunjangan dan tugas-tugas dengan angka kreditnya telah mengalami tahap-tahap penyempurnaan hingga sampai saat ini. Selain itu, aktifkan peran kita di mana pun kapan pun dengan luwes beradaptasi dengan perubahan.

Mencontoh kata AA Gym bahwa memulai sesuatu yang baik memang sulit, minimal dimulai dari diri sendiri. Evaluasi peran profesi kita, apakah sudah melakukan hak dan kewajiban sebagai seorang pustakawan ataukah masih jalan di tempat.

Berikut ini beberapa catatan penting yang harus dimiliki oleh seseorang yang berprofesi.Beberapa ketrampilan yang harus dimiliki profesi pustakawan, antara lain:

  1. Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.
  2. Pustakawan adalah mitra intelektual yang memberikan jasanya kepada pemakai. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan pemakai.
  3. Seorang pustakawan harus selalu berpikir positif.
  4. Pustakawan tidak hanya ahli dalam mengkatalog, mengindeks, mengklasifikasi koleksi, akan tetapi harus mempunyai nilai tambah, karena informasi terus berkembang.
  5. Pustakawan sudah waktunya untuk berpikir kewirausahaan. Bagaimana mengemas informasi agar laku dijual tapi layak pakai.

Ledakan informasi yang pesat membuat pustakawan tidak lagi bekerja hanya antar sesama pustakawan, akan tetapi dituntut untuk bekrjasama dengan bidang profesi lain dengan tim kerja yang solid dalam mengelola informasi (Profesionalisme Pustakawan di Era Global, 2001).

2. Peran pustawakan aktif dan kreatif terjun ke masyarakat

Percepatan arus informasi saat ini berimbas kepada peran kita sebagai penyampai informasi. Ditambah dengan berkembangnya berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang amat dibutuhkan dalam menunjang bidang kerja kita. Oleh karena itu, siap atau tidak siap para pustakawan harus ikut bermain di era global sekarang ini. Para penikmat internet atau mereka yang lebih suka berselancar di dunia maya harus dijadikan mitra kerja kita.

Mengutip materi yang disampaikan oleh Supriyanto, bahwa pustakawan saat ini bukanlah penjaga koleksi tapi penyedia informasi, media informasi semakin beragam, koleksi tidak terbatas pada karya cetak /rekam secara fisik tapi sudah banyak yang dapat diakses melalui internet, perpustakaan tidak perlu sibuk promosi dengan menambah pengunjung tapi kita yang berkunjung atau menjumpai pemakai, dan layanan saat ini harus makin beragam(2008).

Peran pustakawan dalam masyarakat dapat dilihat melalui Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 5.

  1. Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk:
    a. memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan;
    b. mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan;
    c. mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan;
    d. berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan.
  2. Masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus.
  3. Masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.

Kita juga diminta aktif ikut mencerdaskan bangsa dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan perpustakaan dapat diselenggarakan oleh siapapun. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 43, 48-50 dinyatakan bahwa pertumbuhan taman baca diharapkan memberi sumbangan dalam rangka menunjang budaya gemar membaca di masyarakat. Oleh karena itu janganlah para pustakawan bergantung kepada institusi/lembaga tertentu atau tempat kerja kita saja, akan tetapi juga memainkan peran dalam masyarakat.
Perkembangan dewasa ini, bertumbuhan bentuk-bentuk semacam perpustakaan. Ada yang dinamakan taman bacaan, perpustakaan yang dikemas seperti bar, kafe buku, dan sebagainya. Hal ini merupakan perkembangan yang baik menuju budaya baca masyarakat. Apalagi dengan terbitnya Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka keberadaan perpustakaan dengan aneka jenis layanan diakui bahkan penyelenggaraan oleh masyarakat tersebut dibenarkan dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa. Salah satu contoh pasal yang menjelaskan sebagai berikut.

Pasal 15

  1. Perpustakaan dibentuk sebagai wujud pelayanan kepada pemustaka dan masyarakat.
  2. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
  3. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memenuhi syarat:
    a. memiliki koleksi perpustakaan;
    b. memiliki tenaga perpustakaan;
    c. memiliki sarana dan prasarana perpustakaan;
    d. memiliki sumber pendanaan; dan
    e. memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional.

Menurut pasal 16 dari undang-undang yang sama, terdapat berbagai jenis perpustakaan seperti perpustakaan provinsi; perpustakaan kabupaten/kota; perpustakaan kecamatan;perpustakaan desa; perpustakaan masyarakat; perpustakaan keluarga; dan perpustakaan pribadi.

3. Kerjasama antara pustakawan dan pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dalam rangka perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi (P3IR)

Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 32, pustakawan wajib untuk memberikan layanan prima terhadap pemustaka; menciptakan suasana perpustakaan yang kondusif; dan memberikan keteladanan dan menjaga nama baik lembaga dan kedudukannya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, profesi pustakawan ditantang untuk lebih aktif dan kreatif dalam masyarakat. Bagaimanapun pustakawan tidak dapat lepas dari peran sebagai mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan siapapun kapanpun di mana pun.
Upaya pemerintah dan negara mengatur pemerataan perolehan kesempatan mendapat pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi (P3IR) tertuang dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 2-3, 7 dan 8. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, negara dan pemerintah kota/daerah berkewajiban menyelenggarakan dan mengembangkan layanan perpustakaan secara merata di lingkungan masing-masing yang berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitia, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk menigkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa dengan asas pembelajaran sepanjang hayat. Inilah lahan luas yang merangsang para pustakawan untuk mengukir prestasi dengan lebih baik, lebih berdaya guna, lebih manfaat. Hal ini dikarenakan salah satu tugas pustakawan yakni memberikan layanan prima terhadap pemustaka (masyarakat) dengan menciptakan suasana kondusif dan memberikan keteladanan serta menjaga nama baik pemerintah kota/daerah.
Sedikit ilustrasi mengenai pembangunan Taman Cerdas di Surakarta menjadi contoh peran pemerintah kota/daerah dalam rangka pemerataan perolehan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi. Ada tiga contoh lokasi Taman Cerdas yang dibangun yaitu di Gambirsari (Banjarsari), Sumber (Banjarsari), dan Jambon (Serengan).
Fasilitas yang ada, antara lain jaringan komputer, arena bermain, serta sebuah panggung untuk pentas seni dan budaya. Menurut Jokowi-sapaan akrab Joko Widodo-nantinya pengelolaan Taman Cerdas akan diserahkan langsung pada masyarakat (Sumarno/Sindo/ism/28/12/2007). Ada baiknya kerjasama dilanjutkan dengan pelaksanaan di lapangan, memantau kegiatan yang telah dilaksanakan, dan evaluasi kegiatan dari program kerjasama yang ada.

4. Kerjasama antara pustakawan, pemerintah/badan/lembaga, dan organisasi profesi dalam rangka meningkatkan peran pustawakan agar aktif dan kreatif secara profesional

  1. Peran pustawakan aktif dan kreatif untuk terjun dalam organisasi profesi. Keaktifan dalam beroganisasi juga harus diprioritaskan agar organisasi dapat berperan maksimal. Peran aktif terhadap organisasi profesi sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Pustakawan. Bab 3 menyebutkan:
  2. Setiap pustakawan Indonesia menjadikan IPI sebagai forum kerjasama, tempat konsultasi, dan tempat penggemblengan pribadi guna meningkatkan ilmu dalam pengembangan profesi antara sesama pustakawan
  3. Setiap pustakawan Indonesia memberikan sumbangan tenaga, pikiran, dan dana kepada organisasi untuk kepentingan pengembangan ilmu dan perpustakaan di Indonesia
    Setiap pustakawan Indonesia menjauhkan diri dari perbuatan dan ucapan, serta sikap dan tingkah laku yang merugikan organisasi dan profesi dengan menjunjung tinggi nama baik IPI (1998:2).

Organisasi profesi juga telah diatur dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 khususnya pasal 34-37. Salah satu bunyi pasal tersebut sebagai berikut.

Pasal 34

  1. Pustakawan membentuk organisasi profesi.
  2. Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan dan memberi pelindungan profesi kepada pustakawan.
  3. Setiap pustakawan menjadi anggota organisasi profesi.
  4. Pembinaan dan pengembangan organisasi profesi pustakawan difasilitasi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Pasal 35

Organisasi profesi pustakawan mempunyai kewenangan:

  1. menetapkan dan melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;
  2. menetapkan dan menegakkan kode etik pustakawan;
  3. memberi pelindungan hukum kepada pustakawan; dan
  4. menjalin kerja sama dengan asosiasi pustakawan pada tingkat daerah, nasional, dan internasional.

PENUTUP

Harapan: ikut mencerdaskan bangsa dengan asas pendidikan sepanjang hayat
Kenyataan: peta pemerataan kesempatan dalam P3IR belum dioptimalkan

Kesimpulan:

  1. Profesionalisme pustakawan akan diakui manakala masyarakat/pemustaka mendapat manfaat dikarenakan keberadaan pustakawan.
  2. Pelaksanaan kegiatan yang disepakati dalam kerjasama antar pustakawan, pemerintah kota/kabupaten/daerah/desa dan organisasi profesi sebagai bentuk kerjasama yang berdaya guna dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. Profesionalisme Pustakawan di Era Global. Makalah dalam Rapat Kerja IPI XI, Jakarta: 5-7 November, 2001.
Hermawan S., Rachman dan Zulfikar Zen. Etika Kepustakawanan. Jakarta: Sagung Seto, 2006.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Kode Etik Pustakawan dalam Kiprah Pustakawan. Jakarta: IPI, 1998.
Sihabudin, Urip. “Rapat Evaluasi Layanan Perpustakaan”. 13 Agustus 2008.
Sumarno/Sindo/ism/28/12/2007
Supriyanto. “Kompetensi&Sertifikasi Profesi Pustakawan:implikasi UU Perpustakaan No.43 Th.2007” 2008
Tawwaf, Muhammad. “ UU No.43/2007 Payung Hukum Perpustakaan” Riau Pos 2008.
Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

*)Pustakawan UNS Surakarta.  Disampaikan pada  “Rapat Koordinasi Bidang Perpustakaan”,  Badan Arsip dan Perpustakaan, Provinsi Jawa Tengah, di Surakarta,  22-23 Oktober 2008

MENGERTI PERPUSTAKAAN (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI)

OLEH: Tri Hardiningtyas

PENGANTAR

Perpustakaan pada umumnya  sebagai  tempat tumpukan buku yang siap dibaca oleh siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan. Para pengunjung perpustakaan datang langsung memilih buku yang dikehendaki, dan membacanya. Begitulah gambaran seseorang jika membayangkan sebuah perpustakaan. Sebenarnya, kegiatan seseorang datang dan membaca di perpustakaan merupakan peristiwa  transfer informasi antara pembaca dan koleksi (isi koleksi). Melalui isi koleksi, para pembaca/penikmat koleksi telah mendapatkan ‘kelebihan-kelebihan’ informasi yang dapat ditransfer dalam bentuk kemasan sesuai yang dikehendaki. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat berupa informasi tertulis (dapat berupa karya tulis), informasi lisan (tukar pikiran dengan seseorang),  pengayaan pengetahuan (aktualisasi diri), hiburan (kenikmatan/ kesenangan/hobi), dan yang pasti setiap pembaca mempunyai tujuan atas bacaan yang dinikmati.

Dalam kehidupan kampus ( perguruan tinggi ), perpustakaan dianggap sebagai jantungnya universitas. Jadi, apabila sebuah universitas tidak punya perpustakaan, universitas tersebut dianggap mati.  Kenyataannya tidaklah demikian, hal ini dikarenakan  peran perpustakaan perguruan tinggi hanyalah sebagai penunjang dalam melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Sebagaimana disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi, bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN, 2004:1-9). Oleh karena itu, istilah jantung universitas dirasakan kurang pas dengan tugas yang diemban. Mungkin lebih pas jika diumpakan sebagai kaki tangan universitas. Pada kenyataannya, kami selaku pelaksana dari tugas perpustakaan sering mendapat informasi bahwa  seorang mahasiswa bisa  lulus tanpa harus ke perpustakaan. Kenyataan ini patut kita syukuri, karena melalui perkembangan teknologi informasi inilah jalan mendapatkan berbagai informsi bagi para pemakai informasi jadi begitu lancar dan mudah. Tidaklah mengherankan, pesatnya perkembangan teknologi informasi  menyebabkan kecilnya peran perpustakaan universitas bagi sivitas akademinya.

Saat sekarang, arus informasi sudah tidak berbatas oleh adanya buku atau informasi dalam berbagai kemasan fisik (misalnya bentuk cetak), akan tetapi cara perolehan informasi sekarang ini tanpa batas. Pada saatnya nanti, tidak perlu adanya buku-buku (berbagai koleksi perpustakaan dalam bentuk fisik) di sebuah perpustakaan. Perpustakaan masa depan  adalah perpustakaan maya. Segala kemasan informasi telah dituangkan dalam perbagai program komputer dan bisa diakses oleh semua orang dari tempat mana pun tanpa harus ke perpustakaan. Namun, mewujudkan model perpustakaan maya untuk universitas di  Indonesia sekarang ini bukanlah hal yang mudah.

Pada kesempatan ini, penulis ingin berbagi pemahaman tentang peran perpustakaan kepada para penikmat perpustakaan.  Mengapa perpustakaan perlu dimengerti, dipahami. Begitu pentingkah seseorang memahami perpustakaan,  apa saja peran perpustakaan.
Pemahaman tentang peran perpustakaan perlu kiranya dimengerti terlebih dahulu, agar dapat memanfaatkan perpustakaan dengan maksimal. Tidak setiap pengunjung perpustakaan mengerti tentang perpustakaan. Hal ini dikarenakan pemahaman mereka (para pengunjung) sebagaimana telah disebutkan di atas, hanya sebatas tempat meminjam dan membaca buku atau koleksi yang disajikan oleh suatu perpustakaan. Padahal, terdapat sekian banyak informasi dan manfaat yang bisa diperoleh melalui perpustakaan. Diharapkan, melalui artikel yang singkat ini, pemahaman tentang perpustakaan semakin luas sehingga dapat memanfaatkan perpustakaan dengan optimal.

PERISTILAHAN YANG DIPAKAI

Pengertian perpustakaan di sini, maksudnya  perpustakaan yang ada di suatu perguruan tinggi, universitas, institut, dan perguruan tinggi sejenis dalam rangka  pelaksanaan tri darma perguruan tinggi.
Peran perpustakaan yaitu segala fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam buku pedoman perpustakaan untuk perguruan tinggi. Adapun tugas (kewajiban) yang harus dilakukan perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan koleksi, mengolah dan merawat bahan perpustakaan, memberi layanan, serta melaksanakan administrasi perpustakaan (PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN, 2004:3).
Penikmat perpustakaan adalah para pengguna/pemakai perpustakaan perguruan tinggi sebagai almamaternya.
Paham artinya mengerti,  sementara mengerti yang dimaksudkan yakni memahami sesuatu dengan  benar.

PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Dalam buku pedoman perpustakaan perguruan tinggi disebutkan  bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dalam rangka menunjang kegiatan tri darma tersebut, maka perpustakaan diberi  beberapa fungsi di antaranya; fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi informasi ( 2004:3-4).

Demikian luasnya fungsi perpustakaan bagi para pemakainya (sivitas akademik). Pada kenyataannya, tugas dan fungsi tersebut di atas belum dapat dilakukan dengan optimal oleh pihak perpustakaan. Hal ini dikarenakan berbagai kendala yang terkadang sulit dipecahkan misalnya dalam pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia dan sarana dalam pelaksanaan tugas. Adanya aturan-aturan  panjang dalam rangka pengadaan sumberdaya manusia  atau peralatan perpustakaan. Selain itu, perbandingan antara pemakai yang dilayani dengan petugas yang ada belum sesuai. Petugas dengan kualifikasi  pendidikan selain ilmu perpustakaan, kadang kurang pas ditempatkan di perpustakaan, atau mutasi petugas yang tidak berkenaan dengan peran perpustakaan. Akibatnya, peranan sebagai pelayan perpustakaan  dijalankan dengan ‘semau gue’; karena kurangnya penghayatan/pemahaman tentang perpustakaan. Akhirnya pelayanan yang diberikan kurang ikhlas/sabar. Padahal, peran petugas (dalam hal ini pustakawan)  sangatlah  menentukan berfungsi tidaknya sebuah perpustakaan. Asumsi kita, apabila pengguna perpustakaan mau menggunakan perpustakaan lebih dari sekali, maka dapat diartikan bahwa perpustakaan berfungsi dalam menjalankan tugasnya, dan pengguna paham peran perpustakaan untuk kepentingannya.

Perpustakaan perguruan tinggi juga sering disebut sebagai perpustakaan khusus. Hal ini dikarenakan perpustakaan perguruan tinggi pada umumnya khusus melayani sivitas akademik  masing-masing.  Di samping itu, koleksi yang dimiliki perpustakaan perguruan tinggi pun khusus untuk konsumsi mahasiswa maupun dosen. Bila dibandingkan dengan pepustakaan umum, maka perpustakaan perguruan tinggi memiliki kelebihan berupa hasil-hasil karya para sivitas akademik.

MENGERTI  PERPUSTAKAAN :  UPT PERPUSTAKAAN UNS

Sebuah perpustakaan dapat berperan dan berfungsi bagi pemakainya dengan  beberapa syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut meliputi;  adanya koleksi, sistem/aturan yang digunakan, ruangan/tempat berlangsungnya kegiatan, ada petugas/pustakawan, dan pemakai, serta mitra kerja (Sutarno NS., 2006: 10-11). Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan tentu memerlukan semacam wadah agar dapat melakukan kegiatan tersebut sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh penyelenggara kegiatan. Dalam hal ini, perpustakaan bertujuan memenuhi kebutuhan informasi bagi pemakainya. Petugas  menerjemahkan kemasan informasi dalam bentuk wakil koleksi (katalog koleksi)  sehingga pemakai dapat menggunakan informasi yang dibutuhkan.

Kita berkenalan dengan salah satu perpustakaan perguruan tinggi, dengan contoh UPT Perpustakaan UNS. Dalam rangka mencapai tujuan dari perguruan tinggi, maka UPT Perpustakaan UNS tidak boleh menyimpang dari visi dan misi lembaga induk. Visi yang dijalankan yakni menjadikan UPT Perpustakaan UNS sebagai pusat layanan informasi yang profesional dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Misi yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan informasi untuk menunjang proses belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Universitas Sebelas Maret khususnya dan masysarakat pada umumnya.

Tugas UPT PERPUSTAKAAN UNS  sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0201/01995 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Sebelas Maret, tugas UPT Perpustakaan adalah memberikan layanan bahan pustaka untuk keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Adapun fungsi dari UPT PERPUSTAKAAN UNS  yaitu  fungsi edukasi, sumber informasi, penunjang riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi informasi (2004:3-4).

Syarat-syarat berfungsinya sebuah perpustakaan seperti disebutkan di atas, yakni adanya  koleksi, sistem/aturan yang digunakan, ruangan/tempat berlangsungnya kegiatan, ada petugas/pustakawan, dan pemakai, serta mitra kerja. UPT Perpustakaan UNS mempunyai  beragam fasilitas, seperti; ruang baca, taman baca, komputer (OPAC untuk Penelusuran Informasi bahan pustaka), kantin, layanan fotokopi, internet, locker (tempat tas), individual study room (ruang belajar mandiri), ruang koleksi, mushola, serta ruang seminar.

Dalam rangka  meningkatkan kualitas layanan, UPT Perpustakaan UNS  terus berupaya meningkatkan jumlah koleksi buku, juga berlangganan jurnal elektronik. Koleksi buku saat ini telah mencapai 59.590 judul berjumlah 170.123 eksemplar. Selain itu, juga menerapkan  otomasi sistem layanan.  Saat ini, UPT Perpustakaan UNS  bekerja sama dengan UPT Komputer  mengembangkan Program  UNSLA (UNS Library Automation).   Akses layanan penelusuran informasi ilmiah melalui CD-ROM  terus ditingkatkan, juga membuka layanan bibliografi melalui jaringan internet (telnet), serta menyediakan layanan digital library  yang memuat dan menyimpan semua dokumen yang dihasilkan oleh sivitas akademika UNS dalam bentuk digital, dan pelayanan melalui jaringan on-line antara perpustakaan pusat dengan perpustakaan fakultas atau unit kerja yang lain. UPT Perpustakaan UNS  sampi saat ini mempunyai staf sejumlah  32 orang, dan tidak semuanya menjadi pustakawan.

Fungsi utama perpustakaan perguruan tinggi adalah pendukung proses belajar-mengajar di perguruan tinggi (Irma Elvina, 2005:25-30). Demikianlah yang selalu kita baca, dengar, dan amalkan dalam menjalankan tugas. Lebih jelasnya biasa  diuraikan ke dalam beberapa fungsi; yaitu fungsi edukasi , sumber informasi, penunjang riset, memberikan sarana rekreasi,  fungsi publikasi, fungsi deposit, dan interpretasi informasi. Mari kita pahami fungsi yang bagaimana yang dimaksudkan dengan mendukung proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

Fungsi edukasi yang dimaksudkan yaitu peran serta dalam mendidik  para pemakai memanfaatkan perpusatkaan. Perpustakaan ikut membantu mencerdaskan para pemakainya melalui informasi yang disajikan. Ada istilah ‘autodidak’ yaitu  seseorang bisa  menjadi ahli bidang tertentu dengan belajar sendiri. Salah satunya yakni dengan membaca, meniru, merekam, mempraktikkan seperti aslinya, sesuai kemampuannya dalam memahami informasi. Hal ini tak akan terjadi tanpa ada transformasi  informasi antara pemakai informasi dengan koleksi atau informasi yang digunakan.

Fungsi sebagai sumber informasi, diharapkan  perpustakaan menjadi tujuan utama mencari  informasi sesuai keinginan pemakai. Memang tidak ada perpustakaan yang dapat memenuhi semua kebutuhan informasi pemakai. Meskipun demikian, perpustakaan dapat memberikan arahan ke mana sebaiknya mencari informasi yang dibutuhkan.

Salah satu tri darma yang memerlukan peran perpustakaan adalah penelitian. Sesuai tugas sebagai penunjang riset bagi sivitas akademik, maka perpustakaan menyajikan berbagai informasi yang berhubungan dengan riset yang akan sedang atau sudah dilakukan. Sivitas akademik sekaligus juga para peneliti yang membutuhkan gambaran tentang berbagai riset yang telah dilakukan atau diterapkan. Informasi yang diperoleh melalui perpustakaan dapat mencegah  terjadinya  duplikasi penelitian. Kecuali  penelitian yang akan sedang dilakukan  merupakan penelitian yang berkelanjutan. Oleh karena itu, melalui fungsi riset diharapkan  karya-karya penelitian yang dilakukan oleh sivitas akademik semakin berkembang. Hal yang perlu diperhatikan, riset yang selama ini telah dilakukan oleh sivitas akademik, tidak dapat langsung dinikmati melalui peran perpustakaan. Jarang pihak perpustakaan menerima karya ilmiah hasil riset sivitas akademik, kecuali tugas akhir atau skripsi sebagai syarat wisuda para mahasiswa. Sementara hasil riset para doktor atau tenaga edukatif jarang kami terima. Ada kemungkinan disebabkan keberadaan lembaga penelitian yang telah berperan sebagai penampung karya-karya riset sivitas akademik.

Sehubungan dengan fungsi rekreasi, maka  fungsi perpustakaan dalam memberikan sarana rekreasi yakni  berupa koleksi yang menghibur/menyenangkan pembaca. Informasi yang berkaitan dengan kesenangan seperti bacaan humor, cerita perjalanan hidup seseorang, berkebun, membuat kreasi ketrampilan, maupun informasi yang dapat membangkitkan semangat pemakai informasi dalam menjalani hidup bersosial. Fungsi rekeasi perpustakaan masih jarang dimengerti, ada kemungkinan kurang pahamnya para pemakai perpustakaan.
Fungsi perpustakaan dalam rangka penyebaran informasi bisa disebut publikasi informasi. Publikasi yang dimaksudkan yaitu ikut serta menyebarluaskan informasi hasil karya pemakai perpustakaan; seperti karya tulis atau hasil riset dari sivitas akademik. Fungsi publikasi sangat menguntungkan sivitas akademik. Selama ini, sivitas akademik terutama tenaga edukatif memanfaatkan fungsi ini dikarenakan urusan kenaikan pangkat maupun jabatan. Sangat disayangkan, hasil-hasil karya tulis sivitas akademik yang telah menempuh pendidikan lanjut  maupun  pengukuhan sebagai doktor, guru besar  dan sebagainya jarang ditemukan di perpustakaan. Padahal fungsi publikasi ini  dapat dimaksimalkan sebagai media komunikasi informasi,  agar hasil karya sivitas akademik dikenal dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Selanjutnya adalah fungsi deposit perpustakaan. Sesuai arti kata deposit yakni menyimpan, maka perpustakaan merupakan tempat menyimpan informasi yang dibutuhkan oleh para pemakai. Fungsi penyimpanan  yang dimaksudkan menyimpan informasi yang telah dikemas dalam berbagai bentuk kemasan. Pada umumnya orang mengenal perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku, akan tetapi perkembangan saat ini, informasi dapat dikemas dalam bentuk CD atau VCD. Boleh dikatakan juga bahwa perpustakaan sebagai tempat arsip berbagai karya. Jadi semestinya, perpustakaan menampung segala hasil karya pemakai perpustakaan. Sebagaimana peraturan serah simpan karya cetak yang memang belum diterapkan secara optimal.

Interpretasi informasi merupakan salah satu fungsi perpustakaan dengan maksud ikut serta memberikan pemahaman tentang koleksi yang dimiliki. Perpustakaan diharapkan dapat menejemahkan isi setiap koleksi yang ada. Setiap informasi yang diperoleh perpustakaan diterjemahkan dengan menyajikan berbagai alternatif subjek dalam bentuk katalog. Jenis katalog yang ditawarkan kepada pemakai sangat tergantung kepada kebijakan setiap perpustakaan. Semakin banyak jenis katalog yang ditawarkan, pemakai akan semakin leluasa mencari informasi yang diinginkan. Di samping itu, informasi dapat diperkenalkan dengan cara meresensi sebuah karya. Namun cara ini dirasa kurang efisien dikarenakan cepatnya informasi berkembang dan berubah. Pihak perpustakaan pun terhalang oleh waktu, tenaga, pikiran yang harus digunakan untuk meresensi koleksi satu per satu. Dimungkinkan jika yang diterjemahkan hanya beberapa koleksi yang dianggap akan laris digunakan. Pada akhirnya, setiap perpustakaan selalu ingin memuaskan pemakai, dan berharap pemakai akan kembai dan kembali berkunjung ke perpustakaan  disebabkan kemudahan dan ketepatan informasi yang sesuai.

PENUTUP

KESIMPULAN

Setiap pengunjung perpustakaan merupakan penikmat perpustakaan, dan secara tidak langsung mengetahui kegunaan perpustakaan. Sesudah melakukan kegiatan di suatu perpustakaan, pengunjung mendapatkan sesuatu yang langsung dirasakan maupun secara tidak langsung bermanfaat untuk dirinya. Adapun kenikmatan yang diperoleh akan ditularkan kepada orang lain atau dinikmati sendiri amatlah tergantung kepada pribadi seseorang. Seseorang yang berkunjung ke perpustakaan lebih dari sekali, dapat diartikan orang tersebut paham dan mengerti fungsi perpustakaan bagi dirinya

SARAN

Berlangsungnya kegiatan di sebuah perpustakaan sangat tergantung dari berbagai unsur yang saling berkaitan sehingga bermanfaat untuk banyak pihak. Koleksi, tenaga, tempat, sistem, dan peralatan bersatu dalam kesepakatan untuk menyajikan informasi sesuai permintaan dengan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Peran perpustakaan dan pustakawan sebagai agen perubahan; oleh Irma Elvina, hal. 25-30 dalam Perkembangan Perpustakaan di Indonesia. Penyunting: Janti G.Sujana, Yuyu yulia, dan Badollahi Mustafa. Bogor: IPB Press, 2005
PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI: BUKU PEDOMAN. Jakarta: DEPDIKNAS RI, 2004
Sutarno NS. Manajemen Perpustakaan: suatu pendekatan praktis. Jakarta: Sagung Seto, 2006

sumber : Mediator, ed. oktober 2008

GEMAR MEMBACA: TANGGUNGJAWAB SIAPAKAH?

Oleh: Tri Hardiningtyas

PENGANTAR
Seseorang  dengan kacamata minus akan diasumsikan sebagai sosok gemar membaca, kutu buku. Padahal, tidaklah demikian yang terjadi.  Seseorang yang berkutat dengan kumpulan buku-buku  belum tentu sebagai seorang kutu buku. Ada kemungkinan orang tersebut mempunyai kegemaran mengumpulkan buku, atau orang tersebut hanya sebagai penggemar gambar tertentu yang terdapat dalam tumpukan bukunya untuk dikoleksi.  Akan tetapi,  kita tidak bisa mungkir jika melihat seseorang membawa buku secara spontan kita berpikir bahwa buku tersebut sedang dibaca. Sependapatkah anda? Buku atau apapun koleksi karya cetak yang bisa dibaca merupakan gudang informasi, ilmu pengetahuan. Apapun yang didapat melalui bacaan (sesudah membaca)  membuka mata hati kita mengenal dunia. Dunia apa saja yang bisa diperoleh lewat sumber bacaan tadi.

Perkembangan teknologi informasi, tidak akan menggilas kebiasaan seseorang untuk membaca sumber bahan cetak. Hal ini dikarenakan, membaca dengan karya cetak (buku/majalah/koran, dan sebagainya) lebih nikmat  tanpa beban, dibandingkan dengan membaca informasi melalui media elektronik (informasi via internet). Selain itu, disebabkan pula pemerataan kesempatan agar bisa membaca untuk mendapat informasi belum menyeluruh. Dalam dunia belajar mengajar atau pendidikan dan pengajaran belum dibiasakan membaca sebagai kewajiban. Para pendidik/guru pun belum sepenuhny menerapkan kebiasaan membaca, baik di rumah atau lingkungan sekolah. Padahal, dengan membaca seseorang mendapat  informasi yang dibutuhkan sebagai bekal ilmu menjalani tantangan hidup.

Kegiatan membaca berkaitan dengan ketersediaan sarana bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan jenis informasinya (kelompok usia). Oleh karena itu, siapapun yang ingin berperan sebagai perantara penyampai ilmu pengetahuan (transfer informasi) haruslah mengajak serta mendorong seseorang agar melek huruf  (membaca) terlebih dahulu. Perlu kiranya kita ketahui, bahwa urusan melek huruf  bukanlah urusan guru/pendidik semata, akan tetapi harus menjadi urusan kita bersama. Dengan demikian, cita-cita menjadi bangsa yang cerdas sudah selayaknya menjadi cita-cita setiap warga negara. Prestasi setiap warga negara bertumpu pada kemajuan bangsa.  Jadi, siapakah yang bertanggungjawab jika masih ada saudara kita yang belum melek huruf, sehingga belum bisa membaca? Bagaimana  menumbuhkan budaya gemar membaca, kalau belum melek huruf? Harus diakui bersama, bahwa budaya lisan masih mengental dalam diri kita. Inilah salah satu faktor penghambat tumbuhnya budaya gemar membaca. Akan tetapi kita harus memulainya, sebagaimana kata orang bijak  yakni lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali! Ada sedikit pengalaman yang bisa dibagi, bahwa minat baca bisa dimulai dari keluarga sendiri. Kedua anak kami, menurut pengamatan kami termasuk golongan gemar membaca. Akan tetapi, keduanya memulai dengan cara yang beda. Anak pertama menjadi gemar baca karena masa balita sering mendengar cerita pengantar tidur dari kami. Setelah bisa baca, ingin mengulangi cerita-cerita dengan membaca sendiri. Sementara, anak kedua gemar membaca bersamaan dengan meningkatnya kepintaran dalam membaca yang diajarkan di sekolah. Kebiasaan membaca ternyata tidak harus dimulai dengan melek huruf. Hal terpenting adalah kemauan untuk memulai.

MINAT BACA ATAU GEMAR MEMBACA?
Pengertian

Gemar artinya suka, senang sekali. Sementara  minat  yaitu  perhatian, kesukaan/kecenderungan hati akan sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jadi gemar membaca dapat diartikan sebagai kesukaan akan membaca, ada kecenderungan hati ingin membaca. Menurut Suhaenah Suparno minat baca seseorang seharusnya diukur berdasarkan frekuensi dan jumlah bacaan yang dibaca selain buku pelajaran (dalam Abdul Rahman, 2005:122). Dengan demikian minat baca seseorang berimbas kepada jumlah koleksi yang pernah dibaca yang bersangkutan (bukan buku pelajaran/modul/buku paket sekolah). Adapun koleksi bacaan yang dikonsumsi bisa diperoleh dari mana pun juga. Hal ini berkaitan dengan peran toko buku, taman bacaan, atau perpustakaan. Bilamana minat baca sudah tumbuh, maka dibutuhkan fasilitas (buku/majalah/koran, dan sebainya) yang memadai. Suatu kenyataan jika, di ranah Indonesia ini masih sedikit yang memiliki koleksi bacaan sendiri. Sebagian besar koleksi diperoleh dengan meminjam atau membaca di sebuah kedai/toko buku atau perpustakaan. Bahkan bagi mereka yang mampu (dana berlebih) bisa mengakses melalui internet, pun memiliki perpustakaan sendiri. Dengan demikian, adanya minat baca sehingga gemar membaca belumlah merata. Kembali pada pertanyaan di atas, siapakah yang harus menumbuhkan budaya gemar membaca? Harapan kita tentunya, jika melek huruf sudah terjadi, seseorang akan berminat untuk membaca segala sesuatu, selanjutnya menjadi gemar membaca.

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM BUDAYA GEMAR MEMBACA
Berdasarkan undang-undang nomor  43  tahun 2007 tentang perpustakaan bahwa budaya gemar membaca menjadi tanggungjawab keluarga, satuan pendidikan (sekolah), masyarakat, maupun pemerintah. Sebagaimana bunyi undang-undang tentang perpustakaan pasal 48 berikut ini.

  1. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.
  2. Pembudayaan kegemaran membaca pada keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah melalui buku murah dan berkualitas.
  3. Pembudayaan kegemaran membaca pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai  proses pembelajaran.
  4. Pembudayaan kegemaran membaca pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah, dan bermutu.

Jelas kiranya, bahwa gemar membaca menjadi tanggungjawab bersama seluruh warga negara dalam upaya mencerdaskan bangsa. Adapun fasilitas yang disediakan memang sangat tergantung pada bagian penyedia informasi, yang salah satunya yakni perpustakaan. Meskipun dalam pasal tersebut jelas dinyatakan bahwa budaya gemar membaca difasilitasi oleh pemerintah melalui buku murah dan berkualitas. Kenyataannya, buku yang murah pun tidak terbeli bagi masyarakat kebanyakan. Lalu ke mana para pemburu bacaan mencari “makanan”? Jawaban yang lebih pas yakni perpustakaan, taman bacaan, maupun tempat-tempat penyedia fasilitas secara gratis, tanpa bea yang pasti. Harus diakui, itulah gambaran budaya gemar membaca di tanah air kita. Pemerataan kesempatan mendapat pendidikan agar dapat membaca maupun kursus-kursus kejar paket tertentu dalam rangka pemberantasan buta aksara belumlah optimal. Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk memberikan fasilitas pembudayaan gemar membaca. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal tersebut di atas, kita mulai dari keluarga kita, mulai dari diri sendiri (mengutip pendapat AA Gym).
Melalui pasal 51 dari undang-undang yang sama dinyatakan bahwa pembudayaan gemar membaca dilakukan melalui gerakan nasional gemar membaca, dan dilaksanakan oleh pemerintah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi perpustakaan pun wajib berperan aktif dengan menyediakan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam. Ternyata, perpustakaan tetap menjadi tumpuan harapan dalam pelaksanaan budaya gemar membaca. Anehnya, sampai saat ini masih banyak yang enggan berhubungan dengan perpustakaan. Tidak perlulah menutup mata bahwa belum setiap satuan pendidikan (sekolah) mempunyai/menyelenggarakan perpustakaan sesuai yang dinyatakan dalam undang-undang tentang perpustakaan. Oleh karena itu, ayolah para petugas di dalam jajaran satuan pendidikan (sekolah) untuk melaksanakan kewajiban, demi mencerdaskan bangsa. Tentu saja peran keluarga dan masyarakat juga diaktifkan. Bagaimanapun satuan pendidikan (sekolah) kita masih banyak yang belum sepenuhnya mempunyai fasilitas yang memadai. Bahkan tidak sedikit gedung untuk tempat belajar runtuh, tidak layak pakai, rapuh karena mudah hancur karena hujan atau angin, sehingga menimbulkan korban pula.

PENUTUP
Mari kita saling bergandeng tangan merapatkan barisan menggiring pertumbuhan budaya gemar membaca. Alangkah baik jika dimulai dari diri sendiri, dari keluarga, menuju keluarga yang makin besar, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, hingga propinsi, akhirnya seluruh bangsa gemar membaca. Memulai suatu kebaikan memang sulit, tapi harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Abdul Rahman Saleh. “Peningkatan Budaya Gemar Membaca” dalam PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN DI INDONESIA. BOGOR: IPB PRESS, 2005.

*) diterbitkan majalah : Pewara Dinamika, Vol. 10, No. 16 Feb 2009

KOLEKSI PERPUSTAKAAN, UNTUK SIAPA?

oleh Tri Hardiningtyas

PENDAHULUAN

Setiap  orang akan membayangkan sebuah buku, bila mendapat pertanyaan mengenai makna sebuah perpustakaan. Karena kenyataan itulah yang sering kita terima apabila ada yang menanyakan tentang perpustakaan. Segera meluncur beragam pertanyaan mengenai seluk beluk  yang berhubungan dengan perpustakaan. Misalnya pertanyaan; terutama tentang judul buku, isi buku, pengarang buku, sampai masalah ciri-ciri, ukuran, gambar-gambar atau ilustrasi yang dimuat. Bahkan kadang harga pun dipertanyakan. Seolah perpustakaan identik dengan toko buku, gudang buku, kumpulan buku; apapun yang berkaitan dengan buku. Demikianlah, umumnya kita berpikir tentang perpustakaan=buku. Sebenarnya, itulah kenyataannya, bahwa asal kata perpustakaan dari pustaka yang artinya adalah buku (KUBI, 1976:782).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kontribusi untuk mentransfer informasi yang merupakan kandungan buku menjadi aneka kemasan selain buku. Saat ini, kandungan sebuah buku dapat dinikmati melalui layar monitor berupa film, gambar berjalan, aneka suara latar; sehingga tidak hanya nikmat mata tetapi juga pendengaran. Akibatnya, koleksi perpustakaan tidak hanya terdiri atas buku tapi juga kemasan informasi lainnya, mungkin kaset, cd, atau dvd. Namun demikian, para pendidik maupun anak didik cenderung masih dalam pemahaman bahwa koleksi perpustakaan adalah buku. Apalagi bila dikaitkan antara peran perpustakaan dengan keberlangsungan proses belajar mengajar. Selama ini kegiatan belajar mengajar dikdasmen (pendidikan dasar sampai menengah) sangat bergantung dengan buku paket. Meskipun telah/sudah dicanangkan tentang adanya electronic books  untuk buku paket secara nasional, namun belum menjadi jaminan paket tersebut bisa sampai ke setiap sekolah yang ada. Mengingat transfer informasi secara elektronik belum merambah semua sekolah dikarenakan sarana peralatan yang mungkin belum merata pada setiap sekolah.

Bagi mereka yang dapat memenuhi semua kebutuhan informasi dari koleksi pribadi tentu tidak begitu membutuhkan peran perpustakaan. Sebaliknya, mereka yang haus akan informasi namun tidak/belum mampu memenuhi semua kebutuhan informasinya, maka akan mendekati toko buku (dalam rangka ikut membaca tanpa harus membeli), persewaan buku, atau perpustakaan, bahkan taman bacaan. Imbas dari pesatnya teknologi informasi, maka para pemburu informasi bisa akses informasi dari mana pun jua. Akibatnya, koleksi perpustakaan yang kurang dikenal, semakin jauh saja untuk dipahami dan dimengerti peranannya.

Selama ini, koleksi perpustakaan selalu dikaitkan dengan kendala pendanaan. Hampir dalam setiap kesempatan pembahasan tentang koleksi perpustakaan, yang muncul adalah benturan dana. Padahal kriteria keberhasilan pendayagunaan fasilitas perpustakaan, salah satunya yakni keterpakaian koleksi perpustakaan karena adanya  kesesuaian informasi yang diminta. Apabila koleksi  sebuah perpustakaan  dipakai dan bermanfaat maka koleksi tersebut berdayaguna dan sesuai dengan informasi yang diinginkan pemakai. Permasalahannya, koleksi yang bagaimana yang berdayaguna bagi pemakainya. Hal ini tentu tergantung pada kesesuaian informasi yang diinginkan pemakai. Oleh sebab itu, koleksi yang sesuai saja yang didayagunakan oleh pemakai perpustakaan. Kesimpulan sementara yang bisa diambil, bahwa koleksi perpustakaan berdayaguna untuk para pemakai perpustakaan dikarenakan informasi yang sesuai dengan permintaan pemakai (selanjutnya kita sebut pemustaka).
KOLEKSI PERPUSTAKAAN UNTUK SIAPA?

Sudahkah kita mengenal koleksi perpustakaan? Umumnya para pemakai perpustakaan saja yang mengenal berbagai macam koleksi perpustakaan. Itu pun belum semuanya dipahami, karena kecenderungan orang berpendapat bahwa koleksi yang ada di perpustakaan adalah buku, buku, dan buku. Berikut ini pengertian koleksi perpustakaan sesuai undang-undang tentang perpustakaan yang sudah disahkan.

Undang-undang tentang perpustakaan pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Mengapa hanya koleksi yang dihimpun, diolah, dan dilayankan yang termasuk koleksi perpustakaan? Hal ini berkaitan dengan berdayaguna dan tidaknya koleksi perpustakaan yang ada. Karenanya, koleksi perpustakaan tidak berdayaguna tanpa adanya pemustaka maupun pengolah/penghimpun/pelayan (baca:pustakawan). Jadi koleksi perpustakaan tidak dapat berdiri sendiri agar dapat berdayaguna. Karenanya, antara koleksi maya (e-journal/e-books) dan koleksi perpustakaan dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam berdayaguna tidaknya tergantung kepada pemustaka maupun pustakawan. Semakin jelas bahwa keberadaan koleksi perpustakaan diperuntukkan bagi pemustaka. Siapa pemustaka itu?

Adapun yang dimaksud pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan (Undang-undang, No.43/2007, pasal 1 ayat 9). Para pemustakalah yang bisa menjadi peluru menuju masyarakat cerdas melalui koleksi perpustakaan. Meskipun kenyataannya, belum menjadi kesadaran para pemustaka, bahwa melalui peranannya koleksi perpustakaan berdayaguna.

Salah satu contoh yang terjadi di UPT Perpustakaan UNS. Selama ini, pengadaan koleksi perpustakaan sangat tergantung atas pendanaan yang ada, juga minat/usulan para pemustaka (dalam hal ini civitas akademika). Berbagai cara dilakukan agar dapat mengadakan koleksi perpustakaan yang sesuai minat mereka; seperti pameran buku, mengedarkan daftar judul buku/jurnal untuk dipilih sesuai minat bidang ilmunya, mengadakan sosialisasi koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Namun, yang hadir memenuhi undangan maupun memberikan saran/usulan koleksi tidaklah sebanyak yang kami perkirakan. Undangan yang datang tidak mencapai setengah dari undangan yang diedarkan. Padahal kehadiran mereka selaku pemustaka amat sangat diharapkan untuk pengembangan perpustakaan. Kegiatan tersebut diselenggarakan tidak hanya sekali, akan tetapi diadakan tiap tahun menjelang dies natalis, bahkan sejak tahun 2007 diadakan 2kali dalam setahun. Sangat disayangkan, karena  keberlangsungan layanan di perpustakaan ada pada pengembangan koleksi dan pemustaka. Apalah artinya koleksi yang ada di perpustakaan tanpa kehadiran pemustaka sebagai penikmat, pengguna, penyampai informasi. Inilah tantangan bagi para pustakawan selaku pihak yang mengolah, menghimpun dan melayankan informasi kepada pemustaka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu alasan para pemustaka untuk tidak bersentuhan dengan koleksi perpustakaan. Para pemustaka berbondong-bondong ke perpustakaan bukan karena ingin mendayagunakan koleksi, akan tetapi sekedar mampir mencari teman, numpang berselancar ke dunia maya tanpa beban listrik dan pulsa, bahkan sekedar ngobrol sambil makan dan minum ala kadarnya (karena ada taman dan kantin di perpustakaan). Pernahkah mereka berpikir sebentar saja bahwa kegiatan  yang  mereka lakukan mau diimbangi dengan sedikit saja berkontribusi dengan memberi masukan/saran bagi perpustakaan? (yang sebenarnya merupakan perpustakaan milik mereka menuntut ilmu).

KESIMPULAN

Koleksi perpustakaan bukanlah pajangan sebagaimana etalase toko buku, melainkan harta karun perpustakaan yang harus dioalah, dihimpun, dan dilayankan kepada pemustaka. Peran perpustakaan sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang  nomor 43 tahun 2007 pasal 3 bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, tidaklah semata-mata menjadi tugas penyelenggara perpustakaan namun menjadi tanggungjawab seluruh warga yang ingin menjadi cerdas. Pendayagunaan koleksi perpustakaan sangat tergantung adanya pemustaka dan pustakawan. Akan lebih tepat apabila antara keinginan dan permintaan pemustaka terhadap pendayagunaan koleksi perpustakaan dikomunikasikan. Oleh karena itu, menghadirkan koleksi perpustakaan yang sesuai keinginan pemustaka terus diupayakan, meskipun makin sedikit saja pemustaka yang paham dan sadar akan keberadaan koleksi perpustakaan untuk kebutuhannya.